On Stage: Neon Lights Singapore 2016

Dipenuhi deretan headliners memukau dari berbagai genre, Neon Lights 2016 berhasil memancing 15 ribu penonton untuk berbesar hati menerjang hujan badai dan genangan lumpur di Fort Canning Park, Singapura.

Saat menulis artikel ini, sepatu saya belum sepenuhnya bersih dari sisa-sisa lumpur pada festival musik dan seni yang berlangsung 26-27 November 2016 tersebut. Yup, hujan badai yang turun sejak siang hari di hari pertama membuat area perbukitan Fort Canning menjadi lautan lumpur. Untungnya, ribuan penonton tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu and still having fun dengan mengenakan poncho ataupun bertelanjang kaki dan mandi hujan, after all that’s the spirit of outdoor music festival! Dibandingkan Laneway, Neon Lights sendiri adalah festival yang masih terbilang baru. Namun, meskipun baru menginjak tahun kedua, Neon Lights tampak siap menjadi sebuah annual event yang wajib dikunjungi tak hanya berkat lineup yang keren, tapi juga penekanan pada kata “festival” itu sendiri. Selain aksi musisi regional dan internasional, kita juga bisa melihat berbagai aktivasi seru seperti performance art, spoken word poetry, graffiti painting, light installations, dance showcases, hingga teater musikal yang bercerita tentang sejarah skena punk setempat. With the all good memories, I’ll tell you what really happened.

 

Day 1 – 26 November

Foals
Foals

Hujan deras yang mengguyur Singapura dari siang membuat saya baru bisa tiba di Fort Canning sekitar jam 5 sore dan terpaksa melewatkan penampilan Chairlift dan Lucy Rose. Tanpa buang waktu, saya langsung merapat ke Fort Gate Stage untuk menyaksikan Shura yang hampir merampungkan setengah set-nya. Membawakan electronic jams seperti “Touch” dan “Indecision” yang groovy, penyanyi Inggris tersebut menjadi pembuka yang manis bagi Neon Lights pertama saya. Selesai Shura, saya menyempatkan waktu untuk mengenal medan Fort Canning terlebih dahulu. Dibagi menjadi dua stage utama dan empat stage kecil yang letaknya lumayan berjauhan, kita harus pintar-pintar mengatur waktu untuk mengejar artis yang mau kita lihat. Sembari menunggu jadwal Foals tampil di Fort Green Stage, saya masih sempat melihat Gentle Bones membawakan dua lagu terakhir. Menjadi musisi Singapura yang tampil di jam dan stage utama, kualitas singer-songwriter berusia 22 tahun tersebut memang tidak kalah dengan para musisi internasional. Mendapat posisi lumayan depan dan dekat speaker saat giliran Foals tampil, saya bisa menikmati dengan maksimal deretan hits yang dibawakan oleh kuintet asal Oxford ini. Tampil dengan energi eksplosif, vokalis Yannis Philippakis sempat berkata jika festival ini akan menjadi penampilan terakhir mereka sebelum ke studio untuk merampungkan materi-materi baru. In the mean time, Foals pun memanjakan penggemar mereka dengan lagu-lagu andalan seperti “Spanish Sahara”, “Cassius”, serta “Inhaler” yang memancing beberapa orang untuk moshing.

Crystal Castles
Crystal Castles

Bergegas kembali ke Fort Gate untuk bisa berdiri paling depan di set Crystal Castles, produser Inggris Aaron Jerome yang lebih dikenal dengan nama SBTRKT belum menuntaskan DJ set-nya yang meliputi garage, UK bass, hip-hop, hingga remix “Midnight Request Line” milik Skream. Sambil menunggu kru menyiapkan panggung, terdengar juga racikan elektronik eklektik milik Gold Panda dari tenda di belakang Fort Gate Stage. Sempat bimbang untuk melihat sejenak Gold Panda, lampu stage padam yang artinya Crystal Castles sudah siap tampil. Songwriter/producer Ethan Kath naik ke panggung diiringi lampu strobe yang menghipnotis dan mulai memainkan synth-nya sebelum disusul oleh vokalis Edith Frances. Dengan rambut pink dan vokalnya yang setengah berteriak, Edith tampil seperti orang kesetanan yang tak lelah menarik atensi penonton dengan berbagai cara. Mulai dari naik ke speaker hingga berguling di lumpur, more reason to be hyped up! Repertoire dari album pertama hingga album terbaru mereka Amnesty (I) pun disajikan dengan sangat intens. It’s definitely a highlight for the first day!

Selesai digempur habis-habisan oleh Crystal Castles yang menutup Fort Gate Stage, masih ada penampilan Neon Indian di Fort Green Stage, namun sebelum ke sana, saya tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi Silent Disco yang berada di area Easy Street samping Fort Gate. I always love Silent Disco! Bayangkan sekumpulan orang memakai headset yang terdiri dari tiga channel (biru, merah, hijau) di mana ada tiga orang DJ di DJ deck yang mengisi 3 channel tersebut dengan playlist masing-masing yang sangat bertolak belakang. Saat kamu sedang asik mendengarkan Chainsmokers, bisa saja orang di sebelahmu sedang menyanyikan keras-keras lagu Nirvana atau sedang heboh berjoget reggae, it was fun and crazy! Saking serunya, saya tidak sadar telah berada di Silent Disco selama lebih dari setengah jam sebelum akhirnya beranjak ke Fort Green Stage untuk mengintip aksi Alan Palomo dan rekannya di Neon Indian. Sayangnya, penampilan mereka diganggu beberapa kendala teknis dan gerimis yang kembali turun membuat sebagian penonton beranjak pulang. Hal itu tak membuat Neon Indian kecil hati dan tetap maksimal membawakan singles juara seperti “The Glitzy Hive”, “Should Have Taken Acid with You”, dan ditutup oleh “Polish Girl”.

Day 2 – 27 November

The Tallest Man on Earth
The Tallest Man on Earth

Hari kedua Neon Lights masih dibayangi awan mendung dan udara lembap, namun untungnya tidak turun hujan deras seperti hari sebelumnya. But still, lapangan rumput Fort Canning masih berupa lautan lumpur yang cukup dalam dan licin. Sialnya sepatu yang saya pakai di hari sebelumnya masih basah dan saya pun terpaksa memakai sandal hotel, which is obviously bad decision karena tak butuh waktu lama sebelum sandal itu copot terbenam lumpur. Melihat orang-orang sekitar cuek bertelanjang kaki, saya pun nyeker sambil membayangkan ini semua adalah mud spa. Anyway, artis yang pertama saya lihat di hari kedua adalah The Tallest Man on Earth yang merupakan solo project dari singer-songwriter asal Swedia, Kristian Matsson. Ternyata beliau baru saja cerai dari istrinya dan masih galau, sehingga lagu-lagu ballad yang dibawakan dengan gitar akustiknya pun membuat suasana di Fort Gate Stage makin terasa syahdu dan intim.

Blood Orange
Blood Orange

Selesai bergalau ria, saya menuju Fort Green Stage untuk menunggu giliran Blood Orange. Proyek musik R&B electronic yang digawangi oleh Dev Hynes ini memang menjadi salah satu incaran utama saya dan saya pun rela menunggu di depan stage. Hasilnya tentu tidak mengecewakan. Membuka penampilannya dengan single “Augustine” dari album Freetown Sound, Dev adalah seorang performer ulung serba bisa yang membuat kita tak bisa berhenti kagum. Mulai dari menyanyi, mencabik gitar, memainkan synth, hingga menari sepanjang stage dengan latar gedung-gedung New York City semuanya dilakukan dengan sangat atraktif. It’s all a grand tribute to 80’s NYC! Disokong oleh band pendukung dan backing vocal yang sama kerennya, penampilan selama 45 menit dari Blood Orange terasa berlalu begitu cepat dan membuat hampir semua penonton bertahan dan meminta encore. Blood Orange’s solo show in the near future, dear promoters?

Jose Gonzalez
Jose Gonzalez

Setelah Blood Orange adalah giliran penyanyi kebanggaan Malaysia, Yuna, yang akan tampil di Fort Green Stage. Yang sayangnya bentrok dengan jadwal José González di Fort Gate Stage. Dengan pertimbangan saya akan menyaksikan Yuna di Jakarta seminggu setelahnya, saya pun memutuskan untuk menunggu Jose Gonzalez saja. Persiapan yang cukup lama membuat saya sempat mengintip beberapa stage kecil yang diisi oleh performance yang seru, dari mulai ensemble musik tradisional Melayu hingga poetry reading. Ketika akhirnya José González naik panggung, the feel is so surreal. I mean, hanya memakai kaus oblong, berjenggot tebal, dan memeluk gitar Alhambra favoritnya, pria berusia 38 tahun ini terlihat seperti sosok kultus yang sedang menyampaikan kotbah dengan suara husky dan lirik-lirik syahdu bagi para jemaatnya. Alam raya pun seperti bersekongkol. Semilir angin yang sejuk, bintang yang malu-malu di balik awan, dan penonton yang tenggelam dalam khidmat (beberapa bahkan terlihat menangis) membuat penampilan José González sebagai pengalaman yang magis dan membangun mood yang tepat untuk penampilan selanjutnya, Sigur Rόs.

Sigur Ros
Sigur Ros

            Datang jauh-jauh dari Islandia, band post-rock legendaris ini telah memukau pendengar musik dari berbagai generasi berkat musik mereka yang surgawi. Band yang kini terdiri dari Jόnsi, Goggi, dan Orri ini menyapa penggemar lama mereka dengan beberapa lagu dari album-album terdahulu seperti “Starálfur” dan “Popplagið” sebelum membawakan materi dari album ketujuh, Kveikur. Diperkuat oleh sajian visual dan lighting yang turut membangun atmosfer, segala elemen khas dari Sigur Rόs yang meliputi vokal falsetto Jόnsi, classical dan minimalist aransemen yang dipadu oleh wall-of-sounds post rock yang eksplosif membuat seluruh crowd di Fort Canning seperti tersihir dan hanya bisa terpana. Bagaimanapun, menyaksikan Sigur Rόs secara live adalah sensasi sounds & visual yang sangat memorable. Melihat penonton yang berangsur pulang dengan senyuman puas meski kaki tenggelam dalam lumpur, Neon Lights 2016 pun ditutup with high notes!

 Foto oleh: Andandika Surasetja.

Advertisements

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

On The Records: Rizky Argadipraja/Greybox

 

“Keluarga saya tidak berlatar musisi jadi saya tidak bisa bilang jika mereka menginfluens saya untuk membuat musik. Tapi saat saya umur 12 tahun, ayah saya mengoleksi piringan hitam dari UK rock scenes, jazz, classical dan memainkannya di record player tua miliknya. Hal itu membuat saya tertarik untuk mendengarkan berbagai genre tersebut tapi dia tidak mengizinkan saya untuk menyentuh record player miliknya, until one day, I tried to mess with it myself. I honestly had no idea what I was doing but that actually made me more curious,” kenang Rizky Argadipraja tentang awal ketertarikannya pada musik. Curiouser and curiouser, rasa penasaran pria kelahiran Jakarta, 23 tahun lalu ini terbayar manis saat dirinya menjadi music producer dan sounds engineer yang dikenal dengan nama alias Greybox.

Sempat bergabung di jazz band, pengaruh jazz yang smooth menjadi salah satu elemen dari produksi musiknya saat ini yang merupakan paduan eklektik dari electronic, Hip Hop, house, RnB, soul dengan influens meliputi J Dilla, DJ Krush, dan Theo Parrish. Setelah merilis beberapa volume kompilasi dengan judul Crusted Swing dan begabung di roster dua label US, Ninetofive Records dan Mellow Orange, di tahun 2015 lalu, pria yang berkuliah di New York ini merilis debut EP bertajuk Elevate yang berisi 4 track dengan genre beragam, namun tetap mengusung vibes yang slick and chilled andalannya.

 Membangun karier di negeri orang, tak lantas membuatnya melupakan scene lokal begitu saja, whether collaborating with local talents atau membagikan pengalamannya. “Apa yang saya sukai dari New York adalah state of appreciation yang dimiliki para New Yorkers. Appreciation is what I learned the most after being a few years there. But you know, there is nothing feels better than home. Banyak yang saya rindukan dari Jakarta. Nomor satu yang jelas adalah makanan. The spicy Indonesian food and the price. Food in New York is mad expensive. Tapi pada akhirnya saya akan pulang ke Jakarta anyways, so I’m hyped for that and everything in the future to come!

 

SAMSUNG CSC

Apa yang mendorongmu untuk membuat musik sendiri?

 

Back in 2012, saya menemukan software Ableton di Mac lama saya. It was intimidating at first, but got hooked after a few tries. Awalnya saya tidak tahu mau buat apa, jadi saya menghabiskan setahun untuk mempelajari software itu. Lalu saya pergi ke New York di akhir 2012 dan untuk pertamakalinya dikenalkan ke Hip Hop oleh sepupu saya yang tinggal di sana. And not just Hip Hop the genre but the culture itself. Saya mulai nyaman dengan NY Hip Hop scene dan mulai membuat Trip-hop pada awalnya. Dari situ, saya mulai mengeksplor genre lain seperti House, Soul, RnB, dan sejenisnya. Dan menggabungkan semua genre tersebut menjadi satu, into my own sound.

What’s the story behind Greybox moniker?

 

It goes way back when I was in middle school, I made a production house called Greybox Production. Had a small team, and we used to make short films. Long story short, we end up going our own ways.

 

After I made my first track in 2013 called “Simplicity”, I was so excited to upload it on Soundcloud but haven’t think of an alias yet, so I end up using Greybox just for a temporal account name. But then people started to recognize me with that moniker, so I decided to stick with the name until now. It took me a while to finally accept that name, and to really find a meaning behind it. But after awhile, I realized that the tracks that I made compile a meaning of my alias.

 

To describe it in a quick yet casual way, Grey as a neutral color that comes from a mixture of many colors combined into one, being open minded towards any type of sounds. Covered by a box that will keep the groove stable.

Who are your musical influences that really shape your taste and works?

 

Lots of great artist from the Hip-Hop divisions, House, and also old school RnB cats. I found influences not just from one source but a chain of sources. I always try to learn something new from producers that I look up to also from producers that are on the same boat as I am. I want to broaden my style so I would just look at other artists that have a completely different taste as mine and just try to learn their style. I target myself to at least stumble one new artist/producer every each day.

 

Individually, I would always credit J-Dilla as my main influence. I appreciate his work cause he combine different genres but always have that one element that keeps it in motion, it could be the drums, or maybe the bass.

How would you describe your sounds?

I would describe my sound as a spacey yet soulful tones wrapped in repetitive swing. I love loops. I express my sound in a few bars, and keeping it unique. Fitting a complete message in that few bars, repeating, and still achieve a new motion every each repetition. Basically, making loops that don’t sound like a loop.

elevate

Berapa lama kamu mengerjakan Elevate EP?

Saya mengerjakannya kurang dari seminggu. Yang menarik adalah saya mengerjakan track “Discrete” dan “Enigmatic” di Starbucks sambil memakai headphone di NY. Ide tidak selalu datang di studio musik, it’s crazy how you can just sit at Starbucks with your coffee and then just build an idea of a new track. Sejak itu saya lebih open-minded di setiap tempat yang saya kunjungi, bahkan kamar mandi sekalipun. Saat mengerjakan sebuah track, saya tidak pernah menghabiskan lebih dari dua menit karena saya cepat bosan. Setelah Elevate EP, saya jadi semakin serius and step up my game dengan membuat track lebih dari dua menit… And also go to Starbucks more often.

Kamu di New York kuliah Sinematografi, apa korelasi antara sounds dan visual di musik menurut kamu sendiri?

 I find that cinematography is a thing that I love to switch activities to. Saya merasa belajar soal film bisa membantu musik saya juga. And it turned out good. In cases like shortage on a film budget, hiring a sound recordist in New York cost you an arm and a leg. So it really helped me many ways by being able to do sound and visual.

So far, pengalaman main paling seru di mana dan kenapa?

 

I don’t do gigs that often, tapi kalau pengalaman paling seru so far when I did a show in Brooklyn, NY di sebuah private rooftop party. The vibe was great, people were dancing and they really felt the music. Pengalaman itu sangat berkesan karena ada this one afro-latino girl came all the way up to the DJ booth and just start pulling up dance move right away and just vibin’ all night. It excites me looking at people appreciating my music.

What’s your dream collaboration?

 

A producer named IAMNOBODI. It’s just something about his drums that always give me the chills.

Apa kamu sedang mengerjakan sesuatu saat ini?

 

Ya, saya sedang mengerjakan sebuah proyek bernama Ocean EP dengan seorang musisi dari major label. Karena masih sedang dalam proses, saya tidak bisa membocorkan lebih banyak, but yeah you’ll be expecting a fresh material coming up soon.

Greybox’s Fave Records:

489152 

Trouvaille

Freddie Joachim

Album ini baru keluar bulan ini, terlepas dari kami ada di label yang sama, dia hanya merilis album ini dalam format vinyl. Owning the vinyl version and all tracks from Trouvaille album is top notch.

drum-library

Drum Library Volume 12

This one is a collection of drum samples/loops both sides. A hip-hop drum breaks from Super Break Records. Since I do sampling alot, this record has always been a foundation to my drum chops.  Always have this record with me wherever I travel.

quincy

Walking In Space

Quincy Jones

An all time favorite, saya dikenalkan album ini oleh ayah saya dan menjadi inspirasi ever since. All the elements on this album influence the sounds of my releases. Also lots of chops I use for my track from this piece.

avatars-000270425634-plp3fk-t500x500

https://soundcloud.com/greybox

Easy A, An Interview With Ariel Nayaka

Tanpa perlu menjual kontroversi kacangan dan komentar-komentar miring, rapper muda Ariel Nayaka menunjukkan kelasnya sendiri sebagai bintang baru layak simak di skena Hip-Hop lokal just like a Straight-A student.

Setelah seakan mati suri sekian lama dari radar mainstream, dengan semakin banyaknya nama rapper dan beatmaker lokal yang naik ke permukaan, releasing their tapes, doing gigs here and there, dan crowd yang semakin apresiatif, I think it’s safe to say our local Hip Hop scene is on the rise again and Ariel Nayaka is proud to be part of it. Menghabiskan masa pubernya di Houston, Texas, cowok 22 tahun ini mengaku sudah terekspos pada kultur Hip Hop sejak dini, namun album 50 Cent lah yang menjadi awal dari segalanya. “Basically gue lagi road trip sama keluarga dan stuck di mobil selama 12 jam lebih. Sepanjang perjalanan, hiburan gue cuma album 50 Cent yang Get Rich or Die Tryin’. That was also the first time I ever listened to Gangsta Rap and I was hooked on it immediately. Album itu yang membuka pintu buat gue untuk eskplor Hip Hop, tapi album yang benar-benar mendorong gue untuk mulai nulis lirik adalah album Eminem yang The Eminem Show,” ceritanya.

Sempat main di genre metal dan post-hardcore emo, minatnya pada Hip Hop bangkit lagi saat ia kembali ke Jakarta. Secara otodidak dari video YouTube, ia mulai mempelajari proses rekaman dan menulis lirik sendiri di atas free beats yang ia dapat di internet lalu mengunggahnya ke SoundCloud. After some singles, videos, and one mixtape, tahun ini dengan bangga Nayaka mempersembahkan mixtape anyar berjudul Curriculum Vitae. Seperti yang disugestikan oleh judulnya, album berisi 12 track ini adalah rangkuman dari skill yang dimilikinya. Berkolaborasi dengan beberapa rapper dan beatmaker sebayanya seperti Ben Utomo, Scamy, dan Greybox, Nayaka menunjukkan bermacam warna Hip Hop dan tema lirik, mulai dari old school, new school, R&B, hingga trap, yang semuanya dikemas dengan lafal Inggris yang fasih, wordplay yang asik, dan produksi yang rapi.

To complete this exciting year, single terbarunya bersama produser Emir Hermono yang bertajuk “3Am In Jakarta” dengan video yang ia rekam sendiri menjadi topik viral, menarik respons positif, dan mengantarkan namanya ke pendengar yang lebih luas tak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dengan tampil di Good Vibes Festival, di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu. Not stopping for rest and relax, he’s already got so much more to show and we can’t wait for it.

img_5054

So, what are the musical influences for you?

 

Kalau musik secara general, gue akan sebut Michael Jackson. Gue ingat nonton live performance dia bawain “Smooth Criminal” when I was 3, straight up from Laser Discs. Tapi kalau Hip Hop, pasti berubah setiap minggu, haha. Usually I’ll listen to the “new age hip hop” era in the States seperti Lil Yachty, Lil Uzi Vert, Playboi Carti. But then again there are also those moments where I feel like I need me some Bryson Tiller, Partynextdoor, Drake vibes as well. And those melodic sappy ones have been influencing me HEAVY lately.

cv

Tell me about Curriculum Vitae, apa konsep utama dari album ini?

 

Jadi Curriculum Vitae ini dibuat dengan konsep “This is my CV into the music industry”, that’s why I’ve got a couple different type of “Hip Hop Styles” in one body of work to show my diversity and overall sounds that I am capable of. Lagu pertama yang gue bikin yang eventually masuk ke album direkam sekitar April 2015.

Waktu itu gue sebetulnya belum berencana rilis mixtape/album karena di Januari 2015 gue baru ngerilis mixtape yang judulnya To Each His Own. Tapi pas summer 2015, gue ke Jerman selama setengah tahun dan gue bawa recording equipment gue ke sana. I travelled around Europe with my friends, and along the way I took in influences from my surroundings and applied them to my music.

Sekitar 70% rekaman vokal di album ini gue kerjain di Eropa. And as for the album cover, it was a picture of a piece of the Berlin Wall in the East Side Gallery that simply said “Curriculum Vitae”. Itu foto gue literally snapped with my iPhone, sent it to my sister to edit a little, and BOOM! That’s the album cover, haha.

Gimana biasanya proses songwriting berlangsung buat lo dari awal sampai jadi?

I always get confused everytime anyone asks me this question, because its always different every single time. Sometimes someone would send me a beat and I’ll just write lyrics to that beat and I’ll record. But some other times I could just be anywhere and I’d get ideas and I would write them down in my Notes app on my phone. Just rhymes and/or random topics. You’d be surprised to see how much idea I have just laying there on my Notes app lol. Then when I do have the time, I would try to use those ideas and mash it together with an instrumental that flows well with the lyrics. To me, the process of songwriting cannot be stuck in just one method of formula. You have to constantly experiment with new sounds/topics. Getting out of your comfort zone is very important, because at the end of the day YOU HAVE to sound different than your peers.

Apa opini lo soal skena Hip-Hop lokal saat ini?

 

The Hip Hop scene in Indonesia is GROWING FASTER AND FASTER! The culture is moving really fast and I see it growing faster than it did with EDM back around 2010-ish. Banyak banget rapper baru yang muncul setiap bulannya and that’s awesome! Sekarang juga ada beberapa Hip Hop events di Jakarta di mana lo bisa ngeliat producer, rapper, DJ hanging out in one place as friends and vibing with one another. Cul De Sac is a collective of very talented young producers and DJs who make events as well. You can probably say that these guys are the ones that are running the underground Hip Hop scene in these weekly parties.

 

What’s the career highlight so far? Yang gue tau tahun ini lo ikut perform di Good Vibes Malaysia, how was it?

 

YES actually so far, performing in Good Vibes alongside Emir Hermono was a really crazy experience. Gue bikin lagu “3AM In Jakarta” bareng dia beberapa bulan lalu dan ternyata lagu ini lumayan booming di Kuala Lumpur, to the point that it actually got radio airplay. Lucunya, pas kita bawain lagu itu di Good Vibes, there were actually people singing and rapping along to the EXACT lyrics. Itu momen yang gila buat gue karena kalau dipikir, gue nulis lirik lagu itu di rumah gue di Jakarta, tapi gue bawainnya di negara lain dan orang-orang nyanyiin liriknya. That feeling right there is what I’ll always crave and that’s the reason that I make music now.

 

Selain musik, apa aja kegiatan sehari-hari lo?

MASIH KULIAH MAN! I mean it’s my last semester but I need to get this out the way first so I can focus on this music 100%. On a daily basis I usually just wake up, go to the gym, go back home and usually the homies would want to hang at my place. My place is where I do all of my recordings and usually we would all just hang out eventually come up with ideas for music.

What’s your dream collaboration?

 

Yo! If could choose anyone, I would want to have a song with Travis Scott on the hook, me doing 2 verses, Drake doing the last verse, and the overall production by Kanye West and Metro Boomin. Terus have DJ Khaled promote it HAHAHA! If I could get that done, I would die happily LOL.

Apa rencana selanjutnya?

Sekarang gue lagi ngerjain beberapa tracks bareng beberapa producers. Bantuin Emir Hermono di album barunya. I’m doing a joint EP with some very talented producers that I can’t tell u about right now and overall I’m just dropping music here and there. Just keep up on my social media accounts cause every announcement I make will go through there.

img_5038

Foto oleh: Willie William.

https://soundcloud.com/ariel-nayaka

IG: @ArielNayaka

Twitter: @ArielNayaka

YouTube: youtube.com.arielnayaka

Snapchat: arielnayaka

 

On Stage: STUDIORAMA Live #6

Sejak pertama kali digelar tahun 2011 silam, STUDIORAMA Live yang digarap oleh kolektif Studiorama bisa dibilang telah menjadi barometer dan ajang showcase karya audio dan visual dari aksi-aksi musik paling fresh dan menjanjikan yang ada di skena musik lokal saat ini, tak terkecuali dalam perhelatan keenamnya pada hari Sabtu, 19 November 2016 lalu. Bertempat di Rossi Musik, Fatmawati, Jakarta Selatan, tahun ini STUDIORAMA Live turut didukung oleh British Council dan berhasil memboyong bintang tamu internasional pertamanya, which is trio electro pop asal Inggris, Kero Kero Bonito, untuk melengkapi line-up yang juga terdiri dari band-band lokal seperti Circarama, Ikkubaru, dan Heals.

circarama-kkb-2
Circarama

            Saat tiba di Rossi sekitar jam 7 malam, Circarama yang merupakan kuartet psych rock telah memulai set mereka yang turut diiringi oleh visual menarik dari Rafaela Lisa. Yup, dalam gelaran keenam ini, Studiorama kembali mengajak band yang akan tampil untuk berkolaborasi dengan para visual jockey untuk menghadirkan sajian audio dan visual yang apik. Bersama visualisasi trippy dari Rafaela Lisa, Circarama pun sukses membuka gig ini dengan aksi seru dalam membawakan racikan psych, folk, dan rock dari album mini mereka Limustaqarrin Laha, termasuk single terbaru mereka yang bertajuk “Porcelain Sky”.

ikkubaru-kkb-2
Ikkubaru

            Selesai menyaksikan Circarama dan menunggu band selanjutnya bersiap tampil, tampaknya crowd semakin ramai dan ya, the on the spot ticket was sold out. Beberapa calon penonton pun harus gigit jari dan menunggu di lantai bawah. Tak hanya memenuhi Rossi, crowd juga menyesaki area Mondo by The Rooftop di mana deretan disc jockey ibu kota yang terdiri dari Django, Gerhan, dan komplotan W_Music siap menghibur dengan set eklektik masing-masing. Setelah preparasi sekitar 30 menit, band kedua, Ikkubaru, pun siap tampil di atas panggung. Berkiblat pada genre musik pop elektronik Jepang dekade 90-an yang lazim disebut City Pop, kuartet asal Bandung ini sebelumnya telah lebih dulu sukses di Jepang dengan beberapa kali menggelar tur dan merilis album berjudul Amusement Park. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui mengapa mereka dapat diterima dengan mudah oleh publik Jepang. Dalam penampilan perdananya di STUDIORAMA Live ini, mereka berhasil tampil atraktif dalam membawakan materi orisinal plus satu lagu cover “Star Guitar” milik The Chemical Brothers yang turut dperkuat visual dari Anggun Priambodo dan beberapa penari latar yang membawa lightstick ke atas panggung.

ikkubaru-kkb-1
Ikkubaru

            Setelah Ikkubaru menuntaskan penampilannya, crowd pun banyak yang beringsut memenuhi bibir panggung karena setelah ini adalah giliran Kero Kero Bonito (KKB). Jauh-jauh datang dari London, KBB yang terdiri dari vokalis Sarah Midori Perry serta duo produser Gus Lobban dan Jamie Bulled ini tampil tidak mengecewakan. Walau sempat ada masalah teknis di lagu pertama, tak lantas membuat mereka mati gaya, dengan aura kawaii yang kental, Sarah pun berkomunikasi dengan crowd sebelum melanjutkan penampilan mereka membawakan materi-materi menyenangkan dari album Intro Bonito (2014) dan Bonito Generation (2016). Rimbawan Gerilya yang dipercaya membuat visual untuk mengiringi KKB pun berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Setiap lagu memiliki visual masing-masing yang mewakilinya dan membuat musik synth-pop KKB yang terinspirasi dari J-pop, dancehall, dan musik video game semakin terasa hidup! Aksi seru yang membuat penonton melompat seperti anak kecil kebanyakan gula dan beberapa gimmick pemancing senyum di lagu-lagu seperti “Flamingo”, “Graduation”, dan “Pocket Crocodile” membuat waktu seakan begitu cepat, and we want it little bit longer, sehingga tak heran saat KKB menuntaskan set mereka dengan single terbaru “Trampoline”, penonton langsung meneriakkan encore yang kemudian dipenuhi oleh KKB dengan senang hati.

foto-utamakkb-kkb-3

            Usai KKB akhirnya benar-benar menghilang ke backstage, bukan berarti STUDIORAMA Live #6 berakhir begitu saja, karena masih ada satu penampilan lagi dari Heals, kuintet nu-gaze asal Bandung yang terkenal lewat single mereka, “Void”, dengan wall of sounds penuh oleh distorsi gitar, reverb agresif, dan vokal mengawang yang mengingatkan pada band-band seperti Tokyo Shoegazer, My Vitriol, dan Sunny Day Real Estate. Diiringi oleh visual dari Ramaputratantra, Heals berhasil menutup STUDIORAMA #6 dengan gemilang. Sembari menunggu dan menerka band apa lagi yang akan ditampilkan dalam STUDIORAMA Live berikutnya, kita pun bisa menikmati STUDIORAMA Sessions terbaru dari kolaborasi Heals x Ramaputratantra dan Ikkubaru x Anggun Priambodo di kanal YouTube Studiorama.

heals-kkb-2
HEALS

Foto oleh: Norman Permadi // @xxnorm

 

Top of the Pops, An Introduction of PC Music

Ketika generasi Tumblr meredefinisikan musik pop dengan cara yang penuh ironi, gender play, over the top cuteness, dan racikan elektronik yang undeniably catchy dalam bentuk PC Music, kita mungkin sedang menyaksikan lahirnya fenomena kultur pop era post-internet yang mengaburkan garis tipis antara URL dan IRL.

Bagi mayoritas orang, eksplorasi akan selera musik mereka berawal dari musik pop alias musik populer apapun yang sedang diputar non-stop di radio atau televisi ketika mereka beranjak besar, lagu-lagu easy listening yang umumnya bercerita tentang cinta dan hal banal lainnya dalam hidup yang dikemas dalam aransemen catchy dan mudah menempel di kepala dan disajikan oleh anak muda dengan physical attractiveness yang memenuhi beauty standards era musik itu dirilis. For me, it was Spice Girls & Britney Spears kind of girls yang menjadi simbol dari musik pop di masa kejayaan MTV saat saya menuju masa remaja. Musik pop adalah titik nol sebelum perlahan saya mengenal berbagai genre musik lainnya dan memasuki fase music snob yang membuat saya seolah menjadi “anak durhaka” dengan menganggap musik pop sebagai hal yang cheesy dan sama sekali tidak keren lagi.

Pop music used to be everything back then, namun semua berubah ketika kita memasuki abad 21 dengan keengganan terhadap hal-hal yang dianggap mainstream. Kita telah melihat kualitas dan popularitas musik pop memasuki titik jenuh yang ditandai oleh demam reality show yang menghilangkan aura mistis bintang pop kesayanganmu, berbagai talent show yang mencetak bintang pop secara generik, ketika Britney mengalami mental breakdown dan diva pop lainnya meninggalkan citra girl next door mereka untuk tampil seprovokatif mungkin demi tidak tergilas Lady Gaga, invasi K-Pop ke seluruh dunia, dan saat Jepang menciptakan bintang pop virtual seperti Hatsune Miku. Pop seakan tidak lagi menjadi hal yang relevan dan Electronic Dance Music menggantikan posisinya sebagai genre musik paling dominan secara global saat ini.

Meski demikian, pada kenyataannya, musik pop tidak pernah mati. Ia hanya bertransformasi mengikuti selera pasar seperti yang lantas ditunjukkan oleh Katy Perry dan Beyoncé. Ketika pop tradisional dianggap hal yang tabu, musik pop pun menemukan avatar baru lewat sosok-sosok seperti Charli XCX, Lorde, Lana Del Rey, dan Grimes dengan citra dan musik yang dinilai lebih edgy dibanding pendahulu mereka. Namun, baru ketika Taylor Swift menanjak naik dan Carly Rae Jepsen muncul dengan “Call Me Maybe” yang luar biasa catchy dan unapologetically pop, kita seolah tersadar jika we actually miss the cheesy happy go lucky sensation of it dan musik pop somehow terasa make sense again sekaligus menimbulkan pertanyaan besar: “Seperti apakah wajah musik pop di era post-internet sekarang ini, ketika semua orang berusaha menjadi yang paling intelek dan avant-garde?”

The unlikely answer secara mengejutkan datang dari London dalam wujud PC Music, sebuah net label/kolektif musisi elektronik yang digagas oleh seorang produser bernama A. G. Cook yang bermula dari sebuah akun Soundcloud di tahun 2013. Secara gamblang, PC Music seperti yang diisyaratkan namanya berfokus pada musik dance electronic yang seolah dihasilkan dari software musik rumahan minimalis dengan inspirasi utama dari cyberculture seperti Tumblr, GIF, 4chan, maupun desain grafis klise yang seolah berasal dari Windows 1995 yang impressively bad.

Secara musikal, PC Music mengambil influens dari  90’s Pop, R&B, trance, electro house, dan Eurotrash yang dipadukan dengan unsur kawaii dan artifisial dari K-pop dan J-pop dengan manipulasi vokal feminin high-pitch yang sudah diedit habis-habisan hingga nyaris seperti suara robot. Tema yang dimuat dalam lirik lagu (kalau pun ada) biasanya jika tidak lagu cinta dengan kalimat klise yang seperti diambil dari buku harian anak 12 tahun atau tentang budaya konsumerisme seperti label fashion dan makeup yang dikemas secara ironis. Jika semua penjelasan tersebut gagal memberimu gambaran soal apa itu PC Music, tolong bayangkan jika lagu “Barbie Girl” milik Aqua di-remix oleh Kyary Pamyu Pamyu dengan video berupa mash-up dari potongan klip Kim Kardashian, Clueless, video bayi hewan, dan font yang dibuat dari WordArt. Secara singkat, PC Music adalah musical equivalent dari video Fluxcup dan internet jokes seperti yang diusung oleh @iCaltext. Its confusing and obnoxious, yet its so incredibly pop and refreshing at the same time.

Di awal kemunculannya, info tentang PC Music masih sangat minim. Mereka memberikan informasi seminimum mungkin tentang siapa saja yang terlibat di dalamnya dan membatasi interaksi dengan jurnalis sehingga menciptakan kesan jika hanya orang-orang tertentu yang boleh mengakses musik mereka. Hal itu hampir mirip ketika Witch House pertama kali muncul dari kultur Tumblr sekitar 2010 lalu. Sama seperti para musisi Witch House yang memakai nama alias yang nyaris tidak bisa di-googling, para artis di PC Music juga merupakan kumpulan persona dengan nama alias dan ultra-cute image yang terinspirasi dari Internet slang seperti Lipgloss Twins, easyFun, Lil Data, dan Princess Bambi yang menyamarkan fakta jika mayoritas orang di baliknya adalah para lelaki tulen. Taktik tersebut sekali lagi berhasil membangun nuansa misterius dari masa-masa sebelum Google dan menjadi click bait sempurna bagi mereka yang selalu ingin menjadi yang pertama menemukan musik baru. Thus, the hype was born.

            Respons yang diterima untuk PC Music adalah pro dan kontra. It’s either you love it or you really hate it. Namun, ketika bulan Maret tahun lalu A. G. Cook memboyong para artisnya ke Amerika untuk showcase khusus di South by Southwest, merilis kompilasi resmi pertama mereka dengan tajuk PC Music Volume 1, dan tampil di Red Bull Music Academy di Brooklyn dengan review yang sangat positif, hal itu ibarat legitimasi jika PC Music adalah sesuatu yang nyata dan tidak lagi sekadar menjadi record label, it’s transcend into subgenre and subculture. In the end of the day, apakah PC Music adalah hal yang legit atau hanya internet prank tetap menjadi hal yang subyektif dan bahan debat yang tak ada habisnya. Namun, jika hal itu bisa membuat kita kembali berfantasi dalam perfect glossy world dari musik pop lagi, we’re on it.

Meet the culprits:

agcook2

A.G. Cook

Sebagai the founding figure of PC Music, sosok lelaki kurus berkacamata dengan rambut model jamur ini adalah sosok yang bertanggungjawab atas racikan elektronik yang merupakan versi hyperreal dan distortif dari mainstream pop yang menjadi cetak biru bagi PC Music. Ia memulai kariernya bersama Danny L Harle dalam duo Dux Content yang berfokus pada eksperimen sounds dan ritme dalam musik elektronik, sebelum akhirnya bekerjasama dengan Sophie dan Hannah Diamond yang menjadi cikal bakal PC Music di Agustus 2013. Mengambil posisi sebagai A&R, ia terus memperkenalkan nama-nama baru di roster-nya di samping merilis karya-karyanya sendiri yang diakuinya terinfluens oleh K-Pop, J-Pop, dan subkultur gyaru dari Jepang. Dengan segala pencapaian personal dan PC Music, ia pun disebut sebagai salah satu orang yang meredefinisikan style dan youth culture di tahun 2015 menurut majalah Dazed.

Listen This: “Keri Baby”, “Beautiful”, “Drop FM”.

sophie3

SOPHIE

Di awal kemunculannya di tahun 2013 setelah merilis single “Bipp/Elle” yang mendapat atensi dari kritikus musik karena menukar bunyi drum tradisional dengan bassline yang bouncy dan efek vokal ber-pitch tinggi, SOPHIE menyembunyikan rapat identitas aslinya dengan cara menyamarkan suaranya saat interview dan menyewa seorang drag queen untuk berpura-pura menjadi dirinya dalam sebuah live DJ set sementara ia sendiri berpura-pura menjadi seorang bodyguard. Namun, ketika eksperimen musiknya yang terinfluens kultur boyband/girlband era millennium semakin mendapat apresiasi luas dengan puncaknya single “Lemonade” dipakai dalam iklan McDonald’s, Sophie pun tidak bisa lagi tampil anonymous dan membeberkan fakta jika ia adalah Samuel Long yang sebelumnya tergabung di band bernama Motherland. Walaupun secara resmi bukan bagian dari PC Music, ia turut membidani kelahiran label tersebut dan berkolaborasi dengan para artisnya. Sebagai salah satu nama yang paling high-profile dari sirkuit PC Music, ia telah bekerjasama dengan Kyary Pamyu Pamyu, Namie Amuro, hingga Madonna untuk lagu “Bitch I’m Madonna” dan dikabarkan sedang bekerjasama dengan Charli XCX untuk album terbarunya.

Listen This: “Bipp”, “Lemonade”, “Elle”.

qt

QT

I hate to inform you this, tapi sosok yang selama ini kamu percaya sebagai QT di musik video dan promotional image ternyata bukanlah sosok yang sebenarnya. QT pada hakikatnya adalah sebuah enigma tentang sosok idola pop sempurna hasil pikiran bersama A. G. Cook dan SOPHIE yang meminjam tubuh Hayden Dunham, seorang performance artist asal Amerika yang berpose sebagai QT dan tampil lip-sync di acara live. Semua bermula ketika Dunham mencari tahu tentang A. G. Cook dan PC Music dan mengajak kerjasama membuat lagu untuk mempromosikan energy drink bernama QT. Hasil kolaborasinya adalah “Hey QT”, sebuah lagu electropop rilisan XL Recordings yang merupakan perpaduan antara musik pop awal 2000-an, lagu Dance-Dance Revolution, dengan lirik repetitif yang sugary dan infectious. There’s something magical about that song yang terasa intentionally cheesy and campy, namun meninggalkan after taste yang menempel di benakmu untuk waktu yang lama dan menghipnotismu untuk mendengarkannya lagi dan lagi. Don’t say we didn’t warn you.

Listen this: “Hey QT”.

hannahdiamond24004141

Hannah Diamond

Berbeda dari artis PC Music lainnya yang menyembunyikan sosok mereka, Hannah Diamond dengan sengaja menampilkan wajahnya di cover art, tepatnya the heavy retouched version yang merupakan bagian dari image yang sengaja ia bentuk sebagai sindiran terhadap budaya pop dan industri fashion. Dengan latar belakang fashion communication dan styling, ia memulai karier sebagai internet celebrity, seniman, dan  menjadi bagian dari Diamond Wright yang membuat materi promosi untuk makeup brand Illamasqua serta menjadi co-editor dan director of photography untuk LOGO Magazine. Perpaduan estetika kawaiiness dan streetwear London miliknya juga tercermin dalam single miliknya, “Attachment”, yang dideskripsikan sebagai “bubblegum hyper reality” dan “Pink and Blue” yang merupakan lagu dengan ritme lullaby dalam efek sintetis yang dinyanyikan dengan vokal childlike. Kedua lagu tersebut menjadi lagu yang melambungkan nama PC Music dan membuatnya menjadi the cover girl of PC Music.

Listen This: “Attachment”, “Pink and Blue”, “Every Night”.

gfoty

GFOTY

GFOTY yang merupakan singkatan dari Girlfriend Of The Year adalah nama alias dari Polly-Louisa Salmon, seorang blogger London kelahiran 1990 yang bernyanyi dengan gaya spoken word tentang pesta dan patah hati dengan sarkastik di antara melodi elektronik yang glitchy dan infectious. Menyebut R. Kelly sebagai influens terbesarnya, ia merilis Secret Mix yang berisi cover version dari lagu-lagu Celine Dion, Toni Braxton, dan Carly Simon sebelum berkolaborasi dengan Ryan Hemsworth dengan mengisi vokal di lagu “My Song” yang masuk ke kompilasi EP shh#ffb6c1 miliknya. Dengan selera humor sarkas dan ironically cute aesthetic yang kental, persona dirinya tak hanya tercermin lewat musik, tapi juga Instagram miliknya yang dipenuhi inspirational quotes dan selfie konyol.

Listen this: “Bobby”, “Friday Night”, “Don’t Wanna / Let’s Do It”.

liz

LIZ

Liz yang bernama lengkap Elizabeth Abrams sebetulnya bukan nama yang benar-benar baru. Ia telah membuat musik sejak berumur 13 tahun sebelum bergabung di bawah label Mad Decent milik Diplo dan merilis single berjudul “XTC” di tahun 2013 dan tur bersama Charli XCX di tahun yang sama. Tahun berikutnya, ia merilis EP Just Like You dan bekerjasama dengan Pharrell untuk soundtrack Amazing Spider-Man 2 sebelum rehat sejenak dari dunia musik. Tahun lalu ia kembali dengan lagu “When I Rule the World” garapan SOPHIE yang menjadi jingle iklan terbaru Samsung. That exact moment ketika kamu mulai menonton video “When I Rule The World” yang tanpa basa-basi dibuka oleh eksklamasi Liz yang memakai tiara di kepala, tracksuit, dan image kartun yang flashy, kamu tahu kamu akan mendapatkan sajian musik pop dengan huruf kapital P-O-P. Walaupun tidak berafiliasi langsung dengan PC Music, namun semua hal yang ada di lagu dan video ini meneriakkan kata pop dan estetika PC Music secara jenius. Dari mulai kamar tidur berisi boneka, animal print, emoji dan lirik materialistis, aransemen elektronik super catchy garapan SOPHIE, hingga sosok sang penyanyi sendiri yang mengingatkan kita akan karakter rich spoiled brat di film-film teenage rom-com 90-an, semuanya mengingatkan pada masa keemasan Britney Spears, and you know you love it.

Listen This: “When I Rule The World”, “XTC”, “Hush”.

On The Records: The Trees And The Wild

Ketika tampil menghiasi edisi perdana NYLON Indonesia yang terbit Januari 2011 silam, The Trees and The Wild (TTATW) merupakan trio folk-post rock pendatang baru dengan sebuah debut album gemilang bertajuk Rasuk yang bisa dibilang berhasil menaikkan batasan dan derajat musikalitas album indie Indonesia di masa itu dan seterusnya. Mendapat apresiasi positif dari publik dan media hingga disebut sebagai salah satu band Asia yang wajib disimak versi majalah TIME di tahun 2011, it’s only natural jika kita bertanya-tanya akan seperti apakah kelanjutan dari awal yang menjanjikan tersebut. After all, album kedua adalah sebuah pertaruhan dan tantangan pribadi bagi setiap musisi dengan album perdana yang sukses. Apakah mereka memilih bermain aman di resep yang sama atau justru membanting kemudi ke arah yang sama sekali berbeda? Band asal Bekasi yang terbentuk dari 2005 ini pun menjawabnya setelah tujuh tahun kemudian, dengan sophomore album bertajuk Zaman, Zaman.

s4fq-m8n

            Rentang waktu tujuh tahun bukan tanpa alasan dan hambatan. Gitaris Iga Massardi mengundurkan diri, meninggalkan Remedy Waloni (vokal/gitar) dan Andra Budi Kurniawan (gitar) sebelum akhirnya TTATW resmi bertransformasi menjadi unit lima personel dengan bergabungnya Charita Utami (keyboard/synth/vokal), Hertri Nur Pamungkas (drum), dan Tyo Prasetya (bass). Ada masa di mana seolah TTATW menarik diri dari publik lokal dan fokus tampil di luar negeri, mulai dari region Asia Tenggara, hingga negara Eropa seperti Jerman, Finlandia, dan Estonia, merilis beberapa materi baru seperti album mini Tuah/Sebak di 2012 dan Ekati di 2014 yang rilis terbatas di Helsinki, Finlandia, serta beberapa single seperti “Empati Tamako” dan “Saija” yang tidak pernah dirilis resmi namun dimainkan di atas panggung, sebagai teaser untuk warna baru musik mereka yang lebih ambisius yang akhirnya disempurnakan ke dalam Zaman, Zaman yang telah dirilis bulan September kemarin via Blank Orb Recordings.

            Berdurasi tujuh lagu dengan durasi sekitar 52 menit, Zaman, Zaman merupakan sebuah album experimental indie rock dengan kekuatan utama aransemen eksploratif dan meruang di mana setiap detail instrumen dan vokal diperhatikan secara cermat dengan proses mixing yang sama jelinya. Terasa penuh dan luas di saat yang sama, Zaman, Zaman adalah tipe album yang baiknya didengarkan dari awal secara runut sampai selesai dengan soundscape naratif dan sinematik di setiap lagu yang akan membawa emosi dan imajinasimu terbang liar ke negeri-negeri dalam sebuah epos atau hikayat. Dikerjakan dengan semangat Do It Yourself yang kental, mayoritas lagu yang ada mungkin sudah beberapa kali kamu dengarkan versi demo atau versi live-nya, namun tentu mendengarkan hasil akhirnya adalah hal yang sama sekali berbeda dan di luar ekspektasi. Di akhir hari, terlepas dari segala hype, perasaan overestimate maupun underestimate, dan segala prasangka lainnya, TTATW berhasil menjawab penantian selama tujuh tahun tersebut dengan caranya sendiri dan membuka zaman baru bagi arah bermusik mereka and it looks damn glorious.

Tell me about the dynamics between members, dengan bertambahnya kepala, bagaimana cara kalian menyatukan ide dan ego selama proses pembuatan album ini? Tidak terlalu sulit untuk menyatukan ide karena kita bermusik sudah 15 tahun lebih jadi kita sudah memiliki pengalaman, sudah tahu kemampuan masing-masing dan arah musik yang ingin kita tuju. Dan rasanya kita sudah ketuaan untuk memikirkan ego. Yang hanya kita pikirkan adalah bagaimana bisa membuat karya terbaik kita.

Bicara soal influens mungkin agak klise, tapi adakah hal-hal di luar musik yang memengaruhi emosi di album ini? Pastinya hal di luar musik memengaruhi musik yang kita buat. Justru itu yang menjadi sumber inspirasi musiknya. Tidak hanya dari sisi yang paling klise seperti lirik, tapi dari sisi cara kerja kita dan estetika dari albumnya pun secara tidak langsung mempengaruhi proses pembuatan album ini. Salah satu alasan kenapa kita memilih untuk memiliki day job adalah agar kita bisa mendapatkan inspirasi dan pengalaman lain tersebut. Membuat musik menjadi lebih mendalam dan bukan sekadar membuat orang lain sing along atau menjadi terkenal.

Mayoritas materi di album ini sudah sering dibawakan sebelumnya atau dirilis dalam berbagai versi, bagaimana cara kalian memilih lagu mana saja yang akhirnya masuk di album ini? Berdasarkan mood, alur, dan fungsi dari lagu itu sendiri. Ada lebih dari 3 lagu yang tidak masuk karena setelah kita dengar secara keseluruhan tidak sesuai dengan warna dan alur yang kita inginkan, yang mungkin orang lain tidak bisa melihat. Kita ingin membuat sesuatu yang indah namun membumi. Di satu sisi maksimalis tapi di sisi lain minimalis.

Kenapa “Zaman, Zaman” yang dipilih menjadi single pertama dan apa ide untuk videonya? Karena kita rasa “Zaman, Zaman” bisa menjadi entry point yang baik untuk menelusuri materi yang lain. Idenya dari lagunya sendiri. Idenya untuk mengekspresikan karakter lagu tersebut.

DI beberapa lagu, vokal Charita lebih dominan dibanding Remedy, dan somehow, saya merasa vokal bagi TTATW saat ini adalah bagian dari instrumen yang berdiri sejajar dengan instrumen lain. Ada pertimbangan khusus untuk itu? Iya, kita menyesuaikan dengan kebutuhan lagu. Dan kita sudah sadar akan karakter vokal Remedy dan Charita dan bagaimana memadukan dua suara tersebut. Semua jenis mixing telah kami coba. Vokalnya di depan, di belakang, bahkan sampai yang vokalnya kita edit total menjadi seperti choir, semua kemungkinan kita coba. Dan yang terbaik dari yang terbaik adalah yang akhirnya ada di album. Di dalam tiap lagu pun, level vokal kita sesuaikan dengan staging yang ingin kita fokuskan dan yang ingin kita arahkan, di bagian verse atau chorus atau interlude dan lain lain. Seperti vokalnya “dimundurkan” sedikit agar beat bisa “muncul” dan staging-nya bisa kita bawa ke arah baru. Untuk sebagian orang khususnya yang sangat awam terhadap musik, mungkin memang kurang paham sepertinya dan tidak terbiasa dengan mixing tipe seperti ini (walaupun ada banyak sekali musik yang sudah menerapkan metode seperti ini) tapi kita tidak terlalu pikirkan. Yang kita pedulikan hanya bagaimana membuat lagu-lagu ini menjadi versi yang kita rasa terbaik.

 

Menurut kalian sendiri, apa kondisi ideal untuk mendengarkan album ini secara maksimal? Kita berharap album ini bisa didengarkan di kondisi apapun, sadar maupun tidak. Dari sisi teknis, kebetulan album ini di-master oleh Bo Kondren, salah satu engineer senior yang sudah banyak menangani album electronic dan experimental seperti Moderat, Caribou, A Winged Victory for the Sullen sampai Ryuichi Sakamoto. Jadi kami rasa album ini baik didengarkan di semua perangkat, tapi yang pasti tidak speaker laptop. Tapi mungkin dari personal preference, album ini lebih ke album yang baik didengarkan via speaker bukan headphone. Karena dengan karakter sound seperti album ini, ada jarak dari speaker dan telinga pendengar bisa menambah efek lain.

Jika bisa memilih seorang visual maker siapa saja untuk membuat Zaman. Zaman sebagai satu kesatuan sinematik, siapa yang akan kalian pilih? Terrence Malick, David Lynch, dan Roger Deakins. Karya mereka sering kita putar saat tracking dan saat menulis.

Apa impian/target selanjutnya yang ingin dicapai? Bisa membuat album ketiga.

dscf0331-640x960

 

All Time High, An Interview With The Sam Willows

Dikenal berkat racikan musik dan vokal penuh harmoni dengan lirik yang menggugah, kuartet indie pop The Sam Willows berhasil mengharumkan music scene di Singapura dan kini bersiap memperkenalkannya ke seluruh dunia.

Terbentuk di bulan Mei 2012, The Sam Willows yang terdiri dari kakak beradik Benjamin (vokal, rhythm guitar) dan Narelle Kheng (vokal, bass) beserta dua sahabat mereka Sandra Riley Tang (vokal, keyboard, perkusi), dan Jonathan Chua (vokal, lead guitar) adalah salah satu band millennial yang meraih kepopuleran berkat profil YouTube mereka dengan 89 ribu subscriber dan total views lebih dari 8 juta. Disebut sebagai salah satu band Singapura paling bersinar saat ini dengan berbagai penghargaan dan nominasi yang diterima, mereka pun telah go international dengan tampil di berbagai acara keren seperti South by Southwest di Texas, Canadian Music Week, Korea Selatan, dan Australia, bahkan sebelum merilis debut album mereka yang bertajuk Take Heart yang dirilis tahun lalu oleh Sony Music Singapore. Berisi 9 lagu dan digarap bersama produser international terkenal seperti Harry Sommerdahl dan Steve Lillywhite, lewat album debut yang telah dinantikan ini, mereka bertekad meraih pendengar lebih luas, salah satunya adalah Indonesia.

“The food!” jawab Narelle dengan cepat saat ditanya hal favoritnya tentang Indonesia. “Favorit saya adalah ketika kami makan makanan Sunda di Bandung dengan semua gorengan usus dan paru, it’s so good,” lanjut gadis cantik tersebut yang langsung ditanggapi sang kakak Ben, “And martabak! With cheese and chocolate!” dengan tak kalah semangat saat kami bertemu di sebuah hotel bilangan Jakarta Pusat. Telah melewati satu minggu di Jakarta dan Bandung demi mempromosikan Take Heart yang kini juga dirilis oleh Sony Music Indonesia dengan schedule yang sangat padat, tak ada raut kelelahan di wajah mereka even di hari terakhir sebelum kembali ke Singapura. Dengan antusias dan penuh keramahan, The Sam Willows duduk bersama saya untuk mengobrol just like an old friends.

 

the-sam-willows-for-love-1

Jonathan Chua, Narelle Kheng, Sandra Riley Tang, Benjamin Kheng.

First thing first, dari mana nama The Sam Willows berasal?

Sandra: “Kalau mendengar nama Sam Willows, kamu mungkin akan bingung apakah ini nama seseorang atau satu band kan? Basically kami ingin punya semacam alter ego untuk merepresentasikan kami berempat sebagai satu orang, and the name is cool.”

Jon: “Lucunya, saat tampil di Kanada, kami sempat bertemu seseorang bernama Sam Willows yang juga mengaku sebagai penggemar kami. He is Caucasian male with red hair and a bit pudgy.”

Apa yang menjadi influens bermusik kalian untuk band ini?

Narelle: “Sebagai band, kami selalu berkembang. I mean, semakin dewasa, semakin banyak musik yang kami dengarkan. Untuk sekarang kami look up ke band seperti Little Mix karena mereka terdiri dari strong vocalists dan di saat yang sama kami juga terobsesi dengan The Chainsmokers. Namun, kalau dilihat dari akar musik kami, we’re actually very bluesy kinda band. Jon is super bluesy.”

Kalian telah tampil ke berbagai tempat, apa rasanya bagi kalian?

Jon: “Selalu ada kenikmatan tersendiri saat bisa travelling ke negara lain, karena kita tampil di audiens yang berbeda, we don’t know what to expect dan rasanya berbeda saat orang di negara lain bisa mengapresiasi musikmu.”

Ben: “Kami jadi bisa bertemu banyak fans yang tidak kami tahu sebelumnya, seperti di sini kemarin Sony Music menggelar meet and greet dan orang-orang datang, it’s cool, semua orang sangat ramah dan mereka ikut menyanyikan lagu kami dengan baik.”

Apakah kalian masih nervous saat tampil di tempat baru?

Sandra: “Iya, terkadang. Bagi saya pribadi, saya tidak pernah terlalu nervous sampai akhirnya kami tampil di show kami sendiri di Singapura sebulan lalu. Kami tampil di depan tiga ribu orang dan awalnya kami cemas apakah kami bisa memenuhi venue tersebut, but we did. Kami latihan selama dua bulan untuk satu hari itu dan sesudahnya kami tidur selama dua hari karena kami sangat lelah, but it’s so fun! Kami ingin bisa mengadakannya lagi di tempat-tempat lain, termasuk Indonesia.”

Dengan semua pencapaian yang kalian raih, apa yang menjadi momen paling berkesan bagi kalian?

Ben: “Bisa menggelar show kami sendiri adalah sebuah huge milestone bagi kami. Namu, bisa travelling ke Jakarta selama satu minggu juga sangat seru bagi saya karena kami tidak pernah membayangkan bisa berkarier sebagai musisi. Di Singapura, kamu diharapkan menjadi dokter, pengacara atau kerja kantor 9 to 5, so the fact kami bisa berpergian untuk bermain musik adalah sebuah big blessing.”

Narelle:Music scene di Singapura sedang berkembang cepat. Beberapa tahun ini banyak musisi lokal yang merilis album dan mendapat support, karena kami tahu bagaimana sulitnya menjadi musisi di Singapura yang sebelumnya tidak terlalu dianggap. Contohnya di Indonesia kalian sangat bangga dengan musisi lokal kalian, tapi di Singapura, sebelumnya musisi tidak dianggap sebagai proper job, jadi saat belakangan ini orang mulai datang dan mendukung adalah sesuatu yang luar biasa.”

Dengan adanya empat kepala dan ego yang berbeda, bagaimana proses berkarya kalian?

Narelle: “Terkadang kita punya lagu yang mengalir dengan sendirinya dan semua orang langsung setuju, tapi ada juga lagu yang harus melewati proses perdebatan. Its different song, different process. Tapi pada akhirnya kami hanya merilis lagu yang kami berempat suka.”

Bagaimana rasanya bekerja di bawah major label bagi kalian?

Jon:Okay, saya merasa memang ada stigma soal major label di seluruh dunia, tapi berdasarkan pengalaman kami, Sony Music sudah seperti keluarga. Entah itu Sony Music di Singapura, Malaysia, atau Indonesia, semua orang sangat ramah dan bekerja keras untuk membantu kami dan itu hal yang kami syukuri. Jadi menurut saya hal itu tergantung bagaimana hubunganmu dengan label. Kami bersyukur mendapat label yang peduli dan mendukung kami jadi kami juga terpacu untuk lebih baik.”

Ben: “Saya pikir sebagai musisi, terkadang kamu bisa menjadi selfish dan kehilangan arah tentang tujuan yang ingin kamu capai. Dan jika tujuan kamu adalah musikmu bisa didengarkan banyak orang, kamu harus mempercayai labelmu and have some conversation.”

Bicara tentang album debut Take Heart, apa yang menjadi tema utamanya?

Ben: “Ini adalah album pop tapi kami percaya the power of love. Tidak hanya romantic love ke pasangan, tapi cinta yang bisa mengubah dunia. Kalau kamu lihat berita yang ada sekarang, banyak hal mengerikan yang terjadi di dunia saat ini dan kami pikir salah satu solusinya adalah menunjukkan rasa cinta ke orang lain. Not a selfish love, but the same love that across the culture. Kita tidak bicara dalam bahasa yang sama, tapi kita sama-sama mencintai musik and love people, dan saya rasa kalau kita bisa menunjukkannya, dunia bisa lebih baik. So there’s a lot of kind of love di album ini.

Bagaimana untuk single “All Time High” yang kalian rilis untuk Indonesia?

Narelle: “’All Time High’ bercerita tentang relationship. Kami ingin bercerita soal key moments of relationship di mana mungkin salah satunya saat kamu bertengkar hebat dengan pasanganmu tapi hal itu karena kamu sangat peduli satu sama lain. The extreme level of loving someone, and that person is your all time high.”

 

Menyinggung soal extreme level, apa hal tergila yang pernah kalian dapat di socmed kalian?

Ben: “Orang-orang yang komen di socmed saya baik-baik saja, tapi Jon punya beberapa fans yang lumayan aneh, haha!”

Narelle: “Banyak yang bilang ke Jon: ‘I want to be your microphone’.”

Sandra: “Dan banyak hal lain yang sebaiknya tidak kita ucapkan di sini, haha!”

Jon: “Ya, saya pernah mendapat married proposal di Instagram.”

Sandra:No, no, no, it wasn’t just a proposal. Itu adalah akun Instagram yang khusus didedikasikan untuk pernikahan mereka.”

Jon:Yeah, bahkan saya sendiri tidak tahu jika saya telah menikah? Haha!”

Apa satu hal yang semua personel setujui dengan cepat?

Sandra: “Makan. Kalau kami bilang ‘let’s eat!’ semua pasti setuju, haha!”

Narelle:Yeah food is something that unites us.”

Jon: “Dan mereka selalu mempercayai saya untuk memesan makanan, karena terkadang terlalu lama untuk memesan satu per satu, biasanya saya yang memilih menu.”

Narelle:One thing we could agree on is Jon. Jon knows.”

Ben: “Dan satu hal lagi yang kami setuju: Sandra is always being late for anything.”

Sandra: “Terkadang saya datang duluan tapi ada saja kejadian yang membuat saya terlambat entah kenapa.”

Bahkan di Singapura sekalipun?

Ben:  “In whole universe! It’s global deal, she has to be late, haha!”

Apa rencana kalian setelah kembali ke Singapura?

Narelle: “Setelah ini kami akan terbang ke Malaysia untuk tampil bersama CHVRCHES, kemudian bersiap ke San Francisco, Los Angeles, dan Montreal untuk tampil di beberapa show. Minggu lalu kami mampir ke Sydney untuk mengerjakan sebuah lagu untuk album kami berikutnya yang akan dirilis tahun depan.”

180-behind-the-lenses-of-the-sam-willows-for-love-mv-te0ex

Heart on Their Sleeve, An Interview With The Submissives

Jangan terkecoh dengan nama dan penampilan mereka yang terlihat harmless, The Submissives menyembunyikan pesan subversif di balik lovesick indie pop.

Di atas panggung, The Submissives adalah band asal Montreal, Kanada yang terdiri dari 6 orang perempuan with matching dresses dengan dua orang vokalis yang setengah bergumam menyanyikan lagu-lagu indie pop beraransemen low-key yang mereka sebut sebagai lovesick pop. Namun, pada hakikatnya band ini bermula dari proyek solo seorang Deb Edison yang menulis dan merekam semua lagu yang ada di album debut Betty Told Me (2015) dan album baru yang akan dirilis bulan ini, Do You Really Love Me? yang akan dirilis oleh Fixture Records.

Berisi 15 lagu yang masing-masing berdurasi kurang dari tiga menit dengan judul-judul seperti “Perfect Woman”, “Dream Life”, dan “My Boyfriend”, sekilas mereka menyajikan fantasi patriarkal dari kehidupan wanita idaman di sebuah suburban yang sempurna, tapi seperti yang kita ketahui bersama, there’s always something sinister about that. “Nama The Submissives merujuk pada sikap pasif, patuh, taat, dan tunduk. Bagi saya, itu adalah sebuah sentimen yang ditujukan kepada kaum pria. It’s that feeling where you are sitting still and silent with a smile on your face, saying nothing, but that isn’t the way you feel inside,” ungkap Deb perihal nama yang mereka usung.

Pesan-pesan terselubung tersebut tak hanya muncul secara literal lewat lirik lagu, tapi juga secara visual. Dalam video terbaru untuk single “The Hum” yang digarap Zale Burley misalnya, Deb mengenakan white bride dress dalam beberapa menit awal yang terasa normal sebelum the video getting bloodier, sekali lagi menonjolkan tema love gone wrong andalan mereka. To see the bigger picture, Deb pun menjelaskan beberapa hal tentang proyek ini dalam email yang ia kirim dari Montreal.

the-submissives-linx-selby-2

Hai Deb, apa kabar? Di mana kamu sekarang dan apa yang kamu lakukan sebelum membalas email ini? Hi! I’m doing great today; I slept a lot last night. Great question! Saya sedang berada di kawasan bernama the Mile End di Montreal, Quebec, Kanada. Sebelum membalas email ini saya pergi mengirim surat dan membeli deterjen. Sekarang saya minum kopi sambil menulis email ini. 

Jadi bagaimana awal mulanya project solo ini berkembang menjadi format full band? Saya punya ide untuk bikin band dari berapa tahun lalu, namun belum sempat terlaksana. Saya menulis semua lagu untuk band ini dalam dua minggu terakhir November tahun lalu, which was a very sad and confusing time in my life. Saya menyelesaikannya di bulan Desember dan band ini mulai latihan Januari lalu. Having the songs performed live was always the dream!

Dari mana kamu mengumpulkan personel lainnya? Semua personel band ini adalah orang-orang yang menurut saya sangat berbakat dan menarik, dan tidak butuh waktu lama bagi kami untuk get it all together. Walaupun awalnya beberapa di antara kami tidak terlalu kenal satu sama lain, we’ve gotten much closer.

Boleh ceritakan show pertama kalian? Kami pertama kali tampil dalam acara bikinan sendiri di Montreal, tepatnya di lantai dua sebuah gedung di area yang agak terbengkalai tapi sering digunakan sebagai venue atau tempat jamming. Waktu itu kami merilis album Betty Told Me. Interiornya kami hias dengan lampu gantung, lilin, bunga, dan kain merah. Andre Charles Theriault membuka acara dan penonton menikmatinya dengan sangat tenang, considering it was just a voice and guitar in a room usually loud and unruly. Teman kami Neutral Fixation dari Massachusetts tampil sebelum kami. Being on stage after working so hard together for two months felt magical.  Band lokal Cheap Wig menutup show dengan liar, the crowd was drunk and lost in the strobe light at that point. The show went really well, it was a great night!

Apa saja yang menjadi inspirasi terbesar untuk band ini? Dua lagu yang saya dengarkan tanpa henti saat membuat album pertama adalah “In My Brain” oleh Badge dan “Mer Morte” dari band rock Montreal bernama Les Jaguars. Saya juga terobsesi pada sosok Joe Meek, seorang produser dan penulis lagu yang luar biasa. Lagu-lagunya terdengar sweet and dark di saat yang sama, you gotta learn about the man if you haven’t already! Saya juga suka apapun yang dirilis oleh label-label seperti Sublime Frequencies, Light in the Attic, dan Awesome Tapes dari Afrika.  Also, many thanks to the hero who runs the website Aquarium Drunkard, formerly the blog Ghost Capital.  So much more, but I will stop at that.  

0008100661_10

Bicara tentang album Do You Really Love Me? kalian juga akan merilisnya dalam format kaset, apakah itu cuma untuk gimmick atau bagaimana? Apa pendapatmu soal era musik digital/streaming saat ini? Merilis dalam format kaset bukan sekadar gimmick bagi saya, pengalaman merekam album dalam bentuk kaset adalah sesuatu yang luar biasa! Semua track dikompres secara natural dan menyatu dengan apik, it’s so fun and satisfying. I am addicted to tape technology. Saya tidak bisa berkomentar banyak soal era digital, karena saya pun merilis versi digital untuk semua lagu saya karena menurut saya rasanya menyenangkan jika album yang kamu buat juga bisa didengar orang di belahan dunia lain secara instan. Namun, saya tetap lebih memilih punya produk dengan bentuk fisik yang bisa kamu genggam. Tapes are great, but for me, releasing music on vinyl is the ultimate goal.

Bagaimana keadaan skena musik di Montreal saat ini? There is a lot of great music going on in this city at the moment! Kita semua bisa diuntungkan dengan membuat show yang mengajak band dan musisi dari genre yang berbeda dan memperkenalkan musisi baru yang mungkin belum pernah tampil live sebelumnya. I hope to see more non bar/official venues pop up in the future; I think it’s important to move out of our comfort zones. This is something I am really trying to work on myself…  I also hope to see cops staying out of the scene.

Selain musik, apa yang kamu lakukan sehari-hari? Saya bekerja di kafe, menggambar, bikin video, nonton bioskop, travel as much as possible, hang out with my cats and friends, walk my roommate’s dog, drink sparkling water, lie on my bed, sleep.

Apa  rencana selanjutnya? We are finally starting to practise after a big summer break! Kami akan merilis album tanggal 8 September di tempat bernama Club Balattou.  Di Oktober kami akan rekaman dengan local genius recording pro Garrett Johnson.  Hopefully we’ll release that one on vinyl!  For the future, I hope to learn to write songs together and really just jam out.

 

 

Band photos by Linx Selby.

http://submissives.bandcamp.com/

Midnite Cruise, An Interview With Neon Indian

Lewat album Vega Intl. Night School, Alan Palomo dari Neon Indian menawarkan kelas ekstra untuk sesi berdansa tengah malam. Sign us up, pretty please.

Saat tiba di sebuah restoran di daerah Panglima Polim pada suatu Senin malam, saya sebetulnya tidak sadar jika pria berambut ikal yang sedang asik menikmati makan malamnya di salah satu meja adalah Alan Palomo, not before dia membalikkan tubuh dan mengulurkan tangannya untuk menyapa saya. Produser dan multi-instrumentalist berumur 27 tahun tersebut adalah sosok utama di balik Neon Indian, sebuah unit indietronica asal Texas yang berawal dari bedroom project sebelum berkembang menjadi full band seperti sekarang. Lewat album debut bertajuk Psychic Chasms (2009) yang melahirkan beberapa hits seperti “Deadbeat Summer” dan “Should Have Taken Acid With You”, Neon Indian dengan racikan synthesizer yang terdengar dreamy dan summer-ish dianggap sebagai salah satu pencetus lahirnya demam chillwave di awal 2010-an, sebuah genre musik yang meskipun tidak bertahan lama tapi menjadi pengantar bagi berkembangnya musik-musik chill out a la Majestic Casual, sehingga rasanya agak surreal melihat sosoknya ada di depan mata.

            Empat tahun telah berlalu sejak perilisan Era Extraña, album kedua yang menginjeksikan bunyi shoegaze dan new wave yang lebih eksperimental dan gelap ke dalam musik Neon Indian, dan kini mereka datang ke Jakarta hanya sebulan setelah perilisan album ketiga yang berjudul VEGA INTL. Night School. Keesokan harinya, Alan dan rekannya akan tampil dalam konser besutan Prasvana yang menjadi show perdana Neon Indian di Indonesia sebagai bagian dari tur Asia promosi album tersebut. “Setelah hiatus yang cukup lama, saya sudah agak lebih tua dari sebelumnya dan setelah merilis album ini saya langsung pergi tur, tapi saya bisa bilang jika mungkin kurang dari sebulan lalu kami baru bisa mendapatkan groove-nya kembali. Selalu ada satu titik dalam sebuah tur di mana semuanya akhirnya terasa make sense, semua orang bahagia, and we’re just having fun dan itu juga yang menjadi tujuan utama dari tur Asia ini, untuk bisa menikmati waktu. Jadi kami selalu menyempatkan waktu untuk melihat-lihat saat tiba di sebuah tempat baru,” jelas Alan saat saya bertanya bagaimana rasanya kembali tur.

Bila Psychic Chasms adalah soundtrack senja musim panas yang riang dan Era Extrana adalah pengiring malam musim panas yang kontemplatif, maka VEGA INTL. Night School bisa dibilang mengambil inti sari terbaik dari kedua album sebelumnya tersebut dan membawanya ke level yang baru. Judul albumnya sendiri cukup menjelaskan tentang apa yang menjadi benang merah 14 lagu di dalamnya dengan kata “VEGA” yang merujuk pada proyek musik dance Alan sebelum Neon Indian terbentuk. “Pada awalnya saya berniat untuk merilis album untuk proyek VEGA, tapi kemudian saya menyadari jika saya tidak harus terpaku pada apa materi yang bisa dikategorikan demo untuk VEGA atau demo untuk Neon Indian karena pada akhirnya komponen produksi keduanya saling bersinggungan dan menjadi katarsis tersendiri. Adalah hal yang lebih konstruktif untuk terus berkarya dan baru memikirkan mau disebut apa musik itu setelah selesai. Jadi saya terus merekam dan walaupun judul album ini terinspirasi dari proyek saya sebelumnya, tapi album ini bergerak ke arah yang benar-benar baru. Saya memiliki ide untuk membuat sebuah rekaman yang terdengar seperti kolase dari macam-macam genre dan dekade dalam musik dance, namun tetap memiliki benang merah. Referensi nama VEGA di judulnya adalah sebuah perayaan dari merger kedua proyek ini sekaligus merujuk bagaimana Neon Indian akhirnya mengkanibal Vega dan menyerapnya menjadi kesatuan,” papar Alan soal ide tercetusnya album tersebut.

            Clue selanjutnya adalah kata “International” di judul. Sebagai sebuah album berkonsep kolase, album ini memang berisi referensi musikal dari musik dance berbagai negara selama empat dekade terakhir, dari mulai disco, funk, R&B, hingga reggae. “Annie” yang menjadi single pertama adalah homage untuk lagu pop 80-an dengan lirik naratif berisi nama perempuan dan nomor telepon dengan elemen reggae yang kental. “Adalah hal yang menarik ketika ‘Annie’ pertama kali keluar dan pendengar Amerika merasa lagu itu mirip lagu Ace of Base. Jika sebuah lagu terdengar upbeat dan agak ‘etnik’, mayoritas pendengar Amerika akan langsung menyebut sesuatu yang sangat pop untuk menjadi referensi mereka, yang bagi saya sangat aneh karena lagu ini sama sekali tidak terdengar ‘Eropa’, its a lot of calypso, cumbia, dan komponen dari musik Latin Amerika lainnya. Saya berasal dari Meksiko dan walaupun saya tidak secara aktif dan sadar mendengarkan genre tersebut saat beranjak dewasa, tapi baru ketika lagu itu jadi, saya baru berpikir ‘Holy shit, it’s like early 90’s cumbia’. Bagian menyenangkan dari jalan-jalan keliling dunia adalah menyerap sensibilitas musik setempat dan menyadari jika semua genre bisa hidup di universe yang sama. Saya rasa hal itu yang agak hilang di musik indie dan saya ingin membawanya kembali.”

            Alih-alih menjadi stadium banger seperti mayoritas dance music saat ini, album ini adalah tribute bagi kehidupan club malam yang sempit dan penuh keringat. There’s a sense of humidity di lagu-lagu seperti “61 Cygni Ave” dan “Smut!” yang sensual dan intim, sesuatu yang tercetus dari New York sebagai latar belakang. “Saya pikir New York adalah latar yang menarik karena kota itu selalu bermutasi,” cetus Alan sebelum melanjutkan, “Saya tinggal di New York baru sekitar enam tahun tapi saya merasa kota itu adalah city of transplant. Selalu ada orang yang pindah ke sana. Saya ingat ketika pergi makan malam di salah satu restoran lokal favorit saya di Williamsburg, saya menyadari jika semua orang berbicara dalam bahasa-bahasa Eropa asing, semua yang ada di sana adalah turis, tidak ada orang lokal. Banyak anak muda pindah ke New York setelah lulus SMA dan kita bisa merasakan bagaimana mereka berusaha keras untuk dilihat seperti apa yang mereka inginkan instead of bagaimana diri mereka sebenarnya. They’re full of drugs and booze, dan apa lagi sih yang dicari orang saat larut malam selain drugs, booze, and getting laid? Ada kejujuran yang datang dari lingkungan itu, people are just acting like animal and they’re lacking experience, atau sekadar perasaan kamu tiba di New York untuk pertama kalinya dalam hidupmu. Itu hal yang menarik untuk menjadi latar dari sebuah album,” ungkapnya tentang album yang lahir dari apartemennya di Brooklyn namun dibesarkan di atas kapal pesiar.

Saudara kandungnya, Jorge Palomo, yang menjadi drummer Neon Indian terikat kontrak dengan kapal pesiar yang mengharuskannya berlayar selama enam bulan dan terancam meninggalkan Alan untuk menunda produksi selama setengah tahun. Apa yang Alan lakukan? Well, mengepak pakaian serta peralatan rekamannya dan memesan tiket pesiar bersama seorang engineer-nya. “Saya langsung mabuk laut,” cetusnya sebelum menenggak birnya sambil terkekeh. “Waktu itu adalah bulan Desember, bukan bulan yang bagus untuk berlayar karena ombaknya kencang. Ada dua cara untuk mengatasi hal itu, yang pertama kita bisa meminum obat yang disediakan di kapal dengan beberapa efek samping atau cara kedua yang banyak dipilh orang: mabuk. Jadi Jorge akan pergi ke toko duty free dan membawa beberapa botol alkohol ke kabin dan saya berusaha untuk menghindar dari rasa mual itu tapi juga tidak terlalu wasted karena saya berusaha menjadi seorang produser yang baik dan menginstruksikan arahan, its very frantic,” simpulnya.

Seolah pelayaran di atas kapal pesiar saja tidak cukup untuk menekankan rasa “internasional” di dalamnya, cover art album ini turut dihiasi kanji yang membuatnya terlihat seperti album rilisan Jepang, yang terinspirasi dari kegemaran Alan berburu plat rekaman di tempat yang ia datangi. “Salah satu favorit saya adalah Dessinee Shop di Shibuya. Mereka punya koleksi lengkap diskografi Yellow Magic Orchestra, semua album solo personelnya, Yukihiro Takahashi, Haru Hosono, Ryuichi Sakamoto, dan semua album yang mereka produseri seperti Akiko Yano, Sandii & the Sunsetz dan semua album Jepang itu dilengkapi obi strip di sampulnya dan saya ingin album ini memiliki rasa yang sama dengan album yang mungkin bisa kamu temukan tanpa sengaja di sebuah record store di negara asing,” jelasnya. Sama fasihnya ketika ia berbicara soal musisi-musisi Jepang favoritnya, ia pun menyebut film-film Seijun Suzuki, Sion Sono, serta anime seperti Akira dan Perfect Blue sebagai bagian dari referensi sinematik yang menginspirasinya. Minatnya pada film juga disalurkan dengan menyutradarai beberapa video untuk album ini dan ia pun mengungkapkan rencananya untuk membuat sebuah film pendek. Tapi untuk sekarang, Alan masih akan berkonsentrasi menyelesaikan tur internasionalnya. “Saat kamu merilis album, kamu harus siap untuk berada di jalan selama 18 bulan lebih, so we’re still doing that,” pungkasnya dengan tegukan bir terakhir. Masih terlalu dini untuk pulang dan kelas malam besutannya masih terbuka lebar, kamu belum terlambat.

 

On The Records: Emir Hermono

What I learn from being far from home is that you appreciate your own country more,” ungkap Emir Hermono, seorang musisi dan produser R&B dan Hip Hop berdarah Indonesia yang berdomisili di Kuala Lumpur, Malaysia. Memulai karier bermusiknya sebagai rapper dengan nama The Shakes, pria kelahiran Semarang 25 tahun lalu yang dibesarkan di Papua ini mulai membuat beats sejak umur 17 tahun lewat eksperimennya dengan software FL Studio saat ia pindah ke KL. “It feels the same tho, like good music is good music. Honestly though, I love being an outcast here sometimes. At times I feel I got more love from Malaysia than in Indo, haha. I look up to DJ CZA a lot here cause he’s an Indonesian that’s been doing big out here in Malaysia and Singapore with his group, Ahli Fiqir,” ungkap Emir menyoal rasanya menjadi seorang musisi Indonesia di negeri orang. “Gue merasa Hip Hop scene di Malaysia lebih manageable as in like it’s a small circle of Hip Hop like everyone knows everyone here and they’re so advance on a production level and the whole style tuh up to date banget. The reason why I kinda stop rapping when I was in Malaysia sebenarnya juga karena minder, man they are so good! Haha!” tandasnya.

Menyebut dirinya sebagai emotional guy, pengalaman pribadi seperti heartbreak dan relationship menjadi katalis baginya dalam berkarya, not that different dari sentimental guys seperti Drake atau Ta-ku yang turut menjadi influens baginya. Emosi mentah yang dibalut oleh production yang slick terangkum dalam tiga beat tapes bertajuk Beats & Breakups, Songs About Her, dan Karma Kisses yang menjadi trilogi narasi tiga episode hidupnya yang melibatkan tiga wanita berbeda yang dirilis dalam kurun waktu setahun terakhir ini. Selain merilis Karma Kisses pada Februari lalu, 2016 has been particularly a strong year for him. Mengerjakan sebuah track bersama penyanyi legendaris Malaysia Sheila Majid dan tampil di Good Vibes Festival for the first time dalam sebuah DJ set sebelum Ta-ku (and get to hang out with him) telah dilakoninya, selain terus berkolaborasi dengan para musisi muda di region Asia Tenggara seperti Jonah Sithole, Shelhiel, Leo Ari, FRS, JNARO, Yosugi, serta rapper Ariel Nayaka dalam single terbaru Emir yang berjudul “3AM in Jakarta”, sebuah R&B track sentimental dengan vibes retrospektif yang kinda bittersweet.

Dengan semua pencapaian yang telah ia raih di luar sana, saya merasa sudah saatnya giliran publik Indonesia untuk lebih mengenal sosoknya beserta karya-karyanya. Tak hanya menjawab beberapa pertanyaan, Emir pun menceritakan beberapa album musik yang berpengaruh bagi dirinya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Hi Emir, where are you right now and what are you doing before answering this email? Hellooooo! I’m in Kuala Lumpur right now, just finished my dinner. I had this BOMB ass Japanese rice bowl that I’m a sucker for every time #fattylife.

How do you usually introduces yourself? Usually I would start by saying I produce music here and there, a donut eating expert or a professional Hey Arnold! fan – if there’s even such a thing.

So tell me your story, gimana awalnya lo mulai bikin musik? What really prompted you? And why hip-hop/R&B? Okay so I actually started as a rapper (lol I know even I had to laugh at that) this was when I was like 13-ish in middle school. I grew up in Papua for most of my childhood terus langsung pindah ke KL when I was 14. I only started like making beats at 17 – I remember I was still using FL Studio to like mess around with it and since then I’ve always been making tunes. Why hip-hop RnB? Too Phat was definitely the one that kinda got me on hip-hop. Remember when Too Phat was like BIG AS HELL di Indo? Yeah around that time I fell in love with hip-hop, although I’ve been listening to hip-hop since the Iwa K days. Shoutout to Iwa K tho, he’s the real OG.

Where did you grew up and what kind of records you listen to back then? I grew up in Papua since I was like 2 and I was there since 14 – my parents are still there tho so yeah Papua is the home. My first record that I bought was actually AQUA, man! That “Barbie Girl” album. That shit was FIRE fam hahahaha (I’m actually laughing as I type this)

So I read about your rap name, The Shakes, was based on your wish buat bikin burger shop, masih kepikiran untuk itu nggak? Hahahahaha! Goddamn man I forgot about that – gue aja udah lupa when did I say that to be honest. But yeah that’s part of the plan, I love food in general so most definitely. Mungkin nasi padang shakes deh kayaknya hahaha!

So from what I know, Beats & Breakups, Songs About Her, and Karma Kisses are basically three different albums about three different girls in the episodes in your life, would you mind to elaborate more about that? Yesss I’m such an emotional guy man, haha. So basically Beats & Breakups was the one that started it all; I had a relationship with someone that didn’t work out and at that time I was at my lowest point so I just decided to make a tape you know – to ease the pain, turns out it got a pretty good reception from the scene so yeah (she’s probably reading this right now). Songs About Her tape is kinda like me moving on and found a girl that I like and I did this tape to kinda impress her in a way (I know cheesy banget hahaha) so yeah she came to the actual release party and everything we were vibing tapi ya ujung-ujungnya it didn’t kinda work out you know. The last one Karma Kisses is the end of the trilogy – I met someone that I really like and I got married to this one (my current actual wife) so it has this happy undertone but at the same time I still kept it a bit emo-ish if that makes sense.

As musician and producer, ada yang berubah nggak soal musik sejak married? YES of course! I find it harder to kinda make depressing music when you’re in a proper relationship and I even told this to my wife; so whenever I need to like be in a depressing state I just tapped into my old self like remembering the past and it’ll come out naturally. 

What about the story behind “3AM in Jakarta”? Apa inspirasinya dan gimana akhirnya memutuskan collab bareng Ariel Nayaka di single ini? “3AM In Jakarta” was like my final thoughts before I got married – actually a month before. So a month before I got married I was in Jakarta and started writing and making music – and something about 3AM In Jakarta that just brings that mood you know – that Drake depressed state. I hollered at Ariel Nayaka cause first of all he’s so dope – probably THE BEST right now in Indonesian hip hop but that’s just me. And we vibe and gel pretty well together – he’s the future.

Kenapa cover art-nya pakai gambar Chitato rasa Indomie Goreng? Have you taste it, man? YES definitely – udah cobain and enak banget I even brought some back to KL, hehe. Kayaknya it’s so eye catching aja to be the cover, like people will think like the hell is this dude doing. 

Baru-baru ini lo perform di Good Vibes Festival, how was it? Is it your first Good Vibes or not? Kalau di Indonesia sendiri lo udah pernah perform di festival belum? Yeaah that was my first Good Vibes ever – I did a DJ set right before Ta-Ku’s set and got to meet him and hang out with him which was super dope. I regard Ta-Ku as my BIGGEST inspiration in my music. I brough Ariel Nayaka too on my set! I’ve only played a couple of DJ sets in Jakarta but not festival level yet – I need to make more songs I guess. I tried my luck to perform for WTF but didn’t get through, oh well there’s still next year!

What has been the career highlight, so far? Career highlights probably meeting Sheila Majid to work on a track, playing at Good Vibes and having the ability to work with a lot of young producers and acts from the region most definitely like Ariel Nayaka, Jonah Sithole, Shelhiel, Leo Ari, FRS, JNARO, Yosugi, and a bunch more.

Lo masih ngikutin hip-hop Indo nggak sih? Beside Rich Chigga, sekarang yang lagi populer (and quite controversial) is Young Lex, how do you think about that? Yesss I do keep my ears open and eyes open too. I met Young Lex in KL and it was with Joe Flizzow too in the studio. Young Lex was doing some tracks with Kartel records and I was just around to pass him a few beats for his upcoming album. Rich Chigga is on hot fire right now tho everyone knows him – I’ve been dropping Rich Chigga tracks on my DJ sets and everytime I dropped it everyone always goes nuts. Props to him and Young Lex, all love!

Beside music, apa lagi aktivitas sehari-hari lo? Beside music I’m trying to involve myself with a lot of diplomatic groups and youth political movements to strengthen Malaysia and Indonesia’s relationships. What I learn from being far from home is that you appreciate your own country more.

EMIR’S FAVORITE ALBUMS:

aquarium

Aqua

Aquarium

One thing that you need to know about me: I will always love catchy music, haha. This album was FULL of catchy songs – plus when I was in Papua, the school bus driver always plays this album RELIGIOUSLY, dari TK sampai SD denger lagu Aqua tiap pagi. Shout out to Om Nelson, my childhood bus driver for the plug.

too-phat

Too Phat

360

This was the album that got me like love hip hop for real. It’s crazy that I ended up briefly worked for Malique and got to like in talking terms with Joe Flizzow. I used to listen “If I Die Tonight” before going for my Friday prayers.

mad-season-2000-matchbox-twenty

Matchbox Twenty

Mad Season

The world needs to know that I’m like one of the biggest Matchbox Twenty fans ever. I could literally sing the whole songs on this album. I used to wait for “If You’re Gone” and “Bent” music videos on MTV Asia ‘cause we don’t have YouTube back then.

iwa-k

Iwa-K

Kramotak!

Probably my first hip hop album that I bought – well my dad bought it for me so we could listen to “Kramotak!”. Interesting point: I actually shared a stage with Iwa-K when I and he were the opening acts for Sean Kingston when he came down to Jakarta, and yes I was actually rapping on stage and opened for SK, not bad right? Haha.

project_pop_ok

Project Pop

Pop OK

I LOVE PROJECT POP and this album especially. Remember all the classics in this album tho? One of my life goals right now is actually to meet ANY of them in real life.

kanye

Kanye West

Graduation

Always been a fan of ‘Ye since College Dropout but this album got me through my first year of high school abroad in KL di asrama. I bought this album with like the last 300 ribu Rupiah I had for the month.

drake.jpg

Drake

Take Care

Probably my fave album from Drake, like I make beats right now because of this album. This album has inspired me so much musically and till this day is the best body of work to get depressed to, haha.

taku

Ta-Ku

Songs To Break Up To

I love this album cause it was because of this that inspired me to do beats and breakups – and I LOVE TAKU he’s like a GOD in my eyes and I couldn’t believe I played before his set and actually got to hang out with him backstage during Good Vibes.

nelly-sweatsuit

Nelly

Suit

Remember this came out like with Sweat? Like there’s Sweat & Suit, Suit is like more R&B and more “chill get your sexy time with your girl kinda vibe” plus “My Place” is in this album and that track probably is on my top 3 fave songs of all time.

Minty Fresh: Five Fresh Acts To Add On Your Playlist This Month.

sofi-tukker

SOFI TUKKER

Berawal dari perkenalan di sebuah galeri seni, penyanyi bossa nova Sophie Hawley-Weld dan DJ asal Boston bernama Tucker Halpern yang sama-sama berkuliah di Brown University dengan cepat menjadi kawan karib berkat instant chemistry dan ketertarikan yang sama terhadap budaya dan musik Amerika Latin. Setelah keduanya lulus dari Brown, mereka memutuskan pindah ke New York untuk membentuk duo folk-dance bernama Sofi Tukker yang menyajikan musik electronic dengan sentuhan musik Latin yang terdiri dari beat house adiktif, dentuman gitar elektrik, alat musik tradisional seperti bongo dan charango, serta lirik berbahasa Portugis yang terinspirasi oleh tulisan penyair Brazil legendaris, Chacal. Hal itu mungkin terdengar aneh di atas kertas, tapi jika kamu telah mendengar beberapa single awal seperti “Drinkee” (yang dipakai dalam komersial Apple Watch baru-baru ini), “Matadora”, dan “Hey Lion” yang terkompilasi dalam debut EP bertajuk Soft Animals, kamu akan jatuh cinta dengan cepat kepada duo yang kini berada di bawah naungan HeavyRoc Music, label milik The Knocks tersebut. Bagi mereka, membuat musik dance adalah hal yang sebetulnya bersifat spiritual. Sophie yang juga merupakan seorang pengajar yoga mengaku terinspirasi oleh chants dari Kundalini yoga yang berulang-ulang untuk menciptakan ambience yang mengajak pendengarnya terserap dalam vibrasi ritmis. Now you know why there’s something hypnotic about their music.

chaz-french

Chaz French

Dengan hasil observasi dari lingkungan sekitarnya, Chaz French yang merupakan rapper asal Washington D.C. menghabiskan masa sekolahnya dengan menulis lirik lagu rap di buku pelajaran dan merekam mixtape berisi 15 lagu di basement milik temannya. Namun, baru setelah akhirnya drop out dari sekolah dan berkeluarga, ia merilis album debut dengan judul Happy Belated pada April tahun lalu yang dipenuhi passion, soul, serta authenticity yang tidak mungkin bisa ditiru oleh orang yang tidak pernah merasakan getirnya hidup. Membawa warna baru terhadap kultur hip hop di D.C., ia kemudian meraih momentumnya bersama mixtape teranyarnya These Things Take Time akhir tahun lalu yang diakuinya jauh lebih kohesif dan mendapat respons gemilang tidak hanya dari pendengar dan jurnalis, tapi juga dari sesama musisi seperti Pusha T. Dalam video untuk single terbarunya “IDK” yang disutradarai oleh Shomi Patwary, rapper berusia 24 tahun ini mengajak kita menelusuri jalanan D.C.  dengan konsep yang terinspirasi dari situasi nyata tentang life struggle dan kenyataan hidup yang keras. Baru-baru ini, ia juga berkolaborasi dengan singer-songwriter R&B Kevin Ross dalam single “Be Great” yang mengangkat soal ketegangan rasial dan kebrutalan polisi dalam komunitas African-American beberapa tahun terakhir ini. Namun, bukan berarti jika musik yang ia buat hanya mengumbar kepahitan saja, karena di balik kemampuannya untuk melontarkan lirik yang brutally honest dengan kecepatan senapan mesin, there’s always something melodic and of course, the silver lining.

cullen-omori

Cullen Omori

Rasanya selalu menyebalkan saat mendengar kabar band favoritmu memutuskan bubar karena masalah internal, seperti yang dialami oleh Smith Westerns. Disebut sebagai salah satu band indie-rock paling exciting sejak merilis album Dye It Blonde di tahun 2011 dengan pengaruh garage rock yang pekat, band asal Chicago tersebut memutuskan bubar tahun lalu. Tapi untungnya, para personelnya tidak lantas pensiun dari musik begitu saja. Dalam jeda waktu yang hampir bersamaan, para bekas personel Smith Westerns muncul dengan proyek musik masing-masing. Bagi sang mantan vokalis dan gitaris, Cullen Omori, proyek itu adalah album solo perdananya dengan judul New Misery yang dirilis oleh label Sub Pop bulan Maret kemarin. Direkam tahun lalu dalam sebuah sesi recording selama sebulan penuh di Brooklyn, album berisi sebelas lagu ini ditulis dalam masa-masa yang membingungkan bagi pria keturunan Jepang berusia 25 tahun tersebut. Telah mulai pergi tur saat berhenti sekolah di tahun 2009, Cullen harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa kegiatan band dan melakoni pekerjaan part time di sebuah rumah sakit selama beberapa waktu. Lucky for him, album ini tidak lantas menjadi rekaman gundah gulana penuh nestapa. Lewat single seperti “Sour Silk” dan “Cinnamon”, Cullen pun menunjukkan elemen-elemen terbaik dari band terdahulunya yang dipenuhi aesthetic power pop penuh reverb dan catchy hooks yang mengiringi vokal Cullen yang masih terdengar dreamy seperti sosok cowok paling misterius di sebuah SMA daerah suburban Amerika. Diperkuat dengan mood dan lirik yang lebih gelap, he’s more than ready to take the center stage.

the-britanys

The Britanys

Tak lama setelah tiga sekawan Steele Kraft, Lucas Long, dan Gabe Schulman menjadi roommates di kampus dan memutuskan membuat band bareng, mereka mencari nama bayi perempuan paling populer di tahun 1994 (tahun kelahiran mereka) di Google. Hasilnya adalah Brittany, namun akibat salah tulis, mereka terlanjur mendaftarkan nama domain mereka dengan nama Britany, and that’s how these NYC indie rock band got their name. Di tahun 2014 ketika masih dalam format trio, mereka merilis debut EP bertajuk It’s Alright dengan berbagai referensi rock & roll dan garage band. Tahun lalu, mereka memutuskan merekrut Jake Williams sebagai gitaris tambahan dan merilis “Basketholder”, single pertama mereka sebagai four-piece band yang diproduseri oleh Gordon Raphael (yang juga pernah memproduseri The Strokes dan Regina Spektor). Saat ini, The Britanys tak hanya berkutat dengan jadwal latihan empat kali seminggu di basement apartemen mereka di daerah Bushwick, mereka juga sedang aktif menjadi pembuka untuk band seperti Hinds dan tampil di festival seperti Savannah Stopover Music Festival dan The Great Escape di Inggris. Dengan semua momentum positif itu, mereka pun dengan antusias menyiapkan materi-materi baru yang dirangkum dalam Early Tapes EP yang berisi 4 lagu yang akan mengingatkanmu pada materi di era awal Arctic Monkeys dan The Strokes.

littlesims

Little Simz

Bersenjatakan lirik rap yang dibawakan dengan penuh intensitas dan flow yang tak terbendung, Simbi Ajikawo adalah seorang rapper belia asal London yang memakai nama alias Little Simz dan membuktikan jika dedikasi serta passion memang menjadi kunci kesuksesan bagi seorang musisi muda. Menulis lagu pertamanya di umur sepuluh tahun, Little Simz sudah tahu apa yang ingin ia raih dan kerjakan di saat anak-anak seumurnya masih clueless dan belum memikirkan soal future career. Hasil kegigihan dan talenta alaminya membuahkan album debut berjudul A Curious Tale of Trials + Persons yang dirilis di bawah label miliknya sendiri yang bernama Age 101. 10 lagu di dalamnya merupakan hasil jerih payahnya bekerja di akhir pekan demi bisa membeli mic dan mengasah bakatnya di kamar tidurnya dengan inspirasi dari musisi-musisi favoritnya seperti Lauryn Hill, Missy Elliott, dan Dizzee Rascal. Tak hanya menulis dan memproduksi musik, as a part of the millennial musicians, dia juga belajar secara otodidak caranya menyunting video musiknya sendiri dan merilis beberapa mixtape di akun SoundCloud miliknya yang meraup 50 ribu followers bahkan sebelum akhirnya ia mendapat kontrak dari Mos Def, J. Cole, dan Kendrick Lamar. Now, that’s girl power.

 

On The Records: Gentle Bones

Di umur yang baru menginjak 22 tahun, singer-songwriter Joel Tan yang bermusik dengan nama alias Gentle Bones telah meraih banyak pencapaian yang mengundang decak kagum, terutama dari negara asalnya, Singapura. Pertama kali muncul di usia 16 tahun dengan mengunggah lagu cover di kanal YouTube miliknya, Joel dengan cepat menarik perhatian publik dan tampil di berbagai festival musik besar di Singapura, termasuk SEA Games 2014, tahun yang sama ketika ia merilis self-titled debut EP dengan single balada akustik seperti “Until We Die”, “Save Me”, dan “Elusive” yang merajai iTunes chart dan membuatnya menjadi artis lokal pertama yang dikontrak oleh Universal Music Singapura.

Seiring kepopuleran yang terus melambung, tawaran tampil di luar Singapura pun terus berdatangan, termasuk dari Indonesia pada bulan September lalu . Sayangnya, pengalamannya tampil di Indonesia yang menjadi tur luar negeri pertamanya membuahkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Bersama dengan singer-songwriter asal Amerika Kina Grannis, 12 musisi dan kru lainnya, Joel tersangkut masalah dengan pihak Imigrasi Indonesia karena kesalahan pihak promotor yang gagal mendapatkan izin tampil. Paspor mereka ditahan dan mereka tidak boleh meninggalkan Jakarta selama 99 hari, membuatnya terpaksa membatalkan konser regional di Hong Kong, Kuala Lumpur, Manila, dan melewatkan satu semester kuliahnya di sekolah bisnis Nanyang Technological University. “It definitely did not leave a sour note and I’d love to come back again!” akunya tentang pengalaman buruk itu.

            Walaupun kejadian itu bisa dibilang menghambat kariernya yang tengah melaju kencang, namun sekembalinya ke Singapura, he is even stronger than before. Dia merilis album mini kedua dengan judul Geniuses and Thieves yang disusul oleh konser solo perdananya selama dua malam di Esplanade Concert Hall pada tanggal 10 & 11 Juni lalu. Tiket sebanyak 1.500 untuk hari pertama show habis terjual dalam waktu kurang 10 hari. Menambahkan influens musik electronic dan R&B yang lebih kental, album dengan single “Run Tell Daddy” dan “Geniuses and Thieves” tersebut menjadikannya artis Singapura pertama yang memenangkan Super Nova Award di Hong Kong Asian-Pop Music Festival tahun ini dan membuat namanya masuk dalam daftar 30 orang di bawah usia 30 tahun yang paling berpengaruh di bidang entertainment and sport Asia versi majalah Forbes. Stay humble and true to his roots, Joel pun membisikkan perasaannya atas segala hal yang terjadi setahun terakhir ini: “Saya tidak akan mengubah apapun dan bersyukur atas semua kejadian baik maupun buruk yang telah terjadi karena berkat semua pengalaman itu lah saya bisa ada di titik ini sekarang.” Now, that’s the spirit.

gentle-bones-2

How It Started

“Saya berumur 16 tahun ketika pertama kali belajar memainkan gitar akustik dan mengumpulkan keberanian untuk bernyanyi. Ketika saya mulai sering melakukan live performance, saya menyadari jika saya ingin memainkan materi buatan saya sendiri dibanding menyanyikan lagu cover. That’s when my love for song-writing began.”

Behind The Name

“Saat menulis lagu pertama saya, saya langsung ingin mengunggahnya ketika selesai. Karena nama asli saya cukup pasaran di Singapura, saya ingin nama alias yang terdengar stand out. Saya memilih nama Gentle Bones ketika berumur 17 tahun dan menempel sampai sekarang.”

Influences

“Ed Sheeran membuat saya jatuh cinta pada seni menulis lagu dan membangun fondasi awal bagi album pertama saya. Saya selalu menyukai musik R&B dan tumbuh besar mendengarkan Michael Jackson dan Backstreet Boys. Semakin dewasa saya jatuh cinta pada hip-hop dan alternative R&B dan memutuskan untuk mengambil risiko dengan bereksperimen di ranah electronic yang terdengar berbeda dari album debut saya. Akar dari semua ini adalah pikiran saya jika menulis lagu sebetulnya bisa dilakukan tanpa terikat genre walapun banyak yang menganggap genre sebagai identitas. Hal itu yang juga mempengaruhi judul album terbaru saya.”

Record Collection

“Saya mengoleksi banyak album ketika berumur 8-14 tahun. Band seperti Good Charlotte sangat mempengaruhi saya dalam memandang musik dan mengajari saya serunya memadukan banyak genre. Ketika masih kecil, saya adalah penggemar boyband 90-an dan terobsesi pada Michael Jackson.”

Listen This

EP Geniuses and Thieves saya kerjakan selama hampir satu setengah tahun. Saya lebih percaya pada kualitas dibanding kuantitas dan menghabiskan bulan demi bulan menulis dan memilih 5 lagu terbaik yang akan dimasukkan ke album ini. Saya ingin Gentle Bones bisa bebas dari belenggu genre dan klasifikasi dan lebih bebas menulis lagu-lagu menyenangkan untuk dinikmati orang. ‘Run Tell Daddy’ adalah lagu tentang hambatan yang saya hadapi dalam perjalanan musikal saya dan saya ingin EP kedua ini menggambarkan strong return saya ke dunia musik.”

Best Gig

Solo show at Esplanade was incredibly surreal. Konser dua malam itu adalah validasi dari semua usaha yang telah saya curahkan di Gentle Bones dan mendengar penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang awalnya hanya terdengar di kamar tidur saya adalah absolute blessing.”

Favorite Past Time

“Saya terobsesi dengan segala bentuk media dan menghabiskan waktu untuk memikirkan konsep video musik saya, designing collateral for my music and songwriting and directing for others.”

Sweet Dreams

“Saya berharap bisa tampil di banyak show penting di segala penjuru dunia. Di saat yang sama saya ingin melakukan semuanya one step at a time.”

Hometown Glory

“Skena musik di Singapura sangat eklektik dan tumbuh dengan pesat, and it’s up to the rest of the region to catch on! Disco Hue, Sam Rui, Linying, Forests adalah musisi-musisi lokal favorit saya sekarang ini, do check ‘em out!”

Anticipation

“Saya sendiri belum terlalu yakin apa yang akan saya lakukan selanjutnya! Saya sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi dan yang ingin terus saya lakukan adalah berusaha agar musik saya bisa mencapai pendengar sebanyak mungkin.”

gentle-bones-3

http://gentlebones.com/

On The Records: The fin.

Sejak merilis dua EP bertitel Glowing Red on the Shore dan Days With Uncertainty di tahun 2014 dengan review gemilang, The fin. adalah band yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di jalan dan tampil dalam berbagai festival di dalam dan luar Jepang. Pasca tur di Inggris selama sebulan penuh pada Mei lalu dalam rangka mempromosikan EP terbaru mereka dengan judul Through The Deep yang berisi 6 lagu (termasuk satu remix dari Petite Noir), mereka singgah ke Hong Kong dan Taiwan sebelum menjalani tur Jepang bersama band Inggris All We Are. Berasal dari pertemanan masa kecil di kota asal mereka Kobe, band yang terdiri dari Yuto Uchino (vokal, synth, gitar songwriter), Ryosuke Odagaki (gitar), Takayasu Taguchi (bass), Kaoru Nakazawa (drum) ini menyajikan musik indie rock yang terpengaruh dari band-band indie Inggris akhir 80-an dengan sentuhan elemen Chillwave dari musisi seperti Washed Out dan Toro Y Moi di mana vokal Yuta yang ethereal mengingatkan pada Thomas Mars dari Phoenix ketika menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris dengan pembawaan fasih. Catchy dengan ambience moody yang masih jarang terdengar di skena musik Jepang membuat mereka dideskripsikan sebagai yogakuppoi (musik yang terdengar “kebarat-baratan”) dalam ulasan media domestik sekaligus memberikan international appeal tersendiri bagi pendengar di luar Jepang. Dari Tokyo, Yuta sang frontman pun menjelaskan beberapa hal tentang bandnya.

How It Started

“Kami bertemu saat preschool dan sekolah dasar ketika kami berumur empat sampai enam tahun. Saya, Ryosuke, dan Nakazawa sempat bergabung di sebuah band sebelum The fin. terbentuk. Setelah band itu bubar, kami membentuk band ini.”

Behind The Name
Nothing special. Just popped into my head and we liked its atmosphere.”

Influences

“Band ini terbentuk bersama sahabat-sahabat lama saya, jadi saya pikir yang menginspirasi kami adalah special vibe yang muncul dari persahabatan kami. Saya sendiri telah mendengarkan musik Barat sejak kecil dan itu mengalir di nadi saya. Tidak hanya dari musik, tapi juga dari film dan seni yang terus mendorong saya berkarya. Di Jepang, saya merasa musik populer terbagi menjadi dua jenis: Japanese music and Western music. Orang Jepang sering bilang jika musik saya terdengar Western. But I don’t care much. I just make what I want.”

Listen This

I always write in my room. In Tokyo or Kobe. I make the demo first, and play
in the studio with the band, and record in my room. Saya menulis banyak lagu untuk album Through The Deep sekitar tahun lalu dan sebetulnya berencana merilisnya sebagai full album, namun banyak materi baru yang terdengar berbeda dari materi-materi sebelumnya. Jadi saya merasa akan lebih baik jika saya merilis beberapa materi dalam format EP lebih dulu untuk memperkenalkan sounds baru kami. Seperti yang bisa kamu lihat dari judulnya, kami merasa perubahan adalah kunci dari perjalanan kami.”

Best Gig
Definitely, the best was the Great Escape. It was so exciting. I fell in
love with Brighton too. I’ve got to live there someday
.”

Sweet Dreams
“Saya ingin bermain di Coachella suatu saat nanti. Kalau impian pribadi saya adalah pergi ke luar angkasa dan melihat bumi dari kejauhan.”

Hometown Glory

“Saya sebetulnya tidak punya bayangan soal skena musik lokal di Jepang saat ini. Tapi saya tahu kalau banyak indie band yang muncul di Tokyo.

Favorite Past-time

“Drinking and talking about silly things. We’re just friends basically.”

Anticipation

“Menyelesaikan full album. It’s gonna be a great one. I know it’s worth waiting. Dan saya harap kami bisa juga main di Indonesia!”

thefin_dublin

http://www.thefin.jp/

Winning Pitch, An Interview With SALES

Hampir mirip seperti prinsip ekonomi, duo indie pop SALES memproduksi musik yang terdengar seminimal mungkin untuk menghasilkan musik berkualitas maksimal.

Sejak pertama kali merilis single perdana bertajuk “renee” di akhir 2013 lalu, SALES yang merupakan kolaborasi dari dua sahabat lama Lauren Morgan (vokal/gitar) dan Jordan Shih (gitar/programming) telah mendapat apresiasi positif dan termasuk salah satu band yang paling banyak dibahas di blog walaupun belum merilis album apapun. Relaxed and intimate, duo asal Orlando, Florida ini meramu musik lo-fi pop minimalis berbasis gitar dengan unsur folk di mana vokal Lauren yang whispery mengalun ringan di antara aransemen memikat racikan Jordan. April lalu, mereka pun merilis sendiri self-titled LP perdana mereka secara DIY dengan 15 lagu di dalamnya, termasuk single seperti “ivy” serta “jamz” yang sangat adiktif dan terasa “penuh” di balik segala kesederhanaan musik yang mereka usung. Setelah menghasilkan sebuah timeless bedroom pop album terbaik yang kami dengar tahun ini dan menyelesaikan tur Amerika mereka, keduanya kembali ke Orlando untuk istirahat sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan dari kami.

Jadi, bagaimana kalian pertama kali bertemu dan memutuskan untuk bikin musik bareng? Kami bertemu saat SMA dan musik menjadi mutual interest kami walaupun kami datang dari latar musik yang berbeda. Jordan memproduksi musik elektronik dari kamar tidurnya dan bermain tenor saxophone di marching band, sementara Lauren tumbuh besar belajar piano dan gitar. Kami telah berkolaborasi sekitar sepuluh tahun.

Apa cerita di balik nama band kalian? Orangtua Lauren bekerja sebagai sales people yang bekerja demi komisi. Mereka menjual macam-macam benda dari mulai permen, pasta gigi, obat-obatan, wine, teh, hingga herbal vape pens dan industrial oil/lubricant untuk menyebut segelintirnya.

Apa saja yang menjadi influens musikal untuk SALES? I think we are more so inspired by other artists, rather than influenced. Kami mencoba mendorong musik kami sejauh yang kami bisa. Kami selalu bingung menjawab pertanyaan ini karena kami mendengarkan banyak sekali musik dan tampil bersama banyak inspiring musicians both big and small. Menyebutkan hanya beberapa nama terasa tidak adil bagi kami.

Saya sangat menikmati LP kalian. Apa yang menjadi tema besar yang ingin kalian angkat di album ini? Thanks, we are glad you like it. Tidak ada tema khusus untuk album ini, tapi sejak pertama kali kami membuat musik, kami membagikannya ke teman-teman kami yang datang dan pergi seiring waktu. Kami hanya membuat musik yang ingin kami dengar, it is music to share with your friends. We recorded it all in an untreated bedroom studio. 

sales-lp

Kalau soal songwriting sendiri? Songwriting is collaborative, kami saling melengkapi secara kreatif dengan kompak. Jordan sangat teliti soal arrangement, aspek teknis dari rekaman, dan menemukan that million dollar baby moment dari 30 minutes long take. Lauren adalah penulis lirik dan gitaris yang cenderung improvisational. Pada akhirnya, jika kami tidak sepakat pada satu hal, kami akan mundur sejenak dan baru akan kembali menghadapinya dengan pikiran yang lebih jernih dan tenang. We usually can always reach understanding since we both just want what is best for the song.

Bagaimana kalian mendeskripsikan genre kalian? Apakah kalian terganggu jika orang menyebut musik kalian sebagai “twee”? We are okay with whatever label gets stuck on the project–labels happen and “twee” fills up our hearts. Musik kami sangat dipengaruhi oleh pilihan kami untuk tetap independen. We think our sound stands on its own, and isn’t what you’d expect.  

Untuk Lauren, adakah vokalis perempuan yang kamu kagumi? Tentu saja ada banyak sekali vokalis perempuan yang saya kagumi dan tidak bisa saya sebut satu per satu. Tapi ketika masih sekolah saya pernah mendapat tugas untuk presentasi soal Billie Holiday, she was an early inspiration for me.

Apa yang membuat kalian memilih Alana Questell untuk membuat artwork album ini? Alana telah membuat artwork dari mulai single pertama sampai LP kami. Artwork kolase yang ia buat sangat interpretif dan berdiri sendiri, terpisah dari musiknya sendiri. Like the songs, the artwork may mean something different to everyone– there is room for your story.

Boleh cerita soal skena musik di kota asal kalian, Orlando? We love it walaupun kami melihat banyak teman-teman musisi datang dan pergi. It is rough to have a scene when everyone is there temporarily. Tapi, selalu ada sesuatu yang terjadi, banyak orang dan venue yang menggelar show, festival, dan acara komunitas. We don’t really go out much though. Kami lebih sering menghabiskan waktu membuat musik, makan di restoran, masak di rumah, atau main tenis.

Bagaimana rasanya tampil live di panggung bagi kalian? Every night is unique with a different city and the same songs. Kami mencoba membuka diri kami ke crowd dan menampilkan show yang bagus. Jordan tidak terlalu excited soal tur (low key stage-fright), tapi dia belajar menghadapinya dan melakukannya dengan baik.

Apa yang menjadi career highlight sejauh ini? Our sold-out L.A. show at the Troubadour was one of the best shows we have ever played. We got late night dinner after the show in Thai town. We will never forget those feels. 

Apa yang kalian kerjakan di luar musik? Musik adalah full time job kami. Kami memilih untuk tetap independen dan melakukan semuanya sendiri dari menjawab undangan manggung, mengurus berkas pajak, merencanakan tur Eropa, dan tur Amerika kami berikutnya di bulan Oktober. We love making music, jadi kami akan terus melakukannya. Selain itu, Lauren hobi berkebun di rumah barunya dan main gitar sedangkan Jordan suka memasak dan mencoba menjadi the Prince of Tennis.

Karena ini Summer Issue kami, apa hal favorit dan rencana kalian untuk musim panas? Kami baru saja membatalkan sisa jadwal tur untuk musim panas agar kami bisa istirahat dan punya waktu untuk menyiapkan materi selanjutnya dan mengurus segi bisnis. SALES sedang tumbuh dan kami ingin meyakinkan diri jika kami juga bisa berkembang lebih jauh. Rencana kami untuk musim panas tahun ini adalah mempertajam LP kami, menambahkan elemen baru yang bisa kami pakai di live show, dan mencari Patbingsu di Orlando.

sales-band-2015-770x485

Follow SALES: https://sales.bandcamp.com/

Foto oleh: Carlos Quinteros Jr.

 

On The Records: Much

Terinspirasi setelah melihat aksi Lemuria di Rossi Musik, Dandy Gilang yang merupakan vokalis kuintet pop-punk Malang bernama Write The Future mulai membuat proyek solo indie rock berelemen Midwest emo dan merilis album mini berjudul Know Where You’re Heading di tahun 2014. Proyek ini lantas berkembang ketika Dandy mengajak pacarnya, Aulia Anggia, untuk mengisi vokal dan lahirlah Much, duo indie rock asal Malang yang telah merilis album Closest Things I Can Relate To pada Record Store Day tahun lalu. Dirilis oleh Haum Entertainment yang merupakan label indie di Malang yang gencar memajukan local scene kota apel tersebut dengan berbagai rilisan menarik, album tersebut berisi 6 lagu beraransemen fuzzy dengan melodi gitar yang twinkly serta vokal manis yang menyanyikan lirik tentang romance youth dan mengingatkanmu pada anthemic soundtrack dari teenage flick 90-an yang catchy.

WHO

Halo, di Much sendiri ada Aulia Anggia biasa dipanggil Anggi berperan sebagai sinden di band ini, ada Dandy Gilang biasa dipanggil Dandy juga nyanyi tapi dengan porsi yang lebih sedikit, lebih banyak bermain gitar sih. Selain berdua, kita biasa dibantu sama teman-teman baik dari keluarga Haum Records, ada Risang Candrasa (Risang) di gitar juga dan biasanya bermain gitar di band pop-punk Write The Future, ada juga Pandu Rahadya (Pandu) di drum yang kebetulan sedang menempuh akhir masa studi di ITB dan juga bermain untuk band lokal di sana Stagger, terakhir ada bos besar Haum Records pecinta idol group, I Made Nara Virjana (Vino) di bass.

 HOME BASE

Malang, Jawa Timur. “Kalau sekarang, terutama anak-anak lebih semangat dan berani, berani keluar kandang, berani bikin musik, berani bikin rilisan, dan thankfully lebih banyak lagi media yang mau liput atau bahas musik dan band di Malang, yang masih kurang sih venue, hehe,” ungkap Dandy.

 THE NAMESAKE

Anggi: “Jadi awalnya setelah kita berhasil membentuk sebuah grup musik ini, mulailah kita mencari nama yang dirasa cocok, simple, dan dapat menggambarkan personality kita. Beberapa nama sempat terlintas tetapi kebanyakan nama ternyata tidak cocok, dan akhirnya ketika dirasa kita punya terlalu banyak ide untuk nama band ini atau dalam Bahasa Inggris too much, kemudian tanpa banyak pertimbangan ya maka jatuhlah pilihan kita pada nama Much.”

 INFLUENCES

Anggi: “Jadi dulu saya lebih sering mendengarkan band-band Britpop atau post punk. Namun, setelah Dandy melibatkan saya dalam proyek musik ini, saya mulai mencari-cari referensi band-band yang vokalisnya cewek, dan favorit saya seperti Alvvays, Colour Me Wednesday, Tigers Jaw, Camera Shy, dan Adventures.”

Dandy: “Musical influences saya, terutama untuk Much bisa pertama dari Lemuria, trus Adventures, Joyce Manor, Saves The Day, Andrew Jackson Jihad, sampai ke Algernon Cadwallader.”

LISTEN THIS

“Break Heart, Break Apart”, single terbaru dari album kedua yang direncanakan rilis tahun ini. “Sedikit banyak sih lagu ini bisa jadi teaser buat materi dan sound di album baru nanti bakal kaya gimana. Selain itu untuk kualitas produksi juga kita berusaha untuk bisa lebih keren lah dari Closest Things I Can Relate To.

LOCAL MUSIC HEROES

Anggi: “Apa ya? Potret kali ya.”

Dandy: “Untuk Indo sih, dari dulu saya suka Padi. Love you mas Fadly.”

BEST GIG

Gigs paling seru sih di acara We.Hum Collective, Humming Mad ke-10 di Jakarta bareng Barefood, Laguna Bang Bang, Fuzzy I, sama Saturday Night Karaoke beberapa bulan yang lalu. Bisa dibilang itu pengalaman pertama kami main di luar kota juga pertama kali kita nyobain house gig dan juga mungkin musik dan lagu kita juga kayanya masih belum banyak yang tau, tapi eh kok rame banyak yang nyanyi dan setelah main pun banyak yang mau ngajakin kita ngobrol dan nanyain rilisan.

IMG_2281IMG_2282

DREAM GIG

Anggi: “Aku sih pengen banget nyobain sensasi main di house-gig lagi, selain itu juga pengen tur di beberapa kota sekalian jalan-jalan. Tapi juga pengen jadi opening act-nya Tigers Jaw kalau bisa, haha!”

Dandy: “Kalau aku sih pengen banget main di pinggir pantai. Plus pengen banget kolaborasi sama Mas Prabu Saturday Night Karaoke plis, apa aja.”

FAVORITE PAST TIME

“Kalau Anggi, biasa mengisi hari-harinya sebagai sarjana dengan menonton serial The Return of The Superman yang berisikan Daehan, Minguk, dan Manse sambil cari-cari kerja. Kalau Dandy biasanya ngurusin café di Malang sembari tetap aktif dalam grup musik lain bersama Risang, yaitu Write The Future. Kalau Risang Candrasa juga biasanya mengisi hari-harinya sebagai entrepreneur dengan mengelola café pribadi miliknya. Vino dan Pandu Rahadya sampai saat jawaban ini ditulis, masih juga berjuang menyelesaikan tugas akhirnya dengan tekanan batin yang dirasa semakin berat setiap hari ketika melihat teman-temannya satu per satu mulai meraih gelar sarjana.”

FUTURE PLAN

Dandy: “Lebih banyak main, gigs/music festival, dalam kota luar kota. Rilis album baru, tour, ketemu lebih banyak lagi temen baru, scene Malang lebih rame lagi yang berkecimpung, lebih banyak media yang mau liput, terus banyak juga yang mau main ke Malang.”

Anggi: “Hampir sama kayak Dandy sih, lebih banyak main di gigs/music festival, rilis album, tour, dan Nikah!!! HAHAHAHA!”

IMG_2279

Foto oleh: Permana Hidayat.

Mixtape: Rich Chigga

Jauh sebelum Brian Imanuel dikenal dengan nama Rich Chigga, ia sudah lama berada dalam following list saya di Twitter karena meme dan video-video kocak yang ia buat dengan nama @HeelyRiddler. Belakangan, selain jokes seputar konspirasi 9/11, self-deprecating selfies, dan video tutorial, adik dari fashion blogger terkenal Sonia Eryka ini pun menunjukkan kemampuannya nge-rap dengan memakai nama alias Rich Chigga. Mendapat respons positif setelah merilis video “Living The Dream” yang memakai beat dari DJ Smokey, nama Rich Chigga menjadi topik panas sebulan terakhir ini berkat video terbarunya, “Dat $tick”.

Knowing his antic, awalnya saya mengira jika lagu dan video ini hanya akan menjadi semacam parodi lucu-lucuan belaka, terutama kalau kita hanya melihat cuplikan screenshot yang menampilkan Brian dengan kaus Polo warna pink, celana pendek khaki, dan tas pinggang mengacungkan pistol dan botol minuman keras sambil ditemani oleh squad-nya. But then, ketika instrumental beat super catchy garapan produser bernama Ananta Vinnie terdengar dan Brian memperlihatkan rapping skill-nya, damn, it’s spitting fire. Hasilnya, selama menonton self-directed video berdurasi dua menit ini, saya tak berhenti bertanya-tanya “Is this real? Or is this a joke?” I mean, saya sadar jika ia dengan satir memparodikan diri sendiri dengan nama Rich Chigga (Chinese n***a, duh!) dan stereotipe video musik gangster hip hop, but at the same time, it’s a legit trap record with killer beats yang akan membuatmu menganggukkan kepala tanpa henti. “It was semi-serious,” cetusnya, “I was actually gonna wear a normal clothing that other rappers would wear like Post Malone or A$AP Rocky, but I had a last minute concept change with the pink polo and the fanny pack because I didn’t wanna be seen as a scrawny Asian kid trying to be hard, kinda like Slim Jesus,” tandas homeschooler berumur 16 tahun ini.

Yang jelas, “Dat $tick” menjadi viral dengan cepat, menghasilkan interview  dan feature di Hypetrak, ditonton lebih dari sejuta kali, di-share oleh Snoop Dogg, dan bahkan dimainkan di Drake Night, Los Angeles. “That song was the product of me listening to A$AP Rocky for a week straight, I’ve known Vinnie for quite a while now and he wanted to collaborate with me on a song but we didn’t know what at the time, so I just started writing down lyrics and told him to make me a beat. I expected it to hit like 300k but nothing this crazy. It was really cool seeing about 800-1000 people listening to my song,” ungkap penggemar A$AP Rocky, $UICIDEBOY$, dan Lil Uzi Vert tersebut soal respons yang ia dapat. Wanna know more about him? Check out these tidbits plus mixtape dari lagu-lagu favoritnya belakangan ini. Oleh: Alexander Kusuma Praja. Foto oleh: Roy Leonard.

“I actually regret naming myself ‘Rich Chigga’, I was debating on whether or not I should change it when I posted the ‘Dat $tick’ video because I already had another music video with that name. If I could change my name I’d change it to something that has nothing to do with race because it’s corny.” 

“I don’t see the big deal in using the word ‘nigga’ as long as you don’t use it in a racist context. I personally don’t use it during conversations, I just prefer not to, I used it in my song because I just liked the way it sounded on it, I also wanted to kinda help neutralize the word by putting out something that sounds cool and gets people like ‘This is dope so I’ll let this slide.’ And by looking at the little amount of dislikes I think it’s working.”

“I wanna dive deep into music but still do comedy on the side because that’s where I came from, it’s what got me here and I wouldn’t just switch up my brand like that.”

“My current obsession is definitely the movie Ratatouille; it’s amazing how they taught the rat how to cook for the movie. Music/entertainment wise Tyler The Creator, he is a genius.”

“What’s next? Expect 3 singles next month and hopefully a mixtape.”

MIXTAPE:

“Best Friend”

Young Thug

“I love Young Thug, the way he switches up his flow and sings at the same time, it’s like seeing magic.”

 

“PARIS”

$UICIDEBOY$

“They’re my new favorite rappers, very unique sound and flow.”

“Broke Boi”

Playboi Carti

“I hated this song the first time, but it grows on you.”

“Look At Wrist”

Father

“Father is my favorite rapper from Awful and this song shows exactly why.”

“Fergalicious”

Fergie

“I just started getting really into this song, I always lose it when Will.I.Am says ‘hit it Fergie!’”

“Too Young”

Post Malone

“I’ve been listening to Post Malone lately, I like his unique sound, plus he’s the sweetest dude ever.”

“No Flocking”

Kodak Black

“I know every single word of this song the second day I started listening to it.”

“ULT”

Denzel Curry

“I prefer listening to this song with the music video because it’s so good; it’s like one whole artwork.”