#30DaysofArt 26/30: Sarita Ibnoe

Mendeskripsikan masa kecilnya sebagai anak yang pendiam dan lebih suka mengamati sekitarnya, menggambar pun menjadi penyampaian ekspresi bagi seniman kelahiran Jakarta, 3 April 1989 ini. “Pertama kali saya coba menggambar itu waktu SD kelas 3 atau 4. Pulang sekolah saya langsung ke rumah dan kebetulan jam-jam segitu supir ayah saya pasti lagi di rumah. Pak Yono ini suka ngajak saya gambar, jadi dia gambar sesuatu lalu saya meniru gambarnya di kertas yang berbeda. Lalu yang saya ingat juga dia ngajarin cara bikin cincin dari karet gelang. Haha. Ya sejak itu deh saya jadi kebiasaan coret-coret,” ungkap lulusan Middlesex University, London ini. Selain medium charcoal dan akrilik yang menjadi andalan untuk menciptakan karya yang lekat akan imaji keseharian dari pengalamannya sehari-hari yang terkesan sketchy dalam palet warna earth tone yang hangat, saat ini Sarita juga sedang gemar bereksperimen dengan medium lainnya seperti instalasi dan seni serat.

 unnamed-1

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Saya datang dari keluarga yang biasa saja, bukan yang berkesenian. Ya walaupun saya punya oom dan tante yang seniman dan designer. Dari kecil saya tinggal di Jakarta sampai umur 13 lalu saya harus pindah ke Kuala Lumpur karena pekerjaan ayah saya. Akhirnya saya melanjutkan sekolah dan kuliah di sana. Tapi tahun terakhir kuliah saya pindah ke London dan akhirnya lulus S1 di sana. Sepertinya oom dan tante saya yang berkesenian itu mempunyai banyak pengaruh ke saya. Waktu kecil saya sering main ke rumah mereka dan melihat pekerjaan-pekerjaan yang sedang mereka kerjakan; dari melukis hingga graphic design. Dan sampai saat ini, kurang lebih itulah yang saya kerjakan. Dari kecil saya termasuk orang yang kalem, jarang ngobrol, dan suka ngeliatin orang, haha. Mungkin itu juga kebawa sampai sekarang dan terlihat dari karya-karya saya juga.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya saya pikir saya menggambar terus karena saya nggak bisa yang lain. Hehe. Tapi nggak sih, saya tetap berkarya karena saya menemukan keseruan tersendiri waktu berkarya. Walaupun pasti ada stressnya, tapi tetap penasaran dan ingin tahu sampai sejauh apa saya bisa berkarya. Menurut saya berkesenian itu pekerjaan yang misterius, haha. Nggak ada yang ngeh kalau ini juga susah, kecuali pekerja seni juga. Tidak ada benar salah, perlu pemikiran panjang, konsep yang matang, eksekusi yang hati-hati. Tapi kalau dilihat oleh orang awam, yang terlihat mungkin hanya bagusnya saja. Hal ini juga sih yang bikin seru.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sepertinya saat ini saya pun masih mencari. Adapun style atau medium yang saya pakai selama ini adalah hasil dari jam terbang dan experiment yang saya lakukan.

img_2040

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Di awal-awal berkarya, saya sangat suka karya-karya Mark Rothko dan Kurt Schwitters. Seniman lain yang saya idolakan adalah Kimsooja, Gerhard Richter, Agnes Martin, Marina Abramovic. And of course my local heroes: Handiwirman Saputra dan Ay Tjoe Christine.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Ekshibisi pertama saya sebenarnya waktu mau lulus, tapi it is requirement dari universitasnya, jadi mungkin jangan dihitung ya.

Waktu balik ke Jakarta saya kesulitan banget untuk mencari teman atau bergabung dalam ‘kelompok’ apapun. Teman sekolah dari dulu sudah entah kemana dan sedikit juga yang berkesenian. Tapi lama-lama teman-teman kuliah saya yang orang Indonesia akhirnya balik, jadi kami berkumpul lagi. Dari koneksi melalui mereka, akhirnya saya dan seorang seniman lain bikin pameran sendiri di sebuah café dan pada saat pembukaan ternyata lumayan seru juga, banyak yang datang.

Ada satu lagi ekshibisi pertama saya, yaitu: ekshibisi pertama saya di galeri dan dengan kurator. Bagi saya ini sebuah milestone yang penting, karena jadi tau proses kerja seniman pada umumnya dan dari sini juga saya berkembang sampai sekarang dan berkenalan dengan orang-orang di dunia seni nggak hanya di Jakarta tapi juga mereka yang berbasis di Bandung dan Jogja. Ekshibisi ini berlangsung di tahun 2012 di dia.lo.gue waktu saya lolos seleksi program mereka: Exi(s)t #2. Proses pameran ini cukup panjang, dan lumayan stressful karena istilahnya baru tau tentang fine art yang sebenarnya, sambil terjun langsung berkarya. Tapi hasilnya juga jadi lebih memuaskan, karena dengan proses itu, karya saya jadi lebih beralasan dan bercerita, bukan lagi hanya sekadar skill menggambar saja yang digunakan.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme saya dalam berkarya adalah di mana saya punya waktu yang cukup.

img_1965

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Saya terbiasa membuat karya dari keseharian dan pengalaman saya. Dan juga terinspirasi dari dialog-dialog bersama orang lain. Sering kali gambar/karya saya terkesan sketchy dan mempunyai pallete warna yang khas.

Apa yang menjadi personal breakthrough paling berkesan sejauh ini?

Setiap saya menyelesaikan sebuah karya yang menurut saya memuaskan, itu sudah menjadi sebuah pencapaian. Sejauh ini mungkin salah satu pencapaian yang berkesan adalah waktu membuat sebuah karya yang dijadikan finalis Gudang Garam Indonesia Art Award.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media sekarang?

Susah! Haha. Saya juga kadang-kadang bingung kenapa tetap dijalanin. Tapi ya udah, kecebur, jadi basahin aja sekalian.

 memendam-diam

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Art scene di Jakarta (atau mungkin di Indonesia) sedang sangat maju ya sepertinya. Walaupun awalnya kurang seimbang, dalam arti; banyak yang menjadi seniman, tapi bagian dari ekosistem dunia seni seperti artist manager atau kritikus seni dan lain-lain tidak naik secepat jumlahnya seniman yang bertambah. Tapi bagus juga semakin banyak orang aware dengan profesi-profesi dalam dunia seni.

Punya talenta rahasia di luar seni?

I am so good at travelling solo! Haha! Not sure if that’s a skill, but sure is one of my favourite thing to do.

img_5474_ 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Kemungkinan besar di rumah, haha. Mungkin kadang di pembukaan pameran atau di Roti Bakar Wiwied.

 

Project saat ini?

Sekitar setahun belakangan ini saya sedang merencanakan sebuah personal project tentang rumah atau tempat tinggal, tapi belum yakin akan jadi seperti apa. Sejauh ini kalau ada teman yang pergi ke luar kota atau luar negeri, saya selalu titip bawain tanah/kerikil dari tempat itu dan ditaruh di dalam botol transparan yang tertutup. Sampai saat ini saya sudah punya tanah dan udara dari hampir 30 kota! Hehe.

Target sebelum usia 30?

Menghasilkan karya dengan medium yang sangat berbeda dari yang biasanya saya lakukan.

img_6290

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s