On Stage: Neon Lights Singapore 2016

Dipenuhi deretan headliners memukau dari berbagai genre, Neon Lights 2016 berhasil memancing 15 ribu penonton untuk berbesar hati menerjang hujan badai dan genangan lumpur di Fort Canning Park, Singapura.

Saat menulis artikel ini, sepatu saya belum sepenuhnya bersih dari sisa-sisa lumpur pada festival musik dan seni yang berlangsung 26-27 November 2016 tersebut. Yup, hujan badai yang turun sejak siang hari di hari pertama membuat area perbukitan Fort Canning menjadi lautan lumpur. Untungnya, ribuan penonton tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu and still having fun dengan mengenakan poncho ataupun bertelanjang kaki dan mandi hujan, after all that’s the spirit of outdoor music festival! Dibandingkan Laneway, Neon Lights sendiri adalah festival yang masih terbilang baru. Namun, meskipun baru menginjak tahun kedua, Neon Lights tampak siap menjadi sebuah annual event yang wajib dikunjungi tak hanya berkat lineup yang keren, tapi juga penekanan pada kata “festival” itu sendiri. Selain aksi musisi regional dan internasional, kita juga bisa melihat berbagai aktivasi seru seperti performance art, spoken word poetry, graffiti painting, light installations, dance showcases, hingga teater musikal yang bercerita tentang sejarah skena punk setempat. With the all good memories, I’ll tell you what really happened.

 

Day 1 – 26 November

Foals
Foals

Hujan deras yang mengguyur Singapura dari siang membuat saya baru bisa tiba di Fort Canning sekitar jam 5 sore dan terpaksa melewatkan penampilan Chairlift dan Lucy Rose. Tanpa buang waktu, saya langsung merapat ke Fort Gate Stage untuk menyaksikan Shura yang hampir merampungkan setengah set-nya. Membawakan electronic jams seperti “Touch” dan “Indecision” yang groovy, penyanyi Inggris tersebut menjadi pembuka yang manis bagi Neon Lights pertama saya. Selesai Shura, saya menyempatkan waktu untuk mengenal medan Fort Canning terlebih dahulu. Dibagi menjadi dua stage utama dan empat stage kecil yang letaknya lumayan berjauhan, kita harus pintar-pintar mengatur waktu untuk mengejar artis yang mau kita lihat. Sembari menunggu jadwal Foals tampil di Fort Green Stage, saya masih sempat melihat Gentle Bones membawakan dua lagu terakhir. Menjadi musisi Singapura yang tampil di jam dan stage utama, kualitas singer-songwriter berusia 22 tahun tersebut memang tidak kalah dengan para musisi internasional. Mendapat posisi lumayan depan dan dekat speaker saat giliran Foals tampil, saya bisa menikmati dengan maksimal deretan hits yang dibawakan oleh kuintet asal Oxford ini. Tampil dengan energi eksplosif, vokalis Yannis Philippakis sempat berkata jika festival ini akan menjadi penampilan terakhir mereka sebelum ke studio untuk merampungkan materi-materi baru. In the mean time, Foals pun memanjakan penggemar mereka dengan lagu-lagu andalan seperti “Spanish Sahara”, “Cassius”, serta “Inhaler” yang memancing beberapa orang untuk moshing.

Crystal Castles
Crystal Castles

Bergegas kembali ke Fort Gate untuk bisa berdiri paling depan di set Crystal Castles, produser Inggris Aaron Jerome yang lebih dikenal dengan nama SBTRKT belum menuntaskan DJ set-nya yang meliputi garage, UK bass, hip-hop, hingga remix “Midnight Request Line” milik Skream. Sambil menunggu kru menyiapkan panggung, terdengar juga racikan elektronik eklektik milik Gold Panda dari tenda di belakang Fort Gate Stage. Sempat bimbang untuk melihat sejenak Gold Panda, lampu stage padam yang artinya Crystal Castles sudah siap tampil. Songwriter/producer Ethan Kath naik ke panggung diiringi lampu strobe yang menghipnotis dan mulai memainkan synth-nya sebelum disusul oleh vokalis Edith Frances. Dengan rambut pink dan vokalnya yang setengah berteriak, Edith tampil seperti orang kesetanan yang tak lelah menarik atensi penonton dengan berbagai cara. Mulai dari naik ke speaker hingga berguling di lumpur, more reason to be hyped up! Repertoire dari album pertama hingga album terbaru mereka Amnesty (I) pun disajikan dengan sangat intens. It’s definitely a highlight for the first day!

Selesai digempur habis-habisan oleh Crystal Castles yang menutup Fort Gate Stage, masih ada penampilan Neon Indian di Fort Green Stage, namun sebelum ke sana, saya tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi Silent Disco yang berada di area Easy Street samping Fort Gate. I always love Silent Disco! Bayangkan sekumpulan orang memakai headset yang terdiri dari tiga channel (biru, merah, hijau) di mana ada tiga orang DJ di DJ deck yang mengisi 3 channel tersebut dengan playlist masing-masing yang sangat bertolak belakang. Saat kamu sedang asik mendengarkan Chainsmokers, bisa saja orang di sebelahmu sedang menyanyikan keras-keras lagu Nirvana atau sedang heboh berjoget reggae, it was fun and crazy! Saking serunya, saya tidak sadar telah berada di Silent Disco selama lebih dari setengah jam sebelum akhirnya beranjak ke Fort Green Stage untuk mengintip aksi Alan Palomo dan rekannya di Neon Indian. Sayangnya, penampilan mereka diganggu beberapa kendala teknis dan gerimis yang kembali turun membuat sebagian penonton beranjak pulang. Hal itu tak membuat Neon Indian kecil hati dan tetap maksimal membawakan singles juara seperti “The Glitzy Hive”, “Should Have Taken Acid with You”, dan ditutup oleh “Polish Girl”.

Day 2 – 27 November

The Tallest Man on Earth
The Tallest Man on Earth

Hari kedua Neon Lights masih dibayangi awan mendung dan udara lembap, namun untungnya tidak turun hujan deras seperti hari sebelumnya. But still, lapangan rumput Fort Canning masih berupa lautan lumpur yang cukup dalam dan licin. Sialnya sepatu yang saya pakai di hari sebelumnya masih basah dan saya pun terpaksa memakai sandal hotel, which is obviously bad decision karena tak butuh waktu lama sebelum sandal itu copot terbenam lumpur. Melihat orang-orang sekitar cuek bertelanjang kaki, saya pun nyeker sambil membayangkan ini semua adalah mud spa. Anyway, artis yang pertama saya lihat di hari kedua adalah The Tallest Man on Earth yang merupakan solo project dari singer-songwriter asal Swedia, Kristian Matsson. Ternyata beliau baru saja cerai dari istrinya dan masih galau, sehingga lagu-lagu ballad yang dibawakan dengan gitar akustiknya pun membuat suasana di Fort Gate Stage makin terasa syahdu dan intim.

Blood Orange
Blood Orange

Selesai bergalau ria, saya menuju Fort Green Stage untuk menunggu giliran Blood Orange. Proyek musik R&B electronic yang digawangi oleh Dev Hynes ini memang menjadi salah satu incaran utama saya dan saya pun rela menunggu di depan stage. Hasilnya tentu tidak mengecewakan. Membuka penampilannya dengan single “Augustine” dari album Freetown Sound, Dev adalah seorang performer ulung serba bisa yang membuat kita tak bisa berhenti kagum. Mulai dari menyanyi, mencabik gitar, memainkan synth, hingga menari sepanjang stage dengan latar gedung-gedung New York City semuanya dilakukan dengan sangat atraktif. It’s all a grand tribute to 80’s NYC! Disokong oleh band pendukung dan backing vocal yang sama kerennya, penampilan selama 45 menit dari Blood Orange terasa berlalu begitu cepat dan membuat hampir semua penonton bertahan dan meminta encore. Blood Orange’s solo show in the near future, dear promoters?

Jose Gonzalez
Jose Gonzalez

Setelah Blood Orange adalah giliran penyanyi kebanggaan Malaysia, Yuna, yang akan tampil di Fort Green Stage. Yang sayangnya bentrok dengan jadwal José González di Fort Gate Stage. Dengan pertimbangan saya akan menyaksikan Yuna di Jakarta seminggu setelahnya, saya pun memutuskan untuk menunggu Jose Gonzalez saja. Persiapan yang cukup lama membuat saya sempat mengintip beberapa stage kecil yang diisi oleh performance yang seru, dari mulai ensemble musik tradisional Melayu hingga poetry reading. Ketika akhirnya José González naik panggung, the feel is so surreal. I mean, hanya memakai kaus oblong, berjenggot tebal, dan memeluk gitar Alhambra favoritnya, pria berusia 38 tahun ini terlihat seperti sosok kultus yang sedang menyampaikan kotbah dengan suara husky dan lirik-lirik syahdu bagi para jemaatnya. Alam raya pun seperti bersekongkol. Semilir angin yang sejuk, bintang yang malu-malu di balik awan, dan penonton yang tenggelam dalam khidmat (beberapa bahkan terlihat menangis) membuat penampilan José González sebagai pengalaman yang magis dan membangun mood yang tepat untuk penampilan selanjutnya, Sigur Rόs.

Sigur Ros
Sigur Ros

            Datang jauh-jauh dari Islandia, band post-rock legendaris ini telah memukau pendengar musik dari berbagai generasi berkat musik mereka yang surgawi. Band yang kini terdiri dari Jόnsi, Goggi, dan Orri ini menyapa penggemar lama mereka dengan beberapa lagu dari album-album terdahulu seperti “Starálfur” dan “Popplagið” sebelum membawakan materi dari album ketujuh, Kveikur. Diperkuat oleh sajian visual dan lighting yang turut membangun atmosfer, segala elemen khas dari Sigur Rόs yang meliputi vokal falsetto Jόnsi, classical dan minimalist aransemen yang dipadu oleh wall-of-sounds post rock yang eksplosif membuat seluruh crowd di Fort Canning seperti tersihir dan hanya bisa terpana. Bagaimanapun, menyaksikan Sigur Rόs secara live adalah sensasi sounds & visual yang sangat memorable. Melihat penonton yang berangsur pulang dengan senyuman puas meski kaki tenggelam dalam lumpur, Neon Lights 2016 pun ditutup with high notes!

 Foto oleh: Andandika Surasetja.

On Stage: STUDIORAMA Live #6

Sejak pertama kali digelar tahun 2011 silam, STUDIORAMA Live yang digarap oleh kolektif Studiorama bisa dibilang telah menjadi barometer dan ajang showcase karya audio dan visual dari aksi-aksi musik paling fresh dan menjanjikan yang ada di skena musik lokal saat ini, tak terkecuali dalam perhelatan keenamnya pada hari Sabtu, 19 November 2016 lalu. Bertempat di Rossi Musik, Fatmawati, Jakarta Selatan, tahun ini STUDIORAMA Live turut didukung oleh British Council dan berhasil memboyong bintang tamu internasional pertamanya, which is trio electro pop asal Inggris, Kero Kero Bonito, untuk melengkapi line-up yang juga terdiri dari band-band lokal seperti Circarama, Ikkubaru, dan Heals.

circarama-kkb-2
Circarama

            Saat tiba di Rossi sekitar jam 7 malam, Circarama yang merupakan kuartet psych rock telah memulai set mereka yang turut diiringi oleh visual menarik dari Rafaela Lisa. Yup, dalam gelaran keenam ini, Studiorama kembali mengajak band yang akan tampil untuk berkolaborasi dengan para visual jockey untuk menghadirkan sajian audio dan visual yang apik. Bersama visualisasi trippy dari Rafaela Lisa, Circarama pun sukses membuka gig ini dengan aksi seru dalam membawakan racikan psych, folk, dan rock dari album mini mereka Limustaqarrin Laha, termasuk single terbaru mereka yang bertajuk “Porcelain Sky”.

ikkubaru-kkb-2
Ikkubaru

            Selesai menyaksikan Circarama dan menunggu band selanjutnya bersiap tampil, tampaknya crowd semakin ramai dan ya, the on the spot ticket was sold out. Beberapa calon penonton pun harus gigit jari dan menunggu di lantai bawah. Tak hanya memenuhi Rossi, crowd juga menyesaki area Mondo by The Rooftop di mana deretan disc jockey ibu kota yang terdiri dari Django, Gerhan, dan komplotan W_Music siap menghibur dengan set eklektik masing-masing. Setelah preparasi sekitar 30 menit, band kedua, Ikkubaru, pun siap tampil di atas panggung. Berkiblat pada genre musik pop elektronik Jepang dekade 90-an yang lazim disebut City Pop, kuartet asal Bandung ini sebelumnya telah lebih dulu sukses di Jepang dengan beberapa kali menggelar tur dan merilis album berjudul Amusement Park. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui mengapa mereka dapat diterima dengan mudah oleh publik Jepang. Dalam penampilan perdananya di STUDIORAMA Live ini, mereka berhasil tampil atraktif dalam membawakan materi orisinal plus satu lagu cover “Star Guitar” milik The Chemical Brothers yang turut dperkuat visual dari Anggun Priambodo dan beberapa penari latar yang membawa lightstick ke atas panggung.

ikkubaru-kkb-1
Ikkubaru

            Setelah Ikkubaru menuntaskan penampilannya, crowd pun banyak yang beringsut memenuhi bibir panggung karena setelah ini adalah giliran Kero Kero Bonito (KKB). Jauh-jauh datang dari London, KBB yang terdiri dari vokalis Sarah Midori Perry serta duo produser Gus Lobban dan Jamie Bulled ini tampil tidak mengecewakan. Walau sempat ada masalah teknis di lagu pertama, tak lantas membuat mereka mati gaya, dengan aura kawaii yang kental, Sarah pun berkomunikasi dengan crowd sebelum melanjutkan penampilan mereka membawakan materi-materi menyenangkan dari album Intro Bonito (2014) dan Bonito Generation (2016). Rimbawan Gerilya yang dipercaya membuat visual untuk mengiringi KKB pun berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Setiap lagu memiliki visual masing-masing yang mewakilinya dan membuat musik synth-pop KKB yang terinspirasi dari J-pop, dancehall, dan musik video game semakin terasa hidup! Aksi seru yang membuat penonton melompat seperti anak kecil kebanyakan gula dan beberapa gimmick pemancing senyum di lagu-lagu seperti “Flamingo”, “Graduation”, dan “Pocket Crocodile” membuat waktu seakan begitu cepat, and we want it little bit longer, sehingga tak heran saat KKB menuntaskan set mereka dengan single terbaru “Trampoline”, penonton langsung meneriakkan encore yang kemudian dipenuhi oleh KKB dengan senang hati.

foto-utamakkb-kkb-3

            Usai KKB akhirnya benar-benar menghilang ke backstage, bukan berarti STUDIORAMA Live #6 berakhir begitu saja, karena masih ada satu penampilan lagi dari Heals, kuintet nu-gaze asal Bandung yang terkenal lewat single mereka, “Void”, dengan wall of sounds penuh oleh distorsi gitar, reverb agresif, dan vokal mengawang yang mengingatkan pada band-band seperti Tokyo Shoegazer, My Vitriol, dan Sunny Day Real Estate. Diiringi oleh visual dari Ramaputratantra, Heals berhasil menutup STUDIORAMA #6 dengan gemilang. Sembari menunggu dan menerka band apa lagi yang akan ditampilkan dalam STUDIORAMA Live berikutnya, kita pun bisa menikmati STUDIORAMA Sessions terbaru dari kolaborasi Heals x Ramaputratantra dan Ikkubaru x Anggun Priambodo di kanal YouTube Studiorama.

heals-kkb-2
HEALS

Foto oleh: Norman Permadi // @xxnorm

 

Happy Together! Highlights From St. Jerome’s Laneway Festival Singapore 2015

St. Jerome’s Laneway Festival telah hadir kembali di Singapura dalam perhelatan teranyar sekaligus termasifnya.

 Disebut sebagai Coachella untuk Asia Tenggara, sejak pertama kali digelar tahun 2011 silam, Laneway Festival yang lahir dari sebuah festival jalanan di Melbourne, Australia dan dibesarkan di Singapura telah senantiasa menghadirkan nama-nama terbesar di spektrum musik indie dari berbagai genre. Mulai dari Deerhunter, Toro Y Moi, The Horrors, Kimbra, James Blake sampai Haim pernah tampil dalam perhelatan sebelumnya dan di kali kelimanya ini, Laneway Singapura berhasil menjual habis tiket seharga $165 sebelum hari H dan menjaring 13 ribu penonton lebih (3 ribu orang lebih banyak dari tahun sebelumnya) untuk memenuhi area The Meadow, di Gardens by the Bay pada hari Sabtu 24 Januari lalu untuk menyaksikan total 19 nama-nama terkenal dari international headliners serta aksi-aksi menjanjikan dari regional acts yang terbagi dalam tiga panggung. Come rain, come shine, its always a party in Laneway, berikut ini adalah highlight pilihan kami dari Laneway Festival Singapore 2015 sekaligus a friendly warning agar kamu tidak kehabisan tiket lagi untuk Laneway selanjutnya.

Angus & Julia Stone Angus & Julia Stone
Selalu ada hal yang terasa spesial jika dua kakak-beradik berkolaborasi dalam proyek musik yang sama dan tampil bersama di atas panggung, tak terkecuali duo kakak-beradik asal Australia ini yang secara harmonis menggabungkan vokal mereka menjadi koir surgawi dalam balutan folk-pop yang ekstatis. Membawakan lagu-lagu dari self-titled album yang diproduseri Rick Rubin, keduanya sukses menyihir penonton saat matahari mulai terbenam.

Mac DeMarcoMac DeMarco
Setelah melihat aksinya di Jakarta dua hari sebelumnya, kami tak sabar untuk menikmati lagi aksi ngaco si anak badung musik indie asal Kanada tersebut. Seperti biasa, Mac dan bandnya selalu menyelipkan humor dalam aksi panggungnya yang disambut meriah oleh crowd, termasuk menyanyikan “Yellow” milik Coldplay secara asal dan berkata bahwa mereka harus menyudahi set mereka karena Celine Dion akan segera tampil, sebelum akhirnya Mac kembali surfing di antara penonton dan menjadi satu-satunya crowd surfer di Laneway Singapore tahun ini. Selesai turung panggung, Mac menyempatkan diri untuk hang out di antara penonton dan dengan senang hati melayani selfie bersama banyak orang. Eat that, Kanye.

FKA twigsFKA twigs
Kami tak akan pernah bisa benar-benar menentukan mana yang lebih membuat Tahliah Barnett alias FKA twigs bisa begitu menghipnotis ribuan penonton: Gerakan tubuhnya yang sensual atau musiknya yang merupakan paduan dari slick R&B dan experimental electronic. Yang jelas, melihatnya beraksi di panggung adalah sebuah pengalaman orgasmik dan membuat kami tak heran jika Robert Pattinson pun dibuat mabuk kepayang oleh pesona gadis asal Inggris tersebut.

St VincentSt. Vincent
Ada alasan khusus kenapa Annie Clark yang dikenal dengan nama alias St. Vincent dipilih sebagai penutup festival ini. Tampil dengan cheongsam hitam ketat, vokalis dan gitaris asal Amerika ini tampil luar bisa memukau, baik ketika ia sedang bernyanyi atau mulai memainkan gitar elektriknya. Momen-momen terbaik muncul saat ia melakukan keduanya ataupun berkolaborasi dengan keyboardist merangkap bassist-nya, Toko Yasuda, dalam koreografi robotik dan aksi panggung yang sama kerennya. Tak peduli kamu datang ke festival ini untuk menyaksikan siapapun atau belum pernah mendengarkan musiknya sekalipun, kamu akan ternganga kagum melihat aksi St. Vincent.

Royal BloodRoyal Blood
Mike Kerr dan Ben Thatcher dari duo asal Brighton, Inggris ini membuktikan jika kamu hanya butuh bass dan drum untuk menghasilkan musik rock cadas yang anthemic. Membawakan lagu-lagu paduan hard rock, garage, dan blues rock seperti “Out of the Black” dan “Figure It Out” dari self-titled debut mereka yang dirilis tahun lalu, Royal Blood berhasil menciptakan lingkaran mosh pit dan memanggil kembali arwah Led Zeppelin.

Chet FakerChet Faker
Walaupun tampil dengan jadwal yang bentrok dengan BANKS, musisi brewok asal Australia ini berhasil menarik massa ribuan orang untuk memenuhi Cloud Stage yang berukuran kecil dan butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki dari main area. It was so packed, para jurnalis foto sampai harus memanjat pagar untuk bisa memotret dan menikmati racikan electronic trip hop dari Chet Faker, and it was worthed. Terutama ketika penonton kompak berseru “heyo heyo heyoo” saat “No Diggity” dimainkan.

JungleJungle
Kami berani bertaruh jika tidak ada siapapun yang bisa melihat aksi Jungle dan tahan untuk tidak bergoyang. Menggabungkan funk dengan elektronik dan retro vibe dari old skool soul, proyek yang dimulai oleh Tom McFarland dan Josh Lloyd-Watson di kamar tidur mereka di Inggris ini bermetamorfosis menjadi format live band yang berhasil menciptakan area dancefloor bernuansa tropikal yang sangat cocok dengan setting festival ini digelar.

PondPond
Terdiri dari kolektif musisi asal Perth, Australia yang meliputi personel dari band-band Perth seperti Tame Impala, The Growl, dan The Silents, proyek musik kolaboratif ini membangkitkan kembali psychedelic rock dalam arti sesungguhnya saat membawakan setlist yang didominasi album Hobo Rocket (2013) dan album terbaru mereka yang baru saja rilis akhir Januari lalu, Man, It Feels Like Space Again. Vokalis Nick Allbrook menarik perhatian penonton dengan gerakan yang kadang awkward dan kadang liar sementara personel lain terlihat totally in the bliss. Apapun “afternoon delight” yang mereka nikmati saat itu, we could say it was a good shit.

EagullsEagulls
Selalu ada tempat tersendiri bagi band-band post-punk yang menggabungkan bebunyian hardcore dan shoegaze dalam setiap festival musik outdoor di manapun. Kali ini slot tersebut sudah direservasi oleh kuintet asal Leeds, Inggris yang bernama Eagulls. Tampil sebagai opening act dalam tur Franz Ferdinand dan meraih banyak pujian dari para kritikus musik, Eagulls yang dikomandoi oleh vokalis George Mitchell berkesempatan untuk membuktikan diri di depan publik Laneway, and they’re really deliver it.

Akreditasi: Foto Headline, Angus & Julia Stone, Mac DeMarco oleh Aloysius Lim; FKA twigs, Royal Blood, St. Vincent oleh Alvin Ho; Jungle oleh Cliff Yeo; Chet Faker oleh Lionel Boon; Pond oleh Nor Asyraf; Eagulls oleh Rueven Tan. Semua courtesy dari Laneway Festival Singapore.

Java Soundsfair 2014, Sebuah Festival Musik Lintas Batas.

Hampir satu dekade terakhir ini, Java Festival Production (JFP) lewat berbagai festival musik berkelas internasional seperti Java Jazz Festival (JJF), Java Rockin’land (JRL), dan Java Soulnation Festival telah menjadi salah satu motor penggerak gairah publik untuk datang ke festival musik sekaligus membawa iklim positif bagi industri musik dalam negeri dan membangun kepercayaan musisi luar negeri untuk tampil di Indonesia. That’s why I actually quite sad ketika belakangan JRL yang merupakan salah satu festival musik lokal favorit saya terasa agak tertatih-tatih dan bahkan urung digelar. Namun, bukan berarti JFP patah arang dan hanya berpangku tangan saja. Tahun ini mereka melakukan gebrakan baru dalam bentuk Java Soundsfair, sebuah festival musik lintas genre yang, in a nutshell, bisa disebut sebagai gabungan dari JRL dan Soulnation. Bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) dari tanggal 24 sampai 26 Oktober silam, festival yang memiliki 9 stage dan menghadirkan 90 performer dari dalam dan luar negeri ini merupakan festival musik dan art all indoor pertama di Indonesia. Atas undangan dari Maverick yang mewakili Sampoerna A sebagai salah satu sponsor Java Soundsfair 2014, saya berkesempatan hadir dalam perhelatan perdana ini.
Day 1

WP_20141024_017

Selesai jam kantor saya langsung menuju JCC dan ketika sampai, terlihat crowd sudah memadati area masuk venue. Yang menjadi highlight untuk hari pertama ini adalah Magic! band asal Kanada yang sedang hype dengan single “Rude” yang merajai frekuensi radio. Namun jujur saja, salah satu tujuan utama saya hari ini adalah Sophie Ellis-Bextor, biduan cantik asal Inggris yang terkenal dengan lagu-lagu disco pop seperti “Take Me Home” dan “Murder On The Dancefloor”. Tampil di stage utama Plenary Hall, Sophie muncul dengan dress merah dan sepatu dance berwarna silver metalik. Ia membawakan lagu-lagu dari album terbarunya, Wanderlust, yang terdengar berbeda dari album-album sebelumnya. Di album ini Sophie mengubah haluan ke arah baroque pop dan folk yang kental dengan unsur orkestra. That’s why penampilan Sophie kali ini juga dilengkapi dengan dua orang violinist. Menjelang setengah jam terakhir penampilannya, Sophie mundur ke belakang panggung dan muncul lagi setelah berganti kostum dengan dress hijau semi transparan yang membuka sesi disco time with her signature dancey songs.

Setelah penampilan Sophie saya mampir ke sebuah sudut dekat salah satu pintu keluar yang menjadi area untuk Refresh Lounge, sebuah lounge yang disiapkan oleh Sampoerna untuk memperkenalkan tampilan baru A Mild Menthol. Sesuai namanya, di lounge khusus 18+ ini, para pengunjung Soundsfair dapat mengikuti aktivitas yang refreshing, seperti menata rambut di Refresh Your Look corner, menggunakan mesin pijat di Refresh Your Body corner, atau mengambil minuman-minuman menyegarkan seperti juice dan fruit popsicle gratis di area barnya. Tak hanya itu, Refresh Lounge juga menawarkan pembuatan merchandise customized pouch yang difasilitasi oleh Maja Esa Indonesia di mana pengunjung bisa membawa pulang pouch hasil kreasi mereka sendiri.

GAC 3 GAC 2 GAC 1

Puas refreshing, saya menuju ke A Create Stage untuk menyaksikan duo elektronik Bandung, Bottlesmoker. Selain menampilkan pertunjukan band-band indie terkenal seperti Sore, Rock N Roll Mafia, dan Bottlesmoker, A Create Stage juga menampilkan hasil karya pemenang Go Ahead Challenge 2014 di salah satu sudutnya. Sebelumnya, dua pemenang Go Ahead Challenge tahun ini yaitu Sylvester Suwandy (Syl) dan I.G. Aditya Bramantya (Bram) mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan tim Tex Saverio dalam mempersiapkan Paris Fashion Week di Jakarta dan Paris dan bekerja sama dengan fotografer fashion profesional Prancis bernama Michel Dupre yang hasil karyanya dipamerkan di A Create Stage Soundsfair 2014. Penampilan seru lainnya dalam hari pertama Soundsfair yang meliputi Tokyo Ska Paradise, Asian Dub Foundation, Morfem, dan Jakarta Techno Militia menjadi penutup dari hari pertama festival yang menyenangkan ini.
Day 2

WP_20141025_011

Hari kedua Soundsfair dimulai lebih awal dari hari sebelumnya dengan Maliq N D’Essentials yang tampil di jam setengah 6 sore. Saya menuju ke Cendrawasih 3 untuk menonton penampilan .GIF, unit elektronik asal Singapura yang memainkan musik elektronik berelemen glitch dan synthpop yang menarik. Puas menonton .GIF saya menyempatkan mampir lagi ke Refresh Lounge untuk bersantai sejenak sekaligus menjadi meeting point yang strategis untuk bertemu teman-teman. Pukul 8, saya beranjak ke A Create Stage untuk menyaksikan penampilan bersejarah dari The BRNDLS. Kenapa dibilang bersejarah? Well, penampilan The BRNDLS malam itu akan menjadi penampilan live terakhir mereka sebelum memutuskan untuk hiatus dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Jadi jelas saja, walaupun berbarengan dengan jadwal Cody Simpson yang menjadi salah satu main attraction di Plenary Hall yang dipenuhi gadis-gadis remaja, penampilan The BRNDLS juga tak kalah ramai dengan para penikmat musik indie lokal yang telah mengikuti perkembangan band Jakarta tersebut sejak awal muncul dekade lalu. Eka Annash, sang vokalis, muncul dalam balutan jubah dan topi lebar. Wajahnya ditutupi face art bergambar tengkorak dan terlihat sangar, begitu juga dengan para personel lainnya. Seolah tak mau melewatkan panggung ini begitu saja, mereka tampil all out membawakan repertoire lagu-lagu terkenal mereka seperti “100 KM/Jam”, “Lingkar Labirin”, “Start Bleeding”, “Perak”, serta “Abrasi” yang menghadirkan Iwa K sebagai bintang tamu untuk mengisi bagian rap yang aslinya dibawakan oleh Morgue Vanguard. It was one hell of rock & roll performance, and we’re gonna wait for them to come back with new material and new spirit.

WP_20141025_030
Selesai The BRNDLS, dengan setengah berlari saya menuju stage Cibo Matto, band indie asal New York yang dimotori oleh Yuka Honda dan Miho Hatori. Terbentuk dari tahun 1994, Cibo Matto yang dalam bahasa Italia berarti “crazy food” ini terkenal dengan musik eklektik mereka yang perpaduan indie pop, trip hop, acid jazz, hingga bossa nova. Lagu “Sugar Water” yang merupakan single pertama mereka dari debut album Viva! La Woman menjadi lagu pertama yang dibawakan. Sempat hiatus dari tahun 2002 sampai 2011, penampilan mereka di Soundsfair ini merupakan penampilan perdana mereka di Asia Tenggara. How special that is!
Penampilan Miho dan Yuka yang atraktif walau sudah tak terbilang muda lagi berhasil memancing eforia penonton. Tanpa cela dan semangat tinggi, mereka membawakan lagu-lagu ikonik seperti “Sci-Fi Wasabi” dan “Aguas de Marco” yang diselingi oleh materi-materi baru dari album terbaru Hotel Valentine yang tidak kalah seru seperti “Deja Vu”, “Empty Pool” dan “10th Floor Ghost Girl”. Penampilan selama satu jam tersebut hampir tidak terasa dan menimbulkan teriakan encore ketika Cibo Matto turun panggung. Panggilan encore tersebut menarik mereka naik ke atas panggung untuk membawakan “Birthday Cake” walau sayangnya entah kenapa lagu paling hits mereka, “Moonchild” urung dimainkan walau sudah tertera di song list. Nevertheless, it was my most favorite performance on this festival, atau bahkan dari semua konser yang saya hadiri tahun ini.
Selesai Cibo Matto, bukan berarti tidak ada penampilan seru lainnya. Setelah mondar-mandir ke beberapa stage, saya sempat menonton Themilo, Angsa & Serigala yang tampil dalam format baru, serta White Shoes and The Couples Company yang berhasil membuat De Majors stage full house dengan performa atraktif khas mereka.
Day 3

WP_20141026_015Setelah stay sampai penampilan terakhir di hari sebelumnya, dalam hari ketiga dan terakhir Soundsfair tahun ini, awalnya saya ingin datang agak lebih malam, namun demi menonton Mocca yang tampil di jam 6 sore akhirnya saya bergegas lebih awal. Rugi rasanya kalau melewatkan penampilan Mocca, mumpung Arina sang vokalis yang bermukim di Amerika Serikat sedang ada di Indonesia. Sebagai salah satu dedengkot indie scene Indonesia, penampilan Mocca tentu tak perlu diragukan lagi. Penonton pun masih antusias menyanyikan lagu-lagu manis gubahan mereka seperti “I’ll Remember”, “I Would Never”, “Secret Admirer” dan cover version “Hyperballad” milik Bjork. Mocca untuk pertama kalinya juga membawakan lagu terbaru mereka yang merupakan ode untuk kota asal mereka, “Bandung”.

WP_20141026_021
Setelah Mocca, saya menyaksikan Yuna, seorang singer-songwriter asal Malaysia yang berhasil go international dan berkerja sama dengan Pharell Williams. Tampil cantik dengan busana hijab, Yuna memamerkan vokalnya yang khas dalam lagu-lagu berbahasa Inggris maupun Malaysia seperti “Mountains”, “Penakut”, “Falling”, dan tentu saja “Live Your Life”. Setelah mundur ke backtage sehabis membawakan “Lelaki” dan “Dan Sebenarnya”,Yuna muncul lagi untuk menyanyikan “Rescue”, hits single yang memang telah ditunggu-tunggu.

WP_20141026_028
Marius Lauber, electronic pop artist dari Cologne yang lebih dikenal dengan nama Roosevelt menjadi aksi selanjutnya yang saya tonton. Tampil dengan dua orang temannya di drum dan synth, mereka membawakan lagu-lagu chill out yang hip dengan elemen house dan disco. Its suddenly feels like a sunset in Ibiza. Selain Yuna, yang menjadi magnet utama di hari ketiga adalah The Jacksons yang tampil di Plenary Hall. Namun alih-alih menyaksikan aksi keluarga Michael Jackson tersebut, saya malah ke A Create Stage untuk menonton The S.I.G.I.T, band cadas asal Bandung yang seperti bisa diharapkan, tampil dengan keren.

WP_20141026_038
Saya menutup hari terakhir Soundsfair dengan menikmati racikan drum n bass dari kolektif Javabass Soundsystem yang disambung oleh DJ Makoto dari Jepang. Overall, walaupun kecewa JRL tidak diadakan lagi tahun ini, saya puas dengan Soundsfair 2014 karena berhasil membawa atmosfer festival musik baru dengan performance yang sangat beragam. Diversifikasi genre yang ada membawa crowd penggemar masing-masing, namun hal itu justru terasa menyenangkan melihat para penggemar musik dari scene yang berbeda-beda bisa saling berbaur dan menghargai satu sama lain. Dalam satu hari saya bisa menikmati sajian indie pop, rock, jazz, hingga drum n bass, so it was really nice dan bisa menjadi ajang edukasi para penikmat musik indonesia untuk mengenal musisi dari berbagai genre dan menikmatinya atas nama musik yang berkualitas.
Special thanks for Maverick dan Sampoerna A for this report!

WP_20141026_034

Eat, Play, Loud!: Blogwalking for Soundrenaline Medan 2014

Menjelajahi Kota Medan dan berkeringat di festival musik rock terbesar di Indonesia dalam waktu 48 jam? Challenge accepted.

As a self-proclaimed avid concert goer dan jurnalis, saya beruntung memiliki kesempatan untuk mendatangi berbagai konser dan festival musik dari berbagai genre di Indonesia maupun di luar negeri. But, if I could confess one thing, ada satu festival musik terkenal yang belum pernah saya datangi sekalipun. Coachella? Summersonic? Glastonbury? They’re all in my checklist for sure, tapi yang akan saya bicarakan adalah festival dalam negeri sendiri dulu, which is Soundrenaline. Yup, Soundrenaline yang telah digelar sejak tahun 2003 silam merupakan festival musik rock yang bisa dibilang terbesar di Indonesia, khususnya berkat komitmen mereka untuk membawa band-band papan atas negeri sendiri untuk menghibur penggemar mereka di berbagai kota di luar Jakarta. Untuk pagelaran tahun ini, Soundrenaline diadakan di Surabaya (10 Mei) dan Medan (7 Juni). Dari dulu sebetulnya saya ingin sekali datang ke Soundrenaline di luar kota sekaligus berlibur dan mengeksplorasi kota lain di Indonesia. Lucky for me, kesempatan itu datang saat saya dihubungi oleh pihak Maverick Indonesia sebagai satu dari lima blogger yang diundang untuk merasakan pengalaman menonton Soundrenaline di Medan. Well, saya belum pernah datang ke Soundrenaline maupun pergi ke Medan, so without any thinking, of course its a big yes for me!

                Seminggu kemudian, tepatnya Jumat 6 Juni, jam lima pagi saya sudah menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk berkumpul dengan tim Maverick dan empat blogger lainnya yang terdiri dari Dimas Ario (@dimasario), Intan Anggita (@badutromantis), Agung @Hartamurti, dan Kang @Motulz. Setelah perjalanan sekitar dua jam dengan maskapai Garuda Indonesia, kami tiba di Bandara Internasional Kualanamu Medan sekitar jam 9 pagi. Bandara Kualanamu sendiri termasuk bandara Indonesia yang tertata dengan sangat baik. Bandara ini juga bandara pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan kereta Airport Railink Service. Maka dengan menaiki kereta bandara yang nyaman tersebut, kami pun sampai di pusat kota Medan hanya dengan memakan waktu sekitar 45 menit.

Bandara Kualanamu Medan
Bandara Kualanamu Medan
Airport Railink Service
Airport Railink Service

                Sebelumnya saya selalu membayangkan Medan adalah kota yang panas, bising, dan sesak. Well, memang selayaknya kota besar, pasti ada saja traffic di setiap titik jalan, namun ibukota Sumatera Utara ini ternyata jauh lebih menarik dari bayangan saya. Kota ini mengingatkan saya akan perpaduan Surabaya dan Bandung dengan bangunan-bangunan art deco zaman kolonial yang masih dipertahankan. Tujuan pertama kami tentu saja mengisi perut. Kami memutuskan sarapan soto di RM Sinar Pagi di Jalan Sei Deli. Saat sampai, rumah makan ini sudah lumayan padat, untungnya service di sini terbilang cepat. Begitu sampai kita tinggal pesan mau soto apa, duduk, dan tak berapa lama, soto hangat dan nasi putih pun tersaji di hadapan kita. Kuah rempah, perkedel kentang dan sambal kecap yang mantap, membuat soto Medan habis tersantap secepat kedatangannya. Sudah kenyang, kami pun siap mengeksplorasi Kota Medan dengan hashtag #GoAheadChoice dan Shri Mariamman Temple terpilih menjadi destinasi selanjutnya. Kuil ini merupakan kuil Hindu tertua di Medan dan terletak di Kampung Keling alias Little India. Dari luar pun, arsitektur kuil ini sudah terlihat menarik dengan pintu gerbang yang dihiasi gopuram yang merupakan semacam gapura yang biasa dilihat di kuil-kuil Hindu kaum Tamil di India Selatan. Untuk masuk ke kuil ini tidak dikenakan biaya, namun kami tidak memasuki ruang utama karena bagaimanapun, tempat ini merupakan tempat ibadah yang harus dihormati. Untuk sejenak, saya seperti berada di Bombay karena banyaknya warga keturunan India di sekeliling kuil ini, mulai dari ibu-ibu dengan kain sari sampai seorang pria India yang terlihat sangat chic dengan turban, jenggot panjang, kemeja putih, yang menaiki sepeda klasik. Tak jauh dari situ mata saya juga menangkap mesjid, gereja, dan kelenteng. Keragaman etnis dan agama di Medan cukup mengingatkan saya pada Kuala Lumpur.

Shri Mariamman Temple
Shri Mariamman Temple

                Destinasi selanjutnya adalah Tjong A Fie Mansion, sebuah rumah mewah bekas kediaman Tjong A Fie yang merupakan seorang significant figure beretnis Tionghoa dalam sejarah kota Medan. Dengan perpaduan gaya Cina, Melayu, dan Victorian, mansion dengan pintu masuk berupa gerbang besar seperti yang biasa kita lihat di film Mandarin ini seperti relik masa lalu yang membeku di antara bangunan ruko modern di sekelilingnya. Its gallant, regal, and more likely, haunted. Dalam museum sekaligus cagar budaya yang terletak di Jalan Ahmad Yani ini, selain mengagumi harta benda dan kekayaan keluarga saudagar Tjong A Fie, kita pun bisa belajar tentang sejarah Kota Medan. Dengan koleksi benda bersejarah (including some very old vinyls!), harga tiket yang terjangkau dan sudah termasuk guide yang akan menjelaskan setiap sudut rumah (kecuali beberapa bagian yang belum direstorasi), tidak heran jika mansion ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Medan.

Tjong A Fie Mansion
Tjong A Fie Mansion

Tidak terasa hari sudah menuju sore, dan keinginan untuk jajan-jajan sore pun muncul. Setelah menjemput Agung yang sempat ketinggalan di Tjong A Fie Mansion karena terlalu asik memotret, kami pergi ke Jalan Karo untuk  mengunjungi gerai kopi Macehat, yang kabarnya sedang hits di Medan. Melewati ruangan indoor yang tidak terlalu luas dan bangku yang terisi penuh, kami memutuskan untuk minum dan bersantai di outdoor area. Macehat terkenal dengan kopi Luwak dan Avocado Coffee, namun karena saya bukan peminum kopi saya memesan pancake cokelat dan affogato yang merupakan campuran es krim dan espresso. Puas mengobrol, sekitar jam lima sore kami menuju Grand Swiss-Belhotel tempat kami menginap untuk check in dan beristirahat. Kegiatan selanjutnya yang sudah ditunggu adalah makan malam. Medan punya banyak sekali tempat kuliner yang menarik, namun belum lengkap ke Medan kalau belum ke Restoran Tip Top. Bila Malang punya Toko Oen, maka Medan punya Tip Top yang menawarkan menu dan ambience klasik zaman kolonial. Letaknya di Jalan Ahmad Yani yang juga disebut Jalan Kesawan, tak jauh dari Tjong A Fie Mansion. Berdiri sejak tahun 1934, restoran ini menawarkan menu Western, Indonesia, juga Chinese dan semuanya enak luar biasa. Bahkan saat menulis artikel ini pun, saya sempat menelan ludah ketika mengingat lagi lezatnya berbagai menu yang saya nikmati di Tip Top, terutama Bistik Lidah yang sangat juara. Tak hanya menu besarnya, Tip Top juga dikenal dengan kue-kue pastry yang lezat dan es krim Moorkop khas Belanda. Pulang ke hotel. saya mencatat Tip Top sebagai tujuan wajib jika saya kembali ke Medan.

Dari kiri: Soto RM Sinar Pagi, Affogato Macehat, Bistik Lidah Tip Top
Dari kiri: Soto RM Sinar Pagi, Affogato Macehat, Bistik Lidah Tip Top

Sabtu, 7 Juni menjadi hari kedua saya di Medan sekaligus menjadi hari Soundrenaline digelar. Rasanya sudah tidak sabar untuk menuju Bandara Polonia yang menjadi venue Soundrenaline Medan, namun sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk mengeksplorasi Kota Medan lagi. Setelah breakfast di hotel, kami menuju Istana Maimoon yang juga menjadi ikon kota Medan. Dibangun oleh Sultan Deli dan berarsitektur khas Melayu, Istana Maimoon adalah titik sejarah Medan dari sudut Melayu. Namun, berbeda dari Tjong A Fie Mansion, Istana Maimoon tampak kurang dimaksimalkan. Dari 30 ruangan yang ada, pengunjung hanya bisa masuk ke ruang utama yang juga diisi oleh pedagang souvenir sehingga estetikanya jadi lumayan terganggu. Dan hanya sedikit sekali yang bisa kita lihat selain singgasana bernuansa emas, desain interior yang rumit memukau dari lantai, tembok hingga langit-langit, dan beberapa benda sejarah. Kami tak menghabiskan banyak waktu di istana ini dan memutuskan untuk membeli oleh-oleh khas Medan yang apalagi kalau bukan Bolu Gulung Meranti, pancake durian, dan bika Ambon di Jalan Sisingamangaraja. Belum puas belanja, kami juga pergi ke Durian Ucok untuk mencicipi durian Medan yang terkenal.

Istana Maimoon
Istana Maimoon

Puas makan dan belanja, agenda selanjutnya adalah agenda utama kami datang ke Medan, which is the Soundrenaline itself! Diadakan di Lapangan Bandar Udara Polonia, Soundrenaline Medan dibuka oleh trio punk rock Jogja, Endank Soekamti yang membawakan sekitar 11 lagu untuk memanaskan festival ini yang memang sudah panas, literally. Ini pertama kalinya saya datang ke festival yang diadakan di bekas bandara tanpa pepohonan untuk berlindung dari matahari yang menyengat. Penonton yang mayoritas memang anak muda Medan terlihat sudah terbiasa dengan panasnya Medan yang menyengat, but I need to step back dan akhirnya ngumpet ke Media Tent yang dilengkapi pendingin udara dan minuman dingin untuk menghindari heat stroke, haha! Di Media Tent pun diadakan semacam mini talkshow bagi para performer yang akan tampil. Shaggy Dog, The S.I.G.I.T, Kotak, J-Rocks, Burger Kill hadir di talkshow sebelum mereka menampilkan aksi mereka di Soundrenaline yang terbagi menjadi dua stage (A Stage dan Go Ahead Stage).

Endank Soekamti at the A Stage
Endank Soekamti at the A Stage
The S.I.G.I.T at mini talk show.
The S.I.G.I.T at mini talk show.

Makin sore, cuaca semakin nyaman dan penonton semakin ramai berdatangan. Setelah jeda Maghrib, Soundrenaline dilanjutkan oleh Judika, Andra & The Backbone dan Sheila On 7. Dengan berbekal Backstage ID khusus, saya dan blogger lain mendapat akses untuk menonton Sheila On 7 dari bibir panggung. Full disclosure: Sheila On 7 is one of my favorite Indonesian bands ever karena saya tumbuh remaja dengan mendengarkan lagu-lagu mereka, tapi saya belum pernah menonton live performance mereka. Menyaksikan Duta, Eross dan personel lainnya tampil atraktif membawakan lagu-lagu hits mereka, saya seperti terlempar ke masa SMP dan ikut menyanyikan lantang lirik lagu-lagu mereka. It was amazing! Ketika Sheila On 7 turun panggung dan menuju Media Tent untuk mini talkshow, saya mengikuti mereka seperti some giddy teenagers dan akhirnya minta foto bareng dengan Duta, haha! Jujur saja, dalam karier saya sebagai jurnalis saya sangat jarang meminta foto bareng dengan band-band atau musisi lokal. Namun, kali ini saya datang bukan sebagai jurnalis, saya datang sebagai fans Sheila On 7 sejak SMP and I just feel happy to finally saw them again.

Eross SO7 mengomandoi koor penonton.
Eross SO7 mengomandoi koor penonton.
Me as happy fans with Duta SO7
Me as happy fans with Duta SO7

 Khusus tahun ini, Soundrenaline mengusung konsep baru berupa sistem pemilihan suara bernama “Voice of Choice” yang dilakukan melalui situs GoAheadPeople.com. Para pemilih diwajibkan untuk memilih salah satu dari tiga album milik lima band yang terdaftar, yaitu Slank, GIGI, J-Rocks, Andra and The Backbone dan /rif. Album mana yang menang itulah yang akan dinyanyikan secara penuh oleh band tersebut. /rif misalnya, membawakan utuh album pertama mereka Radja yang dirilis tahun 1997,dari track pertama sampai terakhir. Selesai star struck dengan Sheila On 7, saya menonton penampilan Seringai di Go Ahead Stage sementara A Stage sedang dimeriahkan oleh Jamrud. Arian dan kawan-kawannya di Seringai seperti biasa berhasil membakar semangat penonton dan menyulut moshing dengan lagu-lagu anthemic mereka sampai-sampai aparat yang berjaga di bibir panggung harus menahan pagar batas penonton yang hampir ambruk. PAS Band dan GIGI yang menjadi penampil selanjutnya juga mendapat respons antusias dari puluhan ribu penonton yang memadati Polonia. I can feel the adrenaline rush just by seeing the performers and the crowds! Soundrenaline Medan yang dimulai dari jam 12 siang akhirnya dituntaskan oleh Slank sebagai pamungkas acara dan ditutup oleh lagu “Kamu Harus Pulang” sebagai lagu penutup Soundrenaline Medan yang berhasil mendatangkan sekitar 60 ribu penonton. Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul 12 lewat, namun saya belum mau pulang ke hotel. Saya lapar. Kami pun menyempatkan diri makan malam di daerah Elizabeth, sebuah tempat nongkrong mahasiswa Universitas Sumatera Utara dengan warung-warung tenda yang mengingatkan daerah Blok S di Jakarta, setelah itu baru pulang ke hotel.

Seringai before the show.
Seringai before the show.

Hari Minggu 8 Juni menjadi hari terakhir saya di Medan. Setelah breakfast dan check out dari hotel, saya dan para blogger lainnya menuju Kualanamu untuk pulang ke Jakarta. Thanks to Sampoerna dan Maverick Indonesia, kini saya sudah bisa mencoret Soundrenaline dari daftar festival musik yang harus saya datangi. Just have a chance to finally watching Soundrenaline is already a blast for me, terlebih berkesempatan menyaksikannya bersama teman-teman baru dan menjelajahi kota Medan. I’m planning to visit Medan again in near future, dan untuk Soundrenaline tahun depan? Well, just see and fingers crossed.

See you on next Soundrenaline.
See you on next Soundrenaline.

BRNDLFEST: The Brandals’ 12 Years Retrospective Concert

SAN_1833 copy

Ungkapan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya” ternyata bisa diterapkan pula dalam perjalanan sebuah band. Band yang besar harus menghargai sejarahnya dan The Brandals mengamini hal itu. Terbentuk sejak Desember 2001, The Brandals telah menjadi salah satu band ibukota paling ikonik berkat penampilan mereka membawakan garage rock di atas panggung dengan liar, ditingkahi bahasa vulgar, namun tetap terlihat stylish. Ibaratnya, bila New York punya The Ramones dan London punya The Clash, maka Jakarta memiliki The Brandals sebagai band rock yang mewakili esensi liar kota besar dalam lirik lagu yang lekat dengan kehidupan masyarakat urban. 12 years and four albums later, they still stands tall dan merayakannya dengan sebuah konser retrospektif bernama BRNDLFEST tanggal 22 Desember lalu di Rolling Stone HQ, Kemang.

            Dengan sub judul “Cerita Mutasi Urban”, Festival BRNDLS tersebut menghadirkan pameran memorabilia segala pernak-pernik berbau The Brandals, mulai dari CD, kliping artikel, properti panggung, flyer, poster gig, kaos, well, basically anything! Acara dijadwalkan mulai pukul 3 sore namun terpaksa mundur sejenak karena gerimis yang turun tanpa henti hari itu. Saat dijumpai, sang vokalis Eka Annash sedang mengelap salah satu kotak kaca berisi memorabilia yang basah tersiram hujan sementara personel lainnya masih bersiap untuk ganti baju dan sebagainya. Eka mengungkapkan bagaimana festival ini awalnya direncanakan untuk satu dekade mereka namun terhalang beberapa hal hingga baru terlaksana sekarang dengan kerja keras dari para personel, kru, dan tentu saja fans mereka yang kerap disebut brigade rock n’ roll. Fans memang tak terpisahkan dalam karier sebuah band, dan dalam event ini The Brandals mengajak dua band bentukan fans mereka, yaitu Lampu Kereta dan The Badunks untuk menjadi pembuka acara. Penonton belum terlalu ramai, namun kedua band tersebut meminjam semangat yang sama dengan idola mereka dan bermain tanpa gentar.

Memorabilia

            “The Brandals sekarang gue ngeliatnya kaya Johnny Depp waktu jadi sersan Tom Hanson di 21 Jump Street tapi sekarang udah jadi James Bond, haha! Dulu masih muda, masih ijo… sekarang udah tua, udah content, suave, tau apa yang dia mau, lebih experienced,” ungkap Eka saat saya bertanya bagaimana sebetulnya The Brandals di umurnya yang ke-12. “Sekarang lebih family, lebih keluarga karena hampir semua di Brandals udah berkeluarga jadinya tidak raw lagi, lebih terpoles biar disayang mertua,” sambung Toni Dwi Setiadji, sang gitaris yang bersama drummer Rully Anash menjadi dua personel yang telah ada dari awal.

            Lepas Maghrib, diadakan pemutaran perdana video klip lagu “Abrasi” dari album terbaru mereka DGNR8 yang disutradarai oleh fotografer Anton Ismael dan disambung dengan penayangan film dokumenter Marching Menuju Maut yang dibuat oleh Faesal Rizal yang telah mendokumentasikan perjalanan karier The Brandals dari awal karier mereka. Dokumenter tersebut secara gamblang mengungkap segala sesuatu tentang The Brandals. Bagaimana mereka bermula dari band bernama The Motives dengan vokalis Edo Wallad sebelum digantikan oleh Eka dengan nama The Brandals, persiapan latihan sebelum naik panggung pertama kali, bagaimana mereka membangun popularitas dari berbagai gig intim di BB’s Café, Parc, dan berbagai pensi, termasuk PL Fair tahun 2003 di Stadion Lebak Bulus yang bersejarah bagi mereka. Bagaimana tidak? Dalam pensi tersebut, The Brandals tampil dalam keadaan “tinggi” di depan 8 ribu penonton dan memprovokasi mereka dengan kata-kata kasar. Hasilnya adalah hujan batu dan benda-benda lain namun dengan berani The Brandals tetap melanjutkan penampilan mereka. Momen tersebut menguatkan citra jika The Brandals memang benar-benar berandalan di atas panggung dan sempat dilarang tampil oleh beberapa event organizers.

Kliping

            Dokumenter berdurasi cukup panjang tersebut juga mengungkapkan bagaimana pergantian manajer menjadi turning point The Brandals untuk lebih lurus dalam bermusik dan bersikap. Salah satu momen lucu adalah beberapa footage Eka yang sebelumnya identik dengan ngomong kasar berubah mengucapkan assalamualaikum ketika manggung. Yang tak luput dibahas adalah soal pergantian personel dan bagaimana musik mereka beralih menjadi lebih digital di album terbaru. Yang jelas, 12 tahun memang bukan waktu yang sedikit untuk mendewasakan mereka.

            Selesai screening dan ngobrol-ngobrol singkat soal Marching Menuju Maut, The Brandals formasi saat ini yang terdiri dari Eka, Rully, Toni serta dua personel yang bergabung belakangan, bassist Radit Syahrazam dan gitaris PM, akhirnya tampil di atas panggung dengan backdrop bergambar drakula yang dibuat oleh ilustrator bernama Gogoporen. Lagu “Mutasi Urban” dan “Lingkar Labirin” dari self-titled debut mereka dipilih menjadi lagu pembuka. Sebagai frontman, Eka memang sudah tidak sevulgar dulu ketika berbicara di atas panggung, namun dia masih terdengar witty dengan celetukan-celetukan khasnya. Energi mereka semakin memanas seiring membawakan lagu-lagu jawara lainnya dalam repertoire empat album yang telah mereka hasilkan, termasuk “Abrasi” yang mengajak Eric PRBLMZ untuk mengisi bagian rapnya, “100% Kontrol”, “Brokenheart Blues”, dan “Perak”.

Bayu

            Bukan ulang tahun namanya kalau tidak ada kejutan. The Brandals menghadirkan dua mantan personel awal mereka, gitaris Bayu Indrasoewarman dan bassist Dodi Widyono ke atas panggung untuk memainkan lima lagu dari album ketiga Audio Imperialist, termasuk “24 Lewat (Lagu Luna)”  dan “100 KM”. Penonton semakin bersemangat melihat formasi awal The Brandals dan melihat Eka yang melakukan crowd surfing, saya lantas teringat bagaimana dulu saya terkagum-kagum melihat penampilan mereka yang intens dalam berbagai acara musik yang saya datangi. Radit dan PM akhirnya naik panggung lagi dan The Brandals menuntaskan penampilan mereka dari tiga lagu dari album DGNR8, yaitu “DGNR8”, “Awas Polizei!”, “Start Bleeding” dan dipungkaskan dengan “Marching Menuju Maut” dari album pertama mereka.

            Total 21 lagu dibawakan oleh The Brandals dalam durasi satu jam lebih. Dengan gemilang, The Brandals berhasil merangkum 12 tahun pertama karier mereka dengan menghargai masa-masa yang telah lewat tanpa terpaku di masa lalu. Toh lewat album baru mereka, The Brandals telah membuktikan diri jika mereka bukanlah band nostalgia. What’s next for them? “Yang jelas mau liburan dulu sebulan! Haha! Terus udah mulai kumpulin materi lagi pelan-pelan,” jawab Eka sambil tersenyum puas. The Brandals pada akhirnya akan terus bermutasi to keep the spirit alive. And I wish them a Godspeed.

Eka Annash

Foto oleh Sanko Yannarotama

This Charming Man, Morrissey Live in Jakarta (10 May 2012)


Coret lagi satu nama paling penting dari daftar Bands/Musician You Must See Before You Die, Morrissey is finally here.

Who is Morrissey?” Demikian bunyi tulisan yang tertera di backdrop panggung konser perdana Morrissey yang dipromotori oleh Indika Production tanggal 10 Mei kemarin. Mayoritas orang mengenalnya sebatas vokalis band Inggris, The Smiths, sementara sebagian yang lain mungkin hanya sering mendengar namanya tapi tak pernah benar-benar mendengarkan musiknya, namun crowd yang memenuhi venue Tennis Indoor Senayan dari sore hari, membawa spanduk, bunga dan terus tersenyum ceria adalah golongan yang berbeda. Mereka adalah diehard fans yang menganggap Steven Patrick Morrissey tak hanya penyanyi idola, namun lebih sebagai personal hero yang datang bukan sekadar menonton konser, tapi juga “naik haji” menunaikan impian seumur hidup mereka menyaksikan Morrissey di depan mata.

Selain area depan ticket box yang dipenuhi para penjual kaus Morrissey yang sering typo (entah kurang “r” atau “s”), yang terasa berbeda adalah untuk hari itu Tennis Indoor bebas dari makanan yang mengandung daging atas permintaan Moz (panggilan akrab Morrissey) yang seorang vegetarian dan pendukung PETA. Tak hanya stand F&B dalam area konser saja yang bebas daging, kabarnya panitia harus membayar para pedagang sate di Senayan untuk menghilang sebentar. Sebuah upaya cukup maksimal untuk menghargai Moz yang terkenal sangat strict (ia pernah walk out dari panggung Coachella 2009 karena mencium bau daging dimasak) dan memerhatikan detil apa pun, termasuk pilihan hotelnya, Shangri-La, hanya karena ia penggemar band The Shangri-Las. Romantisme personal tersebut juga terasa saat penonton menunggu dimulainya konser sambil menyaksikan beberapa video musik retro yang tampaknya dipilih sendiri oleh Moz, mulai dari Brigitte Bardot sampai New York Dolls, yang ditembak dari proyektor ke kain yang menutupi panggung. Sekitar jam 9 malam, akhirnya video playlist selesai dan kain penutup tersebut diturunkan dan menampilkan semua instrumen yang siap dimainkan, termasuk satu gong besar di belakang drum set. Para pemain band yang hanya memakai jeans, kecuali gitaris Boz Boorer yang memakai dress perak, naik ke panggung disusul oleh sosok flamboyan yang ditunggu.

Dibuka dengan “How Soon Is Now?” eforia penonton meledak memenuhi udara Tennis Indoor yang bebas dari asap rokok. Moz yang sudah berusia 52 tahun memang tidak bisa menutupi fisiknya yang merenta, namun karismanya sangat kuat dan vokalnya pun masih prima. Hits-hits seperti “You’re The One For Me, Fatty”, “Alma Matters” dan “Everyday Is Like Sunday” memancing koor penonton yang begitu keras dan bunga-bunga terus dilempar ke atas panggung oleh penonton baris depan. Berbeda dari citra snob dan racist yang kerap dituduhkan media asing, Moz malam itu begitu humble menyapa penonton dan menunjukkan gratitude menyaksikan antusiasme penonton Indonesia, sehingga sempat berkata takjub, “Jakarta… I’m not expect this…” Beberapa penonton juga ditarik naik ke atas panggung untuk berpelukan dengan Moz yang sempat beberapa kali berganti kemeja (salah satunya dilempar ke penonton). Di lagu “Meat Is Murder”, Morrissey menampilkan video berisi cuplikan dokumenter animal abuse yang quite disturbing sebelum meneruskan set dengan lagu “Let Me Kiss You, “I’m Throwing My Arms Around Paris” dan “Speedway” dan berkata “Indonesia…”Saya cinta kamu. With all my heart, I wish we’ll never be apart,” sebelum memberikan encore satu lagu “Still Ill” yang merupakan lagu The Smiths.

Dengan tampil satu setengah jam membawakan 19 lagu, tentu banyak yang merasa belum puas dan berharap mendengar hits beliau lainnya yang tidak dimainkan seperti “The More You Ignore Me, The Closer I Get”, “Suedehead” dan hits lawas The Smiths. Setiap orang tentu memiliki daftar lagu Morrissey/The Smiths favorit mereka, jadi memang rasanya tidak mungkin juga berharap semua bisa dimainkan malam itu. Kembali ke pertanyaan awal tadi, siapa sih Morrissey? Semua orang punya jawaban sendiri, bagi saya pribadi yang kesehariannya tak pernah sepi dari lagu Morrissey, untuk akhirnya bisa menyaksikan beliau secara langsung di depan mata dan bernyanyi bersama sudah menjadi salah satu pengalaman hidup yang menggetarkan. It’s still feels surreal, even now.

As published in NYLON Indonesia June 2012