Ketika Marilyn Monroe Membaca

Sosoknya kerap direduksi menjadi sekadar karikatur gadis pirang semlohai yang terlalu cantik untuk bahkan menyentuh buku, namun semasa hidupnya Marilyn Monroe memiliki koleksi perpustakaan pribadi yang terdiri dari ratusan buku dalam berbagai topik.

Imperfection is beauty, madness is genius and it’s better to be absolutely ridiculous than absolutely boring.”

Konon, Marilyn Monroe pernah melontarkan kalimat tersebut meskipun kebenarannya sendiri belum sahih. Bagaimanapun, Marilyn dikenal sebagai sosok perfeksionis yang tak akan berhenti membetulkan riasannya sampai ia benar-benar merasa puas dengan hasilnya, jadi kalimat tentang ketidaksempurnaan di atas memang patut disangsikan. Namun yang pasti, Marilyn Monroe memang bukan sosok yang membosankan.

Terlahir dengan nama Norma Jeane Mortenson tanggal 1 Juni 1926 di Los Angeles, ia menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah rumah asuh dan panti asuhan sebelum menikah di umur 16 tahun dengan suami pertamanya, seorang buruh pabrik berusia 21 tahun. Pertemuannya dengan seorang fotografer saat bekerja di pabrik bersama para wanita lainnya lainnya ketika suami mereka berjibaku di Perang Dunia Kedua meluncurkan kariernya sebagai model pin up dan berlanjut ke dunia film lewat peran-peran kecil sebelum menemukan niche-nya di film-film komedi seperti As Young as You Feel (1951) dan Monkey Business (1952).

797px-Marilyn_Monroe_postcard
Foto kartu pos Marilyn Monroe, sebelum menjadi bintang Hollywood di akhir 1940-an.

Namanya sempat tersandung skandal ketika foto-foto bugilnya sebelum menjadi bintang terungkap, namun hal itu tak menyurutkan kariernya dan justru menarik atensi lebih padanya. Dimulai dengan peran utama di film Niagara (1953) yang memang mengekspos keseksiannya, film-film Marilyn berikutnya seperti Gentlemen Prefer Blondes (1953) dan How to Marry a Millionaire (1953) menahbiskannya sebagai “blonde bombshell” dan menjadi cetak biru bagi sosok gadis pirang bermata biru yang atraktif secara fisik namun bodoh.

Bagi banyak orang, termasuk saya, memori awal tentang Marilyn Monroe adalah sosoknya dalam balutan gaun putih gading di film tahun 1955, The Seven Year Itch. Dirancang oleh desainer kostum William Travilla, Marilyn memakai gaun tersebut dalam adegan berjalan dan berdiri di atas lubang ventilasi kereta bawah tanah di Lexington Avenue, Manhattan. Roknya tertiup angin dari bawah, mengekspos kaki dan pahanya dan dalam sekejap adegan tersebut menjadi salah satu imaji paling ikonik dari sejarah kebudayaan pop Abad 20 dan terpatri di kesadaran kolektif tentang sosok Marilyn Monroe.

Marilyn_Monroe_photo_pose_Seven_Year_Itch
Foto Marilyn Monroe syuting The Seven Year Itch di New York, 16 September 1954. Dirilis oleh Corpus Christi Caller-Times-foto dari Associated Press.

Kematian Marilyn di tanggal 4 Agustus 1962 yang hanya berselang kurang tiga bulan sejak ia menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan begitu sensual di pesta ulang tahun ke-45 Presiden John F. Kennedy melahirkan berbagai teori konspirasi yang percaya bahwa ia dibungkam negara dan dibuat seolah mati bunuh diri sekaligus mengekalkan statusnya sebagai legenda. Wafat di usia 36 tahun, sosoknya abadi dalam segala kecantikan fisiknya. Kita tak pernah berkesempatan melihat Marilyn Monroe dalam versi tua berkeriput selayaknya ikon sensual lain yang berumur panjang dan menua seperti Brigitte Bardot dan Elizabeth Taylor, yang membuat ingatan dan fantasi tentangnya tetap hidup dalam keprimaaan, obsesi, dan enigma.

Dalam buku berjudul The Many Lives of Marilyn Monroe (2004), profesor asal Inggris Sarah Churchwell menganalisa bagaimana sosok Marilyn dideskripsikan oleh media dan buku-buku biografi yang ada. Ia menyimpulkan tiga mitos terbesar soal Marilyn Monroe adalah ia wanita bodoh, rapuh, dan tidak bisa akting. “Dia sama sekali tidak bodoh, meskipun dia tidak pernah menyelesaikan pendidikannya secara formal, dan itu satu hal yang sangat sensitif untuknya. Sebaliknya, dia sangat cerdas dan tangguh. Dia harus punya dua kualitas itu untuk mengalahkan sistem studio Hollywood di tahun 1950-an. Citranya sebagai dumb blonde hanya peran, karena dia adalah seorang aktris! Aktris yang begitu lihai sehingga tak ada yang percaya bahwa dia bukan sosok yang ia tampilkan di layar.”

marilyn-reading-script
Marilyn Monroe di Griffin Park, Los Angeles, 1950. Difoto oleh Ed Clark untuk LIFE.

Sosok Marilyn Monroe muncul sebagai penyegar perfilman Hollywood dekade 1940-an yang didominasi aktris-aktris yang terlihat mandiri dan pintar seperti Katherine Hepburn dan Barbara Stanwyck yang memang menjadi panutan para penonton wanita yang mendominasi bioskop saat itu ketika kaum pria sedang terjun ke medan perang. Saat perang usai dan para lelaki pulang ke rumah, para eksekutif Hollywood berupaya menarik mereka kembali ke bioskop dan dari situ lah gagasan tentang Marilyn Monroe muncul. Ketika Norma Jeane memakai nama Marilyn Monroe, di saat itu pula ia seolah menjadi avatar dari semua fantasi seksual lelaki: Pirang, seksi, naïf, berani dalam hal seksual, dan bodoh.

Media sendiri berusaha menjual cerita bahwa Marilyn adalah sosok American Dream dan Cinderella Story yang sesungguhnya: gadis cantik dari masa kecil tidak bahagia yang sukses menjadi bintang di Hollywood. Peneliti film Thomas Harris menulis bahwa latar belakang Marilyn dari kelas pekerja dan keluarga yang berantakan membuatnya menjadi sosok yang seakan butuh bantuan dan lebih relatable bagi banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat dibanding bintang besar lain seangkatannya seperti Grace Kelly yang juga dikenal sebagai gadis pirang atraktif namun berasal dari keluarga kelas atas dan image yang lebih “mahal” dari Marilyn.

Peran-peran yang dimainkan Marilyn seolah tidak jauh berbeda satu sama lain dan umumnya berprofesi sebagai sekretaris, model, PSK, dan profesi lain yang seolah selalu membutuhkan bantuan sekaligus menjadi objek pemuas mata lelaki. Persona itu tak berhenti di layar saja, tapi juga di depan publik dan media. Marilyn biasa memakai suara yang dibuat-buat nyaris kekanakkan dan mengesankan semua ucapannya polos dan terlontar tanpa pikir panjang. Dalam wawancara bersama media, ia kerap mengungkapkan kalimat yang berkonotasi ganda dan memakai pakaian seksi yang bisa tiba-tiba “tak sengaja” terlepas dan mengekspos bagian tubuhnya. Sebuah gimmick yang ia lakukan dengan sadar untuk persona publiknya.

Persona, menurut Carl Jung, adalah wajah yang seseorang tunjukkan pada dunia dalam setting sosial. “Seperti topeng, didesain untuk memberikan impresi spesifik pada orang lain sekaligus menyembunyikan watak sesungguhnya dari orang tersebut.”

affidavit-wollen-home-marilyn-monroe-leaves-of-grass-2
Marilyn Monroe membaca Leaves of Grass karya Walt Whitman. Difoto oleh John Florea, 1952.

Saking meyakinkannya Marilyn dalam menampilkan persona publiknya, banyak orang yang percaya kalau itu memang kepribadian aslinya dan hal ini menjadi pedang bermata dua baginya. Di satu sisi, ia berhasil menyimpan identitas pribadinya dari konsumsi publik namun di sisi lain ia akhirnya distereotipekan dan kesulitan mendapat peran yang lebih serius maupun dihargai sebagai seorang wanita, terutama segi intelektualitasnya.

Saat bersekolah di Emerson Junior High School, ia disebut sebagai siswi yang nilainya biasa-biasa saja namun punya bakat menulis dan sering berkontribusi untuk koran sekolahnya. Ketika ia drop out dari SMA dan menjadi istri di rumah, ia pernah mengaku “mati bosan” selama pernikahannya bersama suami pertamanya, James Dougherty.

Dari banyak pria yang pernah singgah di hidupnya, mulai dari atlet beken Joe DiMaggio, aktor Marlon Brando, sutradara Elia Kazan, dan lawan-lawan mainnya, Marilyn pernah menikah dengan seorang intelektual bernama Arthur Miller yang memancing cemooh dari publik. Kolumnis gosip Walter Winchell menulis, “Bintang film pirang paling terkenal di Amerika kini menjadi kekasih intelek sayap kiri” dan majalah Variety menulis headline berbunyi “Egghead Weds Hourglass” ketika Marilyn menikahi Arthur sebagai suami ketiganya di musim panas 1956.

452px-Monroe_Miller_Wedding
Foto pernikahan Marilyn Monroe dan Arthur Miller dari TV-Radio Mirror edisi Mei 1961.

Dalam upacara pernikahan yang dilakukan secara adat Yahudi di rumah agen literatur Arthur dan dihadiri banyak rekan penulisnya, George Axelrod yang menulis naskah The Seven Year Itch memberi ucapan bagi kedua pengantin dengan komentar yang menurutnya lucu. Ia mendoakan pasangan ini dianugerahi buah hati yang mewarisi tampang Arthur dan otak Marilyn. Yang mungkin tak ia sadari, doa tersebut mungkin harapan terbaik bagi buah hati yang tak pernah dimiliki oleh Marilyn.

Ketika rumah lelang Christie’s melelang barang-barang pribadi Marilyn di tahun 1999, sebuah katalog merangkum semua buku yang ditemukan pada perpustakaan pribadinya dari berbagai topik, mulai dari antologi, seni, biografi, counter-culture, sains, politik, psikologi, literatur asing, Freud, hingga humor. Apakah Marilyn memang membaca semua buku tersebut? Atau mungkin ia hanya mengumpulkan buku namun tak dibaca, sesuatu yang disebut sebagai “tsundoku” dalam kultur Jepang? Relasi Marilyn dengan literatur adalah hal yang sering luput namun sebetulnya bukan hal yang mengagetkan.

Coba masukkan kata “Marilyn Monroe Reading” di Google dan kamu akan menemukan banyak foto Marilyn sedang membaca buku. Alfred Eisenstaedt pernah memotret Marilyn untuk majalah Life di sofa rumahnya di depan rak buku yang menjadi perpustakaan pribadinya, di foto yang lain ia duduk di sofa membaca buku puisi Heinrich Heine. Skeptis mungkin langsung berkata bahwa itu hanya pose, namun dalam salah satu foto paling humanis dalam hidupnya, Marilyn terlihat tenggelam menikmati buku Ulysses dalam sebuah sesi pemotretan bersama fotografer Eve Arnold untuk majalah Esquire di sebuah taman di Long Island tahun 1954.

EZp1qQ7X0AERGVQ
Marilyn Monroe Reading Ulysses,
Long Island, New York, 1954.
Foto oleh Eve Arnold.

Eve mengaku saat itu ia memang berusaha menangkap sisi lain Marilyn yang beda dari stereotipe yang melekat padanya. Gagasan bahwa Marilyn si pirang bodoh membaca Ulysses karya James Joyce yang bahkan sulit dipahami oleh mahasiswa-mahasiswa sastra adalah hal yang sulit dipercaya saat itu. Namun sang fotografer bersikeras bahwa foto itu justru foto yang tak sengaja ia ambil ketika Marilyn memang betulan membaca buku itu sambil menunggu pemotretan siap dilakukan. Dikutip dari esai karya Richard Brown yang berjudul “Marilyn Monroe Reading Ulysses: Goddess or Post-Cultural Cyborg”, Eve mengungkapkan: “Marilyn bilang dia menyimpan Ulysses di mobilnya dan telah membacanya cukup lama. Dia bilang dia suka bunyi kalimatnya dan sering membacanya dengan suara keras ke dirinya sendiri untuk mencoba memahami maksudnya—sesuatu yang diakuinya sulit. Dia tak bisa menyelesaikan buku itu dalam sekali duduk. Ketika kami berhenti sejenak di taman umum untuk foto, dia mengeluarkan buku itu dan mulai asyik membaca sembari saya mengisi ulang film. Tanpa pikir panjang, saya menangkap momen tersebut.”

Pernikahan Marilyn dengan Arthur Miller pun membuka kesempatan bagi Marilyn untuk berkenalan dan berteman dengan nama-nama besar dari dunia cendekiawan dan literatur. Sam Kashner menulis untuk Vanity Fair: “Datang ke sebuah pesta makan siang yang digelar oleh novelis Carson McCullers untuk penulis Isak Dinesen, Marilyn terlihat begitu hidup dan menikmati obrolan di sekitarnya. Dia berteman dengan penulis Truman Capote dan bertemu dengan beberapa idola literaturnya seperti penyair Carl Sandburg dan novelis Saul Bellow.”

MARILYNmonroe0313.2e16d0ba.fill-661x496
Marilyn Monroe di kediaman pribadinya. Difoto oleh Alfred Eisenstaedt untuk LIFE.

Dalam buku Fragments: Poems, Intimate Notes, Letters yang diterbitkan tahun 2010, Bernard Comment dan Stanley Buchthal menyusun koleksi tulisan-tulisan asli Marilyn berupa catatan harian, surat, dan bahkan puisi yang belum pernah dirilis sebelumnya. Artifak ini termasuk dalam peninggalan Marilyn yang diwariskan ke guru aktingnya, Lee Strasberg. Ketika Lee meninggal, koleksi tersebut jatuh ke tangan jandanya, Anna Mizrahi Strasberg yang kemudian mengizinkan isinya untuk dirilis ke dunia.

Seperti judulnya, tulisan-tulisan tersebut merupakan fragmen dalam berbagai babak kehidupan Marilyn/Norma. Isinya beragam, dari mulai catatan buku harian, memori, catatan tentang mimpi yang ia alami, puisi, hingga psikoanalisis tentang dirinya sendiri, pernikahannya, hingga trauma masa lalu seperti pelecehan seksual (di mana ia menulis “I will not be punished for it or be whipped or be threatened or not be loved or sent to hell to burn.”)

Dalam sebuah tulisan, Marilyn mengungkapkan cintanya pada Arthur di masa-masa paling bahagia pernikahan mereka dalam sebuah puisi:

my love sleeps besides me— in the faint light—I see his manly jaw give way—and the mouth of his boyhood returns with a softness softer its sensitiveness trembling in stillness his eyes must have look out wonderously from the cave of the little boy—when the things he did not understand— he forgot— but will he look like this when he is dead oh unbearable fact inevitable yet sooner would I rather his love die than/or him?“ Ah Peace I Need You—Even a Peaceful Monster”

Bagian akhir dari puisi itu menyuarakan ketakutannya bahwa ia selalu merasa insecure dan takut mengecewakan orang yang ia cintai. Dan ketakutan itu sayangnya termanifestasi ketika Marilyn menemukan catatan harian Arthur yang isinya mengungkapkan kekecewaan Arthur pada dirinya dan terkadang ia merasa Marilyn bersikap memalukan di hadapan teman-temannya. Sejak itu, hubungan mereka tak lagi sama. Marilyn mulai mengalami insomnia dan ketergantungan obat tidur. Suatu malam, ketika Arthur sudah tertidur, Marilyn menulis:

on the screen of pitch blackness comes/reappears the shapes of monsters my most steadfast companions … and the world is sleeping ah peace I need you—even a peaceful monster.

Pernikahannya dengan Arthur Miller hanya bertahan lima tahun, namun cintanya pada membaca dan menulis langgeng sampai akhir hayat. Catatannya ketika menjalani perawatan mental di Weill Cornell Medical Center dengan nama alias Faye Miller dan ketakutannya pada Peter Lawford yang merupakan ipar dari JFK dan menjadi orang terakhir yang bicara di telepon dengan Marilyn sebelum ia ditemukan meninggal dengan empat botol obat kosong di sekitar ranjangnya terdokumen jelas dalam catatan pribadinya.

Catatan tangannya mengungkap sosok wanita cemerlang dengan kegiatan menulis dan membaca sebagai tali penyelamat dalam hidupnya yang berombak. Buku menawarkan eskapisme bagi Marilyn dari dunianya yang hingar-bingar dan menjadi pendampingnya saat ia terserang insomnia sedangkan menulis menjadi kesempatan baginya untuk menganalisa perasaan dan pemikirannya dengan cara yang kontemplatif.

p03wx46c
Tulisan tangan Marilyn Monroe dari Fragments: Poems, Intimate Notes, Letters.

Tulisan-tulisan Marilyn yang terangkum di buku ini mungkin bukan calon peraih Nobel Sastra. Tulisan tangannya sulit dibaca, penuh coretan revisi, dan pengejaannya lumayan berantakan. Namun, kita seolah diingatkan bahwa di balik gemerlapnya sosok Marilyn Monroe, ada Norma Jeane sang gadis yang tidak pernah lulus SMA dan ketika mulai akting sempat mengambil kelas malam di UCLA untuk mempelajari literatur dan sejarah seni. Begitu haus pada ilmu dan menjadikan kegiatan membaca buku dan menulis sebagai eskapisme dari ingar-bingar Hollywood dan sorotan blitz media.

Kritikus film Jonathan Rosenbaum mengungkapkan, “Bahwa beberapa orang sulit mencerna intelektualitas Marilyn sebagai seorang aktris tampaknya berakar dari ideologi era yang represif, ketika wanita yang terlihat super feminin diharapkan tidak seharusnya cerdas.”

Literatur sudah sepantasnya menjadi bagian tak terpisahkan dari ikonografi seorang Marilyn Monroe. Dan ketika Marilyn Monroe membaca, ia menikmati setiap detiknya.

I’ve never fooled anyone. I’ve let people fool themselves. They didn’t bother to find out who and what I was. Instead they would invent a character for me. I wouldn’t argue with them. They were obviously loving somebody I wasn’t.” – Marilyn Monroe, dikutip dari On Being Blonde: Wit and Wisdom from the World’s Most Infamous Blondes (2004) oleh Paula Munier, hal. 52.

marilynmonroeathomebygeo-barris

Daftar lengkap buku yang ada di perpustakaan pribadi Marilyn Monroe: http://www.booktryst.com/2010/10/marilyn-monroe-avid-reader-writer-book.html

Shout out your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s