Love of Siam: 3 Days Trip to Bangkok, Thailand

Dalam sebuah weekend yang mengesankan pada pertengahan Februari lalu, Tourism Authority of Thailand mengajak saya berwisata ke Bangkok dan menemui one of Thailand’s national treasures, Mario Maurer himself.

Day 1 – 16 Februari 2017

Keluar dari Bandara Suvarnabhumi setelah penerbangan selama 3 jam bersama Thai Airways, hari sudah gelap ketika rombongan kami yang terdiri dari 3 media, 3 influencers (Lucky Oetama, Ana Octarina, dan Patricia Devina), 2 pemenang meet & greet, dan perwakilan dari Wisata Thailand menuju pusat kota Bangkok. First impression through local food adalah hal yang penting saat kamu mengunjungi tempat baru. Thailand terkenal dengan sajian seafood yang fresh, karena itu kami menuju salah satu restoran seafood paling terkenal di Bangkok, Somboon Seafood, untuk makan malam pertama kami di Negeri Gajah Putih ini. Begitu masuk ke restoran dua lantai ini, kamu bisa melihat banyak foto orang terkenal dari artis Hollywood hingga para pejabat negara seluruh dunia yang pernah bersantap di sini, and here’s the only reason: the dishes are spectacular. Kamu belum sah pergi ke Bangkok kalau belum mencicipi tom yam goong, curry crab, dan mango rice dari Somboon, so make sure to put it on your itinerary. Somboon sendiri memiliki beberapa cabang, yang saya datangi kali ini adalah cabang Rachada, dan selayaknya restoran terkenal lainnya, ada beberapa restoran yang berusaha mendompleng nama Somboon, so better make sure and google first agar kamu tidak tertipu restoran abal-abal. Salah satu indikasi paling mudah adalah, the real Somboon tidak pernah sepi akan pengunjung.

2017-02-24 09.40.40 1.jpg

Dengan perut kenyang dan hati riang, kami pun menuju hotel tempat kami menginap di Pathumwan Princess Hotel yang letaknya menempel dengan MBK Center, salah satu shopping mall paling legendaris di kota Bangkok yang jumlah pusat perbelanjaannya memang tidak kalah banyak dari Jakarta dan Singapura. Selesai check in dan meletakkan barang di kamar, jarum jam sudah menginjak jam 9 malam dan masih ada sisa satu jam untuk berkeliling MBK, so off we go. Dengan 8 lantai dan 2000 lebih toko yang ada, satu jam jelas tak cukup mengitari mall yang pernah menjadi mall terbesar di Asia saat didirikan di tahun 1985 ini and time always running so fast when you’re shopping. Setelah MBK tutup, saya dan beberapa teman pun memutuskan jalan-jalan sebentar di daerah sekitar National Stadium untuk menikmati angin malam dan melihat wajah after dark dari Bangkok yang mengingatkan saya pada paduan Jakarta dan Kuala Lumpur. A peculiar yet familiar feeling, I must say.

Day 2 – 17 Februari 2017

Agenda pertama di hari kedua adalah mengunjungi Ananta Samakhom Throne Hall, sebuah royal reception hall yang kini menjadi museum berisi peninggalan seni dan sejarah Thailand yang tak ternilai harganya. Melihat istana pualam dengan desain renaissance yang mengingatkan pada gereja St. Peter’s Basilica di Vatikan ini, sesaat saya seperti berada di Eropa alih-alih Asia Tenggara. Untungnya, tak jauh dari Throne Hall, ada Memorial Crowns of the Auspice, sebuah bangunan emas bergaya arsitektur khas Thailand yang menyadarkan kita jika kita masih di Thailand.

Processed with VSCO with nc presetProcessed with VSCO with nc preset

Mulai dibangun pada tahun 1908 atas perintah Raja Chulalongkorn (Rama V), butuh waktu 7 tahun untuk menyelesaikan bangunan karya arsitek Mario Tamagno dan Annibale Rigotti ini. Sama seperti bangunan resmi negara lainnya, ada dresscode khusus yang harus dipatuhi setiap pengunjung yang ingin masuk ke dalam, yang meliputi pakaian berlengan (lengan pendek is okay) dan bawahan yang menutupi kaki (celana panjang untuk pria dan rok panjang untuk wanita). Celana pendek, jeans robek, rok pendek, dan baju tanpa lengan dilarang masuk (better bring your jacket or cardigan). Untuk yang terlanjur memakai celana pendek, kamu bisa membeli sarung yang ada di area informasi seharga 50 Baht. Oh ya, kita juga dilarang membawa kamera, smartphone, dan alat penangkap gambar lainnya ke dalam Throne Hall, jadi kita harus menitipkannya ke dalam loker transparan yang telah disediakan dengan gratis. Melewati proses body check dan mengambil alat recorded guide yang disediakan, saya pun mulai menelusuri Throne Hall.

Sulit untuk mendeskripsikannya tanpa visual, and you better see it with your own eyes. Kubah dan dinding dipenuhi oleh lukisan fresco karya Galileo Chini dan Carlo Riguli yang menggambarkan sejarah Thailand, seperti kisah Raja Rama I mengalahkan pasukan Khmer dan menjadi raja pertama di Dinasti Chakri serta kisah Raja Rama V yang menghapus perbudakan di Thailand. Menggabungkan cita rasa Thailand dengan estetika Eropa, jangan heran jika kamu melihat sosok sang Buddha di antara dua malaikat cherub yang biasanya ada di gereja-gereja Eropa. Selain lukisan fresco, yang tak kalah menakjubkan adalah the exquisite embroidery arts berukuran raksasa dan pahatan kayu yang menceritakan hikayat Thailand. Dan bagian akhir dari tur di Throne Hall adalah koleksi barang-barang mewah milik Ratu Sirikit dan ekshibisi permanen “Arts of the Kingdom” yang menampilkan karya seni tradisional Thai yang dibuat oleh para pengrajin di Sirikit Institute. Sejak tahun 1976, sang ratu akan berpergian ke pelosok Thailand dan menemui anak-anak berbakat seni dari keluarga miskin untuk disekolahkan di Bangkok dan dilatih oleh para pengrajin istana agar tak hanya bisa berkontribusi untuk keluarga tapi juga menjaga tradisi seni Thailand dari kepunahan.

Processed with VSCO with hb2 preset

            Lokasi selanjutnya adalah Phu Khao Thong alias The Golden Mount, sebuah bukit buatan yang di puncaknya terdapat Wat Saket, wihara yang telah ada sejak zaman Ayutthaya (1351 – 1767). Untuk mencapai Wat Saket, kita harus menaiki sekitar 300 anak tangga yang melingkari bukit kecil ini dengan pepohonan rimbun yang menaungi dan beberapa altar untuk menghormati orang yang telah meninggal. Semakin ke atas, semakin jelas terdengar bunyi lonceng, wind chimes, serta rapalan doa yang bergaung tanpa henti dari speaker. Konon, siapa yang bisa membunyikan lonceng paling kencang bunyinya akan mendapat keberuntungan. Tiba di puncak, kamu bisa membayar 10 Baht untuk mengakses rooftop terrace dan menikmati panorama 360 derajat kota Bangkok. Waktu terbaik untuk mengunjungi The Golden Mount dan Wat Saket adalah dari akhir November sampai Januari karena tak hanya cuaca yang lebih sejuk, tapi juga pohon kamboja di sekitarnya sedang mekar dan memancarkan keharuman.

Setengah hari berjalan kaki dan berpanasan di bawah teriknya matahari, waktu makan siang yang ditunggu pun tiba. This time kami mengunjungi Jarnkubkao, sebuah restoran mungil yang menyajikan santapan homemade Thailand. Dengan tembok bercat kuning dengan sebuah mobil mungil yang terparkir di halamannya dan letaknya yang di tengah perumahan, we know it’s a kind of quaint little place with quirky decoration inside, Dan ya, interior restoran ini memang lucu dan Instagrammable banget. Tapi jangan cemas, meskipun begitu bukan berarti restoran ini hanya menjual suasana saja, makanannya pun sangat lezat. Thai iced tea menjadi pendamping sempurna bagi Pad Thai dan berbagai sajian udang dan ikan segar yang kami santap. Beberapa makanan cukup spicy, even bagi orang Indonesia yang biasa menyantap makanan pedas, dan karena seluruh menu ditulis dengan aksara Thai, it’s better to bring your Thai friend untuk membantu menerjemahkan atau bertanya ke waitress. Overall, Jarnkubkao adalah restoran yang sangat worthy dikunjungi untuk makan enak sekaligus update Instagram.

Setelah makan siang, enaknya mencari pencuci mulut. Kami menuju Or Tor Kor Market yang tersohor sebagai fresh market terbaik nomor 4 di dunia. Di pasar segar ini, kamu bisa menemukan banyak buah-buahan, sayuran, daging, ikan, hingga cemilan khas. Namanya pasar, bagian hasil lautnya memang beraroma amis, namun pasar ini sendiri sangat bersih dan nyaman untuk berbelanja maupun sekadar melihat-lihat. Di sini kami mencicipi the famous Durian Monthong dan buah-buahan lainnya. Dari Or Tor Kor, kami menuju Talad Rod Fai (Train Market) di belakang Seacon Square Shopping Mall, sebuah pasar malam tempat berkumpulnya warga lokal dan wisatawan. Kafe-kafe trendi, toko vintage, barbershop, tattoo parlour bercampur menjadi satu dengan 2000 lebih kios makanan, fashion, dan pernak-pernik. Pasar malam memang menjadi satu hal yang sedang hip di Bangkok, kami datang saat weekend dan makin malam makin ramai orang yang datang. Siapkan uang cash yang banyak dan tahan dirimu agar jangan sampai pulang membawa sekarung belanjaan, or not. Your choices.

Day 3 – 18 Februari 2017

 Sabtu yang cerah menjadi hari yang telah ditunggu karena hari ini lah kami akan bertemu dengan Mario Maurer. Tapi sebelumnya, masih ada free time sampai makan siang yang kami manfaatkan untuk belanja (lagi!). Menaiki Skytrain, kami menuju Platinum Fashion Mall, sebuah pusat perbelanjaan yang fokus pada fashion item secara eceran maupun grosir (think about Mangga Dua). Di sini kamu bisa menemukan banyak pakaian dan aksesori yang sering kamu lihat di online shop Instagram dengan harga yang relatif murah dan bisa ditawar, one rule tho: semua pakaian tidak boleh dicoba. Kembali ke hotel, kami pun berangkat ke River City, an upscale mall yang fokus pada toko-toko high end local art, craft, dan furniture. Kami di sini bukan untuk belanja (percaya deh!), dari dermaga di belakang River City kami akan menaiki Supanigga Cruise, dinner cruise berkapasitas 40 seat yang mengarungi Sungai Chao Phraya. Enjoying the evening cocktail, di atas kapal ini kami bergabung dengan rombongan media dan fans lain dari Vietnam dan Filipina untuk bertemu dengan Mario yang memang terpilih menjadi tourism ambassador untuk tiga negara tersebut.

untitled

Dengan rambut slick dan kacamata hitam, aktor kebanggaan Thailand berusia 28 tahun yang masih terlihat baby face tersebut menaiki kapal, look dashing as ever and we’re all gushing with excitement. Menyapa kami dengan ramah, aktor yang beken dengan film seperti The Love of Siam dan First Love ini pun menceritakan beberapa hal favoritnya dari kota asalnya, which includes night market (he’s regular visitor apparently) to shop and snacking around his favourite local snack, Thong Yip. Few moments before complete sunset, perahu menepi di dermaga Chatrium Hotel Riverside di mana kami akan makan malam bersama Mario dan pihak Tourism Authority of Thailand. The amazing view and breezy air from Chao Phraya menjadi latar yang sempurna untuk malam yang memorable ini. Secara bergantian, perwakilan dari grup Indonesia, Filipina, dan Vietnam mengungkapkan kesan dan pesan selama perjalanan ini and some even confess their love for Mario yang disambut dengan senyuman ramah dari sang bintang yang berjanji akan gantian mendatangi negara kami (seminggu setelahnya Mario melakukan meet & greet di Neo Soho, Jakarta yang dihadiri ribuan orang).

mario

         Tiga hari memang waktu yang tergolong sangat singkat untuk menikmati Bangkok yang memiliki hidden gems tak terhitung di setiap sudutnya. Namun, dengan keramahan para warga lokal, kuliner lezat, unlimited shopping experiences, dan keluhuran tradisi yang terjaga di pekatnya perkotaan, rasanya selalu ada alasan untuk kembali mengunjungi Bangkok in the future. Untuk sekarang, hĕn khuṇ nı p̣hāyh̄lạng*, Bangkok!

*See you later!

2017-02-24-09-45-30-1.jpg

The Hills Have Eyes, A Trip To Haw Par Villa

Bagi mayoritas orang, Haw Par Villa mungkin telah menjadi bagian dari sejarah yang nyaris terlupakan di Singapura yang kian modern. Namun, jika kamu bosan dengan mainstream tourist spot yang itu-itu saja, this abandoned theme park bisa menjadi pilihan destinasi offbeat yang tidak biasa. After all, a little thrill won’t hurt, right? 

Processed with VSCO with hb2 preset

I always love abandoned space. Ada semacam rasa sentimental yang aneh dan surreal dari tempat yang dulunya ramai penuh orang, namun seiring waktu dan berbagai sebab akhirnya terlupakan. Tempat-tempat yang seakan terjebak di masa lalu, tidak tersentuh waktu dan kehidupan di sekitar mereka. A place frozen in time, I would call it. Haw Par Villa adalah salah satu dari tempat tersebut. Terletak di sebuah bukit di Pasir Panjang Road, Haw Par Villa adalah sebuah theme park bertema mitologi dan folklore Tiongkok yang berisi 1000 lebih patung dan 150 diorama raksasa di dalamnya. Theme park yang dibangun di tahun 1937 ini pada masanya adalah sebuah tujuan wisata yang cukup populer bagi warga Singapura. Namun, karena beberapa faktor, taman wisata itu kemudian semakin ditinggalkan dan nyaris dilupakan, seolah tidak tersentuh ritme modernitas Singapura saat ini.

Ketertarikan saya pada Haw Par Villa timbul setelah menonton video “REALiTi” milik Grimes yang dibuat saat ia melakukan tur Asia tiga tahun silam. Selain Gardens by the Bay, video tersebut juga menampilkan Grimes berdansa di antara diorama yang ada di Haw Par Villa, and it looks interesting. Setelah quick research di Google untuk mengetahui soal taman tersebut, saya pun memasukkan Haw Par Villa ke tempat yang harus dikunjungi di Singapura dan kesempatan itu tiba di bulan April lalu saat saya melakukan solo weekend trip ke sana. Menggunakan MRT untuk mencapai stasiun Haw Par Villa di jalur Circle Line ke arah barat Singapura, perjalanan dari hotel saya di Orchard memang tergolong lumayan jauh untuk ukuran setempat. Ketika sampai di stasiun Haw Par Villa yang hanya terletak dua kilometer dari bibir pantai, begitu keluar stasiun dan berjalan ke kanan, the theme park is literally ada di samping stasiun, jadi tidak mungkin kamu tersesat.

Processed with VSCO with hb2 preset

Saat saya tiba, tidak tampak pengawas atau penjaga karcis karena memang untuk masuk ke Haw Par Villa tidak dikenakan biaya apapun alias gratis. Walaupun saat itu hari Sabtu, namun tampaknya tidak banyak pengunjung yang datang. Hanya ada beberapa pasangan yang sibuk berfoto di depan beberapa patung dan diorama. Beberapa travel agent sebetulnya menawarkan trip ke Haw Par Villa lengkap dengan pemandu yang akan menceritakan sejarahnya, namun saya memilih datang seorang diri dan hanya berbekal informasi yang saya kumpulkan dari internet. Menapaki jalanan mendaki dengan diorama harimau, Buddha, dan dewa-dewa Konfusius di sekelilingnya, saya pun siap untuk mengeksplor theme park ini.

Processed with VSCO with hb2 preset

Sedikit sejarah soal Haw Par Villa, tempat ini dinamakan berdasarkan para pemiliknya, yaitu dua bersaudara Tionghoa berdarah Burma bernama Aw Boon Haw dan Aw Boon Par yang juga dikenal sebagai pewaris usaha minyak balsem paling ikonik di Singapura, Tiger Balm. Dan memang sampai sekarang pun masih banyak peninggalan bertema Tiger Balm yang tersisa, sehingga tidak heran jika taman ini juga dikenal dengan nama Tiger Balm Gardens. The villa itself terletak di puncak bukit dan dirancang oleh seorang arsitek terkenal Singapura bernama Ho Kwong Yew. Memiliki enam ruangan yang terdiri dari dua kamar tidur, ruang tengah, ruang melukis, dressing room, dan ruang makan serta enam puncak yang melingkar, villa berwarna putih dengan pemandangan menghadap laut ini termasuk salah satu mansion paling megah di Singapura di tahun 30-an.

Processed with VSCO with hb2 preset

Di masa kejayaannya, taman ini bahkan memiliki kebun binatang. Namun, ketika tentara Jepang menginvasi Singapura saat Perang Dunia II, dua kakak beradik tersebut kabur ke luar negeri dan tentara Jepang menggunakan villa ini sebagai watch tower untuk mengawasi kapal yang mendekat ke pantai. Setelah perang berakhir, Aw Cheong Yeow yang merupakan keponakan dari Boon Haw kembali ke villa tersebut untuk meneruskan visi pamannya membangun taman yang mengajarkan legenda Tiongkok. Taman ini menjadi tujuan wisata yang cukup populer bagi warga Singapura di tahun 70 dan 80-an. Jika kamu bertanya ke warga Singapura di atas 30 tahun, besar kemungkinan mereka pernah ke Haw Par Villa dalam rangka school trip. Namun menjelang akhir 90-an, dengan biaya masuk yang mahal dan banyaknya tempat wisata yang baru, jumlah pengunjung turun drastis dan mereka mengalami kerugian, hingga di tahun 1998 mereka terpaksa menghapus biaya masuk.

Processed with VSCO with hb2 preset

Dengan makin sedikitnya pengunjung, Haw Par Villa pun akhirnya melahirkan banyak kisah misteri sendiri. Ada rumor yang bilang jika Haw Par Villa terletak di mulut Neraka, dan para penjaga malam bercerita soal bagaimana patung-patung di dalamnya akan hidup di malam hari, dan bahkan rumor jika beberapa patung sebetulnya mayat manusia yang dilapisi oleh lilin (House of Wax, anyone?). Hal itu tertanam kuat dan sampai sekarang pun, ketika sedang berjaga malam, para security guards akan meninggalkan sesajen seperti makanan dan rokok untuk beberapa patung.

Processed with VSCO with hb2 preset

Well, saya memang tidak bisa melihat hal-hal supranatural, tapi saya percaya tempat ini angker. Overall it’s quiet and eerie, bahkan di siang hari sekalipun, ketika cuaca mulai mendung dan semilir angin yang berbunyi di antara rimbunnya bambu menambah nuansa mistis, but I brave myself dan mulai menjelajah. Melewati sebuah information center yang hanya dijaga seorang kakek, nyaris tidak ada orang lain saat saya berjalan menuju Ten Courts of Hell yang merupakan atraksi paling ikonik di tempat ini. Both creepy and kitsch at the same time, beberapa patung yang ada di taman tampak jelas telah dimakan usia dan cuaca, dengan cat yang sudah mengelupas dan retakan di sana-sini. Ada juga beberapa daerah dengan tanda restricted yang tidak boleh dimasuki. I choose to stay on the path dan tiba di gerbang neraka yang dijaga oleh dua patung penjaga neraka berkepala kuda dan banteng.

Processed with VSCO with hb2 preset

Dulunya, tempat ini seperti Istana Boneka di Dunia Fantasi, di mana kita akan duduk di sebuah perahu kayu kecil menyusuri sungai buatan memasuki mulut naga sepanjang 60 meter. Sekarang, kepala naga itu sudah tidak ada dan pengunjung harus jalan kaki untuk masuk ke dalamnya. Untuk yang mengikuti Snapchat saya pasti tahu saya berusaha menutupi ketakutan saya dengan merekam video, but I wouldn’t lie, it’s creepy as hell! Di dalamnya berisi diorama ratusan patung-patung lilin kecil yang menceritakan proses manusia setelah kematian versi mitologi Tiongkok dan ajaran Buddha di mana neraka terdiri dari 10 tingkat dengan penguasa dan siksaan masing-masing. Suka menonton porno dan menyisakan makanan? Hukumannya adalah badan dibelah dengan gergaji raksasa. Kurang ajar terhadap orangtua? Hatimu akan dicabut besi panas, and so on. Kalau kamu pernah baca komik Siksa Neraka, kurang lebih seperti itu. Sialnya, saat saya hendak keluar dan menjelajah diorama lain seperti Journey to the West, White Snake Legend, dan Romance of Three Kingdoms, hujan deras datang tiba-tiba dan saya terpaksa berteduh di dalam neraka selama sejam lebih. Untungnya saya tidak sendiri karena beberapa pengunjung yang ada juga berteduh di sana. But still, it feels like an eternity karena tidak ada yang bisa saya lakukan selain bolak-balik mengamati setiap level neraka.

Processed with VSCO with hb2 preset

Ketika hujan akhirnya reda, jarum jam telah menginjak pukul tiga sore dan saya harus bergegas pergi. Masih banyak sekalian bagian lain yang belum saya lihat, tapi sebelum pergi saya menyempatkan untuk melihat wilayah kolam dengan paviliun dan pagoda di tengahnya (and even Liberty miniature!). Terlepas dari suasana creepy yang menyelimutinya, Haw Par Villa sebetulnya dibuat untuk menunjukkan kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya dan sebagai pengingat soal tradisi dan ajaran leluhur mereka, sehingga kalau diperhatikan banyak motif melingkar di taman ini yang menyimbolkan harmoni dan keluarga. Karena sebetulnya masih belum puas, dengan berat hati saya pun berjalan keluar menuju stasiun MRT sambil berjanji untuk kembali ke Haw Par Villa dalam kunjungan berikutnya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Through The Lens: Deby Sucha

Deby Sucha

Dalam edisi Oktober 2015 NYLON Indonesia yang mengangkat tema “The It issue”, saya menulis tentang profil empat perempuan muda yang berkarya di dunia fotografi yang masih didominasi kaum pria. Salah satunya adalah Deby Sucha, fotografer kelahiran Jakarta 29 tahun yang lalu yang saat ini sedang bermukim di Jepang. Dengan mata yang jeli menangkap atmosfer raw dari street photography, Deby telah menarik banyak klien besar seperti The Body Shop dan Makarizo serta menjuarai berbagai kompetisi fotografi dari Sony, Capcom, Garuda Indonesia, dan Korea Air. Let’s get to know her better, shall we?

Deby7

Hai Deby, boleh perkenalkan sedikit tentang dirimu?

Hi! My name is Deby Sucha, born in Jakarta, Indonesia. Some called me their personal photographer. Currently based in Tokyo, Japan and working for Airbnb.com

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fotografi dan kapan pertama kalinya kamu mulai bereksperimen dengan kamera?

Simply because I loved travelling, dan kayaknya seru banget kalau apa yang aku lihat selama perjalanan bisa terus dilihat kapan aja. I am a living-in-the-present kind of person, but when I look back to the past, I’d like to immerse myself into the snap shots photographs I took. Awalnya aku suka street snap fotografi dengan kamera pocket waktu aku umur 18 tahun, kemudian aku dapat kesempatan untuk jadi asisten fotografer fashion di Jakarta yang bikin aku mau belajar lebih dalam lagi tentang fotografi.

Deby9Deby3Deby4

Deby5

Apa kamera pertama yang kamu punya?

Analog Nikon FM2.

Siapa fotografer yang paling menginspirasimu?

My all time favs Peter Lindbergh, Gavin Watsons, Philip Lorca Dicorcia.

Kalau kamera yang paling sering digunakan saat ini?

Digital: Canon EOS 6D, Film: Pentax 67 Medium Format.

How about your dream camera?

Kamera sekarang canggih-canggih banget deh udah pasti bikin be’em semua ya… Haha! Apalagi yang mirrorless dengan fitur full frame plus dukungan ISO tinggi. Tapi yang bikin penasaran itu dikit banget, and actually I have owned my dream camera, which is my medium format Pentax 67.

Deby8

What’s your educational background? Apakah kamu otodidak atau memang mempelajari fotografi secara khusus?
Graduated of Visual Communication Design , Bachelor of Art. Untuk fotografi sih belajar sendiri , dan curi-curi ilmu dari kerja sebagai asisten di lapangan. Selain itu juga hobi liatin photobook-photobook buat cari inspirasi.

Apa obyek favoritmu untuk difoto?
Street and people.

Deby2Deby1

How would you describe your own aesthetic?
Raw.

What do you think about being female photographer di dunia yang masih didominasi fotografer laki-laki ini? Do you think gender is important in this field?
Menurut aku sekarang ini udah banyak fotografer-fotografer wanita yang super talented in their field. See that gender doesn’t matter. If the camera itself would choose their own photographer , I bet most of it would say “hand me to the ladies please!” Haha.

Di zaman, semua orang bisa memotret dengan smartphone masing-masing dan aplikasi editing, do you think  conventional” photography masih relevan saat ini?
I appreciate all the photography related technologies we have right now, as I often use that as well and it’s super easy and cool! But if you want to create something big, something powerful, you won’t go with that shortcut things, right? We put at least some effort to it, and someday we get paid for the effort we have made. Kalau untuk sharing di social media , why not?

Deby10

Dari mana biasanya mencari inspirasi?
Go outside , and walk, look around. There you go.

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
The project I’m running with my friends right now.

What’s your next project?
An independent webmagazine for art, culture, street and fashion.

Advice/tips to anyone who wants to become a photographer?
First thing is to go outside, go to the public library and see other people’s artworks, go to exhibitions, and bring your camera all the time, never stop shooting.  And last but the most important thing. Show off your works to your friends, listen to their opinion.

Deby6

All photos by Deby Sucha

Instagram: @debysucha

www.debysucha.com

Summer Fling: India’s Photo Diary of Sabai Morscheck

Entah dengan berjemur di pantai atau sekadar bersantai seharian di rumah, kita percaya jika every summer has its own story. Bagi Sabai Morscheck, musim panas kali ini berbau rempah dan warna vibrant dari India yang tertangkap dalam foto-foto berikut.

Maharaja's City Palace (Jaipur)

Hi Sabai! Boleh cerita sedikit soal masa kecilmu?

Hi! Aku besar dengan ayah yang seorang pelukis jadi dari kecil aku menyukai seni dan aku suka melihat keindahan dari semua tempat yang aku datangi.

What’s your favorite thing to do on summer?

Sekarang ini sih masih diving ya. Jadi kalau libur bawaannya pengen diving mulu.

Apa summer experience yang kamu tangkap di photo diary ini?

Oke, liburan kemarin aku pergi ke India, dan banyak banget pengalaman baru yang aku dapat soal budaya dan gaya hidup mereka. India menurut aku ibukotanya nggak jauh beda ya sama Jakarta, dan tempat-tempat wisata mereka sangat eksotis. Hal-hal yang aku tangkap mayoritas bentuk bangunan mereka yang mewah dan penuh ukiran, aku juga suka foto orang-orang India dengan gaya tradisional mereka yang penuh warna.

Gadis-gadis India dengan saree mereka yang warna warni (Fatehpur Sikri).
Gadis-gadis India dengan saree mereka yang warna warni (Fatehpur Sikri).
Pasar mereka yang penuh warna (Kinari Bazar).
Pasar mereka yang penuh warna (Kinari Bazar).

Apa impresi awalmu tentang tempat tersebut?

Yang paling berkesan itu warna-warna yang meriah. Mereka berani memadukan warna-warna cerah sampai pakaian mereka sehari-hari (saree) juga mayoritas warnanya cerah. Suara yang khas itu suara klakson! Hahaha, walaupun Jakarta jauh lebih macet, tapi di India mereka suka membunyikan klakson mereka. Bahkan tulisan-tulisan pada truk mayoritas ‘please horn’.  Kalau masalah aroma yang khas itu aroma rempah-rempah pada makanan mereka. asli, aromanya nempel di mana-mana.

Taj Mahal (Agra)
Taj Mahal (Agra)
Salah satu mesjid di samping Taj Mahal.
Salah satu mesjid di samping Taj Mahal.

Hal yang menurutmu hanya bisa ditemukan di tempat tersebut?

Taj Mahal (ini sih sudah pasti ya), masala chai, rombongan sapi di jalan raya, cricket, penjual yang asli jago gila jualannya, aroma rempah-rempah yang khas banget, saree yang bagus-bagus banget warnanya, anak-anak kecil yang akrobat waktu lampu merah, warna-warna cerah di mana-mana.

Detail bangunan di Qutb Complex.
Detail bangunan di Qutb Complex.

Favorite summer memory?

Beberapa bulan lalu aku ke Lombok Timur, di sana ada resort namanya Jeeva Beloam, mereka punya private beach yang super bersih dan indah banget. Aku suka pantai, santai menikmati laut aja aku udah seneng banget. Jadi kalau aku dibawa ke pantai yang indah, tinggal di sana walaupun nggak ada sinyal handphone juga aku bakalan betah. Dan dengan partner travelling yang pas.

Favorite summer dessert?

Creme brulee.

Diajarin bikin keramik kaya yang dipakai untuk menghiasi Taj Mahal (Agra).
Diajarin bikin keramik kaya yang dipakai untuk menghiasi Taj Mahal (Agra).
Jaipur City.
Jaipur City.

What’s your summer essentials?

Sunglasses, t-shirt, short, swimsuit, sunblock, dan yang paling penting: sendal jepit!

Do you believe in summer fling?

Hahaha aku pribadi sih nggak, tapi teman-teman aku yang ngerasain.

Satu lagu untuk mendeskripsikan summer kamu?

“Go Outside” dari Cults. Alasannya karena aku nggak ngerti lagu India, haha! Dan aku suka lirik yang ini: “I think it’s good to go out. Cause if you don’t you’ll never make a memory that will stay.”

Sabai Morscheck

https://instagram.com/sabaidieter/

Sunday Girl, A Trip At Singapore with Cherie Ko

3

Menyusuri sisi quirky Singapura di hari Minggu yang cerah bersama indie darling kebanggaan kota tersebut, Cherie Ko. 

Di samping menjadi pit stop utama band-band indie keren yang melintasi Benua Asia, Singapura juga menyimpan potensi skena indie lokal yang cukup besar. Walaupun mungkin belum terlalu terekspos, bukan sekali dua kali kami menemukan band-band keren yang ternyata berasal dari Negara Singa tersebut dan menulisnya di Radar kami, salah satunya adalah band shoegaze fuzzy pop bernama Obedient Wives Club di mana Cherie Ko tergabung sebagai gitaris. Saat akhirnya bertemu dengannya di Laneway Singapore akhir Januari lalu, it was an instant click dan kami janjian untuk hang out sebelum saya kembali ke Jakarta.

Esoknya, di Minggu siang yang panas, Cherie menjemput saya di depan Singapore Art Museum. Memakai collar dress biru, bowler hat, sepatu oxford dan anting berbentuk ceri, ia terlihat seperti karakter utama dari film Wes Anderson. Matanya menghilang saat ia tertawa ketika saya memuji penampilannya yang super cute. Menyebut Winona Ryder di Heathers dan Parker Posey di Party Girl! sebagai style icon, tak sulit mengetahui bagaimana ia menjadi indie darling Singapura, tak hanya dari style, tapi juga substansi musik yang ia miliki.

Di umur 23 tahun, Cherie telah memiliki karier bermusik yang ekstensif sejak pertama kali belajar gitar ketika berumur 15 tahun. Sebelum tergabung di Obedient Wives Club di tahun 2011, namanya telah lebih dulu dikenal berkat unggahan lagu-lagu cover di kanal YouTube miliknya yang telah mendapat 3 juta views. “Video pertama yang saya unggah adalah ‘Your Call’ dari Secondhand Serenade. Saya memakai silly headband dan duduk di atas sebuah kursi dalam posisi yoga yang aneh. Waktu itu emo-pop sedang naik-naiknya mungkin karena itu saya bisa mendapat banyak views,” kenangnya sambil tersenyum.

Selain menjadi gitaris di Obedient Wives Club yang meraih popularitas di regional Asia Tenggara, ia juga menjadi frontwoman trio Bored Spies yang ia bentuk bersama Park Soo Young dan Orestes Morfin dari band cult Bitch Magnet dan telah tampil di Primavera Sound Festival 2013 di antara jadwal tur Amerika dan Eropa. Sekarang, Cherie juga memiliki solo proyek dengan nama Pastelpower di mana ia menukar gitarnya dengan keyboard untuk membuat musik indie pop yang dreamy dan lirik-lirik yang witty. Merilis demo kaset bertajuk Sparkling Eyes dan tampil di berbagai festival di Singapura, Malaysia, dan Thailand, lewat bedroom project ini Cherie pun kian mengukuhkan statusnya sebagai salah satu sosok paling dominan di skena indie Singapura yang sedang menggeliat.

Dengan talenta musik yang besar, rasanya lumayan susah dipercaya mendengar pengakuan Cherie jika awalnya ia justru tidak terlalu tertarik pada musik, terlepas fakta jika ia telah belajar piano dari kecil atas paksaan ibunya. “I’ll be completely honest here! I was a pretty average kid, and I didn’t grow up as a music lover. Saya tidak peduli dengan musik ketika masih anak-anak dan hanya mendengarkan apapun yang ibu saya putar di mobil. Saya banyak mendengarkan Faye Wong karena dia adalah penyanyi favorit ibu saya. Tapi saya sebetulnya biasa saja, sampai saya mendengarkan Cocteau Twins ketika remaja dan merasa terhubung dengan musik mereka. Lalu saya menyadari jika Faye Wong sebetulnya juga terinspirasi Cocteau Twins, dan itu seperti momen eureka. I adore shoegaze and I try to incorporate dreamy textures in my music too,” ungkapnya.

Dengan influens penyanyi pop perempuan Prancis 60-an seperti Françoise Hardy dan Sylvie Vartan, 80’s shoegaze, serta dreampop kekinian seperti Beach House, Cherie mendapat inspirasi membuat Pastelpower sehabis menonton ulang Edward Scissorhands dan membuat musik yang terpicu visual pastiche dari rumah suburban berwarna pastel dan halaman rumput yang tertata rapi di film tersebut. Visual imagery yang kuat dari film itu dan film-film cult tahun 60 sampai 90-lainnya (khususnya film-film John Waters) akhirnya memicu lahirnya lagu-lagu di EP Sparkling Eyes dan digital live EP bertajuk Pastelpower Broadcast: Live EP yang berisi dua lagu berjudul “Allergies” dan “Oh, Louie!” beserta musik video konseptual garapan Syamsul Bahari di kanal YouTube Pastelpower. Uniknya, selain dijual dalam format digital di Bandcamp, Cherie juga membuat bentuk fisik EP ini dalam bentuk kartu pos yang dilengkapi download code dan berisi pesan personal yang ditulis tangan olehnya.

“Bagaimana rasanya menjadi musisi indie di Singapura?” tanya saya di dalam mobilnya yang dipenuhi CD band-band lokal dan regional. “It feels great!” jawabnya sambil memasukkan CD band Yellow Fang dari Thailand, “Rasanya menyenangkan berada di komunitas orang-orang dengan cara berpikir dan minat yang sama dan berjuang untuk goal yang sama. Tapi saya juga sadar menjadi musisi di Singapura doesn’t pay the bills. Terutama jika kamu ‘indie’. Tapi hal itu tidak menghentikan kami untuk melakukan musik yang kami cintai!” imbuhnya. “Saya selalu bahagia kalau bisa menemukan band-band lokal baru. Dua minggu lalu saya menonton penampilan seorang gadis bernama Linying di sebuah gig, dan saya sangat terpesona melihatnya menggabungkan sensibilitas folk dengan bunyi elektronik. So fresh! Saya juga sangat menyukai The Pinholes yang merupakan salah satu band Singapura paling otentik di luar sana. They are a throwback to the good ol’ times, bringing back the vibes, mereka juga memiliki aksi panggung yang sangat enerjik dan fun,” imbuhnya.

            “Saya akan bersemedi di tempat rahasia saya untuk menulis lagu-lagu baru, jadi hal terdekat yang akan kamu dengar dari saya adalah album debut saya! Saya akan banyak bereksperimen di album ini, sonically. Saya juga ingin memasukkan macam-macam instrumen musik, That is all I will be revealing for now! ungkapnya bersemangat ketika saya bertanya tentang rencananya tahun ini. Mengingat ia sudah tampil di pusat-pusat hip culture Asia Tenggara seperti Bangkok dan Penang, apakah ia berencana mengunjungi Jakarta juga? “Saya banyak mendengar hal seru tentang Jakarta dan saya ingin sekali untuk mampir dan membuat show. Saya berharap bisa merencanakan suatu hal di Jakarta tahun ini,” jawabnya. Dengan janji itu, kami pun sampai di destinasi pertama petualangan kecil kami di tempat-tempat quirky Singapura favoritnya.

9fotor_(29)

Colbar Eating House

“ColBar sebetulnya kependekan dari Colonial Bar, dan sudah dibuka sejak 1953 sebagai unofficial canteen untuk infantri Inggris. Temboknya dipenuhi foto-foto dan memorabilia kuno tentang sejarahnya dan membuat tempat ini terasa rustic dan memiliki old-school charm. Makanan yang ada di sini sangat homemade dan otentik. Saya terutama menyukai nasi kari ayamnya. Maybe it might be slightly overpriced, but the place makes for a great experience with its story to tell!

9A Whitchurch Road.

fotor_(28)

Gillman Barracks

“Gillman Barracks adalah contemporary art cluster yang dibangun di bekas barak militer dan berisi museum, galeri seni, dan non-profit spaces. Sekarang tempat ini juga menjadi venue populer untuk pop-up gigs, parties, dan events. Walaupun terkenal dengan museumnya, saya lebih tertarik pada graffiti dan street art yang terpampang di tembok-tembok mereka, salah satunya karya Mary Bernadette Lee, seorang teman saya yang merupakan ilustrator/seniman dengan bakat luar biasa. Saya suka karya-karyanya yang berasal dari emosi yang kita hadapi sehari-hari dan ditegaskan dengan memakai cat air which is so very pretty in a raw way. I’m also a big fan of her portraits of naked ladies! They are awesome. You can check out her work at http://mrydette.com

gillmanbarracks.com

9 Lock Rd.

5

Henderson Waves

“Saya pernah kencan di sini ketika berumur 17 tahun. Saya menaiki tangga bersama cowok ini dan kami saling memainkan musik dengan gitar akustik. The night breeze, trees, skyline made for a pretty awesome date!

The Southern Ridges, Henderson Rd.

fotor_(24) fotor_(27)

Curated Records

“Curated Records adalah record store kecil dengan koleksi indie records yang hebat. Saya menyukai toko ini karena sangat well-organized dan rapi. Saya terutama menyukai bagaimana Instagram feed mereka terasa seperti record shelves betulan jadi saya penasaran untuk datang ke toko ini untuk melihat-lihat. Saya kemudian berteman dengan pemiliknya, Tremon, dan sekarang toko ini menjadi personal favorit saya.”

curatedrecords.com

55 Tiong Bahru Rd.

fotor_(25)

WP_20150125_082

Tiong Bahru Bakery

“Tempat ini menjadi tujuan wajib saya setiap mampir ke Tiong Bahru karena saya tidak bisa berhenti menyukai butter croissants mereka! It’s the best croissants you can get in town.

tiongbahrubakery.com

56 Eng Hoon Street.

10

Singapore Botanic Gardens

Baru-baru ini saya tampil di Singapore Botanic Gardens bersama teman saya Jean dari band Giants Must Fall. It was a post-valentines’ day gig dan banyak pasangan yang tiduran di atas picnic mat. Saya tampil di sebuah gazebo yang diterangi fairy lights, rasanya hampir seperti adegan film Twilight ketika Edward dan Bella berdansa waltz, haha! Orangtua saya sangat bangga malam itu karena mereka punya memori masa kecil yang sangat banyak di tempat ini. Rasanya lucu karena tidak peduli berapa banyak show yang saya datangi di seluruh dunia, in the end cukup sebuah garden gig sederhana yang membuat orangtua saya sangat bangga pada musik saya.”

sbg.org.sg

1 Cluny Road

48 Hours at Jogja: Show Your Colors!

Mengeksplorasi warna-warni kreatif Jogjakarta dalam dua hari yang artsy.

Jogja yang dikenal sebagai salah satu destinasi budaya di Indonesia memang memiliki sejuta pesona yang menarik untuk dieksplor, tak terkecuali industri kreatif yang memang sedang berkembang pesat di kota seni tersebut. Atas undangan Sampoerna AMOTION, tanggal 11 dan 12 April silam, saya pun berkesempatan untuk datang ke Jogja dan melihat sendiri geliat komunitas kreatif yang ada di daerah istimewa tersebut. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir saya ke Jogja, so I’m very excited for this weekend trip!

Day 1
Sabtu pagi tanggal 11 April, saya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Adisucipto. Perjalanan ke Jogja berlangsung kurang dari satu jam tanpa kendala apapun. Tiba di Adisucipto saya bertemu tim Sampoerna dan Kang Motulz (@motulz) yang juga menjadi salah satu blogger yang diundang sekaligus akan mengisi workshop kreatif keesokan harinya. Tepat waktunya makan siang, tujuan pertama kami adalah mengisi perut di The House of Raminten yang memang menjadi salah satu tempat makan yang wajib didatangi di Jogja. Terletak di daerah Kota Baru, House of Raminten menyajikan sajian angkringan seperti nasi kucing, nasi liwet, dan menu-menu unik seperti ayam koteka, serta pilihan minuman berbasis susu yang disajikan dalam mug berbentuk, well, “susu”. Dengan desain interior bernuansa Jawa yang diselipi guyonan sana-sini, porsi menu yang besar dengan harga yang murah, tak heran kalau tempat ini selalu ramai oleh turis maupun warga lokal.

House of RamintenSelesai makan siang, kami check in di hotel tempat kami menginap, Santika Hotel di Jl. Jenderal Sudirman dan setelah refresh sejenak, kami pun segera pergi lagi menuju Jogja Expo Center, tempat digelarnya The Parade 2015 yang memang menjadi tujuan utama dalam trip kali ini. Digagas oleh KICK (Kreatif Independen Clothing Community) Yogyakarta, The Parade merupakan the biggest clothing expo di daerah Jawa Tengah yang setiap tahunnya bisa menyedot sekitar 50 ribu pengunjung yang berasal dari Jogja dan daerah-daerah sekitarnya seperti Solo, Klaten, Semarang, Magelang, Muntilan, dan Purwokerto. Tahun ini merupakan perhelatan keenam dengan mengusung tema “Manufacturing Identity” yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 10 sampai 12 April. Tak hanya menghadirkan bazaar berisi 60 lebih clothing label, The Parade juga diisi oleh pentas band, komunitas-komunitas kreatif, dan workshop seru yang berlangsung di A Create Booth milik Sampoerna AMOTION.

The ParadeSampoerna AMOTION sendiri secara khusus mengangkat tema “Show Your Colors” yang dirasa bisa menggambarkan denyut kreatif di Jogja yang penuh warna. Implementasinya pun dilakukan dengan cara yang fun. Di hari pertama misalnya, diadakan doodling workshop oleh Farid Stevy Asta, vokalis band FSTVLST asal Jogja yang menggunakan medium kartu pos dan marker berwarna merah dan hitam. Selain workshop gratis, di A Create Booth, para pengunjung berusia di atas 18 tahun juga bisa melakukan berbagai aktivasi seru seperti body painting, colorful barbershop, dan proyek do-it-yourself (DIY) mewarnai dan menggambar t-shirt serta dompet kulit sesuai kreativitas masing-masing sambil menikmati penampilan beberapa band. Saat saya tiba di A Create Booth, terlihat Sari Sartje sang vokalis White Shoes & The Couples Company sedang bersiap menggelar workshop doodling dengan medium Chinese ink di atas kertas A5. Dengan cekatan, Sari mengajarkan basic membuat sketsa dengan tinta hitam dan menekankan untuk jangan takut salah ketika berkreasi. Walaupun hasil sketsa saya tidak sebagus karya peserta lain yang keren-keren banget, but it was fun!

Sari White ShoesA Create BoothSelesai workshop, saya pun mulai berkeliling menjelajahi berbagai booth yang ada. Tak hanya clothing brand, tapi juga booth dari komunitas kreatif lainnya, mulai dari urban toys, homedecor, robot, kamera pinhole, hingga aeromodelling club. Ada juga berbagai kompetisi seru mulai dari skateboarding, BMX, modern dance, dan Tamiya yang menunjukkan jika insan kreatif Jogja memang tak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Ketika malam tiba, juga diadakan parade Show Your Colors yang menampilkan berbagai odong-odong dan delman yang tampil ngejreng dengan hiasan lampu warna-warni. Sayangnya, karena keasikan ikut workshop bersama Sari, saya terpaksa melewatkan kesempatan untuk ikut dalam parade tersebut.

Odong-odong

Selesai menikmati parade, tim kami bertambah satu orang dengan kedatangan Intan Anggita si @badutromantis dan kami pun meninggalkan JEC untuk makan malam di Mediterranea Restaurant di daerah Tirtodipuran. Dikelola oleh Chef Camille Massard Combe (Kamil), sesuai namanya restoran ini terkenal karena hidangan dari daerah Mediterranean namun malam itu saya sedang mood makan steak. Rib eye dengan sautee potato dan saus chimicurri sukses menumpas lapar, namun kami masih enggan untuk kembali ke hotel. Kami pun mencari makanan manis di Roaster & Bear, sebuah cafe yang terletak di Hotel Harper, Jalan Mangkubumi. Begitu masuk, interiornya yang cute dengan mural bergambar beruang di sana-sini langsung menarik perhatian. Dengan area dua lantai yang terbilang luas, cafe ini kabarnya memang menjadi salah satu tongkrongan baru paling hip di Jogja. Harganya sih standar harga cafe di Jakarta, but its really nice place to visit.

Roaster & Bear

Day 2

Hari kedua di Jogja, petualangan kuliner tadi malam berlanjut dengan sarapan Soto Kadipiro yang memang wajib dicicipi. Di sepanjang jalan hari itu, terlihat banyak iring-iringan massa PPP yang ternyata akan mengadakan gathering di Stadion Kridosono yang kebetulan menjadi tujuan kami selanjutnya. Masih terkait dengan “Show Your Colors”, tembok luar Stadion Kridosono telah disulap oleh para street artist Yogya menjadi galeri mural berukuran besar dengan empat warna utama: biru, merah, kuning, dan hitam. Puas berfoto di depan mural-mural keren, kami menuju ke Kali Code untuk melihat aktivasi Show Your Colors lainnya. Dari atas Jembatan Gondolayu, kami melihat beberapa rumah di bantaran Kali Code telah dicat dengan warna merah, kuning, dan biru yang terlihat seperti kolase, membuat daerah yang dikenal dengan kehidupan masyarakatnya yang kreatif tersebut tambah semarak.

KridosonoKali CodeWaktu sudah beranjak tengah hari dan matahari tepat di atas kepala, mumpung ada waktu luang sebelum kembali ke The Parade, saya dan Komang Adhytama pun menemani Intan berburu vinyl di daerah Tirtodipuran. Sempat nyasar ke toko antik, berkat arahan salah satu teman Intan yang kebetulan ada di Jogja, kami menemukan sebuah rumah tak jauh dari jalan Tirtodipuran yang dalamnya berisi banyak harta karun. Dari mulai vinyl, mainan kuno, sampai radio dan telepon jadul.

RumahRumah2Seorang teman menyarankan saya untuk datang ke Epic Coffee di daerah Sari Harjo, maka saya pun mengikuti sarannya dan setelah sempat harus berputar-putar mencari jalan karena macet, kami tiba di coffee shop yang juga merangkap sebagai toko furniture Epilog tersebut. Terbagi menjadi area indoor bergaya industrial warehouse dan outdoor dengan kebun yang cukup luas, Epic Coffee termasuk salah satu establishment yang membangun hip culture di Jogja saat ini yang memang sedang berkembang. Price list-nya memang cenderung mahal untuk ukuran Yogya namun hal itu sebanding dengan kualitas dan service yang ditawarkan.

Epic CoffeeMenjelang jam tiga sore, kami menuju JEC untuk The Parade hari terakhir. A Create Booth kembali menggelar doodling workshop sebagai kelanjutan dari dua workshop sebelumnya. Kali ini yang memberi materi adalah Kang Motulz, seorang fotografer dan visual artist yang mengajarkan basic membuat sketsa objek dalam bentuk kubus simetris di atas kertas A3. Kang Motulz menekankan para peserta untuk jangan takut memenuhi kertasnya dengan tumpukan kubus dan kemudian mewarnainya dengan warna kuning, merah, atau biru secara acak seusai imajinasi masing-masing. Setelah itu, ada workshop tambahan oleh Mahaputra Vito dari Laurel Studio yang mengajarkan teknik membuat sketsa dari sample gambar dari internet.
Workshop tersebut pun menuntaskan trip saya kali ini. Setelah menyempatkan diri berbelanja di The Parade, kami pun bersiap ke bandara untuk perjalanan kembali ke Jakarta. Well, dua hari memang dirasa sangat kurang untuk menelusuri warna-warni Jogjakarta, namun thanks to The Parade dan Show Your Colors, saya merasa telah cukup banyak melihat ragam kreatif yang dimiliki Jogja saat ini dan berniat kembali lagi in near future, it’s a promise!

#Xinjiapo, My Singapore Trip Part 2: Tiong Bahru & Laneway Festival

Hari kedua di Singapura: Mengeksplor hip culture dan festival musik paling seru di Asia Tenggara.

Setelah hari pertama dihabiskan untuk menelusuri art conclave Gillman Barracks dan night life di Haji Lane, saya terbangun di hari Sabtu tanggal 24 Januari dengan excitement penuh. Today is the day for St. Jerome’s Laneway Music Festival Singapore 2015! Tahun ini merupakan kali kelima festival musik asal Australia tersebut digelar di Singapura dan seperti biasa menghadirkan lineup keren dari established & upcoming indie musicians seperti FKA twigs, St. Vincent, dan Little Dragon. Tahun ini juga menjadi tahun pertama saya datang ke Laneway, so excited!

Well, Laneway sendiri baru akan dimulai sekitar jam 12 siang, karena itu kami punya agenda lain sebelum menuju Gardens by The Bay yang menjadi venue festival tersebut. Setelah breakfast di hotel, kami pun naik taksi dengan tujuan Tiong Bahru, sebuah tempat yang belakangan menjadi daerah hip di Singapura. Tapi, entah kenapa supir taksi kami salah menurunkan kami. Instead of Tiong Bahru, kami turun di Keong Saik Road di daerah Chinatown, yang sebetulnya tak kalah menarik untuk jalan-jalan. Daerah yang awalnya dikenal sebagai red light district ini sekarang dipenuhi oleh coffee shop, cafe, art gallery, dan bahkan sebuah coworking space yang akan segera dibuka. Di jalan ini juga terdapat Potato Head dan Three Buns, a familiar fixture if you’re Jakarta hipster. Dibanding naik taksi lagi dan kami pun sebetulnya tidak terburu-buru, kami memutuskan untuk jalan kaki ke stasiun MRT untuk menuju Tiong Bahru. Tentunya sambil menikmati gedung-gedung art deco di area Keong Saik dan gang-gang kecilnya yang seringkali dihiasi mural dan warna-warni vibrant yang membuat daerah ini terasa seperti a quaint little village.

Keong Saik Road

Setelah naik MRT dari Outram Park yang hanya berjarak satu stasiun dari Tiong Bahru, kami pun jalan kaki sedikit lagi sebelum akhirnya sampai di Yong Siak Street, salah satu jalanan di Tiong Bahru yang paling hip dengan deretan toko buku, cafe, coffee shop, dan organic store. Dibangun tahun 1930-an, Tiong Bahru yang artinya “Kuburan Baru” merupakan area perumahan paling tua di Singapura yang dulunya memang area pemakaman dan daerah perumahan yang sepi dan didominasi orang tua. Namun, thanks to para creativepreneur muda yang membawa hip culture ke area ini, Tiong Bahru sekarang telah hidup kembali menjadi tempat favorit para ekspat dan local cool kids di mana lifestyle establishment hidup berdampingan di antara bangunan ruko dari tahun 40-an dan pasar basah tradisional. Berjalan-jalan di Yong Siak sendiri yang didominasi apartemen dua sampai lima lantai dari zaman pre-war bertembok putih dengan balkon bundar dan tangga spiral yang khas adalah pengalaman yang menyenangkan. Di daerah yang cenderung tenang ini, waktu seakan berhenti. Di antara obrolan santai orang-orang yang sedang asik menyisip kopi, kamu masih bisa mendengar musik Chinese tradisional dan suara burung di antara pohon kelapa. It was very nice place to live, I think.

polaroidMAKER_31_01_2015 7_32_04polaroidMAKER_31_01_2015 7_33_14
Sampai di Yong Siak, kami sebetulnya ingin mencicipi kopi terkenal di 40 Hands Coffee, namun coffee shop tersebut tampak sedang ramai-ramainya. So, kami pun memutuskan untuk saling berpencar untuk mengekslorasi Tiong Bahru sendiri-sendiri sebelum makan siang. Yang langsung menarik perhatian saya adalah toko buku di seberang 40 Hands Coffee, yang bernama BooksActually yang bisa dibilang Aksara Bookstore-nya Singapura, walaupun jauh lebih mungil. Toko buku independen milik Kenny Leck dan Karen Wai ini dimulai tahun 2005 dan sempat berpindah-pindah sebelum akhirnya stay di Tiong Bahru dan menjadi literary hub bagi skena literatur lokal. Begitu masuk, it was love at the first sight. I mean, tumpukan buku-buku yang semuanya menggoda untuk dibawa pulang, terutama karya-karya para penulis lokal dan majalah-majalah indie setempat. Para pemilik toko buku ini tampaknya adalah penyuka kucing. Selain menjual banyak buku yang mengangkat tema kucing, toko buku ini memiliki tiga ekor kucing peliharaan yang dibiarkan bebas berkeliaran di atas tumpukan buku dan mencakar punggung buku, which is very cute dan malah terasa seperti “sentuhan khusus” untuk buku tersebut. Seolah hal itu tidak cukup, BooksActually juga menjual banyak pernak-pernik vintage yang menggemaskan. Mulai dari postcard, toples kaca, tumpukan kaset, foto-foto kuno, hingga koleksi Pez, semuanya adalah cobaan untuk mental dan dompet saya.

BooksActuallyBagian dalam BooksActually

Sadar saya belum melihat toko-toko lain, saya pun keluar sejenak dari BooksActually untuk melihat toko-toko sekitarnya. Tak jauh dari situ ada toko buku satu lagi berhias mural yang lucu bernama Woods in the Books yang khusus menjual buku anak-anak, bakery bernama Plain Vanilla yang terkenal dengan cupcakes-nya dengan dekorasi yang dihiasi jejeran sepeda vintage dan ayunan kayu, restoran Jepang bernama Ikyu, Bhutan Shop yang menjual produk-produk organik dari mulai bahan makanan sampai peralatan mandi, dan Open Door Policy (ODP), sebuah bistro bernuansa rustic dengan desain ruangan open-planned yang membuat tamu bisa melihat proses pembuatan masakan di balik dinding kaca. Sudah masuk jam makan siang, dan ODP pun obviously terlihat ramai. Untungnya kami sudah reservasi terlebih dulu dan segera duduk di meja kami dan mulai melihat-lihat menu. Semua menu yang ada di main dish sangat menggoda selera. Mulai dari 48 hour braised beef cheek with red wine quinoa and beetroot puree, roast akaroa salmon with crushed potatoes, grilled baby leeks and brown butter jus, hingga ODP wagyu burger with all the trimmings, garlic fries and japanese mayonnaise. Saya pun memesan burger andalan mereka tersebut. It was really big, tasty, and awesomely yummy!

Woods in the BooksODP famous burgerBelanjaan dari BooksActually
Membawa ransel berisi belanjaan buku ke festival musik mungkin bukan ide yang bagus, but I can’t stop myself untuk kembali ke BooksActually setelah lunch untuk membeli buku dan majalah. Buku yang saya beli bertajuk Lontar yang merupakan jurnal literatur para penulis Asia Tenggara dan majalah desain lokal, The Design Society Journal. Well, dengan ransel yang semakin berat, sekitar jam 2 siang kami berangkat menuju Gardens by The Bay di area Marina Bay yang menjadi tempat perhelatan Laneway Fest dalam tiga tahun terakhir ini. Di hari-hari biasa pun sebetulnya tempat ini menarik untuk dieksplor, terutama jika kamu penggemar dunia botani, I would like to come back to this place again, tapi untuk sekarang tujuan utama memang ke Laneway Festival, so here we go!

LanewayFest
Begitu masuk ke area festival, terlihat para festival goers dari regional Asia Tenggara dan Australia sudah memenuhi area rerumputan di bukit-bukit kecil ataupun berdesakkan menyaksikan para performer di tiga stage yang tersedia. This is my first Laneway experience, karena itu saya memutuskan untuk mengelilingi seluruh area Laneway terlebih dahulu sambil menikmati alcohol-infused popsicle dari Popaganda, checking out the booths and the crowd dan bertemu beberapa teman, termasuk Cherie Ko the Singapore’s indie darling, sebelum menuju depan stage untuk menyaksikan performance dari Pond, Royal Blood, dan Mac DeMarco. Hujan yang sempat turun agak deras tak membuat penonton gentar, dengan memakai disposable raincoat, orang-orang cuek asik berdansa di atas rumput dengan latar Marina Bay Sands Hotel, it was awesome.

Laneway2Laneway3
Semakin malam, semakin sulit untuk bergerak saking banyaknya orang yang datang. Tahun ini tiket Laneway berhasil sold out sebelum hari H dan sekitar 13 ribu orang dari Singapura dan kawasan Asia Pasifik memenuhi festival ini. It might be really crammed, tapi hal itu terbayar dengan aksi fenomenal dari para headliners dan semangat dari crowd-nya sendiri yang datang untuk menikmati musik dan bersenang-senang. Tak heran kalau Laneway Festival disebut sebagai Coachella-nya Asia Tenggara, it’s a must visit festival for the music lovers! Highlights tentang Laneway Festival akan saya post secara terpisah, namun yang pasti I really happy to finally watch FKA twigs live in front of my eyes!

Ketika St. Vincent merampungkan setnya sebagai performer terakhir Laneway tahun ini, waktu sudah melewati jam 12 malam. Selain Keenan, di hari kedua ini rombongan kami ditambah oleh pasangan musisi Lala Karmela dan Petra Sihombing yang memang baru bisa menyusul ke Singapura hari itu karena ada pekerjaan lain sebelumnya. Sebelum pulang ke hotel, kami sepakat untuk mengisi perut terlebih dulu. Daerah Clarke Quay yang dekat dengan hotel kami pun menjadi tujuan. Kawasan pinggir sungai ini juga telah dikenal dengan night life yang hidup, terutama karena waktu itu Sabtu malam, banyak sekali orang yang berjalan-jalan santai, hang out di cafe dan restoran (termasuk Hooters), atau party di beberapa club yang ada di area tersebut. Selesai mengisi perut di salah satu restoran Jepang, kami pun kembali ke hotel dengan perut kenyang dan beristirahat.

Laneway Team

#Xinjiapo, My Singapore Trip Part 1: Gillman Barracks

Menjelang akhir Januari lalu saya berkesempatan melancong ke Singapura dan ini sekelumit oleh-oleh cerita dari saya.

First thing first: Saya belum pernah ke Singapura sebelumnya, and in my defense, sebetulnya saya tidak pernah berencana sama sekali untuk mengunjungi negara tetangga kita tersebut. Kenapa? Karena selama ini kalau mendengar kata Singapore, yang biasanya langsung terbayang di benak saya adalah turis-turis Indonesia yang heboh belanja di Orchard Road, foto-foto di depan Merlion atau di depan logo Universal Studios, belanja IKEA, atau hal-hal lain yang intinya memang cuma buat belanja dan kegiatan yang “turis banget”. Belum lagi kalau mengingat dollar Singapura saat ini sudah hampir menyamai dollar Amerika. “Mahal!” cetus saya saat sahabat saya mengajak jalan-jalan ke Singapore setelah rencana trip kami ke Bangkok batal. Di dalam pikiran saya, selain mahal, jalan-jalan di Singapura akan membosankan karena yang dilihat hanya gedung-gedung lagi, penduduknya yang kaku dan taat hukum, serta suasana perkotaan yang sama saja dengan Jakarta, mungkin minus sampah tapi penuh dengan polisi yang dengan ajaib akan segera muncul kalau kita melakukan pelanggaran sedikit saja seperti membuang puntung rokok, menyeberang jalan sembarangan, atau sesimpel menginjak rumput. Intinya, saya tidak pernah tertarik ke Singapore! Kecuali untuk festival musik tahunan Laneway Festival. Dari dulu saya ingin sekali datang ke Laneway karena lineup mereka keren-keren dan pergi ke Coachella bagi saya seperti mimpi siang bolong.

The funny thing, saat tahun lalu mendengar kalau lineup Laneway 2015 akan mengundang FKA twigs, Little Dragon, dan St. Vincent, saya sebetulnya bertekad untuk pergi. Saya bahkan punya rencana untuk datang pas hari H, langsung ke Laneway, dan langsung pulang kembali ke airport. Tapi seperti biasa, rencana tinggal rencana. Uang saya sudah habis untuk keperluan lain, tiket Laneway pun dikabarkan sudah sold out sebelum hari H. Saya pun cuma bisa gigit jari dan berharap salah satu musisi yang tampil di Laneway tersebut mampir ke Jakarta (one of them actually did that, Mac DeMarco!). Namun, sama sekali tidak disangka, keinginan itu tiba-tiba terwujud begitu saja di tengah bulan Januari ketika saya mewakili NYLON Indonesia diundang oleh Singapore Tourism Board untuk merasakan trip ke Singapura, for free! Termasuk Laneway! Haha! (hashtag: #rezekianaksoleh).

Studio M
Studio M Hotel

Singkat cerita, tanggal 23 Januari lalu saya pun berangkat ke Singapura bersama Christina Alfiani dari Edelman Indonesia, Rigel Haryanto dari Rolling Stone Indonesia, dan Keenan Pearce sebagai salah satu influencer yang diajak. Tiba di Changi sekitar jam 2 siang, kami segera menuju hotel tempat kami menginap, Studio M Hotel di Nanson Road dekat area Clarke Quay. Hotelnya bagus, konsepnya loft dua lantai dengan glass window lebar sampai ke langit-langit, walau standing shower-nya sangat mini. Istirahat sejenak dan mandi, kami pun siap jalan-jalan di hari pertama ini. Selain Laneway keesokan harinya, Singapura juga sedang mengadakan Singapore Art Week yang digelar dari tanggal 17 sampai 25 Januari. Kami pun menuju ke salah satu venue yang menjadi bagian dari SGArtweek tersebut. It’s called Gillman Barracks.

Sampai di Gillman Barracks!
Sampai di Gillman Barracks!

Terletak di 9 Lock Road Alexandra Road, Gillman Barracks sendiri merupakan bekas area barak infantri Inggris di Singapura tahun 1936-an yang mendapat namanya dari Sir Webb Gillman, seorang jendral terkenal asal Inggris yang pernah mengomandoi infantri Inggris di Singapura. Di tahun 1971, militer Inggris mengembalikan barak ini ke Singapura dan tentara Singapura pun pindah ke barak ini dan membuka fasilitas olahraganya untuk umum. Tahun 1996, tentara Singapura mengosongkan area ini dan Gillman Barracks pun berganti nama menjadi Gillman Village, di mana muncul beberapa restoran, bar, dan toko furnitur sebelum akhirnya di tahun 2010 muncul ide untuk merestorasi area ini dan mengembalikan namanya ke nama semula. Dua tahun kemudian, Gillman Barracks pun resmi dibuka untuk umum dan menjadi sebuah pusat untuk contemporary art SIngapura.

Gillman3Gillman2

Salah satu galeri di Gillman Barracks, FOST Gallery, sedang menyelenggarakan pameran tunggal seniman Singapura Jimmy Ong. Bertajuk {History of Java}, beliau mengangkat tema sepak terjang Sir Stamford Raffles di Pulau Jawa.
Salah satu galeri di Gillman Barracks, FOST Gallery, sedang menyelenggarakan pameran tunggal seniman Singapura Jimmy Ong. Bertajuk {History of Java}, beliau mengangkat tema sepak terjang Sir Stamford Raffles di Pulau Jawa.

Di area yang tenang dan hijau seluas 6,4 hektar ini, terdapat 17 galeri seni internasional yang menghuni gedung-gedung klasik bergaya kolonial di dalamnya, termasuk Centre for Contemporary Art Singapore. Tagline mereka sendiri adalah Where Art Meets History, dan hal itu sangat terasa saat menelusuri gedung-gedung kolonial berwarna putih yang beberapa di antaranya juga dihiasi oleh mural. Walaupun hari sudah menjelang senja saat kami sampai, orang-orang justru semakin ramai berdatangan karena Jumat malam itu mereka mengadakan event bertajuk Art After Dark, di mana semua galeri seni dibuka sampai malam (free entry!) dan diisi oleh berbagai kegiatan seru seperti bazaar makanan, pameran mobil antik, live jazz music, dan macam-macam live art performance. Rasanya tiga jam berada di sini tidak akan bosan, saya bahkan belum sempat mendatangi semua art gallery yang ada, tapi sudah waktunya dinner dan kami pun berjalan menuju Timbre @ Gillman, sebuah bistro di dalam area Gillman Barracks yang menggabungkan live music, makanan enak, dan tentu saja, seni. Great ambiance and great food (their 6 Hours Slow Braised Beef Cheek is to die for!) membuat bistro ini selalu ramai, beruntung kami sudah reservasi terlebih dulu, kalau tidak kami harus ikut mengantre di barisan orang-orang waiting list yang panjang.

Mumpung belum terlalu larut, dari Gillman kami melanjutkan perjalanan ke daerah Haji Lane. Di siang hari, area ini terlihat vibrant dengan deretan ruko warna-warni yang kerap menjadi latar foto OOTD para hipster lokal, sementara di malam hari Haji Lane menjadi pusat bar-bar trendi, live music cafe, toko-toko vintage, dan butik-butik independen lokal yang dipenuhi para ekspat, backpackers, dan warga lokal dari berbagai etnis. Sebuah bar bernama Bar Stories menjadi salah satu tempat yang wajib kamu datangi di Haji Lane karena konsepnya yang unik. Di sini, kamu tak akan menemukan menu apapun, the waiter merangkap bartender akan bertanya minuman seperti apa yang kamu inginkan serta rasa yang kamu sukai dan meracik cocktail yang personally yours! Saya meminta something sweet, a bit airy, dan memiliki aroma yang harum, dan inilah yang saya dapat. It was good!

Bar Stories.
Bar Stories.
Tokyobike,, salah satu toko sepeda di Haji Lane yang bisa dibilang paling terkenal di Singapore.
Tokyobike, salah satu toko sepeda di Haji Lane yang bisa dibilang paling terkenal di Singapore.

Setelah menghabiskan cocktail, kami melanjutkan jalan-jalan di seputar Haji Lane. Saya harus setengah mati menahan keinginan untuk masuk ke sebuah cat’s cafe yang ada di sana dan memborong pernak-pernik vintage di salah satu toko sebelum akhirnya menyempatkan diri untuk menikmati live music di Blu Jaz Cafe. Kabarnya malam itu akan ada seorang DJ yang memainkan musik dari vinyl, namun tampaknya kami harus menyimpan energi untuk Laneway Festival besoknya. So, kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Malam pertama saya di Singapura, saya sudah melihat bagaimana warga Singapura begitu antusias terhadap seni dan basically enjoying life with great food, drinks and live music. Stay tune untuk post selanjutnya ya!

Through The Lens: Amanda Kusai

Amanda Kusai

Among of countless Instagram feeds laden with VSCO Cam and the over-stylized pictures, there’s always some users with their own distinct charms that makes us instantly hit the follow button, endlessly scrolling, and spending a nice few minutes to like every single photos in our screen. Surabaya born and Jakarta based Amanda Kusai is one of them. This young visual artist’s Instagram feeds is nothing but visual feast for the eyes with her signature sense of clean simplicity, subtle twist, irony, and a touch of plants here and there. Recently, she was participating on special project with hashtag #GeographyofYouth where she interviewing and taking photos of the millennial kids.

Works1

 Hi Amanda, how are you? Where are you right now and what were you doing before answering this email?

Hello! I am better than ever, thank you! Right now I’m sitting in my new empty room that’s been mistakenly painted purple and pink instead of white. Before this color tragedy I was underwater swimming like a human dolphin with all the other exotic fishes and saw the most wonderful array of colors reflected and refracted from the corals and sunlight, but then I woke up.

Could you tell me a bit of yourself and your occupation?

In short, people know me by Amanda Kusai instead of Amanda Sutiono. Kusai was a name of a pink swirly poo looking toy I liked and was given, not long after, I retrieved the name thanks to a lovely bunch of people I call my best friends. Well at least it’s a pretty catchy name (I once burst out laughing when a company I applied work for, addressed me as Kusai when I clearly wrote my formal name on my CV and cover letter). I moved quite a lot in the 20 or so years that I’ve lived it’s always exciting but I dream to settle down one day. I am self employed with my best buddy Axel Oswith, we partnered up to run a creative culture hub called The Taable, specializing in art direction + photography, we’ve only just started less than a year ago so wish us luck!

Amanda_Kusai_Instagram_15
What attracted you to photography?

To be completely honest I don’t really classify myself as being too serious, I believe it’s important to be flexible but stubborn in what you believe in. I grew up getting used to photography as a medium to express, explore and to document like a visual diary, and photography has been one of the tool to realize these ideas into actual visual forms that I can share with others to enjoy. Throughout high school I took business and art as my majors and now I already graduated.

What kind of camera you usually use? 

I like going light so I just use my iPhone it does the job simply and seamlessly, unless of course it’s for work I use a full-frame DSLR so that I can have more control over post-production. Leisurely, I use my film cameras, the canon ae1 and rolleiflex.

Amanda_Kusai_Instagram_09
Could you tell me about this #geographyofyouth project?

Geography of youth is an art project (founded by Alan and Morrigan) exploring the millennial generation and how we can relate to each other as youths around the world. I actually have no idea why they pick me but one day I got an email request to be one of the contributors for this project, I’m just grateful for this chance to contribute along with other photographers from Kenya, England, South Korea and Turkey (I have not personally met them). I am also especially grateful that my friend Axel Oswith is supporting me with this project.

Is there any certain quality you looking for from the subject of your photos?

Quirkiness and personality.

Works2

What does its mean for yourself to be the part of the millennial?

I believe being a part of the millennial generation is a step of transition from old customs to new; we are the generation that believes in no limitation to our dreams in search for the best.

What else you’re doing beside photography?

Surviving life in general and helping my mother with her floral business.

Next or other projects?

Planning to formally launch our company: The Taable by the end of this year, and perhaps a visual project that has something to do with moving images.

Amanda_Kusai_Instagram_21Follow her on Instagram: @amandakusai

Eat, Play, Loud!: Blogwalking for Soundrenaline Medan 2014

Menjelajahi Kota Medan dan berkeringat di festival musik rock terbesar di Indonesia dalam waktu 48 jam? Challenge accepted.

As a self-proclaimed avid concert goer dan jurnalis, saya beruntung memiliki kesempatan untuk mendatangi berbagai konser dan festival musik dari berbagai genre di Indonesia maupun di luar negeri. But, if I could confess one thing, ada satu festival musik terkenal yang belum pernah saya datangi sekalipun. Coachella? Summersonic? Glastonbury? They’re all in my checklist for sure, tapi yang akan saya bicarakan adalah festival dalam negeri sendiri dulu, which is Soundrenaline. Yup, Soundrenaline yang telah digelar sejak tahun 2003 silam merupakan festival musik rock yang bisa dibilang terbesar di Indonesia, khususnya berkat komitmen mereka untuk membawa band-band papan atas negeri sendiri untuk menghibur penggemar mereka di berbagai kota di luar Jakarta. Untuk pagelaran tahun ini, Soundrenaline diadakan di Surabaya (10 Mei) dan Medan (7 Juni). Dari dulu sebetulnya saya ingin sekali datang ke Soundrenaline di luar kota sekaligus berlibur dan mengeksplorasi kota lain di Indonesia. Lucky for me, kesempatan itu datang saat saya dihubungi oleh pihak Maverick Indonesia sebagai satu dari lima blogger yang diundang untuk merasakan pengalaman menonton Soundrenaline di Medan. Well, saya belum pernah datang ke Soundrenaline maupun pergi ke Medan, so without any thinking, of course its a big yes for me!

                Seminggu kemudian, tepatnya Jumat 6 Juni, jam lima pagi saya sudah menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk berkumpul dengan tim Maverick dan empat blogger lainnya yang terdiri dari Dimas Ario (@dimasario), Intan Anggita (@badutromantis), Agung @Hartamurti, dan Kang @Motulz. Setelah perjalanan sekitar dua jam dengan maskapai Garuda Indonesia, kami tiba di Bandara Internasional Kualanamu Medan sekitar jam 9 pagi. Bandara Kualanamu sendiri termasuk bandara Indonesia yang tertata dengan sangat baik. Bandara ini juga bandara pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan kereta Airport Railink Service. Maka dengan menaiki kereta bandara yang nyaman tersebut, kami pun sampai di pusat kota Medan hanya dengan memakan waktu sekitar 45 menit.

Bandara Kualanamu Medan
Bandara Kualanamu Medan
Airport Railink Service
Airport Railink Service

                Sebelumnya saya selalu membayangkan Medan adalah kota yang panas, bising, dan sesak. Well, memang selayaknya kota besar, pasti ada saja traffic di setiap titik jalan, namun ibukota Sumatera Utara ini ternyata jauh lebih menarik dari bayangan saya. Kota ini mengingatkan saya akan perpaduan Surabaya dan Bandung dengan bangunan-bangunan art deco zaman kolonial yang masih dipertahankan. Tujuan pertama kami tentu saja mengisi perut. Kami memutuskan sarapan soto di RM Sinar Pagi di Jalan Sei Deli. Saat sampai, rumah makan ini sudah lumayan padat, untungnya service di sini terbilang cepat. Begitu sampai kita tinggal pesan mau soto apa, duduk, dan tak berapa lama, soto hangat dan nasi putih pun tersaji di hadapan kita. Kuah rempah, perkedel kentang dan sambal kecap yang mantap, membuat soto Medan habis tersantap secepat kedatangannya. Sudah kenyang, kami pun siap mengeksplorasi Kota Medan dengan hashtag #GoAheadChoice dan Shri Mariamman Temple terpilih menjadi destinasi selanjutnya. Kuil ini merupakan kuil Hindu tertua di Medan dan terletak di Kampung Keling alias Little India. Dari luar pun, arsitektur kuil ini sudah terlihat menarik dengan pintu gerbang yang dihiasi gopuram yang merupakan semacam gapura yang biasa dilihat di kuil-kuil Hindu kaum Tamil di India Selatan. Untuk masuk ke kuil ini tidak dikenakan biaya, namun kami tidak memasuki ruang utama karena bagaimanapun, tempat ini merupakan tempat ibadah yang harus dihormati. Untuk sejenak, saya seperti berada di Bombay karena banyaknya warga keturunan India di sekeliling kuil ini, mulai dari ibu-ibu dengan kain sari sampai seorang pria India yang terlihat sangat chic dengan turban, jenggot panjang, kemeja putih, yang menaiki sepeda klasik. Tak jauh dari situ mata saya juga menangkap mesjid, gereja, dan kelenteng. Keragaman etnis dan agama di Medan cukup mengingatkan saya pada Kuala Lumpur.

Shri Mariamman Temple
Shri Mariamman Temple

                Destinasi selanjutnya adalah Tjong A Fie Mansion, sebuah rumah mewah bekas kediaman Tjong A Fie yang merupakan seorang significant figure beretnis Tionghoa dalam sejarah kota Medan. Dengan perpaduan gaya Cina, Melayu, dan Victorian, mansion dengan pintu masuk berupa gerbang besar seperti yang biasa kita lihat di film Mandarin ini seperti relik masa lalu yang membeku di antara bangunan ruko modern di sekelilingnya. Its gallant, regal, and more likely, haunted. Dalam museum sekaligus cagar budaya yang terletak di Jalan Ahmad Yani ini, selain mengagumi harta benda dan kekayaan keluarga saudagar Tjong A Fie, kita pun bisa belajar tentang sejarah Kota Medan. Dengan koleksi benda bersejarah (including some very old vinyls!), harga tiket yang terjangkau dan sudah termasuk guide yang akan menjelaskan setiap sudut rumah (kecuali beberapa bagian yang belum direstorasi), tidak heran jika mansion ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Medan.

Tjong A Fie Mansion
Tjong A Fie Mansion

Tidak terasa hari sudah menuju sore, dan keinginan untuk jajan-jajan sore pun muncul. Setelah menjemput Agung yang sempat ketinggalan di Tjong A Fie Mansion karena terlalu asik memotret, kami pergi ke Jalan Karo untuk  mengunjungi gerai kopi Macehat, yang kabarnya sedang hits di Medan. Melewati ruangan indoor yang tidak terlalu luas dan bangku yang terisi penuh, kami memutuskan untuk minum dan bersantai di outdoor area. Macehat terkenal dengan kopi Luwak dan Avocado Coffee, namun karena saya bukan peminum kopi saya memesan pancake cokelat dan affogato yang merupakan campuran es krim dan espresso. Puas mengobrol, sekitar jam lima sore kami menuju Grand Swiss-Belhotel tempat kami menginap untuk check in dan beristirahat. Kegiatan selanjutnya yang sudah ditunggu adalah makan malam. Medan punya banyak sekali tempat kuliner yang menarik, namun belum lengkap ke Medan kalau belum ke Restoran Tip Top. Bila Malang punya Toko Oen, maka Medan punya Tip Top yang menawarkan menu dan ambience klasik zaman kolonial. Letaknya di Jalan Ahmad Yani yang juga disebut Jalan Kesawan, tak jauh dari Tjong A Fie Mansion. Berdiri sejak tahun 1934, restoran ini menawarkan menu Western, Indonesia, juga Chinese dan semuanya enak luar biasa. Bahkan saat menulis artikel ini pun, saya sempat menelan ludah ketika mengingat lagi lezatnya berbagai menu yang saya nikmati di Tip Top, terutama Bistik Lidah yang sangat juara. Tak hanya menu besarnya, Tip Top juga dikenal dengan kue-kue pastry yang lezat dan es krim Moorkop khas Belanda. Pulang ke hotel. saya mencatat Tip Top sebagai tujuan wajib jika saya kembali ke Medan.

Dari kiri: Soto RM Sinar Pagi, Affogato Macehat, Bistik Lidah Tip Top
Dari kiri: Soto RM Sinar Pagi, Affogato Macehat, Bistik Lidah Tip Top

Sabtu, 7 Juni menjadi hari kedua saya di Medan sekaligus menjadi hari Soundrenaline digelar. Rasanya sudah tidak sabar untuk menuju Bandara Polonia yang menjadi venue Soundrenaline Medan, namun sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk mengeksplorasi Kota Medan lagi. Setelah breakfast di hotel, kami menuju Istana Maimoon yang juga menjadi ikon kota Medan. Dibangun oleh Sultan Deli dan berarsitektur khas Melayu, Istana Maimoon adalah titik sejarah Medan dari sudut Melayu. Namun, berbeda dari Tjong A Fie Mansion, Istana Maimoon tampak kurang dimaksimalkan. Dari 30 ruangan yang ada, pengunjung hanya bisa masuk ke ruang utama yang juga diisi oleh pedagang souvenir sehingga estetikanya jadi lumayan terganggu. Dan hanya sedikit sekali yang bisa kita lihat selain singgasana bernuansa emas, desain interior yang rumit memukau dari lantai, tembok hingga langit-langit, dan beberapa benda sejarah. Kami tak menghabiskan banyak waktu di istana ini dan memutuskan untuk membeli oleh-oleh khas Medan yang apalagi kalau bukan Bolu Gulung Meranti, pancake durian, dan bika Ambon di Jalan Sisingamangaraja. Belum puas belanja, kami juga pergi ke Durian Ucok untuk mencicipi durian Medan yang terkenal.

Istana Maimoon
Istana Maimoon

Puas makan dan belanja, agenda selanjutnya adalah agenda utama kami datang ke Medan, which is the Soundrenaline itself! Diadakan di Lapangan Bandar Udara Polonia, Soundrenaline Medan dibuka oleh trio punk rock Jogja, Endank Soekamti yang membawakan sekitar 11 lagu untuk memanaskan festival ini yang memang sudah panas, literally. Ini pertama kalinya saya datang ke festival yang diadakan di bekas bandara tanpa pepohonan untuk berlindung dari matahari yang menyengat. Penonton yang mayoritas memang anak muda Medan terlihat sudah terbiasa dengan panasnya Medan yang menyengat, but I need to step back dan akhirnya ngumpet ke Media Tent yang dilengkapi pendingin udara dan minuman dingin untuk menghindari heat stroke, haha! Di Media Tent pun diadakan semacam mini talkshow bagi para performer yang akan tampil. Shaggy Dog, The S.I.G.I.T, Kotak, J-Rocks, Burger Kill hadir di talkshow sebelum mereka menampilkan aksi mereka di Soundrenaline yang terbagi menjadi dua stage (A Stage dan Go Ahead Stage).

Endank Soekamti at the A Stage
Endank Soekamti at the A Stage
The S.I.G.I.T at mini talk show.
The S.I.G.I.T at mini talk show.

Makin sore, cuaca semakin nyaman dan penonton semakin ramai berdatangan. Setelah jeda Maghrib, Soundrenaline dilanjutkan oleh Judika, Andra & The Backbone dan Sheila On 7. Dengan berbekal Backstage ID khusus, saya dan blogger lain mendapat akses untuk menonton Sheila On 7 dari bibir panggung. Full disclosure: Sheila On 7 is one of my favorite Indonesian bands ever karena saya tumbuh remaja dengan mendengarkan lagu-lagu mereka, tapi saya belum pernah menonton live performance mereka. Menyaksikan Duta, Eross dan personel lainnya tampil atraktif membawakan lagu-lagu hits mereka, saya seperti terlempar ke masa SMP dan ikut menyanyikan lantang lirik lagu-lagu mereka. It was amazing! Ketika Sheila On 7 turun panggung dan menuju Media Tent untuk mini talkshow, saya mengikuti mereka seperti some giddy teenagers dan akhirnya minta foto bareng dengan Duta, haha! Jujur saja, dalam karier saya sebagai jurnalis saya sangat jarang meminta foto bareng dengan band-band atau musisi lokal. Namun, kali ini saya datang bukan sebagai jurnalis, saya datang sebagai fans Sheila On 7 sejak SMP and I just feel happy to finally saw them again.

Eross SO7 mengomandoi koor penonton.
Eross SO7 mengomandoi koor penonton.
Me as happy fans with Duta SO7
Me as happy fans with Duta SO7

 Khusus tahun ini, Soundrenaline mengusung konsep baru berupa sistem pemilihan suara bernama “Voice of Choice” yang dilakukan melalui situs GoAheadPeople.com. Para pemilih diwajibkan untuk memilih salah satu dari tiga album milik lima band yang terdaftar, yaitu Slank, GIGI, J-Rocks, Andra and The Backbone dan /rif. Album mana yang menang itulah yang akan dinyanyikan secara penuh oleh band tersebut. /rif misalnya, membawakan utuh album pertama mereka Radja yang dirilis tahun 1997,dari track pertama sampai terakhir. Selesai star struck dengan Sheila On 7, saya menonton penampilan Seringai di Go Ahead Stage sementara A Stage sedang dimeriahkan oleh Jamrud. Arian dan kawan-kawannya di Seringai seperti biasa berhasil membakar semangat penonton dan menyulut moshing dengan lagu-lagu anthemic mereka sampai-sampai aparat yang berjaga di bibir panggung harus menahan pagar batas penonton yang hampir ambruk. PAS Band dan GIGI yang menjadi penampil selanjutnya juga mendapat respons antusias dari puluhan ribu penonton yang memadati Polonia. I can feel the adrenaline rush just by seeing the performers and the crowds! Soundrenaline Medan yang dimulai dari jam 12 siang akhirnya dituntaskan oleh Slank sebagai pamungkas acara dan ditutup oleh lagu “Kamu Harus Pulang” sebagai lagu penutup Soundrenaline Medan yang berhasil mendatangkan sekitar 60 ribu penonton. Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul 12 lewat, namun saya belum mau pulang ke hotel. Saya lapar. Kami pun menyempatkan diri makan malam di daerah Elizabeth, sebuah tempat nongkrong mahasiswa Universitas Sumatera Utara dengan warung-warung tenda yang mengingatkan daerah Blok S di Jakarta, setelah itu baru pulang ke hotel.

Seringai before the show.
Seringai before the show.

Hari Minggu 8 Juni menjadi hari terakhir saya di Medan. Setelah breakfast dan check out dari hotel, saya dan para blogger lainnya menuju Kualanamu untuk pulang ke Jakarta. Thanks to Sampoerna dan Maverick Indonesia, kini saya sudah bisa mencoret Soundrenaline dari daftar festival musik yang harus saya datangi. Just have a chance to finally watching Soundrenaline is already a blast for me, terlebih berkesempatan menyaksikannya bersama teman-teman baru dan menjelajahi kota Medan. I’m planning to visit Medan again in near future, dan untuk Soundrenaline tahun depan? Well, just see and fingers crossed.

See you on next Soundrenaline.
See you on next Soundrenaline.

Space Invader: Lir Shop, Yogyakarta.

lir shop

Sebagai kota seni, Jogja tentu memiliki banyak sekali artspace yang menarik untuk didatangi. Salah satu yang paling membuat saya penasaran adalah sebuah artspace mungil di tepi Jalan Anggrek, Baciro, Jogja bernama Lir Shop. Lir yang dibuka pertengahan tahun 2011 adalah perpaduan antara toko buku, resto, curiosity shop, dan alternative art space dengan konsep “Where Fiction and Reality Mingle.” Saya memang belum sempat untuk mengunjunginya langsung ke Jogja, namun saya sempat mewawancarai Mira Asriningtyas via email tentang art space miliknya ini untuk salah satu artikel di majalah NYLON Indonesia edisi Art tahun ini. Berikut adalah isi interview tersebut.

Halo, bisa ceritakan sekilas tentang Lir? Apa main concept dari Lir?

Lir itu awalnya adalah impian saya untuk memiliki toko buku. Di tahun 2008, saya menuliskan skripsi sekaligus business plan tentang Lir. Pada kenyataannya, Lir dibuat menjadi perpaduan antara toko buku, resto, curiosity shop, dan alternative art space. Konsepnya adalah “Where Fiction and Reality Mingle”… maka mulai dari dekorasi sampai menunya dibuat seperti ‘keluar dari buku dongeng’… fresh from the book. Selain itu, sesuai dengan konsep awal dan nama Lir- (Lire | Lair) Lir adalah ‘a hideaway place to read’. Kami sengaja memilih tempat yang sedikit tersembunyi walaupun masih berada di tengah kota supaya pengunjung bisa ‘bersembunyi’ dari keramaian dan membaca dengan santai. Banyak hal yang kami buat berangkat dari buku maupun kultur membaca.

 Reading Room

Siapa saja orang-orang di belakangnya?

Lir didirikan oleh Mira Asriningtyas. Lir Space (alternative art space-nya Lir) dikelola oleh Dito Yuwono.  Saat ini, selain mengurus Lir –Mira aktif menulis dan Dito adalah fotografer yang juga tergabung di kelompok fotografi kontemporer Mes56.

Di saat hampir semua tempat menyediakan wi-fi hotspot sebagai fasilitas, Lir justru dengan sengaja tidak menyediakan hal itu. Apa yang mendorong Lir untuk itu?

Baik saya maupun Dito menyukai percakapan yang hangat dan intens. Kami senang ketika ada teman yang datang dan bercakap-cakap sambil minum teh (atau kopi, atau lemonade.. apapun lah). Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa berada di tempat yang ber-hotspot itu sangat menggoda untuk fokus beralih pada hal-hal di dunia maya, atau bahkan membuat masing-masing anak asik bercakap-cakap dengan seseorang di tempat lain dan terkadang mengacuhkan orang yang di sekitarnya. Call me old-fashioned but I’d like to bring back the old style of interaction. I love to hear laughter and conversation linger in the air somewhere in the restaurant while I’m working in the office inside Lir. So, anyway.. ada dua alasan:

Pertama, tidak adanya hotspot setidaknya mengurangi distraksi dan memberi kesempatan terjadinya obrolan yang intens dan kemungkinan muncul ide baru. Cukup banyak event, pameran, maupun project yang kemudian tercipta dari ngobrol-ngobrol santai ini..

Kedua, karena konsep Lir adalah ‘hideaway place to read’; misalnya ada teman yang datang sendirian di Lir dan mati gaya (atau memang datang ke Lir untuk membaca), tidak adanya hotspot (harapannya) akan membuat mereka memiliki tempat ‘bersembunyi’ (dari dunia maya maupun nyata) untuk membaca dengan tenang.

Koleksi di reading room ada sekitar berapa buku dan terdiri dari buku apa saja? 

Total di koleksi pribadi saya ada sekitar 2000-2500 buku, tapi yang dipajang di reading room hanya sekitar separuhnya. Genrenya macam-macam, mulai dari komik, zine, magazine,  buku seni, filosofi, psikologi, fiksi, sastra, dll.. Dulunya buku-buku sempat dibuat berbayar apabila dibaca di luar ruang baca (untuk biaya maintenance) tapi sekarang semuanya free tapi hanya untuk dibaca di tempat dan tidak boleh dibawa pulang.

IMG_0001

Untuk restorannya, apa menu-menu yang menjadi andalan?

Konsep restorannya (secara tempat) adalah ‘piknik’ dengan dominasi warna hijau dan putih, natural light, tempat yang semi outdoor, dan windchimes di beberapa tempat—maka, menu-menu menyegarkan seperti fresh lemonade dan homemade ginger ale cukup digemari. Sementara ide dasar restorannya adalah mengeluarkan makanan-makanan dari buku cerita.. jadi biasanya menu seperti Mad Hatter’s Tea Party, Butterbeer, Ratatouille, Mother Bear’s Porridge jadi andalan selain homemade yoghurt dan comfort drink (yang banyak dipilih saat hari hujan).

IMG_2093

Kalau di curiousity shop, benda-benda apa saja yang dijual?

Kebanyakan benda-benda handmade dan barang-barang antik. Mulai dari produk kolase Vantiani, silk-screen Mukamalas, komik-komik dari Mulyakarya, jewelry dari Forgetmenot, hingga barang-barang manis dari Monster Buaya dan Journ(al)ey.

space

Siapa saja seniman atau event yang sudah pernah ekshibisi di Lir? Bisa ceritakan salah satu yang paling berkesan?

Hmm.. salah satu yang paling berkesan.. hampir semuanya memberikan pembelajaran berharga bagi kami tapi saya pribadi paling banyak belajar dari pameran-pameran yang saya kuratori di Lir (Strangely Beautiful oleh Sandi Kalifadani, Simalakamma and the Agent of Senses oleh Simalakamma, Disable Crowd oleh Hendra Hehe, dan Power of the Sun oleh Prihatmoko Moki).

IMG_2169

Bagaimana Lir melihat art scene di Jogja saat ini, khususnya di kalangan anak muda?

Art scene Jogja itu sangat dinamis, banyak artist-initiative project dan alternative art space yang mulai bermunculan saat ini. Berbagai bidang dan orang-orangnya saling berhubungan dengan pola interaksi yang akrab dan kekeluargaan. Mungkin terdengar sedikit berlebihan, tapi saya sering membayangkan dinamika seni kota Jogja ini seperti kota Paris dalam A Moveable Feast-nya Ernest Hemingway.. begitulah! Mungkin karena karakter kota Jogja yang nyaman dengan mobilitas yang mudah maka setiap minggunya selalu ada acara seni; mulai dari diskusi, artist talk, pembukaan pameran, pemutaran film, dll yang hampir selalu ramai dan diminati oleh anak muda. Dinamika ini lah yang banyak membantu Lir bertahan sampai saat ini.

Next event/project?

Pameran grafis oleh Iwan Effendi di bulan Juli yang juga akan saya kuratori, sebuah site-specific project di bulan Agustus, dan kami sedang mempersiapkan sebuah platform untuk artist residency program yang semoga saja sudah bisa mulai aktif tahun depan. Di sela-sela itu, semoga saja program musik kami (In the Wood dan Folk Afternoon) serta program-program tahunan yang picnic-based bisa tetap berjalan.

IMG_2120

Lir Shop:

Jl.Anggrek 1/33, Baciro, Djogjakarta, Indonesia

http://lirshop.blogspot.com/

Foto Lir oleh: Dito Yuwono

Through the Lens: Ainur Rasyidah

Semakin banyaknya perempuan yang bersenjatakan kamera DSLR di media pit untuk berjuang memotret momen terbaik dalam suatu pertunjukan musik menunjukkan jika stage photography bukan lagi monopoli dari para fotografer pria belaka. Dalam artikel berjudul Stage Presence yang saya tulis untuk NYLON Indonesia Maret 2013, saya mewawancarai lima gig photographer perempuan tentang serunya menangkap momen yang menampilkan pesona sang performer dan emosi yang mereka ekspresikan di atas panggung.  Here’s the first instalment.

Ainur copy

Tell us a bit about yourself.

My name is Ainur Rasyidah, people call me Sida or Ainur. I always call myself as a “Vintage Owl”. Because I love vintage stuffs and vintage fashion style.  And Owl, karena gue biasa konsentrasi bekerja di rumah pada malam hari dan biasanya gue baru bisa tidur jam 3 pagi hampir setiap hari, hahaha! Nickname itu menjadi identitas gue dan signature gue. And I always thought I am a lucky music fan, karena profesi dan hobi gue bisa membuat gue mengenal bahkan berteman dan bekerja bersama musisi-musisi dan para idola gue di dunia musik, hahaha!

 Sejak kapan kamu menjadi gig photographer, and what was your first gig?

Sejujurnya gue lebih suka dan ingin menyebut diri gue nantinya sebagai music photographer, tidak terbatas hanya gig atau konser saja. Gue resmi bergabung di Gigsplay sekitar awal bulan Maret 2012, dan resmi bergabung di irockumentary pada bulan April di tahun yang sama. Senang sekali rasanya karena gue memang ingin bergabung di salah satu media tersebut dan ternyata gue dapat kesempatan untuk bergabung di keduanya! Gig pertama gue untuk Gigsplay adalah “Tribute to Morrissey” yang diadakan di Borneo Beerhouse tanggal 9 Maret 2012. Sedangkan gig pertama gue untuk Irockumentary adalah “Enjoy Yourself! On Record Store Day” tanggal 22 April 2012 lalu di Aksara Kemang.

 Apa yang mendorongmu menjadi gig photographer?

I always love to share stories and memories! Dan musik bisa dibilang bagian terbesar dalam hidup.  Gue sangat berharap foto gue bisa mengabadikan cerita seru di gig atau konser tersebut dan membangkitkan kembali memori menyenangkan orang-orang yang berada pada momen itu. Dan gue punya cita-cita memotret festival-festival musik di seluruh dunia seperti Coachella, Fuji Rock Festival, Glastonbury, dll.  Itulah kenapa gue ingin menjadi fotografer.

Natasha Khan by Sidainur

 Apa cerita di balik foto ini?

This is Natasha Khan aka Bat For Lashes live at Laneway Festival 2013 in Singapore. Gue mungkin bisa dibilang baru menjadi fans Bat For Lashes. Ketika gue punya kesempatan untuk memotret Laneway Festival tahun ini dan bisa menyaksikan live performance-nya, ditambah gue berhasil foto bareng dengan Natasha, gue sangat bahagia! Hahaha. Foto ini adalah momen ketika dia selesai membawakan lagu pertama. Seems like she was very excited to be there, ditambah dengan penonton yang juga bersemangat tinggi, hampir di sepanjang penampilan senyum tidak pernah hilang dari wajah Natasha membuatnya nampak seperti bersinar. She looks so bright and sings beautifully flawless! Momen yang gue tangkap ini diharapkan bisa menceritakan how bright she was on that stage. Ditambah dengan Laneway Festival 2013 adalah festival musik luar negeri pertama yang gue potret, foto ini sangat berkesan buat gue hahaha.

 Gig paling berkesan yang pernah kamu datangi?

Sampai saat ini yang paling berkesan buat gue adalah Sigur Ros concert di Fort Canning Park, Singapore. Sigur Ros masuk dalam daftar musisi dan band yang harus gue foto ketika gue menjadi photographer. Dan ketika hal itu terkabul, bisa memotret dan menonton mereka langsung, gue senang sekaligus terharu. Musik yang mereka mainkan secara live yang lebih dramatis dan indah, visual dan lighting yang luar biasa, ditambah hujan yang turun di lagu terakhir dan berhenti ketika lagu selesai dimainkan cukup membuat gue menangis terharu dan kegirangan sepanjang nonton konser itu. It was MAGICAL! Sedangkan gig lokal paling berkesan adalah Dream Together Happily Ever After, Soft Launching L’alphalpha edition by Koola Stuffa di Aksara Kemang Jakarta tanggal 8 April 2012. Suasana yang sangat hangat, seru dan akrab ketika L’alphalpha manggung dengan sangat bersemangat membentuk lingkaran di tengah-tengah toko dikelilingi penonton di sekitar mereka sangat berkesan buat gue. There’s nothing but laugh and joy floating in the air back then!

 Apa kamera yang biasa kamu gunakan?

My camera is Nikon D90 with 18-105 f/3.5 lens. Kadang juga memakai lensa Tamron 17-50 mm f/2.8 atau Nikkor fix lens f/1.8. Gue memakai kamera itu dari awal menjadi fotografer hingga sekarang. Nantinya ingin menambah lagi lensa dan lainnya supaya hasil fotonya semakin bagus hahaha.

 What’s your secret photography tips?

If you enjoy the music and the gig’s atmosphere, you’ll get great pictures and share great stories! Ada kalanya gue harus liputan ke gig yang band atau acaranya belum pernah gue kenal atau datangi. Supaya tidak canggung gue harus mencoba menikmati susasana dan musik yang ditampilkan. And it is always works for me! Tapi juga harus tetap konsentrasi jangan sampai lengah karena terlalu menikmati suasana atau musik supaya tidak kelewatan momen-momen menarik. Gue pribadi sangat suka memotret interaksi antar anggota band di atas panggung atau gestur tubuh yang menarik ketika mereka menyanyi atau bermain musik. Momen-momen tersebut adalah momen yang selalu gue tunggu ketika memotret.

 Musisi/Band/Gig yang ingin kamu foto?

Gue punya daftar sekitar 10 musisi yang menjadi tujuan kenapa gue harus jadi Gig Photographer. Diantaranya adalah The Strokes, Mew, Radiohead, dan Bjork adalah beberapa nama musisi yang menjadi tujuan kenapa gue harus menjadi music photographer! Dan gue punya cita-cita mengumpulkan profile photos musisi-musisi lokal favorit seperti L’alphalpha, Stars & Rabbit, Sapphira Singgih, Luky Annash, dll. Siapa tahu nanti bisa gue jadikan buku juga hahaha.

 Any advice for other girl who want to be gig photographer?

Be consistent! Sekarang sudah banyak sekali gig photographer, ditambah kebijakan penonton boleh membawa kamera DSLR pada beberapa gig dan music festival. Jangan pernah merasa tersaingi oleh mereka dan kemudian berhenti di tengah jalan. Tunjukkan bahwa lo bisa mengambil foto yang lebih baik dari mereka dan jangan berhenti di tengah jalan. Being gig or music photographer is super fun!

 Selain fotografi, apa lagi yang kamu kerjakan?

Gue sekarang bekerja menjadi Motion Editor di sebuah perusahaan yang baru berdiri pada pertengahan tahun lalu dan fokus di bidang edukasi. Seru dan gue jadi banyak belajar dalam arti sebenarnya di bidang pekerjaan ini hahaha. Selain itu gue menjadi freelance graphic designer, photographer, dan video editor. Saat ini gue juga sedang berusaha mewujudkan cita-cita membuat visual untuk musisi-musisi lokal favorit gue ketika mereka manggung, atau video-video klip semacam fanmade untuk lagu-lagu mereka.

 What’s the perks of being gig photographer?

The chance of getting new friends and partners, capturing great moments and atmospheres into pictures, and experiencing so many exciting music events! Mungkin orang berpikir jadi gig fotografer itu keuntungan yang paling enak adalah karena dapet akses gratis di gigs, konser-konser, dan festival-festival. Eits, siapa bilang? Justru untuk keistimewaan yang satu itu tanggung jawabnya besar. Fotografer harus menunjukkan hasil yang sepantar dengan akses yang sudah diberikan serta mengikuti aturan yang telah ditentukan seperti misalnya deadline hasil foto. Banyak keistimewaan dan keuntungan lainnya selain akses gratis, in my opinion.

Fotografer favoritmu?

Banyak sekali sebenarnya hahahaha! Kalau dari internasional, yang paling gue suka adalah Maria Louceiro dari Portugal. Style dan warna foto-foto karyanya bagus sekali, mysterious and dreamy at the same time! Sedangkan fotografer lokal, Agung Hartamurti Wirawan (Irockumentary), Nikensari Prista, Lionindra Harviana (irockumentary), Ahmad Haffiyan Faza adalah beberapa nama  fotografer-fotografer favorit gue. Gue suka foto-foto mereka yang mempunyai ciri khas dan mampu menangkap momen yang bercerita, serta attitude mereka dalam dunia fotografi sangat patut dijadikan contoh yang baik walaupun mereka semua masih muda.

 Apa yang membedakan fotomu dari jepretan fotografer lainnya? Do you have any signature style?

Jujur, saat ini gue masih mencari style foto yang akan menjadi ciri khas gue, entah dari segi komposisi, momen, warna, dan lain sebagainya. Gue ingin nantinya ketika orang-orang melihat foto karya gue, mereka langsung berkata: “Oh that’s Vintage Owl’s photo!” Tapi saat ini nama dan watermark “Vintage Owl” yang gue pakai untuk menjadi identitas dan ciri khas gue dan sudah cukup diingat oleh beberapa orang dan itu cukup membuat gue senang.

http://www.flickr.com/photos/singingowl/

As published in NYLON Indonesia March 2013 “Stage Presence” feature.

 

Through The Lens: Rukii Naraya

Rukii Naraya

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Laki-laki yang lahir di ibukota 28 tahun yang lalu yang menghabiskan sisa hidupnya untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya menarik. Jika tidak dalam jam kerjanya, kalau tidak menggambar di studio mininya, ia suka jalan-jalan bersama kamera kecilnya. Kini ia jatuh cinta dan tinggal di Jogjakarta. Saya juga mengurusi zine alternatif bernama FUR sejak 2008.

Apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?

Memori. Ketika saya bertemu dengan sebuah peristiwa, fotografi membantu saya menyimpannya. Cerita. Salah satu media saya untuk menggambarkan apa yang ingin saya ceritakan. Bagi saya fotografi dan menggambar itu sudah merupakan kebutuhan. Jadi itu bukan lagi pekerjaan atau side job, melainkan sama seperti saya membutuhkan makan atau liburan.

Siapa fotografer favoritmu?

Ryan McGinley; youth, nude and freedom. Tiga kata yang saya suka dari seorang Ryan.

000062

Apa ciri khas/signature dari foto-fotomu? 

Sebenarnya saya tidak pernah tahu apa yang khas dari foto saya, mungkin orang-orang yang melihat proses karya saya yang bisa mengatakan itu. tapi yang jelas saya selalu ingin bercerita tentang apa yang pernah atau sedang saya alami, salah satunya lewat fotografi.

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini.

Kota ini sepertinya menyimpan sudut-sudut ruang yang sampai saat ini saya selalu dibuatnya terkejut. Banyak sudut-sudut ruang yang setiap hari saya lewati tapi saya tidak menyadari ada hal menarik yang membuat saya ingin bercerita dan nyaman. Foto-foto ini merupakan beberapa dari sudut-sudut ruang tersebut. Dan mungkin hanya ada di kota kecil ini.

52900005

Tempat favoritmu?

Warung Senja, Sebuah warung teh poci tua di salah satu sudut kota Jogja. Warung tua yang sebenarnya biasa saja ini, sudah ada sebelum angkringan menginjakkan gerobaknya di Jogja. Saya benar-benar merasakan suasana berbeda, seperti berada di rumah kakek.

Next project?

Menerbitkan buku secara independen, buku buat saya media yang tepat untuk bercerita. Ada kenikmatan tersendiri ketika membuat sebuah buku, kemudian saya ingin mengadakan pameran kolektif lagi dan pameran tunggal.

 000067 000068

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Rukii Naraya

http://worldwithouttitle.blogspot.com/

 

Through The Lens: Rendha Rais

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Hai nama saya Rendha dan saya suka sekali memotret. Saat ini saya bekerja sebagai fotografer dan konsultan produk. Saya memulainya sejak lulus kuliah tahun 2007 sebagai asisten fotografer fashion ternama dan memotret untuk beberapa band, jadi sering ikut tur dengan band-band yang meng-hire saya. Saat tur itu kalau ada waktu kosong saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Jadi traveling sambil bekerja.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik dengan fotografi?

Dari kecil saya selalu terkagum-kagum jika melihat kamera, entah itu kamera pocket ataupun kamera profesional. Bisa dibilang saya suka dengan bentuk kamera.

Berapa banyak kamera yang kamu miliki? Favoritmu?

Kurang lebih ada 30. Ada SLR, DSLR, Lomo, kamera tua, Polaroid dan sebagainya. Saya paling suka Contax T2 karena bentuknya dan hasilnya yang tajam. Incaran saya adalah Leica M9, masih belum kebeli, hihi.

Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu datangi, kenapa memilih Solo dan Jogja untuk ditampilkan?

Buat saya Solo dan Jogja merupakan tempat yang sangat menyenangkan dan memiliki banyak objek dan tempat-tempat menarik untuk didatangi. Ambience di sana membuat betah dan nggak mau pulang.

Destinasi impianmu?

Pulau Rani di Kepulauan Raja Ampat. Saya pernah baca artikelnya di internet dan dulu ada teman yang pernah pamer foto-fotonya sepulang dari sana yang membuat saya kagum sama keindahan alamnya. terus berpikir daripada jalan-jalan ke luar negeri kenapa nggak ke sana aja ya? Tapi akses ke sana masih susah dan mahal, jadi sekarang nabung dulu, hehe.

Apa objek foto favoritmu?

Manusia… portrait photo. Manusia itu berbeda-beda dan menurut saya kita bisa memahami karakter seseorang dari foto.

What’s your passion?

Traveling around the world with my camera.

Next project?

Lagi mau buat video dan essay photo documenter mengenai band-band di Indonesia.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Rendha Rais

http://rendharais.wordpress.com/

Through The Lens: Ridzki Noviansyah

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Nama saya Achmad Ridzki Noviansyah biasa dipanggil Ridzki, saya bekerja sebagai freelance photographer namun main job saya saat ini adalah Clinical Research Associate dan sekarang sedang bertugas di Malaysia selama 6 bulan.

Apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?

Fotografi adalah medium ekspresi yang paling cocok untuk saya. Saya juga senang menulis tapi saya sering menganggap tulisan saya terlalu cheesy dan terkadang malah idenya nggak tersampaikan karena terlalu panjang. Maka dari itu saya mendalami fotografi, untuk menyampaikan ide, cerita, pengalaman atau pada yang paling mendasar kenyataan.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Nggak bisa dipungkiri lagi, cuma Indonesia. 17 ribu lebih pulau dengan penduduk yang memiliki adat-istiadat yang berbeda-beda, belum lagi hal-hal lain yang menakjubkan baik di darat maupun di laut. Keanekaragaman Indonesia itu sangat luas, saya pernah baca bila orang Aceh, Jogjakarta, Bali dan Papua dimasukkan dalam 1 ruangan dan diminta melakukan tarian tradisionalnya masing-masing, nggak akan ada yang percaya mereka datang dari satu negara.

Apa yang ingin kamu sampaikan dari foto-fotomu?

Realitas. mungkin itu kata yang tepat, sebagai contoh sekarang saya menghindari sesuatu yang jelas-jelas sebagai tujuan dari suatu tempat wisata. Saya lebih tertarik untuk menarik diri dan melihat kehidupan di sekeliling tempat wisata tersebut. Saya juga tertarik dengan melihat bagaimana warna benda-benda di sekeliling kita saling berbenturan dan melengkapi satu dengan yang lain. Ini menjadikan sesuatu yang banal jadi memiliki sebuah nilai estetika, kalau saya nyebutnya “yang banal, yang berwarna.”

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ok, ini foto-foto yang saya ambil ketika saya pergi ke India awal tahun ini. Saya nggak punya konsep mau foto apa sebelumnya karena saya berpikir lihat saja nanti keadaannya di sana gimana. Ketika sampai, saya dibombardir dengan pemandangan, aroma dan hal-hal lain yang membuat saya takjub. Saya mulai mencoba memotret manusia dan hewan yang ada di India dibanding sekadar bangunan atau landscape. Hewan mungkin tidak begitu sulit tetapi orang-orang India sangat tidak mau difoto. Nah untungnya ada yang namanya auto (bajaj kalau di Jakarta), supirnya senangnya ngebut-ngebutan dan di atas auto itu saya selalu melihat ke jalan, kalau ada orang-orang dengan tingkah laku yang menarik langsung saya foto.

Hal paling berkesan dari India?

Kekacauan dan keindahan dalam satu tempat, yang bisa dinikmati terpisah atau sekaligus dengan secangkir chai.

Apa arti traveling untuk kamu?

Traveling itu ibarat belajar buat saya. Tujuannya bukan lagi atraksi wisata tetapi apa yang terjadi selama di perjalanan; apa yang saya pelajari dari itu dan pengalaman apa yang bisa saya dapatkan. Kalau ngeliat atraksi wisatanya itu cuma bonus.

Next project?

Saya sedang ingin mencari inspirasi baru. Selama ini hanya melihat karya fotografi dan saya nggak terlalu terpengaruh dengan karya fotografer lain. Saya teringat ucapan Erik Prasetya yang berkata ketika dia membuat Jakarta, Estetika Banal yang di otaknya adalah puisi-puisi yang dia baca. Maka dari itu saya memutuskan rehat dulu selama sebulan dari semua yang berbau fotografi. Namun akhir Juli nanti saya akan mengikuti sebuah workshop fotografi di Chiang Mai, Thailand. Ini selain mendapatkan pembelajaran baru juga akan melihat the up and coming photographers di region Asia, maka dari itu saya sangat bersemangat untuk menghadiri ini. Sebagai persiapan mungkin saya harus baca literatur tentang Chiang Mai terlebih dahulu dan berkenalan lebih mendalam tentang kebudayaan Thailand secara umum dan melihat apakah ada hal-hal tertentu yang saya bisa angkat sebagai cerita.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Ridzki Noviansyah

http://ridzkinoviansyah.com/

Through The Lens: Albert Judiyanto

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Nama saya Albert Judiyanto, saya seorang fotografer dan creative director di Whatnot yang terdiri dari dua divisi yaitu Whatnot Studio yang bergerak di branding, marketing, graphic house dan DailyWhatnot yang berupa media online.

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ini foto-foto saya di Israel. Beberapa foto ini kurang lebih merupakan kumpulan dari perjalanan saya di sana. Banyak hal menarik yang saya temui seperti contohnya ketemu bapak-bapak yang cukup berkarakter dengan kumis indahnya itu, di Western Wall ada anak muda yang beribadah dengan senjatanya, mural-mural dengan pesan humanity di West Bank Wall. Juga Petra, sebuah kota di Jordan yang bangunannya terbuat dari batu semua.

 

Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu datangi, kenapa memilih Israel untuk ditampilkan?

Dari semua tempat saya memilih Israel karena perjalanan saya waktu itu yang membuat saya jadi ingin keliling dunia dan penasaran sama budaya-budaya lainnya.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Waktu tahun 1999 tanggal 25 Desember, saya ke Italia dengan tujuan untuk masuk Gereja St. Peter’s Basilica lewat The Holy Door. Pintu itu dibuka cuma setiap 25 tahun sekali, kabarnya orang-orang yang bisa ngelewatin pintu itu dosa-dosanya akan diampuni. Beruntungnya saya punya kesempatan untuk bisa ke sana dan juga bisa bertemu dengan Paus waktu itu. Jadi buat saya yang terasa berkesan itu lebih ke momen yang bisa saya rasakan, di saat Natal bisa ke Italia dan dari sekian ribu orang yang masuk pintu itu, saya salah satunya.

Apa ciri khas/signature dari foto-fotomu?

Foto-foto saya kebanyakan natural dan agak raw pada umumnya, jadi what you see is what you get.

Siapa saja fotografer favoritmu?

Kalau untuk foto, saya terinspirasi dari beberapa fotografer seperti Garry Winogrand, Juergen Teller, Terry Richardson, Hedi Slimane juga beberapa fotografer yang tergabung di tinyvices.

Destinasi impianmu saat ini?

Pelaminan…haha! Kalau jawaban seriusnya, saya ingin jadi orang yang pernah ke semua negara, tapi untuk saat ini sih ingin ke Tokyo, New York, Miami.

Next project?

Kalau project jangka panjangnya ngumpulin foto-foto traveling, kalau kesampaian, semoga bisa semua negara. Someday mau saya compile dalam satu media. Kalau yang jangka pendeknya, Whatnot sedang dalam proses membuat dua website baru seperti DailyWhatnot, ya pertengahan tahun ini harusnya sudah running.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Albert Judiyanto

http://albertjudiyanto.com/

Gone With The Wind, An Interview With Timur Angin

Timur Angin mengajak kita mengintip sudut dunia lewat bidikan kameranya. 

Ada sejuta alasan kenapa orang senang berpergian. Sebagian dengan tujuan rekreasi dan menghilangkan penat, sementara sebagian lainnya pergi mencari inspirasi dan menceritakan kembali apa yang diperoleh dari perjalanannya. Beberapa akan bercerita lewat catatan tulisan dan yang lain memilih mengabadikan momen-momen tersebut lewat jepretan foto, seperti yang dilakukan oleh Timur Angin, seorang fotografer dengan reputasi yang sudah dikenal baik oleh dunia fotografi Indonesia. “Memotret dan bikin karya, daripada uang habis untuk membeli barang-barang bermerk atau mempercantik mobil, misalnya. Lagian kan kalau gue bisa balik modal hehe.” Jawabnya dengan enteng tentang motivasinya berpergian.

Sebagai fotografer, Timur tentu terbiasa dengan pekerjaan yang meliputi foto fashion, wedding, hingga corporate, tapi kecintaannya pada fotografi justru datang dari foto-foto scenery yang ia tangkap dalam perjalanannya. Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, yang jelas pria berumur 33 tahun kelahiran Jogjakarta ini memang senang berpergian ke berbagai tempat baik dalam maupun luar negeri dan seringkali destinasinya adalah tempat-tempat yang bukan menjadi tujuan wisata populer. Mulai dari Asia Tenggara, Cina, India, Tibet hingga Israel pernah dijajakinya.

Dalam berpergian, Timur lebih menyukai metode backpacking dan membaur dengan para penduduk lokal ketimbang berdiam diri di hotel. Bukan rahasia jika backpacking memang menawarkan cerita-cerita menarik di balik segala tantangannya. “Pernah waktu ke kota Chengdu, Cina, cari alamat kok nggak ketemu-ketemu. Berasa bego banget, padahal ya cuma muter-muter di situ. Mungkin terbiasa dengan ketidakberesan kota Jakarta, pas nemu kota yang teratur malah bingung sendiri.” Ucap Timur sambil tersenyum. Namun kesulitan mencari alamat mungkin tak ada apa-apanya jika dibandingkan pengalaman bertransportasi yang jauh dari kata layak. “Backpacking dari India menuju Nepal lewat jalan darat. Berjejalan naik kereta ekonomi di India. Waktu itu pas lagi winter, jendelanya bolong dan dinginnya minta ampun, toiletnya juga parah kondisinya dan pengemis mondar-mandir. Sebenarnya sama aja kaya di Jawa, tapi karena di India jadinya lebih parah. Hahaha, pengalaman hidup sih intinya.” Kenangnya ketika diminta menceritakan salah satu pengalaman berkesan yang dialaminya.

 Interaksi dengan masyarakat setempat pun tentu tak dapat dihindari, lantas bagaimana Timur menyikapi hal tersebut?  “Sebagai turis, pasti mudah kok berinteraksi. Bahkan nggak perlu mengerti bahasanya pun pasti berhasil. Apalagi yang backpacking. Kalau sama pelayan restoran, interaksinya mungkin hanya sebatas bayar bill. Tapi kalau ingin tahu lebih dalam, mending baca Lonely Planet. Kita nggak pernah tahu tabiat orang yang kita ajak bicara kayak gimana, entah itu lokal atau sesama backpacker, yang penting selalu waspada.” Jawabnya. Dan dia pun menceritakan ada keuntungan tersendiri ketika mengatakan dirinya berasal dari Indonesia, “Beberapa kali pasti berhasil dalam hal tawar-menawar. Kalau bilang bahwa kita sama-sama berasal dari negara miskin yang korup pasti tawaran kita akan diiyakan oleh si pedagang, contohnya seperti di Myanmar dan Kamboja, haha.”

Untuk masalah destinasi, Timur mengaku tidak terlalu pilih-pilih. Pantai, gunung atau perkotaan siap dikunjungi, yang penting lokasinya menarik untuk hunting foto. Dari sekian banyak tempat, jika harus menyebut satu, mana yang menjadi the best place he ever visit? “Tel Aviv karena nggak mudah bagi orang Indonesia untuk dapat izin masuk ke sana, kalau ke Jerusalem mungkin lebih umum.” Jawabnya. Dari kota ini juga ia mendapat souvenir paling memorable, yaitu kaus bendera Israel yang sampai sekarang belum pernah dipakai keluar rumah. Selain foto dan koleksi fridge magnet dari berbagai negara, Timur juga gemar mencicipi sajian lokal yang tak ditemukan di tempat lain seperti susu dan burger daging yak yang dicicipinya di Tibet.

Pertanyaan terakhir dari saya adalah destinasi impian selanjutnya, dan dengan semangat ia menjawab kawasan Amerika Selatan. “Terinspirasi oleh foto-foto karya Alex Webb. Matahari di sana bagus banget nggak kaya di Jakarta, terus ambience manusia dan lingkungannya selalu berwarna. Yang pasti langit biru seperti di Bali dan mau apa-apa juga murah. Lagian gue juga senangnya sama negara-negara eksotis. Ketimbang negara plesir yang major seperti Amerika atau Eropa, tapi kalau dibayarin orang sih nggak apa-apa juga kesana. Hahaha.”

 As published in NYLON Indonesia June 2011

All photos by Timur Angin

http://timurangin.com/