Book Club: Katyusha Methanisa Picks Her 5 Favorite Books

Bicara soal isu mental health di Indonesia secara umum sayangnya memang masih dilumuri stigma yang pekat. Edukasi dan awareness yang kurang soal kesehatan mental secara klinis membuat isu ini dianggap tabu dan mayoritas pun memilih untuk menyimpannya sendiri. Alih-alih datang ke psikolog atau psikiater, banyak orang yang justru menganggapnya sebagai persoalan klenik dengan mengunjungi “orang pintar” atau menyamakan masalah mental dengan kurangnya iman dan ibadah seseorang. Untungnya, saat ini banyak yang akhirnya menemukan pencerahan di internet, entah itu dengan mengedukasi diri sendiri dan orang lain tentang seluk-beluk gangguan mental lewat berbagai artikel atau membicarakan mental health secara candid baik dengan memakai identitas asli maupun anonim. Salah satu yang concern soal isu tersebut adalah Katyusha Methanisa. Di antara kesibukannya sebagai Mahasiswi Arsitektur UI, penulis lepas berusia 20 tahun yang biasa dipanggil Katy ini menyalurkan kegelisahan dan pemikirannya tentang isu personal tersebut dalam bentuk tulisan untuk beberapa publikasi online dan berperan sebagai editor bagi 2AM Club, sebuah zine bertopik mental health yang baru saja merilis edisi pertamanya. “Kita pengen ada safe space untuk saling berbagi cerita aja sih, karena ngomongin isu kesehatan mental masih merupakan sebuah tabu di lingkungan kita. Kita berharap dengan memulai percakapan tentang hal ini, stigma yang lekat dengan penyakit mental berkurang. Mungkin nggak langsung, tapi dikit-dikit lah,” terangnya tentang zine yang tak hanya berisi pengalaman pribadi para individu dari berbagai latar yang struggling dengan masalah mental masing-masing tersebut, tapi juga review buku, musik, film, serta informasi seputar layanan kesehatan mental. Sambil menjawab beberapa pertanyaan lebih lanjut, Katy turut membagikan 5 judul buku favoritnya.

246104

Saat ini banyak anak muda yang lebih terbuka soal isu mental health di internet dan peduli tentang isu-isu seputar itu, which is good, tapi di sisi lain, ada kecenderungan untuk glorifying the mental health and sadness itself, mulai dari Tumblr aesthetic hingga orang yang self-diagnosed dan bangga dengan sebutan bipolar, OCD, dan sejenisnya. How do you feel about it?

I feel like people with real mental illnesses get second guessed enough without the help of individuals that you mentioned, haha. These individuals make it that much harder for people with real illnesses to talk about it. I know from experience that one of the worst things that can happen when you share your condition with others is having them question your condition, or discount them as you being dramatic. On the other hand, teens are definitely becoming more aware of these issues, and as a post-millennial I am so proud of us, haha.

Menurut kamu seberapa pentingnya untuk mencari bantuan professional? Selain takut di-judge, banyak juga yang merasa bantuan professional itu mahal atau simply kurang info, apa yang harusnya dilakukan untuk masalah ini?

Emang mahal banget, huhu. I definitely understand why so many people shy away from getting professional help. Untuk gue sendiri, dulu gue kurang tahu di mana bisa dapat treatment, karena keluarga dan teman saat itu nggak ada yang menggunakan layanan kesehatan mental. Banyak orang yang sama kaya gue juga. Saling bertukar info tentang ini sangat penting! Kadang udah ke psikolog/psikiater pun mungkin aja nggak cocok, dan bertukar info dengan teman bisa sangat membantu. Takut akan judgment sih yang lebih sulit diatasi. Peran keluarga dan teman penting buat nyemangatin seseorang untuk mencari bantuan profesional. Kalau lingkungannya suportif mereka bakal terdorong untuk ke sana. Sayangnya nggak semua orang punya privilege itu. Gue rasa kita emang harus memulai percakapan tentang kesehatan mental agar orang-orang tersebut nggak merasa sendirian.

Apa menurutmu seharusnya peran media sosial/internet untuk isu mental health?

I know a lot of people don’t feel this way, but I feel safer on the internet when sharing my problems. I treat my profiles as a safe space to share things I wouldn’t otherwise talk about in real life. I guess this is partly because I have the privilege of having open-minded internet friends who respect each other and even act as a support system, but that’s how I think the whole interwebz should be. Plus those memes about depression help me laugh about it.

Untuk 2AM Club sendiri kenapa masih berminat merilis dalam format cetak, instead of just digital?

We want people to take some time off from their screens and be completely immersed in the reading experience. Format digital juga kurang ‘intim’ dibandingkan dengan format cetak. Keberadaan secara fisik bisa menunjukkan bahwa yang bikin zine ini orang beneran lho. Other than that, having things in print and seeing other people read them in person is just soooo gratifying!

Apa saja yang dibutuhkan jika ada yang ingin berkontribusi untuk zine ini?

Kirim aja email ke klub2am@gmail.com. We read all submissions and select ones that we find important to share.

Apa saran terbaik yang pernah kamu dapat dan bisa kamu bagi soal mental health?

Your feelings are valid.

Katy’s Fave Books:

in-cold-blood

In Cold Blood

Truman Capote

Buku ini yang bikin gue mulai suka true crime. Sangat engaging dan sama sekali tidak membosankan. All the best parts of storytelling are there!

the-call-of-cthulhu-and-other-weird-stories-b-iext25380496

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories

H.P. Lovecraft

Susah banget untuk nggak garing kalau nulis tentang monster dan hal-hal aneh lainnya, tapi Lovecraft bisa. This book is my bible. Fun fact: my usernames are all Lovecraftian to some degree, haha.

the handmaid

The Handmaid’s Tale

Margaret Atwood

Kadang-kadang emang perlu baca buku yang bikin pengen marah, dan ini salah satunya. Positifnya, realita seorang perempuan saat ini jadi nggak keliatan buruk-buruk amat.

brief

Brief Interviews with Hideous Men

David Foster Wallace

Brief Interviews merupakan kumpulan cerita-cerita pendek. Salah satu ceritanya berjudul Forever Overhead, yang mungkin adalah cerita pendek favorit gue sepanjang masa.

mccarthy1

The Road

Cormac McCarthy

My ultimate feel-bad book.

 

Pretty Pages, 5 Zines To Be Obsessed in URL & IRL

Berbekal internet, social media, dan semangat Do It Yourself, para wanita muda di berbagai belahan dunia mengungkapkan gagasan dan pemikiran kritis mereka dengan cara merilis publikasi sendiri dengan tema yang sangat beragam, dari fashion, feminisme, sejarah, culture, hingga agama. Entah itu online magazine atau zine cetak konvensional, berikut adalah beberapa publikasi yang patut masuk dalam daftar bacaanmu, baik URL maupun IRL.

oomk-zine-01-new

One of My Kind (OOMK)

http://oomk.net/

Dengan sentimen dan stigma Islamophobia di dunia barat yang semakin kuat, merupakan hal yang menyenangkan untuk menemukan sebuah publikasi yang mengangkat gambaran positif tentang perempuan Muslim di Eropa dengan cara yang kreatif dan real. Publikasi tersebut adalah One of My Kind (OOMK), sebuah indie zine yang dicetak secara terbatas dan terbit dua kali dalam setahun di mana setiap issue mengusung satu tema besar seperti “Fabric”, “Print”, “Drawing”, dan “Internet” dengan topik seputar spiritualisme, feminisme, seni, budaya, dan identitas gender yang dibuat dan ditujukan untuk kaum perempuan dari berbagat latar etnis dan kepercayaan. Dibentuk di tahun 2013 oleh tiga orang perempuan Muslim asal London, OOMK juga memiliki online site yang untuk mengintip isi majalahnya dan menggelar berbagai event kreatif untuk bertatap muka langsung dengan para pembacanya, salah satunya adalah DIY Cultures, sebuah festival satu hari yang berfokus pada zine, komik, diskusi, animasi, puisi, dan workshop dengan semangat independen, otonomi, dan alternative.

 things

Things

http://www.thingsmag.us/

Walaupun tidak terlalu terekspos selayaknya New York, Los Angeles, dan San Francisco, Boston yang dikenal sebagai salah satu kota pelajar di Amerika Serikat berkat banyaknya universitas yang ada di dalamnya, sebetulnya juga memiliki skena kreatif yang tidak kalah menariknya. Namun, seperti problematika klasik kota kecil pada umumnya, skena kreatif di Boston tersebar secara acak, tidak terkonsentrasi, dan para seniman mudanya memilih pindah ke kota besar untuk meraih kesempatan yang lebih luas di bidang kreatif. Berangkat dari situ, Sienna Kwami yang masih berumur 16 tahun dan teman-teman sebayanya memutuskan membuat Things, sebuah majalah indie yang didedikasikan untuk memperkenalkan skena kreatif di Boston pada khususnya dan daerah East Coast lain pada umumnya. Dikenal sebagai “Boston’s indie style, art, and culture magazine“, tim editorial Things juga meng-update situsnya dengan berbagai artikel menarik sebagai guide kota Boston bagi siapa saja yang tertarik pada style, art, dan culture

crybaby

Crybaby

http://crybabyzine.com/

Dibuat oleh dan untuk gadis remaja, Crybaby adalah publikasi indie yang diprakarsai oleh Remi Riordan, seorang gadis asal Montclair, New Jersey, berumur 16 tahun penggemar kultur pop, fotografer, dan penulis bagi publikasi seperti Dazed dan Galore. Bermula dari sebuah akun Tumblr yang ia buat di tahun keduanya di SMA sebagai sarana untuk membahas hal-hal yang ia suka dari mulai fotografi, fashion, hingga mixtape, Crybaby telah merilis enam issue cetak yang sold out dengan cepat setiap edisinya sejak pertama kali muncul bulan Januari 2015 lalu. Menavigasi keseruan dan kecemasan yang ada di dunia gadis remaja dengan kumpulan artikel, puisi, ilustrasi, cerita pendek, hingga esai foto, salah satu yang menjadi poin paling menarik di Crybaby adalah artikel Girls On yang berisi kumpulan interview bersama perempuan muda kreatif dari berbagai latar dan asal.

take-an-exclusive-look-inside-typical-girls-zine-body-image-1458827366

Typical Girls

http://www.typicalgirlsmagazine.com/

Lebih mirip seperti sebuah buku dibandingkan majalah, Typical Girls yang berisi kumpulan cerita dari perempuan di berbagai belahan dunia lahir dari rasa frustrasi sekumpulan mahasiswi University of Sussex, Inggris, akan minimnya keragaman yang diangkat oleh media mainstream saat berbicara soal perempuan. Dipimpin oleh Jamila Prowse sebagai founding editor, volume pertama Typical Girls yang mengangkat tema “Beginnings” hadir dalam bentuk publikasi 100 halaman full color dengan konten yang mengeksplorasi cerita awal karier para seniman, isu kekerasan domestik di Mumbai, hubungan antara skateboard dan kreativitas, cerita seorang pemegang rekor hula-hoop, dan tulisan kreatif lainnya soal kelahiran, kehilangan, rape, dan kematian. Tak berhenti di print dan online, Typical Girls juga aktif menggelar diskusi terbuka, workshop, dan acara musik yang sejalan dengan semangat yang mereka bawa.

banana_001_cover

Banana Magazine

http://www.banana-mag.com/

Sama seperti istilah “Oreo” untuk menyebut orang kulit hitam yang berperilaku seperti orang kulit putih, istilah “Banana” (kuning di luar dan putih di dalam) adalah derogatory racial term untuk menyebut para ABC (American Born Chinese) dan keturunan Asia lainnya yang lahir dan besar di Amerika dan mengadopsi sikap dan pemikiran kulit putih. Walaupun sebetulnya kalimat itu adalah ejekan rasial, namun Kathleen Tso dan Vicky Ho merebut kembali kata itu menjadi inside joke dan memakainya untuk judul publikasi mereka. Lahir di Chinatown, New York City, Banana berupaya menjadi corong bagi suara anak muda kreatif keturunan Asia di Amerika dan meleburkan batas antara tradisi leluhur dan budaya kontemporer di sekitar mereka. Diterbitkan dua kali setahun, edisi kedua mereka menampilkan konten meliputi komik soal catcalling yang menimpa para gadis Asia di jalanan, profil desainer Sandy Liang, seri fotografi hitam-putih soal mixed Asian secara fisik, kultur, dan sosiologi di industri kreatif, serta narasi oleh rapper berdarah Korea bernama Rekstizzy soal penerimaannya terhadap gaya hidup kawaii bagi kaum pria Asia.

Picture Perfect, An Interview With Gianni Fajri

 

Berawal dari tugas membuat video dan foto promo untuk clothing brand saat mendalami Fashion Business di LaSalle College, Gianni Fajri menyadari jika menyajikan sebuah presentasi visual adalah pelampiasan sempurna bagi kreativitas dalam dirinya, apapun mediumnya. Sempat bekerja di sebuah fashion company, karier profesional gadis kelahiran Bandung yang akrab disapa Ghyan ini di bidang filmmaking dimulai saat ia dipercaya menggarap Behind The Scene dari Filosofi Kopi. Ditambah berbagai project seru lainnya seperti video campaign dan dokumentasi untuk beberapa clothing label maupun company hingga music video untuk Maliq & D’Essentials, Neonomora, dan LCDTRIP, namanya pun mencuat sebagai salah satu director muda dengan resume yang kian hari kian menarik perhatian. Kini, di usia 25 tahun, Gianni dikenal sebagai seorang film director yang memiliki production house sendiri bernama Maji Piktura, creative director dari sebuah creative studio bernama Anara, serta art director untuk PonYourTone. Her upcoming project? Sebuah debut film pendek berjudul Julian Day yang terinspirasi dari album milik band Elephant Kind. 

gianni

Tell me about your background, sejak kapan kamu tertarik pada directing/filmmaking dan apakah kamu mempelajarinya secara akademis atau otodidak?

My background was in a Fashion Industry, I went to LaSalle College majoring Fashion Business and have worked with several fashion company. Filmaking adalah media yang sempurna untuk melampiaskan kreativitasku. Berawal dari tugas kampus yang membutuhkan photo & video untuk promo brand baju, dari situ aku belajar sendiri dari mulai mengambil foto, edit foto sampai ke video. That’s when I started to learn and jump in into the film industry. The right word is otodidak.

Apakah dalam berkarya kamu berusaha memiliki satu ciri khas yang “Gianni banget”? Kalau iya, how would you describe it?

Beauty shoot, neon lights and dynamic shot (ghostly) and there must blue in it.

Siapa saja sosok visual maker yang influential bagimu?

Sofia Copolla, Terrence Malick, Gregg Araki, Nabil (music video director), Chan-wook Park, Wong Kar Wai.

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mencari inspirasi?

Being out of the circle, matiin handphone. Getting lost somewhere and talking with stranger/people randomly. Being sensitive with surroundings.

Sejauh ini, project apa yang paling berkesan bagimu dan kenapa?

Director Behind the Scene, Filosofi Kopi. Punya kesempatan berkarya & belajar di industri film kemudian dibayar pula, hahaha.

Bagaimana kamu melihat peran media sosial bagi kariermu?

Social media nowadays is very important apalagi di industri kreatif. Social media menjadi media promosi yang bisa membantu karya teman-teman sineas & seniman dilihat/didengar lebih luas lagi. Getting inspired and being inspired is what I’ve learnt in social media.

Apa advise terbaik yang pernah kamu dapat soal profesimu?

David Lynch salah satu director yang mempunyai pola pikir spiritual yang sangat menginspirasiku saat melahirkan karya. Ada dua quotes terbaiknya yang selalu kupegang teguh saat mulai berkreasi. Yang pertama: “If you stay true to your ideas, film-making becomes an inside-out, honest kind of process.” Dan yang kedua: “Every viewer is going to get a different thing. That’s the thing about painting, photography, cinema.” Berkarya dengan tujuan, jangan memikirkan yang lain because we’re not a Nutella jar, we cannot make everyone’s happy. So trust your guts, if you don’t feel like you’re doing it, then don’t.

What’s your current obsession?

Writing and walking. 

Benda apa saja yang selalu ada di tasmu?

Books, phone, lipstick, wallet and note book.

What do you love and hate the most about the creative scene in Jakarta right now?

Love: It’s growing! Banyak yang sudah mengapresiasi dan teknologi sudah mendukung. I’m sure it’s getting big kalau kita sama-sama mengapresiasi dan berkarya dengan jujur. Hate: I don’t do hate. But more to critical, kalau karya seni itu butuh proses. Banyak orang yang ingin cepat jadi hanya di layer pertama kemudian membodohi penikmatnya yang membentuk satu benchmark yang tidak jujur dan original.

Tell me about your dream project/collaboration?

Writing my own feature film yang mengangkat sisi humanisme dengan packaging yang sangat fresh.

Apa project selanjutnya yang bisa dibocorkan untuk saat ini?

Preparing my next film, hehehe. Still a secret tho. Well for this year, lagi persiapan buat TV series Viva Barista kedua (it’s a documentary about coffee, lifestyle & travel hosted by 3 boys: Rio Dewanto, Muhammad Aga, dan Roby Navicula) we did it the first time online on Metro TV. Should be exciting!

Gianni’s Watch List:

the-handmaiden-cannes

The Handmaiden

Craziest & exciting plot ever, should watch!

lost-in-translation-2

Lost in Translation

My forever favorite movie, in love with the soundtrack and what they called platonic love.

 knight-of-cups-bale-blanchett

Knight of Cups

Very poetical movie by Terrence Malick, if you feel like you’re in the mood of gloomy, should watch this movie,

viceland-vice-media

Viceland

YouTube channel yang dipimpin oleh Spike Jonze. Content yang sangat menarik untuk generasi millenials tentang social, politic & lifestyle!

death-proof

Death Proof

ITS VERY SATISFYING!

 

 

Filmstrips: The Essential Works of Abbas Kiarostami

abbas-kiyarustemi-1

Ketika Abbas Kiarostami wafat tanggal 4 Juli 2016 lalu di umur 76 tahun, bukan hanya warga Iran yang berduka atas kepergian sutradara terbaik di negeri mereka, tapi juga para cinephile di seluruh dunia. Telah mulai berkarya sejak tahun 70-an dan menghasilkan lebih dari 40 film, Kiarostami disebut sebagai salah satu filmmaker terbaik yang pernah ada berkat tangan dinginnya yang telah melahirkan style tersendiri dan teknik-teknik revolusioner baik secara narasi maupun produksi dalam dunia perfilman sekaligus menjadi inspirasi dari ribuan filmmaker lain setelahnya, mensejajarkannya dengan para legendary auteurs seperti Akira Kurosawa dan Alfred Hitchcock. To pay a tribute to the late cinema poet,  di bawah ini adalah beberapa karya Kurostami paling esensial yang harus ditonton siapapun yang mengaku pecinta sinema.

KHANE-YE DOUST KODJAST? / WHERE IS THE FRIEND'S HOME
Where Is the Friend’s Home?

 Koker trilogy 

Disebut sebagai karya terbaik Kiarostami, Koker trilogy mengacu pada tiga film yang terdiri dari Where Is the Friend’s Home? (1987), Life, and Nothing More… (1992), dan Through the Olive Trees (1994) yang berhasil melebur batasan antara realitas dan fiksi dalam perfilman secara groundbreaking. Where Is the Friend’s Home? adalah cerita sederhana tentang Ahmed, seorang anak laki-laki di sebuah desa bernama Koker di utara Iran yang tanpa sengaja membawa pulang buku tugas milik temannya. Sadar jika temannya akan dikeluarkan dari sekolah jika tidak mengumpulkan tugas, Ahmed pun menempuh perjalanan jauh ke desa temannya untuk mengembalikan buku tersebut dan melihat banyak hal dalam perjalanannya, mulai dari betapa ignorant dan culasnya dunia orang dewasa hingga nilai-nilai tradisional warga pedesaan Iran. Lewat film ini Kiarostami mengangkat cerita tentang loyalty dan kepahlawanan sehari-hari dalam kombinasi narasi fiksi dan dokumenter (docu-fiction) yang kemudian menjadi ciri khas terbesarnya.

lifeandnothing-1600x900-c-default
Life, and Nothing More…

Film kedua Life, and Nothing More…mengikuti jejak seorang sutradara (versi fiksional dari Kiarostami sendiri) dan anak lelakinya yang berkendara dari Tehran ke Koker untuk mencari jejak dua anak kecil yang membintangi film Where Is the Friend’s Home? karena cemas keduanya termasuk dalam daftar korban gempa Iran di tahun 1990 yang memakan korban 50 ribu orang di utara Iran. Menelusuri puing-puing sisa gempa, ayah dan anak tersebut berinteraksi dengan para warga lokal dan mendengar kesaksian tentang bencana tersebut, termasuk dari sepasang pengantin muda yang memutuskan tetap melangsungkan pernikahan walaupun desa mereka porak-poranda dan banyak anggota keluarga mereka yang tewas, sampai akhirnya mereka berhasil menjumpai salah satu aktor cilik di film sebelumnya di sebuah tenda pengungsian. Dokufiksi kedua ini secara poetic menunjukkan kekaguman Kiarostami terhadap semangat orang-orang yang tak menyerah pada keadaan dan melanjutkan hidup mereka pasca bencana.

through-the-olive-trees
Through the Olive Trees

Bagian terakhir dari Koker trilogy adalah Through the Olive Trees yang menggambarkan proses seorang sutradara saat ia merampungkan syuting film Life, and Nothing More… dan cerita asmara di antara kedua aktor dan aktris yang terlibat dalam sebuah sequence di film tersebut. Hossein, seorang tukang batu yang beralih menjadi aktor jatuh cinta dan melamar lawan mainnya, seorang gadis terpelajar bernama Tahere yang menjadi yatim-piatu setelah orangtuanya wafat dalam gempa besar. Perbedaan status keduanya membuat Tahere menolak lamaran itu, namun dengan intervensi sang sutradara yang menyarankan Hossein apa saja yang harus ia lakukan untuk meyakinkan sang gadis sambil dengan sengaja menyiapkan adegan dan dialog keduanya di film yang ia garap. Hingga di satu adegan ia meyakinkan Hossein untuk mengikuti Tahere yang berjalan di antara pepohonan zaitun dan sekali lagi mengungkapkan perasaannya dengan open ending yang membuat para penonton bebas menginterpretasikan sendiri apakah lamaran tersebut diterima atau tidak.

Film romance dengan balutan humor dan sense of humanity ini dinominasikan dalam kategori Palme d’Or di Cannes 1994 dan melontarkan popularitas Kiarostami ke dunia. Walaupun secara naratif tidak bisa dibilang sekuel karena ketiga film tersebut masing-masing berdiri sendiri, namun Koker trilogy disebut sebagai rangkaian film yang menggambarkan kekuatan dunia sinema dengan metode penceritaan yang bermain pada konsep “higher reality” dan “life imitates art (and vice versa)” dengan cara yang belum pernah digunakan oleh sutradara lain sebelumnya.

MoC_CLOSE_UP_04.jpg
Close-Up

Close-Up (1990)

Berdasarkan cerita nyata yang terjadi di Tehran di akhir 80-an, Close-Up yang judulnya diambil dari teknik penyutradaraan bermula saat Kiarostami membaca berita tentang seorang pria bernama Hossain Sabzian yang ditangkap polisi setelah mengaku-ngaku sebagai sutradara Iran terkenal, Mohsen Makhmalbaf. Kiarostami mendatangi Sabzian di penjara dan membuat dokumenter tentang sang terdakwa kasus penipuan tersebut yang lantas mengungkapkan fakta jika sang impersonator melakukan perbuatannya bukan dengan niat jahat, melainkan karena rasa cintanya pada sinema dan kekaguman pada sang sutradara yang membuatnya ingin merasakan menjadi sang sutradara. Sekali lagi berada di tengah realitas dan fiksi, Kiarostami menyajikan dokufiksi tentang the power of cinema dan pada akhirnya berhasil mencari jalan damai bagi Sabzian dan bahkan mempertemukannya dengan sang sutradara idolanya.

taste-of-cherry-di-01

Taste of Cherry (1997)

Memenangkan Palme d’Or di Cannes tahun 1997, film ini adalah sebuah film minimalis tentang seorang pria paruh baya bernama Badii (Homayoun Ershadi) yang berkendara di seputar Tehran untuk mencari seseorang yang bersedia mengubur dirinya setelah dia bunuh diri. Perjalanannya mempertemukannya dengan beberapa kandidat, dari mulai seorang tentara Kurdish muda yang menolak melakukan hal itu dan kabur dari mobil Badii, seorang guru agama asal Afghanistan yang menolak karena bunuh diri adalah hal yang dilarang agama, hingga yang terakhir adalah seorang ahli taksidermi asal Azerbaijan yang bersedia melakukannya namun tetap berusaha meyakinkan Badii untuk mengurungkan niatnya dan mengaku jika ia pun pernah hampir nekat bunuh diri namun memilih hidup setelah mencicipi rasa buah ceri. Didominasi teknik long takes dengan jeda sunyi tanpa musik latar dan dialog tentang arti hidup dan kematian, film ini terasa depressing dan comical di saat yang sama dengan filosofi jika hidup ibarat jalan panjang tanpa ujung dengan pepohonan ceri di sampingnya, whether you want to enjoy it along the way, it’s your own choice.

the-wind-will-carry-us-feature-1600x900-c-default

The Wind Will Carry Us (1999)

Sama seperti film sebelumnya, dalam film yang judulnya yang diambil dari puisi karya penyair perempuan ikonik asal Iran, Forough Farrokhzad ini Kiarostami kembali mengangkat ide tentang hidup dan kematian. Bercerita tentang empat orang jurnalis yang tiba di sebuah desa Kurdish dan menyamar sebagai insinyur untuk mendokumentasikan ritual kematian setempat dan mengantisipasi kematian seorang nenek berumur 100 tahun yang diharapkan menjadi obyek utama dalam proyek mereka, namun sang nenek tak kunjung wafat dan mereka pun terpaksa beradaptasi dengan gaya hidup di desa tersebut yang lambat dan kontras dari latar belakang urban mereka, Dirilis tepat sebelum pergantian abad, film ini adalah interpretasi poetic seorang Kiarostami akan isu-isu seperti kehidupan dan kematian, modern dan tradisional, dan local versus global, sekaligus mempertanyakan etika menangkap suatu kenyataan ke dalam film tanpa mencemari esensinya.

certified-copy

Certified Copy (2010)

Dibintangi oleh Juliette Binoche dan William Shimell, film ini adalah film pertama Kiarostami yang dibuat di luar Iran seutuhnya. Seorang penulis Inggris bernama James Miller (Shimell) sedang berada di Tuscany, Italia untuk berbicara soal buku terbarunya, Certified Copy, yang mengangkat tema originalitas dalam karya seni di mana menurutnya tidak ada karya yang benar-benar original karena semua karya sebetulnya adalah kopi dari suatu hal yang telah ada. Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan seorang ahli barang antik asal Prancis (Binoche) yang datang bersama anak lelakinya. Dalam pertemuan selanjutnya, keduanya berkendara tanpa arah ke daerah pedesaan setempat dan berbincang tentang seni dan isi buku tersebut hingga akhirnya dalam perhentian di sebuah kafe, prasangka orang lain jika keduanya adalah suami-istri mengubah arah diskusi mereka menjadi sangat personal, seakan keduanya memang pasangan yang telah lama menikah dan Kiarostami sengaja membiarkan penonton bertanya-tanya apakah keduanya sebetulnya memang suami-istri atau keduanya hanya terjebak dalam ilusi yang mereka bangun sendiri.

like-someone-in-love-main-review

Like Someone in Love (2012)

Sebagai film terakhir yang ditulis dan disutradarai oleh Kiarostami, film yang diproduksi di Jepang ini menceritakan seorang mahasiswi Tokyo bernama Akiko (Rin Takanashi) yang bekerja sambilan sebagai pelacur kelas atas. Suatu malam, ia mendapat klien bernama Takashi Watanabe (Tadashi Okuno), seorang duda tua mantan dosen sosiologi yang lebih tertarik menyiapkan makan malam dan berbincang bersama Akiko dibanding tidur dengannya. Saat esok harinya mengantar Akiko ke kampusnya, ia bertemu dengan Noriaki (Ryo Kase) pacar Akiko yang mengira jika ia adalah kakek Akiko dan meminta izin untuk menikahi Akiko. Semua menjadi kacau saat Noriaki yang abusif mengetahui hal sebenarnya dan mengonfrontasi keduanya. Walaupun jauh dari Iran, di film ini Kiarostami tetap berhasil mengangkat kisah cinta tak biasa di mana para karakter yang terlibat adalah orang-orang kesepian yang mencari seseorang untuk dicintai dalam pertemuan takdir yang terasa sangat random dan konsekuensi yang menunggu mereka.

Filmstrips: Cannes 2016 Movie Picks Part. 2

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival yang tahun ini telah memasuki tahun ke-69 telah diselenggarakan pada tanggal 11-22 Mei lalu dan kembali menjadi barometer penting bagi perkembangan sinema dunia di mana tercatat 21 film berkompetisi memperebutkan Palme d’Or, 18 film di seleksi Un Certain Regard dan 10 film pendek telah ditayangkan dalam perhelatan tahun ini. Berikut adalah seleksi film yang harus masuk dalam watch list.

Click here for the part one.

personal-shopper

Personal Shopper

Setelah berkolaborasi dalam Clouds of Sils Maria yang mendapat apresiasi positif, sutradara Olivier Assayas kembali menggandeng Kristen Stewart dalam film terbarunya yang bergenre thriller ini. Kristen berperan sebagai Maureen Cartwright, seorang gadis Amerika di Paris yang bekerja sebagai personal shopper untuk selebriti bernama Kyra (Nora von Waldstätten) di mana ia tak hanya dihantui oleh klien yang demanding, tapi juga teror tak kasatmata dari bayangan saudara kembarnya yang telah meninggal dan pesan-pesan misterius dari nomor tak dikenal yang mendorongnya melakukan perbuatan buruk di luar zona nyamannya.

Julieta

Julieta

Kembali menelusuri female-centric drama yang menjadi andalannya, Pedro Almodóvar menampilkan akting gemilang dari Emma Suarez dan Adriana Ugarte yang keduanya memerankan Julieta sang tokoh utama dalam film yang berdasarkan tiga cerita pendek dalam antologi Runaway karya Alice Munro ini. Julieta di usia paruh bayanya (Suarez) adalah wanita Madrid yang berusaha menata hidupnya setelah tragedi yang menimpa suaminya, Xoan (Daniel Grao). Putri satu-satunya, Antia (Blanca Parés) melarikan diri tanpa penjelasan apapun saat berumur 18 tahun dan pencarian berbekal sekelumit info hanya membuka kenyataan jika ia tidak pernah benar-benar mengenal putrinya.

Neon Demon

The Neon Demon 

Dibintangi oleh aktris-aktris muda seperti Elle Fanning, Abbey Lee, dan Bella Heathcote, film terbaru Nicolas Winding Refn ini mengambil latar dunia fashion Los Angeles di mana Jesse (Fanning) seorang model 16 tahun direkrut oleh seorang desainer eksentrik (Alesandro Nivola) sebagai muse dan seketika menjadi the It model yang menjadikannya target kecemburuan dari wanita-wanita yang terobsesi pada kecantikan untuk merebut apa yang mereka tidak miliki dalam diri Jesse: youth & innocence. Jesse pun membuka tabir dunia fashion yang walau terlihat gemerlap namun ternyata penuh darah, skandal, dan obsesi liar.

 the-handmaiden-is-an-upcoming-south-korean-film-based-on-the-novel-fingersmith-by-sarah-waters-being-directed-by-park-chan-wook-and-starring-kim-min-hee-ha-jung-woo-and-kim-tae-ri

The Handmaiden

Dikenal sebagai sutradara Korea dengan tendensi humor gelap yang brutal, Park Chan-wook membawa adaptasi novel Fingersmith karya Sarah Waters yang berlatar di Inggris masa Victorian ke Korea di masa kependudukan Jepang di tahun 1930-an. Nam Sook-hee (Kim Tae-ri), seorang gadis pencopet terlibat dalam rencana jahat Count Fujiawara (Ha Jung-woo), seorang penipu ulung yang berpura-pura menjadi bangsawan Jepang demi menikahi dan merebut harta Lady Hideko (Kim Min-hee), seorang wanita Jepang kaya yang tinggal di bawah asuhan pamannya, Kouzuki (Cho Jin-woong). Menyamar sebagai pelayan, rencana Sook-hee berantakan ketika sang target justru jatuh cinta padanya dan seiring waktu menguak lapis demi lapis rahasia.

i_daniel_blake_no_film_school_interview

I, Daniel Blake

Daniel Blake (Dave Johns) adalah seorang pengrajin kayu berusia 59 tahun di daerah Newscastle Inggris yang terkena serangan jantung dan memutuskan mendaftarkan diri untuk menerima bantuan pemerintah lewat program Employment and Support Allowance. Dipusingkan oleh masalah birokrasi yang rumit dan petugas pemerintah yang tidak kooperatif, ia bertemu single mother bernama Katie (Hayley Squires) dan kedua anaknya yang demi melarikan diri dari ancaman tinggal di penampungan kaum homeless di London harus berjuang memiliki sepetak tempat tinggal. Mengangkat isu kondisi ekonomi dengan humanis, film garapan sutradara Ken Loach (yang telah berusia 80 tahun) ini berhasil mendapat penghargaan tertinggi Palme d’Or di Cannes tahun ini.

 

Filmstrips: Cannes 2016 Movie Picks Part. 1

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival yang tahun ini telah memasuki tahun ke-69 telah diselenggarakan pada tanggal 11-22 Mei lalu dan kembali menjadi barometer penting bagi perkembangan sinema dunia di mana tercatat 21 film berkompetisi memperebutkan Palme d’Or, 18 film di seleksi Un Certain Regard dan 10 film pendek telah ditayangkan dalam perhelatan tahun ini. Berikut adalah seleksi film yang harus masuk dalam watch list.

CFday25-580.jpg

Captain Fantastic

Dalam film kedua karya Matt Ross ini, Viggo Mortensen memerankan Ben Cash, seorang single father eksentrik dan idealis yang membesarkan 6 anaknya sendirian di sebuah daerah hutan Pacific Northwest di mana mereka menjalani hidup terisolasi dari  peradaban kapitalis sampai suatu hari istri Ben yang mengidap bipolar tewas bunuh diri di sebuah rumah sakit jiwa dan memaksa keluarga ini keluar dari surga kecil mereka dan menempuh perjalanan selama lima hari mengendarai bus keluarga (yang diberi nama Steve) ke New Mexico, tempat prosesi pemakaman akan digelar. Tak hanya bertanggungjawab pada 6 anak yang mengalami culture shock di dunia luar, Ben juga harus menghadapi ayah mertuanya (diperankan Frank Langella) yang mempertanyakan kemampuan Ben sebagai orangtua dan caranya membesarkan anak.

Cafe Society

Café Society

Didaulat sebagai opening movie untuk Cannes tahun ini, film komedi-drama garapan Woody Allen ini bercerita tentang Bobby Dorfman (Jesse Eisenberg) seorang pemuda lugu asal Bronx yang pindah ke Hollywood di tahun 1930-an di mana ia jatuh cinta dengan gadis bernama Vonnie (Kristen Stewart) yang merupakan sekretaris pamannya, Phil (Steve Carell). Berlatar kehidupan high society di industri sinema Hollywood dan bisnis nightclub di New York tahun 30-an yang dipenuhi bintang film, sosialita, politisi, dan gangster, Bobby pun menemukan dirinya terjebak dalam peliknya cinta segi tiga sambil berusaha menjadi man of the world di zaman yang penuh konflik dan keglamoran.

American Honey

American Honey

Film keempat sekaligus film pertama sutradara Andrea Arnold yang dibuat di luar Inggris ini menceritakan gadis 18 tahun bernama Star (peran debut dari pendatang baru Sasha Lane) yang bergabung dengan grup remaja terlantar di sebuah “magazine crews” pimpinan Jake (Shia LaBeouf) yang bersama-sama berkeliling Amerika Serikat untuk menjual paket langganan majalah dari rumah ke rumah. Dipenuhi ikonografi Amerika seperti highway daerah Midwest yang seakan tanpa ujung hingga bikini bermotif bendera Konfederasi yang dikenakan tokoh antagonis Krystal (diperankan oleh Riley Keough, cucu Elvis Presley), film ini menyibak hedonisme, kriminalitas, dan eksplorasi seksual di balik konsep American Dream dan berhasil memenangkan Prix du Jury tahun ini.

after the storm

After The Storm

Setelah kematian ayahnya, bekas penulis berbakat Ryota Shinoda (Hiroshi Abe) menghamburkan uang yang ia dapat sebagai private detective untuk berjudi sementara ibunya (Kirin Kiki) dan mantan istrinya (Yoko Maki) berusaha menjalani hidup mereka masing-masing. Mencoba memperbaiki hidupnya, Ryota menemukan arah hidup dalam diri anak lelakinya, Shingo (Taiyo Yoshizawa). Sebuah badai taifun tanpa disangka memberikan kesempatan bagi keluarga yang retak ini untuk memperbaiki hubungan mereka. Dikenal lewat film-film bertema keluarga, sutradara Hirokazu Kore-eda kembali menyajikan drama bittersweet yang akan membuatmu kembali mengapresiasi arti keluarga.

Apprentice

Apprentice

Mengangkat tema hukuman mati yang menjadi isu kontroversial di kawasan Asia Tenggara, film garapan sutradara Singapura Boo Junfeng ini berkisah tentang Aiman (Fir Rahman) seorang sipir muda yang baru diterima bekerja di Penjara Larangan dengan membawa motif personal. Ayahnya mati digantung di penjara yang sama dengan tempatnya bekerja sekarang di bawah pimpinan Rahim (Wan Hanafi Su) sang chief executioner yang mengeksekusi ayahnya. Aiman pun terjebak dalam pergulatan batin antara keinginan balas dendam dan secara ironis menemukan sosok ayah dalam diri pembunuh ayahnya.

Shoot Tight, Monica. An Interview with Monica Vanesa Tedja.

Berawal dari video-video family trip masa kecil, Monica Vanesa Tedja menuangkan imajinasinya lewat medium film. 

 “For me, being a filmmaker means being able to freely express your feelings through some kind of statements. It’s a very interesting medium, which allows you to share stories and even get a whole bunch of new yet different perspectives,” ungkap Monica Vanesa Tedja soal kariernya sebagai sutradara dan penulis film. Bermula dari mengamati kebiasaan sang ayah yang gemar merekam video di setiap holiday trip keluarganya, timbul rasa penasaran dalam diri Monic yang saat itu masih berusia 10 tahun untuk mencoba merekam videonya sendiri dengan handycam yang sama. Seiring waktu, ketertarikannya semakin berkembang dengan belajar menyunting video sendiri, mengikuti workshop film dan lomba, sampai akhirnya mendaftarkan diri di jurusan Digital Cinematography. Dari yang awalnya sekadar menulis dan menyutradarai film-film pendek untuk tugas kuliah, karya Monic yang kental rasa quirky dan witty pun terus terasah dengan baik lewat beberapa film pendeknya seperti How To Make A Perfect Xmas Eve dan Konseptor Kamuflase yang berjaya di berbagai festival film dalam negeri hingga Tokyo, di samping pekerjaan komersialnya seperti video musik, viral campaign, web series, dan TV series.

Di tahun 2015 kemarin, Monic telah merilis dua film pendek yang juga mendapat apresiasi positif dan kian mencuatkan namanya sebagai sutradara muda yang patut disimak. Yang pertama adalah Sleep Tight, Maria yang dibintangi oleh Karina Salim dan Rain Chudori. Menceritakan soal dua siswi sekolah Katolik yang sama-sama bernama Maria dengan fantasi seksual masing-masing, film ini secara menggelitik berbicara soal masturbasi yang dianggap tabu bagi kaum perempuan, let alone in religious environment. Film pendek selanjutnya yang bertajuk The Flower and the Bee juga bermain dengan isu seksualitas yang sebetulnya bersifat sehari-hari. Kali ini lewat kacamata seorang gadis cilik berumur 10 tahun bernama Callie yang rasa ingin tahu khas anak-anaknya membuatnya penasaran dengan gestur jari yang dilihatnya dilakukan oleh dua anak SMP di mobil jemputan sekolahnya. Gestur yang dimaksud adalah menyelipkan jempol di antara telunjuk dan jari tengah yang bagi mereka yang lebih dewasa tentu paham jika gestur tersebut merujuk pada kegiatan seks.

Belum puas menuntut ilmu dan mempertajam talentanya, saat ini gadis 24 tahun yang mengagumi karya Michel Gondry, Woody Allen, Sofia Coppola, Wes Anderson, dan Spike Jonze tersebut sedang merantau ke Berlin, Jerman untuk mengincar Master Degree di bidang Penyutradaraan. Meskipun tahun ini ia mengaku akan memfokuskan diri dalam dunia akademis dahulu, saya tidak sabar untuk mengenal sosoknya lebih jauh sambil menantikan karya-karya segar darinya.

film "Sleep Tight Maria"(Kalyana Shira Foundation)
Film “Sleep Tight Maria” (Kalyana Shira Foundation)

Dari beberapa film pendek yang pernah Monic buat, ada tema imajinasi dan surrealism yang kental, terutama di Konseptor Kamuflase. Apa yang biasanya menjadi inspirasi bagimu? Menurutku, dunia film merupakan dunia imajinasi. Kita bisa membebaskan imajinasi kita bermain dengan seliar-liarnya, selama tentu masih masuk ke dalam konteks yang ingin kita bicarakan. Aku selalu menganggapnya sebagai salah satu bentuk escaping from reality. A “what-if“ condition. Dan seringkali hal-hal yang menginspirasiku itu berasal dari keresahanku akan sesuatu, mostly dari hal-hal yang juga terjadi di sekelilingku. Jadi biasanya aku akan mulai membayangkan, bagaimana kalau hal ini yang terjadi instead of hal itu?

Aku juga merasa ada unsur religi yang kerap muncul, seperti gereja, lagu rohani, dan natal misalnya. Apakah ada kesengajaan yang ingin diangkat dari situ? Sebenarnya aku nggak pernah menentukan kalau di setiap filmku itu harus ada unsur religinya. Bahkan belum lama ini aku baru sadar akan hal itu, haha. Aku nggak pernah menentukan karena memang nggak ada intensi khusus untuk menjadikan unsur religi tersebut sebagai, katakanlah “trademark” aku sebagai filmmaker. Karena aku nggak mau dikotak-kotakkan. Aku ingin membuat film berdasarkan apa yang memang aku rasakan, berdasarkan keresahanku sendiri. Jadi unsur apapun itu yang kamu dapati di filmku, pure karena memang berkaitan dengan cerita, karakter maupun statement-ku sebagai filmmaker, hehe.

So far, apa pengalaman syuting paling memorable/sulit? Apa yang menjadi turning point bagimu dalam menemukan gaya directing seperti sekarang? Sejujurnya, sampai detik ini pun kalau ditanya soal gaya directing aku masih belum bisa jawab. Karena buatku, yang menentukan itu adalah para penonton. Mereka yang bisa kasih penilaian ketika mereka menonton karya-karyaku. Tapi buatku, yang paling penting adalah jujur. Ketika kita mengerjakan sesuatu dengan hati, pasti hasilnya kelak akan lebih bermakna. Dari setiap karya yang telah kubuat, aku selalu mendapatkan pelajaran tersendiri yang cukup siginifikan. Dulu, aku tipe orang yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Tapi sekarang, setelah melewati berbagai pengalaman membuat film, aku jadi benar-benar menghargai sebuah proses. Justru di tahap itulah aku, sebagai seorang filmmaker, bisa belajar banyak. Terutama belajar untuk mengesampingkan ego serta tahu kapan harus kompromi.

the-flower-and-the-bee_hlgh-640x360

The Flower and the Bee memiliki tokoh utama seorang anak kecil, is it hard to direct kids? Dan bagaimana caramu menjelaskan arti gestur jari tersebut kepadanya? Believe me, I thought it was going to be extremely hard. When it comes to handling kids, I’m the worst person ever. I didn’t even know why I was doing that film! Kidding. Anyway, it was surprisingly easy. Well, not that easy. Tapi karena bayanganku udah bakal rusuh banget, dan ternyata nggak separah itu, jadi aku anggap itu mudah, haha. Mostly karena aku dapet talents yang pintar dan sangat kooperatif. Mereka nurut, baik dan lucu banget! Dari proses pre-production sampai shooting, aku sengaja nggak mau kasih tau arti dari gerakan tangan tersebut ke tokoh utamaku, supaya dia semakin penasaran. Jadi seakan itu bener-bener journey-nya dia untuk mencari tahu arti dari gerakan-gerakan tangan tersebut. Ketika proses shooting selesai, aku melepaskan ke pihak orang tuanya masing-masing. Karena memang itu hak mereka, apakah mereka mau memberitahu anak-anaknya sendiri atau tidak. Sebenarnya aku lebih nervous ketika dealing with the parents, ketimbang anak-anaknya, haha.

Boleh cerita soal keterlibatan Monic di Soda Machine Films? Aku mulai secara resmi tergabung ke dalam Soda Machine Films sejak Juli 2013. Awalnya aku ditawari oleh Lucky Kuswandi, sang empunya yang juga dosenku sendiri di UMN, untuk magang di situ dan langsung melanjutkan kerja sebagai freelance writer and director.

Apa project selanjutnya di tahun 2016? Apakah sudah ada rencana untuk membuat feature filmUntuk project di tahun 2016, jujur belum ada rencana pasti. Karena sekarang aku masih fokus untuk menyelesaikan kursus bahasa Jerman serta pendidikan Master-ku kelak. Tapi kalau untuk feature film, memang sudah sempat terpikir sebuah ide untuk membuatnya. It’s a process. Aku gak mau buru-buru sih, yang pasti. Didoain aja, ya! 😉

Bagaimana soal Traveling Richie? It looks so interestingWah. It’s a really long story. Bisa dibilang ini project ambisiusku dengan teman baikku sendiri. He’s an animator. Suatu ketika kita memutuskan untuk kolaborasi bareng dan singkat cerita lahirlah Traveling Richie. Tapi sekarang sedang kita postpone karena keterbatasan dana. Cliché, I know. lol!

Pertanyaan klise tapi penting: Kalau Monic sendiri melihat film Indonesia sekarang seperti apa? Apakah isu indie tidaknya sebuah film masih relevan buat Monic? Banyak orang yang sering mengaitkan indie film dengan masalah budget. Kalau minim, berarti masuk kategori indie. Jadi tergantung bagaimana kita melihat pengertian istilah itu sendiri. Buatku sih, yang paling penting intensi di balik membuat film itu sendiri. Kalau yang tujuannya komersil tentu berbeda dengan yang tujuannya mengedepankan idealisme. Tapi nggak ada yang benar dan nggak ada yang salah. Selama masih sesuai dengan konteksnya masing-masing. Dan aku selalu mencoba optimis dengan dunia perfilman Indonesia. Aku percaya kalau kita punya banyak sekali orang-orang berbakat. Yang masih kurang apresiasi dan dukungannya aja mungkin, haha.

Dengan banyaknya anak muda yang tertarik menjadi filmmaker, apa saran terbaik yang pernah Monic sendiri dapatkan dan bisa di-share untuk mereka? As cliché as it sounds: just be yourself. Don’t be scared to share your own opinions. It does matter. And most importantly, it’s always good to get out of your comfort zones. You can always learn something by keep challenging yourself.

Terakhir, boleh rekomendasikan lima film dari sutradara perempuan favoritmu?

Me and You and Everyone We Know  – Miranda July

The Virgin Suicides  – Sofia Coppola

Tiny Furniture  – Lena Dunham

Palo Alto  – Gia Coppola

Short Term 12  – Destin Daniel Cretton (I know that the last one’s not directed by a woman director, but it’s just so good, I can’t help but mention it.)

 

 

A Copy of Her Mind, An Interview With Tara Basro

REX_6694

It takes more than luck to stay in the highly competitive movie biz, dan dengan kematangan skill serta repertoire peran yang kian membubung, Tara Basro telah menemukan spotlight tersendiri baginya dalam industri ini, and it’s getting brighter all the time

Disclaimer: Artikel ini diambil dari NYLON Indonesia November 2015 tanpa proses penyesuaian dengan keterangan waktu yang telah lewat.

Tara Basro always have a special spot in my heart. There, I said it. Tidak hanya karena sosoknya yang terus mencuri perhatian dalam setiap project yang ia kerjakan, tapi juga karena pribadi di balik layarnya yang tetap down to earth dan apa adanya, tak peduli sejauh apapun ia telah melangkah. Di hari Jumat menjelang akhir Oktober lalu, sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, Tara datang seorang diri ke lokasi pemotretan tanpa ditemani manajer, asisten, atau entourage lain seperti artis pada umumnya. Mengenakan jumpsuit berpadu sneakers, aktris cantik bernama lengkap Andi Mutiara Pertiwi Basro ini terlihat effortlessly chic dan santai. Wajahnya yang tersenyum ramah dibingkai oleh rambut hitam yang baru dipotong pendek dengan model bob yang fresh dan mempertegas feature wajahnya: high cheekbones, mata sayu nan sensual, dan kulit sawo matang yang glowing. Semua hal yang membuat dirinya terlihat stand out dan kerap membuat “eksotis” sebagai adjektiva yang melekat padanya, sesuatu yang membuatnya berjengit, as we will talk about it later.

REX_6907

“Lagi sibuk istirahat,” ujar Tara membuka interview ini. “Soalnya dari awal tahun ini aku sibuk dari mulai promosi film terus lanjut syuting film lainnya, traveling, dan kebanyakan di luar kota, jadi sekarang lagi beristirahat akhirnya,” sambungnya sambil membiarkan wajahnya mulai dirias. Well, jika ada orang yang berhak memiliki time out untuk beristirahat setelah bekerja keras sepanjang tahun, Tara adalah orangnya. 2015 memang telah menjadi tahun yang exceptionally busy untuk dara satu ini. Tak lama setelah aksinya sebagai pendekar wanita di Pendekar Tongkat Emas akhir tahun lalu, kita telah melihatnya di Filosofi Kopi sebagai sexy assistant yang walaupun bukan termasuk peran utama tapi berhasil membuat hati penonton berdegup kencang dalam setiap scene-nya. Setelah menyelesaikan film surealis garapan Ismail Basbeth berjudul Another Trip to the Moon yang masuk ke International Film Festival Rotterdam, ia pun langsung terjun dalam syuting A Copy of My Mind, film terbaru Joko Anwar di mana ia dan Chicco Jerikho bersanding sebagai pemeran utama.

ACOMM

            Dengan teaser poster yang menampilkan Tara dan Chicco sebagai pasangan yang dimabuk cinta, gampang bagi orang untuk mengiranya sebagai film drama romantis. But we’re talking about Joko Anwar’s work here, so basically, walaupun film ini memang mengedepankan relationship antara sepasang anak muda Jakarta, namun dengan adanya plot twist dan grand scheme tentang sisi gelap dunia politik dan industri pembajakan film, A Copy of My Mind jelas bukan cerita cinta biasa.“Yes, there’s a little bit about politics. Tapi Bang Joko mau film ini bisa dinikmati semua orang, bukan orang Indonesia doang dan akhirnya di-package dalam romantic film. It’s like a time capsule, kalau orang mau lihat Jakarta di tahun 2015 seperti apa ya seperti di film ini, walau orang nggak tinggal di Jakarta dan nggak tau what’s going on di Jakarta pun masih bisa relate,” tutur Tara.

            Sambil mulai melahap pisang yang ia bawa sendiri dari rumah, Tara pun menceritakan lebih lanjut soal perannya sebagai seorang pekerja salon bernama Sari di film ini. “She’s very… Orangnya sangat cuek. Karakter Sari dan Alek, mereka menggambarkan karakter anak-anak muda di Jakarta yang sebenarnya tidak peduli dengan politik sama sekali, they don’t care what’s going on outside, tapi bagaimanapun juga, walau dua karakter ini tidak peduli dengan politik, hidup mereka tetap terpengaruh. Jadi gue rasa banyak anak muda yang masih seperti itu, I think gue bisa merasa dekat dengan karakter Sari ini karena bisa dibilang tahun-tahun sebelumnya I’m also like that, gue yang sangat pesimis and I don’t wanna get involved with politics at all, karena rasanya kaya lo menggebu tapi percuma, but now I think sekecil apapun input kita pasti akan berguna,” paparnya. Lantas, apakah setelah film ini ia menjadi antusias soal politik? “Not really, I’m chillin’,” tampik Tara dengan senyuman kecil, “Tapi misalkan dari hal-hal kecil kaya yang lo lihat di sekitar lo misalkan dengan sesimpel buang sampah pada tempatnya, I know it has nothing to do with building your country tapi mulai dari self-awareness seperti itu dulu deh,” tandasnya.

            Dengan waktu syuting hanya 9 hari dengan cast yang bisa dihitung dengan jari, skill akting Tara jelas dituntut secara maksimal di film ini, terutama ketika harus syuting secara diam-diam di sebuah tempat pembajakan DVD di Glodok. “I never see so much DVD in my life, DVD bajakan semua, mereka bikin packaging-nya and everything. Tadinya kita minta izin tapi nggak dikasih, akhirnya kita diam-diam, itu rasanya kaya lo bisa aja tiba-tiba dikarungin, terus diculik nggak balik-balik, serem banget kaya suicide mission. Yang megang kamera gantian Bang Joko sama DOP-nya, jadi kita sok-sok lihat DVD tapi kalau dilihat footage yang nggak dipakai, kebanyakan muka gue udah pucat banget dan kaku,” ceritanya sambil menunjukkan ekspresi pura-pura takut. Undercover shoot aside, yang tak kalah menantang adalah membangun chemistry dan beradegan intim dengan lawan main.“Chicco is great,I love working with him, karena dari awalnya kita juga teman dan sering ngobrol jadi ketika harus bangun chemistry dengan Chicco pun everybody can relate about feeling love, find someone that you love dan melihat sesuatu bisa diperjuangin untuk orang ini,” tukasnya sebelum melanjutkan, “Yang gue suka dari kerja dengan Bang Joko adalah dia memang membangun karakternya sangat matang, he would do interviews dengan gue sebagai Sari. Misalkan dia akan pura-pura jadi polisi terus Sari ditilang, kira-kira Sari akan ngomong apa di kondisi itu? Jadi mau nggak mau ya rasanya udah kaya jadi karakternya, jadi begitu kita syuting, its more like capturing moment.”

Kerja keras mereka terganjar dengan terpilihnya A Copy Of My Mind menjadi official selection di kategori Orrizonti di 72nd Venice International Film Festival tahun ini. Bulan September lalu, Tara pun bertandang ke Italia untuk mempromosikan dan gala premiere film tersebut di mana ia berjalan di red carpet dengan memakai rancangan Jeffry Tan. “Aneh aja dengar orang Itali manggil-manggil nama gue, haha!” kenangnya terbahak.“Tapi seru sih, deg-degan juga karena belum pernah jalan di red carpet segede itu kan, apalagi orang-orang tau soal film lo. Senang banget pas di sana orang-orang sangat antusias nonton filmnya, tadinya gue nggak menduga orang akan sesenang itu sama filmnya, terharu aja rasanya, kaya pas lagi jalan ada orang yang nyamperin dan bilang ‘I’ve seen your film! It’s so good, thank you so much for making it!’ jadi rasanya pasti senang lah, dari awal bikin filmnya juga karena suka dan yang bikin juga memang senang sama karyanya sendiri, jadi gue sangat berterimakasih banget sama yang nonton karena bisa appreciate dengan apa yang kita kasih. Itu jadi humbling experience juga karena orang-orang di sana sangat passionate dengan film dan pekerjaan mereka, jadi gue merasa kaya I wanna do something bigger, I wanna do more. Malah kaya ah gila, I’ve done nothing rasanya,” ungkapnya bersemangat.

Selain di Venice, film ini juga telah ditayangkan di festival film internasional di Toronto dan Busan. Publik Indonesia sendiri masih harus bersabar karena film ini direncanakan baru tayang di dalam negeri sekitar Februari tahun depan. Meanwhile, sembari menunggu, kita juga bisa melihat aksi Tara di proyek Joko Anwar lainnya, yaitu serial televisi Halfworlds yang diproduksi HBO Asia. Dalam serial action thriller berbumbu mitologi Indonesia ini, Tara menjadi bagian ensemble cast dari aktor-aktris Indonesia paling menarik saat ini. “Halfworlds sangat seru soalnya cast-nya banyak dan isinya banyol semua jadi proses syuting sangat menyenangkan and I think its a fun story juga. Yang seru,it was the first time for me to working in the studio karena sebelumnya kan selalu real set, kemarin set beneran cuma beberapa, sisanya di studio semua jadi gue kaya ‘Wow this is actually pretty awesome’, you working in very controlled environment kaya lo nggak harus peduli ada tukang bakso lewat untuk break syuting, its kinda nice, but at the same time, you also miss the energyand spontanity,” jelas Tara tentang proses syutingnya yang berlangsung di studio di Batam. Dalam serial ini, Tara kembali berpasangan dengan Reza Rahadian sebagai bad ass duo. Kalau di Pendekar Tongkat Emas mereka menjadi sepasang pendekar culas, kali ini mereka menjadi sepasang Bonnie and Clyde kinda characters dengan kekuatan Demit dan adegan laga yang seru. Menyoal bagaimana seringnya ia dipasangkan dengan Reza, dengan berseloroh ia menjawab: “I love working with him, he’s such a good actor and I learn a lot from him, jadinya kaya udah sahabatan tapi lama-lama kaya yang ‘Can I be someone else’s girlfriend, please?

REX_6736

Harapannya terjawab di film Tiga Srikandi di mana Tara kembali satu film dengan Reza namun kali ini tanpa embel-embel asmara. Berlatar tahun 80-an, film karya Iman Brotoseno yang juga dibintangi oleh Chelsea Islan dan Bunga Citra Lestari tersebut mengangkat kisah nyata tiga srikandi dari tim atlet panahan Indonesia yang berlaga dan memenangkan medali perak di Olimpiade Seoul tahun 1988. Demi perannya, Tara pun belajar memanah selama tiga bulan.”Awalnya gue pikir panahan is gonna be very monotone, tapi pas dilakuin ternyata bikin emosi karena you know you could hit the target. Panahan itu soal konsistensi, kalau posisi tangan berubah sedikit aja, pasti hasilnya beda, jadi setiap manah posisi lo harus sama, tapi seru sih, I love it,” paparnya soal film yang akan ditayangkan akhir tahun ini.“Dari film ini gue juga pengen bangun awareness karena kita butuh regenerasi, nggak hanya soal atlet tapi aktor juga perlu ada regenerasi, I think semuanya sih, semua orang yang bekerja di bidangnya harus punya tanggung jawab untuk pass on ilmunya,” pungkasnya.

Berhadapan dengan Tara membuat memori saya kembali ke tahun 2011 ketika saya baru mulai berkarier di media dan bertemu Tara untuk pertama kalinya saat ia dan cast lainnya dari Catatan (Harian) Si Boy datang ke kantor NYLON. Looking at her right now, saya tidak bisa mengesampingkan perasaan kagum melihat bagaimana sosok girl next door pemalu dan pendiam yang saya temui empat tahun lalu telah menjelma sebagai aktris muda berkaliber yang dengan begitu eloquent bercerita soal passion-nya di dunia film. “That was my first film, I was a baby…Its crazy, nggak kerasa nggak sih?” tanyanya retoris. 12 film panjang dalam kurun waktu lima tahun adalah pencapaian impresif bagi seseorang yang mengaku terjun di film karena “tercemplung” tanpa basic akting sebelumnya. Just like a baptism with fire, bakat mentah dalam dirinya terus terasah secara natural di setiap judul film yang ia bintangi. “Dari akting I learn so much, especially about myself karena selama ini gue melihatnya selalu keluar tapi karena akting, I have to switch untuk lebih melihat ke dalam diri gue sendiri kaya ‘How can I be more sensitive?’, karena gue lumayan ignorant kan, tapi di akting you have to pay attention to detail, so I love my job, its the best job.”

Tak banyak yang tahu jika sebelum mencapai titik ini rejection adalah hal yang cukup akrab bagi seorang Tara Basro yang sempat tidak percaya diri dengan penampilannya. “I think I’m being a little hard to myself sometimes,” ujarnya pelan. “I had difficulties because of my skin tone, apalagi dulu rambut gue cepak, sekarang juga pendek sih tapi dulu lebih pendek lagi, dulu masih di highschool, kerjanya ya di bawah matahari terus jadi udah butek, item, rambutnya pendek, terus orang-orang kaya yang ‘Umm, we’re looking for someone with lighter skin and longer hair’ gitu, jadi untuk gue bisa masuk ke film setelah gue putus asa dengan casting segala macem, it was such a blessing,” kenangnya. “Tapi perjuangan nggak berhenti di film pertama, it was a good film untuk film pertama tapi setelah itu perjuangannya gue bisa berbulan-bulan nggak kerja, doing nothing, sementara my mom and dad mulai ngomel-ngomel di rumah kaya ‘What are you doing? You’re not doing anything!’ haha, gue kaya yang ‘Just be patience, okay…’ Haha. It was really tough, jadi walaupun sekarang gue belum ada di posisi yang gue impikan, tapi to be here right now it took a lot of hard work, banyak patah hati segala macem, I learn a lot of things dengan cara yang lumayan harsh, but here I am, surviving.”

Lucunya, di umurnya yang kini menginjak 25 tahun, kulit sawo matang yang dulu seolah menjadi ‘kutukan’ tersendiri baginya sekarang justru menjadi ciri khas dan daya tarik istimewa dalam dirinya. Sulit mencari artikel tentang Tara yang tidak menyelipkan kata “seksi” dan “eksotis” untuk mendeskripsikan dirinya. Namun, saya selalu penasaran bagaimana sebetulnya perasaan Tara soal julukan “eksotis” tersebut. “I have mixed feeling about that word,” akunya, “Apalagi kalau misalkan ada orang yang bilang ‘Mukanya Indonesia banget ya?’ Gue kaya yang ‘What exactly is muka Indonesia?’ Muka Indonesia kan beda-beda, kalau di Korea masih mending ya, karena everybody’s white, tapi kalau di kita kan beda-beda, ada yang orang Manado, ada orang Papua, ada Sulawesi, NTT, semuanya beda-beda. Kalau dibilang eksotis pun gue masih bingung, is it because of my eyes or my skin? But I take it as compliment, but it makes me cringe every time I hear,“ ungkapnya.

REX_6454

“Gue pengen generasi muda untuk more brave, more loving, and forgiving,” ujar Tara dengan mimik serius. “Sampai sekarang gue masih mencoba raise awareness untuk generasi muda to take care of themselves karena awalnya I deal with a lot of insecurities kaya misalkan, maybe I’m not pretty enough, not skinny enough, my skin is not flawless enough, udah coba berbagai macam cara, udah ke dokter muka segala macem, yang pada akhirnya all those side effects gue rasain di umur gue yang 25 tahun ini. Like oh my God I’ve been so selfish, pengennya semuanya perfect padahal dengan gue yang sekarang ini udah cukup. Those beauty stuff… Its harming, mungkin sekarang nggak ngerasain apa akibatnya tapi later on itu bakal kerasa and you will regret it, jadi gue pengen as someone yang bisa dibilang public figure, I feel like I have some responsibility untuk try to educate, mungkin not for everybody tapi ke orang yang mungkin look up to me. But in the end of the day, nobody could love you unless you love yourself first.”

Semua yang terlontar dari bibirnya jelas bukan sekadar empty words tanpa aksi. Cara Tara mencintai dirinya sendiri adalah dengan menghindari zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Ia termasuk konsumen yang rajin membaca nutrition fact dalam setiap produk yang ia gunakan dan cukup familiar dengan istilah-istilah yang asing bagi orang awam. Ia juga mengaku sekarang ini lebih tertarik pada hal-hal yang berbau kesehatan dan mengungkapkan keinginan untuk belajar ilmu nutrisi di samping belajar bahasa asing, khususnya French, mengingat waktu kecil ia sempat tinggal di Prancis. “I go to the gym a lot,” ucap Tara tentang caranya menjaga kesehatan di antara jadwal yang sangat padat. Sempat belajar wushu untuk syuting Pendekar Tongkat Emas, saat ini Tara masih rutin yoga, weight training, dan Muay Thai. “Pokoknya masa-masa istirahat ini yang gue maksimalin adalah olahraga karena kalau syuting apalagi di luar kota kaya udah nggak punya waktu. I’ll be in my best mood after workout, meskipun capeknya kaya apa tapi tetap sangat menyenangkan. Selebihnya mungkin baca buku and keep in touch with my family, karena makin lama makin jarang ketemu karena kerjaan,” lanjut anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara ini. Buku apa yang sedang dibaca Tara belakangan ini? “Sekarang lagi baca Conversations with God, right now gue lagi banyak baca buku yang lebih spiritual karena working in this industry, its little hard to find yourself karena kadang-kadang kalau lanjut dari satu karakter one to another itu kadang-kadang I get lost sometimes, I love to read books to feel relax and better about myself.”

            Sejalan dengan hobi berolahraga, Tara yang lebih nyaman dengan gaya kasual adalah penggemar sneakers.“People think I started to have problem karena right now at my place, I’m sleeping with my sneakers karena udah kebanyakan gitu, dan kalau ada acara gue kaya yang ‘I don’t have any shoes! I don’t have any heels!’ Haha! I wish I could wear my sneakers with dresses, tapi ya gitu, gue udah mulai dimarahin kaya disuruh stop beli sneakers,” kisah penggemar Adidas dan Vans yang hobi berburu sneakers baik di eBay maupun saat keluar negeri dan saat ini sedang menunggu pesanan Adidas Ultra Boost warna putih incarannya tiba.

            Mind, body, and soul. Keseimbangan ketiganya tak akan lengkap tanpa adanya cinta dan ketika menyinggung topik itu, Tara mengaku dirinya adalah seorang hopeless romantic yang gemar menonton film rom-com sebagai guilty pleasure-nya. “Its easy for me to fall in love with someone because I wear my heart on my sleeve,” ujarnya tersenyum. “I dunno if you’re notice or not, but every girl is a psycho in different ways. I feel like kalau pacaran itu tentang mentolerir kekurangan orang lain, you need someone you can trust and accept you whoever you are, at the end of the day itu yang harus lo hadapi for the rest of your life. Karena if you wanna change somebody I don’t think its possible.” Kualitas apa yang biasanya dicari Tara for potential lover? “Sense of humor, caring, initiative, and good taste in music… Itu parah banget,” jawabnya cepat. Wait, jadi Tara termasuk yang menilai orang dari selera musiknya? “Of course I do! Apalagi kalau lagunya udah nggak nyambung itu kaya yang aah… Gue pernah pacaran sama orang, he doesn’t listen to music, can you imagine? Gue kaya yang ‘Are you serious?’ Jadi kalau di mobilnya ya kalau nggak radio ya diam, sedangkan gue yang tipikal langsung blasting the music!” ungkap penggemar Brandy, Jordan Rakei, dan Hiatus Kaiyote ini. Khusus nama terakhir, ia rela terbang ke Kuala Lumpur untuk menonton konser kuartet soul asal Melbourne tersebut dan dengan semangat menyebut Hiatus Kaiyote sebagai dream wedding band-nya, dengan catatan kalau ia tidak bisa mengundang Beyoncé untuk tampil di dream wedding-nya.

            True to her confession as hopeless romantic, di balik persona yang terlihat cuek, Tara ternyata punya dream wedding versinya sendiri. “Are you sure you wanna go there? Because we will have two hours talk, haha!” candanya saat saya bertanya soal pernikahan impiannya.“My dream wediing would be outdoor. I would love to have Latin music, all white, very intimate… Apalagi ya? Nggak tau, gue kalau dilamar aja kayanya udah senang, haha!” jawabnya. Ketika ditanya apakah itu artinya Tara sudah serius memikirkan soal getting married and settled down, dengan kerlingan mata yang kadang terlihat jahil, ia menjawab, “Ready or not, you just have to jump. Kalau ditanya ‘ready’ sih iya, tapi kalau ditanya ‘rela’jawabannya belum, karena I still want do something more.

            Dengan sederet peran dan proyek seru yang sudah ia jalani, apa lagi yang ingin dikejar Tara? “Sebenarnya gue pengen banget kerja bareng Dimas Djay, tapi sayangnya dia udah nggak mau bikin film lagi kayanya. Atau Gareth Evans. I wanna do musical, tapi musical itu harus sangat hati-hati ya, jangan sampai tiba-tiba pas nonton nanti orang malah kaya ‘What?I enjoy singing, strictly di kamar mandi or in a car, but yeah I love to explore music more if I have the chance, tapi kalau if I ever do music, its gonna be something yang bukan buat jualan sih, buat kesenangan gue aja,” tandasnya. Di samping berbagai proyek yang sudah dipaparkan di atas, Tara juga terlibat dalam Flutter Echoes and Notes Concerning Nature, film garapan Amir Pohan yang mengangkat environmental issue dan masih dalam tahap post-production, di samping beberapa film yang masih tahap in consideration untuk tahun depan. Untuk sekarang, Tara hanya ingin menghabiskan akhir tahun dengan beristirahat. “Capek banget, karena semua project gue belakangan ini udah physical. Gue capek dengan semua begadangnya .I just feel I need to respect and listen to my body more, karena selama ini badan gue kaya pengen ngomong ‘I’m tired’ But I keep ignoring it, so I think I deserve a break, lagian biar orang nggak bosan juga lihat gue terus. I’m excited karena akan ada beberapa project yang keluar and I’m curious tanggapan orang akan seperti apa,” pungkasnya dengan nada optimis.

REX_6563

Fotografer: Raja Siregar

Stylist: Patricia Rivai.

Makeup Artist: Marina Tasha

Hair Stylist: Jeffry Welly (Studio 47)

What’s Up, Doc? Six Documentary You Should Watch in 2016

 

There’s certain air of realness di film dokumenter yang seringkali tidak bisa kamu temukan di sebuah film feature, tak peduli se-trivial apapun topik atau tema yang diangkat. Candid, thought-provoking, dan apa adanya, film dokumenter selalu memiliki kejutan menarik, and sometimes, reality check. Berikut adalah enam judul film dokumenter yang akan datang dan harus masuk ke watch list kamu di tahun 2016.

WAITING FOR B

Apakah kamu termasuk orang yang rela mengantre semalaman demi membeli tiket konser idolamu? Jika iya, kamu pasti bisa relate terhadap para fans Beyoncé di Brasil yang menjadi subjek utama dalam film dokumenter garapan Paulo Cesar Toledo dan Abigail Spindel ini. Waiting For B mengajak kita ke garda terdepan dari para Beyhive di Brasil yang rela mengantre dan bertenda selama dua bulan demi mendapat posisi strategis di konser Beyoncé di Sao Paolo. Dalam penantiannya, antrean tersebut menjadi tempat berkumpul para anak muda LGBT dari berbagai latar belakang, some are in full drag, yang mayoritas telah mengalami diskriminasi dan prejudice dari lingkungan sekitar mereka, Waiting For B tidak hanya menyorot soal fan culture di dunia pop dan bagaimana megastar seperti Beyoncé adalah sosok kultus, namun juga menyibak peran pop sebagai aksi politis dan twerk sebagai jari tengah bagi pandangan sempit masyarakat pada LGBT.

SPEED SISTERS

Melaju kencang dengan mobil balap masing-masing, empat pembalap wanita Palestina berusaha menabrak batasan dominasi pria dalam dunia balap mobil, demikian premis dari karya debut sutradara Amber Fares ini. Sebagai tim balap perempuan pertama di Timur Tengah, Marah, Noor, Monda, dan Betty tidak hanya berhadapan dengan masalah klasik di dunia balapan seperti dana, strategi, kompetisi, dan drama ricuh di sirkuit yang panas, mereka juga berhadapan dengan peran gender, politik, sosial, agama, dan intervensi militer tanpa akhir di daerah West Bank yang diduduki tentara Israel. Tak hanya memaparkan konflik Israel-Palestina dengan sudut pandang yang berbeda, Speed Sisters juga menampilkan emansipasi wanita di sirkuit balap yang penuh adrenaline rush, di mana balapan membuka dunia baru bagi keempat wanita tersebut tanpa kehilangan feminitas mereka.

ALL THINGS MUST PASS: THE RISE AND FALL OF TOWER RECORDS

Dokumenter karya Colin Hanks (aktor dan putra dari Tom Hanks) ini bercerita tentang sejarah Tower Records, sebuah destinasi wajib bagi para pencinta musik dari tahun 1960 sampai akhirnya gulung tikar di tahun 2006. Dengan motto “No Music. No Life”, di masa kejayaannya, Tower Records tidak sekadar record store, tapi juga tempat hangout para musisi terkenal seperti Elton John dan Bruce Springstein yang asik menyusuri rak-rak album di dalamnya, antrean fans untuk mendapatkan album terbaru musisi favorit mereka, dan para karyawan yang berpesta sampai larut malam dengan iringan musik-musik paling keren. Tidak hanya bercerita soal sejarah Tower Records, dokumenter ini juga mengungkap sejarah musik dalam 50 tahun terakhir ini lewat interview dan anekdot dari sang pendiri Russ Solomon dan jajaran karyawannya, termasuk mantan karyawan seperti Dave Grohl yang pernah menjadi penjaga tokonya.

DO I SOUND GAY?

Setelah hubungan asmara yang kandas, David Thorpe sebagai seorang pria gay berumur 40-an mengalami krisis identitas dan kehilangan percaya diri. Bagaimana ia mengatasinya? Dengan melakukan riset untuk mengungkap misteri “gay voice” yang merujuk pada stereotipe jika seorang pria bisa dianggap gay berdasarkan cara berbicara dan vokal mereka yang terdengar “feminin”. Perpaduan otobiografi dan dokumenter, film ini menyoal vokal gay dalam konteks sosial, psikologis, dan linguistik dengan cara yang menghibur dan informatif lewat riset ekstensif David dengan ahli sejarah (ada sebuah artikel dari koran abad ke-18 yang mengolok para pria yang memiliki vokal feminin), pelatih vokal, ahli linguistik, obrolan dengan narasumber seperti komedian Margaret Cho, penulis David Sedaris, Tim Gunn, Dan Savage, George Takei, hingga cerita para remaja yang di-bully di sekolah hanya karena terdengar “gay”, yang tidak selalu benar, karena di dokumenter ini kita akan melihat pria bersuara feminin yang ternyata straight dan pria gay dengan pembawaan maskulin. Afterall, it’s just an effing stereotype.

WOMEN HE’S UNDRESSED

Dokumenter tentang perancang busana mungkin sudah tidak asing, namun bagaimana dengan para costume designer di balik film-film ikonik? Film garapan Gillian Armstrong ini adalah salah satunya. Bercerita soal karier Orry Kelly yang dijuluki sebagai salah satu perancang kostum terbaik sepanjang masa, pria asal Australia tersebut telah terlibat dalam 285 judul di era keemasan Hollywood dan mengantungi tiga Piala Oscar berkat kepiawaiannya di bidang kostum. Beberapa portofolionya yang paling terkenal adalah Marilyn Monroe di Some Like It Hot, Nina Foch di An American in Paris, dan Ingrid Bergman di Casablanca. Tak hanya interview bersama para perancang kostum kontemporer seperti Catehrine Martin, Annd Roth, dan Kym Barrett, film ini juga menampilkan interview bersama Jane Fonda, Angela Lansbury, dan para Hollywood insiders dengan salah satu topik menyoal hubungan asmara rahasia antara Orry Kelly dengan salah satu bintang pria Hollywood terkenal di era di mana topik itu masih sangat kontroversial.

BREAKING A MONSTER

Rockumentary berdurasi 92 menit karya Luke Meyer ini mengungkap perjalanan karier band Unlocking The Truth, sebuah trio anak kulit hitam asal Brooklyn berumur 13 tahun yang terdiri dari bassist Alec Atkins, gitaris Malcolm Brickhouse, dan drummer Jarad Dawkins yang popularitasnya bermula dari video-video viral berisi aksi mereka membawakan heavy metal di jalanan New York City yang lantas menarik perhatian produser musik Alan Sacks. Dengan kontrak rekaman bersama Sony Music, tur US ke festival-festival bergengsi tanpa rilisan resmi apapun, cerita mereka memang seperti dream come true. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Jalan menuju ketenaran yang telah mereka idamkan sejak kecil juga dipenuhi dengan rapat bisnis bersama para eksekutif industri rekaman, ego clash, dan sisi rebel khas ABG dalam perjalanan penuh ambisi, realita, dan rock and roll.

The Reader: Keinesasih Hapsari Puteri

 

Telah mulai membaca komik sejak umur 4 tahun, komik memang selalu menjadi bagian penting dalam hidup Keinesasih Hapsari Puteri, seorang penulis komik yang berbasis di Jakarta. Ines, demikian ia bisa dipanggil, punya reputasi cukup tinggi di media sosial dan komunitas fandom karena passion dan aktivitasnya pada hal-hal yang dianggap “geeky” seperti video game, kultur Jepang, dan tentu saja, komik. Namanya semakin mencuat ketika bersama teman-teman sevisinya di awal 2014 lalu meluncurkan proyek Nusantaranger, sebuah serial webcomic tentang pasukan pembela kebenaran a la Power Rangers dengan muatan lokal yang kental. Dalam proyek yang diprakarsai oleh Shani Budi Pandita dan Tamalia Arundhina tersebut, Ines yang merupakan penggemar berat komikus Hiromu Arakawa (Fullmetal Alchemist) dan Brian K. Vaughan (Saga, Ex Machina, the Private Eye) berperan sebagai penulis cerita, sesuatu yang telah menjadi impian perempuan kelahiran 1988 tersebut sejak lama. Walau belum punya pengalaman menulis komik sama sekali, just like a duck to water, tulisannya diapresiasi positif oleh para pencinta komik dan hype yang diraih Nusantaranger turut menggairahkan kembali geliat komunitas komik lokal yang sempat lesu. Kini, di samping menyiapkan follow-up project bersama tim Nusantaranger, Ines disibukkan dengan menjadi pembicara di berbagai event komik, menulis cerita untuk sebuah studio game independen lokal dan sebuah project terbaru dengan judul God Complex. Kali ini, Ines pun menyempatkan diri menjawab beberapa pertanyaan sekaligus merekomendasikan beberapa judul graphic novel favoritnya dan menegaskan kembali jika siapapun boleh menikmati komik dengan bebas.

Hi Ines, sejak kapan mulai tertarik dengan komik? Masih ingat nggak komik apa saja yang paling berkesan bagimu saat kecil dulu?

Mungkin sama seperti banyak orang seumuran saya, komik-komik pertama saya adalah manga (komik Jepang) seperti Doraemon, Tekken Chinmi (Kung-Fu Boy), dan Sailor Moon. Saya juga suka komik Eropa seperti Asterix dan Spirou, tapi baru berkenalan dengan komik Amerika setelah mulai remaja karena peredarannya relatif jarang di Indonesia. Dulu, komik yang saya baca adalah apa pun yang dibawa pulang oleh kakak. Baru setelah masuk SD saya memilih komik yang saya baca sendiri. I used to burn all my allowance on comic rental shop, hahaha. Judul yang berkesan ada banyak sekali, tapi salah satu momen yang paling berkesan berhubungan dengan SHOOT! karya Tsukasa Ooshima. Satu adegan sedih di sana berhasil membuat saya yang waktu itu masih kelas 3 SD menangis tersedu-sedu di kasur dan menolak makan sampai orang tua saya bingung.

Komikus idolamu siapa saja, Nes?

Saya sangat mengidolakan Hiromu Arakawa, komikus sekaligus penulis Fullmetal Alchemist dan Gin no Saji (Silver Spoon). Ia memiliki fleksibilitas dan jangkauan tema yang mengagumkan—mulai dari genre aksi yang mengandung muatan filosofis sampai genre slice of life yang sarat bumbu komedi, semua bisa dieksekusi dengan baik dan selalu laku keras, yang berarti komiknya bisa diterima oleh kalangan luas. Saya juga mengidolakan Brian K. Vaughan (Saga, Ex Machina, the Private Eye). Komik-komik yang ia tulis selalu memiliki world building yang sangat imajinatif dan rapi, karakter yang mudah disukai, serta cerita yang menghibur dan kritis di saat yang sama. Selain itu dia juga sangat produktif!

Dari sekian banyak komik, apa judul yang membuatmu berpikir jika komik bukan sekadar bacaan anak-anak?

I’ve always known that the appeal of comic book is universal. Tapi kalau ada sebuah judul yang membuat saya berpikir, “Damn, komik ternyata bisa gini juga,” yang pertama adalah Monster karya Naoki Urasawa. Saya terbiasa membaca manga yang rata-rata sangat cartoonish dan hiperbolis, dan Monster sama sekali tidak seperti itu―it’s serious, mature, grim, and psychologically brutal.

Boleh cerita soal God Complex?

God Complex adalah sebuah IP (intellectual property) yang diciptakan oleh Bryan Lie dari GLITCH Network. Awalnya, karakter-karakter God Complex dirilis sebagai figurine saja, dan universe-nya ditulis oleh Bryan sebagai latar belakang mereka. Tapi, karena permintaan dari berbagai pihak, akhirnya GLITCH Network memutuskan untuk membuat komiknya. Kebetulan mereka membaca Nusantaranger, menyukainya, dan meminta saya untuk menulis ceritanya God Complex. Berbeda dari Nusantaranger dengan cerita kepahlawanannya yang sangat lugas dan cenderung aman untuk semua umur, God Complex akan lebih dewasa, kelam, dan sedikit bermain-main dengan filosofi. Komiknya juga ditulis dalam bahasa Inggris. Ceritanya bertempat di dunia di mana dewa-dewa yang selama ini hanya kita kenal dari mitologi betul-betul ada, namun mereka tidak lagi relevan dalam kehidupan manusia. I’m very excited and, honestly, a bit scared to see how people will react to this title. But mostly excited!

Secara singkat, bagaimana kamu melihat industri komik lokal saat ini?

Saya termasuk pendatang baru di dunia komik, jadi tidak bisa berbicara banyak. Tapi, yang saya lihat, industri komik ini antara ada dan tiada. Bisa dibilang ada karena banyak komikusnya dan rilisannya bisa ditemukan di toko-toko buku (walau tenggelam di lautan komik-komik terjemahan), tapi bisa juga dibilang tidak ada karena kondisi dan infrastrukturnya belum memadai. Jumlah penerbit komik bisa dihitung dengan jari. Jumlah editor yang mengerti bagaimana cara menyunting komik bahkan lebih sedikit lagi. Standar industri pun boleh dibilang tidak ada. Misalnya, berapa honor minimal untuk komikus amatir? Bagaimana dengan yang profesional? Ini juga diperparah dengan banyaknya komikus yang hanya mengerti bagaimana cara ngomik saja, tapi tidak paham atau bahkan malas mempelajari bisnis dan cara memasarkan karya. Setahu saya ini sudah berlangsung bertahun-tahun, dan sangat patut disayangkan mengingat dunia komik Indonesia tak kekurangan talenta hebat. Beberapa judul yang bisa dicek antara lain Pusaka Dewa karya Sweta Kartika yang juga ilustrator Nusantaranger dan Arigato Macaroni karya Erfan Fajar yang juga akan segera merilis Manungsa yang diprediksi akan menjadi hit di tahun ini. Keduanya bisa dibaca secara gratis di internet, just give them a google.

Sebagai perempuan, suka risih nggak kalau dicap sebagai comic geek? I mean, seperti ada dua kutub yang berbeda ketika bicara soal itu. Di satu sisi, banyak pria yang menganggap perempuan yang suka baca komik Marvel contohnya, itu keren, sampai jatuhnya seperti fetish atau sexualization tersendiri, tapi ada juga yang melihatnya negatif dengan melontarkan sexist remarks atau menuduh poser karena sekadar ikut-ikutan tren. What do you think?

Maaaaan, we fetishize everything and anything. Bagaimana lagi bisa ada akun Instagram yang berisi foto-foto laki-laki tampan sedang membaca buku—harus buku, tidak boleh tablet—di subway yang diambil diam-diam? Tidak penting apakah kamu betul-betul suka membaca atau buku apa yang kamu baca. Pokoknya kalau kamu ganteng dan kamu terlihat sedang membaca, kamu seksi. Begitu juga dengan komik. Cewek pembaca komik terlihat menarik karena mereka tidak sesuai dengan stereotipe pembaca komik pada umumnya. Apalagi kalau cantik, semakin terlihat eksotislah dia. Tapi saya rasa, karena komunitas pembaca komik adalah lingkungan yang sedikit “eksklusif” sebelum kesuksesan film-film superhero, beberapa anggotanya bereaksi tidak ramah terhadap orang yang terlihat berbeda dari “kalangan dalam” mereka. Misalnya, cewek yang baca komik kemudian dibilang ikut-ikutan atau poserwhich is weird because, shouldn’t they be happy if the stuff they love received wider recognition? Kalau mau dibahas terus, bisa panjang sekali jawabannya. Tapi yang jelas bagi saya kedua kutub ini sama tidak pentingnya. Membaca komik tidak membuatmu otomatis keren karena, let’s be honest, banyak juga komik yang jelek. Tertarik pada komik setelah menonton filmnya juga tidak membuatmu jadi poser, karena komik seharusnya bisa dibaca oleh siapa saja.

What’s the next project/plan?

Tahun ini masih konsentrasi ke God Complex dan follow-up project dari tim Nusantaranger. I’m still new in this so I’m taking my time to adjust with the pace of the industry, which can fluctuate a lot between the busy and slow days. Tapi mudah-mudahan tahun depan saya bisa mulai mengerjakan judul saya sendiri. Selama ini, komik-komik yang saya tulis seperti God Complex dan Nusantaranger selalu berasal dari gagasan orang lain, and I want to release something that’s meaningful to me and truly comes from within. Until then, I’m building my skills and confidence so I can come up with a story that I can really be proud of. Wish me luck!

INES’ GRAPHIC NOVEL RECOMMENDATIONS:

 ms_marvel_cover_a_p

Ms. Marvel

Story: G. Willow Wilson

Art: Adrian Alphona, Jacob Wyatt (#6-7), Elmo Bondoc (#12), Takeshi Miyazawa (#13-15)

Ketika pertama kali membaca Ms. Marvel, saya berpikir, “Finally, sebuah komik yang patut dibaca oleh cewek di mana pun tanpa terkecuali.” Kamala Khan a.k.a. the newest Ms. Marvel adalah protagonis perempuan yang paling relatable bagi saya sepanjang sejarah membaca komik. Sebagai remaja Muslim-Amerika keturunan Pakistan, Kamala tidak hanya bergulat dengan identitas gandanya sebagai superhero merangkap pelajar SMA, namun juga dengan keluarganya yang kolot dan kepercayaannya. Ms. Marvel bukanlah sekadar cerita superhero, namun juga cerita tentang remaja dan perjuangan mereka untuk “fit-in” dengan lingkungannya, sekaligus untuk menemukan jati diri mereka sendiri. Seandainya komik ini sudah ada saat saya SMA, mungkin saya akan merasa menemukan sosok sahabat dalam diri Kamala.

Monster

Monster

Story & art: Naoki Urasawa

Banyak orang menyebut Monster sebagai salah satu psychological thriller terbaik, dan mereka tidak melebih-lebihkan. Komik ini menceritakan perjalanan Dokter Kenzo Tenma yang dihantui rasa bersalah karena sembilan tahun lalu ia menyelamatkan nyawa seorang anak yang ternyata tumbuh menjadi psikopat paling berbahaya di Eropa. Johan Liebert, karakter antagonis dalam komik ini, mungkin adalah salah satu karakter antagonis paling berkarisma sekaligus membangkitkan bulu kuduk yang pernah ditulis. Jika Monster adalah kisah nyata, ibu-ibu di Jerman pasti akan menakut-nakuti anak mereka yang nakal dengan, “Awas nanti didatangi Johan Liebert.”

saga

Saga

Story: Brian K. Vaughan

Art: Fiona Staples

Bayangkan Romeo & Juliet bertemu Star Wars. A very trippy, psychedelic Star Wars. Cerita utama Saga memang sangat sederhana—dua orang dari ras yang saling bermusuhan saling jatuh cinta dan menjadi buronan di seluruh galaksi karena anak mereka dianggap sebagai simbol persekutuan yang tabu—namun Brian K Vaughan dan Fiona Staples berhasil mengemasnya menjadi bacaan yang sangat menghibur berkat desain karakter yang super keren, dialog cerdas, serta dunia yang tak kurang dari ajaib. Kalau kamu jeli, kamu juga bisa menjumpai sentilan-sentilan berbau kritik sosial yang menggelitik di sana-sini, yang merupakan ciri khas setiap komik karya BKV.

Bakuman

Bakuman

Story: Tsugumi Ohba

Art: Takeshi Obata

Bagi yang menyukai komik, khususnya manga, Bakuman adalah bacaan yang tidak boleh dilewatkan. Komik ini membeberkan cara kerja dan infrastruktur industri komik Jepang dan seberapa keras persaingan yang harus dihadapi para mangaka (komikus) sekadar untuk mempertahankan karier mereka dengan cara yang ringan dan mudah dimengerti. Penggemar karya duet Ohba-Obata sebelumnya, Death Note, juga mungkin akan terhibur karena mereka banyak menyelipkan curhat colongan tentang Death Note ke dalam Bakuman. Pokoknya, setelah membaca Bakuman, saya jadi jauh lebih menghargai manga dan para mangaka, serta makin iri pada industri mereka.

CIVWAR_CVRS.indd

Civil War

Story: Mark Millar

Art: Steve McNiven

Sebuah reality show yang dibintangi beberapa superhero kurang berpengalaman mengalami kecelakaan yang menewaskan ratusan korban sipil. Masyarakat Amerika pun mulai resah dan menuntut para superhero untuk mendaftarkan diri di bawah pengawasan pemerintah. Tuntutan ini melahirkan Superhuman Registration Act yang memecah para superhero menjadi dua kubu, yaitu pro-registrasi yang dipimpin oleh Iron Man dan anti-registrasi yang dipimpin oleh Captain America. Mengingat film Captain America: Civil War akan dirilis bulan Mei tahun depan, kamu mungkin ingin segera membaca seri ini, terutama jika kamu ingin punya geek cred di hadapan teman-teman setelah menonton filmnya. Selain itu, Civil War juga bisa jadi entry point bagi kamu yang baru ingin membaca komik-komik Marvel, karena ada banyak hero yang terlibat dalam cerita ini.

fullmetal

Fullmetal Alchemist

Story & art: Hiromu Arakawa

Sebuah kegagalan ritual alkimia mengakibatkan Edward Elric kehilangan tangan kanan dan kaki kirinya, sementara adiknya, Alphonse, kehilangan seluruh tubuhnya dan hanya hidup sebagai roh yang melekat pada sebuah baju zirah raksasa. Fullmetal Alchemist menceritakan perjalanan kakak-beradik ini untuk mengembalikan tubuh mereka seperti sedia kala. Serial ini adalah bukti bahwa komik remaja tidak harus selalu dangkal atau simplistis. Mulai dari filosofi “equivalent exchange” yang dapat diaplikasikan pada alkimia sekaligus dalam kehidupan, world building yang kompleks, drama yang menyentuh, hingga karakter yang membuat pembaca jatuh hati, semua dapat diramu dengan baik, dengan penyampaian yang ringan dan penuh bumbu komedi. Ending-nya pun terbilang sempurna—sesuatu yang jarang dimiliki serial manga lain. Untuk alasan-alasan ini, saya berani bilang bahwa FMA adalah salah satu manga terbaik yang pernah ada.

Ghosted

Ghosted

Story: Joshua Williamson

Art: Goran Sudzuka

Kalau kamu penggemar genre heist dan horor sekaligus, bergembiralah. Dalam Ghosted, kamu akan diperkenalkan dengan Jackson T. Winters, seorang pencuri handal sekaliber Danny Ocean, yang dihantui trauma setelah seluruh krunya tewas secara aneh dan brutal saat hendak membobol sebuah kasino. Winters mengira kariernya sebagai pencuri sudah tamat saat tiba-tiba seorang miliuner eksentrik membebaskannya dari penjara dan memintanya mencuri hantu dari sebuah mansion angker. Jika sinopsis ini terdengar edan, maka kamu sudah mendapat gambaran yang tepat tentang Ghosted. Selain ceritanya, hal terbaik dari serial ini adalah Jackson Winters sendiri. You will hate to love him, and you will love to hate him. Atau, jika kamu—seperti saya—memiliki soft spot untuk karakter antihero dengan masa lalu kelam, kamu akan jatuh cinta habis-habisan pada Winters.

The Wicked

The Wicked + The Divine

Story: Kieron Gillen

Art: Jamie McKelvie

Bagi beberapa fanboy dan fangirl di luar sana, status idola mereka mungkin sudah mendekati nabi atau dewa-dewi. Tapi bagaimana jika para rockstar ini memang dewa-dewi dalam arti sesungguhnya? Dalam dunia The Wicked + The Divine, setiap sembilan puluh tahun sekali, dua belas makhluk ilahi mewujud dalam diri manusia-manusia muda. Mereka akan menjadi pujaan dan sumber inspirasi manusia selama dua tahun untuk kemudian menghilang, dan kembali lagi sembilan puluh tahun mendatang. The Wicked + The Divine adalah renungan yang menarik tentang pop culture, industri budaya, dan spiritualisme. Namun, yang lebih penting, serial ini adalah bacaan yang sangat menghibur.

All You Need Is Kill

All You Need is Kill

Story: Sakurazuka Hiroshi

Art: Takeshi Obata

Keiji Kiriya adalah seorang prajurit biasa yang direkrut untuk berperang melawan alien Mimics yang menyerang umat manusia. Namun, setiap kali Keiji tewas di medan perang, ia akan terbangun di pagi hari yang sama, menjalani rutinitas yang sama, berperang, tewas, begitu terus berulang-ulang. Satu-satunya petunjuk bagi Keiji untuk keluar dari loop tersebut adalah Rita Vrataski, prajurit terbaik umat manusia yang dijuluki Full Metal Bitch. Jika plot All You Need is Kill terdengar familiar, itu karena manga ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Hiroshi Sakurazaka, yang juga sudah diadaptasi ke dalam film layar lebar berjudul Edge of Tomorrow, dibintangi Tom Cruise dan Emily Blunt. The manga is as fast-paced as the movie, and is equally entertaining. And Takeshi Obata deserves to be in this list twice because his art is that good.

As published in NYLON Indonesia August 2015 

Film Strip: Filosofi Kopi the Movie

FilKopIt’s not rocket science, it’s just coffee.”

Begitu yang melintas di kepala saya setiap melihat para pencinta kopi yang dengan sangat antusias membicarakan soal rasa biji-biji kopi dari berbagai negara, teknik membuat kopi, sejarah kopi, dan hal-hal lain yang beraroma kopi. Saya bisa mengerti its about passion, namun kopi bagi saya hanya sebuah minuman, yang sayangnya tidak bisa saya nikmati. Saya telah mencicipi beberapa macam kopi dalam hidup saya, obviously, namun tidak pernah mengerti apa yang membuat kopi tertentu dianggap lebih hebat dari kopi lainnya. Yang saya rasakan hanya rasa pahit dan jantung berdebar (yup, it’s turn out that my body couldn’t handle caffeine). So, saya dan kopi memang seperti tidak ditakdirkan untuk berjodoh, which is a shame, karena saya hidup di tengah coffee culture yang sedang harum-harumnya saat ini.
Mungkin ungkapan di atas muncul tanpa sadar, karena sebagai “outsider”, saya tak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa begitu passionate dalam soal kopi dan universe di dalamnya. Namun, kini saya punya sedikit celah untuk mencoba memahami filosofi di balik kopi. Celah itu bernama Filosofi Kopi, sebuah film yang diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Dee Lestari. Diproduksi oleh Visinema Pictures dan Kopi Torabika, film ini disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang baru saja meraih penghargaan Film Terbaik di FFI 2014 untuk filmnya Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, sebuah film yang juga menjadi breakthrough career untuk Chicco Jerikho dalam dunia akting dan menganugerahinya Pemeran Utama Pria Terbaik di ajang yang sama.
Maka tak heran jika Angga kembali menggandeng Chicco untuk menjadi salah satu pemeran utama di film terbarunya ini lewat peran Ben, seorang barista di coffee shop bernama Filosofi Kopi yang dirintis bersama sahabatnya sejak kecil, Jody (Rio Dewanto). Bila diibaratkan, Jody adalah kepala yang harus memikirkan bagaimana kedai kopinya bisa terus survive dan beroperasi secara finansial, sementara Ben adalah hati yang membawa nyawa di Filosofi Kopi dengan passion obsesifnya terhadap kopi (“Gue gak pernah bercanda soal kopi” menjadi semacam tagline bagi barista yang percaya setiap jenis kopi memiliki filosofinya tersendiri itu). Kedua sahabat karib yang sudah seperti kakak-adik itu tengah mengalami masalah pelik. Almarhum ayah Jody yang juga membesarkan Ben dari kecil meninggalkan hutang sebanyak 800 juta dan debt collector yang mengintai. Di tengah keadaan yang nyaris putus asa, peluang emas jatuh dari langit ketika seorang pengusaha dan asistennya yang cantik (Tara Basro) datang ke Filosofi Kopi dengan satu tantangan: meracik kopi yang bisa membuat si pengusaha memenangkan tender dari kliennya yang merupakan pencinta berat kopi. Walaupun awalnya hanya menanggapi setengah hati, atas desakan Jody, Ben pun bersedia ikut dalam tantangan itu demi Filosofi Kopi. Ia mulai bereksperimen dengan berbagai macam biji kopi dan teknik pembuatannya, hingga lahirlah Perfecto, sebuah kopi yang kemudian menjadi signature coffee di Filosofi Kopi dan disebut sebagai kopi paling enak di Jakarta, bahkan di Indonesia.

FIlKopiSemuanya terasa melegakan, sampai akhirnya datanglah El (Julie Estelle), seorang Q Grader bersertifikat internasional yang sedang menulis buku tentang kopi di Indonesia. Kepercayaan diri dan gengsi Ben sebagai seorang barista goyah ketika El secara innocent berkata jika masih ada yang lebih enak dari Perfecto buatannya. Kopi Tiwus yang dimaksud El adalah kopi yang diracik secara sederhana di kebun kopi milik Pak Seno (Slamet Rahardjo) dan Bu Seno (Jajang C. Noer), yang kemudian menjadi pilihan terakhir bagi semua permasalahan di Filosofi Kopi sekaligus menjadi jawaban untuk pertanyaan dan trauma masa kecil yang dicoba untuk dikubur dalam-dalam.
Dengan durasi yang cukup lama (117 menit), film ini untungnya tidak terasa membosankan. Chemistry di antara pemain, khususnya Rio dan Chicco membuat keduanya terlihat seperti sahabat yang memang telah berteman sejak kecil. Begitupun dengan peran-peran kecil seperti Joko Anwar sebagai debt collector dan Tara Basro (kita seakan melihat teaser dari film terbaru Joko yang dibintangi Chicco dan Tara). Angga sebagai sutradara tak lupa menyajikan visual khasnya yang indah, tak hanya berupa lanskap pemandangan yang diiringi soundtrack yang menarik, tapi juga, close up pada proses pembuatan kopi yang seakan membuat kita bisa turut merasakan panasnya uap dan harumnya biji kopi yang sedang dimasak. Secara alur, semua jawaban akan pertanyaan yang muncul di benak penonton bisa dijawab tanpa tergesa. Pun beberapa adegan yang sukses memancing air mata saya untuk keluar, bisa dipaparkan tanpa dramatisasi berlebihan. Saya jujur saja, belum pernah membaca cerpen aslinya, sehingga saya datang menonton tanpa membawa ekspektasi apapun dan tak mengetahui sejauh apa adaptasi yang ditulis oleh Jenny Jusuf sebagai penulis skenario film ini. Namun di penghujung hari, Filosofi Kopi terasa seperti menyesap sesuatu yang hangat dan menimbulkan kerinduan akan sosok keluarga, selayaknya kopi itu sendiri.

Apakah setelah menonton film ini saya akan mencoba meminum kopi lagi? Well maybe. Tapi untuk sekarang saya hanya ingin menyimpulkan:

For some people, its not just about coffee, its a way of life.”

Film Strip: Fatal Frame & Parasyte

Beberapa pekan terakhir ini saya berkesempatan menonton dua film asal Jepang yang dibawa oleh Moxienotion ke Indonesia. Keduanya merupakan live action dari game maupun manga yang sudah terkenal. Berikut adalah catatan kecil saya tentang keduanya.

Fatal FrameFatal Frame (Gekijoban: Zero)

Sutradara: Mari Asato.

Diangkat berdasarkan novel karya Eiji Otsuka, Fatal Frame telah lebih dulu dikenal sebagai seri game mystery supernatural ikonik dengan plot seorang gadis remaja Jepang yang menggunakan sebuah camera obscura untuk menghadapi hantu dan memecahkan kejadian misteri. Disebut sebagai salah satu game horror terbaik berkat storytelling yang brilian dan sinematografi yang kuat, game Fatal Frame kental akan misteri, suspense, dan teka-teki yang akan membuatmu penasaran dan tersedot dalam alur ceritanya. Unsur itu pula yang terasa dalam film adaptasi garapan sutradara Mari Asato ini.
Berlatar sekolah Katolik khusus perempuan di sebuah bukit di daerah pedesaan Jepang yang dipenuhi gadis-gadis sekolah berpakaian seragam hitam dan desas-desus tentang sebuah ritual serta kutukan yang hanya menimpa anak gadis, Fatal Frame menceritakan tentang Aya (diperankan oleh model remaja Ayami Nakajo), seorang gadis cantik bersuara indah yang dihantui bayangan seorang gadis mirip dirinya yang tenggelam dalam air dan memohon untuk dibebaskan dari kutukan yang menimpanya. Gadis yang populer dan memiliki banyak pengagum ini pun mengurung diri di kamarnya dan membuat teman-temannya cemas. Kejadian aneh mulai muncul ketika seorang siswi bernama Kasumi (Kasumi Yamaya) melakukan ritual tengah malam dengan mencium foto wajah Aya dan menghilang tanpa jejak ketika berjalan di hutan bersama temannya, Michi (Aoi Morikawa). Michi, gadis penggemar fotografi tersebut menemukan foto Aya di kamar Kasumi dan mulai dihantui oleh sosok mirip Aya yang memohon dibebaskan dari kutukannya. Tak butuh waktu lama, kutukan tersebut menyebar ke seluruh sekolah dan semakin banyak siswi yang menghilang dan ditemukan meninggal di sungai seperti lukisan Ophelia karya John Everett Millais yang tergantung di ruangan suster kepala. Bertekad untuk mencegah lebih banyak korban, Aya pun keluar dari kamar dan mengajak Michi untuk bersama menyelidiki misteri tentang sesosok arwah yang menyerupai dirinya dan rahasia gelap yang tersimpan di balik dinding sekolah tersebut.

FatalFrame2
Film ini sendiri memang menyajikan cerita tentang ritual, exorcism, dan pembunuhan yang menjadi tema besar dari serial game Fatal Frame, namun kamu tak akan menemukan adegan penuh darah atau penampakan yang akan membuatmu terlonjak dari kursi. Sutradara Mari Asato menghadirkan atmosfer creepy lewat kamera film 16mm dan tensi cerita yang dibangun oleh suasana kelam di sudut-sudut sekolah merangkap katedral, hutan berpohon tinggi, danau penuh teratai, dan jalanan kota kecil. You can almost feel the eerie chill, bahkan di adegan siang bolong sekalipun. Tanpa adanya keterangan tentang latar waktu dan tempat yang spesifik, nuansa klasik dan konservatif di film ini pun mengaburkan batas antara realita dan fantasi. Lebih dari sebuah cerita horror, dengan banyak referensi dan simbol yang terkandung dalam setiap detailnya, Fatal Frame juga mengusung tema besar tentang cinta terlarang dan coming of age story tentang fase dari gadis remaja yang menuju kedewasaan. Ethereal dan delicate seperti The Virgin Suicides bertemu dengan The Crucible, film ini dengan anggun menghadirkan plot misteri berkualitas dan narasi visual yang cantik.

parasyteParasyte: Part 1 (Kiseiju)

Sutradara: Takashi Yamazaki.

Film Jepang garapan Takashi Yamazaki ini diangkat dari serial manga horror sci-fi legendaris berjudul sama karya Hitoshi Iiwaki. Bercerita tentang invasi entitas misterius yang muncul dari dalam laut dan secara serentak mulai melakukan rencana mereka menguasai dunia dengan cara mengambil alih tubuh manusia sebagai host. Salah satu parasit tersebut tiba di kamar seorang anak SMA bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) dan berusaha masuk ke lubang telinganya saat ia tertidur. Lucky for him, dia sedang memakai earphone. Parasit berbentuk seperti cacing itu pun berusaha masuk melalui hidung Shinichi namun lagi-lagi gagal karena ia terbangun dan melakukan perlawanan sebelum akhirnya parasit itu menembus telapak tangan kanannya dan berdiam di situ.
Awalnya Shinichi merasa tidak ada yang aneh selain tangan kanannya yang mati rasa, namun perlahan tangan kanannya mulai bergerak dengan sendirinya. Next thing he know, tangan kanannya bisa memanjang dan berubah bentuk dengan sendirinya, sebelum akhirnya muncul bola mata dan mulut yang memperkenalkan dirinya sebagai parasit. Parasit yang kemudian dipanggil dengan nama Migi (tangan kanan) ini pun berdialog dengan Shinichi dan menunjukkan rasa haus akan ilmu pengetahuan dan apapun yang menyangkut tentang spesies manusia. Sementara itu di berbagai tempat lain, parasit yang berhasil mengambil alih otak host-nya mulai meneror manusia dengan cara memakan manusia lain sebagai sumber nutrisi dan menjalankan misi untuk menghapus umat manusia dari bumi ini sebagai reaksi dari kerusakan alam. Beberapa dari parasit tersebut yang lebih pintar mulai beradaptasi dengan cara menyamar sebagai bagian dari masyarakat. Mulai dari polisi, murid sekolah, politikus, dan salah satunya menjadi guru di sekolah Shinichi. Parasit yang mengambil alih tubuh seorang wanita bernama Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) tertarik kepada anomali simbiosis antara Shinichi dan Migi. Pertemuan dengan Ryoko membuahkan rentetan peristiwa yang memaksa Shinichi dan Migi untuk bekerjasama bertahan hidup dari serangan Parasyte lain dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh Shinichi dan orang-orang terdekatnya sebelum akhirnya bereskalasi menjadi perang antara alien dan manusia.
Terlepas dari premis invasi alien dan body snatcher horror, film ini sendiri menawarkan visual sinema Jepang yang subtle dan akting mengesankan dari para pemainnya. Secara halus, sang sutradara berhasil menunjukkan transisi dari adegan sekolahan yang hangat berbumbu light comedy menuju thriller yang semakin gory dan kelam dengan tema seperti degadrasi lingkungan dan family dissolution. Semuanya dilengkapi oleh adegan laga dengan efek CGI yang smooth dan beberapa kali membuat saya menahan napas atau berdecak kagum. Film ini sendiri adalah bagian pertama yang akan dilanjutkan bagian kedua yang akan dirilis April nanti di Jepang. One thing for sure, you don’t have to read the manga beforehand to enjoy this movie, saya merekomendasikan film ini untuk yang suka pada film-film seperti The Faculty dan The Host.

Parasyte2

Book Club: The Murmur House, A Murmuration of Frolicking Young Writers.

Murmur
Looking through the personal blogs and indie zines, Indonesia sepertinya telah memiliki regenerasi penulis mudanya sendiri secara natural. Namun, di samping mereka yang berhasil meraih kontrak penerbitan buku, masih banyak juga penulis muda yang seakan tidak punya outlet untuk menampilkan karya mereka dan cenderung berjuang sendirian. Hal tersebut yang kemudian mendorong dua penulis muda Rain Chudori dan Syarafina Vidyadhana untuk membuat Murmur House, sebuah wadah bagi para penulis muda untuk berkumpul dan berkembang bersama melalui jurnal literatur kolaboratif. Selain merilis jurnal literatur, dalam peluncuran setiap edisi mereka juga menggelar event bertajuk Murmuration di mana para pencinta literatur bisa berkumpul untuk menikmati impromptu reading dan acoustic performance. Klub membaca adalah rencana mereka selanjutnya, namun untuk sekarang let’s have some chat with these two charming young ladies.

Hi Rain and Avi, how are you? Boleh cerita bagaimana kalian bertemu dan akhirnya tercetus ide untuk bikin project bareng ini?
Rain: We met one afternoon for tea and to talk about our two favorite things, love and literature. Somewhere amongst that, had an idea of creating a project that made by young writers for young writers.
Avi: It was December last year. Rain happened to be in my campus, waiting for her friend to finish some errands and I happened to be a little frustrated from writing my final paper. So we kept each other company and talked about boys and books. It was really fun, and so before we parted that day we thought how wonderful it’d be if we could share the warmth with more people with passion alike.

What’s the story behind the name?
Rain: There are two meanings behind our name. The first, “murmur” means “to speak softly”. The second, “murmuration” means the migration of a flock of starlings that are synchronous and constant.
Avi: ‘Murmuration’ itu suatu fenomena yang menurut gue indah banget. Starlings ketika terbang sinkron dan sangat peka terhadap satu sama lain, sehingga jika ada satu yang berubah, yang lain langsung adaptasi. Di kelompok mereka juga nggak ada yang mendominasi. Oleh karena itu, kita mencoba untuk menerapkan hal yang sama di The Murmur House. Istilahnya, itu kami jadikan filosofi dalam merawat rumah kami.

avi
What’s the main idea when you start this project?
Rain: We wanted to create a home for young writers to gather and grow with each other through a collaborative literary journal. We also hope to foster our home by hosting events such as Murmuration (the launch of each literary journal), and soon, reading clubs.
Avi: idem!

Apa pengalaman menyenangkan saat kalian menyusun Murmur edisi pertama?
Rain: It was exciting to see the participation of writers and to know that we were all interacting in the hopes of creating something beautiful together.
Avi: Selain yang Rain sudah utarakan, ya paling ke percetakan sih. Jauh kan tuh, tapi kami nggak nyasar. Bangga banget lah nggak nyasar. Karena biasanya kalau pergi jauh gue nyasar mulu. Oiya, paling sama proses editing dan ketika kami bisa lihat interpretasi ilustrator/fotografer terhadap karya tulis pada jurnal kami. Kagum aja sama mereka.

Apa yang menjadi pertimbangan kalian dalam memilih konten karya yang akan masuk?
Rain: Our editorial team discusses each piece and goes through a process of workshopping the pieces with the writers and translators.
Avi: Untuk edisi pertama, kami memang menyeleksi secara tertutup penulis-penulisnya. Sebetulnya tidak ada kualifikasi khusus, kami melihat potensi dari tulisan-tulisan mereka sebelumnya di blog maupun media lain, lalu kami ajak mereka untuk berkolaborasi. Setelah kami jelaskan tema pertama jurnal kami, yaitu “welcome to warmth”, mereka lalu menulis puisi, prosa atau essay sesuai dengan interpretasi mereka terhadap tema tersebut. Untuk ke depannya, kami menerima submission dari mana saja, yang tentunya akan kami seleksi bersama para editor dan translator.

rain
How about the Murmuration? Tell me about it, kalian baru saja menggelar Murmuration pertama, how does it go?
Rain: The first Murmuration was quite full and there were a lot of enthusiastic performers, both who are part of Murmur and impromptu ones. It was heartening to find that there is a large amount of enthusiasm for literature.
Avi: Menggembirakan sekali, khususnya karena banyak yang membaca secara impromptu. Tadinya sempat khawatir acaranya akan dianggap menjemukan. But everyone seemed to be having a good time! (At least I was.)

 Have you guys thinking to go online as well?
Rain: There’s a lot of perks in having online content and we have thought of doing so. We are trying to publish the literary journal in print because we love the feel of a physical copy.
Avi: Setuju sama Rain. Ini pretensius banget sih, tapi ya emang belum ada yang bisa ngalahin wanginya kertas krem buku.

Do you have any favorite figure from literature scene?
Rain: From Indonesia, my mother, Leila Chudori. From outside of Indonesia, Sylvia Plath.
Avi: This is one tough question. Kalau penulis Indonesia, Umar Kayam deh. Penulis luar negeri sekarang lagi suka sama Alissa Nutting, cuz Tampa is hilarious.

What literature means for both of you?
Rain: A pure attempt to live.
Avi: I know it won’t save the world, but it might just enlighten its people. Or at least move some hearts.

Bagaimana kalian melihat literature scene di Indonesia saat ini, terutama di kalangan anak mudanya?
Rain: We see a lot of developing young writers, but as young writers ourselves, there is not a lot of outlet for us, especially for fiction writers. This can be quite dispiriting. We hope that The Murmur House can be one, out of many, places where young writers can bloom.
Avi: Nah, iya gitu. Makanya kita bangun The Murmur House, biar nggak saling terpencar dan kesepian.

Spoil some secret for your second issue, what’s the theme dan bagaimana caranya bisa berkontribusi?
Rain: The theme is “Love and Other Drugs”. We intend to find short stories, poetry, proses, plays, and essays on addiction.
Avi: Caranya mudah kok, kirimkan aja tulisan yang (menurut penulisnya) cocok dengan tema ke submit@themurmurhouse.com, jangan lupa sertakan foto dan bio singkat!

opsub
What’s the next plan for Murmur House?
Rain: We hope to continue publishing our literary journal and launching them in our Murmurations. We also hope to establish a reading club that will meet and discuss books once in every two-three months.
Avi: More gatherings! We’d love to make a habit out of reading aloud in public!

http://www.themurmurhouse.com/

The photos by Bintang Adamas and Devi Merakati.

order

Book Club: Gelombang, Kepingan Terbaru Saga Supernova

Gelombang

Dewi Lestari menyeretmu lebih dalam lagi ke dunia Supernova lewat kepingan terbarunya, Gelombang.

Sebagai natural-born bookworm (or at least self-proclaimed) yang tak pernah absen membaca sejak bisa mulai merangkai huruf menjadi kalimat, buku fiksi bagi saya adalah sebuah hiburan, guru, dan terutama eskapisme. Walau sejujurnya, saya hanya punya dua serial fiksi yang benar-benar meninggalkan jejak dalam hidup saya. Yang pertama adalah serial Harry Potter karya J. K. Rowling dan yang kedua adalah serial Supernova karya Dewi “Dee” Lestari. Keduanya adalah serial yang seakan ikut “tumbuh” menemani proses saya beranjak dewasa sampai sekarang. Kali ini saya ingin berbicara tentang Supernova yang masih saya akui sebagai buku berbahasa Indonesia terfavorit saya. Tidak hanya karena saya belajar banyak hal darinya, setiap buku Supernova entah kenapa selalu datang di saat yang tepat dan beresonansi pada titik kehidupan yang sedang saya jalani.

Awal perkenalan saya dengan Supernova dimulai dari buku pertama, Supernova: Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh (KPBJ) yang dirilis tahun 2001 ketika saya masih duduk di bangku SMP. Teman sekelas saya membawanya ke sekolah lalu saya iseng meminjamnya dan baru mengetahui jika Dee sang penulis ternyata Dewi Lestari dari trio pop Rida Sita Dewi yang terkenal di medio 90-an. Sampulnya sekilas mengingatkan saya pada buku pelajaran fisika dan melihat isinya saya tercengang dengan banyaknya footnotes berisi istilah-istilah ilmiah dan teori antah berantah yang belum pernah saya baca sebelumnya. Its a little bit off-putting awalnya karena saya lumayan alergi pada pelajaran IPA tapi toh saya bosan di kelas dan mulai membacanya. Di rumah, saya menuntaskan buku pinjaman itu. Jujur, saat itu saya beberapa kali saya melewatkan bagian perdebatan intelektual Dimas-Reuben dan lebih fokus pada cerita Diva-Ferre-Rana. KPBJ keluar di tengah berkembangnya computer culture di Indonesia, ketika internet sudah semakin umum, termasuk hal-hal seperti bulletin board, hacker, The Matrix, chat room dan sebagainya yang menjadi obsesi baru remaja Indonesia, termasuk saya. Satu hal lagi yang membuat novel ini berkesan adalah penggambaran same-sex relationship di antara Reuben-Dimas yang tidak terjebak pada dinamika cliche dan stereotyping. Satu hal yang cukup personal bagi saya saat itu.

Tak lama KPBJ keluar, muncul sekuelnya yang bertajuk Akar di tahun 2001, namun waktu itu saya sama sekali tidak aware dengan kehadiran buku kedua ini sebelum menonton infotainment yang mengabarkan kontroversi yang menyelimuti kelahirannya. Waktu itu saya sama sekali tidak tergerak untuk membaca, apalagi datang ke toko buku untuk membelinya. Tapi lagi-lagi, universe seperti sengaja menyuguhkannya di depan mata saya begitu saja. Saya membacanya dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2004. Saat itu saya sedang libur semester kelas tiga SMA dan menginap di rumah ipar saya. Bosan main game, saya mulai mengecek lemari buku di lantai atas. Ada beberapa novel dan banyak komik Marvel, tapi mata saya tertumbuk pada Akar edisi cetakan pertama dengan simbol ohm masih tertera di sampul. Lagi-lagi out of boredom, saya mengambilnya dan mulai membaca. Di halaman-halaman awal saya masih merasa buku ini murni lanjutan buku pertama, sebelum tiba-tiba saya diperkenalkan dengan tokoh Bodhi dengan segala keunikan dikotomi dan perjalanan lintas negaranya. Narasi di buku ini berjalan lebih linear dan tidak ada timbunan istilah rumit sehingga saya menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Saya terpesona dan menemukan impian baru untuk backpacking (yang belum juga dilakukan sampai saat ini) and basically keinginan untuk keluar dari zona nyaman saya.

Seperti sudah direncanakan, hanya beberapa hari sejak membaca Akar, saya menemukan review tentang Petir, buku ketiga Supernova di sebuah majalah. Hari pertama kembali ke sekolah, saya mampir ke toko buku untuk membeli Petir. Dan lagi-lagi saya tersengat oleh keandalan Dee dalam bercerita. Jika KPBJ adalah perkenalan pertama yang berlangsung acuh tak acuh, maka Akar adalah pertemuan kedua yang memesona, namun baru di Petir akhirnya saya menyadari telah jatuh cinta seutuhnya dengan serial ini. Petir memiliki formula yang sama dengan Akar. Dibuka oleh bab (kepingan) yang berkaitan langsung dengan KPBJ sebelum kita berfokus pada satu karakter baru, yaitu Elektra, gadis dengan obsesi pada petir dan memiliki kemampuan menyembuhkan lewat energi listrik alami pada tubuhnya. Yang menarik, gaya bahasa di Petir bahkan jauh lebih ringan lagi, penuh humor, dan terasa santai seperti atmosfer Bandung yang menjadi latar cerita di buku ini. Di titik ini saya pun baru mengetahui masih akan ada dua buku Supernova lagi yang akan berjudul Partikel dan Gelombang yang memiliki satu tokoh sentral utama, serta Intelegensi Embun Pagi yang akan mempertemukan mereka semua dan menjadi pamungkas cerita.

Selepas Petir, para penggemar Supernova dihadapkan pada penantian panjang yang seakan tanpa akhir untuk menikmati sekuelnya, Partikel. Saya baca Petir ketika sedang belajar serius untuk SPMB, tapi bahkan sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja, Partikel tidak kunjung datang. Penantian itu terjawab di tahun 2012. Delapan tahun lamanya. Bayangkan bagaimana riuhnya respons para penikmat Supernova, terutama karena Partikel hadir di era social media, khususnya Twitter. Antisipasi untuk buku keempat ini hampir tidak bisa dibendung hingga akhirnya 13 April 2012, jam 4:44 sore, Partikel muncul di toko buku dan hal yang saya pikirkan hari itu adalah secepat mungkin ke toko buku untuk membelinya. It was almost emotional dan saya ingat betul rasanya merinding melihat buku itu langsung di depan mata. Partikel mengisahkan Zahra, gadis keluarga Muslim dari Bogor dengan mata jeli yang menangkap hal-hal yang sering luput dari orang awam, secara literal oleh profesinya sebagai fotografer wild life, maupun hal-hal yang lebih bersifat transcendental. Partikel adalah buku yang membuat saya bertanya-tanya tentang alam semesta, konsep agama, dan melihat hal-hal sekitar dengan cara yang berbeda, baik dengan bantuan enteogen maupun tidak. Personally, Partikel adalah buku Supernova yang paling relate untuk saya, so far.

Dalam sebuah email interview yang saya lakukan bersama Dee tentang Partikel, beliau memberi tahu saya jika fokus berikutnya adalah menyelesaikan Gelombang. Dan karena itu tak mengherankan jika Gelombang bisa hadir dalam waktu yang tak terlalu lama dari Partikel. Buku kelima ini hadir tanggal 17 Oktober lalu, namun saya baru membelinya dua hari lalu dan selesai membacanya kemarin. Entah kenapa saya merasa tak ingin terburu-buru membelinya, namun seperti arus pasang, saya terseret Gelombang sejak halaman-halaman awal. Saya tahu jika tokoh utama buku ini adalah Alfa dan selalu membayangkannya sebagai seorang geek yang mungkin ada kaitannya dengan fisika dan beragama Hindu (totally random bet, karena merasa setiap tokoh akan memiliki agama yang berbeda). Saya tak tahu bagaimana setting cerita buku ini karena saya menghindari spoiler di socmed dan bahkan sengaja tidak membaca sinopsis di balik sampulnya saat akhirnya membeli buku ini. Saya ingin mengenal Alfa tanpa pretensi. Tapi, sejak pertama saya tahu jika Alfa ternyata berdarah Batak tulen, langsung terbersit pikiran “Oh wait…. jangan bilang kalau namanya sebenarnya Thomas Alfa Edison…” dan saya secara spontan terkekeh sendirian karena intuisi saya benar.

Yup, Alfa adalah Thomas Alfa Edison Sagala yang lebih akrab dipanggil “Ichon”, anak bungsu keluarga Sagala dari Sianjur Mula-Mula, sebuah kampung di Samosir, Sumatera Utara yang dipercaya sebagai asal muasal lahirnya suku Batak dan masih menganut agama tradisional yang disebut Parmalim. Bermula dari sebuah upacara pemanggilan roh leluhur, kehidupan Ichon si bocah penggemar serial Kho Ping Hoo berubah dengan hadirnya mimpi yang sama berulang-ulang dan kehadiran makhluk gaib misterius bernama Si Jaga Portibi yang seakan mengintainya. Keanehan tersebut ditangkap oleh dua orang dukun yang ingin memperebutkan Ichon sebagai murid, menyisakan Ichon di persimpangan keputusan dan hampir kehilangan nyawanya untuk itu. Insiden yang membuat keluarga mereka memutuskan merantau ke Jakarta, walau tak lama setelahnya Ichon pun pergi lebih jauh lagi ke belahan dunia lain sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Dihantui mimpi buruk yang sama setiap harinya, Ichon alias Alfa alias Alfie belajar mempertahankan diri dengan menahan tidur. Dan dengan kecerdasan alami, keuletan, serta waktu belajar ekstra dari teman-teman sebayanya, ia berhasil mendapat beasiswa penuh di kampus Ivy League sekaligus selamat dari kehidupan imigran gelap yang penuh risiko deportasi dan lingkungan yang dikuasai gang kriminal. Nasib menghempaskan Alfa pada Wall Street, salah satu surga dan neraka dunia dalam arti sesungguhnya, di mana ia meraih sukses sebagai hot-shot trader, gitaris berbakat, sekaligus full-blown insomniac di saat yang sama. Tertidur lelap sama artinya dengan meregang nyawa baginya, karena secara tak sadar ia memiliki suicide program ketika tertidur. Pertemuan dengan seorang gadis luar biasa cantik di sebuah klub rahasia yang membuatnya terbablas tidur dan nyaris mati, mempertemukannya dengan Dr. Nicky dan Dr. Colin dari Somniverse, sebuah pusat kajian yang berfokus pada masalah tidur, mulai dari insomnia, gangguan tidur, mimpi, hingga lucid dream. Perlahan tabir mulai terbuka dengan sendirinya, mengantarkan Alfa ke Tibet untuk menemukan jawaban dari segala mimpinya dan belajar memercayai instingnya sekali lagi.

Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapat dari buku-buku Supernova, dalam Gelombang, hal itu adalah mekanisme mimpi, lucid dream, dan kosmologi Batak yang mengagumkan. Gaya penulisan Dee sendiri dalam buku ini terasa sangat fokus dan seakan tak menyisakan ruang untuk bernafas. Klimaks terus terbangun dengan intens hingga buku sudah mencapai ¼ akhir. Bayangkan Inception bertemu dengan Bourne Identity dan Jumper. Unsur fast-paced action itu yang memaksa saya untuk tidak berhenti membaca sampai larut malam, bahkan ketika mata ini sudah lelah dan rasa ngantuk mulai menyerang. Seakan saya bisa merasakan perjuangan Alfa untuk bisa tetap terbangun dan menghindari tidur. Saking cepatnya, entah kenapa ada sensasi fast-forward yang saya rasakan dalam Gelombang, yang membedakannya dari buku-buku sebelumnya yang mengajak kita menikmati perkembangan tokoh utamanya dengan lebih personal. Ada sesuatu yang membuat saya merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok Alfa ketika ia dewasa karena ia hanya terfokus pada mimpinya dan emosinya yang naik-turun. Tidak ada keterikatan dalam level emosional seperti yang saya alami dengan Elektra dan Zahra.

Gelombang terasa seperti paradoks alfa dan omega. Di satu sisi, secara kronologis Gelombang adalah buku terakhir yang berfokus pada satu tokoh (avatar?) utama dan menjadi kepingan terbesar puzzle yang menjawab banyak pertanyaan tentang universe yang dibangun Dee. Di buku ini kita diperkenalkan dengan istilah-istilah seperti Asko, Infiltran, Peretas, dan Sarvara sekaligus beberapa clue yang membuat kita mulai meraba alur cerita sebetulnya dari saga ini. Di sisi lain, Gelombang pun justru terasa seperti babak awal dari buku-buku sebelumnya. Akar, Petir, Partikel adalah cerita yang sebetulnya bisa berdiri sendiri tanpa adanya bab yang berkaitan dengan KPBJ, namun rasanya sulit untuk benar-benar menikmati Gelombang tanpa pernah membaca buku-buku sebelumnya, terutama mungkin Akar, karena dua tokoh penting dalam Akar kembali muncul dalam Gelombang dalam porsi singkat namun sangat menohok bagi siapa pun yang membaca Supernova dengan khidmat. Gelombang seakan ingin menghempas kita untuk kembali membaca ulang buku-buku sebelumnya demi mengumpulkan remah-remah clue yang tercecer.

Terlepas dari beberapa hal yang mungkin terasa ganjil dan menimbulkan beberapa pertanyaan baru, kita semua tahu jika Gelombang adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. And I can’t hardly wait for it.

Film Strip: Drupadi, Sebuah Penantian Yang Terjawab

Drupadi Poster

Tak hanya dendam dan rindu, keinginan untuk menyaksikan sebuah film pun harus dibayar tuntas, tak peduli selama apa harus menunggu.

Full disclosure: ini adalah review yang terlambat hampir enam tahun. Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduksi oleh SinemArt Pictures, Drupadi sejatinya adalah film yang dirilis pada bulan Desember 2008 silam. Bergenre Art House serta kental elemen visual dan musikal, film ini ibarat sebuah mitos tersendiri bagi kalangan penikmat film lokal sejak pertama kali ditayangkan di Jiffest 2008. Ramai dibicarakan, namun di saat yang sama sulit untuk diakses khalayak yang lebih luas karena tak pernah ditayangkan di bioskop umum dan seakan menjadi film khusus festival dan special screening saja. Saya termasuk orang yang belum pernah menonton film ini dan mencatatnya ke dalam daftar must watch movies pribadi saya, dan akhirnya keinginan tersebut tertebus kemarin (05/10) di sebuah screening yang diadakan oleh Muvila.com di Galeri Indonesia Kaya, di mana film ini menjadi film penutup dalam rangkaian pemutaran film garapan Miles Production seperti Gie dan Ada Apa Dengan Cinta? selama dua hari sebelumnya.

Bicara tentang Drupadi, berarti bicara tentang Dian Sastrowardoyo. Namanya lekat menempel dalam screen title film ini dan memang poros utama Drupadi terletak pada sosok aktris sejuta pesona tersebut yang menjadi salah satu produser bersama dua produser lainnya, yaitu Mira Lesmana dan Wisnu Darmawan, sekaligus peran utama sebagai the eponymous Drupadi dari epos Mahabharata.
Bila hikayat klasik yang berasal dari India tersebut umumnya berfokus pada konflik antara keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa, maka adaptasi ini dibesut dari sudut pandang Drupadi, seorang putri Kerajaan Panchala yang terlahir dari api, menjadi istri para Pandawa dan secara tak langsung menjadi penyebab Perang Bharatayuddha. Dibagi dalam beberapa babak layaknya pertunjukan wayang, kita diperkenalkan bagaimana Drupadi menjadi sebuah hadiah dalam sebuah sayembara untuk mencari pendamping hidup untuknya.

D1-drupadi-25-c

Dalam sayembara memanah yang diikuti oleh para ksatria terbaik tersebut, terselip Arjuna (Nicholas Saputra), salah seorang Pandawa yang menyamar dalam balutan jubah Brahmana. Anak panahnya tepat sasaran mengenai bunga lotus di atas permukaan kolam yang menyebabkan kelopaknya pecah menjadi lima. Seolah mewakili jika Pandawa sesungguhnya adalah lima kakak beradik dan menepati janji kepada ibunda mereka, Dewi Kunti, apapun yang dimiliki seorang Pandawa otomatis menjad milik empat Pandawa lainnya, tak terkecuali Drupadi yang kemudian menjadi istri bagi kelima Pandawa sekaligus: Yudhistira (Dwi Sasono) putra sulung yang ditakdirkan menjadi raja di antara raja, Bhima (Ario Bayu) yang kuat dan emosional seperti raksasa namun memiliki hati yang lembut, Arjuna yang luar biasa tampan dan menjadi cinta sejati Drupadi, dan si kembar Nakula dan Sadewa (Aditya Bagus Santosa dan Aditya Bagus Sambada). Drupadi menjalani perannya sebagai istri untuk lima pria sekaligus dengan penuh khidmat dan semua baik-baik saja sampai akhirnya datang undangan oleh keluarga Kurawa, sepupu sedarah yang selalu dengki pada para Pandawa.

Yudhistira sebagai pemimpin memutuskan untuk menyambut undangan tersebut walau sudah diperingati oleh adik-adiknya dan Drupadi. Maka, berangkatlah rombongan Pandawa ke istana kediaman Kurawa demi menanggapi permainan dadu penuh muslihat yang dipimpin oleh Sakuni (Butet Kertaradjasa), paman mereka yang licik dan licin. Dadu yang terbuat dari tulang manusia tersebut menjadi petaka. Satu per satu milik Yudhistira dipertaruhkan di atas meja judi. Harta, tahta, dan bahkan jiwa adik-adiknya serta dirinya sendiri. Semua jatuh menjadi milik Suyudana (Whani Darmawan), hingga akhirnya Yudhistira hanya punya satu pertaruhan terakhir: Drupadi. Its all or nothing, and he gains nothing.

drupadi021
Drupadi pun diseret secara kasar oleh Dursasana (Djarot Dharsana) bagai seekor kuda dan dipermalukan di istana yang terhormat tersebut, sementara kelima suaminya serta para tetua yang ia hormati hanya bisa terdiam. Di antara rasa malu, marah, dan frustrasi, Drupadi berontak dan berteriak lantang memperjuangkan harkatnya sendiri sebagai seorang wanita yang dipertaruhkan oleh suaminya sendiri di meja judi. Ia mempertanyakan apakah Yudhistira yang bahkan sudah menggadaikan dirinya sendiri masih mempunyai hak atas Drupadi. Lolongan Drupadi memecah malam dan di tengah kegentingan saat hendak ditelanjangi oleh para Kurawa, keajaiban muncul. Kain yang membelit tubuhnya secara ajaib seakan tak pernah habis hingga akhirnya para Kurawa kelelahan.
Drupadi terhindar dari noda, namun ia masih memendam dendam seperti api. Ia bersumpah, ia tidak akan mengikat rambutnya sampai bisa membilas rambutnya dengan darah dari para orang yang telah menginjak kehormatannya. Film pun ditutup dengan visualisasi pertempuran penuh darah selama 18 hari antara para Pandawa dan Kurawa.

Drup
Setelah 6 tahun menunggu, is it worth the wait? Jawabannya adalah iya. Durasi film ini hanya 40 menit, yang cukup “nanggung” karena terlalu panjang untuk disebut film pendek, pun terasa terlalu singkat untuk menjadi film feature. Namun saya menikmati sekali setiap momen dalam film ini. Baik dari visual, cerita, maupun musik. Tim yang terlibat dalam film ini bisa dibilang sebagai dream team. Riri Riza di bangku sutradara dan penata kamera Gunnar Nimpuno menyajikan bahasa visual dan directing yang luar biasa indah yang diperkuat costume design dan styling jenius oleh Chitra Subijakto serta musik gamelan yang ditata oleh Djaduk Ferianto. Sementara Leila Chudori sebagai penulis naskah berhasil mengadaptasi hikayat kuno ini dalam konteks perempuan lintas zaman. Drupadi adalah sosok perempuan yang terjebak dalam konstelasi politik yang didominasi para pria dan di masa perempuan seringkali dianggap hanya sebagai komoditas dan objek. Ia berani bersuara menyerukan protes kepada suami dan tetua adat, dan ia mungkin salah satu dari sedikit sosok wanita berpoliandri yang dicatat sejarah. Semua cast tampil gemilang, tak terkecuali para ekstra di keluarga Kurawa yang semuanya merupakan penari dari padepokan seni Bagong Kussudiardja.

Dian Sastro yang turut hadir menonton dalam screening kemarin pun mengaku sangat antusias dan jauh lebih menikmati film ini dengan kapasitas seorang penonton. Jauh berbeda saat ia merilis film ini 6 tahun lalu dengan beban tersendiri sebagai produser dan pertarungannya dengan para “kurawa” di dunia nyata seperti FPI dan konflik antara FFI dan MFI. Film ini sendiri juga sempat kena cekal oleh World Hindu Youth Organization (WHYO) yang membuat film ini sulit diputar secara umum pada waktu itu. Dalam diskusi mini setelah screening, Dian yang sudah menjadi ibu dari dua orang anak dengan gaya berbicaranya yang penuh semangat menceritakan bagaimana ide film ini muncul setelah ia terlibat syuting film epik Putri Gunung Ledang garapan Malaysia dan merasa terbakar semangatnya untuk mengangkat cerita legenda Indonesia yang sebetulnya jauh lebih beragam. Dalam behind the scenes film ini yang juga ditayangkan kita bisa melihat bagaimana Dian 6 tahun lalu adalah gadis jurusan Filsafat yang sangat kritis dan dengan berapi-api mengajak para perempuan untuk berpikir cerdas dan membela diri mereka sendiri. Mungkin melihat dirinya yang dulu di video tersebut, Dian yang sekarang pun mengaku timbul semangat baru dalam dirinya. Ia membocorkan rencana merilis Drupadi dalam bentuk DVD dan dengan setengah bercanda menyampaikan harapannya untuk kembali menjadi produser. Bagaimanapun, dunia film adalah dunia yang membesarkan namanya, dan selalu ada tempat tersendiri bagi Dian di hati penikmat film Indonesia, entah sebagai aktris maupun produser.

Dilihat dari banyaknya review positif dan orang-orang yang menulis tentang film ini setelah menyaksikannya kemarin, Drupadi seolah bangkit kembali dari tidur panjang. Seperti api, ia berkobar kembali. Dan kita pun berharap, ambisi produser dalam diri Dian juga akan segera kembali terbakar.

Film Strip: Tabula Rasa

“Makanan adalah iktikad baik untuk bertemu.”

Rasanya memang cukup mengherankan jika Indonesia yang terkenal dengan kekayaan kulinernya yang sangat beragam dari Sabang sampai Merauke ternyata belum memiliki film yang benar-benar mengangkat kuliner lokal sebagai menu utamanya, terutama ketika rendang sebagai salah satu menu ikonik Indonesia dinobatkan menjadi santapan terenak di dunia versi CNN. Berangkat dari kesadaran itu, LifeLike Pictures memproduksi film ketiganya yang bertajuk Tabula Rasa.

Disutradarai oleh Adriyanto Dewo dan naskah oleh Tumpal Tampubolon, film ini bercerita tentang Hans (Jimmy Kobogau), seorang bintang sepakbola muda di Serui, Papua yang berangkat ke Jakarta hanya untuk mengalami nasib yang tak secemerlang bakatnya. Dengan kaki patah dan mimpi yang remuk, ia terdampar menjadi gelandangan dan dihantui keinginan bunuh diri sebelum akhirnya bertemu dengan Mak (Dewi Irawan), seorang pemilik rumah makan (lapau) Padang sederhana. Tak tega melihat Hans terkapar dengan kepala terluka di atas jembatan, Mak dan anak buahnya, Natsir (Ozzol Ramdan) membawa Hans ke lapaunya dan menyuguhkannya semangkuk gulai kepala kakap dan nasi hangat yang membangkitkan kenangan akan rumah dan semangat hidup di diri Hans. Selang beberapa hari dan interaksi, Hans menjadi sebuah fixture tersendiri di rumah makan tersebut. Ia membantu Mak apa saja yang bisa ia lakukan dan mulai membuka dirinya.

Kehadiran Hans mendapat tentangan dari Parmanto (Yayu Unru) yang tidak setuju untuk menambah pengeluaran di saat rumah makan mereka sedang dalam kondisi sepi pengunjung, belum lagi ketika sebuah franchise restoran Padang besar membuka cabangnya tepat di seberang mereka. Konflik pun memanas dan berakhir dengan keputusan Parmanto untuk meninggalkan rumah makan itu, meninggalkan Mak kebingungan sebelum akhirnya mengajak Hans ikut turun tangan membantu di dapur. Interaksi keduanya terjalin hangat di antara bumbu rempah dan kebulan asap dapur. Faktanya, keduanya sama-sama perantau. Bila Hans datang untuk mengadu nasib sebagai pemain sepakbola, Mak mengungsi ke Jawa setelah kampungnya hancur dilibas gempa yang juga menewaskan putra semata wayangnya. Keduanya seolah menemukan sisi yang hilang dalam hidup. Gulai kepala kakap di awal cerita yang merupakan menu favorit almarhum putranya menjadi kunci memori tersendiri. Bagi Mak, memasak gulai kepala kakap adalah sebuah ziarah, namun pada akhirnya ia tergerak untuk mewariskan resep gulai kepala kakap terhadap Hans dan menu itu pula yang menjadi instrumen vital untuk meluruskan segala konflik di film ini.

kepala kakap
Disajikan dengan alur sederhana, permasalahan yang manusiawi, dan pemain inti hanya berjumlah 4 orang yang tampil dengan sangat baik, film ini terasa intim dan relatable bagi siapa saja yang pernah jauh dari rumah. Ada satu adegan yang membuat saya sampai ikut menitikkan air mata karena teringat nasi hangat dan menu sederhana buatan ibu di rumah, but don’t get me wrong, tak ada drama yang dibuat berlebihan dalam film ini. Begitu pun dengan interaksi antara Mak dan Hans di mana keduanya berasal dari dua kultur dengan stereotype masing-masing, ucapan Mak tentang tak butuh alasan untuk menolong orang lain dan makanan hangat sebagai salah satu bentuk perhatian yang paling primal, film ini berhasil menyinggung isu Bhinneka Tunggal Ika tanpa kesan menggurui dan mencerminkan judul film ini sendiri yang dalam bahasa Latin mengacu pada “Kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru tanpa prasangka.”

Hal menarik lain dari film ini adalah pemakaian kamera ARRI Alexa XT Plus yang juga dipakai dalam film Life of Pi dan Guardians of the Galaxy yang secara sangat jernih menangkap warna-warni menarik dari lanskap Indonesia Timur dan adegan memasak di dapur di mana merahnya cabai, kepulan asap, dan daging-daging yang dimasak terasa begitu vivid dan membuat saya terpaksa menelan ludah dan mengidamkan masakan Padang sepanjang film ini. Keindahan visual itu dilengkapi music score yang dengan jenial memadukan lagu-lagu Indonesia klasik dari Ernie Djohan dan Orkes Tropicana Medan, lagu kontemporer dari Dialog Dini Hari, dan original score yang memakai instrumen tradisional seperti talempong, saluang, dan tifa yang menegaskan rasa otentik film ini.

Terlepas dari beberapa plot holes dan kekurangan yang mungkin ada, (contohnya: saya berharap ada adegan Mak menjelaskan sekelumit cerita di balik menu masakan Padang dan kultur tersendiri dalam sebuah rumah makan Padang), Tabula Rasa adalah sebuah film yang dibuat dengan hati dan disajikan dengan hangat.

tabulaa

Tabula Rasa dirilis di bioskop tanggal 25 September 2014.

Film Strip: Geliat Tiga Film Festival Indonesia

Baru-baru ini saya berkesempatan untuk menonton tiga film kelas festival Indonesia yang berjaya di festival-festival film luar negeri namun masih minim rekognisi dari negeri sendiri. Here’s my two cents about those three movies.

SWONSHB

SOMEONE’S WIFE IN THE BOAT OF SOMEONE’S HUSBAND
Sutradara: Edwin

Berbicara film-film Edwin, berarti bicara tentang film sebagai medium berpuisi. Puisi berbahasa visual yang membuai mata penonton sekaligus memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mengartikannya sesuai nalar masing-masing. Dalam film panjang terbarunya, Someone’s Wives In The Boat of Someone’s Husband, Edwin menggunakan insting sebagai instrumen utamanya bernarasi di samping kejelian matanya untuk menangkap visual-visual cantik sarat makna.
Tanpa naskah, tanpa survei lokasi pra-syuting, tanpa apapun selain niat bikin film, Edwin dan tim kecilnya yang meliputi Nicholas Saputra dan Mariana Renata datang ke Desa Sawai di Pulau Seram, Maluku, dengan berbekal sekelumit ide cerita hasil interpretasi dari cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Cinta di Atas Perahu Cadik. Di film ini, Mariana adalah seorang perempuan yang datang ke Sawai untuk melacak sebuah legenda tentang kisah cinta terlarang Sukab dan Halimah. Sukab adalah seorang pelaut. Dia juga suami orang. Halimah pun istri orang. Namun, keduanya nekat pergi naik perahu bersama dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Dengan gigih, Mariana bertanya soal kebenaran legenda itu kepada para penduduk lokal Sawai yang tentu saja tidak pernah mendengar legenda yang sebetulnya memang tidak pernah benar-benar terjadi di daerah itu.
Di sudut lain pulau tersebut, ada seorang pria muda yang diperankan Nico yang juga gemar mendengarkan hikayat para penduduk lokal. Sama seperti sang perempuan, pria ini juga seorang pendatang. Jelas hanya masalah waktu sebelum keduanya berpapasan. Ketika itu terjadi dalam suatu pagi yang canggung, terungkap jika sang pria bernama Sukab, persis seperti legenda yang dibawa oleh sang perempuan yang tidak pernah kita kenal namanya. Sukab yang tertarik pada cerita yang dibawa sang perempuan akhirnya ikut menemaninya mencari jejak-jejak imajiner Sukab dan Halimah dalam rentetan dialog tentang pencarian dan gambar-gambar cantik panorama Sawai yang membingkai film berdurasi 55 menit ini.
Banyak adegan dalam film minim skenario ini terjadi secara spontan dengan mengandalkan stimulasi dari percakapan dengan penduduk lokal dan alam Sawai yang memang menginspirasi sehingga Edwin bisa dibilang sedang melakukan pertaruhan kepada isi cerita film ini sendiri. Sebagai film panjang, film ini pada akhirnya memang lebih terasa seperti kolase adegan-adegan puitis yang membiarkan interpretasi kita terombang-ambing dengan bebas. Namun, dengan panorama Indonesia Timur yang masih murni dan aura Mariana Renata yang begitu memesona membuat film ini cantik secara literal. Di bulan April ini, film ini beserta film produksi babibutafilm lainnya seperti Rocket Rain, Postcards From The Zoo, dan Babi Buta Yang Ingin Terbang akan diputar di Kineforum secara berkala. Follow @Kineforum dan @babibutafilm untuk infonya.

Something in the Way
Something in the Way
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja

Kehidupan malam di jalanan Jakarta yang gritty belum berhenti menginspirasi sutradara Teddy Soeriaatmadja. Setelah di film sebelumnya, Lovely Man, ia mengangkat kisah seorang transgender, kali ini Teddy kembali turun ke jalan untuk membuat film ketujuhnya, Something in the Way.
Terbagi menjadi tiga chapter, chapter pertama berjudul “Ahmad” mengenalkan kita pada seorang supir taksi bernama Ahmad (Reza Rahadian) yang hidup dalam dua ekstrem. Di satu sisi ia adalah seorang muslim taat, namun, di sisi lain ia juga seorang pria muda yang frustrasi secara seksual dan menyalurkan kegelisahannya dengan bermasturbasi di segala kesempatan, entah itu di taksi ketika ia menunggu penumpang ataupun di unit rumah susun miliknya sambil menonton DVD porno yang berserakan di lantai kamarnya, di lantai yang sama dengan tempat ia menggelar sajadahnya.
Chapter kedua, “Change”, mempertemukannya dengan seorang PSK bernama Kinar (Ratu Felisha) yang ternyata tinggal berseberangan di rumah susun yang sama dengan Ahmad. Pertemanan yang terjalin berujung pada one nite stand, dan Ahmad pun merasa menemukan cinta yang ia cari. He’s simply smitten by the prospect of love dan menjadi pahlawan bagi sang damsel in distress. Semuanya bermuara di chapter ketiga “Righteousness” ketika Ahmad setelah mendengarkan ceramah ustadz tentang jihad, menemui Pinem (Verdi Solaiman), mucikari tempat Kinar bernaung, hanya untuk tertampar pada kenyataan dan terbangun dengan mata gelap dan simbah darah.
Dari nuansa yang dibangun sejak awal film, jelas kita cukup tahu diri untuk tidak berharap banyak adanya happy ending. Namun, akhir cerita yang seperti dipaksakan tragis dalam iringan simfoni “Air on the G String” karya Bach tetap terasa pahit, whether you already anticipate it or not.

Jalanan

Jalanan
Sutradara: Daniel Ziv

Sebagai founder dari majalah Djakarta! yang kerap mengupas ibukota kita dengan cara yang witty, tidak mengherankan jika Daniel Ziv yang sejatinya adalah seorang ekspat asal Kanada bisa melihat Jakarta dengan kacamata yang mungkin luput dari penduduk Jakarta itu sendiri. Dalam film dokumenter ini, Ziv mengajak kita berkenalan dengan tiga orang pengamen sembari menelusuri jalanan Jakarta yang berdebu dan naik kopaja tua yang sumpek oleh penumpang yang berjejalan.
Pengamen pertama bernama Boni tinggal di kolong jembatan, tidak bisa menulis, namun tetap happy go lucky mengamen menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Pengamen kedua, Ho, di balik rambut gimbal dan penampilan lusuhnya ternyata adalah seorang filsuf jalanan yang berorasi lewat lirik lagu satir namun romantis terhadap pujaan hatinya. Sementara Titi adalah seorang istri dan ibu muda yang menafkahi keluarga dengan mengamen sambil berjuang mendapat penyetaraan ijazah SMA untuk mencari kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.
Ziv menghabiskan empat setengah tahun untuk mengikuti ketiga pengamen tersebut. Yang kita lihat adalah gambaran nyata tentang susahnya struggling untuk hidup dari hari ke hari bagi kelas ekonomi bawah yang diwakili oleh Boni, Ho, dan Titi. Sebelum diputar di bioskop bulan ini, Jalanan telah melakukan premiere di Busan Film Festival tahun lalu dan menyabet best documentary award, sementara saya sendiri menontonnya dalam gelaran Ubud Writers & Readers Festival, Oktober lalu. Saya masih ingat bagaimana penonton, baik lokal maupun internasional, silih berganti dibuat tertawa, merenung, dan pada beberapa momen menahan air mata. Untungnya, air mata yang menggantung di ujung mata saya waktu itu bukan akibat adegan sentimenal yang dibuat-buat, melainkan karena film ini secara jujur mengingatkan saya jika kebahagiaan itu bukan dari yang apa kita punya, tapi lebih ke bagaimana cara kita memandang sesuatu dan bersyukur. Jalanan sendiri akhirnya akan diputar di beberapa bioskop bulan ini dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Follow @JalananMovie untuk info.