#30DaysofArt 17/30: Natasha Lubis

Mengaku mengidap sindrom anak tengah yang penyendiri, imajinasi masa kecil peraih gelar master bidang Fine Art di Goldsmiths College London ini disalurkan lewat karya visual berupa lukisan dan kolase three dimensional dengan elemen fantasi dan permainan warna yang eklektik. Melewati beragam tahap dalam pendekatannya terhadap seni, estetika counter-culture dan persepsi perempuan pun menjadi bagian integral dalam karya artist kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1989 yang saat ini berdomisili di Bali tersebut. “Saya pikir good art punya kemampuan untuk mentransformasi sang spektator, potensi utopis tersebut sangat saya kagumi. Menyaksikan efek karya-karya seni yang inspiratif merupakan motivasi besar untuk terus berkarya dan berharap suatu hari bisa memberikan efek itu ke orang lain. Art is an exciting way to relate to people too, many of the most stimulating people I know I had connected through art.”

natasha-lubis 

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya besar di Jakarta, selesai SMA saya tinggal cukup lama di Melbourne, Australia. Lalu sempat tinggal di London untuk menjalani masters di bidang Fine Art di Goldsmiths College. Awal tahun ini saya kembali menetap di Indonesia.

Dari masa kecil saya memang sangat ‘fantastical’, ditambah lagi saya tipe anak tengah klasik yang cenderung penyendiri. Dunia imajinasi saya jadikan sarana hiburan alternatif di dalam kesendirian saya, dulu cukup normal bagi saya untuk berbincang-bincang dengan hasil gambar saya sendiri, haha.Saya besar dengan saudara-saudara yang usianya berdekatan, layaknya anak kecil kami sering merancang permainan peran fantastis antar sesama yang benar-benar menstimulir imajinasi. Memori-memori tersebut sangat berkesan dan memberi pengaruh ke cara pandang saya.

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Susah untuk ingat momen atau orang spesifik karena saya mulai hobi gambar dari kecil banget. Tapi kesadaran akan seni selalu dijunjung tinggi di upbringing saya, karena memang banyak anggota keluarga yang aktif di bidang musik dan budaya. Tapi seni visual adalah ketertarikan yang saya kembangkan sendiri.

Saya melewati beragam tahap di dalam approach saya terhadap seni, tahap yang sangat signifikan adalah ketika saya mulai serius mengulik kultur musik sekitar awal SMP. Usia remaja merupakan waktu spesial untuk merasuki dunia musik karena sensasi yang didapat luar biasa menggairahkan. Beberapa musisi yang fundamental bagi sumber inspirasi ya dimulai dari the classics seperti Radiohead dan Pink Floyd, era musik 60-70an, yang lalu menjalar ke berbagai macam lain. Selain dari musiknya sendiri, faktor budaya yang lahir dari dunia musik saya anggap sangat menarik. Saya ingat merasa kagum dengan energi kultur rock n’roll dan subkultur musik lainya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Saya mendapat kenikmatan dan juga tantangan tersendiri dengan berkarya, lagipula belum kepikiran akan passion lain yang bisa saya lakukan dengan potensi dan fokus semaksimal seni. Memproses pemikiran dan emosi lewat karya seni adalah proses penting untuk eksistensi saya, apalagi dengan berkembangnya lingkup interests dan awareness, makin timbul kehausan untuk mengutarakan ide-ide baru lewat karya.

1

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Saya mengagumi seniman-seniman wanita yang tidak konvensional. tahun ini saya terlibat artist residency di Ketemu Project Space (Bali), proyek ini menyorot hidup dan praktek almarhumah seniman perempuan asal Bali, I Gak Murniasih (biasa dipanggil Murni). Karya Murni kontroversial dikarenakan unsur erotisme absurdis frontal yang terinfluens dari otobiografinya sendiri. Riwayat hidupnya memang dipenuhi tragedi, namun ia tetap berhasil mencurahkan esensi hidupnya dengan penuh gairah dan optimisme lewat dedikasinya akan seni.

Kalau inspirasi dasar, dari sejarah seni barat saya terinspirasi oleh ideologi irasional gerakan surrealis, dan juga visualisasi whimsical mereka. saya juga senang dengan influens literatur dan cinema, dua platform ini dapat mentransportasikan kita ke realitas imajiner secara immediate. Salah satu penulis esensial bagi saya adalah Hermann Hesse, kepekaanya akan tabiat manusia dan juga kesadaran kosmis terangkum dengan puitis di dunia fiksinya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Tidak punya idealisme yang berat, yang penting terus berani berkarya, bereksperimen dan lanjuti jalur hidup kreatif ini yang bisa dibilang tidak normatif di mata banyak orang.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Menggambar adalah proses fundamental yang terapeutik tapi juga bisa mengisolisir, makin lama saya merasa medium lukis tidak menyampaikan ide tujuan saya secara pas. Sekitar semester akhir S1 ketertarikan saya telah mencakup banyak referensi budaya barat dari masa counterculture di era 60-70an. saya tertarik akan elemen-elemen paradoksal yang direpresentasikan kultur ini, seperti penggambaran akan ide-ide utopis yang hedonistik namun dengan cara mengeksploitasikan kesensualitasan perempuan.

Zaman hippie ini sangat identik dengan image seduktif ikonis yang tersebar di media massa yang memang rajin saya koleksikan. Peralihan ke kolase menjadi perkembangan alami karena saya bisa langsung menggunakan imej-imej di archive saya sebagai medium. Saya pikir penggunaan found images mengkomunisasikan intention saya dengan cara yang lebih direct, dan lebih mudah menampung beragam ide dan referensi dibanding lukisan biasa.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu? 

Praktek seni saya cukup terikat dengan bahasa visual, tantangan bagi banyak seniman adalah membuat keseimbangan efektif antara konsep dan tampilan visual. Unsur fantasi yang menantang cukup integral dalam estetika saya, termasuk juga permainan warna yang dapat menciptakan atmosfer tertentu. Banyak dari karya saya secara abstrak mewakili persepsi perempuan, ini memberikan nuansa feminin di praktek seni saya.

mothernature

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Body of work yang cukup signifikan adalah seri karya kolase three-dimensional yang dibuat untuk ekshibisi akhir pendidikan S1. Saya baru saja bergeser dari lukisan untuk eksperimen media kolase, dan ternyata langsung senang akan dinamika medium tersebut. Karya di graduation show kampus tersebut mendapatkan saya tawaran solo show di Melbourne, Australia. Overall it was a good learning experience.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Merasa sangat beruntung untuk bisa menjalani pendidikan masters di London tahun lalu, itu merupakan periode yang menantang. Universitas yang saya masuki mempunyai sejarah panjang akan pendekatan intens terhadap pemikiran teori kritis barat yang tidak ortodoks, saya merasa kewalahan sepanjang proses karena tidak familiar dengan banyak topik. Sekarang saya merasa mendapat pengertian baru atas pola pemikiran kritis.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Pastinya banyak sekali keuntungan era social media, generasi sekarang mempunyai keuntungan teknologi yang tak terbayangkan di masa lalu. Kita mempunyai akses bebas ke informasi yang jauh mempermudah proses riset dan kebebasan untuk berkomunikasi dengan siapapun pada skala global. Sangat ajaib menyadari bahwa kita mempunyai kuasa untuk mengakses dan menkurasi informasi yang kita inginkan dari sejarah manusia, it’s actually quite a burdensome advantage.

Saya rasa kultur sosmed juga bisa khaotis, wilayah virtual yang sangat luas seperti menyebabkan kebosanan kolektif ke para pengguna, kita menjadi terlalu terbiasa dengan segala tipe informasi yang lalu membuat kewalahan dan mudah terdistraksi, tidak heran muncul lah kultur-kultur tolol yang menghibur seperti kultur ‘meme’. Sepertinya semua kompleksitas ini sudah layaknya muncul sejalan cepatnya perkembangan zaman, dan hal ini sangat menarik untuk diobservasi lewat perspektif seni.

2

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Jujur saja saya masih ada homework dan kewajiban untuk lebih mengenalkan diri ke komunitas-komunitas dan budaya seni dalam negeri. Tapi dari pengalaman saya tahun ini, kehadiran seni kontemporer lokal jauh terasa lebih dirayakan dibanding dulu, ini membuat saya optimistik. Dan kota sekompleks dan sedinamis Jakarta kayaknya tidak akan kehabisan produksi karya-karya menarik.

What’s your current obsession?

Saya developed hobi menyehatkan yaitu berenang tiap pagi selama tinggal di Bali, ternyata aktivitas ini sangat meditatif.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Sebisanya saya spend the time somewhere outdoors, soalnya penting tuh untuk ketenangan mental, baik itu ke pantai atau cuma ke outdoor cafe. Nonton live music is always a good idea too. 

Project saat ini?

Selalu ada personal project yang perlu dikembangkan atau diselesaikan. Saya juga sedang mencari komunitas seni yang terbuka untuk kesempatan kolaborasi atau residency. 

Target sebelum usia 30?

Kalau impian sih banyak, termasuk yang nggak realistis, tapi yang utama adalah kesempatan untuk bisa terus berkembang dalam berkarya, karena memang sulit untuk menjadikan praktek seni sebagai jalur karier yang konkret. At some point juga ingin mulai kolaborasi dengan orang sepemikiran untuk membuat proyek menarik.

obscured-by-clouds

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s