Writers Club: Interview With Lala Bohang

Bagi perempuan kelahiran Makassar, 9 Maret 1985 ini, menulis dan menggambar bisa dibilang berperan sebagai personal cope mechanism. “Sejak kecil saya dekat dengan dua aktivitas tersebut, basically saya tidak berubah sejak anak-anak. I am such a boring person,” akunya. Memadukan pemikiran dan perasaan personalnya ke dalam bahasa visual dan kata, Lala yang lebih dulu dikenal sebagai ilustrator telah merilis seri buku berjudul The Book of Forbidden Feelings (2016), The Book of Invisible Questions (2017), dan The Book of Questions (2018) yang menggabungkan dua hal favoritnya: syair dan ilustrasi. Mengidolakan Umar Kayam dan Marianne Katoppo, saat ini ia tengah merawat metabolisme tubuh dan berusaha menikmati hidup sambil menyemangati diri untuk melakukan eksplorasi atas teks dan gambar.

forbidden

Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

Entah kenapa Opa saya selalu membelikan buku-buku karangan penulis luar waktu kecil, seperti dongeng-dongeng klasik dan Enid Blyton. Saya ingat pertama kali baca buku penulis lokal adalah di perpustakaan sekolah saya di SD Karuna Dipa di Palu, Sulawesi Tengah judulnya Memungut Telur Itik Sambil Menyanyi karya Siti Halimah berkisah tentang satu keluarga yang memelihara itik dan ayam karena mereka yakin itik-itik yang mereka ternakkan itu akan menghasilkan uang dan memberi vitamin dan protein untuk mereka. Entah kenapa saya terkesima sekali dengan buku itu, baik dari sisi cerita dan ilustrasi yang menemani. Bahkan saya mengambilnya diam-diam dari perpustakaan (jangan dicontoh!) karena buku itu tidak dijual bebas dan saya masih menyimpannya hingga sekarang.

Bumi Manusia

Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer.

Entahlah tulisan Pram itu rasanya bukan sekadar tulisan tapi vitamin, kayak bangun gitu. Pram memiliki cara yang unik menyuntikkan sejarah dan nasionalisme ke pikiran pembacanya tidak dengan cara yang memaksakan atau metode aktivisme tapi melalui karakter. Nyai Ontosoroh, Minke, Darsam, Annelies, dan semua karakternya seakan nyata dekat dan bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Saya terlambat membaca buku ini yaitu di usia dewasa, itu mengesalkan sekali. Hal itu membuat saya berandai kalau saja kurikulum pendidikan di Indonesia membuat daftar buku yang wajib dibaca di setiap jenjang pendidikan maka Bumi Manusia (dan otomatis Tetralogi Buru) akan ada di urutan pertama karena ceritanya sangat relevan hingga sekarang dan kapan pun, baik itu kelebihan atau kekurangan orang Indonesia, nasionalisme, feodal berbalut kapitalisme, kepemimpinan, dan hal sederhana seperti membedakan baik dan benar atau mendengarkan hati nurani. The realness level of bumi manusia Indonesia dengan segala polemiknya terlalu tinggi untuk disanggah.

Bagaimana kamu melihat dunia sastra di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

Saya lebih senang menyebutnya dunia literasi, karena terasa inklusif. Literasi hari ini di Indonesia semakin beragam warnanya dan melihat hal itu menyenangkan. Cara hidup dan metode bertahan manusia terus tumbuh dan sudah sewajarnya semua lini kultur juga tumbuh. Harapannya semua akan semakin cair, antar penulis, antar pembaca dan penulis, antar genre, antar penerbit dan penulis, antar penikmat dan penghasil karya, antar manusia. Hehe.

Marie Kondo

Bicara tentang kemajuan zaman, apakah kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

Saya sempat struggling dengan kepemilikan atas benda gara-gara virus Marie Kondo. Saya sepakat dengan prinsip “benda adalah beban” tapi memang hidup ini tidak bisa berhenti membeli barang. Jadinya sekarang saya lebih menimbang dalam membeli benda termasuk buku. Tapi memang sulit. Saya membaca buku digital untuk buku-buku yang memang tidak dijual di Indonesia tapi untuk buku yang bisa didapatkan di Indonesia saya lebih memilih membeli versi cetak terutama karya penulis Indonesia.

What’s next from you?
Try to unlearning everything.

Foto: Adhytia Putra via Instagram @lalabohang

Advertisements

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s