Easy A, An Interview With Ariel Nayaka

Tanpa perlu menjual kontroversi kacangan dan komentar-komentar miring, rapper muda Ariel Nayaka menunjukkan kelasnya sendiri sebagai bintang baru layak simak di skena Hip-Hop lokal just like a Straight-A student.

Setelah seakan mati suri sekian lama dari radar mainstream, dengan semakin banyaknya nama rapper dan beatmaker lokal yang naik ke permukaan, releasing their tapes, doing gigs here and there, dan crowd yang semakin apresiatif, I think it’s safe to say our local Hip Hop scene is on the rise again and Ariel Nayaka is proud to be part of it. Menghabiskan masa pubernya di Houston, Texas, cowok 22 tahun ini mengaku sudah terekspos pada kultur Hip Hop sejak dini, namun album 50 Cent lah yang menjadi awal dari segalanya. “Basically gue lagi road trip sama keluarga dan stuck di mobil selama 12 jam lebih. Sepanjang perjalanan, hiburan gue cuma album 50 Cent yang Get Rich or Die Tryin’. That was also the first time I ever listened to Gangsta Rap and I was hooked on it immediately. Album itu yang membuka pintu buat gue untuk eskplor Hip Hop, tapi album yang benar-benar mendorong gue untuk mulai nulis lirik adalah album Eminem yang The Eminem Show,” ceritanya.

Sempat main di genre metal dan post-hardcore emo, minatnya pada Hip Hop bangkit lagi saat ia kembali ke Jakarta. Secara otodidak dari video YouTube, ia mulai mempelajari proses rekaman dan menulis lirik sendiri di atas free beats yang ia dapat di internet lalu mengunggahnya ke SoundCloud. After some singles, videos, and one mixtape, tahun ini dengan bangga Nayaka mempersembahkan mixtape anyar berjudul Curriculum Vitae. Seperti yang disugestikan oleh judulnya, album berisi 12 track ini adalah rangkuman dari skill yang dimilikinya. Berkolaborasi dengan beberapa rapper dan beatmaker sebayanya seperti Ben Utomo, Scamy, dan Greybox, Nayaka menunjukkan bermacam warna Hip Hop dan tema lirik, mulai dari old school, new school, R&B, hingga trap, yang semuanya dikemas dengan lafal Inggris yang fasih, wordplay yang asik, dan produksi yang rapi.

To complete this exciting year, single terbarunya bersama produser Emir Hermono yang bertajuk “3Am In Jakarta” dengan video yang ia rekam sendiri menjadi topik viral, menarik respons positif, dan mengantarkan namanya ke pendengar yang lebih luas tak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dengan tampil di Good Vibes Festival, di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu. Not stopping for rest and relax, he’s already got so much more to show and we can’t wait for it.

img_5054

So, what are the musical influences for you?

 

Kalau musik secara general, gue akan sebut Michael Jackson. Gue ingat nonton live performance dia bawain “Smooth Criminal” when I was 3, straight up from Laser Discs. Tapi kalau Hip Hop, pasti berubah setiap minggu, haha. Usually I’ll listen to the “new age hip hop” era in the States seperti Lil Yachty, Lil Uzi Vert, Playboi Carti. But then again there are also those moments where I feel like I need me some Bryson Tiller, Partynextdoor, Drake vibes as well. And those melodic sappy ones have been influencing me HEAVY lately.

cv

Tell me about Curriculum Vitae, apa konsep utama dari album ini?

 

Jadi Curriculum Vitae ini dibuat dengan konsep “This is my CV into the music industry”, that’s why I’ve got a couple different type of “Hip Hop Styles” in one body of work to show my diversity and overall sounds that I am capable of. Lagu pertama yang gue bikin yang eventually masuk ke album direkam sekitar April 2015.

Waktu itu gue sebetulnya belum berencana rilis mixtape/album karena di Januari 2015 gue baru ngerilis mixtape yang judulnya To Each His Own. Tapi pas summer 2015, gue ke Jerman selama setengah tahun dan gue bawa recording equipment gue ke sana. I travelled around Europe with my friends, and along the way I took in influences from my surroundings and applied them to my music.

Sekitar 70% rekaman vokal di album ini gue kerjain di Eropa. And as for the album cover, it was a picture of a piece of the Berlin Wall in the East Side Gallery that simply said “Curriculum Vitae”. Itu foto gue literally snapped with my iPhone, sent it to my sister to edit a little, and BOOM! That’s the album cover, haha.

Gimana biasanya proses songwriting berlangsung buat lo dari awal sampai jadi?

I always get confused everytime anyone asks me this question, because its always different every single time. Sometimes someone would send me a beat and I’ll just write lyrics to that beat and I’ll record. But some other times I could just be anywhere and I’d get ideas and I would write them down in my Notes app on my phone. Just rhymes and/or random topics. You’d be surprised to see how much idea I have just laying there on my Notes app lol. Then when I do have the time, I would try to use those ideas and mash it together with an instrumental that flows well with the lyrics. To me, the process of songwriting cannot be stuck in just one method of formula. You have to constantly experiment with new sounds/topics. Getting out of your comfort zone is very important, because at the end of the day YOU HAVE to sound different than your peers.

Apa opini lo soal skena Hip-Hop lokal saat ini?

 

The Hip Hop scene in Indonesia is GROWING FASTER AND FASTER! The culture is moving really fast and I see it growing faster than it did with EDM back around 2010-ish. Banyak banget rapper baru yang muncul setiap bulannya and that’s awesome! Sekarang juga ada beberapa Hip Hop events di Jakarta di mana lo bisa ngeliat producer, rapper, DJ hanging out in one place as friends and vibing with one another. Cul De Sac is a collective of very talented young producers and DJs who make events as well. You can probably say that these guys are the ones that are running the underground Hip Hop scene in these weekly parties.

 

What’s the career highlight so far? Yang gue tau tahun ini lo ikut perform di Good Vibes Malaysia, how was it?

 

YES actually so far, performing in Good Vibes alongside Emir Hermono was a really crazy experience. Gue bikin lagu “3AM In Jakarta” bareng dia beberapa bulan lalu dan ternyata lagu ini lumayan booming di Kuala Lumpur, to the point that it actually got radio airplay. Lucunya, pas kita bawain lagu itu di Good Vibes, there were actually people singing and rapping along to the EXACT lyrics. Itu momen yang gila buat gue karena kalau dipikir, gue nulis lirik lagu itu di rumah gue di Jakarta, tapi gue bawainnya di negara lain dan orang-orang nyanyiin liriknya. That feeling right there is what I’ll always crave and that’s the reason that I make music now.

 

Selain musik, apa aja kegiatan sehari-hari lo?

MASIH KULIAH MAN! I mean it’s my last semester but I need to get this out the way first so I can focus on this music 100%. On a daily basis I usually just wake up, go to the gym, go back home and usually the homies would want to hang at my place. My place is where I do all of my recordings and usually we would all just hang out eventually come up with ideas for music.

What’s your dream collaboration?

 

Yo! If could choose anyone, I would want to have a song with Travis Scott on the hook, me doing 2 verses, Drake doing the last verse, and the overall production by Kanye West and Metro Boomin. Terus have DJ Khaled promote it HAHAHA! If I could get that done, I would die happily LOL.

Apa rencana selanjutnya?

Sekarang gue lagi ngerjain beberapa tracks bareng beberapa producers. Bantuin Emir Hermono di album barunya. I’m doing a joint EP with some very talented producers that I can’t tell u about right now and overall I’m just dropping music here and there. Just keep up on my social media accounts cause every announcement I make will go through there.

img_5038

Foto oleh: Willie William.

https://soundcloud.com/ariel-nayaka

IG: @ArielNayaka

Twitter: @ArielNayaka

YouTube: youtube.com.arielnayaka

Snapchat: arielnayaka

 

Picture Perfect, An Interview With Gianni Fajri

 

Berawal dari tugas membuat video dan foto promo untuk clothing brand saat mendalami Fashion Business di LaSalle College, Gianni Fajri menyadari jika menyajikan sebuah presentasi visual adalah pelampiasan sempurna bagi kreativitas dalam dirinya, apapun mediumnya. Sempat bekerja di sebuah fashion company, karier profesional gadis kelahiran Bandung yang akrab disapa Ghyan ini di bidang filmmaking dimulai saat ia dipercaya menggarap Behind The Scene dari Filosofi Kopi. Ditambah berbagai project seru lainnya seperti video campaign dan dokumentasi untuk beberapa clothing label maupun company hingga music video untuk Maliq & D’Essentials, Neonomora, dan LCDTRIP, namanya pun mencuat sebagai salah satu director muda dengan resume yang kian hari kian menarik perhatian. Kini, di usia 25 tahun, Gianni dikenal sebagai seorang film director yang memiliki production house sendiri bernama Maji Piktura, creative director dari sebuah creative studio bernama Anara, serta art director untuk PonYourTone. Her upcoming project? Sebuah debut film pendek berjudul Julian Day yang terinspirasi dari album milik band Elephant Kind. 

gianni

Tell me about your background, sejak kapan kamu tertarik pada directing/filmmaking dan apakah kamu mempelajarinya secara akademis atau otodidak?

My background was in a Fashion Industry, I went to LaSalle College majoring Fashion Business and have worked with several fashion company. Filmaking adalah media yang sempurna untuk melampiaskan kreativitasku. Berawal dari tugas kampus yang membutuhkan photo & video untuk promo brand baju, dari situ aku belajar sendiri dari mulai mengambil foto, edit foto sampai ke video. That’s when I started to learn and jump in into the film industry. The right word is otodidak.

Apakah dalam berkarya kamu berusaha memiliki satu ciri khas yang “Gianni banget”? Kalau iya, how would you describe it?

Beauty shoot, neon lights and dynamic shot (ghostly) and there must blue in it.

Siapa saja sosok visual maker yang influential bagimu?

Sofia Copolla, Terrence Malick, Gregg Araki, Nabil (music video director), Chan-wook Park, Wong Kar Wai.

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mencari inspirasi?

Being out of the circle, matiin handphone. Getting lost somewhere and talking with stranger/people randomly. Being sensitive with surroundings.

Sejauh ini, project apa yang paling berkesan bagimu dan kenapa?

Director Behind the Scene, Filosofi Kopi. Punya kesempatan berkarya & belajar di industri film kemudian dibayar pula, hahaha.

Bagaimana kamu melihat peran media sosial bagi kariermu?

Social media nowadays is very important apalagi di industri kreatif. Social media menjadi media promosi yang bisa membantu karya teman-teman sineas & seniman dilihat/didengar lebih luas lagi. Getting inspired and being inspired is what I’ve learnt in social media.

Apa advise terbaik yang pernah kamu dapat soal profesimu?

David Lynch salah satu director yang mempunyai pola pikir spiritual yang sangat menginspirasiku saat melahirkan karya. Ada dua quotes terbaiknya yang selalu kupegang teguh saat mulai berkreasi. Yang pertama: “If you stay true to your ideas, film-making becomes an inside-out, honest kind of process.” Dan yang kedua: “Every viewer is going to get a different thing. That’s the thing about painting, photography, cinema.” Berkarya dengan tujuan, jangan memikirkan yang lain because we’re not a Nutella jar, we cannot make everyone’s happy. So trust your guts, if you don’t feel like you’re doing it, then don’t.

What’s your current obsession?

Writing and walking. 

Benda apa saja yang selalu ada di tasmu?

Books, phone, lipstick, wallet and note book.

What do you love and hate the most about the creative scene in Jakarta right now?

Love: It’s growing! Banyak yang sudah mengapresiasi dan teknologi sudah mendukung. I’m sure it’s getting big kalau kita sama-sama mengapresiasi dan berkarya dengan jujur. Hate: I don’t do hate. But more to critical, kalau karya seni itu butuh proses. Banyak orang yang ingin cepat jadi hanya di layer pertama kemudian membodohi penikmatnya yang membentuk satu benchmark yang tidak jujur dan original.

Tell me about your dream project/collaboration?

Writing my own feature film yang mengangkat sisi humanisme dengan packaging yang sangat fresh.

Apa project selanjutnya yang bisa dibocorkan untuk saat ini?

Preparing my next film, hehehe. Still a secret tho. Well for this year, lagi persiapan buat TV series Viva Barista kedua (it’s a documentary about coffee, lifestyle & travel hosted by 3 boys: Rio Dewanto, Muhammad Aga, dan Roby Navicula) we did it the first time online on Metro TV. Should be exciting!

Gianni’s Watch List:

the-handmaiden-cannes

The Handmaiden

Craziest & exciting plot ever, should watch!

lost-in-translation-2

Lost in Translation

My forever favorite movie, in love with the soundtrack and what they called platonic love.

 knight-of-cups-bale-blanchett

Knight of Cups

Very poetical movie by Terrence Malick, if you feel like you’re in the mood of gloomy, should watch this movie,

viceland-vice-media

Viceland

YouTube channel yang dipimpin oleh Spike Jonze. Content yang sangat menarik untuk generasi millenials tentang social, politic & lifestyle!

death-proof

Death Proof

ITS VERY SATISFYING!

 

 

Practical Magic, An Interview With Canti Widyadhari from Foxglove Tarot

Terlepas dari pandangan skeptis terhadap hal yang berbau mistis, tarot reading telah menjadi satu aktivitas populer di berbagai acara, mulai dari bazaar, art market, restoran, pentas seni, or even at a party. Sosok tarot reader pun tak lagi identik dengan pakaian serba hitam dan tampilan klenik. Nowadays, tarot reader could be as stylish and sweet as the girl next door. Salah satunya adalah Canti Widyadhari, seorang tarot reader yang juga merupakan founder dan astrology writer dari sebuah online tarot reading service bernama Foxglove Tarot yang berbasis di Bali. “I started Foxglove Tarot karena waktu itu aku semacam dapat epiphany dari intuisi yang nyuruh aku pindah ke Bali untuk jadi tarot reader. At that time, I was having misfortune over misfortune yang lumayan bikin aku discouraged untuk nerusin karier aku di marketing, so I decided to go with the flow for once,” papar gadis kelahiran Jakarta, 24 September 1990 tersebut. Intuisi dan keberaniannya pun membuahkan hasil positif. Tak hanya menangani klien secara face to face maupun online, Canti yang kerap menjadi kontributor bagi beberapa platform seperti Magdalene dan The Murmur Journal saat ini juga sedang bersiap meluncurkan sebuah silver jewelry line yang ia beri nama COVEN.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada tarot dan apakah kamu belajar secara otodidak atau berguru ke orang lain? 

Aku mulai belajar reading dari tahun 2011, waktu itu awalnya belajar otodidak dulu tapi masih pakai buku. Aku tertarik untuk belajar tarot lebih dalam lagi karena waktu itu aku mulai belajar ilmu-ilmunya Wicca. Akhirnya aku mulai lepas bukunya ketika aku belajar dari seorang mentor yang basically sistemnya cuma nyuruh aku untuk dengerin intuisiku. It was a great and enlightening experience, and it got me to where I am today.

Apa cerita di balik pemilihan nama Foxglove Tarot?

The name is based on this flower called Foxglove (nama lainnya Witch’s Bell/Fairy Glove). Bunga Foxglove itu beracun, tapi kalau essence-nya bisa diolah dengan benar, bisa digunakan untuk healing. Sama saja dengan tarot reading atau ilmu-ilmu magic lainnya yang bisa dipakai untuk membantu atau untuk mencelakai orang lain tergantung intention-nya.

What is it that you love and hate about your job?

I love that I could use my gift to help others in need. Whether good readings yang beneran kejadian, atau klien-klien yang decided to take my advice and improve their lives, I’m happy and very grateful for this experience. Senang rasanya kalau aku dengar cerita dari klien yang bilang kalau they finally found their happy endings. What I hate about the job is the feeling that I need to be responsible and careful with my readings. Karena some people take the readings very seriously, dan kadang kalau reading yang kurang enak beneran kejadian, aku bisa merasa bersalah sekali. But I’m working on it by trying to reassure myself that life has its ups and downs. If the unpleasant reading comes true, it’s not my fault nor my client’s fault.

Apa kejadian paling memorable sejauh ini selama di Foxglove?

Waktu itu aku pernah jadi guest reader di pool party dan aku sukses baca 15 orang in a span of 3 hours. Yang memorable bukan cuma jumlahnya, tapi juga pertanyaan-pertanyaannya. I guess I would have never expected for clients to come to me with heavy life-changing questions in the midst of a pool party.

Mispersepsi apa yang paling menyebalkan dari pekerjaanmu dan bagaimana kamu meluruskannya?

Mispersepsi kalau tarot reader itu penipu. Biasanya sih yang skeptis-skeptis begini yang pernah punya pengalaman buruk dari tarot reader lain atau memang generally skeptical. Dulu aku selalu coba untuk debat atau cerita dari sisi aku untuk mengubah persepsi mereka. Tapi lama-lama, I decided to let them be. Everybody has their own opinion and perception of what’s real and not real. I realize that tarot reading is a very abstract concept and not everyone can agree with my reality, just like how I may not be able to agree with theirs.

What’s your current obsession?

Minimalist magickal sigil tattoo! Aku punya beberapa di jari and I’d love to add more!

Beside tarot and divination, what else you consider as your secret skill?

Cooking. It doesn’t sound that magical but I turned out to be a pretty good cook, haha!

Bagaimana media sosial memengaruhi kariermu?

It has affected my career greatly! Foxglove Tarot is online-based, so I always meet my clients through social media. It’s also a great platform for me to interact and open an enlightening discussion with fellow taror reading/astology enthusiasts.

If you could identify with one fictional character, siapa yang akan kamu pilih?

Phoebe dari serial Charmed. I love how adventurous and cheeky she is. I wish I have her divination skill too! It would be awesome to be able to receive premonition the moment you touch someone.

Apa saja rencana selanjutnya bagimu personally maupun untuk Foxglove?

I want to grow Foxglove and COVEN, while taking an astrology course so I can work as a certified astrology practitioner.

 

Canti’s essential items:

untitled 

Bohemian Cats tarot: My favorite tarot deck karena bisa dipakai untuk baca mundane questions dan energinya cocok sama banyak orang juga.

pyra

Orgonite: Untuk cleansing energi negatif sebelum dan sesudah baca tarot.

buckland

Buckland’s Complete Book of Witchcraft oleh Raymon Buckland: Salah satu buku pertama yang jadi guide aku pas mau mulai belajar witchcraft dan divination.

www.foxglovetarot.com

On The Records: Ikkubaru

Bermula dari sebuah bedroom project milik vokalis/gitaris/keyboardist/penulis lagu Muhammad Iqbal di medio 2011, ikkubaru (イックバル) yang namanya diambil dari nama “Iqbal” yang diterjemahkan ke bentuk Katakana adalah sebuah kuartet asal Bandung bergenre City Pop yang dilengkapi gitaris/vokalis Rizki Firdausahlan, drummer Banon Gilang, dan bassist Fauzi Rahman. Dengan influens dari solois Jepang seperti Tatsuro Yamashita dan Kadomatsu Toshiki serta band-band Inggris seperti Tears For Fears, Prefab Sprout, dan Pet Shop Boys, band ini meracik materi-materi easy listening penuh melodi catchy dengan lirik berbahasa Inggris seperti yang telah terangkum dalam album bertajuk Amusement Park. Uniknya, album berisi 10 lagu yang dirilis pertengahan tahun lalu tersebut justru lebih dulu dirilis oleh label musik Jepang dan mendapat sambutan positif dari pendengar musik di sana yang membuat mereka kemudian diundang untuk mengadakan tur Jepang selama seminggu penuh pada pertengahan Juni lalu. Here’s a little catch up bersama Iqbal sekembalinya mereka dari tur yang meliputi Fukuoka, Kobe, Osaka, dan Tokyo tersebut.

cfzmcvaumae8fxi

First thing first, apa definisi dari “City Pop” yang kalian usung?

City Pop itu menurut sumber yang saya dapatkan dari negeri aslinya adalah salah satu genre J-Pop pada tahun 80-an, di mana kita seolah-olah dibawa ke bayangan “suatu kota besar yang memiliki gedung-gedung tinggi”.

Bagaimana ceritanya album Amusement Park bisa dirilis oleh label Jepang?

Awalnya kami pernah kontakan dengan fan pertama orang Jepang. Dia mau bantuin kami di Jepang, sampai akhirnya dia mau jadi manager Ikkubaru untuk Jepang. Kami sepakat untuk dibuatkan record label menggunakan nama Hope You Smile Records yang diambil dari judul EP pertama Ikkubaru. Dan akhirnya Amusement Park pun rilis di bawah naungan Hope You Smile Records. Dia membantu kami untuk menjualnya di records store di Jepang seperti HMV, Disk Union, dan Tower Records. 

So how was the Japan Tour?

Ikkubaru Japan Tour 2015 kemarin bisa dibilang “The greatest experience in our live”, karena banyak yang nggak disangka oleh kami. Awalnya ada email masuk dari promotor Jepang namanya DUM-DUM LLP. Mereka menawarkan untuk tur di Jepang, semua akomodasi ditanggung oleh mereka. Tanpa panjang pikir kami langsung terima tawaran mereka. Semua proses dilalui dari bikin passport, visa, dan pesan tiket pesawat. Dan akhirnya kami berangkat pada tanggal 15 Juni tahun lalu.

Apa saja pengalaman menarik selama di sana?

Di sana kami berkolaborasi dengan artis lokal di tiap kota. Seperti tofu beats, okadada, Especia, Negicco, dan masih banyak lagi. Di sana sambutannya luar biasa, sangat jauh berbeda ketika kami sedang manggung di Indonesia. Fauzi sang pemain bass pun pernah terhenti permainan bass-nya di awal lagu “Love Me Again” ketika sedang perform di Keith Flack Fukuoka. Setelah ditanya ternyata dia memang “campur aduk” perasaannya ketika perform, karena kami tidak pernah menyangka sambutannya akan sehebat ini.

Kalian bisa dibilang “besar” terlebih dahulu justru di Jepang dibanding dalam negeri sendiri, how do you feel about that? Lalu bagaimana rencana kalian untuk memperkenalkan musik kalian ke scene lokal?

Kami sangat senang dengan keadaan seperti ini, akhirnya kami pun sadar karena wadah “City Pop” itu memang sangat ngetren di Jepang. Setelah mengobrol dengan salah satu musisi senior di Jepang, katanya kami memang sangat dicari oleh kultur musik di Jepang, dan musik yang saya ciptakan kebanyakan yang mendengarkan adalah orang tua, tetapi ada pula anak muda Jepang yang mendengarkannya. Jadi bisa dibilang City Pop kita realistic, begitu katanya. Untuk scene musik lokal saya hanya akan “go with the flow” saja. Entah saya akan terus memperbesar nama Ikkubaru di Jepang sampai benar-benar dapat “ditarik” ke Indonesia, atau kalau memang harus, kami hanya fokus di Jepang saja di bawah naungan label Jepang yang lebih besar.

https://ikkubaru.com/

The Bewitching Hour of Audrey Kitching

Fashions fade, style is eternal. Being on top since the early heydays of social networks, the original internet queen Audrey Kitching is simply adapting both IRL and URL while maintaining her mystical side. We are trying to catch up.

photo-aug-02-12-01-12-pm

Jauh sebelum munculnya Twitter, Tumblr, Instagram, dan social media lainnya yang melahirkan the idols and celebrity of modern age dalam wujud socmed influencers dengan jutaan followers dan personal brand yang kuat by simply being themselves, ada sebuah situs social network bernama MySpace di mana kita bisa membuat personal profile dan mengkustomisasinya sesuka hati dengan foto, musik, dan video. Jika kamu sempat membuka MySpace di pertengahan 2000-an, most likely yang akan kamu lihat adalah halaman profile dengan kode HTMLyang telah diedit untuk memunculkan glittery fonts, customized mouse click, lagu yang secara otomatis terpasang (most of it adalah lagu band-band emo yang waktu itu memang sedang meledak), dan bulletin board untuk tempat berkeluh kesah dan menyalurkan semua kegelisahan masa remajamu (and for passive-aggressive drama, obvi). It’s simply like you create your own diary dan membagikannya ke seluruh dunia untuk dilihat. Hal itu mungkin sama sekali tidak terdengar impresif saat ini, namun pada masanya, MySpace adalah salah satu tempat di internet di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri (or secretly trying to be someone else) dan berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia tentang hal-hal yang menarik perhatianmu. Dengan semua daya tarik tersebut, tidak mengherankan jika dari tahun 2005 sampai 2009, MySpace adalah situs social network yang paling banyak digunakan di seluruh dunia and at some point  bahkan sempat mengalahkan Google sebagai website yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Namun, sebagaimana sewajarnya sebuah komunitas dengan segala dinamika sosial yang menyertainya, there’s certain social hierarchy yang terjadi dengan sendirinya.

MySpace di masa kejayaannya adalah tempat berkumpulnya generasi cool kids yang disebut sebagai the Scene Kids, alias para remaja berpenampilan eksentrik yang menjadikan MySpace sebagai platform to express themselves dan menghabiskan waktu sebagai microcelebrities (“Oh you know, I’m kinda famous on MySpace!”) dengan mengunggah foto personal style mereka (the typical look adalah rambut yang dicat warna-warni menyolok, makeup emo, dan gaya pakaian seperti paduan Hello Kitty meets Courtney Love yang meliputi neon bikini, cat ears, leather boots, leopard print, band tees, dan baby dolls) serta saling bergosip satu sama lain di chat room tentang drama frenemies di antara mereka, melahirkan kontroversi yang akhirnya membuat anak-anak lain penasaran untuk membicarakan mereka dan secara ironis membuat mereka semakin terkenal. Rebellious namun tetap relatable, mereka adalah orang-orang yang seru untuk dibicarakan dan sebagai remaja, you want to know more about them dan berharap mereka menyetujui friend request darimu. On top of the social ladder, there are the Scene Queens practicing their status quo as the new internet famous and Audrey Kitching is one of them.

Lahir di Philadelphia, Audrey Kitching memulai karier modeling di umur 14 tahun setelah ditemukan oleh seorang agen modeling saat ia sedang mewarnai rambutnya di sebuah salon. Muncul sebagai model untuk beberapa iklan, ia juga sering menjadi model bagi beberapa teman fotografernya yang akhirnya menarik perhatian publik saat ia mengunggah foto-fotonya ke situs-situs seperti Live Journal, Xanga, Buzznet, dan MySpace. Seperti mereka yang lantas disebut sebagai the It Girl, ada sesuatu yang berbeda dari diri Audrey yang menarik perhatian orang dan membuat mereka ingin tahu tentang apapun yang ia lakukan, orang-orang yang ada di lingkup pergaulannya, musik yang ia dengarkan, caranya berdandan, serta personal style yang terdiri dari pakaian murah dari toko bekas yang ia modifikasi untuk menciptakan outfit yang terinspirasi runway looks.

As an early adopter, Audrey adalah salah satu pengguna MySpace yang paling terkenal dan bersama beberapa nama lainnya seperti Jefree Star, Jac Vanek, dan Hanna Beth dijuluki sebagai The Scene Queens, yaitu beberapa figur yang memiliki paling banyak followers dan diberkahi the power of social media bahkan sebelum social media itu sendiri lahir di dunia. “This was all really just an outlet for teenage angst if I’m being completely honest,” kenangnya. “Bagi saya internet adalah tempat di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan melarikan diri dari semua hal-hal menyebalkan yang muncul saat saya beranjak remaja dan menghadapi masa SMA. Saya tidak pernah bercita-cita untuk dikenal orang lewat internet, it was more of a place to be weird and accepted.”

Ketika kamu mencari “Audrey Kitching” di Google images, yang pertama muncul adalah foto-fotonya as the original wild child of the internet. Rambut warna pink yang menjadi trademark-nya menyala terang even in the darkest clubs, di mana ia seringkali terlihat berpesta dengan gaya pakaian yang bisa dideskripsikan sebagai gabungan antara Harajuku girl, emo fairy, dan skater girl. Ditambah dengan segala dramanya dengan sesama Scene Queens dan hubungannya dengan Brandon Urie sang vokalis Panic! At The Disco, Audrey adalah sosok kontroversial yang mengundang pro dan kontra. Its either you love her or hate her (and secretly want to be her). Kemunculannya di berbagai acara paling happening dan red carpet membuatnya dijuluki “fashion forward female” sekaligus “fashion disaster” dan sebutan lain seperti “It Kid”, “princess of pop culture”, “social media queen” dari berbagai media.

photo-aug-02-12-14-58-pm

Namun, menyebutnya sekadar famous for being famous adalah sebuah kesalahan. Apa yang membedakan Audrey dengan jutaan scene kids lainnya adalah kemampuannya membawa kepopuleran dunia mayanya ke dunia nyata. Sama halnya dengan beberapa nama seperti fotografer hipster Mark “Cobra Snake” Hunter atau club kid dan model Cory Kennedy, mereka memiliki satu kesamaan sebagai the early adopters yang dengan lihai memanfaatkan internet untuk membangun persona mereka dan meraih ketenaran. Ketika kepopuleran MySpace telah usai dan digantikan oleh Facebook dan social media lainnya, Audrey telah meraih kesuksesan mainstream dengan bertransisi sebagai legit public figure. Berbagai hal telah ia kerjakan dalam satu dekade terakhir ini, dari mulai menjadi spokesmodel dan wajah dari banyak desainer dan label terkenal, dia juga telah tampil dalam berbagai editorial di seluruh dunia, dari Skandinavia sampai Jepang di mana ia melakukan lebih dari 4 editorial setiap bulannya, tampil di beberapa serial televisi dan film sebagai dirinya sendiri, dan merilis beberapa clothing line dan kolaborasi dengan nama-nama seperti H&M, Kerol D Milano, dan Vera Wang. Audrey yang menjalani gaya hidup vegan juga menjadi public person untuk kampanye “Fur Is Dead” bersama Peta2 dan menentang animal testing dalam industri personal care.

            Kini, di umurnya yang telah menginjak 31 tahun, Audrey menemukan dirinya di era yang berbeda dengan pemikiran yang tentu saja sudah jauh meninggalkan masa-masa teenage angst dalam hidupnya. Rambutnya memang masih berwarna pink, namun sekarang ini ia cenderung memilih warna pastel yang dreamy dan menukar gaya hot mess dengan estetika New Age yang ethereal seperti yang terlihat dari akun Instagramnya yang diikuti oleh 273K followers. Naturally against the currents, di era socmed yang serba candid dan terbuka, Audrey justru terasa seperti sosok mistis di internet yang lebih peduli soal inner peace dalam dirinya dibanding menanggapi komentar orang lain.

More than just another internet famous, Audrey saat ini adalah seorang model merangkap desainer dan penulis yang tengah disibukkan dengan usahanya menjalankan clothing line bernama LUNA yang terinspirasi oleh hal-hal seperti astrologi dan magic serta menjadi founder dan CEO dari Crystal Cactus, sebuah lini aksesori yang mencakup crystal pendant jewelry, produk holistic spa, dan gifts yang turut dijual di Urban Outfitters dan mendapat respons positif dari banyak pihak. Menjauh dari gemerlapnya industri fashion dan kehidupan malam yang liar di kota besar, Audrey yang juga menjadi seorang praktisi new age sedang memetik karma baik yang ia terima dan berusaha menyebarkan energi positif ke dunia. We want to know more of her magic.

photo-aug-02-11-54-07-am

Hi Audrey, how are you? Where in the world are you right now, what are you wearing and what you doing before answering this email? Saat ini saya sedang berada di rumah saya di Philadelphia. I’m wearing a nude silk slip and an olive green silk button down shirt tied up. Saya baru saja menyiram tanaman dan menyalakan dupa dan lilin sebelum duduk untuk menjawab interview ini.

Boleh cerita soal aktivitasmu belakangan ini? Sekarang saya sedang menikmati masa-masa kebebasan. Tahun ini telah menjadi tahun yang sangat transformatif bagi saya. I stepped away from the industry in all aspects of the sense and really started to focus on my passions without that influence. I have been really just enjoying the simple pleasures of creating art and living.  

Bagaimana biasanya kamu memulai harimu? Ada ritual harian yang kamu lakukan? Saya punya banyak ritual. I am a ritual. Hari-hari saya selalu dimulai dengan mengisi makanan burung di bird feeders, membuka tirai, mandi, membuat teh, menyiram taman, memberi makan binatang peliharaan saya yang terdiri dari kucing, burung, dan ikan (who are all best friends I might add), memasak sarapan, membaca astrologi atau mencari inspirasi di sudut-sudut internet. As far as my day’s go, saya biasanya di studio untuk mengurus metaphysical shop saya, Crystal Cactus atau melakukan pemotretan dengan teman-teman kreatif saya, lost in an adventure in nature atau jalan-jalan ke museum seni. I always try to have fun and enjoy simple things every day. I have really learned the true meaning of work smart not hard.

Kamu telah biasa tampil di NYLON US, tapi ini pertama kalinya kamu muncul di NYLON Indonesia, apa yang kamu pikirkan saat mendengar Indonesia? I love culture in all aspects. Saya tahu jika Indonesia punya keindahan alam dan candi-candi yang megah. Saat masih remaja, saya dulu sering ke restoran kecil bernama Banana Leaf di California karena mereka punya menu vegetarian Indonesia yang sangat lezat.

Boleh cerita soal pemotretan kali ini bersama Bruno? Kalian sangat sering berkolaborasi belakangan ini, bagaimana sebetulnya kalian pertama bertemu? It was fantastic. Kami punya vibe yang sama dan merupakan hal yang alami jika pada akhirnya kami menjadi creative partners. I will text him and say “I got an idea!” atau kalau dia punya kamera atau film baru, dia akan menelepon saya dan bilang “We have to test this out and experiment!” Menemukan seseorang yang punya kesamaan artistik sama susahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami menurut saya… Terutama saat saya masih berada di industri. Banyak orang yang membuat sesuatu hanya demi pujian dan ketenaran. I create because it’s my soul’s way of survival. I have to create, hal itu bukan pilihan tapi sebuah keharusan bagi saya pribadi. Saya berkarya untuk membuat sesuatu yang tidak bisa saya ungkapkan lewat sekadar kata-kata. Menemukan seseorang yang punya ketertarikan pada seni dengan alasan yang sama bisa dibilang sebagai a blessing in a dark, dark realm of ego centric moldings. Saya ingat awalnya kami kenal saat dia mengirim message ke saya dan bertanya, “Hey want to be in my Polaroid book?” Saya mengiyakan, dan setelah pemotretan dia baru bilang jika sebetulnya he had no idea tentang siapa saya dan tidak pernah mendengar tentang saya sebelumnya. Saya berpikir, “Fantastic, we are going to make some killer creations together.”

 photo-aug-02-11-52-08-am

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fashion? Apa inspirasi awal yang membentuk personal style bagimu? Self-expression. Saya bahkan belum pernah mendengar Marc Jacobs sampai saya berumur 21 tahun. I didn’t know what that was and never cared. Saya merasa saya tercebur ke industri fashion hampir seperti sebuah kecelakaan. Fashion was always just self expression to me; it was art living and creating. The fashion industry is about fame, money, fitting in… I was never about that. Saat saya kecil, ibu saya sering mengajak saya ke thrift stores untuk membeli pakaian and we would dye the clothing, add lace and paint on it. It was always just natural to me. 

Apakah kamu memang berasal dari keluarga yang kreatif? Ya, bisa dibilang seperti itu.  Waktu kecil saya mengambil kelas seni, I was always painting, creating, making films in my backyard, doing magic spells, collecting fairy’s… Semua hal itu yang mempengaruhi saya sampai sekarang. Ibu saya adalah seorang seniman dan ayah saya seorang pelaut.

 Di mana kamu tinggal sekarang dan apa yang kamu sukai dari tempat itu? Saya tinggal di Philadelphia. Ini adalah kota di mana saya lahir dan dibesarkan. Saya sudah pernah tinggal hampir di semua penjuru Amerika Serikat namun pada akhirnya saya memilih pulang ke kota asal saya. I guess the soul recognizes a good thing when it feels it. Saya suka semua hal dari kota ini, mulai dari budaya, makanan, dan seninya. Kami punya beberapa taman dan hiking trails paling indah di Amerika, fantastic foods, museum, dan hidden gems lainnya. Kamu bisa pergi ke pantai atau ke pegunungan hanya dalam hitungan jam. It’s truly beautiful. Semua hal positif dari hidup di daerah perkotaan tanpa adanya stress, polusi, dan negativitas.

Kamu telah aktif di internet sejak pertama kali munculnya situs-situs social networks, apa yang kamu pikirkan tentang internet dan social media saat ini bila dibandingkan masa sebelumnya? It is so watered down with people all fighting for their 15 minutes of fame. Mungkin saya tidak akan eksis jika saya baru muncul sekarang. I was just being myself which was rebellion in its own right. Saya menentang norma yang ada dan orang-orang menyukainya, and it caught on. Sekarang orang-orang akan melakukan apapun demi mendapat sedikit perhatian. Rasanya menyedihkan. I’m very far removed. Sekarang, media sosial yang saya follow adalah akun-akun tentang real art, sejarah, astrologi, dan film. Kamu harus hati-hati menghadapi media sosial. What you look at your invite in. 

Buzznet mungkin tidak terlalu populer di Indonesia, namun MySpace was a big thing di tahun 2000-an dan saya ingat saat pertama kali melihat profile-mu di MySpace dan langsung kagum. Apakah kamu masih ingat apa yang mendorongmu untuk membuat akun MySpace dan aktif di situs tersebut? Apa yang paling kamu rindukan dari era tersebut? That’s powerful that you remember that feeling. I cherish that, thank you. Sejujurnya waktu itu saya hanya mencoba mencari jati diri saya. Internet telah dan akan selalu menjadi creative outlet bagi saya. It is a blank canvas waiting for paint. Saya hanya mencoba menjadi diri saya sendiri dan hal-hal yang memang biasa lakukan hanya saja kali ini saya menunjukkannya di area publik. Yang saya rindukan adalah rasa authenticity. Sekarang ini hampir semua posting adalah posting berbayar dan tersponsor, bahkan sampai ke pakaian yang mereka kenakan.

photo-aug-02-12-01-54-pm

Apakah kamu pernah bertemu langsung dengan Tom dari MySpace? Sayangnya tidak pernah. Saya juga tidak yakin apakan dia akan suka pada saya. 

Seperti yang kamu bilang, di era social media saat ini, it’s literally 15 minutes of fame untuk semua orang, jadi bagaimana caramu agar tetap relevan di media sosial/internet dan bersikap dewasa? That’s a fantastic question and it’s almost a trick question because I never was focused on being relevant. Beberapa orang mungkin hanya akan posting di jam-jam yang telah mereka tentukan sendiri, mencoba untuk stay on top on trends dan melakukan cross promote. Saya tidak melakukannya. Jika suatu hari saya mempunyai banyak hal yang ingin saya ungkapkan, saya mungkin akan posting 100 tweets di Twitter atau posting sepuluh foto di Instagram. Saya memperlakukan media sosial sebagai platform kreatif, bukan untuk dikagumi. Saya tidak mencari pujian. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dan berharap hal itu bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Apakah kamu merasa fans-mu dari zaman MySpace masih mem-follow dirimu sampai hari ini? Bagaimana caramu berinteraksi dengan para followersThey do, which is wild. Saya merasa banyak followers saya yang beranjak dewasa bersama saya. They stuck by me through the most radical evolution that can exist. Saya orang yang agak sulit dipahami. Saya bukan tipe orang yang paling mudah didekati dan saya tahu hal itu berdasarkan energi yang saya pancarkan. Orang juga tahu saya tidak terlalu peduli soal komentar dan penerimaan dari orang lain. They kinda just take it in and move on. I appreciate that.

Apa yang kamu rasakan saat melihat foto lamamu di internet? Kalau boleh melihat ke belakang, adakah hal yang kamu sesali, mungkin hal-hal yang tidak seharusnya kamu ucapkan atau lakukan? Sejujurnya, saya merasa dulu sangat out of control dalam kehidupan publik saya. I mean that in the most respectful authentic way. Saya masih 100% orang yang sama dengan sosok di foto itu namun sudah lebih terpoles. Apakah ada orang yang melihat foto diri mereka tujuh tahun lalu dan merasa keren? Mungkin tidak, tapi saya selalu menjadi diri saya sendiri dan tidak ada yang saya sesali. I am 100% still that person just more refined. Does anyone look back at photos of themselves 7 years ago and think it was a fantastic look? Probably not, but I was just doing me and I don’t regret a thing.

Apa media sosial favoritmu saat ini dan kenapa? Saya suka Tumblr untuk posting hal yang personal dan mengumpulkan inspirasi. Twitter untuk berkeluh kesah dan mengeluarkan unek-unek apapun di kepala, sedangkan Instagram lebih untuk curated art. Saya tidak memakai Facebook atau Snapchat because those don’t resonate with me at all.

Tell me about Crystal Cactus, apa yang menginspirasimu untuk membuat label ini? It’s a soul mission. Salah satu alasan kenapa saya ada di sini sekarang. Saya tahu dengan sendirinya jika saya harus punya toko dengan healing power di baliknya walaupun sebelumnya belum terlalu yakin dengan apa yang akan saya buat. Butuh proses yang lumayan panjang. Saat memulainya, hanya ada saya di rumah yang mengerjakan semuanya. Saya akan membayar saudara saya untuk melakukan pengiriman seminggu sekali. Dan hal itu berkembang dengan sendirinya. Saya sudah punya tim karyawan cukup besar dan produknya sudah terjual di banyak retail chains di seluruh dunia. Namun, itu menjadi pelajaran besar bagi saya dan saya sadar bukan itu yang saya inginkan untuk saya maupun perusahaan ini. I scaled back down to basics and it’s coming together beautifully. Rome was not built in a day. 

Apa yang menurutmu menjadi pencapaian terbesarmu sampai hari ini? Being here right now in my home answering these questions by my own will. Saya telah memecat publicist saya dan meninggalkan industri, tapi saya masih mampu mengerjakan apa yang saya suka dengan cara saya sendiri. Having people like you guys support me in that is so powerful. To me that is success.

photo-aug-02-12-03-07-pm

What’s your most prized possession? My soul. 

What are you obsessed with right now and why? Apapun yang menyangkut zaman Medieval dan mitologi Yunani… Saya selalu suka keduanya dari dulu namun belakangan ini saya semakin mendalaminya. Dan juga memasak. I really love to cook. I always have but I’m finding more time for it now. 

Apa satu hal yang ingin kamu lakukan tapi belum sempat terlaksana? Pergi ke Italia lagi. Saya berencana pergi ke sana musim semi ini. I am very Italian and have so many powerful past lives from that region. Saya telah mendedikasikan hidup saya untuk pekerjaan setahun terakhir ini, but I feel Rome at my fingertips and she is waiting.

Bicara tentang entrepreneurship, apakah kamu punya sosok favorit yang kamu anggap sebagai #girlbossJoan of Arc mungkin, atau Aphrodite… Para wanita yang tidak tunduk pada lelaki manapun. Para wanita di sejarah dan mitologi yang berani menentang keadaan. They can sit at my lunch table and they are on my kickball team.  

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk memotivasi diri sendiri saat terjadi hal yang kurang menyenangkan? Kamu hanya harus mengingatkan diri sendiri: THIS TOO SHALL PASS. Kalimat tersebut telah banyak membantu saya. Nothing is permanent. Perubahan adalah ritme natural bagi alam semesta. 

Apa hal terakhir yang membuatmu marah? Society. I woke up in a random rage about how people are pushed into conformity. Saya geram melihat ketidakadilan. Beberapa ajaran spiritual  bilang jika amarah adalah sesuatu yang buruk. Saya tidak setuju. Amarah mendorong perubahan, kejujuran, dan keadilan. You need anger. Merupakan hal yang penting untuk bicara menentang ketidakadilan. Penting bagi kita untuk punya rasa marah. I think being neutral, having no emotional charge is bad. Quite the opposite. 

Terakhir, jika kamu bisa memberikan saran ke dirimu sendiri saat masih remaja, apa yang akan kamu katakan? Things will get better. Keep being you. Never give in to the masses.

photo-aug-02-12-23-01-pm

 All photos by Brian Bruno @brunoroids 

Girls Just Want To Have Fun, An Interview With Hinds

Lewat album debut Leave Me Alone, kuartet garage rock asal Madrid, Hinds menyajikan musik yang gutsy dan kental akan feminisme tanpa melupakan caranya bersenang-senang.

Kurang dari tiga tahun lalu, baik Carlotta Cosials dan Ana García Perrote tidak tahu caranya memainkan gitar. Namun, sebuah liburan musim panas di pesisir pantai Denia di mana mereka menghabiskan waktu dengan bermain gitar dan bernyanyi menginspirasi kedua gadis Spanyol tersebut untuk membuat musik bareng sepulangnya mereka ke Madrid. Setelah melewati masa latihan ekstensif, keduanya membentuk duo bernama Deers yang terinfluens dari band-band seperti The Strokes, Black Lips, serta The Vaccines dan merilis dua track berjudul “Bamboo” dan “Trippy Gum” via Bandcamp di tahun 2014 sebelum akhirnya mereka berkembang menjadi full band dengan mengajak dua sahabat mereka Ade Martin di bass dan Amber Grimbergen di drum. Memadukan bunyi lo-fi dari garage rock kontemporer dengan elemen pop dari musik surf rock dan girl group 60-an, mereka merilis beberapa single selanjutnya dan dengan segala respons positif yang didapat, mereka pun menghabiskan tahun tiga tahun terakhir dengan tampil di berbagai festival musik, termasuk South by Southwest di mana mereka tampil dalam 16 show hanya dalam kurun waktu empat hari. Sayangnya, kepopuleran itu juga memancing atensi yang tidak diinginkan dari band bernama The Dears yang lewat kuasa hukumnya mengancam akan menuntut Deers jika mereka tidak mengganti namanya yang dianggap terdengar mirip band Kanada tersebut. Deers mengalah dan mengganti nama mereka menjadi Hinds (yang berarti rusa betina) dan dengan nama itu juga mereka akhirnya merilis album debut bertajuk Leave Me Alone lewat label Lucky Number di awal tahun ini. Berisi 12 lagu yang memadukan materi-materi baru seperti “Garden” dengan beberapa single yang sudah dirilis sebelumnya seperti “Chili Town” dan “Castigadas en el granero”, bersama album ini Hinds pun sukses menggelar tur dunia dan kini, dari teras rumah mereka di Madrid, Carlotta dan Ana membalas email dari NYLON.

hinds-by-salva-lopez
DARI KIRI: Ade Martin, Amber Grimbergen, Ana Perrote, Carlotta Cosials.

Hai Carlotta dan Ana, Hinds bermula dari kalian berdua, tapi bagaimana sebenarnya kalian bisa bertemu? Kami diperkenalkan oleh dua bekas pacar kami. Sekarang kalau diingat lagi, kami merasa harus berterima kasih karena mereka lah yang memperkenalkan kami ke satu sama lain. Dan kenapa akhirnya kami bikin musik bareng… Saya tidak tahu! We’ve always loved music because music inspires life.

Apa rasanya menjadi sebuah girl band di Spanyol? Bagaimana biasanya proses pembuatan lagu bagi kalian? Well, kami merasa kreativitas dan bermusik di girl band sebetulnya tidak ada kaitannya sama sekali, hahaha. Being in an all girl band is seriously tough, tapi kami siap melawan siapapun dan apapun. Kalau tentang penulisan lagu, tergantung masing-masing lagu sih, tapi biasanya memang Ana dan saya (Carlotta) yang menulis lirik dan melodi serta gitar, Ade mengerjakan bass lines dan Amber di drum. Jadi setiap personel mencurahkan dirinya dalam setiap lagu, even tho we spend so many hours in here searching for the right melodies and feelings.

Apa yang menjadi influens utama bagi musik kalian? Sun, beer, and oceans.

Boleh cerita soal album Leave Me Alone? Di mana kalian merekamnya dan berapa lama prosesnya? Kami merekamnya April tahun lalu di daerah selatan Spanyol, di sebuah kota kecil bernama El Puerto de Santa Maria yang terletak di Cadiz. Kami di sana selama sepuluh hari dan butuh tiga hari bagi kami sampai akhirnya menemukan sound yang kami inginkan dari proses mixing. We were young and innocent dan walaupun kami sangat menyukai hasilnya, kami sebetulnya sama sekali tidak menyangka jika banyak orang di luar sana yang juga menyukai album ini sebesar kami.

Feminisme telah menjadi topik yang tidak dapat dihindari dalam musik sekarang ini, bagaimana kalian memandangnya? Apakah kalian terganggu jika banyak orang yang melabeli kalian sebagai “Girl Crush” atau “It Girls” hanya karena kalian merupakan girl band? Boys have a crush with girls, girls have a crush with boys, boys have crushes with boys and girls also with girls; saya rasa masalahnya bukan di situ. Kesalahan pada sikap sexism di musik adalah berpikir jika apa yang kami raih sejauh ini berkat campur tangan pria di baliknya, masih banyak orang bodoh yang tidak mau percaya jika kami bisa berada di titik ini karena usaha kami sendiri, because we FOUR YOUNG SPANISH GIRLS have done what we’ve done. 

Apakah kalian pernah mengalami perlakuan misoginis saat manggung atau di tur? Tidak terhitung. Hal-hal seperti “She is prettier than you”, atau “Show your pussy”, atau doing like the gesture of sucking a dickSeriously, so so so so many times. Atau selesai manggung, pria paruh baya menghampirimu and telling you bullshit karena mereka pikir mereka bebas melakukannya karena mereka lebih tua dan kamu secara otomatis harus menghormati mereka and bla bla blah…

Apa yang paling kalian sukai dari tampil di panggung? Performing is the best. Beraksi di panggung adalah salah satu momen favorit kami, no doubt. Tapi yang paling kami suka dari tur adalah kami melakukannya dengan teman-teman kami. Like having a supporting band for the whole tour so we become super close to each other, or inviting friends from Spain that are studying abroad… Itu hal yang asik dan keren. And the energy? Energinya sama besarnya seperti kamu pergi ke sebuah pesta. A gooood party.

Kalian baru saja menyelesaikan tur dunia kalian di Singapura, apa hal yang kalian sukai dari touring selain manggung? Discovering that people is incredibly different in every city, but with kind of similitude in each continent. Dan kuliner! Kami suka makan dan mencoba berbagai menu andalan setempat.

Since it’s our Summer Issue, what’s the best way to spend summer in Madrid? In the streets drinking sangria!

Jika kalian bisa memilih tempat apa saja untuk liburan musim panas, tempat apa yang akan kalian pilih dan kenapa? Oke, kalau kami juga bisa mengajak semua teman kami di Madrid, kami pasti akan pilih daerah pantai yang super murah. Mungkin… Benicassim?

Apa yang ada di playlist kalian saat ini? Bob Dylan, King Gizzard, dan Joaquin Sabina. 

Rencana untuk sisa tahun ini? Menyelesaikan tur dunia! And writing the best album ever, again!

Terakhir, sebutkan top 5 musisi perempuan favorit kalian! Courtney Barnett, Patti Smith, Gabriella Cohen, , dan Fiona Campbell.

 

The Girl We Love, An Interview With Dylan Sada

Entah itu fotografi, modeling, atau menyanyi, Dylan Sada tak pernah kehilangan sentuhan ajaib dalam setiap hal yang ia lakukan. Next goal? Scare the shit out of you.

Ketika mendengar kabar Dylan Sada sedang berada di Jakarta, sama seperti banyak orang lainnya di ranah media dan fashion, secara instingtif kami langsung mengontaknya to do some project with her. Memiliki portofolio impresif di belakang maupun di depan lensa kamera, sosok wanita kelahiran Jakarta tahun 1984 ini telah menjadi cult tersendiri dan namanya bersinonim dengan kata It Girl bagi anak-anak subkultur lokal maupun New York City yang menjadi tempatnya bermukim saat ini. Walaupun kedatangannya ke Indonesia kali ini sebetulnya murni untuk vakansi, namun apa daya, semua orang tampaknya paham jika melewatkan kesempatan langka untuk bekerjasama dengannya secara langsung adalah hal yang bodoh. Alhasil, Dylan pun harus rela melakukan transisi dari pleasure ke business during her stay di Jakarta dengan jadwal yang padat akan interview dan pemotretan. Everybody wants a glimpse of her, that’s for sure.

Di akhir Juni tahun lalu, ia pun datang ke kantor Nylon demi mengeksekusi pemotretan cover Alex Abbad untuk Nylon Guys Indonesia dan seperti pertemuan kami setahun sebelumnya, ia datang lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Ia memang tak mengenal istilah jam karet yang kerap menjadi alasan orang Jakarta, namun satu hal yang tidak bisa ia tolak adalah appetite untuk makanan Indonesia setelah sekian lama merindukannya. “Nggak ada willpower lagi, semua dimakan!” cetusnya sambil tertawa renyah.“Pertama kali sampai di Jakarta aku langsung ke restoran Padang. Terus aku senang banget kaya nunggu jam 6 sore nunggu tukang martabak keluar. Aku senang aja duduk di pinggir jalan, ngobrol sama orang lokal,”sambungnya dengan senyuman lebar.

Ditemani oleh sang suami (“sahabat, an ally slash supporter,” menurut Dylan), ia mengaku sangat senang bisa pulang ke Indonesia yang tak sekadar untuk berlibur, tapi juga membangun network lagi dengan industri kreatif lokal. “Pulang-pulang ke Indonesia banyak sekali hal baru, oh man, I feel like everyone has their own label or restaurant. Aku kaya yang ‘Wow anak-anak umur segini udah bisa, gue di umur segitu mungkin masih panjat pohon.’ I’m really proud, so many talented people that need some spotlight, jadi aku banyak jalan-jalan, kenalan-kenalan aja. Seru,” paparnya antusias. Salah satunya seperti yang terlihat di Instagram Nikicio di mana Dylan bersama figur wanita keren lainnya seperti Chitra Subyakto, Ayla Dimitri, dan Eva Celia basically just hanging out and looking awesome together.“I’ve been a long time supporter for her works,” ujar Dylan tentang Nina Nikicio. “She really love what she does and it shows. Kemarin aku juga pertama kali ketemu sama Ayla, terus akhirnya ketemu sama Chitra dan Eva setelah selama ini cuma sebatas internet. Meeting them in person is really fun.”

            Saat disinggung soal current obsession saat ini, secara mengejutkan Dylan mengaku jika ia sebetulnya masih mencari dan mengeksplor hal yang ia benar-benar suka dalam dunia fotografi yang ia geluti. “Selama ini aku kira fashion, tapi kayanya masih eksplor juga. Aku senang dengan fotografi karena nggak ada limit umurnya. Aku rencananya ingin lebih banyak travel and seeing things. My current obsession is to make good works, so many people reaching out to me, and I never really like my works, and now it drives me to make a better work. So that’s my obsession right now… Working again, being creative again, and Indonesian food,” tandasnya optimis.

Photography aside, Dylan yang berasal dari keluarga dengan darah musik yang kental dan telah berlatih vokal sejak kecil bersama ibunya juga berniat menyanyi kembali. “Lagi mau kolaborasi sama teman aku, kita mau bikin yang nyinden pakai gamelan,” bocornya. Jika selama ini masih jarang orang yang mengenal Dylan sebagai penyanyi, mungkin karena memang dari dulu Dylan selalu memilih menyanyi di balik layar, mostly menyumbangkan vokalnya untuk berbagai iklan. ”Nggak pernah mau jadi frontman, sukanya di belakang.layar. Aku mau orang hanya fokus dengan suara aku. Aku bukan penyanyi terbaik, tapi aku senang aja sih nyanyi, people think ‘Kenapa lo bilangnya lo fotografer?’ Well, the reason is kalau orang baru kenal, kalau aku bilang aku penyanyi pasti kaya disuruh nyanyi, so I don’t say that, I’m just gonna say I’m photographer,” tukas Dylan.

Wanderlust and always curious to try something new, merupakan hal yang natural jika ia mengaku masih banyak hal yang ingin ia lakukan. Salah satunya adalah berkolaborasi dengan duo sutradara The Mo Brothers. “Kalau jujur sih aku ingin banget proyek main film sebagai hantu,” ujarnya serius. “Life goal aku itu aneh, aku mau jadi hantu yang paling seram yang pernah kamu tonton di screen, I’m gonna scare the shit out of you, people!” tutupnya dengan gelak tawa.

01

Dylan Sada’s favorites:

EATING

Oh man, pertama kali sampai di Jakarta, aku nggak suka manis, tapi aku abisin martabak manis satu loyang, piring sampai aku jilat. Langsung nggak mikirin berat badan.

SCARY MOVIE

Classic ones like John Carpenter. I love sci-fi horror like Alien, tapi Rosemary’s Baby juga suka. Aku suka horror yang lebih seram secara imajinasi tapi Suzanna lah nggak ada yang ngalahin.

TRAVEL PLAN

Honestly Indonesia. People always want to keliling dunia, but Indonesia is so beautiful. Aku pengen keliling Indonesia dulu. Ke Flores, Malang, ke Pulau Sempu, mau ke Bromo juga belum pernah.

CELEBRITY CRUSH

Adrien Brody, but for female, I’ve been watching Mad Max and Charlize Theron is so awesome, she’s like my girl crush forever and I always have eternal crush for Björk.

TV SERIES

Game of Thrones! Lagi suka banget. The books also really good, sekarang ceritanya juga mulai melenceng dari bukunya dan orang-orang langsung pada stress.

 

Art Talk: The Many Pieces of Atreyu Moniaga

Berangkat dari imajinasi masa kecil, energi kreativitas yang seolah tanpa batas dalam diri seorang multi-hyphenate Atreyu Moniaga dengan leluasa melintasi berbagai medium. Dari kanvas hingga ke Cannes.

atreyu

Di usia yang masih terbilang muda dan ditambah dengan wajah yang seolah berhenti di umur belasan, mungkin kamu tidak akan menyangka jika Atreyu Moniaga telah mengantungi lebih banyak profesi dari mayoritas orang. A multi-hyphenate, I dare say. Secara ringkas, istilah multi-hyphenate mengacu kepada seseorang yang memiliki beberapa profesi atau bakat sekaligus. Katakanlah seorang singer-songwriter, model merangkap aktris, atau dalam kasus Atreyu: ilustrator, fotografer, dosen, dan belakangan, an actor.

Lulusan IKJ kelahiran 9 Desember 1988 tersebut pertama kali mencuat lewat karya-karya ilustrasi berbasis cat air dengan nuansa whimsical dan dreamy yang terinfluens dari cerita fantasi yang ia lahap dari kecil. Tak berhenti di atas kanvas, pria yang dikenal dengan nickname Atreist dalam sirkuit desain dan seni ini terus mengeksplor berbagai medium dan terlibat di banyak pameran dan project menarik, termasuk salah satunya mendesain embroidery yang menjadi bagian dalam koleksi “Melange De Sens” karya fashion designer Sebastian Gunawan. Di samping ilustrasi, ia pun mewujudkan imajinasinya dalam bentuk fotografi yang walaupun terasa jauh lebih grim bila dibandingkan ilustrasi penuh warna miliknya, namun tetap menunjukkan elemen surreal yang selama ini menjadi ciri khasnya. Seolah tak kehabisan energi, hari-harinya juga disibukkan dengan menjadi dosen fotografi dan ilustrasi di Universitas Bunda Mulia dan ia pun menambah resumenya dengan berakting dalam film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might garapan Lucky Kuswandi.

Dalam debut akting di film pendek berdurasi 25 menit tersebut, Atreyu berperan sebagai Aseng, seorang remaja Tionghoa di sebuah kota kecil yang dekat dengan basis militer di era Orde Baru yang represif. Sarat oleh isu rasial, opresi, dan percikan seksualitas, film ini berhasil terpilih untuk ditayangkan dalam program Semaine de La Critique (Pekan Kritikus) di Festival Film Cannes tahun 2015, sekaligus menjadi film Indonesia pertama yang masuk dalam ajang tersebut setelah film Tjoet Nja’ Dien karya Eros Djarot di tahun 1989. Sebuah langkah awal yang impresif bagi seseorang yang mengaku tidak pernah berakting sebelumnya. Dengan begitu banyak sisi yang menggoda untuk dibicarakan, Atreyu pun menuturkan beberapa fragmen dalam dirinya.

backyard-wonderland

Di mana kamu menghabiskan masa kecil dan hal-hal apa yang menarik minatmu saat itu? Saya menghabiskan masa kecil saya mostly di kamar. Membaca dongeng-dongeng klasik, majalah Bobo, komik Jepang, dan bermain video game. Yang menarik minat saya saat itu adalah keajaiban cerita-cerita fantasi

Apakah kamu memang berasal dari keluarga kreatif? In a way of thinking? Yes. Saya merasa orangtua saya memiliki pandangan dan argumen yang unik.

Hal apa yang pertama kali membuatmu ingin serius menekuni bidang ilustrasi? Yang membuat saya ingin serius menekuni bidang ilustrasi sebenarnya dimulai sejak kuliah. Saya awalnya sempat pupus menggambar karena merasa tidak memiliki bakat dan informasi. Yang saya tahu saat itu adalah jika ingin survive; jadilah desainer grafis. Dan karena dekat dengan menggambar, saya rasa tak apa-apa.Tapi belakangan selama perkuliahan berjalan sayamendapatkan informasi-informasi baru tentang ilustrasi, ilustrator, dan detail-detail lain yang membuat saya merasa punya kesempatan.

Siapa saja sosok yang menginfluens karyamu? Cara bertutur saya dalam berkarya sepertinya sangat terinfluens dari singersongwriter Jewel. Saya merasa ingin membuat ilustrasi sebaik dia membuat lirik. Selain itu saya juga terinspirasi dari orang-orang seperti James Jean, Takashi Murakami, Dussan Kallay, dan dosen saya sewaktu kuliah dulu mas Arief Timor. Saya juga menyukai karya-karya Pedro Almodovar.

13241244_226596837724483_6082203544827445773_n

Kalau sekarang, hal apa saja yang biasanya menginspirasi untuk berkarya? Yang menginspirasi saya dalam berkarya sekarang (selain briefing dan demand), saya rasa kehidupan itu sendiri. Saya secara egois membicarakan tentang diri saya sendiri dalam karya-karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan personal aesthetic dirimu? Dan apa medium favoritmu untuk berkarya? I actually can’t describe my personal aesthetic. Saya mencoba untuk relax dalam berkarya agar saya betul-betul menikmati proses penciptaan karya. Medium favorit saya juga sebetulnya nggak ada. Mungkin karya saya didominasi cat air. Tapi yaitu karena cat air masih sampai saat ini medium yang paling saya kuasai. Tapi sebetulnya saya sangat ingin mencoba medium-medium lain. Rasanya akan sangat seru.

please

Selain ilustrasi, kamu juga mendalami fotografi. Kalau menurutmu, bagaimana ilustrasi dan fotografi bisa saling melengkapi? Saya melakukan treatment yang sama dalam fotografi seperti yang saya lakukan dalam ilustrasi (baca: curhat) jadi saling melengkapi mungkin nggak, tapi ada beberapa hal yang menurut saya bisa diraih lebih baik dengan digambar, dan beberapa lebih baik dengan dipotret.

13245423_230140614036772_5985381347418943950_n

Kalau tentang menjadi dosen? Apa yang menarik dari profesi ini? Saya jadi dosen karena tawaran teman saya yang saat itu sudah jadi dosen uluan. Sudah dua tahun mengajar. Yang menyenangkan adalah melihat semangat-semangat polos anak-anak ini sih dan mengajar membuat saya jadi terus meng-update kabar-kabar terkini dari mata kuliah yang saya ajarkan. Dan semangat mahasiswa-mahasiswa ini yang akhirnya membuat kami sudah membuat 2 kali pameran fotografi dan 1 kali pameran ilustrasi. Semoga bisa terus berlangsung.

Bagaimana ceritanya sampai akhirnya terlibat di film Lucky Kuswandi? Ini kisah yang jawabannya seperti jawaban artis-artis di interview TV nih, haha! Saya nggak sengaja datang ke sebuah pameran di mana saat itu Lucky juga datang. Dan menurut dia saya cocok dengan karakter Aseng di film ini. Terus diajak casting. Terus dapat deh perannya.

Apa yang paling memorable dan menantang selama syuting, mengingat ini adalah film pertamamu? Syutingnya sangat menyenangkan. Saya merasa beruntung bekerja dengan mereka yang sangat cekatan dan rapi. Yang paling menantang saat shooting adalah scene terakhir saat Aseng dan David terlibat perebutan pistol. Malam itu take-nya belasan kali. Saya dan Fauzan (pemeran David) sangat merasa bersalah sama crew yang lain saat adegannya harus diulang, dan saat itu sudah sekitar jam 1 pagi.

Selain film ini, kamu juga bermain di film pendek garapan Monica Tedja, apakah dunia akting akan menjadi sesuatu yang kamu geluti dengan serius? Untuk itu saya masih belum tahu. Saya ternyata menikmati proses berakting dari reading sampai syutingnya beneran. Jadi mungkin saya ingin mencoba lagi. Ya berkaryalah ya, apapun platform-nya. Kalau prosesnya enjoyable yah ayuk aja.

Selain dunia art, apa hal lain yang kamu nikmati? Sushi, tapi ini art juga kan sebenarnya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi creative blockBiasanya saya latihan teknis sih kalau lagi mentok. Latihan mewarna atau mengarsir. Tapi kalau jenuh banget biasanya saya stop sama sekali dan nonton-nonton film aja. Cuma baru-baru ini saya mendapat treatment baru yaitu creative talks. Jadi kaya kumpul-kumpul sama teman-teman terus ngobrol ngalor ngidul aja tentang urusan art. Dan kalau tetap mentok juga, saya nyanyi-nyanyi aja di kamar.

What’s your next project? Be healthy, be happy! That’s the ultimate, ultimate project!

14606520_297400527310780_2955092824774464233_n

 

 

Minty Fresh: Five Fresh Acts To Add On Your Playlist This Month.

sofi-tukker

SOFI TUKKER

Berawal dari perkenalan di sebuah galeri seni, penyanyi bossa nova Sophie Hawley-Weld dan DJ asal Boston bernama Tucker Halpern yang sama-sama berkuliah di Brown University dengan cepat menjadi kawan karib berkat instant chemistry dan ketertarikan yang sama terhadap budaya dan musik Amerika Latin. Setelah keduanya lulus dari Brown, mereka memutuskan pindah ke New York untuk membentuk duo folk-dance bernama Sofi Tukker yang menyajikan musik electronic dengan sentuhan musik Latin yang terdiri dari beat house adiktif, dentuman gitar elektrik, alat musik tradisional seperti bongo dan charango, serta lirik berbahasa Portugis yang terinspirasi oleh tulisan penyair Brazil legendaris, Chacal. Hal itu mungkin terdengar aneh di atas kertas, tapi jika kamu telah mendengar beberapa single awal seperti “Drinkee” (yang dipakai dalam komersial Apple Watch baru-baru ini), “Matadora”, dan “Hey Lion” yang terkompilasi dalam debut EP bertajuk Soft Animals, kamu akan jatuh cinta dengan cepat kepada duo yang kini berada di bawah naungan HeavyRoc Music, label milik The Knocks tersebut. Bagi mereka, membuat musik dance adalah hal yang sebetulnya bersifat spiritual. Sophie yang juga merupakan seorang pengajar yoga mengaku terinspirasi oleh chants dari Kundalini yoga yang berulang-ulang untuk menciptakan ambience yang mengajak pendengarnya terserap dalam vibrasi ritmis. Now you know why there’s something hypnotic about their music.

chaz-french

Chaz French

Dengan hasil observasi dari lingkungan sekitarnya, Chaz French yang merupakan rapper asal Washington D.C. menghabiskan masa sekolahnya dengan menulis lirik lagu rap di buku pelajaran dan merekam mixtape berisi 15 lagu di basement milik temannya. Namun, baru setelah akhirnya drop out dari sekolah dan berkeluarga, ia merilis album debut dengan judul Happy Belated pada April tahun lalu yang dipenuhi passion, soul, serta authenticity yang tidak mungkin bisa ditiru oleh orang yang tidak pernah merasakan getirnya hidup. Membawa warna baru terhadap kultur hip hop di D.C., ia kemudian meraih momentumnya bersama mixtape teranyarnya These Things Take Time akhir tahun lalu yang diakuinya jauh lebih kohesif dan mendapat respons gemilang tidak hanya dari pendengar dan jurnalis, tapi juga dari sesama musisi seperti Pusha T. Dalam video untuk single terbarunya “IDK” yang disutradarai oleh Shomi Patwary, rapper berusia 24 tahun ini mengajak kita menelusuri jalanan D.C.  dengan konsep yang terinspirasi dari situasi nyata tentang life struggle dan kenyataan hidup yang keras. Baru-baru ini, ia juga berkolaborasi dengan singer-songwriter R&B Kevin Ross dalam single “Be Great” yang mengangkat soal ketegangan rasial dan kebrutalan polisi dalam komunitas African-American beberapa tahun terakhir ini. Namun, bukan berarti jika musik yang ia buat hanya mengumbar kepahitan saja, karena di balik kemampuannya untuk melontarkan lirik yang brutally honest dengan kecepatan senapan mesin, there’s always something melodic and of course, the silver lining.

cullen-omori

Cullen Omori

Rasanya selalu menyebalkan saat mendengar kabar band favoritmu memutuskan bubar karena masalah internal, seperti yang dialami oleh Smith Westerns. Disebut sebagai salah satu band indie-rock paling exciting sejak merilis album Dye It Blonde di tahun 2011 dengan pengaruh garage rock yang pekat, band asal Chicago tersebut memutuskan bubar tahun lalu. Tapi untungnya, para personelnya tidak lantas pensiun dari musik begitu saja. Dalam jeda waktu yang hampir bersamaan, para bekas personel Smith Westerns muncul dengan proyek musik masing-masing. Bagi sang mantan vokalis dan gitaris, Cullen Omori, proyek itu adalah album solo perdananya dengan judul New Misery yang dirilis oleh label Sub Pop bulan Maret kemarin. Direkam tahun lalu dalam sebuah sesi recording selama sebulan penuh di Brooklyn, album berisi sebelas lagu ini ditulis dalam masa-masa yang membingungkan bagi pria keturunan Jepang berusia 25 tahun tersebut. Telah mulai pergi tur saat berhenti sekolah di tahun 2009, Cullen harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa kegiatan band dan melakoni pekerjaan part time di sebuah rumah sakit selama beberapa waktu. Lucky for him, album ini tidak lantas menjadi rekaman gundah gulana penuh nestapa. Lewat single seperti “Sour Silk” dan “Cinnamon”, Cullen pun menunjukkan elemen-elemen terbaik dari band terdahulunya yang dipenuhi aesthetic power pop penuh reverb dan catchy hooks yang mengiringi vokal Cullen yang masih terdengar dreamy seperti sosok cowok paling misterius di sebuah SMA daerah suburban Amerika. Diperkuat dengan mood dan lirik yang lebih gelap, he’s more than ready to take the center stage.

the-britanys

The Britanys

Tak lama setelah tiga sekawan Steele Kraft, Lucas Long, dan Gabe Schulman menjadi roommates di kampus dan memutuskan membuat band bareng, mereka mencari nama bayi perempuan paling populer di tahun 1994 (tahun kelahiran mereka) di Google. Hasilnya adalah Brittany, namun akibat salah tulis, mereka terlanjur mendaftarkan nama domain mereka dengan nama Britany, and that’s how these NYC indie rock band got their name. Di tahun 2014 ketika masih dalam format trio, mereka merilis debut EP bertajuk It’s Alright dengan berbagai referensi rock & roll dan garage band. Tahun lalu, mereka memutuskan merekrut Jake Williams sebagai gitaris tambahan dan merilis “Basketholder”, single pertama mereka sebagai four-piece band yang diproduseri oleh Gordon Raphael (yang juga pernah memproduseri The Strokes dan Regina Spektor). Saat ini, The Britanys tak hanya berkutat dengan jadwal latihan empat kali seminggu di basement apartemen mereka di daerah Bushwick, mereka juga sedang aktif menjadi pembuka untuk band seperti Hinds dan tampil di festival seperti Savannah Stopover Music Festival dan The Great Escape di Inggris. Dengan semua momentum positif itu, mereka pun dengan antusias menyiapkan materi-materi baru yang dirangkum dalam Early Tapes EP yang berisi 4 lagu yang akan mengingatkanmu pada materi di era awal Arctic Monkeys dan The Strokes.

littlesims

Little Simz

Bersenjatakan lirik rap yang dibawakan dengan penuh intensitas dan flow yang tak terbendung, Simbi Ajikawo adalah seorang rapper belia asal London yang memakai nama alias Little Simz dan membuktikan jika dedikasi serta passion memang menjadi kunci kesuksesan bagi seorang musisi muda. Menulis lagu pertamanya di umur sepuluh tahun, Little Simz sudah tahu apa yang ingin ia raih dan kerjakan di saat anak-anak seumurnya masih clueless dan belum memikirkan soal future career. Hasil kegigihan dan talenta alaminya membuahkan album debut berjudul A Curious Tale of Trials + Persons yang dirilis di bawah label miliknya sendiri yang bernama Age 101. 10 lagu di dalamnya merupakan hasil jerih payahnya bekerja di akhir pekan demi bisa membeli mic dan mengasah bakatnya di kamar tidurnya dengan inspirasi dari musisi-musisi favoritnya seperti Lauryn Hill, Missy Elliott, dan Dizzee Rascal. Tak hanya menulis dan memproduksi musik, as a part of the millennial musicians, dia juga belajar secara otodidak caranya menyunting video musiknya sendiri dan merilis beberapa mixtape di akun SoundCloud miliknya yang meraup 50 ribu followers bahkan sebelum akhirnya ia mendapat kontrak dari Mos Def, J. Cole, dan Kendrick Lamar. Now, that’s girl power.

 

Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

Winning Pitch, An Interview With SALES

Hampir mirip seperti prinsip ekonomi, duo indie pop SALES memproduksi musik yang terdengar seminimal mungkin untuk menghasilkan musik berkualitas maksimal.

Sejak pertama kali merilis single perdana bertajuk “renee” di akhir 2013 lalu, SALES yang merupakan kolaborasi dari dua sahabat lama Lauren Morgan (vokal/gitar) dan Jordan Shih (gitar/programming) telah mendapat apresiasi positif dan termasuk salah satu band yang paling banyak dibahas di blog walaupun belum merilis album apapun. Relaxed and intimate, duo asal Orlando, Florida ini meramu musik lo-fi pop minimalis berbasis gitar dengan unsur folk di mana vokal Lauren yang whispery mengalun ringan di antara aransemen memikat racikan Jordan. April lalu, mereka pun merilis sendiri self-titled LP perdana mereka secara DIY dengan 15 lagu di dalamnya, termasuk single seperti “ivy” serta “jamz” yang sangat adiktif dan terasa “penuh” di balik segala kesederhanaan musik yang mereka usung. Setelah menghasilkan sebuah timeless bedroom pop album terbaik yang kami dengar tahun ini dan menyelesaikan tur Amerika mereka, keduanya kembali ke Orlando untuk istirahat sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan dari kami.

Jadi, bagaimana kalian pertama kali bertemu dan memutuskan untuk bikin musik bareng? Kami bertemu saat SMA dan musik menjadi mutual interest kami walaupun kami datang dari latar musik yang berbeda. Jordan memproduksi musik elektronik dari kamar tidurnya dan bermain tenor saxophone di marching band, sementara Lauren tumbuh besar belajar piano dan gitar. Kami telah berkolaborasi sekitar sepuluh tahun.

Apa cerita di balik nama band kalian? Orangtua Lauren bekerja sebagai sales people yang bekerja demi komisi. Mereka menjual macam-macam benda dari mulai permen, pasta gigi, obat-obatan, wine, teh, hingga herbal vape pens dan industrial oil/lubricant untuk menyebut segelintirnya.

Apa saja yang menjadi influens musikal untuk SALES? I think we are more so inspired by other artists, rather than influenced. Kami mencoba mendorong musik kami sejauh yang kami bisa. Kami selalu bingung menjawab pertanyaan ini karena kami mendengarkan banyak sekali musik dan tampil bersama banyak inspiring musicians both big and small. Menyebutkan hanya beberapa nama terasa tidak adil bagi kami.

Saya sangat menikmati LP kalian. Apa yang menjadi tema besar yang ingin kalian angkat di album ini? Thanks, we are glad you like it. Tidak ada tema khusus untuk album ini, tapi sejak pertama kali kami membuat musik, kami membagikannya ke teman-teman kami yang datang dan pergi seiring waktu. Kami hanya membuat musik yang ingin kami dengar, it is music to share with your friends. We recorded it all in an untreated bedroom studio. 

sales-lp

Kalau soal songwriting sendiri? Songwriting is collaborative, kami saling melengkapi secara kreatif dengan kompak. Jordan sangat teliti soal arrangement, aspek teknis dari rekaman, dan menemukan that million dollar baby moment dari 30 minutes long take. Lauren adalah penulis lirik dan gitaris yang cenderung improvisational. Pada akhirnya, jika kami tidak sepakat pada satu hal, kami akan mundur sejenak dan baru akan kembali menghadapinya dengan pikiran yang lebih jernih dan tenang. We usually can always reach understanding since we both just want what is best for the song.

Bagaimana kalian mendeskripsikan genre kalian? Apakah kalian terganggu jika orang menyebut musik kalian sebagai “twee”? We are okay with whatever label gets stuck on the project–labels happen and “twee” fills up our hearts. Musik kami sangat dipengaruhi oleh pilihan kami untuk tetap independen. We think our sound stands on its own, and isn’t what you’d expect.  

Untuk Lauren, adakah vokalis perempuan yang kamu kagumi? Tentu saja ada banyak sekali vokalis perempuan yang saya kagumi dan tidak bisa saya sebut satu per satu. Tapi ketika masih sekolah saya pernah mendapat tugas untuk presentasi soal Billie Holiday, she was an early inspiration for me.

Apa yang membuat kalian memilih Alana Questell untuk membuat artwork album ini? Alana telah membuat artwork dari mulai single pertama sampai LP kami. Artwork kolase yang ia buat sangat interpretif dan berdiri sendiri, terpisah dari musiknya sendiri. Like the songs, the artwork may mean something different to everyone– there is room for your story.

Boleh cerita soal skena musik di kota asal kalian, Orlando? We love it walaupun kami melihat banyak teman-teman musisi datang dan pergi. It is rough to have a scene when everyone is there temporarily. Tapi, selalu ada sesuatu yang terjadi, banyak orang dan venue yang menggelar show, festival, dan acara komunitas. We don’t really go out much though. Kami lebih sering menghabiskan waktu membuat musik, makan di restoran, masak di rumah, atau main tenis.

Bagaimana rasanya tampil live di panggung bagi kalian? Every night is unique with a different city and the same songs. Kami mencoba membuka diri kami ke crowd dan menampilkan show yang bagus. Jordan tidak terlalu excited soal tur (low key stage-fright), tapi dia belajar menghadapinya dan melakukannya dengan baik.

Apa yang menjadi career highlight sejauh ini? Our sold-out L.A. show at the Troubadour was one of the best shows we have ever played. We got late night dinner after the show in Thai town. We will never forget those feels. 

Apa yang kalian kerjakan di luar musik? Musik adalah full time job kami. Kami memilih untuk tetap independen dan melakukan semuanya sendiri dari menjawab undangan manggung, mengurus berkas pajak, merencanakan tur Eropa, dan tur Amerika kami berikutnya di bulan Oktober. We love making music, jadi kami akan terus melakukannya. Selain itu, Lauren hobi berkebun di rumah barunya dan main gitar sedangkan Jordan suka memasak dan mencoba menjadi the Prince of Tennis.

Karena ini Summer Issue kami, apa hal favorit dan rencana kalian untuk musim panas? Kami baru saja membatalkan sisa jadwal tur untuk musim panas agar kami bisa istirahat dan punya waktu untuk menyiapkan materi selanjutnya dan mengurus segi bisnis. SALES sedang tumbuh dan kami ingin meyakinkan diri jika kami juga bisa berkembang lebih jauh. Rencana kami untuk musim panas tahun ini adalah mempertajam LP kami, menambahkan elemen baru yang bisa kami pakai di live show, dan mencari Patbingsu di Orlando.

sales-band-2015-770x485

Follow SALES: https://sales.bandcamp.com/

Foto oleh: Carlos Quinteros Jr.

 

Eyes Wide Open, An Interview With Nasya Marcella

Selayaknya langit malam, dunia layar kaca tak pernah sepi akan bintang-bintang yang terus melesat berkilauan. But once in awhile, selalu ada sosok-sosok tertentu dengan pijar tersendiri yang lebih dari paras cantik belaka. Kami pun menemukan that something special thing dalam diri Nasya Marcella yang simply irresistible. Mari buka mata lebar-lebar untuknya.

img_8681

Dibesarkan di zaman ketika televisi masih menjadi sumber hiburan utama di rumah, jujur saja, saya termasuk anak yang tumbuh dengan menonton sinetron lokal for guilty pleasure dan karena memang kurangnya pilihan tontonan lain saat itu. Namun, seiring bertambahnya umur dan kesibukan (and dwelling in YouTube, obviously) saat ini saya termasuk orang yang hampir tidak punya waktu untuk menonton stasiun televisi lokal. Alhasil, saya nyaris tidak familiar lagi dengan para pendatang baru yang menghiasi layar kaca Indonesia saat ini. Tapi sebagai pekerja media, terkadang saya merasa perlu menyempatkan diri untuk tune in sejenak di stasiun-stasiun TV lokal demi meng-update diri sendiri soal who’s who in television nowadays (and the local infotainment buzz, for another guilty pleasure) dan tidak butuh waktu lama untuk mengetahui fakta jika sinetron tampaknya memang masih mendominasi jam-jam prime time televisi lokal dengan deretan wajah-wajah rupawan yang mostly berdarah Kaukasia.

Some things never really change, I guess. Namun, seperti yang sudah sempat saya singgung sebelumnya di atas, dari sekian banyak bintang-bintang muda yang silih berganti muncul di layar perak dengan talentanya masing-masing, pasti ada saja segelintir nama yang memiliki sparkle tersendiri yang seolah mengundang kita untuk mengenalnya lebih jauh. Dan Nasya Marcella adalah salah satu di antaranya. Cantik? Itu sudah pasti. Dengan pembawaan girl next door yang sangat manis dan senyuman berlesung pipit yang teduh, dara bernama lengkap Victoria Nasya Marcella Tedja tersebut memang terlihat selayaknya gadis impian yang menjadi the object of affection dalam kisah-kisah komedi romantis. It’s easy to fell in love at the first sight with her saat melihatnya di berbagai judul-judul sinetron atau iklan yang ia bintangi, namun saat melihatnya secara langsung di malam final NYLON Face Off akhir tahun lalu, saya harus mengakui jika she’s even prettier in real life. Dengan senyum radiant yang seolah menular dan kepribadian super sweet, ditunjang perannya sebagai brand ambassador untuk label kosmetik remaja Emina, it’s really no brainer jika kami memilihnya sebagai cover girl edisi Beauty tahun ini.

            Di sebuah pagi di pertengahan bulan Januari lalu, ia datang tepat pada jam yang telah ditetapkan untuk pemotretan ini. Memakai kemeja blus bermotif gingham warna pastel dengan jeans putih yang senada, ia melepas kacamata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya untuk menyapa kami dengan senyuman manis. Ditemani oleh sang mama yang selalu setia mengantarnya memenuhi berbagai jadwal, ia pun duduk dengan sabar menunggu tim makeup & hair datang sambil sesekali mengecek smartphone miliknya. Untuk mencairkan suasana, saya pun bertanya tentang kesibukannya akhir-akhir ini yang dijawabnya dengan antusias. “Kemarin terakhir itu habis main film layar lebar judulnya Abdullah dan Takeshi, sebetulnya belum selesai, masih ada satu hari lagi untuk syuting tapi jadwalnya belum ketemu sama yang lain. Sama paling photoshoot-photoshoot gitu sih. Ini film pertama aku, seneng banget, terus udah gitu syutingnya ke Jepang juga!” paparnya ceria.

            Saat tim makeup & hair akhirnya tiba, interview ini pun kami lanjutkan di depan meja makeup. Sambil membiarkan wajah segarnya mulai dirias, ia melanjutkan ceritanya soal film debutnya tersebut yang turut dibintangi oleh Kemal Palevi dan Dion Wiyoko. Bergenre komedi, dalam film yang direncanakan tayang bulan Maret ini Nasya berperan sebagai seorang mahasiswi yang terjebak dalam perebutan dua pria berdarah Arab dan Jepang yang tertukar saat lahir. Proses syutingnya sendiri di Jepang hanya berlangsung selama empat hari, namun Nasya harus extend beberapa hari ekstra untuk syuting iklan terbaru Emina sekaligus merayakan ulang tahun ke-19 yang jatuh di tanggal 9 Desember silam. “Itu pas ulang tahun pas aku lagi syuting, tapi sebelum ulang tahun aku justru punya free time ke Disneyland sama mama berdua dari pagi sampai malam. Ulang tahun di Jepang seneng sih, tapi karena lagi jauh jadi ngerayainnya cuma aku sama mama dan tim Emina, karena tim film udah pada pulang. Ulang tahun nggak ketemu sama keluarga… Agak gimana gitu rasanya… Tapi aku tetap teleponan sama keluarga, mereka ngucapin happy birthday. Agak sedih sih karena nggak ketemu langsung, sama teman-teman juga. Tapi pas aku pulang dan sampai di Jakarta aku dapet surprise juga sama temen-temen, hehe,” ungkap gadis Sagittarius tersebut tanpa bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.

img_8977

Walaupun saat ini sudah tergabung dalam sebuah manajemen artis, Nasya mengaku ia masih lebih suka ditemani sang mama ke mana saja. Tak hanya menjadi sahabat dan sosok manajer pribadi, sang mama juga yang menjadi pendukung utama ketika ia memutuskan terjun ke dunia entertainment. Lahir dan besar di Jakarta, anak tengah dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan tersebut memulai kariernya sejak kelas satu SMP di tahun 2010 lewat beberapa iklan dan ajang modeling. Lain dari yang sempat saya perkirakan, walaupun sepintas dari wajahnya terlihat memiiki darah blasteran, Nasya mengaku jika orangtuanya berdarah Jawa tulen. “Cuma masih ada kakek di Semarang, jadi setahun sekali aku pulang ke Semarang. Mungkin di keluarga, aku memang kaya beda sendiri gitu, kayanya aku paling belo deh di keluarga makanya dulu sering disuruh coba aja jadi artis, padahal di keluarga aku memang nggak ada yang sama sekali di dunia entertainment. Awalnya coba sih karena penasaran aja, aku casting sama ikut modeling yang di mall gitu, karena nggak ada basic jadi awalnya nggak tau harus ngapain juga, tapi terus mama daftarin les modeling yang berguna banget karena dulunya aku memang anaknya cuek banget sih, lewat les itu aku jadi belajar dandan, belajar pakai baju yang bagus kaya gimana, belajar jalan, sama ngelatih kepribadian aku juga,” ceritanya mengenang awal perjuangannya sebelum akhirnya masuk ke dunia sinetron yang membesarkan namanya.

“Kalau sinetron sendiri baru pas kelas 9, mau masuk SMA. Awalnya juga nggak kepikiran main sinetron sama sekali karena masih sekolah, tapi ya udah iseng aja ikut casting terus ternyata dipanggil diajak main sinetron yang sudah tayang. Aku pikir seru juga karena syutingnya kaya jalan-jalan, ke Puncak, ke Anyer… Tapi ternyata nyita waktu, akhirnya pas SMA aku sempat sekolah reguler tapi terus keluar dan home school. Tapi home school-nya masih ada kelasnya juga jadi nggak boring. Sekelas ada sekitar 10 orang, aku tetap cari yang ada temannya juga sih, nggak pengen yang bener-bener sekolah sendirian,” akunya.

Berbekal dengan keberanian mencoba hal-hal baru untuk mengembangkan bakatnya, perannya sebagai Safira di sinetron berjudul Satria yang diputar di tahun 2011 itu menjadi pengantar baginya untuk fokus di kancah sinetron dengan membintangi sinetron-sinetron selanjutnya seperti Yang Masih Dibawah Umur, Magic, Akibat Pernikahan Dini, Fortune Cookies, dan Jakarta Love Story, walaupun ia mengaku tidak memiliki basic akting sebelumnya. “Apa ya, aku belajar dari pengalaman aja, dari casting iklan kadang ada akting dan dialognya juga kan. Yang pasti sih harus rajin pelajarin skenario terus waktu itu kaya banyak nanya dulu, dimarahin sutradara pasti pernah karena nggak hapal dialog tapi lama-lama akhirnya terbiasa sih. Pokoknya jangan malu untuk bertanya, jangan malu untuk dimarahin, kalau dimarahin ya dipelajarin salahnya di mana, belajar dari kesalahan.”

Dengan kontrak bersama SinemArt, ia pun kerap beradu peran dengan para bintang muda lainnya di bawah rumah produksi tersebut. Salah satu yang cukup sering adalah dengan Stefan William, salah satu aktor muda yang paling digilai penggemar sinetron saat ini. Dengan Stefan ia sempat bermain dalam tiga judul produksi. Mau tak mau, ia pun sempat digosipkan cinta lokasi yang lantas ditampiknya halus dan dianggapnya sebagai usaha untuk membangun chemistry dengan lawan mainnya saja. Tentu saja beberapa orang tampaknya tidak semudah itu untuk diyakinkan. “Bukan cuma nanyain, ada yang sampai ngata-ngatain juga, haha! Mungkin nggak bisa dibilang haters aku sih, tapi mereka lebih kaya fans-nya Stefan sama si ini atau si itu. Mereka kaya ‘Kenapa sih Kak Stefan sama Kak Nasya?’, ‘Ih cantikan dia tau daripada Kak Nasya’, ‘Kak Nasya kan orangnya gini gini gini’… Tapi nggak sampai yang buat haters gitu sih. Aku biasa aja sih hadapinnya, lucu-lucu aja, kadang ada yang setiap aku upload apa, benar-benar dikomenin tiap foto tapi ya udah nggak apa-apa, malah bagus haha, berarti dia care sama aku,” tukas Nasya dengan santai.

Untuk menjaga hubungan dengan fans, Nasya termasuk aktif di Instagram dengan followers sejumlah 242 ribu saat artikel ini ditulis. Selain Instagram, Nasya juga mengaku aktif di Ask.fm, sebuah media sosial yang memang cukup digandrungi belakangan ini karena memungkinkan para penggunanya untuk saling mengirim dan menjawab pertanyaan secara langsung. “Kalau Twitter aku susah balesinnya, kalau di Ask.fm bisa langsung dijawab terus bisa anon juga. Sempat ada yang nanya aneh-aneh, tapi aku sering off-anon biar yang nanya harus keliatan namanya, seru sih Ask.fm.” ungkap pemilik akun nasmarcella di situs tersebut.

img_8495

Beside the occasional haters, enam tahun berkarier di entertainment, Nasya tampaknya telah cukup merasakan manis-pahitnya industri ini. Ia menyukai fakta jika lewat kariernya ia bisa bertemu dengan banyak orang dan menambah pengalaman, di samping tentunya memiliki penghasilan sendiri sehingga tidak harus merepotkan orangtuanya lagi, walaupun ia sepenuh hati sadar jika ada beberapa hal yang harus dikorbankan untuk meraih itu semua. “Ya aku jadi korbanin pendidikan. Dulu pas mulai sinetron ambil home schooling biar tetap sekolah tapi ambil jalan tengahnya, sekarang juga belum sempat kuliah. Waktu juga terkuras karena syuting. Jadwal di entertainment kan nggak tentu ya, kalau kerja kantoran kan udah tetap Senin sampai Jumat, tapi ini hari Minggu suka ada kerjaan juga jadi kadang-kadang nggak bisa ke gereja atau ke acara keluarga. Orang-orang sekitar aku jadi susah bikin janji, aku jadi nggak enak tapi kalau bisa nyusul aku pasti nyusul, misal ke acara keluarga atau ketemu temen,” bukanya dengan jujur dan tanpa pretensi.

Untuk urusan kuliah, Nasya mengaku jika beberapa jurusan yang menjadi pertimbangannya adalah Psikologi dan Komunikasi, namun jika ditanya soal passion, ia sebetulnya ingin belajar soal makeup and beauty dengan serius. Well, saat ini ia memang tidak hanya menjadi brand ambassador bagi Emina, beberapa bulan belakangan ia pun sibuk mengembangkan bisnisnya sendiri di bidang beauty, yaitu label fake eyelashes dengan nama Enlashes yang dijual secara online. “Aku memang suka makeup dan dandan, aku udah jadi brand ambassador makeup juga terus aku mikir apa lagi yang masih relate, ya udah akhirnya bulu mata, iseng-iseng dan menurut aku kalau bulu mata untuk penyimpanannya nggak perlu sampai yang punya gudang, kalau misalkan nggak laku juga aku santai aja, soalnya bulu mata kan nggak terpengaruh sama trend. Kalau jualan baju pasti ada trend kan, ini project santai banget untuk waktu luang aja,” tukasnya.

Dengan interest khusus pada makeup and beauty, ia juga percaya diri untuk merias wajahnya sendiri sebelum syuting dengan skill yang ia dapat dari menonton para beauty blogger favoritnya seperti Michelle Phan dan Peary Pie. “Kalau menurut aku makeup mereka cocok karena nggak terlalu tebel tapi variasinya banyak. Terus mereka Asian juga, jadi lebih bisa relate untuk contoh warna makeup-nya. Beauty Icon aku itu Michelle Phan karena dia keren terus orangnya keliatan ulet kerjanya, dia bisa sukses dari blogger jadi entertainer juga, bikin buku, terus kerjasama sama brand kosmetik terkenal juga,” paparnya dengan excited saat berbicara soal subjek favoritnya tersebut.

img_9564

Untuk urusan personal style, penikmat film bergenre superheroes dan young adults series seperti Hunger Games Trilogy dan The Divergent ini mengaku tidak memiliki gaya khusus untuk mendeskripsikan dirinya. Ia memilih mood untuk menentukan outfit yang ia kenakan walau saat ini ia mengaku lebih menyukai gaya yang simple dengan two piece dan monokromatis sesuai umurnya yang telah beranjak dewasa. No more short pants, dan tentunya mental yang terus berkembang. “Ya, setiap ulang tahun aku kaya lebih ke mindset aja, ini udah umur baru harus lebih dewasa lagi, emang nggak terlalu keliatan banget perubahannya tapi dari dalem aja. Rasanya kaya harus lebih berani, nggak boleh manja, jadi lebih kaya bangun mindset gitu. Terus harus lebih happy. Lebih lega. Be better aja. Pembawaannya dari tahun ke tahun harus punya mood yang lebih bagus lagi.”

Di umur yang hampir 20 tahun sekarang, apakah Nasya sudah mulai memikirkan untuk menjalin hubungan yang serius? Saya memancingnya dengan pertanyaan seputar Valentine’s Day. “Jomblo nih, jadi nggak ngerayain Valentine, haha! Paling sama keluarga aja, aku suka kasih bunga ke mama. Kalau kemarin-kemarin sebetulnya belum boleh pacaran karena masih sekolah, sekarang sih sebetulnya udah boleh, tapi belum ada juga, hehe,” ucapnya dengan agak tersipu. Sosok seperti apa yang dicari olehnya? “Carinya yang seagama aja, orangtua pasti ingin anaknya sama yang seagama, terus kalau bisa yang nggak kerja di entertainment juga. Kalau maunya orangtua sih kaya gitu, kalau aku sendiri  sebetulnya nggak terlalu ngerti yang gitu-gitu karena nggak banyak pengalaman juga, tapi kalau kata orangtua sebaiknya seperti itu. Jadi ya udah ikutin aja. Sama yang lebih dewasa sih yang pasti secara pemikiran,” tandasnya mantap.

Walaupun telah mengantungi berbagai profesi mulai dari aktris, model, brand ambassador hingga beauty entrepreneur, rasa penasaran untuk mencoba hal-hal baru dalam dirinya tampaknya belum bisa terbendung. Ia membocorkan keinginan untuk menambah resumenya lagi. Yaitu? “Aku belum pernah nge-host! Aku punya beberapa teman yang jadi MC terus keliatannya seru banget, aku juga jadi pengen coba, tapi belum ada kesempatannya aja. Dan kayanya memang harus punya karakter sendiri, kalau jadi MC mungkin aku jadi bawel sih jatuhnya, haha!” Bebernya.

Hampir satu jam telah berlalu, wajahnya sudah selesai dirias dan ia pun bersiap berganti baju untuk first look yang akan ia kenakan. Untuk menuntaskan obrolan kami, saya meminta Nasya untuk mengutarakan keinginan dan targetnya untuk tahun 2016 ini. Dengan mata yang membulat jenaka, ia pun membuka mulutnya untuk menjawab. “Di tahun ini… Aku ingin sukses antara sinetron atau film. Mungkin harus memilih salah satu karena kalau dua-duanya nggak mungkin deh. Sama bisnis bulu mata ini bisa jalan dan ada kemajuan. Sama dapat pacar kali ya? Haha.” Well, it’s her coming of age days after all and it looks as bright as her eyes.

img_9811

Foto oleh: Hilarius Jason.

Styling oleh: Andandika Surasetja

Makeup artist: Virry Christiana

Hair stylist: Jeffry Welly

Asisten Stylist: Kanishka Andhina

Lokasi: TM Studio

Blooming Days, An A To Z of Ashley Yuka Mizuhara

Tumbuh besar di bawah bayang-bayang sang kakak, Kiko Mizuhara, tentu bukan hal mudah. Namun kini, Ashley Yuka Mizuhara bersiap mekar dengan warna dirinya sendiri.

IMG_0913

Jika kamu bertanya siapa cewek Jepang paling keren saat ini, most likely 7 dari 10 orang akan menjawab nama Kiko Mizuhara. Well, that’s only my wild guess dan memang hal itu belumterbukti secara empiris, namun melihat bagaimana sekarang semua orang tampak terpesona oleh karisma dan kecantikan model merangkap aktris tersebut, saya rasa tebakan saya tidak akan meleset terlalu jauh. After all, Kiko adalah natural-born It Girl yang memancarkan aura kekerenan dengan begitu effortless, dan tampaknya that innate coolness adalah sebuah warisan genetis yang mengalir di darahnya, karena kinikita pun diperkenalkan oleh sang adik semata wayangnya, Ashley Yuka Daniel atau lebih akrab dikenal dengan nama Yuka Mizuhara yang mengikuti jejaknya di bidang modelling.

Sama seperti Kiko, Yuka yang lebih muda empat tahun dari Kiko juga mewarisi look yang unik, hasil dari paduan genetis ayah Amerika dan ibu berdarah Korea-Jepang atau yang lazim disebut dengan istilah Zainichi. Lahir dan besar di wilayah Kobe yang terkenal dengan daging sapi berkualitas tinggi (fakta yang dengan antusias diselipkan olehnya dalam balasan interview ini), Yuka dan Kiko tumbuh menjadi kakak-adik dengan hubungan yang super erat, terutama ketika orangtua mereka bercerai dan sang ayah kembali ke Amerika. “Suatu hari, kakak saya mengajak saya ke sebuah runway untuk Kobe Girl’s Collection. Sebelumnya saya belum pernah melihat langsung dia berjalan di atas runway, dan saya terpukau karena dia sangat stunning dan keren! Sejak itu, saya merasa saya ingin mengikuti jejaknya dengan menjadi model,” ungkap Yuka tentang awal ketertarikannya menjadi model.

Sama seperti sang kakak, tak butuh waktu lama bagi Yuka untuk menjadi the next It Girl dengan tampil di berbagai majalah fashion dan komersial, di samping berbagai aktivitas lainnya seperti talk showdi Apple store untukHanae Mori Maniscuri ×Digital Couture Fashion hingga berkolaborasi dengan musisi elektronik legendaris Jepang, Towa Tei, di mana ia menyumbangkan vokal di lagu “Luv Pandemic” dari album terbarunya yang berjudul CUTE.

 Walaupun kerap dibandingkan dengan sang kakak, Yuka jelas memiliki pesonanya sendiri yang tak kalah memikat. Jika Kiko terlihat dewasa dan seksi, maka Yuka adalah versi Kiko yang lebih kawaii dan ceria, seperti yang bisa kamu lihat di akun Instagram miliknya @ashley_yuka yang dipenuhi oleh selfie imut dan hal-hal quirky yang ia jumpai sehari-hari. Untuk mengenalnya lebih jauh, kami pun memintanya menjawab the A to Z tentang dirinya!

 IMG_0526

About your relationship with Kiko

She is like my best friend always and forever!

Breakfast menu?

Mostly cereal with soy milk!

Cute mascot?

KIRIMI CHAN!(karakterSanrio)

Dream collaboration/project?

I won’t tell yet, it’s a secret, hehe!

Embarassing moment?

Saya pernah memakai t-shirt terbalik seharian >_<

First love?

Saat saya remaja, tapi saya tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Guilty pleasure?

Saya pernah berbohong kepada teman saya >_<

Happiest moment?

Family time

It Girl?

Lion Baby

Japanese pride?

Japanese food is the best!!

Karaoke song?

“Royal” – Lorde

Love of your life?

To be with my friends. They made me so happy!!

Musician you would like to meet?

Brandy!!!!

IMG_1125

Never have I ever…

I try not to do anything dirty.

Obsession lately?

Drinking cappuccinoevery day.

Pet you like to have?

I already have the cutest cat on my own

Question you hate to answer?

Nothing^^

Rumor about you?

Also nothing…!!!l hope.

Style icon?

Debbie Harry 

Things you can’t live without?

My family and friends!

Ultimate crush?

Benda-benda penuh glitter!

Vacation plan?

I’m just planning to go to Bali!!!

What things you would never wear?

Any large size’s clothes!!!!

X-factor?

Doja Cat

Your beauty secret?

Eating healthy food!!!

Zodiac?

Libra. Dog in Chinese Zodiac.

IMG_0958

Foto: Sally Ann & Emily May

Styling: Kosei Matsuda

Makeup: Mariko Tagayashi

Hair: Sayuda Miki

On The Records: Much

Terinspirasi setelah melihat aksi Lemuria di Rossi Musik, Dandy Gilang yang merupakan vokalis kuintet pop-punk Malang bernama Write The Future mulai membuat proyek solo indie rock berelemen Midwest emo dan merilis album mini berjudul Know Where You’re Heading di tahun 2014. Proyek ini lantas berkembang ketika Dandy mengajak pacarnya, Aulia Anggia, untuk mengisi vokal dan lahirlah Much, duo indie rock asal Malang yang telah merilis album Closest Things I Can Relate To pada Record Store Day tahun lalu. Dirilis oleh Haum Entertainment yang merupakan label indie di Malang yang gencar memajukan local scene kota apel tersebut dengan berbagai rilisan menarik, album tersebut berisi 6 lagu beraransemen fuzzy dengan melodi gitar yang twinkly serta vokal manis yang menyanyikan lirik tentang romance youth dan mengingatkanmu pada anthemic soundtrack dari teenage flick 90-an yang catchy.

WHO

Halo, di Much sendiri ada Aulia Anggia biasa dipanggil Anggi berperan sebagai sinden di band ini, ada Dandy Gilang biasa dipanggil Dandy juga nyanyi tapi dengan porsi yang lebih sedikit, lebih banyak bermain gitar sih. Selain berdua, kita biasa dibantu sama teman-teman baik dari keluarga Haum Records, ada Risang Candrasa (Risang) di gitar juga dan biasanya bermain gitar di band pop-punk Write The Future, ada juga Pandu Rahadya (Pandu) di drum yang kebetulan sedang menempuh akhir masa studi di ITB dan juga bermain untuk band lokal di sana Stagger, terakhir ada bos besar Haum Records pecinta idol group, I Made Nara Virjana (Vino) di bass.

 HOME BASE

Malang, Jawa Timur. “Kalau sekarang, terutama anak-anak lebih semangat dan berani, berani keluar kandang, berani bikin musik, berani bikin rilisan, dan thankfully lebih banyak lagi media yang mau liput atau bahas musik dan band di Malang, yang masih kurang sih venue, hehe,” ungkap Dandy.

 THE NAMESAKE

Anggi: “Jadi awalnya setelah kita berhasil membentuk sebuah grup musik ini, mulailah kita mencari nama yang dirasa cocok, simple, dan dapat menggambarkan personality kita. Beberapa nama sempat terlintas tetapi kebanyakan nama ternyata tidak cocok, dan akhirnya ketika dirasa kita punya terlalu banyak ide untuk nama band ini atau dalam Bahasa Inggris too much, kemudian tanpa banyak pertimbangan ya maka jatuhlah pilihan kita pada nama Much.”

 INFLUENCES

Anggi: “Jadi dulu saya lebih sering mendengarkan band-band Britpop atau post punk. Namun, setelah Dandy melibatkan saya dalam proyek musik ini, saya mulai mencari-cari referensi band-band yang vokalisnya cewek, dan favorit saya seperti Alvvays, Colour Me Wednesday, Tigers Jaw, Camera Shy, dan Adventures.”

Dandy: “Musical influences saya, terutama untuk Much bisa pertama dari Lemuria, trus Adventures, Joyce Manor, Saves The Day, Andrew Jackson Jihad, sampai ke Algernon Cadwallader.”

LISTEN THIS

“Break Heart, Break Apart”, single terbaru dari album kedua yang direncanakan rilis tahun ini. “Sedikit banyak sih lagu ini bisa jadi teaser buat materi dan sound di album baru nanti bakal kaya gimana. Selain itu untuk kualitas produksi juga kita berusaha untuk bisa lebih keren lah dari Closest Things I Can Relate To.

LOCAL MUSIC HEROES

Anggi: “Apa ya? Potret kali ya.”

Dandy: “Untuk Indo sih, dari dulu saya suka Padi. Love you mas Fadly.”

BEST GIG

Gigs paling seru sih di acara We.Hum Collective, Humming Mad ke-10 di Jakarta bareng Barefood, Laguna Bang Bang, Fuzzy I, sama Saturday Night Karaoke beberapa bulan yang lalu. Bisa dibilang itu pengalaman pertama kami main di luar kota juga pertama kali kita nyobain house gig dan juga mungkin musik dan lagu kita juga kayanya masih belum banyak yang tau, tapi eh kok rame banyak yang nyanyi dan setelah main pun banyak yang mau ngajakin kita ngobrol dan nanyain rilisan.

IMG_2281IMG_2282

DREAM GIG

Anggi: “Aku sih pengen banget nyobain sensasi main di house-gig lagi, selain itu juga pengen tur di beberapa kota sekalian jalan-jalan. Tapi juga pengen jadi opening act-nya Tigers Jaw kalau bisa, haha!”

Dandy: “Kalau aku sih pengen banget main di pinggir pantai. Plus pengen banget kolaborasi sama Mas Prabu Saturday Night Karaoke plis, apa aja.”

FAVORITE PAST TIME

“Kalau Anggi, biasa mengisi hari-harinya sebagai sarjana dengan menonton serial The Return of The Superman yang berisikan Daehan, Minguk, dan Manse sambil cari-cari kerja. Kalau Dandy biasanya ngurusin café di Malang sembari tetap aktif dalam grup musik lain bersama Risang, yaitu Write The Future. Kalau Risang Candrasa juga biasanya mengisi hari-harinya sebagai entrepreneur dengan mengelola café pribadi miliknya. Vino dan Pandu Rahadya sampai saat jawaban ini ditulis, masih juga berjuang menyelesaikan tugas akhirnya dengan tekanan batin yang dirasa semakin berat setiap hari ketika melihat teman-temannya satu per satu mulai meraih gelar sarjana.”

FUTURE PLAN

Dandy: “Lebih banyak main, gigs/music festival, dalam kota luar kota. Rilis album baru, tour, ketemu lebih banyak lagi temen baru, scene Malang lebih rame lagi yang berkecimpung, lebih banyak media yang mau liput, terus banyak juga yang mau main ke Malang.”

Anggi: “Hampir sama kayak Dandy sih, lebih banyak main di gigs/music festival, rilis album, tour, dan Nikah!!! HAHAHAHA!”

IMG_2279

Foto oleh: Permana Hidayat.

Art Talk: The Colorful Everyday Life of Maskrib

Maskrib1

“Saya orang yang suka jalan-jalan random, ke gunung, hutan, pasar, stasiun, ke mana saja, mostly tanpa rencana dan tujuan sih yang penting jalan dulu, hal itu sangat menginspirasi dan menyegarkan otak saya. Saya juga suka mengamati aktivitas orang-orang yang saya temui, orang-orang sedang pulang kantor di hari Jumat, orang yang sedang menunggu bis, dsb. Bagi saya pengalaman itu menarik saja untuk diceritakan kembali dalam bentuk visual,” ungkap Reza Dwi Setyawan, seorang ilustrator dan desainer grafis yang juga akrab disapa Maskrib tentang inspirasinya dalam berkarya. Dari observasinya akan kehidupan jalanan dan segala manusianya yang menyimpan sejuta cerita, pria kelahiran Sukoharjo 26 tahun lalu yang kini berdomisili di Boyolali tersebut menghasilkan ilustrasi pop art yang meskipun terlihat padat dan riuh oleh detail namun memiliki sense of simplicity yang tidak membuat mata kita lelah. Di samping aktif mengerjakan personal project dan commission work dalam berbagai media dan medium, tahun ini artist yang menyebut Jeremy Ville, Andy Rementer, Angela Dalinger, dan Eddie Hara sebagai influens tersebut telah merilis coloring book perdananya yang bertajuk Happy Slow Life. Yup, we know kalau coloring book for adults memang sedang hype belakangan ini sebagai kegiatan past time yang therapeutic, namun mengenal dan mengagumi karya-karya Maskrib selama ini, I’m definitely excited for this one.

Maskrib

Hai Maskrib, apa yang mendorong untuk serius di bidang ilustrasi? Basically dari kecil emang udah seneng gambar sih seperti kebanyakan orang, dan beruntungnya sampai sekarang kesenangan menggambar itu tetap terjaga dan membawa banyak feedback positif, hehe. Kalau menekuni ilustrasi secara lebih serius dimulai pada masa awal kuliah. Ada satu teman saya namanya Ardan Kukuh Prayogo yang kemudian mengajarkan saya bagaimana berilustrasi dan make a living dari ilustrasi. Dari awal mulai serius sampai pada masa sekarang kurang lebih 4 tahun saya mencoba mencari formula yang pas dan nyaman bagi saya sendiri dalam proses menggambar.

Kalau Maskrib sendiri belajar ilustrasi secara otodidak atau memang sempat belajar secara akademis? Saya pernah kuliah jurusan DKV, tapi sejujurnya secara teknis saya belajar ilustrasi secara otodidak. Dari menjalin hubungan pertemanan dengan banyak teman-teman ilustrator, saya banyak mendapat input positif dari mereka.

11899598_1011634055554975_1077766897_n

Bagaimana tercetus proyek membuat coloring book ini? Sudah lama saya ingin membuat artbook saya sendiri. Dan kebetulan beberapa bulan kemarin ada salah satu penerbit yang menawarkan saya untuk membuat sebuah coloring book dengan mengangkat konsep dan tema seperti apa yang sering saya angkat di kebanyakan ilustrasi saya yaitu ”Human Life”. Pihak penerbit memberikan kebebasan berkreasi dalam isi ilustrasinya. Jadi ini semacam coloring book semi artbook saya juga, hehe. Yang pasti coloring book ini akan jauh berbeda dari coloring book yang sudah ada.

Screen-Shot-2016-02-16-at-4.45.12-PM-copy

Maskrib juga pernah bikin ilustrasi di vinyl dan clothing, sejauh ini medium apa yang jadi favorit? Sebenarnya nggak ada yang benar-benar favorit sih bagi saya. Segala macam media, selama saya bisa bersenang-senang, berkreasi, menuangkan ide-ide saya dan menikmati setiap proses pembuatannya. Kalau saat ini saya sedang senang mengeksplor media clay, membuat figure dari ilustrasi saya dalam bentuk 3 dimensi.

Mengingat kentalnya influens street life dalam karyamu, how would you describe the Jakarta street life? Dan apa saja spot favoritmu di Jakarta? Jakarta street life di satu waktu bisa banyak sekali melihat manusia, beberapa saat kemudian bisa menghilang begitu saja. Waktu bisa terlihat sangat cepat kemudian terasa begitu lamban. Spot favorit saya di Jakarta sampai saat ini masih rooftop kantor tempat saya magang dulu di daerah Palmerah.

Screen-Shot-2016-02-16-at-4.48.28-PM-copy

Selain ilustrasi, apa lagi yang menjadi hobi seorang Maskrib? Kalau duduk di pinggir jalan atau di atas jembatan tanpa melakukan apa-apa, hanya mengamati orang-orang beraktivitas bisa disebut hobi, mungkin itu salah satu hobi saya selain menggambar dan jalan-jalan, hahaha.

12317792_431799760355005_303256949_n

Apa kolaborasi impianmu? Sesungguhnya sampai sekarang impian saya adalah bisa bekolaborasi dengan salah satu band/musisi yang saya suka musiknya. Membuat ilustrasi full untuk album musik mereka.

Selain coloring book, apa lagi project untuk tahun ini? Kalau untuk project komersil ilustrasi masih tetap berjalan sampai saat ini. Dan sesungguhnya setelah rilis coloring book nanti saya sudah ada rencana personal project membuat sebuah artbook visual diary saya sendiri, hahaha! Isinya akan penuh dengan curhat sehari-hari saya. Oh iya dan tentu saja semoga saya bisa lebih fokus lagi membangun art merch saya sendiri @slowboystore.

11350860_1461327187493859_109437074_n

 

Mixtape: Rich Chigga

Jauh sebelum Brian Imanuel dikenal dengan nama Rich Chigga, ia sudah lama berada dalam following list saya di Twitter karena meme dan video-video kocak yang ia buat dengan nama @HeelyRiddler. Belakangan, selain jokes seputar konspirasi 9/11, self-deprecating selfies, dan video tutorial, adik dari fashion blogger terkenal Sonia Eryka ini pun menunjukkan kemampuannya nge-rap dengan memakai nama alias Rich Chigga. Mendapat respons positif setelah merilis video “Living The Dream” yang memakai beat dari DJ Smokey, nama Rich Chigga menjadi topik panas sebulan terakhir ini berkat video terbarunya, “Dat $tick”.

Knowing his antic, awalnya saya mengira jika lagu dan video ini hanya akan menjadi semacam parodi lucu-lucuan belaka, terutama kalau kita hanya melihat cuplikan screenshot yang menampilkan Brian dengan kaus Polo warna pink, celana pendek khaki, dan tas pinggang mengacungkan pistol dan botol minuman keras sambil ditemani oleh squad-nya. But then, ketika instrumental beat super catchy garapan produser bernama Ananta Vinnie terdengar dan Brian memperlihatkan rapping skill-nya, damn, it’s spitting fire. Hasilnya, selama menonton self-directed video berdurasi dua menit ini, saya tak berhenti bertanya-tanya “Is this real? Or is this a joke?” I mean, saya sadar jika ia dengan satir memparodikan diri sendiri dengan nama Rich Chigga (Chinese n***a, duh!) dan stereotipe video musik gangster hip hop, but at the same time, it’s a legit trap record with killer beats yang akan membuatmu menganggukkan kepala tanpa henti. “It was semi-serious,” cetusnya, “I was actually gonna wear a normal clothing that other rappers would wear like Post Malone or A$AP Rocky, but I had a last minute concept change with the pink polo and the fanny pack because I didn’t wanna be seen as a scrawny Asian kid trying to be hard, kinda like Slim Jesus,” tandas homeschooler berumur 16 tahun ini.

Yang jelas, “Dat $tick” menjadi viral dengan cepat, menghasilkan interview  dan feature di Hypetrak, ditonton lebih dari sejuta kali, di-share oleh Snoop Dogg, dan bahkan dimainkan di Drake Night, Los Angeles. “That song was the product of me listening to A$AP Rocky for a week straight, I’ve known Vinnie for quite a while now and he wanted to collaborate with me on a song but we didn’t know what at the time, so I just started writing down lyrics and told him to make me a beat. I expected it to hit like 300k but nothing this crazy. It was really cool seeing about 800-1000 people listening to my song,” ungkap penggemar A$AP Rocky, $UICIDEBOY$, dan Lil Uzi Vert tersebut soal respons yang ia dapat. Wanna know more about him? Check out these tidbits plus mixtape dari lagu-lagu favoritnya belakangan ini. Oleh: Alexander Kusuma Praja. Foto oleh: Roy Leonard.

“I actually regret naming myself ‘Rich Chigga’, I was debating on whether or not I should change it when I posted the ‘Dat $tick’ video because I already had another music video with that name. If I could change my name I’d change it to something that has nothing to do with race because it’s corny.” 

“I don’t see the big deal in using the word ‘nigga’ as long as you don’t use it in a racist context. I personally don’t use it during conversations, I just prefer not to, I used it in my song because I just liked the way it sounded on it, I also wanted to kinda help neutralize the word by putting out something that sounds cool and gets people like ‘This is dope so I’ll let this slide.’ And by looking at the little amount of dislikes I think it’s working.”

“I wanna dive deep into music but still do comedy on the side because that’s where I came from, it’s what got me here and I wouldn’t just switch up my brand like that.”

“My current obsession is definitely the movie Ratatouille; it’s amazing how they taught the rat how to cook for the movie. Music/entertainment wise Tyler The Creator, he is a genius.”

“What’s next? Expect 3 singles next month and hopefully a mixtape.”

MIXTAPE:

“Best Friend”

Young Thug

“I love Young Thug, the way he switches up his flow and sings at the same time, it’s like seeing magic.”

 

“PARIS”

$UICIDEBOY$

“They’re my new favorite rappers, very unique sound and flow.”

“Broke Boi”

Playboi Carti

“I hated this song the first time, but it grows on you.”

“Look At Wrist”

Father

“Father is my favorite rapper from Awful and this song shows exactly why.”

“Fergalicious”

Fergie

“I just started getting really into this song, I always lose it when Will.I.Am says ‘hit it Fergie!’”

“Too Young”

Post Malone

“I’ve been listening to Post Malone lately, I like his unique sound, plus he’s the sweetest dude ever.”

“No Flocking”

Kodak Black

“I know every single word of this song the second day I started listening to it.”

“ULT”

Denzel Curry

“I prefer listening to this song with the music video because it’s so good; it’s like one whole artwork.”

Shoot Tight, Monica. An Interview with Monica Vanesa Tedja.

Berawal dari video-video family trip masa kecil, Monica Vanesa Tedja menuangkan imajinasinya lewat medium film. 

 “For me, being a filmmaker means being able to freely express your feelings through some kind of statements. It’s a very interesting medium, which allows you to share stories and even get a whole bunch of new yet different perspectives,” ungkap Monica Vanesa Tedja soal kariernya sebagai sutradara dan penulis film. Bermula dari mengamati kebiasaan sang ayah yang gemar merekam video di setiap holiday trip keluarganya, timbul rasa penasaran dalam diri Monic yang saat itu masih berusia 10 tahun untuk mencoba merekam videonya sendiri dengan handycam yang sama. Seiring waktu, ketertarikannya semakin berkembang dengan belajar menyunting video sendiri, mengikuti workshop film dan lomba, sampai akhirnya mendaftarkan diri di jurusan Digital Cinematography. Dari yang awalnya sekadar menulis dan menyutradarai film-film pendek untuk tugas kuliah, karya Monic yang kental rasa quirky dan witty pun terus terasah dengan baik lewat beberapa film pendeknya seperti How To Make A Perfect Xmas Eve dan Konseptor Kamuflase yang berjaya di berbagai festival film dalam negeri hingga Tokyo, di samping pekerjaan komersialnya seperti video musik, viral campaign, web series, dan TV series.

Di tahun 2015 kemarin, Monic telah merilis dua film pendek yang juga mendapat apresiasi positif dan kian mencuatkan namanya sebagai sutradara muda yang patut disimak. Yang pertama adalah Sleep Tight, Maria yang dibintangi oleh Karina Salim dan Rain Chudori. Menceritakan soal dua siswi sekolah Katolik yang sama-sama bernama Maria dengan fantasi seksual masing-masing, film ini secara menggelitik berbicara soal masturbasi yang dianggap tabu bagi kaum perempuan, let alone in religious environment. Film pendek selanjutnya yang bertajuk The Flower and the Bee juga bermain dengan isu seksualitas yang sebetulnya bersifat sehari-hari. Kali ini lewat kacamata seorang gadis cilik berumur 10 tahun bernama Callie yang rasa ingin tahu khas anak-anaknya membuatnya penasaran dengan gestur jari yang dilihatnya dilakukan oleh dua anak SMP di mobil jemputan sekolahnya. Gestur yang dimaksud adalah menyelipkan jempol di antara telunjuk dan jari tengah yang bagi mereka yang lebih dewasa tentu paham jika gestur tersebut merujuk pada kegiatan seks.

Belum puas menuntut ilmu dan mempertajam talentanya, saat ini gadis 24 tahun yang mengagumi karya Michel Gondry, Woody Allen, Sofia Coppola, Wes Anderson, dan Spike Jonze tersebut sedang merantau ke Berlin, Jerman untuk mengincar Master Degree di bidang Penyutradaraan. Meskipun tahun ini ia mengaku akan memfokuskan diri dalam dunia akademis dahulu, saya tidak sabar untuk mengenal sosoknya lebih jauh sambil menantikan karya-karya segar darinya.

film "Sleep Tight Maria"(Kalyana Shira Foundation)
Film “Sleep Tight Maria” (Kalyana Shira Foundation)

Dari beberapa film pendek yang pernah Monic buat, ada tema imajinasi dan surrealism yang kental, terutama di Konseptor Kamuflase. Apa yang biasanya menjadi inspirasi bagimu? Menurutku, dunia film merupakan dunia imajinasi. Kita bisa membebaskan imajinasi kita bermain dengan seliar-liarnya, selama tentu masih masuk ke dalam konteks yang ingin kita bicarakan. Aku selalu menganggapnya sebagai salah satu bentuk escaping from reality. A “what-if“ condition. Dan seringkali hal-hal yang menginspirasiku itu berasal dari keresahanku akan sesuatu, mostly dari hal-hal yang juga terjadi di sekelilingku. Jadi biasanya aku akan mulai membayangkan, bagaimana kalau hal ini yang terjadi instead of hal itu?

Aku juga merasa ada unsur religi yang kerap muncul, seperti gereja, lagu rohani, dan natal misalnya. Apakah ada kesengajaan yang ingin diangkat dari situ? Sebenarnya aku nggak pernah menentukan kalau di setiap filmku itu harus ada unsur religinya. Bahkan belum lama ini aku baru sadar akan hal itu, haha. Aku nggak pernah menentukan karena memang nggak ada intensi khusus untuk menjadikan unsur religi tersebut sebagai, katakanlah “trademark” aku sebagai filmmaker. Karena aku nggak mau dikotak-kotakkan. Aku ingin membuat film berdasarkan apa yang memang aku rasakan, berdasarkan keresahanku sendiri. Jadi unsur apapun itu yang kamu dapati di filmku, pure karena memang berkaitan dengan cerita, karakter maupun statement-ku sebagai filmmaker, hehe.

So far, apa pengalaman syuting paling memorable/sulit? Apa yang menjadi turning point bagimu dalam menemukan gaya directing seperti sekarang? Sejujurnya, sampai detik ini pun kalau ditanya soal gaya directing aku masih belum bisa jawab. Karena buatku, yang menentukan itu adalah para penonton. Mereka yang bisa kasih penilaian ketika mereka menonton karya-karyaku. Tapi buatku, yang paling penting adalah jujur. Ketika kita mengerjakan sesuatu dengan hati, pasti hasilnya kelak akan lebih bermakna. Dari setiap karya yang telah kubuat, aku selalu mendapatkan pelajaran tersendiri yang cukup siginifikan. Dulu, aku tipe orang yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Tapi sekarang, setelah melewati berbagai pengalaman membuat film, aku jadi benar-benar menghargai sebuah proses. Justru di tahap itulah aku, sebagai seorang filmmaker, bisa belajar banyak. Terutama belajar untuk mengesampingkan ego serta tahu kapan harus kompromi.

the-flower-and-the-bee_hlgh-640x360

The Flower and the Bee memiliki tokoh utama seorang anak kecil, is it hard to direct kids? Dan bagaimana caramu menjelaskan arti gestur jari tersebut kepadanya? Believe me, I thought it was going to be extremely hard. When it comes to handling kids, I’m the worst person ever. I didn’t even know why I was doing that film! Kidding. Anyway, it was surprisingly easy. Well, not that easy. Tapi karena bayanganku udah bakal rusuh banget, dan ternyata nggak separah itu, jadi aku anggap itu mudah, haha. Mostly karena aku dapet talents yang pintar dan sangat kooperatif. Mereka nurut, baik dan lucu banget! Dari proses pre-production sampai shooting, aku sengaja nggak mau kasih tau arti dari gerakan tangan tersebut ke tokoh utamaku, supaya dia semakin penasaran. Jadi seakan itu bener-bener journey-nya dia untuk mencari tahu arti dari gerakan-gerakan tangan tersebut. Ketika proses shooting selesai, aku melepaskan ke pihak orang tuanya masing-masing. Karena memang itu hak mereka, apakah mereka mau memberitahu anak-anaknya sendiri atau tidak. Sebenarnya aku lebih nervous ketika dealing with the parents, ketimbang anak-anaknya, haha.

Boleh cerita soal keterlibatan Monic di Soda Machine Films? Aku mulai secara resmi tergabung ke dalam Soda Machine Films sejak Juli 2013. Awalnya aku ditawari oleh Lucky Kuswandi, sang empunya yang juga dosenku sendiri di UMN, untuk magang di situ dan langsung melanjutkan kerja sebagai freelance writer and director.

Apa project selanjutnya di tahun 2016? Apakah sudah ada rencana untuk membuat feature filmUntuk project di tahun 2016, jujur belum ada rencana pasti. Karena sekarang aku masih fokus untuk menyelesaikan kursus bahasa Jerman serta pendidikan Master-ku kelak. Tapi kalau untuk feature film, memang sudah sempat terpikir sebuah ide untuk membuatnya. It’s a process. Aku gak mau buru-buru sih, yang pasti. Didoain aja, ya! 😉

Bagaimana soal Traveling Richie? It looks so interestingWah. It’s a really long story. Bisa dibilang ini project ambisiusku dengan teman baikku sendiri. He’s an animator. Suatu ketika kita memutuskan untuk kolaborasi bareng dan singkat cerita lahirlah Traveling Richie. Tapi sekarang sedang kita postpone karena keterbatasan dana. Cliché, I know. lol!

Pertanyaan klise tapi penting: Kalau Monic sendiri melihat film Indonesia sekarang seperti apa? Apakah isu indie tidaknya sebuah film masih relevan buat Monic? Banyak orang yang sering mengaitkan indie film dengan masalah budget. Kalau minim, berarti masuk kategori indie. Jadi tergantung bagaimana kita melihat pengertian istilah itu sendiri. Buatku sih, yang paling penting intensi di balik membuat film itu sendiri. Kalau yang tujuannya komersil tentu berbeda dengan yang tujuannya mengedepankan idealisme. Tapi nggak ada yang benar dan nggak ada yang salah. Selama masih sesuai dengan konteksnya masing-masing. Dan aku selalu mencoba optimis dengan dunia perfilman Indonesia. Aku percaya kalau kita punya banyak sekali orang-orang berbakat. Yang masih kurang apresiasi dan dukungannya aja mungkin, haha.

Dengan banyaknya anak muda yang tertarik menjadi filmmaker, apa saran terbaik yang pernah Monic sendiri dapatkan dan bisa di-share untuk mereka? As cliché as it sounds: just be yourself. Don’t be scared to share your own opinions. It does matter. And most importantly, it’s always good to get out of your comfort zones. You can always learn something by keep challenging yourself.

Terakhir, boleh rekomendasikan lima film dari sutradara perempuan favoritmu?

Me and You and Everyone We Know  – Miranda July

The Virgin Suicides  – Sofia Coppola

Tiny Furniture  – Lena Dunham

Palo Alto  – Gia Coppola

Short Term 12  – Destin Daniel Cretton (I know that the last one’s not directed by a woman director, but it’s just so good, I can’t help but mention it.)