Be Kind, Rewind: 5 Illustrators Remaking Their Fave Movie Posters

Whether you judge a movie from the poster or not, poster film memang selalu menjadi bagian integral dalam ikonografi sebuah film. Lebih dari sekadar alat promosi yang dengan vulgar menyuguhkan kalimat bombastis dan nama-nama besar pelakonnya, ada sebuah masa ketika poster film menjadi medium bagi para ilustrator untuk menginterpretasikan adegan atau tema yang lebih subtle dalam film tersebut lewat gaya artistik yang beragam sebelum akhirnya tergerus oleh medium fotografi. Untuk membangkitkan semangat yang ada di masa-masa itu, saya pun mengajak lima ilustrator berikut untuk menginterpretasikan poster film favorit mereka dengan signature style masing-masing.

BIH HERO 6 POSTER_NYLON 

William Davis

Instagram: @wd.willy

 WD.WILLY PHOTO PROFIL

Describe yourself in one sentence!

Orang yang sering memperhatikan lingkungan sekitar.

Current project?

Project buku ilustrasi Azka Corbuzier, membantu Faza Meong dalam pembuatan Si Juki, dan tetap sebagai mahasiswa di suatu kampus di Jakarta.

Ilustrator favorit?

Eiichiro Oda (komikus manga One Piece), Rhoald Marchellius, Kim Jung Gi.

How would you describe your artwork?

Memiliki karakteristik dalam setiap pembangunan karakternya, sangat bermain dengan gesture dan ekspresif, dan sangat teliti tentang detail dan pencahayaan.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Big Hero 6! Karena sangat cocok banget dari mulai karakter, tempat, segala sesuatunya tentang Big Hero 6 sangat mirip dengan style saya!

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Karena menurut saya Big Hero 6 sangat unik dalam segi cerita maupun pembangunan karakternya sangat berkhas Jepang. 

Your Instagram crush?

@thepumpkinbear, @hong_sonnsang, @jakeparker, @david_adhinarya_lojaya

Next project?

Sedang dalam pembuatan komik dan pembuatan buku ilustrasi Azka Corbuzier.

mr nobody

Anindito Wisnu

IG: @aninditowisnu

Photo 11-10-15 17.55.41

Describe yourself in one sentence!

Seorang arsitek yang belum juga sukses dan sedang mencoba menjadi seniman yang siapa tahu bisa lebih sukses.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Sebelumnya hanya hobi, mulai serius berkarya setelah mendapat tawaran untuk menyumbang artwork di novel karya Risa Sarasvati, Sunyaruri.

How would you describe your artwork?

Similarity. Menangkap esensi dan karakter objek yang digambar melalui ekspresi muka, selebihnya saya bisa “bermain-main” di bagian lain seperti rambut, badan, dll.

Alasan memilih Mr. Nobody untuk di-remake posternya?

Film ini menyadarkan saya bahwa hidup terdiri dari keputusan-keputusan dan pilihan yang akan membawa kita ke cerita hidup selanjutnya. Sebuah pilihan yang sederhana pun ternyata sangat menentukan nasib kita ke depan secara signifikan. Pilihan tersebut bukan perkara benar atau salah, namun bagaimana kita memaknai segala proses dalam hidup di setiap langkah yang kita ambil. “If you never make choice, anything is possible.”

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Beauty And The Beast (2015), karena menampilkan salah satu cerita dongeng masa kecil favorit saya namun dengan sajian visual yang dark gloomy.

What’s your latest obsession?

Obsesi saya untuk bisa menyimpan karya saya di setiap negara yang ada di dunia ini.

cd5

Gemma Ivana Miranda

IG: @gemmaivanamiranda

Gemmabio2

Describe yourself in one sentence!

A visual enthusiast, dreamy dog lover, Disney aficionado, dessert devotee, and music habitué.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I grew up loving fairytales and folklores, and I have been an avid doodler since I was a kid. But it was not ‘till my college years I got into designing seriously.

Apa objek favoritmu?

Binatang! Untuk kolase,saya suka mencari ilustrasi vintage, foto-foto klasik, dan motif-motif abstrak.

Ilustrator favoritmu?

A lot of people! Samuel Burgess Johnson, Sam Chirnside, Sam Donaldson, Raf Ram, dan banyak lagi. I usually find random artists through my Behance account.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Semua film Disney klasik yang hampir seluruh elemennya dikerjakan oleh tangan, serial Harry Potter, dan apapun dari Wes Anderson.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Ilene Woods, yang mengisi suara Cinderella, adalah favorit saya, dan saya telah mencintai cerita ini sepanjang hidup saya. I find that older movies (and music!) give me so much tranquility and inspiration.

Your Instagram crush?

@kathkrnd, @yendryma, @theacademynewyork, dan @samuelburgessjohnson. Untuk fashion, saya suka @jennalyyy dan @stone_cold_fox

What’s the coolest art tip you’ve ever received?

My professor once told me to never lose myself in an artwork and to always give a touch of magic. After all, as quoted from Ursula Le Guin, “The creative adult is the child who has survived.”

 Scan10163

Muchlis Fachri

IG: @muklay

 Muchlis fachri_ foto 4

Describe yourself in one sentence!

Naughty or free but polite, hehehe!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Kehidupan sehari-hari dan sneakers. Dahulu aku senang sekali menggambar sepatu polosku karena gatal apalagi kalau warnanya putih, sempat dimarahi ibu karena itu.

Ilustrator favoritmu?

Banyak sekali, aku sangat terinspirasi dari seniman pop Amerika, sampai street art NYC yang membuatku amaze karena tidak mungkin dilakukan di Indonesia. 

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Aku suka sekali dengan setiap karya Tim Burton, lalu aku juga menggemari Johnny Depp karena setiap dia ada di film Tim Burton selalu dengan kostum dan make-up yang berbeda-beda, sangat total, dan saya memilih Edward Scissorhands, karena selain film ini sangat cool di segi visual, juga mempunyai cerita yang sangat mendalam.

Your Instagram crush?

@DABS MYLA dan @TRISTANEATON, they are dope, sick, and crazy and last but not least @laurenevemayberry.

Next project?

Let it flow! Tidak pernah merencanakan sesuatu dari jauh, semua serba shocking and shaking, hehe!

MOVIE POSTER -

Lissy Radityanti

IG: @lissy.ra

 IMG_4820

Describe yourself in one sentence!

I am a 21-year-old girl who is very passionate in any form of art, call it music, movie, or fine arts, I’m in!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I guess it’s in my blood, karena keluargaku turun temurun semuanya senang berkarya baik musik ataupun hand-craft. Tapi mungkin karena dari kecil aku juga suka nonton Disney’s cartoon especially the princesses, and always got mesmerized by its visual jadi aku pengen bisa menggambar sebagus itu dan jadi suka gambar dari kecil.

Apa objek favoritmu?

Girls. Because they are pretty, magical, and powerful. 

Ilustrator favoritmu?

Agnes Cecile, Diela Maharanie, dan Paula Bonet.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Any Wes Anderson’s movie. The Grand Budapest, Fantastic Mr. Fox, The Darjeeling Limited. Karena tone warnanya yang visual-appealing untuk saya dan teknik pengambilan gambarnya yang quirky dan khas banget.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Film ini salah satu film yang visualnya sangat indah dan dreamy. Walau film ini dirilis tahun 1999, tapi serasa lagi nonton film 70-an dari mulai tone film sampai musik-musiknya, so I guess that’s kinda cool.This movie is also an adaptation from the novel with the same title and the movie director, Sofia Coppola (one of my faves) cukup berhasil menyampaikan pesan melalui film ini tanpa mengurangi esensi dari bukunya. I also feel personally attached to the movie when I first watched it and that’s rarely happen.

What’s your latest obsession?

I’m obsessed with vintage movies, psychology, and Mr. Robot!

 

 

Art Talk: The Inky Juxtaposition of Mediocrux

mediocrux_onel-and-ervi_picture

Sama halnya dengan seorang penulis, sometimes being an artist is a lonely job. Bagi mayoritas, berkesenian adalah proses “bertapa” seorang diri dengan ego dan pemikiran personal, but some artists are lucky to have a fellow artist as their partner, in sense of romance, creative, or both. Seperti yang dialami oleh Norman Dave Carlo Nelwan (Onel) dan Eugenia Ervi, sepasang ilustrator dan tattoo artist Jakarta yang berkarya bersama dengan nama Mediocrux. “Kita awalnya satu kampus, cuma nggak dekat, lalu kita kembali bertemu lagi saat bekerja di kantor yang sama. Semenjak satu kantor kita mulai banyak berdiskusi dan ternyata kita memiliki cukup banyak persamaan lalu kita pacaran, hehehe. Sembari mengisi masa pacaran kita coba untuk membuat proyek bersama, lalu terbentuklah Mediocrux,” terang Onel dan Ervi yang sama-sama lahir di tanggal 24 Maret (Onel yang lahir di tahun 1991 lebih tua setahun dari Ervi). Mediocrux yang dimulai pada pertengahan 2015 pun menjadi platform kolaboratif bagi keduanya. Tak hanya terbatas oleh kertas, kanvas, dan dinding, Mediocrux juga membuat customary item yang bisa digunakan sehari-hari, seperti leather patches, sketchbook, dan dompet untuk menyebut segelintir produk yang dibuat secara hand-made dan hand drawn oleh tangan keduanya dari awal hingga selesai.

Apa cerita di balik nama Mediocrux itu sendiri? “MEDIOcre + horcRUX”, mediocre karena kita merasa banyak banget ilustrator yang karyanya bagus-bagus banget jadi sebenarnya mediocre ini diambil dari rasa minder kita dan horcrux karena kita suka dengan konsepnya (padahal kita bukan fans berat Harry Potter) di mana horcrux dipakai untuk menyimpan sebagian jiwa seseorang, di sini kita menganalogikan karya kita sebagai horcrux.

Apa saja influence untuk kalian dalam berkarya? Dari hal yang kita alami, obrolan sehari-hari, film yang kita tonton, musik yang kita dengar, buku yang kita baca, juga dari hal-hal yang mengganggu pikiran.

Siapa saja artist favorit kalian? Kalau Onel: Albrecht Dürer dan Danny Fox. Ervi: René Magritte.

Karya kalian identik dengan warna hitam yang pekat, baik di Mediocrux maupun personal, how do you two describe your own aesthetic? Kenapa hitam sejujurnya kita juga nggak tau pasti kenapa, cuma setiap ngebayangin mau gambar apa, yang kebayang ya gambarnya warnanya hitam. Mmm… bagi kita less is more, kurang lebih sih itu juga yang kita terapin dalam berkarya.

15338420_245515072529189_6178674402234728448_n

Untuk di Mediocrux sendiri dinamikanya seperti apa saat berkarya? Is there a clash of ego? Saat berkarya bersama kita biasanya brainstorming bareng lalu pada saat eksekusi karya, kita biasanya bagi porsi setengah-setengah untuk memenuhi ego masing-masing.

What it feels like to be a couple and making art together? Sangat menyenangkan karena bisa saling tukar pikiran dan jadi lebih mudah memahami satu sama lain as a couple.

Dari berbagai medium yang pernah kalian olah, apa yang menjadi favorit? Kertas dan kulit sih sejauh ini.

ef19c2263d089dc9d22db0ba827d2cba

Sejauh ini project apa yang memorable bagi kalian? Bagi kita kayanya sih yang paling memorable itu self-project kita dalam membuat merchandise Mediocrux, karena di situ kita banyak eksplor baik media maupun teknik dalam membuatnya.

Apa project selanjutnya? Untuk project mendatang kita ada rencana untuk buat buku ilustrasi,  tapi baru rencana aja sih, hehe.

What’s your dream project? Yang lagi kita jalani sekarang.

13715299_1751089861825515_423680283_n

http://www.instagram.com/mediocrux/

#30DaysofArt 30/30: Windi Apriani

Lahir di Bandung pada 10 April 1987, minat berkesenian dalam diri Windi Apriani sudah tertanam sejak dini. “Semenjak kecil saya sudah akrab dengan media lukis. Betapa tidak, memiliki seorang bapak yang hobi melukis sedikit banyak mempengaruhi bakat dan minat saya hingga kemudian saya diterima di FSRD ITB, membuat saya makin serius untuk menekuni jalur berkesenian. Yang mempengaruhi kekaryaan saya rasanya akumulasi dari masa kecil, hingga saat ini, dan pasti masa yang akan datang,” pungkas seniman yang dikenal dengan lukisan bermedium ballpoint dan oil di atas kanvas yang kerap kali berupa self-portrait dan menggambarkan simbolisme kehidupan domestik seorang wanita. Memiliki keluarga kecil bersama sang suami Agung Fitriana yang juga seorang seniman serta sang buah hati, peran barunya sebagai seorang istri dan ibu tak menyurutkan langkahnya dalam seni, hal itu justru menjadi katalis yang memperkuat konteks dalam karya wanita yang juga gemar membuat roti dan kue ini.

windiapriani 

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya selalu melihat bapak melukis, sejak saat itu mungkin ya. Hingga kemudian saya diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, membuat saya makin serius untuk menekuni jalur berkesenian.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Keinginan untuk menjadi seorang seniman adalah cita-cita saya sejak dulu, passion saya ada di situ, hal itulah yang mendorong untuk selalu produktif berkarya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Ada banyak ya, salah satunya Vilhelm Hammershoi, sebagai referensi pada beberapa periode awal karya saya.

windi-apriani-internal-dialogue-iii-ballpoint-and-oil-on-canvas-200x150cm-2016

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika masih mahasiswi, sebagaimana umumnya ada fase eksplorasi medium, pun gagasan visual dalam kekaryaan. Dari sekian medium yang pernah dicoba, semakin lama saya semakin nyaman menggunakan ballpoint dengan teknik/metode crosshatching.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saat aspek intrinsik dan ekstrinsik saling menunjang satu sama lain.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Secara umum, karya saya berangkat dari hal ihwal pengalaman personal, ihwal masa, ihwal momen, ihwal objek/benda-benda yg saling kait-mengait dan memorable bagi saya.

the-hush-sound

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya sebetulnya saat saya berumur 3 tahun, melukis dengan tangan, cat minyak di atas kanvas dan masih tersimpan sampai sekarang, hehe. Sedangkan pertama kali berpameran sewaktu mahasiswi dulu, pameran yang sifatnya lebih kepada karya studi. 

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Saya bersyukur atas apa yang saya jalani, setiap momen (kaitannya dengan karier kesenimanan dan aspek kekaryaan) saya rasa selalu berkesan.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya rasa cukup positif.

long-afternoon-shadows

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Cukup bagus. Menunjukkan grafik yang optimis.

What’s your secret skill besides art?

Hmmm, membuat kue dan roti.

rhythmical-afternoon

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di dapur, baking time.

Target sebelum usia 30?

Punya anak kedua.

after-nature

 

 

#30DaysofArt 29/30: Wastana Haikal

“Nama lengkapku Haikal, tapi aku coba tambahkan unofficial name di depan, yaitu Wastana (‘wasta’ di dalam Bahasa Sunda artinya ‘nama’, wastana = namanya). Why I chose this name because everytime I introduce my name, everybody always asking me my full name,” ungkap freelance graphic desainer kelahiran Bandung, 12 Juni 1994 yang baru saja lulus dari DKV ITB ini. Terinfluens dari kartun masa kecil seperti film-film Disney’s serta serial animasi Avatar: The Last Airbender, ia mengembangkan gaya ilustrasi yang terkesan quirky, vibrant, dan penuh detail. Maka tak heran jika ia pun menaruh minat khusus pada animasi. Proyek akhir kuliahnya berupa film animasi pendek 2D bertajuk Biwar yang berdasarkan folklore Papua adalah bukti dari talentanya yang menjanjikan.

haikal

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Specifically,aku lupa. Tapi, keluarga aku dari ibu dan ayah memang banyak yang tertarik terhadap seni dan estetis. Kakek aku, dua-duanya senang menggambar, tanteku tertarik dunia fashion, tante aku yang lain tertarik di bidang kerajinan, ibuku senang terhadap nilai estetis dalam berpakaian atau hiasan rumah. Jadi mungkin secara alami alam memperkenalkanku terhadap seni. Tapi untuk yang secara formal itu sepertinya terjadi waktu SD, jadi aku masuk ekstrakulikuler gambar, nah di situ gurunya adalah guru kelas keterampilan. Beliau adalah orang kedua yang sering melibatkan aku di dalam lomba gambar setelah ibuku.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Satu, tanggung jawab sebagai lulusan sekolah desain yang menurut aku emang harus selalu berkarya. Dua, mata pencaharian, haha. Tapi pada dasarnya aku senang banget buat sesuatu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Emte, NALU, Diana Volonskaya, Kelly Beeman, Ariel Victor, Zaruhi Galstyan, Rebecca Green, Oliver Jeffers, Rachel Ajeng, Alina Chau, Maruti Bitamin, and many more.

biwar

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Saat masuk kuliah, aku diperkenalkan dengan cat air oleh dosen gambar bentuk. Sebelum itu aku sudah tau apa itu cat air tapi belum pernah menggunakannya, lebih sering menggunakan pensil warna yang bisa di-blend menggunakan air. Nah, saat aku coba cat air, aku seneng banget. The after effect was mesmerized me. Stroke-nya sama hasil “beauty mess” yang ia hasilkan. Akhirnya mulai dari situ aku pakai cat air terus untuk membuat karya-karya manual. Pada satu waktu aku akhirnya beli pen tablet karena aku ingin mengasah skill digital drawing (cat air masih tetap berjalan). Intinya, sampai sekarang aku masih menjalankan manual dan digital karena aku merasakan ada keindahan tersendiri dari mereka berdua, dan terkadang mereka memiliki misi yang berbeda, dalam artian ada beberapa konsep karya yang aku rasa lebih cocok pakai manual, atau lebih cocok pakai digital sehingga aku menetapkan untuk mempertahankan itu.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Festive, vibrant, cheerfull, quirky, immature, detail, exaggerate.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama aku, kata ibuku adalah ikan lumba-lumba di lantai rumah pada saat umur 3 tahun. Dan semenjak itu aku terus menggambar sampai detik ini. Kalau official pameran aku yang pertama pas ada di tingkat 1 kuliah. Pameran tugas akhir tahun 1 untuk penentuan program studi di tingkat 2. Seperti mahasiswa yang lain, aku menampilkan tugas-tugas tingkat 1 seperti Nirmana, gambar bentuk, gambar konstruksi, dan lain-lain. I was so excited that time bukan karena pamerannya tapi karena persiapannya yang benar-benar mengerahkan 200+ orang satu angkatan untuk membuat pameran itu. Kami menginap di kampus, men-display, dan lain-lain.

untitled

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Berkesempatan meluncurkan buku ilustrasi anak pertama aku awal tahun 2016 di bawah asosiasi Room To Read dan PROVISI dan menyumbangkannya hampir ke seluruh perpustakaan terpencil di Indonesia bersama buku-buku dari ilustrator lain. Satu lagi, ini agak fanboyish tapi, I was so happy salah satu karya aku tentang Meghan Trainor mendapat apresiasi dari Meghan Trainor dan dia me-repost itu.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Aku bisa mendapatkan unlimited referensi. Like really. Unlimited. Jadi aku bisa tau orang-orang skill-nya udah sampai mana, media apa saja yang dipakai, tutorial, dan lainnya yang menyangkut kemakmuran skill kita. Dan kalau beruntung kita bisa personal message ke artist yang kita tuju dan menjadi teman di dunia maya. Tapi terkadang aku bakal mudah putus asa. So many talented people on internet. Dan nggak jarang karya mereka keren mampus. Dan kadang aku suka jadi down, putus asa, dan bahkan bisa sampai berhenti berkarya. Padahal mungkin aku harus sabar sedikit, siapa tau aku sedang on the way ke sana with more practice and intergrity atau aku memang nggak bisa kaya yang lain karena memang itu keunikan aku dan gimana caranya keunikan aku itu jadi nilai tambah.

guys

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Kalau untuk Bandung sendiri, aku udah mulai senang karena sudah mulai didandani di sana-sini. Nuhun Kang Emil. Sebagian orang bilang beliau hanya menata kota namun tidak membenahi kota. Well, I think dia membenahi kota juga. Kota itu di dalamnya ada manusia, dan manusia butuh hiburan dan sesuatu yang eye pleasing dan Ridwan Kamil udah bikin itu dan menjadi contoh untuk kota- kota lain. Walaupun Bandung sekarang macetnya udah mampus. But anyway, I like his programs and progress. Orang-orang di Bandung, contohnya saja di ITB sudah mulai menyadari berapa besar nilai seni dan desain di berbagai aspek kehidupan. Dalam bikin acara, brand dan lain-lain. Bahkan ada kabar, karena ITB sedang mengejar sebuah akreditasi, mereka mengajak teman saya untuk membuat mural di setiap fakultas. And it’s such an old song, every time I graduate from school, the school gets more beauty. Tapi ya gitu, sebagian besar orang masih kurang concern terhadap nasib dompet para desainer dan seniman. Hiks.

Current obsession?

I really want to go to America no matter what the purpose is. I want to live there, one week is enough. I want to be one of the animator, or illustrator, or intern in Walt Disney’s movie production.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di kamar aku, duduk di depan laptop. Aku nggak terlalu banyak main keluar pas weekend, karena jarak rumah aku jauh dari pusat kota, bisa 2 jam. Jadi keluar rumah kalau ada occasion aja. Paling aku keluar ke Miko Mall, nearest mall that provides duniawi amusement from my house kaya bioskop, KFC, McD dan lain-lain. Paling jauh ya sekitaran Kota Bandung, terutama Dago. Biasanya aku kumpul sama teman sambil ngobrol atau ngerjain kerjaan.

baroque-2

Project saat ini?

Aku baru menyelesaikan proyek animasi dari J&T Express semacam pengantar paket yang digunakan untuk pelatihan para kurir. Aku juga baru menyelesaikan proyek buku cerita seri tentang pertumbuhan seorang cewek, aku dapat bagian cerita saat dia menemukan kesempurnaan dirinya. Selanjutnya aku bakal ikutan workshop ilustrasi bersama Room To Read dan PROVISI dengan penerbit-penerbit yang dari workshop tersebut akan dibikin buku cerita anak dan dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Lalu aku lagi merencanakan bikin studio animasi bareng partner aku.

Target sebelum usia 30?

Menaikkan haji orang tua, memiliki kendaraan pribadi, lulus S2, menjadi desainer yang memiliki pribadi yang baik, terlibat dalam produksi animasi baik luar atau dalam negeri, have 10k followers on Instagram.

jovi

#30DaysofArt 28/30: Theo Frids Hutabarat

Melewati masa kecil di Bekasi yang menurutnya jauh dari paparan dunia seni, satu-satunya akses bagi seniman kelahiran Jakarta, 6 Februari 1987 ini pada dunia seni rupa adalah melihat gambar di buku. “Waktu SMP saya pertama kali melihat buku tentang Vincent van Gogh di sebuah toko buku. Karena saya tidak sanggup beli buku itu, jadi saya pelototi isi buku tersebut agar semua terekam di dalam kepala. Dari buku itu juga saya tahu saudara laki-laki Vincent namanya sama dengan saya, Theo. Sejak saat itu saya berpikir mungkin ini pertanda, haha,” kenang peraih magister FSRD ITB yang saat ini juga berprofesi sebagai guru seni rupa di sebuah sekolah swasta di Bandung. Selama masa studinya, ia menemukan minat pada persoalan di sekitar proses penciptaan karya lukis yang kemudian diwujudkan dalam karya-karya lukisan yang menampilkan seorang pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi, sebuah insepsi menarik yang menyoal referensi dan originalitas dalam dunia yang ia geluti

theo-frids-hutabarat

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya suka menggambar, tapi gambar saya saat itu banyak dipengaruhi komik-komik Jepang, khususnya Dragon Ball dan Offside. Orang tua selalu mendukung saya, tapi secara khusus saya ingat momen di mana almarhumah Nenek memarahi ibu saya karena sempat melarang saya kotor-kotoran saat membuat karya. Berkat kejadian itu saya seperti mendapat license untuk berkreasi sebebas-bebasnya, haha. Saya juga ingat guru seni rupa saya di SMP, Pak Aji Sumakno, yang mengenalkan saya pada cat air dan memamerkan hasil karya saya di sekolah. Waktu itu rasanya bangga sekali bisa memamerkan karya ke teman-teman di sekolah.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya, karya seni mestinya bisa menyediakan jeda dalam hidup yang makin cepat dan sibuk ini, untuk menyadari hal-hal yang terlewat dan tidak sempat terpikirkan.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Francis Bacon, Egon Schiele, Paul Cezanne, dan tentu saja Vincent van Gogh.

the-labor-oil-on-canvas-200x150-cm-2014

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sejak masuk Studio Seni Lukis FSRD-ITB, saya menghabiskan banyak waktu di dalam studio dan melakukan eksperimentasi dalam melukis. Menjelang tugas akhir, saya menyadari potensi dari proyektor dalam membantu membuat lukisan, misalnya untuk memperbesar gambar agar bisa di-trace ke atas kanvas. Dari situ saya mulai menggunakan proyeksi dalam karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya tertarik pada persoalan di sekitar penciptaan seni lukis. Kanvas, sketsa, ide, referensi, dan originalitas adalah beberapa kata kunci dalam kekaryaan saya. Lukisan-lukisan saya sering menggambarkan pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi. Karena karya saya seperti ini, sampai-sampai seorang teman mengatakan kalau saya tidak pernah punya lukisan dengan trademark saya sendiri, haha.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran karya cat air saya waktu SMP. Sampai hari ini karya tersebut masih dipajang di rumah. Kalau pameran ‘serius’ pertama, tidak lama setelah sidang tugas akhir kuliah saya, sekitar tahun 2009. Seusai sidang, dosen pembimbing saya (yang kebetulan kurator) meminta karya tugas akhir saya untuk dipamerkan di sebuah galeri di Jakarta.

 tracing-insulinde-video-projection-on-painting-dimension-variable-2015

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karya dalam solo project di ArtStage Singapore 2015 dan berpartisipasi dalam pameran 125.660 Specimens of Natural History di Galeri Salihara pada tahun yang sama. Pameran yang membaca warisan Alfred Russell Wallace ini sangat berkesan buat saya, karena secara kritis memperlihatkan pengaruh pengetahuan manusia terhadap alam. Dua curator pameran ini, Etienne Turpin dan Anna-Sophie Springer, berhasil membangun sebuah narasi pameran yang menyadarkan saya akan risiko dari perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya bukan pengguna social media. Sehari-hari hanya menggunakan email, WhatsApp, dan Line. Tapi teman-teman saya sering menyarankan saya membuat Instagram. Katanya bagus untuk memperkenalkan karya kita ke khalayak luas. Mungkin benar, ya?

 

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Art scene di Bandung mulai memperlihatkan pergeseran dari ruang-ruang pusat seni ke arah ruang-ruang alternatif, di mana seni rupa bisa cair berbaur dengan musik, fashion, dan gaya hidup. Ruang-ruang seperti Spasial dan Pabrik Tekstil Cicaheum menawarkan pengalaman pameran yang lebih santai dan egaliter karena mayoritas diisi oleh anak-anak muda. Semoga saja keadaan ini terus berkembang, sehingga dunia seni rupa Bandung tidak lagi terasing di ruang yang itu-itu saja.

the-chair-oil-on-canvas-200x150-cm-2015

Punya talenta rahasia di luar seni?

I’m good at organizing things. Sepertinya turunan dari bapak-ibu saya. Kalau obsesi, saat ini saya sedang maraton nonton film-film dari Lee Yoon-ki, Hong Sang-soo, dan Hirokazu Koreeda.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Having a me time di daerah Dalem Kaum dekat Alun-alun Bandung, khususnya di Toko Simanalagi yang menjual pisang goreng terbaik in town. Atau tenggelam dalam buku-buku di Kineruku. Tapi stay di rumah, kumpul bersama teman-teman, dan nonton bioskop dadakan pakai proyektor juga selalu menjadi pilihan. Bandung selalu macet saat weekend, jadi kalau tidak terpaksa pergi, stay di rumah adalah pilihan terbaik.

 im-art

Project saat ini?

Saya sedang mempersiapkan pameran tunggal pertama saya. Project ini akan menyoal ‘kekosongan’ di tengah praktek seni lukis sekarang, khususnya di Indonesia.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal! Rencana pameran ini sudah lama tertunda, jadi tidak sabar ingin segera jadi.

viva-la-capital

#30DaysofArt 27/30: Tara Astari Kasenda

“Sewaktu sekolah dasar, saya mulai belajar melukis dengan seorang guru bernama Roelijati, ternyata beliau adalah salah satu seniman perempuan alumni ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta angkatan tahun 50-an. Ajaran-ajaran beliau tentang seni, terutama seni rupa barat masih saya ingat sampai sekarang dan banyak yang saya jadikan pakem untuk membuat karya,” papar alumni FSRD ITB jurusan Seni Lukis ini tentang salah satu influens dalam karyanya. Walaupun akar ilmunya memang seni lukis, namun seniman muda kelahiran Jakarta, 27 Mei 1990 ini tak pernah berhenti bereksplorasi dengan berbagai medium. Mulai dari menggabungkan digital print dengan medium yang lebih konvensional seperti akrilik dan cat minyak, resin sculptures, instalasi, hingga image transfer di atas silicone sealant.

 profile-pic

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Ketertarikan kepada seni muncul dengan sendirinya sejak kecil, yang memperkenalkannya saya nggak ingat. Mungkin mama saya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Ya, passion terhadap seni itu sendiri.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Cy Twombly.

ini-budi-lagi

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Gaya dalam karya saya terbentuk perlahan-lahan selama saya kuliah. Sedangkan kalau soal medium sampai sekarang saya masih terus eksplorasi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya ketika saya menyelesaikan tingkat pertama di kampus bersama teman-teman seangkatan saya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Selalu ikuti perasaan dan intuisi dan menstruktur keduanya dalam sebuah konteks.

a-lighter-shade-of-pale

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dari dulu sampai sekarang warna-warna yang saya ciptakan untuk karya saya selalu warna pastel lembut, biasanya dikombinasikan dengan objek-objek yang diburamkan. Nuansa karya saya dreamy dan ambigu. Oh ya dan sudah 3 tahun terakhir ini karya saya mengeksplorasi silicone sealant sebagai medium berkarya.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Solo presentation di Art Taipei 2015 sebagai salah satu young emerging artist di Asia.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sama rasanya seperti orang-orang lain dengan profesi-profesi lain di era ini.

equator-art-project

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Industri kreatif secara keseluruhan saya rasa sedang marak-maraknya di Jakarta sekarang.

What’s your current obsession?

Pipil, anjing saya.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah.

 

Project saat ini?

Sekarang saya sedang fokus mempersiapkan pameran bersama kantor saya, whateverworkshop.

Target sebelum usia 30?

Tidak ada yang spesifik.

somatic-markers

#30DaysofArt 26/30: Sarita Ibnoe

Mendeskripsikan masa kecilnya sebagai anak yang pendiam dan lebih suka mengamati sekitarnya, menggambar pun menjadi penyampaian ekspresi bagi seniman kelahiran Jakarta, 3 April 1989 ini. “Pertama kali saya coba menggambar itu waktu SD kelas 3 atau 4. Pulang sekolah saya langsung ke rumah dan kebetulan jam-jam segitu supir ayah saya pasti lagi di rumah. Pak Yono ini suka ngajak saya gambar, jadi dia gambar sesuatu lalu saya meniru gambarnya di kertas yang berbeda. Lalu yang saya ingat juga dia ngajarin cara bikin cincin dari karet gelang. Haha. Ya sejak itu deh saya jadi kebiasaan coret-coret,” ungkap lulusan Middlesex University, London ini. Selain medium charcoal dan akrilik yang menjadi andalan untuk menciptakan karya yang lekat akan imaji keseharian dari pengalamannya sehari-hari yang terkesan sketchy dalam palet warna earth tone yang hangat, saat ini Sarita juga sedang gemar bereksperimen dengan medium lainnya seperti instalasi dan seni serat.

 unnamed-1

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Saya datang dari keluarga yang biasa saja, bukan yang berkesenian. Ya walaupun saya punya oom dan tante yang seniman dan designer. Dari kecil saya tinggal di Jakarta sampai umur 13 lalu saya harus pindah ke Kuala Lumpur karena pekerjaan ayah saya. Akhirnya saya melanjutkan sekolah dan kuliah di sana. Tapi tahun terakhir kuliah saya pindah ke London dan akhirnya lulus S1 di sana. Sepertinya oom dan tante saya yang berkesenian itu mempunyai banyak pengaruh ke saya. Waktu kecil saya sering main ke rumah mereka dan melihat pekerjaan-pekerjaan yang sedang mereka kerjakan; dari melukis hingga graphic design. Dan sampai saat ini, kurang lebih itulah yang saya kerjakan. Dari kecil saya termasuk orang yang kalem, jarang ngobrol, dan suka ngeliatin orang, haha. Mungkin itu juga kebawa sampai sekarang dan terlihat dari karya-karya saya juga.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya saya pikir saya menggambar terus karena saya nggak bisa yang lain. Hehe. Tapi nggak sih, saya tetap berkarya karena saya menemukan keseruan tersendiri waktu berkarya. Walaupun pasti ada stressnya, tapi tetap penasaran dan ingin tahu sampai sejauh apa saya bisa berkarya. Menurut saya berkesenian itu pekerjaan yang misterius, haha. Nggak ada yang ngeh kalau ini juga susah, kecuali pekerja seni juga. Tidak ada benar salah, perlu pemikiran panjang, konsep yang matang, eksekusi yang hati-hati. Tapi kalau dilihat oleh orang awam, yang terlihat mungkin hanya bagusnya saja. Hal ini juga sih yang bikin seru.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sepertinya saat ini saya pun masih mencari. Adapun style atau medium yang saya pakai selama ini adalah hasil dari jam terbang dan experiment yang saya lakukan.

img_2040

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Di awal-awal berkarya, saya sangat suka karya-karya Mark Rothko dan Kurt Schwitters. Seniman lain yang saya idolakan adalah Kimsooja, Gerhard Richter, Agnes Martin, Marina Abramovic. And of course my local heroes: Handiwirman Saputra dan Ay Tjoe Christine.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Ekshibisi pertama saya sebenarnya waktu mau lulus, tapi it is requirement dari universitasnya, jadi mungkin jangan dihitung ya.

Waktu balik ke Jakarta saya kesulitan banget untuk mencari teman atau bergabung dalam ‘kelompok’ apapun. Teman sekolah dari dulu sudah entah kemana dan sedikit juga yang berkesenian. Tapi lama-lama teman-teman kuliah saya yang orang Indonesia akhirnya balik, jadi kami berkumpul lagi. Dari koneksi melalui mereka, akhirnya saya dan seorang seniman lain bikin pameran sendiri di sebuah café dan pada saat pembukaan ternyata lumayan seru juga, banyak yang datang.

Ada satu lagi ekshibisi pertama saya, yaitu: ekshibisi pertama saya di galeri dan dengan kurator. Bagi saya ini sebuah milestone yang penting, karena jadi tau proses kerja seniman pada umumnya dan dari sini juga saya berkembang sampai sekarang dan berkenalan dengan orang-orang di dunia seni nggak hanya di Jakarta tapi juga mereka yang berbasis di Bandung dan Jogja. Ekshibisi ini berlangsung di tahun 2012 di dia.lo.gue waktu saya lolos seleksi program mereka: Exi(s)t #2. Proses pameran ini cukup panjang, dan lumayan stressful karena istilahnya baru tau tentang fine art yang sebenarnya, sambil terjun langsung berkarya. Tapi hasilnya juga jadi lebih memuaskan, karena dengan proses itu, karya saya jadi lebih beralasan dan bercerita, bukan lagi hanya sekadar skill menggambar saja yang digunakan.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme saya dalam berkarya adalah di mana saya punya waktu yang cukup.

img_1965

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Saya terbiasa membuat karya dari keseharian dan pengalaman saya. Dan juga terinspirasi dari dialog-dialog bersama orang lain. Sering kali gambar/karya saya terkesan sketchy dan mempunyai pallete warna yang khas.

Apa yang menjadi personal breakthrough paling berkesan sejauh ini?

Setiap saya menyelesaikan sebuah karya yang menurut saya memuaskan, itu sudah menjadi sebuah pencapaian. Sejauh ini mungkin salah satu pencapaian yang berkesan adalah waktu membuat sebuah karya yang dijadikan finalis Gudang Garam Indonesia Art Award.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media sekarang?

Susah! Haha. Saya juga kadang-kadang bingung kenapa tetap dijalanin. Tapi ya udah, kecebur, jadi basahin aja sekalian.

 memendam-diam

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Art scene di Jakarta (atau mungkin di Indonesia) sedang sangat maju ya sepertinya. Walaupun awalnya kurang seimbang, dalam arti; banyak yang menjadi seniman, tapi bagian dari ekosistem dunia seni seperti artist manager atau kritikus seni dan lain-lain tidak naik secepat jumlahnya seniman yang bertambah. Tapi bagus juga semakin banyak orang aware dengan profesi-profesi dalam dunia seni.

Punya talenta rahasia di luar seni?

I am so good at travelling solo! Haha! Not sure if that’s a skill, but sure is one of my favourite thing to do.

img_5474_ 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Kemungkinan besar di rumah, haha. Mungkin kadang di pembukaan pameran atau di Roti Bakar Wiwied.

 

Project saat ini?

Sekitar setahun belakangan ini saya sedang merencanakan sebuah personal project tentang rumah atau tempat tinggal, tapi belum yakin akan jadi seperti apa. Sejauh ini kalau ada teman yang pergi ke luar kota atau luar negeri, saya selalu titip bawain tanah/kerikil dari tempat itu dan ditaruh di dalam botol transparan yang tertutup. Sampai saat ini saya sudah punya tanah dan udara dari hampir 30 kota! Hehe.

Target sebelum usia 30?

Menghasilkan karya dengan medium yang sangat berbeda dari yang biasanya saya lakukan.

img_6290

#30DaysofArt 25/30: Sakinah Alatas

Berasal dari keluarga keturunan Arab yang konservatif dan religius, arti seni bagi gadis kelahiran Bogor, 14 April 1994 ini adalah upaya untuk berdialog sekaligus mempertanyakan berbagai hal yang mengusik benaknya. “Saya mempunyai kegelisahan dalam masalah dampak dari tradisi pernikahan sistem endogami, pengkultusan Alawiyyin, dan status sosial yang diamini oleh banyak golongan Alawiyyin tersebut.  Alawiyyin adalah sebutan untuk suatu kaum/golongan yang memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW. Dari latar belakang tersebut banyak yang mempengaruhi saya dalam pembuatan karya,” terang Nina yang masih berstatus mahasiswi seni rupa di Universitas Negeri Jakarta. Merasa belum pantas menyandang gelar seniman dan lebih nyaman disebut sebagai perupa, gadis yang kerap mengeksplorasi topik religi lewat karyanya ini juga memiliki organisasi massa yaitu ICFAM (Indonesia Contemporary Fiber Art Movement) dan kolektif Buka Warung yang terdiri dari 18 seniman perempuan.

img_5071-copy

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak duduk di Sekolah Dasar saya senang sekali menggambar dan sering ikut lomba menggambar walaupun jarang sekali menang, dan ketika SMP dan SMA saya senang dengan mata pelajaran Seni Budaya. Ketika kuliah saya tertarik untuk mengambil jurusan Seni Rupa, karena saya merasa hanya jurusan itulah yang saya bisa.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Mella Jaarsma, Agatha Olek, Sirin Neshat, Mulyono, Prihatmoko Moki, dan Hendra Blankon Priyadhani.

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sampai saat ini saya belum menemukan satu medium/karakter medium yang cocok untuk saya, karena dalam berkarya saya kerap menggunakan banyak medium, dan juga masih terus mencari medium yang pas dan cocok untuk membicarakan apa yang ingin saya sampaikan.

dsc02230

dsc02246

Apa idealismemu dalam berkarya?

Dalam berkarya saya selalu mencoba jujur kepada diri saya, karya saya, dan audience. Saya senang sekali apabila ada audience yang merasakan hal yang sama seperti pada karya tersebut, di situ saya merasa senang sekali. Dan saya juga suka membuat karya yang menantang diri saya dan spontanitas.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dilihat dari ciri khas estetik dalam berkarya saya juga masih suka berubah, yang pasti saat ini saya suka dengan medium instalasi ruang, karena lebih bisa banyak bercerita dan mencoba mengajak audience untuk setidaknya dapat mengerti apa yang saya kerjakan dan berharap dapat dirasakan oleh audience.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya adalah pameran tugas dari senior setelah masa ospek selesai, temanya “Sama Rasa Sama Rata”, tahun 2012.

karya-terbaru2

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mengikuti program Three Musketeers di Ace House Collective Yogyakarta selama 3 bulan, yang mana saya mendapat bimbingan, pembelajaran, kritik dari banyak seniman-seniman di Yogyakarta juga bertemu orang-orang baru yang membuat saya mencoba untuk terus belajar bagaimana menjadi manusia berguna dan menjadi seniman.

Kalau untuk kamu sendiri, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebenarnya saya merasa belum pantas dijuluki sebagai seorang seniman, hehe. Lebih pede dibilang sebagai perupa aja kayanya. Di era social media seperti sekarang ini tentu memudahkan para perupa untuk mengenalkan dirinya ke publik, memperlihatkan karya-karyanya di social media, jadi saling mengetahui apa yang dikerjakan perupa-perupa lain hanya melihat di Instagram misalnya, tanpa pernah bertemu langsung. Memudahkan dalam mengetahui info acara pameran dan open submission untuk pameran, dan masih banyak lagi manfaatnya, yang pasti diambil yang positifnya aja sih, hehe.

bahan-colase2

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Fleksibel di mana aja. Yang pasti di Bogor atau Jakarta.

Project saat ini?

Project karya yang baru saja saya lakukan ialah “Mencari Kafa’ah” yang dipamerkan di Ace House Collective, Yogyakarta.

Target sebelum usia 30?

Pengen punya studio kerja sendiri, pengen menjelajahi Indonesia dan keliling dunia, udah itu aja.

bondage

#30DaysofArt 24/30: Ryan Ady Putra

Lahir di Jakarta. 30 Mei 1990, namun tumbuh besar di Jogja dan Magelang, ketertarikan pada seni dalam diri alumni DKV Institut Seni Indonesia ini muncul saat ia terekspos skena skateboard, musik, dan graffiti setempat. “Saya yang awalnya tidak tertarik sama sekali dengan menggambar karena saya pikir membosankan, menjadi sangat terobsesi dengan grafitti/mural, cover kaset/CD, dan skateboard graphic. Dari situ saya mulai mencoba meniru gambar yang saya lihat dan saya pikir keren. Setelah itu saya juga mulai membuat t-shirt dan sticker, di mana saya sendiri yang menyablon dan membuat graphic-nya. Hingga akhirnya saya melanjutkan kuliah di ISI yang membuat saya lebih tau banyak hal tentang seni,” ungkap pria yang juga aktif sebagai freelance designer untuk clothing brand baik dari luar maupun dalam negeri ini. Karyanya yang kental dengan semangat Do It Yourself dan humor tongue in cheek yang nakal telah dipamerkan di Bali, Singapura, Portland, Melbourne dan diliput oleh media seperti Juxtapoz.

 b46t9816

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sekitar awal tahun 2000-an, di mana saya mulai belajar skateboard dan tau mural/graffiti. Saat itu tidak ada satu orang yang spesifik mempengaruhi saya, karena minimnya informasi pada waktu itu yang terjadi adalah kita selalu bertukar informasi dari teman satu ke teman lainnya. Selanjutnya saya digging sendiri.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Pada awalnya saya hanya “do something cool” tanpa mengetahui bahwa dari something yang menurut saya cool itu adalah karya dan salah satu dari proses berkarya. Tetapi saat ini, berkarya sudah menjadi suatu kebutuhan bagi saya. Karena profesi ini mengharuskan untuk selalu dig more something new dan memberikan sesuatu ke dalam karya saya dari apa yang saya explore.

 

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Seniman yang banyak mempengaruhi saya adalah beberapa seniman yang ada di scene skateboard and surf. Seperti Ed Templeton, Sailor Jerry, Barry McGee, masih banyak sih kalau mau disebutin semua.

never-perfect-resize

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Saya tidak pernah membedakan satu medium dengan medium yang lain atau memilih style tertentu. Saya selalu membiarkan ini semua mengalir. Setiap medium mempunyai kesenangan dan kesulitan tersendiri. Medium bagi saya dapat membantu menuangkan gagasan-gagasan tertentu sesuai dengan konsep atau tema yang saya pikir dan untuk lebih merepresentasikan gagasan-gagasan saya tersebut. Tapi basically karya saya berasal dari drawing.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Saya tidak ingat spesifik pameran apa dan apa karya saya. Tapi dari momen awal-awal saya berpameran, yang selalu saya rasakan adalah gugup, malu bahkan merasa karya itu jelek ketika dipamerkan ke publik.Tapi lama kelamaan saya menjadi percaya diri setelah ada masukan dan komentar dari beberapa teman tentang karya saya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya tidak punya satu idealis dalam berkarya. Just go with the flow and fun!

less-ride-more-selfie

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Ada beberapa keywords di dalam karya saya yaitu: Ironi, funny things, babes and skull.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pencapaian paling berkesan dan sangat berpengaruh bagi saya saat ini adalah menjadi artist yang bisa berkolaborasi dengan beberapa clothing brand favorit saya. Pada awalnya saya hanya dapat menjadi “fans” dari beberapa brand yang sekarang menjadi client saya, dan ketika brand yang saya sukai sekarang menjadi client saya, that’s what I called pleasure.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Mungkin bisa dibilang saya adalah salah satu seniman yang ada di dalam era tersebut. Kalau dari sisi saya sendiri, saya mendapat banyak keuntungan dari hal itu. Selain mendapatkan banyak pekerjaan, saya juga mendapatkan banyak tawaran untuk berpameran dari orang-orang yang melihat portofolio online saya tersebut. Khususnya Tumblr dan Instagram.

the-opposite-of-happy 

What’s your secret skill beside art?

Kayanya nggak punya deh… Haha.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Saya tipikal orang yang tidak punya waktu kerja, jadi bisa saja saya mengabiskan waktu weekend dengan berkarya dan main pas weekdays.

tumblr_oedq910zhe1qjulcmo1_1280

 

Project saat ini?

Saat ini saya tidak ada satu project khusus karena awal tahun lalu saya baru saja pameran tunggal. Tapi saya berencana rilis beberapa merchandise dari keramik dan wool rugs.

Target sebelum usia 30?

Dua kali solo show kemarin di Bali, jadi next aku pengen solo show di luar negeri. Los Angeles kalau bisa. Haha.

tumblr_oedqa9v5qh1qjulcmo1_1280

#30DaysofArt 23/30: Radhinal Indra

Memutuskan resign dari full time job sebagai desainer grafis di firma desain LeBoYe untuk menjadi full time artist, keberanian seniman kelahiran Bima, 10 Februari 1989 yang sekarang tinggal di Bandung ini pun terbayar manis ketika karyanya yang mengeksplorasi pengaruh bulan dalam berbagai aspek kehidupan manusia (selenology) lewat lukisan akrilik di atas kertas, kanvas, dan alumunium dapat diterima dengan baik oleh publik. Mengaku sebagai pop culture geek sekaligus science enthusiast, Indra menyebut latar belakang keluarga dan masa kecilnya di Bima sebagai katalis berkarya. “Bima itu kota pesisir di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kota kecil, tidak begitu banyak kegiatan kesenian di kota saya. Keluarga saya adalah keluarga akademik, tidak begitu religius dan mencintai proses belajar dan ilmu pengetahuan. Ibu adalah guru Matematika yang galak, cocok dengan karakternya yang kalkulatif. Sedangkan bapak adalah social sciences enthusiast yang gemar berdiskusi dengan tetangga,” ungkap pria yang menyebut kata sustainable sebagai idealisme berkaryanya ini.

 radhinal_foto

Siapa sosok yang membuatmu tertarik pada seni?

Saya suka sekali nonton TV, mungkin anak-anak di kota gampang untuk mendapatkan poster, action figure, kartu, kaos Satria Baja Hitam, Power Rangers, Sailor Moon, dll. Tapi kami di kampung tidak. Atas rasa iri yang natural inilah memicu saya waktu kecil ingin membuat sendiri gambar-gambar yang terlihat di TV.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Saya suka potensi. Ketika melihat sesuatu lalu bergumam “Ini bisa diapakan lagi ya? Ini bisa bagus nggak ya? Lucu juga nih?” Begitu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Kalau seniman: Martin Creed, Olafur Elliason, Donald Judd, Antony Gromley. Arsitek: Daniel Liebeskind, Phillip Johnson, Kengo Kuma, Peter Zumthor, Andra Matin.

radhinal_onbeing_roundcyclicandblood_aoc_eachdia30cm_2015_

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Kadang itu ditemukan setelah membuat beratus-ratus karya, yang menemukan bukan saya. Tapi orang lain yang mengamati rentang karya-karya saya sejak dulu. Respons mereka biasanya “Ah, ini lo banget.”

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya menjabarkan kemungkinan-kemungkinan dari suatu gagasan. Tahun lalu saya tertarik dengan konfigurasi. Mungkin tahun ini berbeda, let’s find out.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Masih, dan masih terbayang sampai sekarang. Itu di tahun 2014, September. Saya tidak punya pengalaman berpameran sama sekali. Yang saya tahu selama ini adalah kerja balik layarmembuat logo dan meloloskan proyek-proyek besar properti di Jakarta dan Bali. Itu di galeri RUCI, saya sedikit malu karena merasa sangat noob di antara list seniman-seniman lain yang sudah jauh lebih banyak pengalaman berpamerannya. Saya berpikir, bagaimana karya saya bisa steal the show. Mungkin itu yang memicu saya untuk berkarya dengan skala repetisi yang tinggi. Ternyata respons pengunjung sangat bagus, saya selalu ingat pameran ini sebagai standard effort yang harus saya berikan ke tiap karya saya dan pameran-pameran ke depannya.

moon_deforming_acryliconpaper_21x21cmeach_2016

Apa yang menjadi personal breakthrough paling berkesan sejauh ini?

Taking a risk from monthly salary to no salary at all at November 2014.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Visibility. Sebaiknya konsisten terhadap apa yang dikerjakan sehingga audiens kita juga mengikuti perkembangan karya senimannya. Audiens lebih well-informed terhadap apa yang dilakukan seniman, sebelum mereka menghadiri suatu pameran dan saya rasa progress yang bagus. Satu hal yang tidak bisa dirasakan generasi seniman dekade 90-an dan sebelumnya; yaitu living with your crowds/fans/followers.

 

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Bandung is having a robust art scene. Peningkatan kualitas artistik terjadi di berbagai aspek, tidak hanya seni yang di galeri. Tambah bagus dan tambah banyak alternatif cara berkarya.

 radhinal_unsqueezed_acrylicdigitalcollage_120x120cm_2016

What’s your current obsession beside art?

Saya adalah comic, book, movie geek dan science enthusiast.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bioskop, perpustakaan alternatif, pembukaan pameran, cafe sekitaran Dago dan toko loak.

Project saat ini?

Saya sedang menyiapkan solo exhibition di Jakarta untuk 10 bulan ke depan.

 

Target sebelum usia 30?

Membangun sustainable studio dan storage berukuran at least sekitar 10m x 10m x 5m agar bisa mengerjakan karya berukuran besar.

sayang-no-5

#30DaysofArt 22/30: Prayudi “Herzven”Herlambang

Jauh sebelum menjadi street artist seperti sekarang, pria kelahiran Jakarta, 7 Juli 1993 yang lebih dikenal dengan nama alias Herzven ini telah lebih dulu mencoret tembok rumahnya dengan alat gambar apa saja yang bisa ia temukan saat kecil. “Saya ingat dulu paling sering diajari menggambar orang sedang poop dari belakang oleh kakek saya yang memang menyukai hal-hal konyol dan bukan seorang seniman/perupa visual,” kenang lulusan Politeknik Negeri Media Kreatif yang tinggal di Depok ini. Injeksi humor dan kebebasan corat-coret dari masa kecil tersebut tetap terbawa dalam karya-karyanya sampai saat ini. Namanya menarik perhatian ketika ia memenangkan ajang Secret Walls di Indonesia Comic Con dua tahun terakhir ini bersama tim Indo dan Hongkong, namun sebetulnya ia telah aktif mengembangkan karyanya sejak masa kuliah baik secara personal maupun bersama komunitas street art seperti KOMPENI (Komunitas Pencinta Seni) dan Gerilya Visual, serta berpameran di beberapa tempat, termasuk Galeri Nasional.

unnamed

Apa yang mendorongmu berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya sampai saat ini ya simple sih, karena saya belum memiliki alasan untuk berhenti melakukan hal ini dan saya sangat menyukai hal ini karena dengan cara ini kita berkomunikasi dan bersilaturahmi.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya ingin menggambar dengan cara yang enjoy, lepas, nggak harus mikirin salah ataupun mirip nggak mirip. Dan juga saya selalu melihat referensi-referensi dan sering mengkhayal aja, berimajinasi ngebayangin hal-hal yang absurd dan keren… Oh iya satu lagi, yang penting kita senang ngelakuinnya, mirip-mirip pas masih kecil dulu kalau lagi gambar corat-coret.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Banyak banget! Aryz, Osgemeos, Astronautboys, ROA, Saner Edgar, Salvador Dali, Neckface, Jean-Michel Basquiat, dan masih banyak lagi karena semua teman-teman saya adalah orang yang menginspirasi saya juga sih.

2015-06-10-04-01-59-1

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Coret-coretan anak kecil, bebas, ceria, slebor… asoy… geboy. 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Kalau ditanya ekshibisi pertama saya lupa, tapi yang jelas saya selalu suka ketika berekshibisi dengan banyak teman-teman dulu dan lebih suka ngobrol dan ngumpul-ngumpulnya sih, hehe.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media sekarang?

Ya seru sih, dengan era yang kaya sekarang sangat memudahkan saya untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman antar kota, antar provinsi, antar pulau, bahkan antar negara sampai saya punya teman dari Pantai Gading.

arlin_x-herz2

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Selalu berhasil menahan kebelet poop ketika sedang mau live painting bahkan sampai acara Secret Walls. Mungkin ini kutukan dari ajaran kakek saya dulu, hahaha.

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Asoy sih, sudah mulai berkembang art scene di sekitaran sini.

What’s your secret skill beside art?
Hmm ya secret lah, harus nongski bareng saya baru bisa ngelihat kelebihan-kelebihan lain saya.

2015-01-15-05-02-59-1-wllppr

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah sih biasanya… Di rumah teman, di rumah pacar, di rumah teman-teman band, dan banyak rumah-rumah lagi pokoknya lah.

Project saat ini?
Project Bismillah.

Target sebelum usia 30?

Impian saya adalah panjang umur sampai melewati usia 30 tahun. Amin!

image4

#30DaysofArt 21/30: Patriot Mukmin

Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, namun tema-tema patriotik dan sejarah bangsa memang menjadi benang merah dalam karya seniman yang dikenal lewat medium woven photographs dan triple-sided paintings ini. “Momen penting yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika tahun 1998 saya menyaksikan kerusuhan yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan aktif mengikuti berita di televisi terkait upaya penurunan Presiden Soeharto. Ingatan terkait reformasi sedikit banyak muncul di beragam karya yang saya hasilkan,” papar pria kelahiran Tangerang, 4 Juni 1987 yang menetap di Bandung sejak lulus dan meraih magister seni di FSRD ITB tersebut. Selayaknya konteks sejarah yang bisa berbeda tergantung dari sisi mana kita melihatnya, yang seringkali hanya kumpulan fragmen, ataupun ditampilkan di publik secara tersamar dan direkayasa, pria yang sempat bercita-cita menjadi desainer mobil ini pun mengajak kita untuk memandang ilusi dalam karyanya dari berbagai sisi.

patriot-mukmin-foto-profil-1

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sedari kecil senang menggambar, namun belum tahu ada dunia seni sebelum kuliah di jurusannya. Dulu saya bercita-cita jadi desainer mobil, namun setelah di kampus justru tertantang untuk bisa sukses di dunia yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, yaitu dunia seni rupa.

Apa yang mendorongmu berkarya?

Kalau mendorong mungkin kurang tepat, lebih ke arah adiktif. Setiap kali selesai mengerjakan satu karya, apalagi jika karyanya bagus, ada kenikmatan yang berbeda. Rasa itu yang bikin saya ingin terus berkarya. Ketika karya diapresiasi oleh publik, wartawan, atau kolektor, hal tersebut menambah rasa puas yang sebelumnya sudah dirasakan. 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Tahun 2011 saya tinggal di satu rumah kontrakan. Namanya bujangan, kalau bangun pagi kelaparan kita harus cari sarapan keluar rumah dong. Saat itu tempat yang jual sarapan berjarak hampir 1 kilometer jadi lumayan juga bisa liat-liat selama berjalan kaki ke tempat makan. Satu momen saya lihat pagar rumah tetangga yang tipenya batang-batang lurus vertikal yang kalau dilihat dari samping tampak penuh, tapi dari depan tampak kosong. Momen itu menginspirasi seri karya triple-sided paintings saya. Seri karya lukis yang bentuknya kayak pagar-pagar yang bisa dilihat dari 3 sisi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Waktu itu kita masih tingkat 2 kuliah. Pameran bersama anak-anak jurusan seni lukis dan seni grafis. Judul pamerannya “Krisis Identitas” di Galeri Dago Tea House, Bandung. Sesuai judulnya, pamerannya krisis banget. Malu kalau lihat foto-fotonya juga. Haha.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya sering mengidentifikasi diri saya sebagai orang yang berada di tengah-tengah. Saya suka melihat satu persoalan dari beragam sudut pandang. Karakter itu sedikit banyak tercermin di karya-karya saya.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Rene Magrite, David Samuel Stern.

nyonya

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Tahun 2011 sempat ikut lomba Bazaar Art Award, dan keluar sebagai pemenang pertama. Momen itu membantu meyakinkan orang tua bahwa anaknya bisa berjuang di jalan seni. Tahun 2015 melangsungkan pameran tunggal dan mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Pameran diliput banyak media massa, dan karyanya ada yang dikoleksi dan dibawa ke Melbourne untuk dipamerkan kembali. Saat ini karya tersebut dipajang di Asia Institute, University of Melbourne. Pameran tunggal itu juga sangat berkesan bagi saya karena dalam pengerjaannya saya dibantu oleh banyak orang. Sebagai seniman yang biasanya asik sendiri bikin karya di studio, pameran tunggal kemarin membuat saya bekerjasama dengan teman-teman untuk membantu terciptanya karya-karya yang dipamerkan.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai seorang yang pekerjaannya berpusat pada penciptaan imej, tentu keberadaan sosial media memberi keuntungan. Imej berfungsi ketika dilihat, maka dengan sosmed, kemungkinan imej untuk berfungsi menjadi lebih besar dan lebih cepat. Membuat karya yang diciptakan bisa diapresiasi lebih banyak orang.

eksplorasi-handmapping

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Bandung itu sangat kondusif untuk produksi karya seni, iklimnya adem, vendor material seni banyak, teman-teman seperjuangan di sini semua, kalau lagi bosan di mana-mana ada tempat nongkrong, acara-acara seni juga frequently diadakan di beragam galeri di dalam kota. Akan tetapi, untuk event seni yang bersifat internasional, Bandung kurang, kita harus keluar kota. Minimal ke Jakarta dan Jogja. Kalau mau lebih jauh lagi, kita harus terlibat proyek di luar seperti Singapura, Hongkong, Tokyo, dan kota-kota dengan art event internasional lainnya.

seeing-is-photographing

Punya talenta rahasia di luar seni?

Saya bisa melakukan gerakan elastico, gerakan menggocek flip-flop khasnya Ronaldinho. Kalau saja badan saya lebih tinggi, dan dulu orangtua setuju saya ikut SSB, mungkin saya sekarang sudah jadi pemain sepakbola profesional. Haha.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah, nonton Bein Sport!

Target sebelum usia 30?

So far so good, di ulang tahun ke-30 inginnya bisa bilang so far so awesome!

a4-motionview

#30DaysofArt 20/30: Nurrachmat Widyasena

Stupid third world Asian tries to talking-talking about Space Age,” cetus seniman asal Bandung yang biasa dipanggil Mas Ito ini untuk mendeskripsikan diri dan karyanya. Memiliki ayah seorang pakar teknologi dan menyukai sci-fi sejak kecil menjadi fondasi dari tema retro-futurism yang dikemas dengan humor oleh lulusan FSRD ITB ini lewat instalasi, drawing, dan printmaking. Namun, meskipun terlihat cenderung ringan dan mengundang senyum, bukan berarti pria kelahiran Kanada, 20 Mei 1990 ini tidak serius dalam berkarya. “Bagi saya, dalam berkarya kita tidak bisa hanya bergantung dan mengandalkan kreativitas saja. Karena bagi saya kreativitas hanyalah 10% dari kekaryaan. Sisanya adalah kerja keras, skill manajemen, bertemu dengan orang yang tepat, dan disiplin diri yang baik,” papar pria yang juga dikenal sebagai pemilik clothing brand bernama KITC ini.

nurrachmat-widyasena-foto-diri-2

Siapa sosok yang membuatmu tertarik pada seni?

Pada saat SMA, guru Bahasa Indonesia saya, Ibu Molly merupakan istri dari seniman terkenal Pak Tisna Sanjaya. Ibu Molly sering bercerita tentang dunia seniman dan apa yang dikerjakan oleh suaminya. Dari cerita-cerita tersebut saya menjadi tertarik untuk menjadi seorang seniman. Tiga tahun kemudian saya masuk FSRD ITB dan diajar langsung oleh Pak Tisna Sanjaya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya sih karena adanya janji-janji utopis seorang seniman yang sudah sukses, bikin satu buah karya, laku, bisa hidup tenang 3-5 tahun, hahahaha. Tetapi sekarang berkarya buat saya menjadi seperti sebuah kepuasan sendiri, seperti sebuah simulation game, mengembangkan karier, naikin level kekaryaan, berstrategi membuat pameran, dsb. Menarik!!

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Pada saat saya kuliah di tingkat 3 awal, saya terkena cacar air untuk kedua kalinya di hidup saya. Karena hanya bisa berada di rumah, saya iseng membuka lemari tempat saya menyimpan barang-barang saya waktu kecil. Di situ saya menemukan beberapa gambar eksplorasi luar angkasa yang retro sekaligus futuristik. Dari situlah saya menyadari dan mulai mencari tau trend dalam seni kreatif yang bernama Retro Futurism yang kemudian menjadi fondasi utama dalam kekaryaan saya sekarang.

 2015-pt-besok-jaya-nike-space-max-rocket-shoes

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

“Patriotic Myth Of Space Age”, adalah pameran tunggal pertama saya di Galeri Kamones, Bandung, tahun 2013. Pameran tersebut sangat berkesan bagi saya, karena 5 bulan setelah lulus kuliah saya membuat sebuah pameran tunggal di sebuah bangunan yang sangat industrial dan tidak “white cube” seperti layaknya sebuah galeri profesional. Pertama kalinya saya merancang sebuah pameran dengan sangat bebas dan tidak ada beban. Sampai saat ini, pameran tersebut masih menjadi pameran pribadi yang paling saya sukai.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Banyak sekali seniman-seniman yang menjadi inspirasi saya dalam berkarya. Tapi dari dulu sampai sekarang, saya sangat mengidolakan Kenji Yanobe dan Tom Sachs.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk mengerjakan beberapa seri karya saya. Saya diundang melihat langsung peluncuran roket milik LAPAN di kota pesisir Pantai Pameungpeuk. Berbincang dengan petinggi-petinggi militer, bertemu dan melihat perangkat kerja para staff ahli LAPAN, merasakan dan mendengarkan dari dekat secara langsung detik-detik perhitungan mundur peluncuran roket.

artwork-1457805631

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Tidak dapat dipungkiri social media sangat berperan aktif dalam pengembangan karier seorang seniman. Mempercepat jalur distribusi visual kekaryaan yang telah kita buat untuk dilihat orang banyak. Membuat semakin banyak orang tau apa yang sedang kita lakukan, karya apa saja yang telah kita buat, dan masih banyak lagi.

Tell me about your current obsession!

Untuk saat ini saya sedang sangat terobsesi dengan onigiri yang dijual di Indomaret. ENAAAAAAK DAN MURAAAH!! Selain itu saya sedang senang mengoleksi minuman-minuman kaleng dari berbagai negara, biasanya saya titip dengan teman-teman yang sedang berpergian ke luar negeri. 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di studio tempat saya berkarya, sedang main game, atau sedang bekerja.

artwork-1457803058

Project saat ini?

Untuk saat ini saya sedang membangun sebuah perusahaan berbasis teknologi bernama PT Besok Jaya untuk menjadi mercusuar teknologi di Indonesia seperti Space X dan Tesla Motors-nya Elon Musk. Selain itu saya sedang mempersiapkan diri untuk project pameran tunggal saya.

Target sebelum usia 30?

Target Tidak Realistis Sebelum 30 Tahun

  • Punya android humanoid personal yang bisa bantuin bikin karya.
  • Diundang oleh NASA untuk bikin karya di luar angkasa.
  • Bisa mengubah daun menjadi uang dengan bantuan teknologi.

Target Realistis Sebelum 30 Tahun

  • Punya studio seniman sendiri lengkap dengan tim produksi dan tim administrasinya.
  • Membuat karya roket luar angkasa sendiri 1:1.
  • Brand personal saya KITC lebih dikenal dan matang secara income dan infrastruktur.

2015-dangdut-alien

#30DaysofArt 19/30: Naufal Abshar

There’s always a meaning behind a laugh, dan lewat sentuhan kuasnya, pelukis kelahiran Bandung, 13 Juli 1993 ini mengeksplorasi makna yang lebih dalam di balik aktivitas tertawa sebagai konstruksi hubungan sosial dan emosi. Graduated with honours dari jurusan Fine Arts Lasalle College of The Arts Singapura & Goldsmiths University London, pria yang sekarang tinggal di Jakarta ini mengakui jika hobinya menggambar sejak kecil terinfluens dari film Disney dan mainan Lego favoritnya, “Saya selalu menggambar di manapun dan kapanpun, saya tidak pernah memperhatikan guru ketika sedang mengajar, saya malah asik duduk di pojok kelas untuk menggambar di buku paket ataupun buku tulis,” ungkap founder dari NA Arthouse tersebut. Karyanya yang dipenuhi oleh sosok-sosok penuh tawa ekspresif dalam warna colorful segar sekilas memang terlihat harmless namun ada yang selalu mengusik rasa penasaran tentang konteks di balik tawa tersebut di mana karya-karya tersebut telah dipamerkan di banyak tempat, dari mulai Indonesia, Singapura, Venice, hingga Lithuania.

artist-photo2

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?
Apapun. Terutama kegelisahan dan ketidaksesuaian saya terhadap situasi publik yang men-trigger saya untuk berkarya.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Perjalanannya cukup panjang memakan waktu 2 setengah tahun untuk menemukan style dan concept saya garap sekarang, sewaktu kuliah saya melakukan sejumlah research dan eksperimen untuk mendapatkan konsep “HAHA” yang termotivasi oleh salah satu manifestasi humor yaitu laughter. Dari situ saya mencoba untuk mengolah aktivitas laughter tersebut untuk menjadi bahan landasan kritikan terhadap social issues dan politik.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?
Seniman dalam negeri: Arin Sunaryo, Nyoman Masriadi, Heri Dono.

 hiding-behind-the-armor

Apa idealismemu dalam berkarya?
Hati, berkaryalah dengan jujur dari hati karena itulah yang akan membuat suatu karya itu jauh lebih berarti. Bagi saya seni adalah cerminan buah pikiran dan observasi saya pada sebuah kehidupan yang saya alami

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu? 
Ya mungkin sekitar 4 tahun yang lalu ketika saya masih menuntut ilmu di universitas. Saya ingat karya saya terpilih menjadi shortlisted artwork yang akan dipamerkan pada saat open house kampus. Saya merasa senang dan bangga walaupun pada saat eksekusinya karya saya hanya dipajang di sudut bawah panel besi yang tidak banyak orang-orang melihat. Ya tapi namanya starting jadi tetap saja senang, haha.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?
Hmm… Karya saya didominasi oleh tulisan “HAHA”, figur tertawa, dan warna-warna colorful yang tajam.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini? 
Menjadi cover sebuah art magazine besar di Singapura yaitu ART REPUBLIK Magazine dan bisa menjadi pembicara pada forum seni tingkat dunia dan menjadi the only representative dari Indonesia sebagai the youngest fast rising artist.

the-laughing-girl

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?
Apa ya? Menurut saya Social Media sangatlah membantu dalam bidang self-promotion tergantung bagaimana kita memposisikan kita pada social media tersebut.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?
Untuk sekarang masih cukup lemah tetapi ada banyak potensial dan kesempatan untuk mengembangkan art scene untuk lebih wide dan global.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?
Di mana saja, kebanyakan di studio.

Target sebelum usia 30?
Yes, saya akan menjadi the most established and famous young Indonesian artist pertama yang akan berpameran di galeri dan museum besar dunia seperti MoMa,Tate Modern, Guggenheim, White Cube. Dan mendirikan residency atau foundation seniman-seniman muda lainnya.

high-end-life-style

#30DaysofArt 18/30: Natisa Jones

Sebagai anak tunggal di keluarga multi-kultural dengan darah kreatif yang kental, seniman muda yang lahir di Jakarta, 13 Desember 1989 dan tumbuh besar di Bali ini telah terpapar pada seni lukis sejauh yang bisa ia ingat. “Saat kecil, ibu sering mengajak saya ke studio lukis. Beliau memperkenalkan apa itu kanvas, kertas, cat minyak, water colour dan membiarkan saya bermain dengannya. We always had art books, painting technique books in the house that I would always look at before I could even read properly,” paparnya. Setamat sekolah asrama jurusan seni di Thailand, Natisa meraih Bachelor of Fine Arts Painting di RMIT, Melbourne dan sempat bekerja sebagai desainer grafis di Jakarta sebelum menyadari jika hatinya memang tertambat di seni murni. Memperlakukan kanvas layaknya buku diary, ia tak ragu menunjukkan kerapuhan, a change of mind, dan kesalahan yang mungkin muncul saat proses berkarya untuk menghasilkan karya yang jujur.

_mg_7894

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Saya tinggal di Bali, keluarga saya dari Jawa dan Kanada. Saya dibesarkan dalam keluarga yang kreatif. Nenek dan ibu saya sangat kreatif dan saya memang dari kecil (2 tahun) selalu menggambar dan melukis.  My grandmother paints and makes things and so did my mother. Sejak saya kecil, cara saya memproses lingkungan dan dunia sekitar, adalah lewat mendokumentasikan hari-hari lewat menggambar dan menulis. Proses ini terus menerus saya lakukan dan tidak berhenti sampai sekarang. It’s just a way for me to process and understand everything around has always been through drawing and writing and making things.

Sebagai anak tunggal saya rasa saya mendapatkan banyak ruang/waktu untuk berpikir dan bermain sendiri. Karena selalu sendiri, kebosanan saya mungkin juga menjadi sebab untuk iseng berkarya yang lama-lama menjadi hobi dan menjadi keperluan saya untuk mengolah pikiran.  A few of my cousins work in creative fields. So being creative has always been encouraged in my family. There is a strong creative blood in my family. My grandma told me my great-great grandfather was a grave-stone carver.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Saya tidak pernah berhenti menggambar, menulis, berkarya, dan setelah tamat universitas saya pulang ke Indonesia dan bekerja di Jakarta selama setahun sebagai ilustrator dan desain grafis. Dalam waktu renggang saya, saya tetap membuat karya-karya pribadi dan berpartisipasi dalam pameran. Dalam kurun waktu ini saya akhirnya menyadari bahwa saya merasa tidak puas bekerja dalam desain grafis. Saya memutuskan untuk meneruskan karier saya sebagai pelukis dan kembali ke seni murni.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Saya senang bereksperimen dan saya memang cepat bosan. Jadi jika saya sudah menemui formula dalam medium tertentu berkaitan dengan cara berkarya saya, saya pasti akan mencari cara untuk menggambar/melukis dalam metode lain.

 

As far as “style” goes it’s not something I think about much. I think it’s something that develops naturally as you keep creating over time. You see what works for you and what doesn’t. I think as long as it feels good to me, my voice and strokes will be there. As you grow as a person, you kind of keep evolving and developing, and hopefully the work should organically grow with you.

Untuk sementara dan beberapa tahun terakhir medium yang sedang saya favoritkan adalah akrilik, tinta, graphite, charcoal, guache, kanvas, dan kertas.

go-ahead

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Ralph Steadman was an inspiration sejak SMA. I was attracted to his idealism, rawness, and fearlessness. Lalu ultimate favorite sejak kuliah Tracy Emmin dan Louise Bourgeois. I got to see Tracy Emmin’s Art Talk in person early this year. That was a dream comes true. I have always been a huge, huge, nerd fan of her work. Karya-karyanya sangat jujur dan sophisticated.

 

In terms of mentality in creating I am highly influenced by the abstract expressionism/Action Painting movement – The New York School era painters: Robert Motherwell, Robert Rauschenberg, Adolph Gottlieb, Helen Frankenthaler, Mark Rothko. So many more.

           

My work is also really influenced by music – a lot of rap and hip hop.
My idealism started to become a huge part of my identity and as a creator I think since I became a die hard of M.I.A. since 2007. Haha.

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?  

Karya pertama saya tidak ingat. Mungkin saya masih umur 2 tahun. Saya sering berpartisipasi di pameran bersama mulai dari SMA. But my first small solo exhibition really confirmed to myself that I wanted to be a painter. My work is highly personal so the first time it all went up, basically it is much like having pieces of my diary displayed for people to see. It made me feel vulnerable. But that’s the point I guess. When people felt connected to the works, it made me feel less alone. It was cool to see people connect to the work even if I didn’t know them. And connect on human level through art.

 

Apa idealismemu dalam berkarya?
My Idealism stems from just staying true to myself and makes work that I genuinely feel and relate to. No compromise. To not concern myself with what’s “cool” or pleasing. But if I am honest in my work hopefully that can create space for genuine connections with people. I want to be myself and through being vulnerable, I hope that can encourage other people to do the same. So I guess the idea is to create as genuinely/honestly as possible with good intentions and if people don’t relate to it, it’s okay.

 whyd-you-wanna-grow-up-so-fast

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Secara aesthetic, mungkin ‘berantakan’ ya? Saya tidak terlalu fokus dengan “ciri khas” atau sengaja merencanakan style aesthetic yang spesifik. ‘Kebiasaan-kebiasaan’ saya dalam berkarya/menggambar dalam goresan terbentuk secara ‘organik’. Buat saya, goresan, bentuk, dan figur akan terjadi dan membentuk sendiri dan berubah tergantung waktu. Dan saya terus menerus merespons.

I create in a very intuitive/guttural way and it’s an instant action and reaction when I make something. Seperti menari bebas, bergerak tergantung musik. Sama dengan menggambar bebas tergantung mood dan sesuka hati. One creative decision on the canvas takes me to another and keeps going until it cant go anywhere any more.

 all-the-girls

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Hmm… To learn to listen to myself and my heart no matter what. Realizing that in creating work, no one knows how to create your work better than you, yourself. And I think there is real strength in understanding that.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di studio atau di rumah.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Maaf ya Lex aku jawab ini panjang lebar dalam Bahasa Inggris, my grammar and vocab in writing Indonesian is so embaressingly terrible. Maaf banget ya.

 

I think there are definitely huge pros and cons. Advantage and disadvantages about art in the era of social media. I remember before Facebook was crazy and it was heavily the blogging era – it was a really nice way to make work and you had a nice space to go to with other creatives and put work out – that didn’t have to be polished works. It was a very experimental and creative time of the internet I think. It hadn’t become too heavily corporate. And not everyone was on it yet. You weren’t bombarded with as much comments and advertisements. I miss that time of the internet. It grew up way too quickly, haha

 

On one hand, it’s great for artists to have free space to put work out and you can access more people with your work much easier than before. You can also educate yourself much easier as information is so easily available and it’s easy to access other artists, galleries etc. as well. But at the same time, I find myself being uncomfortable with the idea that – while creating work, there is a high awareness of the ‘audience’. Before social media, I feel like you have time to think and process the work yourself before placing it on a public platform.

 

We digest information much quicker I think, than before. So I feel sometimes there is this imaginary pressure of putting out material quicker. Or you kind of create the work out in the open where you share the process – “Tweet it, Instagram it, hashtag work in process, #wip, #process etc.” This kind of changes the whole process of creating I think compared to before social media. Before there wasn’t this easy, instant, gratification for your work – where as now there are likes and comments etc. Now the feedback is instant and as my work is highly personal, and it is very attached to me as a person, I am not a fan of sharing process work on social media too much. I find it too fleeting and can cause things to be ingenuine. For me, anyway.

 

Even before the internet you had to send a mail, and wait for that to be responded to, then meet the gallery, — the process of things and experience is takes longer. Now you email, post, chat up everything. The speed of things now just generally makes it hard for people to dig deeper or for things to last longer. There is always something new popping up. Sometimes I really don’t like that. With info, music, art. I’d like to magically slow everything down. Haha.

 

Scale also really changes perspective. If I put a work out on Instagram of a 2mx2m painting, it really degrades and mediates the experience of the painting. You don’t see texture, size, etc. It oversimplifies things. Things are reacted upon in a more surface manner. But that’s just me personally – I know a lot of artists who are really good at curating and catering their social media platforms to support their art. I’m just not very good at balancing that and working that way.

Target sebelum usia 30?

I just want to stay happy and healthy whatever comes my way by that time. I think that’s a big enough target. And I wouldn’t mind moving into a bigger studio space and maybe one somewhere outside of Indonesia too.

history

#30DaysofArt 17/30: Natasha Lubis

Mengaku mengidap sindrom anak tengah yang penyendiri, imajinasi masa kecil peraih gelar master bidang Fine Art di Goldsmiths College London ini disalurkan lewat karya visual berupa lukisan dan kolase three dimensional dengan elemen fantasi dan permainan warna yang eklektik. Melewati beragam tahap dalam pendekatannya terhadap seni, estetika counter-culture dan persepsi perempuan pun menjadi bagian integral dalam karya artist kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1989 yang saat ini berdomisili di Bali tersebut. “Saya pikir good art punya kemampuan untuk mentransformasi sang spektator, potensi utopis tersebut sangat saya kagumi. Menyaksikan efek karya-karya seni yang inspiratif merupakan motivasi besar untuk terus berkarya dan berharap suatu hari bisa memberikan efek itu ke orang lain. Art is an exciting way to relate to people too, many of the most stimulating people I know I had connected through art.”

natasha-lubis 

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya besar di Jakarta, selesai SMA saya tinggal cukup lama di Melbourne, Australia. Lalu sempat tinggal di London untuk menjalani masters di bidang Fine Art di Goldsmiths College. Awal tahun ini saya kembali menetap di Indonesia.

Dari masa kecil saya memang sangat ‘fantastical’, ditambah lagi saya tipe anak tengah klasik yang cenderung penyendiri. Dunia imajinasi saya jadikan sarana hiburan alternatif di dalam kesendirian saya, dulu cukup normal bagi saya untuk berbincang-bincang dengan hasil gambar saya sendiri, haha.Saya besar dengan saudara-saudara yang usianya berdekatan, layaknya anak kecil kami sering merancang permainan peran fantastis antar sesama yang benar-benar menstimulir imajinasi. Memori-memori tersebut sangat berkesan dan memberi pengaruh ke cara pandang saya.

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Susah untuk ingat momen atau orang spesifik karena saya mulai hobi gambar dari kecil banget. Tapi kesadaran akan seni selalu dijunjung tinggi di upbringing saya, karena memang banyak anggota keluarga yang aktif di bidang musik dan budaya. Tapi seni visual adalah ketertarikan yang saya kembangkan sendiri.

Saya melewati beragam tahap di dalam approach saya terhadap seni, tahap yang sangat signifikan adalah ketika saya mulai serius mengulik kultur musik sekitar awal SMP. Usia remaja merupakan waktu spesial untuk merasuki dunia musik karena sensasi yang didapat luar biasa menggairahkan. Beberapa musisi yang fundamental bagi sumber inspirasi ya dimulai dari the classics seperti Radiohead dan Pink Floyd, era musik 60-70an, yang lalu menjalar ke berbagai macam lain. Selain dari musiknya sendiri, faktor budaya yang lahir dari dunia musik saya anggap sangat menarik. Saya ingat merasa kagum dengan energi kultur rock n’roll dan subkultur musik lainya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Saya mendapat kenikmatan dan juga tantangan tersendiri dengan berkarya, lagipula belum kepikiran akan passion lain yang bisa saya lakukan dengan potensi dan fokus semaksimal seni. Memproses pemikiran dan emosi lewat karya seni adalah proses penting untuk eksistensi saya, apalagi dengan berkembangnya lingkup interests dan awareness, makin timbul kehausan untuk mengutarakan ide-ide baru lewat karya.

1

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Saya mengagumi seniman-seniman wanita yang tidak konvensional. tahun ini saya terlibat artist residency di Ketemu Project Space (Bali), proyek ini menyorot hidup dan praktek almarhumah seniman perempuan asal Bali, I Gak Murniasih (biasa dipanggil Murni). Karya Murni kontroversial dikarenakan unsur erotisme absurdis frontal yang terinfluens dari otobiografinya sendiri. Riwayat hidupnya memang dipenuhi tragedi, namun ia tetap berhasil mencurahkan esensi hidupnya dengan penuh gairah dan optimisme lewat dedikasinya akan seni.

Kalau inspirasi dasar, dari sejarah seni barat saya terinspirasi oleh ideologi irasional gerakan surrealis, dan juga visualisasi whimsical mereka. saya juga senang dengan influens literatur dan cinema, dua platform ini dapat mentransportasikan kita ke realitas imajiner secara immediate. Salah satu penulis esensial bagi saya adalah Hermann Hesse, kepekaanya akan tabiat manusia dan juga kesadaran kosmis terangkum dengan puitis di dunia fiksinya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Tidak punya idealisme yang berat, yang penting terus berani berkarya, bereksperimen dan lanjuti jalur hidup kreatif ini yang bisa dibilang tidak normatif di mata banyak orang.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Menggambar adalah proses fundamental yang terapeutik tapi juga bisa mengisolisir, makin lama saya merasa medium lukis tidak menyampaikan ide tujuan saya secara pas. Sekitar semester akhir S1 ketertarikan saya telah mencakup banyak referensi budaya barat dari masa counterculture di era 60-70an. saya tertarik akan elemen-elemen paradoksal yang direpresentasikan kultur ini, seperti penggambaran akan ide-ide utopis yang hedonistik namun dengan cara mengeksploitasikan kesensualitasan perempuan.

Zaman hippie ini sangat identik dengan image seduktif ikonis yang tersebar di media massa yang memang rajin saya koleksikan. Peralihan ke kolase menjadi perkembangan alami karena saya bisa langsung menggunakan imej-imej di archive saya sebagai medium. Saya pikir penggunaan found images mengkomunisasikan intention saya dengan cara yang lebih direct, dan lebih mudah menampung beragam ide dan referensi dibanding lukisan biasa.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu? 

Praktek seni saya cukup terikat dengan bahasa visual, tantangan bagi banyak seniman adalah membuat keseimbangan efektif antara konsep dan tampilan visual. Unsur fantasi yang menantang cukup integral dalam estetika saya, termasuk juga permainan warna yang dapat menciptakan atmosfer tertentu. Banyak dari karya saya secara abstrak mewakili persepsi perempuan, ini memberikan nuansa feminin di praktek seni saya.

mothernature

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Body of work yang cukup signifikan adalah seri karya kolase three-dimensional yang dibuat untuk ekshibisi akhir pendidikan S1. Saya baru saja bergeser dari lukisan untuk eksperimen media kolase, dan ternyata langsung senang akan dinamika medium tersebut. Karya di graduation show kampus tersebut mendapatkan saya tawaran solo show di Melbourne, Australia. Overall it was a good learning experience.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Merasa sangat beruntung untuk bisa menjalani pendidikan masters di London tahun lalu, itu merupakan periode yang menantang. Universitas yang saya masuki mempunyai sejarah panjang akan pendekatan intens terhadap pemikiran teori kritis barat yang tidak ortodoks, saya merasa kewalahan sepanjang proses karena tidak familiar dengan banyak topik. Sekarang saya merasa mendapat pengertian baru atas pola pemikiran kritis.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Pastinya banyak sekali keuntungan era social media, generasi sekarang mempunyai keuntungan teknologi yang tak terbayangkan di masa lalu. Kita mempunyai akses bebas ke informasi yang jauh mempermudah proses riset dan kebebasan untuk berkomunikasi dengan siapapun pada skala global. Sangat ajaib menyadari bahwa kita mempunyai kuasa untuk mengakses dan menkurasi informasi yang kita inginkan dari sejarah manusia, it’s actually quite a burdensome advantage.

Saya rasa kultur sosmed juga bisa khaotis, wilayah virtual yang sangat luas seperti menyebabkan kebosanan kolektif ke para pengguna, kita menjadi terlalu terbiasa dengan segala tipe informasi yang lalu membuat kewalahan dan mudah terdistraksi, tidak heran muncul lah kultur-kultur tolol yang menghibur seperti kultur ‘meme’. Sepertinya semua kompleksitas ini sudah layaknya muncul sejalan cepatnya perkembangan zaman, dan hal ini sangat menarik untuk diobservasi lewat perspektif seni.

2

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Jujur saja saya masih ada homework dan kewajiban untuk lebih mengenalkan diri ke komunitas-komunitas dan budaya seni dalam negeri. Tapi dari pengalaman saya tahun ini, kehadiran seni kontemporer lokal jauh terasa lebih dirayakan dibanding dulu, ini membuat saya optimistik. Dan kota sekompleks dan sedinamis Jakarta kayaknya tidak akan kehabisan produksi karya-karya menarik.

What’s your current obsession?

Saya developed hobi menyehatkan yaitu berenang tiap pagi selama tinggal di Bali, ternyata aktivitas ini sangat meditatif.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Sebisanya saya spend the time somewhere outdoors, soalnya penting tuh untuk ketenangan mental, baik itu ke pantai atau cuma ke outdoor cafe. Nonton live music is always a good idea too. 

Project saat ini?

Selalu ada personal project yang perlu dikembangkan atau diselesaikan. Saya juga sedang mencari komunitas seni yang terbuka untuk kesempatan kolaborasi atau residency. 

Target sebelum usia 30?

Kalau impian sih banyak, termasuk yang nggak realistis, tapi yang utama adalah kesempatan untuk bisa terus berkembang dalam berkarya, karena memang sulit untuk menjadikan praktek seni sebagai jalur karier yang konkret. At some point juga ingin mulai kolaborasi dengan orang sepemikiran untuk membuat proyek menarik.

obscured-by-clouds

#30DaysofArt 15/30: Muhammad Zico Albaiquni

Lahir di Bandung pada tanggal 8 Agustus 1987, seniman peraih gelar magister penciptaan seni di ITB ini sempat menghabiskan masa kecilnya di Braunschweig, Jerman, ketika sang ayah, pelukis terkenal Tisna Sanjaya, menempuh studi seni grafis di negara tersebut. “Hampir setiap hari saya selalu dibawa ke kampusnya. Ayah saya selalu menitipkan saya di perpustakaan kampusnya dan hal itu sangat menyenangkan buat saya! Mungkin itu start paling awal saya mulai menyukai dunia seni rupa. Saya juga sering sekali dibawa ke pameran-pameran seni rupa, menonton film, melihat performance art, dan mengunjungi museum-museum,” kenangnya. Mengikuti jejak ayahnya dalam dunia seni lukis, Zico pun berusaha menciptakan sebuah counter culture dalam seni lukis yang kini kerap dianggap bentuk seni paling usang di zaman yang kian modern. Hasilnya adalah eksplorasi medium yang selalu bertransformasi dan instalasi yang telah dipamerkan di berbagai negara, termasuk residency dan solo exhibition di Vienna, Austria.

zico-albaiquni-hijab-ludus-velum-suppancontemporary

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Saat SD hingga SMP saya sebetulnya tidak terlalu masuk dalam dunia seni rupa.  Bahkan pelajaran seni rupa saya waktu SD nilainya buruk dan tidak mungkin rasanya menang kompetisi gambar anak yang waktu itu selalu dimenangkan oleh anak-anak sanggar. Waktu itu rasanya sirik banget! Hehehe. Di SMA saya mulai bertemu lagi dengan dunia seni rupa dan mulai sering terlibat proyek-proyek mural bersama teman-teman saya. Masa akhir SMA pun saya malah testing Kedokteran. Meskipun lolos, saya akhirnya malah masuk FSRD ITB gara-gara ngobrol bareng senior saya yang sekarang juga jadi salah satu seniman muda Bandung yang karyanya kuat, Faisal Habibi.

Tahun pertama saya masuk FSRD ITB saya main dulu di jurusan Desain Komunikasi Visual. Namun gara-gara melihat lukisan S. Sudjojono di Galeri Nasional, saya benar-benar tergerak untuk akhirnya meyakinkan diri untuk pindah jurusan di tahun ketiga saya di FSRD ITB untuk masuk Jurusan Seni Rupa studio Seni Lukis.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Intinya selalu karena curiosity. Karena rasa penasaran, karena keingintahuan dan sisanya adalah obsesi. Menciptakan karya seni menjadi sebuah kebutuhan bagi saya. Saya selalu terobsesi dengan dunia seni.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Bagi saya medium atau style adalah konsekuensi dari idea yang saya pikirkan. Namun dari awal berkarya saya selalu fokus dalam pemahaman mengenai painting. Painting atau seni lukis merupakan sebuah idea paling tua dalam bentuk seni, paling banyak dirayakan dalam dunia seni namun juga jadi medium yang problematis dan dianggap menjadi bentuk paling usang. Karena seluruh idea yang muncul mengenai seni lukis, maka saya semakin terobsesi untuk melakukan percobaan-percobaan di dalamnya. Bagi saya seni lukis adalah sebuah ideology dan merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk menciptakan sebuah counter culture di dalamnya.

267570_10151172213337969_801870083_n

Apa idealismemu dalam berkarya?

Mencari ‘the truth’, walaupun kadang harus menutupinya agar menjadi sadar value the truth itu sendiri.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Tidak pernah tetap dan tidak pernah sama. Selalu dalam transformasi.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

  1. Sudjojono,  Gerhard Richter,  Vermeer,  Baldessari,  Lucian Freud, GSRB (Gerakan Seni Rupa Baru),  Velazques,  Bob Dylan,  Alejandro González Iñárritu,  Anselm Kiefer, Tisna Sanjaya.

Apa pameran yang paling memorable?

Pameran yang paling saya ingat adalah pameran pertama saya di Jakarta. Saat itu berpameran di Umah Seni Jakarta pada tahun 2009. Waktu itu saya masih kuliah tingkat 3 sementara seniman-seniman lainnya merupakan seniman-seniman dahsyat kala itu dan salah satunya adalah Ronald Manulang! Salah satu eksponen GSRB. Pada saat itu pamerannya berjudul Holocaust. Kebanyakan karya seniman menciptakan image Nazi. Namun waktu itu saya menciptakan ide mengenai teror yang dibawa oleh kesalahpahaman yang terbawa oleh fundamentalis agama di Indonesia. Saya awalnya merasa seperti salah kostum namun pada ujungnya karya itu menjadi karya favorit saya, bahkan hingga saat ini.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mampu bertahan menciptakan sebuah space bernama Ruang Gerilya di Bandung selama 5 tahun dan mulai berkembang menjadi tempat residensi Internasional dan bisa menjadi wadah bagi teman-teman seniman lainnya.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Waktu paling menarik yang bisa saya bayangkan sejauh ini.  Awalnya saya pikir golden age seni itu terjadi saat masa revolusi kemerdekaan atau reformasi dari orde baru.  Namun era social media justru menawarkan pergeseran paradigma mengenai banyak hal secara lebih cepat dan responsif.

artwork-1398923676
33 Sacred Repetition, Oil on canvas, cable 33 Panels, 2011

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya bahagia hidup di Bandung saat ini. Art scene yang mulai berkembang dan banyak seniman muda yang pintar, cerdas, kritis, dan tidak membosankan. Memang belum bisa akselerasi secara signifikan namun pelan tapi pasti. Saya sangat optimis melihat perkembangan art scene Bandung ke depannya.

Punya secret skill di luar seni?

Modding game di PC, terutama game FIFA.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bersama istri saya Kartika Larasati.

 

Project saat ini?

Dalam proses mengumpulkan data, image, dan medium untuk menciptakan semacam naskah bergambar.

Target sebelum usia 30?

Di kota saya ada event seni yang sekelas Documenta Kassel.

artwork-1400761033
ARTIST STUDIO, painting and mixed media installation, 2014