Man About Time, An Interview With Joe Taslim

Berbekal persistensi dan work ethic yang telah teruji oleh waktu, Joe Taslim tiba di saat yang tepat untuk menyelamatkan perfilman Indonesia dari kelesuan dan stagnasi pemeran yang itu-itu saja. Di antara himpitan jadwal yang kian memadat, aktor karismatik ini menyelipkan satu jam untuk berbincang dengan Baccarat Indonesia. 

STYLING ANINDYA DEVY FOTOGRAFER HILARIUS JASON MAKE UP & HAIR ARTIST ARIMBI TEKS ALEXANDER KUSUMA PRAJA LOKASI THE WESTIN JAKARTA

Hidup di kota besar dengan segala tantangan dan peluang yang bergulir begitu cepat, time could be your bestfriend or your worst enemy. Lengah sedikit, Anda bisa tergilas oleh waktu. Selayaknya Russian roulette, Anda mungkin tak akan pernah bisa 100% yakin kapan the perfect timing bisa mengantarmu ke kesuksesan atau justru stuck di satu tempat. Some people might believe in miracle and coincidences, others believe success comes to those who dare and act. Joe Taslim termasuk dalam golongan yang kedua.

Nama pria kelahiran Palembang, 23 Juni 1981 ini mencuat di publik ketika ia turut berperan di film laga The Raid pada tahun 2011 lalu, walaupun sesungguhnya ia telah mulai berakting di feature movie sejak tahun 2008 lewat film horror berjudul Karma dan film drama Rasa setahun setelahnya. Brutal dan penuh adegan bela diri yang membuat penonton tercengang sambil menahan napas, The Raid yang digarap oleh sutradara Gareth Evans adalah sebuah film martial arts action yang bisa dibilang breakthough dan mengharumkan film produksi Indonesia di mata dunia, termasuk nama para pemerannya. Peran Joe sebagai sosok Sersan Jaka di film ini berhasil memukau penonton dengan mata tajamnya, tubuh tegap, dan tentu saja keahlian bela diri mumpuni yang berasal dari background-nya sebagai atlet judo profesional yang sempat tergabung dalam timnas judo Indonesia.

            People fell in love with him dan sosoknya kian dikenal lewat berbagai photoshoot majalah dan komersial. Menyusul kesuksesan The Raid di ranah internasional, proyek Joe selanjutnya meliputi proyek skala internasional Dead Mine, sebuah film action horror produksi HBO Asia yang dirilis di sejumlah negara Asia. Not long after that, he got his first Hollywood role dalam Fast & Furious 6 yang lantas disusul dengan peran untuk Star Trek Beyond. Dengan pencapaian karier yang membanggakan tersebut, Joe pun memantapkan kakinya sebagai salah satu aktor Indonesia papan atas di saat umurnya telah melewati umur 20-an dengan filmografi yang sebetulnya masih bisa dihitung dengan jari.

Ditemui di presidential suite The Westin Jakarta, Joe yang memenuhi jadwal interview & photoshot untuk edisi ini datang sesuai jam yang telah disepakati ditemani beberapa entourage. Menyapa semua orang dengan ramah dan terlihat casual dengan t-shirt putih, jogger pants, sneakers, serta topi snapback yang bertengger di kepalanya, you can’t help but to feel his laid-backness. Namun, ketika ia berganti wardrobe dengan sharp tailored suit dan beraksi di depan lensa kamera (not a new thing for him since he used to be a model), Anda bisa merasakan auranya sebagai Joe the movie star. But make no mistake; behind all the glitz as an actor, Joe is a fighter, family guy, and social activist at the same time. Tanpa membuang waktu lebih lama, kami pun berbincang dengannya tentang the past, present, and the future.

L1001519

Hai Joe, boleh ceritakan aktivitas Anda belakangan ini?

Sekarang baru selesai syuting film action, The Night Comes for Us. Kita syuting 3 bulan, syuting terlama untuk film Indonesia yang pernah saya lakukan. Saya main jadi anti hero character, he’s a bad guy but looking for salvation. Tapi harga yang harus dia bayar untuk semua dosa yang dia lakukan, to go back to the right path itu mahal sekali. It’s very dark. Karakternya juga dark banget. Itu sudah selesai tapi saya langsung ambil film drama, judulnya Surat Kecil Untuk Tuhan, untuk balancing the psychological aja sih buat saya. Dari main film yang sangat keras, berdarah-darah, daripada saya harus ke psikolog gitu kan atau meditating, it’s better to do the other path, which is ambil film yang sangat drama, yang no violence and no action at all. It’s something I like to do untuk balance for me as an actor.

Jadi akting di film drama bisa menjadi semacam terapi juga ya?

Yes, therapy. Biasanya kalau syuting panjang kita mainin satu karakter bisa terbawa, bisa sampai ngomong sendiri kadang di rumah. Kalau syuting cuma sebulan mungkin nggak, tapi kalau di atas dua bulan, setiap hari mostly kita di set mainin karakter itu dari pagi sampai malam, we need time to balikin lagi. Dibanding lakuin itu, if I can, I will do the opposite, play different character yang benar-benar opposite dari karakter sebelumnya which is works. Kalau nggak, bisa tambah gila, haha.

Film Surat Kecil Untuk Tuhan ini sendiri tentang apa?

Ini film drama tentang anak-anak sih, sesuatu yang ingin saya lakukan dari dulu banget, bikin film yang bisa ditonton semua umur, especially kids, yang punya message penting juga untuk apa yang terjadi di seluruh dunia sekarang tentang anak-anak terlantar, human trafficking, penculikan, harvesting organ, segala macam. Saya berharap film itu bisa jadi campaign juga untuk isu anak-anak terlantar. It’s a movie yang harusnya bisa menginspirasi banyak orang sih.

Mengingat banyak film Anda yang mengandung kekerasan, apakah selama ini anak-anak Anda juga ikut menyaksikan film Anda?

Saya pernah main film drama tiga tahun lalu dan mereka nonton. The Raid juga sebetulnya mereka nonton tapi tetap saya dampingi untuk menjelaskan kalau semua itu hanya seni, semua itu hanya props. I try to give them angle agar jangan terperosok dalam ilusi violence yang disajikan di film itu. And they understand, so it’s cool sih harusnya, nggak masalah. Tapi anak yang paling kecil nggak lah. Yang sudah 10-11 tahun saja yang sudah punya logic yang baik.

Apa reaksi anak-anak kalau lihat ayahnya di layar?

Mereka sudah biasa sekarang. Dulu kalau lihat foto saya di jalan, di billboard misalnya, masih suka excited, sekarang sudah biasa. They understand it’s my job, papanya kerja di industri yang membutuhkan papanya dipajang di mana-mana, it’s their dad’s job to represents brand, to be in a movie and delivers character. Saya rasa mereka juga sudah mengerti inside-nya, bukan cuma dari luarnya saja. It’s a job, just like any other job like makeup artist or photographer. Kalau aktor atau singer mungkin memang dapat spotlight khusus karena mereka adalah frontline to deliver sebuah project atau brand, tapi sebenarnya sama aja, everybody’s working hard behind the scene. Di industri ini, it’s all about collaboration.

Flashback sejenak, bagaimana masa kecil Anda di Palembang?

Saya dulu dari kecil memang diarahkan orangtua untuk jadi atlet. Masih kecil ya sekolah, sore latihan, its quite discipline life. Main ya main tapi karena fokusnya juga udah ada di sekolah dan olahraga, jadi main ya seadanya, tapi jadi lebih tersalurkan lah. Karena ingin cari yang cocok, saya sempat coba banyak hal. Bulutangkis, taekwondo, kungfu, judo, wushu, bahkan tinju pun pernah sempat mau saya coba.  Tpi akhirnya memang harus fokus di satu cabang dan saya memilih judo, saya juara nasional dan masuk timnas. 

Dari sekian banyak bela diri yang pernah ditekuni, kenapa memilih fokus di judo?

Judo dari saya kecil pun is mostly something that fun dan seru. Judo memang bela diri yang butuh kegigihan, karena prosesnya juga nggak ada yang gampang, dibanting, dicekik, dipatahin, dikunci segala macam. Tapi kalau memang gigih it could reach some point yang membanggakan. Memang keuletan itu yang nggak gampang. Kalau latihan pasti sakit, tapi setelah sekian lama, when you adapt to the pain, you need the pain everyday, it’s something yang seru, setelah dinikmati ya its good pain yang bikin kita lebih kuat physically and mentally, which I think that help a lot in my career as actor now. Secara mentally and psychologically I was raised in very warrior way. Jadi di dunia seni pun I think its same work ethic, harus gigih dan kerja keras, nggak cepat puas, respect, karena core-nya judo memang respect dan discipline. Disiplin itu sih yang banyak membantu di dunia perfilman ini. Banyak orang yang nggak punya core itu. They think acting is just mambo jambo spotlight, getting famous and the girls or get the cover of magazine, they don’t know the foundation of it. It’s a profession. It’s not something you want to brag to other people about.

Jadi, bagaimana Anda akhirnya terjun ke showbiz?

I always love movies. Dari kecil its part of the family tradition juga untuk nonton film bioskop bisa seminggu dua kali or at least sekali because my dad is a huge fan of movies. Mungkin dari situ juga timbul keinginan untuk terjun ke industri ini. Awalnya saya mulai dari commercial, ada satu brand yang membutuhkan talent dengan skill judo, they ask me to go to the audition and then I got the job, that’s my first introduction to camera and shooting process. Dari situ banyak tawaran seperti photoshoot untuk magazine dan runway. For me its learning process. Dari 2001 sampai 2006, it was tons of auditions, tons of work here and there. Audisi untuk iklan, photoshoot, runway, sinetron, FTV… I just did everything just to know industri ini seperti apa sih. Sama seperti bela diri, I learn so many martial arts, but at some point I know I need to focus on one. Salah satu hal yang membuat saya menjadi good judo-ka dulu karena saya mempelajari banyak martial arts lain dan membawa elemen-elemen itu ke martial art yang saya tekuni. Sama seperti industri ini, by the time I decide to focus on acting in feature movie, I have a good foundation and already learnt many things that I could deliver through my experiences, right?

Saat pertama kali berakting di film Karma, apakah waktu itu Anda sudah menikah?

Yes, I was married in 2004, Karma keluar di 2008. I got married when I was really young but I think its good, jadi bisa lebih fokus ke kerjaan. Sudah nggak pikir main-main lagi. Agendanya cuma satu, I just want to be a good actor. Kalau belum kawin mungkin I just think about the girls or party, you know? It’s probably one of the keys that brought me here. Kebanyakan orang kan when they get famous, the distraction around the art sometimes too strong, they got carried away and forgot it’s a profession you love, not the illusion around it.

So you think you started your career on the right time?

Yeah, I think everything happens for reason. Karier saya baru berjalan mulus when I was about 30, below 30 it was struggle all the way, which is happens for reason. Kalau saya mendapat semua apresiasi ini di umur 20, maybe I would be somebody else. Mungkin saya tidak bisa menahan diri dan belum cukup matang. Tapi di umur 30 sekarang dan sudah menikah, saya bisa fokus di pekerjaan. Nggak ada yang aneh-aneh lah. Ini bukan sesuatu yang buat main-main, it’s my life. Not just for being on screen and get famous, this is my life and my career.

Do you already feel settled now?

I’m happy. I think my personality juga bukan yang terlalu ambisius. I don’t think I’m very ambitious guy, I think I believe in doing a bit by bit in perfect way will lead you to the dream and point you couldn’t think you could achieve. Jadi dibanding bikin sesuatu yang grande, I’m kinda guy who a bit OCD in term of how I work. Bagi saya lebih penting memperhatikan detail dalam pekerjaan karena kita nggak akan tahu ke mana hal-hal ini bisa membawa kita. I love surprises, so jalanin apa saja dengan sepenuh hati, dan tiba-tiba, jackpot!

L1001878

Well, mungkin bagi banyak aktor Indonesia the ultimate dream adalah go international main di film Hollywood, but you actually already did that.

I never have a big dream about it to be honest. Kalau berandai-andai mungkin siapapun pasti pernah, tapi kalau untuk bermimpi terus dipikirin nggak sih. This is an unpredictable profession because this is art, it’s very hard to judge. You never sure if you did a good work in one project and it could lead to the other. It doesn’t work that way. It needs a little bit of magic yang munculnya dari keyakinan and it has to be fun. Dan saya selama ini melakukan semua project, apakah itu komersial atau film, semuanya harus I know I’m going to have so much fun. It’s not because of the money or what, I know when I read the script and then I think I will have so much fun in this one, I’m gonna give everything. That’s it. Kalau project-nya sukses atau nggak, it doesn’t matter because I win already. I would never lose because I did it for the sake of I believe in it and I’m very happy for it. Jadi itu sih, filmnya mau kaya apa juga I’m a winner already. In my case, do your profession with love and always give 110 percent, always give perfection to every details and it could lead you somewhere to probably you won’t imagine before.

Do you have any bucket list in acting?

A lot pastinya. Secara karier film saya juga masih belum banyak. Kalau lokal ingin kerja dengan Joko Anwar, Ifa Isfansyah, Hanung Bramantyo. Kalau di luar pasti lebih banyak lagi pastinya, haha. As long as the story make me fall in love with, then anything could happen.

Talk about time, punya brand favorit untuk jam tangan?

I have Omega and Rolex, dua itu yang aku suka sih. I’m very loyal in terms of brands. Jadi kalau sudah suka satu, I feel I don’t want to betray the brand I love. Jadi jarang juga nyoba-nyoba, biasanya kalau sudah coba satu atau dua, ya sudah stay di situ saja.

Pertimbangannya apa kalau membeli jam tangan?

Banyak orang yang memakai jam tangan sekadar untuk fashion. Tapi kalau saya melihat jam tangan itu as a little bit of hint about who you are. Kalau pakai jam tangan untuk meeting and meet people, hal itu memberikan kesan jika kamu adalah orang yang peduli soal waktu, sedangkan design-wise, it’s also show what kind of a guy you are. Kalau saya sendiri sih memang stay to leather and steel. Nggak suka yang modelnya aneh-aneh. Classic watches like Omega or Rolex never disappoint me. They always fit me really good and I think my character also represented. So it’s not like I’m representing the brand, but the brand help me to represent who I am. Like this guy care about time, discipline, classic, persistence and detail oriented. Jam tangan bisa memberikan ilusi tentang diri kita. Not always, but it helps.

Anda sempat posting foto rapper Tupac Shakur di Instagram, kalau musik Anda suka mendengarkan apa?

Banyak sih yang saya suka. I’m an old soul jadi saya nggak begitu mendengarkan lagu-lagu sekarang, kecuali yang bagus banget, picky sih. Saya suka dengerin lagu zaman dulu seperti Stevie Wonder, Tupac, Biggie, atau lebih tua lagi The Beatles. Maybe because I’m not that young anymore, haha.

Anda juga sering posting video main piano di Instagram dan bilang jika hal itu membantu membangun mood dalam berakting. Memang gemar main musik ya?

Just for fun, not professionally. Musik selalu berhasil membangun mood apapun. Seperti di film kan semua dibangun dari musik. Nonton film kalau nggak ada musiknya, you don’t know what you are watching. Saya main piano belajar sendiri dari YouTube. Sekarang semua bisa dipelajari dari YouTube. Asal gigih saja, persistence. Kalau gigih apa sih yang nggak bisa? Kalau bosenan, nyerah, ya nggak bisa belajar apa saja. Alasan orang can’t do what they want karena mereka kurang gigih atau cuma sekadar mengikuti tren.

Ada skill lain yang ingin dipelajari selanjutnya?

I want to speak different languages, ingin belajar Mandarin, Korea, Jepang… Saya rasa bahasa Asia sudah sangat penting sekarang. Different instruments juga kalau di musik. Itu hal yang sangat membantu di sela kesibukan. If I have the option, I rather sit in front my piano instead of hanging out. Ini sesuatu yang positif lah and time is ticking, I’m not that young anymore and I love to learn a lot of things, jadi kalau ada waktu ya I want to learn or try new things. Especially in music, kalau udah bisa piano, I wanna go to different instrument and learn it from YouTube. Ada kenikmatan belajar sendiri. Kalau dengan guru, you’re just following order. When you learn from YouTube, you will find your own system, you teach yourself. Dan pada saat berhasil, ada kepuasan tersendiri yang beda.

Di Instagram, Anda juga kerap posting soal social campaign seperti He for She Campaign dan Fight or Flight. Tell us more about it.

Kalau Fight or Flight itu saya bantuin campaign teman saja sih. My friend is an UFC champion and actor in L.A. Dia bikin campaign soal bullying. Kalau orang dipukulin ya jangan victim terus, lo harus melawan. Ini campaign untuk orang memperkuat diri jadi he asks me to give support and I did it because it’s a good campaign. Itu sesuatu yang saya lakukan di sela kesibukan. Helping them, helping the campaign but actually I’m helping myself too, it bring peace to me. Directly or indirectly, like it or not, celebrities have power to build the awareness and influence the people, jadi gunain yang benar aja. Kalau ada yang minta tolong as an influencer to doing something good I would say yes. I don’t have a reason to say no.

Kalau tentang He for She?.

He for She Campaign itu tentang penyetaraan gender di seluruh dunia. Kalau di He for She Indonesia kita mencoba bilang bahwa kesempatan harus sama antara laki-laki dan perempuan, penyetaraan gender di semua bidang, di instansi pemerintahan dan swasta, salary harus sama, dan perempuan juga berhak menjadi pilar pembangunan Indonesia ke depannya and have opportunity untuk sama-sama membangun negeri. To make it work, kampanye ini memang butuh dukungan dari semua laki-laki, kalau untuk perempuan doang jadinya terpisah. The point is always untuk bikin orang aware dulu, lewat social media dan nanti juga video yang sudah kita shoot akan dimasukkan ke bioskop dan digital.

Do you see yourself as a humanitarian?

I want to be. But I don’t know, it depends on what you do, you cannot say yourself as a humanitarian but you never really there. I try my best to, at least support the humanity program. But to claim myself as humanitarian I don’t think I have the credibility. I haven’t been in Syria, Sudan, or Aceh. So far I’m still doing it through penggalangan dana and the practical campaign to raise the money for them. But I don’t think its enough. I’m just a supporter of humanity.

What make you proud as Indonesian actor?

I’m proud as Indonesian actor because being Indonesian actor brought me my career. Saya kan bukan orang Indonesia yang tinggal di Amerika. Bukan orang Indonesia yang pindah ke Amerika terus berkarier di sana dari nol. Karierku dimulai di sini dan yang membukakan pintu untuk film-film Hollywood yang aku dapat itu karena aku main film Indonesia. Film Indonesia The Raid yang membukakan pintu aku ke sana, that’s the movie I’m always being proud of, karena kalau nggak ada film itu ya nggak ada Fast, Star Trek, dan nggak ada hari ini juga. That’s Indonesia movie, man. You have to be proud too.

Pernah ada keinginan untuk tinggal di luar negeri demi karier?

Pindah sih belum. I don’t think so, kecuali memang pekerjaan di sana harus stay lama. Tapi juga akan balik lagi, I don’t think I will move to anywhere else. Kalau ada tawaran film di luar ya kita bakal syuting, kelarin. Udah kelar ya pulang lah. Sekarang belum kepikiran sama sekali, plus everything is fine here. Semua di sini baik-baik saja. Education wise it’s good, life wise it’s good. It’s home lah.

Including the recent politics situation?

It’s okay… Everything is gonna be fine. When it’s done, it’s done. Everybody will hug each other.

Hopefully.

Possibly.

L1001424 copy

A League of Her Own, An Interview With Natalie Ludwig

Dari Dartmouth sampai Dolce & Gabbana, dengan cantik Natalie Ludwig melangkah seimbang di antara kehidupan akademis di kampus Ivy League yang tersohor dan kariernya sebagai rising supermodel di berbagai pentas fashion dunia. 

Pada tanggal 11 September 2015 lalu, bertempat di dermaga Pier 26 dengan pemandangan cahaya matahari terbenam yang membentang di atas Sungai Hudson, New York City, hampir 100 model turun beriringan untuk berjalan di atas runway Givenchy koleksi Musim Semi 2016. Seperti yang bisa diharapkan dari rumah mode legendaris asal Prancis yang saat itu masih dinahkodai oleh sang Creative Director Riccardo Tisci (baru bulan Februari kemarin ia mengumumkan rencananya meninggalkan Givenchy setelah 12 tahun di sana), pagelaran mode tersebut berlangsung dengan spektakuler. Dengan koreografi kreasi seniman garda depan Marina Abramovic, deretan model tersohor seperti Mariacarla Boscono, Kendall Jenner, dan Joan Smalls memeragakan koleksi yang menjadi tribute bagi peringatan serangan teror yang menimpa kota tersebut 14 tahun sebelumnya. Ethereal and divine, para model yang mayoritas mengenakan pakaian berwarna hitam, putih, dan gading terlihat seperti para peziarah sekaligus penyintas. Di antara wajah-wajah familiar yang telah lama malang-melintang di atas catwalk, terselip satu wajah yang terlihat asing, namun seakan menghipnotis para penonton untuk memerhatikan gerak-geriknya di atas panggung.

03580007

Sang pemilik wajah bernama Natalie Ludwig. Runway tersebut adalah kali pertama model asal Kanada ini berjalan di fashion week dan pintu masuknya ke dunia fashion sebagai model eksklusif untuk Givenchy. Dibantu oleh casting director kepercayaannya, Patrizia Pilotti, bukan hal yang aneh bagi Riccardo Tisci untuk, once in awhile, memilih wajah-wajah paling fresh sebagai model eksklusif bagi show Givenchy, dalam artian, sang model terpilih hanya boleh berjalan untuknya di musim tersebut. It’s once in a lifetime opportunity and almost like a rite of passage to a stardom. Butuh lebih dari keberuntungan untuk mendapat kesempatan itu, dan Natalie Ludwig punya banyak hal yang membuat seorang Riccardo Tisci dan casting director manapun menyukainya. “Saya tidak bisa memikirkan alternatif lain yang lebih baik untuk memulai karier saya. And yes, I’ll never forget the magic of that show! Tentu saja saya sangat nervous tapi saya berusaha sebisanya agar hal itu tak terlihat. Pakaian yang saya kenakan adalah extraordinary works of art, the energy was moving, and the show took place in New York City on September 11th,” kenangnya.

Nat, demikian gadis kelahiran Vancouver, 14 Juli 1995 ini biasa dipanggil, bergabung di agensi model pertamanya saat masih berumur 13 tahun, namun baru di tahun 2014 ia bergabung di agensi papan atas Elite Management. Setelah debut yang impresif sebagai model eksklusif untuk Givenchy di Musim Semi 2016, di musim berikutnya ia langsung melesat sebagai fresh face paling dicari di kancah fashion week dunia. Rumah mode termahsyur mulai dari Burberry, Valentino, Maison Margiela, hingga Dolce & Gabbana berebut memintanya untuk berjalan di show mereka.

Diberkahi oleh tubuh semampai dengan kecantikan klasik bak Dewi Venus, gadis berdarah Kanada dan Jerman ini memang seakan terlahir untuk menjadi seorang model. Namun, bukan berarti ia menganggap modeling adalah poros utama dalam hidupnya. Ketika banyak model muda lainnya mencurahkan fokus dan masa muda mereka untuk karier modeling sampai rela meninggalkan bangku sekolah, bagi Natalie edukasi adalah hal yang tak bisa ditawar. Kendati menjadi model yang tengah naik daun dengan sejuta peluang terhampar di hadapannya, ia memutuskan untuk tetap menikmati masa mudanya seperti teman-teman sebayanya dan melanjutkan kuliah di jurusan Sosiologi di Dartmouth College, salah satu universitas Ivy League bergengsi di Amerika Serikat. “Bukan hal yang mudah untuk kuliah sekaligus kerja, tapi mendapatkan degree adalah hal yang penting bagi saya, jadi saya secara secara maksimal berusaha menyeimbangkan keduanya. Saya menghabiskan satu semester untuk fokus kuliah, semester berikutnya untuk modeling, dan kembali ke kampus semester selanjutnya secara bergantian. It’s allowing me to devote different portions of time to each and try to stay on top of both. Saya juga merasa beruntung punya kesempatan untuk kuliah di salah satu universitas Ivy League karena bisa mendapat banyak inspirasi dari teman-teman kampus yang datang dari latar yang sangat beragam.”

            Itu adalah caranya untuk tetap menjalani hidupnya dengan “biasa” seperti remaja pada umumnya. Namun, mungkin “biasa” memang bukan suatu kata yang tepat untuknya. Ia berasal dari keluarga yang tak asing dengan sorotan lampu dan atensi. Ibunya, Sharlene, adalah mantan aktris; ayahnya, Harald Horst Ludwig adalah businessman dan petinggi dari perusahaan showbiz Lionsgate, sedangkan kakaknya adalah Alexander Ludwig, aktor yang muncul sebagai Cato di The Hunger Games dan serial Vikings di History Channel. Sebelumnya, Alexander juga memulai karier sebagai model untuk Abercrombie & Fitch saat fotografer Bruce Weber melihatnya di perpustakaan University of Southern California dan baru-baru ini adik perempuan Natalie, Sophia, juga baru bergabung di IMG Models mengikuti jejaknya. So it’s really a family affair for her. Melihat latar belakang keluarganya, kamu mungkin bertanya-tanya apakah Natalie akan mulai merambah ke akting dan tampaknya memang hanya tinggal menunggu waktu hingga saat itu tiba. “Iya, saat ini saya sedang mencari kelas akting, karena saya merasa art form dari modeling dan akting sebetulnya berjalan beriringan,” ungkapnya.

            Genetically blessed dan didukung support system yang kuat dari keluarganya, adalah hal yang mendebarkan untuk menanti hal-hal menakjubkan apa lagi yang bisa ia lakukan di masa depan. Tapi untuk sekarang, menyelesaikan kuliah dan meniti karier menuju status supermodel adalah fokus utamanya. Di antara jeda waktu menunggu wajahnya dirias and hit the runway, Natalie menjawab interview berikut ini di belakang panggung pagelaran Ralph Lauren untuk New York Fashion Week musim ini.

03570006.jpg

Di mana kamu tumbuh besar dan apa pengaruh dari masa kecilmu yang terbawa sampai sekarang? Saya lahir dan besar di Vancouver, Kanada, di keluarga besar yang sangat adventurous! Sekarang pun kalau sedang tidak modeling saya suka traveling, ski, hiking, main tennis dan melakukan aktivitas penuh adrenalin lain seperti bungee jumping, sky diving, kayaking, etc. I’m always up for testing my boundaries and trying new things. Hal itu membuat saya menjadi orang yang cukup pemberani dan mengajari saya untuk stand my own ground, yang menurut saya sangat penting di industri yang sedang saya jalani.

Apa cita-citamu waktu kecil dulu? Waktu kecil saya selalu ingin menjadi penyiar berita. Dulu saya selalu menonton berita setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan terpesona dengan sosok orang-orang yang menyampaikan berita-berita penting untuk dunia.

Jadi apa yang membuatmu terjun ke modeling? Saya mulai modeling di usia 13 tahun saat saya di-scout Lizbell Agency di sebuah field hockey game. Ketika saya pindah ke East Coast untuk kuliah, saya bergabung di Elite New York, untungnya karena jarak kampus dan agensi saya sangat dekat jadi saya bisa melakukan keduanya sekaligus! Saya suka modeling karena pekerjaan ini membuat saya bisa mengeksplor diri sendiri melalui emosi dan karakter yang berbeda-beda yang harus saya tampilkan di set.

Apa hal yang kamu baru pelajari dari dunia fashion dan modeling saat kamu akhirnya terjun ke dalamnya? Kamu akan menyadari jika industri ini ternyata bisa mengajarkan banyak hal tentang diri kamu sendiri. Hal itu terasa ketika saya bereksperimen dengan fashion lebih dalam, bekerja dengan fotografer yang berbeda-beda dengan visi masing-masing.

Apakah kamu punya pencapaian favorit di dunia modeling sejauh ini? Saya rasa saya tidak bisa memilih satu yang paling favorit, tapi menjadi model eksklusif untuk Givenchy selalu menjadi hal yang membanggakan bagi saya! Yang baru-baru ini, saya lagi di Times Square dan melihat wajah saya di American Eagle Holiday Campaign terpampang di atas jalanan, which was a very cool moment for me!

03590008x

Bila harus memilih antara runway dan photo shoot, mana yang membuatmu lebih excited? Keduanya sangat exciting, jadi kembali lagi tergantung pada job itu sendiri. Tapi yang jelas, there is nothing that compares to the energy you feel as you walk on the runway.

Di antara major fashion week capitals, kota apa yang menjadi favoritmu dan kenapa? My favorite fashion week capital is Paris. There is a special sense of magic in the air there, causing me to feel constantly inspired simply by people-watching on the streets as I walk to castings.

Kamu sempat mendapat pujian dari Naomi Campbell saat berjalan di Burberry, bagaimana kamu berkenalan dengannya? Siapa saja model favoritmu saat kamu beranjak dewasa? Saya bertemu dengan Naomi pertama kali di Uruguay dan merasa beruntung bisa mengenal dirinya, dia adalah salah satu model yang paling hard-working dan loyal yang pernah saya temui. Saat saya kecil, Naomi adalah model yang saya idolakan, kepercayaan dirinya dari dulu sampai sekarang selalu menginspirasi tanpa batas. Selain Naomi, saya juga mengidolakan Linda Evangelista dan Stephanie Seymour.

Siapa saja yang ada di daftar dream collaboration milikmu? Rasanya tidak mungkin untuk menyebut semua dream job yang saya inginkan, tapi ada banyak para visionaries yang saya harap bisa bekerjasama dengan saya, contohnya seperti Steven Meisel, Patrick Demarchelier, dan Peter Lindberg.

What’s your secret weapon when it comes to confidence? Stay true to myself and only do what makes me happy. When I am happy, I feel confident. Self-love is very important, especially in this industry.

Di Instagram terlihat kamu sangat dekat dengan kakak-adikmu, siapa yang paling dekat denganmu di keluarga? My siblings are my best friends no question, I Facetime with all of them daily, it would be evil to pick a favorite! Haha.

Kamu mengambil major Sosiologi di Dartmouth, kenapa dan apa yang membuatmu passionate di bidang itu? Saya tertarik pada Sosiologi karena ini ilmu tentang manusia dan budaya. Saya passionate soal humanitarian work. Baru-baru ini saya bergabung di “Model Mafia”, sebuah grup aktivis yang digagas oleh Cameron Russel dan saya tidak sabar untuk terlibat di proyek-proyek yang akan datang.

Menyinggung tentang politik, bagaimana iklim politik belakang ini mempengaruhi dirimu? Hal apa yang ingin kamu ubah dari dunia? Saya harus bilang jika saya bangga menjadi orang Kanada karena negara ini tetap menjadi negara yang menghargai perbedaan dan menerima semua orang. I would love for the world to be a more accepting and safe space.

Tell us about your personal style, how would you describe it and what’s your sartorial signature? Gaya personal saya cukup free-spirited dan menyesuaikan dengan kegiatan yang saya lakukan. Kalau lagi kuliah, saya hanya memakai pakaian yang kasual dan agak sporty, a lot of Adidas originals and Supreme! Tapi kalau lagi modeling di New York, saya cenderung memakai pakaian warna hitam, with good vintage statement pieces to spice things up.  

Jika kamu bisa memilih satu karakter fiksi untuk menggambarkan dirimu, siapa yang akan kamu pilih? Carrie Bradshaw dari Sex and The City karena dia mampu menyeimbangkan antara cinta, fashion, karier, dan teman-temannya, dengan great sense of humor about it all.

Have you ever been in love? What makes you fall in love with someone? I’ve been in love once. I fell In love because he always pushed me to be a better version of myself. I think having someone who encourages you to grow is extremely important.

Apakah kamu termasuk orang yang membaca dan mempercayai horoskop? I love reading my Cancer horoscope everyday, it keeps me mindful! 

Saya dengar kamu suka mendengarkan musik sebelum berjalan di runway atau sebelum photo shoot untuk membangun mood, apa yang sedang kamu dengarkan belakangan ini? “Paris” dari The Chainsmokers, “White Inversion” dari Post Malone, dan “Free Fallin” dari Tom Petty. Selera musik saya sangat beragam!

Kamu telah berpergian ke banyak tempat, punya destinasi impian yang belum terlaksana? Destinasi travel impian saya adalah Peru. Saya selalu ingin hiking dan melihat Machu Picchu dengan mata sendiri.

 Apa saja yang menjadi bucket list tahun ini? Do a half marathon, work with youth at risk in New York, go gorge jumping, and launch the starting of a fashion line with my brother, Alexander Ludwig. 

Terakhir, what’s the best advice you ever got, in term of modeling or life in general? “Good things happen when you show up”.

Photographer: David Richardson.

Stylist: Jo Heng.

Assistant Stylist: Enyu Lin.

Makeup: Kentaro Kondon.

Hair: Jake Gallagher.

On The Records: Lao Ra

“Saya tidak terlalu yakin apa yang sebetulnya mendorong saya untuk bermusik, it was a mix of things I guess; dari mulai terlalu banyak menonton MTV, menjadi seorang attention seeker, dan mungkin ada bagian dari diri saya yang ingin membuat orangtua saya kesal,” ungkap Laura Carvajalino, seorang musisi pendatang baru asal Kolombia yang bermusik dengan nama Lao Ra. Lahir dan besar di ibukota Kolombia, Bogota, yang terkenal sebagai salah satu kota dengan angka kriminalitas tertinggi di dunia sekaligus iklim konservatif dan religius yang kental, musik memang menjadi sebuah pelarian sekaligus pemberontakan bagi gadis kelahiran 22 Juli 1991 tersebut.

Mengaku mulai membuat musik sejak umur 14 tahun dari kegemarannya menulis puisi dan bermain gitar akustik, karier profesionalnya dimulai saat dia bertemu dengan Peter Jarrett yang sekarang menjadi manajer dan produsernya di sebuah restoran India. Kolaborasi keduanya menghasilkan lagu bertajuk “Jesus Made Me Bad”, sebuah lagu rebel pop berelemen glitchy tropical beats yang danceable dengan video yang menampilkan Lao Ra berdoa di gereja sebelum menelusuri jalanan Bogota yang dipenuhi graffiti sambil menggenggam botol sampanye. “Ibu saya tidak menyukai lagu itu,” ujarnya. ”Walaupun keluarga saya sebetulnya tidak terlalu relijius, dia berpikir jika saya tidak menghormati tradisi, but I just keep saying that’s actually the point; it’s about not apologizing for yourself. We all are wild at heart and we can’t help our behavior. Tapi dia menyukai lagu-lagu lainnya, haha! Dia sangat suportif dan selalu mendukung saya!” sambungnya.

Lagu tersebut termasuk dalam debut EP berjudul sama yang ia rilis di bawah label Black Butter setelah menyelesaikan kuliahnya di sebuah akademi musik di Kolombia dan pindah ke London. Lirik lugas, sikap cuek, dan pesan-pesan tersirat yang dibalut musik electronic pop dan influens R&B/hip-hop yang catchy dalam musiknya membuatnya dibandingkan dengan M.I.A. dan Gwen Stefani, yang diterimanya dengan senang hati karena kedua musisi memang tersebut termasuk influensnya, namun bukan berarti dia tidak punya warna tersendiri yang lahir dari tempat asalnya. “Im very influenced by pop music, but I’m equally influenced by Caribbean and Colombian traditional music. Saya ingin musik saya terdengar fresh, pop, dan mewakili diri saya dan tempat asal saya. Datang dari Bogota tidak hanya menginfluens musik saya, tapi juga diri saya sendiri. It’s the place where I was born, my people and what I know best.”

 Pengaruh dari lingkungan sekitarnya tidak berhenti di elemen tropical beat dalam musiknya, tapi juga lirik-lirik lagu yang menurutnya berasal dari situasi, pemikiran, dan dilema yang secara konstan berputar di benaknya. “Daddy Issues” bercerita soal sosok tipikal Latin dad yang absen dan tidak pernah benar-benar berkomunikasi dengan anak-anak mereka sehingga banyak anak perempuan yang tidak tahu bagaimana seharusnya mereka diperlakukan oleh pria dan seringkali berakhir mengejar para bad boys. Sementara dalam “Tell Me Why” dengan video yang menampilkan dirinya dan sahabat perempuannya di sebuah kamar temaram dengan lampu neon, Lao Ra menunjukkan vokal innocent dengan lirik penuh percaya diri dan frasa-frasa catchy sebagai bentuk empowerment melawan para fuckboi. “Lagu ini tentang stupid boyfriends, young love, and heartache. Tentang cowok-cowok kemarin sore yang sok bertingkah selayaknya pria dewasa. Lagu ini sangat personal karena saya rasa hampir semua cewek bisa relate ke hal ini karena kita pernah pacaran dengan cowok semacam itu,” jelasnya. Sambil masih menulis dan menyiapkan album penuhnya, kali ini Lao Ra pun membocorkan katalog album yang mempengaruhi musiknya.

Love.-Angel.-Music.-Baby.

Gwen Stefani

Love. Angel. Music. Baby.

Bagi saya album ini adalah definisi sempurna dari kata “cool”. Semua lagu di album ini keren- its fun, edgy, dope production, and super original lyrics. Gwen is next level! Menurut saya album ini adalah ultimate goal of how a pop album should be.

miaarular

M.I.A.

Arular

Pertama kali saya mendengarkan album ini, it really changed my life, and I’ve never heard anything like it. Beats-nya terdengar aneh seperti datang dari planet lain. Penyampaian liriknya sangat mentah dan energetik. It was really a punch in the face- super confident and so ahead of everything else.

Bomba12_cover_new

Bomba Estereo

Elegancia Tropical

Bomba adalah band Kolombia favorit saya. No one makes music like them back home. Mereka punya lebih banyak swag dibanding siapapun. Their fearless approach to Colombian traditional music mixed with dance beats is so sick.

cafetacvba

Cafe Tacvba

Re

Ini adalah CD pertama yang saya punya. Kakak saya memberi saya CD ini untuk kado Natal, walaupun saya masih sangat kecil namun saya langsung terobsesi dengan musik yang mereka buat. Mereka adalah band Meksiko yang memadukan pop dan musik dance dengan musik tradisional Meksaiko seperti racheras. Sampai hari ini saya masih percaya kalau album ini salah satu album Latin Amerika terbaik dan mereka adalah band Meksiko paling hebat sepanjang masa.

 Johnny_Cash-The_Great_Lost_Performance-Frontal

Johnny Cash

The Great Lost Performance

He was the ultimate bad boy; Liriknya, personanya, dan vokalnya sangat jujur dan unapologetic, bahkan sampai karya-karya terakhirnya sebelum wafat. Johnny is one of my biggest ever crushes. Saya dulu mempelajari liriknya sambil membuka kamus Inggris-Spanyol. Saya bisa bilang jika Johnny Cash lah yang mengajarkan saya Bahasa Inggris.

majorlaze

Major Lazer

Peace Is The Mission

These guys are the best producers around. Mereka tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan dan mereka membuat seluruh dunia berdansa mengikuti irama mereka. Saya harus memberi acungan jempol untuk itu. Their music is borderless and thats super cool!

 

Fluorescent Adolescent, An Interview With Saffron Llewellyn

We hate to burst the bubble, tapi menyebut Saffron Llewellyn hanya sebagai representatif dari generasi millennial adalah sebuah honest mistake. She’s actually way more than that. 

Fotografi: Sally Ann & Emily May. Stylist: Anindya Devy & Priscilla Nauli. Makeup Artist: Priscilla Risjad. Assistant Stylist: Versace Wang.

img_9498

Lebih dari edisi apapun, memilih cover untuk edisi Anniversary selalu menjadi momen krusial bagi kami. Kami berharap sosok yang menghiasi sampul edisi Anniversary kami untuk set up the mood for the upcoming year and to be the face yang dapat mewakili DNA majalah yang sedang kamu pegang ini. Beberapa nama di tahun-tahun sebelumnya yang meliputi Eva Celia, Sherina, dan Chelsea Islan adalah segelintir bintang muda Tanah Air yang tak hanya diberkahi oleh talenta besar di bidang masing-masing tapi juga their own personal style and state of mind yang selaras dengan semangat yang kami usung, which is para perempuan muda yang punya sikap, mimpi, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Memasuki tahun keenam ini, we’re planning to even gutsier and take more risk. Kami ingin memperkenalkanmu kepada fresh face yang bisa menjadi sosok alternatif dari yang biasanya kamu lihat. Salah satunya adalah cover kami edisi ini, Saffron Llewellyn. Namanya mungkin masih terbilang asing bagi banyak orang, beberapa mengenalnya sebagai putri dari Gwen Winarno dan cucu dari pakar kuliner Bondan Winarno, sementara bagi sebagian orang lainnya, she’s a budding model with promising future.

            Bernama lengkap Saffron Jemima Llewellyn, wajah gadis berdarah Indonesia, Belanda, Inggris, dan Amerika yang lahir di Jakarta, 26 Juni 2001 silam ini belakangan semakin sering dijumpai dalam berbagai pemotretan untuk majalah-majalah high fashion dan campaign untuk brand seperti The Balletcats dan Mazuki. Tapi di usianya yang baru menginjak 15 tahun, modelling is more like an after school extra activity for her. Saat tiba di apartemen milik fotografer Sally dan Emily yang menjadi lokasi shoot kali ini, Saffron literally baru pulang dari sekolah dengan masih memakai seragam, rambut yang diikat seadanya, dan wajah polos tanpa riasan apapun. Dengan tinggi 163 cm dan kesan pertama yang terlihat canggung, sejujurnya ia terlihat seperti anak sekolah biasa dengan tas penuh buku pelajaran. Things are getting interesting setelah dia duduk di depan cermin rias, menarik napas, dan membiarkan wajahnya mulai dirias oleh makeup artist yang memperlihatkan facial features miliknya dengan cekatan. Setelah mengenakan looks yang telah disiapkan dan mulai berdiri di depan kamera, the transformation is complete. “I wouldn’t mind doing modelling,” ujarnya sambil tersenyum. “In fact I really enjoy it. My mom says dari masih bayi saya juga sempat ikut beberapa foto, but I think my first ever shoot yang saya ingat itu waktu umur 11 tahun untuk majalah Dewi, and after that it’s kinda build it up,” sambungnya.

img_2964

Ditemani oleh playlist 90’s R&B hits dari Spotify, ia terlihat nyaman berada di depan kamera sambil sesekali menggumamkan lirik dari lagu TLC yang terdengar. She knows her angles so well dan ketika diminta menunjukkan raut fierce, wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan sang ibu, with a hint of young Natalie Portman and the same allure of Lily-Rose Depp. Namun ketika tertawa atau diminta menunjukkan ekspresi konyol, wajahnya langsung kembali carefree selayaknya anak sebayanya. Setelah beberapa looks, dia memekik senang saat kami menunjukkan t-shirt bergambar selfie dari Instagram dirinya yang kami siapkan khusus (later on the t-shirt became a birthday present for her boyfriend). Memakan waktu dari jam 4 sore sampai jam 9 malam, shoot terakhir dilakukan di kolam renang yang cukup dingin without any complaints. Ini memang bukan cover majalah pertamanya, but still, dia ternyata sama excited-nya dengan kami. “I was like ‘Nylon? It’s pretty big, right?’ saat dihubungi kalian, lucunya saya sebetulnya pernah datang ke acara Nylon bersama teman-teman saya and yeah its cool, dan sekarang saya ada di sini untuk foto cover! I’m actually really happy and thank you for having me to do it!”

            Dengan umur yang masih sangat belia dan potensi yang luar biasa, saya rasa hanya masalah waktu sebelum wajah Saffron mendominasi halaman-halaman fashion spreads, covers, dan proyek seru lainnya. In the mean time, education is still her number one priority. Tidak mau asal ambil pekerjaan, ia mengaku memilih semua tawaran dengan hati-hati dengan concern utama tidak mengganggu jadwal sekolahnya. I love meeting new people and getting to do so many different things in the process. Memang agak susah untuk terbiasa but I’m getting there, you know? The creative process is really fun. Yang saya nggak suka paling kalau terlalu lama dan saya masih punya banyak homeworks, haha.”

Di balik mature professionalism yang ia tunjukkan, berbincang dengannya ternyata sama serunya seperti menemukan sosok seorang BFF. Super chill dan secara candid menceritakan segalanya tanpa pretensi apapun, she’s actually a normal teenager who likes to spend the weekend with her friends or boyfriend dan menikmati masa remajanya. “I like being teenager. In the fashion point of view pun saya merasa fashion saat ini sedang booming, like the guys really dressing up at the moment. I like how teenagers nowadays have good sense of fashion. I think we’re really outgoing and like to try new things out there,” ujarnya.

Bicara soal remaja saat ini, most people akan menyambungkannya dengan generasi Millennial, dan Saffron punya pengalaman soal hal itu. “You know what happens? Dalam pemotretan sebelumnya, they ask me about being millennial dan banyak yang bilang kalau millennial itu anak-anak seumuran saya, right? Tapi saya sempat search di internet and found out that I’m not even counted as millennial. Orang bilang millennial kan mereka yang lahir dari tahun 1980 sampai 2000, but I was born in 2001, haha! So, I’m like ‘are you sure I’m millennial?’” ungkapnya sambil tertawa renyah. Well, maybe it’s time for us untuk mulai memikirkan generasi AFTER the millennial seperti Saffron, generasi baru yang mungkin lebih berani lagi dengan sisi individu dan sikap rebellious khas remaja tanpa peduli prasangka dari generasi-generasi pendahulunya. “Well… Excuse me, but we’re the kids at the moment, like gimana lagi right? I mean we’re just enjoying our time, leave us alone! Haha!”

So Saffron, boleh cerita sedikit soal masa kecil kamu? Dulu kamu kecilnya kaya gimana sih?

Waktu kecil saya sempat sangat girly, tapi kemudian saya jadi lumayan tomboy setelah mulai aktif olahraga seperti tennis dan renang. I was very active and cut my hair really short. So yeah, saya sempat jadi girly Barbie girl kemudian tomboy dan kemudian jadi seperti sekarang which I think is a mix of both of them.

What’s your childhood dream back then?

It’s so embarrassing, tapi saya ingat dulu saya pengen banget jadi penyanyi. You can ask my mom, dulu saya sering pecicilan nyanyi random lyrics sambil pura-pura main gitar. Saya juga dulu ingin jadi aktris, tapi kalau sekarang saya ingat lagi, I’m like ‘what was I thinking?

Kalau sekarang masih minat jadi penyanyi atau cukup di karaoke saja?

Oh no, cukup karaoke saja. I love karaoke, it’s like a time for me to release myself, haha. I usually go with a bunch of crazy friends and just jammed out.

Apa lagu karaoke wajibmu?

“Mamma Mia” by ABBA atau “Bohemian Rhapsody”, apa lagi ya? Oh ya “Don’t Stop Me Now” dari Queen juga! Kalau karaoke bareng keluarga saya, we always sing “Bohemian Rhapsody”. It’s just a thing that we always do.

Kalau di keluarga kamu paling dekat dengan siapa?

Probably my mom, karena we’re just like sisters in a sense ada waktu-waktu di mana we completely hate each other and then love each other so much. Kami juga sering sharing pakaian, sepatu, makeup… atau lebih tepatnya, I share my makeup, haha. So yeah, saya rasa saya paling dekat dengan ibu saya, dia bisa tau jika saya punya masalah dan sangat suportif soal modeling, she’s like “Oow… look at you in the cover,” and I’m like “Oh my God, please stop, it’s annoying,” haha.

Pasti banyak yang bilang kamu mirip banget sama your mom ya?

Yeah! And to be honest I don’t see the similarity at all! Dia kadang-kadang suka menggoda saya soal itu tapi saya justru suka sebal kalau disama-samakan. But I think I kinda understand. She’s also a fashion stylist and I get my fashion sense from her. Most of my things are from her wardrobe anyway and I’m like the younger version of her in that sense. Barang terakhir yang saya pinjam dari lemarinya adalah boyfriend jeans yang sangat nyaman and she’s like “You better give it back or get your own jeans!” and I’m like, “Okay, geez…”

How about your grandpa? Kamu sering diajak wisata kuliner sama Pak Bondan?

Ya kalau di family trip he’s the one that will show us around and to try something new in different places. Saya harap nggak akan ada yang cari dan nonton, tapi saya sempat muncul di salah satu episode show-nya. Saya masih kecil banget bareng sepupu saya, please do not try to find the clip because it’s probably the most embarrassing thing ever! Haha! But yeah, it’s always fun to going around with my grandpa because there’s an always new experience. Saya sangat picky soal makanan dan biasanya menolak kalau disodorkan makanan yang tidak biasa saya makan but in the end of the day, I will try it too, haha.

Kamu punya nama yang unik, what do you think about it dan jika bisa memilih nama sesuai yang kamu inginkan, nama apa yang akan kamu pilih?

Saya sempat bertanya-tanya soal arti nama saya dan dari mana asalnya karena orang-orang sempat memanggil saya dengan nama “kunyit” kemudian saya baru tahu it was a spice. Sebetulnya nama saya tidak hanya terinspirasi dari nama rempah-rempah but actually dari nama lead vocalist sebuah band bernama The Republica yang menjadi favorit mama saya. The lead singer’s stage name was Saffron. I always liked the name Aquamarine. So then my nickname would be Aqua. People think I’m weird when I tell them that. 

Mengintip Instagram milikmu, tampaknya kamu sangat into Halloween ya?

Yeah I really like Halloween. Setiap tahun saya mencoba something new. Tahun ini saya punya dua kostum. Yang pertama saya menjadi Alice karena keluarga saya did the Alice in Wonderland things, my mom became the White Queen, I became Alice, my mom’s boyfriend became Mad Hatter and his daughter became Cheshire Cat, it was cute and fun! Yang kedua, saya merias muka saya sendiri dengan riasan bertema tengkorak, that was the first Halloween makeup I did all by myself, It took such a long time maybe because I’m such a perfectionist. It took like two hours, literally.

 img_9709

Tell me about school life, seberapa penting edukasi bagimu?

I take education very seriously, I’m not the best at it but I feel like without it I can’t do anything else. Itu sebabnya untuk kerja, saya hanya bisa melakukannya sepulang sekolah atau pas weekend. Orangtua saya nggak akan kasih izin saya untuk bolos demi pemotretan dan saya pun juga nggak mau bolos karena saya pasti akan ketinggalan pelajaran.

Apa satu hal atau skill yang ingin kamu pelajari?

Saya ingin bisa bahasa Prancis. Saya sempat belajar sendiri, but it doesn’t seem really working, haha. But yeah, saya selalu ingin belajar bahasa Prancis atau Belanda karena keluarga dari pihak ibu saya banyak yang berasal dari sana. Saya sebetulnya lumayan paham kalau mendengar orang ngomong bahasa Belanda, tapi saya nggak bisa ikutan ngomong, which is so frustrating.

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini?

I don’t really obsess over things, so yeah, I don’t have a current obsession.

What’s on your music playlist right now?

The 1975, Arctic Monkeys, and a lot of old 90s music. They are so fun to jam out and karaoke with.

Kamu sering datang ke festival musik, konser atau festival apa yang paling ingin kamu datangi dan kenapa?

I love festivals! I love how they have all these different genres and indie music which I really love. Baru-baru ini saya pergi ke We The Fest yang sangat amazing karena ada The 1975, haha. I really want to go to Glastonbury or Coachella one day. It’s on my bucket list.

Who’s your celeb crush? Jika bisa menghabiskan satu hari dengannya, apa yang ingin kamu lakukan?

I have so many that I don’t really know which one to pick! Mungkin yang paling utama adalah Matty Healy atau Alex Turner karena mereka terlihat really chill. Saya ingin ngobrol dengan mereka soal bagaimana mereka mendapat ide dan menulis lirik untuk lagu-lagu mereka dan mungkin minta diajari main gitar. I wouldn’t mind talking about those things at a cafe or something over coffee.

Dengan atensi yang makin banyak, bagaimana caramu menanggapi rumor dan negativitas, baik itu di real life maupun di internet?

I sometimes get caught up tapi saya selalu mencoba tetap positif dan berusaha agar hal itu tidak mengganggu saya. I think its stupid when people hate on you, make rumors so say negative things about you. They are totally wasting their time, jadi kenapa saya harus membuang waktu juga untuk menanggapinya? Like my mum says, they’re probably just saying those things cause they’re jealous! Hahaha.

Seberapa penting media sosial bagimu dan socmed apa saja yang kamu pakai?

Tidak terlalu penting. Saya biasanya membuka socmed hanya untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan atau apa yang menjadi ‘the new big thing’. I usually just go on Instagram, I’m always on Snapchat and Facebook. That’s pretty much it, hahaha.

Kamu pernah punya akun ask.fm tapi dihapus, why?

Hahaha omg yeah I did! I don’t know. Saya menganggapnya cukup memalukan dan sebetulnya tidak terlalu menyukai konsepnya, like anonymous people would ask you questions and I don’t know where any of them are going! I also didn’t really used it and only seemed to have used it when it was big. Everyone in my school started using it so I did. Quite stupid of me to be honest.

Seberapa sering kamu berpergian dan apa tujuan liburan favoritmu?

I don’t travel often. Saya biasanya pergi ke Bali karena cukup dekat dan kakek-nenek saya tinggal di sana. I always feel most at home and stress-free at Bali. Jadi destinasi favorit saya bisa dibilang Bali karena saya selalu ke sana, haha. Terkadang, tapi sangat jarang, saya mengunjungi saudara di Inggris dan Prancis, which is always loads of fun.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Apa destinasi liburan impianmu?

Wow. This is a hard question. I’m quite of a beach gal so I would probably want to go to Maldives or Fiji.

Apa satu hal darimu yang membuatmu merasa unik dari orang lain?

I think my sense of style and my nose, haha!

Apa brand favoritmu?

Brand favorit saya adalah Zara dan Topshop. Mereka sangat kreatif dalam soal desain, terutama jeans. I feel like Zara and Topshop really stand out. I feel like I can always see some similarites between other brands but with these two brands, they can never be the same like the others. They are just so different. I seem to only fit in jeans from Zara and sometimes Topshop.

Apakah kamu pernah melakukan fashion faux pas?

Of course! I think everyone does. Dengan bertambahnya umur, saya mencoba lebih berhati-hati saat berpakaian. Saya punya dua rules yang saya patuhi. It’s basically either I have one denim item in my outfit and I am only allowed to wear one pattern item with my outfit and the rest have to be plain clothing. Saya tidak ingin mengambil risiko aneh-aneh dalam berpakaian. I think the most common one I do is wear the wrong undergarmets with my outfit, hahaha! 

Do you have any secret skills?

My secret skill is probably tennis and maybe baking. I’ve played tennis since I was 4 years old and I always bake in my free time and for some family occasions.

Apa zodiakmu dan seberapa besar kamu percaya horoskop?

Zodiak saya Cancer. I take them really seriously no matter how many people tell me it’s not true, hahaha! Saya bisa duduk berjam-jam membicarakan sikap orang berdasarkan zodiak mereka. My boyfriend hates it when I talk about it but you got to admit! They are all pretty spot on.

What do you want to be remembered for years from now?

I want to be remembered as someone who was really hardworking to get where she was in her life and that no obstacle was hard enough for her to go over.

img_9723-2

 

En Garde, En Vogue! An Interview With Ayabambi

Membaurkan kedinamisan dan energi eksplosif dari tarian vogue dengan sensibilitas serta kemisteriusan Jepang yang berakar dari kultur geisha dan kabuki, power couple sekaligus dance duo AyaBambi siap menaklukkan dunia, one dance at a time

nylon_indonesia_oct_cover_19648

Ketika tarian vogue (atau voguing) terlahir dari subkultur ballroom kaum LGBT keturunan kulit hitam dan Latin di daerah Harlem, New York City pada tahun 80-an, tarian ini pada hakikatnya lebih dari sekadar sebuah aliran modern house dance yang menjadi ajang pertaruhan gengsi dua orang “queens” yang saling mengadu kebolehan mereka dalam berpose dan menari dengan cara yang super stylish, artful, dan fierce. Identik dengan exaggerated choreography yang terlihat feminin dan maskulin di saat yang bersamaan, tarian yang mengambil inspirasi dari bentuk hieroglif kebudayaan Mesir kuno dan pose-pose elegan para model yang menghiasi halaman majalah Vogue ini, seperti yang kemudian diceritakan dalam film dokumenter Paris is Burning yang mengupas ballroom scene New York City di akhir 80-an, sama seperti aspek-aspek lainnya dari subkultur tersebut adalah bentuk self-expression yang lahir sebagai reaksi perlawanan dari sebuah opresi dan diskriminasi seksualitas, gender, warna kulit, hingga kelas sosial di era tersebut.

Sebelum film dokumenter garapan Jennie Livingston tersebut dirilis di tahun 1990 dan menjadi sebuah cult classic sampai sekarang, ballroom scene dan drag culture bagaikan sebuah dunia lain yang tidak tersentuh oleh masyarakat umum. A little bit of Narnia for the African-American and Latino LGBT people di era itu, sebuah safe haven untuk melarikan diri sejenak dari realita keras dalam kehidupan sehari-hari (“the white, rich, straight world”). Selain dokumenter tersebut, sang primadonna pop Madonna lah yang kemudian bertanggung jawab memperkenalkan tarian vogue ke publik mainstream saat ia merilis single berjudul “Vogue” di tahun yang sama. Menjadi salah satu hits terbesar dari Madonna, “Vogue” dengan musik video ikonik yang disutradarai oleh David Fincher berhasil membawa tarian vogue yang awalnya hanya ditampilkan di underground gay bars and disco di New York City ke clubs di seluruh dunia. Vogue pun bergeser menjadi sebuah tarian yang merefleksikan hedonism, positivity, serta inclusivity yang menginspirasi para penari dan calon penari di seluruh dunia, termasuk AyaBambi yang berasal dari Jepang.

Jika ini kali pertama kamu mendengar nama mereka, you are in for a treat. Secara singkat, AyaBambi adalah duo penari Jepang yang terdiri dari Aya Sato dan Bambi yang meraih popularitas global berkat koreografi menghipnotis dan gaya cyber-goth mereka yang super keren. Keduanya sudah mulai menari sejak usia dini dan mengambil inspirasi dari berbagai macam aliran dance untuk menciptakan highly synchronized routine yang powerful, penuh presisi, dan tentu saja, fierce. Menekankan hand choreography untuk mengeksekusi gerakan-gerakan tajam yang membingkai wajah mereka dengan potongan rambut avant-garde dan riasan gothic vibe yang khas, jelas ada pengaruh yang kuat dari elemen vogue dan tutting dalam tarian yang mereka peragakan. Meskipun begitu, dengan cepat mereka menolak jika tarian mereka hanya dikategorisasikan sebagai vogue. “Our dance isn’t actually vogue dance. It has some elements of vogue dance, but it is our original style consisting of our favorite posing and stuff,” tegas Aya Sato dalam balasan email untuk kami yang mereka kirim dari Rio de Janeiro, Brasil. Meski demikian, keduanya juga tak menampik jika tarian vogue yang mereka lihat saat beranjak dewasa memegang peranan penting dalam seni tari yang mereka geluti, not only for the stylistic direction, but also for the self-liberation.

nylon_indonesia_oct_cover_19262

Setelah menarik perhatian para netizen semenjak mengunggah video-video dance workshop mereka sejak empat tahun lalu di YouTube dan mengundang ribuan views dengan cepat, membintangi kampanye fashion, video musik, komersial, dan berkeliling dunia memang telah menjadi bagian dari keseharian mereka dalam beberapa tahun terakhir ini. Thanks to their international appeal dan fakta jika dance adalah universal language yang tidak terbelenggu batas bahasa dan budaya, mereka dapat dengan mudah diterima di mana saja, dari mulai underground club di New York, warehouse party di London, maupun galeri seni di Tokyo, they simply doesn’t have boundaries. Brasil hanyalah satu dari sekian banyak destinasi yang telah mereka kunjungi untuk menunjukkan kemampuan mereka, entah itu dengan tampil bersama megastar sekelas Madonna ataupun menggelar dance class yang selalu dipenuhi para peminat, most of them adalah penggemar yang telah menyaksikan AyaBambi lewat video-video yang beredar di internet. Saat ini, menyebut AyaBambi hanya sekadar dancer pun adalah sebuah simplifikasi yang bisa menyesatkan. Dalam akun Instagram @ayabambi_official yang telah diikuti oleh 131K followers, dengan bangga mereka mencantumkan profesi yang meliputi dancer, koreografer, model, stylist, fotografer, editor, dan director. Tentu saja, itu bukan hanya gelar yang asal mereka sematkan ke diri sendiri begitu saja, they have enough creds to back it up.

Tiga tahun terakhir ini mereka telah mengumpulkan resume video features yang impresif. Setelah muncul di beberapa musik video Jepang untuk BoA, Nano, Shiina Ringo, dan Miliyah Kato, mereka pun go international dengan tampil di video untuk Benjamin Pettit, DJ asal Inggris yang lebih dikenal dengan nama Zinc dalam single “Show Me” yang menampilkan AyaBambi menari di depan cermin sebuah dance studio dengan twist yang mencengangkan serta video “Forever (Pt. II)” milik Snakehips di mana keduanya tampil begitu membius dalam video berdurasi 3 setengah menit tersebut. Video selanjutnya yang benar-benar memperkenalkan mereka ke ranah mainstream adalah saat mereka ikut tampil dalam video “Bitch I’m Madonna” seperti sebuah rekayasa semesta yang mempertemukan mereka tak hanya dengan the queen herself (Madonna, duh!) tapi juga nama-nama besar lainnya di video tersebut seperti Rita Ora, Jeremy Scott, Miley Cyrus, dan terutama the prodigal designer and cool kids patron, Alexander Wang. It was love at first sight bagi desainer Amerika berdarah Asia tersebut. Dengan kecintaan yang sama pada fashion and art, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk saling mengapresiasi karya masing-masing dan Wang pun mengajak AyaBambi menjadi bagian dari kampanye koleksi goth-inspired Fall-Winter 2015 labelnya bersama deretan perempuan keren dengan personal style yang distinctive lainnya seperti Anna Ewers, Molly Bair, Binx Walton, Lexi Boling, Hanne Gaby Odiele, Sarah Brannon, Isabella Emmack dan mantan vokalis Crystal Castes, Alice Glass. “Saya sudah mengagumi Aya dan Bambi sejak menonton video-video mereka di internet, “ ungkap Wang pada WWD. “Kebetulan, saat mereka tampil di video Madonna, saya bertemu mereka di pesta yang diadakan Madonna di Paris dan langsung jatuh cinta. Mereka memiliki gaya yang sangat individual namun mereka juga sangat sesuai dengan karakter di koleksi ini,” ungkapnya tentang keputusannya mengajak AyaBambi dalam kampanye yang dijepret oleh fotografer legendaris Steven Klein tersebut.

Chemistry antara Madonna dan AyaBambi tak berhenti di video musik saja, tapi juga berlanjut ke tur dan live performance. Keduanya resmi menjadi penari dalam Rebel Heart Tour yang diadakan Madonna di seluruh dunia, walaupun sempat terjadi sebuah insiden. Pada penampilannya di Brit Awards Februari 2015 lalu yang disiarkan secara langsung, Madonna sempat mengalami kecelakaan di atas panggung saat ia membawakan lagu “Living for Love”. Masuk ke panggung seperti high priestess slash bride of darkness, Madonna mengenakan jubah panjang hitam dengan Aya dan Bambi mengekor di belakangnya sambil memegang ujung jubah. Saat di puncak tangga, jika sesuai rencana, mereka akan menarik lepas jubah Armani tersebut dan Madonna dengan epik akan melanjutkan langkahnya sebagai seorang ratu dalam balutan busana matador. Sialnya, Madonna ternyata belum benar-benar melepas ikatan jubahnya dengan sempurna saat AyaBambi menariknya, seorang Madonna pun terjatuh dari tangga di depan ribuan orang yang hadir secara live maupun yang menonton dari layar televisi. “Saya sangat ketakutan waktu itu!” kenang Aya. “Saya merasa waktu seakan berhenti dan kejadian itu seperti berlangsung berjam-jam,” tandasnya. Untungnya, Madonna dengan profesional tetap melanjutkan tampil dengan gemilang tanpa terlihat kesal dan tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu karena AyaBambi tetap menari bersamanya di sepanjang tur termasuk dalam sebuah penampilan untuk lagu yang sama di The Ellen DeGeneres Show. “Bekerja dengan Madonna adalah hal yang sangat menyenangkan, she liked us,” ungkap Aya lagi. “Hal yang paling menggembirakan adalah dia sangat terbuka dengan ide dan koreografi yang saya ciptakan, and we were so glad for that. Dia pun sangat ramah. Tapi, at the same time, kami merasa tidak boleh berpuas diri dan berhenti di situ.”

Seperti yang bisa diduga dan mereka akui sendiri, fashion memang memegang peranan penting bagi proses kreatif mereka. “We don’t just attract to dancing. Dancing is one of the ways to fuse fashion and art. We are influenced by people who create work together,” ujar mereka. “Saat tidak menari, kami menekuni hal-hal lain yang kami sukai. We enjoy designing clothes, and making clothes, and thinking about so many stuff that we can make is also fun.” Maka tak heran jika pesona AyaBambi terus menarik mutual symbiosis dengan para kreatif di bidang fashion.

nylon_indonesia_oct_cover_19090

Sebagai bagian dari proyek bertajuk MOVEment yang digagas oleh AnOther Magazine dan Sadler’s Wells Theatre (sebuah tempat pertunjukan seni di London), AyaBambi membintangi salah satu dari fashion film yang digarap oleh tujuh sutradara kontemporer dan menampilkan tujuh koleksi khusus dari fashion designers ternama saat ini. Dibalut oleh rancangan Hussein Chalayan from head to toe, mereka berkolaborasi dengan Ryan Heffington yang juga dikenal sebagai koreografer untuk FKA twigs (“Google Glass” dan “Video Girl”) dan Sia (“Elastic Heart” dan “Chandelier”) untuk menciptakan sebuah tarian hyper-synchronized dengan background putih yang memperkuat sajian visual tersebut dengan diiringi oleh dentam elektronik minimalis. ”Pakaian dan filmnya sendiri sebetulnya sangat simple dan dalam, which we love, sometimes the form of the clothes is more important than the freedom or beauty of the physical body,” ungkap mereka soal video yang digarap oleh Jacob Sutton tersebut. Selain untuk Hussein Chalayan, AyaBambi pun telah tampil di banyak fashion video lainnya, termasuk saat menari bersama si kembar Dean & Dan Caten dari label Dsquared2 dalam video buatan Leslie Kee.

Terlepas dari semua pencapaian tersebut, cult following, dan minat publik yang besar pada keduanya, salah satu dari daya tarik paling vital dari kesuksesan AyaBambi adalah misteri yang menyelimuti keduanya yang mengingatkan kita kepada tabir rahasia dan kemistisan seorang penari geisha dari masa lampau. Di zaman di mana detail personal siapa saja dengan mudah bisa dilacak hanya dengan memasukkan kata kunci di kolom pencarian dan beberapa kali klik, mereka menjaga rapat hal-hal yang menurut mereka tidak perlu diungkap ke publik, termasuk nama lengkap dan usia mereka. Minimnya informasi yang bisa dilacak di internet pun membuahkan spekulasi tersendiri tentang sosok mereka sebenarnya. Apakah mereka anak kembar? Are they sisters? Apakah mereka berasal dari masa depan? Are they cyborgs? Semua pertanyaan tersebut menciptakan misteri dan image yang too cool to be true akan keduanya. And just like some sort mythical creatures, people dying to know more about them, including us. Tapi mereka tidak mudah dipancing. Dalam email berisi sekitar 30 pertanyaan yang kami kirimkan sebagai usaha untuk mengulik lebih dalam tentang diri mereka, mereka hanya menjawab mungkin setengahnya saja dan itu pun dengan kalimat-kalimat sangat singkat dan ambigu. Namun, satu hal yang tidak pernah mereka tutupi adalah kenyataan jika mereka adalah romantic partners.

 Berasal dari Yokohama dan kini berdomisili di Tokyo, Aya dan Bambi (atau Akkun dan Mammi-chan, yang menjadi cara mereka memanggil satu sama lain) pertama kali bertemu di sebuah audisi dance dan walaupun baru benar-benar berkolaborasi secara profesional sebagai AyaBambi sekitar dua tahun terakhir ini, mereka sebetulnya telah menjadi romantic partner selama tiga tahun belakangan. “Kami bertemu secara kebetulan, tapi Bambi memahami apa yang ingin saya lakukan. Pemikirannya, ekspresi, dan daya tariknya mampu memandu ide-ide dalam kepala saya, so I think its good balance,” ungkap Aya.

Instagram menjadi salah satu jendela kecil bagi kita untuk mengintip dunia mereka. Tak hanya aktivitas sehari-hari, proyek terbaru atau hal-hal personal seperti teddy bear kesayangan Bambi yang diberi nama Meringue, tapi terutama adalah soal hubungan mereka. Keduanya telah bertunangan sejak setahun terakhir, namun saat pertanyaan soal pernikahan muncul, they’re not really bothered about it, Bagaimanapun Jepang masing sebuah negara konservatif yang memegang teguh nilai-nilai tradisional. “Jepang sering disebut sebagai negara maju,” ungkap Aya pada sebuah wawancara, “Namun negara ini tetap sangat konservatif dan tradisional. Isu-isu seperti ini bergerak sangat lambat di Jepang,” lanjutnya.

nylon_indonesia_oct_cover_18654

Titik terang bagi keduanya muncul saat beberapa distrik seperti Shibuya , Setagaya, dan tiga distrik lainnya melegalkan sertifikat same-sex couples special partnership. Walaupun secara hukum, sertifikat tersebut tidak dianggap sebagai sertifikat pernikahan, namun sertifikat tersebut mengakui adanya partnership untuk same-sex couple dan memberikan mereka hal-hak sipil selayaknya pasangan pada umumnya. It’s not a marriage certificate but it’s still better than nothing, dan itu adalah sebuah kemajuan bagi LGBT rights di Jepang. Aya dan Bambi sendiri mungkin tidak terburu-buru untuk menikah, namun mereka telah melakukan their fantasy dream wedding dalam sebuah video bertajuk “Short White Wedding” yang digarap oleh situs Vogue tahun lalu. Dalam video yang disutradari oleh Ujin Lin tersebut, Aya dan Bambi menampilkan koreo keren mereka dalam balutan bridal dresses musim tersebut yang meliputi koleksi dari Givenchy, Valentino, Louis Vuitton, Rodarte, dan Vera Wang. Menukar pakaian hitam dominatrix khas mereka dengan busana pengantin putih yang ethereal dengan iringan musik yang glorious, kamu tidak bisa untuk tidak tersenyum dan merasa ikut bahagia saat menyaksikan video tersebut. “We don’t know. We don’t think. In our world, probably there are only two of us. I am what I am, and so is she,” ungkap Aya tentang pandangan orang lain atas hubungannya dengan Bambi.

            “We had many awesome things together, but we still want to do many things, and we think we can learn many other things from collaboration,” ujarnya. Selain pernikahan itu sendiri, masih banyak mimpi yang ingin mereka capai, khususnya proyek-proyek revolusioner yang menggabungkan dunia fashion, seni tari, dan film. “Tim Burton adalah filmmaker favorit kami, jadi jika ada kesempatan bekerjasama dengannya, itu akan mengabulkan salah satu impian kami!” pungkas mereka.

Kembali ke tarian vogue, dalam sejarahnya yang paling primal, vogue sebetulnya adalah tarian perang, sebuah duel di antara dua rival penari. Namun di tangan Aya dan Bambi, tarian ini menjelma menjadi sebuah kolaborasi transcendental yang tak hanya berhenti di raga tapi juga jiwa, melumerkan batas frasa dan rasa di antara keduanya. In the end, it’s a celebration of life, love, and beauty.

nylon_indonesia_oct_cover_19374

Photo: Yuji Watanabe.

Styling: Shotaro Yamaguchi @eight peace.

Make-Up Artist: Nao Yoshida.

Hair: Shuco @3rd

 

#30DaysofArt 19/30: Naufal Abshar

There’s always a meaning behind a laugh, dan lewat sentuhan kuasnya, pelukis kelahiran Bandung, 13 Juli 1993 ini mengeksplorasi makna yang lebih dalam di balik aktivitas tertawa sebagai konstruksi hubungan sosial dan emosi. Graduated with honours dari jurusan Fine Arts Lasalle College of The Arts Singapura & Goldsmiths University London, pria yang sekarang tinggal di Jakarta ini mengakui jika hobinya menggambar sejak kecil terinfluens dari film Disney dan mainan Lego favoritnya, “Saya selalu menggambar di manapun dan kapanpun, saya tidak pernah memperhatikan guru ketika sedang mengajar, saya malah asik duduk di pojok kelas untuk menggambar di buku paket ataupun buku tulis,” ungkap founder dari NA Arthouse tersebut. Karyanya yang dipenuhi oleh sosok-sosok penuh tawa ekspresif dalam warna colorful segar sekilas memang terlihat harmless namun ada yang selalu mengusik rasa penasaran tentang konteks di balik tawa tersebut di mana karya-karya tersebut telah dipamerkan di banyak tempat, dari mulai Indonesia, Singapura, Venice, hingga Lithuania.

artist-photo2

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?
Apapun. Terutama kegelisahan dan ketidaksesuaian saya terhadap situasi publik yang men-trigger saya untuk berkarya.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Perjalanannya cukup panjang memakan waktu 2 setengah tahun untuk menemukan style dan concept saya garap sekarang, sewaktu kuliah saya melakukan sejumlah research dan eksperimen untuk mendapatkan konsep “HAHA” yang termotivasi oleh salah satu manifestasi humor yaitu laughter. Dari situ saya mencoba untuk mengolah aktivitas laughter tersebut untuk menjadi bahan landasan kritikan terhadap social issues dan politik.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?
Seniman dalam negeri: Arin Sunaryo, Nyoman Masriadi, Heri Dono.

 hiding-behind-the-armor

Apa idealismemu dalam berkarya?
Hati, berkaryalah dengan jujur dari hati karena itulah yang akan membuat suatu karya itu jauh lebih berarti. Bagi saya seni adalah cerminan buah pikiran dan observasi saya pada sebuah kehidupan yang saya alami

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu? 
Ya mungkin sekitar 4 tahun yang lalu ketika saya masih menuntut ilmu di universitas. Saya ingat karya saya terpilih menjadi shortlisted artwork yang akan dipamerkan pada saat open house kampus. Saya merasa senang dan bangga walaupun pada saat eksekusinya karya saya hanya dipajang di sudut bawah panel besi yang tidak banyak orang-orang melihat. Ya tapi namanya starting jadi tetap saja senang, haha.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?
Hmm… Karya saya didominasi oleh tulisan “HAHA”, figur tertawa, dan warna-warna colorful yang tajam.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini? 
Menjadi cover sebuah art magazine besar di Singapura yaitu ART REPUBLIK Magazine dan bisa menjadi pembicara pada forum seni tingkat dunia dan menjadi the only representative dari Indonesia sebagai the youngest fast rising artist.

the-laughing-girl

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?
Apa ya? Menurut saya Social Media sangatlah membantu dalam bidang self-promotion tergantung bagaimana kita memposisikan kita pada social media tersebut.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?
Untuk sekarang masih cukup lemah tetapi ada banyak potensial dan kesempatan untuk mengembangkan art scene untuk lebih wide dan global.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?
Di mana saja, kebanyakan di studio.

Target sebelum usia 30?
Yes, saya akan menjadi the most established and famous young Indonesian artist pertama yang akan berpameran di galeri dan museum besar dunia seperti MoMa,Tate Modern, Guggenheim, White Cube. Dan mendirikan residency atau foundation seniman-seniman muda lainnya.

high-end-life-style

#30DaysofArt 16/30: Natasha Gabriella Tontey

“Saya kekanak-kanakan. Saya tidak pernah menutup pintu pada masa kecil saya dan saya masih berdialog dengan itu. Saya tidak mengerti bagaimana saya bisa lolos tanpa hal itu dalam peradaban orang dewasa. Walaupun saya juga menyetujui bahwa masa kecil hadir sebagai fiksi karena semuanya berbentuk memori dan cerita,” ungkap seniman dan graphic designer  kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1989 yang selalu terlihat quirky ini dalam upayanya mempertanyakan gagasan bagaimana rasa takut dapat diciptakan untuk mengontrol publik dan pertanyaan terhadap konsep fiksi dan realitas yang menjadi tema utama karyanya. Membagi waktunya antara Jakarta dan Jogja, body of works lulusan DKV UPH ini telah meliputi banyak medium, dari mulai fotografi, desain grafis, performance art, hingga video musik dengan konsep yang tak hanya menarik secara visual tapi juga konteks. Cute dan whimsically sinister di saat yang sama, karyanya menawarkan jukstaposisi dari sisi innocent masa kanak-kanak dengan elemen horror baik dari imajinasi personal maupun dari realitas yang ada di sekitarnya.

krazy-kosmic-konspiracy-pt-1-photo-by-kendra-ahimsa

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Yang memperkenalkan ke seni pertama kali mungkin orang tua saya, ketika saya kecil saya selalu mempunyai cita-cita, salah satu cita-cita saya sewaktu kecil adalah menjadi pelukis, lalu orang tua saya membelikan saya alat lukis. Tapi sejujurnya ketika masuk kuliah pun saya tidak mengerti dan tidak menyangka akan mengambil karier menjadi seniman. Yang menyadarkan saya adalah ketika saya ikut workshop foto di Galeri Foto Jurnalistik Antara, ketika itu saya gagal dalam tugas akhir saya di workshop tersebut, lalu Oscar Motuloh (Pewarta dan Kurator Foto) mengatakan bahwa jalur saya bukan di Jurnalistik. Kemudian pada tugas akhir saya di kuliah, pembimbing tugas akhir saya Bapak F.X. Harsono mengatakan konsep buku saya bisa dikembangkan untuk menjadi karya seni. Pada saat itu saya hanya tau Pak Harsono itu yang bikin GSRB dan dosen UPH, saya tidak tau karya-karyanya seperti apa, ketika saya sadar dia siapa, saya kaget sih, dan selalu kagum akan semangat Pak Har. Sampai sekarang beliau selalu mendukung saya dan mengkritisi karya saya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya adalah rasa penasaran dan obsesi saya.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Sejujurnya sampai sekarang saya belum menemukan medium atau style kesukaan saya. Yang saya lakukan adalah mencoba untuk terus menguji metode pengkaryaan saya sendiri.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya tahun 2008 di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), kala itu saya memamerkan beberapa karya fotografi saya yang menurut teman-teman di GFJA sangat tidak jurnalistik. Kemudian tahun 2011 saya berpameran foto di GFJA lagi kali ini saya menghadirkan karya foto saya melalui medium view-master yang cukup berkesan. Namun pameran seni pertama saya adalah di EXI(S)T di Dia.Lo.Gue Artspace pada tahun 2012.

img_9410_l-foto-oleh-grandyos-zafna

Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme saya dalam berkarya adalah saya harus tau betul dan percaya betul apa yang saya kerjakan. Saya tidak mau asal cepat dan bagus tapi tidak bisa mengelaborasi konsep karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Cukup sulit untuk mendeskripsikan personal aesthetic dalam karya saya, karena saya melakukan desain dalam karya saya, dalam artian mengaplikasikan metode desain ke dalam karya. Mungkin yang bisa saya jawab adalah ketertarikan saya untuk terus mengolah tema-tema yang horor yang lebih luas. Saya mempertanyakan bagaimana ide ketakutan bisa dimanifestasikan untuk mengontrol publik, juga dengan konsepsi fiksi dan kenyataan.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Seniman favorit pertama saya adalah Frida Kahlo, kalau untuk sekarang saya sangat terinspirasi oleh Wok the Rock, Jon Rafman, Jan Svankmajer, dan Sophie Calle.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pengalaman cukup berkesan saya mungkin adalah residensi di Ruang MES56 sampai saya tertarik untuk pindah ke Yogyakarta. Tapi saya rasa saya belum memiliki pencapaian yang patut saya bagi.

 

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Menarik. Karena bisa menggunakan social media sebagai platform pengkaryaan untuk hal-hal tertentu. Misalnya hadirnya persona FluxCup dan Molly Soda sebagai karya. Juga lebih mudah berkomunikasi dengan teman-teman baru. Tapi mengerikan juga karena hal yang datang secara massive perlu dipertanyakan juga kebenarannya.

 

Current obsession?

I think I secretly (not really secret) admire Ted Bundy, Ed Gein, and John Wayne Gacy, the serial killers. I also like to impersonate people’s gesture just for fun.

 

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya sangat menikmati kota Yogyakarta untuk hal itu karena banyak sekali teman untuk berdiskusi dan mengkritisi karya saya. Saya takut akan pujian. Sedang di Jakarta saya menikmati dunia desain yang cukup kritis dan dinamis.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Biasanya weekend saya seringnya mengerjakan kerjaan-kerjaan sampingan saya sebagai graphic designer atau saya ngobrol bersama teman-teman saya.

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Saat ini saya sedang melakukan riset dan pengumpulan bahan untuk karya saya selanjutnya yang mana adalah masih rahasia.

 

Target sebelum usia 30?

Banyak sekali. Saya juga ragu apakah saya bisa mencapai semua target saya sebelum usia 30.

conga-set

#30DaysofArt 10/30: Kei Kusuma

Bermula dari kekaguman masa kecilnya melihat lukisan Tree of forgiveness by Sir Edward Burne Jones yang menjadi salah satu koleksi pribadi karya seni milik orangtuanya, seniman grafis yang lahir di Malang, 2 Mei 1990 yang sedang berdomisili di Surabaya ini pun mempelajari karya-karya dari Gustav Klimt, Ingres, Paul Gauguin, Xu Beihong, Hasegawa Tōhaku, serta seniman dunia lainnya dan secara instingtif mengembangkan gayanya sendiri. “Mengetahui banyaknya seniman dan karya seni luar biasa sering mengingatkan saya akan betapa miripnya emosi yang dapat kita rasakan dari suatu karya seni terlepas dari kapan suatu karya tersebut diciptakan. Saya ingat membuat banyak sekali gambar peperangan, susunan kastil, dan lainnya sejak usia balita. Karya pertama yang saya ikutkan ekshibisi menceritakan tentang mitologi perang antara tokoh pewayangan Jawa kuno,” cetusnya. Penuh dengan detail dan unsur emotif, Kei pun menghadirkan theatre of image yang tak terpaku oleh alat atau medium tertentu.

profile-photo

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Dibesarkan dalam keluarga yang memiliki pandangan terbuka dalam berbagai kesenian, kultur, dan budaya membuat saya merasa sangat beruntung. Menurut saya kebebasan untuk beropini dan melakukan observasi terhadap hal-hal di sekitar kita sejak dini amat sangat mempengaruhi kemampuan kita dalam mendefinisikan sesuatu sebagai seorang individu, dan saya rasa hal tersebut sangat mempengaruhi karya-karya saya saat ini.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Semenjak kecil, saya selalu merasa tertarik terhadap semua hal di sekitar saya, selalu mengamati dan mempelajari berbagai informasi visual dari berbagai sumber berdasarkan rasa keingintahuan yang tulus terhadap hal-hal yang belum saya ketahui. Digabungkan dengan latihan yang disiplin secara reguler, saya beranggapan bahwa daya interpretasi dan kedisiplinan dalam berkarya menjadi aspek terpenting bagi seorang seniman untuk dapat terus berprogres.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Saya menggunakan berbagai alat dan medium dalam proses berkarya, pena dan tinta, acrylic, gouache, pastel maupun color pigments. Akan tetapi, saya tidak merasa memiliki keterikatan atau preferensi khusus terhadap suatu alat ataupun medium. Saya justru lebih memprioritaskan keindahan dari hasil akhir serta impact yang dapat diberikan oleh sebuah karya seni.

plum-blossom-ink-tempera-color-pigments-on-paper-2012

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya dibandingkan menyampaikan sebuah pesan atau idealisme tertentu, merupakan hal yang lebih penting bagi seorang seniman untuk dapat menanamkan emosi tersendiri dalam karyanya untuk dinikmati setiap orang yang melihatnya. Perasaan cinta, takut, kebencian, kesedihan, kebahagiaan dan berbagai emosi lainnya yang dinilai secara terpisah maupun secara utuh merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti oleh semua orang, baik orang awam maupun art elitist.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal ciri khas dalam karyamu? Walaupun akan lebih baik untuk tidak terlalu menyederhanakannya, pada dasarnya mayoritas karya saya merupakan simbolisasi dari keindahan dan kompleksitas emosi yang terpadu berdasarkan pandangan personal saya terhadap kehidupan. Menurut saya cukup sulit untuk memberikan interpretasi verbal terhadap karya dan ide saya, begitupun sebaliknya. Dari pandangan saya secara personal, sosok wanita merupakan simbolisasi paling tepat untuk merepresentasikan aspek keindahan dan kompleksitas kehidupan. Sosok wanita selalu diasosiasikan dengan keindahan, sensualitas, kerapuhan, kelahiran kehidupan baru, kesucian, kasih sayang, sementara di sisi lain, wanita juga erat berhubungan dengan tema seperti kematian, godaan, kekecewaan, dosa, etc. Menurut saya aspek kontradiktif pada sosok wanita amat sangat menarik dan menginspirasi dalam pengerjaan sebagian besar karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Saya sering mendapatkan inspirasi dari berbagai hal. Mulai dari classical art, contemporary art dan kehidupan sehari-hari saya pribadi. Saya terinspirasi oleh karya-karya dari Gottfried Helnwein, Michael Zavros, Gustave Dore, Liu Zheng, Feng Zhengjie, Wei Dong, etc. Saya menyukai karya seni yang berkarakter kuat dan memiliki elemen multi-interpretatif.

the-spoiled-ram-ink-on-paper-2014

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Karya saya, The Spoiled Ram, baru saja memenangkan Best in Show Award untuk 12 Inches of Sin Annual Jurried Art Exhibition Part V dan sudah terjual pada Immersive art auction event yang diselenggarakan oleh Sin City Gallery, Las Vegas, Nevada.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Internet dan social media secara umum telah menjadi sumber informasi paling penting saat ini. Menurut saya hal ini amat sangat membantu sebagai platform untuk kebebasan berekspresi bagi siapapun. Akan tetapi, dengan segala kemudahan informasi dan hiburan yang selalu tersedia  secara online, tidak ada jaminan bahwa suatu karya yang kita produksi dapat diapresiasi dan mendapatkan atensi yang selayaknya, terlepas dari betapa bagus dan menarik kualitasnya. Oleh karena itu, tetap saja ada faktor-faktor tertentu yang harus diperhitungkan apabila ingin karya Anda diapresiasi dan dihargai secara profesional.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Saya tidak terlalu tertarik pada scene apapun.

little-lost-lamb 

Talenta lain di luar seni?

I can cook impromptu surprise dinner for my girl out of nowhere (yes, I consider that a secret skill).

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Brainstorming at my workdesk, watching movies at theatre or at places, meeting up with my friends, honestly I never actually have a scheduled weekdays/weekend routines per se.

 

Project saat ini?

Tahun 2017 saya akan mengadakan solo exhibition pertama saya, dibantu oleh Sin City Gallery dalam penyelenggaraannya. Di samping itu, saya cukup senang dengan berbagai hal yang saya kerjakan saat ini.

Target sebelum usia 30?

Klise dan simple saja sebenarnya. Saya ingin lebih fokus lagi dalam berkarya, more exhibition and project, and i want to make my family happy, that’s all.

unison-of-diversity

#30DaysofArt 7/30: Ines Katamso

Let say I hold my pinky finger up while drinking a teh tawar on the floor,” tutur gadis berdarah Indonesia-Prancis yang merupakan visual artist sekaligus surface & interior designer yang berdomisili di Bali ini. Berasal dari keluarga artistik (dad’s musician & leather tailor, mom’s painter & tattoo artist), Ines yang lahir di Jogja, 14 Mei 1990 memang bercita-cita menjadi designer atau artist sejak kecil dan berbekal passion itu, ia pun pergi ke Prancis untuk belajar art & design lalu pulang ke Indonesia, tepatnya ke Bali di mana ia sempat menjadi stylist dan designer product sembari mengerjakan personal work yang lebih ke arah ilustrasi sebelum minatnya berlabuh di seni mural dan mendirikan studionya sendiri yang bernama Atelier Ines.K. Identik dengan permainan warna vibrant dan siluet feminin, karya muralnya telah menghiasi banyak establishment di Bali, Jakarta, hingga Kuala Lumpur. “Bagi saya, it’s always a matter of composition. Sesuatu yang sangat personal, saya baru akan merasa puas pada karya saya jika pikiran, raga, dan indra saya merasakan hasilnya well-balanced secara proporsi, shades, dan garis.”

ines-katamso

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

My parents no doubts. My father was a musician and leather tailor and my mum is a great painter and tattoo artist. Since I was a kid I wanted to be a designer/artist so it was easy for me to choose my schools.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

To always evolved and to be sure that I can do better.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

I think it was 10 years ago during design school, it was a group exhibition but to be honest it wasn’t really exciting.

box-of-horizon

Apa idealismemu dalam berkarya?

Regarding my personal artworks: painting and drawings, they are a way to bring a form to the informal. Giving a line for this type of fair, a texture for this kind of sensation is my way to desecrate a feeling in order to release it.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

I am not sure if I want to find it, saya tidak ingin stuck di satu hal karena takut bosan. Tapi sebetulnya saya banyak memakai enamel, pastel oil, dan pensil warna untuk karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

I have many inspirations: Malevitch, Kandinsky, Sonia Delaunay, Rothko, Bacon, Klein, Calder, Christo, Soulage.

le-petit-prince

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

It’s my actual project, mengerjakan semua interior design untuk sebuah restoran mulai dari pattern piring, lamp shape, sampai mural. It’s a great opportunity to create a unique space where each line, colours, texture are related to my concept and aesthetics values.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai desainer/artist, merupakan hal yang sulit untuk percaya diri di era social media karena selain fakta jika internet adalah a great cultural tool, the access to this amount of pictures, information, and inspiration can bring many doubts on someone’s personality.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

There are few exhibitions here in Bali but I am not a social person, I know its selfish to say that but I prefer to paint in my atelier than going out.

Tell me about your secret skill or current obsession beside art!

Sorry beside art and design I have no other obsession or skills. Haha I feel I’m so boring right now.

kedai-kopi 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

At my office or atelier.

Project saat ini?

Coming soon one group exhibition, one design showcase, interior design for 2 restaurant, hotel and malls projects and commissioned works… And holidays soon in Japan! 

Target sebelum usia 30?

Going to Japan!

casa

Closer Than Home, An Interview With Yumi Zouma

Dipisahkan oleh bencana alam yang menimpa kota asal mereka di Selandia Baru, para personel unit dream pop Yumi Zouma berpencar ke seluruh dunia sebelum akhirnya menemukan jalan pulang lewat album debut yang impresif, Yoncalla

Thanks to technology, jarak dan waktu sudah bukan lagi halangan untuk berkarya dengan seseorang yang tinggal di belahan dunia dan time zone yang berbeda, Yumi Zouma adalah salah satu band yang harus melewati proses membuat lagu secara long distance. Terdiri dari Christie Simpson, Josh Burgess, Charlie Ryder, dan Sam Perry, keempat anak muda asal Christchurch, Selandia Baru ini sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil dan aktif di proyek musik masing-masing, namun baru ketika sebuah gempa besar menimpa kota mereka dan beberapa di antara mereka memutuskan pindah ke negara lain, keinginan untuk membuat musik bersama baru mencuat sebagai cara mereka menjaga hubungan satu sama lain sekaligus kota asal mereka.

Berbekal sambungan Skype dan email, mereka membuat single pertama berjudul “A Long Walk Home For Parted Lovers” yang berlanjut menjadi album mini pertama mereka di tahun 2014 dengan empat lagu di dalamnya. Meramu bunyi dream pop berbasis synth yang dancey dengan nuansa musim panas yang kental, album mini tersebut mendapat respons positif dari internet dan beberapa label rekaman yang kemudian dilanjutkan oleh EP kedua mereka setahun berikutnya. Dikerjakan secara jarak jauh, EP I dan II terasa seperti menyatukan potongan puzzle yang dibuat sendiri-sendiri oleh setiap personel dari tempat dan waktu yang berbeda, sehingga tak mengherankan jika tema jarak antar manusia, baik secara geografis maupun emosi, menjadi tema dominan dalam dua EP tersebut. Meski demikian, musik mereka tetap terdengar kohesif dan nama mereka pun terus beranjak naik hingga diajak menjadi pembuka untuk Chet Faker dan Lorde.

Berkat kesuksesan kedua EP yang didominasi bunyi dreamy disco rock tersebut, band yang awalnya tak berencana untuk tampil live ini akhirnya dihujani tawaran manggung yang tak lagi bisa mereka diamkan begitu saja. Mereka akhirnya berkumpul dan tampil bersama dari satu festival ke festival lain. Tak hanya berubah menjadi band seutuhnya, kedekatan mereka yang terjalin saat tur juga menjadi basis dari full album pertama bertajuk Yoncalla. Dirilis oleh Cascine Records, album ini berisi single “Barricade (Matter Of Fact)” yang juga menjadi pembuka yang manis bagi 9 lagu selanjutnya. Masih mempertahankan nuansa dreamy yet sunny yang dibangun oleh aransemen uplifting dan vokal Christie yang mengalun ringan dan kontemplatif, album ini terdengar lebih intim dan terpoles dari materi-materi sebelumnya, menjadikannya salah satu album yang pantang dilewatkan untuk tahun ini. Di antara waktu jeda tur dunia mereka untuk mempromosikan album ini sampai akhir tahun nanti, Yumi Zouma pun menyempatkan waktu untuk bercerita lebih dalam.

 yumi

Awalnya saya sempat mengira jika Yumi Zouma adalah nama seorang penyanyi solo, apa cerita di balik nama band ini?

Saat memulainya, kami sebetulnya tidak yakin jika kami akan menjadi sebuah band seperti sekarang. Kami membuat lagu pertama saat kami tinggal di negara yang berbeda, jadi awalnya kami pikir rasanya sulit membayangkan untuk tampil bersama di atas panggung. Tapi, kami ingin tetap percaya jika mungkin musik kami bisa diterima, atau mungkin salah seorang dari kami bisa membawakan lagu kami secara live. Jadi kami memilih nama yang fleksibel dan tidak secara spesifik menjelaskan tempat asal kami. Jadi dibanding memilih nama “The…’s” atau sejenisnya, kami memilih menggabungkan nama pertama dan nama terakhir dari dua teman kami untuk menciptakan sebuah nama baru. 

Bagaimana awal perkenalan kalian satu sama lain?

Sam mungkin pertama kali kenal Christie saat dia pacaran dengan kakaknya, Josh dan Charlie bertemu di sebuah kompetisi band di Auckland saat mereka berumur 17 tahun, Charlie bertemu Sam di sebuah toko gitar di Christchurch, Christie bertemu Josh dan Charlie saat dia masih menyanyikan lagu-lagu Fleetwood Mac di sebuah cover band, dan Sam pertama kali bertemu Josh di latihan band pertama kami sebagai Yumi Zouma, haha!

Siapa saja influens musikal bagi band ini?

Influens kami umumnya berkisar di musisi Selandia Baru yang kami dengarkan saat beranjak dewasa seperti Bic Runga, The Mint Chicks, Cut Off Your Hands, Anika Moa, dan Carly Binding. Tapi untuk album ini, kami lebih terpengaruh dari Yoncalla sebagai tempat itu sendiri serta pengalaman kami saat tur pertama kali untuk mempromosikan dua EP kami.

Kalian sering dideskripsikan sebagai dream pop, bagaimana pendapat kalian? Sebelumnya Charlie dan Josh juga sempat membuat band disco punk, apa ada pengaruh yang terbawa?

Kami selalu kesulitan saat menjawab soal genre karena kami berempat punya ide masing-masing tentang musik yang ingin kami buat di band ini. Untuk sekarang tidak ada korelasi antara YZ dengan proyek lama kami, kecuali mungkin solo project Sam, Zen Mantra, yang menjadi sumber kreativitas untuk beberapa lagu YZ seperti “Remember You At All” dan “Better When I’m By Your Side”.

 

Dari sekian banyak tempat di dunia, kenapa kalian memilih Yoncalla sebagai judul album ini?

Haha, ceritanya sangat panjang! Tapi akan kami coba singkat. Tahun lalu kami ke US untuk tur musim panas mempromosikan EP II, kami harus berkendara dari Vancouver ke Seattle untuk main di Capitol Hill Block Party. There was a massive traffic jam and the Canadian border was on lockdown. Dari yang seharusnya hanya butuh 3-4 jam perjalanan berubah menjadi 12-13 jam dan kami harus mengatur ulang jadwal kami. Kami berhasil tiba tepat di jam seharusnya kami main, but had a great gig. Masalahnya, kami harus menukar mobil rental kami di Seattle, tapi kami melewati jadwal drop-off  Dan saat itu tidak ada lagi rental yang tersedia karena memang sedang banyak festival di Seattle. Itu artinya kami harus bermalam di Seattle, tapi semua hotel dan Air BnB juga sedang penuh. Akhirnya kami terpaksa tidur di lantai rumah seseorang yang baru kami kenal. Besoknya, semua mobil rental juga sudah habis disewa, sehingga kami naik kereta Amtrak untuk show kami berikutnya di Portland dan tiba persis di jadwal show. Setelah itu, kami akhirnya punya waktu kosong untuk beristirahat. Kami akhirnya menyewa Air BnB di antah berantah Oregon dan menghabiskan dua hari dengan berenang di sungai dan memikirkan soal album debut kami. It was just the most peaceful and best time ever, and a lot of the ideas for the album came from that time, so that’s why we called it Yoncalla!

yoncall

Yoncalla terdengar sangat intim dan penuh nostalgia, apa yang menjadi tema besar di album ini yang menjadi perekat semua lagu di dalamnya?

Ide utamanya adalah ini pertama kalinya kami merekam album di satu tempat secara bersama-sama. Sebelumnya, kami mengerjakan bagian masing-masing di negara yang berbeda dengan zona waktu yang berbeda juga. Untuk Yoncalla, semua eksperimen musik kami lakukan bareng in real time, in front of everyone else, yang ternyata bisa bikin frustrasi juga jika sesuatu tidak terjadi seperti yang kami bayangkan di kepala, atau jika proses rekaman berjalan terlalu lama. But in the end, kami menyadari terkadang kita harus to let that go if you’re going to get anything done. Pada akhirnya semua lagu akan terdengar berbeda dari yang kami bayangkan sebelumnya, jadi mengeluh soal hal-hal kecil sebetulnya hanya membuang-buang waktu. Begitu kami menyadari hal itu, semua berjalan dengan lancar dan merekam lagu bareng menjadi proses yang menyenangkan karena untuk pertama kalinya kami bisa saling melempar ide-ide random secara langsung dan tak akan terjadi jika kami masih menulis sendiri-sendiri.

Salah satu lagu paling menarik di Yoncalla adalah “Haji Awali” dengan judul yang unik, apa cerita di balik lagu itu?

Nama Haji Awali berasal dari nama kompleks apartemen dan sekolah saat Josh tinggal di Timur Tengah, tepatnya di Bahrain. Itu adalah salah satu lagu paling susah bagi kami, salah satu lagu yang kami buat paling pertama tapi selesai paling terakhir. Lagu ini hampir tidak masuk ke album, tapi sekarang menjadi lagu favorit kami!

Bagaimana kalian mendeskripsikan setting yang sempurna untuk mendengarkan album ini?

Duduk di bukit rumput di daerah west coast, di tepi sungai, bersantai bersama teman-teman menikmati homemade salad setelah hari yang melelahkan.

 

Sebagai band yang tadinya tidak berencana untuk tampil live, bagaimana kalian beradaptasi dengan tur dan apa rasanya bagi kalian untuk tampil di atas panggung?

It was normal for us karena kami pernah main di heavily touring band juga sebelum YZ, tapi tetap saja rasanya agak menegangkan saat akan tampil pertama kalinya di sebuah venue besar di luar negeri. Tapi hal itu juga menjadi motivasi yang mendorong kami untuk menjadi band sesungguhnya dengan cepat, and now we love it! Setelah beberapa minggu, kami pindah dari opener menjadi headline untuk show kami sendiri di depan fans kami, which is always way more fun. Beberapa respons terbaik yang kami dapat adalah saat main di Tokyo untuk pertama kalinya dan mendapat encore pertama kami (twice!) dan tampil McAllen, Texas di Galaxy Z Festival di mana panggung kami diserbu fans yang naik panggung untuk berdansa bersama kami.

 

Dari sekian banyak gigs yang sudah kalian lakukan, mana yang paling memorable?

Mungkin show pertama kami di kota asal kami di Christchurch. Kami tidak menyangka orang mengenal kami, jadi kami main di bar milik teman kami dan sebetulnya cuma buat latihan sebelum tur dunia pertama kami di 2014. Tapi hampir seisi kota datang dan bar itu benar-benar disesaki orang yang ikut bernyanyi lagu-lagu yang kami sendiri masih belajar memainkan secara live! It was an incredible experience that we couldn’t really understand!

 

Apa yang paling kalian rindukan dari kota asal kalian?

Keadaannya sebelum gempa bumi di 2011. Christchurch tadinya adalah salah satu tempat paling indah di Selandia Baru, tapi sekarang terlihat seperti parkiran mobil yang terbengkalai.

 

Apa satu hal yang akan disepakati oleh kalian semua?

Probably nothing! We are all very diverse in our opinions, haha!

http://www.yumizouma.com/

Book Club: Interview with Dea Anugrah

Menyoal masa kecil, Dea Anugrah mengaku memiliki banyak cita-cita. Mulai dari pemain sepakbola, musisi rock, anggota sirkus keliling, hingga Pokemon master. Namun, berawal dari obrolan bersama guru Bahasa Indonesia saat SMA serta melahap koleksi perpustakaan sekolah yang meliputi The Old Man and the Sea, Huck Finn, dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, pria 25 tahun asal Pangkal Pinang tersebut terpancing untuk menulis puisi, esai, dan cerpen yang berlanjut sampai hari ini. Karyanya telah tersebar di berbagai media baik cetak maupun online dan ia pun berkesempatan tampil di festival sastra sekelas Ubud Writers & Readers Festival 2013 di Bali bahkan sebelum merilis buku puisi pertamanya, Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya di tahun 2015 lalu. Tahun ini, setelah menuntaskan studinya di jurusan Filsafat UGM dengan tugas akhir tentang pemikiran Arthur Schopenhauer, ia pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai wartawan dan merilis Bakat Menggonggong, sebuah kumpulan 14 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu 2012-2016 di mana setiap cerita menunjukkan eksplorasi gamblangnya dalam teknik bercerita yang beragam.

img_20160308_025129

Hai Dea, apa kabar? Bagaimana biasanya kamu memperkenalkan dirimu dan profesimu?

Halo, Alex. Kabarku baik. Untuk keperluan publikasi, biasanya aku mencantumkan keterangan bahwa aku menulis puisi, cerpen, dan esai dalam bahasa Indonesia dan sedikit informasi tentang buku-bukuku (Misa Arwah dan Bakat Menggonggong).

Bagaimana biasanya kamu memulai hari dan apa yang menjadi kegiatan keseharianmu belakangan ini?

Sekarang aku bekerja sebagai wartawan. Jadi, kegiatan utamaku sehari-hari, setelah bangun tidur sekitar jam 12 siang (hehe), ialah mengetik berita.

Di titik apa kamu serius menulis secara profesional?

Kalau profesional yang kamu maksud adalah sekadar mendapatkan uang dari menulis, kukira itu bukan hal yang serius, bukan hasil menimbang-nimbang sampai sesak napas selama empat harmal atau semacamnya. Aku mengirimkan tulisan-tulisan ke koran dan majalah, mereka memuatnya, lalu membayarku. Tapi kalau profesional berarti menjadikan menulis sebagai mata pencarian utama, aku belum, dan mungkin tidak bakal, menjerumuskan diriku sendiri ke dalamnya.

Seorang teman pernah bercerita bahwa bukunya cuma terjual 59 eksemplar di bulan pertama setelah diterbitkan. Sila bayangkan situasi bulan-bulan berikutnya, ketika orang yang membicarakan buku itu makin sedikit. Dan pengalaman temanku itu bukan kasus langka di Indonesia.

Boleh cerita soal Bakat Menggonggong? Berapa lama proses pembuatannya sampai selesai dan apa yang menjadi tema utama/benang merah dari kumpulan cerpen ini?

Karena berbentuk kumpulan, pembuatan Bakat Menggonggong santai sekali. Tidak seperti orang mengerjakan novel atau traktat, misalnya, yang mesti menulis secara rutin setiap hari selama berbulan-bulan atau lebih. Belasan cerita pendek dalam buku itu kutulis dalam rentang 2012-2016 dan hampir seluruhnya sudah terbit secara terpisah di pelbagai media.

Sebagaimana tertulis di sampul belakang, yang “mengikat” cerita-cerita yang bermacam-macam dalam buku itu adalah suara naratornya. Dalam hampir setiap cerita, si narator cerewet dan sinis dan mulutnya agak tercela. Selain itu ada kesamaan “semangat”, yakni penjelajahan bentuk dan teknik penyampaian cerita.

 

Siapa sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk dirimu yang sekarang?

Teman-teman dekat, para penulis yang bukunya kubaca, pacar dan bekas pacar, keluarga. Aku tidak tahu siapa yang memberikan pengaruh paling banyak.

 

Tanpa berpikir terlalu lama, tolong sebutkan satu nama penulis favoritmu yang terlintas beserta alasannya.

Ernest Hemingway. Dia penulis besar yang karyanya kubaca paling awal. Dan sampai sekarang, setiap kali membaca buku-bukunya aku merasa mendapat pelajaran baru tentang menulis dan hidup dan apa saja.

Sejauh ini apa hal yang paling disukai selama menjadi penulis?

Ketika menemukan hal-hal yang bisa kusadap dari buku-buku bagus dan ketika bertemu dan berkumpul dengan teman-teman yang pintar dan menyenangkan. Kupikir dua jenis pengalaman itulah yang paling kusukai. Kalau tidak menulis, mungkin aku tidak akan mengalami keduanya.

Percaya dengan yang namanya writer’s block? Kalau iya, bagaimana caramu mengatasinya?

Writer’s block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja.

Bagaimana kondisi yang ideal bagi Dea untuk menulis?

Aku mudah terganggu oleh bunyi-bunyian, terutama suara orang, wabil khusus suara anak kecil, dan bau tidak enak. Di luar itu kurasa tidak ada masalah, keadaan apa pun cocok-cocok saja buat menulis. Masalahnya, sekalipun kondisi di sekitarku ideal, menulis tidak pernah terasa mudah.

 

Apa pengaruh sosial media/internet untuk dirimu, baik secara personal maupun profesional?

Internet jelas sangat penting untuk orang-orang di negara dunia ketiga, termasuk para penulisnya. Tanpa situs-situs file sharing, misalnya, aku pasti kekurangan bahan bacaan dan tontonan. Internet membuat persebaran pengetahuan jadi berkali-kali lipat lebih murah, cepat, dan luas.

Perkara media sosial agak ruwet. Pada satu sisi ia memudahkan kita bergaul dan berjualan, tapi di sisi lain ia menimpuk kita dengan banyak sekali urusan yang kita tidak perlukan. Media sosial bisa menggiring seorang penulis untuk menulis seperti keinginan khalayak alias menjadi penyambung lidah netizen. Apakah perbedaan netizen dan gerombolan biri-biri? Kadang, suara biri-biri enak didengar dan perlu.

Menurutmu, di zaman media sosial seperti sekarang, masih perlukah seorang penulis bergantung pada toko buku/penerbit untuk menjual karyanya?

Perlu. Sejauh yang kualami, berjualan sendiri itu melelahkan sekali, terutama urusan mengirimkan buku kepada para pemesan.

Seberapa sering kamu menilai buku dari sampulnya?

Cuma sesekali dan patokan yang kupakai tidak terlalu tinggi. Selama tidak keterlaluan buruknya, aku bisa maklum. Aku lebih sering menilai buku dari nama penulis yang tertera di sampulnya, sebab yang fana adalah waktu, penulis jelek abadi. Hehe.

Banyak yang mengira dirimu perempuan based on your name. Seandainya kamu jadi perempuan untuk satu hari, apa hal pertama yang ingin kamu lakukan?

Memeriksa apakah aku tetap menyukai hal-hal yang kusukai dan tetap tidak menyukai hal-hal yang tidak kusukai. Seandainya aku jadi mengagumi SBY dan senang mendengarkan lagu “Tubuhku Otoritasku” dan membenci rokok, misalnya, kupikir aku tidak bakal tahan.

 

Selain menulis, apa lagi hal yang suka kamu lakukan?

Membaca, menonton, main videogame, dan tidur. Khusus soal tidur: tentu semua orang terbiasa tidur, tapi aku tidur seperti kacung tenis mengejar bola dan seperti rohaniwan memikirkan hari kiamat dan seperti wartawan membaca tulisannya sendiri. Dalam kata-kata lain, aku tidur seolah-olah di dunia ini tidak ada urusan yang lebih penting daripada tidur.

Jika bisa memilih satu ceritamu untuk difilmkan, cerita apa yang kamu pilih dan siapa yang akan kamu pilih untuk menyutradarainya?

Tamasya Pencegah Bunuh Diri, Alejandro Jodorowsky atau Hitoshi Matsumoto.

 

Apa satu hal yang ingin kamu pelajari/kuasai lebih dalam?

Kupikir yang paling mendesak adalah belajar bahasa asing selain Inggris, supaya aku bisa mengakses lebih banyak bacaan.

Apa rencana selanjutnya untuk saat ini?

Menulis novel.

 

Terakhir, boleh berikan rekomendasi lima buku favoritmu beserta alasan singkat untuk masing-masing buku?

orang2

Orang-Orang Bloomington

Budi Darma

Satu dari sedikit sekali buku yang akan bertahan andai suatu saat kesusastraan Indonesia memutuskan untuk bertaubat dan mensucikan diri dari karya-karya buruk.

 snows

The Snows of Kilimanjaro and Other Stories

Ernest Hemingway

Beberapa cerita pendek penting Hemingway terhimpun di dalam buku ini (“A Clean, Well-lighted Place”, “The Short Happy Life of Francis Macomber”, dan “Fifty Grand”).

pedro 

Pedro Paramo

Juan Rulfo

Gabriel Garcia Marquez mengaku sanggup menuturkan ulang novel ini, baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan. Tidak mengherankan, sebab, dilihat dari sisi mana pun, novel ini bagus sekali.

 bartleby

Bartleby & Co.

Enrique Vila-Matas

Novel ensiklopedik tentang para penulis yang memutuskan untuk tidak atau berhenti menulis. Salah satu buku paling menarik yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir.

 maps

Map: Collected and Last Poems

Wislawa Szymborska

“Saat kuucapkan hari depan, suku katanya yang pertama telah jadi milik masa silam,” tulis Szymborska dalam “The Three Oddest Words”. Buku ini memuat sekitar 250 puisi Szymborska dalam bahasa Inggris, mulai dari yang termahsyur seperti “Love at the First Sight”, “On Death, Without Exaggeration”, dan “Nothing Twice” hingga puisi-puisi yang ditulisnya menjelang kematian.

Foto oleh: Saila Rezcan.

http://www.dea-anugrah.com

 

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

Little Miss Sunshine, An Interview With Zahara Davis

Dari Bali sampai ke West Coast, model belia Zahara Davis membawa irresistible beauty dan effervescent charm ke dunia fashion yang ia geluti sejak dini. Fine, fresh, fierce, she got it on lock! Foto oleh: Andre Wiredja.

dsc01217

Bayangkan jika pada suatu hari kamu hanyalah gadis berumur 14 tahun yang sedang asik melahap Big Mac di sebuah shopping mall, seseorang dari model agency menghampiri dan memberimu kartu nama, and next thing you know, kamu berjalan di runway prestisius fashion week dunia, menjadi Victoria’s Secret Angel, mengencani pria-pria seperti Leonardo DiCaprio dan Tom Brady serta menjadi model dengan bayaran paling mahal di dunia seperti yang dialami oleh supermodel Gisele Bündchen. Skenario yang hampir mirip juga terjadi untuk Kate Moss yang di usia 14 tahun menarik perhatian seorang scouting agent dari Storm Model Management saat ia berada di bandara JFK New York sebelum akhirnya menjadi salah satu model paling iconic di dunia.

Sekelumit cerita di atas mungkin contoh cerita ‘discovery’ yang sama klisenya dengan cerita seorang gadis mengantarkan temannya untuk casting namun justru ia yang menjadi bintang (seperti yang dialami oleh Adriana Lima dan Gemma Ward misalnya). Sebuah anekdot di dunia modelling yang terdengar seperti dongeng, but it’s really happened and never gets old. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seorang scouting agent dari agensi modeling berani mempertaruhkan kepercayaan kepada seorang gadis muda yang hanya ia lihat sekilas di random places. But still, kita terus mendengar cerita tentang gadis yang tadinya bukan siapa-siapa breaks into the industry dan menjadi model tenar thanks to street-scouting. The chances are odd but it’s not impossible.

It’s the girl who never thought she could who gets discovered. The prettiest girl in school doesn’t always make the best model,” ujar Ivan Bart, seorang top agent dari IMG Models, yang pernah menaungi Gisele Bundchen, Heidi Klum, dan Kate Moss. Pada kenyataannya, dari sekian banyak pretty faces in the crowd, memang tidak ada jaminan jika wajah cantik dan postur semampai saja cukup untuk membuatmu menjadi the next big thing dalam industri modeling yang sangat kompetitif. Just like any other It Girls, the It models juga diberkahi that ‘special oomph’, the ‘je ne sais quoi’, the ‘x-factor’, dan istilah lainnya untuk mendeskripsikan pesona natural dan magis yang dimiliki beberapa gadis remaja yang membuat mereka stands out in the crowd dengan begitu effortless dan membuat orang-orang tergila-gila. Seperti yang dimiliki Zahara Davis, seorang model muda dan girl crush yang siap membuatmu terobsesi dan menjadikan dirinya sebagai ‘goals’.

Just like any other crushes in the social media era, saya pertama kali mengetahui sosok Zahara justru dari akun Instagram miliknya (@zaharadavis) yang saat artikel ini ditulis telah memiliki 32.2K followers. Sama seperti umumnya model generasi sekarang yang kerap disebut sebagai “The Instagirls” (Cara Delevingne, Kendall Jenner, Gigi Hadid, Fernanda Ly, etc) yang dengan gamblang menunjukkan personality mereka lewat social media dan membuat mereka terasa lebih approachable dan relatable, Zahara juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapapun tergoda untuk scrolling down her feeds dan menekan tombol follow dengan cepat. Saya ingat yang pertama kali tercetus di benak saya adalah “Wow, this girl is drop dead gorgeous!” dan lebih terkejut lagi saat mengetahui jika dirinya adalah seorang model yang kala itu berdomisili di Bali.

Diberkahi oleh kulit semanis karamel yang eksotis, perfect bikini body, facial feature unik paduan genetik Native American, Saint Lucia, dan Inggris yang mengalir dalam darahnya, gadis yang dilahirkan di Maui, Hawaii dan dibesarkan di Bali ini memulai karier modelingnya sejak ia ditemukan oleh Jules Henry, CEO dan founder dari Fauve Agency sekitar tiga tahun lalu saat ia masih berumur 13 tahun. Di bawah naungan model management yang berbasis di Bali tersebut, Zahara mengembangkan talenta naturalnya sebagai model paling muda di antara jajaran roster lainnya seperti Salvita DeCorte, Helene Jansen, Reti Ragil, Dara Warganegara, Drina Ciputra, dan model-model papan atas lainnya di Indonesia saat ini.

Blessed with good genes itu sudah pasti, namun berbekal kerja keras, professionalism dan work ethic yang sudah dibangun dari usia dini, tidak butuh waktu lama bagi Zahara untuk menjadi sensasi baru di skena fashion dengan menjadi muse bagi banyak fashion photographer terkenal dan muncul di berbagai editorial majalah-majalah mode prestisius. Kini di umurnya yang baru saja menginjak 16 tahun, Zahara telah memiliki cukup portofolio yang akan mengundang decak kagum siapa saja. Selain Fauve, saat ini ia juga diwakili oleh agensi internasional Next Management yang membuka peluang pekerjaan internasional lebih lebar baginya. Setahun terakhir ia telah malang melintang ke Paris, Los Angeles, dan New York dan bekerja untuk klien-klien besar seperti This Is A Love Song, NYLON US, Urban Outfitters, Glamour US, Billabong, dan yang menjadi salah satu career highlight-nya sejauh ini: Dipotret fotografer legendaris Bruce Weber untuk editorial berjudul “Reach Out and Touch Somebody’s Hand”  di Vogue Italia edisi April 2016 bersama model-model internasional seperti Ajak Deng, Mica Arganaraz, Fare Fares, Gelila Assefa, Anushka Sharma, dan Shehkar Jah.

Keputusan menjadikan Zahara sebagai cover edisi Summer tahun ini muncul secara spontan ketika fotografer Andre Wiredja bertemu Zahara di Bali dan melakukan test shoot. Tanpa ragu, ketika Andre melempar ide untuk memotret Zahara, kami pun langsung menyambutnya. Walaupun sayangnya saya tidak bisa bertemu dan mewawancarainya langsung, semua testimoni dari orang-orang yang saya dengar tentang Zahara selalu bernada positif. Semua sepakat jika Zahara adalah sosok berkepribadian, down to earth, menyenangkan untuk bekerjasama, dan memiliki masa depan cemerlang di bidang yang ia geluti sekarang. Dari apartemennya di Los Angeles, Zahara pun mengungkapkan beberapa sisi dalam dirinya lewat balasan email yang ia kirim untuk NYLON. Ready to know her better?

dsc01581

Hai Z, jadi apa yang mendorongmu terjun ke dunia modeling? Saya selalu ingin melakukannya, something I had a passion for. Saya mulai modeling bersama Juls saat saya berumur 13 tahun dan mendapat kesempatan bertemu dengan fotografer Nicoline Patricia yang kemudian banyak mendidik saya soal pekerjaan sebagai model. Sebelum itu saya juga sudah melakukan beberapa pekerjaan modeling, namun saya rasa itu titik di mana karier saya benar-benar dimulai. And since then I haven’t really stopped. Both my mum and my grandma were in the fashion industry, so that did have an impact on what I’m doing now.

Bagaimana akhirnya kamu dikontrak Fauve Management dan Next Management? It was all at the right time, with the right people and things just happened perfectly.

Apa hal yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari modeling? Saya suka kesempatan traveling ke berbagai tempat di dunia dan bertemu banyak orang-orang berbakat namun saya harus bilang jika bangun dan bekerja dari mulai jam 4 pagi isn’t the cherry on my Sunday.

Bagaimana rasanya melihat foto diri kamu sendiri di media? Tergantung fotonya sebetulnya tapi saya jelas bukan the best judge untuk menilai diri saya sendiri karena kebanyakan foto yang saya kurang sukai justru malah disukai banyak orang lain.

Boleh cerita sedikit soal pengalamanmu bekerja bersama Bruce Weber untuk Vogue Italia? Saya sampai harus mencubit diri saya sendiri saat tiba di lokasi pemotretan agar yakin jika itu bukan mimpi. Salah satu pengalaman terbaik saya sebagai model sejauh ini. Semua orang sangat friendly dan menyenangkan untuk bekerjasama.

Susah nggak membagi waktu antara karier dan akademis? Ya, lumayan susah karena saya harus selalu berpergian, but somehow I manage to work it out. Home school is pretty mobile.

Do you consider yourself as world citizen? Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu tempati, mana yang kamu anggap sebagai “rumah”?

I am a citizen of the world, tapi saya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Indonesia. Bali is where I will always call home.

Apakah kamu punya kakak atau adik? Siapa supporter paling besar di keluargamu? Saya anak satu-satunya dan dibesarkan oleh ibu saya. She is most definitely my biggest fan. Dia selalu mendukung saya 100%

Apa yang paling kamu rindukan dari Bali? Bagaimana kamu mendeskripsikan perfect night out di Bali? Saat saya di Bali, itu biasanya saya sedang liburan dari semua hal lain. Itu waktu bagi saya untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman saya. Quiet nights in are my favorite there.

Apa hal favorit yang kamu lakukan di musim panas?

My favorite is to island hop between Indonesia and all the little islands.

 

What’s your favorite summer memory? I now go every year to Glastonbury, which is coming up soon and is my favorite festival of summer so far.

 

What do you think about summer fling? Not on the top of my list.

dsc01431

Saya pernah lihat salah satu posting di Instagram milikmu tulisan “Those who criticise our generation forget who raised it”, kalau bagi kamu sendiri apa rasanya menjadi seorang model dari generasi millennial di era media sosial seperti sekarang? Media sosial telah menjadi satu hal yang berpengaruh di industri fashion dan saya pun menjadi bagian darinya, tapi call me old fashion but it was a lot easier for models back when it didn’t matter how many likes your Instagram post got. 

Seberapa penting social media untuk kehidupan sehari-harimu? Saya hanya punya akun Instagram dan Snapchat. Kalau kamu menemukan akun social media selain dua itu atas nama saya, kemungkinan besar mereka adalah fake accounts. Saya berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.

Apakah kamu termasuk morning person atau evening person? Depends how the crowd is! As long as I’m with good people then I can do either.

Couch potato or gym fanatic? Bagaimana caramu agar tetap fit? Gym! Without a doubt. Tapi saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan nutritionist dan trainer saya Melanie dari Motion. Saya selalu excited untuk kembali latihan bersamanya setiap saya di Bali.

Apa kamu punya signature style yang menjadi andalanmu? Setiap hari saya bangun dengan mood yang berbeda. Saya tidak bisa bilang saya punya satu particular style, but it’s always me.

Siapa model favoritmu? Naomi Campbell dan Candice Swanepoel.

Selain modeling, hal-hal apa lagi yang kamu sukai? Membaca, menulis, traveling, musik, nutrisi dan healthy living.

 

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini? Saya selalu terobsesi dengan every healthy thing on the market, never gets old to me.

Musik apa yang biasanya ada di playlist personalmu? Rap dan R&B adalah favorit saya. My top band would probably be Destiny’s Child or TLC.

How about the beauty regime? Produk apa yang menjadi favoritmu? Saya sangat perhatian soal produk yang akan saya pakai untuk kulit saya. I love organic products. Saat ini saya menyukai:

– All lush bath bombs 

– Pure shea butter lip balm

– Hemp seed hair oil (amazing)

– Sea salt body scrub

– BEST cream I use is Bali browning lotion 

What makes you laugh? Life.

What makes you cry? LIFE.

Apa hal paling mendebarkan yang pernah kamu lakukan? Bungee jumping, it was crazy.

Apa sifat yang paling kamu sukai dari dirimu sendiri? I’m just a happy go lucky girl.

Kalau yang paling tidak disukai? Being happy go lucky, sometime doesn’t always work out, you may end up in a ditch, ahaha!

Apa yang menjadi ketakutan terbesarmu? Tidak bisa meraih target-target yang telah saya buat.

Secret skill? Staying balanced through it all the craziness that I love.

Apa saran terbaik yang pernah kamu terima? Keep your eyes on the stars and your feet on the ground.

Do you collect something? Memories.

Rencanamu selanjutnya? Reaching my goals and dreams.

dsc01753

 

Easy A, An Interview With Ariel Nayaka

Tanpa perlu menjual kontroversi kacangan dan komentar-komentar miring, rapper muda Ariel Nayaka menunjukkan kelasnya sendiri sebagai bintang baru layak simak di skena Hip-Hop lokal just like a Straight-A student.

Setelah seakan mati suri sekian lama dari radar mainstream, dengan semakin banyaknya nama rapper dan beatmaker lokal yang naik ke permukaan, releasing their tapes, doing gigs here and there, dan crowd yang semakin apresiatif, I think it’s safe to say our local Hip Hop scene is on the rise again and Ariel Nayaka is proud to be part of it. Menghabiskan masa pubernya di Houston, Texas, cowok 22 tahun ini mengaku sudah terekspos pada kultur Hip Hop sejak dini, namun album 50 Cent lah yang menjadi awal dari segalanya. “Basically gue lagi road trip sama keluarga dan stuck di mobil selama 12 jam lebih. Sepanjang perjalanan, hiburan gue cuma album 50 Cent yang Get Rich or Die Tryin’. That was also the first time I ever listened to Gangsta Rap and I was hooked on it immediately. Album itu yang membuka pintu buat gue untuk eskplor Hip Hop, tapi album yang benar-benar mendorong gue untuk mulai nulis lirik adalah album Eminem yang The Eminem Show,” ceritanya.

Sempat main di genre metal dan post-hardcore emo, minatnya pada Hip Hop bangkit lagi saat ia kembali ke Jakarta. Secara otodidak dari video YouTube, ia mulai mempelajari proses rekaman dan menulis lirik sendiri di atas free beats yang ia dapat di internet lalu mengunggahnya ke SoundCloud. After some singles, videos, and one mixtape, tahun ini dengan bangga Nayaka mempersembahkan mixtape anyar berjudul Curriculum Vitae. Seperti yang disugestikan oleh judulnya, album berisi 12 track ini adalah rangkuman dari skill yang dimilikinya. Berkolaborasi dengan beberapa rapper dan beatmaker sebayanya seperti Ben Utomo, Scamy, dan Greybox, Nayaka menunjukkan bermacam warna Hip Hop dan tema lirik, mulai dari old school, new school, R&B, hingga trap, yang semuanya dikemas dengan lafal Inggris yang fasih, wordplay yang asik, dan produksi yang rapi.

To complete this exciting year, single terbarunya bersama produser Emir Hermono yang bertajuk “3Am In Jakarta” dengan video yang ia rekam sendiri menjadi topik viral, menarik respons positif, dan mengantarkan namanya ke pendengar yang lebih luas tak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dengan tampil di Good Vibes Festival, di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu. Not stopping for rest and relax, he’s already got so much more to show and we can’t wait for it.

img_5054

So, what are the musical influences for you?

 

Kalau musik secara general, gue akan sebut Michael Jackson. Gue ingat nonton live performance dia bawain “Smooth Criminal” when I was 3, straight up from Laser Discs. Tapi kalau Hip Hop, pasti berubah setiap minggu, haha. Usually I’ll listen to the “new age hip hop” era in the States seperti Lil Yachty, Lil Uzi Vert, Playboi Carti. But then again there are also those moments where I feel like I need me some Bryson Tiller, Partynextdoor, Drake vibes as well. And those melodic sappy ones have been influencing me HEAVY lately.

cv

Tell me about Curriculum Vitae, apa konsep utama dari album ini?

 

Jadi Curriculum Vitae ini dibuat dengan konsep “This is my CV into the music industry”, that’s why I’ve got a couple different type of “Hip Hop Styles” in one body of work to show my diversity and overall sounds that I am capable of. Lagu pertama yang gue bikin yang eventually masuk ke album direkam sekitar April 2015.

Waktu itu gue sebetulnya belum berencana rilis mixtape/album karena di Januari 2015 gue baru ngerilis mixtape yang judulnya To Each His Own. Tapi pas summer 2015, gue ke Jerman selama setengah tahun dan gue bawa recording equipment gue ke sana. I travelled around Europe with my friends, and along the way I took in influences from my surroundings and applied them to my music.

Sekitar 70% rekaman vokal di album ini gue kerjain di Eropa. And as for the album cover, it was a picture of a piece of the Berlin Wall in the East Side Gallery that simply said “Curriculum Vitae”. Itu foto gue literally snapped with my iPhone, sent it to my sister to edit a little, and BOOM! That’s the album cover, haha.

Gimana biasanya proses songwriting berlangsung buat lo dari awal sampai jadi?

I always get confused everytime anyone asks me this question, because its always different every single time. Sometimes someone would send me a beat and I’ll just write lyrics to that beat and I’ll record. But some other times I could just be anywhere and I’d get ideas and I would write them down in my Notes app on my phone. Just rhymes and/or random topics. You’d be surprised to see how much idea I have just laying there on my Notes app lol. Then when I do have the time, I would try to use those ideas and mash it together with an instrumental that flows well with the lyrics. To me, the process of songwriting cannot be stuck in just one method of formula. You have to constantly experiment with new sounds/topics. Getting out of your comfort zone is very important, because at the end of the day YOU HAVE to sound different than your peers.

Apa opini lo soal skena Hip-Hop lokal saat ini?

 

The Hip Hop scene in Indonesia is GROWING FASTER AND FASTER! The culture is moving really fast and I see it growing faster than it did with EDM back around 2010-ish. Banyak banget rapper baru yang muncul setiap bulannya and that’s awesome! Sekarang juga ada beberapa Hip Hop events di Jakarta di mana lo bisa ngeliat producer, rapper, DJ hanging out in one place as friends and vibing with one another. Cul De Sac is a collective of very talented young producers and DJs who make events as well. You can probably say that these guys are the ones that are running the underground Hip Hop scene in these weekly parties.

 

What’s the career highlight so far? Yang gue tau tahun ini lo ikut perform di Good Vibes Malaysia, how was it?

 

YES actually so far, performing in Good Vibes alongside Emir Hermono was a really crazy experience. Gue bikin lagu “3AM In Jakarta” bareng dia beberapa bulan lalu dan ternyata lagu ini lumayan booming di Kuala Lumpur, to the point that it actually got radio airplay. Lucunya, pas kita bawain lagu itu di Good Vibes, there were actually people singing and rapping along to the EXACT lyrics. Itu momen yang gila buat gue karena kalau dipikir, gue nulis lirik lagu itu di rumah gue di Jakarta, tapi gue bawainnya di negara lain dan orang-orang nyanyiin liriknya. That feeling right there is what I’ll always crave and that’s the reason that I make music now.

 

Selain musik, apa aja kegiatan sehari-hari lo?

MASIH KULIAH MAN! I mean it’s my last semester but I need to get this out the way first so I can focus on this music 100%. On a daily basis I usually just wake up, go to the gym, go back home and usually the homies would want to hang at my place. My place is where I do all of my recordings and usually we would all just hang out eventually come up with ideas for music.

What’s your dream collaboration?

 

Yo! If could choose anyone, I would want to have a song with Travis Scott on the hook, me doing 2 verses, Drake doing the last verse, and the overall production by Kanye West and Metro Boomin. Terus have DJ Khaled promote it HAHAHA! If I could get that done, I would die happily LOL.

Apa rencana selanjutnya?

Sekarang gue lagi ngerjain beberapa tracks bareng beberapa producers. Bantuin Emir Hermono di album barunya. I’m doing a joint EP with some very talented producers that I can’t tell u about right now and overall I’m just dropping music here and there. Just keep up on my social media accounts cause every announcement I make will go through there.

img_5038

Foto oleh: Willie William.

https://soundcloud.com/ariel-nayaka

IG: @ArielNayaka

Twitter: @ArielNayaka

YouTube: youtube.com.arielnayaka

Snapchat: arielnayaka

 

Picture Perfect, An Interview With Gianni Fajri

 

Berawal dari tugas membuat video dan foto promo untuk clothing brand saat mendalami Fashion Business di LaSalle College, Gianni Fajri menyadari jika menyajikan sebuah presentasi visual adalah pelampiasan sempurna bagi kreativitas dalam dirinya, apapun mediumnya. Sempat bekerja di sebuah fashion company, karier profesional gadis kelahiran Bandung yang akrab disapa Ghyan ini di bidang filmmaking dimulai saat ia dipercaya menggarap Behind The Scene dari Filosofi Kopi. Ditambah berbagai project seru lainnya seperti video campaign dan dokumentasi untuk beberapa clothing label maupun company hingga music video untuk Maliq & D’Essentials, Neonomora, dan LCDTRIP, namanya pun mencuat sebagai salah satu director muda dengan resume yang kian hari kian menarik perhatian. Kini, di usia 25 tahun, Gianni dikenal sebagai seorang film director yang memiliki production house sendiri bernama Maji Piktura, creative director dari sebuah creative studio bernama Anara, serta art director untuk PonYourTone. Her upcoming project? Sebuah debut film pendek berjudul Julian Day yang terinspirasi dari album milik band Elephant Kind. 

gianni

Tell me about your background, sejak kapan kamu tertarik pada directing/filmmaking dan apakah kamu mempelajarinya secara akademis atau otodidak?

My background was in a Fashion Industry, I went to LaSalle College majoring Fashion Business and have worked with several fashion company. Filmaking adalah media yang sempurna untuk melampiaskan kreativitasku. Berawal dari tugas kampus yang membutuhkan photo & video untuk promo brand baju, dari situ aku belajar sendiri dari mulai mengambil foto, edit foto sampai ke video. That’s when I started to learn and jump in into the film industry. The right word is otodidak.

Apakah dalam berkarya kamu berusaha memiliki satu ciri khas yang “Gianni banget”? Kalau iya, how would you describe it?

Beauty shoot, neon lights and dynamic shot (ghostly) and there must blue in it.

Siapa saja sosok visual maker yang influential bagimu?

Sofia Copolla, Terrence Malick, Gregg Araki, Nabil (music video director), Chan-wook Park, Wong Kar Wai.

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mencari inspirasi?

Being out of the circle, matiin handphone. Getting lost somewhere and talking with stranger/people randomly. Being sensitive with surroundings.

Sejauh ini, project apa yang paling berkesan bagimu dan kenapa?

Director Behind the Scene, Filosofi Kopi. Punya kesempatan berkarya & belajar di industri film kemudian dibayar pula, hahaha.

Bagaimana kamu melihat peran media sosial bagi kariermu?

Social media nowadays is very important apalagi di industri kreatif. Social media menjadi media promosi yang bisa membantu karya teman-teman sineas & seniman dilihat/didengar lebih luas lagi. Getting inspired and being inspired is what I’ve learnt in social media.

Apa advise terbaik yang pernah kamu dapat soal profesimu?

David Lynch salah satu director yang mempunyai pola pikir spiritual yang sangat menginspirasiku saat melahirkan karya. Ada dua quotes terbaiknya yang selalu kupegang teguh saat mulai berkreasi. Yang pertama: “If you stay true to your ideas, film-making becomes an inside-out, honest kind of process.” Dan yang kedua: “Every viewer is going to get a different thing. That’s the thing about painting, photography, cinema.” Berkarya dengan tujuan, jangan memikirkan yang lain because we’re not a Nutella jar, we cannot make everyone’s happy. So trust your guts, if you don’t feel like you’re doing it, then don’t.

What’s your current obsession?

Writing and walking. 

Benda apa saja yang selalu ada di tasmu?

Books, phone, lipstick, wallet and note book.

What do you love and hate the most about the creative scene in Jakarta right now?

Love: It’s growing! Banyak yang sudah mengapresiasi dan teknologi sudah mendukung. I’m sure it’s getting big kalau kita sama-sama mengapresiasi dan berkarya dengan jujur. Hate: I don’t do hate. But more to critical, kalau karya seni itu butuh proses. Banyak orang yang ingin cepat jadi hanya di layer pertama kemudian membodohi penikmatnya yang membentuk satu benchmark yang tidak jujur dan original.

Tell me about your dream project/collaboration?

Writing my own feature film yang mengangkat sisi humanisme dengan packaging yang sangat fresh.

Apa project selanjutnya yang bisa dibocorkan untuk saat ini?

Preparing my next film, hehehe. Still a secret tho. Well for this year, lagi persiapan buat TV series Viva Barista kedua (it’s a documentary about coffee, lifestyle & travel hosted by 3 boys: Rio Dewanto, Muhammad Aga, dan Roby Navicula) we did it the first time online on Metro TV. Should be exciting!

Gianni’s Watch List:

the-handmaiden-cannes

The Handmaiden

Craziest & exciting plot ever, should watch!

lost-in-translation-2

Lost in Translation

My forever favorite movie, in love with the soundtrack and what they called platonic love.

 knight-of-cups-bale-blanchett

Knight of Cups

Very poetical movie by Terrence Malick, if you feel like you’re in the mood of gloomy, should watch this movie,

viceland-vice-media

Viceland

YouTube channel yang dipimpin oleh Spike Jonze. Content yang sangat menarik untuk generasi millenials tentang social, politic & lifestyle!

death-proof

Death Proof

ITS VERY SATISFYING!

 

 

Practical Magic, An Interview With Canti Widyadhari from Foxglove Tarot

Terlepas dari pandangan skeptis terhadap hal yang berbau mistis, tarot reading telah menjadi satu aktivitas populer di berbagai acara, mulai dari bazaar, art market, restoran, pentas seni, or even at a party. Sosok tarot reader pun tak lagi identik dengan pakaian serba hitam dan tampilan klenik. Nowadays, tarot reader could be as stylish and sweet as the girl next door. Salah satunya adalah Canti Widyadhari, seorang tarot reader yang juga merupakan founder dan astrology writer dari sebuah online tarot reading service bernama Foxglove Tarot yang berbasis di Bali. “I started Foxglove Tarot karena waktu itu aku semacam dapat epiphany dari intuisi yang nyuruh aku pindah ke Bali untuk jadi tarot reader. At that time, I was having misfortune over misfortune yang lumayan bikin aku discouraged untuk nerusin karier aku di marketing, so I decided to go with the flow for once,” papar gadis kelahiran Jakarta, 24 September 1990 tersebut. Intuisi dan keberaniannya pun membuahkan hasil positif. Tak hanya menangani klien secara face to face maupun online, Canti yang kerap menjadi kontributor bagi beberapa platform seperti Magdalene dan The Murmur Journal saat ini juga sedang bersiap meluncurkan sebuah silver jewelry line yang ia beri nama COVEN.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada tarot dan apakah kamu belajar secara otodidak atau berguru ke orang lain? 

Aku mulai belajar reading dari tahun 2011, waktu itu awalnya belajar otodidak dulu tapi masih pakai buku. Aku tertarik untuk belajar tarot lebih dalam lagi karena waktu itu aku mulai belajar ilmu-ilmunya Wicca. Akhirnya aku mulai lepas bukunya ketika aku belajar dari seorang mentor yang basically sistemnya cuma nyuruh aku untuk dengerin intuisiku. It was a great and enlightening experience, and it got me to where I am today.

Apa cerita di balik pemilihan nama Foxglove Tarot?

The name is based on this flower called Foxglove (nama lainnya Witch’s Bell/Fairy Glove). Bunga Foxglove itu beracun, tapi kalau essence-nya bisa diolah dengan benar, bisa digunakan untuk healing. Sama saja dengan tarot reading atau ilmu-ilmu magic lainnya yang bisa dipakai untuk membantu atau untuk mencelakai orang lain tergantung intention-nya.

What is it that you love and hate about your job?

I love that I could use my gift to help others in need. Whether good readings yang beneran kejadian, atau klien-klien yang decided to take my advice and improve their lives, I’m happy and very grateful for this experience. Senang rasanya kalau aku dengar cerita dari klien yang bilang kalau they finally found their happy endings. What I hate about the job is the feeling that I need to be responsible and careful with my readings. Karena some people take the readings very seriously, dan kadang kalau reading yang kurang enak beneran kejadian, aku bisa merasa bersalah sekali. But I’m working on it by trying to reassure myself that life has its ups and downs. If the unpleasant reading comes true, it’s not my fault nor my client’s fault.

Apa kejadian paling memorable sejauh ini selama di Foxglove?

Waktu itu aku pernah jadi guest reader di pool party dan aku sukses baca 15 orang in a span of 3 hours. Yang memorable bukan cuma jumlahnya, tapi juga pertanyaan-pertanyaannya. I guess I would have never expected for clients to come to me with heavy life-changing questions in the midst of a pool party.

Mispersepsi apa yang paling menyebalkan dari pekerjaanmu dan bagaimana kamu meluruskannya?

Mispersepsi kalau tarot reader itu penipu. Biasanya sih yang skeptis-skeptis begini yang pernah punya pengalaman buruk dari tarot reader lain atau memang generally skeptical. Dulu aku selalu coba untuk debat atau cerita dari sisi aku untuk mengubah persepsi mereka. Tapi lama-lama, I decided to let them be. Everybody has their own opinion and perception of what’s real and not real. I realize that tarot reading is a very abstract concept and not everyone can agree with my reality, just like how I may not be able to agree with theirs.

What’s your current obsession?

Minimalist magickal sigil tattoo! Aku punya beberapa di jari and I’d love to add more!

Beside tarot and divination, what else you consider as your secret skill?

Cooking. It doesn’t sound that magical but I turned out to be a pretty good cook, haha!

Bagaimana media sosial memengaruhi kariermu?

It has affected my career greatly! Foxglove Tarot is online-based, so I always meet my clients through social media. It’s also a great platform for me to interact and open an enlightening discussion with fellow taror reading/astology enthusiasts.

If you could identify with one fictional character, siapa yang akan kamu pilih?

Phoebe dari serial Charmed. I love how adventurous and cheeky she is. I wish I have her divination skill too! It would be awesome to be able to receive premonition the moment you touch someone.

Apa saja rencana selanjutnya bagimu personally maupun untuk Foxglove?

I want to grow Foxglove and COVEN, while taking an astrology course so I can work as a certified astrology practitioner.

 

Canti’s essential items:

untitled 

Bohemian Cats tarot: My favorite tarot deck karena bisa dipakai untuk baca mundane questions dan energinya cocok sama banyak orang juga.

pyra

Orgonite: Untuk cleansing energi negatif sebelum dan sesudah baca tarot.

buckland

Buckland’s Complete Book of Witchcraft oleh Raymon Buckland: Salah satu buku pertama yang jadi guide aku pas mau mulai belajar witchcraft dan divination.

www.foxglovetarot.com

On The Records: Ikkubaru

Bermula dari sebuah bedroom project milik vokalis/gitaris/keyboardist/penulis lagu Muhammad Iqbal di medio 2011, ikkubaru (イックバル) yang namanya diambil dari nama “Iqbal” yang diterjemahkan ke bentuk Katakana adalah sebuah kuartet asal Bandung bergenre City Pop yang dilengkapi gitaris/vokalis Rizki Firdausahlan, drummer Banon Gilang, dan bassist Fauzi Rahman. Dengan influens dari solois Jepang seperti Tatsuro Yamashita dan Kadomatsu Toshiki serta band-band Inggris seperti Tears For Fears, Prefab Sprout, dan Pet Shop Boys, band ini meracik materi-materi easy listening penuh melodi catchy dengan lirik berbahasa Inggris seperti yang telah terangkum dalam album bertajuk Amusement Park. Uniknya, album berisi 10 lagu yang dirilis pertengahan tahun lalu tersebut justru lebih dulu dirilis oleh label musik Jepang dan mendapat sambutan positif dari pendengar musik di sana yang membuat mereka kemudian diundang untuk mengadakan tur Jepang selama seminggu penuh pada pertengahan Juni lalu. Here’s a little catch up bersama Iqbal sekembalinya mereka dari tur yang meliputi Fukuoka, Kobe, Osaka, dan Tokyo tersebut.

cfzmcvaumae8fxi

First thing first, apa definisi dari “City Pop” yang kalian usung?

City Pop itu menurut sumber yang saya dapatkan dari negeri aslinya adalah salah satu genre J-Pop pada tahun 80-an, di mana kita seolah-olah dibawa ke bayangan “suatu kota besar yang memiliki gedung-gedung tinggi”.

Bagaimana ceritanya album Amusement Park bisa dirilis oleh label Jepang?

Awalnya kami pernah kontakan dengan fan pertama orang Jepang. Dia mau bantuin kami di Jepang, sampai akhirnya dia mau jadi manager Ikkubaru untuk Jepang. Kami sepakat untuk dibuatkan record label menggunakan nama Hope You Smile Records yang diambil dari judul EP pertama Ikkubaru. Dan akhirnya Amusement Park pun rilis di bawah naungan Hope You Smile Records. Dia membantu kami untuk menjualnya di records store di Jepang seperti HMV, Disk Union, dan Tower Records. 

So how was the Japan Tour?

Ikkubaru Japan Tour 2015 kemarin bisa dibilang “The greatest experience in our live”, karena banyak yang nggak disangka oleh kami. Awalnya ada email masuk dari promotor Jepang namanya DUM-DUM LLP. Mereka menawarkan untuk tur di Jepang, semua akomodasi ditanggung oleh mereka. Tanpa panjang pikir kami langsung terima tawaran mereka. Semua proses dilalui dari bikin passport, visa, dan pesan tiket pesawat. Dan akhirnya kami berangkat pada tanggal 15 Juni tahun lalu.

Apa saja pengalaman menarik selama di sana?

Di sana kami berkolaborasi dengan artis lokal di tiap kota. Seperti tofu beats, okadada, Especia, Negicco, dan masih banyak lagi. Di sana sambutannya luar biasa, sangat jauh berbeda ketika kami sedang manggung di Indonesia. Fauzi sang pemain bass pun pernah terhenti permainan bass-nya di awal lagu “Love Me Again” ketika sedang perform di Keith Flack Fukuoka. Setelah ditanya ternyata dia memang “campur aduk” perasaannya ketika perform, karena kami tidak pernah menyangka sambutannya akan sehebat ini.

Kalian bisa dibilang “besar” terlebih dahulu justru di Jepang dibanding dalam negeri sendiri, how do you feel about that? Lalu bagaimana rencana kalian untuk memperkenalkan musik kalian ke scene lokal?

Kami sangat senang dengan keadaan seperti ini, akhirnya kami pun sadar karena wadah “City Pop” itu memang sangat ngetren di Jepang. Setelah mengobrol dengan salah satu musisi senior di Jepang, katanya kami memang sangat dicari oleh kultur musik di Jepang, dan musik yang saya ciptakan kebanyakan yang mendengarkan adalah orang tua, tetapi ada pula anak muda Jepang yang mendengarkannya. Jadi bisa dibilang City Pop kita realistic, begitu katanya. Untuk scene musik lokal saya hanya akan “go with the flow” saja. Entah saya akan terus memperbesar nama Ikkubaru di Jepang sampai benar-benar dapat “ditarik” ke Indonesia, atau kalau memang harus, kami hanya fokus di Jepang saja di bawah naungan label Jepang yang lebih besar.

https://ikkubaru.com/