#30DaysofArt 25/30: Sakinah Alatas

Berasal dari keluarga keturunan Arab yang konservatif dan religius, arti seni bagi gadis kelahiran Bogor, 14 April 1994 ini adalah upaya untuk berdialog sekaligus mempertanyakan berbagai hal yang mengusik benaknya. “Saya mempunyai kegelisahan dalam masalah dampak dari tradisi pernikahan sistem endogami, pengkultusan Alawiyyin, dan status sosial yang diamini oleh banyak golongan Alawiyyin tersebut.  Alawiyyin adalah sebutan untuk suatu kaum/golongan yang memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW. Dari latar belakang tersebut banyak yang mempengaruhi saya dalam pembuatan karya,” terang Nina yang masih berstatus mahasiswi seni rupa di Universitas Negeri Jakarta. Merasa belum pantas menyandang gelar seniman dan lebih nyaman disebut sebagai perupa, gadis yang kerap mengeksplorasi topik religi lewat karyanya ini juga memiliki organisasi massa yaitu ICFAM (Indonesia Contemporary Fiber Art Movement) dan kolektif Buka Warung yang terdiri dari 18 seniman perempuan.

img_5071-copy

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak duduk di Sekolah Dasar saya senang sekali menggambar dan sering ikut lomba menggambar walaupun jarang sekali menang, dan ketika SMP dan SMA saya senang dengan mata pelajaran Seni Budaya. Ketika kuliah saya tertarik untuk mengambil jurusan Seni Rupa, karena saya merasa hanya jurusan itulah yang saya bisa.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Mella Jaarsma, Agatha Olek, Sirin Neshat, Mulyono, Prihatmoko Moki, dan Hendra Blankon Priyadhani.

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sampai saat ini saya belum menemukan satu medium/karakter medium yang cocok untuk saya, karena dalam berkarya saya kerap menggunakan banyak medium, dan juga masih terus mencari medium yang pas dan cocok untuk membicarakan apa yang ingin saya sampaikan.

dsc02230

dsc02246

Apa idealismemu dalam berkarya?

Dalam berkarya saya selalu mencoba jujur kepada diri saya, karya saya, dan audience. Saya senang sekali apabila ada audience yang merasakan hal yang sama seperti pada karya tersebut, di situ saya merasa senang sekali. Dan saya juga suka membuat karya yang menantang diri saya dan spontanitas.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dilihat dari ciri khas estetik dalam berkarya saya juga masih suka berubah, yang pasti saat ini saya suka dengan medium instalasi ruang, karena lebih bisa banyak bercerita dan mencoba mengajak audience untuk setidaknya dapat mengerti apa yang saya kerjakan dan berharap dapat dirasakan oleh audience.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya adalah pameran tugas dari senior setelah masa ospek selesai, temanya “Sama Rasa Sama Rata”, tahun 2012.

karya-terbaru2

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mengikuti program Three Musketeers di Ace House Collective Yogyakarta selama 3 bulan, yang mana saya mendapat bimbingan, pembelajaran, kritik dari banyak seniman-seniman di Yogyakarta juga bertemu orang-orang baru yang membuat saya mencoba untuk terus belajar bagaimana menjadi manusia berguna dan menjadi seniman.

Kalau untuk kamu sendiri, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebenarnya saya merasa belum pantas dijuluki sebagai seorang seniman, hehe. Lebih pede dibilang sebagai perupa aja kayanya. Di era social media seperti sekarang ini tentu memudahkan para perupa untuk mengenalkan dirinya ke publik, memperlihatkan karya-karyanya di social media, jadi saling mengetahui apa yang dikerjakan perupa-perupa lain hanya melihat di Instagram misalnya, tanpa pernah bertemu langsung. Memudahkan dalam mengetahui info acara pameran dan open submission untuk pameran, dan masih banyak lagi manfaatnya, yang pasti diambil yang positifnya aja sih, hehe.

bahan-colase2

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Fleksibel di mana aja. Yang pasti di Bogor atau Jakarta.

Project saat ini?

Project karya yang baru saja saya lakukan ialah “Mencari Kafa’ah” yang dipamerkan di Ace House Collective, Yogyakarta.

Target sebelum usia 30?

Pengen punya studio kerja sendiri, pengen menjelajahi Indonesia dan keliling dunia, udah itu aja.

bondage

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s