Movie Review: Aruna & Lidahnya

Bersama Aruna & Lidahnya, Edwin dan Palari Films mengajak kita bertualang dalam rasa dan romansa.

Tidak dianjurkan menonton film ini dalam kondisi perut kosong.

Itu pesan paling penting yang bisa saya berikan padamu tentang Aruna & Lidahnya, film terbaru garapan Edwin yang dipersembahkan oleh Palari Films. Kenapa? Well, karena film ini bertabur sajian-sajian lezat yang dihadirkan dengan begitu menggoda mata dan imajinasi sekaligus memancing respons alami kita untuk menjilat bibir, menelan ludah, atau menahan bunyi perut yang tiba-tiba. Intinya, tidak ada yang lebih menyiksa dibanding menonton film ini sambil kelaparan.

Diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak, film ini bercerita tentang Aruna (Dian Sastrowardoyo), seorang penyandang titel ahli wabah di atas kertas dan pemuja kuliner di hati. Aruna termasuk penganut paham “hidup untuk makan” di mana makan adalah kegiatan paling menyenangkan baginya, entah itu sendirian atau bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), seorang chef muda dengan palet lidah dan keterusterangan yang sama tajamnya.

Masakan lezat nyaris seperti obsesi bagi Aruna dan salah satu obsesi terbesarnya adalah racikan resep nasi goreng yang kerap dimasak oleh sang mbok sejak ia kecil. Berulang kali ia mencoba memasak nasi goreng tersebut, berulang kali juga ia gagal mereplika rasanya. Bono pun mengusulkan agar mereka melacak resep itu sampai ke kampung halaman sang mbok di Pontianak.

Kebetulan, mencuatnya kabar tentang wabah flu burung yang mulai menjangkiti manusia membuat Aruna ditugaskan kantornya untuk menyelidiki kasus tersebut di empat kota yang berbeda: Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang. Bersama Bono, perjalanan dinas itu turut menjadi wisata kuliner dengan daftar panjang  makanan yang harus mereka cicipi di kota-kota tersebut: Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Kacang Koah, Campor Lorjuk, Pengkang, Bakmi Kepiting, Choi Pan, dan tentunya, nasi goreng yang konon serupa cita rasanya dengan nasi goreng si mbok.

aruna

Petualangan tersebut makin lengkap dengan hadirnya Nadezhda (Hannah Al Rashid), sahabat keduanya yang membuat hati Bono mencair, serta Farish (Oka Antara), mantan supervisor merangkap cinta lama Aruna yang membuat lidahnya kelu. Bersama Farish yang kini kembali menjadi rekan satu timnya, Aruna mengunjungi beberapa peternakan unggas dan para pasien terindikasi flu burung.

Berbeda dengan Aruna dan dua sahabatnya, Farish sepintas berada di kutub yang berbeda. Ia kaum yang “makan untuk hidup”, yang menganggap makanan hanya untuk mengisi perut yang kosong. Namun, hal itu tak lantas menyurutkan dinamika yang perlahan mengalir dari satu meja makan ke meja makan lainnya. Percikan-percikan afeksi yang belum terungkap antara Aruna dan Farish, antara Bono dan Nad, serta letupan kecemburuan Aruna dan Bono melihat keakraban Nad dan Farish membumbui perjalanan mereka yang kaya rasa baik di lidah maupun di hati.

Dalam investigasinya, Aruna menemukan beberapa kejanggalan tentang data yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan serta sosok-sosok berpakaian steril yang seakan menyebarkan ketakutan akan wabah tersebut. Kecurigaan tersebut memperdalam konflik internal dirinya terhadap Farish. Tentang perasaannya yang terpendam, tentang hubungan rahasia Farish, dan dugaan bahwa isu flu burung ini hanya lahan basah untuk praktik korupsi.

Di Singkawang, rasa curiga berbalut benturan ego pun memuncak dan menyebabkan riak di antara keempat orang ini, namun, lagi-lagi makanan menjadi mediator terbaik. Pada akhirnya, ketika semua pertanyaan telah dijawab dengan terang-benderang, maka makan bersama orang-orang tersayang pun terasa lebih nikmat dan lidah Aruna tak lagi kelu.

aruna3

Aruna & Lidahnya merupakan film kedua Edwin bersama Palari Films setelah Posesif (2017). Keduanya adalah karya Edwin yang tergolong komersial dibanding film-film terdahulunya yang lebih bersifat arthouse. Namun, dalam film ini pun Edwin tak kehilangan sentuhannya. Racikan khas Edwin masih terasa lewat sinematografi lanskap langit/pemandangan, tone warna yang dreamy, serta surrealism yang terselip di beberapa adegan, utamanya di dua adegan mimpi Aruna yang lumayan absurd di mana ia memeras jeruk nipis langsung ke lidahnya dan menyebutnya “asin” serta adegan lain di mana ia meminum air laut dengan sedotan panjang lalu mencetuskan “tawar” tentang rasanya. Kedua adegan alam bawah sadar ini adalah cerminan bahwa memang ada yang salah dalam lidah seorang Aruna. Tak hanya tentang rasa, tapi juga perasaan.

Yang menarik dan membedakan film ini dari karya sebelumnya adalah bumbu humor dalam takaran yang pas. Bila biasanya film Edwin cenderung fokus pada satu atau dua tokoh, film ini menghadirkan empat karakter utama yang perannya bisa dibilang sama penting. Walau tak bisa dipungkiri bila Aruna memang tokoh utama dan poros cerita, yang diperkuat dengan kemampuan breaking the fourth wall, namun tanpa kehadiran Bono, Farish, dan Nadezdha, niscaya film ini rasanya akan hambar, atau seperti yang diungkapkan Bono dalam sebuah adegan: Lauk dalam makanan bisa terasa terlalu asin atau terlalu pedas kalau hanya dicicipi satu per satu, baru ketika semua komponen lauk di piring diambil sedikit-sedikit lalu dilahap dalam satu sendok maka nikmatnya baru terasa maksimal.

aruna1

Untungnya, chemistry di antara Dian, Nico, Oka, dan Hannah berhasil disajikan dengan begitu renyah, Tanpa adanya chemistry yang pas di antara para pemain, film ini akan langsung bubar jalan. Keempatnya berhasil membungkusnya dengan celetukan ringan, komentar usil, dan gestur-gestur kecil yang seringkali berbicara lebih lantang dibanding sekadar dialog. Yang juga menarik adalah film ini memberikan kesempatan bagi keempat tokoh untuk lebih mengenal satu sama lain dengan lebih intim. Tak hanya berputar pada Aruna dan Farish saja, kita juga bisa melihat dinamika antara Aruna dengan Bono, Bono dengan Nad, Nad dengan Farish, Farish dengan Bono, lalu tentu saja momen Aruna dengan Nad yang menampilkan dinamika antara perempuan dengan begitu real: mulai dari meminjamkan pembalut hingga obrolan tentang cinta dan pentingnya membawa kondom.

aruna2

Bagaimanapun, cerita tentang empat orang dewasa muda yang telah ajek dalam karier namun masih gamang dalam urusan cinta memang belum terlalu banyak kita temukan di menu film Indonesia yang terkesan itu-itu saja, dan hal itu yang coba ditawarkan dalam film ini.

Bila indikator kesuksesannya adalah penonton yang mendecakkan lidah setiap visual makanan terpampang di layar dan ikut tertawa di adegan atau dialog yang memang diharapkan mengundang senyum, maka film ini rasanya telah berhasil menuntaskan dahaga tersebut.

Aruna & Lidahnya tayang di bioskop tanggal 27 September 2018

 

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s