#30DaysofArt 21/30: Patriot Mukmin

Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, namun tema-tema patriotik dan sejarah bangsa memang menjadi benang merah dalam karya seniman yang dikenal lewat medium woven photographs dan triple-sided paintings ini. “Momen penting yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika tahun 1998 saya menyaksikan kerusuhan yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan aktif mengikuti berita di televisi terkait upaya penurunan Presiden Soeharto. Ingatan terkait reformasi sedikit banyak muncul di beragam karya yang saya hasilkan,” papar pria kelahiran Tangerang, 4 Juni 1987 yang menetap di Bandung sejak lulus dan meraih magister seni di FSRD ITB tersebut. Selayaknya konteks sejarah yang bisa berbeda tergantung dari sisi mana kita melihatnya, yang seringkali hanya kumpulan fragmen, ataupun ditampilkan di publik secara tersamar dan direkayasa, pria yang sempat bercita-cita menjadi desainer mobil ini pun mengajak kita untuk memandang ilusi dalam karyanya dari berbagai sisi.

patriot-mukmin-foto-profil-1

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sedari kecil senang menggambar, namun belum tahu ada dunia seni sebelum kuliah di jurusannya. Dulu saya bercita-cita jadi desainer mobil, namun setelah di kampus justru tertantang untuk bisa sukses di dunia yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, yaitu dunia seni rupa.

Apa yang mendorongmu berkarya?

Kalau mendorong mungkin kurang tepat, lebih ke arah adiktif. Setiap kali selesai mengerjakan satu karya, apalagi jika karyanya bagus, ada kenikmatan yang berbeda. Rasa itu yang bikin saya ingin terus berkarya. Ketika karya diapresiasi oleh publik, wartawan, atau kolektor, hal tersebut menambah rasa puas yang sebelumnya sudah dirasakan. 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Tahun 2011 saya tinggal di satu rumah kontrakan. Namanya bujangan, kalau bangun pagi kelaparan kita harus cari sarapan keluar rumah dong. Saat itu tempat yang jual sarapan berjarak hampir 1 kilometer jadi lumayan juga bisa liat-liat selama berjalan kaki ke tempat makan. Satu momen saya lihat pagar rumah tetangga yang tipenya batang-batang lurus vertikal yang kalau dilihat dari samping tampak penuh, tapi dari depan tampak kosong. Momen itu menginspirasi seri karya triple-sided paintings saya. Seri karya lukis yang bentuknya kayak pagar-pagar yang bisa dilihat dari 3 sisi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Waktu itu kita masih tingkat 2 kuliah. Pameran bersama anak-anak jurusan seni lukis dan seni grafis. Judul pamerannya “Krisis Identitas” di Galeri Dago Tea House, Bandung. Sesuai judulnya, pamerannya krisis banget. Malu kalau lihat foto-fotonya juga. Haha.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya sering mengidentifikasi diri saya sebagai orang yang berada di tengah-tengah. Saya suka melihat satu persoalan dari beragam sudut pandang. Karakter itu sedikit banyak tercermin di karya-karya saya.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Rene Magrite, David Samuel Stern.

nyonya

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Tahun 2011 sempat ikut lomba Bazaar Art Award, dan keluar sebagai pemenang pertama. Momen itu membantu meyakinkan orang tua bahwa anaknya bisa berjuang di jalan seni. Tahun 2015 melangsungkan pameran tunggal dan mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Pameran diliput banyak media massa, dan karyanya ada yang dikoleksi dan dibawa ke Melbourne untuk dipamerkan kembali. Saat ini karya tersebut dipajang di Asia Institute, University of Melbourne. Pameran tunggal itu juga sangat berkesan bagi saya karena dalam pengerjaannya saya dibantu oleh banyak orang. Sebagai seniman yang biasanya asik sendiri bikin karya di studio, pameran tunggal kemarin membuat saya bekerjasama dengan teman-teman untuk membantu terciptanya karya-karya yang dipamerkan.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai seorang yang pekerjaannya berpusat pada penciptaan imej, tentu keberadaan sosial media memberi keuntungan. Imej berfungsi ketika dilihat, maka dengan sosmed, kemungkinan imej untuk berfungsi menjadi lebih besar dan lebih cepat. Membuat karya yang diciptakan bisa diapresiasi lebih banyak orang.

eksplorasi-handmapping

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Bandung itu sangat kondusif untuk produksi karya seni, iklimnya adem, vendor material seni banyak, teman-teman seperjuangan di sini semua, kalau lagi bosan di mana-mana ada tempat nongkrong, acara-acara seni juga frequently diadakan di beragam galeri di dalam kota. Akan tetapi, untuk event seni yang bersifat internasional, Bandung kurang, kita harus keluar kota. Minimal ke Jakarta dan Jogja. Kalau mau lebih jauh lagi, kita harus terlibat proyek di luar seperti Singapura, Hongkong, Tokyo, dan kota-kota dengan art event internasional lainnya.

seeing-is-photographing

Punya talenta rahasia di luar seni?

Saya bisa melakukan gerakan elastico, gerakan menggocek flip-flop khasnya Ronaldinho. Kalau saja badan saya lebih tinggi, dan dulu orangtua setuju saya ikut SSB, mungkin saya sekarang sudah jadi pemain sepakbola profesional. Haha.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah, nonton Bein Sport!

Target sebelum usia 30?

So far so good, di ulang tahun ke-30 inginnya bisa bilang so far so awesome!

a4-motionview

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s