#30DaysofArt 15/30: Muhammad Zico Albaiquni

Lahir di Bandung pada tanggal 8 Agustus 1987, seniman peraih gelar magister penciptaan seni di ITB ini sempat menghabiskan masa kecilnya di Braunschweig, Jerman, ketika sang ayah, pelukis terkenal Tisna Sanjaya, menempuh studi seni grafis di negara tersebut. “Hampir setiap hari saya selalu dibawa ke kampusnya. Ayah saya selalu menitipkan saya di perpustakaan kampusnya dan hal itu sangat menyenangkan buat saya! Mungkin itu start paling awal saya mulai menyukai dunia seni rupa. Saya juga sering sekali dibawa ke pameran-pameran seni rupa, menonton film, melihat performance art, dan mengunjungi museum-museum,” kenangnya. Mengikuti jejak ayahnya dalam dunia seni lukis, Zico pun berusaha menciptakan sebuah counter culture dalam seni lukis yang kini kerap dianggap bentuk seni paling usang di zaman yang kian modern. Hasilnya adalah eksplorasi medium yang selalu bertransformasi dan instalasi yang telah dipamerkan di berbagai negara, termasuk residency dan solo exhibition di Vienna, Austria.

zico-albaiquni-hijab-ludus-velum-suppancontemporary

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Saat SD hingga SMP saya sebetulnya tidak terlalu masuk dalam dunia seni rupa.  Bahkan pelajaran seni rupa saya waktu SD nilainya buruk dan tidak mungkin rasanya menang kompetisi gambar anak yang waktu itu selalu dimenangkan oleh anak-anak sanggar. Waktu itu rasanya sirik banget! Hehehe. Di SMA saya mulai bertemu lagi dengan dunia seni rupa dan mulai sering terlibat proyek-proyek mural bersama teman-teman saya. Masa akhir SMA pun saya malah testing Kedokteran. Meskipun lolos, saya akhirnya malah masuk FSRD ITB gara-gara ngobrol bareng senior saya yang sekarang juga jadi salah satu seniman muda Bandung yang karyanya kuat, Faisal Habibi.

Tahun pertama saya masuk FSRD ITB saya main dulu di jurusan Desain Komunikasi Visual. Namun gara-gara melihat lukisan S. Sudjojono di Galeri Nasional, saya benar-benar tergerak untuk akhirnya meyakinkan diri untuk pindah jurusan di tahun ketiga saya di FSRD ITB untuk masuk Jurusan Seni Rupa studio Seni Lukis.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Intinya selalu karena curiosity. Karena rasa penasaran, karena keingintahuan dan sisanya adalah obsesi. Menciptakan karya seni menjadi sebuah kebutuhan bagi saya. Saya selalu terobsesi dengan dunia seni.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Bagi saya medium atau style adalah konsekuensi dari idea yang saya pikirkan. Namun dari awal berkarya saya selalu fokus dalam pemahaman mengenai painting. Painting atau seni lukis merupakan sebuah idea paling tua dalam bentuk seni, paling banyak dirayakan dalam dunia seni namun juga jadi medium yang problematis dan dianggap menjadi bentuk paling usang. Karena seluruh idea yang muncul mengenai seni lukis, maka saya semakin terobsesi untuk melakukan percobaan-percobaan di dalamnya. Bagi saya seni lukis adalah sebuah ideology dan merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk menciptakan sebuah counter culture di dalamnya.

267570_10151172213337969_801870083_n

Apa idealismemu dalam berkarya?

Mencari ‘the truth’, walaupun kadang harus menutupinya agar menjadi sadar value the truth itu sendiri.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Tidak pernah tetap dan tidak pernah sama. Selalu dalam transformasi.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

  1. Sudjojono,  Gerhard Richter,  Vermeer,  Baldessari,  Lucian Freud, GSRB (Gerakan Seni Rupa Baru),  Velazques,  Bob Dylan,  Alejandro González Iñárritu,  Anselm Kiefer, Tisna Sanjaya.

Apa pameran yang paling memorable?

Pameran yang paling saya ingat adalah pameran pertama saya di Jakarta. Saat itu berpameran di Umah Seni Jakarta pada tahun 2009. Waktu itu saya masih kuliah tingkat 3 sementara seniman-seniman lainnya merupakan seniman-seniman dahsyat kala itu dan salah satunya adalah Ronald Manulang! Salah satu eksponen GSRB. Pada saat itu pamerannya berjudul Holocaust. Kebanyakan karya seniman menciptakan image Nazi. Namun waktu itu saya menciptakan ide mengenai teror yang dibawa oleh kesalahpahaman yang terbawa oleh fundamentalis agama di Indonesia. Saya awalnya merasa seperti salah kostum namun pada ujungnya karya itu menjadi karya favorit saya, bahkan hingga saat ini.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mampu bertahan menciptakan sebuah space bernama Ruang Gerilya di Bandung selama 5 tahun dan mulai berkembang menjadi tempat residensi Internasional dan bisa menjadi wadah bagi teman-teman seniman lainnya.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Waktu paling menarik yang bisa saya bayangkan sejauh ini.  Awalnya saya pikir golden age seni itu terjadi saat masa revolusi kemerdekaan atau reformasi dari orde baru.  Namun era social media justru menawarkan pergeseran paradigma mengenai banyak hal secara lebih cepat dan responsif.

artwork-1398923676
33 Sacred Repetition, Oil on canvas, cable 33 Panels, 2011

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya bahagia hidup di Bandung saat ini. Art scene yang mulai berkembang dan banyak seniman muda yang pintar, cerdas, kritis, dan tidak membosankan. Memang belum bisa akselerasi secara signifikan namun pelan tapi pasti. Saya sangat optimis melihat perkembangan art scene Bandung ke depannya.

Punya secret skill di luar seni?

Modding game di PC, terutama game FIFA.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bersama istri saya Kartika Larasati.

 

Project saat ini?

Dalam proses mengumpulkan data, image, dan medium untuk menciptakan semacam naskah bergambar.

Target sebelum usia 30?

Di kota saya ada event seni yang sekelas Documenta Kassel.

artwork-1400761033
ARTIST STUDIO, painting and mixed media installation, 2014
Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s