#30DaysofArt 15/30: Muhammad Zico Albaiquni

Lahir di Bandung pada tanggal 8 Agustus 1987, seniman peraih gelar magister penciptaan seni di ITB ini sempat menghabiskan masa kecilnya di Braunschweig, Jerman, ketika sang ayah, pelukis terkenal Tisna Sanjaya, menempuh studi seni grafis di negara tersebut. “Hampir setiap hari saya selalu dibawa ke kampusnya. Ayah saya selalu menitipkan saya di perpustakaan kampusnya dan hal itu sangat menyenangkan buat saya! Mungkin itu start paling awal saya mulai menyukai dunia seni rupa. Saya juga sering sekali dibawa ke pameran-pameran seni rupa, menonton film, melihat performance art, dan mengunjungi museum-museum,” kenangnya. Mengikuti jejak ayahnya dalam dunia seni lukis, Zico pun berusaha menciptakan sebuah counter culture dalam seni lukis yang kini kerap dianggap bentuk seni paling usang di zaman yang kian modern. Hasilnya adalah eksplorasi medium yang selalu bertransformasi dan instalasi yang telah dipamerkan di berbagai negara, termasuk residency dan solo exhibition di Vienna, Austria.

zico-albaiquni-hijab-ludus-velum-suppancontemporary

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Saat SD hingga SMP saya sebetulnya tidak terlalu masuk dalam dunia seni rupa.  Bahkan pelajaran seni rupa saya waktu SD nilainya buruk dan tidak mungkin rasanya menang kompetisi gambar anak yang waktu itu selalu dimenangkan oleh anak-anak sanggar. Waktu itu rasanya sirik banget! Hehehe. Di SMA saya mulai bertemu lagi dengan dunia seni rupa dan mulai sering terlibat proyek-proyek mural bersama teman-teman saya. Masa akhir SMA pun saya malah testing Kedokteran. Meskipun lolos, saya akhirnya malah masuk FSRD ITB gara-gara ngobrol bareng senior saya yang sekarang juga jadi salah satu seniman muda Bandung yang karyanya kuat, Faisal Habibi.

Tahun pertama saya masuk FSRD ITB saya main dulu di jurusan Desain Komunikasi Visual. Namun gara-gara melihat lukisan S. Sudjojono di Galeri Nasional, saya benar-benar tergerak untuk akhirnya meyakinkan diri untuk pindah jurusan di tahun ketiga saya di FSRD ITB untuk masuk Jurusan Seni Rupa studio Seni Lukis.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Intinya selalu karena curiosity. Karena rasa penasaran, karena keingintahuan dan sisanya adalah obsesi. Menciptakan karya seni menjadi sebuah kebutuhan bagi saya. Saya selalu terobsesi dengan dunia seni.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Bagi saya medium atau style adalah konsekuensi dari idea yang saya pikirkan. Namun dari awal berkarya saya selalu fokus dalam pemahaman mengenai painting. Painting atau seni lukis merupakan sebuah idea paling tua dalam bentuk seni, paling banyak dirayakan dalam dunia seni namun juga jadi medium yang problematis dan dianggap menjadi bentuk paling usang. Karena seluruh idea yang muncul mengenai seni lukis, maka saya semakin terobsesi untuk melakukan percobaan-percobaan di dalamnya. Bagi saya seni lukis adalah sebuah ideology dan merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk menciptakan sebuah counter culture di dalamnya.

267570_10151172213337969_801870083_n

Apa idealismemu dalam berkarya?

Mencari ‘the truth’, walaupun kadang harus menutupinya agar menjadi sadar value the truth itu sendiri.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Tidak pernah tetap dan tidak pernah sama. Selalu dalam transformasi.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

  1. Sudjojono,  Gerhard Richter,  Vermeer,  Baldessari,  Lucian Freud, GSRB (Gerakan Seni Rupa Baru),  Velazques,  Bob Dylan,  Alejandro González Iñárritu,  Anselm Kiefer, Tisna Sanjaya.

Apa pameran yang paling memorable?

Pameran yang paling saya ingat adalah pameran pertama saya di Jakarta. Saat itu berpameran di Umah Seni Jakarta pada tahun 2009. Waktu itu saya masih kuliah tingkat 3 sementara seniman-seniman lainnya merupakan seniman-seniman dahsyat kala itu dan salah satunya adalah Ronald Manulang! Salah satu eksponen GSRB. Pada saat itu pamerannya berjudul Holocaust. Kebanyakan karya seniman menciptakan image Nazi. Namun waktu itu saya menciptakan ide mengenai teror yang dibawa oleh kesalahpahaman yang terbawa oleh fundamentalis agama di Indonesia. Saya awalnya merasa seperti salah kostum namun pada ujungnya karya itu menjadi karya favorit saya, bahkan hingga saat ini.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mampu bertahan menciptakan sebuah space bernama Ruang Gerilya di Bandung selama 5 tahun dan mulai berkembang menjadi tempat residensi Internasional dan bisa menjadi wadah bagi teman-teman seniman lainnya.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Waktu paling menarik yang bisa saya bayangkan sejauh ini.  Awalnya saya pikir golden age seni itu terjadi saat masa revolusi kemerdekaan atau reformasi dari orde baru.  Namun era social media justru menawarkan pergeseran paradigma mengenai banyak hal secara lebih cepat dan responsif.

artwork-1398923676
33 Sacred Repetition, Oil on canvas, cable 33 Panels, 2011

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya bahagia hidup di Bandung saat ini. Art scene yang mulai berkembang dan banyak seniman muda yang pintar, cerdas, kritis, dan tidak membosankan. Memang belum bisa akselerasi secara signifikan namun pelan tapi pasti. Saya sangat optimis melihat perkembangan art scene Bandung ke depannya.

Punya secret skill di luar seni?

Modding game di PC, terutama game FIFA.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bersama istri saya Kartika Larasati.

 

Project saat ini?

Dalam proses mengumpulkan data, image, dan medium untuk menciptakan semacam naskah bergambar.

Target sebelum usia 30?

Di kota saya ada event seni yang sekelas Documenta Kassel.

artwork-1400761033
ARTIST STUDIO, painting and mixed media installation, 2014

#30DaysofArt 14/30: M.R. Adytama Pranada

Akrab disapa dengan nama Charda, pria kelahiran Surabaya, 16 Juni 1987 yang dibesarkan di Jakarta ini adalah seorang seniman multi-disiplin yang bereksperimen dengan fotografi, prints, ilustrasi, serta video bertema memori dan sejarah yang kemudian dipresentasikan dalam instalasi mixed media yang telah dipamerkan dalam berbagai ekshibisi di seluruh dunia dari mulai Seoul, Australia, Swedia, Los Angeles, hingga Islandia. Menurut Charda, ayahnya merupakan sosok yang memperkenalkannya pada dunia fotografi. “Saya selalu ingat beliau selalu membawa kamera kemanapun kita pergi, hampir setiap bulan selalu ada foto baru atau foto keluarga lama yang diperlihatkan. Kamera ayah saya adalah kamera pertama kali yang saya gunakan yang masih saya simpan sampai sekarang, Pentax K1000. Kamera ini pula yang masih sering saya gunakan untuk eksplorasi karya,” pungkas pria yang pernah meraih juara pertama Soemardja Award di Bandung ini. Menyelesaikan studi sarjananya di ITB, saat ini Charda tengah menuntaskan pendidikan S2 di Central Saint Martins, London dalam bidang Innovation Management.

img_5366

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Orang tua saya yang pertama kali membawa saya ke museum-museum di Jakarta. Saya juga masih ingat dua om saya yang pelukis sering menginap di rumah, menghabiskan waktu mengamati mereka melukis di halaman depan rumah dengan bau cat minyak, kopi hitam, dan asap rokok. Om saya pula yang mulai memperkenalkan saya pada karya-karya Afandi dan Basuki Abdullah.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Memori dan museum. Saya sangat suka bagaimana sebuah medium berkarya dapat merekam memori dan menyampaikan sebuah cerita, dan bagaimana sebuah representasi karya dapat mempengaruhi persepsi kita. Saya kira fotografi dan instalasi di museum memberikan dampak yang cukup besar bagi saya.

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya adalah sebuah lukisan kecil dengan kolase yang saya ambil dari berita di koran, sebuah karya untuk ujian prakarya di SMA. Kalau tidak salah tentang demonstrasi. Not good at all, haha, tapi saya kira ini momen pertama di mana saya berani untuk jujur dan bercerita kepada orang lain. It feels good! Dan karya ini masih saya gantung di kamar saya.

hela-1installation-performance-with-grace-sahertian-2015
HELA 1,Installation & Performance with Grace Sahertian, 2015

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Ketertarikan saya tentang memori membawa saya kembali pada medium fotografi.

 

Apa idealismemu dalam berkarya?

To tell a story.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Olafur Eliasson, Tisna Sanjaya, Raymond Pettibon, Danh Vo, F.X. Harsono.

going-home-installation-2015
Going Home (Installation), 2015

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya selalu merasa insecure dan kritis terhadap proses berkarya saya sendiri sehingga saya selalu banyak melakukan proses eksplorasi dan eksperimentasi. Saya kira dengan karya saya bukan soal ciri visual atau aesthetic, tapi lebih kepada tema-tema memori dan sejarah yang selalu saya gunakan.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Saya kira tiap tahap proses yang saya jalani selalu merupakan breakthrough dari proses panjang dalam berkarya. Mungkin breaktrough yang paling berkesan adalah pelajaran dari pengalaman saya sendiri, it’s not about being an artist as a profession and called yourself an artist, but its about a journey of determination with your own discipline and consistency on doing your own ‘thing’. Saya kira prinsip ini juga yang membawa saya untuk mengembangkan eksplorasi saya ke proses S2 sekarang.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

A good tools for not being me.

truth-enlightens
TRUTH ENLIGHTENS, mixed media installation, 2013

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

I’m in heaven. Lots of great works and exhibitions with free museums!

Punya current obsession di luar seni?

Current obsession? Netflix.

Project saat ini?

Saat ini saya sedang eksplorasi mengenai artist interpretation and the art representation of a ‘stage’ or space that constructed from performance art, theater, and cinema.

 

Target sebelum usia 30?

Menyelesaikan S2! Karena thesis defence kemungkinan besar akan berbarengan dengan ulang tahun ke-30, hahaha!

 the-unseen-shadow-of-indonesian-art-history-by-urban-archaeologist

#30DaysofArt 13/30: Mirfak Prabowo

Di samping aktivitasnya sebagai basisst untuk band rock Sigmun, pria kelahiran Jakarta, 6 April 1989 yang membagi waktunya antara Bandung dan Jakarta ini juga dikenal sebagai seorang visual artist yang aktif berkarya dalam berbagai medium. Dengan latar pendidikan seni lukis, Mirfak sempat menggelar pameran lukisan tunggalnya dengan tajuk “SANCTUM” di tahun 2013 berupa lukisan-lukisan abstrak yang dikembangkan dari karya tugas akhirnya di ITB. Selain itu, belakangan ini ia pun sedang asik menekuni sculpture berupa makhluk-makhluk imajinatif berbahan clay dengan desain urban yang kental. “Masa kecil saya yang paling berpengaruh mungkin di saat saya tidak boleh membeli mainan, sehingga karya terakhir yang paling sering saya geluti adalah membuat sebuah patung figure imajinasi saya sendiri,” ungkapnya.

img_20161027_205017

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Tidak ingat siapa yang memperkenalkan, tapi yang jelas dari kecil sudah sering berkarya (mencoreti tembok rumah) kata ibu saya, ahaha.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Rasa kepuasan setelah menyelesaikan sebuah karya. Dan apresiasi dari orang yang melihatnya.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Seiring berjalannya waktu, saya mencoba mengulik beberapa medium seperti cat minyak dan acrylic untuk melukis, clay untuk mematung, dan brush pen untuk menggambar. Saat ini medium yang paling sering saya gunakan adalah clay di mana saya membuat karakter imaji saya menjadi sebuah figure patung/mainan.

 psx_20160920_132848

Apa idealismemu dalam berkarya?

Berkarya untuk memuaskan keinginan diri sendiri.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Salvador Dali, Chuck Close, Creaturebox, Kim Jung Gi, Simon Lee, dan Takayuki Takeya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Bermacam-macam, kalau dari karya lukis saya ciri khasnya yaitu pemakaian warna yang sangat beragam. Kalau dari karya figure lebih berat ke bentuk monster dari yang lucu dan simple hingga yang seram dan detail.

_mg_8858

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Masih, karya pertama saya berupa lukisan di masa awal kuliah saat mengambil jurusan seni lukis. Saat itu kami diberikan tugas untuk membuat lukisan realis, dan saya mencoba melukis sebuah kaki seorang pekerja dengan beralaskan sendal jepit dan berada di atas bebatuan. Yang paling teringat dari karya tersebut adalah ketika saya berhasil membuat semacam ilusi bahwa batu kerikil yang saya buat itu nyata.

 

Untuk ekshibisi pertama yaitu pameran tunggal saya pada tahun 2013 bertajuk “SANCTUM”. Karya-karya saya saat itu berupa lukisan abstrak yang merupakan pengembangan dari karya tugas akhir. Dalam ekshibisi tersebut saya mencoba memberikan kepercayaan kepada para audiens agar bisa menikmati karya yang saya buat tanpa harus saya berikan sebuah landasan untuk menginterpretasikan visual karyanya. Saya ingin agar audiens bisa menikmati dan membuat cerita sendiri dari visual yang saya suguhkan.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Bermacam-macam, kalau dari karya lukis saya ciri khasnya yaitu pemakaian warna yang sangat beragam. Kalau dari karya figure lebih berat ke bentuk monster dari yang lucu dan simple hingga yang seram dan detail.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Dari segi seni visual: berhasil melakukan pameran solo di Bandung yang bertajuk “SANCTUM”. Lalu bisa berkolaborasi dalam membuat patung dengan ilustrator Singapura bernama Kilas. Serta produk kolaborasi dengan partner saya ilustrator bernama Bea Ariani P. yang berupa sculpture face mug & merchandise lainnya. Dari segi musik: berhasil membuat album perdana Sigmun.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Ada plus dan minusnya, senang bila ada yang merespons via social media dan sampai mengoleksi karya yang telah saya buat. Minusnya sendiri koneksi audiens dengan karya terkadang hanya sebatas melihat visual di gadget saja. Namun hal tersebut juga menjadi dorongan untuk bisa berpameran baik di sebuah galeri ataupun bazaar, agar timbul kedekatan antara karya dan audiens.

 psx_20161029_005009

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekitarmu saat ini?

Semakin ramai. Munculnya seniman-seniman muda baru yang berani. Acara dan pameran yang semakin banyak untuk wadah para seniman agar dapat memperkenalkan karya mereka, serta para audiens yang antusias untuk mencoba memahami karya. Baik itu untuk menelaah lebih lanjut atau sekadar berfoto selfie dengan karya tersebut, ehehehe. 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Biasanya di rumah partner saya mengerjakan proyek-proyek kami yang sedang berlangsung.

Current obsession?

Mengkoleksi mainan dan membuat mainan, hehe.

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Yang sedang berlangsung di antaranya yaitu collaboration project seperti sculpture face mug, beberapa commissioned work berupa patung/figure, dan handmade jewellery di Instagram @papipu_id. Lalu yang ingin dilakukan selanjutnya merencanakan pameran tunggal bila memungkinkan. Entah kapan, yang penting diniatkan dahulu hehe.

Target sebelum usia 30?

Melebarkan sayap secara internasional, baik dari segi seni visual, produk, maupun musik.

1024_multi_light_cig_1024x1024

#30Days0fArt 12/30: Maharani Mancanagara

Lahir di Padang dengan campuran budaya Jawa Timur dan Sumatera Barat dari orangtuanya, semasa kecilnya seniman kelahiran 28 September 1990 yang akrab disapa Rani ini terbiasa mendengar cerita perjalanan ayahnya yang merupakan seorang peneliti ke berbagai daerah terpencil di Indonesia. Ditambah cerita tentang asal-usul keluarga dan generasi sebelumnya, ketertarikan alumni FSRD ITB ini pada identitas diri dan sejarah pun diwujudkan dalam bentuk karya seni yang menggabungkan potret-potret lama, kolase, dan ilustrasi charcoal dengan medium kayu dan kinetic. “Semasa kuliah, saya senang sekali mengumpulkan barang-barang aneh yang sudah tidak terpakai dan kemudian mencari tahu asal-usulnya. Berawal dari situ lah, gagasan mengenai hal-hal yang terjadi di masa lampau mulai menjadi bahasan di dalam karya dengan cara merekonstruksinya,” jelas gadis yang kini berkarya dan menetap di Bandung tersebut.

foto-diri-maharani-mancanagara-3

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Perkenalan saya dengan seni berawal dari hobi beberapa sanak keluarga, melihat lukisan-lukisan yang dibuat almarhum Pakde saya, mendengar Pakde saya yang lain bermusik dengan kawan-kawannya dan sering diajak keluarga untuk berkelana mencari objek foto. Pembiasaan tersebut yang membuat saya akrab dengan dunia visual dan mulai mencoba menggambar secara otodidak. Kemudian ketika sekolah menengah atas, secara impulsif ibu saya membawa formulir salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, dengan modal penasaran, saya memilih jurusan seni rupa di perguruan tinggi negeri tersebut tanpa mengetahui seluk-beluk jurusan tersebut. Keingintahuan saya berjalan ketika saya memulai studi di perguruan tersebut.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Adiksi dari berkarya itu sendiri! Berawal dari keingintahuan dan kegelisahan personal, dilanjutkan dengan kepuasan dalam proses dan hasil berkarya itu sendiri. Sangat menarik!

Apa idealismemu dalam berkarya?

Study the past if you would define the future” – Confucius. Bagi saya, suatu penemuan di masa depan tidak lepas dari perjalanannya di masa lalu, maka jika tidak tahu asal-usulnya, bagaimana bisa menemukan itu di masa depan?

artwork-1398928019

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika kuliah, terlontar percakapan dengan seorang dosen di studio mengenai identitas diri, berangkat dari hal tersebut, saya mulai menelusuri darimanakah saya berasal, apa yang membentuk karakter saya dari dahulu hingga kini dan lain sebagainya hingga penelusuran tersebut bertemulah saya dengan tumpukan buku harian seorang yang belum pernah saya kenal dan temui langsung, kakek saya. Melalui buku harian tersebut, membuka pandangan saya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu melalui sudut pandang seorang biasa yang jujur apa adanya. Timbul pertanyaan-pertanyaan yang meluas dalam diri saya mengenai sejarah yang saya tahu melalui bangku sekolah.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Leonid Sokov dan Christian Boltanski!

Masih ingat ekshibisi pertamamu?

Ekshibisi pertama saya ketika baru menginjak studio di jurusan Seni Grafis di tahun 2009. Berawal dari lontaran dosen di studio, Tisna Sanjaya, untuk kami mahasiswa baru di studio, memperkenalkan diri kepada publik seni rupa di kampus. Belajar bagaimana membuat karya, mengelola pameran, dan mempertanggungjawabkannya kepada publik sekaligus. Berawal dari ekshibisi itu lah yang membangun kebiasaan untuk berkarya juga mengelola pameran secara mandiri.

artwork-1398928023

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Masuk artikel Nylon 30 under 30 Indonesian artist HAHAHA!

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Rasanya ya gitu aja sih. Era social media cukup membantu untuk mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Saya bisa melihat pameran di MoMa atau di Fukuoka tanpa harus datang ke sana (ya meskipun tetap lebih enak melihat karya langsung daripada di layar smartphone).

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Bandung katanya disebut sebagai kota dengan industri kreatif yang mumpuni dengan perkembangan merata ada di bidang kesenian, desain, film, gastronomi, sastra, media, dan seni musik. Saya kurang tahu persis kenapa, mungkin karena kreativitas orang-orang di dalamnya mampu menggerakkan sektor ekonomi kota ini, sehingga sentra industri kreatifnya menjadi daya tarik orang banyak untuk mengunjungi kota ini.

Mungkin, berangkat dari hal tersebut, ruang berekspresi menjadi tanpa batas, para pekerja kreatif di dalamnya pun bebas melakukan eksperimen untuk bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Begitu pula di dalam seni rupanya, menurut saya, medan seni di Bandung banyak menampung profesi yang dilahirkan dari beberapa akademisi berbasis seni rupa, namun dengan perkembangan merata pada sektor kreatifnya, setiap individu pun memiliki karakter yang terpaut satu dengan yang lain.

artwork-1398927400

Current obsession?

Kain dan tenun!

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Biasanya di studio tempat saya berkarya, atau di Wot Batu.

Project saat ini?

Sehari-hari saya menyibukkan diri berkarya di studio, saat ini sedang dalam persiapan pameran tunggal saya. Selain itu saya juga membantu mengelola Wot Batu (sebuah public art space di daerah Bandung Utara), terkadang juga menjadi asisten seniman Sunaryo untuk beberapa proyek seni yang sedang dijalani.

 

Target sebelum usia 30?

Punya studio dan kitchen kaya seniman Olafur Eliasson (Soe Kitchen)!

artwork-1461824326

#30DaysofArt 11/30: Kinez Riza

Alih-alih pengaruh masa kecil, eksplorasi Kinez Riza akan konsep alam, waktu, dan sublim dalam karyanya yang meliputi fotografi, film, dan instalasi sejatinya berasal dari dahaga keingintahuan yang seakan tak pernah puas tentang misteri semesta dan sejarah manusia. “Seperti innate predisposition yang tidak bisa dihindarkan, atau bawaan diri yang secara alami selalu mencari metode-metode untuk mewakili suatu hal atau konsep yang selalu berkembang,” ungkap seniman lintas ilmu yang lahir di Jakarta, 25 Agustus 1989 dan berkuliah di London tersebut. Di samping seni dan literature, minatnya yang meliputi arkeologi dan antropologi telah mengantarnya ke berbagai ekspedisi seru di seluruh dunia. Salah satunya mendokumentasikan hasil penelitian jejak tangan manusia purba dari 40 ribu tahun lalu di sebuah gua di Maros, Sulawesi yang diteliti pakar arkeolog Indonesia dan internasional serta menjadi orang Indonesia pertama yang diterima oleh organisasi The Arctic Circle untuk residensi di Kutub Utara. Senantiasa menggabungkan sisi artistik dan scientific, karyanya pun telah dipamerkan di Amsterdam, Dubai, dan Mongolia.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Jujur saja saya menghindari kesan autobiografis dalam berkarya, saya rasa latar belakang, asal-usul, dan pengaruh masa kecil bukan the driving factor buat saya berkarya. Tetapi dari masa kecil saya memang punya daya tertarik lebih kepada seni rupa dan sastra secara alami. Orangtua saya sering bilang bahwa waktu kecil saya sering sibuk sendiri dengan keterampilan tangan dan buku, saya susah diganggu, haha.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Consolidating my practice is very important to me, dan kematangan karya saya butuh time and space, saya sering merasa kurang puas dengan hasil karya yang mengikuti brief tertentu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Terlalu banyak, haha. Saya suka Hiroshi Sugimoto, James Turrell, Olafur Eliasson, Peter Beard, Team Lab, Picasso, Miro, Francis Bacon, Christo, Monet, banyak sekali.

dreams_on_a_frontier_plate_02-1024x768
Dreams On A Frontier Plate.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Secara tidak langsung, saya membeli kamera analog bekas yang murah dari pasar, setelah melihat hasil cetakan film pertama saya langsung mempunyai afinitas dengan medium photography, yang dilanjuti oleh medium film dan instalasi. Saya suka dengan pandangan implicit and emotive dalam karya visual.

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya digelar oleh D Gallerie, karya-karya saya memperlihatkan gambar alam yang dipadu oleh konteks dan isu representasi. Karya saya tidak mendiskusikan hal-hal yang berbentuk social, political or economic, dan karya saya bukan konseptual, jadi bincangan pada saat itu membandingkan karya fotografi yang jurnalistik atau fotografi seni rupa. Pada saat itu konteks dan isu representasi di belakang karya belum gampang dipahami oleh publik.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal ciri khas dalam karyamu?

Setelah saya perhatikan, ciri khas karya saya memang selalu meliputi konsep alam, waktu, dan sublim, akan tetapi salah satu obsesi saya adalah memperhatikan cahaya, warna, dan fenomena.

uranium-series-dating-panels-maros-regency-sulawesi
Uranium series dating panels, Maros Regency, Sulawesi.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pemahaman yang lebih matang tentang proses dan hasil karya saya.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Era social media masa kini adalah suatu hal yang saya diskusikan secara tidak langsung dalam karya saya, tapi saya menggambarkannya dengan cara yang tidak explicit, justru memperlihatkan obyek kuno, budaya punah atau tradisi masa lampau. Era social media secara alami meningkatkan pehamaman visual kepada penggunanya, jadi bisa dipandang positif untuk meningkatkan pemahaman publik kepada visual arts, mungkin awalnya hadir di exhibition untuk upload foto keren di sosmed adalah hal baru, akan tetapi saya yakin pemahaman lebih baik tentang seni rupa bisa berkembang di luar our own obsession.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Masih dalam tahap muda, saya lihat rekan-rekan saya bekerja keras dan serius untuk membangun budaya seni rupa yang lebih kekal dan accessible to the general public. Saya merasa bahagia dan bangga melihat hasil kerja keras rekan-rekan saya. Yang kurang diketahui orang lain, seni rupa adalah salah satu indication of modern humans’ intellectual and creative capacity dalam evolusi manusia modern. It has paved the way for culture, civilization and commerce to develop to what it is today.

a_restful_place_01-1024x768
A Restful Place.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Mengikuti kegiatan teman-teman, atau pura-pura mati di rumah.

Current obsession?

Interiors and architecture, saya suka menulis, ke antah-berantah, terobsesi dengan masak dan balanced lifestyle. Walaupun lifestyle saya sering out of balance, haha!

Project saat ini?

Melanjutkan film dokumenter saya tentang human creativity and evolution, sudah dalam tahap production terakhir, mungkin bisa ditayangkan tahun ini.

Target sebelum usia 30?

Bangun kabin kecil in the wilderness.

the-shadow-of-fjortende-julibukta-1024x768

#30DaysofArt 10/30: Kei Kusuma

Bermula dari kekaguman masa kecilnya melihat lukisan Tree of forgiveness by Sir Edward Burne Jones yang menjadi salah satu koleksi pribadi karya seni milik orangtuanya, seniman grafis yang lahir di Malang, 2 Mei 1990 yang sedang berdomisili di Surabaya ini pun mempelajari karya-karya dari Gustav Klimt, Ingres, Paul Gauguin, Xu Beihong, Hasegawa Tōhaku, serta seniman dunia lainnya dan secara instingtif mengembangkan gayanya sendiri. “Mengetahui banyaknya seniman dan karya seni luar biasa sering mengingatkan saya akan betapa miripnya emosi yang dapat kita rasakan dari suatu karya seni terlepas dari kapan suatu karya tersebut diciptakan. Saya ingat membuat banyak sekali gambar peperangan, susunan kastil, dan lainnya sejak usia balita. Karya pertama yang saya ikutkan ekshibisi menceritakan tentang mitologi perang antara tokoh pewayangan Jawa kuno,” cetusnya. Penuh dengan detail dan unsur emotif, Kei pun menghadirkan theatre of image yang tak terpaku oleh alat atau medium tertentu.

profile-photo

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Dibesarkan dalam keluarga yang memiliki pandangan terbuka dalam berbagai kesenian, kultur, dan budaya membuat saya merasa sangat beruntung. Menurut saya kebebasan untuk beropini dan melakukan observasi terhadap hal-hal di sekitar kita sejak dini amat sangat mempengaruhi kemampuan kita dalam mendefinisikan sesuatu sebagai seorang individu, dan saya rasa hal tersebut sangat mempengaruhi karya-karya saya saat ini.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Semenjak kecil, saya selalu merasa tertarik terhadap semua hal di sekitar saya, selalu mengamati dan mempelajari berbagai informasi visual dari berbagai sumber berdasarkan rasa keingintahuan yang tulus terhadap hal-hal yang belum saya ketahui. Digabungkan dengan latihan yang disiplin secara reguler, saya beranggapan bahwa daya interpretasi dan kedisiplinan dalam berkarya menjadi aspek terpenting bagi seorang seniman untuk dapat terus berprogres.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Saya menggunakan berbagai alat dan medium dalam proses berkarya, pena dan tinta, acrylic, gouache, pastel maupun color pigments. Akan tetapi, saya tidak merasa memiliki keterikatan atau preferensi khusus terhadap suatu alat ataupun medium. Saya justru lebih memprioritaskan keindahan dari hasil akhir serta impact yang dapat diberikan oleh sebuah karya seni.

plum-blossom-ink-tempera-color-pigments-on-paper-2012

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya dibandingkan menyampaikan sebuah pesan atau idealisme tertentu, merupakan hal yang lebih penting bagi seorang seniman untuk dapat menanamkan emosi tersendiri dalam karyanya untuk dinikmati setiap orang yang melihatnya. Perasaan cinta, takut, kebencian, kesedihan, kebahagiaan dan berbagai emosi lainnya yang dinilai secara terpisah maupun secara utuh merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti oleh semua orang, baik orang awam maupun art elitist.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal ciri khas dalam karyamu? Walaupun akan lebih baik untuk tidak terlalu menyederhanakannya, pada dasarnya mayoritas karya saya merupakan simbolisasi dari keindahan dan kompleksitas emosi yang terpadu berdasarkan pandangan personal saya terhadap kehidupan. Menurut saya cukup sulit untuk memberikan interpretasi verbal terhadap karya dan ide saya, begitupun sebaliknya. Dari pandangan saya secara personal, sosok wanita merupakan simbolisasi paling tepat untuk merepresentasikan aspek keindahan dan kompleksitas kehidupan. Sosok wanita selalu diasosiasikan dengan keindahan, sensualitas, kerapuhan, kelahiran kehidupan baru, kesucian, kasih sayang, sementara di sisi lain, wanita juga erat berhubungan dengan tema seperti kematian, godaan, kekecewaan, dosa, etc. Menurut saya aspek kontradiktif pada sosok wanita amat sangat menarik dan menginspirasi dalam pengerjaan sebagian besar karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Saya sering mendapatkan inspirasi dari berbagai hal. Mulai dari classical art, contemporary art dan kehidupan sehari-hari saya pribadi. Saya terinspirasi oleh karya-karya dari Gottfried Helnwein, Michael Zavros, Gustave Dore, Liu Zheng, Feng Zhengjie, Wei Dong, etc. Saya menyukai karya seni yang berkarakter kuat dan memiliki elemen multi-interpretatif.

the-spoiled-ram-ink-on-paper-2014

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Karya saya, The Spoiled Ram, baru saja memenangkan Best in Show Award untuk 12 Inches of Sin Annual Jurried Art Exhibition Part V dan sudah terjual pada Immersive art auction event yang diselenggarakan oleh Sin City Gallery, Las Vegas, Nevada.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Internet dan social media secara umum telah menjadi sumber informasi paling penting saat ini. Menurut saya hal ini amat sangat membantu sebagai platform untuk kebebasan berekspresi bagi siapapun. Akan tetapi, dengan segala kemudahan informasi dan hiburan yang selalu tersedia  secara online, tidak ada jaminan bahwa suatu karya yang kita produksi dapat diapresiasi dan mendapatkan atensi yang selayaknya, terlepas dari betapa bagus dan menarik kualitasnya. Oleh karena itu, tetap saja ada faktor-faktor tertentu yang harus diperhitungkan apabila ingin karya Anda diapresiasi dan dihargai secara profesional.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Saya tidak terlalu tertarik pada scene apapun.

little-lost-lamb 

Talenta lain di luar seni?

I can cook impromptu surprise dinner for my girl out of nowhere (yes, I consider that a secret skill).

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Brainstorming at my workdesk, watching movies at theatre or at places, meeting up with my friends, honestly I never actually have a scheduled weekdays/weekend routines per se.

 

Project saat ini?

Tahun 2017 saya akan mengadakan solo exhibition pertama saya, dibantu oleh Sin City Gallery dalam penyelenggaraannya. Di samping itu, saya cukup senang dengan berbagai hal yang saya kerjakan saat ini.

Target sebelum usia 30?

Klise dan simple saja sebenarnya. Saya ingin lebih fokus lagi dalam berkarya, more exhibition and project, and i want to make my family happy, that’s all.

unison-of-diversity

#30DaysofArt 9/30: Kathrin Honesta

Menurut gadis kelahiran Medan 25 Desember 1993 ini, nuansa dreamy, calming, whimsical, dan terkadang mempunyai kesan dark pada karyanya berakar dari hobinya membaca dan mengarang komik sejak kecil. Meskipun berasal dari keluarga pebisnis, minatnya pada seni yang turut didukung oleh orangtua mendorongnya kuliah graphic design & advertising di The One Academy, Kuala Lumpur dan sempat bekerja di Leo Burnett KL sebelum akhirnya kembali ke Jakarta dan menjadi freelance illustrator dengan beragam project, mulai dari advertising campaign, branding, buku cerita anak, cover buku, maupun aktif di pameran yang salah satunya adalah Unknown Asia Art Exchange 2016 di Osaka, Jepang bersama 6 seniman muda Indonesia lainnya. Kathrin percaya jika seni seharusnya tidak hanya sedap dipandang tapi juga harus memiliki makna. “Saya percaya tentang seni yang mempunyai purpose di baliknya. Bisa saja purpose itu adalah untuk seseorang secara pribadi, suatu cause secara spesifik ataupun masyarakat,” tegasnya.

profile_image

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya aslinya dari Medan, besar di situ, tapi pada saat kelas 6 SD, saya sekeluarga pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan papa. Jadi saya sudah di Jakarta selama hampir 10 tahun. Dari kecil, secara natural saya sudah tertarik dengan dunia ilustrasi. Awalnya itu bermula dari buku cerita dan komik yang dibelikan mama. Setelah baca komik, saya suka banget ngarang cerita dan gambar komik versi saya sendiri. Sejak kecil, saya anaknya rumahan banget dan agak pendiam dan mainan saya dulu hanya kertas dan pensil. Kalau sudah ada dua itu, saya bisa duduk berjam-jam hanya untuk menggambar saja. Dan dari situ, saya sudah punya tekad untuk mau menjadi desainer atau bekerja apapun yang berhubungan dengan dunia seni ketika sudah besar nanti.

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Setelah dipikir-pikir, uniknya, tidak ada satupun di keluarga saya yang bekerja di bidang yang ada hubungannya dengan seni. Kebanyakan dari mereka itu adalah para wirausaha dan pebisnis. Jadi sebetulnya tidak ada yang mengarahkan saya secara khusus untuk tertarik pada seni, itu terjadi secara natural saja.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya itu mungkin karena passion dan ketertarikan saya di bidang seni itu sendiri. Melihat banyak ilustrator/seniman hebat yang karyanya saya kagumi banget juga bisa menjadi inspirasi yang mendorong saya untuk terus berkembang dan berkarya. Saya juga beruntung punya orangtua yang selalu mendukung saya di bidang seni ini, jadi itu juga menjadi mental support yang penting buat saya.

drowning-in-thoughts_coral

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Style dan medium saya berkembang secara gradual lewat eksplorasi dan project yang saya kerjakan. Sampai sekarang, saya masih terbuka untuk perkembangan style dan medium. Meskipun medium yang paling sering saya pakai itu digital, tapi saya ingin lebih mengeksplor medium-medium tradisional juga di kesempatan mendatang.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya yang menjadi permulaan dari style ilustrasi saya adalah project terakhir saya pada saat kuliah, berupa sebuah buku portfolio berjudul The Undaunted Dandelion. Saya membuat cerita ilustrasi pendek tentang seorang gadis bernama Dandelion yang sedang dalam perjalanan untuk mencapai mimpinya. Dalam langkah awalnya, dia dipenuhi dengan keraguan dan ketakutan sebelum akhirnya dia mempunyai keberanian untuk meneruskan perjalanannya. Sebenarnya cerita itu mewakili apa yang saya rasakan pada saat itu, sebelum benar-benar lulus kuliah dan menghadapi the real world of creative industry.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Edward Gorey, Maurice Sendak, Isabelle Arsenault, Lisk Feng, Carson Ellis, dan masih banyak lagi!

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Personal breakthrough yang paling berkesan adalah suatu Christmas project yang secara inisiatif saya kerjakan dengan teman saya, Kay Jen Ong, seorang penulis. Project itu berupa buku cerita berjudul The Shadow & The Star. Buku ini bercerita tentang bagaimana seorang gadis berhadapan dengan loneliness-nya. Kami mengangkat tema loneliness karena kami sadar kalau terkadang di saat-saat festive seperti hari Natal ini lah, di mana rasa kesepian terasa lebih kuat. Project ini berkesan karena respons dari orang yang membaca cerita ini, di mana mereka sharing kalau mereka bisa relate dengan gadis di cerita itu dan berujung di mana mereka juga menceritakan kisah mereka sendiri. Banyak orang juga menceritakan interpretasi mereka yang berbeda-beda tentang cerita ini dan menurut saya hal seperti itu adalah hal yang sangat menarik.

princessthegoblin 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Saya sangat beruntung untuk bisa menjadi seorang seniman di era sosial sekarang. Kita bisa berelasi langsung dengan klien ataupun kustomer kita secara langsung hanya dengan comment di Instagram, atau email. Era ini juga memungkinkan saya untuk menjadi seorang freelancer, karena untuk mengerjakan suatu project, saya tidak perlu berada di lokasi yang sama dengan client. Saya bisa mengerjakan project luar negeri dari Jakarta dan bisa meeting via Skype. Hal-hal seperti ini pastinya belum available di jaman dulu dan yang pasti menjadi seorang freelance illustrator tidak pernah dimudahkan seperti sekarang ini.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya merasa art scene di Jakarta sebagai komunitas yang sangat variatif dan inspiratif. Komunitas yang selalu berkembang, unik, ramah, dan juga sangat terbuka untuk hal hal baru. Banyak sekali para seniman yang sangat berbakat dan saling mendukung satu sama lain.

 

Current obsession?

Apapun yang berbau vintage! Tapi sering sekali yang authentic vintage pasti mahal harganya. Jadi sebisa mungkin, kalau mengunjungi suatu tempat, saya sempatkan ke vintage market atau toko second-hand dan biasanya hunting barang yang lebih affordable; seperti buku-buku vintage, bros, pin jadul, dan pernak-pernik lain.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Weekend adalah saatnya saya hang out bareng teman setelah kerja sepanjang minggu. Saya suka nongkrong dan mencoba café baru di Jakarta (karena hampir setiap saat ada yang baru) atau kadang mungkin di rumah saja baca buku, spending time with family.

Project saat ini?

Buku cerita anak dan spot illustrations untuk suatu novel. Untuk selanjutnya, saya berencana membuat project insiatif lain berupa buku cerita. Setelah mengerjakan commisioned works, saya ingin lebih bisa fokus ke project ini.

Target sebelum usia 30?

Sebelum 30, saya harap saya sudah bisa menjadi seorang internationally established illustrator. Saya harap sebelum itu, saya sudah bisa menerbitkan sebuah illustrative story book yang saya tulis & gambar sendiri. Dan yang paling utama, supaya saya tidak berhenti untuk membuat good art with purpose and art which people could relate to.

Print

#30DaysofArt 8/30: Kara Andarini

Sebagai seorang visual artist dan ilustrator, Kara Andarini percaya jika ada hal baru yang dapat dipelajari/dikembangkan di setiap karya yang dibuat, bahkan dari sebuah kesalahan sekalipun. “Ayah suka menggambar, dan dari kecil saya senang melihat cara beliau menarik garis… Itu salah satu pengalaman visual di masa kecil yang masih teringat sampai sekarang, hehe,” ucap wanita kelahiran Jakarta, 10 Februari 1989 ini. Saat masuk jurusan Seni Grafis di ITB, ketertarikannya pada garis diperkuat oleh eksplorasinya saat menggambar sketsa dengan ballpoint. Dari mulai memainkan tekanan dan tebal-tipis garis arsiran, mencoba tekstur yang berbeda di setiap jenis kertas, hingga hal tak disengaja seperti tinta yang bocor, semua hal tersebut yang kemudian mempengaruhi permainan komposisi garis yang padat dan arsiran bertekstur dari ballpoint dalam karya-karya penuh detail miliknya yang juga banyak terinfluens oleh minatnya pada arsitektur dan peta.

foto-profile

Hai Kara, boleh cerita sedikit soal masa kecilmu dan bagaimana hal itu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahir dan tinggal di Jakarta, dibesarkan oleh orang tua yang senang berpetualang ke daerah Puncak. Waktu kecil hampir setiap weekend saya dan keluarga pergi ke Puncak untuk menikmati kebun teh dan jagung bakar. Kadang kami jalan-jalan menelusuri hutan pinus. Sepertinya pengalaman berjalan-jalan, jalan kaki, dan memperhatikan suasana lingkungan sekitar mempengaruhi metode berkarya saat ini.

Apa yang mendorongmu berkarya?

Menggambar seperti bercerita atas apa yang saya amati di keseharian. Setiap berkarya ada rasa penasaran yang selalu muncul terhadap apa yang saya buat dan amati, entah itu mengenai teknis atau bentuk visual akhir.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Karya saya biasanya banyak bermain dengan komposisi garis yang padat dan arsiran bertekstur dari ballpoint.

dscf0229

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Waktu kuliah Seni Rupa di Bandung, di tingkat 2 saya masuk jurusan Seni Grafis. Proses berkarya selalu dihadapkan dengan membuat sketsa menggunakan medium sederhana seperti kertas dengan pensil/pena/cat air, kemudian gambar sketsa dipindahkan di atas plat cetak. Dari proses sketsa tersebut saya menikmati eksplorasi dengan ballpoint, memainkan tebal tipis garis dan mengarsir, apalagi ketika tinta ballpoint bocor dan beleber… Saya malah senang melihatnya. Ketika mengarsir saya seringkali amazed bagaimana hasil arsiran dapat menimbulkan efek tekstur berbeda-beda di setiap jenis kertas.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Shantell Martin, Agus Suwage, Aytjoe Christine, Egon Schiele, Lebbeus Woods, Chiharu Shiota, Louise Despont.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran drawing “How to Draw” di YPK Naripan Bandung tahun 2008, karya di pameran tersebut menggunakan pensil di atas kertas A3. Senang sekali waktu itu untuk pertama kalinya bisa lolos kurasi pameran bersama dengan mahasiswa seni lainnya.

fragmen-1-dialog

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pengalaman residensi di Bandung tahun 2015 di Selasar Sunaryo Art Space selama 3 bulan. Bisa bertemu dan belajar dengan seniman lain dan praktisi seni lainnya seperti Pak Sunaryo dan Hendro Wiyanto.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Cukup merasa beruntung karena banyak akses untuk men-share karya kita ke jaringan yang lebih luas dan dapat menyerap informasi banyak hal, dari informasi seni sampai hal-hal yang nggak penting tapi menghibur, hehe.

Bagaimana kamu melihat skena seni di kotamu?

Sangat berkembang dan masyarakat mulai aware dengan pameran seni dan desain, walaupun mungkin hanya datang untuk sekadar update di social media hehe, tapi nggak apa-apa juga, saya yakin ini bentuk awal dari bagaimana seni akan semakin diterima lagi oleh masyarakat luas.

 versus

What’s your current obsession?

Gas mask.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah, streaming TV series atau Youtube.

Project saat ini?

Lagi mempersiapkan karya untuk pameran di Surabaya dan Jogja.

Target sebelum usia 30?

Travelling ke luar Indonesia tanpa itinerary.

therraporum-03

#30DaysofArt 7/30: Ines Katamso

Let say I hold my pinky finger up while drinking a teh tawar on the floor,” tutur gadis berdarah Indonesia-Prancis yang merupakan visual artist sekaligus surface & interior designer yang berdomisili di Bali ini. Berasal dari keluarga artistik (dad’s musician & leather tailor, mom’s painter & tattoo artist), Ines yang lahir di Jogja, 14 Mei 1990 memang bercita-cita menjadi designer atau artist sejak kecil dan berbekal passion itu, ia pun pergi ke Prancis untuk belajar art & design lalu pulang ke Indonesia, tepatnya ke Bali di mana ia sempat menjadi stylist dan designer product sembari mengerjakan personal work yang lebih ke arah ilustrasi sebelum minatnya berlabuh di seni mural dan mendirikan studionya sendiri yang bernama Atelier Ines.K. Identik dengan permainan warna vibrant dan siluet feminin, karya muralnya telah menghiasi banyak establishment di Bali, Jakarta, hingga Kuala Lumpur. “Bagi saya, it’s always a matter of composition. Sesuatu yang sangat personal, saya baru akan merasa puas pada karya saya jika pikiran, raga, dan indra saya merasakan hasilnya well-balanced secara proporsi, shades, dan garis.”

ines-katamso

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

My parents no doubts. My father was a musician and leather tailor and my mum is a great painter and tattoo artist. Since I was a kid I wanted to be a designer/artist so it was easy for me to choose my schools.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

To always evolved and to be sure that I can do better.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

I think it was 10 years ago during design school, it was a group exhibition but to be honest it wasn’t really exciting.

box-of-horizon

Apa idealismemu dalam berkarya?

Regarding my personal artworks: painting and drawings, they are a way to bring a form to the informal. Giving a line for this type of fair, a texture for this kind of sensation is my way to desecrate a feeling in order to release it.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

I am not sure if I want to find it, saya tidak ingin stuck di satu hal karena takut bosan. Tapi sebetulnya saya banyak memakai enamel, pastel oil, dan pensil warna untuk karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

I have many inspirations: Malevitch, Kandinsky, Sonia Delaunay, Rothko, Bacon, Klein, Calder, Christo, Soulage.

le-petit-prince

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

It’s my actual project, mengerjakan semua interior design untuk sebuah restoran mulai dari pattern piring, lamp shape, sampai mural. It’s a great opportunity to create a unique space where each line, colours, texture are related to my concept and aesthetics values.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai desainer/artist, merupakan hal yang sulit untuk percaya diri di era social media karena selain fakta jika internet adalah a great cultural tool, the access to this amount of pictures, information, and inspiration can bring many doubts on someone’s personality.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

There are few exhibitions here in Bali but I am not a social person, I know its selfish to say that but I prefer to paint in my atelier than going out.

Tell me about your secret skill or current obsession beside art!

Sorry beside art and design I have no other obsession or skills. Haha I feel I’m so boring right now.

kedai-kopi 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

At my office or atelier.

Project saat ini?

Coming soon one group exhibition, one design showcase, interior design for 2 restaurant, hotel and malls projects and commissioned works… And holidays soon in Japan! 

Target sebelum usia 30?

Going to Japan!

casa

#30DaysofArt 6/30: Elicia Edijanto

“Saya anak kedua dari empat bersaudara. Saat kecil, saya sudah senang menggambar, membaca buku cerita bergambar, dan saya suka bermain dan berkhayal tentang teman-teman khayalan, hahaha. Mungkin hal ini sedikit banyak berpengaruh di karya-karya saya di mana sebagian besar menggambarkan tentang seorang anak kecil dengan temannya (animals),” ujar artist dan graphic designer yang lahir di Jakarta, 24 Desember 1987 ini tentang lukisan watercolour hitam-putih yang menjadi signature karyanya. Simple dan intim, karyanya yang kerap menggambarkan harmoni manusia dan alam (terutama hewan) dalam lanskap yang seolah berkabut telah mendapat respons yang bagus dari berbagai blog dan publikasi seni internasional, serta ditampilkan dalam ekshibisi para pemenang The Asian Creative Awards 2015 di Osaka, Jepang untuk bersanding dengan seniman andal lainnya dari mancanegara.

elicia

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya memang sudah tertarik pada seni, baik itu lukisan, musik, sastra, dan lain-lain. Kebetulan di keluarga saya atau lingkungan sosial lainnya tidak ada/belum ada yang berkecimpung di bidang seni, jadi lebih ke inisiatif saya sendiri untuk berkenalan lebih jauh dengan dunia seni.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Bagi saya, berkarya (melukis) adalah cathartic release saya. Jadi, saat ingin merasa tenang, damai, dan menghilangkan kepenatan itulah yang mendorong saya untuk melukis.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Beberapa inspirasi saya (tidak terbatas di pelukis saja) yaitu Nicholas Roerich, Mark Rothko, Gregory Colbert, Nick Brandt, Branislav Markovic Umbra, Raden Saleh, Yohji Yamamoto, dan lain-lain.

dust-and-wind

Apa idealismemu dalam berkarya?

Yang pertama bagi saya, yang paling penting adalah menjadi jujur. Jujur dengan diri sendiri, menuangkan perasaan ke dalam karya tanpa menambah-nambahkan atau mengurang-ngurangi sesuatu, pokoknya jujur apa adanya saja. Lalu, simplicity. Saya suka sesuatu yang simpel, sederhana, tapi esensinya tercapai.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Menurut saya, ciri khas dalam karya saya mungkin lebih ke simplicity dan intimacy.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Kalau solo exhibition belum pernah. Group exhibition pertama saya di Osaka, Jepang. Exhibition tersebut memajang karya-karya para pemenang dari Asian Creative Awards. Saya senang dan bangga karya saya dapat bersanding dengan karya-karya luar biasa lainnya dari seniman-seniman mancanegara.

 warriors

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Secara personal, saya merasa senang ketika mendapat feedback positif dari orang-orang yang melihat karya saya. Ketika orang-orang tersebut bilang ke saya kalau dengan melihat lukisan saya, mereka mendapat positive vibes, kedamaian, inspirasi, dll. Memberikan energi positif kepada orang lain walaupun terdengar simple namun merupakan pencapaian berkesan bagi saya.

Kalau untukmu sendiri, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya merasa terbantu sekali dengan teknologi di zaman social media sekarang ini. Jika dimanfaatkan dengan benar, social media seharusnya bisa menjadi tools untuk memudahkan sharing karya-karya kita, tapi tentunya juga dengan bertanggung jawab. Orang-orang dari berbagai belahan dunia dapat menikmati karya kita, bahkan memberikan feedback yang berguna bagi seniman itu sendiri.

 

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekitarmu saat ini?

Art scene di sekeliling saya (terutama kota Jakarta) banyak sekali perkembangan terutama bermunculannya galeri atau art space baru. Ini adalah hal positif, namun saya harap, hal ini bisa merangkul publik secara luas untuk lebih mencintai dan aware terhadap art, mewadahi seniman-seniman yang tersebar, bukan sekadar sebagai basecamp sekumpulan seniman-seniman atau orang-orang tertentu atau semacam komunitas eksklusif saja.

lullaby

Current obsession?

Saya punya obsesi terhadap astronomi, segala sesuatu yang berhubungan dengan luar angkasa, bintang-bintang, galaksi, black hole, dll. Saya juga suka Star Wars.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di studio lukis saya, di rumah, atau bersama teman-teman saya.

Project saat ini?

Masih terus melukis, dan kemungkinan ingin membuat buku berisi kompilasi karya-karya saya, dan tentu saja solo exhibition.

Target sebelum usia 30?

Ingin lebih bisa wise dalam menghadapi masalah-masalah yang datang. Tidak hanya bertambah tua, tapi juga bertambah bijak.

eliciaedijanto0-jpg-600x315_q80_crop-smart

#30DaysofArt 5/30: Arnis Muhammad

Lahir dan besar di kota kecil Bireun yang merupakan salah satu daerah konflik paling parah di Aceh membuat mural street artist kelahiran 20 Januari 1993 ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk menggambar. Terinspirasi dari ibunya yang merupakan seorang penjual bunga hias, Arnis gemar mengeksplorasi pattern bunga matahari yang kemudian menjadi salah satu ciri khas karyanya sampai saat ini, di samping pattern ikan yang muncul kemudian serta folklore. “Awalnya, aku menggambar cuma sekadar sebagai hobi. Lalu, sewaktu pindah ke Banda Aceh saat aku tamat SMA, aku kenalan dengan salah satu street artist bernama Dhian Saputra. Dia lah yang mulai memperkenalkan aku dengan dunia street art,” ungkap pria yang gemar menghabiskan waktunya di pantai ini. Karya pria yang kini tinggal di Banda Aceh ini telah menghiasi banyak hal, mulai dari tembok, badan perahu, surfing board, hingga ekshibisi bertajuk Modern Myths di Artotel Sanur, Bali.

arnis-muhammad

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya sih karena penasaran, waktu liat teman aku si Dhian itu menggambar, aku jadi pengen bisa buat karya seperti itu juga. Dan akhirnya aku coba, terus ketagihan sampai sekarang.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Seperti yang sudah aku ceritain, karena medium style yang pertama kali aku coba itu dinding dan cat tembok, dan aku langsung jatuh cinta, jadinya kurang tertarik coba ke medium style lain.

 Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme aku sih simple, I do what I like to do, no matter what people say. Jadi, walaupun ada yang bilang gambar aku aneh, perwarnaan aku nggak kuat, dan segala macam, aku anggap sebagai masukan aja, tapi nggak membuat aku jadi berubah konsep atau ikutin trend gitu. Aku tetap dengan karakter aku sendiri.

peusijuk-2017

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Artist yang banyak menginspirasi aku itu Caratoes, Sofles, dan yang dari local talent aku suka Darbotz.

 

Masih ingat ekshibisi pertamamu?

Karya ekshibisi pertama aku itu di acara Piasan Seni Aceh 2014. Waktu itu aku gambar Cut Nyak Dhien dengan gaya karakter aku sendiri. Alhamdulillah, respons masyarakat lumayan bagus dan bikin aku makin semangat buat berkarya lagi.

Pencapaian yang berkesan sejauh ini?

Baru-baru ini aku dapat kesempatan ikutan exhibition Modern Myths di Artotel Bali. Ini suatu kebanggaan tersendiri bagi aku yang dari kota kecil ini bisa dikenal lebih luas dengan skala sebesar itu.

rimung-aulia

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Aku merasa sangat terbantu dengan adanya social media ini. Selain aku bisa lebih mudah tampilin karya aku ke orang banyak, aku juga bisa dengan mudah ikutin perkembangan seniman-seniman lainnya.

Current obsession?

Aku sekarang lagi tertarik mendalami mitos-mitos yang ada di daerah pesisir pantai Aceh. Awalnya untuk mencari bahan buat exhibition yang di Bali kemarin, sekarang malah jadi keterusan buat mencari lebih banyak lagi.

 5-mitos-aceh

Bagaimana kamu melihat skena seni di kotamu?

Untuk Banda Aceh sendiri, pergerakan seninya bisa dibilang masih dalam proses berkembang. Masih ada banyak talent berbakat yang kurang terekspos, karena kurangnya ruang untuk berkarya.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

PANTAI! Hahaha!

Project saat ini dan target yang ingin dicapai sebelum umur 30?

Cuma simple project sih, Aku ada kolaborasi dengan brand lokal Aceh, dan juga project buat video gambar sama salah satu videographer di sini. Untuk target sebelum 30 tahun, pengen bikin pameran tunggal pastinya.

under-gloomy-sky

#30DaysofArt 4/30: Ariel Victor

“Menurut saya, bukan hanya visual yang berperan penting dalam menghasikan sebuah karya. Cerita justru menjadi esensi dalam karya-karya saya, baik itu animasi ataupun ilustrasi,” ujar animator dan ilustrator lulusan Animation & Interactive Media RMIT University, Melbourne ini. Punya ibu seorang guru TK, sejak kecil pria yang lahir di Semarang, 10 Januari 1992 ini telah disodori film-film Disney, buku cerita anak-anak, dan berbagai ensiklopedia yang menimbulkan hasrat untuk menggambar hal-hal favoritnya, mulai dari karakter film sampai binatang dan dinosaurus. Penuh warna pastel yang vibrant dengan cerita yang memikat, final project animasi 2D karyanya yang berjudul Me & Them sukses meraih penghargaan Best Australian Student Film di Melbourne International Animation Festival (MIAF) dan membuahkan proyek seru lainnya, mulai dari kompilasi animasi indie dalam rangka mempromosikan breast cancer awareness hingga animasi pendek sebagai salah satu Christmas E-card untuk Hallmark.

arielvictor-profile

Bagaimana masa kecilmu mempengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahirnya di Semarang, terus sempat pindah ke Salatiga, Tomohon, sebelum akhirnya menetap di Jakarta pas umur 10 tahun. Dari kecil sih orang tua selalu mendukung saya dalam berkreativitas, especially my mom who’s a kindergarten teacher.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Kebanyakan nonton film Disney, lama-lama jadi obsesi untuk bikin film animasi sendiri.

 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan style favoritmu?

Tentunya banyak trial and error dilewati. Dari mencoba dan “mencuri” berbagai gaya dari seniman, ilustrator, dan animator favorit saya, eventually and naturally I get to the point where I am comfortable with the way I draw.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Henri Mattise. Warna-warni cut-outs beliau selalu memberikan kesan tersendiri untuk saya. Di dunia animasi, hands down to Hayao Miyazaki dan segala imajinasinya! Selain itu saya juga sangat suka karya dari seniman independen yang saya follow di media sosial seperti Lisk Feng, Dadu Shin, Alex Grigg, dan Charles Huettner.

finding-snakes

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya orangnya tergolong perfeksionis, jadi sering banget terobsesi dengan warna, komposisi, bentuk, dan keteraturan obyek-obyek dalam gambar saya.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Graduation Show dari RMIT University, Melbourne. Waktu itu final project 2D Animasi saya yang berjudul Me & Them ditayangkan ke publik pertama kali. It felt really good to finally finish and share my hardwork, it took 6 months to make! Acaranya juga spesial banget karena kita sendiri yang organize semuanya, it was a blast!

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Di satu sisi, terkadang disodorin karya-karya keren dari berbagai artist setiap harinya bisa jadi stress tersendiri yang nggak jarang membuat saya minder. Di sisi lain, media sosial sangat membantu mendapatkan koneksi dan juga menjadi wadah untuk membagikan karya saya. But it’s all good. It’s about finding balance between the two.

Bakat rahasia di luar seni?

I can probably mouth along to every episodes of Friends, is that a skill? Hahaha. I am usually easily obsessed with TV series, which can be super distracting. I also like to binge watch a lot of cartoons, still.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Coffee shops di sekitar Jakarta aja, kalau memang lagi nggak banyak deadline.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya melihat banyak sekali event dan pameran yang didedikasikansebagai wadah bagi seniman lokal di Jakarta. Senang sekali tentunya melihat semuanya ini dalam sebuah profesi yang kadang bisa dibilang “lonely”. Belum lagi di kota besar yang selalu sibuk seperti Jakarta ini, nggak gampang untuk connect atau bahkan hangout aja, jadi banyaknya kesempatan untuk bisa mengapresiasi karya satu sama lain tentunya positif banget!

 

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Kampanye Crowdfunding bareng Kopi Keliling lewat wujudkan.com untuk membuat pilot episode dari Traveling Richie (that will hopefully become a webseries in the future) baru selesai bulan lalu. Jadi sekarang sedang dalam tahap produksi. Selain itu saya sedang brainstorming untuk membuat film pendek yang selanjutnya juga.

Target sebelum usia 30?

Wah banyak banget, mau buat film animasi pendek lebih banyak lagi pastinya. Film animasi panjang juga, fingers crossed! I really want to make picture books too! Also getting to experience making works on different countries as well!

the-chosen-generation

#30DaysofArt 3/30: Argya Dhyaksa

Di tangan lulusan Kriya Keramik ITB ini, seni keramik menjadi sesuatu yang sangat fun. Makhluk-makhluk imajiner dari keramik yang diwarnai glasir dan disandingkan dengan kalimat humor yang absurd menjadi ciri khas karya seniman kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1991 yang akrab disapa Gya ini. Terkesan childish serta “seenak jidat”, Gya mengakui jika hal itu terbawa dari kebiasaan menggambar kartun favoritnya saat kecil dan membuat karakter sendiri berdasarkan teman-teman dan hal sekelilingnya. Maka tak heran, karyanya banyak memodifikasi budaya populer dan humor-humor sektoral yang dibumbui sarkasme. “Saya ingin karya saya selalu serius dalam bermain-main, dan saya ingin orang melihat inilah seorang Argya Dhyaksa dalam karya saya. Saya tidak ingin orang memaknai terlalu dalam lalu tenggelam, lebih baik seperti tablet effervescent mengambang dan pelan-pelan larut tanpa harus saya aduk,” tandas pemilik Kirain Studio di Bandung ini.

gya

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Dulu asli deh nggak suka banget sama seni, dalam hati tuh kaya mikir “Nih orang pada bikin apaan sih, kenapa ya mereka?” Ya dulu masih tertutup banget lah, terus pas di kampus kan lingkup seninya luas banget dan ternyata nggak semua seni tuh “apaan sih” walaupun banyak juga yang “apaan sih”.  Juga jadi mulai terbuka, jadi mungkin yang memperkenalkan pada seni ya lingkungan kampus aja pada waktu proses perkuliahan.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan jujur dalam lubuk hati yang paling dalam, dorongan berkarya adalah uang dan popularitas, maaf nggak bisa jawab yang lain, cuma kepikiran ini gimana dong maafin yah.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Yang jelas semua melalui proses trial and error banget soalnya bikin keramik kan mestinya harus melalui ritual-ritual merepotkan yang prosesnya panjang, tapi karena saya pemalas saya dobrak ritual itu dengan cara yang bisa saya nikmati, sejenis pakai cheat gitu sih tapi masih dalam batas wajar. Walaupun dapat cheat-nya juga harus ngerti dasarnya dulu baru bisa nemu cheat-nya.

waeee

Masih ingat ekshibisi perdanamu?

Masih. Ekshibisi pertama untuk yang keramik sih dulu di Padi Art Ground. Sekarang tempatnya udah ambrahum, dulu bikin karya keramik bentuknya binatang kecil-kecil yang dideformasi gitu, yang kalau diingat dulu bikinnya sampai mau nangis karena mikir ”Ya ampun bikin keramik gini-gini amat ya ribet banget.”

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Sebetulnya untuk bisa masuk ke dalam art scene itu buat saya suatu pencapaian karena saya sebetulnya berada di grey area. Material keramik itu kalau di luar negeri sulit untuk berada di wilayah art, dianggapnya material craft, apalagi saya lulusan dari kriya, untuk masuk ke art scene pasti kesempatannya lebih sulit daripada yang lulusan seni murni.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Grayson Perry dan David Shrigley. Keduanya memakai teks yang memperkuat karya yang mereka buat, lalu Naoki Nomura karena bentuk keramiknya yang absurd tapi keren.

artwork-1471173237

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Ada plus minusnya sih. Plusnya referensi semakin banyak ditemukan jadi makin mudah mencari inspirasi berkarya, publikasi juga gampang banget. Minusnya, yang karyanya niru ya gampang ketahuan “referensinya” siapa, kan kasian tuh hehe. Terus kalau ada orang mengunggah kesuksesan menimbulkan rasa sirik menyebabkan penyakit hati.

 

Bagaimana kamu melihat skena seni di sekitarmu sekarang?

Art scene di kota Bandung berlangsung damai sentosa, tidak ada yang sirik-sirikan adanya sirik betulan, haha nggak deng. Di Bandung kalau pameran sih kurang menarik, yang datang pameran paling yang itu-itu aja, lebih menarik pameran di Jakarta karena nggak ketebak siapa yang bakal datang.

artwork-1448964646

Your current obsession and secret skill di luar seni?

Kalau current obsession mau jadi Youtuber aja sih bikin video yang nyampah di Youtube nge-review produk-produk fiktif sama eksperimen sosial yang nggak ada faedahnya dan banyak mudharatnya kayanya seru. Secret skill ya secret dong.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan kalau weekend?

Di rumah palingan, tidur, aku lelah.

Target sebelum usia 30?

Target sebelum umur 30 tahun saya adalah berumur 29 tahun, umur kan nggak ada yang tau, hehe.

karya-3

#30DaysofArt 2/30: Antonio S. Sinaga

Sebagai anak campuran Batak dan Jawa yang besar di Jawa Timur, visual artist kelahiran 24 September 1988 yang akrab dipanggil Nino ini merasa bahwa dibesarkan dalam agama minoritas yang dikelilingi oleh agama mayoritas mampu memberi banyak sudut pandang lain tentang hubungan agama & sosial yang hampir selalu menjadi tema dalam karyanya. “Kebanyakan dari karya saya sih muncul dari masalah sosial & religi yang saya rasakan dan amati sendiri dan nggak tau mau dilampiasin ke mana, jadi aja bikin karya. Kalau saya jago ngomong mungkin saya jadi motivational speaker, haha!” tukas sang alumni ITB yang kini bermukim di Bandung tersebut. Walaupun mendapat gelar sarjananya dari jurusan seni keramik, Nino lebih sering memakai teknik fotografi dan cetak dalam pembuatan karyanya yang menampilkan ikon-ikon religi yang dibenturkan dengan hal duniawi sebagai kritik sosial yang surreal.

 

antonio-s-sinaga-pp
Antonio S. Sinaga

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Kebetulan dari kecil di rumah memang banyak pajangan (dulu taunya itu pajangan doang), dari tapestry, lukisan tradisional, sampai pajangan dengan unsur agama. Jadi bisa dibilang saya tumbuh di rumah yang cukup banyak ‘benda seni’ -nya. Tapi kalau yang bikin tertarik urusan gambar menggambar sih sepertinya ya komik.

 

Apa idealismemu dalam berkarya?

Haha, nggak tau. Kata idealisme di sini rada berat, euy. Kalau buat saya, berkarya itu harus menyenangkan dan memuaskan diri sendiri. Kalau bisa sekalian menyenangkan dan memuaskan orang lain ya bagus, kalau nggak ya nggak apa-apa, toh diri sendiri udah senang kan.

allegory-of-the-tower1
Allegory of the Tower (2016)

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Wah, sejujurnya sampai sekarang saya malah belum bisa bilang mana medium & style favorit saya, soalnya medium & style yang saya pakai dalam berkarya masih berubah-ubah, tergantung dari kecocokan visual dengan konsep dari karya yang sedang saya buat.

 

Masih ingat ekshibisi pertamamu? Kalau iya, tolong ceritakan.

Pameran pertama saya itu pameran akademis, isinya cuma tugas-tugas akademis (yang pasti saya udah lupa), kalau pameran yang saya rasa merupakan langkah pertama saya di dunia seni sih Soemardja Award kayanya. Itu pameran hasil karya Tugas Akhir mahasiswa seni ITB yang dipilih oleh dosen-dosen di kampus, lalu menghadirkan tim juri yang merupakan profesional di dunia seni rupa.

indulgence-iv-cat
Indulgence IV (2014), Chromogenic print mounted on alumunium composite panel.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Andres Serrano, Maurizo Cattelan, David LaChapelle, Hieronymus Bosch.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Menurut saya, ciri khas dalam karya itu orang lain yang bisa menentukan. Jadi jawabannya nggak tau.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Melihat foto bahwa karya saya dipajang di rumah orang di negara yang saya belum pernah kunjungi. Saya aja belum pernah ke sana, tapi karyanya udah. Sama beli kulkas baru sendiri.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Berhubung saya nggak aktif sebagai seniman di media sosial, jadi saya kurang tau rasanya. Tapi suka ngerasa lucu aja waktu lihat ada foto karya di social media orang lain. Mungkin saya harus cobain aktif kali ya?

archetype-judged
Archetype; Judged (2014)

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Nggak terlalu merhatiin euy, saya kuper sih.

Punya secret skill atau obsesi di luar seni?

Annoying other people masuk secret skill nggak? Lifetime obsession sih dapet gelar Sir.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Studio, soalnya di luar macet dan ramai kalau weekend.

Target sebelum usia 30?

Solo exhibition di luar negeri kali ya? Kalau sekarang lagi pengen bikin art book, terus pameran tunggal keliling. Moga-moga jadi ya tahun ini.

the-infidel-ms-l-cat
The Infidel Ms. L I Altered (2015), Photolithograph on uncoated paper.

#30DaysofArt 1/30: Ahdiyat Nur Hartarta

 Preambule: 

Pada edisi November 2016 NYLON Indonesia yang mengangkat tema art, saya menulis profil 30 orang seniman lokal yang berumur di bawah 30 tahun sebagai artikel feature utamanya. Sebuah keputusan yang sebenarnya ada nilai personal bagi saya. Bulan sebelumnya saya menginjak usia 30 tahun, dan walaupun yang namanya mid-life crisis sebenarnya sudah saya rasakan dari 25 tahun, tetap saja ketika angka 3 resmi menempel, ada semacam kecemasan tentang hidup dan apa saja hal yang telah saya jalani. Berangkat dari situ saya pun tergelitik mengangkat angka 30 sebagai tema artikel ini sekaligus berupaya menelisik sedikit bagaimana para seniman ini memandang usia 30 tahun tersebut. Di hari pertama 2017, saya pun memutuskan untuk menaikkan satu profil seniman setiap hari selama 30 hari yang dirangkum dalam tagar #30DaysofArt ini. 

adit

Ahdiyat Nur Hartarta

Biasa dipanggil Adit, visual artist & art director kelahiran Sleman, 2 Maret 1990 ini tumbuh di keluarga seniman. Kakek dan neneknya adalah perupa, sementara sang ibu adalah fashion designer sehingga berkecimpung di dunia seni adalah cita-citanya sejak dini. “Ibu selalu ‘memaksa’ saya untuk selalu menggambar, setiap hari, di mana saja, sejak saya berumur 3 tahun. Namun, ayah lah yang senantiasa mengajari saya menggambar sejak kecil,” ungkap pria lulusan FSRD ITB ini. Dikenal dengan lukisan realis hitam-putih bermedium charcoal di atas kanvas, karya-karya pria yang kini juga berkarier di dunia periklanan di Jakarta ini sarat akan isu cultural, sosial, dan ideologi yang tak jarang disisipi dengan catatan kaki dari riset yang ia lakukan saat berkarya.

echo-from-purdah-3echo-from-purdah-2echo-from-purdah-1

Apa yang mendorongmu berkarya?

Keinginan untuk didengar, mencurahkan kegelisahan, dan keluar dari zona nyaman. Dengan berkarya seni, apapun bentuknya, kita bisa mengekspresikan diri kita seegois dan sebebas mungkin.

Masih ingat karya pertamamu?

Dulu saya ingat ketika SD, karya saya pernah dipamerkan di lorong sekolah bersama karya anak-anak lainnya. Kalau tidak salah karya itu berupa gambar T-rex. Ketika kecil saya pernah sempat tergila-gila dengan Jurassic Park, sehingga hampir seluruh gambar saya bercerita tentang kehidupan dinosaurus.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika kuliah dulu, salah seorang dosen saya (Tisna Sanjaya) yang juga seorang seniman grafis dan art performer terkesan melihat aliran gambar saya yang ekspresionis. Beliau lalu menghadiahkan saya sebuah charcoal dan sejak saat itu saya banyak berlatih menggunakan medium tersebut hingga akhirnya jatuh hati pada teknik drawing realis yang sulit dan menantang untuk dikerjakan.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Saya sangat suka karya-karya Mella Jarsma, Jompet Kuswidananto, dan Shirin Neshat. Mereka adalah seniman yang konsisten mengeksplorasi identitas manusia terutama tubuh yang bersinggungan dengan gender, budaya, politik, hingga agama. Gagasan-gagasan mereka sedikit banyak telah mempengaruhi karya saya.

 welcome-to-2

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Karya saya selalu hitam putih dan realis, yang bertujuan membuat audiens lebih spesifik dalam melihat bentuk, merasakan emosi, dan fokus pada gagasan di balik karya yang saya buat.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pencapaian tertinggi saya adalah ketika karya yang saya buat banyak memunculkan interpretasi yang berbeda-beda dan diskusi setelahnya. Jadi tidak hanya berhenti pada apresiasi visual dan teknis, tapi juga pada gagasan di baliknya.

Bagimu, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Social media is the new digital gallery. Social media merupakan platform yang memudahkan saya terhubung dengan audiens, penikmat seni, sesama seniman, hingga kolektor.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Sudah kurang lebih hampir 2 tahun saya tinggal di Jakarta. Namun hanya sedikit pameran seni yang saya kunjungi dalam kurun waktu tersebut. Entah mengapa saya lebih suka atsmosfer berkesenian di Yogya ataupun Bandung yang lebih hangat. Suasana pamerannya pun lebih membumi, bersahabat, dan semua orang saling kenal saling sapa. Tak sedikit yang melanjutkan dengan diskusi ringan setelah pembukaan sebuah pameran. Art scene di Jakarta terlalu dingin menurut saya, cuma buat kolektor dan sosialita.

welcome-to-3

Punya talenta rahasia di luar seni?

Saya tukang tidur yang sangat andal, bisa curi-curi tidur kapan saja dan di mana saja, skill yang cocok bagi pekerja kreatif yang selalu diburu waktu dan deadline.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bioskop atau tempat makan, atau bioskop saja, karena saya suka makan sambil nonton.

Project yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Saat ini saya sedang rehat dari dunia seni rupa dulu, karena sedang asyik menjajal dunia periklanan. Namun untuk proyek jangka panjang saya sedang merancang pameran yang saya dedikasikan untuk kakek dan nenek saya. Semoga dalam waktu 1 hingga 2 tahun lagi keinginan saya tersebut dapat terwujud.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal!

welcome-to-1

Got IT? 5 It Girls Illustrations From 5 It Female Illustrators

{It Girls: The girls you want to know more about, the girls you want to look like, the girls you say you hate but you secretly love them.}

Walaupun konsep tentang seorang “It Girl” senantiasa menjadi hal yang abstrak dan setiap orang memiliki definisi personalnya tentang sosok enigmatik tersebut, sejak istilah “It” pertama kali dipakai Rudyard Kipling untuk menyebut kualitas misterius seorang perempuan dalam cerpennya yang  berjudul Mrs. Bathhurst di tahun 1904, kemunculan Clara Bow sebagai the original It Girl, hingga kelahiran generasi It Girl terkini seperti Kendall Jenner dan Gigi Hadid, istilah It Girl akan terus disematkan kepada para perempuan berkarakter yang once in awhile akan muncul dan menjadi bahan bibir semua orang berkat sikap effortless dan sense of style yang natural. The best part? Setiap It Girl memiliki karakternya masing-masing, and that’s why we love them. Dengan semangat itu, saya mengumpulkan lima ilustrator perempuan muda berbakat untuk bercerita secara visual tentang It Girl favorit mereka masing-masing.

nylonzozo

Zoë Kravitz

Oleh

Talula Zuhra Soenharjo / @ilsavancamp

Processed with VSCOcam with b5 preset

I am… 22-year-old design student who loves films. My definition of It Girl… Someone who is incredibly good at what they do; wears nice, interesting clothes; has good taste in everything, percaya diri. I love Zoë because… Dia multitalenta, style-nya berantakan tapi enak dilihat, and I love her dreadsMy favorite object to draw… Girls, girls, girls! My inspirations… Stories, teen angst, coming of age graphic novels, and girls. One song to describe my artwork… The Smashing Pumpkins’ “Stand Inside Your Love”, just because I mainly listen to it when I’m drawingLatest obsession… Video alien di YouTube.

jane-birkin-1-copy

Jane Birkin

Oleh

Kanishka Andhina / @kanishk_

img_1367

I am… A person who enjoys art and science and everything odds about life. My definition of It Girl… Ikon perempuan yang dikenal dan dikagumi banyak orang for her image, for her background, or her work yang stand out di antara milyaran perempuan lainnya. I love Jane because… Her signature beauty transcends so many eras. My favorite object to draw… HUMAN! My inspirations… My sadness, hahaha, the gloominess helps me in many ways. One song to describe my artwork…  Mew – “A Dark Design”. Latest obsession… I’m obsessed to clean my hands over and over.

katemoss_nylon

Kate Moss

Oleh

Jessica Verina / @jessicavije

Processed with VSCOcam with hb1 preset

I am… Currently working as a graphic designer at Terry Palmer Group Indonesia and a freelance GD/illustrator. My definition of It Girl… Perempuan yang berprestasi, punya passion, bisa jadi role model buat para perempuan lain, dan punya sesuatu yang unik yang bisa membuat dia stand out dan diingat orang. I love Kate because… I think she doesn’t give two cents about what anyone says, dia punya attitude yang chill and do her things in her own ways. My favorite object to draw… I’m always drawn to draw human portraits, especially beautiful and unique looking women. Selain itu aku juga suka buat ilustrasi intimate scenes & flowers, haha. One song to describe my artwork… Kaleo –“All the Pretty Girls” (that’s pretty much all I draw). Latest obsession… I’ve been doing a lot of watercolor works.

maisie-williams1-1

Maisie Williams

Oleh

Sharin Yofitasari / @sharin_y

small-cut

I am… 22-year-old motion graphics artist dan ilustrator. Selain art dan film, aku juga seorang music enthusiast. It’s hard to say which band/artist I like the most, but I often answer: it’s Two Door Cinema ClubMy definition of It Girl… Wanita selebritis yang menggunakan popularitasnya untuk melakukan atau mendukung hal-hal baik seperti charity atau kampanye sosial. I love Maisie because… Dia berpikir sangat dewasa untuk gadis seusianya dan lebih memilih untuk memprotes animal’s rights daripada pose untuk paparazziMy favorite object to draw… Girls. My inspirations… Musik sering jadi inspirasi aku. Kadang aku suka mengambil lirik dari suatu lagu dan memvisualisasikannya dalam gambar. One song to describe my artwork… Beyoncé – “Run The World”. Latest obsession… Album terbaru Last Dinosaurs dan Breaking Bad (karena baru saja nonton ulang).

dian-sastro

Dian Sastro

Oleh

Ayash Hartanto / @wonderyash

ayash

I am… Seorang freelancer yang sedang menggarap beberapa proyek, juga persiapan pameran bersama teman-teman artist lain, dan sekarang juga sudah mulai menggarap tugas akhir. My definition of It Girl… Sesosok perempuan yang diidam-idamkan tiap perempuan di manapun. Mulai dari paras hingga keberuntungannya yang jelas bikin iri. I love Dian because… Dian Sastro itu unik, pendidikan dan kariernya bisa terbilang sukses, plus sangat jarang membuat sensasi di media manapun. Perawakannya juga terlihat tenang dan santai. Cocoklah jadi inspirational public figureMy favorite object to draw… I draw lots of human or human faces. Tapi sebenarnya sangat random, kadang menggambar landscape atau skyscrapers menjadi paling favorit. My inspirations… Mood dan musik. One song to describe my artwork… “It’s A Long Way to the Top” oleh AC/DC. Latest obsession… Mengadakan pameran karya bersama teman-teman terdekat.

Heavy Petals, Rustic Botanical Styling 101 at Indoestri

“Say it with flower”, they say. Ya, rangkaian bunga memang bisa mewakili pesan yang ingin disampaikan sang pengirim, tapi seperti halnya kata-kata, bunga pun tidak bisa dirangkai secara asal. You need some skill and more importantly, sincerity

c4

Setiap kali saya datang ke Indoestri Makerspace, bisa dipastikan saya akan pulang dengan membawa sebuah skill baru. Jika sebelumnya saya sempat belajar leather 101 dan membuat tote bag sendiri, kali ini saya datang untuk mempelajari rustic botanical styling bersama Cosa Project and I’m so excited karena sejak kecil saya memang memiliki ketertarikan tersendiri pada keindahan botani, khususnya saat melihat bentuk bunga-bunga yang unik dan simbol yang terwakili dalam setiap bunga atau yang lazim disebut dengan bahasa bunga.

c9

Saat saya tiba di Indoestri, jam telah menunjukkan pukul sepuluh lebih yang artinya saya sudah terlambat dan dengan tergesa masuk ke kelas di mana para partisipan workshop lainnya sedang mendengarkan dengan serius kata pengantar dari Christyna Theosa, founder dan creative director dari Cosa Design & Decor yang menjadi mentor kami untuk hari itu. After catch some breathe and quickly glance the room, tampaknya saya menjadi satu-satunya peserta pria di kelas ini. Somehow, hal itu memang sudah terduga, but I’m actually not the only guy in the room karena dalam kelas ini Christyna juga mengajak beberapa orang dari timnya and some of them are my fellow XY chromosome, hehe!

Dengan inspirasi dari bunga-bunga yang seakan dikumpulkan dari hutan liar, Cosa Décor yang bermula di tahun 2013 memang dikenal dengan gaya rustic botanical dan bunga organik yang telah menghiasi dekorasi berbagai pesta pernikahan dan event di Bali dan Jakarta. Tak kenal maka tak sayang, Christyna pun memperkenalkan bunga-bunga dari Mimsy Botanical yang akan kami gunakan dalam kelas ini. Untuk gaya rustic, Protea dan Banksia dianggap sebagai kandidat tepat untuk focal flower (bunga yang menjadi highlight utama dalam rangkaian ini). Kuncup Protea yang memiliki tekstur velvety dan Banksia yang sangat woody memang terlihat kokoh dengan ukuran yang cukup besar untuk mempertegas elemen rustic yang ingin ditonjolkan. Meskipun kedua bunga tersebut yang menjadi bintang utama, mereka tak akan lengkap tanpa ditemani dayang-dayang berupa mawar segar berbagai warna dan para “pemain pendukung” yang meliputi bermacam dedaunan dengan tekstur dan aroma unik masing-masing. Mulai dari caspea, dusty miller, eucalyptus gunnii, parvifolia, hingga populus.

c5

Hal pertama yang kami lakukan adalah mengisi bejana logam yang telah disediakan sebagai vas dengan air bersih dan memasukkan serbuk makanan ke dalam air tersebut agar bunga bisa lebih kuat dan awet. Kita juga bisa tambahkan sedikit gula untuk mempercepat proses pemekaran bagi bunga yang masih kuncup. Yang pertama masuk adalah dedaunan dengan daun yang rimbun dengan tangkai yang dipotong miring 45 derajat dan diletakkan dengan posisi menyilang satu sama lain. Tujuannya agar tangkai-tangkai dedaunan tersebut bisa menjadi pondasi untuk menopang banksia dan protea yang berukuran besar dan cukup berat. Pastikan juga setiap tangkai untuk masuk ke dalam air sebagai asupan mereka.

c7

Setelah dedaunan terlihat imbang dan rimbun dari semua sudut, saya pun mulai memasukkan bunga-bunga mawar. They’re all really fresh dengan duri di sana-sini, cara mengambilnya yang aman adalah dengan menggenggam bagian dasar mahkota bunga. Menggunakan gunting tanaman yang telah disediakan, saya menggunting duri-duri mawar tersebut sebelum dimasukkan, not only for safety reason, tapi karena duri tersebut bisa membuatnya tersangkut dengan bunga-bunga lain sehingga sulit untuk didekor ulang. Setelah rangkaian bunga sudah terlihat cukup “penuh”, saya pun memasukkan tiga tangkai protea. Menurut Christyna, untuk alasan estetika bunga berjumlah ganjil memang lebih sedap dipandang, kalaupun ingin berjumlah genap, maka harus diperhatikan posisinya agar tetap terlihat dinamis. Mungkin merangkai bunga terdengar mudah karena basically kamu tinggal memasukkan tangkai-tangkai bunga dan daun, tapi percaya deh, it’s not as easy as it seems. Saya sempat harus membongkar ulang semua yang ada di vas saya karena somehow kamu bisa merasakan jika rangkaian bungamu terlihat aneh atau kurang harmonis. So I took them out and start from scratch again.

c8

Setelah break makan siang dan di percobaan kedua, saya akhirnya merasa puas dengan rangkaian bunga yang saya buat karena finally mereka terlihat cantik dan balance dari sudut manapun saya melihatnya. Ketika semua partisipan sudah selesai, the next step adalah belajar mengikat rangkaian bunga tersebut as a bouquet. Dengan hati-hati saya menggenggam semua tangkai bunga dan mengeluarkannya dari vas, and boy, it’s heavy! Dibantu oleh seorang  staff, saya mengikat rangkaian bunga dengan tali tambang yang sesuai dengan gaya rustic dan membungkusnya dalam kertas coklat yang kemudian diikat. Voila! Rangkaian bunga rustic kreasi sendiri siap dibawa pulang!

c6

Tapi kelas belum selesai, karena Christyna juga mengajarkan basic table setting dengan gaya rustic yang memakai elemen dekorasi yang terlihat sederhana tapi tetap menarik. Lulusan Art Center College of Design di Pasadena California tersebut pun menjelaskan, “For me rustic is very memorable/nostalgic, woody, always seems casual, humble and relax.” Karenanya gaya rustic ini sangat cocok untuk dekorasi yang terlihat hangat dan intimate. Untuk yang ingin mencoba sendiri di rumah, kamu tidak perlu memakai bunga-bunga impor yang eksotis karena kita pun bisa bereksperimen dengan bunga dan dedaunan lokal seperti alang-alang, mawar, kadaka silver leaf, silver dusty miller, juwawut, silver dollar leaf, dan apapun yang bisa kamu jumpai di alam bebas. Uniknya, beberapa bunga yang digunakan dalam gaya rustic ini justru akan semakin terlihat menarik saat perlahan mengering nanti. Setelah mawar-mawar yang ada di buket milik saya akhirnya mati, saya mengambil tangkai protea dan dusty miller dan meletakkannya di mason jar sebagai dekorasi meja kerja saya, until this very day! More tips untuk bunga lebih awet? Place them in the chill room and love them!

c1

Foto oleh Willie William.

Instagram: @indoestri, @cosaprojects