#30DaysofArt 16/30: Natasha Gabriella Tontey

“Saya kekanak-kanakan. Saya tidak pernah menutup pintu pada masa kecil saya dan saya masih berdialog dengan itu. Saya tidak mengerti bagaimana saya bisa lolos tanpa hal itu dalam peradaban orang dewasa. Walaupun saya juga menyetujui bahwa masa kecil hadir sebagai fiksi karena semuanya berbentuk memori dan cerita,” ungkap seniman dan graphic designer  kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1989 yang selalu terlihat quirky ini dalam upayanya mempertanyakan gagasan bagaimana rasa takut dapat diciptakan untuk mengontrol publik dan pertanyaan terhadap konsep fiksi dan realitas yang menjadi tema utama karyanya. Membagi waktunya antara Jakarta dan Jogja, body of works lulusan DKV UPH ini telah meliputi banyak medium, dari mulai fotografi, desain grafis, performance art, hingga video musik dengan konsep yang tak hanya menarik secara visual tapi juga konteks. Cute dan whimsically sinister di saat yang sama, karyanya menawarkan jukstaposisi dari sisi innocent masa kanak-kanak dengan elemen horror baik dari imajinasi personal maupun dari realitas yang ada di sekitarnya.

krazy-kosmic-konspiracy-pt-1-photo-by-kendra-ahimsa

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Yang memperkenalkan ke seni pertama kali mungkin orang tua saya, ketika saya kecil saya selalu mempunyai cita-cita, salah satu cita-cita saya sewaktu kecil adalah menjadi pelukis, lalu orang tua saya membelikan saya alat lukis. Tapi sejujurnya ketika masuk kuliah pun saya tidak mengerti dan tidak menyangka akan mengambil karier menjadi seniman. Yang menyadarkan saya adalah ketika saya ikut workshop foto di Galeri Foto Jurnalistik Antara, ketika itu saya gagal dalam tugas akhir saya di workshop tersebut, lalu Oscar Motuloh (Pewarta dan Kurator Foto) mengatakan bahwa jalur saya bukan di Jurnalistik. Kemudian pada tugas akhir saya di kuliah, pembimbing tugas akhir saya Bapak F.X. Harsono mengatakan konsep buku saya bisa dikembangkan untuk menjadi karya seni. Pada saat itu saya hanya tau Pak Harsono itu yang bikin GSRB dan dosen UPH, saya tidak tau karya-karyanya seperti apa, ketika saya sadar dia siapa, saya kaget sih, dan selalu kagum akan semangat Pak Har. Sampai sekarang beliau selalu mendukung saya dan mengkritisi karya saya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya adalah rasa penasaran dan obsesi saya.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Sejujurnya sampai sekarang saya belum menemukan medium atau style kesukaan saya. Yang saya lakukan adalah mencoba untuk terus menguji metode pengkaryaan saya sendiri.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya tahun 2008 di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), kala itu saya memamerkan beberapa karya fotografi saya yang menurut teman-teman di GFJA sangat tidak jurnalistik. Kemudian tahun 2011 saya berpameran foto di GFJA lagi kali ini saya menghadirkan karya foto saya melalui medium view-master yang cukup berkesan. Namun pameran seni pertama saya adalah di EXI(S)T di Dia.Lo.Gue Artspace pada tahun 2012.

img_9410_l-foto-oleh-grandyos-zafna

Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme saya dalam berkarya adalah saya harus tau betul dan percaya betul apa yang saya kerjakan. Saya tidak mau asal cepat dan bagus tapi tidak bisa mengelaborasi konsep karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Cukup sulit untuk mendeskripsikan personal aesthetic dalam karya saya, karena saya melakukan desain dalam karya saya, dalam artian mengaplikasikan metode desain ke dalam karya. Mungkin yang bisa saya jawab adalah ketertarikan saya untuk terus mengolah tema-tema yang horor yang lebih luas. Saya mempertanyakan bagaimana ide ketakutan bisa dimanifestasikan untuk mengontrol publik, juga dengan konsepsi fiksi dan kenyataan.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Seniman favorit pertama saya adalah Frida Kahlo, kalau untuk sekarang saya sangat terinspirasi oleh Wok the Rock, Jon Rafman, Jan Svankmajer, dan Sophie Calle.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pengalaman cukup berkesan saya mungkin adalah residensi di Ruang MES56 sampai saya tertarik untuk pindah ke Yogyakarta. Tapi saya rasa saya belum memiliki pencapaian yang patut saya bagi.

 

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Menarik. Karena bisa menggunakan social media sebagai platform pengkaryaan untuk hal-hal tertentu. Misalnya hadirnya persona FluxCup dan Molly Soda sebagai karya. Juga lebih mudah berkomunikasi dengan teman-teman baru. Tapi mengerikan juga karena hal yang datang secara massive perlu dipertanyakan juga kebenarannya.

 

Current obsession?

I think I secretly (not really secret) admire Ted Bundy, Ed Gein, and John Wayne Gacy, the serial killers. I also like to impersonate people’s gesture just for fun.

 

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya sangat menikmati kota Yogyakarta untuk hal itu karena banyak sekali teman untuk berdiskusi dan mengkritisi karya saya. Saya takut akan pujian. Sedang di Jakarta saya menikmati dunia desain yang cukup kritis dan dinamis.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Biasanya weekend saya seringnya mengerjakan kerjaan-kerjaan sampingan saya sebagai graphic designer atau saya ngobrol bersama teman-teman saya.

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Saat ini saya sedang melakukan riset dan pengumpulan bahan untuk karya saya selanjutnya yang mana adalah masih rahasia.

 

Target sebelum usia 30?

Banyak sekali. Saya juga ragu apakah saya bisa mencapai semua target saya sebelum usia 30.

conga-set

Advertisements

One thought on “#30DaysofArt 16/30: Natasha Gabriella Tontey

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s