Soundcheck: Tangerine

Miro dan saya tampil dalam sebuah show di Jimi Hendrix Museum (EMP) di Seattle ketika kami berumur 12 dan 14 tahun dan Toby menjadi salah satu penonton kami. Selesai tampil, dia menghampiri kami dan bertanya apakah dia boleh nge-jam bareng kami, and the rest is history,” ungkap Marika Justad (lead vocal & rhythm guitar) tentang awal mula terbentuknya Tangerine, sebuah trio indie rock asal Seattle yang ia bentuk bersama adiknya, Miro Justad (drum & back vox) dan Toby Kuhn (lead guitar & back vox). Dipersatukan dengan kesamaan selera yang meliputi Yeah Yeah Yeahs, The Strokes, dan The Velvet Underground, ketiganya telah bermusik bareng sejak masa remaja mereka dan tampil di gigs sekitar Seattle namun sempat vakum selama lima tahun sebelum akhirnya muncul kembali dengan nama Tangerine di tahun 2013 dan merilis EP perdana mereka, Pale Summer, pada Maret tahun yang sama. Memadukan genre slacker pop, surfer rock, dan bahkan R&B dengan sentuhan vokal a la 60’s girl group, tahun ini mereka telah merilis EP keenam dan terbaru mereka yang diberi judul Sugar Teeth dengan 4 lagu berinfluens 80’s yang kental. “Kami merekam Sugar Teeth di beberapa tempat di Seattle. Lewat EP ini kami ingin bereksperimen dan menyempurnakan genre berbeda yang selama ini kami mainkan, yaitu melodi R&B dengan sentuhan surf dan garage rock serta 80’s drenched pop. Kami punya firasat jika ini akan menjadi EP terakhir kami sebelum kami fokus membuat album penuh pertama kami, so we were really sort of releasing our creativity on this one,” tandas Marika. Sambil menunggu mereka merampungkan debut LP, ketiganya pun membagikan album-album paling berpengaruh bagi masing-masing.

http://tangerinetheband.bandcamp.com/

 

untitled
Dari Kiri: Miro Justad, Toby Kuhn, Marika Justad. Foto oleh: Mark Malijan.

Miro: 

patmetheny

Pat Metheny

Still Life Talking

This specific Pat Metheny album has a very wide open beautiful feeling to it; the drums are light and fast, but not overbearing and the guitar work is stellar. I aspire to be on that level of technicality one day but with that much taste.

sade

Sade

Lovers Deluxe 

Growing up Lovers Deluxe was constantly playing around the house so there is no way that it has not inspired me in many ways, both with drumming and even with singing since I have a low voice like Sade. Listen to “Somebody Already Broke My Heart”!

pixies

The Pixies

Trompe Le Monde

Trompe Le Monde was one of the last Pixies albums that I discovered and is definitely my favorite. It has more of a surfy vibe than Doolittle and even palm muting that sounds like Blink 182. The Pixies is a band that we sometimes use as a reference point when writing songs since they write good pop songs with interesting song structures.

Marika: 

the-strokes

The Strokes

Is This It

It might be a cliché, but this album truly changed my life! I can still remember finding it in my big sisters room and putting it into my old Sony CD player. The ambivalence of the lyrics, combined with the intensity of the tightly orchestrated instruments- it blew my mind. It was almost uncomfortable, like I had stumbled onto something very foreign and adult.

paul-simon

Paul Simon 

Graceland

This album combines nostalgia-tinged Americana and jubilant South African harmonies and the result feels oddly natural. Plus, Paul Simon writes such beautiful melodies, something I’m always striving for.

hole

Hole 

Celebrity Skin

Courtney Love taught me how to write rock songs that are secretly pop songs. From big pop songs like “Malibu” to pensive ballads like “Dying” this album probably influenced my early songwriting more than any other.

Toby:

pixies 

Pixies 

Doolittle

Somebody showed me this album about a year after I saw The Pixies live at Seattle’s Bumbershoot festival in 2004 and not knowing who they were at all. Full disclosure, I don’t remember being terribly impressed at the time. This person was blown away that I hadn’t listened to them before and said that Doolittle would change my life- fantastic album; the energy, structuring, tones, and melodies are just crazy good.

gorillaz 

Gorillaz

Gorillaz

This album was sort of my introduction into popular music. I don’t remember how I ended up getting a hold of it but I was about 11 or 12 when I first put it on and it still hasn’t gotten old. It has like incredibly catchy pop songs and then the weirdest indefinable tracks mixed in there too, all of it exuding the same incredibly satisfying vibe.

black-rebel

Black Rebel Motorcycle Club

Howl

I’m a huge fan of a lot of their music, but Howl is a very special album. It’s completely different from the rest of their stuff and is mostly acoustic. The songs are just written so well and each one carries such strong emotions, such a good album!

 

On The Records: SARANA

 

Sebagai sebuah aliran musik yang lahir dari memanfaatkan bebunyian ganjil dan bising yang dianggap polusi suara menjadi estetika tersendiri dengan cara yang imajinatif, noise pada hakikatnya adalah genre yang sukar untuk diapresiasi telinga umum. Niche dan tidak terpaku pakem apapun, noise dan para pengusungnya mungkin tidak akan merajai chart tangga lagu radio mainstream dalam waktu dekat, namun menampiknya begitu saja tanpa berusaha membuka telinga dan pikiran adalah satu hal yang patut disayangkan. Untungnya, Indonesia tidak pernah kehabisan aksi noise yang mumpuni, dan Sarana adalah satu nama yang sedang mengorbit pesat. Datang dari Samarinda, Kalimantan Timur, Sarana terdiri dari Annisa Maharani, Istanara Julia Saputri, dan Sabrina Eka Felisiana yang bertemu saat menjadi panitia Record Store Day East Borneo tahun lalu sebelum memutuskan membentuk unit experimental dark ambient yang namanya diambil dari akronim dua huruf terakhir ketiganya ini. Dengan kejelian mereka meracik bebunyian yang lahir dari efek gitar, kaosilator, monotron spoken words, dan shaker box, tak butuh waktu lama bagi Sarana untuk unjuk gigi sebagai lineup di Veganophone Tour, sebuah gigs noise besutan Mahakam Kolektif dan merilis debut EP bertajuk Heal yang mendapat respons positif tak hanya dari skena lokal tapi juga internasional.

sarana2
Dari Kiri: Annisa Maharani, Istanara Julia Saputri, Sabrina Eka Felisiana. 

Bagaimana awalnya kalian bertemu dan apa yang mendorong kalian untuk bermusik bareng? Dan kenapa memilih genre Noise?

Kami pertama kali bertemu saat terlibat dalam pelaksanaan Record Store Day East Borneo 2015. Kebetulan, pada waktu itu kami jadi panitia bareng. Kedekatan kami pun berlanjut saat Mahakam Kolektif mengadakan Veganophone Tour, sebuah gigs kecil yang mengundang DJ Urine sebagai line up utama. Dari situ, kami bertiga iseng membuat grup noise ini dan ikut menjadi line up di acara Veganophone Tour juga. Alasan kenapa memilih noise, awalnya karena ada influence dari Sabrina, yang emang udah berkecimpung di dunia noise lebih dulu, selain itu noise juga tidak memiliki batasan, batasan dalam arti harus menggunakan alat musik (karena kita bertiga nggak ahli-ahli banget dalam bermain musik hehe) untuk menghasilkan bunyi, jadi dengan noise kita bisa mengeksplorasi lebih luas lagi dan membuat alat-alat experimental sendiri. Selain itu, Noise bagi kami merupakan sarana untuk mengekspresikan perasaan masing-masing dari kami.

Apa saja yang jadi influens musikal untuk kalian? Bebunyian apa aja yang biasanya jadi inspirasi?

Kebanyakan SARANA mendapatkan influence dari musik-musik experimental contohnya seperti suara gitar dari Sonic Youth serta dari beberapa penampilan dari Noise Acts yang lain. Bebunyian yang biasanya menjadi inspirasi kami adalah suara noise yang sebenarnya akrab sekali dengan keseharian kita (contoh: suara orang berbicara, klakson mobil atau kucing yang berkelahi). Nggak hanya bebunyian, kondisi di sekitar kami juga terkadang membuat kami berupaya untuk meng-audiokannya lewat noise yang kami ciptakan.

 

Okay, what are your favourite noises then?

Sabrina: Thurston Moore dan Prurient.

Annisa: Kontroljet, Zulhezan, dan Pedestrian Deposit.
Istanara: Pharmakon dan Pripoy.

 

Bagaimana biasanya proses bikin lagu buat kalian, is there a lot of argument? Instrumen/program apa aja yang paling sering kalian pakai?

Kita kalau take biasanya dibantu teman. Usually, we dont have argument during recording, because we working it together, each of us know what parts we should fill in and if the recording seems a lil bit less, then we discuss what gear or instrument that we need to complete it.

 

Apa cerita di balik single “Anxiety Inhaler”? Betul nggak sih ada suara hantu di dalamnya?

“Anxiety Inhaler” itu berawal dari kebosanan, jadi waktu itu kita iseng coba buat video call bertiga padahal kita semua ada di dalam satu ruangan yang sama. Mungkin karena pengaruh ponsel yang berdekatan jadi audio dari video call kita jadi storing dan delay, akhirnya kita merekam percakapan dan barang-barang sekitar yang menghasilkan bunyi hanya dengan menggunakan handphone aja. Untuk masalah yang suara hantu itu, pertamanya kita juga nggak nyadar sampai ada salah satu teman kita yang notice dan setelah kita dengarkan ulang ternyata emang ada suara selain suara kita bertiga.

 

Apa pengalaman tampil terseru buat kalian sejauh ini?

Pengalaman manggung terseru ya waktu di RRREC FEST IN THE VALLEY 2016 di Tanakita Camping Ground Situ Gunung, Sukabumi karena kita di sana pertama kali tampil di acara besar dan ditonton oleh massa yang lebih banyak. Dan setelah kami main, senang banget ternyata orang-orang pada welcome dengan apa yang kita mainin.

 

Kalian sudah dapat respons yang bagus nggak cuma dari Indonesia tapi juga media luar, how do you feel about it?

We’re so happy to know that people out there listening to SARANA, and even great when we know they like our songs. Kita nggak pernah nyangka bakal banyak mendapat respons yang baik seperti sekarang. Kan kalau dipikir-pikir sebenarnya noise ini tidak memiliki tempat di masyarakat, so we kinda feel pessimistic at times, tapi dengan adanya respons dan dukungan dari mereka kita jadi yakin untuk tetap bermain noise sampai sekarang ini, jadi terima kasih orang-orang yang baik.

 

Boleh ceritakan sedikit soal music scene di Samarinda saat ini menurut kalian?

Menurut kami, scene musik di Samarinda saat ini sedang berkembang. Walaupun tidak sebesar scene yang ada di luar Kalimantan seperti di Jakarta atau Bandung. Era digital sangat membantu sekali untuk membantu musisi-musisi di sini untuk mengeksplor beragam jenis musik yang ada dan mengembangkan ide untuk berkarya.

Kegiatan masing-masing personel di luar Sarana apa saja?

Sabrina kerja sebagai pegawai swasta, Istanara sedang menyelesaikan kuliahnya di semester akhir, Annisa selain menyelesaikan kuliahnya di semester akhir, juga menjadi freelance writer dan media officer salah satu klub bola di Samarinda.

Apa yang kalian lakukan seandainya di dunia ini nggak ada yang namanya social media/internet?

Annisa: Baca buku tiap hari, keliling Indonesia (amin!) dan berusaha untuk bisa olahraga lagi, hahaha.

Istanara: Keliling dunia pakai balon udara.

Sabrina: Kalau nggak ada internet ya tetap hidup kaya biasanya. Kalau untuk memperkenalkan Sarana tanpa intenet mungkin bakal rilis beberapa CD terus kasih ke orang-orang lewat secara random aja.

 

Apa lagi rencana selanjutnya?

Rencananya pas dua tahunnya Sarana nanti mau bikin album, dan semoga tahun depan Sarana diundang ke festival noise di Jepang doain ya hehe.

Terakhir, apa tiga hal favorit kalian dari skena musik di Samarinda saat ini?

Band: Murphy Radio.

Record: Loudness Recs.

Gigs/Event: Titik Berat dan Record Store Day East Borneo.

Foto: Achmad K. Farouk. 

https://saranamusic.bandcamp.com

Soundcheck: 10 Best K-Pop Songs of 2016

 

2016 is crazy year, for sure. Namun, terlepas dari segala keabsurdan yang terjadi di dunia sepanjang tahun ini, tak bisa dipungkiri jika 2016 is also a great year for music yang ditandai oleh maraknya rilisan lagu dan video yang keren, termasuk dalam kancah K-Pop. Meskipun tahun 2016 ini kita sudah melihat beberapa berita disbandment yang menyedihkan, dari mulai Rainbow, KARA, 4Minute, hingga hengkangnya Minzy dari 2NE1 yang pada akhirnya berujung pada pembubaran resmi grup besutan YG Entertainment tersebut, untungnya seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, skena K-Pop yang tampaknya tidak pernah kehabisan talenta-talenta baru pun siap menawarkan “racun” terbaru mereka dalam bentuk grup-grup rookies yang sangat menjanjikan. I’m here to stay for the K-Pop’s catchy chorus and superb videos, and without further ado, here are my list of top 10 K-Pop of this year!

10. K.A.R.D – “Oh NaNa”

Terakhir kali kita melihat grup co-ed (berpersonel cewek dan cowok dalam satu grup) yang cukup promising di K-Pop adalah Co-Ed School yang dibentuk oleh Core Contents Media back in 2010 yang sayangnya tidak berumur lama. Since then, kita hampir tidak pernah mendengar grup co-ed yang menarik untuk disimak, but as a nice surprise, kurang dari seminggu lalu DSP Media memperkenalkan K.A.R.D, sebuah grup co-ed yang terdiri dari empat personel (BM, Jeon JiWoo, J.Seph, Jeon SoMin) dengan single pertama mereka, “Oh NaNa”, yang saat artikel ini ditulis sudah menembus satu juta views di YouTube, sebuah pencapaian impresif bagi grup rookie yang datang dari company di luar the Big 3 (SME, JYP, YG). It’s no wonder kenapa mereka bisa menarik atensi dengan cepat. Tak hanya atraktif secara fisik, keempat member-nya juga disebut berbakat dalam hal composing, menulis lagu, hingga membuat koreografi sendiri yang ditunjukkan dalam MV pertama mereka. Secara videografi, sebetulnya konsep MV “Oh NaNa” cukup standard namun berhasil menampilkan kemampuan setiap member dengan porsi yang pas, and with those addictive summer-ish dancehall beats, we can’t help but to keep press the repeat button.

9. PENTAGON – “Can You Feel It”

Empat tahun telah berlalu sejak Cube Entertainment memperkenalkan BTOB ke pecinta K-Pop dan rumor jika Cube sedang mempersiapkan boy group terbaru mereka sudah ramai dibicarakan sejak tahun 2015 lalu. Jawaban dari penantian tersebut adalah PENTAGON, boy group dengan 10 member yang merilis debut album mereka pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dengan title track berjudul “Gorilla”. Sebelum debut, para member PENTAGON diperkenalkan ke publik lewat survival show bernama Pentagon Maker di Mnet, dengan beberapa member dikenal sebagai bekas trainee dari company besar lainnya seperti SM dan YG. But make no mistake, jangan sebut grup ini sebagai grup “buangan”, karena lewat comeback single “Can You Feel It” dari EP kedua bertajuk Five Senses, mereka membuktikan diri sebagai grup rookie yang patut diawasi. Dengan koreografi yang matang dan chemistry di antara member yang kuat, mereka punya teamwork dan potensi yang tidak kalah dengan grup sebesar EXO sekalipun.

8. I.O.I – “Very Very Very”

To be honest, saya tidak bisa menulis tentang grup berpersonel 11 orang yang datang dari berbagai agensi berbeda ini tanpa merasa sedih. Seperti yang kamu tahu, grup yang namanya berarti Ideal of Idol ini adalah sebuah girl group yang lahir dari sebuah survival show bertajuk Produce 101 milik Mnet di mana 101 trainee dari berbagai agensi berlomba mendapatkan posisi dan debut di sebuah “ultimate girl group” selama satu tahun. Sebagai penonton setia Produce 101, ke-11 member yang akhirnya membentuk I.O.I terbukti sama sekali tidak mengecewakan, they’re all very talented and pretty dengan lagu-lagu yang super catchy. But here’s the truth, faktanya umur grup ini hanya setahun sebelum para member kembali ke agensi masing-masing. As a last single, “Very Very Very” yang diproduseri oleh JYP adalah lagu yang berhasil merangkum semua pesona I.O.I dengan gemilang. Its super catchy dengan MV yang juga sama ekspresifnya. We’re not ready for their disbandment tapi di saat yang sama juga tidak sabar untuk menonton season kedua Produce 101.

7. NCT U – “The 7th Sense”

 

Belajar dari pengalaman yang kurang menyenangkan dari hengkangnya beberapa member Super Junior dan EXO, S.M. Entertainment meracik konsep terbaru untuk proyek grup terbarunya yang bernama Neo Culture Technology yang kemudian disingkat sebagai NCT. Konsep utama NCT adalah jumlah member yang tidak terbatas, dalam artian, SM bebas menambahkan atau merombak susunan member dalam setiap comeback dalam bentuk sub-unit yang berbeda-beda dengan para personel yang berasal dari grup pre-debut SM Rookies. NCT U yang menjadi sub-unit pertama yang diperkenalkan pada April lalu berhasil mencuri perhatian dengan single “The 7th Sense”, sebuah lagu debut yang benar-benar terdengar unik dari grup-grup K-pop pada umumnya. Dengan beat-beat elektronik yang ganjil (its kinda weird yet sexy at the same time) dan diperkuat oleh koreografi menghipnotis serta mind tripping visual, “The 7th Sense” adalah sebuah eksperimen SM untuk keluar dari zona nyaman mereka dengan hasil yang gemilang.

6. Twice – “TT”

Ya, saya tahu beberapa dari kamu pasti akan bertanya kenapa saya memilih “TT” instead of “Cheer Up” yang memang menjadi salah satu anthem K-pop paling besar di 2016, but I have my own reason. “Cheer Up” memang lagu yang super duper catchy dan berhasil melambungkan girl group besutan JYP ini menjadi salah satu national girl group, tapi jujur saja, mendengarkan “Cheer Up” lebih dari 5 kali berturut-turut adalah hal yang menyebalkan (based on personal experience). Lain halnya dengan “TT”, tentu saja saat pertama menonton MV-nya, kita akan sibuk terpesona pada sembilan member dengan kostum Halloween masing-masing yang imut dan koreografi yang lagi-lagi ikonik secara instan. Namun, saat didengarkan dengan headphone tanpa melihat MV-nya pun, “TT” memiliki banyak elemen dan detail musik yang menarik untuk diulik setiap kali mendengarnya. Dari mulai bagian intro, bridge, hingga chorus, its full of musical surprises yang menunjukkan jika lagu ini tak hanya catchy tapi juga digarap dengan sungguh-sungguh. Totally a bop.

5. Red Velvet – “Russian Roulette”

Mendengar nama Red Velvet, biasanya kita akan langsung membayangkan MV penuh visual warna-warni yang whimsical dan semanis sakarin, tapi di title track untuk EP ketiga mereka ini, they injects a darker twist to it. Saat mendengarnya untuk pertama kali, “Russian Roulette” adalah lagu synthpop berbumbu bebunyian retro 8-bit dan robotic chorus yang memiliki semua elemen dari classic K-Pop girl group hits, it’s catchy, fun, with a nice dynamic and breakdowns. MV-nya sendiri pun terlihat sama ceria dan bubbly di mana para member yang memakai pakaian bertema olahraga terlihat bermain tennis dan dodgeball plus koreografi yang sama serunya dalam setting yang dipenuhi warna pastel andalan mereka. But in the following scenes, kita menyadari jika kelima member RV berusaha menyingkirkan satu sama lain dengan berbagai skenario yang cartoonish (dari mulai menjatuhkan piano, menyelipkan baut ke dalam mangkuk sereal, hingga mendorong temannya ke mobil yang melaju) yang terinspirasi dari serial Itchy & Scratchy dari The Simpsons. For some people, beberapa adegan tersebut mungkin memang disturbing, tapi dengan sajian visual dan audio yang begitu sinfully sweet, we can’t help but craving for more.

4. Seventeen (SVT) – “Check-In”

Bagi kamu yang belum pernah mengenal Seventeen, let me explains the basic thing about their concept. Dengan member sebanyak 13 orang, Seventeen terdiri dari tiga sub unit yang meliputi vocal unit, hip-hop unit, dan performance unit. Sejak melakukan debut di bulan Mei 2015, mostly mereka memang tampil as one big group di mana para member punya peranan penting dalam setiap produksi yang mereka rilis, dari mulai composing lagu hingga koreografi, yang akhirnya membuat mereka dijuluki “self-producing” idol group. Tahun ini, mereka tak hanya merilis banyak K-Pop hits seperti “Very Nice” dan yang terbaru, “Boom Boom”, tapi juga “Check-In”, sebuah single dari hip-hop mixtape milik Hip-Hop Unit mereka yang terdiri dari S.Coups, Wonwoo, Mingyu, dan Vernon. With tropical beat and laidback feels, keempat rapper tersebut menunjukkan skill masing-masing and just vibing with each other dengan latar Hong Kong yang sangat picturesque. Seriously, warna-warni vibrant dan lanskap arsitektur dalam MV ini adalah pure aesthetic orgasm. Every scene is like a screencap from Wong Kar Wai’s movies. Dengan shout out untuk kota-kota dunia yang telah mereka kunjungi (termasuk Jakarta!) ditambah nuansa restless youth yang kental, this MV feels so uplifting and hopeful yang mampu mendorongmu untuk menyiapkan backpack and travel abroad with your crew.

 

3. Blackpink – “Whistle”

 

Sebagai girl group pertama yang lahir dari YG Entertainment sejak 2NE1 muncul tujuh tahun lalu dan meraih status legend dalam dunia K-Pop, Blackpink yang terdiri dari Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa mengemban banyak antisipasi dan prasangka positif maupun negatif jauh sebelum mereka akhirnya resmi debut dengan single album bertajuk Square One bulan Agustus lalu yang kemudian secara instan berhasil meraih respons yang totally worth the hype lewat dua debut single mereka, “Boombayah” dan “Whistle”. While “Boombayah” is a party banger, “Whistle” is a slick minimalist hip-hop yang genius. Saat menonton MV “Whistle” untuk pertama kalinya, it takes only literally the first three seconds to fell in love with this song. Lagu yang diproduksi oleh Teddy Park dan Future Bounce ini dibangun oleh melodi drum ‘n’ bass yang terdengar minimal dan sparse namun sangat infectious yang diperkuat oleh killing rap parts, country guitar di bagian chorus yang totally unexpected, dan tentu saja, bunyi siulan yang melekat di kepala ever since. Semua racikan tersebut memang terdengar agak ganjil pada awalnya, but somehow it feels so right, dan tanpa kamu sadari, kamu pun akan terhipnotis melihat visual cantik yang disajikan di MV-nya, dengan keempat personel yang memiliki daya tarik masing-masing yang sama kuat, dan tanpa sadar you will get down with this song. Dengan follow up singles seperti “Playing With Fire” dan “Stay” dari Square Two yang sama kerennya dari segi sounds dan visual, Blackpink is the best rookie group in 2016, no objection.

2. BTS – “Blood Sweat & Tears”

No matter what the antis might say, 2016 is the year of BTS. Setelah trilogi Most Beautiful Moment in Life yang melesatkan karier mereka ke strata atas grup K-Pop kontemporer, grup besutan Big Hit Entertainment yang terdiri dari 7 orang personel ini pun merilis album kedua mereka, Wings, pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dan langsung memecahkan berbagai rekor di sana-sini. Pertama kali muncul di tahun 2013 sebagai grup berkonsep hip-hop dengan image bad boys, dalam perjalanan kariernya, BTS yang juga dikenal dengan nama Bangtan Boys (Bulletproof Boy Scouts) menjelma sebagai grup dengan image dan konsep yang semakin matang tanpa melupakan cara bersenang-senang lewat musik dan koreografi yang standout. “Blood Sweat & Tears” yang menjadi single utama dari Wings adalah narasi tentang kehidupan dan kematian dengan inspirasi utama dari novel Demian karya Herman Hesse yang dikemas dalam sebuah produksi musik ambisius yang menggabungkan electronic, synthpop, rap, hingga moombahton dengan MV yang sangat artistik. Set the bar really high for the other groups, tidak heran jika BTS tahun ini dinobatkan sebagai Artist of the Year dalam gelaran Mnet Asian Music Awards dan menjadi grup pertama di luar perusahaan Big 3 (SM, YG, JYP) yang meraih penghargaan tersebut.

1. Big Bang – “Fxxk It”

Kalau saja Big Bang tidak merilis album penuh mereka MADE di penghujung akhir tahun ini, posisi nomor satu ini akan diduduki oleh BTS. Dibandingkan hits sebelumnya seperti “Bang Bang Bang” dan “Fantastic Baby” yang heboh, “Fxxk It” lebih dekat dengan “We Like To Party” yang terdengar easy going and chill. Dibuka oleh Taeyang dengan verse berbahasa Inggris yang fasih, “Fxxk It” adalah lagu electro hip-hop mid-tempo dengan nuansa tropical beat dan efek woozy pada detailnya di mana setiap member mendapat porsi yang seimbang untuk bersinar. MV yang disutradarai oleh Seo Hyun-Seung menampilkan para personel Big Bang hanging around di daerah Cheongju, dari sebuah kamar sederhana hingga ke sebuah club, like a group of rascals yang mengingatkan pada masa-masa remaja mereka di awal karier sebelum akhirnya menjadi salah satu legend di dunia K-Pop. Bersama-sama menjalani satu dekade penuh perjuangan, more than just old friends, mereka mungkin sudah seperti keluarga sendiri dan hal itu terlihat di MV ini yang terasa apa adanya tanpa pretensi. Meskipun jelas mereka mengusung semangat “semau gue”, tak bisa dipungkiri jika ada kedewasaan yang terpancar dari dinamika di antara para member di MV ini. As a last hurrah sebelum mereka bergantian menjalani wajib militer, lagu ini seperti pesta perpisahan yang santai dan intimate bagi para member dengan fans setia mereka. Mungkin butuh waktu cukup lama sebelum mereka bisa kembali dengan formasi utuh, but we sure will wait for these kings to return.

 

Minty Fresh: Five Fresh Acts To Add On Your Playlist This Month.

sofi-tukker

SOFI TUKKER

Berawal dari perkenalan di sebuah galeri seni, penyanyi bossa nova Sophie Hawley-Weld dan DJ asal Boston bernama Tucker Halpern yang sama-sama berkuliah di Brown University dengan cepat menjadi kawan karib berkat instant chemistry dan ketertarikan yang sama terhadap budaya dan musik Amerika Latin. Setelah keduanya lulus dari Brown, mereka memutuskan pindah ke New York untuk membentuk duo folk-dance bernama Sofi Tukker yang menyajikan musik electronic dengan sentuhan musik Latin yang terdiri dari beat house adiktif, dentuman gitar elektrik, alat musik tradisional seperti bongo dan charango, serta lirik berbahasa Portugis yang terinspirasi oleh tulisan penyair Brazil legendaris, Chacal. Hal itu mungkin terdengar aneh di atas kertas, tapi jika kamu telah mendengar beberapa single awal seperti “Drinkee” (yang dipakai dalam komersial Apple Watch baru-baru ini), “Matadora”, dan “Hey Lion” yang terkompilasi dalam debut EP bertajuk Soft Animals, kamu akan jatuh cinta dengan cepat kepada duo yang kini berada di bawah naungan HeavyRoc Music, label milik The Knocks tersebut. Bagi mereka, membuat musik dance adalah hal yang sebetulnya bersifat spiritual. Sophie yang juga merupakan seorang pengajar yoga mengaku terinspirasi oleh chants dari Kundalini yoga yang berulang-ulang untuk menciptakan ambience yang mengajak pendengarnya terserap dalam vibrasi ritmis. Now you know why there’s something hypnotic about their music.

chaz-french

Chaz French

Dengan hasil observasi dari lingkungan sekitarnya, Chaz French yang merupakan rapper asal Washington D.C. menghabiskan masa sekolahnya dengan menulis lirik lagu rap di buku pelajaran dan merekam mixtape berisi 15 lagu di basement milik temannya. Namun, baru setelah akhirnya drop out dari sekolah dan berkeluarga, ia merilis album debut dengan judul Happy Belated pada April tahun lalu yang dipenuhi passion, soul, serta authenticity yang tidak mungkin bisa ditiru oleh orang yang tidak pernah merasakan getirnya hidup. Membawa warna baru terhadap kultur hip hop di D.C., ia kemudian meraih momentumnya bersama mixtape teranyarnya These Things Take Time akhir tahun lalu yang diakuinya jauh lebih kohesif dan mendapat respons gemilang tidak hanya dari pendengar dan jurnalis, tapi juga dari sesama musisi seperti Pusha T. Dalam video untuk single terbarunya “IDK” yang disutradarai oleh Shomi Patwary, rapper berusia 24 tahun ini mengajak kita menelusuri jalanan D.C.  dengan konsep yang terinspirasi dari situasi nyata tentang life struggle dan kenyataan hidup yang keras. Baru-baru ini, ia juga berkolaborasi dengan singer-songwriter R&B Kevin Ross dalam single “Be Great” yang mengangkat soal ketegangan rasial dan kebrutalan polisi dalam komunitas African-American beberapa tahun terakhir ini. Namun, bukan berarti jika musik yang ia buat hanya mengumbar kepahitan saja, karena di balik kemampuannya untuk melontarkan lirik yang brutally honest dengan kecepatan senapan mesin, there’s always something melodic and of course, the silver lining.

cullen-omori

Cullen Omori

Rasanya selalu menyebalkan saat mendengar kabar band favoritmu memutuskan bubar karena masalah internal, seperti yang dialami oleh Smith Westerns. Disebut sebagai salah satu band indie-rock paling exciting sejak merilis album Dye It Blonde di tahun 2011 dengan pengaruh garage rock yang pekat, band asal Chicago tersebut memutuskan bubar tahun lalu. Tapi untungnya, para personelnya tidak lantas pensiun dari musik begitu saja. Dalam jeda waktu yang hampir bersamaan, para bekas personel Smith Westerns muncul dengan proyek musik masing-masing. Bagi sang mantan vokalis dan gitaris, Cullen Omori, proyek itu adalah album solo perdananya dengan judul New Misery yang dirilis oleh label Sub Pop bulan Maret kemarin. Direkam tahun lalu dalam sebuah sesi recording selama sebulan penuh di Brooklyn, album berisi sebelas lagu ini ditulis dalam masa-masa yang membingungkan bagi pria keturunan Jepang berusia 25 tahun tersebut. Telah mulai pergi tur saat berhenti sekolah di tahun 2009, Cullen harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa kegiatan band dan melakoni pekerjaan part time di sebuah rumah sakit selama beberapa waktu. Lucky for him, album ini tidak lantas menjadi rekaman gundah gulana penuh nestapa. Lewat single seperti “Sour Silk” dan “Cinnamon”, Cullen pun menunjukkan elemen-elemen terbaik dari band terdahulunya yang dipenuhi aesthetic power pop penuh reverb dan catchy hooks yang mengiringi vokal Cullen yang masih terdengar dreamy seperti sosok cowok paling misterius di sebuah SMA daerah suburban Amerika. Diperkuat dengan mood dan lirik yang lebih gelap, he’s more than ready to take the center stage.

the-britanys

The Britanys

Tak lama setelah tiga sekawan Steele Kraft, Lucas Long, dan Gabe Schulman menjadi roommates di kampus dan memutuskan membuat band bareng, mereka mencari nama bayi perempuan paling populer di tahun 1994 (tahun kelahiran mereka) di Google. Hasilnya adalah Brittany, namun akibat salah tulis, mereka terlanjur mendaftarkan nama domain mereka dengan nama Britany, and that’s how these NYC indie rock band got their name. Di tahun 2014 ketika masih dalam format trio, mereka merilis debut EP bertajuk It’s Alright dengan berbagai referensi rock & roll dan garage band. Tahun lalu, mereka memutuskan merekrut Jake Williams sebagai gitaris tambahan dan merilis “Basketholder”, single pertama mereka sebagai four-piece band yang diproduseri oleh Gordon Raphael (yang juga pernah memproduseri The Strokes dan Regina Spektor). Saat ini, The Britanys tak hanya berkutat dengan jadwal latihan empat kali seminggu di basement apartemen mereka di daerah Bushwick, mereka juga sedang aktif menjadi pembuka untuk band seperti Hinds dan tampil di festival seperti Savannah Stopover Music Festival dan The Great Escape di Inggris. Dengan semua momentum positif itu, mereka pun dengan antusias menyiapkan materi-materi baru yang dirangkum dalam Early Tapes EP yang berisi 4 lagu yang akan mengingatkanmu pada materi di era awal Arctic Monkeys dan The Strokes.

littlesims

Little Simz

Bersenjatakan lirik rap yang dibawakan dengan penuh intensitas dan flow yang tak terbendung, Simbi Ajikawo adalah seorang rapper belia asal London yang memakai nama alias Little Simz dan membuktikan jika dedikasi serta passion memang menjadi kunci kesuksesan bagi seorang musisi muda. Menulis lagu pertamanya di umur sepuluh tahun, Little Simz sudah tahu apa yang ingin ia raih dan kerjakan di saat anak-anak seumurnya masih clueless dan belum memikirkan soal future career. Hasil kegigihan dan talenta alaminya membuahkan album debut berjudul A Curious Tale of Trials + Persons yang dirilis di bawah label miliknya sendiri yang bernama Age 101. 10 lagu di dalamnya merupakan hasil jerih payahnya bekerja di akhir pekan demi bisa membeli mic dan mengasah bakatnya di kamar tidurnya dengan inspirasi dari musisi-musisi favoritnya seperti Lauryn Hill, Missy Elliott, dan Dizzee Rascal. Tak hanya menulis dan memproduksi musik, as a part of the millennial musicians, dia juga belajar secara otodidak caranya menyunting video musiknya sendiri dan merilis beberapa mixtape di akun SoundCloud miliknya yang meraup 50 ribu followers bahkan sebelum akhirnya ia mendapat kontrak dari Mos Def, J. Cole, dan Kendrick Lamar. Now, that’s girl power.

 

The Curious Case of Björk

Lewat album terbaru bertajuk Vulnicura, Björk menyembuhkan luka patah hati dengan berefleksi ke masa awal dan membalutnya dengan therapeutic strings. Brutally honest dan musikalisasi yang magis, its simply Björk at her best.

Sebagai salah satu legenda musik kontemporer paling ikonik sampai hari ini, jujur saja memori awal saya tentang Björk tidak terlalu bagus. Ketika pertama kali melihat video “Hunter” dari album Homogenic yang dirilis tahun 1997, saya sebagai anak kecil hanya bisa terbengong menyaksikan wanita botak di layar TV yang bertransformasi menjadi beruang kutub tersebut dan berpikir: “Ini musik apa sih? Who’s this crazy lady? Bejork? What a weird name! (its “bee-york” actually).” Saya sempat sebal setiap kakak saya memainkan musiknya yang sama absurdnya dengan segala pakaian yang ia pakai (ingat the swan dress yang ia pakai ke Oscar 2001?). Björk is weird, period. Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk akhirnya bisa mengapresiasi musik yang dihasilkan musisi eksentrik Islandia tersebut. But, once you go Björk, you’ll never go back.
Ketika album Medúlla dirilis di tahun 2004, saya sedang duduk di kelas dua SMA dan sudah lumayan terpapar oleh berbagai jenis musik. Saya memutuskan membeli CD-nya, out of curiousity karena melihat sampulnya. It’s not exactly an instant love, to be honest. Butuh berapa saat sampai akhirnya saya bisa mencerna segala kompleksitas yang tersimpan di dalam album yang hampir seluruhnya dibangun secara a cappella tersebut, and it became a pleasure. Lalu saya mulai mendengarkan diskografi sebelumnya dan semakin menyadari betapa jeniusnya wanita bernama lengkap Björk Guðmundsdóttir tersebut. Dalam setiap albumnya, Björk menciptakan dunia sendiri yang dibangun oleh vokal sopran khasnya yang celestial dan mengancam di saat yang sama, aransemen musik yang luar biasa detail dan kompleks, serta eksplorasi musikal tanpa batas yang ia tempuh, mulai dari electronic, trip hop, rock, classical, jazz, dan bahkan hip hop. There’s no other words to describe her music beside eclectic and avant-garde.
Di balik segala keeksentrikan seorang Björk, yang membuat saya akhirnya jatuh cinta adalah passion dan totalitas yang begitu besar dalam dirinya. Semua karya yang ia buat selama tiga dekade kariernya berasal dari hati. Di antara tema-tema seperti kosmologi, alam semesta, dan kultur, lagu-lagu terbaik yang Björk hasilkan adalah lagu yang berbicara tentang hubungan dan kejiwaan manusia secara puitis dan blatant di saat yang sama. Namun, tampaknya belum ada yang setelanjang secara emosi seperti album terbarunya, Vulnicura, sebuah breakup album yang ia tulis pasca perpisahannya dengan seniman Amerika garda depan, Matthew Barney, seorang long time partner sekaligus ayah dari anaknya. Meneruskan tradisi panjang seniman wanita yang mencurahkan perasaan paling personalnya ke publik dalam bentuk seni sebagai terapi, sekaligus personal reclaiming.
Vulnicura yang berarti “Cure for Wounds” dan diproduksi dari 2 tahun lalu adalah sebuah album yang terlahir prematur. Album kesembilan itu awalnya dijadwalkan rilis Maret ini bersamaan dengan peluncuran buku Björk: Archives dan sebuah pameran seni retrospektif tentang karier tiga dekade Björk di MoMA, New York. Namun, menyusul online leak awal tahun ini, Vulnicura dirilis lebih cepat dua bulan, Januari silam. Sebuah keputusan reaktif yang cepat dan menjadikannya salah satu dari sedikit album Björk yang dirilis tanpa gimmick apapun. Tapi dengan tema yang begitu personal, hal itu justru bagai blessing in disguise, membuat album ini bisa dinikmati secara utuh tanpa perayaan dan distraksi yang tak perlu.
Björk mendeskripsikannya sebagai album yang ditulis secara tradisional dengan pemakaian strings yang dramatis dan bebunyian elektronik eksperimental sebagai pengingat album Homogenic, namun secara tematis album ini lebih dekat pada Vespertine (2001), sebuah album penuh konflik yang terasa intim, dingin, domestik dan “sangat feminin”, sekaligus album yang dibuat ketika ia mulai menjalin hubungan dengan Barney tahun 2000 silam. Di Vulnicura, Björk menjalani proses pemulihan diri dengan cara self-questioning, merenungkan apa yang salah dalam hubungan mereka lalu mencurahkannya dalam lirik-lirik paling jujur dan rapuh yang pernah ia buat. Sebuah proses penyembuhan yang mungkin sama brutalnya dengan melakukan self-amputate. “Ketika saya membuat album ini, dunia saya terasa runtuh. Saya tidak punya apapun yang tersisa. Hal itu adalah pengalaman paling menyakitkan dalam hidup saya. Satu-satunya jalan untuk menghadapinya adalah dengan membuat musik. Saya mulai menulis komposisi strings dan menjadi violin nerd. Saya punya sekitar 20 teknologi baru yang bisa saya coba, namun album ini tidak bisa terasa futuristik. Album ini harus terasa singer/songwriter. Old school. It had to be blunt,” ungkap wanita berumur 49 tahun tersebut dalam sebuah interview emosional penuh air mata yang ia lakukan bersama Pitchfork tentang album ini.
Di Vulnicura, Björk menggandeng kolaborator utama Alejandro Ghersi, yang lebih dikenal dengan nama Arca, seorang produser musik Venezuela berbasis di London yang juga menjadi otak kreatif di balik LP1 milik FKA twigs dan Yeezus milik Kanye West. Arca yang merupakan long time fan Björk menjalani hubungan guru dan murid sekaligus nahkoda untuk dirinya, memandu semua emosi mentah untuk tetap berada di jalur dan mengeluarkan potensi terbaik yang ada, musically dan stylistically. Vulnicura disajikan berdasarkan kronologi hubungannya yang kandas. Tiga lagu pertama, “Stonemilker”, “Lionsong”, dan “History of Touches” adalah dialog yang terjadi di periode sebelum perpisahan. Lagu keempat “Black Lake” yang berdurasi 10 menit merupakan center piece dari album ini dan berisi internal monolog dari masa paling depresif pasca perpisahan, di mana Björk berbisik secara retoris “Did I love you too much?” di antara bunyi strings yang menyayat sebelum ketukan glitch elektronik ritmis di menit keempat mencapai klimaks di menit selanjutnya dan menciptakan momen terbaik dalam album ini.
Lima lagu sesudahnya, termasuk “Family” yang turut diproduseri The Haxan Cloack dan “Atom Dance” yang menghadirkan Antony Hegarty sebagai vokalis tamu menceritakan masa-masa pemulihan yang lambat. Sepuluh lagu di dalamnya yang berdurasi total 58 menit dengan mulus terajut menjadi tragedi musikal lethargic yang tak hanya menyembuhkan dirinya sendiri secara emosional, tapi juga menemukan kembali jati dirinya sebagai musisi dan seniman, “It’s been a strange album. Album paling menyakitkan yang pernah saya buat, tapi juga yang paling melegakan,” tandasnya. Sublime, emotionally demanding, dan dewasa, Vulnicura menjadi salah satu album paling gemilang dari sepanjang diskografi Björk yang secara ironis tercipta di saat yang paling rapuh, sekaligus paling humanis.

Björk’s Essentials:
Dalam sepanjang karier musikal yang dimulai dari tahun 1977, Björk telah menghasilkan sembilan album seminal peraih ratusan penghargaan yang belum termasuk album soundtrack, remix, live, dan greatest hits, ataupun album-album dari band tempatnya bernaung sebelum bersolo karier. Never too late to listen some Björk, here’s some concise guide:

BjorkBjörk (1977)
Dirilis ketika masih berumur 11 tahun, album ini adalah perkenalan pertama seorang Björk dalam dunia musik. Berisi 10 lagu berbahasa Icelandic yang dibuka oleh bunyi sitar dalam lagu “Arabadrengurinn (The Arab Boy)” yang ditulis oleh ayah tirinya, album ini juga berisi cover dari lagu The Beatles (“The Fool on the Hill”), Edgar Winter (“Alta Mira”), dan Stevie Wonder (“Your Kiss Is Sweet”) dalam bahasa Islandia, serta satu lagu instrumental yang ditujukan sebagai tribut untuk pelukis Islandia Jóhannes Kjarval yang ditulis sendiri oleh Björk. Mendapat respons yang cukup bagus di negaranya, ia mendapat tawaran untuk membuat album kedua bersama labelnya, Fálkinn, namun menolaknya dan memilih membeli piano dari royalti penjualan albumnya untuk belajar membuat lagu-lagunya sendiri.

DebutDebut (1993)
Setelah band alternative rock The Sugarcubes yang digawanginya memutuskan bubar, Björk pindah ke London untuk bersolo karier dan memberi judul Debut bagi album solo keduanya ini sebagai fresh start. Dibuka oleh single pertama “Human Behaviour”, lagu dance dengan sample gitar bossa dari Jobim dengan video klip yang digarap oleh sutradara Prancis Michel Gondry yang kelak menjadi long time collaborator untuk video-video ajaibnya, album yang diproduseri Nellee Hooper ini berisi jazz, trip hop, house, dan disebut sebagai salah satu album pertama yang mengenalkan electronic dance music ke ranah mainstream pop. Berisi lagu-lagu seperti “Venus As a Boy”, “Big Time Sensuality”, “Like Someone in Love”, dan “Violently Happy”, album yang menjadi best-selling albumnya ini mencerminkan Björk di awal usia 20-an yang penuh cinta dan berbicara tentang cinta dengan cara yang tak biasa.

PostPost (1995)
Menyambung kesuksesan Debut, Björk kembali bekerjasama dengan Nellee Hooper dan beberapa produser lainnya seperti Tricky, Howie B, dan Graham Massey untuk terus bereksplorasi dengan banyak genre. Diawali industrial beat untuk lagu pembuka “Army of Me”, Post yang bercerita tentang perasaan Björk sebagai seorang gadis muda yang meninggalkan rumah dan berada di negeri asing juga menghadirkan trip hop di “Possibly Maybe”, elektronik sinematis yang dreamy di “Hyperballad” dan “Isobel” serta lagu jazz dengan komposisi big band orchestra yang sangat playful di “It’s Oh So Quiet” dengan video klip yang disutradarai oleh Spike Jonze sekaligus mengukuhkan nama Björk sebagai musisi perempuan fearless paling eklektik yang bisa diterima oleh masyarakat umum.
homogenicHomogenic (1997)
Menyusul ancaman acid bomb dari seorang penggemar maniak, Björk memilih meninggalkan London untuk sementara waktu, sekaligus image eccentric pixie girl dari dua album sebelumnya. Homogenic yang direkam di Spanyol adalah album konseptual pertamanya dan disebut sebagai salah satu karya Björk yang paling eksperimental dan emosional. Dengan tema utama kerinduannya pada Islandia, Björk berusaha menggambarkan lanskap ethereal negara asalnya tersebut lewat komposisi strings yang megah dari String Octet asal Islandia dengan glitch elektronik glasial seperti yang terekam sempurna dalam lagu “Jóga” dan “Unravel”. Album yang menjadi kolaborasi pertamanya dengan produser Mark Bell ini juga menghadirkan video-video Björk paling ikonik seperti “Bachelorette” oleh Michel Gondry, “All Is Full of Love” oleh Chris Cunningham, dan “Hunter” oleh Paul White.

VespertineVespertine (2001)
Björk menulis album kelima ini ketika ia menjadi pemeran utama di film Lars Von Trier berjudul Dancer in The Dark yang mendapat P’alme d’Or di Cannes. Proses syuting yang melelahkan dan penuh konflik membuat album ini terasa lebih gelap dan meditatif dari album sebelumnya. Di sisi lain, Björk yang baru menjalin hubungan dengan Matthew Barney menuangkan keintiman tersebut dengan begitu lugas seperti yang terdengar di lagu “Hidden Place” dan “Cocoon” yang berisi narasi erotis berbalut manipulasi micro beats dari duo Matmos, koir wanita Inuit, dan chamber orchestra. Sensual dan dingin di saat yang sama, video “Pagan Poetry” yang disutradarai Nick Knight disebut sebagai salah satu musik video paling kontroversial. Vesper sendiri berarti evening prayers, dan album ini bisa dibilang sama personalnya dengan melihat Björk di balik kamar tidurnya.

MedullaMedúlla (2004)
Dengan tema a cappella, di album yang judulnya diambil dari bahasa Latin untuk “sumsum” ini, Björk bereksplorasi dengan potensi vokal manusia. Hampir keseluruhan komposisi album ini dibangun dari bunyi vokal, baik vokalnya sendiri, maupun manipulasi vokal dari penyanyi throat, beatboxer, avant-rocker, dan choir. Contoh paling gemilang adalah “Oceania” yang dibawakan di pembukaan Olimpiade Yunani 2004, di mana Björk menyanyikan lirik tentang evolusi manusia di antara racikan beatboxing dari Shlomo dan paduan suara London dan menjadi highlight album ini di samping “Who is It” dan “Triumph of a Heart”. Sekilas, album yang banyak berisi lagu Icelandic ini terasa lebih senyap dan berbisik dibanding album sebelumnya, namun di saat yang sama juga menjadi album yang diakuinya paling politis menyusul reaksi atas rasisme dan patriotisme pasca 9/11.

VoltaVolta (2007)
Pulang dari mengunjungi korban Tsunami di Aceh, Björk menulis lagu industrial “Earth Intruders” yang menjadi lagu pembuka di album ketujuh ini yang didominasi oleh energi yang meluap dari brass section dan bunyi African beats. Selain Mark Bell, Björk juga mengajak produser hip hop Timbaland dan Danja sebagai kolaborator utama album ini, yang membuatnya dianggap sebagai album paling pop dan mainstream dari Björk, which is not very true. Walaupun tidak seeksperimental tiga album sebelumnya, Volta adalah taman bermain bagi Björk sebagai musisi untuk mengeksplor world music, mulai dari musik tribal Afrika dan elemen hip hop di “Innocence”, brass section oleh 14 musisi wanita Islandia, pemain kora dari Mali, ensemble dari Kongo, dan pemain pipa Cina, serta berduet dengan Antony Hegarty di lagu “The Dull Flame of Desire” dan “My Juvenile”. Primal dan cenderung liar, album ini juga berisi “Declare Independence” yang merupakan anthem anti tirani yang memancing kontroversi di banyak negara.

BiophiliaBiophilia (2011)
Terinspirasi hubungan antara lingkungan, musik, dan teknologi, Björk menghadirkan Biophilia yang merupakan proyek multimedia yang meliputi album musik, apps teknologi, dan educational workshop tentang alam semesta. Tema itu terwujud dalam “Crystalline” yang menjadi single pertama adalah lagu elektronik yang menghadirkan instrumen one of a kind bernama “gameleste” yang merupakan gabungan dari gamelan dan celesta yang dimainkan secara digital, serta struktur musikal yang dipengaruhi fenomena alam, seperti rotasi bumi di “Solstice”, musical cycle di lagu “Moon”, dan arpeggios di “Thunderbolt”. Disebut sebagai “app album” pertama di dunia, setiap lagu di dalamnya memiliki iPad interactive apps masing-masing yang juga menjadi downloadable apps pertama di Museum of Modern Art, New York.

VulnicuraVulnicura (2015)
Pasca kematian long time collaborator Mark Bell dan perpisahannya dengan long time partner Matthew Barney, Björk meninggalkan tema-tema besar tentang dunia dan alam semesta dan beralih sejenak ke hal-hal yang lebih substantif dan personal secara emosional. Menggandeng produser Arca yang berada di balik kesuksesan FKA twigs sebagai kolaborator utama, album berisi 9 lagu ini lebih dari sekadar breakup album, tapi juga salah satu album Björk yang paling genuinely honest, heartbreaking, and hopeful at the same time. Selain perilisan buku Björk: Archives dan ekshibisi retrospektif di MoMA yang akan meng-cover perjalanan musik Björk dari Debut sampai saat ini, ia juga bersiap melakukan Vulnicura Tour di Amerika, Eropa, and hopefully, Asia.

Sounds of 2015: 15 Names You Should Check Out For This Year (Part 3)

Bagian terakhir dari tiga post tentang 15 nama band/musisi yang harus kamu simak tahun ini.

HUGHHUGH
Who: Joshua Idehen, Andy Highmore, Tino Kolarides, Izzy Brooks. Where: London. What: Electronica, Soul, R&B.

Sulit untuk menyebut musik kuartet asal Inggris ini dalam satu bingkai genre yang pasti. Mengawinkan sweet ballad, electronic R&B, jazz yang slick, hip hop dengan elemen grime yang gritty khas London, mungkin lebih mudah menjabarkan musik mereka dengan tiga kata berikut: elegant, refined, and majestic. Selain beberapa single sebelumnya seperti “I Can’t Figure You Out” dan “Look Back In Laughter”, single terbaru mereka “I Don’t Like You” yang diambil dari EP One Of These Days adalah sebuah pop masterpiece tersendiri yang berisi vokal duet pria-wanita dan lirik straightforward dalam produksi aransemen minimalis yang memukau. Trust me, you won’t like them, you’ll LOVE them.

https://soundcloud.com/hughlovehugh

LapsleyLåpsley
Who: Holly Lapsley Fletcher. Where: Liverpool. What: Electropop.

Terlahir dengan nama Holly Lapsley Fletcher di Southport, Inggris, singer-songwriter berusia 18 tahun ini adalah seorang multi-instrumentalist berlatar musik klasik yang menguasai piano, gitar, dan oboe. Di balik usianya yang muda, ia menunjukkan musiknya yang mature dengan produksi elektronik minimalis dan organik dengan vokal ethereal seringan awan.yang menghembuskan kehangatan dan lirik yang heartfelt. Self-producing Monday EP berisi lagu-lagu seperti “Blue Monday”, “Glamorous”, dan “Alaskan Dreams” yang membuatnya dipuja oleh berbagai kritikus musik. Sebuah hal impresif mengingat ia mengerjakan semuanya sembari bersiap menghadapi ujian akhir sekolah

https://soundcloud.com/hollylapsleyfletcher

owlleOwlle
Who: France Picoulet. Where: Paris. What: Dreampop.

Bayangkan kekuatan lirik Florence + the Machine bertemu dengan dancey beat milik Marina & The Diamonds, maka kamu akan mendapatkan musik dreampop yang dibuat oleh Owlle, seorang electro-pop chanteuse asal Paris. Lewat penampilannya yang striking dengan rambut merah dan mata biru elektrik serta latar belakangnya sebagai anak seni rupa membantunya membangun visi bermusik yang memadukan unsur visual dan sonic experience. Tak butuh waktu lama baginya setelah merilis single “Ticky Ticky” dan “Don’t Lose It” untuk meraih respons positif dan bahkan membuahkan kolaborasi dengan Depeche Mode berupa remix lagu “Heaven”. Bakat cemerlangnya kembali ditunjukkan dalam French, album terbarunya yang menampilkan koleksi lagu-lagu berbasis synth dengan sensibilitas pop yang menarik.

https://soundcloud.com/owlle

ShamirShamir
Who: Shamir Bailey. Where: Las Vegas. What: House, R&B.

Terinspirasi membuat musik berkat bibinya yang seorang songwriter, remaja berusia 19 tahun asal Las Vegas ini memulai kariernya selayaknya musisi dari generasi millennial lainnya, dari dalam kamarnya secara otodidak. Ia sempat tergabung dalam duo bedroom-pop Anorexia sebelum mulai bersolo karier dengan lagu dance house “If It Wasn’t True” dan “I’ll Never Be Able to Love” sebuah lagu balada soulful yang raw dan menampilkan vokal falsetto androgynous yang mengingatkan pada Nina Simone muda dan Michael Jackson era Jackson 5. Setelah bekerjasama dengan Nick Sylvester dari label Godmode untuk menyelesaikan album perdananya, Northtown, yang merupakan ode bagi kota tempat tinggalnya dengan influens musikal dari Nina Simone, Johnny Cash, hingga Beck, kini ia tengah menyiapkan album penuh pertamanya di bawah XL Recordings sekaligus menjadi intern di kantor cabang New York label tersebut.

https://soundcloud.com/shamir326

Whilk-and-MiskyWhilk and Misky
Who: Charlie dan Nima. Where: London. What: Electronic, blues.

Ketika pertama kali bertemu di sebuah bar di bulan November 2012 lalu, Nima dan Charlie, kedua musisi dari belahan dunia yang berbeda mungkin tak menyangka jika tiga bulan berikutnya mereka akan menjadi flat mates di London dan membuat musik yang mengguncang blog musik dengan nama Whilk and Misky (dari kata Milk dan Whisky, tentu saja). Memadukan vokal dan gitar Charlie serta aransemen electronic Nima dengan range genre mulai dari electronic, folk, hingga blues, single perdana mereka “Wing Clipper” lebih mengedepankan unsur techno minimalist sementara lagu terbaru “Clap Your Hands” adalah lagu akustik dengan bumbu bossanova yang catchy, penuh dengan tepukan dan stomping beats yang seksi.

https://soundcloud.com/whilkandmisky

On the Records: Bedchamber

Bedchamber, unit indie pop teranyar Jakarta bersiap meninggalkan masa remaja dengan sebuah album debut yang impresif dan semoga saja, everlasting.

PerennialDi masa ketika musik didominasi oleh bebunyian elektronik dan artifisial, jujur saja ada kerinduan tersendiri untuk mendengarkan kembali musik indie pop dalam format band yang organik selayaknya musik-musik dari skena indie pop lokal di dekade lalu yang didominasi oleh band Bandung, yang sayangnya seperti mati suri digusur oleh genre electronic atau folk. Adalah Bedchamber, band besutan anak-anak jurusan desain di Jakarta yang menebus kerinduan tersebut dengan mini album bertajuk Perennial. Berawal dari sebuah project pameran seni kolektif, Ratta Bill (vokal/gitar), Abi Chalabi (gitar), dan Smita Kirana (bass) yang sama-sama ingin ngeband iseng nge-jam bareng dan mengajak Ariel Kaspar, teman sekelas Ratta sebagai drummer hingga terbentuklah band yang namanya diambil dari sebuah random page di Wikipedia tentang Lady of the Bedchamber ini sekitar pertengahan tahun lalu.
Awal terbentuk, mereka masih menerka arah bermusik dari beragam influens setiap personelnya dari Radiohead, Weezer, DIIV, sampai musik punk (akun Soundcloud mereka masih menyimpan cover version lagu “Salah” milik Potret) dan sempat memainkan musik yang cenderung ke arah post rock sebelum akhirnya mekar sempurna menjadi sounds Bedchamber saat ini yang bisa dijabarkan sebagai indie pop at its best: aransemen yang jangly, struktur melodi yang catchy, vokal yang menyelisik dalam reverb, dan lirik bertema teen angst seperti misalnya saja, lirik “Who we are when we’re gone at 21/When we’re 21/Will we lose our sight?” yang terdapat dalam single pertama mereka, “Youth”.

“Ya sebenarnya EP ini bercerita tentang anxiety kita sendiri gimana kita masuk ke fase baru dalam hidup. Album ini dibikin pas kita masuk umur 20 di mana dari kita umur 19 ke 20 itu ada perbedaan yang cukup signifikan karena 19 adalah umur terakhir sebagai teenager jadi perasaan itu sih yang banyak dijadiin inspirasi,” ungkap Ratta yang menulis semua lirik di EP ini. “’Youth’ menyambung cerita kita sempat cari momen apa sih yang bisa kita capture dari EP ini yang kita buat waktu kita beranjak umur 20. Dan kebetulan kita semua sama-sama anak-anak yang cukup resah setelah ini kita mau ngapain? Kalau orang taunya masa muda itu hura-hura aja kita justru sebaliknya, di balik hura-hura ‘Youth’ sendiri ada kegelisahan yang cukup besar dan itu yang kita angkat,” imbuhnya tentang album debut yang berhasil mengangkat nama Bedchamber sebagai salah satu band pendatang baru paling menarik saat ini dan menghujani mereka dengan banyak tawaran manggung, termasuk tampil di Keuken, Bandung yang diakui mereka sebagai gig luar kota pertama mereka beberapa waktu lalu.
Semangat Do-It-Yourself khas remaja dalam album ini terasa kental tak hanya dari musiknya tapi juga desain packaging bertema scientific illustration yang dibuat oleh para personelnya dan Perennial sendiri dirilis oleh Kolibri Rekords, sebuah label rekaman baru yang dibentuk oleh para personel Bedchamber dan juga sahabat mereka, Daffa Andika. Tak hanya Bedchamber, label ini pun dalam waktu dekat akan merillis materi dari nama-nama baru seperti Atsea dan Gizpel yang tak kalah menariknya, which is very exciting for our local scene.
Di balik kedewasaan musiknya, yang menarik ketika saya bertemu langsung dengan band ini adalah para personelnya yang ternyata masih terasa sewajarnya anak-anak kuliahan yang gemar bercanda, tidak bisa diam saat difoto, saling meledek satu sama lain, dan terasa sekali semangat mereka menjalani band ini, walaupun seringkali harus mengorbankan waktu kuliah. “Promosi, nge-gigs, tapi jangan lupa kuliah,” ujar mereka sambil tertawa santai saat ditanya rencana selanjutnya dari band ini. Yang pasti, Perennial adalah sebuah perkenalan manis dari band yang masih dalam tahap berkembang ini dan menyoal kembali pertanyaan retoris yang dilontarkan dalam sebait lirik “Youth” di atas, I really hope they will never lose their sight.

https://soundcloud.com/bedchamber

DARI KIRI: Ratta Bill, Smita Kirana, Ariel Kaspar, Abi Chalabi.

Foto oleh Sanko Yannarotama.

Sounds of 2015: 15 Names You Should Check Out For This Year (Part 2)

Bagian kedua dari tiga post tentang 15 nama band/musisi yang harus kamu simak tahun ini. Klik di sini untuk bagian pertama.

MitskiMitski
Who: Mitski Miyawaki. Where: New York. What: Noise pop.

Melihat press photo dari gadis berdarah Jepang yang mulai bermusik sejak berumur 19 tahun ini, selintas kamu akan membayangkannya membuat lagu-lagu tweepop yang manis, but make no mistake, musik yang ia mainkan lebih berkiblat kepada Ida Maria, Maria Mena, dan Liz Phair dibanding musisi indie pop manis seperti Zooey Deschanel atau Zee Avi. Bury Me at Makeout Creek, album terbarunya yang dirilis oleh Double Double Whammy berisi 10 lagu noise pop berbasis reverb gitar yang ditulis di sebuah basement studio. Lagu-lagunya di album ini seperti “Townie” dan “First Love/Late Spring” adalah penggambaran post-adolescence angst yang sesungguhnya dengan aransemen penuh energi fearless serta lirik-lirik berisi humor gelap yang liar dan jujur.

http://mitski.bandcamp.com/

CommunionsCommunions
Who: Martin Rehof, Mads Rehof. Frederik Lind Köppen, Jacob van Deurs Formann. Where: Copenhagen. What: Post-punk.

Kuartet asal Copenhagen ini merupakan bagian dari generasi band-band Denmark paling keren saat ini yang bermula dari Mayhem, sebuah ruang latihan dan music venue (seperti Rossi Musik di Jakarta) yang juga menjadi rumah dari band-band seperti Iceage, Vår, Lower dan secara umum skena band new punk, synth, dan industrial di kota tersebut. EP Cobblestones yang mereka rilis awal tahun lalu berisi 4 lagu yang akan mengobati kerinduanmu pada band-band seperti The Stone Roses dan Joy Division dengan wall of sounds megah berakar melodi gitar, bass hook, dan bunyi organ 60-an yang effortlessly catchy. Single terbaru mereka, “So Long Sun” yang dirilis oleh Tough Love Records adalah sebuah masterpiece sekaligus ode untuk musim panas (terilhami dari musim dingin di Denmark yang panjang) dengan aransemen euphoric dan vokal mengawang yang akan membuatmu bersukacita dan menekan tombol replay berulang kali.

http://www.communions.dk/

DorothyDorothy
Who: Dorothy Martin, Zac Morris, Mark Jackson, Eliot Lorango. Where: Los Angeles. What: Rock & Roll.

Di antara skena musik yang didominasi bebunyian artifisial, semakin sulit menemukan sebuah band rock & roll yang memainkan musiknya dalam bentuk paling organik dan mentah, but here comes Dorothy. Membawa semangat dan energi beroktan tinggi dari bluesy rock klasik khas Amerika, kuartet asal LA ini siap untuk membangkitkan kembali esensi rock tradisional dengan dentuman drum yang menggebrak, lick gitar yang heavy, serta vokal parau dan witchy dari Dorothy Martin yang ibarat lovechild dari Jack White & Janis Joplin. Single debut seperti “After Midnight” dan “Wicked Ones” adalah sebuah soundtrack untuk late nite party liar yang berujung pada hal-hal berbahaya dan cerita epik yang akan terus dikenang.

https://soundcloud.com/dorothytheband

Hippo CampusHippo Campus
Who: Nathan Stocker, Zach Sutton, Jake Luppen, Whistler Allen. Where: Minnesota. What: Indie Rock.

Walaupun baru ngeband bareng kurang dari setahun lalu, namun kuartet asal Minnesota yang bertemu di sekolah seni tersebut dengan cepat telah menemukan formula kesuksesannya. Debut single mereka, “Little Grace”, yang berisi melodi gitar buoyant dan energik adalah sebuah instant crush yang membuat mereka dinobatkan menjadi band to watch oleh banyak blog musik dan festival musik. Single tersebut dan 5 lagu indie rock bernuansa musim panas super catchy lainnya seperti “Suicide Saturday” dan “Souls” terkompilasi dalam debut EP berjudul Bashful Creatures yang akan mengingatkanmu saat pertama kali jatuh cinta pada musik yang dihasilkan oleh Vampire Weekend, Two Door Cinema Club, dan Bombay Bicycle Club. Sebagai sekumpulan anak kulit putih yang memainkan musik bernada Afropop, mereka memang seringkali dibandingkan dengan Vampire Weekend, namun Hippo Campus tahu bagaimana bersenang-senang dengan cara tersendiri.

http://thehalocline.bandcamp.com/

HonneHonne
Who: Andy & James. Where: Somerset, Inggris What: Synth-soul.

Andy dan James, dua sahabat asal Inggris yang sepakat merahasiakan nama belakang mereka ini punya kehidupan ganda. Di siang hari mereka adalah guru musik di sekolah dan di malam hari mereka membuat musik soul/R&B berbalut synth dengan nama Honne yang diambil dari bahasa Jepang yang artinya “true feeling”. Entah berkat nama itu atau fakta jika mereka bermusik di larut malam, yang jelas mereka berhasil membuat single seperti “Warm On A Cold Night” dan “All In The Value” dengan atmosfer late nite vibe yang luar biasa smooth dan intim dengan lirik tentang relationship yang real. Hangat dan sensual, kamu tak akan membutuhkan selimut lagi malam ini.

https://soundcloud.com/hellohonne

Sounds of 2015: 15 Names You Should Check Out For This Year (Part 1).

Tahun baru bisa berarti playlist yang baru. Pada majalah Nylon Indonesia edisi Januari lalu, saya menulis tentang 15 nama upcoming bands & musicians dari berbagai genre yang saya perkirakan akan bersinar di 2015 dan siap menjadi obsesi barumu. Berikut adalah lima nama pertama.

Future Brown1
Future Brown
Who: Daniel Pineda, Fatima Al Qadiri, Jamie Imanian-Friedman, Asma Maroof. Where: New York. What: Grime, Hip-Hop.

Apa yang terjadi jika seorang musisi Kuwait, duo elektronik Los Angeles, dan bos dari label club terkenal di New York tergabung dalam sebuah grup musik? Hasilnya adalah Future Brown, sebuah supergroup multi ras yang terdiri dari Fatima Al Qadiri, Jamie Imanian-Friedman (J-Cush) serta Daniel Pineda dan Asma Maroof dari duo Nguzunguzu yang berbasis di New York. Menyerap berbagai elemen dan kultur baik dari latar belakang personelnya maupun kota tempat tinggal mereka saat ini, Future Brown meramu musik electro futuristis dengan influens grime, hip-hop, dan dance club yang menampilkan kolaborasi dengan banyak raising vocalist seperti Tink, seorang female rapper asal Chicago yang mengisi vokal dalam debut single mereka, “Wanna Party”. Dengan dukungan banyak musisi keren yang terlibat dalam EP debut dan upcoming full album serta appeal mereka terhadap fashion scene (mereka didukung oleh streetwear New York paling hip seperti Telfar dan Hood By Air), kolektif musik garda depan ini siap untuk menciptakan sebuah movement tersendiri.

https://soundcloud.com/future-brown

Wolf SagaWolf Saga
Who: Johnny Saga. Where: London Ontario. What: Synthpop.

Agak jarang menemukan seorang produser musik yang jago mixing sekaligus menyanyikan bagian vokalnya sendiri, dan Johnny Saga termasuk salah satu dari segelintirnya. Bedroom musician berdarah Native-American kelahiran 1989 ini memulai karier bermusiknya sebagai pemain gitar di sebuah band indie rock sebelum mulai bereksperimen membuat musik elektronik sejak akhir 2012 lalu dengan nama Wolf Saga yang terinspirasi dari musik new wave 80-an dan indie pop 90-an. Tak hanya berisi remix, akun Soundcloud milik Wolf Saga juga dikenal berkat berbagai cover version dari lagu-lagu milik The Strokes, Lorde, Foster the People hingga “Young Folks” yang menampilkan kolaborasinya dengan vokalis-vokalis baru seperti LYON dan Lemon. Tentu saja, ia pun memiliki karya-karya original yang sama menariknya, seperti yang terangkum dalam mini album My Time yang berisi lima lagu synthpop dengan substansi musim panas yang uplifting.

http://soundcloud.com/enterwolfsaga

ShuraShura
Who: Aleksandra “Shura” Denton. Where: London. What: Dreampop.

Ketika pertama kali melihat foto gadis London berdarah Inggris-Rusia ini di internet, impresi awal yang akan muncul adalah sosok Madonna atau Cyndi Lauper muda dengan gaya grunge. Dan perbandingan itu sebetulnya tidak terlalu meleset jika kamu mendengarkan musiknya yang memadukan R&B, new wave, serta dance pop 80-an dengan sentuhan synthpop modern yang terilhami Dev Hynes dan Solange. Walaupun secara resmi baru merilis tiga single, namun berkat vokal dreamy miliknya, lirik yang sentimental, dan aransemen musik yang genial, Shura dengan cepat menciptakan estetika musiknya sendiri. Contohnya adalah “Touch” sebuah lagu slow dance dengan video yang menampilkan beberapa couple yang saling berbagi keintiman di antara asap berwarna pastel, ataupun “Indecision” yang lebih upbeat walau tetap menyimpan esensi romantisme yang sama.

https://soundcloud.com/shura

JagaaraJagaara
Who: Ruth, Jane, dan Cat Edmondson. Where: North London. What: Soft-rock.

Terdiri dari tiga bersaudari berambut indah yang memainkan musik soft-rock berbasis gitar dan harmoni vokal a la Fleetwood Mac, di atas kertas Jagaara mungkin terdengar seperti jawaban Inggris akan kesuksesan HAIM. Namun, jangan salah, trio asal London Utara ini jelas memiliki pesonanya sendiri. Debut single “Faultline” yang impresif menampilkan vokal bariton milik vokalis utama Jane Edmondson (the blonde one) di antara aransemen moody yang dibangun oleh kedua adik kembarnya, Cat (keyboard/synth) dan Ruth (gitar). Brooding dan sentimental, its like driving through the seaside in the night, dengan jendela terbuka dan angin malam menerpa rambutmu. Kita bisa mengharapkan lebih banyak lagu-lagu menarik lainnya dari album debut mereka yang akan segera dirilis.

https://soundcloud.com/jagaara

Nick Hakim

Nick Hakim
Where: Brooklyn. What: Alternative Soul.

Nick Hakim merupakan seorang singer-songwriter berusia 23 tahun asal Washington, D.C. yang kini tinggal di Brooklyn. Debut album mininya, Where Will We Go Pt. 1, kaya akan elemen R&B, jazz, Motown, dengan pengaruh dari Marvin Gaye, Harry Nilsson, dan Musiq Soulchild. Vokalnya yang soulful dan sultry sedikit mengingatkan pada John Legend walaupun lebih mudah membayangkannya bermain gitar akustik dan memakai topi snapback dibanding tampil dengan suit & tie di balik piano. Dengan melodi yang super smooth dan lirik retrospektif tentang kematian, religi, dan patah hati, lagu-lagu seperti “Cold” dan “Pour Another” ibarat sebuah soundtrack dari malam-malam sepi di kota yang ramai. Its heartwarming and heartbreaking at the same time.

https://soundcloud.com/enhakim

SOUNDCHECK #1

Foals

Holy Fire

Tak bisa disangkal jika Foals adalah salah satu band rock Inggris paling menarik di akhir dekade lalu berkat dua album mereka sebelumnya, Antidotes (2008) dan Total Life Forever (2010) yang menuai pujian dari media walau sebetulnya lagu-lagu mereka tergolong rumit dan “aneh” untuk selera pasar. Di album ketiga ini, frontman Yannis Phillippakis dan 4 personel lain tampaknya ingin mengubah stigma rumit yang terlanjur melekat dalam musik mereka. “Inhaler” yang menjadi lagu pertama yang didengarkan ke publik adalah nomor indie rock anthemic sedangkan single berikutnya “My Number”, surprisingly terdengar sangat pop dengan bebunyian synth yang dancey. Lirik yang lebih membumi, perasaan rileks dan easy going itulah yang membuat Holy Fire menjadi album terbaik mereka sejauh ini. it’s still artsy but far more approachable, great one!

Kitty

D.A.I.S.Y Rage

Kathryn Beckwith alias Kitty (sebelumnya dikenal dengan nama Kitty Pryde) mungkin adalah sosok paling mengejutkan dalam musik rap saat ini. She’s barely 19-year-old white girl from Florida dengan tato bertuliskan ‘Princess’ di bibir yang menghabiskan harinya di Tumblr dan Twitter, but hell, this girl could friggin rap. Dalam EP berisi 8 lagu ini, Kitty menunjukkan keandalannya meramu lirik bereferensi kultural anak-anak sebayanya, mulai dari rambut Skrillex (“$krillionaire”), bokong Kardashian (“No Offense!!!!”) sampai majalah NYLON (“R.R.E.A.M”) dengan sample dari lagu Wu-Tang Clan sampai Twin Sister. EP ini secara mengejutkan menjadi album rap yang luar biasa addicting dan cerdas. Did I mention you could download this EP for free on daisyrage.com?

 Christopher Owens

Lysandre

Berita bubarnya band Girls akhir tahun lalu memang terasa mengejutkan, walau itu mungkin memang sudah direncanakan karena tak lama kemudian, sang frontman, Christopher Owens, langsung merilis album solo berjudul Lysandre. Dalam debut solonya, Owens mengangkat tema-tema sentimental khasnya seperti patah hati, awkward first kiss, dan perasaan terasing lewat prog-folk berbalut nuansa pastoral. Terbagi dalam 11 track dengan durasi total hanya 29 menit, album ini seperti kesatuan balada yang dipecah menjadi beberapa babak dengan cue lagu instrumental “Lysandre’s Theme” yang menjadi pembuka dan penutup album. Walau secara keseluruhan album ini terasa moody, lagu-lagu seperti “New York City” dan “Riviera Rock” yang kental dengan nuansa tropical dan bunyi sax menjadi penyegar. Owens pun memilih mengakhiri ceritanya dengan “Part Of Me (Lysandre’s Epilogue)” yang optimis. This could be soundtracks to Wes Anderson’s movie.