On The Records: Lao Ra

“Saya tidak terlalu yakin apa yang sebetulnya mendorong saya untuk bermusik, it was a mix of things I guess; dari mulai terlalu banyak menonton MTV, menjadi seorang attention seeker, dan mungkin ada bagian dari diri saya yang ingin membuat orangtua saya kesal,” ungkap Laura Carvajalino, seorang musisi pendatang baru asal Kolombia yang bermusik dengan nama Lao Ra. Lahir dan besar di ibukota Kolombia, Bogota, yang terkenal sebagai salah satu kota dengan angka kriminalitas tertinggi di dunia sekaligus iklim konservatif dan religius yang kental, musik memang menjadi sebuah pelarian sekaligus pemberontakan bagi gadis kelahiran 22 Juli 1991 tersebut.

Mengaku mulai membuat musik sejak umur 14 tahun dari kegemarannya menulis puisi dan bermain gitar akustik, karier profesionalnya dimulai saat dia bertemu dengan Peter Jarrett yang sekarang menjadi manajer dan produsernya di sebuah restoran India. Kolaborasi keduanya menghasilkan lagu bertajuk “Jesus Made Me Bad”, sebuah lagu rebel pop berelemen glitchy tropical beats yang danceable dengan video yang menampilkan Lao Ra berdoa di gereja sebelum menelusuri jalanan Bogota yang dipenuhi graffiti sambil menggenggam botol sampanye. “Ibu saya tidak menyukai lagu itu,” ujarnya. ”Walaupun keluarga saya sebetulnya tidak terlalu relijius, dia berpikir jika saya tidak menghormati tradisi, but I just keep saying that’s actually the point; it’s about not apologizing for yourself. We all are wild at heart and we can’t help our behavior. Tapi dia menyukai lagu-lagu lainnya, haha! Dia sangat suportif dan selalu mendukung saya!” sambungnya.

Lagu tersebut termasuk dalam debut EP berjudul sama yang ia rilis di bawah label Black Butter setelah menyelesaikan kuliahnya di sebuah akademi musik di Kolombia dan pindah ke London. Lirik lugas, sikap cuek, dan pesan-pesan tersirat yang dibalut musik electronic pop dan influens R&B/hip-hop yang catchy dalam musiknya membuatnya dibandingkan dengan M.I.A. dan Gwen Stefani, yang diterimanya dengan senang hati karena kedua musisi memang tersebut termasuk influensnya, namun bukan berarti dia tidak punya warna tersendiri yang lahir dari tempat asalnya. “Im very influenced by pop music, but I’m equally influenced by Caribbean and Colombian traditional music. Saya ingin musik saya terdengar fresh, pop, dan mewakili diri saya dan tempat asal saya. Datang dari Bogota tidak hanya menginfluens musik saya, tapi juga diri saya sendiri. It’s the place where I was born, my people and what I know best.”

 Pengaruh dari lingkungan sekitarnya tidak berhenti di elemen tropical beat dalam musiknya, tapi juga lirik-lirik lagu yang menurutnya berasal dari situasi, pemikiran, dan dilema yang secara konstan berputar di benaknya. “Daddy Issues” bercerita soal sosok tipikal Latin dad yang absen dan tidak pernah benar-benar berkomunikasi dengan anak-anak mereka sehingga banyak anak perempuan yang tidak tahu bagaimana seharusnya mereka diperlakukan oleh pria dan seringkali berakhir mengejar para bad boys. Sementara dalam “Tell Me Why” dengan video yang menampilkan dirinya dan sahabat perempuannya di sebuah kamar temaram dengan lampu neon, Lao Ra menunjukkan vokal innocent dengan lirik penuh percaya diri dan frasa-frasa catchy sebagai bentuk empowerment melawan para fuckboi. “Lagu ini tentang stupid boyfriends, young love, and heartache. Tentang cowok-cowok kemarin sore yang sok bertingkah selayaknya pria dewasa. Lagu ini sangat personal karena saya rasa hampir semua cewek bisa relate ke hal ini karena kita pernah pacaran dengan cowok semacam itu,” jelasnya. Sambil masih menulis dan menyiapkan album penuhnya, kali ini Lao Ra pun membocorkan katalog album yang mempengaruhi musiknya.

Love.-Angel.-Music.-Baby.

Gwen Stefani

Love. Angel. Music. Baby.

Bagi saya album ini adalah definisi sempurna dari kata “cool”. Semua lagu di album ini keren- its fun, edgy, dope production, and super original lyrics. Gwen is next level! Menurut saya album ini adalah ultimate goal of how a pop album should be.

miaarular

M.I.A.

Arular

Pertama kali saya mendengarkan album ini, it really changed my life, and I’ve never heard anything like it. Beats-nya terdengar aneh seperti datang dari planet lain. Penyampaian liriknya sangat mentah dan energetik. It was really a punch in the face- super confident and so ahead of everything else.

Bomba12_cover_new

Bomba Estereo

Elegancia Tropical

Bomba adalah band Kolombia favorit saya. No one makes music like them back home. Mereka punya lebih banyak swag dibanding siapapun. Their fearless approach to Colombian traditional music mixed with dance beats is so sick.

cafetacvba

Cafe Tacvba

Re

Ini adalah CD pertama yang saya punya. Kakak saya memberi saya CD ini untuk kado Natal, walaupun saya masih sangat kecil namun saya langsung terobsesi dengan musik yang mereka buat. Mereka adalah band Meksiko yang memadukan pop dan musik dance dengan musik tradisional Meksaiko seperti racheras. Sampai hari ini saya masih percaya kalau album ini salah satu album Latin Amerika terbaik dan mereka adalah band Meksiko paling hebat sepanjang masa.

 Johnny_Cash-The_Great_Lost_Performance-Frontal

Johnny Cash

The Great Lost Performance

He was the ultimate bad boy; Liriknya, personanya, dan vokalnya sangat jujur dan unapologetic, bahkan sampai karya-karya terakhirnya sebelum wafat. Johnny is one of my biggest ever crushes. Saya dulu mempelajari liriknya sambil membuka kamus Inggris-Spanyol. Saya bisa bilang jika Johnny Cash lah yang mengajarkan saya Bahasa Inggris.

majorlaze

Major Lazer

Peace Is The Mission

These guys are the best producers around. Mereka tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan dan mereka membuat seluruh dunia berdansa mengikuti irama mereka. Saya harus memberi acungan jempol untuk itu. Their music is borderless and thats super cool!

 

Fluorescent Adolescent, An Interview With Saffron Llewellyn

We hate to burst the bubble, tapi menyebut Saffron Llewellyn hanya sebagai representatif dari generasi millennial adalah sebuah honest mistake. She’s actually way more than that. 

Fotografi: Sally Ann & Emily May. Stylist: Anindya Devy & Priscilla Nauli. Makeup Artist: Priscilla Risjad. Assistant Stylist: Versace Wang.

img_9498

Lebih dari edisi apapun, memilih cover untuk edisi Anniversary selalu menjadi momen krusial bagi kami. Kami berharap sosok yang menghiasi sampul edisi Anniversary kami untuk set up the mood for the upcoming year and to be the face yang dapat mewakili DNA majalah yang sedang kamu pegang ini. Beberapa nama di tahun-tahun sebelumnya yang meliputi Eva Celia, Sherina, dan Chelsea Islan adalah segelintir bintang muda Tanah Air yang tak hanya diberkahi oleh talenta besar di bidang masing-masing tapi juga their own personal style and state of mind yang selaras dengan semangat yang kami usung, which is para perempuan muda yang punya sikap, mimpi, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Memasuki tahun keenam ini, we’re planning to even gutsier and take more risk. Kami ingin memperkenalkanmu kepada fresh face yang bisa menjadi sosok alternatif dari yang biasanya kamu lihat. Salah satunya adalah cover kami edisi ini, Saffron Llewellyn. Namanya mungkin masih terbilang asing bagi banyak orang, beberapa mengenalnya sebagai putri dari Gwen Winarno dan cucu dari pakar kuliner Bondan Winarno, sementara bagi sebagian orang lainnya, she’s a budding model with promising future.

            Bernama lengkap Saffron Jemima Llewellyn, wajah gadis berdarah Indonesia, Belanda, Inggris, dan Amerika yang lahir di Jakarta, 26 Juni 2001 silam ini belakangan semakin sering dijumpai dalam berbagai pemotretan untuk majalah-majalah high fashion dan campaign untuk brand seperti The Balletcats dan Mazuki. Tapi di usianya yang baru menginjak 15 tahun, modelling is more like an after school extra activity for her. Saat tiba di apartemen milik fotografer Sally dan Emily yang menjadi lokasi shoot kali ini, Saffron literally baru pulang dari sekolah dengan masih memakai seragam, rambut yang diikat seadanya, dan wajah polos tanpa riasan apapun. Dengan tinggi 163 cm dan kesan pertama yang terlihat canggung, sejujurnya ia terlihat seperti anak sekolah biasa dengan tas penuh buku pelajaran. Things are getting interesting setelah dia duduk di depan cermin rias, menarik napas, dan membiarkan wajahnya mulai dirias oleh makeup artist yang memperlihatkan facial features miliknya dengan cekatan. Setelah mengenakan looks yang telah disiapkan dan mulai berdiri di depan kamera, the transformation is complete. “I wouldn’t mind doing modelling,” ujarnya sambil tersenyum. “In fact I really enjoy it. My mom says dari masih bayi saya juga sempat ikut beberapa foto, but I think my first ever shoot yang saya ingat itu waktu umur 11 tahun untuk majalah Dewi, and after that it’s kinda build it up,” sambungnya.

img_2964

Ditemani oleh playlist 90’s R&B hits dari Spotify, ia terlihat nyaman berada di depan kamera sambil sesekali menggumamkan lirik dari lagu TLC yang terdengar. She knows her angles so well dan ketika diminta menunjukkan raut fierce, wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan sang ibu, with a hint of young Natalie Portman and the same allure of Lily-Rose Depp. Namun ketika tertawa atau diminta menunjukkan ekspresi konyol, wajahnya langsung kembali carefree selayaknya anak sebayanya. Setelah beberapa looks, dia memekik senang saat kami menunjukkan t-shirt bergambar selfie dari Instagram dirinya yang kami siapkan khusus (later on the t-shirt became a birthday present for her boyfriend). Memakan waktu dari jam 4 sore sampai jam 9 malam, shoot terakhir dilakukan di kolam renang yang cukup dingin without any complaints. Ini memang bukan cover majalah pertamanya, but still, dia ternyata sama excited-nya dengan kami. “I was like ‘Nylon? It’s pretty big, right?’ saat dihubungi kalian, lucunya saya sebetulnya pernah datang ke acara Nylon bersama teman-teman saya and yeah its cool, dan sekarang saya ada di sini untuk foto cover! I’m actually really happy and thank you for having me to do it!”

            Dengan umur yang masih sangat belia dan potensi yang luar biasa, saya rasa hanya masalah waktu sebelum wajah Saffron mendominasi halaman-halaman fashion spreads, covers, dan proyek seru lainnya. In the mean time, education is still her number one priority. Tidak mau asal ambil pekerjaan, ia mengaku memilih semua tawaran dengan hati-hati dengan concern utama tidak mengganggu jadwal sekolahnya. I love meeting new people and getting to do so many different things in the process. Memang agak susah untuk terbiasa but I’m getting there, you know? The creative process is really fun. Yang saya nggak suka paling kalau terlalu lama dan saya masih punya banyak homeworks, haha.”

Di balik mature professionalism yang ia tunjukkan, berbincang dengannya ternyata sama serunya seperti menemukan sosok seorang BFF. Super chill dan secara candid menceritakan segalanya tanpa pretensi apapun, she’s actually a normal teenager who likes to spend the weekend with her friends or boyfriend dan menikmati masa remajanya. “I like being teenager. In the fashion point of view pun saya merasa fashion saat ini sedang booming, like the guys really dressing up at the moment. I like how teenagers nowadays have good sense of fashion. I think we’re really outgoing and like to try new things out there,” ujarnya.

Bicara soal remaja saat ini, most people akan menyambungkannya dengan generasi Millennial, dan Saffron punya pengalaman soal hal itu. “You know what happens? Dalam pemotretan sebelumnya, they ask me about being millennial dan banyak yang bilang kalau millennial itu anak-anak seumuran saya, right? Tapi saya sempat search di internet and found out that I’m not even counted as millennial. Orang bilang millennial kan mereka yang lahir dari tahun 1980 sampai 2000, but I was born in 2001, haha! So, I’m like ‘are you sure I’m millennial?’” ungkapnya sambil tertawa renyah. Well, maybe it’s time for us untuk mulai memikirkan generasi AFTER the millennial seperti Saffron, generasi baru yang mungkin lebih berani lagi dengan sisi individu dan sikap rebellious khas remaja tanpa peduli prasangka dari generasi-generasi pendahulunya. “Well… Excuse me, but we’re the kids at the moment, like gimana lagi right? I mean we’re just enjoying our time, leave us alone! Haha!”

So Saffron, boleh cerita sedikit soal masa kecil kamu? Dulu kamu kecilnya kaya gimana sih?

Waktu kecil saya sempat sangat girly, tapi kemudian saya jadi lumayan tomboy setelah mulai aktif olahraga seperti tennis dan renang. I was very active and cut my hair really short. So yeah, saya sempat jadi girly Barbie girl kemudian tomboy dan kemudian jadi seperti sekarang which I think is a mix of both of them.

What’s your childhood dream back then?

It’s so embarrassing, tapi saya ingat dulu saya pengen banget jadi penyanyi. You can ask my mom, dulu saya sering pecicilan nyanyi random lyrics sambil pura-pura main gitar. Saya juga dulu ingin jadi aktris, tapi kalau sekarang saya ingat lagi, I’m like ‘what was I thinking?

Kalau sekarang masih minat jadi penyanyi atau cukup di karaoke saja?

Oh no, cukup karaoke saja. I love karaoke, it’s like a time for me to release myself, haha. I usually go with a bunch of crazy friends and just jammed out.

Apa lagu karaoke wajibmu?

“Mamma Mia” by ABBA atau “Bohemian Rhapsody”, apa lagi ya? Oh ya “Don’t Stop Me Now” dari Queen juga! Kalau karaoke bareng keluarga saya, we always sing “Bohemian Rhapsody”. It’s just a thing that we always do.

Kalau di keluarga kamu paling dekat dengan siapa?

Probably my mom, karena we’re just like sisters in a sense ada waktu-waktu di mana we completely hate each other and then love each other so much. Kami juga sering sharing pakaian, sepatu, makeup… atau lebih tepatnya, I share my makeup, haha. So yeah, saya rasa saya paling dekat dengan ibu saya, dia bisa tau jika saya punya masalah dan sangat suportif soal modeling, she’s like “Oow… look at you in the cover,” and I’m like “Oh my God, please stop, it’s annoying,” haha.

Pasti banyak yang bilang kamu mirip banget sama your mom ya?

Yeah! And to be honest I don’t see the similarity at all! Dia kadang-kadang suka menggoda saya soal itu tapi saya justru suka sebal kalau disama-samakan. But I think I kinda understand. She’s also a fashion stylist and I get my fashion sense from her. Most of my things are from her wardrobe anyway and I’m like the younger version of her in that sense. Barang terakhir yang saya pinjam dari lemarinya adalah boyfriend jeans yang sangat nyaman and she’s like “You better give it back or get your own jeans!” and I’m like, “Okay, geez…”

How about your grandpa? Kamu sering diajak wisata kuliner sama Pak Bondan?

Ya kalau di family trip he’s the one that will show us around and to try something new in different places. Saya harap nggak akan ada yang cari dan nonton, tapi saya sempat muncul di salah satu episode show-nya. Saya masih kecil banget bareng sepupu saya, please do not try to find the clip because it’s probably the most embarrassing thing ever! Haha! But yeah, it’s always fun to going around with my grandpa because there’s an always new experience. Saya sangat picky soal makanan dan biasanya menolak kalau disodorkan makanan yang tidak biasa saya makan but in the end of the day, I will try it too, haha.

Kamu punya nama yang unik, what do you think about it dan jika bisa memilih nama sesuai yang kamu inginkan, nama apa yang akan kamu pilih?

Saya sempat bertanya-tanya soal arti nama saya dan dari mana asalnya karena orang-orang sempat memanggil saya dengan nama “kunyit” kemudian saya baru tahu it was a spice. Sebetulnya nama saya tidak hanya terinspirasi dari nama rempah-rempah but actually dari nama lead vocalist sebuah band bernama The Republica yang menjadi favorit mama saya. The lead singer’s stage name was Saffron. I always liked the name Aquamarine. So then my nickname would be Aqua. People think I’m weird when I tell them that. 

Mengintip Instagram milikmu, tampaknya kamu sangat into Halloween ya?

Yeah I really like Halloween. Setiap tahun saya mencoba something new. Tahun ini saya punya dua kostum. Yang pertama saya menjadi Alice karena keluarga saya did the Alice in Wonderland things, my mom became the White Queen, I became Alice, my mom’s boyfriend became Mad Hatter and his daughter became Cheshire Cat, it was cute and fun! Yang kedua, saya merias muka saya sendiri dengan riasan bertema tengkorak, that was the first Halloween makeup I did all by myself, It took such a long time maybe because I’m such a perfectionist. It took like two hours, literally.

 img_9709

Tell me about school life, seberapa penting edukasi bagimu?

I take education very seriously, I’m not the best at it but I feel like without it I can’t do anything else. Itu sebabnya untuk kerja, saya hanya bisa melakukannya sepulang sekolah atau pas weekend. Orangtua saya nggak akan kasih izin saya untuk bolos demi pemotretan dan saya pun juga nggak mau bolos karena saya pasti akan ketinggalan pelajaran.

Apa satu hal atau skill yang ingin kamu pelajari?

Saya ingin bisa bahasa Prancis. Saya sempat belajar sendiri, but it doesn’t seem really working, haha. But yeah, saya selalu ingin belajar bahasa Prancis atau Belanda karena keluarga dari pihak ibu saya banyak yang berasal dari sana. Saya sebetulnya lumayan paham kalau mendengar orang ngomong bahasa Belanda, tapi saya nggak bisa ikutan ngomong, which is so frustrating.

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini?

I don’t really obsess over things, so yeah, I don’t have a current obsession.

What’s on your music playlist right now?

The 1975, Arctic Monkeys, and a lot of old 90s music. They are so fun to jam out and karaoke with.

Kamu sering datang ke festival musik, konser atau festival apa yang paling ingin kamu datangi dan kenapa?

I love festivals! I love how they have all these different genres and indie music which I really love. Baru-baru ini saya pergi ke We The Fest yang sangat amazing karena ada The 1975, haha. I really want to go to Glastonbury or Coachella one day. It’s on my bucket list.

Who’s your celeb crush? Jika bisa menghabiskan satu hari dengannya, apa yang ingin kamu lakukan?

I have so many that I don’t really know which one to pick! Mungkin yang paling utama adalah Matty Healy atau Alex Turner karena mereka terlihat really chill. Saya ingin ngobrol dengan mereka soal bagaimana mereka mendapat ide dan menulis lirik untuk lagu-lagu mereka dan mungkin minta diajari main gitar. I wouldn’t mind talking about those things at a cafe or something over coffee.

Dengan atensi yang makin banyak, bagaimana caramu menanggapi rumor dan negativitas, baik itu di real life maupun di internet?

I sometimes get caught up tapi saya selalu mencoba tetap positif dan berusaha agar hal itu tidak mengganggu saya. I think its stupid when people hate on you, make rumors so say negative things about you. They are totally wasting their time, jadi kenapa saya harus membuang waktu juga untuk menanggapinya? Like my mum says, they’re probably just saying those things cause they’re jealous! Hahaha.

Seberapa penting media sosial bagimu dan socmed apa saja yang kamu pakai?

Tidak terlalu penting. Saya biasanya membuka socmed hanya untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan atau apa yang menjadi ‘the new big thing’. I usually just go on Instagram, I’m always on Snapchat and Facebook. That’s pretty much it, hahaha.

Kamu pernah punya akun ask.fm tapi dihapus, why?

Hahaha omg yeah I did! I don’t know. Saya menganggapnya cukup memalukan dan sebetulnya tidak terlalu menyukai konsepnya, like anonymous people would ask you questions and I don’t know where any of them are going! I also didn’t really used it and only seemed to have used it when it was big. Everyone in my school started using it so I did. Quite stupid of me to be honest.

Seberapa sering kamu berpergian dan apa tujuan liburan favoritmu?

I don’t travel often. Saya biasanya pergi ke Bali karena cukup dekat dan kakek-nenek saya tinggal di sana. I always feel most at home and stress-free at Bali. Jadi destinasi favorit saya bisa dibilang Bali karena saya selalu ke sana, haha. Terkadang, tapi sangat jarang, saya mengunjungi saudara di Inggris dan Prancis, which is always loads of fun.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Apa destinasi liburan impianmu?

Wow. This is a hard question. I’m quite of a beach gal so I would probably want to go to Maldives or Fiji.

Apa satu hal darimu yang membuatmu merasa unik dari orang lain?

I think my sense of style and my nose, haha!

Apa brand favoritmu?

Brand favorit saya adalah Zara dan Topshop. Mereka sangat kreatif dalam soal desain, terutama jeans. I feel like Zara and Topshop really stand out. I feel like I can always see some similarites between other brands but with these two brands, they can never be the same like the others. They are just so different. I seem to only fit in jeans from Zara and sometimes Topshop.

Apakah kamu pernah melakukan fashion faux pas?

Of course! I think everyone does. Dengan bertambahnya umur, saya mencoba lebih berhati-hati saat berpakaian. Saya punya dua rules yang saya patuhi. It’s basically either I have one denim item in my outfit and I am only allowed to wear one pattern item with my outfit and the rest have to be plain clothing. Saya tidak ingin mengambil risiko aneh-aneh dalam berpakaian. I think the most common one I do is wear the wrong undergarmets with my outfit, hahaha! 

Do you have any secret skills?

My secret skill is probably tennis and maybe baking. I’ve played tennis since I was 4 years old and I always bake in my free time and for some family occasions.

Apa zodiakmu dan seberapa besar kamu percaya horoskop?

Zodiak saya Cancer. I take them really seriously no matter how many people tell me it’s not true, hahaha! Saya bisa duduk berjam-jam membicarakan sikap orang berdasarkan zodiak mereka. My boyfriend hates it when I talk about it but you got to admit! They are all pretty spot on.

What do you want to be remembered for years from now?

I want to be remembered as someone who was really hardworking to get where she was in her life and that no obstacle was hard enough for her to go over.

img_9723-2

 

En Garde, En Vogue! An Interview With Ayabambi

Membaurkan kedinamisan dan energi eksplosif dari tarian vogue dengan sensibilitas serta kemisteriusan Jepang yang berakar dari kultur geisha dan kabuki, power couple sekaligus dance duo AyaBambi siap menaklukkan dunia, one dance at a time

nylon_indonesia_oct_cover_19648

Ketika tarian vogue (atau voguing) terlahir dari subkultur ballroom kaum LGBT keturunan kulit hitam dan Latin di daerah Harlem, New York City pada tahun 80-an, tarian ini pada hakikatnya lebih dari sekadar sebuah aliran modern house dance yang menjadi ajang pertaruhan gengsi dua orang “queens” yang saling mengadu kebolehan mereka dalam berpose dan menari dengan cara yang super stylish, artful, dan fierce. Identik dengan exaggerated choreography yang terlihat feminin dan maskulin di saat yang bersamaan, tarian yang mengambil inspirasi dari bentuk hieroglif kebudayaan Mesir kuno dan pose-pose elegan para model yang menghiasi halaman majalah Vogue ini, seperti yang kemudian diceritakan dalam film dokumenter Paris is Burning yang mengupas ballroom scene New York City di akhir 80-an, sama seperti aspek-aspek lainnya dari subkultur tersebut adalah bentuk self-expression yang lahir sebagai reaksi perlawanan dari sebuah opresi dan diskriminasi seksualitas, gender, warna kulit, hingga kelas sosial di era tersebut.

Sebelum film dokumenter garapan Jennie Livingston tersebut dirilis di tahun 1990 dan menjadi sebuah cult classic sampai sekarang, ballroom scene dan drag culture bagaikan sebuah dunia lain yang tidak tersentuh oleh masyarakat umum. A little bit of Narnia for the African-American and Latino LGBT people di era itu, sebuah safe haven untuk melarikan diri sejenak dari realita keras dalam kehidupan sehari-hari (“the white, rich, straight world”). Selain dokumenter tersebut, sang primadonna pop Madonna lah yang kemudian bertanggung jawab memperkenalkan tarian vogue ke publik mainstream saat ia merilis single berjudul “Vogue” di tahun yang sama. Menjadi salah satu hits terbesar dari Madonna, “Vogue” dengan musik video ikonik yang disutradarai oleh David Fincher berhasil membawa tarian vogue yang awalnya hanya ditampilkan di underground gay bars and disco di New York City ke clubs di seluruh dunia. Vogue pun bergeser menjadi sebuah tarian yang merefleksikan hedonism, positivity, serta inclusivity yang menginspirasi para penari dan calon penari di seluruh dunia, termasuk AyaBambi yang berasal dari Jepang.

Jika ini kali pertama kamu mendengar nama mereka, you are in for a treat. Secara singkat, AyaBambi adalah duo penari Jepang yang terdiri dari Aya Sato dan Bambi yang meraih popularitas global berkat koreografi menghipnotis dan gaya cyber-goth mereka yang super keren. Keduanya sudah mulai menari sejak usia dini dan mengambil inspirasi dari berbagai macam aliran dance untuk menciptakan highly synchronized routine yang powerful, penuh presisi, dan tentu saja, fierce. Menekankan hand choreography untuk mengeksekusi gerakan-gerakan tajam yang membingkai wajah mereka dengan potongan rambut avant-garde dan riasan gothic vibe yang khas, jelas ada pengaruh yang kuat dari elemen vogue dan tutting dalam tarian yang mereka peragakan. Meskipun begitu, dengan cepat mereka menolak jika tarian mereka hanya dikategorisasikan sebagai vogue. “Our dance isn’t actually vogue dance. It has some elements of vogue dance, but it is our original style consisting of our favorite posing and stuff,” tegas Aya Sato dalam balasan email untuk kami yang mereka kirim dari Rio de Janeiro, Brasil. Meski demikian, keduanya juga tak menampik jika tarian vogue yang mereka lihat saat beranjak dewasa memegang peranan penting dalam seni tari yang mereka geluti, not only for the stylistic direction, but also for the self-liberation.

nylon_indonesia_oct_cover_19262

Setelah menarik perhatian para netizen semenjak mengunggah video-video dance workshop mereka sejak empat tahun lalu di YouTube dan mengundang ribuan views dengan cepat, membintangi kampanye fashion, video musik, komersial, dan berkeliling dunia memang telah menjadi bagian dari keseharian mereka dalam beberapa tahun terakhir ini. Thanks to their international appeal dan fakta jika dance adalah universal language yang tidak terbelenggu batas bahasa dan budaya, mereka dapat dengan mudah diterima di mana saja, dari mulai underground club di New York, warehouse party di London, maupun galeri seni di Tokyo, they simply doesn’t have boundaries. Brasil hanyalah satu dari sekian banyak destinasi yang telah mereka kunjungi untuk menunjukkan kemampuan mereka, entah itu dengan tampil bersama megastar sekelas Madonna ataupun menggelar dance class yang selalu dipenuhi para peminat, most of them adalah penggemar yang telah menyaksikan AyaBambi lewat video-video yang beredar di internet. Saat ini, menyebut AyaBambi hanya sekadar dancer pun adalah sebuah simplifikasi yang bisa menyesatkan. Dalam akun Instagram @ayabambi_official yang telah diikuti oleh 131K followers, dengan bangga mereka mencantumkan profesi yang meliputi dancer, koreografer, model, stylist, fotografer, editor, dan director. Tentu saja, itu bukan hanya gelar yang asal mereka sematkan ke diri sendiri begitu saja, they have enough creds to back it up.

Tiga tahun terakhir ini mereka telah mengumpulkan resume video features yang impresif. Setelah muncul di beberapa musik video Jepang untuk BoA, Nano, Shiina Ringo, dan Miliyah Kato, mereka pun go international dengan tampil di video untuk Benjamin Pettit, DJ asal Inggris yang lebih dikenal dengan nama Zinc dalam single “Show Me” yang menampilkan AyaBambi menari di depan cermin sebuah dance studio dengan twist yang mencengangkan serta video “Forever (Pt. II)” milik Snakehips di mana keduanya tampil begitu membius dalam video berdurasi 3 setengah menit tersebut. Video selanjutnya yang benar-benar memperkenalkan mereka ke ranah mainstream adalah saat mereka ikut tampil dalam video “Bitch I’m Madonna” seperti sebuah rekayasa semesta yang mempertemukan mereka tak hanya dengan the queen herself (Madonna, duh!) tapi juga nama-nama besar lainnya di video tersebut seperti Rita Ora, Jeremy Scott, Miley Cyrus, dan terutama the prodigal designer and cool kids patron, Alexander Wang. It was love at first sight bagi desainer Amerika berdarah Asia tersebut. Dengan kecintaan yang sama pada fashion and art, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk saling mengapresiasi karya masing-masing dan Wang pun mengajak AyaBambi menjadi bagian dari kampanye koleksi goth-inspired Fall-Winter 2015 labelnya bersama deretan perempuan keren dengan personal style yang distinctive lainnya seperti Anna Ewers, Molly Bair, Binx Walton, Lexi Boling, Hanne Gaby Odiele, Sarah Brannon, Isabella Emmack dan mantan vokalis Crystal Castes, Alice Glass. “Saya sudah mengagumi Aya dan Bambi sejak menonton video-video mereka di internet, “ ungkap Wang pada WWD. “Kebetulan, saat mereka tampil di video Madonna, saya bertemu mereka di pesta yang diadakan Madonna di Paris dan langsung jatuh cinta. Mereka memiliki gaya yang sangat individual namun mereka juga sangat sesuai dengan karakter di koleksi ini,” ungkapnya tentang keputusannya mengajak AyaBambi dalam kampanye yang dijepret oleh fotografer legendaris Steven Klein tersebut.

Chemistry antara Madonna dan AyaBambi tak berhenti di video musik saja, tapi juga berlanjut ke tur dan live performance. Keduanya resmi menjadi penari dalam Rebel Heart Tour yang diadakan Madonna di seluruh dunia, walaupun sempat terjadi sebuah insiden. Pada penampilannya di Brit Awards Februari 2015 lalu yang disiarkan secara langsung, Madonna sempat mengalami kecelakaan di atas panggung saat ia membawakan lagu “Living for Love”. Masuk ke panggung seperti high priestess slash bride of darkness, Madonna mengenakan jubah panjang hitam dengan Aya dan Bambi mengekor di belakangnya sambil memegang ujung jubah. Saat di puncak tangga, jika sesuai rencana, mereka akan menarik lepas jubah Armani tersebut dan Madonna dengan epik akan melanjutkan langkahnya sebagai seorang ratu dalam balutan busana matador. Sialnya, Madonna ternyata belum benar-benar melepas ikatan jubahnya dengan sempurna saat AyaBambi menariknya, seorang Madonna pun terjatuh dari tangga di depan ribuan orang yang hadir secara live maupun yang menonton dari layar televisi. “Saya sangat ketakutan waktu itu!” kenang Aya. “Saya merasa waktu seakan berhenti dan kejadian itu seperti berlangsung berjam-jam,” tandasnya. Untungnya, Madonna dengan profesional tetap melanjutkan tampil dengan gemilang tanpa terlihat kesal dan tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu karena AyaBambi tetap menari bersamanya di sepanjang tur termasuk dalam sebuah penampilan untuk lagu yang sama di The Ellen DeGeneres Show. “Bekerja dengan Madonna adalah hal yang sangat menyenangkan, she liked us,” ungkap Aya lagi. “Hal yang paling menggembirakan adalah dia sangat terbuka dengan ide dan koreografi yang saya ciptakan, and we were so glad for that. Dia pun sangat ramah. Tapi, at the same time, kami merasa tidak boleh berpuas diri dan berhenti di situ.”

Seperti yang bisa diduga dan mereka akui sendiri, fashion memang memegang peranan penting bagi proses kreatif mereka. “We don’t just attract to dancing. Dancing is one of the ways to fuse fashion and art. We are influenced by people who create work together,” ujar mereka. “Saat tidak menari, kami menekuni hal-hal lain yang kami sukai. We enjoy designing clothes, and making clothes, and thinking about so many stuff that we can make is also fun.” Maka tak heran jika pesona AyaBambi terus menarik mutual symbiosis dengan para kreatif di bidang fashion.

nylon_indonesia_oct_cover_19090

Sebagai bagian dari proyek bertajuk MOVEment yang digagas oleh AnOther Magazine dan Sadler’s Wells Theatre (sebuah tempat pertunjukan seni di London), AyaBambi membintangi salah satu dari fashion film yang digarap oleh tujuh sutradara kontemporer dan menampilkan tujuh koleksi khusus dari fashion designers ternama saat ini. Dibalut oleh rancangan Hussein Chalayan from head to toe, mereka berkolaborasi dengan Ryan Heffington yang juga dikenal sebagai koreografer untuk FKA twigs (“Google Glass” dan “Video Girl”) dan Sia (“Elastic Heart” dan “Chandelier”) untuk menciptakan sebuah tarian hyper-synchronized dengan background putih yang memperkuat sajian visual tersebut dengan diiringi oleh dentam elektronik minimalis. ”Pakaian dan filmnya sendiri sebetulnya sangat simple dan dalam, which we love, sometimes the form of the clothes is more important than the freedom or beauty of the physical body,” ungkap mereka soal video yang digarap oleh Jacob Sutton tersebut. Selain untuk Hussein Chalayan, AyaBambi pun telah tampil di banyak fashion video lainnya, termasuk saat menari bersama si kembar Dean & Dan Caten dari label Dsquared2 dalam video buatan Leslie Kee.

Terlepas dari semua pencapaian tersebut, cult following, dan minat publik yang besar pada keduanya, salah satu dari daya tarik paling vital dari kesuksesan AyaBambi adalah misteri yang menyelimuti keduanya yang mengingatkan kita kepada tabir rahasia dan kemistisan seorang penari geisha dari masa lampau. Di zaman di mana detail personal siapa saja dengan mudah bisa dilacak hanya dengan memasukkan kata kunci di kolom pencarian dan beberapa kali klik, mereka menjaga rapat hal-hal yang menurut mereka tidak perlu diungkap ke publik, termasuk nama lengkap dan usia mereka. Minimnya informasi yang bisa dilacak di internet pun membuahkan spekulasi tersendiri tentang sosok mereka sebenarnya. Apakah mereka anak kembar? Are they sisters? Apakah mereka berasal dari masa depan? Are they cyborgs? Semua pertanyaan tersebut menciptakan misteri dan image yang too cool to be true akan keduanya. And just like some sort mythical creatures, people dying to know more about them, including us. Tapi mereka tidak mudah dipancing. Dalam email berisi sekitar 30 pertanyaan yang kami kirimkan sebagai usaha untuk mengulik lebih dalam tentang diri mereka, mereka hanya menjawab mungkin setengahnya saja dan itu pun dengan kalimat-kalimat sangat singkat dan ambigu. Namun, satu hal yang tidak pernah mereka tutupi adalah kenyataan jika mereka adalah romantic partners.

 Berasal dari Yokohama dan kini berdomisili di Tokyo, Aya dan Bambi (atau Akkun dan Mammi-chan, yang menjadi cara mereka memanggil satu sama lain) pertama kali bertemu di sebuah audisi dance dan walaupun baru benar-benar berkolaborasi secara profesional sebagai AyaBambi sekitar dua tahun terakhir ini, mereka sebetulnya telah menjadi romantic partner selama tiga tahun belakangan. “Kami bertemu secara kebetulan, tapi Bambi memahami apa yang ingin saya lakukan. Pemikirannya, ekspresi, dan daya tariknya mampu memandu ide-ide dalam kepala saya, so I think its good balance,” ungkap Aya.

Instagram menjadi salah satu jendela kecil bagi kita untuk mengintip dunia mereka. Tak hanya aktivitas sehari-hari, proyek terbaru atau hal-hal personal seperti teddy bear kesayangan Bambi yang diberi nama Meringue, tapi terutama adalah soal hubungan mereka. Keduanya telah bertunangan sejak setahun terakhir, namun saat pertanyaan soal pernikahan muncul, they’re not really bothered about it, Bagaimanapun Jepang masing sebuah negara konservatif yang memegang teguh nilai-nilai tradisional. “Jepang sering disebut sebagai negara maju,” ungkap Aya pada sebuah wawancara, “Namun negara ini tetap sangat konservatif dan tradisional. Isu-isu seperti ini bergerak sangat lambat di Jepang,” lanjutnya.

nylon_indonesia_oct_cover_18654

Titik terang bagi keduanya muncul saat beberapa distrik seperti Shibuya , Setagaya, dan tiga distrik lainnya melegalkan sertifikat same-sex couples special partnership. Walaupun secara hukum, sertifikat tersebut tidak dianggap sebagai sertifikat pernikahan, namun sertifikat tersebut mengakui adanya partnership untuk same-sex couple dan memberikan mereka hal-hak sipil selayaknya pasangan pada umumnya. It’s not a marriage certificate but it’s still better than nothing, dan itu adalah sebuah kemajuan bagi LGBT rights di Jepang. Aya dan Bambi sendiri mungkin tidak terburu-buru untuk menikah, namun mereka telah melakukan their fantasy dream wedding dalam sebuah video bertajuk “Short White Wedding” yang digarap oleh situs Vogue tahun lalu. Dalam video yang disutradari oleh Ujin Lin tersebut, Aya dan Bambi menampilkan koreo keren mereka dalam balutan bridal dresses musim tersebut yang meliputi koleksi dari Givenchy, Valentino, Louis Vuitton, Rodarte, dan Vera Wang. Menukar pakaian hitam dominatrix khas mereka dengan busana pengantin putih yang ethereal dengan iringan musik yang glorious, kamu tidak bisa untuk tidak tersenyum dan merasa ikut bahagia saat menyaksikan video tersebut. “We don’t know. We don’t think. In our world, probably there are only two of us. I am what I am, and so is she,” ungkap Aya tentang pandangan orang lain atas hubungannya dengan Bambi.

            “We had many awesome things together, but we still want to do many things, and we think we can learn many other things from collaboration,” ujarnya. Selain pernikahan itu sendiri, masih banyak mimpi yang ingin mereka capai, khususnya proyek-proyek revolusioner yang menggabungkan dunia fashion, seni tari, dan film. “Tim Burton adalah filmmaker favorit kami, jadi jika ada kesempatan bekerjasama dengannya, itu akan mengabulkan salah satu impian kami!” pungkas mereka.

Kembali ke tarian vogue, dalam sejarahnya yang paling primal, vogue sebetulnya adalah tarian perang, sebuah duel di antara dua rival penari. Namun di tangan Aya dan Bambi, tarian ini menjelma menjadi sebuah kolaborasi transcendental yang tak hanya berhenti di raga tapi juga jiwa, melumerkan batas frasa dan rasa di antara keduanya. In the end, it’s a celebration of life, love, and beauty.

nylon_indonesia_oct_cover_19374

Photo: Yuji Watanabe.

Styling: Shotaro Yamaguchi @eight peace.

Make-Up Artist: Nao Yoshida.

Hair: Shuco @3rd

 

#30DaysofArt 19/30: Naufal Abshar

There’s always a meaning behind a laugh, dan lewat sentuhan kuasnya, pelukis kelahiran Bandung, 13 Juli 1993 ini mengeksplorasi makna yang lebih dalam di balik aktivitas tertawa sebagai konstruksi hubungan sosial dan emosi. Graduated with honours dari jurusan Fine Arts Lasalle College of The Arts Singapura & Goldsmiths University London, pria yang sekarang tinggal di Jakarta ini mengakui jika hobinya menggambar sejak kecil terinfluens dari film Disney dan mainan Lego favoritnya, “Saya selalu menggambar di manapun dan kapanpun, saya tidak pernah memperhatikan guru ketika sedang mengajar, saya malah asik duduk di pojok kelas untuk menggambar di buku paket ataupun buku tulis,” ungkap founder dari NA Arthouse tersebut. Karyanya yang dipenuhi oleh sosok-sosok penuh tawa ekspresif dalam warna colorful segar sekilas memang terlihat harmless namun ada yang selalu mengusik rasa penasaran tentang konteks di balik tawa tersebut di mana karya-karya tersebut telah dipamerkan di banyak tempat, dari mulai Indonesia, Singapura, Venice, hingga Lithuania.

artist-photo2

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?
Apapun. Terutama kegelisahan dan ketidaksesuaian saya terhadap situasi publik yang men-trigger saya untuk berkarya.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Perjalanannya cukup panjang memakan waktu 2 setengah tahun untuk menemukan style dan concept saya garap sekarang, sewaktu kuliah saya melakukan sejumlah research dan eksperimen untuk mendapatkan konsep “HAHA” yang termotivasi oleh salah satu manifestasi humor yaitu laughter. Dari situ saya mencoba untuk mengolah aktivitas laughter tersebut untuk menjadi bahan landasan kritikan terhadap social issues dan politik.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?
Seniman dalam negeri: Arin Sunaryo, Nyoman Masriadi, Heri Dono.

 hiding-behind-the-armor

Apa idealismemu dalam berkarya?
Hati, berkaryalah dengan jujur dari hati karena itulah yang akan membuat suatu karya itu jauh lebih berarti. Bagi saya seni adalah cerminan buah pikiran dan observasi saya pada sebuah kehidupan yang saya alami

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu? 
Ya mungkin sekitar 4 tahun yang lalu ketika saya masih menuntut ilmu di universitas. Saya ingat karya saya terpilih menjadi shortlisted artwork yang akan dipamerkan pada saat open house kampus. Saya merasa senang dan bangga walaupun pada saat eksekusinya karya saya hanya dipajang di sudut bawah panel besi yang tidak banyak orang-orang melihat. Ya tapi namanya starting jadi tetap saja senang, haha.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?
Hmm… Karya saya didominasi oleh tulisan “HAHA”, figur tertawa, dan warna-warna colorful yang tajam.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini? 
Menjadi cover sebuah art magazine besar di Singapura yaitu ART REPUBLIK Magazine dan bisa menjadi pembicara pada forum seni tingkat dunia dan menjadi the only representative dari Indonesia sebagai the youngest fast rising artist.

the-laughing-girl

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?
Apa ya? Menurut saya Social Media sangatlah membantu dalam bidang self-promotion tergantung bagaimana kita memposisikan kita pada social media tersebut.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?
Untuk sekarang masih cukup lemah tetapi ada banyak potensial dan kesempatan untuk mengembangkan art scene untuk lebih wide dan global.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?
Di mana saja, kebanyakan di studio.

Target sebelum usia 30?
Yes, saya akan menjadi the most established and famous young Indonesian artist pertama yang akan berpameran di galeri dan museum besar dunia seperti MoMa,Tate Modern, Guggenheim, White Cube. Dan mendirikan residency atau foundation seniman-seniman muda lainnya.

high-end-life-style

#30DaysofArt 16/30: Natasha Gabriella Tontey

“Saya kekanak-kanakan. Saya tidak pernah menutup pintu pada masa kecil saya dan saya masih berdialog dengan itu. Saya tidak mengerti bagaimana saya bisa lolos tanpa hal itu dalam peradaban orang dewasa. Walaupun saya juga menyetujui bahwa masa kecil hadir sebagai fiksi karena semuanya berbentuk memori dan cerita,” ungkap seniman dan graphic designer  kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1989 yang selalu terlihat quirky ini dalam upayanya mempertanyakan gagasan bagaimana rasa takut dapat diciptakan untuk mengontrol publik dan pertanyaan terhadap konsep fiksi dan realitas yang menjadi tema utama karyanya. Membagi waktunya antara Jakarta dan Jogja, body of works lulusan DKV UPH ini telah meliputi banyak medium, dari mulai fotografi, desain grafis, performance art, hingga video musik dengan konsep yang tak hanya menarik secara visual tapi juga konteks. Cute dan whimsically sinister di saat yang sama, karyanya menawarkan jukstaposisi dari sisi innocent masa kanak-kanak dengan elemen horror baik dari imajinasi personal maupun dari realitas yang ada di sekitarnya.

krazy-kosmic-konspiracy-pt-1-photo-by-kendra-ahimsa

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Yang memperkenalkan ke seni pertama kali mungkin orang tua saya, ketika saya kecil saya selalu mempunyai cita-cita, salah satu cita-cita saya sewaktu kecil adalah menjadi pelukis, lalu orang tua saya membelikan saya alat lukis. Tapi sejujurnya ketika masuk kuliah pun saya tidak mengerti dan tidak menyangka akan mengambil karier menjadi seniman. Yang menyadarkan saya adalah ketika saya ikut workshop foto di Galeri Foto Jurnalistik Antara, ketika itu saya gagal dalam tugas akhir saya di workshop tersebut, lalu Oscar Motuloh (Pewarta dan Kurator Foto) mengatakan bahwa jalur saya bukan di Jurnalistik. Kemudian pada tugas akhir saya di kuliah, pembimbing tugas akhir saya Bapak F.X. Harsono mengatakan konsep buku saya bisa dikembangkan untuk menjadi karya seni. Pada saat itu saya hanya tau Pak Harsono itu yang bikin GSRB dan dosen UPH, saya tidak tau karya-karyanya seperti apa, ketika saya sadar dia siapa, saya kaget sih, dan selalu kagum akan semangat Pak Har. Sampai sekarang beliau selalu mendukung saya dan mengkritisi karya saya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya adalah rasa penasaran dan obsesi saya.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Sejujurnya sampai sekarang saya belum menemukan medium atau style kesukaan saya. Yang saya lakukan adalah mencoba untuk terus menguji metode pengkaryaan saya sendiri.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya tahun 2008 di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), kala itu saya memamerkan beberapa karya fotografi saya yang menurut teman-teman di GFJA sangat tidak jurnalistik. Kemudian tahun 2011 saya berpameran foto di GFJA lagi kali ini saya menghadirkan karya foto saya melalui medium view-master yang cukup berkesan. Namun pameran seni pertama saya adalah di EXI(S)T di Dia.Lo.Gue Artspace pada tahun 2012.

img_9410_l-foto-oleh-grandyos-zafna

Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme saya dalam berkarya adalah saya harus tau betul dan percaya betul apa yang saya kerjakan. Saya tidak mau asal cepat dan bagus tapi tidak bisa mengelaborasi konsep karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Cukup sulit untuk mendeskripsikan personal aesthetic dalam karya saya, karena saya melakukan desain dalam karya saya, dalam artian mengaplikasikan metode desain ke dalam karya. Mungkin yang bisa saya jawab adalah ketertarikan saya untuk terus mengolah tema-tema yang horor yang lebih luas. Saya mempertanyakan bagaimana ide ketakutan bisa dimanifestasikan untuk mengontrol publik, juga dengan konsepsi fiksi dan kenyataan.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Seniman favorit pertama saya adalah Frida Kahlo, kalau untuk sekarang saya sangat terinspirasi oleh Wok the Rock, Jon Rafman, Jan Svankmajer, dan Sophie Calle.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pengalaman cukup berkesan saya mungkin adalah residensi di Ruang MES56 sampai saya tertarik untuk pindah ke Yogyakarta. Tapi saya rasa saya belum memiliki pencapaian yang patut saya bagi.

 

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Menarik. Karena bisa menggunakan social media sebagai platform pengkaryaan untuk hal-hal tertentu. Misalnya hadirnya persona FluxCup dan Molly Soda sebagai karya. Juga lebih mudah berkomunikasi dengan teman-teman baru. Tapi mengerikan juga karena hal yang datang secara massive perlu dipertanyakan juga kebenarannya.

 

Current obsession?

I think I secretly (not really secret) admire Ted Bundy, Ed Gein, and John Wayne Gacy, the serial killers. I also like to impersonate people’s gesture just for fun.

 

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya sangat menikmati kota Yogyakarta untuk hal itu karena banyak sekali teman untuk berdiskusi dan mengkritisi karya saya. Saya takut akan pujian. Sedang di Jakarta saya menikmati dunia desain yang cukup kritis dan dinamis.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Biasanya weekend saya seringnya mengerjakan kerjaan-kerjaan sampingan saya sebagai graphic designer atau saya ngobrol bersama teman-teman saya.

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Saat ini saya sedang melakukan riset dan pengumpulan bahan untuk karya saya selanjutnya yang mana adalah masih rahasia.

 

Target sebelum usia 30?

Banyak sekali. Saya juga ragu apakah saya bisa mencapai semua target saya sebelum usia 30.

conga-set

#30DaysofArt 10/30: Kei Kusuma

Bermula dari kekaguman masa kecilnya melihat lukisan Tree of forgiveness by Sir Edward Burne Jones yang menjadi salah satu koleksi pribadi karya seni milik orangtuanya, seniman grafis yang lahir di Malang, 2 Mei 1990 yang sedang berdomisili di Surabaya ini pun mempelajari karya-karya dari Gustav Klimt, Ingres, Paul Gauguin, Xu Beihong, Hasegawa Tōhaku, serta seniman dunia lainnya dan secara instingtif mengembangkan gayanya sendiri. “Mengetahui banyaknya seniman dan karya seni luar biasa sering mengingatkan saya akan betapa miripnya emosi yang dapat kita rasakan dari suatu karya seni terlepas dari kapan suatu karya tersebut diciptakan. Saya ingat membuat banyak sekali gambar peperangan, susunan kastil, dan lainnya sejak usia balita. Karya pertama yang saya ikutkan ekshibisi menceritakan tentang mitologi perang antara tokoh pewayangan Jawa kuno,” cetusnya. Penuh dengan detail dan unsur emotif, Kei pun menghadirkan theatre of image yang tak terpaku oleh alat atau medium tertentu.

profile-photo

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Dibesarkan dalam keluarga yang memiliki pandangan terbuka dalam berbagai kesenian, kultur, dan budaya membuat saya merasa sangat beruntung. Menurut saya kebebasan untuk beropini dan melakukan observasi terhadap hal-hal di sekitar kita sejak dini amat sangat mempengaruhi kemampuan kita dalam mendefinisikan sesuatu sebagai seorang individu, dan saya rasa hal tersebut sangat mempengaruhi karya-karya saya saat ini.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Semenjak kecil, saya selalu merasa tertarik terhadap semua hal di sekitar saya, selalu mengamati dan mempelajari berbagai informasi visual dari berbagai sumber berdasarkan rasa keingintahuan yang tulus terhadap hal-hal yang belum saya ketahui. Digabungkan dengan latihan yang disiplin secara reguler, saya beranggapan bahwa daya interpretasi dan kedisiplinan dalam berkarya menjadi aspek terpenting bagi seorang seniman untuk dapat terus berprogres.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Saya menggunakan berbagai alat dan medium dalam proses berkarya, pena dan tinta, acrylic, gouache, pastel maupun color pigments. Akan tetapi, saya tidak merasa memiliki keterikatan atau preferensi khusus terhadap suatu alat ataupun medium. Saya justru lebih memprioritaskan keindahan dari hasil akhir serta impact yang dapat diberikan oleh sebuah karya seni.

plum-blossom-ink-tempera-color-pigments-on-paper-2012

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya dibandingkan menyampaikan sebuah pesan atau idealisme tertentu, merupakan hal yang lebih penting bagi seorang seniman untuk dapat menanamkan emosi tersendiri dalam karyanya untuk dinikmati setiap orang yang melihatnya. Perasaan cinta, takut, kebencian, kesedihan, kebahagiaan dan berbagai emosi lainnya yang dinilai secara terpisah maupun secara utuh merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti oleh semua orang, baik orang awam maupun art elitist.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal ciri khas dalam karyamu? Walaupun akan lebih baik untuk tidak terlalu menyederhanakannya, pada dasarnya mayoritas karya saya merupakan simbolisasi dari keindahan dan kompleksitas emosi yang terpadu berdasarkan pandangan personal saya terhadap kehidupan. Menurut saya cukup sulit untuk memberikan interpretasi verbal terhadap karya dan ide saya, begitupun sebaliknya. Dari pandangan saya secara personal, sosok wanita merupakan simbolisasi paling tepat untuk merepresentasikan aspek keindahan dan kompleksitas kehidupan. Sosok wanita selalu diasosiasikan dengan keindahan, sensualitas, kerapuhan, kelahiran kehidupan baru, kesucian, kasih sayang, sementara di sisi lain, wanita juga erat berhubungan dengan tema seperti kematian, godaan, kekecewaan, dosa, etc. Menurut saya aspek kontradiktif pada sosok wanita amat sangat menarik dan menginspirasi dalam pengerjaan sebagian besar karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Saya sering mendapatkan inspirasi dari berbagai hal. Mulai dari classical art, contemporary art dan kehidupan sehari-hari saya pribadi. Saya terinspirasi oleh karya-karya dari Gottfried Helnwein, Michael Zavros, Gustave Dore, Liu Zheng, Feng Zhengjie, Wei Dong, etc. Saya menyukai karya seni yang berkarakter kuat dan memiliki elemen multi-interpretatif.

the-spoiled-ram-ink-on-paper-2014

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Karya saya, The Spoiled Ram, baru saja memenangkan Best in Show Award untuk 12 Inches of Sin Annual Jurried Art Exhibition Part V dan sudah terjual pada Immersive art auction event yang diselenggarakan oleh Sin City Gallery, Las Vegas, Nevada.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Internet dan social media secara umum telah menjadi sumber informasi paling penting saat ini. Menurut saya hal ini amat sangat membantu sebagai platform untuk kebebasan berekspresi bagi siapapun. Akan tetapi, dengan segala kemudahan informasi dan hiburan yang selalu tersedia  secara online, tidak ada jaminan bahwa suatu karya yang kita produksi dapat diapresiasi dan mendapatkan atensi yang selayaknya, terlepas dari betapa bagus dan menarik kualitasnya. Oleh karena itu, tetap saja ada faktor-faktor tertentu yang harus diperhitungkan apabila ingin karya Anda diapresiasi dan dihargai secara profesional.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Saya tidak terlalu tertarik pada scene apapun.

little-lost-lamb 

Talenta lain di luar seni?

I can cook impromptu surprise dinner for my girl out of nowhere (yes, I consider that a secret skill).

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Brainstorming at my workdesk, watching movies at theatre or at places, meeting up with my friends, honestly I never actually have a scheduled weekdays/weekend routines per se.

 

Project saat ini?

Tahun 2017 saya akan mengadakan solo exhibition pertama saya, dibantu oleh Sin City Gallery dalam penyelenggaraannya. Di samping itu, saya cukup senang dengan berbagai hal yang saya kerjakan saat ini.

Target sebelum usia 30?

Klise dan simple saja sebenarnya. Saya ingin lebih fokus lagi dalam berkarya, more exhibition and project, and i want to make my family happy, that’s all.

unison-of-diversity

#30DaysofArt 7/30: Ines Katamso

Let say I hold my pinky finger up while drinking a teh tawar on the floor,” tutur gadis berdarah Indonesia-Prancis yang merupakan visual artist sekaligus surface & interior designer yang berdomisili di Bali ini. Berasal dari keluarga artistik (dad’s musician & leather tailor, mom’s painter & tattoo artist), Ines yang lahir di Jogja, 14 Mei 1990 memang bercita-cita menjadi designer atau artist sejak kecil dan berbekal passion itu, ia pun pergi ke Prancis untuk belajar art & design lalu pulang ke Indonesia, tepatnya ke Bali di mana ia sempat menjadi stylist dan designer product sembari mengerjakan personal work yang lebih ke arah ilustrasi sebelum minatnya berlabuh di seni mural dan mendirikan studionya sendiri yang bernama Atelier Ines.K. Identik dengan permainan warna vibrant dan siluet feminin, karya muralnya telah menghiasi banyak establishment di Bali, Jakarta, hingga Kuala Lumpur. “Bagi saya, it’s always a matter of composition. Sesuatu yang sangat personal, saya baru akan merasa puas pada karya saya jika pikiran, raga, dan indra saya merasakan hasilnya well-balanced secara proporsi, shades, dan garis.”

ines-katamso

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

My parents no doubts. My father was a musician and leather tailor and my mum is a great painter and tattoo artist. Since I was a kid I wanted to be a designer/artist so it was easy for me to choose my schools.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

To always evolved and to be sure that I can do better.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

I think it was 10 years ago during design school, it was a group exhibition but to be honest it wasn’t really exciting.

box-of-horizon

Apa idealismemu dalam berkarya?

Regarding my personal artworks: painting and drawings, they are a way to bring a form to the informal. Giving a line for this type of fair, a texture for this kind of sensation is my way to desecrate a feeling in order to release it.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

I am not sure if I want to find it, saya tidak ingin stuck di satu hal karena takut bosan. Tapi sebetulnya saya banyak memakai enamel, pastel oil, dan pensil warna untuk karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

I have many inspirations: Malevitch, Kandinsky, Sonia Delaunay, Rothko, Bacon, Klein, Calder, Christo, Soulage.

le-petit-prince

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

It’s my actual project, mengerjakan semua interior design untuk sebuah restoran mulai dari pattern piring, lamp shape, sampai mural. It’s a great opportunity to create a unique space where each line, colours, texture are related to my concept and aesthetics values.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai desainer/artist, merupakan hal yang sulit untuk percaya diri di era social media karena selain fakta jika internet adalah a great cultural tool, the access to this amount of pictures, information, and inspiration can bring many doubts on someone’s personality.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

There are few exhibitions here in Bali but I am not a social person, I know its selfish to say that but I prefer to paint in my atelier than going out.

Tell me about your secret skill or current obsession beside art!

Sorry beside art and design I have no other obsession or skills. Haha I feel I’m so boring right now.

kedai-kopi 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

At my office or atelier.

Project saat ini?

Coming soon one group exhibition, one design showcase, interior design for 2 restaurant, hotel and malls projects and commissioned works… And holidays soon in Japan! 

Target sebelum usia 30?

Going to Japan!

casa

Closer Than Home, An Interview With Yumi Zouma

Dipisahkan oleh bencana alam yang menimpa kota asal mereka di Selandia Baru, para personel unit dream pop Yumi Zouma berpencar ke seluruh dunia sebelum akhirnya menemukan jalan pulang lewat album debut yang impresif, Yoncalla

Thanks to technology, jarak dan waktu sudah bukan lagi halangan untuk berkarya dengan seseorang yang tinggal di belahan dunia dan time zone yang berbeda, Yumi Zouma adalah salah satu band yang harus melewati proses membuat lagu secara long distance. Terdiri dari Christie Simpson, Josh Burgess, Charlie Ryder, dan Sam Perry, keempat anak muda asal Christchurch, Selandia Baru ini sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil dan aktif di proyek musik masing-masing, namun baru ketika sebuah gempa besar menimpa kota mereka dan beberapa di antara mereka memutuskan pindah ke negara lain, keinginan untuk membuat musik bersama baru mencuat sebagai cara mereka menjaga hubungan satu sama lain sekaligus kota asal mereka.

Berbekal sambungan Skype dan email, mereka membuat single pertama berjudul “A Long Walk Home For Parted Lovers” yang berlanjut menjadi album mini pertama mereka di tahun 2014 dengan empat lagu di dalamnya. Meramu bunyi dream pop berbasis synth yang dancey dengan nuansa musim panas yang kental, album mini tersebut mendapat respons positif dari internet dan beberapa label rekaman yang kemudian dilanjutkan oleh EP kedua mereka setahun berikutnya. Dikerjakan secara jarak jauh, EP I dan II terasa seperti menyatukan potongan puzzle yang dibuat sendiri-sendiri oleh setiap personel dari tempat dan waktu yang berbeda, sehingga tak mengherankan jika tema jarak antar manusia, baik secara geografis maupun emosi, menjadi tema dominan dalam dua EP tersebut. Meski demikian, musik mereka tetap terdengar kohesif dan nama mereka pun terus beranjak naik hingga diajak menjadi pembuka untuk Chet Faker dan Lorde.

Berkat kesuksesan kedua EP yang didominasi bunyi dreamy disco rock tersebut, band yang awalnya tak berencana untuk tampil live ini akhirnya dihujani tawaran manggung yang tak lagi bisa mereka diamkan begitu saja. Mereka akhirnya berkumpul dan tampil bersama dari satu festival ke festival lain. Tak hanya berubah menjadi band seutuhnya, kedekatan mereka yang terjalin saat tur juga menjadi basis dari full album pertama bertajuk Yoncalla. Dirilis oleh Cascine Records, album ini berisi single “Barricade (Matter Of Fact)” yang juga menjadi pembuka yang manis bagi 9 lagu selanjutnya. Masih mempertahankan nuansa dreamy yet sunny yang dibangun oleh aransemen uplifting dan vokal Christie yang mengalun ringan dan kontemplatif, album ini terdengar lebih intim dan terpoles dari materi-materi sebelumnya, menjadikannya salah satu album yang pantang dilewatkan untuk tahun ini. Di antara waktu jeda tur dunia mereka untuk mempromosikan album ini sampai akhir tahun nanti, Yumi Zouma pun menyempatkan waktu untuk bercerita lebih dalam.

 yumi

Awalnya saya sempat mengira jika Yumi Zouma adalah nama seorang penyanyi solo, apa cerita di balik nama band ini?

Saat memulainya, kami sebetulnya tidak yakin jika kami akan menjadi sebuah band seperti sekarang. Kami membuat lagu pertama saat kami tinggal di negara yang berbeda, jadi awalnya kami pikir rasanya sulit membayangkan untuk tampil bersama di atas panggung. Tapi, kami ingin tetap percaya jika mungkin musik kami bisa diterima, atau mungkin salah seorang dari kami bisa membawakan lagu kami secara live. Jadi kami memilih nama yang fleksibel dan tidak secara spesifik menjelaskan tempat asal kami. Jadi dibanding memilih nama “The…’s” atau sejenisnya, kami memilih menggabungkan nama pertama dan nama terakhir dari dua teman kami untuk menciptakan sebuah nama baru. 

Bagaimana awal perkenalan kalian satu sama lain?

Sam mungkin pertama kali kenal Christie saat dia pacaran dengan kakaknya, Josh dan Charlie bertemu di sebuah kompetisi band di Auckland saat mereka berumur 17 tahun, Charlie bertemu Sam di sebuah toko gitar di Christchurch, Christie bertemu Josh dan Charlie saat dia masih menyanyikan lagu-lagu Fleetwood Mac di sebuah cover band, dan Sam pertama kali bertemu Josh di latihan band pertama kami sebagai Yumi Zouma, haha!

Siapa saja influens musikal bagi band ini?

Influens kami umumnya berkisar di musisi Selandia Baru yang kami dengarkan saat beranjak dewasa seperti Bic Runga, The Mint Chicks, Cut Off Your Hands, Anika Moa, dan Carly Binding. Tapi untuk album ini, kami lebih terpengaruh dari Yoncalla sebagai tempat itu sendiri serta pengalaman kami saat tur pertama kali untuk mempromosikan dua EP kami.

Kalian sering dideskripsikan sebagai dream pop, bagaimana pendapat kalian? Sebelumnya Charlie dan Josh juga sempat membuat band disco punk, apa ada pengaruh yang terbawa?

Kami selalu kesulitan saat menjawab soal genre karena kami berempat punya ide masing-masing tentang musik yang ingin kami buat di band ini. Untuk sekarang tidak ada korelasi antara YZ dengan proyek lama kami, kecuali mungkin solo project Sam, Zen Mantra, yang menjadi sumber kreativitas untuk beberapa lagu YZ seperti “Remember You At All” dan “Better When I’m By Your Side”.

 

Dari sekian banyak tempat di dunia, kenapa kalian memilih Yoncalla sebagai judul album ini?

Haha, ceritanya sangat panjang! Tapi akan kami coba singkat. Tahun lalu kami ke US untuk tur musim panas mempromosikan EP II, kami harus berkendara dari Vancouver ke Seattle untuk main di Capitol Hill Block Party. There was a massive traffic jam and the Canadian border was on lockdown. Dari yang seharusnya hanya butuh 3-4 jam perjalanan berubah menjadi 12-13 jam dan kami harus mengatur ulang jadwal kami. Kami berhasil tiba tepat di jam seharusnya kami main, but had a great gig. Masalahnya, kami harus menukar mobil rental kami di Seattle, tapi kami melewati jadwal drop-off  Dan saat itu tidak ada lagi rental yang tersedia karena memang sedang banyak festival di Seattle. Itu artinya kami harus bermalam di Seattle, tapi semua hotel dan Air BnB juga sedang penuh. Akhirnya kami terpaksa tidur di lantai rumah seseorang yang baru kami kenal. Besoknya, semua mobil rental juga sudah habis disewa, sehingga kami naik kereta Amtrak untuk show kami berikutnya di Portland dan tiba persis di jadwal show. Setelah itu, kami akhirnya punya waktu kosong untuk beristirahat. Kami akhirnya menyewa Air BnB di antah berantah Oregon dan menghabiskan dua hari dengan berenang di sungai dan memikirkan soal album debut kami. It was just the most peaceful and best time ever, and a lot of the ideas for the album came from that time, so that’s why we called it Yoncalla!

yoncall

Yoncalla terdengar sangat intim dan penuh nostalgia, apa yang menjadi tema besar di album ini yang menjadi perekat semua lagu di dalamnya?

Ide utamanya adalah ini pertama kalinya kami merekam album di satu tempat secara bersama-sama. Sebelumnya, kami mengerjakan bagian masing-masing di negara yang berbeda dengan zona waktu yang berbeda juga. Untuk Yoncalla, semua eksperimen musik kami lakukan bareng in real time, in front of everyone else, yang ternyata bisa bikin frustrasi juga jika sesuatu tidak terjadi seperti yang kami bayangkan di kepala, atau jika proses rekaman berjalan terlalu lama. But in the end, kami menyadari terkadang kita harus to let that go if you’re going to get anything done. Pada akhirnya semua lagu akan terdengar berbeda dari yang kami bayangkan sebelumnya, jadi mengeluh soal hal-hal kecil sebetulnya hanya membuang-buang waktu. Begitu kami menyadari hal itu, semua berjalan dengan lancar dan merekam lagu bareng menjadi proses yang menyenangkan karena untuk pertama kalinya kami bisa saling melempar ide-ide random secara langsung dan tak akan terjadi jika kami masih menulis sendiri-sendiri.

Salah satu lagu paling menarik di Yoncalla adalah “Haji Awali” dengan judul yang unik, apa cerita di balik lagu itu?

Nama Haji Awali berasal dari nama kompleks apartemen dan sekolah saat Josh tinggal di Timur Tengah, tepatnya di Bahrain. Itu adalah salah satu lagu paling susah bagi kami, salah satu lagu yang kami buat paling pertama tapi selesai paling terakhir. Lagu ini hampir tidak masuk ke album, tapi sekarang menjadi lagu favorit kami!

Bagaimana kalian mendeskripsikan setting yang sempurna untuk mendengarkan album ini?

Duduk di bukit rumput di daerah west coast, di tepi sungai, bersantai bersama teman-teman menikmati homemade salad setelah hari yang melelahkan.

 

Sebagai band yang tadinya tidak berencana untuk tampil live, bagaimana kalian beradaptasi dengan tur dan apa rasanya bagi kalian untuk tampil di atas panggung?

It was normal for us karena kami pernah main di heavily touring band juga sebelum YZ, tapi tetap saja rasanya agak menegangkan saat akan tampil pertama kalinya di sebuah venue besar di luar negeri. Tapi hal itu juga menjadi motivasi yang mendorong kami untuk menjadi band sesungguhnya dengan cepat, and now we love it! Setelah beberapa minggu, kami pindah dari opener menjadi headline untuk show kami sendiri di depan fans kami, which is always way more fun. Beberapa respons terbaik yang kami dapat adalah saat main di Tokyo untuk pertama kalinya dan mendapat encore pertama kami (twice!) dan tampil McAllen, Texas di Galaxy Z Festival di mana panggung kami diserbu fans yang naik panggung untuk berdansa bersama kami.

 

Dari sekian banyak gigs yang sudah kalian lakukan, mana yang paling memorable?

Mungkin show pertama kami di kota asal kami di Christchurch. Kami tidak menyangka orang mengenal kami, jadi kami main di bar milik teman kami dan sebetulnya cuma buat latihan sebelum tur dunia pertama kami di 2014. Tapi hampir seisi kota datang dan bar itu benar-benar disesaki orang yang ikut bernyanyi lagu-lagu yang kami sendiri masih belajar memainkan secara live! It was an incredible experience that we couldn’t really understand!

 

Apa yang paling kalian rindukan dari kota asal kalian?

Keadaannya sebelum gempa bumi di 2011. Christchurch tadinya adalah salah satu tempat paling indah di Selandia Baru, tapi sekarang terlihat seperti parkiran mobil yang terbengkalai.

 

Apa satu hal yang akan disepakati oleh kalian semua?

Probably nothing! We are all very diverse in our opinions, haha!

http://www.yumizouma.com/

Book Club: Interview with Dea Anugrah

Menyoal masa kecil, Dea Anugrah mengaku memiliki banyak cita-cita. Mulai dari pemain sepakbola, musisi rock, anggota sirkus keliling, hingga Pokemon master. Namun, berawal dari obrolan bersama guru Bahasa Indonesia saat SMA serta melahap koleksi perpustakaan sekolah yang meliputi The Old Man and the Sea, Huck Finn, dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, pria 25 tahun asal Pangkal Pinang tersebut terpancing untuk menulis puisi, esai, dan cerpen yang berlanjut sampai hari ini. Karyanya telah tersebar di berbagai media baik cetak maupun online dan ia pun berkesempatan tampil di festival sastra sekelas Ubud Writers & Readers Festival 2013 di Bali bahkan sebelum merilis buku puisi pertamanya, Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya di tahun 2015 lalu. Tahun ini, setelah menuntaskan studinya di jurusan Filsafat UGM dengan tugas akhir tentang pemikiran Arthur Schopenhauer, ia pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai wartawan dan merilis Bakat Menggonggong, sebuah kumpulan 14 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu 2012-2016 di mana setiap cerita menunjukkan eksplorasi gamblangnya dalam teknik bercerita yang beragam.

img_20160308_025129

Hai Dea, apa kabar? Bagaimana biasanya kamu memperkenalkan dirimu dan profesimu?

Halo, Alex. Kabarku baik. Untuk keperluan publikasi, biasanya aku mencantumkan keterangan bahwa aku menulis puisi, cerpen, dan esai dalam bahasa Indonesia dan sedikit informasi tentang buku-bukuku (Misa Arwah dan Bakat Menggonggong).

Bagaimana biasanya kamu memulai hari dan apa yang menjadi kegiatan keseharianmu belakangan ini?

Sekarang aku bekerja sebagai wartawan. Jadi, kegiatan utamaku sehari-hari, setelah bangun tidur sekitar jam 12 siang (hehe), ialah mengetik berita.

Di titik apa kamu serius menulis secara profesional?

Kalau profesional yang kamu maksud adalah sekadar mendapatkan uang dari menulis, kukira itu bukan hal yang serius, bukan hasil menimbang-nimbang sampai sesak napas selama empat harmal atau semacamnya. Aku mengirimkan tulisan-tulisan ke koran dan majalah, mereka memuatnya, lalu membayarku. Tapi kalau profesional berarti menjadikan menulis sebagai mata pencarian utama, aku belum, dan mungkin tidak bakal, menjerumuskan diriku sendiri ke dalamnya.

Seorang teman pernah bercerita bahwa bukunya cuma terjual 59 eksemplar di bulan pertama setelah diterbitkan. Sila bayangkan situasi bulan-bulan berikutnya, ketika orang yang membicarakan buku itu makin sedikit. Dan pengalaman temanku itu bukan kasus langka di Indonesia.

Boleh cerita soal Bakat Menggonggong? Berapa lama proses pembuatannya sampai selesai dan apa yang menjadi tema utama/benang merah dari kumpulan cerpen ini?

Karena berbentuk kumpulan, pembuatan Bakat Menggonggong santai sekali. Tidak seperti orang mengerjakan novel atau traktat, misalnya, yang mesti menulis secara rutin setiap hari selama berbulan-bulan atau lebih. Belasan cerita pendek dalam buku itu kutulis dalam rentang 2012-2016 dan hampir seluruhnya sudah terbit secara terpisah di pelbagai media.

Sebagaimana tertulis di sampul belakang, yang “mengikat” cerita-cerita yang bermacam-macam dalam buku itu adalah suara naratornya. Dalam hampir setiap cerita, si narator cerewet dan sinis dan mulutnya agak tercela. Selain itu ada kesamaan “semangat”, yakni penjelajahan bentuk dan teknik penyampaian cerita.

 

Siapa sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk dirimu yang sekarang?

Teman-teman dekat, para penulis yang bukunya kubaca, pacar dan bekas pacar, keluarga. Aku tidak tahu siapa yang memberikan pengaruh paling banyak.

 

Tanpa berpikir terlalu lama, tolong sebutkan satu nama penulis favoritmu yang terlintas beserta alasannya.

Ernest Hemingway. Dia penulis besar yang karyanya kubaca paling awal. Dan sampai sekarang, setiap kali membaca buku-bukunya aku merasa mendapat pelajaran baru tentang menulis dan hidup dan apa saja.

Sejauh ini apa hal yang paling disukai selama menjadi penulis?

Ketika menemukan hal-hal yang bisa kusadap dari buku-buku bagus dan ketika bertemu dan berkumpul dengan teman-teman yang pintar dan menyenangkan. Kupikir dua jenis pengalaman itulah yang paling kusukai. Kalau tidak menulis, mungkin aku tidak akan mengalami keduanya.

Percaya dengan yang namanya writer’s block? Kalau iya, bagaimana caramu mengatasinya?

Writer’s block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja.

Bagaimana kondisi yang ideal bagi Dea untuk menulis?

Aku mudah terganggu oleh bunyi-bunyian, terutama suara orang, wabil khusus suara anak kecil, dan bau tidak enak. Di luar itu kurasa tidak ada masalah, keadaan apa pun cocok-cocok saja buat menulis. Masalahnya, sekalipun kondisi di sekitarku ideal, menulis tidak pernah terasa mudah.

 

Apa pengaruh sosial media/internet untuk dirimu, baik secara personal maupun profesional?

Internet jelas sangat penting untuk orang-orang di negara dunia ketiga, termasuk para penulisnya. Tanpa situs-situs file sharing, misalnya, aku pasti kekurangan bahan bacaan dan tontonan. Internet membuat persebaran pengetahuan jadi berkali-kali lipat lebih murah, cepat, dan luas.

Perkara media sosial agak ruwet. Pada satu sisi ia memudahkan kita bergaul dan berjualan, tapi di sisi lain ia menimpuk kita dengan banyak sekali urusan yang kita tidak perlukan. Media sosial bisa menggiring seorang penulis untuk menulis seperti keinginan khalayak alias menjadi penyambung lidah netizen. Apakah perbedaan netizen dan gerombolan biri-biri? Kadang, suara biri-biri enak didengar dan perlu.

Menurutmu, di zaman media sosial seperti sekarang, masih perlukah seorang penulis bergantung pada toko buku/penerbit untuk menjual karyanya?

Perlu. Sejauh yang kualami, berjualan sendiri itu melelahkan sekali, terutama urusan mengirimkan buku kepada para pemesan.

Seberapa sering kamu menilai buku dari sampulnya?

Cuma sesekali dan patokan yang kupakai tidak terlalu tinggi. Selama tidak keterlaluan buruknya, aku bisa maklum. Aku lebih sering menilai buku dari nama penulis yang tertera di sampulnya, sebab yang fana adalah waktu, penulis jelek abadi. Hehe.

Banyak yang mengira dirimu perempuan based on your name. Seandainya kamu jadi perempuan untuk satu hari, apa hal pertama yang ingin kamu lakukan?

Memeriksa apakah aku tetap menyukai hal-hal yang kusukai dan tetap tidak menyukai hal-hal yang tidak kusukai. Seandainya aku jadi mengagumi SBY dan senang mendengarkan lagu “Tubuhku Otoritasku” dan membenci rokok, misalnya, kupikir aku tidak bakal tahan.

 

Selain menulis, apa lagi hal yang suka kamu lakukan?

Membaca, menonton, main videogame, dan tidur. Khusus soal tidur: tentu semua orang terbiasa tidur, tapi aku tidur seperti kacung tenis mengejar bola dan seperti rohaniwan memikirkan hari kiamat dan seperti wartawan membaca tulisannya sendiri. Dalam kata-kata lain, aku tidur seolah-olah di dunia ini tidak ada urusan yang lebih penting daripada tidur.

Jika bisa memilih satu ceritamu untuk difilmkan, cerita apa yang kamu pilih dan siapa yang akan kamu pilih untuk menyutradarainya?

Tamasya Pencegah Bunuh Diri, Alejandro Jodorowsky atau Hitoshi Matsumoto.

 

Apa satu hal yang ingin kamu pelajari/kuasai lebih dalam?

Kupikir yang paling mendesak adalah belajar bahasa asing selain Inggris, supaya aku bisa mengakses lebih banyak bacaan.

Apa rencana selanjutnya untuk saat ini?

Menulis novel.

 

Terakhir, boleh berikan rekomendasi lima buku favoritmu beserta alasan singkat untuk masing-masing buku?

orang2

Orang-Orang Bloomington

Budi Darma

Satu dari sedikit sekali buku yang akan bertahan andai suatu saat kesusastraan Indonesia memutuskan untuk bertaubat dan mensucikan diri dari karya-karya buruk.

 snows

The Snows of Kilimanjaro and Other Stories

Ernest Hemingway

Beberapa cerita pendek penting Hemingway terhimpun di dalam buku ini (“A Clean, Well-lighted Place”, “The Short Happy Life of Francis Macomber”, dan “Fifty Grand”).

pedro 

Pedro Paramo

Juan Rulfo

Gabriel Garcia Marquez mengaku sanggup menuturkan ulang novel ini, baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan. Tidak mengherankan, sebab, dilihat dari sisi mana pun, novel ini bagus sekali.

 bartleby

Bartleby & Co.

Enrique Vila-Matas

Novel ensiklopedik tentang para penulis yang memutuskan untuk tidak atau berhenti menulis. Salah satu buku paling menarik yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir.

 maps

Map: Collected and Last Poems

Wislawa Szymborska

“Saat kuucapkan hari depan, suku katanya yang pertama telah jadi milik masa silam,” tulis Szymborska dalam “The Three Oddest Words”. Buku ini memuat sekitar 250 puisi Szymborska dalam bahasa Inggris, mulai dari yang termahsyur seperti “Love at the First Sight”, “On Death, Without Exaggeration”, dan “Nothing Twice” hingga puisi-puisi yang ditulisnya menjelang kematian.

Foto oleh: Saila Rezcan.

http://www.dea-anugrah.com

 

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

Little Miss Sunshine, An Interview With Zahara Davis

Dari Bali sampai ke West Coast, model belia Zahara Davis membawa irresistible beauty dan effervescent charm ke dunia fashion yang ia geluti sejak dini. Fine, fresh, fierce, she got it on lock! Foto oleh: Andre Wiredja.

dsc01217

Bayangkan jika pada suatu hari kamu hanyalah gadis berumur 14 tahun yang sedang asik melahap Big Mac di sebuah shopping mall, seseorang dari model agency menghampiri dan memberimu kartu nama, and next thing you know, kamu berjalan di runway prestisius fashion week dunia, menjadi Victoria’s Secret Angel, mengencani pria-pria seperti Leonardo DiCaprio dan Tom Brady serta menjadi model dengan bayaran paling mahal di dunia seperti yang dialami oleh supermodel Gisele Bündchen. Skenario yang hampir mirip juga terjadi untuk Kate Moss yang di usia 14 tahun menarik perhatian seorang scouting agent dari Storm Model Management saat ia berada di bandara JFK New York sebelum akhirnya menjadi salah satu model paling iconic di dunia.

Sekelumit cerita di atas mungkin contoh cerita ‘discovery’ yang sama klisenya dengan cerita seorang gadis mengantarkan temannya untuk casting namun justru ia yang menjadi bintang (seperti yang dialami oleh Adriana Lima dan Gemma Ward misalnya). Sebuah anekdot di dunia modelling yang terdengar seperti dongeng, but it’s really happened and never gets old. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seorang scouting agent dari agensi modeling berani mempertaruhkan kepercayaan kepada seorang gadis muda yang hanya ia lihat sekilas di random places. But still, kita terus mendengar cerita tentang gadis yang tadinya bukan siapa-siapa breaks into the industry dan menjadi model tenar thanks to street-scouting. The chances are odd but it’s not impossible.

It’s the girl who never thought she could who gets discovered. The prettiest girl in school doesn’t always make the best model,” ujar Ivan Bart, seorang top agent dari IMG Models, yang pernah menaungi Gisele Bundchen, Heidi Klum, dan Kate Moss. Pada kenyataannya, dari sekian banyak pretty faces in the crowd, memang tidak ada jaminan jika wajah cantik dan postur semampai saja cukup untuk membuatmu menjadi the next big thing dalam industri modeling yang sangat kompetitif. Just like any other It Girls, the It models juga diberkahi that ‘special oomph’, the ‘je ne sais quoi’, the ‘x-factor’, dan istilah lainnya untuk mendeskripsikan pesona natural dan magis yang dimiliki beberapa gadis remaja yang membuat mereka stands out in the crowd dengan begitu effortless dan membuat orang-orang tergila-gila. Seperti yang dimiliki Zahara Davis, seorang model muda dan girl crush yang siap membuatmu terobsesi dan menjadikan dirinya sebagai ‘goals’.

Just like any other crushes in the social media era, saya pertama kali mengetahui sosok Zahara justru dari akun Instagram miliknya (@zaharadavis) yang saat artikel ini ditulis telah memiliki 32.2K followers. Sama seperti umumnya model generasi sekarang yang kerap disebut sebagai “The Instagirls” (Cara Delevingne, Kendall Jenner, Gigi Hadid, Fernanda Ly, etc) yang dengan gamblang menunjukkan personality mereka lewat social media dan membuat mereka terasa lebih approachable dan relatable, Zahara juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapapun tergoda untuk scrolling down her feeds dan menekan tombol follow dengan cepat. Saya ingat yang pertama kali tercetus di benak saya adalah “Wow, this girl is drop dead gorgeous!” dan lebih terkejut lagi saat mengetahui jika dirinya adalah seorang model yang kala itu berdomisili di Bali.

Diberkahi oleh kulit semanis karamel yang eksotis, perfect bikini body, facial feature unik paduan genetik Native American, Saint Lucia, dan Inggris yang mengalir dalam darahnya, gadis yang dilahirkan di Maui, Hawaii dan dibesarkan di Bali ini memulai karier modelingnya sejak ia ditemukan oleh Jules Henry, CEO dan founder dari Fauve Agency sekitar tiga tahun lalu saat ia masih berumur 13 tahun. Di bawah naungan model management yang berbasis di Bali tersebut, Zahara mengembangkan talenta naturalnya sebagai model paling muda di antara jajaran roster lainnya seperti Salvita DeCorte, Helene Jansen, Reti Ragil, Dara Warganegara, Drina Ciputra, dan model-model papan atas lainnya di Indonesia saat ini.

Blessed with good genes itu sudah pasti, namun berbekal kerja keras, professionalism dan work ethic yang sudah dibangun dari usia dini, tidak butuh waktu lama bagi Zahara untuk menjadi sensasi baru di skena fashion dengan menjadi muse bagi banyak fashion photographer terkenal dan muncul di berbagai editorial majalah-majalah mode prestisius. Kini di umurnya yang baru saja menginjak 16 tahun, Zahara telah memiliki cukup portofolio yang akan mengundang decak kagum siapa saja. Selain Fauve, saat ini ia juga diwakili oleh agensi internasional Next Management yang membuka peluang pekerjaan internasional lebih lebar baginya. Setahun terakhir ia telah malang melintang ke Paris, Los Angeles, dan New York dan bekerja untuk klien-klien besar seperti This Is A Love Song, NYLON US, Urban Outfitters, Glamour US, Billabong, dan yang menjadi salah satu career highlight-nya sejauh ini: Dipotret fotografer legendaris Bruce Weber untuk editorial berjudul “Reach Out and Touch Somebody’s Hand”  di Vogue Italia edisi April 2016 bersama model-model internasional seperti Ajak Deng, Mica Arganaraz, Fare Fares, Gelila Assefa, Anushka Sharma, dan Shehkar Jah.

Keputusan menjadikan Zahara sebagai cover edisi Summer tahun ini muncul secara spontan ketika fotografer Andre Wiredja bertemu Zahara di Bali dan melakukan test shoot. Tanpa ragu, ketika Andre melempar ide untuk memotret Zahara, kami pun langsung menyambutnya. Walaupun sayangnya saya tidak bisa bertemu dan mewawancarainya langsung, semua testimoni dari orang-orang yang saya dengar tentang Zahara selalu bernada positif. Semua sepakat jika Zahara adalah sosok berkepribadian, down to earth, menyenangkan untuk bekerjasama, dan memiliki masa depan cemerlang di bidang yang ia geluti sekarang. Dari apartemennya di Los Angeles, Zahara pun mengungkapkan beberapa sisi dalam dirinya lewat balasan email yang ia kirim untuk NYLON. Ready to know her better?

dsc01581

Hai Z, jadi apa yang mendorongmu terjun ke dunia modeling? Saya selalu ingin melakukannya, something I had a passion for. Saya mulai modeling bersama Juls saat saya berumur 13 tahun dan mendapat kesempatan bertemu dengan fotografer Nicoline Patricia yang kemudian banyak mendidik saya soal pekerjaan sebagai model. Sebelum itu saya juga sudah melakukan beberapa pekerjaan modeling, namun saya rasa itu titik di mana karier saya benar-benar dimulai. And since then I haven’t really stopped. Both my mum and my grandma were in the fashion industry, so that did have an impact on what I’m doing now.

Bagaimana akhirnya kamu dikontrak Fauve Management dan Next Management? It was all at the right time, with the right people and things just happened perfectly.

Apa hal yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari modeling? Saya suka kesempatan traveling ke berbagai tempat di dunia dan bertemu banyak orang-orang berbakat namun saya harus bilang jika bangun dan bekerja dari mulai jam 4 pagi isn’t the cherry on my Sunday.

Bagaimana rasanya melihat foto diri kamu sendiri di media? Tergantung fotonya sebetulnya tapi saya jelas bukan the best judge untuk menilai diri saya sendiri karena kebanyakan foto yang saya kurang sukai justru malah disukai banyak orang lain.

Boleh cerita sedikit soal pengalamanmu bekerja bersama Bruce Weber untuk Vogue Italia? Saya sampai harus mencubit diri saya sendiri saat tiba di lokasi pemotretan agar yakin jika itu bukan mimpi. Salah satu pengalaman terbaik saya sebagai model sejauh ini. Semua orang sangat friendly dan menyenangkan untuk bekerjasama.

Susah nggak membagi waktu antara karier dan akademis? Ya, lumayan susah karena saya harus selalu berpergian, but somehow I manage to work it out. Home school is pretty mobile.

Do you consider yourself as world citizen? Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu tempati, mana yang kamu anggap sebagai “rumah”?

I am a citizen of the world, tapi saya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Indonesia. Bali is where I will always call home.

Apakah kamu punya kakak atau adik? Siapa supporter paling besar di keluargamu? Saya anak satu-satunya dan dibesarkan oleh ibu saya. She is most definitely my biggest fan. Dia selalu mendukung saya 100%

Apa yang paling kamu rindukan dari Bali? Bagaimana kamu mendeskripsikan perfect night out di Bali? Saat saya di Bali, itu biasanya saya sedang liburan dari semua hal lain. Itu waktu bagi saya untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman saya. Quiet nights in are my favorite there.

Apa hal favorit yang kamu lakukan di musim panas?

My favorite is to island hop between Indonesia and all the little islands.

 

What’s your favorite summer memory? I now go every year to Glastonbury, which is coming up soon and is my favorite festival of summer so far.

 

What do you think about summer fling? Not on the top of my list.

dsc01431

Saya pernah lihat salah satu posting di Instagram milikmu tulisan “Those who criticise our generation forget who raised it”, kalau bagi kamu sendiri apa rasanya menjadi seorang model dari generasi millennial di era media sosial seperti sekarang? Media sosial telah menjadi satu hal yang berpengaruh di industri fashion dan saya pun menjadi bagian darinya, tapi call me old fashion but it was a lot easier for models back when it didn’t matter how many likes your Instagram post got. 

Seberapa penting social media untuk kehidupan sehari-harimu? Saya hanya punya akun Instagram dan Snapchat. Kalau kamu menemukan akun social media selain dua itu atas nama saya, kemungkinan besar mereka adalah fake accounts. Saya berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.

Apakah kamu termasuk morning person atau evening person? Depends how the crowd is! As long as I’m with good people then I can do either.

Couch potato or gym fanatic? Bagaimana caramu agar tetap fit? Gym! Without a doubt. Tapi saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan nutritionist dan trainer saya Melanie dari Motion. Saya selalu excited untuk kembali latihan bersamanya setiap saya di Bali.

Apa kamu punya signature style yang menjadi andalanmu? Setiap hari saya bangun dengan mood yang berbeda. Saya tidak bisa bilang saya punya satu particular style, but it’s always me.

Siapa model favoritmu? Naomi Campbell dan Candice Swanepoel.

Selain modeling, hal-hal apa lagi yang kamu sukai? Membaca, menulis, traveling, musik, nutrisi dan healthy living.

 

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini? Saya selalu terobsesi dengan every healthy thing on the market, never gets old to me.

Musik apa yang biasanya ada di playlist personalmu? Rap dan R&B adalah favorit saya. My top band would probably be Destiny’s Child or TLC.

How about the beauty regime? Produk apa yang menjadi favoritmu? Saya sangat perhatian soal produk yang akan saya pakai untuk kulit saya. I love organic products. Saat ini saya menyukai:

– All lush bath bombs 

– Pure shea butter lip balm

– Hemp seed hair oil (amazing)

– Sea salt body scrub

– BEST cream I use is Bali browning lotion 

What makes you laugh? Life.

What makes you cry? LIFE.

Apa hal paling mendebarkan yang pernah kamu lakukan? Bungee jumping, it was crazy.

Apa sifat yang paling kamu sukai dari dirimu sendiri? I’m just a happy go lucky girl.

Kalau yang paling tidak disukai? Being happy go lucky, sometime doesn’t always work out, you may end up in a ditch, ahaha!

Apa yang menjadi ketakutan terbesarmu? Tidak bisa meraih target-target yang telah saya buat.

Secret skill? Staying balanced through it all the craziness that I love.

Apa saran terbaik yang pernah kamu terima? Keep your eyes on the stars and your feet on the ground.

Do you collect something? Memories.

Rencanamu selanjutnya? Reaching my goals and dreams.

dsc01753

 

Easy A, An Interview With Ariel Nayaka

Tanpa perlu menjual kontroversi kacangan dan komentar-komentar miring, rapper muda Ariel Nayaka menunjukkan kelasnya sendiri sebagai bintang baru layak simak di skena Hip-Hop lokal just like a Straight-A student.

Setelah seakan mati suri sekian lama dari radar mainstream, dengan semakin banyaknya nama rapper dan beatmaker lokal yang naik ke permukaan, releasing their tapes, doing gigs here and there, dan crowd yang semakin apresiatif, I think it’s safe to say our local Hip Hop scene is on the rise again and Ariel Nayaka is proud to be part of it. Menghabiskan masa pubernya di Houston, Texas, cowok 22 tahun ini mengaku sudah terekspos pada kultur Hip Hop sejak dini, namun album 50 Cent lah yang menjadi awal dari segalanya. “Basically gue lagi road trip sama keluarga dan stuck di mobil selama 12 jam lebih. Sepanjang perjalanan, hiburan gue cuma album 50 Cent yang Get Rich or Die Tryin’. That was also the first time I ever listened to Gangsta Rap and I was hooked on it immediately. Album itu yang membuka pintu buat gue untuk eskplor Hip Hop, tapi album yang benar-benar mendorong gue untuk mulai nulis lirik adalah album Eminem yang The Eminem Show,” ceritanya.

Sempat main di genre metal dan post-hardcore emo, minatnya pada Hip Hop bangkit lagi saat ia kembali ke Jakarta. Secara otodidak dari video YouTube, ia mulai mempelajari proses rekaman dan menulis lirik sendiri di atas free beats yang ia dapat di internet lalu mengunggahnya ke SoundCloud. After some singles, videos, and one mixtape, tahun ini dengan bangga Nayaka mempersembahkan mixtape anyar berjudul Curriculum Vitae. Seperti yang disugestikan oleh judulnya, album berisi 12 track ini adalah rangkuman dari skill yang dimilikinya. Berkolaborasi dengan beberapa rapper dan beatmaker sebayanya seperti Ben Utomo, Scamy, dan Greybox, Nayaka menunjukkan bermacam warna Hip Hop dan tema lirik, mulai dari old school, new school, R&B, hingga trap, yang semuanya dikemas dengan lafal Inggris yang fasih, wordplay yang asik, dan produksi yang rapi.

To complete this exciting year, single terbarunya bersama produser Emir Hermono yang bertajuk “3Am In Jakarta” dengan video yang ia rekam sendiri menjadi topik viral, menarik respons positif, dan mengantarkan namanya ke pendengar yang lebih luas tak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dengan tampil di Good Vibes Festival, di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu. Not stopping for rest and relax, he’s already got so much more to show and we can’t wait for it.

img_5054

So, what are the musical influences for you?

 

Kalau musik secara general, gue akan sebut Michael Jackson. Gue ingat nonton live performance dia bawain “Smooth Criminal” when I was 3, straight up from Laser Discs. Tapi kalau Hip Hop, pasti berubah setiap minggu, haha. Usually I’ll listen to the “new age hip hop” era in the States seperti Lil Yachty, Lil Uzi Vert, Playboi Carti. But then again there are also those moments where I feel like I need me some Bryson Tiller, Partynextdoor, Drake vibes as well. And those melodic sappy ones have been influencing me HEAVY lately.

cv

Tell me about Curriculum Vitae, apa konsep utama dari album ini?

 

Jadi Curriculum Vitae ini dibuat dengan konsep “This is my CV into the music industry”, that’s why I’ve got a couple different type of “Hip Hop Styles” in one body of work to show my diversity and overall sounds that I am capable of. Lagu pertama yang gue bikin yang eventually masuk ke album direkam sekitar April 2015.

Waktu itu gue sebetulnya belum berencana rilis mixtape/album karena di Januari 2015 gue baru ngerilis mixtape yang judulnya To Each His Own. Tapi pas summer 2015, gue ke Jerman selama setengah tahun dan gue bawa recording equipment gue ke sana. I travelled around Europe with my friends, and along the way I took in influences from my surroundings and applied them to my music.

Sekitar 70% rekaman vokal di album ini gue kerjain di Eropa. And as for the album cover, it was a picture of a piece of the Berlin Wall in the East Side Gallery that simply said “Curriculum Vitae”. Itu foto gue literally snapped with my iPhone, sent it to my sister to edit a little, and BOOM! That’s the album cover, haha.

Gimana biasanya proses songwriting berlangsung buat lo dari awal sampai jadi?

I always get confused everytime anyone asks me this question, because its always different every single time. Sometimes someone would send me a beat and I’ll just write lyrics to that beat and I’ll record. But some other times I could just be anywhere and I’d get ideas and I would write them down in my Notes app on my phone. Just rhymes and/or random topics. You’d be surprised to see how much idea I have just laying there on my Notes app lol. Then when I do have the time, I would try to use those ideas and mash it together with an instrumental that flows well with the lyrics. To me, the process of songwriting cannot be stuck in just one method of formula. You have to constantly experiment with new sounds/topics. Getting out of your comfort zone is very important, because at the end of the day YOU HAVE to sound different than your peers.

Apa opini lo soal skena Hip-Hop lokal saat ini?

 

The Hip Hop scene in Indonesia is GROWING FASTER AND FASTER! The culture is moving really fast and I see it growing faster than it did with EDM back around 2010-ish. Banyak banget rapper baru yang muncul setiap bulannya and that’s awesome! Sekarang juga ada beberapa Hip Hop events di Jakarta di mana lo bisa ngeliat producer, rapper, DJ hanging out in one place as friends and vibing with one another. Cul De Sac is a collective of very talented young producers and DJs who make events as well. You can probably say that these guys are the ones that are running the underground Hip Hop scene in these weekly parties.

 

What’s the career highlight so far? Yang gue tau tahun ini lo ikut perform di Good Vibes Malaysia, how was it?

 

YES actually so far, performing in Good Vibes alongside Emir Hermono was a really crazy experience. Gue bikin lagu “3AM In Jakarta” bareng dia beberapa bulan lalu dan ternyata lagu ini lumayan booming di Kuala Lumpur, to the point that it actually got radio airplay. Lucunya, pas kita bawain lagu itu di Good Vibes, there were actually people singing and rapping along to the EXACT lyrics. Itu momen yang gila buat gue karena kalau dipikir, gue nulis lirik lagu itu di rumah gue di Jakarta, tapi gue bawainnya di negara lain dan orang-orang nyanyiin liriknya. That feeling right there is what I’ll always crave and that’s the reason that I make music now.

 

Selain musik, apa aja kegiatan sehari-hari lo?

MASIH KULIAH MAN! I mean it’s my last semester but I need to get this out the way first so I can focus on this music 100%. On a daily basis I usually just wake up, go to the gym, go back home and usually the homies would want to hang at my place. My place is where I do all of my recordings and usually we would all just hang out eventually come up with ideas for music.

What’s your dream collaboration?

 

Yo! If could choose anyone, I would want to have a song with Travis Scott on the hook, me doing 2 verses, Drake doing the last verse, and the overall production by Kanye West and Metro Boomin. Terus have DJ Khaled promote it HAHAHA! If I could get that done, I would die happily LOL.

Apa rencana selanjutnya?

Sekarang gue lagi ngerjain beberapa tracks bareng beberapa producers. Bantuin Emir Hermono di album barunya. I’m doing a joint EP with some very talented producers that I can’t tell u about right now and overall I’m just dropping music here and there. Just keep up on my social media accounts cause every announcement I make will go through there.

img_5038

Foto oleh: Willie William.

https://soundcloud.com/ariel-nayaka

IG: @ArielNayaka

Twitter: @ArielNayaka

YouTube: youtube.com.arielnayaka

Snapchat: arielnayaka

 

Picture Perfect, An Interview With Gianni Fajri

 

Berawal dari tugas membuat video dan foto promo untuk clothing brand saat mendalami Fashion Business di LaSalle College, Gianni Fajri menyadari jika menyajikan sebuah presentasi visual adalah pelampiasan sempurna bagi kreativitas dalam dirinya, apapun mediumnya. Sempat bekerja di sebuah fashion company, karier profesional gadis kelahiran Bandung yang akrab disapa Ghyan ini di bidang filmmaking dimulai saat ia dipercaya menggarap Behind The Scene dari Filosofi Kopi. Ditambah berbagai project seru lainnya seperti video campaign dan dokumentasi untuk beberapa clothing label maupun company hingga music video untuk Maliq & D’Essentials, Neonomora, dan LCDTRIP, namanya pun mencuat sebagai salah satu director muda dengan resume yang kian hari kian menarik perhatian. Kini, di usia 25 tahun, Gianni dikenal sebagai seorang film director yang memiliki production house sendiri bernama Maji Piktura, creative director dari sebuah creative studio bernama Anara, serta art director untuk PonYourTone. Her upcoming project? Sebuah debut film pendek berjudul Julian Day yang terinspirasi dari album milik band Elephant Kind. 

gianni

Tell me about your background, sejak kapan kamu tertarik pada directing/filmmaking dan apakah kamu mempelajarinya secara akademis atau otodidak?

My background was in a Fashion Industry, I went to LaSalle College majoring Fashion Business and have worked with several fashion company. Filmaking adalah media yang sempurna untuk melampiaskan kreativitasku. Berawal dari tugas kampus yang membutuhkan photo & video untuk promo brand baju, dari situ aku belajar sendiri dari mulai mengambil foto, edit foto sampai ke video. That’s when I started to learn and jump in into the film industry. The right word is otodidak.

Apakah dalam berkarya kamu berusaha memiliki satu ciri khas yang “Gianni banget”? Kalau iya, how would you describe it?

Beauty shoot, neon lights and dynamic shot (ghostly) and there must blue in it.

Siapa saja sosok visual maker yang influential bagimu?

Sofia Copolla, Terrence Malick, Gregg Araki, Nabil (music video director), Chan-wook Park, Wong Kar Wai.

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mencari inspirasi?

Being out of the circle, matiin handphone. Getting lost somewhere and talking with stranger/people randomly. Being sensitive with surroundings.

Sejauh ini, project apa yang paling berkesan bagimu dan kenapa?

Director Behind the Scene, Filosofi Kopi. Punya kesempatan berkarya & belajar di industri film kemudian dibayar pula, hahaha.

Bagaimana kamu melihat peran media sosial bagi kariermu?

Social media nowadays is very important apalagi di industri kreatif. Social media menjadi media promosi yang bisa membantu karya teman-teman sineas & seniman dilihat/didengar lebih luas lagi. Getting inspired and being inspired is what I’ve learnt in social media.

Apa advise terbaik yang pernah kamu dapat soal profesimu?

David Lynch salah satu director yang mempunyai pola pikir spiritual yang sangat menginspirasiku saat melahirkan karya. Ada dua quotes terbaiknya yang selalu kupegang teguh saat mulai berkreasi. Yang pertama: “If you stay true to your ideas, film-making becomes an inside-out, honest kind of process.” Dan yang kedua: “Every viewer is going to get a different thing. That’s the thing about painting, photography, cinema.” Berkarya dengan tujuan, jangan memikirkan yang lain because we’re not a Nutella jar, we cannot make everyone’s happy. So trust your guts, if you don’t feel like you’re doing it, then don’t.

What’s your current obsession?

Writing and walking. 

Benda apa saja yang selalu ada di tasmu?

Books, phone, lipstick, wallet and note book.

What do you love and hate the most about the creative scene in Jakarta right now?

Love: It’s growing! Banyak yang sudah mengapresiasi dan teknologi sudah mendukung. I’m sure it’s getting big kalau kita sama-sama mengapresiasi dan berkarya dengan jujur. Hate: I don’t do hate. But more to critical, kalau karya seni itu butuh proses. Banyak orang yang ingin cepat jadi hanya di layer pertama kemudian membodohi penikmatnya yang membentuk satu benchmark yang tidak jujur dan original.

Tell me about your dream project/collaboration?

Writing my own feature film yang mengangkat sisi humanisme dengan packaging yang sangat fresh.

Apa project selanjutnya yang bisa dibocorkan untuk saat ini?

Preparing my next film, hehehe. Still a secret tho. Well for this year, lagi persiapan buat TV series Viva Barista kedua (it’s a documentary about coffee, lifestyle & travel hosted by 3 boys: Rio Dewanto, Muhammad Aga, dan Roby Navicula) we did it the first time online on Metro TV. Should be exciting!

Gianni’s Watch List:

the-handmaiden-cannes

The Handmaiden

Craziest & exciting plot ever, should watch!

lost-in-translation-2

Lost in Translation

My forever favorite movie, in love with the soundtrack and what they called platonic love.

 knight-of-cups-bale-blanchett

Knight of Cups

Very poetical movie by Terrence Malick, if you feel like you’re in the mood of gloomy, should watch this movie,

viceland-vice-media

Viceland

YouTube channel yang dipimpin oleh Spike Jonze. Content yang sangat menarik untuk generasi millenials tentang social, politic & lifestyle!

death-proof

Death Proof

ITS VERY SATISFYING!

 

 

Practical Magic, An Interview With Canti Widyadhari from Foxglove Tarot

Terlepas dari pandangan skeptis terhadap hal yang berbau mistis, tarot reading telah menjadi satu aktivitas populer di berbagai acara, mulai dari bazaar, art market, restoran, pentas seni, or even at a party. Sosok tarot reader pun tak lagi identik dengan pakaian serba hitam dan tampilan klenik. Nowadays, tarot reader could be as stylish and sweet as the girl next door. Salah satunya adalah Canti Widyadhari, seorang tarot reader yang juga merupakan founder dan astrology writer dari sebuah online tarot reading service bernama Foxglove Tarot yang berbasis di Bali. “I started Foxglove Tarot karena waktu itu aku semacam dapat epiphany dari intuisi yang nyuruh aku pindah ke Bali untuk jadi tarot reader. At that time, I was having misfortune over misfortune yang lumayan bikin aku discouraged untuk nerusin karier aku di marketing, so I decided to go with the flow for once,” papar gadis kelahiran Jakarta, 24 September 1990 tersebut. Intuisi dan keberaniannya pun membuahkan hasil positif. Tak hanya menangani klien secara face to face maupun online, Canti yang kerap menjadi kontributor bagi beberapa platform seperti Magdalene dan The Murmur Journal saat ini juga sedang bersiap meluncurkan sebuah silver jewelry line yang ia beri nama COVEN.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada tarot dan apakah kamu belajar secara otodidak atau berguru ke orang lain? 

Aku mulai belajar reading dari tahun 2011, waktu itu awalnya belajar otodidak dulu tapi masih pakai buku. Aku tertarik untuk belajar tarot lebih dalam lagi karena waktu itu aku mulai belajar ilmu-ilmunya Wicca. Akhirnya aku mulai lepas bukunya ketika aku belajar dari seorang mentor yang basically sistemnya cuma nyuruh aku untuk dengerin intuisiku. It was a great and enlightening experience, and it got me to where I am today.

Apa cerita di balik pemilihan nama Foxglove Tarot?

The name is based on this flower called Foxglove (nama lainnya Witch’s Bell/Fairy Glove). Bunga Foxglove itu beracun, tapi kalau essence-nya bisa diolah dengan benar, bisa digunakan untuk healing. Sama saja dengan tarot reading atau ilmu-ilmu magic lainnya yang bisa dipakai untuk membantu atau untuk mencelakai orang lain tergantung intention-nya.

What is it that you love and hate about your job?

I love that I could use my gift to help others in need. Whether good readings yang beneran kejadian, atau klien-klien yang decided to take my advice and improve their lives, I’m happy and very grateful for this experience. Senang rasanya kalau aku dengar cerita dari klien yang bilang kalau they finally found their happy endings. What I hate about the job is the feeling that I need to be responsible and careful with my readings. Karena some people take the readings very seriously, dan kadang kalau reading yang kurang enak beneran kejadian, aku bisa merasa bersalah sekali. But I’m working on it by trying to reassure myself that life has its ups and downs. If the unpleasant reading comes true, it’s not my fault nor my client’s fault.

Apa kejadian paling memorable sejauh ini selama di Foxglove?

Waktu itu aku pernah jadi guest reader di pool party dan aku sukses baca 15 orang in a span of 3 hours. Yang memorable bukan cuma jumlahnya, tapi juga pertanyaan-pertanyaannya. I guess I would have never expected for clients to come to me with heavy life-changing questions in the midst of a pool party.

Mispersepsi apa yang paling menyebalkan dari pekerjaanmu dan bagaimana kamu meluruskannya?

Mispersepsi kalau tarot reader itu penipu. Biasanya sih yang skeptis-skeptis begini yang pernah punya pengalaman buruk dari tarot reader lain atau memang generally skeptical. Dulu aku selalu coba untuk debat atau cerita dari sisi aku untuk mengubah persepsi mereka. Tapi lama-lama, I decided to let them be. Everybody has their own opinion and perception of what’s real and not real. I realize that tarot reading is a very abstract concept and not everyone can agree with my reality, just like how I may not be able to agree with theirs.

What’s your current obsession?

Minimalist magickal sigil tattoo! Aku punya beberapa di jari and I’d love to add more!

Beside tarot and divination, what else you consider as your secret skill?

Cooking. It doesn’t sound that magical but I turned out to be a pretty good cook, haha!

Bagaimana media sosial memengaruhi kariermu?

It has affected my career greatly! Foxglove Tarot is online-based, so I always meet my clients through social media. It’s also a great platform for me to interact and open an enlightening discussion with fellow taror reading/astology enthusiasts.

If you could identify with one fictional character, siapa yang akan kamu pilih?

Phoebe dari serial Charmed. I love how adventurous and cheeky she is. I wish I have her divination skill too! It would be awesome to be able to receive premonition the moment you touch someone.

Apa saja rencana selanjutnya bagimu personally maupun untuk Foxglove?

I want to grow Foxglove and COVEN, while taking an astrology course so I can work as a certified astrology practitioner.

 

Canti’s essential items:

untitled 

Bohemian Cats tarot: My favorite tarot deck karena bisa dipakai untuk baca mundane questions dan energinya cocok sama banyak orang juga.

pyra

Orgonite: Untuk cleansing energi negatif sebelum dan sesudah baca tarot.

buckland

Buckland’s Complete Book of Witchcraft oleh Raymon Buckland: Salah satu buku pertama yang jadi guide aku pas mau mulai belajar witchcraft dan divination.

www.foxglovetarot.com

On The Records: Ikkubaru

Bermula dari sebuah bedroom project milik vokalis/gitaris/keyboardist/penulis lagu Muhammad Iqbal di medio 2011, ikkubaru (イックバル) yang namanya diambil dari nama “Iqbal” yang diterjemahkan ke bentuk Katakana adalah sebuah kuartet asal Bandung bergenre City Pop yang dilengkapi gitaris/vokalis Rizki Firdausahlan, drummer Banon Gilang, dan bassist Fauzi Rahman. Dengan influens dari solois Jepang seperti Tatsuro Yamashita dan Kadomatsu Toshiki serta band-band Inggris seperti Tears For Fears, Prefab Sprout, dan Pet Shop Boys, band ini meracik materi-materi easy listening penuh melodi catchy dengan lirik berbahasa Inggris seperti yang telah terangkum dalam album bertajuk Amusement Park. Uniknya, album berisi 10 lagu yang dirilis pertengahan tahun lalu tersebut justru lebih dulu dirilis oleh label musik Jepang dan mendapat sambutan positif dari pendengar musik di sana yang membuat mereka kemudian diundang untuk mengadakan tur Jepang selama seminggu penuh pada pertengahan Juni lalu. Here’s a little catch up bersama Iqbal sekembalinya mereka dari tur yang meliputi Fukuoka, Kobe, Osaka, dan Tokyo tersebut.

cfzmcvaumae8fxi

First thing first, apa definisi dari “City Pop” yang kalian usung?

City Pop itu menurut sumber yang saya dapatkan dari negeri aslinya adalah salah satu genre J-Pop pada tahun 80-an, di mana kita seolah-olah dibawa ke bayangan “suatu kota besar yang memiliki gedung-gedung tinggi”.

Bagaimana ceritanya album Amusement Park bisa dirilis oleh label Jepang?

Awalnya kami pernah kontakan dengan fan pertama orang Jepang. Dia mau bantuin kami di Jepang, sampai akhirnya dia mau jadi manager Ikkubaru untuk Jepang. Kami sepakat untuk dibuatkan record label menggunakan nama Hope You Smile Records yang diambil dari judul EP pertama Ikkubaru. Dan akhirnya Amusement Park pun rilis di bawah naungan Hope You Smile Records. Dia membantu kami untuk menjualnya di records store di Jepang seperti HMV, Disk Union, dan Tower Records. 

So how was the Japan Tour?

Ikkubaru Japan Tour 2015 kemarin bisa dibilang “The greatest experience in our live”, karena banyak yang nggak disangka oleh kami. Awalnya ada email masuk dari promotor Jepang namanya DUM-DUM LLP. Mereka menawarkan untuk tur di Jepang, semua akomodasi ditanggung oleh mereka. Tanpa panjang pikir kami langsung terima tawaran mereka. Semua proses dilalui dari bikin passport, visa, dan pesan tiket pesawat. Dan akhirnya kami berangkat pada tanggal 15 Juni tahun lalu.

Apa saja pengalaman menarik selama di sana?

Di sana kami berkolaborasi dengan artis lokal di tiap kota. Seperti tofu beats, okadada, Especia, Negicco, dan masih banyak lagi. Di sana sambutannya luar biasa, sangat jauh berbeda ketika kami sedang manggung di Indonesia. Fauzi sang pemain bass pun pernah terhenti permainan bass-nya di awal lagu “Love Me Again” ketika sedang perform di Keith Flack Fukuoka. Setelah ditanya ternyata dia memang “campur aduk” perasaannya ketika perform, karena kami tidak pernah menyangka sambutannya akan sehebat ini.

Kalian bisa dibilang “besar” terlebih dahulu justru di Jepang dibanding dalam negeri sendiri, how do you feel about that? Lalu bagaimana rencana kalian untuk memperkenalkan musik kalian ke scene lokal?

Kami sangat senang dengan keadaan seperti ini, akhirnya kami pun sadar karena wadah “City Pop” itu memang sangat ngetren di Jepang. Setelah mengobrol dengan salah satu musisi senior di Jepang, katanya kami memang sangat dicari oleh kultur musik di Jepang, dan musik yang saya ciptakan kebanyakan yang mendengarkan adalah orang tua, tetapi ada pula anak muda Jepang yang mendengarkannya. Jadi bisa dibilang City Pop kita realistic, begitu katanya. Untuk scene musik lokal saya hanya akan “go with the flow” saja. Entah saya akan terus memperbesar nama Ikkubaru di Jepang sampai benar-benar dapat “ditarik” ke Indonesia, atau kalau memang harus, kami hanya fokus di Jepang saja di bawah naungan label Jepang yang lebih besar.

https://ikkubaru.com/

The Bewitching Hour of Audrey Kitching

Fashions fade, style is eternal. Being on top since the early heydays of social networks, the original internet queen Audrey Kitching is simply adapting both IRL and URL while maintaining her mystical side. We are trying to catch up.

photo-aug-02-12-01-12-pm

Jauh sebelum munculnya Twitter, Tumblr, Instagram, dan social media lainnya yang melahirkan the idols and celebrity of modern age dalam wujud socmed influencers dengan jutaan followers dan personal brand yang kuat by simply being themselves, ada sebuah situs social network bernama MySpace di mana kita bisa membuat personal profile dan mengkustomisasinya sesuka hati dengan foto, musik, dan video. Jika kamu sempat membuka MySpace di pertengahan 2000-an, most likely yang akan kamu lihat adalah halaman profile dengan kode HTMLyang telah diedit untuk memunculkan glittery fonts, customized mouse click, lagu yang secara otomatis terpasang (most of it adalah lagu band-band emo yang waktu itu memang sedang meledak), dan bulletin board untuk tempat berkeluh kesah dan menyalurkan semua kegelisahan masa remajamu (and for passive-aggressive drama, obvi). It’s simply like you create your own diary dan membagikannya ke seluruh dunia untuk dilihat. Hal itu mungkin sama sekali tidak terdengar impresif saat ini, namun pada masanya, MySpace adalah salah satu tempat di internet di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri (or secretly trying to be someone else) dan berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia tentang hal-hal yang menarik perhatianmu. Dengan semua daya tarik tersebut, tidak mengherankan jika dari tahun 2005 sampai 2009, MySpace adalah situs social network yang paling banyak digunakan di seluruh dunia and at some point  bahkan sempat mengalahkan Google sebagai website yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Namun, sebagaimana sewajarnya sebuah komunitas dengan segala dinamika sosial yang menyertainya, there’s certain social hierarchy yang terjadi dengan sendirinya.

MySpace di masa kejayaannya adalah tempat berkumpulnya generasi cool kids yang disebut sebagai the Scene Kids, alias para remaja berpenampilan eksentrik yang menjadikan MySpace sebagai platform to express themselves dan menghabiskan waktu sebagai microcelebrities (“Oh you know, I’m kinda famous on MySpace!”) dengan mengunggah foto personal style mereka (the typical look adalah rambut yang dicat warna-warni menyolok, makeup emo, dan gaya pakaian seperti paduan Hello Kitty meets Courtney Love yang meliputi neon bikini, cat ears, leather boots, leopard print, band tees, dan baby dolls) serta saling bergosip satu sama lain di chat room tentang drama frenemies di antara mereka, melahirkan kontroversi yang akhirnya membuat anak-anak lain penasaran untuk membicarakan mereka dan secara ironis membuat mereka semakin terkenal. Rebellious namun tetap relatable, mereka adalah orang-orang yang seru untuk dibicarakan dan sebagai remaja, you want to know more about them dan berharap mereka menyetujui friend request darimu. On top of the social ladder, there are the Scene Queens practicing their status quo as the new internet famous and Audrey Kitching is one of them.

Lahir di Philadelphia, Audrey Kitching memulai karier modeling di umur 14 tahun setelah ditemukan oleh seorang agen modeling saat ia sedang mewarnai rambutnya di sebuah salon. Muncul sebagai model untuk beberapa iklan, ia juga sering menjadi model bagi beberapa teman fotografernya yang akhirnya menarik perhatian publik saat ia mengunggah foto-fotonya ke situs-situs seperti Live Journal, Xanga, Buzznet, dan MySpace. Seperti mereka yang lantas disebut sebagai the It Girl, ada sesuatu yang berbeda dari diri Audrey yang menarik perhatian orang dan membuat mereka ingin tahu tentang apapun yang ia lakukan, orang-orang yang ada di lingkup pergaulannya, musik yang ia dengarkan, caranya berdandan, serta personal style yang terdiri dari pakaian murah dari toko bekas yang ia modifikasi untuk menciptakan outfit yang terinspirasi runway looks.

As an early adopter, Audrey adalah salah satu pengguna MySpace yang paling terkenal dan bersama beberapa nama lainnya seperti Jefree Star, Jac Vanek, dan Hanna Beth dijuluki sebagai The Scene Queens, yaitu beberapa figur yang memiliki paling banyak followers dan diberkahi the power of social media bahkan sebelum social media itu sendiri lahir di dunia. “This was all really just an outlet for teenage angst if I’m being completely honest,” kenangnya. “Bagi saya internet adalah tempat di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan melarikan diri dari semua hal-hal menyebalkan yang muncul saat saya beranjak remaja dan menghadapi masa SMA. Saya tidak pernah bercita-cita untuk dikenal orang lewat internet, it was more of a place to be weird and accepted.”

Ketika kamu mencari “Audrey Kitching” di Google images, yang pertama muncul adalah foto-fotonya as the original wild child of the internet. Rambut warna pink yang menjadi trademark-nya menyala terang even in the darkest clubs, di mana ia seringkali terlihat berpesta dengan gaya pakaian yang bisa dideskripsikan sebagai gabungan antara Harajuku girl, emo fairy, dan skater girl. Ditambah dengan segala dramanya dengan sesama Scene Queens dan hubungannya dengan Brandon Urie sang vokalis Panic! At The Disco, Audrey adalah sosok kontroversial yang mengundang pro dan kontra. Its either you love her or hate her (and secretly want to be her). Kemunculannya di berbagai acara paling happening dan red carpet membuatnya dijuluki “fashion forward female” sekaligus “fashion disaster” dan sebutan lain seperti “It Kid”, “princess of pop culture”, “social media queen” dari berbagai media.

photo-aug-02-12-14-58-pm

Namun, menyebutnya sekadar famous for being famous adalah sebuah kesalahan. Apa yang membedakan Audrey dengan jutaan scene kids lainnya adalah kemampuannya membawa kepopuleran dunia mayanya ke dunia nyata. Sama halnya dengan beberapa nama seperti fotografer hipster Mark “Cobra Snake” Hunter atau club kid dan model Cory Kennedy, mereka memiliki satu kesamaan sebagai the early adopters yang dengan lihai memanfaatkan internet untuk membangun persona mereka dan meraih ketenaran. Ketika kepopuleran MySpace telah usai dan digantikan oleh Facebook dan social media lainnya, Audrey telah meraih kesuksesan mainstream dengan bertransisi sebagai legit public figure. Berbagai hal telah ia kerjakan dalam satu dekade terakhir ini, dari mulai menjadi spokesmodel dan wajah dari banyak desainer dan label terkenal, dia juga telah tampil dalam berbagai editorial di seluruh dunia, dari Skandinavia sampai Jepang di mana ia melakukan lebih dari 4 editorial setiap bulannya, tampil di beberapa serial televisi dan film sebagai dirinya sendiri, dan merilis beberapa clothing line dan kolaborasi dengan nama-nama seperti H&M, Kerol D Milano, dan Vera Wang. Audrey yang menjalani gaya hidup vegan juga menjadi public person untuk kampanye “Fur Is Dead” bersama Peta2 dan menentang animal testing dalam industri personal care.

            Kini, di umurnya yang telah menginjak 31 tahun, Audrey menemukan dirinya di era yang berbeda dengan pemikiran yang tentu saja sudah jauh meninggalkan masa-masa teenage angst dalam hidupnya. Rambutnya memang masih berwarna pink, namun sekarang ini ia cenderung memilih warna pastel yang dreamy dan menukar gaya hot mess dengan estetika New Age yang ethereal seperti yang terlihat dari akun Instagramnya yang diikuti oleh 273K followers. Naturally against the currents, di era socmed yang serba candid dan terbuka, Audrey justru terasa seperti sosok mistis di internet yang lebih peduli soal inner peace dalam dirinya dibanding menanggapi komentar orang lain.

More than just another internet famous, Audrey saat ini adalah seorang model merangkap desainer dan penulis yang tengah disibukkan dengan usahanya menjalankan clothing line bernama LUNA yang terinspirasi oleh hal-hal seperti astrologi dan magic serta menjadi founder dan CEO dari Crystal Cactus, sebuah lini aksesori yang mencakup crystal pendant jewelry, produk holistic spa, dan gifts yang turut dijual di Urban Outfitters dan mendapat respons positif dari banyak pihak. Menjauh dari gemerlapnya industri fashion dan kehidupan malam yang liar di kota besar, Audrey yang juga menjadi seorang praktisi new age sedang memetik karma baik yang ia terima dan berusaha menyebarkan energi positif ke dunia. We want to know more of her magic.

photo-aug-02-11-54-07-am

Hi Audrey, how are you? Where in the world are you right now, what are you wearing and what you doing before answering this email? Saat ini saya sedang berada di rumah saya di Philadelphia. I’m wearing a nude silk slip and an olive green silk button down shirt tied up. Saya baru saja menyiram tanaman dan menyalakan dupa dan lilin sebelum duduk untuk menjawab interview ini.

Boleh cerita soal aktivitasmu belakangan ini? Sekarang saya sedang menikmati masa-masa kebebasan. Tahun ini telah menjadi tahun yang sangat transformatif bagi saya. I stepped away from the industry in all aspects of the sense and really started to focus on my passions without that influence. I have been really just enjoying the simple pleasures of creating art and living.  

Bagaimana biasanya kamu memulai harimu? Ada ritual harian yang kamu lakukan? Saya punya banyak ritual. I am a ritual. Hari-hari saya selalu dimulai dengan mengisi makanan burung di bird feeders, membuka tirai, mandi, membuat teh, menyiram taman, memberi makan binatang peliharaan saya yang terdiri dari kucing, burung, dan ikan (who are all best friends I might add), memasak sarapan, membaca astrologi atau mencari inspirasi di sudut-sudut internet. As far as my day’s go, saya biasanya di studio untuk mengurus metaphysical shop saya, Crystal Cactus atau melakukan pemotretan dengan teman-teman kreatif saya, lost in an adventure in nature atau jalan-jalan ke museum seni. I always try to have fun and enjoy simple things every day. I have really learned the true meaning of work smart not hard.

Kamu telah biasa tampil di NYLON US, tapi ini pertama kalinya kamu muncul di NYLON Indonesia, apa yang kamu pikirkan saat mendengar Indonesia? I love culture in all aspects. Saya tahu jika Indonesia punya keindahan alam dan candi-candi yang megah. Saat masih remaja, saya dulu sering ke restoran kecil bernama Banana Leaf di California karena mereka punya menu vegetarian Indonesia yang sangat lezat.

Boleh cerita soal pemotretan kali ini bersama Bruno? Kalian sangat sering berkolaborasi belakangan ini, bagaimana sebetulnya kalian pertama bertemu? It was fantastic. Kami punya vibe yang sama dan merupakan hal yang alami jika pada akhirnya kami menjadi creative partners. I will text him and say “I got an idea!” atau kalau dia punya kamera atau film baru, dia akan menelepon saya dan bilang “We have to test this out and experiment!” Menemukan seseorang yang punya kesamaan artistik sama susahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami menurut saya… Terutama saat saya masih berada di industri. Banyak orang yang membuat sesuatu hanya demi pujian dan ketenaran. I create because it’s my soul’s way of survival. I have to create, hal itu bukan pilihan tapi sebuah keharusan bagi saya pribadi. Saya berkarya untuk membuat sesuatu yang tidak bisa saya ungkapkan lewat sekadar kata-kata. Menemukan seseorang yang punya ketertarikan pada seni dengan alasan yang sama bisa dibilang sebagai a blessing in a dark, dark realm of ego centric moldings. Saya ingat awalnya kami kenal saat dia mengirim message ke saya dan bertanya, “Hey want to be in my Polaroid book?” Saya mengiyakan, dan setelah pemotretan dia baru bilang jika sebetulnya he had no idea tentang siapa saya dan tidak pernah mendengar tentang saya sebelumnya. Saya berpikir, “Fantastic, we are going to make some killer creations together.”

 photo-aug-02-11-52-08-am

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fashion? Apa inspirasi awal yang membentuk personal style bagimu? Self-expression. Saya bahkan belum pernah mendengar Marc Jacobs sampai saya berumur 21 tahun. I didn’t know what that was and never cared. Saya merasa saya tercebur ke industri fashion hampir seperti sebuah kecelakaan. Fashion was always just self expression to me; it was art living and creating. The fashion industry is about fame, money, fitting in… I was never about that. Saat saya kecil, ibu saya sering mengajak saya ke thrift stores untuk membeli pakaian and we would dye the clothing, add lace and paint on it. It was always just natural to me. 

Apakah kamu memang berasal dari keluarga yang kreatif? Ya, bisa dibilang seperti itu.  Waktu kecil saya mengambil kelas seni, I was always painting, creating, making films in my backyard, doing magic spells, collecting fairy’s… Semua hal itu yang mempengaruhi saya sampai sekarang. Ibu saya adalah seorang seniman dan ayah saya seorang pelaut.

 Di mana kamu tinggal sekarang dan apa yang kamu sukai dari tempat itu? Saya tinggal di Philadelphia. Ini adalah kota di mana saya lahir dan dibesarkan. Saya sudah pernah tinggal hampir di semua penjuru Amerika Serikat namun pada akhirnya saya memilih pulang ke kota asal saya. I guess the soul recognizes a good thing when it feels it. Saya suka semua hal dari kota ini, mulai dari budaya, makanan, dan seninya. Kami punya beberapa taman dan hiking trails paling indah di Amerika, fantastic foods, museum, dan hidden gems lainnya. Kamu bisa pergi ke pantai atau ke pegunungan hanya dalam hitungan jam. It’s truly beautiful. Semua hal positif dari hidup di daerah perkotaan tanpa adanya stress, polusi, dan negativitas.

Kamu telah aktif di internet sejak pertama kali munculnya situs-situs social networks, apa yang kamu pikirkan tentang internet dan social media saat ini bila dibandingkan masa sebelumnya? It is so watered down with people all fighting for their 15 minutes of fame. Mungkin saya tidak akan eksis jika saya baru muncul sekarang. I was just being myself which was rebellion in its own right. Saya menentang norma yang ada dan orang-orang menyukainya, and it caught on. Sekarang orang-orang akan melakukan apapun demi mendapat sedikit perhatian. Rasanya menyedihkan. I’m very far removed. Sekarang, media sosial yang saya follow adalah akun-akun tentang real art, sejarah, astrologi, dan film. Kamu harus hati-hati menghadapi media sosial. What you look at your invite in. 

Buzznet mungkin tidak terlalu populer di Indonesia, namun MySpace was a big thing di tahun 2000-an dan saya ingat saat pertama kali melihat profile-mu di MySpace dan langsung kagum. Apakah kamu masih ingat apa yang mendorongmu untuk membuat akun MySpace dan aktif di situs tersebut? Apa yang paling kamu rindukan dari era tersebut? That’s powerful that you remember that feeling. I cherish that, thank you. Sejujurnya waktu itu saya hanya mencoba mencari jati diri saya. Internet telah dan akan selalu menjadi creative outlet bagi saya. It is a blank canvas waiting for paint. Saya hanya mencoba menjadi diri saya sendiri dan hal-hal yang memang biasa lakukan hanya saja kali ini saya menunjukkannya di area publik. Yang saya rindukan adalah rasa authenticity. Sekarang ini hampir semua posting adalah posting berbayar dan tersponsor, bahkan sampai ke pakaian yang mereka kenakan.

photo-aug-02-12-01-54-pm

Apakah kamu pernah bertemu langsung dengan Tom dari MySpace? Sayangnya tidak pernah. Saya juga tidak yakin apakan dia akan suka pada saya. 

Seperti yang kamu bilang, di era social media saat ini, it’s literally 15 minutes of fame untuk semua orang, jadi bagaimana caramu agar tetap relevan di media sosial/internet dan bersikap dewasa? That’s a fantastic question and it’s almost a trick question because I never was focused on being relevant. Beberapa orang mungkin hanya akan posting di jam-jam yang telah mereka tentukan sendiri, mencoba untuk stay on top on trends dan melakukan cross promote. Saya tidak melakukannya. Jika suatu hari saya mempunyai banyak hal yang ingin saya ungkapkan, saya mungkin akan posting 100 tweets di Twitter atau posting sepuluh foto di Instagram. Saya memperlakukan media sosial sebagai platform kreatif, bukan untuk dikagumi. Saya tidak mencari pujian. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dan berharap hal itu bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Apakah kamu merasa fans-mu dari zaman MySpace masih mem-follow dirimu sampai hari ini? Bagaimana caramu berinteraksi dengan para followersThey do, which is wild. Saya merasa banyak followers saya yang beranjak dewasa bersama saya. They stuck by me through the most radical evolution that can exist. Saya orang yang agak sulit dipahami. Saya bukan tipe orang yang paling mudah didekati dan saya tahu hal itu berdasarkan energi yang saya pancarkan. Orang juga tahu saya tidak terlalu peduli soal komentar dan penerimaan dari orang lain. They kinda just take it in and move on. I appreciate that.

Apa yang kamu rasakan saat melihat foto lamamu di internet? Kalau boleh melihat ke belakang, adakah hal yang kamu sesali, mungkin hal-hal yang tidak seharusnya kamu ucapkan atau lakukan? Sejujurnya, saya merasa dulu sangat out of control dalam kehidupan publik saya. I mean that in the most respectful authentic way. Saya masih 100% orang yang sama dengan sosok di foto itu namun sudah lebih terpoles. Apakah ada orang yang melihat foto diri mereka tujuh tahun lalu dan merasa keren? Mungkin tidak, tapi saya selalu menjadi diri saya sendiri dan tidak ada yang saya sesali. I am 100% still that person just more refined. Does anyone look back at photos of themselves 7 years ago and think it was a fantastic look? Probably not, but I was just doing me and I don’t regret a thing.

Apa media sosial favoritmu saat ini dan kenapa? Saya suka Tumblr untuk posting hal yang personal dan mengumpulkan inspirasi. Twitter untuk berkeluh kesah dan mengeluarkan unek-unek apapun di kepala, sedangkan Instagram lebih untuk curated art. Saya tidak memakai Facebook atau Snapchat because those don’t resonate with me at all.

Tell me about Crystal Cactus, apa yang menginspirasimu untuk membuat label ini? It’s a soul mission. Salah satu alasan kenapa saya ada di sini sekarang. Saya tahu dengan sendirinya jika saya harus punya toko dengan healing power di baliknya walaupun sebelumnya belum terlalu yakin dengan apa yang akan saya buat. Butuh proses yang lumayan panjang. Saat memulainya, hanya ada saya di rumah yang mengerjakan semuanya. Saya akan membayar saudara saya untuk melakukan pengiriman seminggu sekali. Dan hal itu berkembang dengan sendirinya. Saya sudah punya tim karyawan cukup besar dan produknya sudah terjual di banyak retail chains di seluruh dunia. Namun, itu menjadi pelajaran besar bagi saya dan saya sadar bukan itu yang saya inginkan untuk saya maupun perusahaan ini. I scaled back down to basics and it’s coming together beautifully. Rome was not built in a day. 

Apa yang menurutmu menjadi pencapaian terbesarmu sampai hari ini? Being here right now in my home answering these questions by my own will. Saya telah memecat publicist saya dan meninggalkan industri, tapi saya masih mampu mengerjakan apa yang saya suka dengan cara saya sendiri. Having people like you guys support me in that is so powerful. To me that is success.

photo-aug-02-12-03-07-pm

What’s your most prized possession? My soul. 

What are you obsessed with right now and why? Apapun yang menyangkut zaman Medieval dan mitologi Yunani… Saya selalu suka keduanya dari dulu namun belakangan ini saya semakin mendalaminya. Dan juga memasak. I really love to cook. I always have but I’m finding more time for it now. 

Apa satu hal yang ingin kamu lakukan tapi belum sempat terlaksana? Pergi ke Italia lagi. Saya berencana pergi ke sana musim semi ini. I am very Italian and have so many powerful past lives from that region. Saya telah mendedikasikan hidup saya untuk pekerjaan setahun terakhir ini, but I feel Rome at my fingertips and she is waiting.

Bicara tentang entrepreneurship, apakah kamu punya sosok favorit yang kamu anggap sebagai #girlbossJoan of Arc mungkin, atau Aphrodite… Para wanita yang tidak tunduk pada lelaki manapun. Para wanita di sejarah dan mitologi yang berani menentang keadaan. They can sit at my lunch table and they are on my kickball team.  

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk memotivasi diri sendiri saat terjadi hal yang kurang menyenangkan? Kamu hanya harus mengingatkan diri sendiri: THIS TOO SHALL PASS. Kalimat tersebut telah banyak membantu saya. Nothing is permanent. Perubahan adalah ritme natural bagi alam semesta. 

Apa hal terakhir yang membuatmu marah? Society. I woke up in a random rage about how people are pushed into conformity. Saya geram melihat ketidakadilan. Beberapa ajaran spiritual  bilang jika amarah adalah sesuatu yang buruk. Saya tidak setuju. Amarah mendorong perubahan, kejujuran, dan keadilan. You need anger. Merupakan hal yang penting untuk bicara menentang ketidakadilan. Penting bagi kita untuk punya rasa marah. I think being neutral, having no emotional charge is bad. Quite the opposite. 

Terakhir, jika kamu bisa memberikan saran ke dirimu sendiri saat masih remaja, apa yang akan kamu katakan? Things will get better. Keep being you. Never give in to the masses.

photo-aug-02-12-23-01-pm

 All photos by Brian Bruno @brunoroids 

Girls Just Want To Have Fun, An Interview With Hinds

Lewat album debut Leave Me Alone, kuartet garage rock asal Madrid, Hinds menyajikan musik yang gutsy dan kental akan feminisme tanpa melupakan caranya bersenang-senang.

Kurang dari tiga tahun lalu, baik Carlotta Cosials dan Ana García Perrote tidak tahu caranya memainkan gitar. Namun, sebuah liburan musim panas di pesisir pantai Denia di mana mereka menghabiskan waktu dengan bermain gitar dan bernyanyi menginspirasi kedua gadis Spanyol tersebut untuk membuat musik bareng sepulangnya mereka ke Madrid. Setelah melewati masa latihan ekstensif, keduanya membentuk duo bernama Deers yang terinfluens dari band-band seperti The Strokes, Black Lips, serta The Vaccines dan merilis dua track berjudul “Bamboo” dan “Trippy Gum” via Bandcamp di tahun 2014 sebelum akhirnya mereka berkembang menjadi full band dengan mengajak dua sahabat mereka Ade Martin di bass dan Amber Grimbergen di drum. Memadukan bunyi lo-fi dari garage rock kontemporer dengan elemen pop dari musik surf rock dan girl group 60-an, mereka merilis beberapa single selanjutnya dan dengan segala respons positif yang didapat, mereka pun menghabiskan tahun tiga tahun terakhir dengan tampil di berbagai festival musik, termasuk South by Southwest di mana mereka tampil dalam 16 show hanya dalam kurun waktu empat hari. Sayangnya, kepopuleran itu juga memancing atensi yang tidak diinginkan dari band bernama The Dears yang lewat kuasa hukumnya mengancam akan menuntut Deers jika mereka tidak mengganti namanya yang dianggap terdengar mirip band Kanada tersebut. Deers mengalah dan mengganti nama mereka menjadi Hinds (yang berarti rusa betina) dan dengan nama itu juga mereka akhirnya merilis album debut bertajuk Leave Me Alone lewat label Lucky Number di awal tahun ini. Berisi 12 lagu yang memadukan materi-materi baru seperti “Garden” dengan beberapa single yang sudah dirilis sebelumnya seperti “Chili Town” dan “Castigadas en el granero”, bersama album ini Hinds pun sukses menggelar tur dunia dan kini, dari teras rumah mereka di Madrid, Carlotta dan Ana membalas email dari NYLON.

hinds-by-salva-lopez
DARI KIRI: Ade Martin, Amber Grimbergen, Ana Perrote, Carlotta Cosials.

Hai Carlotta dan Ana, Hinds bermula dari kalian berdua, tapi bagaimana sebenarnya kalian bisa bertemu? Kami diperkenalkan oleh dua bekas pacar kami. Sekarang kalau diingat lagi, kami merasa harus berterima kasih karena mereka lah yang memperkenalkan kami ke satu sama lain. Dan kenapa akhirnya kami bikin musik bareng… Saya tidak tahu! We’ve always loved music because music inspires life.

Apa rasanya menjadi sebuah girl band di Spanyol? Bagaimana biasanya proses pembuatan lagu bagi kalian? Well, kami merasa kreativitas dan bermusik di girl band sebetulnya tidak ada kaitannya sama sekali, hahaha. Being in an all girl band is seriously tough, tapi kami siap melawan siapapun dan apapun. Kalau tentang penulisan lagu, tergantung masing-masing lagu sih, tapi biasanya memang Ana dan saya (Carlotta) yang menulis lirik dan melodi serta gitar, Ade mengerjakan bass lines dan Amber di drum. Jadi setiap personel mencurahkan dirinya dalam setiap lagu, even tho we spend so many hours in here searching for the right melodies and feelings.

Apa yang menjadi influens utama bagi musik kalian? Sun, beer, and oceans.

Boleh cerita soal album Leave Me Alone? Di mana kalian merekamnya dan berapa lama prosesnya? Kami merekamnya April tahun lalu di daerah selatan Spanyol, di sebuah kota kecil bernama El Puerto de Santa Maria yang terletak di Cadiz. Kami di sana selama sepuluh hari dan butuh tiga hari bagi kami sampai akhirnya menemukan sound yang kami inginkan dari proses mixing. We were young and innocent dan walaupun kami sangat menyukai hasilnya, kami sebetulnya sama sekali tidak menyangka jika banyak orang di luar sana yang juga menyukai album ini sebesar kami.

Feminisme telah menjadi topik yang tidak dapat dihindari dalam musik sekarang ini, bagaimana kalian memandangnya? Apakah kalian terganggu jika banyak orang yang melabeli kalian sebagai “Girl Crush” atau “It Girls” hanya karena kalian merupakan girl band? Boys have a crush with girls, girls have a crush with boys, boys have crushes with boys and girls also with girls; saya rasa masalahnya bukan di situ. Kesalahan pada sikap sexism di musik adalah berpikir jika apa yang kami raih sejauh ini berkat campur tangan pria di baliknya, masih banyak orang bodoh yang tidak mau percaya jika kami bisa berada di titik ini karena usaha kami sendiri, because we FOUR YOUNG SPANISH GIRLS have done what we’ve done. 

Apakah kalian pernah mengalami perlakuan misoginis saat manggung atau di tur? Tidak terhitung. Hal-hal seperti “She is prettier than you”, atau “Show your pussy”, atau doing like the gesture of sucking a dickSeriously, so so so so many times. Atau selesai manggung, pria paruh baya menghampirimu and telling you bullshit karena mereka pikir mereka bebas melakukannya karena mereka lebih tua dan kamu secara otomatis harus menghormati mereka and bla bla blah…

Apa yang paling kalian sukai dari tampil di panggung? Performing is the best. Beraksi di panggung adalah salah satu momen favorit kami, no doubt. Tapi yang paling kami suka dari tur adalah kami melakukannya dengan teman-teman kami. Like having a supporting band for the whole tour so we become super close to each other, or inviting friends from Spain that are studying abroad… Itu hal yang asik dan keren. And the energy? Energinya sama besarnya seperti kamu pergi ke sebuah pesta. A gooood party.

Kalian baru saja menyelesaikan tur dunia kalian di Singapura, apa hal yang kalian sukai dari touring selain manggung? Discovering that people is incredibly different in every city, but with kind of similitude in each continent. Dan kuliner! Kami suka makan dan mencoba berbagai menu andalan setempat.

Since it’s our Summer Issue, what’s the best way to spend summer in Madrid? In the streets drinking sangria!

Jika kalian bisa memilih tempat apa saja untuk liburan musim panas, tempat apa yang akan kalian pilih dan kenapa? Oke, kalau kami juga bisa mengajak semua teman kami di Madrid, kami pasti akan pilih daerah pantai yang super murah. Mungkin… Benicassim?

Apa yang ada di playlist kalian saat ini? Bob Dylan, King Gizzard, dan Joaquin Sabina. 

Rencana untuk sisa tahun ini? Menyelesaikan tur dunia! And writing the best album ever, again!

Terakhir, sebutkan top 5 musisi perempuan favorit kalian! Courtney Barnett, Patti Smith, Gabriella Cohen, , dan Fiona Campbell.