Book Club: Katyusha Methanisa Picks Her 5 Favorite Books

Bicara soal isu mental health di Indonesia secara umum sayangnya memang masih dilumuri stigma yang pekat. Edukasi dan awareness yang kurang soal kesehatan mental secara klinis membuat isu ini dianggap tabu dan mayoritas pun memilih untuk menyimpannya sendiri. Alih-alih datang ke psikolog atau psikiater, banyak orang yang justru menganggapnya sebagai persoalan klenik dengan mengunjungi “orang pintar” atau menyamakan masalah mental dengan kurangnya iman dan ibadah seseorang. Untungnya, saat ini banyak yang akhirnya menemukan pencerahan di internet, entah itu dengan mengedukasi diri sendiri dan orang lain tentang seluk-beluk gangguan mental lewat berbagai artikel atau membicarakan mental health secara candid baik dengan memakai identitas asli maupun anonim. Salah satu yang concern soal isu tersebut adalah Katyusha Methanisa. Di antara kesibukannya sebagai Mahasiswi Arsitektur UI, penulis lepas berusia 20 tahun yang biasa dipanggil Katy ini menyalurkan kegelisahan dan pemikirannya tentang isu personal tersebut dalam bentuk tulisan untuk beberapa publikasi online dan berperan sebagai editor bagi 2AM Club, sebuah zine bertopik mental health yang baru saja merilis edisi pertamanya. “Kita pengen ada safe space untuk saling berbagi cerita aja sih, karena ngomongin isu kesehatan mental masih merupakan sebuah tabu di lingkungan kita. Kita berharap dengan memulai percakapan tentang hal ini, stigma yang lekat dengan penyakit mental berkurang. Mungkin nggak langsung, tapi dikit-dikit lah,” terangnya tentang zine yang tak hanya berisi pengalaman pribadi para individu dari berbagai latar yang struggling dengan masalah mental masing-masing tersebut, tapi juga review buku, musik, film, serta informasi seputar layanan kesehatan mental. Sambil menjawab beberapa pertanyaan lebih lanjut, Katy turut membagikan 5 judul buku favoritnya.

246104

Saat ini banyak anak muda yang lebih terbuka soal isu mental health di internet dan peduli tentang isu-isu seputar itu, which is good, tapi di sisi lain, ada kecenderungan untuk glorifying the mental health and sadness itself, mulai dari Tumblr aesthetic hingga orang yang self-diagnosed dan bangga dengan sebutan bipolar, OCD, dan sejenisnya. How do you feel about it?

I feel like people with real mental illnesses get second guessed enough without the help of individuals that you mentioned, haha. These individuals make it that much harder for people with real illnesses to talk about it. I know from experience that one of the worst things that can happen when you share your condition with others is having them question your condition, or discount them as you being dramatic. On the other hand, teens are definitely becoming more aware of these issues, and as a post-millennial I am so proud of us, haha.

Menurut kamu seberapa pentingnya untuk mencari bantuan professional? Selain takut di-judge, banyak juga yang merasa bantuan professional itu mahal atau simply kurang info, apa yang harusnya dilakukan untuk masalah ini?

Emang mahal banget, huhu. I definitely understand why so many people shy away from getting professional help. Untuk gue sendiri, dulu gue kurang tahu di mana bisa dapat treatment, karena keluarga dan teman saat itu nggak ada yang menggunakan layanan kesehatan mental. Banyak orang yang sama kaya gue juga. Saling bertukar info tentang ini sangat penting! Kadang udah ke psikolog/psikiater pun mungkin aja nggak cocok, dan bertukar info dengan teman bisa sangat membantu. Takut akan judgment sih yang lebih sulit diatasi. Peran keluarga dan teman penting buat nyemangatin seseorang untuk mencari bantuan profesional. Kalau lingkungannya suportif mereka bakal terdorong untuk ke sana. Sayangnya nggak semua orang punya privilege itu. Gue rasa kita emang harus memulai percakapan tentang kesehatan mental agar orang-orang tersebut nggak merasa sendirian.

Apa menurutmu seharusnya peran media sosial/internet untuk isu mental health?

I know a lot of people don’t feel this way, but I feel safer on the internet when sharing my problems. I treat my profiles as a safe space to share things I wouldn’t otherwise talk about in real life. I guess this is partly because I have the privilege of having open-minded internet friends who respect each other and even act as a support system, but that’s how I think the whole interwebz should be. Plus those memes about depression help me laugh about it.

Untuk 2AM Club sendiri kenapa masih berminat merilis dalam format cetak, instead of just digital?

We want people to take some time off from their screens and be completely immersed in the reading experience. Format digital juga kurang ‘intim’ dibandingkan dengan format cetak. Keberadaan secara fisik bisa menunjukkan bahwa yang bikin zine ini orang beneran lho. Other than that, having things in print and seeing other people read them in person is just soooo gratifying!

Apa saja yang dibutuhkan jika ada yang ingin berkontribusi untuk zine ini?

Kirim aja email ke klub2am@gmail.com. We read all submissions and select ones that we find important to share.

Apa saran terbaik yang pernah kamu dapat dan bisa kamu bagi soal mental health?

Your feelings are valid.

Katy’s Fave Books:

in-cold-blood

In Cold Blood

Truman Capote

Buku ini yang bikin gue mulai suka true crime. Sangat engaging dan sama sekali tidak membosankan. All the best parts of storytelling are there!

the-call-of-cthulhu-and-other-weird-stories-b-iext25380496

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories

H.P. Lovecraft

Susah banget untuk nggak garing kalau nulis tentang monster dan hal-hal aneh lainnya, tapi Lovecraft bisa. This book is my bible. Fun fact: my usernames are all Lovecraftian to some degree, haha.

the handmaid

The Handmaid’s Tale

Margaret Atwood

Kadang-kadang emang perlu baca buku yang bikin pengen marah, dan ini salah satunya. Positifnya, realita seorang perempuan saat ini jadi nggak keliatan buruk-buruk amat.

brief

Brief Interviews with Hideous Men

David Foster Wallace

Brief Interviews merupakan kumpulan cerita-cerita pendek. Salah satu ceritanya berjudul Forever Overhead, yang mungkin adalah cerita pendek favorit gue sepanjang masa.

mccarthy1

The Road

Cormac McCarthy

My ultimate feel-bad book.

 

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s