Waktu Telah Kehilangan Segala Makna

Bagaimana sebuah pandemi mengubah apa yang tadinya akrab menjadi asing. Oleh: Ai Weiwei. Alih Bahasa: Alexander Kusumapradja.

 

Sebuah pandemi mengubah cara kita memandang diri kita sendiri, dan itu nyata. Apa itu waktu? Bagaimana kita menggunakannya, menghabiskannya? Kita menelepon, makan siang, menyeduh kopi, memakai riasan. Waktu bisa kembali ke awal dan mulai lagi, namun bisa juga tersembuyi seutuhnya, terpangkas, menghilang. Waktu lebih dari sekadar apa yang terjadi antara satu momen dengan lainnya, atau harga yang harus dibayar untuk menyelesaikan sebuah tugas. Waktu dapat menjadi benih imajinasi dan bergerak lambat ketika kita tenggelam dalam kegiatan kreatif. Waktu mendorong aksi dan terikat dengan bagaimana kita bergerak maju dalam hidup dan dengan keteguhan kita untuk membuat diri kita tuntas.

Seorang perawat meninggalkan sebuah kasur pasien, dan beberapa hari kemudian temperatur sang pasien terjun bebas dan dia tak lagi membutuhkan ventilator. Lalu ada sedikit gelitik di tenggorokan sang perawat; suhu tubuhnya meninggi, dan dia lantas terobsesi pada sisa umurnya. Dia menjangka kembali hubungannya dengan keluarga dan orang-orang lain di sekitarnya. Di tempat lain pada waktu yang sama, seorang politisi menunaikan peran sosialnya dengan cara serupa mobil balap yang meluncur tajam melewati kurva sambil berusaha menjaga keseimbangan agar tak tergelincir atau tertabrak.

Bagi banyak jiwa lainnya, tak ada lagi daftar hal yang harus dikerjakan dalam benak mereka. Buang semua ekspektasi ke sudut ingatan! Batas antara waktu ini dan waktu itu mulai temaram. Hidup ternyata masih bisa berjalan tanpa harus disertai janji atau memenuhi tanggung jawab. Orang-orang yang kehilangan mata pencaharian ternyata juga kehilangan kehormatan dan kejengkelan mereka di waktu yang sama.

Waktu juga dapat menghapus iman, Tidak ada lagi eulogi, tak ada kata-kata terakhir, dan mayat-mayat tak lagi dipindahkan ke pemakaman yang terpangkas rapi. Mereka diletakkan ke dalam truk-truk berpendingin dan dibawa ke sebuah area parkir. Ada juga yang kehilangan kepercayaan pada pemerintah, pada orangtua, pada tetangga, di antara kemungkinan bahwa hidup akan terus berjalan. Berapa lama sayur-mayur dan melon masih tetap bertahan ranum? Nasi? Mie? Apakah kita akan punya cukup makanan sebulan dari sekarang? Beberapa bulan kemudian?

Pemahaman kita tentang waktu pun raib. Gelap, tapi kamu tak harus pergi tidur. Jarum jam yang masih berjalan adalah jarum yang merunut kematian. Angka-angka itu yang menjadi marka antara kini dan tak lama lalu. Kematian seorang bayi berarti satu nyawa, bahkan sebelum kesadaran sempat hinggap, hanya sekadar melintas dari satu keabadian ke keabadian selanjutnya. Sebuah ventilator dipindahkan dari samping kasur pasien tua karena toh sisa waktunya lebih sedikit dibanding pasien yang lebih belia.

Perbedaan antara manusia dan virus pun makin samar. Layar yang memonitor gelombang detak jantung menggantikan ombak di laut, menggantikan riak risiko di bursa saham.

Wuhan menjadi angka untuk dilacak: koordinatnya di peta dunia, besar populasinya, jumlah orang yang kabur sebelum kota tersebut ditutup, destinasi mereka. “Virus Wuhan” tertebar ke semua penjuru dunia, kematian melambung, dan skala penyebarannya meluluhlantakkan pemahaman kita tentang keteraturan, sains, rezim, kebebasan, dan kehormatan.

Orang bertanya-tanya: Seberapa besar virus ini? Seperti apa rupanya? Bagaimana ia bisa masuk ke sel hidup? Bagaimana ia mendapatkan “kunci” untuk menyelinap masuk ke sel? Bagaimana caranya membelah diri? Diserang sistem imun, dan akhirnya tumpas? Untuk memahami benda kecil ini, jauh lebih kecil dari bakteri, mungkin sama mudahnya seperti memahami sistem orbit Bumi dari sudut prima semesta.

Ruang, lokasi, skala, dan waktu adalah pangkal dari kesadaran diri. Pengabaian cara berpikir yang rasional mengantar kita pada sebuah kolaps di mana rasa takut, senang, ketidakpedulian, dan kebijaksanaan semuanya buyar tertiup angin. Coronavirus anyar ini, yang telah membuat dunia jungkir-balik, telah menampar orang untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tak pernah mereka pikirkan. Pakai masker atau tidak? Yang mana? Kapan produksi masker N95 selanjutnya tersedia?

Itu semua adalah topik serius dalam berita. Dan bagi seseorang, masker yang seringan bulu itu menggendong semua beban dari rasa takut, harapan, derita, dan kehangatan. Ketika pandemi ini menyurut di Cina, wilayah dunia lainnya baru sadar kalau mereka kekurangan masker. Gagasan soal “masker” menutupi konsep soal urgensi lainnya. Masker menjadi panji untuk kebanggaan nasional. Imajinasi tak lagi tertuju pada pendaratan ke bulan dan kendaraan yang bisa berjalan sendiri. Dengan harga yang sama untuk sebuah pesawat terbang komersial berukuran jumbo, kamu bisa membeli 10 juta masker dan 1.000 ventilator. Seperti itu.

Tapi toh tak ada pesawat di langit. Kamu bahkan tak keluar pintu rumah. Kota-kota menjelma jadi mausoleum, jalanan menjadi puing. New York, Paris, London, Venice—mereka terlihat seperti baru dihajar kiamat. Di balik pintu dan jendela yang tertutup ada pesan yang berbunyi: Itu adalah batasku; di luar sana neraka, di mana aku bisa tiba-tiba diserang dan menghilang, atau mungkin tertimpa bencana demi bencana.

Kaktus dalam pot, piano, lampu meja yang benderang, oven microwave—semua hal yang tadinya akrab berubah menjadi asing. Beberapa menjadi lebih penting; beberapa kehilangan arti yang sebelumnya mereka miliki dalam hidup kita. Tumbuhan yang ikut layu ketika pemiliknya gugur. Namun bunga-bunga liar justru mekar tanpa beban. Peduli apa mereka tentang bencana yang menimpa manusia?

Bunga-bunga terlihat lebih cantik dan di malam hari bulan sabit masih menggantung di langit. Musim semi pun tak menunda kehadirannya hanya karena tak ada orang yang bisa keluar dan memandanginya. Alam begitu dermawan, anggun, dan kamu tak pernah melihat udara sesegar itu. Hewan-hewan liar masuk ke kota dan berjalan bebas. Ikan dan burung yang lama hilang muncul kembali di habitat mereka.

Manusia, seperti virus, telah membajak ekosistem Bumi dan membawa kerusakan. Bertahan hidup, nafsu, dogma yang sesak, dan kesombongan yang memukau (kesombongan yang menjelma dari ketidakpedulian) mengisi relung manusia yang tubuhnya punya tanggal kedaluwarsanya masing-masing. Seperti virus, manusia butuh induk semang. Ketika sains dan alasan suatu hari nanti memberikan kita kunci untuk semua jawaban, di momen itu pula kita mungkin telah siap kehilangan segalanya.

 

Esai ini merupakan hasil translasi dari versi Bahasa Inggris oleh Perry Link yang menerjemahkan dari versi asli Bahasa Mandarin. Esai ini termuat dalam edisi cetak The Atlantic Juli/Agustus 2020 dengan headline “Time, Space, and the Virus.”

Ai Weiwei adalah seorang seniman dan penulis dari buku Humanity.

*Foto header Ai Weiwei via Washington Post. Caption: Seniman Cina Ai Weiwei menirukan jasad balita Suria Alan Kurdi di Pulau Lesbos, Yunani (Rohit Chawla untuk India Today).

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s