The “Yeah-Yeah” Girls From Paris

Ada suatu hal yang terasa magis di dalam udara Prancis yang membuat gadis-gadis Prancis seakan diberkahi oleh pesona natural dan chicness yang sulit dijabarkan dengan kata-kata. Mereka menyebutnya dengan istilah “je ne sais quoi”, sebuah karakteristik khusus yang membuat seseorang terlihat begitu atraktif dengan cara yang alami dan effortless, pun tak terkecuali dalam dunia musik dan para pelakunya. Ketika berbicara tentang musik Prancis, yé-yé, sebuah gerakan musik pop yang berkembang di Prancis pada awal tahun 60-an menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Bertemakan hal-hal innocent seperti first love dan masa remaja, genre musik “yé-yé” yang namanya berasal dari seruan “Yeah! Yeah!” menampilkan musik pop yang berakar dari paduan jazz, chanson, rock & roll, serta traditional girl group yang kemudian dianggap menjadi salah satu cikal bakal dari indie pop kontemporer yang kita kenal saat ini.

Meskipun tidak eksklusif untuk penyanyi perempuan belaka, namun fenomena musik pop ini nyatanya memang didominasi oleh penyanyi perempuan muda yang lahir dari program radio “le chouchou de la semaine”/”this week’s sweetheart” yang telah memperkenalkan nama-nama penyanyi perempuan muda legendaris seperti France Gall, Françoise Hardy, dan Sylvie Vartan untuk menyebut segelintirnya. Sensual dan naif di saat yang sama, mereka adalah perwujudan dari pesona gadis Prancis yang très chic, très fabu yang tidak hanya ditunjukkan dari vokal dan musik yang mereka bawakan, tapi juga dari riasan mereka, seperti yang ditunjukkan oleh salah satu penyanyi yé-yé paling ikonik sepanjang masa, Françoise Hardy.

Berawal dari sebuah kado ulang tahun berupa gitar di masa remajanya, Françoise Madeleine Hardy menjelma menjadi penyanyi kesayangan Prancis ketika ia merilis single “Tous les garçons et les filles” di usia 18 tahun dan mempopulerkan namanya sebagai ujung tombak fenomena yé-yé di Prancis. Tak hanya mahir bernyanyi dalam bahasa Prancis, Inggris, Italia, dan Jerman, perempuan kelahiran 1944 ini juga dikenal sebagai seorang aktris dan style icon. Wajahnya yang menghiasi banyak publikasi menjadi cetak biru gaya khas yé-yé dengan riasan natural yang terdiri dari maskara hitam, black eyeliner tipis, alis mata yang well-groomed, dan sentuhan lip balm, di samping rambut fringe sebahu yang menjadi sinonim dari gaya low-key Parisian cool yang menjadi inspirasi bagi Alexa Chung, Zooey Deschanel, Cat Power, dan banyak perempuan keren lainnya sampai hari ini.

Want to try the yé-yé looks? Here are some of my recommendations to channel your je ne sais quoi!

 

Advertisements

Take It To the Street With… Paradise Youth Club

PARADISE YOUTH CLUB

IG: @PARADISEYOUTHCLUB

Started in early 2015, Vincentius Aditya dan Fritz Yonathan yang merupakan founder Paradise Youth Club mengaku jika ide untuk membuat label streetwear tersebut muncul secara spontan. “We’re just doing it for fun! For daily personal use since we can’t afford to buy overpriced Supreme tees to support our so called social lyfe! Haha!” tukas mereka enteng. Well, saya tidak tahu apakah pengakuan itu hanya becanda atau memang sebuah brutal honesty, but one thing I know, itu adalah keputusan yang tepat. Turut dibantu oleh Hendrick Setio sebagai Distribution Manager, brand ini dengan nyaman memilih bergerak di ranah cutting edge dari urban street fashion. Menggabungkan berbagai influens dari budaya surfer, skatewear, musik, dan pengaruh 90’s yang kuat, lewat koleksi bertajuk “The United States of Paradise”, mereka merilis rangkaian t-shirt, crewneck sweaters, bucket hat, snapback, dan strapback dengan desain grafis yang menampilkan logo Paradise Youth Club, bendera US yang sudah di-tweak, dan tulisan seperti “Cash Can’t Rule”, dan “Talking To The Children About Nuclear War”. The overall statement of the brand is laidback, unisex, dan tentu saja, limited. Menyoal semakin riuhnya pasar streetwear global dan domestik, PYC pun menegaskan jika sekarang bukan zamannya lagi untuk merasa inferior memakai produk dari label lokal. “Tilt your head to our local brands, there’s many of ’em worth to see. You don’t have to wait till they’re featured on Hypebeast!Amen to that.

This slideshow requires JavaScript.

Behind the name:

Paradise is a state of mind! If you choose to change conditions for the better, get some material on mental imaging and start changing your life. The more depressed you are, the more you have to gain.

Inspiration:

Social issues and the universe. The goal itself is to revive the spirit from one of the greatest decade, to share that spirit to everyone else. To be aware that everyone has a right to have fun and everyone is entitled of their own paradise.

Aesthetic in three words:

Freed! Freed! Freed!

Most wanted:

Logo Tee.

Where to get:

Offline: Orbis (Jakarta), Nine Collective (Bandung), Toidiholic (Lampung), Gate Store (Jogja), Stock n Supply (Brisbane-Australia), The Good Luck Bunch (Singapura). Online: Paradiseyouthclub.com, a bunch of online stores in Australia.

What’s next:

Surviving! We never do any market research! Better to let the brand manifest naturally, because it means it’s more honest and there’s more of a chance that people are going to connect to it.

Little Miss Sunshine, An Interview With Zahara Davis

Dari Bali sampai ke West Coast, model belia Zahara Davis membawa irresistible beauty dan effervescent charm ke dunia fashion yang ia geluti sejak dini. Fine, fresh, fierce, she got it on lock! Foto oleh: Andre Wiredja.

dsc01217

Bayangkan jika pada suatu hari kamu hanyalah gadis berumur 14 tahun yang sedang asik melahap Big Mac di sebuah shopping mall, seseorang dari model agency menghampiri dan memberimu kartu nama, and next thing you know, kamu berjalan di runway prestisius fashion week dunia, menjadi Victoria’s Secret Angel, mengencani pria-pria seperti Leonardo DiCaprio dan Tom Brady serta menjadi model dengan bayaran paling mahal di dunia seperti yang dialami oleh supermodel Gisele Bündchen. Skenario yang hampir mirip juga terjadi untuk Kate Moss yang di usia 14 tahun menarik perhatian seorang scouting agent dari Storm Model Management saat ia berada di bandara JFK New York sebelum akhirnya menjadi salah satu model paling iconic di dunia.

Sekelumit cerita di atas mungkin contoh cerita ‘discovery’ yang sama klisenya dengan cerita seorang gadis mengantarkan temannya untuk casting namun justru ia yang menjadi bintang (seperti yang dialami oleh Adriana Lima dan Gemma Ward misalnya). Sebuah anekdot di dunia modelling yang terdengar seperti dongeng, but it’s really happened and never gets old. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seorang scouting agent dari agensi modeling berani mempertaruhkan kepercayaan kepada seorang gadis muda yang hanya ia lihat sekilas di random places. But still, kita terus mendengar cerita tentang gadis yang tadinya bukan siapa-siapa breaks into the industry dan menjadi model tenar thanks to street-scouting. The chances are odd but it’s not impossible.

It’s the girl who never thought she could who gets discovered. The prettiest girl in school doesn’t always make the best model,” ujar Ivan Bart, seorang top agent dari IMG Models, yang pernah menaungi Gisele Bundchen, Heidi Klum, dan Kate Moss. Pada kenyataannya, dari sekian banyak pretty faces in the crowd, memang tidak ada jaminan jika wajah cantik dan postur semampai saja cukup untuk membuatmu menjadi the next big thing dalam industri modeling yang sangat kompetitif. Just like any other It Girls, the It models juga diberkahi that ‘special oomph’, the ‘je ne sais quoi’, the ‘x-factor’, dan istilah lainnya untuk mendeskripsikan pesona natural dan magis yang dimiliki beberapa gadis remaja yang membuat mereka stands out in the crowd dengan begitu effortless dan membuat orang-orang tergila-gila. Seperti yang dimiliki Zahara Davis, seorang model muda dan girl crush yang siap membuatmu terobsesi dan menjadikan dirinya sebagai ‘goals’.

Just like any other crushes in the social media era, saya pertama kali mengetahui sosok Zahara justru dari akun Instagram miliknya (@zaharadavis) yang saat artikel ini ditulis telah memiliki 32.2K followers. Sama seperti umumnya model generasi sekarang yang kerap disebut sebagai “The Instagirls” (Cara Delevingne, Kendall Jenner, Gigi Hadid, Fernanda Ly, etc) yang dengan gamblang menunjukkan personality mereka lewat social media dan membuat mereka terasa lebih approachable dan relatable, Zahara juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapapun tergoda untuk scrolling down her feeds dan menekan tombol follow dengan cepat. Saya ingat yang pertama kali tercetus di benak saya adalah “Wow, this girl is drop dead gorgeous!” dan lebih terkejut lagi saat mengetahui jika dirinya adalah seorang model yang kala itu berdomisili di Bali.

Diberkahi oleh kulit semanis karamel yang eksotis, perfect bikini body, facial feature unik paduan genetik Native American, Saint Lucia, dan Inggris yang mengalir dalam darahnya, gadis yang dilahirkan di Maui, Hawaii dan dibesarkan di Bali ini memulai karier modelingnya sejak ia ditemukan oleh Jules Henry, CEO dan founder dari Fauve Agency sekitar tiga tahun lalu saat ia masih berumur 13 tahun. Di bawah naungan model management yang berbasis di Bali tersebut, Zahara mengembangkan talenta naturalnya sebagai model paling muda di antara jajaran roster lainnya seperti Salvita DeCorte, Helene Jansen, Reti Ragil, Dara Warganegara, Drina Ciputra, dan model-model papan atas lainnya di Indonesia saat ini.

Blessed with good genes itu sudah pasti, namun berbekal kerja keras, professionalism dan work ethic yang sudah dibangun dari usia dini, tidak butuh waktu lama bagi Zahara untuk menjadi sensasi baru di skena fashion dengan menjadi muse bagi banyak fashion photographer terkenal dan muncul di berbagai editorial majalah-majalah mode prestisius. Kini di umurnya yang baru saja menginjak 16 tahun, Zahara telah memiliki cukup portofolio yang akan mengundang decak kagum siapa saja. Selain Fauve, saat ini ia juga diwakili oleh agensi internasional Next Management yang membuka peluang pekerjaan internasional lebih lebar baginya. Setahun terakhir ia telah malang melintang ke Paris, Los Angeles, dan New York dan bekerja untuk klien-klien besar seperti This Is A Love Song, NYLON US, Urban Outfitters, Glamour US, Billabong, dan yang menjadi salah satu career highlight-nya sejauh ini: Dipotret fotografer legendaris Bruce Weber untuk editorial berjudul “Reach Out and Touch Somebody’s Hand”  di Vogue Italia edisi April 2016 bersama model-model internasional seperti Ajak Deng, Mica Arganaraz, Fare Fares, Gelila Assefa, Anushka Sharma, dan Shehkar Jah.

Keputusan menjadikan Zahara sebagai cover edisi Summer tahun ini muncul secara spontan ketika fotografer Andre Wiredja bertemu Zahara di Bali dan melakukan test shoot. Tanpa ragu, ketika Andre melempar ide untuk memotret Zahara, kami pun langsung menyambutnya. Walaupun sayangnya saya tidak bisa bertemu dan mewawancarainya langsung, semua testimoni dari orang-orang yang saya dengar tentang Zahara selalu bernada positif. Semua sepakat jika Zahara adalah sosok berkepribadian, down to earth, menyenangkan untuk bekerjasama, dan memiliki masa depan cemerlang di bidang yang ia geluti sekarang. Dari apartemennya di Los Angeles, Zahara pun mengungkapkan beberapa sisi dalam dirinya lewat balasan email yang ia kirim untuk NYLON. Ready to know her better?

dsc01581

Hai Z, jadi apa yang mendorongmu terjun ke dunia modeling? Saya selalu ingin melakukannya, something I had a passion for. Saya mulai modeling bersama Juls saat saya berumur 13 tahun dan mendapat kesempatan bertemu dengan fotografer Nicoline Patricia yang kemudian banyak mendidik saya soal pekerjaan sebagai model. Sebelum itu saya juga sudah melakukan beberapa pekerjaan modeling, namun saya rasa itu titik di mana karier saya benar-benar dimulai. And since then I haven’t really stopped. Both my mum and my grandma were in the fashion industry, so that did have an impact on what I’m doing now.

Bagaimana akhirnya kamu dikontrak Fauve Management dan Next Management? It was all at the right time, with the right people and things just happened perfectly.

Apa hal yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari modeling? Saya suka kesempatan traveling ke berbagai tempat di dunia dan bertemu banyak orang-orang berbakat namun saya harus bilang jika bangun dan bekerja dari mulai jam 4 pagi isn’t the cherry on my Sunday.

Bagaimana rasanya melihat foto diri kamu sendiri di media? Tergantung fotonya sebetulnya tapi saya jelas bukan the best judge untuk menilai diri saya sendiri karena kebanyakan foto yang saya kurang sukai justru malah disukai banyak orang lain.

Boleh cerita sedikit soal pengalamanmu bekerja bersama Bruce Weber untuk Vogue Italia? Saya sampai harus mencubit diri saya sendiri saat tiba di lokasi pemotretan agar yakin jika itu bukan mimpi. Salah satu pengalaman terbaik saya sebagai model sejauh ini. Semua orang sangat friendly dan menyenangkan untuk bekerjasama.

Susah nggak membagi waktu antara karier dan akademis? Ya, lumayan susah karena saya harus selalu berpergian, but somehow I manage to work it out. Home school is pretty mobile.

Do you consider yourself as world citizen? Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu tempati, mana yang kamu anggap sebagai “rumah”?

I am a citizen of the world, tapi saya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Indonesia. Bali is where I will always call home.

Apakah kamu punya kakak atau adik? Siapa supporter paling besar di keluargamu? Saya anak satu-satunya dan dibesarkan oleh ibu saya. She is most definitely my biggest fan. Dia selalu mendukung saya 100%

Apa yang paling kamu rindukan dari Bali? Bagaimana kamu mendeskripsikan perfect night out di Bali? Saat saya di Bali, itu biasanya saya sedang liburan dari semua hal lain. Itu waktu bagi saya untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman saya. Quiet nights in are my favorite there.

Apa hal favorit yang kamu lakukan di musim panas?

My favorite is to island hop between Indonesia and all the little islands.

 

What’s your favorite summer memory? I now go every year to Glastonbury, which is coming up soon and is my favorite festival of summer so far.

 

What do you think about summer fling? Not on the top of my list.

dsc01431

Saya pernah lihat salah satu posting di Instagram milikmu tulisan “Those who criticise our generation forget who raised it”, kalau bagi kamu sendiri apa rasanya menjadi seorang model dari generasi millennial di era media sosial seperti sekarang? Media sosial telah menjadi satu hal yang berpengaruh di industri fashion dan saya pun menjadi bagian darinya, tapi call me old fashion but it was a lot easier for models back when it didn’t matter how many likes your Instagram post got. 

Seberapa penting social media untuk kehidupan sehari-harimu? Saya hanya punya akun Instagram dan Snapchat. Kalau kamu menemukan akun social media selain dua itu atas nama saya, kemungkinan besar mereka adalah fake accounts. Saya berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.

Apakah kamu termasuk morning person atau evening person? Depends how the crowd is! As long as I’m with good people then I can do either.

Couch potato or gym fanatic? Bagaimana caramu agar tetap fit? Gym! Without a doubt. Tapi saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan nutritionist dan trainer saya Melanie dari Motion. Saya selalu excited untuk kembali latihan bersamanya setiap saya di Bali.

Apa kamu punya signature style yang menjadi andalanmu? Setiap hari saya bangun dengan mood yang berbeda. Saya tidak bisa bilang saya punya satu particular style, but it’s always me.

Siapa model favoritmu? Naomi Campbell dan Candice Swanepoel.

Selain modeling, hal-hal apa lagi yang kamu sukai? Membaca, menulis, traveling, musik, nutrisi dan healthy living.

 

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini? Saya selalu terobsesi dengan every healthy thing on the market, never gets old to me.

Musik apa yang biasanya ada di playlist personalmu? Rap dan R&B adalah favorit saya. My top band would probably be Destiny’s Child or TLC.

How about the beauty regime? Produk apa yang menjadi favoritmu? Saya sangat perhatian soal produk yang akan saya pakai untuk kulit saya. I love organic products. Saat ini saya menyukai:

– All lush bath bombs 

– Pure shea butter lip balm

– Hemp seed hair oil (amazing)

– Sea salt body scrub

– BEST cream I use is Bali browning lotion 

What makes you laugh? Life.

What makes you cry? LIFE.

Apa hal paling mendebarkan yang pernah kamu lakukan? Bungee jumping, it was crazy.

Apa sifat yang paling kamu sukai dari dirimu sendiri? I’m just a happy go lucky girl.

Kalau yang paling tidak disukai? Being happy go lucky, sometime doesn’t always work out, you may end up in a ditch, ahaha!

Apa yang menjadi ketakutan terbesarmu? Tidak bisa meraih target-target yang telah saya buat.

Secret skill? Staying balanced through it all the craziness that I love.

Apa saran terbaik yang pernah kamu terima? Keep your eyes on the stars and your feet on the ground.

Do you collect something? Memories.

Rencanamu selanjutnya? Reaching my goals and dreams.

dsc01753

 

Style Profile: Elleanor Yamaguchi

Jepang boleh saja dipenuhi oleh para fashion blogger dan style icon yang tak terhitung jumlahnya, tapi mencari yang mampu berbahasa Inggris untuk pembaca internasional adalah hal yang lumayan tricky. Erina Elleanor Yamaguchi adalah salah satu dari segelintirnya. Berdarah ¼ Singapura, gadis 21 tahun kelahiran Chigasaki City, Kanagawa, Jepang ini memang sempat tinggal di Singapura selama 8 tahun sebelum kembali ke Tokyo di mana ia kemudian menjadi vlogger untuk kanal YouTube TokyoFashion.com dan menjadi street styler, model, DJ, serta freelance fashion stylist dalam banyak project, termasuk untuk video “Lionhearted” milik Porter Robinson. Seakan tidak pernah puas, ia pun masih mengejar passion-nya yang lain, “Saya mulai mengerjakan segala hal yang saya lakukan sekarang karena cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi orang terkenal. Saya selalu ingin menjadi model dan sekarang saya berpikir untuk menjadi vokalis begitu saya bisa mengumpulkan cukup banyak orang untuk membentuk band!”

2015-05-11-17-47-32

Apa definisi personal style kamu?

Saat ini saya lebih memilih pakaian yang jauh lebih simpel daripada yang sebelumnya biasa saya kenakan, mungkin karena saya juga sudah bertambah dewasa. Saya tidak pernah mendeskripsikan gaya saya sendiri, tapi jika harus, saya akan menyebutnya “Elleanor”.

Deskripsi fashion Jepang menurutmu?

Ketika pertama kali tertarik pada fashion, saya menyangka fashion Jepang pada umumnya sangat simpel dan boring tapi Harajuku dipenuhi oleh banyak orang dengan beragam style yang unik dan membuat saya berpikir jika orang-orang bisa mengekspresikan diri mereka lewat fashion. Tapi saat ini, sudah semakin jarang orang-orang yang ingin terlihat “beda” dari orang lain. Beberapa masih memakai pakaian warna-warni tapi mereka terlihat “normal” dan tidak seunik beberapa tahun sebelumnya. Tapi saya masih merasa orang Jepang bisa lebih bebas mengekspresikan diri lewat fashion dibanding negara lain.

Apa yang kamu sukai dari Jepang?

Saya suka makanannya, empat musim yang tidak dimiliki Singapura, dan keamanan di negara ini. Saya pernah ke L.A. dan menyadari betapa mudahnya berpergian di Jepang tanpa harus naik mobil atau taksi. Tokyo’s trains go everywhere!

2015-06-21-20-04-22

Latest obsession/discovery?

Saat ini saya terobsesi Fred Perry dan Dr. Martens! Baru-baru ini saya menonton film This Is England dan saya sangat menyukai fashion di dalamnya. Sekarang saya benar-benar ingin sepasang sepatu basic 3 holed dari Dr. Martens.

What are your biggest passions?
My passions are to spend time alone in my favorite cafe, to drink alcohol with my friends, and to go shopping!

What’s your secret skill?
Hmm…I’m not sure if this is a skill, but I love singing! Karaoke is a really popular place to hang out in Japan.

Who’s your favorite local musician/band?
I can’t choose one, so here I go! I love the singer-songwriter Aiko and the band Judy and Mary and The Yellow Monkey.

Favorite fashion quotes to live by?
“People will stare. Make it worth their while.” – Harry Winston
I found this on the internet and was struck by.

Style tip?

Saya tidak pernah punya tips apapun, saya hanya mencoba gaya apapun yang ingin saya coba and let’s see if it works out!

2015-06-04-15-14-24

 

Style Study: Blackbook Jakarta

BB4

Berawal dari signature notebooks berwarna hitam dengan witty quotes sebagai tugas akhir kuliah, Blackbook melebarkan sayapnya ke produk apparel dengan lini a.part. Straightforward dan personal, brand asal Jakarta ini mengingatkan kita jika black is always be the new black.

BB5

So first thing first, how was it started?

Blackbook bermula sebagai final project untuk salah satu kelas kami di uni, we’re not gonna bored you with the details, but if we failed in this class, damn, we have to retakes the whole semester next year, of course we wouldn’t want that. Membuat produk stationery seperti notebooks is an easy choice, since all of us is such a stationery nerd, kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam di toko stationery and we do love the feels you got when you are about to use your brand new stationery for the first time, there’s something about it that can instantly boost up your mood. Plus, a well design stationery is our weakness.

Dari kiri: Ragil Satria, Hafiz Akhbar, Flori Amelia, Sigi Savero.
Dari kiri: Ragil Satria, Hafiz Akhbar, Flori Amelia, Sigi Savero.

 Boleh diperkenalkan ada siapa saja di tim kalian?

In the beginning there are a four of us, but along the way, anggota kita bertambah. Our background in this team cukup beragam, namun hal ini lah yang membuat setiap orang dapat memberikan gagasan serta sudut pandang yang sangat unik dan menarik sehingga mempengaruhi proses kita dalam mendapatkan ide atau inspirasi. Ada saya Hafiz Akhbar, sebagai Creative Director, saya berkerja di industri retail dan belakangan ini mulai menjadi brand consultant untuk beberapa brand lokal. Lalu ada Sigi Savero, sebagai Management Director, Sigi juga berkerja sebagai announcer di salah satu radio terkemuka di Jakarta. Ada Ragil Satria, sebagai Production Director, Ragil disibukkan dengan perannya sebagai vokalis band post-hardcore yang langganan manggung di acara wajib scene tersebut. Lalu ada Flori Amelia, sebagai Production Manager, Flori juga cukup disibukkan mengontrol bisnis-bisnis lain yang digelutinya. Tim kita dilengkapi dengan Aci Amar yang berperan sebagai Finance Manager dan Sugi Hermawan sebagai in-house photographer.

Blackbook bermula dari literally black book, tapi sekarang berkembang ke produk lain seperti bag dan apparel, bagaimana ceritanya?

When we started, we want to create wellmade stationery and office supplies. Untuk berkembang ke produk lain seperti variasi tas dan apparel tidak pernah terbayangkan sebelumnya, it just happened naturally and we’re kinda go along with it. Sehingga sekarang kami memiliki dua divisi brand, all stationery and office supplies is under Blackbook. Other than stationery and office supplies is under a.part.

Kalau A.part Mob itu sendiri sebetulnya apa?

A.part Mob adalah panggilan yang kita berikan untuk kustomer kita, we love our customer, we grew because of them, so we like the idea having this big family, a big crew, a mob, a fuckin rad mob, because they really are.

BB1

Apa saja yang menjadi influens utama bagi label ini?

Influens terbesar label ini datang dari diri kita sendiri, not in narcissistic way, tapi banyak inspirasi kami datang dari kehidupan sehari-hari, sesimpel obrolan dengan keluarga atau teman, random thought yang muncul saat stuck di kemacetan, or what this fuckin’ rad unknown biker beside you during red light wearing. All those simple things. Dan jangan lupa, Jakarta is our backyard, we don’t need to look further for great inspiration.

Bagaimana kalian mendeskripsikan potential customer kalian?

It’s really hard to describe our potential customer, karena produk kami sangat universal, stationery is very universal, and because what we do is personal, hopefully everyone from every background can relate to our products easily.

BB3

Target atau rencana kalian selanjutnya apa saja, baik dari segi desain maupun marketing?

Rencana kami ke depannya dari segi desain, kami masih terus berusaha mengolah dan meningkatkan tidak hanya kualitas estetika tetapi kualitas produk secara menyeluruh. Hal ini membutuhkan proses yang cukup memakan waktu karena minimnya resources yang kita miliki sekarang. Oleh karena itu kami ingin mengajak masyarakat atau kustomer kami untuk lebih menghargai dan mencintai produk buatan lokal. Sehingga bila dikaitkan dengan target atau rencana marketing ke depannya, kami ingin sekali memberikan pendalaman yang lebih lanjut mengenai keuntungan apa saja yang didapatkan ketika membeli produk buatan lokal, seperti dapat membantu perekonomian industri menengah ke bawah yang kebetulan selama ini kami ajak untuk bekerjasama.

Dengan banyaknya label lokal sekarang ini, apa taktik kalian untuk terus stand out from the crowd?

It’s not hard, you just have to stay true to yourself, stand to what you believe in and just do your own things. We do believe in honest voice speak louder than a crowd.

BB2

As published in Nylon Indonesia June 2015

Style List: Baseball Luxe

While summer is already approaching, I think we’re back on that time of the year when we’re just dying to get a fresh look for ourselves. Personally, I like to make my own list of items that I wanna buy for the next season, and for this time around, I’m aiming for the sporty luxe yet casual kinda thing. Well, everyone around me or the followers of my social media already know by heart that snapback is basically my staple daily item. No matter how many caps I already own, I always manage to find an excuse to buy a new one. Recently, I found http://www.fanatics.com and browsing through their vast catalog of caps, I easily attracted to Chicago Cubs Diamond Era 59FIFTY Fitted Hat by New Era.

Chicago Cubs

Why? Well, beside blue (and the red combo) is my favorite color, the minimalist “C” in front and the overall design giving me simple yet stylish aesthetic for any sunny day. To complete the look, I even make Polyvore collage for the items I’m craving for.

Cubs

Here is the list:

New Era Chicago Cubs Diamond Era 59FIFTY Fitted Hat – Royal Blue from Fanatics.com

Saint James for J.Crew Slouchy Striped Tee

Maison Kitsune Jackets

Iggy Black jeans

Nike Roshe Run Print Sneakers

Kanken Backpacks

Oliver Peoples Sunglasses

GameWear Chicago Cubs Starlin Castro Leather Baseball Bracelet

The main point of this look to make it a legit baseball luxe is of course the Chicago Cubs cap, while my main preference is the flat cap/snapback, but you can always browse more for fitted caps, visors, beanies, and even the bucket hats in baseball hats to complete your sporty chic ensemble. Now, off to the street!

Smells Like Teen Spirit: The Boys of Saint Laurent Fall/Winter 2014 and Their Bands

Hedi Slimane
Which came first? Fashion or music? Bagi Hedi Slimane, dua hal tersebut adalah yin & yang tak terpisahkan. Musik adalah passion utama seorang Slimane dan hal itu tercermin dalam setiap hal yang ia kerjakan. Jauh sebelum dikenal sebagai desainer andal di balik kesuksesan Dior Homme (2000-2007) yang mengubah paradigma dunia menswear dengan siluet skinny kebanggaannya, pria berdarah Italia-Tunisia tersebut adalah seorang fotografer black and white yang menghabiskan waktunya di konser-konser musik rock dan mencari band-band baru yang paling keren. Bercita-cita menjadi jurnalis dan reporter, awal kariernya dalam fashion bermula ketika mendesain baju untuk dirinya sendiri saat berusia 16 tahun. Dengan visinya yang liar dan cenderung rebel, Slimane dengan mudah menarik perhatian rumah mode terkenal seperti Yves Saint Laurent dan Jil Sander untuk memperkerjakannya sebagai creative director lini pakaian pria mereka sebelum akhirnya ia memilih berlabuh di Dior Homme di mana pada tahun 2002 ia menjadi desainer pakaian pria pertama yang meraih Council of Fashion Designers of America Awards For International Designer.

Stay true to his love for rock music, Slimane memperkenalkan siluet kurus khasnya yang memadukan unsur rock n roll jalanan dan presisi desain rumah mode Prancis yang sophisticated dan digandrungi oleh musisi dan band seperti The Libertines, Franz Ferdinand, Mick Jagger, Daft Punk, dan David Bowie. Ia terbiasa memilih modelnya sendiri dari pemuda-pemuda yang ia temui di jalanan, mereka biasanya kurus dan memiliki image cuek dan pemberontak khas remaja yang membedakan mereka dari para model pria profesional dengan tubuh tegap dan wajah sempurna. Hasilnya, karya Slimane selalu terlihat standout dari berbagai desainer pria lainnya, and he become the wild child of fashion industry. Semua orang ingin memakai rancangan Slimane, mulai dari Brad Pitt yang memakai rancangan Slimane untuk pernikahannya, Nicole Kidman dan Madonna, hingga Karl Lagerfeld yang rela diet keras hanya untuk bisa memakai hasil desain Slimane.

Salah satu yang juga menjadi ciri khas dari pagelaran modenya adalah ia kerap menghadirkan langsung band-band terkenal seperti Phoenix, The Rakes dan Razorlight ataupun memperkenalkan band baru seperti These New Puritans untuk membuat musik eksklusif dalam runway-nya. Kecintaannya pada musik rock terus menjadi benang merah dalam estetika Hedi Slimane, tak terkecuali bagi rumah mode tempatnya bernaung saat ini, Saint Laurent Paris. Dalam gelaran koleksi pakaian pria Fall/Winter 2014 rumah mode legendaris tersebut, Slimane membangkitkan kembali pesona dari rocker era 50-an dan gaya Teddy Boys dalam koleksi yang dihiasi motif pinstripes, tweeds, studded leather jacket, animal print, dan tentu saja the everlasting skinny jeans. Di tangan Slimane, koleksi tersebut tak hanya menjadi sekadar fashion statement belaka. Yang membedakan Slimane dengan desainer lain adalah, he live with the spirit of rock and roll himself dan tak gentar untuk mendorong hal tersebut ke level selanjutnya. Caranya? Ia memilih untuk stay di creative studio di Los Angeles alih-alih menetap di headquarter Saint Laurent di Paris dan lagi-lagi menunjukkan ketajaman radarnya dalam menemukan bakat-bakat baru dalam musik dan mode. Dalam show-nya kali ini yang diiringi musik oleh band Froth, ia memilih langsung musisi-musisi indie dari berbagai kota seperti New York, London, California dan Brighton untuk berjalan di atas catwalk dan secara legit membawa efek cool khas musisi yang lebih authentic. Dan sekarang, mari berkenalan sejenak dengan beberapa musisi yang beralih menjadi model dan muse untuk koleksi Saint Laurent Fall/Winter 2014 tersebut.

Joo-Joo

Joo-Joo Ashworth
Vokalis dan gitaris dari Froth, kuartet asal El Segundo, California yang meramu musik rock dengan unsur psychedelia yang kental, serta influens surf pop dan lo-fi garage khas Pesisir Barat Amerika Serikat. Patterns, debut bercitarasa DIY yang terdengar seperti dibuat dengan iseng di garasi rumah mereka berhasil menarik perhatian Hedi Slimane yang meminta mereka merekam ulang single “General Education” yang aslinya berdurasi kurang dari 4 menit untuk diperpanjang menjadi 20 menit dan menjadi runway soundtrack di show Saint Laurent Fall/Winter 2014.

http://froth.bandcamp.com/

Jake Smallwood
Jake Smallwood
Vokalis dari White Room, band alternative rock asal Brighton, Inggris yang terinfluens band-band seperti The Doors, Brian Jonestown Massacre, dan Pink Floyd. Band yang sebelumnya memakai nama The Basis ini telah mendapat banyak rekognisi berkat aksi live mereka dan menjadi supporting act untuk Miles Kane dan Paul Weller. Tak hanya berjalan di runway Saint Laurent, Jake juga menjadi model untuk lookbook koleksi Fall/Winter tersebut.

https://soundcloud.com/whiteroomhq

Jake Williams
Jake Williams
Jake Williams adalah vokalis sekaligus pemain gitar, bass hingga piano di band asal Brooklyn, Dr. Skinnybones yang pertama kali terdengar ketika single “Bad Education” mereka masuk dalam kompilasi band-band baru asal New York yang dirangkum oleh Oliver Ignatius. Band ini membawakan post-punk beroktan tinggi dengan bebunyian terompet, cello, biola, dan euphonium serta lirik-lirik bertema patah hati, mabuk di bar, dan mengacungkan jari tengah ke semua orang.

http://drskinnybones.bandcamp.com/

Joey Vittotoe
Joey Vittetoe
Vokalis dari Solid Brown, sebuah trio asal Phoenix, Arizona yang menyebut genre musik yang mereka mainkan sebagai “cock rockin’” yang mungkin lebih mudah diterjemahkan sebagai musik lo-fi rock seperti yang bisa didengar dalam Tape, sebuah rekaman berisi tiga lagu yang direkam dalam bentuk homemade CD-R berbungkus plastik dan pesan personal. As moody as afternoon road trip in the desert.
http://solidbrown.bandcamp.com/

Rexx
Rex Osterkamp
Seorang figur karismatik di balik Rexx, sebuah project bedroom indie pop asal Orange County, California yang telah merilis album bertajuk Death, and Other Ways to be Artsy, sebuah album berisi 12 lagu indie pop berlirik kelam dengan harmoni jangly, estetika lo-fi dan reverb manis yang membuatmu ingin berdansa dan melakukan suicide sprint di saat yang sama.

http://rexxagain.bandcamp.com/

Jaime Carpena
Jaime Carpena
Setengah bagian dari Blurry Boys, duo asal New York City yang terdiri dari dirinya dan Jared Reisch yang terbentuk di tahun 2012. Musik mereka adalah avatar dari scene musik di kota New York itu sendiri di mana hip hop, punk, ambient, dan rave bertabrakan menjadi warna musik yang menyegarkan, seperti yang tercetus dalam single “Make Me Feel”. Its a first step of everything.

https://soundcloud.com/blurryboys

Angus McGuinness
Angus McGuinness
Seorang model dan frontman band asal Teddington, London yang bernama Jungle Doctors. Awal terbentuk di tahun 2011, mereka memainkan musik folk sebagai trio sebelum menambah dua personel baru dan berubah aliran menjadi indie rock. Lagu-lagu seperti “Dry”, “Talk To Me” dan “Can You See It” adalah nomor-nomor indie rock yang uplifting dengan aura slengean British lads yang khas.

https://soundcloud.com/jungledoctors

Jonny Powell

Jonny Powell
Peniup terompet dan backing vocal dari The Din, band asal Camden, London yang menciptakan musik menarik hasil kolaborasi indie-folk, flamenco, dan gypsy jazz (mereka menyebutnya sebagai Alternative Shizzle) dengan didukung oleh penampilan live yang energetik.

https://www.facebook.com/thedinofficial

Style Study: Textile & Leather 101 Workshop at Indoestri Makerspace

IndoestriDengan azas Self Made yang diusung Leonard Theosabrata dalam Indoestri Makerspace, Do-It-Yourself just got rephrased.

I love tote bags. I really do, terutama untuk daily activities karena sifatnya yang praktis dan simpel. Namun, siapa sangka jika di balik bentuknya yang terlihat simpel, there’s quite a process to make one. Hal itu yang saya pelajari sendiri ketika mengikuti one day workshop bertajuk Textile & Leather 101 di Indoestri Makerspace, sebuah makerspace pertama di Jakarta yang digagas oleh Leonard Theosabrata, seorang figur penting di dunia industri kreatif Indonesia saat ini berkat perannya sebagai salah satu founder Brightspot Market dan The Goods Dept. It’s been a long time since I actually make something with my own hand, so I’m more than excited.

Saya tiba sejam lebih awal dari jadwal jam 10 pagi yang ditentukan pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober lalu dan memanfaatkannya untuk melihat-lihat warehouse di daerah industri Daan Mogot tersebut. Selain menjadi pabrik furniture Accupunto milik keluarga Theosabrata, lahan seluas satu hektar ini juga memiliki area khusus sekitar 2000m2 untuk Indoestri Makerspace. Di lantai pertama terdiri dari ruang meeting, ruang workshop sekaligus studio foto, dan juga beberapa virtual office yang bisa disewa oleh brand owner atau desainer independen untuk memamerkan produk mereka. Sementara di lantai atas terdapat area luas yang menjadi main attraction dari Indoestri ini sendiri, yaitu sebuah space di mana para anggota bisa berkreasi dengan berbagai alat dan material yang ada dan telah dibagi menjadi bagian-bagian khusus seperti woodwork, metalwork, paintwork, leatherwork, dan sebuah lounge untuk beristirahat atau bertukar ide. Absorbing all those industrial vibes, I’m ready for making something self-made.

indoestri2

Sebelum memulai workshop yang diikuti 20 orang ini, Leo yang juga menjadi tutor workshop kali ini terlebih dulu menjelaskan tentang kampanye SELF MADE yang ia buat. “The creation process is a journey that is irreplaceable even by the destination,” adalah filosofi utama di baliknya. Pria lulusan Art Center College of Design di Pasadena, California tersebut merasa gemas melihat perkembangan industri kreatif yang cenderung stagnan, terjebak hype, dan sustainability yang terasa kurang karena para desainer/pemilik brand yang tidak benar-benar memahami dan menggeluti proses produksi. Kampanye SELF MADE memiliki misi utama mengajak orang untuk mengenal proses berkarya dari tahap paling basic, mempertajam skill, membangun network, dan mengembangkan skema bisnis startup mereka, salah satunya dalam bentuk berbagai workshop yang digelar di Indoestri dalam open house month mereka sepanjang bulan Oktober ini.

indoestri3

Now, off to the actual process. Saya mendapat materi workshop berupa modul, pensil, penggaris, gunting, dan bahan kanvas. Setelah mengguntingnya dalam ukuran yang sudah ditentukan (100 x 50 cm), bahan tersebut dilipat dua sama rata, menyisakan 1 cm di pinggir untuk diobras dan dijahit. Saya belum pernah memakai mesin obras dan it’s been forever since the last time I use sewing machine on middle school, jadi rasanya lumayan menegangkan saat menginjak pedal untuk mengatur kecepatan jarum. Some of the stitches are out of the lines, but hey, that’s the part of learning, right?

Selesai mengobras bagian pinggir, saya melipat bagian pinggir atas tas ke dalam sekitar 3 cm, menandainya dengan jarum pentul, lalu menjahitnya kembali dengan mesin jahit. Kali ini saya sudah agak terbiasa dan mulai bisa mengatur tempo dengan lebih baik. Langkah keempat adalah membentuk bagian dasar tas. Saya melipat kedua bagian pinggir bawah tas sekitar 8 cm dan menjahit garis lurus lalu membalik bagian dalam ke luar, voila, tas pun sudah terbentuk dan tinggal ditambahkan straps. Namun sebelum itu, tas ini dibubuhi logo SELF MADE yang memakai teknik silkscreen terlebih dahulu. Tas kemudian dijemur menghadap sinar matahari langsung agar tintanya cepat kering. Sambil menunggu, saya dan para peserta workshop lain saling berbincang and getting to know each other. Para pesertanya kebetulan memang berasal dari berbagai background, mulai dari mahasiswa seni, fotografer, pemilik brand, ibu-ibu, hingga ayah dan anak yang kompak mengikuti workshop ini. Suasananya sangat menyenangkan dan santai.

InstagramCapture_c078ad86-c16a-474d-bedc-085441ae92e6

Setelah mengambil tas yang sudah kering, last step adalah memasang straps dari bahan kulit. Menurut modul saya harus mengukur sepanjang 65 cm dan lebar 3 cm, namun saya menambahkan 5 cm lebih panjang (70 cm) agar lebih nyaman personally. Straps tersebut dijahit sekitar 3 cm dari bagian atas tas dalam bentuk 2,5 square box. Hal ini bisa dilakukan dengan mesin jahit bila kamu sudah cukup terbiasa, atau dengan jahit tangan yang lebih lama namun lebih presisi kalau kamu belum yakin dengan mesin jahit. Straps are attached, then it’s done! My first ever self-made tote bag which I quite proud of mengingat tas ini dibuat dengan tangan dan hanya dimiliki secara eksklusif oleh peserta workshop. So next time you saw someone carrying this bag, you know that they’re making this bag by themselves.

Selain workshop tekstil, Indoestri juga telah menggelar berbagai workshop menarik lainnya mulai dari ceramic, leather works, dan lecture tentang memulai brand dengan dipandu oleh para praktisi professional di bidangnya masing-masing dan terbuka untuk siapa saja. You should check out their Instagram (@indoestri) to keep yourself updated and be ready to be the part of the SELF MADE movement!

photo 5

http://www.indoestri.com/

Style Study: 5 Labels You Should Know From NYFW Fall/Winter ’14

It’s definitely been a long time since I wrote about fashion week. I used to do that every single seasons back on my Tumblr heydays, but on the recent years, I even barely pay any attention anymore to my favorite labels like Proenza Schouler, Rodarte, Alexander Wang, etc. I’ve lost track about their recent collections, let alone knowing the who’s who in the industry nowadays. Today, I woke up feeling nostalgic about my past endeavor as Fashion Week reviewer and how I’ve been dreaming to actually attend the shows someday so I decide to skimming most of the New York Fashion Week Fall/Winter 2014 shows, and in the process, I educated myself about some of the most interesting new labels, fresh designers, and probably the new fashion It Kids. Here’s my short list:

Public School: Maxwell Osborne (left) & Da0-Yi Chow (right)
Public School: Maxwell Osborne (left) & Da0-Yi Chow (right)

PUBLIC SCHOOL

Dao-Yi Chow and Maxwell Osborne, the two masterminds behind this NYC-based menswear label, had gain some buzz when they receive the prestigious CFDA/Vogue Fashion Fund Award last year, so its probably not surprising to saw Anna Wintour and her daughter, Bee Shaffer, sitting in the front row of Public School’s first formal show this season. Put the hype aside, they’re proving they’re more than ready to open their school of style to the public. The show was started by Asian male model (hey, that’s unusual) in the monochromatic flannel, jeans, wide hat, and cape. Thanks to American Horror Story: Coven, I’ve been obsessing over wide hat and cape lately, and to see them wore by men, I’m very thrilled even though they probably not taking the reference from the New Orleans witches. Accessorized with scarves underneath the hat, they’re giving an ode to Jewish rabbis in the downtown New York, while the pastoral neck on some pieces hinting a Catholic preacher aesthetic.

PublicSchool

The collection itself is very urban, very New York, very modern. Its like a refined mix of sportwear and tailored suits in neutral hues, with heavy emphasis on their outerwears (cape, jacket, blazer, coat) and for the first time, they also create some women wears that ooze the same relaxing cool vibes as their male counterpart. Like a proper runway debut, they don’t need any gimmicks, they let the clothes speaks for themselves and it’s a big hit. Some people are giving them standing ovation while Mrs. Wintour clapping her approval, and it’s easy to understood. It’s very smart collection and Public School bringing their A-level game to teach us how the cool guys and girls should wear in public.

Maria ke Fisherman: Victor Alonso and Maria Lemus
Maria ke Fisherman: Victor Alonso and Maria Lemus

Maria ke Fisherman

Founded by Maria Lemus and Victor Alonso in 2011, the Madrid-based label is well known for their edgy streetwears that combines futuristic design with references from 90’s pop culture. For their New York debut, the duo are not afraid to show their signature colors which includes cotton-candy knitwear, crop tops, tracks pants, platform sneakers, and crochet sweaters. It’s basically “Monsters University mixed with Korean hookers and the way hip-hop singers dressed in the nineties, especially when they went to Aspen to ski,” explains the duo themselves about the daring collection which must be worn with certain kind of self-mocking and humorous attitude.

mariakefisherman

What comes in my mind is Akihabara’s cyberpunk meets hip-hop meets 90’s MTV. The spaghetti-straps denim dress is like straight from Posh Spice’s wardrobe in her Spice World era while combination of black bra and plaid pleats mini skirts looks like a homage to Britney’s Baby One More Time. The fluffy sweaters fully adorned with MkF insignia in pixel bit colors is right on the hook and show us that they’re ready to play.

Calla Haynes and her cho chow, Lilybear.
Calla Haynes and her chow chow, Lilybear.

CALLA

I love when designers have some fascinating story to backing up their new collection. In the Calla Haynes’ mind, her Fall/Winter 2014 collection is about a heartbroken French belle who moves to Nashville in the 60’s and bring along her wide array of cute retro dresses, tweed boyfriend blazer, and belted coats. Mixing a Parisian chic with American girl’s aesthetic such as varsity jacket, pleated skirts, and oversized sweatshirts, Miss Calla staying true to her relaxed luxury which all about young, dreamy yet vibrant feminine looks that could be taken straight from Lula magazine’s fashion spread.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Print is always a biggest forte for the Toronto-born, Paris-based designer who used to work with Olivier Theyskens and Nina Ricci. This season, she based the playful prints from her chow chow pet called Lilybear while bringing some fresh colors like minty ice and strawberry sorbet to the traditionally subdued season.

Katie Gallagher
Katie Gallagher

Katie Gallagher

Talk about witches, Katie Gallagher presumably show us how witches would look like if they’re exist in The Matrix universe at her first proper seated runway presentation. The High Line hotel, with its stained glass windows and fireplace, is a perfect place to showcasing her famous goth overtones collection. Models with their pale skins, slick wet hair, slouchy hair bows, and deep blood lip colors strutting the runway draped with chiffon ornamented jackets, flowing skirts, fluid looking nylon pieces, bare midriffs, and utilitarian coats. 

Katie Gallagher

Consist of nothing but black, vampy red, and a strike of silver fur, its something that girls like Claire Boucher and Fairuza Balk will wear proudly. It’s sleek, mysteriously cool, and sexy just like the designer herself who have Jared Leto as her biggest supporter. While Katie Gallagher is not really a newbie, this season marks another collection that reminds about she’s one of the new bloods to be reckoned.

Hyein Seo
Hyein Seo

Hyein Seo

Halloween comes early this year. The young South Korean designer might still in the middle of pursuing her master degree at Royal Academy of Fine Arts in Antwerp, but with her New York debut collection called Fear Eats The Soul, she shows no fear whatsoever to have fun in her designs. At the first glance, they might looks very kitsch, especially when you think of Antwerp as her educational background. Antwerp is mainly associated with very avant-garde designers while Seo’s design feels young and dynamic, and will fits in any style hub streets. From Seoul, Paris, London, and of course, New York.

hyein_seo

A mix of 80’s B-movie horror flicks and streetwear, the collection have a gooey-like “FEAR” word emblazoned in almost every pieces from head to toe. From hairpiece, choker, dresses, to faux fur coats with spooky faces that reminds you with the killer from Scream. While honestly it had a bit of reminiscent from Meadham Kirchhoff and early Jeremy Scott, I can’t wait to see what the future hold to Hyein Seo. Fear no more.

FEAR

I must admit it was fun to write about fashion week again and try to predict the next trends. From what I’ve seen, I think we should ready for 90’s revival and sporty urban aesthetic. Until another fashion week!

Style Study: Haryono Setiadi

Adi Setiadi

Di antara deretan label top Australia yang berkiprah di Mercedes-Benz Fashion Week (MBFW) Australia tahun ini, terselip satu nama yang terdengar Indonesia, yaitu Haryono Setiadi. Well, it turns out Haryono ‘Adi’ Setiadi sang empunya nama memang seorang desainer Indonesia yang berbasis di Sydney. Dalam gelaran pekan mode tersebut, Adi menampilkan koleksi S/S 13 bertajuk “Visceral” yang terdiri dari luxury sportswear berupa bomber jacket, crop top, dan oversized silhouettes berhiaskan digital print yang terinspirasi dari atom dan molekul. Sleek dan modern, koleksi ini berhasil menarik perhatian editor Vogue yang memasukkannya dalam highlight MBFW musim ini dan beberapa koleksinya pun dipakai Emma Watson di film terbaru Sofia Coppola, The Bling Ring. Ditambah berbagai penghargaan yang telah ia terima dalam kariernya yang masih terbilang baru, he’s definitely one to watch.

Visceral

            “Pada dasarnya saya suka berkarya dengan menggunakan warna dan komposisi, dan saya menggunakan fashion sebagai kanvas untuk berkarya dan menyalurkan kreativitas saya,” ungkap Adi tentang alasannya menekuni fashion. Penyandang gelar Bachelor of Commerce ini awalnya sempat bekerja sebagai finance analyst sebelum kecintaannya kepada warna dan desain mendorongnya untuk terjun ke fashion dengan bekerja langsung pada seorang desainer Jepang, Akira Isogawa. Di bawah asuhan Isogawa, Adi mengembangkan estetika desainnya sendiri untuk akhirnya membuat label pribadinya dengan nama awal An Ode to No One, sebelum berinkarnasi menjadi Haryono Setiadi di tahun 2012. “Saya sangat tertarik dengan teknik membuat baju, konstruksi baju, dan penggunaaan bahan-bahan tertentu untuk menciptakan ‘feeling’ baju tersebut. Inspirasi desain saya selalu berdasarkan evolusi dari koleksi sebelumnya. Walaupun itu sesuatu yang bisa saya improve atau kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat. Setiap koleksi, saya selalu berusaha untuk berkembang, menciptakan sesuatu yang baru dan modern, dengan kualitas yang setinggi atau lebih tinggi dari koleksi sebelumnya.”

Visceral2

            Selain main line Haryono Setiadi yang bersifat high end dengan fokus ke tailoring, fabric treatment, dan signature digital/hand craft artwork, Adi juga melansir diffusion line bernama A.D. by Haryono Setiadi untuk pangsa anak muda dengan desain ready-to-wear yang lebih affordable. Saat disinggung apakah ia memiliki rencana untuk membuat menswear, Adi menjawab jika itu adalah salah satu harapannya dan kini ia masih mempelajari teknik-teknik pakaian pria di sela-sela kesibukannya menyiapkan koleksi Autumn/Winter terbaru dan menulis musik di waktu senggangnya (ia sempat menjadi vokalis band di Aussie.) Lebih dari satu dekade meninggalkan Tanah Air, Adi tak lantas melupakan identitasnya. Merepresentasikan Indonesia di kancah internasional menjadi hal yang dibanggakannya dan ia pun membersitkan harapan untuk bisa menggelar show di sini. Melihat kemahiran sartorial dan visinya untuk terus berkembang, I think it’s only a matter of time for him to fly even further.

Haryono setiadi backstage

Backstage photos by Jake Terrey for Vogue Australia

The Morning Bender, A Report of Nikicio F/W 2013 Morning Presentation.

DSC_4530 copy

Tak pernah ada istilah terlalu pagi untuk menikmati suguhan fashion yang berkelas, Nina Nikicio membuktikannya lagi dalam morning presentation Nikicio Fall/Winter 13/14. 

For instance, mungkin di skena mode Indonesia saat ini baru Nina Nikicio seorang yang punya nyali dan loyal fans untuk menggelar fashion show di pagi hari untuk keduakalinya sejak presentasi Nikicio Mixte Spring/Summer dua tahun lalu. Dan seperti show sebelumnya itu, kali ini pun Nina mengemasnya menjadi suatu event yang membuatmu rela bangun lebih pagi di akhir pekan. Untuk show yang diadakan Sabtu 26 Juni lalu, Nina memilih Colony di area Kemang Raya sebagai venue, di mana setiap invitee akan diantar oleh para usher menaiki elevator ke lantai 6 gedung tersebut, dan begitu keluar pintu lift, mereka akan langsung melihat sebuah space kosong yang sudah dihiasi jejeran kursi putih, dan jendela-jendela lebar di setiap sisi yang membiarkan cahaya pagi menghangatkan area berwarna abu-abu tersebut. Mengingatkan seperti sebuah loft di downtown New York, and fits Nikicio’s DNA so well, I must say.

Tak berapa lama setelah saya menikmati breakfast at a jar dan orange juice dalam botol yang disediakan di setiap kursi, show pun dimulai. Seorang model Kaukasia berjalan santai dengan turtleneck abu-abu dan blazer wool berwarna sama yang dipadukan dengan pajama pants dari material Habutai (garmen sutra yang sangat ringan) dengan print foto scenery pegunungan. Print yang sama menjadi kunci utama dalam keseluruhan koleksi ini dan muncul dalam berbagai inkarnasi, mulai dari oversized jacket, celana pendek, sleeve dress, blazer, hingga bra. “It was from one of my favorite holiday in New Zealand. Probably in 2009. I remember the scenery was so beautiful it took my breath away. And I remember saying grace, just being thankful at that moment. It’s very personal really and such a humbling experience,” ungkap Nina, menjawab pertanyaan saya tentang print tersebut. Selain print pegunungan tersebut, print lain yang juga muncul adalah guratan bangau putih yang terinspirasi dari kain Cina yang pernah Nina lihat di rumah neneknya. Jelas, Nina ingin bermain dengan kenangan personalnya di koleksi terbarunya ini.

DSC_4415 copy4

DSC_4567 copy

DSC_4483 copy

Put the prints aside, koleksi F/W 13 ini tetap mengiaskan apa yang menjadi pakem label ini, which is smart cutting and minimalism beauty. Knitted sweater, moto jacket, bolero, kemeja sifon, dan maxi skirt berpadu tanpa cela dengan aksesori pendukung seperti beanie, topi snap back, slip on sandal, serta clutch dari material Nubuck yang lembut dan kuat di saat yang sama. Terselip juga beberapa muscle tank dengan tulisan “Grumpy”, “Hungry”, “Thirsty”, dan “Sleepy”, saya bertanya iseng ke Nina, “So, which one are you in the morning?” Nina yang kala itu mengenakan muscle tank hitam bertuliskan “Sleepy” menjawab sambil tertawa, “Hahaha! I like to inject humor to every collection I make. Grumpy, hungry, thirsty, and sleepy are feelings that easily relatable to anyone, it transcends gender. But then again, I basically just want to have a little fun,” tukasnya dengan tersenyum.

DSC_4867 copy

Sebagai kesimpulan, 24 looks yang disajikan dalam morning presentation ini bisa dibilang menjadi sebuah goodbye notes manis dari Nina untuk sementara waktu kepada fashion crowd Indonesia. Saat kamu membaca artikel ini, ia telah berada di Melbourne untuk melanjutkan studi Fashion & Textile Merchandising di RMIT University, sebuah hal yang menunjukkan komitmennya untuk terus membawa diri ke level selanjutnya dan tak berhenti di satu titik. “Life is all about learning anyway isn’t it?” pungkasnya. Couldn’t agree more with that.

DSC_4879 copy

 

As published in NYLON Indonesia July 2013

All photos by Sanko Yannarotama

Higher Ground, An Interview With Nina Nikicio

Nina

Tidak pernah berhenti di satu titik adalah kunci Nina Nikicio untuk selalu setingkat lebih tinggi. 

“Gue lagi mentok. Gue lagi bosan banget sama Jakarta,” tukas Nina Nikicio sambil menyesap minumannya. “Lagi bosan sama scene-nya, karena gue melihat fashion designer atau brand owner dijadikan sesuatu yang hip sekarang. Brand atau webstore popping up anywhere, tapi sedikit yang memang benar-benar berkonsep. Ada yang cuma nempel brand doang tapi beli baju di mana, itu kan nggak ada bedanya sama jualan di Mangga Dua,” cetusnya lagi dengan cuek dan lugas. Well, kalimat itu mungkin terdengar agak pedas, namun keluar dari mulut seorang desainer yang telah mencapai status cult tersendiri seperti dirinya, keluhannya yang jujur itu memang terasa benarnya.

Sekarang ini, rasanya tak ada pencinta fashion yang tidak mengenal nama Nina Nikicio. Nina dan brand Nikicio memang langsung menjadi talk of the town sejak pertama merilis koleksinya tahun 2007 lalu. Design aesthetic yang modern dan tak terikat tren dengan aura yang lekat dengan kata “edgy” dan “cool” adalah faktor utamanya. “It seems like yesterday. Dari dulu gue nggak mau tergantung sama keluarga untuk soal uang jadi pas awal bikin Nikicio itu ya pakai duit sendiri hasil kerja. Jahit sendiri. Gue ingat untuk show perdana gue tahun 2007 lalu, gue bikin hand embroidery di selimut gede banget. Semuanya gue kerjain sendiri, sampai sekarang selimut itu masih ada lho! Haha!” ungkap desainer kelahiran 1985 ini saat mengingat lagi awal kariernya.

Nina pun terkenal dengan konsistensinya dalam meluncurkan koleksi setidaknya dua kali setahun di bawah lini Mixte dan Femme. Ia juga selalu aware dengan perkembangan yang ada, Nikicio termasuk label Indonesia pertama yang mengundang para fashion blogger untuk datang ke fashion show-nya, langkah yang lantas diikuti banyak desainer lainnya. Lima tahun berlalu, namun excitement orang-orang pada label ini masih terjaga kuat. Mungkin baru Nina yang bisa membuat orang rela datang ke sebuah fashion show di hari Sabtu jam 10 pagi, suatu momen yang menjadi breakthrough tersendiri baginya. “Gue deg-degan setengah mati, jam 10 kurang 15 orang masih dikit tapi pas jam 10 teng antrean udah ramai. Itu menurut gue momen yang membuat gue berpikir ‘I made it this far’, antusiasme orang untuk dateng ke show gue ternyata segitunya.”

Penyandang gelar bachelor untuk Fashion Design dari Lasalle College of The Arts, Singapura ini juga menceritakan masa-masa ketika ia sempat bekerja sebagai fashion designer untuk label menswear di daerah Clarke Quay Singapura dengan bos orang Inggris yang sangat galak untuk hal tailoring dan fitting. Dari lecturer di Lasalle, ia juga belajar pentingnya konseptual atau cerita di balik suatu koleksi. “Setiap bikin koleksi, mereka selalu nanya ini konsep di baliknya apa? Jadi gue nggak bisa bikin koleksi asal desain aja tapi nggak tau ceritanya apa. They always ask me to do one book, tebal banget yang isinya research dan sketch.” Setiap pelajaran itulah yang akhirnya menjadi fondasi yang selalu ia terapkan dalam mendesain.

Nina yang mengaku dirinya seorang workaholic ini juga tipe yang tak ragu untuk terus belajar. Karena itu sepulangnya ke Jakarta, ia mengambil Fashion Business di Lasalle Jakarta dan dalam waktu dekat, ia berencana mengambil program bachelor jurusan Fashion Design atau Fashion Merchandising di RMIT University, Melbourne. Hal itu juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi kebosanan yang ia rasakan saat ini. “Biar belajar lagi bagaimana cara running business-nya biar bisa lebih smooth, karena gue merasa masih kurang di situ,” ungkapnya.

Menyeimbangkan antara idealisme dan sisi komersial bagi siapapun yang berkecimpung di industri kreatif adalah hal yang gampang-gampang susah, bagi Nina sendiri dua aspek itu harus berjalan beriringan. “Sejak gue belajar fashion business, gue sadar sebagai desainer lo nggak bisa berdasarkan idealisme lo aja. Sebagai business owner, lo harus bikin gimana brand lo bisa tambah besar. Lagian idealisme gue masih bisa keluar dari print dan campaign yang gue bikin,” tandasnya.

“Gue nggak pernah bikin resolusi atau plan apapun, kecuali untuk koleksi gue ya, hehe. Gue harus punya production calendar.untuk label gue. Gue sendiri stop bikin resolusi dari tahun 2009, tadinya gue mau stop ngerokok, eh tapi sampai sekarang belum bisa, jadi ya sudahlah, daripada gue tambah stress,” jawab Nina saat ditanya apakah ia termasuk orang yang gemar mencanangkan resolusi tertentu setiap tahunnya. Jika segala prosedurnya telah selesai dengan lancar, Nina akan terbang ke Melbourne bulan Februari nanti. Lantas, bagaimana dengan kelanjutan label Nikicio sendiri? “Gue nggak tau opportunity apa yang ada di sana, tapi kalau misalnya gue harus mindahin Nikicio ke sana kenapa nggak? Kalau misalnya gue pindah bukan berarti Nikicio juga stop, tapi cuma pindah ikut gue aja,” jawab Nina dengan tersenyum. Well, kalau benar seperti itu, mungkin untuk sementara kita akan kehilangan sosok darling designer ini di Jakarta, namun jika next endeavor ini bisa mengantarkannya ke level yang lebih dari yang telah ia jajaki sekarang, why not?

As published in NYLON Indonesia January 2013

Photo by Andre Wiredja

Style Study: Moo Piyasombatkul

Moo

Hello Moo, how are you? Would you mind to tell us about yourself and what are you doing?

Hello! Technically I’m a jewellery designer as I did BA Jewellery Design at Central Saint Martins in London.

When did you first know you wanted to design eyewear?

I did an eyewear collection as my graduation project… and that was my starting point of my eyewear series. Although I didn’t plan to sell my collection nor starting as a brand. Mrs. B, a founder of Browns (in London) gave me an amazing opportunity to sell my graduate collection at the shop, which was such an amazing exposure. I can’t thank Browns enough.

Can you tell us about your training?

During my 3 years at Central Saint Martins, I was trained as a maker, a designer, and a thinker. All of my tutors, technicians and classmates gave me the best 3 years of my life. It was a turning point for me. I had time and supports from these people, guiding me to look, analyse and evaluate. I open up more to possibilities. A piece of jewellery doesn’t have to be made from precious metal or be worn as earring nor necklaces. Jewellery can be anything that relates to body. It’s a body adornment. It can be made from any kind of materials, as long as it helps translating the concept of the work. So this is gives me no limit to what I can do.

Day Dream

Where did you grow up and how does it influence your work in any way?

I grew up in 2 cultures; Thai and British. My parents sent me studying in UK since I was 12, but I come back home (Bangkok) every holiday. Traveling has been a big part since, and it became my influence because I got to travel to other cities in Asia, Europe and America. I got to see varieties of diversity, people and cultures. Then I began to know what I like and I then tend to go back to those places or doing more research on them. Traveling always involves hotels and restaurants (I love eating 🙂 ), so I got lots of inspirations from interiors, furnitures and the atmosphere. This is my initial  theme for most of my works.

Your eyewear already worn by Lady Gaga and Fan Bing Bing, how do you feel about it and personally, who do you design for?

It’s beyond amazing because they are both well dressed ladies whose styles I love. They picked my work themselves, which I even felt more special and it really motivates me to keep producing greater designs.

How would you describe your aesthetic?

My work and the way I dress are similar; proportionally balanced. I don’t overload things on myself or on my work.

Desire

If you can collaborate with any person in the world, who will you choose and why?

Karl Lagerfeld for CHANEL or Alber Elbaz for LANVIN. I love these labels and their clothes are very well cut. It’s a classic with a twist, similar to the way I work. I’m a big fan.

Tell us a little bit about your latest collection, what’s the main inspiration for it?

I tend to work in series. Developing from one to another because interiors and food are still my main influences. So let’s wait and see what’s next!

What is your personal favorite from the collection and why?

I tend to wear a lot of “desire” and ‘bubbly blue” styles from both of my collection because they go pretty well with most of my outfits. However Baroque Eyes collection is my most proudly present because it’s my first collection and it’s what made people recognise my brand. So it has become a classic collection which I’m still selling.

Bubbly

Do you think that you will always make eyewear? 

We’ll see…

For now, your eyewear is sold exclusively in Browns, OC, and HP France, got plans to sold it elsewhere?

I started selling in Hong Kong, Middle East and Romania and other main cities, but of course I want to sell my brand globally. Let’s see where next!

What do you hope for the future? 

Doing my best today and hopefully greater things to offer. More MOO ^oo^

MOO Eyewear Facebook