Go Ahead, Change The Ordinary!

GoAhead

Ingin mengunjungi festival seni terbesar di kota Melbourne, Australia? Here’s how!

Setelah beberapa hari lalu memposting pengalaman saya soal bagaimana saya akhirnya bisa mengejar passion and change the ordinary, saya mendapat cukup banyak tanggapan yang masuk, serta beberapa pertanyaan tambahan. Khususnya yang seperti ini:

“Kak Alex, aku pengen coba banyak segala hal tapi kadang ada aja halangan dan sering ditunda-tunda, ‘Ah nanti aja deh,’ gitu terus ada aja alasan. Lama kelamaan jadi males terus ‘Ah ya udah nggak apa-apa, nggak usah deh, lain kali aja,’ But I want to experience it. How to get rid of this and just ‘take it’?”

atau

“I can’t move from my comfort zone and I spend most of the time staying at home, even though there’s a lot of things I want to try. Any advices?”

Yup, banyak orang yang sebenarnya ingin melakukan sesuatu yang berbeda dalam hidup mereka atau follow their dreams namun merasa ragu-ragu dan akhirnya cuma jadi wacana. Well, menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kalau dari experience pribadi, my best advice is just go ahead and do it. Mengutip kalimat dari salah satu lagu The Smiths yang berjudul “Ask”: “Shyness is nice and shyness can stop you from doing all the things in life you’d like to.” Kalau saya waktu itu terus malu-malu dan membiarkan kesempatan lewat begitu saja, mungkin saya tidak akan ada di posisi saya yang sekarang.

go-ahead-get-started-and-as-you-go-forward-youll-get-better-quote-1Di saat menemukan passion saja tidak cukup, kamu butuh keberanian ekstra untuk terus mengejarnya and write your own story. Beberapa orang cukup beruntung karena kesempatan seolah datang dengan sendirinya, sementara beberapa orang lainnya harus gigih mencari opportunity yang ada, termasuk salah satu contohnya adalah mengikuti berbagai kompetisi yang ada. Well, I don’t believe in coincidence. Saya lebih percaya setiap peluang yang ada sebetulnya akumulasi doa dan usaha kita sendiri yang dijawab oleh universe. Karena itu, saya selalu mendukung sepenuh hati jika teman-teman saya memutuskan untuk mengikuti sebuah kompetisi, apapun itu. Dari pengalaman saya, its really nothing to lose to join some competition. Kalau menang, kamu bisa jadi menemukan momen yang akan membuka peluang yang lebih besar, kalau kalah pun, kita bisa menjadikannya pembelajaran untuk menjadi lebih baik lagi. Saya percaya tidak ada istilah instan dalam menuju keberhasilan dan mengikuti kompetisi yang ada juga bisa menjadi trigger bagimu untuk mulai melakukan sesuatu yang kamu inginkan, mempertajam bakatmu, give your best shot, and deliver the unexpected.

Salah satu kompetisi yang konsisten memberikan peluang bagi para pemula untuk berkarya dan mengejar mimpi mereka adalah Go Ahead Challenge, sebuah kompetisi kreatif yang diselenggarakan oleh Sampoerna A, di mana kamu bisa meng-upload karya-karya bertema musik, visual, fotografi, dan style melalui GoAheadPeople.com dan berkesempatan merasakan pengalaman internasional yang berbeda dan tidak biasa bagi pemenangnya.

unnamedPemenang Go Ahead Challenge 2014 melakukan photo shoot di Paris.

Kompetisi Go Ahead Challenge 2014, misalnya, berhasil menjaring 22.830 peserta dan memilih Raditya Bramantyo serta Stephanus Sylvester sebagai pemenang utama untuk mendapatkan pengalaman internasional di ajang Paris Fashion Week 2014. Tahun lalu, keduanya telah diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari tim desainer ternama Indonesia, Tex Saverio serta bekolaborasi dengan fotografer fashion internasional, Michel Duprè di ibukota mode dunia, Paris. Dengan semangat ”Go Ahead Change the Ordinary” yang meliputi tantangan-tantangan di 4 bidang seni yaitu: musik (kurator: Arian13), fotografi (kurator:Anton Ismael), seni visual (kurator: Ade Darmawan), style (kurator: Auguste Soesastro), Sampoerna A kembali menggelar Go Ahead Challenge yang menjadi ajang bagi para sobat kreatif untuk create some personal works dan memperebutkan kesempatan untuk merasakan sisi seni kota Melbourne, Australia dalam perhelatan Melbourne Fringe Festival 2015.

MelbourneSalah satu sudut jalanan kota Melbourne yang dipenuhi graffiti.

fringe
Sebagai salah satu urban city utama di dunia, Melbourne memiliki komunitas kreatif yang besar. Mulai dari street art, street musician, pelukis, fotografer, sampai penyair dan penulis yang didukung oleh arsitektur modern dan eksentrik. Melbourne Fringe Festival sendiri merupakan salah satu event terpenting dalam kalender seni Melbourne. Sejak diadakan tahun 1982, festival seni tahunan paling populer di Melbourne ini telah menghadirkan lebih dari 50 ribu seniman ke hadapan 2 juta orang yang diselenggarakan di ratusan venue di sekitar Melbourne dan Victoria. Saat ini, setengah juta audiens datang dari seluruh dunia untuk menikmati karya 4 ribu lebih seniman dari berbagai bidang (teater, komedi, musik, performance art, film, kabaret, digital art, dan bahkan circus performance) dalam 300 lebih show yang diadakan di 100 venue, dari bar, club, galeri seni, teater independen sampai lokasi prestisius seperti Federation Square dan The Melbourne Museum.

Nah, sekarang… Tertarik untuk menantang diri sendiri dan mencoba melakukan hal yang berbeda dari biasanya?
Jika kamu merasa ini saat yang tepat untuk menunjukkan bakat kamu, berikut adalah cara berpartisipasi dalam Go Ahead Challenge 2015:

• Daftar dan log in ke GoAheadPeople.com
Submit karya kamu yang bisa berupa musik, visual, fotografi dan style dan kumpulkan poin sebanyak-banyaknya.
• Raih kesempatan trip ke Festival Seni di Melbourne dan hadiah menarik lainnya.

Pendaftaran dan penyerahan karya sendiri untuk Go Ahead Challenge 2015 telah dibuka dari tanggal 1 Februari 2015 kemarin. Selain hadiah utama, sepanjang kompetisi ini dibuka pada bulan Februari hingga ditutup di bulan Agustus 2015, ada berbagai hadiah bulanan menarik yang bisa didapatkan di GoAheadPeople.com dengan cara mengikuti berbagai kegiatan interaktif yang sederhana dan menarik. To kick start the event, Sampoerna A juga menyelenggarakan opening night tanggal 15 Februari 2015 di Museum Satria Mandala yang dimeriahkan oleh Tulus, Sore, Payung Teduh, dan performer keren lainnya. Event ini gratis dan terbuka untuk umum bagi 18 tahun ke atas.

image
So what are you waiting for? Go ahead, create your chance, and change the ordinary you.

Time For A Change, Time To Move On

Apa yang terjadi setelah kamu menjalani passion yang kamu miliki? Well, hidup ternyata tak berhenti di titik itu. Everything’s changing dan kita harus selalu siap.

Its not quite a secret anymore kalau belakangan ini saya sering menghabiskan waktu di ask.fm, sebuah situs social network di mana para penggunanya bisa saling bertanya satu sama lain. Terlepas dari image negatif sebagian orang kalau ask.fm isinya hanya orang-orang narsis yang kurang kerjaan, situs ini sebetulnya bisa menjadi tempat untuk saling berbagi cerita dan inspirasi, ataupun bertanya kepada mereka yang lebih berpengalaman. Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima di situs tersebut adalah bagaimana saya bisa memulai karier di majalah dan menemukan passion saya.

passion

Tentu saja bukan rahasia lagi jika tidak sedikit orang yang mengaku belum menemukan passion masing-masing, mereka yang masih clueless dalam memilih jurusan kuliah atau karier, maupun mereka yang merasa sedang stuck di rutinitas yang sama dan tidak sesuai dengan apa yang sebetulnya ingin mereka kerjakan. Well, guess what? Saya pun pernah berada di titik seperti itu, dan sekarang izinkan saya bercerita tentang bagaimana I finally able to pursue my passion and write my own story.

It’s all started ketika saya masih menjadi mahasiswa di Program Studi Cina, FIB Universitas Indonesia. Back in the days, saya tergolong mahasiswa dengan prestasi akademik yang sangat rata-rata dan bahkan harus mengulang mata kuliah wajib sampai dua kali. Dari awal, saya memang ingin kuliah sastra walau sejujurnya pilihan pertama saya adalah Jepang atau Prancis. Waktu itu saya memilih Sastra Cina simply karena orangtua bilang jurusan itu lagi banyak diminati dan akan membuat saya mudah mendapat kerja. Waktu itu saya belum paham bagaimana kita sebaiknya tidak memilih jurusan kuliah hanya dengan alasan “biar gampang dapat kerja”, instead of memang niat mempelajari ilmunya. Seiring waktu, dengan banyaknya peer pressure dan tekanan dari dosen, ada banyak momen yang membuat saya berpikir “Kayanya gue salah jurusan deh.” Pikiran itu memuncak ketika saya tidak lulus untuk kedua kalinya dan terancam drop out. Saya merasa serba salah. Mau meneruskan rasanya sudah tidak ada gairah, mau mengundurkan diri pun rasanya tanggung karena sudah setengah jalan. But at the same time I feel like I’m not following my dream & wasting my time.

Untungnya, waktu itu saya menemukan “pelarian” dengan bergabung sebagai Music Director di radio kampus yang membuat saya tetap waras. Sebagai Music Director, saya terobsesi menemukan band-band indie atau musik-musik paling baru dan merekomendasikannya ke teman-teman melalui tulisan di Notes Facebook. Dari situ, seorang teman yang sering menjadi sasaran curhat saya suatu hari berkata, “Kenapa elo nggak bikin blog aja, Lex? Daripada cuma browsing dan stress kuliah?” Waktu itu saya hanya menanggapinya malas-malasan, tapi diam-diam saya berpikir, “Betul juga sih, I need to change my routine, indeed.” Akhirnya bulan Februari 2010, saya iseng membuat blog di Tumblr yang isinya tulisan soal musik dan passion saya yang lain, yaitu fashion.

Beda dari fashion blogger umumnya yang gemar menampilkan personal style mereka, saya sebetulnya tidak merasa sebagai orang yang trendi. I just love watching fashion show on YouTube and write my impression about the show and the collection on my blog. Dari yang awalnya iseng, perlahan kegiatan blogging menjadi rutinitas baru yang menyenangkan. Hari-hari saya tidak lagi terasa membosankan. Karena waktu itu saya menulis dalam bahasa Inggris (sekalian latihan) dan selalu me-link postingan blog ke Twitter dan Facebook, saya mulai mendapat respons dari orang yang membaca blog saya. Dengan makin banyaknya interaksi dan atensi, saya makin bersemangat menulis blog dan sadar jika ternyata saya masih bisa mengejar passion saya.

nikicio

Nikicio Mixte Vol. 05 Fashion Show yang menjadi fashion show pertama yang saya liput:

Satu hari, tanpa diduga saya dihubungi tim dari fashion label Nikicio untuk hadir ke fashion show mereka. Waktu itu Nikicio adalah label yang terbilang masih baru namun sangat populer dan menjadi bagian dari kebangkitan fashion independen lokal circa Brightspot Market. Terus terang, saya cukup shock karena blog saya ternyata bisa di-notice label betulan. Akhirnya, saya pun datang ke fashion show Nikicio di Salihara and it was my first ever fashion show. Pulangnya saya langsung menulis review soal show tersebut dan me-link post itu ke Twitter. Tak disangka, ternyata postingan tersebut dibaca oleh Nina Nikicio, the designer herself, dan dia me-retweet sambil menambahkan “Best review ever”. Tentu rasanya senang banget dan membuat saya semakin bersemangat ngeblog. Tak berhenti di situ, beberapa hari setelah di-retweet Nina, tiba-tiba saya mendapat message dari wakil pemimpin redaksi majalah Cleo Indonesia untuk datang ke kantor mereka. “Kenapa nih?” pikir saya sempat ragu, walau akhirnya saya memutuskan untuk datang ke kantor Cleo.

It turns out, ternyata Mbak Ein Halid, wakil pemred Cleo tersebut membaca blog saya dari retweet-an Nina. Ia mengajak saya ngobrol tentang blog saya, about fashion dan terutama, passion saya. Tak disangka, saat itu juga beliau tertarik untuk menawari saya menjadi kontributor untuk halaman fashion di Cleo! Hal yang sangat surprising, kalau kata zaman sekarang sih “dah aku mah apa atuh”, haha. Hanya blog biasa tiba-tiba mendapat kesempatan menulis untuk majalah skala nasional. Saya yang biasanya selalu ragu-ragu dan cenderung berpikir lama dalam menentukan sesuatu (bawaan Libra) akhirnya berani untuk break free dari zona nyaman saya dan memilih mengikuti kata hati, I said yes! Walaupun tentu masih grogi dan cemas apakah tulisan bisa delivered sesuai ekspektasi atau tidak. Tapi saya meyakinkan diri, kapan lagi mendapat kesempatan seperti itu?

Di hari itu juga saya diajak ikut liputan ke pembukaan Level One di Grand Indonesia dan merasakan langsung jadi reporter untuk pertama kalinya. Dari situ, saya mendapat tawaran menulis secara berkala dari Cleo. Rasanya senang ketika akhirnya merasakan dapat honor, tapi jauh lebih senang lagi ketika melihat tulisan saya bisa dimuat di majalah dan dibaca orang lain secara luas. Waktu itu untuk pertama kalinya saya merasakan momen eureka, “This is it, this is what I wanna do in life. I want to write my own story, and I’ll follow my passion.”

cleo

cleo2

Cleo1 Beberapa tulisan saya untuk Cleo Indonesia.

Semangat tersebut menular ke aspek hidup lainnya. Saya jadi semangat belajar, serius kuliah, dan bertekad lulus secepatnya. Setelah lulus, saya pun langsung melamar kerja di berbagai majalah sampai akhirnya diterima di Nylon Indonesia yang baru terbit awal tahun 2011. Di Nylon, tahun pertama saya menjadi junior writer dan untuk pertamakalinya melihat nama lengkap saya ada di jajaran masthead sebuah majalah, dream came true! Tahun berikutnya saya di-promote menjadi associate editor sebelum dipromosikan lagi menjadi senior editor dari tahun 2013 sampai sekarang.

NYLON Indonesia January 2015
Lima tahun bekerja di tempat yang sama, apalagi untuk ukuran first time job, bukan waktu yang sedikit. Tak bisa dipungkiri jika bekerja di manapun pasti ada momen-momen melelahkan atau kejadian yang membuat bad mood. Namun, semua stress itu hilang jika saya mengingat lagi masa-masa yang menentukan itu. Saya hanya cukup bersandar sejenak and realize that I already follow my dreams, I’m on the right track to pursue my passion & I just need to keep deliver the unexpected result, even for myself. Di Nylon, saya dibebaskan penuh untuk menulis topik apapun yang saya suka, mulai dari musik, seni, fashion, dan creative culture lainnya. Meskipun begitu, tetap saja terkadang saya mulai merasa bosan atas pekerjaan menulis yang telah berubah menjadi rutinitas dan merasa telah terjebak di comfort zone. Beberapa kali saya berpikir untuk resign dan mencoba bekerja di tempat lain. Di sisi lain, saya merasa target saya di Nylon belum tercapai, dan akhirnya saya pun memilih untuk stay. Saat passion telah berubah menjadi habit atau routinity, sebetulnya kita punya dua pilihan: Resign dan mencari pekerjaan baru atau menggali lagi passion dan bakat lain yang selama ini mungkin belum kamu sadari ada di diri kamu. Saya memilih yang kedua.

photo 5Change The Ordinary
People often says to be yourself, tapi bagi saya hal itu sebetulnya tidak cukup. We need to be the better version of ourselves. Caranya banyak sekali. Dari hal sesimpel bangun lebih pagi dari biasanya, menyelesaikan deadline lebih awal, atau mengikuti suatu workshop dan mendapat skill baru. Cara paling ampuh adalah trying something new atau pergi ke tempat baru. Bila sebelumnya saya memilih menghabiskan weekend di rumah saja, belakangan saya lebih rajin keluar rumah dan mencoba banyak hal. Sesimpel quick getaway ke Bogor dengan kereta, nonton festival musik, river tubing di Sukabumi, solo traveling ke Ubud, atau ikut workshop membuat barang handmade. (Saya sempat belajar membuat tote bag sendiri and it is super fun!) Sebagai penulis, saya sadar jika kebiasaan berdiam di kamar hanya akan mengurung kreativitas saya. I need to keep myself updated and be inspired to deliver the unexpected!

life

Satu hal yang saya pelajari dalam hidup, saya beruntung bisa mengejar passion yang saya punya dan saya percaya semua orang juga pasti bisa melakukannya. If you want to do something, just go ahead, follow your dream, give it your best shot and the universe will work its way. Namun, apakah semuanya selesai sampai di situ? No, it’s not. Passion yang dibiarkan statis hanya akan menjadi rutinitas dan tak ada yang lebih membosankan dibanding terjebak dalam rutinitas yang sama selama bertahun-tahun. Seperti quote di atas, kita harus terus bergerak dan berani break away dari rutinitas and keep surprising yourself! Life is nothing but series of challenges, tak jarang justru kita lah yang harus menantang diri sendiri untuk berani berubah. As for me personally, saya merasa 5 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk berdiam di satu tempat dan saya sadar tidak mungkin selamanya stay di satu tempat yang sama. There’s still a lot of things I want to do, tantangan baru, dan pencapaian-pencapaian baru. Salah satunya sedang saya kerjakan sekarang, yaitu menulis sebuah buku. Sebuah project yang sudah terbengkalai terlalu lama dan sudah waktunya diselesaikan. It’s time to keep moving forward.

And it’s only just the beginning of the next chapter of my life 🙂

Disclaimer: judul postingan ini diambil dari judul album milik Pure Saturday, band favorit saya yang saat ini juga sedang mengalami momen perubahan. God speed!

quotes

The Characteristic of Contemporary Hipster

Berbicara karakteristik dari hipster modern, mungkin sebaiknya kita harus terlebih dulu mencoba memahami esensi hipster dari kacamata subkultur. But first thing first, dari awal mungkin kamu bertanya-tanya tentang apa sih sebetulnya pengertian subkultur? In a nut shell, subkultur adalah sebuah gerakan yang dilakukan secara kolektif oleh sekelompok orang yang merasa kurang nyaman dan memisahkan diri dari kultur dominan di sekitar mereka. Dalam praktiknya, subkultur bisa dibilang melakukan perlawanan terhadap lingkungan mereka yang bentuknya bisa berupa apa saja. Mulai dari agama, ideologi, politik, musik, gaya hidup, hingga fashion. Untuk membedakan diri dari orang-orang umum (the mainstream) di sekitar mereka, para penganut sebuah subkultur biasanya menunjukkan identitas diri lewat simbol-simbol tertentu seperti pakaian, musik, literatur, bahasa slang, dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki estetika, selera, dan ideologi yang sama.
Sebagai subkultur tersendiri, budaya hipster pun enggak lepas dari beberapa simbol tersebut. Namun bila diamati, ternyata subkultur hipster sebetulnya enggak memiliki satu keseragaman yang benar-benar bersifat unik dan kolektif seperti umumnya subkultur sebelum mereka. Secara visual, kita dengan mudah bisa mengenal kaum hippie dari baju dan musik psikedelik mereka atau anak punk dari jaket kulit dan rambut mohawk mereka. Dalam kasus hipster kontemporer, ternyata cukup sulit untuk menunjuk dengan pasti siapa saja yang bisa disebut sebagai hipster. Gadis berkacamata tebal yang gemar memakai vintage dress dan mendengarkan lagu-lagu pop Prancis tahun 70-an bisa dibilang sebagai hipster. Seorang desainer grafis yang hobi mengoleksi sepatu sneakers dan selalu update dengan lagu-lagu elektronik terbaru bisa disebut hipster. Demikian juga dengan seorang barista berkumis tipis dengan tato segitiga di lengan yang terkadang tampil sebagai DJ amatir di gigs lokal, dia pun bisa dibilang hipster. Secara penampilan, mereka memang terlihat berbeda tapi ketiganya bisa dengan cepat dicap sebagai hipster. Apa yang benar-benar menandakan jika mereka bernaung di bawah satu payung besar bernama hipster?
Dibandingkan beberapa subkultur populer sebelumnya, subkultur hipster yang lahir di era dengan keadaan sosial-politik yang relatif stabil terlihat tidak memiliki agenda perlawanan yang khusus selain kecenderungan mereka melawan kapitalisme dan kemonotonan hidup. Secara umum, it’s more like a fight against the boredom in life. Kultur hipster lebih ke arah individualisme, tentang bagaimana mengekspresikan diri sendiri lewat pemikiran maupun penampilan dan melakukan hal-hal yang memang kamu sukai tanpa takut dianggap aneh oleh orang lain. Secara natural, semua orang ingin terlihat stand out di antara sekumpulan orang lainnya dengan cara mengadopsi kode-kode visual tertentu seperti pakaian yang kamu pakai, musik yang kamu dengarkan, buku yang kamu baca, dan sebagainya sebagai simbol identitas diri. Hipster datang dari berbagai latar dan selera yang berbeda-beda, kesamaan yang menyatukan hipster adalah obsesi mereka untuk breaking away from the mainstream and making some personal statement.

Bila subkultur sebelumnya biasanya dimulai dari skena musik tertentu, dalam kasus hipster, internet lah yang menjadi faktor dominan di balik transformasi budaya. Dalam buku Strauss-Howe yang berjudul Millenials Rising: The Next Great Generations, mereka beropini jika generasi Millenials adalah generasi dengan sense of community yang kuat baik secara lokal maupun global, dan hal itu terbukti lewat internet. Bila di masa sebelum internet sebuah subkultur membutuhkan beberapa tahun untuk akhirnya terekspos media dan menjadi sebuah tren, kini hal itu bisa terjadi dengan sangat cepat lewat berbagai situs dan blog yang menjadi sumber informasi paling viral dan instan dibanding media standar seperti televisi atau majalah.
Hanya dengan duduk di depan komputer, kita bisa melihat gaya apa yang sedang ngetren di kota-kota besar seluruh dunia lewat berbagai street style blog atau mendengarkan band yang sedang happening di Brooklyn dan membangun komunitas secara online lewat orang-orang sedunia. Hipster yang besar di zaman internet memiliki kemudahan untuk menemukan berbagai referensi dari segala masa dan tempat dalam membentuk personal identity dan image, yang secara sadar atau tidak, ingin kita tampilkan ke dunia baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Booming berbagai situs social networking seperti Friendster, MySpace, Facebook, dan Twitter seakan menjadi wadah untuk menunjukkan taste personal kita dan menciptakan sebuah identitas baru yang enggak jarang jauh lebih keren dari bagaimana diri kita yang sebenarnya di dunia nyata.
Like suddenly, anak culun pendiam di kelasmu ternyata punya selera musik yang keren dan punya lebih banyak followers di Twitter dibanding kamu berkat isi tweet-nya yang witty dan sarkastik. Atau temanmu yang sebelumnya kamu ledek karena suka memakai baju ketinggalan zaman tiba-tiba menjadi seorang fashion blogger terkenal. The internet give you a chance to show the better and cooler version of your personal image. Disusul dengan makin canggihnya smartphone dan aplikasi seperti Instagram atau Path, yang melahirkan online sharing culture, yaitu tendensi bagi kita untuk memberitahu apapun yang sedang kita lakukan, makanan apa yang sedang kita makan, lagu yang sedang didengarkan, dan sebagainya secara langsung lewat social media. Kelihatannya memang enggak penting, tapi entah kenapa ada saja orang yang peduli dan enggak jarang kita ikut menikmati hal tersebut. Walau sharing culture ini juga yang membuat generasi Millenials dianggap generasi yang narsis dan terobsesi pada diri sendiri, namun its already became our culture dan menjadi cara untuk menunjukkan personal image kita ke dunia.

Enggak jarang juga, personal statement seseorang kemudian menular ke orang lain dan menjadi sebuah tren. Siklusnya kurang lebih seperti ini:

• Seorang hipster menjadi early adopter dengan mengadopsi satu referensi yang terlihat unik dan berbeda dibanding selera hegemoni di sekitarnya.

• Awalnya dia mungkin ditertawakan atau dianggap aneh, namun hal itu justru membuatnya merasa puas karena memiliki satu ciri yang berbeda dari orang lain. Dengan cuek dan penuh kebanggaan, ia memakai pakaian dan atribut yang menunjukkan referensi tersebut.

• Beberapa orang di sekitar hipster tersebut diam-diam mengagumi gaya berpakaiannya dan mulai meniru style yang sama sehingga menjadi sebuah tren di segelintir orang.

• Seiring waktu, tren yang dilakukan oleh segelintir orang tersebut menarik perhatian media yang memang selalu haus untuk memberitakan sesuatu yang baru. Media akan membahas tren tersebut, membuat sebuah istilah untuk menyebutnya, dan menetapkan beberapa stereotipe atau aturan sesuai persepsi mereka sendiri.

• Seorang selebriti terkenal ikut memakai gaya tersebut, dibahas oleh semua media lainnya, lalu tren tersebut secara resmi menjadi sesuatu yang dianggap cool dan trendi. Tak lama, beberapa toko retail pakaian besar seperti Zara, Topshop, atau Forever 21 memproduksi secara massal dan menjual tren tersebut sebagai koleksi musim terbaru mereka.

• Di poin ini, tren tersebut telah menjadi sesuatu yang mainstream. Orang-orang yang tadinya menertawakan sang hipster yang pertama kali memakainya, secara ironis akhirnya memakai gaya yang sama dengan harga yang lebih mahal dan model yang pasaran.

• Bagi hipster, tren tersebut sudah kehilangan nilai eksklusivitasnya dan mereka pun segera mencari referensi lain sebagai tandingan dari tren yang sebetulnya mereka ciptakan sendiri.

• Ulangi lagi semua proses tadi. Wash, rinse, repeats.

Tentu saja, sesuai kodratnya hipster secara reaktif akan mencoba menghindari apapun yang sedang ngetren dengan cara mengadopsi referensi yang belum dilirik orang lain. Tapi dengan semakin gampangnya sesuatu menjadi tren, hal itu pun terus terjadi berulang-ulang dengan cepat dan lama-lama akhirnya terjadi semacam kompetisi di kalangan hipster itu sendiri. Dari yang awalnya murni karena ingin menunjukkan selera pribadi, akhirnya mereka seperti berlomba untuk menjadi yang paling unik, paling beda, paling pertama menemukan the next big thing dibanding hipster lainnya. Istilah hipster berubah menjadi label bagi para pencetus tren dan menjadi target market potensial bagi industri mode dan gaya hidup yang akhirnya membuktikan definisi hipster menurut Oxford Dictionary: A person who follows the latest trends and fashions, especially those regarded as being outside the cultural mainstream.

Makna hipster sendiri akhirnya sudah bergeser dari sebelumnya. Hipster hari ini adalah mereka yang dianggap atau merasa dirinya cool, keren, dan selalu paling update soal tren terbaru. Menjadi hipster adalah jalan pintas bagi some people untuk berlomba menjadi keren. Mereka pergi ke acara yang sama dengan mayoritas orang lainnya, memakai pakaian dengan gaya yang sama, label yang sama, bucket hat yang sama, membaca majalah yang sama, mendengarkan musik yang sama, ikut heboh color run atau car free day bukan karena memang mendalami olahraga lari dan peduli kesehatan tapi demi update status di Path dan pamer sepatu Nike terbaru. Kata “hipster” sudah tidak lagi berkonotasi dengan “otentik” dan “unik”, namun menjadi sinonim bagi kata “gaul” atau “trendi” yang terasimilasi oleh the mainstream culture and its become a mainstream lifestyle.  istilah hipster menjadi sesuatu yang overused dan berubah menjadi komoditi kapitalis and it’s time to redefining the term all over again, for better or worse.

So, What Is A Hipster Anyway? An Open Discussion

Tulisan ini adalah bab awal dari proyek tentang hipster yang sedang saya kerjakan. Sengaja saya post di sini untuk sneak peek sekaligus memancing feedback. So feel free to discuss on comment box. EDIT: I open the comment box for anonymous account, so anon, let all Hell breaks loose!!!

Josephmark-Illustration-PocketHipster-LowRes-1

So, what is a hipster anyway?

“Hipsters are a subculture of men and women typically in their 20’s and 30’s that value independent thinking, counter-culture, progressive politics, an appreciation of art and indie-rock, creativity, intelligence, and witty banter.” ~ Urban Dictionary

Jadi, apa sih sebetulnya kata “hipster” yang sering kamu dengar dan baca sekarang ini? Well, kalau kamu pikir hipster yang akan dibahas di sini adalah model celana panjang dengan potongan ngepas di bawah pinggul yang sempat ngetren di kalangan cewek-cewek Indonesia, maka kamu salah besar karena saya enggak bakal ngomongin soal celana model hipster tersebut. Kata “hipster” yang dimaksud di sini mengacu ke sebuah fenomena subkultur anak muda paling signifikan di kota-kota urban seluruh dunia sepanjang dekade 2000 lalu sampai hari ini. Sebagai gambaran awal, pengertian hipster menurut situs Urban Dictionary di atas adalah persepsi tentang hipster yang paling gampang dicerna.

Yup, secara umum istilah hipster yang berasal dari Amerika Serikat memang merujuk pada sosok pria maupun wanita berumur belasan sampai tiga puluhan yang mengagungkan hal-hal independen (indie), kreatif, berwawasan luas dan progresif, menolak hal-hal yang dianggap umum dan populer (mainstream), serta menunjukkan sisi individualisme mereka lewat pemikiran maupun penampilan yang terkadang dianggap eksentrik bagi orang awam. Di negara asalnya, mereka biasanya berasal dari kalangan kelas menengah di kota-kota urban yang kental lingkungan kreatif dan kultur anak mudanya seperti New York, San Francisco, dan Chicago. Walaupun berasal dari Amerika Serikat, tentunya sekarang kita enggak usah jauh-jauh ke kawasan Brooklyn atau Wicker Park untuk mengenal kaum hipster. Berkat kemajuan internet dan arus informasi yang semakin hari semakin cepat, tren dari luar negeri dengan gampang bisa masuk dan diserap dengan cepat juga oleh anak-anak muda lokal yang melek teknologi dan tanggap pada perkembangan zaman.

Istilah hipster sendiri sudah mulai terdengar di Indonesia sejak pertengahan tahun 2000-an dan semakin banyak peminatnya 3 dan 4 tahun lalu di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogya. Sekarang, kemanapun kita pergi ke tempat atau acara yang didominasi anak muda, dengan gampang kita akan menemukan orang-orang yang secara penampilan bisa masuk kategori hipster. Dalam konteks lokal, khususnya di Jakarta, hipster adalah orang-orang yang bisa dijumpai di setiap konser musik garapan Ismaya Live, semua cabang toko buku Aksara, di concept store seperti The Goods Dept, acara budaya di Goethe dan Salihara, atau kafe-kafe berinterior trendi minimalis di daerah Senopati, Kemang, dan Panglima Polim.

You’ll know a hipster dari gaya mereka yang stylish, terlihat cerdas, mempunyai aura kekerenan, dan sering menyelipkan kosa kata Inggris atau kalimat berbau sarkastik dalam obrolan. Kalau masih ragu, coba lihat ciri-ciri lain yang lebih visual seperti celana digulung, kacamata berbingkai klasik, tote bag, iPhone, atau jam tangan Daniel Wellington mereka.

Enggak bisa dipungkiri, ketika istilah hipster semakin populer dan dikenal oleh banyak orang, mau enggak mau semakin banyak juga anak-anak muda yang ingin dianggap bagian dari that cool people with great sense of style and fantastic tastes tersebut. Kesan eksklusif dan trendi itu juga yang membuat banyak orang tergoda untuk ikut-ikutan bergaya seperti hipster yang akhirnya memperkuat stereotipe negatif jika hipster adalah anak-anak berduit, superficial, dan hanya mementingkan gaya tanpa tahu substansi di balik atribut yang mereka pakai. Saat ini, ketika menjadi hipster sudah bergeser maknanya menjadi sebuah tren, semua orang bisa saja terlihat seperti hipster dengan mengikuti dress code dan hangout di tempat tertentu. Tapi how we really define someone as a hipster? Apakah dengan memakai skinny jeans dan rutin datang ke konser musik indie sudah cukup untuk mengategorikan seseorang sebagai hipster? Well, not as simple as that.

Mungkin kita sering mendengar kata “hipster” dalam obrolan sehari-hari, tapi saat kamu bertanya “Apa sih hipster itu?” kamu mungkin akan kesulitan menemukan jawaban yang pasti, karena setiap orang punya definisi masing-masing tentang hipster di kepala mereka sementara sebagian besar cuma akan mengangkat bahu, terlalu malas untuk menjelaskan hal yang sebetulnya belum terlalu mereka pahami juga. Bila kurang puas, kamu mungkin akan mencari arti hipster di internet namun itu pun enggak terlalu membantu dan malah membuatmu semakin bingung karena situs Urban Dictionary saja mempunyai 400 entri lebih tentang definisi hipster. Bahkan kamus sekelas Oxford Dictionary pun hanya mendefinisikan hipster sebagai “a person who follows the latest trends and fashions” padahal hipster secara logika justru muncul sebagai orang-orang yang menciptakan tren mereka sendiri.

Well, untuk mencari tahu persepsi orang lain soal hipster, saya pun coba membuat survey kecil tentang hipster di Google Drive yang saya sebar di social media pribadi saya dan dijawab oleh 100 orang responden secara anonymous. Berikut adalah beberapa respons yang saya pilih secara acak dari pertanyaan “Menurut kamu, hipster itu apa?”

• Orang yang pengen beda sendiri, tapi enggak mau dibilang trendsetter, pengen dibilang eksklusif.
• Form of self-expression in quirky way.
• Hipster is being yourself. Simply loving something down to the edge, doing it in your daily life, and putting some spotlight so people have the perspective why you love that thing so much.
• Orang yang mengetahui dan mencari sendiri apa yang ia suka.
• Snob, terlihat casual padahal pakai barang mahal, ironis.
• Seseorang yang memiliki style tersendiri dan cuek terhadap komentar orang lain.
• Orang-orang yang menghindari apa yang dianggapnya sudah terlalu umum, terlepas baik atau tidaknya hal tersebut.
• Someone who is too cool to follow the mainstream and create his/her own definition of cool instead.
• Hipster itu pergi buat sahur ke warteg aja pake docmart, belagu banget.
• Orang yang selalu ada dan datang di setiap lokasi dan acara yang lagi happening.
• Sok asik, trying so hard to be cool by acting and dressing differently to impress others.
• Unique, original, calm, deep.
• Hipster itu semacam kata ejekan.
• People who dabble in art. Maybe. Dont know.
• People who want to be hip – 3G – gaya gaul global.
• Overrated. Some people are just trying too hard to be hipster while I personally believe that some people were born with hipster gene.
• Open minded, walaupun naif seenggaknya mereka enggak munafik.
• Unik. Punya keseruan sendiri di dunia mereka yang kadang orang umum enggak paham kenapa mereka bisa suka.
• Hipsters are ok, posers are not! Although I personally think that the term ‘hipster’ is overrated.
• Anak Gaul Jakarta
• They looks cool and different, but in the end they looks the same as the other hipster.
• Hipster sama aja kayak anak-anak. Sama-sama menyukai apa yang mereka suka.
• Suatu culture baru dari sebuah fasis, SARA, dan kasta.
• Selalu (mencari) tau hal-hal yang paling baru berkaitan tentang life style dan mulai meninggalkan hal-hal tersebut ketika udah banyak orang-orang yang tau.
• Anak muda yang menjadi gejala postmodern. Terobsesi dengan otentitas dan ide-ide kebaruan.

Seperti yang sudah bisa diduga, respons yang masuk memang cukup beragam. Dari mulai yang bernada positif, netral, sampai yang cenderung negatif. Jelas bukan hal yang simpel untuk mendefinisikan hipster secara spesifik tapi secara garis besar kita pun bisa merangkum pengertian kolektif tentang hipster sebagai orang-orang yang ingin membedakan diri dari lingkungan mereka melalui sikap, pemikiran, dan atribut yang melekat pada diri mereka. Yang membedakan adalah standar dan pandangan personal masing-masing orang tentang hipster. Sebagian orang memandang hipster sebagai orang-orang yang merasa nyaman dengan menjadi diri mereka sendiri dan tahu apa yang mereka sukai, sementara sebagian lainnya menganggap hipster justru orang-orang yang tidak punya jati diri dan butuh pengakuan eksistensi dari sekitar mereka dengan cara mengejar ketrendian. Saya akan coba mengupas definisi hipster secara lebih mendalam di post-post selanjutnya, tapi untuk saat ini, I think we should agree that everyone have their own opinion about hipster and nothing wrong with that.

“Opinions are like assholes. Everybody’s got one and everyone thinks everyone else’s stinks.” ~ Simone Elkeles

So, what’s your own asshole opinion about hipster?

Write it on the comment box below 🙂

MERAH

Rasa-rasanya aku bisa mengerti maksud ucapanmu tempo hari, ketika kamu bilang kamu ingin menjadi Abe Sada. Aku yang waktu itu hanya tertawa kecil sambil mengunyah segenggam Yuppi warna-warni berbentuk teddy bear ketika mendengarnya dan wajahmu yang merajuk cemberut melihat reaksiku. Lalu kamu segera mengambil iPod dan memasang Kate Bush keras-keras di kupingmu, berusaha tidak mengacuhkanku sebisamu. Sampai aku menarik lepas earphone-mu dan kamu mau tak mau menatap ke arahku yang sudah memakai permen Yuppi berbentuk gigi drakula di gusiku dan kamu pun terkikik geli. Lalu kita berbaikan dan berceloteh tentang aneka bentuk permen Yuppi warna-warni sambil diiringi sayup-sayup Jesus & Mary Chain di laptopku. Ucapanmu tentang Abe Sada pun memudar ditutupi teddy bear, ular, botol cola, gigi drakula dan pizza beraneka warna.

Rasa-rasanya aku bisa mengingat dengan jelas tentang kejadian tempo hari seolah hal itu baru enam jam yang lalu. Namun ada yang mengganjal tapi aku tak tahu apa itu. Ah yang pasti, setiap momen bersamamu masih kuingat dengan jelas. Apa kamu ingat pertama kali kita bertemu di Bandung dulu? Saat menonton Homogenic dan mata kita terpaut dan tenggelam di antara Trust yang getir? Kamu selalu bilang kepadaku untuk jangan terlalu sentimental. Tapi toh kamu juga yang selalu menangis ketika menonton Lost in Translation, Big Fish dan My Girl.

Rasa-rasanya aku bisa menghitung setiap detik yang kita habiskan bersama. Namun selama aku mengenalmu selama itu pula aku tidak bisa benar-benar mengenalmu. Satu sisi, kamu seperti soda yang meletup-letup dan di sisi lain kamu seperti sumur. Dingin, gelap dan dalam. Kamu pernah bilang untuk lebih baik menatap lurus ke depan daripada menengok ke belakang. Aku ingat waktu itu aku bertanya kasual tentang permainan apa yang kamu paling suka ketika SD dulu. Waktu itu aku merasa kamu tidak suka membicarakan masa lalumu. Namun secepat kilat kamu menggandeng tanganku dan mengajakku berlari menembus hujan, menyepak semua pikiranku jauh-jauh dan melemparku ke hari hujan paling uhm…romantis (kamu tahu kan aku paling tidak suka memakai kata itu karena terdengar seperti telenovela atau novel Marga T) sepanjang hidupku.

Rasa-rasanya aku bisa mengerti maksud ucapanmu tempo hari, ketika kamu bilang kamu ingin menjadi Abe Sada ketika aku melihat pesanmu di cermin kamar mandiku. Ditulis olehmu memakai  remahan Yuppi berbentuk teddy bear warna merah, yang selalu kau sisakan untuk dimakan terakhir:

maaf…maaf…maaf…

Dan aku tak pernah melihatmu lagi.

MALAM MAKIN KELAM

Angin yang berhembus pelan menyelusup melalui celah celah jendela. Di kamar kecil ini hanya ada aku dan dia. Entah sudah berapa jam kami di sini. Satu-satunya penunjuk waktu hanya jendela yang kisi-kisinya sudah digerogoti rayap dan angin malam dengan bebas masuk menggerogoti tubuh kurus kami. Di luar tampaknya sudah tengah malam dan tampaknya akan turun hujan karena sekerlip pun bintang tak terlihat. Alasan apa yang membuat kami terpuruk disini? Sepintas baru saja kami tertawa-tawa menyambut datangnya pagi. Pagi tadi luar biasa bersinar, matahari hangat dan membuat pipi kami memerah dan susah untuk merasa gelisah di pagi sekalis itu. Entah kenapa pagi terasa sangat jauh berlalu, seakan kami tidak penah merasakannya dan semua sensasi itu hanya halusinasi sesaat, sebuah utopia yang kami ciptakan sendiri untuk menerangi jiwa kami di kamar gelap ini. Dan sekarang kami sudah terlalu lemas bahkan untuk sekedar berfantasi. Ku tatap matanya yang nanar, mata yang dahulu pernah nyalang dengan harapan dan optimis menyambut masa muda yang gemilang. Sekarang mata itu tidak ubahnya seperti ceruk kosong yang kering. Masih bagus kalau dia masih bisa menangis tapi itu pun sudah tidak. Masih perlukah menangis? Disaat sudah terlalu banyak hal untuk ditangisi, maka kita pun muak dengan air mata kita sendiri. “Kau tahu?” Bisiknya padaku. “Menurutku di saat sedih harusnya kita tertawa”. “Tertawa?” Jawabku. “Ya! tertawa! tertawa yang keras, semakin kau sakit semakin keraslah tertawa mu! Maka sakit itu akan menguap!” tukasnya. “ Darimana kau punya pikiran seperti itu?” dengan heran kuberkata. “Hmm…aku mengamati tetangga kita.”. “Maksudmu ibu-ibu sinting yang ditinggal pergi suaminya itu? Dia kan orang gila, kenapa kau mencontohnya?”. “Entahlah, tapi aku diam-diam mengamatinya ketika dia menjerit-jerit lalu dia tiba-tiba berhenti dan sedetik kemudian dia tertawa keras-keras, dan aku merasa ia tertawa untuk dirinya sendiri, melawan semua rasa sakit itu dengan kelenjar endorphin tawanya. Dan aku sunguh-sungguh merasa kita juga harus tertawa sekarang agar kita berdua bisa lupa rasa sakit ini.” “Tapi tawa yang dipaksakan sangat tidak enak kau tahu? Rasanya hambar dan kering seperti kerupuk masuk angin.” “Tidak ada yang memaksamu untuk tertawa, kalau kau tidak mau ya tidak usah lebih baik aku saja yang tertawa, hahaha….kau dengar itu? Hahahaha…….” Dan dia pun terus tertawa dan makin lama tawanya makin keras, aku heran darimana ia mendapat energi untuk tertawa, tapi…tawanya melempar ku ke pagi tadi, di saat kami terbangun dengan senyum terulas di bibir dan tertawa saat kami membicarakan apa saja yang akan kami lakukan hari ini. Sebelum hari bergulir cepat dan orang-orang itu mengambil milik kami yang paling berharga. Entah siapa dan darimana mereka, mendadak mereka datang ke serambi kami dan mengobrak-abrik seisi rumah, mereka membakar habis pakaian kami di lemari, memecahkan semua lampu dan entah apa lagi. Dan tahu-tahu sekarang kami disini. Di kamar kecil gelap dingin dan berdebu. Kedinginan dan kelaparan dan ia terus tertawa…dan anehnya aku merasakan stimulus untuk tersenyum ketika melihat matanya yang menyipit dan mulutnya yang terbuka lebar hingga tampak gusi-gusinya yang pucat. Dan air mata yang akhirnya pelan-pelan menetes dari pelupuk matanya. Hihi..aku pun tertawa kecil..hahaha..tawanya terus terdengar, terpantul-pantul di dinding kamar memenuhi udara pengap kamar ini dan menusuk telinga ku dan terus tembus ke hatiku hingga akhirnya aku pun bisa tertawa…hahahaha…kami tertawa bersama dan lihatlah betapa tawa kami terdengar padu seperti simfoni yang kami nyanyikan tadi pagi. Bahkan helaan nafas kami pun menyatu dan degub jantung kami selaras dan kami pun terus tertawa. Ya, kami dua orang ini melawan heningnya malam dengan tawa kami, ia satu-satunya orang yang ada disini bersama ku, ia yang terus ada di situ dan yang memisahkan kami hanyalah sebidang cermin tua ini, yang ujung-ujungnya diselimuti jaring laba-laba, namun kami tak peduli, kami masih sibuk tertawa dan saling memandang ke mata satu sama lain, menyelami jiwa masing-masing dan terus tertawa. Di luar malam makin larut dan belum ada tanda-tanda hari ini akan segera berlalu. Bintang masih belum tampak dan suasana masih hening. Yang ada hanya tawa kami dan sesekali tangis kami. Kembalikan, kembalikan pagi kami.