Book Club: Katyusha Methanisa Picks Her 5 Favorite Books

Bicara soal isu mental health di Indonesia secara umum sayangnya memang masih dilumuri stigma yang pekat. Edukasi dan awareness yang kurang soal kesehatan mental secara klinis membuat isu ini dianggap tabu dan mayoritas pun memilih untuk menyimpannya sendiri. Alih-alih datang ke psikolog atau psikiater, banyak orang yang justru menganggapnya sebagai persoalan klenik dengan mengunjungi “orang pintar” atau menyamakan masalah mental dengan kurangnya iman dan ibadah seseorang. Untungnya, saat ini banyak yang akhirnya menemukan pencerahan di internet, entah itu dengan mengedukasi diri sendiri dan orang lain tentang seluk-beluk gangguan mental lewat berbagai artikel atau membicarakan mental health secara candid baik dengan memakai identitas asli maupun anonim. Salah satu yang concern soal isu tersebut adalah Katyusha Methanisa. Di antara kesibukannya sebagai Mahasiswi Arsitektur UI, penulis lepas berusia 20 tahun yang biasa dipanggil Katy ini menyalurkan kegelisahan dan pemikirannya tentang isu personal tersebut dalam bentuk tulisan untuk beberapa publikasi online dan berperan sebagai editor bagi 2AM Club, sebuah zine bertopik mental health yang baru saja merilis edisi pertamanya. “Kita pengen ada safe space untuk saling berbagi cerita aja sih, karena ngomongin isu kesehatan mental masih merupakan sebuah tabu di lingkungan kita. Kita berharap dengan memulai percakapan tentang hal ini, stigma yang lekat dengan penyakit mental berkurang. Mungkin nggak langsung, tapi dikit-dikit lah,” terangnya tentang zine yang tak hanya berisi pengalaman pribadi para individu dari berbagai latar yang struggling dengan masalah mental masing-masing tersebut, tapi juga review buku, musik, film, serta informasi seputar layanan kesehatan mental. Sambil menjawab beberapa pertanyaan lebih lanjut, Katy turut membagikan 5 judul buku favoritnya.

246104

Saat ini banyak anak muda yang lebih terbuka soal isu mental health di internet dan peduli tentang isu-isu seputar itu, which is good, tapi di sisi lain, ada kecenderungan untuk glorifying the mental health and sadness itself, mulai dari Tumblr aesthetic hingga orang yang self-diagnosed dan bangga dengan sebutan bipolar, OCD, dan sejenisnya. How do you feel about it?

I feel like people with real mental illnesses get second guessed enough without the help of individuals that you mentioned, haha. These individuals make it that much harder for people with real illnesses to talk about it. I know from experience that one of the worst things that can happen when you share your condition with others is having them question your condition, or discount them as you being dramatic. On the other hand, teens are definitely becoming more aware of these issues, and as a post-millennial I am so proud of us, haha.

Menurut kamu seberapa pentingnya untuk mencari bantuan professional? Selain takut di-judge, banyak juga yang merasa bantuan professional itu mahal atau simply kurang info, apa yang harusnya dilakukan untuk masalah ini?

Emang mahal banget, huhu. I definitely understand why so many people shy away from getting professional help. Untuk gue sendiri, dulu gue kurang tahu di mana bisa dapat treatment, karena keluarga dan teman saat itu nggak ada yang menggunakan layanan kesehatan mental. Banyak orang yang sama kaya gue juga. Saling bertukar info tentang ini sangat penting! Kadang udah ke psikolog/psikiater pun mungkin aja nggak cocok, dan bertukar info dengan teman bisa sangat membantu. Takut akan judgment sih yang lebih sulit diatasi. Peran keluarga dan teman penting buat nyemangatin seseorang untuk mencari bantuan profesional. Kalau lingkungannya suportif mereka bakal terdorong untuk ke sana. Sayangnya nggak semua orang punya privilege itu. Gue rasa kita emang harus memulai percakapan tentang kesehatan mental agar orang-orang tersebut nggak merasa sendirian.

Apa menurutmu seharusnya peran media sosial/internet untuk isu mental health?

I know a lot of people don’t feel this way, but I feel safer on the internet when sharing my problems. I treat my profiles as a safe space to share things I wouldn’t otherwise talk about in real life. I guess this is partly because I have the privilege of having open-minded internet friends who respect each other and even act as a support system, but that’s how I think the whole interwebz should be. Plus those memes about depression help me laugh about it.

Untuk 2AM Club sendiri kenapa masih berminat merilis dalam format cetak, instead of just digital?

We want people to take some time off from their screens and be completely immersed in the reading experience. Format digital juga kurang ‘intim’ dibandingkan dengan format cetak. Keberadaan secara fisik bisa menunjukkan bahwa yang bikin zine ini orang beneran lho. Other than that, having things in print and seeing other people read them in person is just soooo gratifying!

Apa saja yang dibutuhkan jika ada yang ingin berkontribusi untuk zine ini?

Kirim aja email ke klub2am@gmail.com. We read all submissions and select ones that we find important to share.

Apa saran terbaik yang pernah kamu dapat dan bisa kamu bagi soal mental health?

Your feelings are valid.

Katy’s Fave Books:

in-cold-blood

In Cold Blood

Truman Capote

Buku ini yang bikin gue mulai suka true crime. Sangat engaging dan sama sekali tidak membosankan. All the best parts of storytelling are there!

the-call-of-cthulhu-and-other-weird-stories-b-iext25380496

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories

H.P. Lovecraft

Susah banget untuk nggak garing kalau nulis tentang monster dan hal-hal aneh lainnya, tapi Lovecraft bisa. This book is my bible. Fun fact: my usernames are all Lovecraftian to some degree, haha.

the handmaid

The Handmaid’s Tale

Margaret Atwood

Kadang-kadang emang perlu baca buku yang bikin pengen marah, dan ini salah satunya. Positifnya, realita seorang perempuan saat ini jadi nggak keliatan buruk-buruk amat.

brief

Brief Interviews with Hideous Men

David Foster Wallace

Brief Interviews merupakan kumpulan cerita-cerita pendek. Salah satu ceritanya berjudul Forever Overhead, yang mungkin adalah cerita pendek favorit gue sepanjang masa.

mccarthy1

The Road

Cormac McCarthy

My ultimate feel-bad book.

 

Advertisements

Pretty Pages, 5 Zines To Be Obsessed in URL & IRL

Berbekal internet, social media, dan semangat Do It Yourself, para wanita muda di berbagai belahan dunia mengungkapkan gagasan dan pemikiran kritis mereka dengan cara merilis publikasi sendiri dengan tema yang sangat beragam, dari fashion, feminisme, sejarah, culture, hingga agama. Entah itu online magazine atau zine cetak konvensional, berikut adalah beberapa publikasi yang patut masuk dalam daftar bacaanmu, baik URL maupun IRL.

oomk-zine-01-new

One of My Kind (OOMK)

http://oomk.net/

Dengan sentimen dan stigma Islamophobia di dunia barat yang semakin kuat, merupakan hal yang menyenangkan untuk menemukan sebuah publikasi yang mengangkat gambaran positif tentang perempuan Muslim di Eropa dengan cara yang kreatif dan real. Publikasi tersebut adalah One of My Kind (OOMK), sebuah indie zine yang dicetak secara terbatas dan terbit dua kali dalam setahun di mana setiap issue mengusung satu tema besar seperti “Fabric”, “Print”, “Drawing”, dan “Internet” dengan topik seputar spiritualisme, feminisme, seni, budaya, dan identitas gender yang dibuat dan ditujukan untuk kaum perempuan dari berbagat latar etnis dan kepercayaan. Dibentuk di tahun 2013 oleh tiga orang perempuan Muslim asal London, OOMK juga memiliki online site yang untuk mengintip isi majalahnya dan menggelar berbagai event kreatif untuk bertatap muka langsung dengan para pembacanya, salah satunya adalah DIY Cultures, sebuah festival satu hari yang berfokus pada zine, komik, diskusi, animasi, puisi, dan workshop dengan semangat independen, otonomi, dan alternative.

 things

Things

http://www.thingsmag.us/

Walaupun tidak terlalu terekspos selayaknya New York, Los Angeles, dan San Francisco, Boston yang dikenal sebagai salah satu kota pelajar di Amerika Serikat berkat banyaknya universitas yang ada di dalamnya, sebetulnya juga memiliki skena kreatif yang tidak kalah menariknya. Namun, seperti problematika klasik kota kecil pada umumnya, skena kreatif di Boston tersebar secara acak, tidak terkonsentrasi, dan para seniman mudanya memilih pindah ke kota besar untuk meraih kesempatan yang lebih luas di bidang kreatif. Berangkat dari situ, Sienna Kwami yang masih berumur 16 tahun dan teman-teman sebayanya memutuskan membuat Things, sebuah majalah indie yang didedikasikan untuk memperkenalkan skena kreatif di Boston pada khususnya dan daerah East Coast lain pada umumnya. Dikenal sebagai “Boston’s indie style, art, and culture magazine“, tim editorial Things juga meng-update situsnya dengan berbagai artikel menarik sebagai guide kota Boston bagi siapa saja yang tertarik pada style, art, dan culture

crybaby

Crybaby

http://crybabyzine.com/

Dibuat oleh dan untuk gadis remaja, Crybaby adalah publikasi indie yang diprakarsai oleh Remi Riordan, seorang gadis asal Montclair, New Jersey, berumur 16 tahun penggemar kultur pop, fotografer, dan penulis bagi publikasi seperti Dazed dan Galore. Bermula dari sebuah akun Tumblr yang ia buat di tahun keduanya di SMA sebagai sarana untuk membahas hal-hal yang ia suka dari mulai fotografi, fashion, hingga mixtape, Crybaby telah merilis enam issue cetak yang sold out dengan cepat setiap edisinya sejak pertama kali muncul bulan Januari 2015 lalu. Menavigasi keseruan dan kecemasan yang ada di dunia gadis remaja dengan kumpulan artikel, puisi, ilustrasi, cerita pendek, hingga esai foto, salah satu yang menjadi poin paling menarik di Crybaby adalah artikel Girls On yang berisi kumpulan interview bersama perempuan muda kreatif dari berbagai latar dan asal.

take-an-exclusive-look-inside-typical-girls-zine-body-image-1458827366

Typical Girls

http://www.typicalgirlsmagazine.com/

Lebih mirip seperti sebuah buku dibandingkan majalah, Typical Girls yang berisi kumpulan cerita dari perempuan di berbagai belahan dunia lahir dari rasa frustrasi sekumpulan mahasiswi University of Sussex, Inggris, akan minimnya keragaman yang diangkat oleh media mainstream saat berbicara soal perempuan. Dipimpin oleh Jamila Prowse sebagai founding editor, volume pertama Typical Girls yang mengangkat tema “Beginnings” hadir dalam bentuk publikasi 100 halaman full color dengan konten yang mengeksplorasi cerita awal karier para seniman, isu kekerasan domestik di Mumbai, hubungan antara skateboard dan kreativitas, cerita seorang pemegang rekor hula-hoop, dan tulisan kreatif lainnya soal kelahiran, kehilangan, rape, dan kematian. Tak berhenti di print dan online, Typical Girls juga aktif menggelar diskusi terbuka, workshop, dan acara musik yang sejalan dengan semangat yang mereka bawa.

banana_001_cover

Banana Magazine

http://www.banana-mag.com/

Sama seperti istilah “Oreo” untuk menyebut orang kulit hitam yang berperilaku seperti orang kulit putih, istilah “Banana” (kuning di luar dan putih di dalam) adalah derogatory racial term untuk menyebut para ABC (American Born Chinese) dan keturunan Asia lainnya yang lahir dan besar di Amerika dan mengadopsi sikap dan pemikiran kulit putih. Walaupun sebetulnya kalimat itu adalah ejekan rasial, namun Kathleen Tso dan Vicky Ho merebut kembali kata itu menjadi inside joke dan memakainya untuk judul publikasi mereka. Lahir di Chinatown, New York City, Banana berupaya menjadi corong bagi suara anak muda kreatif keturunan Asia di Amerika dan meleburkan batas antara tradisi leluhur dan budaya kontemporer di sekitar mereka. Diterbitkan dua kali setahun, edisi kedua mereka menampilkan konten meliputi komik soal catcalling yang menimpa para gadis Asia di jalanan, profil desainer Sandy Liang, seri fotografi hitam-putih soal mixed Asian secara fisik, kultur, dan sosiologi di industri kreatif, serta narasi oleh rapper berdarah Korea bernama Rekstizzy soal penerimaannya terhadap gaya hidup kawaii bagi kaum pria Asia.

The Reader: Keinesasih Hapsari Puteri

 

Telah mulai membaca komik sejak umur 4 tahun, komik memang selalu menjadi bagian penting dalam hidup Keinesasih Hapsari Puteri, seorang penulis komik yang berbasis di Jakarta. Ines, demikian ia bisa dipanggil, punya reputasi cukup tinggi di media sosial dan komunitas fandom karena passion dan aktivitasnya pada hal-hal yang dianggap “geeky” seperti video game, kultur Jepang, dan tentu saja, komik. Namanya semakin mencuat ketika bersama teman-teman sevisinya di awal 2014 lalu meluncurkan proyek Nusantaranger, sebuah serial webcomic tentang pasukan pembela kebenaran a la Power Rangers dengan muatan lokal yang kental. Dalam proyek yang diprakarsai oleh Shani Budi Pandita dan Tamalia Arundhina tersebut, Ines yang merupakan penggemar berat komikus Hiromu Arakawa (Fullmetal Alchemist) dan Brian K. Vaughan (Saga, Ex Machina, the Private Eye) berperan sebagai penulis cerita, sesuatu yang telah menjadi impian perempuan kelahiran 1988 tersebut sejak lama. Walau belum punya pengalaman menulis komik sama sekali, just like a duck to water, tulisannya diapresiasi positif oleh para pencinta komik dan hype yang diraih Nusantaranger turut menggairahkan kembali geliat komunitas komik lokal yang sempat lesu. Kini, di samping menyiapkan follow-up project bersama tim Nusantaranger, Ines disibukkan dengan menjadi pembicara di berbagai event komik, menulis cerita untuk sebuah studio game independen lokal dan sebuah project terbaru dengan judul God Complex. Kali ini, Ines pun menyempatkan diri menjawab beberapa pertanyaan sekaligus merekomendasikan beberapa judul graphic novel favoritnya dan menegaskan kembali jika siapapun boleh menikmati komik dengan bebas.

Hi Ines, sejak kapan mulai tertarik dengan komik? Masih ingat nggak komik apa saja yang paling berkesan bagimu saat kecil dulu?

Mungkin sama seperti banyak orang seumuran saya, komik-komik pertama saya adalah manga (komik Jepang) seperti Doraemon, Tekken Chinmi (Kung-Fu Boy), dan Sailor Moon. Saya juga suka komik Eropa seperti Asterix dan Spirou, tapi baru berkenalan dengan komik Amerika setelah mulai remaja karena peredarannya relatif jarang di Indonesia. Dulu, komik yang saya baca adalah apa pun yang dibawa pulang oleh kakak. Baru setelah masuk SD saya memilih komik yang saya baca sendiri. I used to burn all my allowance on comic rental shop, hahaha. Judul yang berkesan ada banyak sekali, tapi salah satu momen yang paling berkesan berhubungan dengan SHOOT! karya Tsukasa Ooshima. Satu adegan sedih di sana berhasil membuat saya yang waktu itu masih kelas 3 SD menangis tersedu-sedu di kasur dan menolak makan sampai orang tua saya bingung.

Komikus idolamu siapa saja, Nes?

Saya sangat mengidolakan Hiromu Arakawa, komikus sekaligus penulis Fullmetal Alchemist dan Gin no Saji (Silver Spoon). Ia memiliki fleksibilitas dan jangkauan tema yang mengagumkan—mulai dari genre aksi yang mengandung muatan filosofis sampai genre slice of life yang sarat bumbu komedi, semua bisa dieksekusi dengan baik dan selalu laku keras, yang berarti komiknya bisa diterima oleh kalangan luas. Saya juga mengidolakan Brian K. Vaughan (Saga, Ex Machina, the Private Eye). Komik-komik yang ia tulis selalu memiliki world building yang sangat imajinatif dan rapi, karakter yang mudah disukai, serta cerita yang menghibur dan kritis di saat yang sama. Selain itu dia juga sangat produktif!

Dari sekian banyak komik, apa judul yang membuatmu berpikir jika komik bukan sekadar bacaan anak-anak?

I’ve always known that the appeal of comic book is universal. Tapi kalau ada sebuah judul yang membuat saya berpikir, “Damn, komik ternyata bisa gini juga,” yang pertama adalah Monster karya Naoki Urasawa. Saya terbiasa membaca manga yang rata-rata sangat cartoonish dan hiperbolis, dan Monster sama sekali tidak seperti itu―it’s serious, mature, grim, and psychologically brutal.

Boleh cerita soal God Complex?

God Complex adalah sebuah IP (intellectual property) yang diciptakan oleh Bryan Lie dari GLITCH Network. Awalnya, karakter-karakter God Complex dirilis sebagai figurine saja, dan universe-nya ditulis oleh Bryan sebagai latar belakang mereka. Tapi, karena permintaan dari berbagai pihak, akhirnya GLITCH Network memutuskan untuk membuat komiknya. Kebetulan mereka membaca Nusantaranger, menyukainya, dan meminta saya untuk menulis ceritanya God Complex. Berbeda dari Nusantaranger dengan cerita kepahlawanannya yang sangat lugas dan cenderung aman untuk semua umur, God Complex akan lebih dewasa, kelam, dan sedikit bermain-main dengan filosofi. Komiknya juga ditulis dalam bahasa Inggris. Ceritanya bertempat di dunia di mana dewa-dewa yang selama ini hanya kita kenal dari mitologi betul-betul ada, namun mereka tidak lagi relevan dalam kehidupan manusia. I’m very excited and, honestly, a bit scared to see how people will react to this title. But mostly excited!

Secara singkat, bagaimana kamu melihat industri komik lokal saat ini?

Saya termasuk pendatang baru di dunia komik, jadi tidak bisa berbicara banyak. Tapi, yang saya lihat, industri komik ini antara ada dan tiada. Bisa dibilang ada karena banyak komikusnya dan rilisannya bisa ditemukan di toko-toko buku (walau tenggelam di lautan komik-komik terjemahan), tapi bisa juga dibilang tidak ada karena kondisi dan infrastrukturnya belum memadai. Jumlah penerbit komik bisa dihitung dengan jari. Jumlah editor yang mengerti bagaimana cara menyunting komik bahkan lebih sedikit lagi. Standar industri pun boleh dibilang tidak ada. Misalnya, berapa honor minimal untuk komikus amatir? Bagaimana dengan yang profesional? Ini juga diperparah dengan banyaknya komikus yang hanya mengerti bagaimana cara ngomik saja, tapi tidak paham atau bahkan malas mempelajari bisnis dan cara memasarkan karya. Setahu saya ini sudah berlangsung bertahun-tahun, dan sangat patut disayangkan mengingat dunia komik Indonesia tak kekurangan talenta hebat. Beberapa judul yang bisa dicek antara lain Pusaka Dewa karya Sweta Kartika yang juga ilustrator Nusantaranger dan Arigato Macaroni karya Erfan Fajar yang juga akan segera merilis Manungsa yang diprediksi akan menjadi hit di tahun ini. Keduanya bisa dibaca secara gratis di internet, just give them a google.

Sebagai perempuan, suka risih nggak kalau dicap sebagai comic geek? I mean, seperti ada dua kutub yang berbeda ketika bicara soal itu. Di satu sisi, banyak pria yang menganggap perempuan yang suka baca komik Marvel contohnya, itu keren, sampai jatuhnya seperti fetish atau sexualization tersendiri, tapi ada juga yang melihatnya negatif dengan melontarkan sexist remarks atau menuduh poser karena sekadar ikut-ikutan tren. What do you think?

Maaaaan, we fetishize everything and anything. Bagaimana lagi bisa ada akun Instagram yang berisi foto-foto laki-laki tampan sedang membaca buku—harus buku, tidak boleh tablet—di subway yang diambil diam-diam? Tidak penting apakah kamu betul-betul suka membaca atau buku apa yang kamu baca. Pokoknya kalau kamu ganteng dan kamu terlihat sedang membaca, kamu seksi. Begitu juga dengan komik. Cewek pembaca komik terlihat menarik karena mereka tidak sesuai dengan stereotipe pembaca komik pada umumnya. Apalagi kalau cantik, semakin terlihat eksotislah dia. Tapi saya rasa, karena komunitas pembaca komik adalah lingkungan yang sedikit “eksklusif” sebelum kesuksesan film-film superhero, beberapa anggotanya bereaksi tidak ramah terhadap orang yang terlihat berbeda dari “kalangan dalam” mereka. Misalnya, cewek yang baca komik kemudian dibilang ikut-ikutan atau poserwhich is weird because, shouldn’t they be happy if the stuff they love received wider recognition? Kalau mau dibahas terus, bisa panjang sekali jawabannya. Tapi yang jelas bagi saya kedua kutub ini sama tidak pentingnya. Membaca komik tidak membuatmu otomatis keren karena, let’s be honest, banyak juga komik yang jelek. Tertarik pada komik setelah menonton filmnya juga tidak membuatmu jadi poser, karena komik seharusnya bisa dibaca oleh siapa saja.

What’s the next project/plan?

Tahun ini masih konsentrasi ke God Complex dan follow-up project dari tim Nusantaranger. I’m still new in this so I’m taking my time to adjust with the pace of the industry, which can fluctuate a lot between the busy and slow days. Tapi mudah-mudahan tahun depan saya bisa mulai mengerjakan judul saya sendiri. Selama ini, komik-komik yang saya tulis seperti God Complex dan Nusantaranger selalu berasal dari gagasan orang lain, and I want to release something that’s meaningful to me and truly comes from within. Until then, I’m building my skills and confidence so I can come up with a story that I can really be proud of. Wish me luck!

INES’ GRAPHIC NOVEL RECOMMENDATIONS:

 ms_marvel_cover_a_p

Ms. Marvel

Story: G. Willow Wilson

Art: Adrian Alphona, Jacob Wyatt (#6-7), Elmo Bondoc (#12), Takeshi Miyazawa (#13-15)

Ketika pertama kali membaca Ms. Marvel, saya berpikir, “Finally, sebuah komik yang patut dibaca oleh cewek di mana pun tanpa terkecuali.” Kamala Khan a.k.a. the newest Ms. Marvel adalah protagonis perempuan yang paling relatable bagi saya sepanjang sejarah membaca komik. Sebagai remaja Muslim-Amerika keturunan Pakistan, Kamala tidak hanya bergulat dengan identitas gandanya sebagai superhero merangkap pelajar SMA, namun juga dengan keluarganya yang kolot dan kepercayaannya. Ms. Marvel bukanlah sekadar cerita superhero, namun juga cerita tentang remaja dan perjuangan mereka untuk “fit-in” dengan lingkungannya, sekaligus untuk menemukan jati diri mereka sendiri. Seandainya komik ini sudah ada saat saya SMA, mungkin saya akan merasa menemukan sosok sahabat dalam diri Kamala.

Monster

Monster

Story & art: Naoki Urasawa

Banyak orang menyebut Monster sebagai salah satu psychological thriller terbaik, dan mereka tidak melebih-lebihkan. Komik ini menceritakan perjalanan Dokter Kenzo Tenma yang dihantui rasa bersalah karena sembilan tahun lalu ia menyelamatkan nyawa seorang anak yang ternyata tumbuh menjadi psikopat paling berbahaya di Eropa. Johan Liebert, karakter antagonis dalam komik ini, mungkin adalah salah satu karakter antagonis paling berkarisma sekaligus membangkitkan bulu kuduk yang pernah ditulis. Jika Monster adalah kisah nyata, ibu-ibu di Jerman pasti akan menakut-nakuti anak mereka yang nakal dengan, “Awas nanti didatangi Johan Liebert.”

saga

Saga

Story: Brian K. Vaughan

Art: Fiona Staples

Bayangkan Romeo & Juliet bertemu Star Wars. A very trippy, psychedelic Star Wars. Cerita utama Saga memang sangat sederhana—dua orang dari ras yang saling bermusuhan saling jatuh cinta dan menjadi buronan di seluruh galaksi karena anak mereka dianggap sebagai simbol persekutuan yang tabu—namun Brian K Vaughan dan Fiona Staples berhasil mengemasnya menjadi bacaan yang sangat menghibur berkat desain karakter yang super keren, dialog cerdas, serta dunia yang tak kurang dari ajaib. Kalau kamu jeli, kamu juga bisa menjumpai sentilan-sentilan berbau kritik sosial yang menggelitik di sana-sini, yang merupakan ciri khas setiap komik karya BKV.

Bakuman

Bakuman

Story: Tsugumi Ohba

Art: Takeshi Obata

Bagi yang menyukai komik, khususnya manga, Bakuman adalah bacaan yang tidak boleh dilewatkan. Komik ini membeberkan cara kerja dan infrastruktur industri komik Jepang dan seberapa keras persaingan yang harus dihadapi para mangaka (komikus) sekadar untuk mempertahankan karier mereka dengan cara yang ringan dan mudah dimengerti. Penggemar karya duet Ohba-Obata sebelumnya, Death Note, juga mungkin akan terhibur karena mereka banyak menyelipkan curhat colongan tentang Death Note ke dalam Bakuman. Pokoknya, setelah membaca Bakuman, saya jadi jauh lebih menghargai manga dan para mangaka, serta makin iri pada industri mereka.

CIVWAR_CVRS.indd

Civil War

Story: Mark Millar

Art: Steve McNiven

Sebuah reality show yang dibintangi beberapa superhero kurang berpengalaman mengalami kecelakaan yang menewaskan ratusan korban sipil. Masyarakat Amerika pun mulai resah dan menuntut para superhero untuk mendaftarkan diri di bawah pengawasan pemerintah. Tuntutan ini melahirkan Superhuman Registration Act yang memecah para superhero menjadi dua kubu, yaitu pro-registrasi yang dipimpin oleh Iron Man dan anti-registrasi yang dipimpin oleh Captain America. Mengingat film Captain America: Civil War akan dirilis bulan Mei tahun depan, kamu mungkin ingin segera membaca seri ini, terutama jika kamu ingin punya geek cred di hadapan teman-teman setelah menonton filmnya. Selain itu, Civil War juga bisa jadi entry point bagi kamu yang baru ingin membaca komik-komik Marvel, karena ada banyak hero yang terlibat dalam cerita ini.

fullmetal

Fullmetal Alchemist

Story & art: Hiromu Arakawa

Sebuah kegagalan ritual alkimia mengakibatkan Edward Elric kehilangan tangan kanan dan kaki kirinya, sementara adiknya, Alphonse, kehilangan seluruh tubuhnya dan hanya hidup sebagai roh yang melekat pada sebuah baju zirah raksasa. Fullmetal Alchemist menceritakan perjalanan kakak-beradik ini untuk mengembalikan tubuh mereka seperti sedia kala. Serial ini adalah bukti bahwa komik remaja tidak harus selalu dangkal atau simplistis. Mulai dari filosofi “equivalent exchange” yang dapat diaplikasikan pada alkimia sekaligus dalam kehidupan, world building yang kompleks, drama yang menyentuh, hingga karakter yang membuat pembaca jatuh hati, semua dapat diramu dengan baik, dengan penyampaian yang ringan dan penuh bumbu komedi. Ending-nya pun terbilang sempurna—sesuatu yang jarang dimiliki serial manga lain. Untuk alasan-alasan ini, saya berani bilang bahwa FMA adalah salah satu manga terbaik yang pernah ada.

Ghosted

Ghosted

Story: Joshua Williamson

Art: Goran Sudzuka

Kalau kamu penggemar genre heist dan horor sekaligus, bergembiralah. Dalam Ghosted, kamu akan diperkenalkan dengan Jackson T. Winters, seorang pencuri handal sekaliber Danny Ocean, yang dihantui trauma setelah seluruh krunya tewas secara aneh dan brutal saat hendak membobol sebuah kasino. Winters mengira kariernya sebagai pencuri sudah tamat saat tiba-tiba seorang miliuner eksentrik membebaskannya dari penjara dan memintanya mencuri hantu dari sebuah mansion angker. Jika sinopsis ini terdengar edan, maka kamu sudah mendapat gambaran yang tepat tentang Ghosted. Selain ceritanya, hal terbaik dari serial ini adalah Jackson Winters sendiri. You will hate to love him, and you will love to hate him. Atau, jika kamu—seperti saya—memiliki soft spot untuk karakter antihero dengan masa lalu kelam, kamu akan jatuh cinta habis-habisan pada Winters.

The Wicked

The Wicked + The Divine

Story: Kieron Gillen

Art: Jamie McKelvie

Bagi beberapa fanboy dan fangirl di luar sana, status idola mereka mungkin sudah mendekati nabi atau dewa-dewi. Tapi bagaimana jika para rockstar ini memang dewa-dewi dalam arti sesungguhnya? Dalam dunia The Wicked + The Divine, setiap sembilan puluh tahun sekali, dua belas makhluk ilahi mewujud dalam diri manusia-manusia muda. Mereka akan menjadi pujaan dan sumber inspirasi manusia selama dua tahun untuk kemudian menghilang, dan kembali lagi sembilan puluh tahun mendatang. The Wicked + The Divine adalah renungan yang menarik tentang pop culture, industri budaya, dan spiritualisme. Namun, yang lebih penting, serial ini adalah bacaan yang sangat menghibur.

All You Need Is Kill

All You Need is Kill

Story: Sakurazuka Hiroshi

Art: Takeshi Obata

Keiji Kiriya adalah seorang prajurit biasa yang direkrut untuk berperang melawan alien Mimics yang menyerang umat manusia. Namun, setiap kali Keiji tewas di medan perang, ia akan terbangun di pagi hari yang sama, menjalani rutinitas yang sama, berperang, tewas, begitu terus berulang-ulang. Satu-satunya petunjuk bagi Keiji untuk keluar dari loop tersebut adalah Rita Vrataski, prajurit terbaik umat manusia yang dijuluki Full Metal Bitch. Jika plot All You Need is Kill terdengar familiar, itu karena manga ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Hiroshi Sakurazaka, yang juga sudah diadaptasi ke dalam film layar lebar berjudul Edge of Tomorrow, dibintangi Tom Cruise dan Emily Blunt. The manga is as fast-paced as the movie, and is equally entertaining. And Takeshi Obata deserves to be in this list twice because his art is that good.

As published in NYLON Indonesia August 2015 

Book Club: The Murmur House, A Murmuration of Frolicking Young Writers.

Murmur
Looking through the personal blogs and indie zines, Indonesia sepertinya telah memiliki regenerasi penulis mudanya sendiri secara natural. Namun, di samping mereka yang berhasil meraih kontrak penerbitan buku, masih banyak juga penulis muda yang seakan tidak punya outlet untuk menampilkan karya mereka dan cenderung berjuang sendirian. Hal tersebut yang kemudian mendorong dua penulis muda Rain Chudori dan Syarafina Vidyadhana untuk membuat Murmur House, sebuah wadah bagi para penulis muda untuk berkumpul dan berkembang bersama melalui jurnal literatur kolaboratif. Selain merilis jurnal literatur, dalam peluncuran setiap edisi mereka juga menggelar event bertajuk Murmuration di mana para pencinta literatur bisa berkumpul untuk menikmati impromptu reading dan acoustic performance. Klub membaca adalah rencana mereka selanjutnya, namun untuk sekarang let’s have some chat with these two charming young ladies.

Hi Rain and Avi, how are you? Boleh cerita bagaimana kalian bertemu dan akhirnya tercetus ide untuk bikin project bareng ini?
Rain: We met one afternoon for tea and to talk about our two favorite things, love and literature. Somewhere amongst that, had an idea of creating a project that made by young writers for young writers.
Avi: It was December last year. Rain happened to be in my campus, waiting for her friend to finish some errands and I happened to be a little frustrated from writing my final paper. So we kept each other company and talked about boys and books. It was really fun, and so before we parted that day we thought how wonderful it’d be if we could share the warmth with more people with passion alike.

What’s the story behind the name?
Rain: There are two meanings behind our name. The first, “murmur” means “to speak softly”. The second, “murmuration” means the migration of a flock of starlings that are synchronous and constant.
Avi: ‘Murmuration’ itu suatu fenomena yang menurut gue indah banget. Starlings ketika terbang sinkron dan sangat peka terhadap satu sama lain, sehingga jika ada satu yang berubah, yang lain langsung adaptasi. Di kelompok mereka juga nggak ada yang mendominasi. Oleh karena itu, kita mencoba untuk menerapkan hal yang sama di The Murmur House. Istilahnya, itu kami jadikan filosofi dalam merawat rumah kami.

avi
What’s the main idea when you start this project?
Rain: We wanted to create a home for young writers to gather and grow with each other through a collaborative literary journal. We also hope to foster our home by hosting events such as Murmuration (the launch of each literary journal), and soon, reading clubs.
Avi: idem!

Apa pengalaman menyenangkan saat kalian menyusun Murmur edisi pertama?
Rain: It was exciting to see the participation of writers and to know that we were all interacting in the hopes of creating something beautiful together.
Avi: Selain yang Rain sudah utarakan, ya paling ke percetakan sih. Jauh kan tuh, tapi kami nggak nyasar. Bangga banget lah nggak nyasar. Karena biasanya kalau pergi jauh gue nyasar mulu. Oiya, paling sama proses editing dan ketika kami bisa lihat interpretasi ilustrator/fotografer terhadap karya tulis pada jurnal kami. Kagum aja sama mereka.

Apa yang menjadi pertimbangan kalian dalam memilih konten karya yang akan masuk?
Rain: Our editorial team discusses each piece and goes through a process of workshopping the pieces with the writers and translators.
Avi: Untuk edisi pertama, kami memang menyeleksi secara tertutup penulis-penulisnya. Sebetulnya tidak ada kualifikasi khusus, kami melihat potensi dari tulisan-tulisan mereka sebelumnya di blog maupun media lain, lalu kami ajak mereka untuk berkolaborasi. Setelah kami jelaskan tema pertama jurnal kami, yaitu “welcome to warmth”, mereka lalu menulis puisi, prosa atau essay sesuai dengan interpretasi mereka terhadap tema tersebut. Untuk ke depannya, kami menerima submission dari mana saja, yang tentunya akan kami seleksi bersama para editor dan translator.

rain
How about the Murmuration? Tell me about it, kalian baru saja menggelar Murmuration pertama, how does it go?
Rain: The first Murmuration was quite full and there were a lot of enthusiastic performers, both who are part of Murmur and impromptu ones. It was heartening to find that there is a large amount of enthusiasm for literature.
Avi: Menggembirakan sekali, khususnya karena banyak yang membaca secara impromptu. Tadinya sempat khawatir acaranya akan dianggap menjemukan. But everyone seemed to be having a good time! (At least I was.)

 Have you guys thinking to go online as well?
Rain: There’s a lot of perks in having online content and we have thought of doing so. We are trying to publish the literary journal in print because we love the feel of a physical copy.
Avi: Setuju sama Rain. Ini pretensius banget sih, tapi ya emang belum ada yang bisa ngalahin wanginya kertas krem buku.

Do you have any favorite figure from literature scene?
Rain: From Indonesia, my mother, Leila Chudori. From outside of Indonesia, Sylvia Plath.
Avi: This is one tough question. Kalau penulis Indonesia, Umar Kayam deh. Penulis luar negeri sekarang lagi suka sama Alissa Nutting, cuz Tampa is hilarious.

What literature means for both of you?
Rain: A pure attempt to live.
Avi: I know it won’t save the world, but it might just enlighten its people. Or at least move some hearts.

Bagaimana kalian melihat literature scene di Indonesia saat ini, terutama di kalangan anak mudanya?
Rain: We see a lot of developing young writers, but as young writers ourselves, there is not a lot of outlet for us, especially for fiction writers. This can be quite dispiriting. We hope that The Murmur House can be one, out of many, places where young writers can bloom.
Avi: Nah, iya gitu. Makanya kita bangun The Murmur House, biar nggak saling terpencar dan kesepian.

Spoil some secret for your second issue, what’s the theme dan bagaimana caranya bisa berkontribusi?
Rain: The theme is “Love and Other Drugs”. We intend to find short stories, poetry, proses, plays, and essays on addiction.
Avi: Caranya mudah kok, kirimkan aja tulisan yang (menurut penulisnya) cocok dengan tema ke submit@themurmurhouse.com, jangan lupa sertakan foto dan bio singkat!

opsub
What’s the next plan for Murmur House?
Rain: We hope to continue publishing our literary journal and launching them in our Murmurations. We also hope to establish a reading club that will meet and discuss books once in every two-three months.
Avi: More gatherings! We’d love to make a habit out of reading aloud in public!

http://www.themurmurhouse.com/

The photos by Bintang Adamas and Devi Merakati.

order

Book Club: Gelombang, Kepingan Terbaru Saga Supernova

Gelombang

Dewi Lestari menyeretmu lebih dalam lagi ke dunia Supernova lewat kepingan terbarunya, Gelombang.

Sebagai natural-born bookworm (or at least self-proclaimed) yang tak pernah absen membaca sejak bisa mulai merangkai huruf menjadi kalimat, buku fiksi bagi saya adalah sebuah hiburan, guru, dan terutama eskapisme. Walau sejujurnya, saya hanya punya dua serial fiksi yang benar-benar meninggalkan jejak dalam hidup saya. Yang pertama adalah serial Harry Potter karya J. K. Rowling dan yang kedua adalah serial Supernova karya Dewi “Dee” Lestari. Keduanya adalah serial yang seakan ikut “tumbuh” menemani proses saya beranjak dewasa sampai sekarang. Kali ini saya ingin berbicara tentang Supernova yang masih saya akui sebagai buku berbahasa Indonesia terfavorit saya. Tidak hanya karena saya belajar banyak hal darinya, setiap buku Supernova entah kenapa selalu datang di saat yang tepat dan beresonansi pada titik kehidupan yang sedang saya jalani.

Awal perkenalan saya dengan Supernova dimulai dari buku pertama, Supernova: Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh (KPBJ) yang dirilis tahun 2001 ketika saya masih duduk di bangku SMP. Teman sekelas saya membawanya ke sekolah lalu saya iseng meminjamnya dan baru mengetahui jika Dee sang penulis ternyata Dewi Lestari dari trio pop Rida Sita Dewi yang terkenal di medio 90-an. Sampulnya sekilas mengingatkan saya pada buku pelajaran fisika dan melihat isinya saya tercengang dengan banyaknya footnotes berisi istilah-istilah ilmiah dan teori antah berantah yang belum pernah saya baca sebelumnya. Its a little bit off-putting awalnya karena saya lumayan alergi pada pelajaran IPA tapi toh saya bosan di kelas dan mulai membacanya. Di rumah, saya menuntaskan buku pinjaman itu. Jujur, saat itu saya beberapa kali saya melewatkan bagian perdebatan intelektual Dimas-Reuben dan lebih fokus pada cerita Diva-Ferre-Rana. KPBJ keluar di tengah berkembangnya computer culture di Indonesia, ketika internet sudah semakin umum, termasuk hal-hal seperti bulletin board, hacker, The Matrix, chat room dan sebagainya yang menjadi obsesi baru remaja Indonesia, termasuk saya. Satu hal lagi yang membuat novel ini berkesan adalah penggambaran same-sex relationship di antara Reuben-Dimas yang tidak terjebak pada dinamika cliche dan stereotyping. Satu hal yang cukup personal bagi saya saat itu.

Tak lama KPBJ keluar, muncul sekuelnya yang bertajuk Akar di tahun 2001, namun waktu itu saya sama sekali tidak aware dengan kehadiran buku kedua ini sebelum menonton infotainment yang mengabarkan kontroversi yang menyelimuti kelahirannya. Waktu itu saya sama sekali tidak tergerak untuk membaca, apalagi datang ke toko buku untuk membelinya. Tapi lagi-lagi, universe seperti sengaja menyuguhkannya di depan mata saya begitu saja. Saya membacanya dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2004. Saat itu saya sedang libur semester kelas tiga SMA dan menginap di rumah ipar saya. Bosan main game, saya mulai mengecek lemari buku di lantai atas. Ada beberapa novel dan banyak komik Marvel, tapi mata saya tertumbuk pada Akar edisi cetakan pertama dengan simbol ohm masih tertera di sampul. Lagi-lagi out of boredom, saya mengambilnya dan mulai membaca. Di halaman-halaman awal saya masih merasa buku ini murni lanjutan buku pertama, sebelum tiba-tiba saya diperkenalkan dengan tokoh Bodhi dengan segala keunikan dikotomi dan perjalanan lintas negaranya. Narasi di buku ini berjalan lebih linear dan tidak ada timbunan istilah rumit sehingga saya menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Saya terpesona dan menemukan impian baru untuk backpacking (yang belum juga dilakukan sampai saat ini) and basically keinginan untuk keluar dari zona nyaman saya.

Seperti sudah direncanakan, hanya beberapa hari sejak membaca Akar, saya menemukan review tentang Petir, buku ketiga Supernova di sebuah majalah. Hari pertama kembali ke sekolah, saya mampir ke toko buku untuk membeli Petir. Dan lagi-lagi saya tersengat oleh keandalan Dee dalam bercerita. Jika KPBJ adalah perkenalan pertama yang berlangsung acuh tak acuh, maka Akar adalah pertemuan kedua yang memesona, namun baru di Petir akhirnya saya menyadari telah jatuh cinta seutuhnya dengan serial ini. Petir memiliki formula yang sama dengan Akar. Dibuka oleh bab (kepingan) yang berkaitan langsung dengan KPBJ sebelum kita berfokus pada satu karakter baru, yaitu Elektra, gadis dengan obsesi pada petir dan memiliki kemampuan menyembuhkan lewat energi listrik alami pada tubuhnya. Yang menarik, gaya bahasa di Petir bahkan jauh lebih ringan lagi, penuh humor, dan terasa santai seperti atmosfer Bandung yang menjadi latar cerita di buku ini. Di titik ini saya pun baru mengetahui masih akan ada dua buku Supernova lagi yang akan berjudul Partikel dan Gelombang yang memiliki satu tokoh sentral utama, serta Intelegensi Embun Pagi yang akan mempertemukan mereka semua dan menjadi pamungkas cerita.

Selepas Petir, para penggemar Supernova dihadapkan pada penantian panjang yang seakan tanpa akhir untuk menikmati sekuelnya, Partikel. Saya baca Petir ketika sedang belajar serius untuk SPMB, tapi bahkan sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja, Partikel tidak kunjung datang. Penantian itu terjawab di tahun 2012. Delapan tahun lamanya. Bayangkan bagaimana riuhnya respons para penikmat Supernova, terutama karena Partikel hadir di era social media, khususnya Twitter. Antisipasi untuk buku keempat ini hampir tidak bisa dibendung hingga akhirnya 13 April 2012, jam 4:44 sore, Partikel muncul di toko buku dan hal yang saya pikirkan hari itu adalah secepat mungkin ke toko buku untuk membelinya. It was almost emotional dan saya ingat betul rasanya merinding melihat buku itu langsung di depan mata. Partikel mengisahkan Zahra, gadis keluarga Muslim dari Bogor dengan mata jeli yang menangkap hal-hal yang sering luput dari orang awam, secara literal oleh profesinya sebagai fotografer wild life, maupun hal-hal yang lebih bersifat transcendental. Partikel adalah buku yang membuat saya bertanya-tanya tentang alam semesta, konsep agama, dan melihat hal-hal sekitar dengan cara yang berbeda, baik dengan bantuan enteogen maupun tidak. Personally, Partikel adalah buku Supernova yang paling relate untuk saya, so far.

Dalam sebuah email interview yang saya lakukan bersama Dee tentang Partikel, beliau memberi tahu saya jika fokus berikutnya adalah menyelesaikan Gelombang. Dan karena itu tak mengherankan jika Gelombang bisa hadir dalam waktu yang tak terlalu lama dari Partikel. Buku kelima ini hadir tanggal 17 Oktober lalu, namun saya baru membelinya dua hari lalu dan selesai membacanya kemarin. Entah kenapa saya merasa tak ingin terburu-buru membelinya, namun seperti arus pasang, saya terseret Gelombang sejak halaman-halaman awal. Saya tahu jika tokoh utama buku ini adalah Alfa dan selalu membayangkannya sebagai seorang geek yang mungkin ada kaitannya dengan fisika dan beragama Hindu (totally random bet, karena merasa setiap tokoh akan memiliki agama yang berbeda). Saya tak tahu bagaimana setting cerita buku ini karena saya menghindari spoiler di socmed dan bahkan sengaja tidak membaca sinopsis di balik sampulnya saat akhirnya membeli buku ini. Saya ingin mengenal Alfa tanpa pretensi. Tapi, sejak pertama saya tahu jika Alfa ternyata berdarah Batak tulen, langsung terbersit pikiran “Oh wait…. jangan bilang kalau namanya sebenarnya Thomas Alfa Edison…” dan saya secara spontan terkekeh sendirian karena intuisi saya benar.

Yup, Alfa adalah Thomas Alfa Edison Sagala yang lebih akrab dipanggil “Ichon”, anak bungsu keluarga Sagala dari Sianjur Mula-Mula, sebuah kampung di Samosir, Sumatera Utara yang dipercaya sebagai asal muasal lahirnya suku Batak dan masih menganut agama tradisional yang disebut Parmalim. Bermula dari sebuah upacara pemanggilan roh leluhur, kehidupan Ichon si bocah penggemar serial Kho Ping Hoo berubah dengan hadirnya mimpi yang sama berulang-ulang dan kehadiran makhluk gaib misterius bernama Si Jaga Portibi yang seakan mengintainya. Keanehan tersebut ditangkap oleh dua orang dukun yang ingin memperebutkan Ichon sebagai murid, menyisakan Ichon di persimpangan keputusan dan hampir kehilangan nyawanya untuk itu. Insiden yang membuat keluarga mereka memutuskan merantau ke Jakarta, walau tak lama setelahnya Ichon pun pergi lebih jauh lagi ke belahan dunia lain sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Dihantui mimpi buruk yang sama setiap harinya, Ichon alias Alfa alias Alfie belajar mempertahankan diri dengan menahan tidur. Dan dengan kecerdasan alami, keuletan, serta waktu belajar ekstra dari teman-teman sebayanya, ia berhasil mendapat beasiswa penuh di kampus Ivy League sekaligus selamat dari kehidupan imigran gelap yang penuh risiko deportasi dan lingkungan yang dikuasai gang kriminal. Nasib menghempaskan Alfa pada Wall Street, salah satu surga dan neraka dunia dalam arti sesungguhnya, di mana ia meraih sukses sebagai hot-shot trader, gitaris berbakat, sekaligus full-blown insomniac di saat yang sama. Tertidur lelap sama artinya dengan meregang nyawa baginya, karena secara tak sadar ia memiliki suicide program ketika tertidur. Pertemuan dengan seorang gadis luar biasa cantik di sebuah klub rahasia yang membuatnya terbablas tidur dan nyaris mati, mempertemukannya dengan Dr. Nicky dan Dr. Colin dari Somniverse, sebuah pusat kajian yang berfokus pada masalah tidur, mulai dari insomnia, gangguan tidur, mimpi, hingga lucid dream. Perlahan tabir mulai terbuka dengan sendirinya, mengantarkan Alfa ke Tibet untuk menemukan jawaban dari segala mimpinya dan belajar memercayai instingnya sekali lagi.

Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapat dari buku-buku Supernova, dalam Gelombang, hal itu adalah mekanisme mimpi, lucid dream, dan kosmologi Batak yang mengagumkan. Gaya penulisan Dee sendiri dalam buku ini terasa sangat fokus dan seakan tak menyisakan ruang untuk bernafas. Klimaks terus terbangun dengan intens hingga buku sudah mencapai ¼ akhir. Bayangkan Inception bertemu dengan Bourne Identity dan Jumper. Unsur fast-paced action itu yang memaksa saya untuk tidak berhenti membaca sampai larut malam, bahkan ketika mata ini sudah lelah dan rasa ngantuk mulai menyerang. Seakan saya bisa merasakan perjuangan Alfa untuk bisa tetap terbangun dan menghindari tidur. Saking cepatnya, entah kenapa ada sensasi fast-forward yang saya rasakan dalam Gelombang, yang membedakannya dari buku-buku sebelumnya yang mengajak kita menikmati perkembangan tokoh utamanya dengan lebih personal. Ada sesuatu yang membuat saya merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok Alfa ketika ia dewasa karena ia hanya terfokus pada mimpinya dan emosinya yang naik-turun. Tidak ada keterikatan dalam level emosional seperti yang saya alami dengan Elektra dan Zahra.

Gelombang terasa seperti paradoks alfa dan omega. Di satu sisi, secara kronologis Gelombang adalah buku terakhir yang berfokus pada satu tokoh (avatar?) utama dan menjadi kepingan terbesar puzzle yang menjawab banyak pertanyaan tentang universe yang dibangun Dee. Di buku ini kita diperkenalkan dengan istilah-istilah seperti Asko, Infiltran, Peretas, dan Sarvara sekaligus beberapa clue yang membuat kita mulai meraba alur cerita sebetulnya dari saga ini. Di sisi lain, Gelombang pun justru terasa seperti babak awal dari buku-buku sebelumnya. Akar, Petir, Partikel adalah cerita yang sebetulnya bisa berdiri sendiri tanpa adanya bab yang berkaitan dengan KPBJ, namun rasanya sulit untuk benar-benar menikmati Gelombang tanpa pernah membaca buku-buku sebelumnya, terutama mungkin Akar, karena dua tokoh penting dalam Akar kembali muncul dalam Gelombang dalam porsi singkat namun sangat menohok bagi siapa pun yang membaca Supernova dengan khidmat. Gelombang seakan ingin menghempas kita untuk kembali membaca ulang buku-buku sebelumnya demi mengumpulkan remah-remah clue yang tercecer.

Terlepas dari beberapa hal yang mungkin terasa ganjil dan menimbulkan beberapa pertanyaan baru, kita semua tahu jika Gelombang adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. And I can’t hardly wait for it.

Book Club: Based on a True Story 01- Pure Saturday

Pure Saturday

Pure Saturday (Based on a True story)

Idhar Resmadi

U&kl Books

Ada beberapa faktor yang menggugah saya untuk segera membaca buku biografi band Pure Saturday ini. Yang pertama menangkap perhatian tentu wujud fisiknya. Dari segi desain semata, buku pertama lansiran U&KL Publishing ini terlihat unik dengan desain cover minimalis dan clean berwarna putih bertuliskan Pure Saturday yang diselimuti cover jacket berwarna serupa yang menampilkan tulisan Based on a True Story. U&KL Publishing sendiri merupakan sub division terbaru dari UNKL347, sebuah brand sub culture yang pasti telah akrab di telinga kaum urban dan kreatif Tanah Air. Dilahirkan oleh sebuah rumah desain mumpuni, pemilihan materi kertas, font, layout dan foto-foto yang dipakai dalam buku ini akan mendapat apresiasi dari siapapun yang menggemari desain produk. Faktor kedua untuk saya pribadi adalah penulis buku ini, Idhar Resmadi, seorang jurnalis musik dan budaya populer yang tulisan-tulisannya telah saya akrabi sejak ia menjabat sebagai pemimpin redaksi Ripple Magazine. Faktor ketiga dan paling krusial tentu saja subjek isi buku ini sendiri. Pure Saturday yang kini terdiri dari Satrio Nurbambang (vokal & gitar akustik), Adhitya Ardinugraha (gitar), Arief Hamdani (gitar), Ade Purnama (bass), dan Yudhistira Ardinugraha (drum) merupakan salah satu band lokal paling legendaris yang memiliki pengaruh besar pada dunia musik Indonesia, khususnya skena indie, sampai hari ini.  Ditulis dengan pendekatan studi literatur dan interview personal tak hanya dengan kelima personel PS saat ini, tapi juga bersama Suar Nasution, vokalis pertama mereka yang juga salah satu founder band tersebut, para manajer, dan orang-orang dalam lainnya, Idhar memaparkan setiap langkah yang telah ditempuh band asal Bandung tersebut sepanjang karier mereka yang tahun depan genap berusia 20 tahun.

Bicara tentang buku biografi sebuah band, berarti bicara tentang sejarah, drama balik layar, dan, suka-duka, dan legacy dari band tersebut dengan cara yang candid. Jujur saja, saya baru benar-benar mengenal dan mulai mendengarkan band ini sekitar 2005, dari album ketiga mereka Elora. Ingatan saya sebelum itu tentang band ini mungkin hanya beberapa bait lagu “Kosong” yang dulu kerap dinyanyikan kakak saya sambil main gitar. Lewat buku ini, banyak sekali cerita yang benar-benar baru saya ketahui soal band ini saat saya ‘terlempar’ ke tahun 1994, ketika band ini bercikal dari sebuah band tongkrongan bernama Tambal Band di sebuah sudut kota Bandung yang dinamakan Gudang Coklat. Bagaimana kelima personel formasi awal bertemu, berganti nama menjadi Pure Saturday demi mengikuti festival musik pertama mereka yang kemudian berhasil keluar sebagai pemenang, yang kemudian melejitkan nama mereka di acara-acara musik di Bandung.

Semakin menyusuri kedelapan bab dalam buku ini, semakin saya tenggelam dalam memory lane yang terjadi pada Pure Saturday. Semua cerita pahit-manis mereka dari mulai proses penciptaan album debut yang menjadi tonggak meledaknya musik alternatif Indonesia, bagaimana mereka menjalani popularitas yang ternyata sejalan dengan banyak persoalan baru, pergelutan emosi antara personel, pergantian vokalis dan gigihnya Satrio sebagai vokalis baru untuk membuktikan diri di antara cemoohan, hingga akhirnya Pure Saturday berhasil melewati semua itu dan tetap bertahan sampai sekarang dengan lima album dan fans yang tetap setia, semua itu berhasil dirangkum dan dipaparkan dengan komprehensif oleh Idhar.

Terlepas dari beberapa minor technical mistakes dari segi tata bahasa dan beberapa alur yang kadang terkesan ‘melompat-lompat’, buku setebal 230 halaman ini adalah dokumentasi menawan yang menyoal musik Indonesia dari salah satu band Tanah Air yang paling gemilang. Bukan hanya bagi para fans Pure Saturday yang disebut Pure People, tapi juga untuk siapapun yang mencintai musik dan khususnya bagi band sekelas Pure Saturday itu sendiri. They deserved it, we deserved it.

 

Book Club: Ladya Cheryl

ladya-cheryl

Ladya Cheryl adalah salah satu dari sedikit aktris muda Indonesia yang memiliki resume akting yang menarik. Setelah breakthrough role-nya sebagai seorang gadis rapuh di Ada Apa Dengan Cinta?, Ladya terus memainkan peran-peran tak biasa di film-film berikutnya seperti Fiksi, Kara Anak Sebatang Pohon, Babi Buta Yang Ingin Terbang dan Postcard from the Zoo. Saat ini selain bermain film yang umumnya berjenis film festival, Ladya juga sibuk menjadi pemain bass untuk Zeke Khaseli, menonton film-film Indonesia di bioskop, merawat kaktus pemberian teman dan merajut. “Bisa dibilang hobi, tapi kadang-kadang bosan juga. Merajut belajar sama teman. Di daerah Mandar ada toko benang namanya Sasha, kalau beli benang di sana diajarin merajut gratis sekalian. Senang juga. Kenapa pilih rajut? karena lihat teman waktu itu asik merajut sambil ngobrol, tapi akhirnya jadi barang, seperti cardigan, topi, syal,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 31 tahun lalu ini. “Kalau kita baca buku atau nonton film, ada karakter yang membuat kita ingin menjadi seperti karakter atau mengikuti kisah hidupnya, kemudian merasa senasib atau simpati/empati,” ujar Ladya ketika saya memintanya memilih 5 novel yang menurutnya menarik untuk dijadikan film.

les_miserables

Les Misérables

Victor Hugo

Buku ini ceritanya memang panjang dan sudah difilmkan. Saya sudah nonton dan inginnya dibuat yang lebih lengkap seperti bukunya. Mungkin kalau terlalu panjang untuk difilmkan, bisa dibuat serial. Di Inggris ada play-nya, ingin banget nonton.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The Adventures of Tom Sawyer

Mark Twain

Sudah difilmkan juga. Karena ketika saya baca The Adventures of Tom Sawyer, saya merasa terhibur dan ingin hidup di kota kecil yang ada sungainya, main sama teman-teman sekitar rumah di atas bukit. Di zaman itu, kalau mau dapetin sesuatu/barang yang anak-anak itu suka, mereka saling tukar benda-benda kepunyaan masing masing, rasanya ingin ada di zaman itu, tempat itu.

Sybil1

Sybil

Flora Rheta Schreiber

Ini saya belum tau sudah atau belum. Kalau belum boleh juga, karena ingin tau penggambaran perpecahan Sybil akan seperti apa. Untuk buku ini, saya lebih ingin lihat siapa pemainnya, karena buku ini diangkat dari kisah nyata, jadi kalau kita mau nonton film Sybil, mungkin pemainnya yang tidak biasa kita lihat, atau pemain yang bisa menghilangkan identitas dirinya sendiri. Karena saya penasaran dengan Sybil dan teman-teman kepribadiannya.

audrina
My Sweet Audrina

V.C.  Andrews

Menunggu perasaan tegang dan suasana rumah Audrina dan keluarganya yang aneh.

book-cover
Norwegian Wood

Haruki Murakami

Ini juga sudah difilmkan, tapi saya belum nonton. Belum siap kalau tidak sesuai bayangan, karena baca buku ini seperti berada di Jepang dan menonton langsung dialognya. Intinya rasanya seperti nonton filmnya ketika baca. Terasa nyata.

Sweeter Than Fiction, An Interview With Maradilla Syachridar

Selalu menyenangkan untuk mengulik sosok seorang novelis, dan dalam kasus Maradilla Syachridar, the excitement times two.

Sekarang ini bila kita datang ke toko buku, melihat rak khusus yang ditujukan untuk karya para penulis muda Indonesia tentu bukan hal yang aneh lagi. Kita tentu masih ingat ada semacam gairah menulis dan membaca di kalangan anak muda, di mana setiap harinya bermunculan buku-buku baru dari berbagai genre, walau yang menjadi mayoritas adalah teen-lit dan humor. Dari sekian banyak penulis itu, satu nama yang menarik untuk diangkat adalah Maradilla Syachridar yang pertama kali dikenal sebagai penulis saat menerbitkan buku pertamanya, Ketika Daun Bercerita, tahun 2008 lalu. Menyebut nama Seno Gumira, Stephen Chbosky, Haruki Murakami, Ugoran Prasad, Budi Darma, Steve Toltz, dan Paolo Coelho sebagai penulis favoritnya, nama Maradilla kian dikenal publik sejak merilis novel kedua berjudul Turiya yang diterbitkan oleh Else-Press bulan April kemarin.

Turiya sendiri bercerita tentang tiga orang sahabat bernama Dwayne, Millo dan King. Mengangkat tema cinta dan arti kebahagiaan dengan elemen pendukung seperti lucid dream, wine, dan filsafat, dipermanis dengan ilustrasi buatan Ykha Amelz yang mempertajam ambient yang ingin disampaikan, Turiya mungkin terkesan rumit tapi jangan bayangkan sosok penulisnya sebagai orang yang serius dan kaku karena Maradilla adalah pribadi yang menarik dengan paras cantik khas mojang Bandung. Selain sibuk menulis dan menyelesaikan skripsinya di Fakultas Hukum UNPAD, hari-hari gadis manis kelahiran 22 Maret 1987 ini juga diisi dengan menjadi announcer Rase FM Bandung dan tampil bersama Homogenic sebagai additional vocal dan synth player. Ketika tempo hari saya mengunjungi Bandung, tentu saja saya tak melewatkan kesempatan untuk bertemu dengannya dan mencoba mengenal dirinya sebagai penulis dengan lebih jauh, so here it is:

How do you reflect yourself in your writing?

Seorang Maradilla Syachridar dari sisi yang berbeda. Ketika dalam kehidupan sehari-hari saya menjadi pribadi yang terkesan cuek dan playful, setiap karya yang saya buat adalah sebuah cara untuk memperlihatkan the diary of my inner emotions, thoughts, and philosophical stuffs, karena saya tidak mau menyimpan semuanya sendirian.

Apa perbedaan paling signifikan dari Turiya bila dibandingkan novel pertamamu, Ketika Daun Bercerita?

Walaupun dalam setiap karya saya selalu ada karakter khas yang menjadi benang merah, tapi kalau dilihat ada satu perbedaan besar antara Turiya dan Ketika Daun Bercerita. Saya merasa novel Ketika Daun Bercerita masih sangat memperlihatkan sisi naif saya dalam membuat suatu cerita (which is good for my learning progress), dan Turiya adalah satu karya yang ditulis pada fase dimana saya mulai ingin memperkuat karakter penulisan saya.

Bagian paling sulit dalam menulis sebuah cerita menurutmu?

Menjahit bagian-bagian atau cerita-cerita yang berdiri sendiri, karena saya jarang membuat kerangka cerita, maka yang ada di otak ya tulis aja dulu. Lalu tantangan selanjutnya adalah bagaimana caranya menjembatani ide-ide yang ditulis secara acak menjadi satu keseluruhan cerita.

Do you ever feel creatively blocked?

Bukan pernah lagi, tapi sering, apalagi sebenarnya saya adalah orang yang cukup moody dalam hal menulis. Akhirnya ketika saya mulai menerima tawaran-tawaran untuk menulis di luar novel, saya mulai berlatih untuk berdamai dengan deadline. Jadi ya itu, ketika stuck, saya tidak lagi menuruti ego saya, tapi berusaha untuk mencari referensi dan hal-hal yang bersifat refreshing.

Buku paling berkesan yang pernah kamu baca?

Terlalu banyak. Tapi salah satu buku paling berkesan yang saya baca akhir-akhir ini adalah buku lama, A Fraction of The Whole oleh Steve Toltz. Ibaratnya kitab suci, kalau saya buka acak, semua kata-katanya quotable. Banyak kata-katanya yang “Berteriak”, dan memunculkan rasa panas di hati karena penciptaan karakter utamanya yang sangat kuat dan brilian.

Ketika menulis, bagaimana caramu meriset detail atau mengumpulkan bahan cerita dalam tulisanmu? Apakah kamu membaca/mendengarkan musik/menonton film tertentu ketika sedang menulis Turiya?

Ya. Saya banyak belajar dari buku-buku dari Budi Darma, buku-buku tentang wine, History of Art (karena banyak menyinggung aliran-aliran lukisan) banyak menonton film-film yang bertemakan mimpi (Film-filmnya Akira Kurosawa atau Michel Gondry misalnya), dan musik-musik yang cenderung dreamy.

Selain dari literatur yang kamu baca, dari mana lagi biasanya kamu mendapat inspirasi atau stimulasi kreatif?

Random googling, blogwalking, sampai-sampai saya merasa tersesat dan penuh dengan inspirasi karena beberapa kali terdampar di blog orang-orang yang saya sendiri tidak menyangka bisa menemukannya.

Since Turiya talks a lot about wine, do you enjoy drinking the wine too? Kalau iya, jenis wine favoritmu apa?

Just being the social drinker. Saya lebih tertarik pada filosofi dan sejarah pembuatannya daripada meminumnya. Tapi, untuk wine favorit, pilihan saya akan jatuh pada wine yang cenderung feminin, seperti Moscato dan sparkling Chardonnay.

Komentar paling menyebalkan yang pernah kamu terima terkait dengan tulisanmu?

Sebenarnya dibilang menyebalkan enggak juga sih. Menyentil mungkin. Saya pernah dikritik bahwa tema yang diambil pada tulisan Turiya cukup umum dan sederhana, tapi saya terkesan terlalu berambisi untuk membuatnya menjadi berat. Padahal memang sengaja dibuat demikian, karena dulu saya menulisnya memang sedang dalam fase seperti itu. Saya pikir menarik juga untuk mengabadikan momen dimana saya sedang mengalami (yang kritikus sastra biasa bilang) fase sastra kamus.

Project selanjutnya? Sudah ada rencana untuk menulis lagi?

Sudah mulai jalan. Untuk proyek selanjutnya saya bersama 6 penulis lainnya sedang membuat buku kumpulan cerpen, dan juga mulai menyicil novel ketiga dan keempat secara bersamaan.

As published in NYLON Indonesia October 2011

Photo by Deni Dani

http://www.maradilla.com/

The Epiphany of Dee, An Interview With Dewi Lestari

Menjawab penantian panjang para penggemar serial Supernova, Dewi Lestari memberikan kepingan puzzle terbarunya, Partikel. 

Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu sesuatu yang kamu idamkan, dan dalam hal ini, sesuatu itu adalah sebuah buku karya Dewi “Dee” Lestari. Terlepas apakah kamu penggemar karya penulis Indonesia atau bukan, saya yakin kamu tahu tentang Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, novel pertama Dee yang dirilis tahun 2001 dengan respons yang sangat baik. Berturut-turut, Dee lalu merilis sekuelnya, Akar di tahun 2002 dan Petir di 2004 yang membuatnya mendapat fan base yang loyal serta menjadi salah satu nama paling menarik dan dicintai di ranah literatur negeri ini. Pembaca pun terus dibuat penasaran dengan kelanjutan serial yang akan dirilis dalam 6 buku ini (heksalogi) dan saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang kerap “meneror” Dee tentang kapan episode-episode selanjutnya dirilis. Namun, Dee tampaknya ingin beristirahat sejenak dari Supernova dan menulis beberapa buku seperti Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas dan Madre dalam rentang waktu 8 tahun itu, hingga akhirnya tanggal 13 April lalu tepat pukul 4:44 sore, buku keempat Supernova yang berjudul Partikel dirilis serentak di beberapa toko buku terpilih. Menjelang dirilis, Partikel sudah menimbulkan histeria tersendiri di dunia maya berkat promosi di Twitter yang berhasil menyedot perhatian para penggemar lama yang memang sudah lama menanti dan penggemar baru yang tak kalah penasaran. Di beberapa situs yang menyediakan pre-order, Partikel pun masuk ke daftar best seller hingga sudah naik cetak dua kali bahkan sebelum benar-benar dirilis.

Partikel sendiri masih mengikuti pattern dari dua episode sebelumnya, Akar dan Petir yang menceritakan satu tokoh sentral sebagai inti cerita (Bodhi dan Elektra, respectively). Partikel memperkenalkan tokoh Zarah, seorang gadis yang memiliki kedekatan khusus dengan alam, yang harus berhadapan dengan banyak misteri besar dalam hidup dan rangkaian twist of fate yang mengantarkan gadis kelahiran Bogor ini ke berbagai penjuru dunia sebagai seorang wild life photographer dengan misi mencari ayahnya yang tiba-tiba menghilang. Dee dengan luwes memadukan hal-hal yang membuatmu berpikir keras dengan cerita yang mudah dicerna menjadi kesatuan cerita yang enggan kamu lepas sebelum selesai. Di balik elemen rumit (suatu hal yang menjadi keasikan tersendiri serial ini) seperti UFO, konservasi alam, enteogen, spiritualitas, religi, dan sains, Partikel juga bisa disebut sebagai coming-of-age story dari seorang Zarah, di mana sejak belia ia kerap berbenturan dengan sistem sosial dan agama yang penuh stigma, mempertahankan prinsip pribadinya, broken marriage orangtuanya, mencari arti “rumah” sebenarnya, melepas virginitas, serta jatuh cinta dan patah hati seperti gadis-gadis lain seumurnya.

Tak lama setelah menyelesaikan novel ini, saya menghubungi Dee untuk berbincang tentang Partikel dan episode-episode berikutnya.

Awalnya, hal yang paling ingin saya tanyakan adalah begitu lamanya rentang waktu dari Petir ke Partikel, but you already explain about it on the book itself, jadi saya akan mengganti pertanyaan tersebut dengan:  how do you feel right now setelah Partikel akhirnya dirilis?

Mixed of feelings. Yang mendominasi tentu saja rasa lega, sekaligus excited ingin tahu respons pembaca bagaimana, apalagi mereka yang sudah menunggu bertahun-tahun. So far, I’m overwhelmed with the warm response, beyond happy!

Bolehkah saya meminta Anda untuk sedikit mengingat kembali saat pertama kali memulai menulis Supernova?

Saya menulis Supernova tahun 2000, tak lama setelah saya mengalami semacam “epifani” personal yang mengubah total pandangan saya terhadap spiritualitas, religi, dan sebagainya. Dulu tujuannya bikin Supernova sebetulnya tidak lebih dari berbagi penelusuran spiritual pribadi saya.

Bagian apa yang paling susah dan menyenangkan dalam menyelesaikan Partikel?

Paling susah adalah waktu. Saya menulis Partikel dalam kondisi sudah ada anak dua, yang satu sudah SD, yang satu masih balita, di tengah gempuran berbagai urusan pekerjaan dan mengurus rumah tangga. It felt almost impossible. Tapi dengan dukungan suami saya dan orang-orang rumah, keleluasaan dari penerbit, dan juga tekad yang memang sudah bulat untuk menyelesaikan manuskrip Partikel, akhirnya bisa juga. Yang paling menyenangkan tentunya adalah proses menulis itu sendiri. Bisa tenggelam dalam semesta kehidupan karakter saya. It’s a pleasant and exciting process, bahkan saat sulit sekalipun. If it’s pain, then it’s a good pain.

Buku-buku atau materi apa saja yang paling membantu Anda sebagai referensi/bahan riset untuk Partikel?

Setiap bagian atau babak punya referensi tersendiri. Tiga yang paling membantu adalah buku-buku dan penelitian Paul Stamets tentang fungi, Graham Hancock tentang enteogen, dan Birute Galdikas tentang orang utan. Selain itu masih banyak lagi, tapi bisa dibilang pondasi terkuat adalah tiga penulis tadi.

Di Partikel Anda menuliskan dengan begitu gamblang tentang efek dari enteogen, apakah Anda juga mencoba mengonsumsinya untuk mengetahui efeknya?

Sayangnya tidak. I wish, though. Tiga tahun lalu saya sudah berencana ke Peru, tapi batal karena hamil anak kedua. Akhirnya, murni riset. Tapi, pengalaman bermeditasi amat sangat menolong. Ketika saya membaca dan tanya jawab dengan mereka yang sudah mengalami, saya sangat bisa relate.

Saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, kapan episode berikutnya, Gelombang, akan dirilis? Apakah Anda sudah mulai menulis beberapa bagiannya atau belum sama sekali?

Semua episode Supernova sudah saya buat konsepnya sejak 2001. Jadi embrio Gelombang sudah lama ada. Rencananya saya menulis maraton, sih. Jadi tidak ada proyek menulis lain sampai Supernova selesai.

Bagaimana dengan project lainnya? Saya dengar Perahu Kertas sedang difilmkan, bagaimana keterlibatan Anda dalam pembuatannya?

Perahu Kertas sudah selesai syuting, akan tayang Agustus. Saya menulis skenario dan menggawangi hingga proses casting kemarin. Sisanya sudah di tangan Hanung Bramantyo dan para produser. Untuk menulis, saya akan melanjutkan penulisan Supernova selanjutnya. Sekarang masih dalam tahap riset. Ada beberapa buku saya lain yang akan difilmkan juga, tapi saya nggak akan terlibat jauh. Mau menyelesaikan Supernova dulu.

How do you manage to balance the family life and writing?

I don’t think there’s any certain formula to that. Dijalankan saja, lengkap dengan trial dan error tentunya. Selalu ada konsekuensi. Ketika menulis Partikel, saya sempat “disapih” (berhenti menyusu – red.) oleh Atisha, anak kedua saya, padahal saya masih berencana menyusuinya. Mungkin dia merasa vibrasi ibunya jadi agak lain. Tapi begitu manuskrip selesai, pelan-pelan dia balik lagi menyusui. Sekarang sudah normal lagi. Suamiku, yang untungnya terapis, juga kenyang dengan ups and downs yang saya alami, ketika stuck, ketika riset mentok. He was really, really, my strongest pillar throughout the process.

Untuk sekarang, apa yang sedang Anda inginkan?

Beristirahat dulu. It was quite a roller coaster, secara batin terkuras tiap kali menulis intensif.

Apa mimpi-mimpi Anda yang belum terwujud?

Hmm. Apa, ya. Saat ini rasanya saya lebih condong melihat sesuatu jarak pendek, nggak terlalu panjang-panjang lagi. Dalam jarak dekat ini “impian” saya adalah menyelesaikan Supernova. Tapi sebetulnya itu lebih ke target daripada “mimpi”.

Ok, any last word for this time?

Bacalah Partikel. Hehe.

As published in NYLON Indonesia May 2012