Mixtape: Ringgo Agus Rahman

Terlepas dari banyaknya keluhan di internet yang menyebut 2016 sebagai tahun yang lumayan fu*ked up, bagi Ringgo Agus Rahman, tahun lalu justru menjadi salah satu tahun terbaik dalam hidupnya. Salah satu alasan terbesar tentu saja kehadiran putra pertamanya, Bjorka Dieter Morscheck, yang mengisi hari-harinya bersama sang istri, Sabai Morscheck.

Tepat 10 tahun telah berlalu sejak mantan penyiar radio ini mencuat sebagai aktor lewat film Jomblo dan sampai hari ini pun akting tetap menjadi kesibukan utamanya. Ia membalas email ini di sela proses shooting film terbarunya di Swiss. Bertajuk Satu Hari Nanti, dalam film yang digarap oleh Salman Aristo ini, Ringgo berperan sebagai seorang tour guide bernama Din dan beradu akting dengan Adinia Wirasti, Ayushita, dan Deva Mahenra. “Shooting di sini kaya lagi ada di film di dalam film, lokasi yang wow, gunung es di mana-mana, danau yang penuh angsa dan bebek yang rebutan roti, bayangan keindahan yang nggak pernah meleset di pikiran kita, orang-orang ramah yang ada di setiap kota kecil di Swiss (Thun, Interlaken, Brienz, Meiringen). Film ini sendiri nyeritain tentang 4 orang Indonesia yang lagi bertahan hidup dengan permasalahan hubungan cinta yang real banget yang dialami sama semua orang dewasa, bukan ABG ya, hehe,” ungkap pria berusia 34 tahun ini.

Ia pun membagikan sekelumit keindahan Swiss lewat feeds Instagram miliknya. Berbekal kamera andalan Sony a7R II dengan lensa 35mm f1.4, ia mengaku fotografi memang telah menjadi hobinya sejak tahun 2009 di samping musik yang menjadi passion utamanya. “Hey seingat gue dari dulu passion gue selalu musik di atas segala-galanya. Bukan dengan cara harus menjadi musisi, tapi selalu harus diiringi musik karena gue berpikir setiap bagian hidup gue itu bukan film cerita tapi sebuah video clip musik, hehe. Gue masih jadi pemerhati aja sih buat musik, belum kepikiran bermusik dan main musik,” tandas pria yang sempat bergabung di band The Aftermiles dan The Cash ini.

After the glorious year, apa yang menjadi wishlist selanjutnya? “Di 2017 harapan gue melihat anak gue bisa jalan, ngajak dia ke Indonesia Timur, ngajak dia ke Swiss, dan ngasih dia kamera pocket supaya kita sekeluarga bisa motret, hehe.”

Ringgo’s Good Vibes Mixtape

“Good Together (Jarami Remix)”

Honne

Coba dengar lagu ini pas lagi bareng teman dekat atau pasangan lo, fun beraaat! Pakai headphones yang bisa didengar berdua dan jalan keliling kota deh.

“Hung On Tight” 

Snakadaktal

Ini juga lagu juaraaa… Ah gimana ngejelasinnya ya?! Enak pokoknya!

“Velvet” 

A-ha

Lagu klasik nggak akan pernah mati!

“Pots of Gold” 

Mamas Gun

Lagu yang kalau lo dengar bisa tiba-tiba nimbulin senyum di muka lo.

“Boys Don’t Matter”

Blueboy

Buka liriknya di Google dan coba berkaraoke pakai lagu ini, indah!

“Just Can’t Get Enough”

Depeche Mode

Tahun baru lagi rame-rame, dengerin lagu ini bikin badan lo nggak mau diam, maunya loncat-loncat dan teriak ikut nyanyi bareng teman-teman lo.

 

“Back A Yard” 

The In Crowd

Hey kapan pernah lagu reggae gagal buat bikin happy?

“Keep Rising”

House of Shem

Masih alasan yang sama buat musik reggae.

“Walk on the Wild Side”

Lou Reed

Aaah ini the best parah! Lou Reed itu orang yang hanya bikin musik sesuai dengan apa yang dia mau tanpa kompromi pasar atau apapun.

“Don’t Stop Me Now” 

Queen

Coba cek, lagu nomor 1 di dunia yang bikin orang jadi happy menurut beberapa penelitian adalah lagu ini. Nyanyikan dengan lantang nggak usah peduli suara merdu atau apapun, hanya nyanyi dan coba bayangkan jadi Freddy Mercury di atas panggung untuk sesaat.

 

On The Records: Lao Ra

“Saya tidak terlalu yakin apa yang sebetulnya mendorong saya untuk bermusik, it was a mix of things I guess; dari mulai terlalu banyak menonton MTV, menjadi seorang attention seeker, dan mungkin ada bagian dari diri saya yang ingin membuat orangtua saya kesal,” ungkap Laura Carvajalino, seorang musisi pendatang baru asal Kolombia yang bermusik dengan nama Lao Ra. Lahir dan besar di ibukota Kolombia, Bogota, yang terkenal sebagai salah satu kota dengan angka kriminalitas tertinggi di dunia sekaligus iklim konservatif dan religius yang kental, musik memang menjadi sebuah pelarian sekaligus pemberontakan bagi gadis kelahiran 22 Juli 1991 tersebut.

Mengaku mulai membuat musik sejak umur 14 tahun dari kegemarannya menulis puisi dan bermain gitar akustik, karier profesionalnya dimulai saat dia bertemu dengan Peter Jarrett yang sekarang menjadi manajer dan produsernya di sebuah restoran India. Kolaborasi keduanya menghasilkan lagu bertajuk “Jesus Made Me Bad”, sebuah lagu rebel pop berelemen glitchy tropical beats yang danceable dengan video yang menampilkan Lao Ra berdoa di gereja sebelum menelusuri jalanan Bogota yang dipenuhi graffiti sambil menggenggam botol sampanye. “Ibu saya tidak menyukai lagu itu,” ujarnya. ”Walaupun keluarga saya sebetulnya tidak terlalu relijius, dia berpikir jika saya tidak menghormati tradisi, but I just keep saying that’s actually the point; it’s about not apologizing for yourself. We all are wild at heart and we can’t help our behavior. Tapi dia menyukai lagu-lagu lainnya, haha! Dia sangat suportif dan selalu mendukung saya!” sambungnya.

Lagu tersebut termasuk dalam debut EP berjudul sama yang ia rilis di bawah label Black Butter setelah menyelesaikan kuliahnya di sebuah akademi musik di Kolombia dan pindah ke London. Lirik lugas, sikap cuek, dan pesan-pesan tersirat yang dibalut musik electronic pop dan influens R&B/hip-hop yang catchy dalam musiknya membuatnya dibandingkan dengan M.I.A. dan Gwen Stefani, yang diterimanya dengan senang hati karena kedua musisi memang tersebut termasuk influensnya, namun bukan berarti dia tidak punya warna tersendiri yang lahir dari tempat asalnya. “Im very influenced by pop music, but I’m equally influenced by Caribbean and Colombian traditional music. Saya ingin musik saya terdengar fresh, pop, dan mewakili diri saya dan tempat asal saya. Datang dari Bogota tidak hanya menginfluens musik saya, tapi juga diri saya sendiri. It’s the place where I was born, my people and what I know best.”

 Pengaruh dari lingkungan sekitarnya tidak berhenti di elemen tropical beat dalam musiknya, tapi juga lirik-lirik lagu yang menurutnya berasal dari situasi, pemikiran, dan dilema yang secara konstan berputar di benaknya. “Daddy Issues” bercerita soal sosok tipikal Latin dad yang absen dan tidak pernah benar-benar berkomunikasi dengan anak-anak mereka sehingga banyak anak perempuan yang tidak tahu bagaimana seharusnya mereka diperlakukan oleh pria dan seringkali berakhir mengejar para bad boys. Sementara dalam “Tell Me Why” dengan video yang menampilkan dirinya dan sahabat perempuannya di sebuah kamar temaram dengan lampu neon, Lao Ra menunjukkan vokal innocent dengan lirik penuh percaya diri dan frasa-frasa catchy sebagai bentuk empowerment melawan para fuckboi. “Lagu ini tentang stupid boyfriends, young love, and heartache. Tentang cowok-cowok kemarin sore yang sok bertingkah selayaknya pria dewasa. Lagu ini sangat personal karena saya rasa hampir semua cewek bisa relate ke hal ini karena kita pernah pacaran dengan cowok semacam itu,” jelasnya. Sambil masih menulis dan menyiapkan album penuhnya, kali ini Lao Ra pun membocorkan katalog album yang mempengaruhi musiknya.

Love.-Angel.-Music.-Baby.

Gwen Stefani

Love. Angel. Music. Baby.

Bagi saya album ini adalah definisi sempurna dari kata “cool”. Semua lagu di album ini keren- its fun, edgy, dope production, and super original lyrics. Gwen is next level! Menurut saya album ini adalah ultimate goal of how a pop album should be.

miaarular

M.I.A.

Arular

Pertama kali saya mendengarkan album ini, it really changed my life, and I’ve never heard anything like it. Beats-nya terdengar aneh seperti datang dari planet lain. Penyampaian liriknya sangat mentah dan energetik. It was really a punch in the face- super confident and so ahead of everything else.

Bomba12_cover_new

Bomba Estereo

Elegancia Tropical

Bomba adalah band Kolombia favorit saya. No one makes music like them back home. Mereka punya lebih banyak swag dibanding siapapun. Their fearless approach to Colombian traditional music mixed with dance beats is so sick.

cafetacvba

Cafe Tacvba

Re

Ini adalah CD pertama yang saya punya. Kakak saya memberi saya CD ini untuk kado Natal, walaupun saya masih sangat kecil namun saya langsung terobsesi dengan musik yang mereka buat. Mereka adalah band Meksiko yang memadukan pop dan musik dance dengan musik tradisional Meksaiko seperti racheras. Sampai hari ini saya masih percaya kalau album ini salah satu album Latin Amerika terbaik dan mereka adalah band Meksiko paling hebat sepanjang masa.

 Johnny_Cash-The_Great_Lost_Performance-Frontal

Johnny Cash

The Great Lost Performance

He was the ultimate bad boy; Liriknya, personanya, dan vokalnya sangat jujur dan unapologetic, bahkan sampai karya-karya terakhirnya sebelum wafat. Johnny is one of my biggest ever crushes. Saya dulu mempelajari liriknya sambil membuka kamus Inggris-Spanyol. Saya bisa bilang jika Johnny Cash lah yang mengajarkan saya Bahasa Inggris.

majorlaze

Major Lazer

Peace Is The Mission

These guys are the best producers around. Mereka tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan dan mereka membuat seluruh dunia berdansa mengikuti irama mereka. Saya harus memberi acungan jempol untuk itu. Their music is borderless and thats super cool!

 

Soundcheck: Tangerine

Miro dan saya tampil dalam sebuah show di Jimi Hendrix Museum (EMP) di Seattle ketika kami berumur 12 dan 14 tahun dan Toby menjadi salah satu penonton kami. Selesai tampil, dia menghampiri kami dan bertanya apakah dia boleh nge-jam bareng kami, and the rest is history,” ungkap Marika Justad (lead vocal & rhythm guitar) tentang awal mula terbentuknya Tangerine, sebuah trio indie rock asal Seattle yang ia bentuk bersama adiknya, Miro Justad (drum & back vox) dan Toby Kuhn (lead guitar & back vox). Dipersatukan dengan kesamaan selera yang meliputi Yeah Yeah Yeahs, The Strokes, dan The Velvet Underground, ketiganya telah bermusik bareng sejak masa remaja mereka dan tampil di gigs sekitar Seattle namun sempat vakum selama lima tahun sebelum akhirnya muncul kembali dengan nama Tangerine di tahun 2013 dan merilis EP perdana mereka, Pale Summer, pada Maret tahun yang sama. Memadukan genre slacker pop, surfer rock, dan bahkan R&B dengan sentuhan vokal a la 60’s girl group, tahun ini mereka telah merilis EP keenam dan terbaru mereka yang diberi judul Sugar Teeth dengan 4 lagu berinfluens 80’s yang kental. “Kami merekam Sugar Teeth di beberapa tempat di Seattle. Lewat EP ini kami ingin bereksperimen dan menyempurnakan genre berbeda yang selama ini kami mainkan, yaitu melodi R&B dengan sentuhan surf dan garage rock serta 80’s drenched pop. Kami punya firasat jika ini akan menjadi EP terakhir kami sebelum kami fokus membuat album penuh pertama kami, so we were really sort of releasing our creativity on this one,” tandas Marika. Sambil menunggu mereka merampungkan debut LP, ketiganya pun membagikan album-album paling berpengaruh bagi masing-masing.

http://tangerinetheband.bandcamp.com/

 

untitled
Dari Kiri: Miro Justad, Toby Kuhn, Marika Justad. Foto oleh: Mark Malijan.

Miro: 

patmetheny

Pat Metheny

Still Life Talking

This specific Pat Metheny album has a very wide open beautiful feeling to it; the drums are light and fast, but not overbearing and the guitar work is stellar. I aspire to be on that level of technicality one day but with that much taste.

sade

Sade

Lovers Deluxe 

Growing up Lovers Deluxe was constantly playing around the house so there is no way that it has not inspired me in many ways, both with drumming and even with singing since I have a low voice like Sade. Listen to “Somebody Already Broke My Heart”!

pixies

The Pixies

Trompe Le Monde

Trompe Le Monde was one of the last Pixies albums that I discovered and is definitely my favorite. It has more of a surfy vibe than Doolittle and even palm muting that sounds like Blink 182. The Pixies is a band that we sometimes use as a reference point when writing songs since they write good pop songs with interesting song structures.

Marika: 

the-strokes

The Strokes

Is This It

It might be a cliché, but this album truly changed my life! I can still remember finding it in my big sisters room and putting it into my old Sony CD player. The ambivalence of the lyrics, combined with the intensity of the tightly orchestrated instruments- it blew my mind. It was almost uncomfortable, like I had stumbled onto something very foreign and adult.

paul-simon

Paul Simon 

Graceland

This album combines nostalgia-tinged Americana and jubilant South African harmonies and the result feels oddly natural. Plus, Paul Simon writes such beautiful melodies, something I’m always striving for.

hole

Hole 

Celebrity Skin

Courtney Love taught me how to write rock songs that are secretly pop songs. From big pop songs like “Malibu” to pensive ballads like “Dying” this album probably influenced my early songwriting more than any other.

Toby:

pixies 

Pixies 

Doolittle

Somebody showed me this album about a year after I saw The Pixies live at Seattle’s Bumbershoot festival in 2004 and not knowing who they were at all. Full disclosure, I don’t remember being terribly impressed at the time. This person was blown away that I hadn’t listened to them before and said that Doolittle would change my life- fantastic album; the energy, structuring, tones, and melodies are just crazy good.

gorillaz 

Gorillaz

Gorillaz

This album was sort of my introduction into popular music. I don’t remember how I ended up getting a hold of it but I was about 11 or 12 when I first put it on and it still hasn’t gotten old. It has like incredibly catchy pop songs and then the weirdest indefinable tracks mixed in there too, all of it exuding the same incredibly satisfying vibe.

black-rebel

Black Rebel Motorcycle Club

Howl

I’m a huge fan of a lot of their music, but Howl is a very special album. It’s completely different from the rest of their stuff and is mostly acoustic. The songs are just written so well and each one carries such strong emotions, such a good album!

 

Closer Than Home, An Interview With Yumi Zouma

Dipisahkan oleh bencana alam yang menimpa kota asal mereka di Selandia Baru, para personel unit dream pop Yumi Zouma berpencar ke seluruh dunia sebelum akhirnya menemukan jalan pulang lewat album debut yang impresif, Yoncalla

Thanks to technology, jarak dan waktu sudah bukan lagi halangan untuk berkarya dengan seseorang yang tinggal di belahan dunia dan time zone yang berbeda, Yumi Zouma adalah salah satu band yang harus melewati proses membuat lagu secara long distance. Terdiri dari Christie Simpson, Josh Burgess, Charlie Ryder, dan Sam Perry, keempat anak muda asal Christchurch, Selandia Baru ini sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil dan aktif di proyek musik masing-masing, namun baru ketika sebuah gempa besar menimpa kota mereka dan beberapa di antara mereka memutuskan pindah ke negara lain, keinginan untuk membuat musik bersama baru mencuat sebagai cara mereka menjaga hubungan satu sama lain sekaligus kota asal mereka.

Berbekal sambungan Skype dan email, mereka membuat single pertama berjudul “A Long Walk Home For Parted Lovers” yang berlanjut menjadi album mini pertama mereka di tahun 2014 dengan empat lagu di dalamnya. Meramu bunyi dream pop berbasis synth yang dancey dengan nuansa musim panas yang kental, album mini tersebut mendapat respons positif dari internet dan beberapa label rekaman yang kemudian dilanjutkan oleh EP kedua mereka setahun berikutnya. Dikerjakan secara jarak jauh, EP I dan II terasa seperti menyatukan potongan puzzle yang dibuat sendiri-sendiri oleh setiap personel dari tempat dan waktu yang berbeda, sehingga tak mengherankan jika tema jarak antar manusia, baik secara geografis maupun emosi, menjadi tema dominan dalam dua EP tersebut. Meski demikian, musik mereka tetap terdengar kohesif dan nama mereka pun terus beranjak naik hingga diajak menjadi pembuka untuk Chet Faker dan Lorde.

Berkat kesuksesan kedua EP yang didominasi bunyi dreamy disco rock tersebut, band yang awalnya tak berencana untuk tampil live ini akhirnya dihujani tawaran manggung yang tak lagi bisa mereka diamkan begitu saja. Mereka akhirnya berkumpul dan tampil bersama dari satu festival ke festival lain. Tak hanya berubah menjadi band seutuhnya, kedekatan mereka yang terjalin saat tur juga menjadi basis dari full album pertama bertajuk Yoncalla. Dirilis oleh Cascine Records, album ini berisi single “Barricade (Matter Of Fact)” yang juga menjadi pembuka yang manis bagi 9 lagu selanjutnya. Masih mempertahankan nuansa dreamy yet sunny yang dibangun oleh aransemen uplifting dan vokal Christie yang mengalun ringan dan kontemplatif, album ini terdengar lebih intim dan terpoles dari materi-materi sebelumnya, menjadikannya salah satu album yang pantang dilewatkan untuk tahun ini. Di antara waktu jeda tur dunia mereka untuk mempromosikan album ini sampai akhir tahun nanti, Yumi Zouma pun menyempatkan waktu untuk bercerita lebih dalam.

 yumi

Awalnya saya sempat mengira jika Yumi Zouma adalah nama seorang penyanyi solo, apa cerita di balik nama band ini?

Saat memulainya, kami sebetulnya tidak yakin jika kami akan menjadi sebuah band seperti sekarang. Kami membuat lagu pertama saat kami tinggal di negara yang berbeda, jadi awalnya kami pikir rasanya sulit membayangkan untuk tampil bersama di atas panggung. Tapi, kami ingin tetap percaya jika mungkin musik kami bisa diterima, atau mungkin salah seorang dari kami bisa membawakan lagu kami secara live. Jadi kami memilih nama yang fleksibel dan tidak secara spesifik menjelaskan tempat asal kami. Jadi dibanding memilih nama “The…’s” atau sejenisnya, kami memilih menggabungkan nama pertama dan nama terakhir dari dua teman kami untuk menciptakan sebuah nama baru. 

Bagaimana awal perkenalan kalian satu sama lain?

Sam mungkin pertama kali kenal Christie saat dia pacaran dengan kakaknya, Josh dan Charlie bertemu di sebuah kompetisi band di Auckland saat mereka berumur 17 tahun, Charlie bertemu Sam di sebuah toko gitar di Christchurch, Christie bertemu Josh dan Charlie saat dia masih menyanyikan lagu-lagu Fleetwood Mac di sebuah cover band, dan Sam pertama kali bertemu Josh di latihan band pertama kami sebagai Yumi Zouma, haha!

Siapa saja influens musikal bagi band ini?

Influens kami umumnya berkisar di musisi Selandia Baru yang kami dengarkan saat beranjak dewasa seperti Bic Runga, The Mint Chicks, Cut Off Your Hands, Anika Moa, dan Carly Binding. Tapi untuk album ini, kami lebih terpengaruh dari Yoncalla sebagai tempat itu sendiri serta pengalaman kami saat tur pertama kali untuk mempromosikan dua EP kami.

Kalian sering dideskripsikan sebagai dream pop, bagaimana pendapat kalian? Sebelumnya Charlie dan Josh juga sempat membuat band disco punk, apa ada pengaruh yang terbawa?

Kami selalu kesulitan saat menjawab soal genre karena kami berempat punya ide masing-masing tentang musik yang ingin kami buat di band ini. Untuk sekarang tidak ada korelasi antara YZ dengan proyek lama kami, kecuali mungkin solo project Sam, Zen Mantra, yang menjadi sumber kreativitas untuk beberapa lagu YZ seperti “Remember You At All” dan “Better When I’m By Your Side”.

 

Dari sekian banyak tempat di dunia, kenapa kalian memilih Yoncalla sebagai judul album ini?

Haha, ceritanya sangat panjang! Tapi akan kami coba singkat. Tahun lalu kami ke US untuk tur musim panas mempromosikan EP II, kami harus berkendara dari Vancouver ke Seattle untuk main di Capitol Hill Block Party. There was a massive traffic jam and the Canadian border was on lockdown. Dari yang seharusnya hanya butuh 3-4 jam perjalanan berubah menjadi 12-13 jam dan kami harus mengatur ulang jadwal kami. Kami berhasil tiba tepat di jam seharusnya kami main, but had a great gig. Masalahnya, kami harus menukar mobil rental kami di Seattle, tapi kami melewati jadwal drop-off  Dan saat itu tidak ada lagi rental yang tersedia karena memang sedang banyak festival di Seattle. Itu artinya kami harus bermalam di Seattle, tapi semua hotel dan Air BnB juga sedang penuh. Akhirnya kami terpaksa tidur di lantai rumah seseorang yang baru kami kenal. Besoknya, semua mobil rental juga sudah habis disewa, sehingga kami naik kereta Amtrak untuk show kami berikutnya di Portland dan tiba persis di jadwal show. Setelah itu, kami akhirnya punya waktu kosong untuk beristirahat. Kami akhirnya menyewa Air BnB di antah berantah Oregon dan menghabiskan dua hari dengan berenang di sungai dan memikirkan soal album debut kami. It was just the most peaceful and best time ever, and a lot of the ideas for the album came from that time, so that’s why we called it Yoncalla!

yoncall

Yoncalla terdengar sangat intim dan penuh nostalgia, apa yang menjadi tema besar di album ini yang menjadi perekat semua lagu di dalamnya?

Ide utamanya adalah ini pertama kalinya kami merekam album di satu tempat secara bersama-sama. Sebelumnya, kami mengerjakan bagian masing-masing di negara yang berbeda dengan zona waktu yang berbeda juga. Untuk Yoncalla, semua eksperimen musik kami lakukan bareng in real time, in front of everyone else, yang ternyata bisa bikin frustrasi juga jika sesuatu tidak terjadi seperti yang kami bayangkan di kepala, atau jika proses rekaman berjalan terlalu lama. But in the end, kami menyadari terkadang kita harus to let that go if you’re going to get anything done. Pada akhirnya semua lagu akan terdengar berbeda dari yang kami bayangkan sebelumnya, jadi mengeluh soal hal-hal kecil sebetulnya hanya membuang-buang waktu. Begitu kami menyadari hal itu, semua berjalan dengan lancar dan merekam lagu bareng menjadi proses yang menyenangkan karena untuk pertama kalinya kami bisa saling melempar ide-ide random secara langsung dan tak akan terjadi jika kami masih menulis sendiri-sendiri.

Salah satu lagu paling menarik di Yoncalla adalah “Haji Awali” dengan judul yang unik, apa cerita di balik lagu itu?

Nama Haji Awali berasal dari nama kompleks apartemen dan sekolah saat Josh tinggal di Timur Tengah, tepatnya di Bahrain. Itu adalah salah satu lagu paling susah bagi kami, salah satu lagu yang kami buat paling pertama tapi selesai paling terakhir. Lagu ini hampir tidak masuk ke album, tapi sekarang menjadi lagu favorit kami!

Bagaimana kalian mendeskripsikan setting yang sempurna untuk mendengarkan album ini?

Duduk di bukit rumput di daerah west coast, di tepi sungai, bersantai bersama teman-teman menikmati homemade salad setelah hari yang melelahkan.

 

Sebagai band yang tadinya tidak berencana untuk tampil live, bagaimana kalian beradaptasi dengan tur dan apa rasanya bagi kalian untuk tampil di atas panggung?

It was normal for us karena kami pernah main di heavily touring band juga sebelum YZ, tapi tetap saja rasanya agak menegangkan saat akan tampil pertama kalinya di sebuah venue besar di luar negeri. Tapi hal itu juga menjadi motivasi yang mendorong kami untuk menjadi band sesungguhnya dengan cepat, and now we love it! Setelah beberapa minggu, kami pindah dari opener menjadi headline untuk show kami sendiri di depan fans kami, which is always way more fun. Beberapa respons terbaik yang kami dapat adalah saat main di Tokyo untuk pertama kalinya dan mendapat encore pertama kami (twice!) dan tampil McAllen, Texas di Galaxy Z Festival di mana panggung kami diserbu fans yang naik panggung untuk berdansa bersama kami.

 

Dari sekian banyak gigs yang sudah kalian lakukan, mana yang paling memorable?

Mungkin show pertama kami di kota asal kami di Christchurch. Kami tidak menyangka orang mengenal kami, jadi kami main di bar milik teman kami dan sebetulnya cuma buat latihan sebelum tur dunia pertama kami di 2014. Tapi hampir seisi kota datang dan bar itu benar-benar disesaki orang yang ikut bernyanyi lagu-lagu yang kami sendiri masih belajar memainkan secara live! It was an incredible experience that we couldn’t really understand!

 

Apa yang paling kalian rindukan dari kota asal kalian?

Keadaannya sebelum gempa bumi di 2011. Christchurch tadinya adalah salah satu tempat paling indah di Selandia Baru, tapi sekarang terlihat seperti parkiran mobil yang terbengkalai.

 

Apa satu hal yang akan disepakati oleh kalian semua?

Probably nothing! We are all very diverse in our opinions, haha!

http://www.yumizouma.com/

On The Records: Low Pink

Berawal dari ruang personal seorang pemuda bernama Raoul Dikka, Low Pink sejatinya hadir sebagai proyek one man band dengan semangat Do-It-Yourself yang pekat. Lahir di Jakarta namun menghabiskan masa SMA di Malang, pemuda 20 tahun tersebut seorang diri merekam musik berinfluens dream pop dan psych dengan peralatan rekaman rumahan sederhana seperti gitar, drum, bass, laptop, dan mic seadanya. “Instrumen musik pertama gue adalah drum, dan gue sama teman-teman sempat bikin band pop-punk ala Blink-182 pas gue kelas 1 SMP. Setelah itu gue mulai penasaran sama gitar, gue belajar sendiri dan pokoknya thanks banget buat YouTube karena dia adalah sumber ilmu yang paling besar buat gue. Sebelum doyan musik rock gue sempat suka banget sama musik jazz karena drummernya jago-jago. Then Radiohead and Tame Impala changed my perspective in music,” papar Raoul. Hijrah kembali ke Jakarta untuk lanjut kuliah, materi-materi yang ada pun diperhalus tanpa meninggalkan esensi lo-fi dari proses rekamannya dan terangkum dalam sebuah debut EP bertajuk Phases yang dirilis oleh Kolibri Rekords bulan Agustus lalu. Drenched in reverbs and hazy atmosphere, album berisi 6 lagu ini diterima dengan baik dan seiring tawaran manggung yang makin gencar, Low Pink pun bertransisi ke format full band dengan mengajak Ryoichi Watanabe (gitar), Bondan Rahadian (bass), dan Ody Panggabean (drums). Cheers for the next phase.

phases-ep 

Hai Raoul, apa kabar? Boleh perkenalkan dirimu and your current activities?

Hellooo, gue Raoul dan hobi gue bikin lagu dan gambar-gambar sebisanya, hehe. Gue sekarang kuliah DKV di Interstudi Tendean.

Apa cerita di balik nama Low Pink?

Low Pink dalam arti rendah warna pink, warna pink bisa mewakili subjek atau objek apapun. Low Pink bisa berarti rendah akan apapun.

Bicara soal Phases EP, boleh cerita soal rekamannya? Berapa lama waktu yang dihabiskan dan di mana saja rekamannya?

Rekamannya gue kerjain sendiri semua di rumah gue di Malang pakai equipment yang seadanya (gitar, drum, bass, laptop, dan mic abal-abal). Proses rekamannya barengan sama penulisan beberapa lagu-lagunya juga. Itu selesai sekitar 1 bulan, dan buat mixing dan mastering gue selesaikan di Jakarta sekitar 2 bulan setelah gue rekaman itu.

Apa tema utama untuk album Phases? Dan kenapa “Someone For Your Days” yang dipilih sebagai single?

Temanya itu dingin, ada perasaan “tersesat dan hampir menyerah”, dirty AF, dan nuansanya penuh debu. Karena pada saat itu gue benar-benar suka banget sama The Soundcarriers. Kalau “Someone For Your Days” itu lagu yang menurut gue paling  beda di Phases EP, dan gue juga yakin banget di Indonesia belum ada yang bikin musik dengan warna dan sound kayak lagu itu. So there’s a chance for Low Pink to show its color.

 

Apa saja musical influences untuk Low Pink?

Banyak banget sih karena sempat berubah warna musik beberapa kali. Beberapa di antaranya adalah Radiohead, Tame Impala, The Soundcarriers, Dead Meadow, DIIV, Washed Out, Beach House, Mac Demarco, Tennis, Cat’s Eyes, The Horrors, Allah-Las, Tredici Bacci, Flunk, dan sebenarnya masih banyak banget.

 

How would you describe your own sounds?

Hmmm… Dusty-Cold-Lost-Psychedelic-Pop-but-a-little-bit-Rock-ish, hahahaha.

 

So far, apa pengalaman manggung terseru?

Waktu main di acaranya Kolibri Rekords di Xabi Studio (21 Agustus 2016), karena yang nonton pada fokus banget dan tumben Low Pink main rapi hehehe. Sama satu lagi di Malang waktu bulan Desember 2015, semuanya pada nggak sober dan pada pilek, ada yang sampai pakai masker segala haha.

 

Di zaman digital kaya sekarang, seberapa pentingnya merilis album secara fisik? Orang jadi nganggap bahwa suatu band itu udah berjalan dengan baik kalau udah punya rilisan fisik. Karena masih banyak banget orang yang nganggap rilisan digital itu masih kurang ‘sah’.

 

Apa komentar paling memorable yang pernah didengar soal Low Pink?

“Gue semalem nyoba dengerin Low Pink, ternyata enak banget didengerin waktu mood lagi nggak enak.”

Please describe your dream gig/collaboration.

Dream Gig? Main di pinggir kolam renang yang gede, tapi yang nonton harus pada di dalam kolam semua hahaha.

 

What’s the next plan?

Materi yang lebih easy-listening/lebih universal dan better live performance pastinya.

Raoul’s Fave Local Releases:

moiss

Substitute EP

Moiss

Band dari Semarang ini musiknya ringan dan benar-benar enjoyable dalam segala keadaan. Plus gue suka banget artwork-nya.

teriakan

Teriakan Bocah

Kelompok Penerbang Roket

Band gokil, berhasil ngambil tema rock jadul yang hasilnya jadi Indonesia banget. Bikin semangat dan menurut gue bisa bikin orang jadi seolah mikir “Gue keren dan kenapa gue harus takut sama apapun?”.

exposure

Exposure

Pijar

Album yang energik, bikin nggak tahan pengen joget-joget sendiri. Isian-isian gitarnya sadis dan masih suka ngagetin.

sommerhaar

Farscape Et Dives

Sommerhaar

Nuansa ‘dingin’-nya dapet banget. Lagu-lagunya nggak klise kayak musik-musik elektronik biasanya. Aneh, tapi enak banget.

silampukau

Dosa, Kota, & Kenangan

Silampukau

Udah jarang gue denger musik kayak gini; simple, catchy, liriknya bagus, dan bikin gue jadi suka lagi sama musik-musik akustik. Ini cocok banget sih buat didengerin sama orang-orang yang udah terlalu kebarat-baratan, biar tau aja kalau dia masih tinggal di Indonesia.

 

https://www.facebook.com/lowpink1

On The Records: SARANA

 

Sebagai sebuah aliran musik yang lahir dari memanfaatkan bebunyian ganjil dan bising yang dianggap polusi suara menjadi estetika tersendiri dengan cara yang imajinatif, noise pada hakikatnya adalah genre yang sukar untuk diapresiasi telinga umum. Niche dan tidak terpaku pakem apapun, noise dan para pengusungnya mungkin tidak akan merajai chart tangga lagu radio mainstream dalam waktu dekat, namun menampiknya begitu saja tanpa berusaha membuka telinga dan pikiran adalah satu hal yang patut disayangkan. Untungnya, Indonesia tidak pernah kehabisan aksi noise yang mumpuni, dan Sarana adalah satu nama yang sedang mengorbit pesat. Datang dari Samarinda, Kalimantan Timur, Sarana terdiri dari Annisa Maharani, Istanara Julia Saputri, dan Sabrina Eka Felisiana yang bertemu saat menjadi panitia Record Store Day East Borneo tahun lalu sebelum memutuskan membentuk unit experimental dark ambient yang namanya diambil dari akronim dua huruf terakhir ketiganya ini. Dengan kejelian mereka meracik bebunyian yang lahir dari efek gitar, kaosilator, monotron spoken words, dan shaker box, tak butuh waktu lama bagi Sarana untuk unjuk gigi sebagai lineup di Veganophone Tour, sebuah gigs noise besutan Mahakam Kolektif dan merilis debut EP bertajuk Heal yang mendapat respons positif tak hanya dari skena lokal tapi juga internasional.

sarana2
Dari Kiri: Annisa Maharani, Istanara Julia Saputri, Sabrina Eka Felisiana. 

Bagaimana awalnya kalian bertemu dan apa yang mendorong kalian untuk bermusik bareng? Dan kenapa memilih genre Noise?

Kami pertama kali bertemu saat terlibat dalam pelaksanaan Record Store Day East Borneo 2015. Kebetulan, pada waktu itu kami jadi panitia bareng. Kedekatan kami pun berlanjut saat Mahakam Kolektif mengadakan Veganophone Tour, sebuah gigs kecil yang mengundang DJ Urine sebagai line up utama. Dari situ, kami bertiga iseng membuat grup noise ini dan ikut menjadi line up di acara Veganophone Tour juga. Alasan kenapa memilih noise, awalnya karena ada influence dari Sabrina, yang emang udah berkecimpung di dunia noise lebih dulu, selain itu noise juga tidak memiliki batasan, batasan dalam arti harus menggunakan alat musik (karena kita bertiga nggak ahli-ahli banget dalam bermain musik hehe) untuk menghasilkan bunyi, jadi dengan noise kita bisa mengeksplorasi lebih luas lagi dan membuat alat-alat experimental sendiri. Selain itu, Noise bagi kami merupakan sarana untuk mengekspresikan perasaan masing-masing dari kami.

Apa saja yang jadi influens musikal untuk kalian? Bebunyian apa aja yang biasanya jadi inspirasi?

Kebanyakan SARANA mendapatkan influence dari musik-musik experimental contohnya seperti suara gitar dari Sonic Youth serta dari beberapa penampilan dari Noise Acts yang lain. Bebunyian yang biasanya menjadi inspirasi kami adalah suara noise yang sebenarnya akrab sekali dengan keseharian kita (contoh: suara orang berbicara, klakson mobil atau kucing yang berkelahi). Nggak hanya bebunyian, kondisi di sekitar kami juga terkadang membuat kami berupaya untuk meng-audiokannya lewat noise yang kami ciptakan.

 

Okay, what are your favourite noises then?

Sabrina: Thurston Moore dan Prurient.

Annisa: Kontroljet, Zulhezan, dan Pedestrian Deposit.
Istanara: Pharmakon dan Pripoy.

 

Bagaimana biasanya proses bikin lagu buat kalian, is there a lot of argument? Instrumen/program apa aja yang paling sering kalian pakai?

Kita kalau take biasanya dibantu teman. Usually, we dont have argument during recording, because we working it together, each of us know what parts we should fill in and if the recording seems a lil bit less, then we discuss what gear or instrument that we need to complete it.

 

Apa cerita di balik single “Anxiety Inhaler”? Betul nggak sih ada suara hantu di dalamnya?

“Anxiety Inhaler” itu berawal dari kebosanan, jadi waktu itu kita iseng coba buat video call bertiga padahal kita semua ada di dalam satu ruangan yang sama. Mungkin karena pengaruh ponsel yang berdekatan jadi audio dari video call kita jadi storing dan delay, akhirnya kita merekam percakapan dan barang-barang sekitar yang menghasilkan bunyi hanya dengan menggunakan handphone aja. Untuk masalah yang suara hantu itu, pertamanya kita juga nggak nyadar sampai ada salah satu teman kita yang notice dan setelah kita dengarkan ulang ternyata emang ada suara selain suara kita bertiga.

 

Apa pengalaman tampil terseru buat kalian sejauh ini?

Pengalaman manggung terseru ya waktu di RRREC FEST IN THE VALLEY 2016 di Tanakita Camping Ground Situ Gunung, Sukabumi karena kita di sana pertama kali tampil di acara besar dan ditonton oleh massa yang lebih banyak. Dan setelah kami main, senang banget ternyata orang-orang pada welcome dengan apa yang kita mainin.

 

Kalian sudah dapat respons yang bagus nggak cuma dari Indonesia tapi juga media luar, how do you feel about it?

We’re so happy to know that people out there listening to SARANA, and even great when we know they like our songs. Kita nggak pernah nyangka bakal banyak mendapat respons yang baik seperti sekarang. Kan kalau dipikir-pikir sebenarnya noise ini tidak memiliki tempat di masyarakat, so we kinda feel pessimistic at times, tapi dengan adanya respons dan dukungan dari mereka kita jadi yakin untuk tetap bermain noise sampai sekarang ini, jadi terima kasih orang-orang yang baik.

 

Boleh ceritakan sedikit soal music scene di Samarinda saat ini menurut kalian?

Menurut kami, scene musik di Samarinda saat ini sedang berkembang. Walaupun tidak sebesar scene yang ada di luar Kalimantan seperti di Jakarta atau Bandung. Era digital sangat membantu sekali untuk membantu musisi-musisi di sini untuk mengeksplor beragam jenis musik yang ada dan mengembangkan ide untuk berkarya.

Kegiatan masing-masing personel di luar Sarana apa saja?

Sabrina kerja sebagai pegawai swasta, Istanara sedang menyelesaikan kuliahnya di semester akhir, Annisa selain menyelesaikan kuliahnya di semester akhir, juga menjadi freelance writer dan media officer salah satu klub bola di Samarinda.

Apa yang kalian lakukan seandainya di dunia ini nggak ada yang namanya social media/internet?

Annisa: Baca buku tiap hari, keliling Indonesia (amin!) dan berusaha untuk bisa olahraga lagi, hahaha.

Istanara: Keliling dunia pakai balon udara.

Sabrina: Kalau nggak ada internet ya tetap hidup kaya biasanya. Kalau untuk memperkenalkan Sarana tanpa intenet mungkin bakal rilis beberapa CD terus kasih ke orang-orang lewat secara random aja.

 

Apa lagi rencana selanjutnya?

Rencananya pas dua tahunnya Sarana nanti mau bikin album, dan semoga tahun depan Sarana diundang ke festival noise di Jepang doain ya hehe.

Terakhir, apa tiga hal favorit kalian dari skena musik di Samarinda saat ini?

Band: Murphy Radio.

Record: Loudness Recs.

Gigs/Event: Titik Berat dan Record Store Day East Borneo.

Foto: Achmad K. Farouk. 

https://saranamusic.bandcamp.com

Soundcheck: 10 Best K-Pop Songs of 2016

 

2016 is crazy year, for sure. Namun, terlepas dari segala keabsurdan yang terjadi di dunia sepanjang tahun ini, tak bisa dipungkiri jika 2016 is also a great year for music yang ditandai oleh maraknya rilisan lagu dan video yang keren, termasuk dalam kancah K-Pop. Meskipun tahun 2016 ini kita sudah melihat beberapa berita disbandment yang menyedihkan, dari mulai Rainbow, KARA, 4Minute, hingga hengkangnya Minzy dari 2NE1 yang pada akhirnya berujung pada pembubaran resmi grup besutan YG Entertainment tersebut, untungnya seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, skena K-Pop yang tampaknya tidak pernah kehabisan talenta-talenta baru pun siap menawarkan “racun” terbaru mereka dalam bentuk grup-grup rookies yang sangat menjanjikan. I’m here to stay for the K-Pop’s catchy chorus and superb videos, and without further ado, here are my list of top 10 K-Pop of this year!

10. K.A.R.D – “Oh NaNa”

Terakhir kali kita melihat grup co-ed (berpersonel cewek dan cowok dalam satu grup) yang cukup promising di K-Pop adalah Co-Ed School yang dibentuk oleh Core Contents Media back in 2010 yang sayangnya tidak berumur lama. Since then, kita hampir tidak pernah mendengar grup co-ed yang menarik untuk disimak, but as a nice surprise, kurang dari seminggu lalu DSP Media memperkenalkan K.A.R.D, sebuah grup co-ed yang terdiri dari empat personel (BM, Jeon JiWoo, J.Seph, Jeon SoMin) dengan single pertama mereka, “Oh NaNa”, yang saat artikel ini ditulis sudah menembus satu juta views di YouTube, sebuah pencapaian impresif bagi grup rookie yang datang dari company di luar the Big 3 (SME, JYP, YG). It’s no wonder kenapa mereka bisa menarik atensi dengan cepat. Tak hanya atraktif secara fisik, keempat member-nya juga disebut berbakat dalam hal composing, menulis lagu, hingga membuat koreografi sendiri yang ditunjukkan dalam MV pertama mereka. Secara videografi, sebetulnya konsep MV “Oh NaNa” cukup standard namun berhasil menampilkan kemampuan setiap member dengan porsi yang pas, and with those addictive summer-ish dancehall beats, we can’t help but to keep press the repeat button.

9. PENTAGON – “Can You Feel It”

Empat tahun telah berlalu sejak Cube Entertainment memperkenalkan BTOB ke pecinta K-Pop dan rumor jika Cube sedang mempersiapkan boy group terbaru mereka sudah ramai dibicarakan sejak tahun 2015 lalu. Jawaban dari penantian tersebut adalah PENTAGON, boy group dengan 10 member yang merilis debut album mereka pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dengan title track berjudul “Gorilla”. Sebelum debut, para member PENTAGON diperkenalkan ke publik lewat survival show bernama Pentagon Maker di Mnet, dengan beberapa member dikenal sebagai bekas trainee dari company besar lainnya seperti SM dan YG. But make no mistake, jangan sebut grup ini sebagai grup “buangan”, karena lewat comeback single “Can You Feel It” dari EP kedua bertajuk Five Senses, mereka membuktikan diri sebagai grup rookie yang patut diawasi. Dengan koreografi yang matang dan chemistry di antara member yang kuat, mereka punya teamwork dan potensi yang tidak kalah dengan grup sebesar EXO sekalipun.

8. I.O.I – “Very Very Very”

To be honest, saya tidak bisa menulis tentang grup berpersonel 11 orang yang datang dari berbagai agensi berbeda ini tanpa merasa sedih. Seperti yang kamu tahu, grup yang namanya berarti Ideal of Idol ini adalah sebuah girl group yang lahir dari sebuah survival show bertajuk Produce 101 milik Mnet di mana 101 trainee dari berbagai agensi berlomba mendapatkan posisi dan debut di sebuah “ultimate girl group” selama satu tahun. Sebagai penonton setia Produce 101, ke-11 member yang akhirnya membentuk I.O.I terbukti sama sekali tidak mengecewakan, they’re all very talented and pretty dengan lagu-lagu yang super catchy. But here’s the truth, faktanya umur grup ini hanya setahun sebelum para member kembali ke agensi masing-masing. As a last single, “Very Very Very” yang diproduseri oleh JYP adalah lagu yang berhasil merangkum semua pesona I.O.I dengan gemilang. Its super catchy dengan MV yang juga sama ekspresifnya. We’re not ready for their disbandment tapi di saat yang sama juga tidak sabar untuk menonton season kedua Produce 101.

7. NCT U – “The 7th Sense”

 

Belajar dari pengalaman yang kurang menyenangkan dari hengkangnya beberapa member Super Junior dan EXO, S.M. Entertainment meracik konsep terbaru untuk proyek grup terbarunya yang bernama Neo Culture Technology yang kemudian disingkat sebagai NCT. Konsep utama NCT adalah jumlah member yang tidak terbatas, dalam artian, SM bebas menambahkan atau merombak susunan member dalam setiap comeback dalam bentuk sub-unit yang berbeda-beda dengan para personel yang berasal dari grup pre-debut SM Rookies. NCT U yang menjadi sub-unit pertama yang diperkenalkan pada April lalu berhasil mencuri perhatian dengan single “The 7th Sense”, sebuah lagu debut yang benar-benar terdengar unik dari grup-grup K-pop pada umumnya. Dengan beat-beat elektronik yang ganjil (its kinda weird yet sexy at the same time) dan diperkuat oleh koreografi menghipnotis serta mind tripping visual, “The 7th Sense” adalah sebuah eksperimen SM untuk keluar dari zona nyaman mereka dengan hasil yang gemilang.

6. Twice – “TT”

Ya, saya tahu beberapa dari kamu pasti akan bertanya kenapa saya memilih “TT” instead of “Cheer Up” yang memang menjadi salah satu anthem K-pop paling besar di 2016, but I have my own reason. “Cheer Up” memang lagu yang super duper catchy dan berhasil melambungkan girl group besutan JYP ini menjadi salah satu national girl group, tapi jujur saja, mendengarkan “Cheer Up” lebih dari 5 kali berturut-turut adalah hal yang menyebalkan (based on personal experience). Lain halnya dengan “TT”, tentu saja saat pertama menonton MV-nya, kita akan sibuk terpesona pada sembilan member dengan kostum Halloween masing-masing yang imut dan koreografi yang lagi-lagi ikonik secara instan. Namun, saat didengarkan dengan headphone tanpa melihat MV-nya pun, “TT” memiliki banyak elemen dan detail musik yang menarik untuk diulik setiap kali mendengarnya. Dari mulai bagian intro, bridge, hingga chorus, its full of musical surprises yang menunjukkan jika lagu ini tak hanya catchy tapi juga digarap dengan sungguh-sungguh. Totally a bop.

5. Red Velvet – “Russian Roulette”

Mendengar nama Red Velvet, biasanya kita akan langsung membayangkan MV penuh visual warna-warni yang whimsical dan semanis sakarin, tapi di title track untuk EP ketiga mereka ini, they injects a darker twist to it. Saat mendengarnya untuk pertama kali, “Russian Roulette” adalah lagu synthpop berbumbu bebunyian retro 8-bit dan robotic chorus yang memiliki semua elemen dari classic K-Pop girl group hits, it’s catchy, fun, with a nice dynamic and breakdowns. MV-nya sendiri pun terlihat sama ceria dan bubbly di mana para member yang memakai pakaian bertema olahraga terlihat bermain tennis dan dodgeball plus koreografi yang sama serunya dalam setting yang dipenuhi warna pastel andalan mereka. But in the following scenes, kita menyadari jika kelima member RV berusaha menyingkirkan satu sama lain dengan berbagai skenario yang cartoonish (dari mulai menjatuhkan piano, menyelipkan baut ke dalam mangkuk sereal, hingga mendorong temannya ke mobil yang melaju) yang terinspirasi dari serial Itchy & Scratchy dari The Simpsons. For some people, beberapa adegan tersebut mungkin memang disturbing, tapi dengan sajian visual dan audio yang begitu sinfully sweet, we can’t help but craving for more.

4. Seventeen (SVT) – “Check-In”

Bagi kamu yang belum pernah mengenal Seventeen, let me explains the basic thing about their concept. Dengan member sebanyak 13 orang, Seventeen terdiri dari tiga sub unit yang meliputi vocal unit, hip-hop unit, dan performance unit. Sejak melakukan debut di bulan Mei 2015, mostly mereka memang tampil as one big group di mana para member punya peranan penting dalam setiap produksi yang mereka rilis, dari mulai composing lagu hingga koreografi, yang akhirnya membuat mereka dijuluki “self-producing” idol group. Tahun ini, mereka tak hanya merilis banyak K-Pop hits seperti “Very Nice” dan yang terbaru, “Boom Boom”, tapi juga “Check-In”, sebuah single dari hip-hop mixtape milik Hip-Hop Unit mereka yang terdiri dari S.Coups, Wonwoo, Mingyu, dan Vernon. With tropical beat and laidback feels, keempat rapper tersebut menunjukkan skill masing-masing and just vibing with each other dengan latar Hong Kong yang sangat picturesque. Seriously, warna-warni vibrant dan lanskap arsitektur dalam MV ini adalah pure aesthetic orgasm. Every scene is like a screencap from Wong Kar Wai’s movies. Dengan shout out untuk kota-kota dunia yang telah mereka kunjungi (termasuk Jakarta!) ditambah nuansa restless youth yang kental, this MV feels so uplifting and hopeful yang mampu mendorongmu untuk menyiapkan backpack and travel abroad with your crew.

 

3. Blackpink – “Whistle”

 

Sebagai girl group pertama yang lahir dari YG Entertainment sejak 2NE1 muncul tujuh tahun lalu dan meraih status legend dalam dunia K-Pop, Blackpink yang terdiri dari Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa mengemban banyak antisipasi dan prasangka positif maupun negatif jauh sebelum mereka akhirnya resmi debut dengan single album bertajuk Square One bulan Agustus lalu yang kemudian secara instan berhasil meraih respons yang totally worth the hype lewat dua debut single mereka, “Boombayah” dan “Whistle”. While “Boombayah” is a party banger, “Whistle” is a slick minimalist hip-hop yang genius. Saat menonton MV “Whistle” untuk pertama kalinya, it takes only literally the first three seconds to fell in love with this song. Lagu yang diproduksi oleh Teddy Park dan Future Bounce ini dibangun oleh melodi drum ‘n’ bass yang terdengar minimal dan sparse namun sangat infectious yang diperkuat oleh killing rap parts, country guitar di bagian chorus yang totally unexpected, dan tentu saja, bunyi siulan yang melekat di kepala ever since. Semua racikan tersebut memang terdengar agak ganjil pada awalnya, but somehow it feels so right, dan tanpa kamu sadari, kamu pun akan terhipnotis melihat visual cantik yang disajikan di MV-nya, dengan keempat personel yang memiliki daya tarik masing-masing yang sama kuat, dan tanpa sadar you will get down with this song. Dengan follow up singles seperti “Playing With Fire” dan “Stay” dari Square Two yang sama kerennya dari segi sounds dan visual, Blackpink is the best rookie group in 2016, no objection.

2. BTS – “Blood Sweat & Tears”

No matter what the antis might say, 2016 is the year of BTS. Setelah trilogi Most Beautiful Moment in Life yang melesatkan karier mereka ke strata atas grup K-Pop kontemporer, grup besutan Big Hit Entertainment yang terdiri dari 7 orang personel ini pun merilis album kedua mereka, Wings, pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dan langsung memecahkan berbagai rekor di sana-sini. Pertama kali muncul di tahun 2013 sebagai grup berkonsep hip-hop dengan image bad boys, dalam perjalanan kariernya, BTS yang juga dikenal dengan nama Bangtan Boys (Bulletproof Boy Scouts) menjelma sebagai grup dengan image dan konsep yang semakin matang tanpa melupakan cara bersenang-senang lewat musik dan koreografi yang standout. “Blood Sweat & Tears” yang menjadi single utama dari Wings adalah narasi tentang kehidupan dan kematian dengan inspirasi utama dari novel Demian karya Herman Hesse yang dikemas dalam sebuah produksi musik ambisius yang menggabungkan electronic, synthpop, rap, hingga moombahton dengan MV yang sangat artistik. Set the bar really high for the other groups, tidak heran jika BTS tahun ini dinobatkan sebagai Artist of the Year dalam gelaran Mnet Asian Music Awards dan menjadi grup pertama di luar perusahaan Big 3 (SM, YG, JYP) yang meraih penghargaan tersebut.

1. Big Bang – “Fxxk It”

Kalau saja Big Bang tidak merilis album penuh mereka MADE di penghujung akhir tahun ini, posisi nomor satu ini akan diduduki oleh BTS. Dibandingkan hits sebelumnya seperti “Bang Bang Bang” dan “Fantastic Baby” yang heboh, “Fxxk It” lebih dekat dengan “We Like To Party” yang terdengar easy going and chill. Dibuka oleh Taeyang dengan verse berbahasa Inggris yang fasih, “Fxxk It” adalah lagu electro hip-hop mid-tempo dengan nuansa tropical beat dan efek woozy pada detailnya di mana setiap member mendapat porsi yang seimbang untuk bersinar. MV yang disutradarai oleh Seo Hyun-Seung menampilkan para personel Big Bang hanging around di daerah Cheongju, dari sebuah kamar sederhana hingga ke sebuah club, like a group of rascals yang mengingatkan pada masa-masa remaja mereka di awal karier sebelum akhirnya menjadi salah satu legend di dunia K-Pop. Bersama-sama menjalani satu dekade penuh perjuangan, more than just old friends, mereka mungkin sudah seperti keluarga sendiri dan hal itu terlihat di MV ini yang terasa apa adanya tanpa pretensi. Meskipun jelas mereka mengusung semangat “semau gue”, tak bisa dipungkiri jika ada kedewasaan yang terpancar dari dinamika di antara para member di MV ini. As a last hurrah sebelum mereka bergantian menjalani wajib militer, lagu ini seperti pesta perpisahan yang santai dan intimate bagi para member dengan fans setia mereka. Mungkin butuh waktu cukup lama sebelum mereka bisa kembali dengan formasi utuh, but we sure will wait for these kings to return.

 

On Stage: Neon Lights Singapore 2016

Dipenuhi deretan headliners memukau dari berbagai genre, Neon Lights 2016 berhasil memancing 15 ribu penonton untuk berbesar hati menerjang hujan badai dan genangan lumpur di Fort Canning Park, Singapura.

Saat menulis artikel ini, sepatu saya belum sepenuhnya bersih dari sisa-sisa lumpur pada festival musik dan seni yang berlangsung 26-27 November 2016 tersebut. Yup, hujan badai yang turun sejak siang hari di hari pertama membuat area perbukitan Fort Canning menjadi lautan lumpur. Untungnya, ribuan penonton tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu and still having fun dengan mengenakan poncho ataupun bertelanjang kaki dan mandi hujan, after all that’s the spirit of outdoor music festival! Dibandingkan Laneway, Neon Lights sendiri adalah festival yang masih terbilang baru. Namun, meskipun baru menginjak tahun kedua, Neon Lights tampak siap menjadi sebuah annual event yang wajib dikunjungi tak hanya berkat lineup yang keren, tapi juga penekanan pada kata “festival” itu sendiri. Selain aksi musisi regional dan internasional, kita juga bisa melihat berbagai aktivasi seru seperti performance art, spoken word poetry, graffiti painting, light installations, dance showcases, hingga teater musikal yang bercerita tentang sejarah skena punk setempat. With the all good memories, I’ll tell you what really happened.

 

Day 1 – 26 November

Foals
Foals

Hujan deras yang mengguyur Singapura dari siang membuat saya baru bisa tiba di Fort Canning sekitar jam 5 sore dan terpaksa melewatkan penampilan Chairlift dan Lucy Rose. Tanpa buang waktu, saya langsung merapat ke Fort Gate Stage untuk menyaksikan Shura yang hampir merampungkan setengah set-nya. Membawakan electronic jams seperti “Touch” dan “Indecision” yang groovy, penyanyi Inggris tersebut menjadi pembuka yang manis bagi Neon Lights pertama saya. Selesai Shura, saya menyempatkan waktu untuk mengenal medan Fort Canning terlebih dahulu. Dibagi menjadi dua stage utama dan empat stage kecil yang letaknya lumayan berjauhan, kita harus pintar-pintar mengatur waktu untuk mengejar artis yang mau kita lihat. Sembari menunggu jadwal Foals tampil di Fort Green Stage, saya masih sempat melihat Gentle Bones membawakan dua lagu terakhir. Menjadi musisi Singapura yang tampil di jam dan stage utama, kualitas singer-songwriter berusia 22 tahun tersebut memang tidak kalah dengan para musisi internasional. Mendapat posisi lumayan depan dan dekat speaker saat giliran Foals tampil, saya bisa menikmati dengan maksimal deretan hits yang dibawakan oleh kuintet asal Oxford ini. Tampil dengan energi eksplosif, vokalis Yannis Philippakis sempat berkata jika festival ini akan menjadi penampilan terakhir mereka sebelum ke studio untuk merampungkan materi-materi baru. In the mean time, Foals pun memanjakan penggemar mereka dengan lagu-lagu andalan seperti “Spanish Sahara”, “Cassius”, serta “Inhaler” yang memancing beberapa orang untuk moshing.

Crystal Castles
Crystal Castles

Bergegas kembali ke Fort Gate untuk bisa berdiri paling depan di set Crystal Castles, produser Inggris Aaron Jerome yang lebih dikenal dengan nama SBTRKT belum menuntaskan DJ set-nya yang meliputi garage, UK bass, hip-hop, hingga remix “Midnight Request Line” milik Skream. Sambil menunggu kru menyiapkan panggung, terdengar juga racikan elektronik eklektik milik Gold Panda dari tenda di belakang Fort Gate Stage. Sempat bimbang untuk melihat sejenak Gold Panda, lampu stage padam yang artinya Crystal Castles sudah siap tampil. Songwriter/producer Ethan Kath naik ke panggung diiringi lampu strobe yang menghipnotis dan mulai memainkan synth-nya sebelum disusul oleh vokalis Edith Frances. Dengan rambut pink dan vokalnya yang setengah berteriak, Edith tampil seperti orang kesetanan yang tak lelah menarik atensi penonton dengan berbagai cara. Mulai dari naik ke speaker hingga berguling di lumpur, more reason to be hyped up! Repertoire dari album pertama hingga album terbaru mereka Amnesty (I) pun disajikan dengan sangat intens. It’s definitely a highlight for the first day!

Selesai digempur habis-habisan oleh Crystal Castles yang menutup Fort Gate Stage, masih ada penampilan Neon Indian di Fort Green Stage, namun sebelum ke sana, saya tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi Silent Disco yang berada di area Easy Street samping Fort Gate. I always love Silent Disco! Bayangkan sekumpulan orang memakai headset yang terdiri dari tiga channel (biru, merah, hijau) di mana ada tiga orang DJ di DJ deck yang mengisi 3 channel tersebut dengan playlist masing-masing yang sangat bertolak belakang. Saat kamu sedang asik mendengarkan Chainsmokers, bisa saja orang di sebelahmu sedang menyanyikan keras-keras lagu Nirvana atau sedang heboh berjoget reggae, it was fun and crazy! Saking serunya, saya tidak sadar telah berada di Silent Disco selama lebih dari setengah jam sebelum akhirnya beranjak ke Fort Green Stage untuk mengintip aksi Alan Palomo dan rekannya di Neon Indian. Sayangnya, penampilan mereka diganggu beberapa kendala teknis dan gerimis yang kembali turun membuat sebagian penonton beranjak pulang. Hal itu tak membuat Neon Indian kecil hati dan tetap maksimal membawakan singles juara seperti “The Glitzy Hive”, “Should Have Taken Acid with You”, dan ditutup oleh “Polish Girl”.

Day 2 – 27 November

The Tallest Man on Earth
The Tallest Man on Earth

Hari kedua Neon Lights masih dibayangi awan mendung dan udara lembap, namun untungnya tidak turun hujan deras seperti hari sebelumnya. But still, lapangan rumput Fort Canning masih berupa lautan lumpur yang cukup dalam dan licin. Sialnya sepatu yang saya pakai di hari sebelumnya masih basah dan saya pun terpaksa memakai sandal hotel, which is obviously bad decision karena tak butuh waktu lama sebelum sandal itu copot terbenam lumpur. Melihat orang-orang sekitar cuek bertelanjang kaki, saya pun nyeker sambil membayangkan ini semua adalah mud spa. Anyway, artis yang pertama saya lihat di hari kedua adalah The Tallest Man on Earth yang merupakan solo project dari singer-songwriter asal Swedia, Kristian Matsson. Ternyata beliau baru saja cerai dari istrinya dan masih galau, sehingga lagu-lagu ballad yang dibawakan dengan gitar akustiknya pun membuat suasana di Fort Gate Stage makin terasa syahdu dan intim.

Blood Orange
Blood Orange

Selesai bergalau ria, saya menuju Fort Green Stage untuk menunggu giliran Blood Orange. Proyek musik R&B electronic yang digawangi oleh Dev Hynes ini memang menjadi salah satu incaran utama saya dan saya pun rela menunggu di depan stage. Hasilnya tentu tidak mengecewakan. Membuka penampilannya dengan single “Augustine” dari album Freetown Sound, Dev adalah seorang performer ulung serba bisa yang membuat kita tak bisa berhenti kagum. Mulai dari menyanyi, mencabik gitar, memainkan synth, hingga menari sepanjang stage dengan latar gedung-gedung New York City semuanya dilakukan dengan sangat atraktif. It’s all a grand tribute to 80’s NYC! Disokong oleh band pendukung dan backing vocal yang sama kerennya, penampilan selama 45 menit dari Blood Orange terasa berlalu begitu cepat dan membuat hampir semua penonton bertahan dan meminta encore. Blood Orange’s solo show in the near future, dear promoters?

Jose Gonzalez
Jose Gonzalez

Setelah Blood Orange adalah giliran penyanyi kebanggaan Malaysia, Yuna, yang akan tampil di Fort Green Stage. Yang sayangnya bentrok dengan jadwal José González di Fort Gate Stage. Dengan pertimbangan saya akan menyaksikan Yuna di Jakarta seminggu setelahnya, saya pun memutuskan untuk menunggu Jose Gonzalez saja. Persiapan yang cukup lama membuat saya sempat mengintip beberapa stage kecil yang diisi oleh performance yang seru, dari mulai ensemble musik tradisional Melayu hingga poetry reading. Ketika akhirnya José González naik panggung, the feel is so surreal. I mean, hanya memakai kaus oblong, berjenggot tebal, dan memeluk gitar Alhambra favoritnya, pria berusia 38 tahun ini terlihat seperti sosok kultus yang sedang menyampaikan kotbah dengan suara husky dan lirik-lirik syahdu bagi para jemaatnya. Alam raya pun seperti bersekongkol. Semilir angin yang sejuk, bintang yang malu-malu di balik awan, dan penonton yang tenggelam dalam khidmat (beberapa bahkan terlihat menangis) membuat penampilan José González sebagai pengalaman yang magis dan membangun mood yang tepat untuk penampilan selanjutnya, Sigur Rόs.

Sigur Ros
Sigur Ros

            Datang jauh-jauh dari Islandia, band post-rock legendaris ini telah memukau pendengar musik dari berbagai generasi berkat musik mereka yang surgawi. Band yang kini terdiri dari Jόnsi, Goggi, dan Orri ini menyapa penggemar lama mereka dengan beberapa lagu dari album-album terdahulu seperti “Starálfur” dan “Popplagið” sebelum membawakan materi dari album ketujuh, Kveikur. Diperkuat oleh sajian visual dan lighting yang turut membangun atmosfer, segala elemen khas dari Sigur Rόs yang meliputi vokal falsetto Jόnsi, classical dan minimalist aransemen yang dipadu oleh wall-of-sounds post rock yang eksplosif membuat seluruh crowd di Fort Canning seperti tersihir dan hanya bisa terpana. Bagaimanapun, menyaksikan Sigur Rόs secara live adalah sensasi sounds & visual yang sangat memorable. Melihat penonton yang berangsur pulang dengan senyuman puas meski kaki tenggelam dalam lumpur, Neon Lights 2016 pun ditutup with high notes!

 Foto oleh: Andandika Surasetja.

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

On The Records: Rizky Argadipraja/Greybox

 

“Keluarga saya tidak berlatar musisi jadi saya tidak bisa bilang jika mereka menginfluens saya untuk membuat musik. Tapi saat saya umur 12 tahun, ayah saya mengoleksi piringan hitam dari UK rock scenes, jazz, classical dan memainkannya di record player tua miliknya. Hal itu membuat saya tertarik untuk mendengarkan berbagai genre tersebut tapi dia tidak mengizinkan saya untuk menyentuh record player miliknya, until one day, I tried to mess with it myself. I honestly had no idea what I was doing but that actually made me more curious,” kenang Rizky Argadipraja tentang awal ketertarikannya pada musik. Curiouser and curiouser, rasa penasaran pria kelahiran Jakarta, 23 tahun lalu ini terbayar manis saat dirinya menjadi music producer dan sounds engineer yang dikenal dengan nama alias Greybox.

Sempat bergabung di jazz band, pengaruh jazz yang smooth menjadi salah satu elemen dari produksi musiknya saat ini yang merupakan paduan eklektik dari electronic, Hip Hop, house, RnB, soul dengan influens meliputi J Dilla, DJ Krush, dan Theo Parrish. Setelah merilis beberapa volume kompilasi dengan judul Crusted Swing dan begabung di roster dua label US, Ninetofive Records dan Mellow Orange, di tahun 2015 lalu, pria yang berkuliah di New York ini merilis debut EP bertajuk Elevate yang berisi 4 track dengan genre beragam, namun tetap mengusung vibes yang slick and chilled andalannya.

 Membangun karier di negeri orang, tak lantas membuatnya melupakan scene lokal begitu saja, whether collaborating with local talents atau membagikan pengalamannya. “Apa yang saya sukai dari New York adalah state of appreciation yang dimiliki para New Yorkers. Appreciation is what I learned the most after being a few years there. But you know, there is nothing feels better than home. Banyak yang saya rindukan dari Jakarta. Nomor satu yang jelas adalah makanan. The spicy Indonesian food and the price. Food in New York is mad expensive. Tapi pada akhirnya saya akan pulang ke Jakarta anyways, so I’m hyped for that and everything in the future to come!

 

SAMSUNG CSC

Apa yang mendorongmu untuk membuat musik sendiri?

 

Back in 2012, saya menemukan software Ableton di Mac lama saya. It was intimidating at first, but got hooked after a few tries. Awalnya saya tidak tahu mau buat apa, jadi saya menghabiskan setahun untuk mempelajari software itu. Lalu saya pergi ke New York di akhir 2012 dan untuk pertamakalinya dikenalkan ke Hip Hop oleh sepupu saya yang tinggal di sana. And not just Hip Hop the genre but the culture itself. Saya mulai nyaman dengan NY Hip Hop scene dan mulai membuat Trip-hop pada awalnya. Dari situ, saya mulai mengeksplor genre lain seperti House, Soul, RnB, dan sejenisnya. Dan menggabungkan semua genre tersebut menjadi satu, into my own sound.

What’s the story behind Greybox moniker?

 

It goes way back when I was in middle school, I made a production house called Greybox Production. Had a small team, and we used to make short films. Long story short, we end up going our own ways.

 

After I made my first track in 2013 called “Simplicity”, I was so excited to upload it on Soundcloud but haven’t think of an alias yet, so I end up using Greybox just for a temporal account name. But then people started to recognize me with that moniker, so I decided to stick with the name until now. It took me a while to finally accept that name, and to really find a meaning behind it. But after awhile, I realized that the tracks that I made compile a meaning of my alias.

 

To describe it in a quick yet casual way, Grey as a neutral color that comes from a mixture of many colors combined into one, being open minded towards any type of sounds. Covered by a box that will keep the groove stable.

Who are your musical influences that really shape your taste and works?

 

Lots of great artist from the Hip-Hop divisions, House, and also old school RnB cats. I found influences not just from one source but a chain of sources. I always try to learn something new from producers that I look up to also from producers that are on the same boat as I am. I want to broaden my style so I would just look at other artists that have a completely different taste as mine and just try to learn their style. I target myself to at least stumble one new artist/producer every each day.

 

Individually, I would always credit J-Dilla as my main influence. I appreciate his work cause he combine different genres but always have that one element that keeps it in motion, it could be the drums, or maybe the bass.

How would you describe your sounds?

I would describe my sound as a spacey yet soulful tones wrapped in repetitive swing. I love loops. I express my sound in a few bars, and keeping it unique. Fitting a complete message in that few bars, repeating, and still achieve a new motion every each repetition. Basically, making loops that don’t sound like a loop.

elevate

Berapa lama kamu mengerjakan Elevate EP?

Saya mengerjakannya kurang dari seminggu. Yang menarik adalah saya mengerjakan track “Discrete” dan “Enigmatic” di Starbucks sambil memakai headphone di NY. Ide tidak selalu datang di studio musik, it’s crazy how you can just sit at Starbucks with your coffee and then just build an idea of a new track. Sejak itu saya lebih open-minded di setiap tempat yang saya kunjungi, bahkan kamar mandi sekalipun. Saat mengerjakan sebuah track, saya tidak pernah menghabiskan lebih dari dua menit karena saya cepat bosan. Setelah Elevate EP, saya jadi semakin serius and step up my game dengan membuat track lebih dari dua menit… And also go to Starbucks more often.

Kamu di New York kuliah Sinematografi, apa korelasi antara sounds dan visual di musik menurut kamu sendiri?

 I find that cinematography is a thing that I love to switch activities to. Saya merasa belajar soal film bisa membantu musik saya juga. And it turned out good. In cases like shortage on a film budget, hiring a sound recordist in New York cost you an arm and a leg. So it really helped me many ways by being able to do sound and visual.

So far, pengalaman main paling seru di mana dan kenapa?

 

I don’t do gigs that often, tapi kalau pengalaman paling seru so far when I did a show in Brooklyn, NY di sebuah private rooftop party. The vibe was great, people were dancing and they really felt the music. Pengalaman itu sangat berkesan karena ada this one afro-latino girl came all the way up to the DJ booth and just start pulling up dance move right away and just vibin’ all night. It excites me looking at people appreciating my music.

What’s your dream collaboration?

 

A producer named IAMNOBODI. It’s just something about his drums that always give me the chills.

Apa kamu sedang mengerjakan sesuatu saat ini?

 

Ya, saya sedang mengerjakan sebuah proyek bernama Ocean EP dengan seorang musisi dari major label. Karena masih sedang dalam proses, saya tidak bisa membocorkan lebih banyak, but yeah you’ll be expecting a fresh material coming up soon.

Greybox’s Fave Records:

489152 

Trouvaille

Freddie Joachim

Album ini baru keluar bulan ini, terlepas dari kami ada di label yang sama, dia hanya merilis album ini dalam format vinyl. Owning the vinyl version and all tracks from Trouvaille album is top notch.

drum-library

Drum Library Volume 12

This one is a collection of drum samples/loops both sides. A hip-hop drum breaks from Super Break Records. Since I do sampling alot, this record has always been a foundation to my drum chops.  Always have this record with me wherever I travel.

quincy

Walking In Space

Quincy Jones

An all time favorite, saya dikenalkan album ini oleh ayah saya dan menjadi inspirasi ever since. All the elements on this album influence the sounds of my releases. Also lots of chops I use for my track from this piece.

avatars-000270425634-plp3fk-t500x500

https://soundcloud.com/greybox

Easy A, An Interview With Ariel Nayaka

Tanpa perlu menjual kontroversi kacangan dan komentar-komentar miring, rapper muda Ariel Nayaka menunjukkan kelasnya sendiri sebagai bintang baru layak simak di skena Hip-Hop lokal just like a Straight-A student.

Setelah seakan mati suri sekian lama dari radar mainstream, dengan semakin banyaknya nama rapper dan beatmaker lokal yang naik ke permukaan, releasing their tapes, doing gigs here and there, dan crowd yang semakin apresiatif, I think it’s safe to say our local Hip Hop scene is on the rise again and Ariel Nayaka is proud to be part of it. Menghabiskan masa pubernya di Houston, Texas, cowok 22 tahun ini mengaku sudah terekspos pada kultur Hip Hop sejak dini, namun album 50 Cent lah yang menjadi awal dari segalanya. “Basically gue lagi road trip sama keluarga dan stuck di mobil selama 12 jam lebih. Sepanjang perjalanan, hiburan gue cuma album 50 Cent yang Get Rich or Die Tryin’. That was also the first time I ever listened to Gangsta Rap and I was hooked on it immediately. Album itu yang membuka pintu buat gue untuk eskplor Hip Hop, tapi album yang benar-benar mendorong gue untuk mulai nulis lirik adalah album Eminem yang The Eminem Show,” ceritanya.

Sempat main di genre metal dan post-hardcore emo, minatnya pada Hip Hop bangkit lagi saat ia kembali ke Jakarta. Secara otodidak dari video YouTube, ia mulai mempelajari proses rekaman dan menulis lirik sendiri di atas free beats yang ia dapat di internet lalu mengunggahnya ke SoundCloud. After some singles, videos, and one mixtape, tahun ini dengan bangga Nayaka mempersembahkan mixtape anyar berjudul Curriculum Vitae. Seperti yang disugestikan oleh judulnya, album berisi 12 track ini adalah rangkuman dari skill yang dimilikinya. Berkolaborasi dengan beberapa rapper dan beatmaker sebayanya seperti Ben Utomo, Scamy, dan Greybox, Nayaka menunjukkan bermacam warna Hip Hop dan tema lirik, mulai dari old school, new school, R&B, hingga trap, yang semuanya dikemas dengan lafal Inggris yang fasih, wordplay yang asik, dan produksi yang rapi.

To complete this exciting year, single terbarunya bersama produser Emir Hermono yang bertajuk “3Am In Jakarta” dengan video yang ia rekam sendiri menjadi topik viral, menarik respons positif, dan mengantarkan namanya ke pendengar yang lebih luas tak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dengan tampil di Good Vibes Festival, di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu. Not stopping for rest and relax, he’s already got so much more to show and we can’t wait for it.

img_5054

So, what are the musical influences for you?

 

Kalau musik secara general, gue akan sebut Michael Jackson. Gue ingat nonton live performance dia bawain “Smooth Criminal” when I was 3, straight up from Laser Discs. Tapi kalau Hip Hop, pasti berubah setiap minggu, haha. Usually I’ll listen to the “new age hip hop” era in the States seperti Lil Yachty, Lil Uzi Vert, Playboi Carti. But then again there are also those moments where I feel like I need me some Bryson Tiller, Partynextdoor, Drake vibes as well. And those melodic sappy ones have been influencing me HEAVY lately.

cv

Tell me about Curriculum Vitae, apa konsep utama dari album ini?

 

Jadi Curriculum Vitae ini dibuat dengan konsep “This is my CV into the music industry”, that’s why I’ve got a couple different type of “Hip Hop Styles” in one body of work to show my diversity and overall sounds that I am capable of. Lagu pertama yang gue bikin yang eventually masuk ke album direkam sekitar April 2015.

Waktu itu gue sebetulnya belum berencana rilis mixtape/album karena di Januari 2015 gue baru ngerilis mixtape yang judulnya To Each His Own. Tapi pas summer 2015, gue ke Jerman selama setengah tahun dan gue bawa recording equipment gue ke sana. I travelled around Europe with my friends, and along the way I took in influences from my surroundings and applied them to my music.

Sekitar 70% rekaman vokal di album ini gue kerjain di Eropa. And as for the album cover, it was a picture of a piece of the Berlin Wall in the East Side Gallery that simply said “Curriculum Vitae”. Itu foto gue literally snapped with my iPhone, sent it to my sister to edit a little, and BOOM! That’s the album cover, haha.

Gimana biasanya proses songwriting berlangsung buat lo dari awal sampai jadi?

I always get confused everytime anyone asks me this question, because its always different every single time. Sometimes someone would send me a beat and I’ll just write lyrics to that beat and I’ll record. But some other times I could just be anywhere and I’d get ideas and I would write them down in my Notes app on my phone. Just rhymes and/or random topics. You’d be surprised to see how much idea I have just laying there on my Notes app lol. Then when I do have the time, I would try to use those ideas and mash it together with an instrumental that flows well with the lyrics. To me, the process of songwriting cannot be stuck in just one method of formula. You have to constantly experiment with new sounds/topics. Getting out of your comfort zone is very important, because at the end of the day YOU HAVE to sound different than your peers.

Apa opini lo soal skena Hip-Hop lokal saat ini?

 

The Hip Hop scene in Indonesia is GROWING FASTER AND FASTER! The culture is moving really fast and I see it growing faster than it did with EDM back around 2010-ish. Banyak banget rapper baru yang muncul setiap bulannya and that’s awesome! Sekarang juga ada beberapa Hip Hop events di Jakarta di mana lo bisa ngeliat producer, rapper, DJ hanging out in one place as friends and vibing with one another. Cul De Sac is a collective of very talented young producers and DJs who make events as well. You can probably say that these guys are the ones that are running the underground Hip Hop scene in these weekly parties.

 

What’s the career highlight so far? Yang gue tau tahun ini lo ikut perform di Good Vibes Malaysia, how was it?

 

YES actually so far, performing in Good Vibes alongside Emir Hermono was a really crazy experience. Gue bikin lagu “3AM In Jakarta” bareng dia beberapa bulan lalu dan ternyata lagu ini lumayan booming di Kuala Lumpur, to the point that it actually got radio airplay. Lucunya, pas kita bawain lagu itu di Good Vibes, there were actually people singing and rapping along to the EXACT lyrics. Itu momen yang gila buat gue karena kalau dipikir, gue nulis lirik lagu itu di rumah gue di Jakarta, tapi gue bawainnya di negara lain dan orang-orang nyanyiin liriknya. That feeling right there is what I’ll always crave and that’s the reason that I make music now.

 

Selain musik, apa aja kegiatan sehari-hari lo?

MASIH KULIAH MAN! I mean it’s my last semester but I need to get this out the way first so I can focus on this music 100%. On a daily basis I usually just wake up, go to the gym, go back home and usually the homies would want to hang at my place. My place is where I do all of my recordings and usually we would all just hang out eventually come up with ideas for music.

What’s your dream collaboration?

 

Yo! If could choose anyone, I would want to have a song with Travis Scott on the hook, me doing 2 verses, Drake doing the last verse, and the overall production by Kanye West and Metro Boomin. Terus have DJ Khaled promote it HAHAHA! If I could get that done, I would die happily LOL.

Apa rencana selanjutnya?

Sekarang gue lagi ngerjain beberapa tracks bareng beberapa producers. Bantuin Emir Hermono di album barunya. I’m doing a joint EP with some very talented producers that I can’t tell u about right now and overall I’m just dropping music here and there. Just keep up on my social media accounts cause every announcement I make will go through there.

img_5038

Foto oleh: Willie William.

https://soundcloud.com/ariel-nayaka

IG: @ArielNayaka

Twitter: @ArielNayaka

YouTube: youtube.com.arielnayaka

Snapchat: arielnayaka

 

On Stage: STUDIORAMA Live #6

Sejak pertama kali digelar tahun 2011 silam, STUDIORAMA Live yang digarap oleh kolektif Studiorama bisa dibilang telah menjadi barometer dan ajang showcase karya audio dan visual dari aksi-aksi musik paling fresh dan menjanjikan yang ada di skena musik lokal saat ini, tak terkecuali dalam perhelatan keenamnya pada hari Sabtu, 19 November 2016 lalu. Bertempat di Rossi Musik, Fatmawati, Jakarta Selatan, tahun ini STUDIORAMA Live turut didukung oleh British Council dan berhasil memboyong bintang tamu internasional pertamanya, which is trio electro pop asal Inggris, Kero Kero Bonito, untuk melengkapi line-up yang juga terdiri dari band-band lokal seperti Circarama, Ikkubaru, dan Heals.

circarama-kkb-2
Circarama

            Saat tiba di Rossi sekitar jam 7 malam, Circarama yang merupakan kuartet psych rock telah memulai set mereka yang turut diiringi oleh visual menarik dari Rafaela Lisa. Yup, dalam gelaran keenam ini, Studiorama kembali mengajak band yang akan tampil untuk berkolaborasi dengan para visual jockey untuk menghadirkan sajian audio dan visual yang apik. Bersama visualisasi trippy dari Rafaela Lisa, Circarama pun sukses membuka gig ini dengan aksi seru dalam membawakan racikan psych, folk, dan rock dari album mini mereka Limustaqarrin Laha, termasuk single terbaru mereka yang bertajuk “Porcelain Sky”.

ikkubaru-kkb-2
Ikkubaru

            Selesai menyaksikan Circarama dan menunggu band selanjutnya bersiap tampil, tampaknya crowd semakin ramai dan ya, the on the spot ticket was sold out. Beberapa calon penonton pun harus gigit jari dan menunggu di lantai bawah. Tak hanya memenuhi Rossi, crowd juga menyesaki area Mondo by The Rooftop di mana deretan disc jockey ibu kota yang terdiri dari Django, Gerhan, dan komplotan W_Music siap menghibur dengan set eklektik masing-masing. Setelah preparasi sekitar 30 menit, band kedua, Ikkubaru, pun siap tampil di atas panggung. Berkiblat pada genre musik pop elektronik Jepang dekade 90-an yang lazim disebut City Pop, kuartet asal Bandung ini sebelumnya telah lebih dulu sukses di Jepang dengan beberapa kali menggelar tur dan merilis album berjudul Amusement Park. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui mengapa mereka dapat diterima dengan mudah oleh publik Jepang. Dalam penampilan perdananya di STUDIORAMA Live ini, mereka berhasil tampil atraktif dalam membawakan materi orisinal plus satu lagu cover “Star Guitar” milik The Chemical Brothers yang turut dperkuat visual dari Anggun Priambodo dan beberapa penari latar yang membawa lightstick ke atas panggung.

ikkubaru-kkb-1
Ikkubaru

            Setelah Ikkubaru menuntaskan penampilannya, crowd pun banyak yang beringsut memenuhi bibir panggung karena setelah ini adalah giliran Kero Kero Bonito (KKB). Jauh-jauh datang dari London, KBB yang terdiri dari vokalis Sarah Midori Perry serta duo produser Gus Lobban dan Jamie Bulled ini tampil tidak mengecewakan. Walau sempat ada masalah teknis di lagu pertama, tak lantas membuat mereka mati gaya, dengan aura kawaii yang kental, Sarah pun berkomunikasi dengan crowd sebelum melanjutkan penampilan mereka membawakan materi-materi menyenangkan dari album Intro Bonito (2014) dan Bonito Generation (2016). Rimbawan Gerilya yang dipercaya membuat visual untuk mengiringi KKB pun berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Setiap lagu memiliki visual masing-masing yang mewakilinya dan membuat musik synth-pop KKB yang terinspirasi dari J-pop, dancehall, dan musik video game semakin terasa hidup! Aksi seru yang membuat penonton melompat seperti anak kecil kebanyakan gula dan beberapa gimmick pemancing senyum di lagu-lagu seperti “Flamingo”, “Graduation”, dan “Pocket Crocodile” membuat waktu seakan begitu cepat, and we want it little bit longer, sehingga tak heran saat KKB menuntaskan set mereka dengan single terbaru “Trampoline”, penonton langsung meneriakkan encore yang kemudian dipenuhi oleh KKB dengan senang hati.

foto-utamakkb-kkb-3

            Usai KKB akhirnya benar-benar menghilang ke backstage, bukan berarti STUDIORAMA Live #6 berakhir begitu saja, karena masih ada satu penampilan lagi dari Heals, kuintet nu-gaze asal Bandung yang terkenal lewat single mereka, “Void”, dengan wall of sounds penuh oleh distorsi gitar, reverb agresif, dan vokal mengawang yang mengingatkan pada band-band seperti Tokyo Shoegazer, My Vitriol, dan Sunny Day Real Estate. Diiringi oleh visual dari Ramaputratantra, Heals berhasil menutup STUDIORAMA #6 dengan gemilang. Sembari menunggu dan menerka band apa lagi yang akan ditampilkan dalam STUDIORAMA Live berikutnya, kita pun bisa menikmati STUDIORAMA Sessions terbaru dari kolaborasi Heals x Ramaputratantra dan Ikkubaru x Anggun Priambodo di kanal YouTube Studiorama.

heals-kkb-2
HEALS

Foto oleh: Norman Permadi // @xxnorm

 

Top of the Pops, An Introduction of PC Music

Ketika generasi Tumblr meredefinisikan musik pop dengan cara yang penuh ironi, gender play, over the top cuteness, dan racikan elektronik yang undeniably catchy dalam bentuk PC Music, kita mungkin sedang menyaksikan lahirnya fenomena kultur pop era post-internet yang mengaburkan garis tipis antara URL dan IRL.

Bagi mayoritas orang, eksplorasi akan selera musik mereka berawal dari musik pop alias musik populer apapun yang sedang diputar non-stop di radio atau televisi ketika mereka beranjak besar, lagu-lagu easy listening yang umumnya bercerita tentang cinta dan hal banal lainnya dalam hidup yang dikemas dalam aransemen catchy dan mudah menempel di kepala dan disajikan oleh anak muda dengan physical attractiveness yang memenuhi beauty standards era musik itu dirilis. For me, it was Spice Girls & Britney Spears kind of girls yang menjadi simbol dari musik pop di masa kejayaan MTV saat saya menuju masa remaja. Musik pop adalah titik nol sebelum perlahan saya mengenal berbagai genre musik lainnya dan memasuki fase music snob yang membuat saya seolah menjadi “anak durhaka” dengan menganggap musik pop sebagai hal yang cheesy dan sama sekali tidak keren lagi.

Pop music used to be everything back then, namun semua berubah ketika kita memasuki abad 21 dengan keengganan terhadap hal-hal yang dianggap mainstream. Kita telah melihat kualitas dan popularitas musik pop memasuki titik jenuh yang ditandai oleh demam reality show yang menghilangkan aura mistis bintang pop kesayanganmu, berbagai talent show yang mencetak bintang pop secara generik, ketika Britney mengalami mental breakdown dan diva pop lainnya meninggalkan citra girl next door mereka untuk tampil seprovokatif mungkin demi tidak tergilas Lady Gaga, invasi K-Pop ke seluruh dunia, dan saat Jepang menciptakan bintang pop virtual seperti Hatsune Miku. Pop seakan tidak lagi menjadi hal yang relevan dan Electronic Dance Music menggantikan posisinya sebagai genre musik paling dominan secara global saat ini.

Meski demikian, pada kenyataannya, musik pop tidak pernah mati. Ia hanya bertransformasi mengikuti selera pasar seperti yang lantas ditunjukkan oleh Katy Perry dan Beyoncé. Ketika pop tradisional dianggap hal yang tabu, musik pop pun menemukan avatar baru lewat sosok-sosok seperti Charli XCX, Lorde, Lana Del Rey, dan Grimes dengan citra dan musik yang dinilai lebih edgy dibanding pendahulu mereka. Namun, baru ketika Taylor Swift menanjak naik dan Carly Rae Jepsen muncul dengan “Call Me Maybe” yang luar biasa catchy dan unapologetically pop, kita seolah tersadar jika we actually miss the cheesy happy go lucky sensation of it dan musik pop somehow terasa make sense again sekaligus menimbulkan pertanyaan besar: “Seperti apakah wajah musik pop di era post-internet sekarang ini, ketika semua orang berusaha menjadi yang paling intelek dan avant-garde?”

The unlikely answer secara mengejutkan datang dari London dalam wujud PC Music, sebuah net label/kolektif musisi elektronik yang digagas oleh seorang produser bernama A. G. Cook yang bermula dari sebuah akun Soundcloud di tahun 2013. Secara gamblang, PC Music seperti yang diisyaratkan namanya berfokus pada musik dance electronic yang seolah dihasilkan dari software musik rumahan minimalis dengan inspirasi utama dari cyberculture seperti Tumblr, GIF, 4chan, maupun desain grafis klise yang seolah berasal dari Windows 1995 yang impressively bad.

Secara musikal, PC Music mengambil influens dari  90’s Pop, R&B, trance, electro house, dan Eurotrash yang dipadukan dengan unsur kawaii dan artifisial dari K-pop dan J-pop dengan manipulasi vokal feminin high-pitch yang sudah diedit habis-habisan hingga nyaris seperti suara robot. Tema yang dimuat dalam lirik lagu (kalau pun ada) biasanya jika tidak lagu cinta dengan kalimat klise yang seperti diambil dari buku harian anak 12 tahun atau tentang budaya konsumerisme seperti label fashion dan makeup yang dikemas secara ironis. Jika semua penjelasan tersebut gagal memberimu gambaran soal apa itu PC Music, tolong bayangkan jika lagu “Barbie Girl” milik Aqua di-remix oleh Kyary Pamyu Pamyu dengan video berupa mash-up dari potongan klip Kim Kardashian, Clueless, video bayi hewan, dan font yang dibuat dari WordArt. Secara singkat, PC Music adalah musical equivalent dari video Fluxcup dan internet jokes seperti yang diusung oleh @iCaltext. Its confusing and obnoxious, yet its so incredibly pop and refreshing at the same time.

Di awal kemunculannya, info tentang PC Music masih sangat minim. Mereka memberikan informasi seminimum mungkin tentang siapa saja yang terlibat di dalamnya dan membatasi interaksi dengan jurnalis sehingga menciptakan kesan jika hanya orang-orang tertentu yang boleh mengakses musik mereka. Hal itu hampir mirip ketika Witch House pertama kali muncul dari kultur Tumblr sekitar 2010 lalu. Sama seperti para musisi Witch House yang memakai nama alias yang nyaris tidak bisa di-googling, para artis di PC Music juga merupakan kumpulan persona dengan nama alias dan ultra-cute image yang terinspirasi dari Internet slang seperti Lipgloss Twins, easyFun, Lil Data, dan Princess Bambi yang menyamarkan fakta jika mayoritas orang di baliknya adalah para lelaki tulen. Taktik tersebut sekali lagi berhasil membangun nuansa misterius dari masa-masa sebelum Google dan menjadi click bait sempurna bagi mereka yang selalu ingin menjadi yang pertama menemukan musik baru. Thus, the hype was born.

            Respons yang diterima untuk PC Music adalah pro dan kontra. It’s either you love it or you really hate it. Namun, ketika bulan Maret tahun lalu A. G. Cook memboyong para artisnya ke Amerika untuk showcase khusus di South by Southwest, merilis kompilasi resmi pertama mereka dengan tajuk PC Music Volume 1, dan tampil di Red Bull Music Academy di Brooklyn dengan review yang sangat positif, hal itu ibarat legitimasi jika PC Music adalah sesuatu yang nyata dan tidak lagi sekadar menjadi record label, it’s transcend into subgenre and subculture. In the end of the day, apakah PC Music adalah hal yang legit atau hanya internet prank tetap menjadi hal yang subyektif dan bahan debat yang tak ada habisnya. Namun, jika hal itu bisa membuat kita kembali berfantasi dalam perfect glossy world dari musik pop lagi, we’re on it.

Meet the culprits:

agcook2

A.G. Cook

Sebagai the founding figure of PC Music, sosok lelaki kurus berkacamata dengan rambut model jamur ini adalah sosok yang bertanggungjawab atas racikan elektronik yang merupakan versi hyperreal dan distortif dari mainstream pop yang menjadi cetak biru bagi PC Music. Ia memulai kariernya bersama Danny L Harle dalam duo Dux Content yang berfokus pada eksperimen sounds dan ritme dalam musik elektronik, sebelum akhirnya bekerjasama dengan Sophie dan Hannah Diamond yang menjadi cikal bakal PC Music di Agustus 2013. Mengambil posisi sebagai A&R, ia terus memperkenalkan nama-nama baru di roster-nya di samping merilis karya-karyanya sendiri yang diakuinya terinfluens oleh K-Pop, J-Pop, dan subkultur gyaru dari Jepang. Dengan segala pencapaian personal dan PC Music, ia pun disebut sebagai salah satu orang yang meredefinisikan style dan youth culture di tahun 2015 menurut majalah Dazed.

Listen This: “Keri Baby”, “Beautiful”, “Drop FM”.

sophie3

SOPHIE

Di awal kemunculannya di tahun 2013 setelah merilis single “Bipp/Elle” yang mendapat atensi dari kritikus musik karena menukar bunyi drum tradisional dengan bassline yang bouncy dan efek vokal ber-pitch tinggi, SOPHIE menyembunyikan rapat identitas aslinya dengan cara menyamarkan suaranya saat interview dan menyewa seorang drag queen untuk berpura-pura menjadi dirinya dalam sebuah live DJ set sementara ia sendiri berpura-pura menjadi seorang bodyguard. Namun, ketika eksperimen musiknya yang terinfluens kultur boyband/girlband era millennium semakin mendapat apresiasi luas dengan puncaknya single “Lemonade” dipakai dalam iklan McDonald’s, Sophie pun tidak bisa lagi tampil anonymous dan membeberkan fakta jika ia adalah Samuel Long yang sebelumnya tergabung di band bernama Motherland. Walaupun secara resmi bukan bagian dari PC Music, ia turut membidani kelahiran label tersebut dan berkolaborasi dengan para artisnya. Sebagai salah satu nama yang paling high-profile dari sirkuit PC Music, ia telah bekerjasama dengan Kyary Pamyu Pamyu, Namie Amuro, hingga Madonna untuk lagu “Bitch I’m Madonna” dan dikabarkan sedang bekerjasama dengan Charli XCX untuk album terbarunya.

Listen This: “Bipp”, “Lemonade”, “Elle”.

qt

QT

I hate to inform you this, tapi sosok yang selama ini kamu percaya sebagai QT di musik video dan promotional image ternyata bukanlah sosok yang sebenarnya. QT pada hakikatnya adalah sebuah enigma tentang sosok idola pop sempurna hasil pikiran bersama A. G. Cook dan SOPHIE yang meminjam tubuh Hayden Dunham, seorang performance artist asal Amerika yang berpose sebagai QT dan tampil lip-sync di acara live. Semua bermula ketika Dunham mencari tahu tentang A. G. Cook dan PC Music dan mengajak kerjasama membuat lagu untuk mempromosikan energy drink bernama QT. Hasil kolaborasinya adalah “Hey QT”, sebuah lagu electropop rilisan XL Recordings yang merupakan perpaduan antara musik pop awal 2000-an, lagu Dance-Dance Revolution, dengan lirik repetitif yang sugary dan infectious. There’s something magical about that song yang terasa intentionally cheesy and campy, namun meninggalkan after taste yang menempel di benakmu untuk waktu yang lama dan menghipnotismu untuk mendengarkannya lagi dan lagi. Don’t say we didn’t warn you.

Listen this: “Hey QT”.

hannahdiamond24004141

Hannah Diamond

Berbeda dari artis PC Music lainnya yang menyembunyikan sosok mereka, Hannah Diamond dengan sengaja menampilkan wajahnya di cover art, tepatnya the heavy retouched version yang merupakan bagian dari image yang sengaja ia bentuk sebagai sindiran terhadap budaya pop dan industri fashion. Dengan latar belakang fashion communication dan styling, ia memulai karier sebagai internet celebrity, seniman, dan  menjadi bagian dari Diamond Wright yang membuat materi promosi untuk makeup brand Illamasqua serta menjadi co-editor dan director of photography untuk LOGO Magazine. Perpaduan estetika kawaiiness dan streetwear London miliknya juga tercermin dalam single miliknya, “Attachment”, yang dideskripsikan sebagai “bubblegum hyper reality” dan “Pink and Blue” yang merupakan lagu dengan ritme lullaby dalam efek sintetis yang dinyanyikan dengan vokal childlike. Kedua lagu tersebut menjadi lagu yang melambungkan nama PC Music dan membuatnya menjadi the cover girl of PC Music.

Listen This: “Attachment”, “Pink and Blue”, “Every Night”.

gfoty

GFOTY

GFOTY yang merupakan singkatan dari Girlfriend Of The Year adalah nama alias dari Polly-Louisa Salmon, seorang blogger London kelahiran 1990 yang bernyanyi dengan gaya spoken word tentang pesta dan patah hati dengan sarkastik di antara melodi elektronik yang glitchy dan infectious. Menyebut R. Kelly sebagai influens terbesarnya, ia merilis Secret Mix yang berisi cover version dari lagu-lagu Celine Dion, Toni Braxton, dan Carly Simon sebelum berkolaborasi dengan Ryan Hemsworth dengan mengisi vokal di lagu “My Song” yang masuk ke kompilasi EP shh#ffb6c1 miliknya. Dengan selera humor sarkas dan ironically cute aesthetic yang kental, persona dirinya tak hanya tercermin lewat musik, tapi juga Instagram miliknya yang dipenuhi inspirational quotes dan selfie konyol.

Listen this: “Bobby”, “Friday Night”, “Don’t Wanna / Let’s Do It”.

liz

LIZ

Liz yang bernama lengkap Elizabeth Abrams sebetulnya bukan nama yang benar-benar baru. Ia telah membuat musik sejak berumur 13 tahun sebelum bergabung di bawah label Mad Decent milik Diplo dan merilis single berjudul “XTC” di tahun 2013 dan tur bersama Charli XCX di tahun yang sama. Tahun berikutnya, ia merilis EP Just Like You dan bekerjasama dengan Pharrell untuk soundtrack Amazing Spider-Man 2 sebelum rehat sejenak dari dunia musik. Tahun lalu ia kembali dengan lagu “When I Rule the World” garapan SOPHIE yang menjadi jingle iklan terbaru Samsung. That exact moment ketika kamu mulai menonton video “When I Rule The World” yang tanpa basa-basi dibuka oleh eksklamasi Liz yang memakai tiara di kepala, tracksuit, dan image kartun yang flashy, kamu tahu kamu akan mendapatkan sajian musik pop dengan huruf kapital P-O-P. Walaupun tidak berafiliasi langsung dengan PC Music, namun semua hal yang ada di lagu dan video ini meneriakkan kata pop dan estetika PC Music secara jenius. Dari mulai kamar tidur berisi boneka, animal print, emoji dan lirik materialistis, aransemen elektronik super catchy garapan SOPHIE, hingga sosok sang penyanyi sendiri yang mengingatkan kita akan karakter rich spoiled brat di film-film teenage rom-com 90-an, semuanya mengingatkan pada masa keemasan Britney Spears, and you know you love it.

Listen This: “When I Rule The World”, “XTC”, “Hush”.

On The Records: The Trees And The Wild

Ketika tampil menghiasi edisi perdana NYLON Indonesia yang terbit Januari 2011 silam, The Trees and The Wild (TTATW) merupakan trio folk-post rock pendatang baru dengan sebuah debut album gemilang bertajuk Rasuk yang bisa dibilang berhasil menaikkan batasan dan derajat musikalitas album indie Indonesia di masa itu dan seterusnya. Mendapat apresiasi positif dari publik dan media hingga disebut sebagai salah satu band Asia yang wajib disimak versi majalah TIME di tahun 2011, it’s only natural jika kita bertanya-tanya akan seperti apakah kelanjutan dari awal yang menjanjikan tersebut. After all, album kedua adalah sebuah pertaruhan dan tantangan pribadi bagi setiap musisi dengan album perdana yang sukses. Apakah mereka memilih bermain aman di resep yang sama atau justru membanting kemudi ke arah yang sama sekali berbeda? Band asal Bekasi yang terbentuk dari 2005 ini pun menjawabnya setelah tujuh tahun kemudian, dengan sophomore album bertajuk Zaman, Zaman.

s4fq-m8n

            Rentang waktu tujuh tahun bukan tanpa alasan dan hambatan. Gitaris Iga Massardi mengundurkan diri, meninggalkan Remedy Waloni (vokal/gitar) dan Andra Budi Kurniawan (gitar) sebelum akhirnya TTATW resmi bertransformasi menjadi unit lima personel dengan bergabungnya Charita Utami (keyboard/synth/vokal), Hertri Nur Pamungkas (drum), dan Tyo Prasetya (bass). Ada masa di mana seolah TTATW menarik diri dari publik lokal dan fokus tampil di luar negeri, mulai dari region Asia Tenggara, hingga negara Eropa seperti Jerman, Finlandia, dan Estonia, merilis beberapa materi baru seperti album mini Tuah/Sebak di 2012 dan Ekati di 2014 yang rilis terbatas di Helsinki, Finlandia, serta beberapa single seperti “Empati Tamako” dan “Saija” yang tidak pernah dirilis resmi namun dimainkan di atas panggung, sebagai teaser untuk warna baru musik mereka yang lebih ambisius yang akhirnya disempurnakan ke dalam Zaman, Zaman yang telah dirilis bulan September kemarin via Blank Orb Recordings.

            Berdurasi tujuh lagu dengan durasi sekitar 52 menit, Zaman, Zaman merupakan sebuah album experimental indie rock dengan kekuatan utama aransemen eksploratif dan meruang di mana setiap detail instrumen dan vokal diperhatikan secara cermat dengan proses mixing yang sama jelinya. Terasa penuh dan luas di saat yang sama, Zaman, Zaman adalah tipe album yang baiknya didengarkan dari awal secara runut sampai selesai dengan soundscape naratif dan sinematik di setiap lagu yang akan membawa emosi dan imajinasimu terbang liar ke negeri-negeri dalam sebuah epos atau hikayat. Dikerjakan dengan semangat Do It Yourself yang kental, mayoritas lagu yang ada mungkin sudah beberapa kali kamu dengarkan versi demo atau versi live-nya, namun tentu mendengarkan hasil akhirnya adalah hal yang sama sekali berbeda dan di luar ekspektasi. Di akhir hari, terlepas dari segala hype, perasaan overestimate maupun underestimate, dan segala prasangka lainnya, TTATW berhasil menjawab penantian selama tujuh tahun tersebut dengan caranya sendiri dan membuka zaman baru bagi arah bermusik mereka and it looks damn glorious.

Tell me about the dynamics between members, dengan bertambahnya kepala, bagaimana cara kalian menyatukan ide dan ego selama proses pembuatan album ini? Tidak terlalu sulit untuk menyatukan ide karena kita bermusik sudah 15 tahun lebih jadi kita sudah memiliki pengalaman, sudah tahu kemampuan masing-masing dan arah musik yang ingin kita tuju. Dan rasanya kita sudah ketuaan untuk memikirkan ego. Yang hanya kita pikirkan adalah bagaimana bisa membuat karya terbaik kita.

Bicara soal influens mungkin agak klise, tapi adakah hal-hal di luar musik yang memengaruhi emosi di album ini? Pastinya hal di luar musik memengaruhi musik yang kita buat. Justru itu yang menjadi sumber inspirasi musiknya. Tidak hanya dari sisi yang paling klise seperti lirik, tapi dari sisi cara kerja kita dan estetika dari albumnya pun secara tidak langsung mempengaruhi proses pembuatan album ini. Salah satu alasan kenapa kita memilih untuk memiliki day job adalah agar kita bisa mendapatkan inspirasi dan pengalaman lain tersebut. Membuat musik menjadi lebih mendalam dan bukan sekadar membuat orang lain sing along atau menjadi terkenal.

Mayoritas materi di album ini sudah sering dibawakan sebelumnya atau dirilis dalam berbagai versi, bagaimana cara kalian memilih lagu mana saja yang akhirnya masuk di album ini? Berdasarkan mood, alur, dan fungsi dari lagu itu sendiri. Ada lebih dari 3 lagu yang tidak masuk karena setelah kita dengar secara keseluruhan tidak sesuai dengan warna dan alur yang kita inginkan, yang mungkin orang lain tidak bisa melihat. Kita ingin membuat sesuatu yang indah namun membumi. Di satu sisi maksimalis tapi di sisi lain minimalis.

Kenapa “Zaman, Zaman” yang dipilih menjadi single pertama dan apa ide untuk videonya? Karena kita rasa “Zaman, Zaman” bisa menjadi entry point yang baik untuk menelusuri materi yang lain. Idenya dari lagunya sendiri. Idenya untuk mengekspresikan karakter lagu tersebut.

DI beberapa lagu, vokal Charita lebih dominan dibanding Remedy, dan somehow, saya merasa vokal bagi TTATW saat ini adalah bagian dari instrumen yang berdiri sejajar dengan instrumen lain. Ada pertimbangan khusus untuk itu? Iya, kita menyesuaikan dengan kebutuhan lagu. Dan kita sudah sadar akan karakter vokal Remedy dan Charita dan bagaimana memadukan dua suara tersebut. Semua jenis mixing telah kami coba. Vokalnya di depan, di belakang, bahkan sampai yang vokalnya kita edit total menjadi seperti choir, semua kemungkinan kita coba. Dan yang terbaik dari yang terbaik adalah yang akhirnya ada di album. Di dalam tiap lagu pun, level vokal kita sesuaikan dengan staging yang ingin kita fokuskan dan yang ingin kita arahkan, di bagian verse atau chorus atau interlude dan lain lain. Seperti vokalnya “dimundurkan” sedikit agar beat bisa “muncul” dan staging-nya bisa kita bawa ke arah baru. Untuk sebagian orang khususnya yang sangat awam terhadap musik, mungkin memang kurang paham sepertinya dan tidak terbiasa dengan mixing tipe seperti ini (walaupun ada banyak sekali musik yang sudah menerapkan metode seperti ini) tapi kita tidak terlalu pikirkan. Yang kita pedulikan hanya bagaimana membuat lagu-lagu ini menjadi versi yang kita rasa terbaik.

 

Menurut kalian sendiri, apa kondisi ideal untuk mendengarkan album ini secara maksimal? Kita berharap album ini bisa didengarkan di kondisi apapun, sadar maupun tidak. Dari sisi teknis, kebetulan album ini di-master oleh Bo Kondren, salah satu engineer senior yang sudah banyak menangani album electronic dan experimental seperti Moderat, Caribou, A Winged Victory for the Sullen sampai Ryuichi Sakamoto. Jadi kami rasa album ini baik didengarkan di semua perangkat, tapi yang pasti tidak speaker laptop. Tapi mungkin dari personal preference, album ini lebih ke album yang baik didengarkan via speaker bukan headphone. Karena dengan karakter sound seperti album ini, ada jarak dari speaker dan telinga pendengar bisa menambah efek lain.

Jika bisa memilih seorang visual maker siapa saja untuk membuat Zaman. Zaman sebagai satu kesatuan sinematik, siapa yang akan kalian pilih? Terrence Malick, David Lynch, dan Roger Deakins. Karya mereka sering kita putar saat tracking dan saat menulis.

Apa impian/target selanjutnya yang ingin dicapai? Bisa membuat album ketiga.

dscf0331-640x960

 

All Time High, An Interview With The Sam Willows

Dikenal berkat racikan musik dan vokal penuh harmoni dengan lirik yang menggugah, kuartet indie pop The Sam Willows berhasil mengharumkan music scene di Singapura dan kini bersiap memperkenalkannya ke seluruh dunia.

Terbentuk di bulan Mei 2012, The Sam Willows yang terdiri dari kakak beradik Benjamin (vokal, rhythm guitar) dan Narelle Kheng (vokal, bass) beserta dua sahabat mereka Sandra Riley Tang (vokal, keyboard, perkusi), dan Jonathan Chua (vokal, lead guitar) adalah salah satu band millennial yang meraih kepopuleran berkat profil YouTube mereka dengan 89 ribu subscriber dan total views lebih dari 8 juta. Disebut sebagai salah satu band Singapura paling bersinar saat ini dengan berbagai penghargaan dan nominasi yang diterima, mereka pun telah go international dengan tampil di berbagai acara keren seperti South by Southwest di Texas, Canadian Music Week, Korea Selatan, dan Australia, bahkan sebelum merilis debut album mereka yang bertajuk Take Heart yang dirilis tahun lalu oleh Sony Music Singapore. Berisi 9 lagu dan digarap bersama produser international terkenal seperti Harry Sommerdahl dan Steve Lillywhite, lewat album debut yang telah dinantikan ini, mereka bertekad meraih pendengar lebih luas, salah satunya adalah Indonesia.

“The food!” jawab Narelle dengan cepat saat ditanya hal favoritnya tentang Indonesia. “Favorit saya adalah ketika kami makan makanan Sunda di Bandung dengan semua gorengan usus dan paru, it’s so good,” lanjut gadis cantik tersebut yang langsung ditanggapi sang kakak Ben, “And martabak! With cheese and chocolate!” dengan tak kalah semangat saat kami bertemu di sebuah hotel bilangan Jakarta Pusat. Telah melewati satu minggu di Jakarta dan Bandung demi mempromosikan Take Heart yang kini juga dirilis oleh Sony Music Indonesia dengan schedule yang sangat padat, tak ada raut kelelahan di wajah mereka even di hari terakhir sebelum kembali ke Singapura. Dengan antusias dan penuh keramahan, The Sam Willows duduk bersama saya untuk mengobrol just like an old friends.

 

the-sam-willows-for-love-1

Jonathan Chua, Narelle Kheng, Sandra Riley Tang, Benjamin Kheng.

First thing first, dari mana nama The Sam Willows berasal?

Sandra: “Kalau mendengar nama Sam Willows, kamu mungkin akan bingung apakah ini nama seseorang atau satu band kan? Basically kami ingin punya semacam alter ego untuk merepresentasikan kami berempat sebagai satu orang, and the name is cool.”

Jon: “Lucunya, saat tampil di Kanada, kami sempat bertemu seseorang bernama Sam Willows yang juga mengaku sebagai penggemar kami. He is Caucasian male with red hair and a bit pudgy.”

Apa yang menjadi influens bermusik kalian untuk band ini?

Narelle: “Sebagai band, kami selalu berkembang. I mean, semakin dewasa, semakin banyak musik yang kami dengarkan. Untuk sekarang kami look up ke band seperti Little Mix karena mereka terdiri dari strong vocalists dan di saat yang sama kami juga terobsesi dengan The Chainsmokers. Namun, kalau dilihat dari akar musik kami, we’re actually very bluesy kinda band. Jon is super bluesy.”

Kalian telah tampil ke berbagai tempat, apa rasanya bagi kalian?

Jon: “Selalu ada kenikmatan tersendiri saat bisa travelling ke negara lain, karena kita tampil di audiens yang berbeda, we don’t know what to expect dan rasanya berbeda saat orang di negara lain bisa mengapresiasi musikmu.”

Ben: “Kami jadi bisa bertemu banyak fans yang tidak kami tahu sebelumnya, seperti di sini kemarin Sony Music menggelar meet and greet dan orang-orang datang, it’s cool, semua orang sangat ramah dan mereka ikut menyanyikan lagu kami dengan baik.”

Apakah kalian masih nervous saat tampil di tempat baru?

Sandra: “Iya, terkadang. Bagi saya pribadi, saya tidak pernah terlalu nervous sampai akhirnya kami tampil di show kami sendiri di Singapura sebulan lalu. Kami tampil di depan tiga ribu orang dan awalnya kami cemas apakah kami bisa memenuhi venue tersebut, but we did. Kami latihan selama dua bulan untuk satu hari itu dan sesudahnya kami tidur selama dua hari karena kami sangat lelah, but it’s so fun! Kami ingin bisa mengadakannya lagi di tempat-tempat lain, termasuk Indonesia.”

Dengan semua pencapaian yang kalian raih, apa yang menjadi momen paling berkesan bagi kalian?

Ben: “Bisa menggelar show kami sendiri adalah sebuah huge milestone bagi kami. Namu, bisa travelling ke Jakarta selama satu minggu juga sangat seru bagi saya karena kami tidak pernah membayangkan bisa berkarier sebagai musisi. Di Singapura, kamu diharapkan menjadi dokter, pengacara atau kerja kantor 9 to 5, so the fact kami bisa berpergian untuk bermain musik adalah sebuah big blessing.”

Narelle:Music scene di Singapura sedang berkembang cepat. Beberapa tahun ini banyak musisi lokal yang merilis album dan mendapat support, karena kami tahu bagaimana sulitnya menjadi musisi di Singapura yang sebelumnya tidak terlalu dianggap. Contohnya di Indonesia kalian sangat bangga dengan musisi lokal kalian, tapi di Singapura, sebelumnya musisi tidak dianggap sebagai proper job, jadi saat belakangan ini orang mulai datang dan mendukung adalah sesuatu yang luar biasa.”

Dengan adanya empat kepala dan ego yang berbeda, bagaimana proses berkarya kalian?

Narelle: “Terkadang kita punya lagu yang mengalir dengan sendirinya dan semua orang langsung setuju, tapi ada juga lagu yang harus melewati proses perdebatan. Its different song, different process. Tapi pada akhirnya kami hanya merilis lagu yang kami berempat suka.”

Bagaimana rasanya bekerja di bawah major label bagi kalian?

Jon:Okay, saya merasa memang ada stigma soal major label di seluruh dunia, tapi berdasarkan pengalaman kami, Sony Music sudah seperti keluarga. Entah itu Sony Music di Singapura, Malaysia, atau Indonesia, semua orang sangat ramah dan bekerja keras untuk membantu kami dan itu hal yang kami syukuri. Jadi menurut saya hal itu tergantung bagaimana hubunganmu dengan label. Kami bersyukur mendapat label yang peduli dan mendukung kami jadi kami juga terpacu untuk lebih baik.”

Ben: “Saya pikir sebagai musisi, terkadang kamu bisa menjadi selfish dan kehilangan arah tentang tujuan yang ingin kamu capai. Dan jika tujuan kamu adalah musikmu bisa didengarkan banyak orang, kamu harus mempercayai labelmu and have some conversation.”

Bicara tentang album debut Take Heart, apa yang menjadi tema utamanya?

Ben: “Ini adalah album pop tapi kami percaya the power of love. Tidak hanya romantic love ke pasangan, tapi cinta yang bisa mengubah dunia. Kalau kamu lihat berita yang ada sekarang, banyak hal mengerikan yang terjadi di dunia saat ini dan kami pikir salah satu solusinya adalah menunjukkan rasa cinta ke orang lain. Not a selfish love, but the same love that across the culture. Kita tidak bicara dalam bahasa yang sama, tapi kita sama-sama mencintai musik and love people, dan saya rasa kalau kita bisa menunjukkannya, dunia bisa lebih baik. So there’s a lot of kind of love di album ini.

Bagaimana untuk single “All Time High” yang kalian rilis untuk Indonesia?

Narelle: “’All Time High’ bercerita tentang relationship. Kami ingin bercerita soal key moments of relationship di mana mungkin salah satunya saat kamu bertengkar hebat dengan pasanganmu tapi hal itu karena kamu sangat peduli satu sama lain. The extreme level of loving someone, and that person is your all time high.”

 

Menyinggung soal extreme level, apa hal tergila yang pernah kalian dapat di socmed kalian?

Ben: “Orang-orang yang komen di socmed saya baik-baik saja, tapi Jon punya beberapa fans yang lumayan aneh, haha!”

Narelle: “Banyak yang bilang ke Jon: ‘I want to be your microphone’.”

Sandra: “Dan banyak hal lain yang sebaiknya tidak kita ucapkan di sini, haha!”

Jon: “Ya, saya pernah mendapat married proposal di Instagram.”

Sandra:No, no, no, it wasn’t just a proposal. Itu adalah akun Instagram yang khusus didedikasikan untuk pernikahan mereka.”

Jon:Yeah, bahkan saya sendiri tidak tahu jika saya telah menikah? Haha!”

Apa satu hal yang semua personel setujui dengan cepat?

Sandra: “Makan. Kalau kami bilang ‘let’s eat!’ semua pasti setuju, haha!”

Narelle:Yeah food is something that unites us.”

Jon: “Dan mereka selalu mempercayai saya untuk memesan makanan, karena terkadang terlalu lama untuk memesan satu per satu, biasanya saya yang memilih menu.”

Narelle:One thing we could agree on is Jon. Jon knows.”

Ben: “Dan satu hal lagi yang kami setuju: Sandra is always being late for anything.”

Sandra: “Terkadang saya datang duluan tapi ada saja kejadian yang membuat saya terlambat entah kenapa.”

Bahkan di Singapura sekalipun?

Ben:  “In whole universe! It’s global deal, she has to be late, haha!”

Apa rencana kalian setelah kembali ke Singapura?

Narelle: “Setelah ini kami akan terbang ke Malaysia untuk tampil bersama CHVRCHES, kemudian bersiap ke San Francisco, Los Angeles, dan Montreal untuk tampil di beberapa show. Minggu lalu kami mampir ke Sydney untuk mengerjakan sebuah lagu untuk album kami berikutnya yang akan dirilis tahun depan.”

180-behind-the-lenses-of-the-sam-willows-for-love-mv-te0ex

Heart on Their Sleeve, An Interview With The Submissives

Jangan terkecoh dengan nama dan penampilan mereka yang terlihat harmless, The Submissives menyembunyikan pesan subversif di balik lovesick indie pop.

Di atas panggung, The Submissives adalah band asal Montreal, Kanada yang terdiri dari 6 orang perempuan with matching dresses dengan dua orang vokalis yang setengah bergumam menyanyikan lagu-lagu indie pop beraransemen low-key yang mereka sebut sebagai lovesick pop. Namun, pada hakikatnya band ini bermula dari proyek solo seorang Deb Edison yang menulis dan merekam semua lagu yang ada di album debut Betty Told Me (2015) dan album baru yang akan dirilis bulan ini, Do You Really Love Me? yang akan dirilis oleh Fixture Records.

Berisi 15 lagu yang masing-masing berdurasi kurang dari tiga menit dengan judul-judul seperti “Perfect Woman”, “Dream Life”, dan “My Boyfriend”, sekilas mereka menyajikan fantasi patriarkal dari kehidupan wanita idaman di sebuah suburban yang sempurna, tapi seperti yang kita ketahui bersama, there’s always something sinister about that. “Nama The Submissives merujuk pada sikap pasif, patuh, taat, dan tunduk. Bagi saya, itu adalah sebuah sentimen yang ditujukan kepada kaum pria. It’s that feeling where you are sitting still and silent with a smile on your face, saying nothing, but that isn’t the way you feel inside,” ungkap Deb perihal nama yang mereka usung.

Pesan-pesan terselubung tersebut tak hanya muncul secara literal lewat lirik lagu, tapi juga secara visual. Dalam video terbaru untuk single “The Hum” yang digarap Zale Burley misalnya, Deb mengenakan white bride dress dalam beberapa menit awal yang terasa normal sebelum the video getting bloodier, sekali lagi menonjolkan tema love gone wrong andalan mereka. To see the bigger picture, Deb pun menjelaskan beberapa hal tentang proyek ini dalam email yang ia kirim dari Montreal.

the-submissives-linx-selby-2

Hai Deb, apa kabar? Di mana kamu sekarang dan apa yang kamu lakukan sebelum membalas email ini? Hi! I’m doing great today; I slept a lot last night. Great question! Saya sedang berada di kawasan bernama the Mile End di Montreal, Quebec, Kanada. Sebelum membalas email ini saya pergi mengirim surat dan membeli deterjen. Sekarang saya minum kopi sambil menulis email ini. 

Jadi bagaimana awal mulanya project solo ini berkembang menjadi format full band? Saya punya ide untuk bikin band dari berapa tahun lalu, namun belum sempat terlaksana. Saya menulis semua lagu untuk band ini dalam dua minggu terakhir November tahun lalu, which was a very sad and confusing time in my life. Saya menyelesaikannya di bulan Desember dan band ini mulai latihan Januari lalu. Having the songs performed live was always the dream!

Dari mana kamu mengumpulkan personel lainnya? Semua personel band ini adalah orang-orang yang menurut saya sangat berbakat dan menarik, dan tidak butuh waktu lama bagi kami untuk get it all together. Walaupun awalnya beberapa di antara kami tidak terlalu kenal satu sama lain, we’ve gotten much closer.

Boleh ceritakan show pertama kalian? Kami pertama kali tampil dalam acara bikinan sendiri di Montreal, tepatnya di lantai dua sebuah gedung di area yang agak terbengkalai tapi sering digunakan sebagai venue atau tempat jamming. Waktu itu kami merilis album Betty Told Me. Interiornya kami hias dengan lampu gantung, lilin, bunga, dan kain merah. Andre Charles Theriault membuka acara dan penonton menikmatinya dengan sangat tenang, considering it was just a voice and guitar in a room usually loud and unruly. Teman kami Neutral Fixation dari Massachusetts tampil sebelum kami. Being on stage after working so hard together for two months felt magical.  Band lokal Cheap Wig menutup show dengan liar, the crowd was drunk and lost in the strobe light at that point. The show went really well, it was a great night!

Apa saja yang menjadi inspirasi terbesar untuk band ini? Dua lagu yang saya dengarkan tanpa henti saat membuat album pertama adalah “In My Brain” oleh Badge dan “Mer Morte” dari band rock Montreal bernama Les Jaguars. Saya juga terobsesi pada sosok Joe Meek, seorang produser dan penulis lagu yang luar biasa. Lagu-lagunya terdengar sweet and dark di saat yang sama, you gotta learn about the man if you haven’t already! Saya juga suka apapun yang dirilis oleh label-label seperti Sublime Frequencies, Light in the Attic, dan Awesome Tapes dari Afrika.  Also, many thanks to the hero who runs the website Aquarium Drunkard, formerly the blog Ghost Capital.  So much more, but I will stop at that.  

0008100661_10

Bicara tentang album Do You Really Love Me? kalian juga akan merilisnya dalam format kaset, apakah itu cuma untuk gimmick atau bagaimana? Apa pendapatmu soal era musik digital/streaming saat ini? Merilis dalam format kaset bukan sekadar gimmick bagi saya, pengalaman merekam album dalam bentuk kaset adalah sesuatu yang luar biasa! Semua track dikompres secara natural dan menyatu dengan apik, it’s so fun and satisfying. I am addicted to tape technology. Saya tidak bisa berkomentar banyak soal era digital, karena saya pun merilis versi digital untuk semua lagu saya karena menurut saya rasanya menyenangkan jika album yang kamu buat juga bisa didengar orang di belahan dunia lain secara instan. Namun, saya tetap lebih memilih punya produk dengan bentuk fisik yang bisa kamu genggam. Tapes are great, but for me, releasing music on vinyl is the ultimate goal.

Bagaimana keadaan skena musik di Montreal saat ini? There is a lot of great music going on in this city at the moment! Kita semua bisa diuntungkan dengan membuat show yang mengajak band dan musisi dari genre yang berbeda dan memperkenalkan musisi baru yang mungkin belum pernah tampil live sebelumnya. I hope to see more non bar/official venues pop up in the future; I think it’s important to move out of our comfort zones. This is something I am really trying to work on myself…  I also hope to see cops staying out of the scene.

Selain musik, apa yang kamu lakukan sehari-hari? Saya bekerja di kafe, menggambar, bikin video, nonton bioskop, travel as much as possible, hang out with my cats and friends, walk my roommate’s dog, drink sparkling water, lie on my bed, sleep.

Apa  rencana selanjutnya? We are finally starting to practise after a big summer break! Kami akan merilis album tanggal 8 September di tempat bernama Club Balattou.  Di Oktober kami akan rekaman dengan local genius recording pro Garrett Johnson.  Hopefully we’ll release that one on vinyl!  For the future, I hope to learn to write songs together and really just jam out.

 

 

Band photos by Linx Selby.

http://submissives.bandcamp.com/

Midnite Cruise, An Interview With Neon Indian

Lewat album Vega Intl. Night School, Alan Palomo dari Neon Indian menawarkan kelas ekstra untuk sesi berdansa tengah malam. Sign us up, pretty please.

Saat tiba di sebuah restoran di daerah Panglima Polim pada suatu Senin malam, saya sebetulnya tidak sadar jika pria berambut ikal yang sedang asik menikmati makan malamnya di salah satu meja adalah Alan Palomo, not before dia membalikkan tubuh dan mengulurkan tangannya untuk menyapa saya. Produser dan multi-instrumentalist berumur 27 tahun tersebut adalah sosok utama di balik Neon Indian, sebuah unit indietronica asal Texas yang berawal dari bedroom project sebelum berkembang menjadi full band seperti sekarang. Lewat album debut bertajuk Psychic Chasms (2009) yang melahirkan beberapa hits seperti “Deadbeat Summer” dan “Should Have Taken Acid With You”, Neon Indian dengan racikan synthesizer yang terdengar dreamy dan summer-ish dianggap sebagai salah satu pencetus lahirnya demam chillwave di awal 2010-an, sebuah genre musik yang meskipun tidak bertahan lama tapi menjadi pengantar bagi berkembangnya musik-musik chill out a la Majestic Casual, sehingga rasanya agak surreal melihat sosoknya ada di depan mata.

            Empat tahun telah berlalu sejak perilisan Era Extraña, album kedua yang menginjeksikan bunyi shoegaze dan new wave yang lebih eksperimental dan gelap ke dalam musik Neon Indian, dan kini mereka datang ke Jakarta hanya sebulan setelah perilisan album ketiga yang berjudul VEGA INTL. Night School. Keesokan harinya, Alan dan rekannya akan tampil dalam konser besutan Prasvana yang menjadi show perdana Neon Indian di Indonesia sebagai bagian dari tur Asia promosi album tersebut. “Setelah hiatus yang cukup lama, saya sudah agak lebih tua dari sebelumnya dan setelah merilis album ini saya langsung pergi tur, tapi saya bisa bilang jika mungkin kurang dari sebulan lalu kami baru bisa mendapatkan groove-nya kembali. Selalu ada satu titik dalam sebuah tur di mana semuanya akhirnya terasa make sense, semua orang bahagia, and we’re just having fun dan itu juga yang menjadi tujuan utama dari tur Asia ini, untuk bisa menikmati waktu. Jadi kami selalu menyempatkan waktu untuk melihat-lihat saat tiba di sebuah tempat baru,” jelas Alan saat saya bertanya bagaimana rasanya kembali tur.

Bila Psychic Chasms adalah soundtrack senja musim panas yang riang dan Era Extrana adalah pengiring malam musim panas yang kontemplatif, maka VEGA INTL. Night School bisa dibilang mengambil inti sari terbaik dari kedua album sebelumnya tersebut dan membawanya ke level yang baru. Judul albumnya sendiri cukup menjelaskan tentang apa yang menjadi benang merah 14 lagu di dalamnya dengan kata “VEGA” yang merujuk pada proyek musik dance Alan sebelum Neon Indian terbentuk. “Pada awalnya saya berniat untuk merilis album untuk proyek VEGA, tapi kemudian saya menyadari jika saya tidak harus terpaku pada apa materi yang bisa dikategorikan demo untuk VEGA atau demo untuk Neon Indian karena pada akhirnya komponen produksi keduanya saling bersinggungan dan menjadi katarsis tersendiri. Adalah hal yang lebih konstruktif untuk terus berkarya dan baru memikirkan mau disebut apa musik itu setelah selesai. Jadi saya terus merekam dan walaupun judul album ini terinspirasi dari proyek saya sebelumnya, tapi album ini bergerak ke arah yang benar-benar baru. Saya memiliki ide untuk membuat sebuah rekaman yang terdengar seperti kolase dari macam-macam genre dan dekade dalam musik dance, namun tetap memiliki benang merah. Referensi nama VEGA di judulnya adalah sebuah perayaan dari merger kedua proyek ini sekaligus merujuk bagaimana Neon Indian akhirnya mengkanibal Vega dan menyerapnya menjadi kesatuan,” papar Alan soal ide tercetusnya album tersebut.

            Clue selanjutnya adalah kata “International” di judul. Sebagai sebuah album berkonsep kolase, album ini memang berisi referensi musikal dari musik dance berbagai negara selama empat dekade terakhir, dari mulai disco, funk, R&B, hingga reggae. “Annie” yang menjadi single pertama adalah homage untuk lagu pop 80-an dengan lirik naratif berisi nama perempuan dan nomor telepon dengan elemen reggae yang kental. “Adalah hal yang menarik ketika ‘Annie’ pertama kali keluar dan pendengar Amerika merasa lagu itu mirip lagu Ace of Base. Jika sebuah lagu terdengar upbeat dan agak ‘etnik’, mayoritas pendengar Amerika akan langsung menyebut sesuatu yang sangat pop untuk menjadi referensi mereka, yang bagi saya sangat aneh karena lagu ini sama sekali tidak terdengar ‘Eropa’, its a lot of calypso, cumbia, dan komponen dari musik Latin Amerika lainnya. Saya berasal dari Meksiko dan walaupun saya tidak secara aktif dan sadar mendengarkan genre tersebut saat beranjak dewasa, tapi baru ketika lagu itu jadi, saya baru berpikir ‘Holy shit, it’s like early 90’s cumbia’. Bagian menyenangkan dari jalan-jalan keliling dunia adalah menyerap sensibilitas musik setempat dan menyadari jika semua genre bisa hidup di universe yang sama. Saya rasa hal itu yang agak hilang di musik indie dan saya ingin membawanya kembali.”

            Alih-alih menjadi stadium banger seperti mayoritas dance music saat ini, album ini adalah tribute bagi kehidupan club malam yang sempit dan penuh keringat. There’s a sense of humidity di lagu-lagu seperti “61 Cygni Ave” dan “Smut!” yang sensual dan intim, sesuatu yang tercetus dari New York sebagai latar belakang. “Saya pikir New York adalah latar yang menarik karena kota itu selalu bermutasi,” cetus Alan sebelum melanjutkan, “Saya tinggal di New York baru sekitar enam tahun tapi saya merasa kota itu adalah city of transplant. Selalu ada orang yang pindah ke sana. Saya ingat ketika pergi makan malam di salah satu restoran lokal favorit saya di Williamsburg, saya menyadari jika semua orang berbicara dalam bahasa-bahasa Eropa asing, semua yang ada di sana adalah turis, tidak ada orang lokal. Banyak anak muda pindah ke New York setelah lulus SMA dan kita bisa merasakan bagaimana mereka berusaha keras untuk dilihat seperti apa yang mereka inginkan instead of bagaimana diri mereka sebenarnya. They’re full of drugs and booze, dan apa lagi sih yang dicari orang saat larut malam selain drugs, booze, and getting laid? Ada kejujuran yang datang dari lingkungan itu, people are just acting like animal and they’re lacking experience, atau sekadar perasaan kamu tiba di New York untuk pertama kalinya dalam hidupmu. Itu hal yang menarik untuk menjadi latar dari sebuah album,” ungkapnya tentang album yang lahir dari apartemennya di Brooklyn namun dibesarkan di atas kapal pesiar.

Saudara kandungnya, Jorge Palomo, yang menjadi drummer Neon Indian terikat kontrak dengan kapal pesiar yang mengharuskannya berlayar selama enam bulan dan terancam meninggalkan Alan untuk menunda produksi selama setengah tahun. Apa yang Alan lakukan? Well, mengepak pakaian serta peralatan rekamannya dan memesan tiket pesiar bersama seorang engineer-nya. “Saya langsung mabuk laut,” cetusnya sebelum menenggak birnya sambil terkekeh. “Waktu itu adalah bulan Desember, bukan bulan yang bagus untuk berlayar karena ombaknya kencang. Ada dua cara untuk mengatasi hal itu, yang pertama kita bisa meminum obat yang disediakan di kapal dengan beberapa efek samping atau cara kedua yang banyak dipilh orang: mabuk. Jadi Jorge akan pergi ke toko duty free dan membawa beberapa botol alkohol ke kabin dan saya berusaha untuk menghindar dari rasa mual itu tapi juga tidak terlalu wasted karena saya berusaha menjadi seorang produser yang baik dan menginstruksikan arahan, its very frantic,” simpulnya.

Seolah pelayaran di atas kapal pesiar saja tidak cukup untuk menekankan rasa “internasional” di dalamnya, cover art album ini turut dihiasi kanji yang membuatnya terlihat seperti album rilisan Jepang, yang terinspirasi dari kegemaran Alan berburu plat rekaman di tempat yang ia datangi. “Salah satu favorit saya adalah Dessinee Shop di Shibuya. Mereka punya koleksi lengkap diskografi Yellow Magic Orchestra, semua album solo personelnya, Yukihiro Takahashi, Haru Hosono, Ryuichi Sakamoto, dan semua album yang mereka produseri seperti Akiko Yano, Sandii & the Sunsetz dan semua album Jepang itu dilengkapi obi strip di sampulnya dan saya ingin album ini memiliki rasa yang sama dengan album yang mungkin bisa kamu temukan tanpa sengaja di sebuah record store di negara asing,” jelasnya. Sama fasihnya ketika ia berbicara soal musisi-musisi Jepang favoritnya, ia pun menyebut film-film Seijun Suzuki, Sion Sono, serta anime seperti Akira dan Perfect Blue sebagai bagian dari referensi sinematik yang menginspirasinya. Minatnya pada film juga disalurkan dengan menyutradarai beberapa video untuk album ini dan ia pun mengungkapkan rencananya untuk membuat sebuah film pendek. Tapi untuk sekarang, Alan masih akan berkonsentrasi menyelesaikan tur internasionalnya. “Saat kamu merilis album, kamu harus siap untuk berada di jalan selama 18 bulan lebih, so we’re still doing that,” pungkasnya dengan tegukan bir terakhir. Masih terlalu dini untuk pulang dan kelas malam besutannya masih terbuka lebar, kamu belum terlambat.