Soundcheck: 10 Best K-Pop Songs of 2016

 

2016 is crazy year, for sure. Namun, terlepas dari segala keabsurdan yang terjadi di dunia sepanjang tahun ini, tak bisa dipungkiri jika 2016 is also a great year for music yang ditandai oleh maraknya rilisan lagu dan video yang keren, termasuk dalam kancah K-Pop. Meskipun tahun 2016 ini kita sudah melihat beberapa berita disbandment yang menyedihkan, dari mulai Rainbow, KARA, 4Minute, hingga hengkangnya Minzy dari 2NE1 yang pada akhirnya berujung pada pembubaran resmi grup besutan YG Entertainment tersebut, untungnya seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, skena K-Pop yang tampaknya tidak pernah kehabisan talenta-talenta baru pun siap menawarkan “racun” terbaru mereka dalam bentuk grup-grup rookies yang sangat menjanjikan. I’m here to stay for the K-Pop’s catchy chorus and superb videos, and without further ado, here are my list of top 10 K-Pop of this year!

10. K.A.R.D – “Oh NaNa”

Terakhir kali kita melihat grup co-ed (berpersonel cewek dan cowok dalam satu grup) yang cukup promising di K-Pop adalah Co-Ed School yang dibentuk oleh Core Contents Media back in 2010 yang sayangnya tidak berumur lama. Since then, kita hampir tidak pernah mendengar grup co-ed yang menarik untuk disimak, but as a nice surprise, kurang dari seminggu lalu DSP Media memperkenalkan K.A.R.D, sebuah grup co-ed yang terdiri dari empat personel (BM, Jeon JiWoo, J.Seph, Jeon SoMin) dengan single pertama mereka, “Oh NaNa”, yang saat artikel ini ditulis sudah menembus satu juta views di YouTube, sebuah pencapaian impresif bagi grup rookie yang datang dari company di luar the Big 3 (SME, JYP, YG). It’s no wonder kenapa mereka bisa menarik atensi dengan cepat. Tak hanya atraktif secara fisik, keempat member-nya juga disebut berbakat dalam hal composing, menulis lagu, hingga membuat koreografi sendiri yang ditunjukkan dalam MV pertama mereka. Secara videografi, sebetulnya konsep MV “Oh NaNa” cukup standard namun berhasil menampilkan kemampuan setiap member dengan porsi yang pas, and with those addictive summer-ish dancehall beats, we can’t help but to keep press the repeat button.

9. PENTAGON – “Can You Feel It”

Empat tahun telah berlalu sejak Cube Entertainment memperkenalkan BTOB ke pecinta K-Pop dan rumor jika Cube sedang mempersiapkan boy group terbaru mereka sudah ramai dibicarakan sejak tahun 2015 lalu. Jawaban dari penantian tersebut adalah PENTAGON, boy group dengan 10 member yang merilis debut album mereka pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dengan title track berjudul “Gorilla”. Sebelum debut, para member PENTAGON diperkenalkan ke publik lewat survival show bernama Pentagon Maker di Mnet, dengan beberapa member dikenal sebagai bekas trainee dari company besar lainnya seperti SM dan YG. But make no mistake, jangan sebut grup ini sebagai grup “buangan”, karena lewat comeback single “Can You Feel It” dari EP kedua bertajuk Five Senses, mereka membuktikan diri sebagai grup rookie yang patut diawasi. Dengan koreografi yang matang dan chemistry di antara member yang kuat, mereka punya teamwork dan potensi yang tidak kalah dengan grup sebesar EXO sekalipun.

8. I.O.I – “Very Very Very”

To be honest, saya tidak bisa menulis tentang grup berpersonel 11 orang yang datang dari berbagai agensi berbeda ini tanpa merasa sedih. Seperti yang kamu tahu, grup yang namanya berarti Ideal of Idol ini adalah sebuah girl group yang lahir dari sebuah survival show bertajuk Produce 101 milik Mnet di mana 101 trainee dari berbagai agensi berlomba mendapatkan posisi dan debut di sebuah “ultimate girl group” selama satu tahun. Sebagai penonton setia Produce 101, ke-11 member yang akhirnya membentuk I.O.I terbukti sama sekali tidak mengecewakan, they’re all very talented and pretty dengan lagu-lagu yang super catchy. But here’s the truth, faktanya umur grup ini hanya setahun sebelum para member kembali ke agensi masing-masing. As a last single, “Very Very Very” yang diproduseri oleh JYP adalah lagu yang berhasil merangkum semua pesona I.O.I dengan gemilang. Its super catchy dengan MV yang juga sama ekspresifnya. We’re not ready for their disbandment tapi di saat yang sama juga tidak sabar untuk menonton season kedua Produce 101.

7. NCT U – “The 7th Sense”

 

Belajar dari pengalaman yang kurang menyenangkan dari hengkangnya beberapa member Super Junior dan EXO, S.M. Entertainment meracik konsep terbaru untuk proyek grup terbarunya yang bernama Neo Culture Technology yang kemudian disingkat sebagai NCT. Konsep utama NCT adalah jumlah member yang tidak terbatas, dalam artian, SM bebas menambahkan atau merombak susunan member dalam setiap comeback dalam bentuk sub-unit yang berbeda-beda dengan para personel yang berasal dari grup pre-debut SM Rookies. NCT U yang menjadi sub-unit pertama yang diperkenalkan pada April lalu berhasil mencuri perhatian dengan single “The 7th Sense”, sebuah lagu debut yang benar-benar terdengar unik dari grup-grup K-pop pada umumnya. Dengan beat-beat elektronik yang ganjil (its kinda weird yet sexy at the same time) dan diperkuat oleh koreografi menghipnotis serta mind tripping visual, “The 7th Sense” adalah sebuah eksperimen SM untuk keluar dari zona nyaman mereka dengan hasil yang gemilang.

6. Twice – “TT”

Ya, saya tahu beberapa dari kamu pasti akan bertanya kenapa saya memilih “TT” instead of “Cheer Up” yang memang menjadi salah satu anthem K-pop paling besar di 2016, but I have my own reason. “Cheer Up” memang lagu yang super duper catchy dan berhasil melambungkan girl group besutan JYP ini menjadi salah satu national girl group, tapi jujur saja, mendengarkan “Cheer Up” lebih dari 5 kali berturut-turut adalah hal yang menyebalkan (based on personal experience). Lain halnya dengan “TT”, tentu saja saat pertama menonton MV-nya, kita akan sibuk terpesona pada sembilan member dengan kostum Halloween masing-masing yang imut dan koreografi yang lagi-lagi ikonik secara instan. Namun, saat didengarkan dengan headphone tanpa melihat MV-nya pun, “TT” memiliki banyak elemen dan detail musik yang menarik untuk diulik setiap kali mendengarnya. Dari mulai bagian intro, bridge, hingga chorus, its full of musical surprises yang menunjukkan jika lagu ini tak hanya catchy tapi juga digarap dengan sungguh-sungguh. Totally a bop.

5. Red Velvet – “Russian Roulette”

Mendengar nama Red Velvet, biasanya kita akan langsung membayangkan MV penuh visual warna-warni yang whimsical dan semanis sakarin, tapi di title track untuk EP ketiga mereka ini, they injects a darker twist to it. Saat mendengarnya untuk pertama kali, “Russian Roulette” adalah lagu synthpop berbumbu bebunyian retro 8-bit dan robotic chorus yang memiliki semua elemen dari classic K-Pop girl group hits, it’s catchy, fun, with a nice dynamic and breakdowns. MV-nya sendiri pun terlihat sama ceria dan bubbly di mana para member yang memakai pakaian bertema olahraga terlihat bermain tennis dan dodgeball plus koreografi yang sama serunya dalam setting yang dipenuhi warna pastel andalan mereka. But in the following scenes, kita menyadari jika kelima member RV berusaha menyingkirkan satu sama lain dengan berbagai skenario yang cartoonish (dari mulai menjatuhkan piano, menyelipkan baut ke dalam mangkuk sereal, hingga mendorong temannya ke mobil yang melaju) yang terinspirasi dari serial Itchy & Scratchy dari The Simpsons. For some people, beberapa adegan tersebut mungkin memang disturbing, tapi dengan sajian visual dan audio yang begitu sinfully sweet, we can’t help but craving for more.

4. Seventeen (SVT) – “Check-In”

Bagi kamu yang belum pernah mengenal Seventeen, let me explains the basic thing about their concept. Dengan member sebanyak 13 orang, Seventeen terdiri dari tiga sub unit yang meliputi vocal unit, hip-hop unit, dan performance unit. Sejak melakukan debut di bulan Mei 2015, mostly mereka memang tampil as one big group di mana para member punya peranan penting dalam setiap produksi yang mereka rilis, dari mulai composing lagu hingga koreografi, yang akhirnya membuat mereka dijuluki “self-producing” idol group. Tahun ini, mereka tak hanya merilis banyak K-Pop hits seperti “Very Nice” dan yang terbaru, “Boom Boom”, tapi juga “Check-In”, sebuah single dari hip-hop mixtape milik Hip-Hop Unit mereka yang terdiri dari S.Coups, Wonwoo, Mingyu, dan Vernon. With tropical beat and laidback feels, keempat rapper tersebut menunjukkan skill masing-masing and just vibing with each other dengan latar Hong Kong yang sangat picturesque. Seriously, warna-warni vibrant dan lanskap arsitektur dalam MV ini adalah pure aesthetic orgasm. Every scene is like a screencap from Wong Kar Wai’s movies. Dengan shout out untuk kota-kota dunia yang telah mereka kunjungi (termasuk Jakarta!) ditambah nuansa restless youth yang kental, this MV feels so uplifting and hopeful yang mampu mendorongmu untuk menyiapkan backpack and travel abroad with your crew.

 

3. Blackpink – “Whistle”

 

Sebagai girl group pertama yang lahir dari YG Entertainment sejak 2NE1 muncul tujuh tahun lalu dan meraih status legend dalam dunia K-Pop, Blackpink yang terdiri dari Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa mengemban banyak antisipasi dan prasangka positif maupun negatif jauh sebelum mereka akhirnya resmi debut dengan single album bertajuk Square One bulan Agustus lalu yang kemudian secara instan berhasil meraih respons yang totally worth the hype lewat dua debut single mereka, “Boombayah” dan “Whistle”. While “Boombayah” is a party banger, “Whistle” is a slick minimalist hip-hop yang genius. Saat menonton MV “Whistle” untuk pertama kalinya, it takes only literally the first three seconds to fell in love with this song. Lagu yang diproduksi oleh Teddy Park dan Future Bounce ini dibangun oleh melodi drum ‘n’ bass yang terdengar minimal dan sparse namun sangat infectious yang diperkuat oleh killing rap parts, country guitar di bagian chorus yang totally unexpected, dan tentu saja, bunyi siulan yang melekat di kepala ever since. Semua racikan tersebut memang terdengar agak ganjil pada awalnya, but somehow it feels so right, dan tanpa kamu sadari, kamu pun akan terhipnotis melihat visual cantik yang disajikan di MV-nya, dengan keempat personel yang memiliki daya tarik masing-masing yang sama kuat, dan tanpa sadar you will get down with this song. Dengan follow up singles seperti “Playing With Fire” dan “Stay” dari Square Two yang sama kerennya dari segi sounds dan visual, Blackpink is the best rookie group in 2016, no objection.

2. BTS – “Blood Sweat & Tears”

No matter what the antis might say, 2016 is the year of BTS. Setelah trilogi Most Beautiful Moment in Life yang melesatkan karier mereka ke strata atas grup K-Pop kontemporer, grup besutan Big Hit Entertainment yang terdiri dari 7 orang personel ini pun merilis album kedua mereka, Wings, pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dan langsung memecahkan berbagai rekor di sana-sini. Pertama kali muncul di tahun 2013 sebagai grup berkonsep hip-hop dengan image bad boys, dalam perjalanan kariernya, BTS yang juga dikenal dengan nama Bangtan Boys (Bulletproof Boy Scouts) menjelma sebagai grup dengan image dan konsep yang semakin matang tanpa melupakan cara bersenang-senang lewat musik dan koreografi yang standout. “Blood Sweat & Tears” yang menjadi single utama dari Wings adalah narasi tentang kehidupan dan kematian dengan inspirasi utama dari novel Demian karya Herman Hesse yang dikemas dalam sebuah produksi musik ambisius yang menggabungkan electronic, synthpop, rap, hingga moombahton dengan MV yang sangat artistik. Set the bar really high for the other groups, tidak heran jika BTS tahun ini dinobatkan sebagai Artist of the Year dalam gelaran Mnet Asian Music Awards dan menjadi grup pertama di luar perusahaan Big 3 (SM, YG, JYP) yang meraih penghargaan tersebut.

1. Big Bang – “Fxxk It”

Kalau saja Big Bang tidak merilis album penuh mereka MADE di penghujung akhir tahun ini, posisi nomor satu ini akan diduduki oleh BTS. Dibandingkan hits sebelumnya seperti “Bang Bang Bang” dan “Fantastic Baby” yang heboh, “Fxxk It” lebih dekat dengan “We Like To Party” yang terdengar easy going and chill. Dibuka oleh Taeyang dengan verse berbahasa Inggris yang fasih, “Fxxk It” adalah lagu electro hip-hop mid-tempo dengan nuansa tropical beat dan efek woozy pada detailnya di mana setiap member mendapat porsi yang seimbang untuk bersinar. MV yang disutradarai oleh Seo Hyun-Seung menampilkan para personel Big Bang hanging around di daerah Cheongju, dari sebuah kamar sederhana hingga ke sebuah club, like a group of rascals yang mengingatkan pada masa-masa remaja mereka di awal karier sebelum akhirnya menjadi salah satu legend di dunia K-Pop. Bersama-sama menjalani satu dekade penuh perjuangan, more than just old friends, mereka mungkin sudah seperti keluarga sendiri dan hal itu terlihat di MV ini yang terasa apa adanya tanpa pretensi. Meskipun jelas mereka mengusung semangat “semau gue”, tak bisa dipungkiri jika ada kedewasaan yang terpancar dari dinamika di antara para member di MV ini. As a last hurrah sebelum mereka bergantian menjalani wajib militer, lagu ini seperti pesta perpisahan yang santai dan intimate bagi para member dengan fans setia mereka. Mungkin butuh waktu cukup lama sebelum mereka bisa kembali dengan formasi utuh, but we sure will wait for these kings to return.

 

Advertisements

On Stage: Neon Lights Singapore 2016

Dipenuhi deretan headliners memukau dari berbagai genre, Neon Lights 2016 berhasil memancing 15 ribu penonton untuk berbesar hati menerjang hujan badai dan genangan lumpur di Fort Canning Park, Singapura.

Saat menulis artikel ini, sepatu saya belum sepenuhnya bersih dari sisa-sisa lumpur pada festival musik dan seni yang berlangsung 26-27 November 2016 tersebut. Yup, hujan badai yang turun sejak siang hari di hari pertama membuat area perbukitan Fort Canning menjadi lautan lumpur. Untungnya, ribuan penonton tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu and still having fun dengan mengenakan poncho ataupun bertelanjang kaki dan mandi hujan, after all that’s the spirit of outdoor music festival! Dibandingkan Laneway, Neon Lights sendiri adalah festival yang masih terbilang baru. Namun, meskipun baru menginjak tahun kedua, Neon Lights tampak siap menjadi sebuah annual event yang wajib dikunjungi tak hanya berkat lineup yang keren, tapi juga penekanan pada kata “festival” itu sendiri. Selain aksi musisi regional dan internasional, kita juga bisa melihat berbagai aktivasi seru seperti performance art, spoken word poetry, graffiti painting, light installations, dance showcases, hingga teater musikal yang bercerita tentang sejarah skena punk setempat. With the all good memories, I’ll tell you what really happened.

 

Day 1 – 26 November

Foals
Foals

Hujan deras yang mengguyur Singapura dari siang membuat saya baru bisa tiba di Fort Canning sekitar jam 5 sore dan terpaksa melewatkan penampilan Chairlift dan Lucy Rose. Tanpa buang waktu, saya langsung merapat ke Fort Gate Stage untuk menyaksikan Shura yang hampir merampungkan setengah set-nya. Membawakan electronic jams seperti “Touch” dan “Indecision” yang groovy, penyanyi Inggris tersebut menjadi pembuka yang manis bagi Neon Lights pertama saya. Selesai Shura, saya menyempatkan waktu untuk mengenal medan Fort Canning terlebih dahulu. Dibagi menjadi dua stage utama dan empat stage kecil yang letaknya lumayan berjauhan, kita harus pintar-pintar mengatur waktu untuk mengejar artis yang mau kita lihat. Sembari menunggu jadwal Foals tampil di Fort Green Stage, saya masih sempat melihat Gentle Bones membawakan dua lagu terakhir. Menjadi musisi Singapura yang tampil di jam dan stage utama, kualitas singer-songwriter berusia 22 tahun tersebut memang tidak kalah dengan para musisi internasional. Mendapat posisi lumayan depan dan dekat speaker saat giliran Foals tampil, saya bisa menikmati dengan maksimal deretan hits yang dibawakan oleh kuintet asal Oxford ini. Tampil dengan energi eksplosif, vokalis Yannis Philippakis sempat berkata jika festival ini akan menjadi penampilan terakhir mereka sebelum ke studio untuk merampungkan materi-materi baru. In the mean time, Foals pun memanjakan penggemar mereka dengan lagu-lagu andalan seperti “Spanish Sahara”, “Cassius”, serta “Inhaler” yang memancing beberapa orang untuk moshing.

Crystal Castles
Crystal Castles

Bergegas kembali ke Fort Gate untuk bisa berdiri paling depan di set Crystal Castles, produser Inggris Aaron Jerome yang lebih dikenal dengan nama SBTRKT belum menuntaskan DJ set-nya yang meliputi garage, UK bass, hip-hop, hingga remix “Midnight Request Line” milik Skream. Sambil menunggu kru menyiapkan panggung, terdengar juga racikan elektronik eklektik milik Gold Panda dari tenda di belakang Fort Gate Stage. Sempat bimbang untuk melihat sejenak Gold Panda, lampu stage padam yang artinya Crystal Castles sudah siap tampil. Songwriter/producer Ethan Kath naik ke panggung diiringi lampu strobe yang menghipnotis dan mulai memainkan synth-nya sebelum disusul oleh vokalis Edith Frances. Dengan rambut pink dan vokalnya yang setengah berteriak, Edith tampil seperti orang kesetanan yang tak lelah menarik atensi penonton dengan berbagai cara. Mulai dari naik ke speaker hingga berguling di lumpur, more reason to be hyped up! Repertoire dari album pertama hingga album terbaru mereka Amnesty (I) pun disajikan dengan sangat intens. It’s definitely a highlight for the first day!

Selesai digempur habis-habisan oleh Crystal Castles yang menutup Fort Gate Stage, masih ada penampilan Neon Indian di Fort Green Stage, namun sebelum ke sana, saya tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi Silent Disco yang berada di area Easy Street samping Fort Gate. I always love Silent Disco! Bayangkan sekumpulan orang memakai headset yang terdiri dari tiga channel (biru, merah, hijau) di mana ada tiga orang DJ di DJ deck yang mengisi 3 channel tersebut dengan playlist masing-masing yang sangat bertolak belakang. Saat kamu sedang asik mendengarkan Chainsmokers, bisa saja orang di sebelahmu sedang menyanyikan keras-keras lagu Nirvana atau sedang heboh berjoget reggae, it was fun and crazy! Saking serunya, saya tidak sadar telah berada di Silent Disco selama lebih dari setengah jam sebelum akhirnya beranjak ke Fort Green Stage untuk mengintip aksi Alan Palomo dan rekannya di Neon Indian. Sayangnya, penampilan mereka diganggu beberapa kendala teknis dan gerimis yang kembali turun membuat sebagian penonton beranjak pulang. Hal itu tak membuat Neon Indian kecil hati dan tetap maksimal membawakan singles juara seperti “The Glitzy Hive”, “Should Have Taken Acid with You”, dan ditutup oleh “Polish Girl”.

Day 2 – 27 November

The Tallest Man on Earth
The Tallest Man on Earth

Hari kedua Neon Lights masih dibayangi awan mendung dan udara lembap, namun untungnya tidak turun hujan deras seperti hari sebelumnya. But still, lapangan rumput Fort Canning masih berupa lautan lumpur yang cukup dalam dan licin. Sialnya sepatu yang saya pakai di hari sebelumnya masih basah dan saya pun terpaksa memakai sandal hotel, which is obviously bad decision karena tak butuh waktu lama sebelum sandal itu copot terbenam lumpur. Melihat orang-orang sekitar cuek bertelanjang kaki, saya pun nyeker sambil membayangkan ini semua adalah mud spa. Anyway, artis yang pertama saya lihat di hari kedua adalah The Tallest Man on Earth yang merupakan solo project dari singer-songwriter asal Swedia, Kristian Matsson. Ternyata beliau baru saja cerai dari istrinya dan masih galau, sehingga lagu-lagu ballad yang dibawakan dengan gitar akustiknya pun membuat suasana di Fort Gate Stage makin terasa syahdu dan intim.

Blood Orange
Blood Orange

Selesai bergalau ria, saya menuju Fort Green Stage untuk menunggu giliran Blood Orange. Proyek musik R&B electronic yang digawangi oleh Dev Hynes ini memang menjadi salah satu incaran utama saya dan saya pun rela menunggu di depan stage. Hasilnya tentu tidak mengecewakan. Membuka penampilannya dengan single “Augustine” dari album Freetown Sound, Dev adalah seorang performer ulung serba bisa yang membuat kita tak bisa berhenti kagum. Mulai dari menyanyi, mencabik gitar, memainkan synth, hingga menari sepanjang stage dengan latar gedung-gedung New York City semuanya dilakukan dengan sangat atraktif. It’s all a grand tribute to 80’s NYC! Disokong oleh band pendukung dan backing vocal yang sama kerennya, penampilan selama 45 menit dari Blood Orange terasa berlalu begitu cepat dan membuat hampir semua penonton bertahan dan meminta encore. Blood Orange’s solo show in the near future, dear promoters?

Jose Gonzalez
Jose Gonzalez

Setelah Blood Orange adalah giliran penyanyi kebanggaan Malaysia, Yuna, yang akan tampil di Fort Green Stage. Yang sayangnya bentrok dengan jadwal José González di Fort Gate Stage. Dengan pertimbangan saya akan menyaksikan Yuna di Jakarta seminggu setelahnya, saya pun memutuskan untuk menunggu Jose Gonzalez saja. Persiapan yang cukup lama membuat saya sempat mengintip beberapa stage kecil yang diisi oleh performance yang seru, dari mulai ensemble musik tradisional Melayu hingga poetry reading. Ketika akhirnya José González naik panggung, the feel is so surreal. I mean, hanya memakai kaus oblong, berjenggot tebal, dan memeluk gitar Alhambra favoritnya, pria berusia 38 tahun ini terlihat seperti sosok kultus yang sedang menyampaikan kotbah dengan suara husky dan lirik-lirik syahdu bagi para jemaatnya. Alam raya pun seperti bersekongkol. Semilir angin yang sejuk, bintang yang malu-malu di balik awan, dan penonton yang tenggelam dalam khidmat (beberapa bahkan terlihat menangis) membuat penampilan José González sebagai pengalaman yang magis dan membangun mood yang tepat untuk penampilan selanjutnya, Sigur Rόs.

Sigur Ros
Sigur Ros

            Datang jauh-jauh dari Islandia, band post-rock legendaris ini telah memukau pendengar musik dari berbagai generasi berkat musik mereka yang surgawi. Band yang kini terdiri dari Jόnsi, Goggi, dan Orri ini menyapa penggemar lama mereka dengan beberapa lagu dari album-album terdahulu seperti “Starálfur” dan “Popplagið” sebelum membawakan materi dari album ketujuh, Kveikur. Diperkuat oleh sajian visual dan lighting yang turut membangun atmosfer, segala elemen khas dari Sigur Rόs yang meliputi vokal falsetto Jόnsi, classical dan minimalist aransemen yang dipadu oleh wall-of-sounds post rock yang eksplosif membuat seluruh crowd di Fort Canning seperti tersihir dan hanya bisa terpana. Bagaimanapun, menyaksikan Sigur Rόs secara live adalah sensasi sounds & visual yang sangat memorable. Melihat penonton yang berangsur pulang dengan senyuman puas meski kaki tenggelam dalam lumpur, Neon Lights 2016 pun ditutup with high notes!

 Foto oleh: Andandika Surasetja.

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

Minty Fresh: Five Fresh Acts To Add On Your Playlist This Month.

sofi-tukker

SOFI TUKKER

Berawal dari perkenalan di sebuah galeri seni, penyanyi bossa nova Sophie Hawley-Weld dan DJ asal Boston bernama Tucker Halpern yang sama-sama berkuliah di Brown University dengan cepat menjadi kawan karib berkat instant chemistry dan ketertarikan yang sama terhadap budaya dan musik Amerika Latin. Setelah keduanya lulus dari Brown, mereka memutuskan pindah ke New York untuk membentuk duo folk-dance bernama Sofi Tukker yang menyajikan musik electronic dengan sentuhan musik Latin yang terdiri dari beat house adiktif, dentuman gitar elektrik, alat musik tradisional seperti bongo dan charango, serta lirik berbahasa Portugis yang terinspirasi oleh tulisan penyair Brazil legendaris, Chacal. Hal itu mungkin terdengar aneh di atas kertas, tapi jika kamu telah mendengar beberapa single awal seperti “Drinkee” (yang dipakai dalam komersial Apple Watch baru-baru ini), “Matadora”, dan “Hey Lion” yang terkompilasi dalam debut EP bertajuk Soft Animals, kamu akan jatuh cinta dengan cepat kepada duo yang kini berada di bawah naungan HeavyRoc Music, label milik The Knocks tersebut. Bagi mereka, membuat musik dance adalah hal yang sebetulnya bersifat spiritual. Sophie yang juga merupakan seorang pengajar yoga mengaku terinspirasi oleh chants dari Kundalini yoga yang berulang-ulang untuk menciptakan ambience yang mengajak pendengarnya terserap dalam vibrasi ritmis. Now you know why there’s something hypnotic about their music.

chaz-french

Chaz French

Dengan hasil observasi dari lingkungan sekitarnya, Chaz French yang merupakan rapper asal Washington D.C. menghabiskan masa sekolahnya dengan menulis lirik lagu rap di buku pelajaran dan merekam mixtape berisi 15 lagu di basement milik temannya. Namun, baru setelah akhirnya drop out dari sekolah dan berkeluarga, ia merilis album debut dengan judul Happy Belated pada April tahun lalu yang dipenuhi passion, soul, serta authenticity yang tidak mungkin bisa ditiru oleh orang yang tidak pernah merasakan getirnya hidup. Membawa warna baru terhadap kultur hip hop di D.C., ia kemudian meraih momentumnya bersama mixtape teranyarnya These Things Take Time akhir tahun lalu yang diakuinya jauh lebih kohesif dan mendapat respons gemilang tidak hanya dari pendengar dan jurnalis, tapi juga dari sesama musisi seperti Pusha T. Dalam video untuk single terbarunya “IDK” yang disutradarai oleh Shomi Patwary, rapper berusia 24 tahun ini mengajak kita menelusuri jalanan D.C.  dengan konsep yang terinspirasi dari situasi nyata tentang life struggle dan kenyataan hidup yang keras. Baru-baru ini, ia juga berkolaborasi dengan singer-songwriter R&B Kevin Ross dalam single “Be Great” yang mengangkat soal ketegangan rasial dan kebrutalan polisi dalam komunitas African-American beberapa tahun terakhir ini. Namun, bukan berarti jika musik yang ia buat hanya mengumbar kepahitan saja, karena di balik kemampuannya untuk melontarkan lirik yang brutally honest dengan kecepatan senapan mesin, there’s always something melodic and of course, the silver lining.

cullen-omori

Cullen Omori

Rasanya selalu menyebalkan saat mendengar kabar band favoritmu memutuskan bubar karena masalah internal, seperti yang dialami oleh Smith Westerns. Disebut sebagai salah satu band indie-rock paling exciting sejak merilis album Dye It Blonde di tahun 2011 dengan pengaruh garage rock yang pekat, band asal Chicago tersebut memutuskan bubar tahun lalu. Tapi untungnya, para personelnya tidak lantas pensiun dari musik begitu saja. Dalam jeda waktu yang hampir bersamaan, para bekas personel Smith Westerns muncul dengan proyek musik masing-masing. Bagi sang mantan vokalis dan gitaris, Cullen Omori, proyek itu adalah album solo perdananya dengan judul New Misery yang dirilis oleh label Sub Pop bulan Maret kemarin. Direkam tahun lalu dalam sebuah sesi recording selama sebulan penuh di Brooklyn, album berisi sebelas lagu ini ditulis dalam masa-masa yang membingungkan bagi pria keturunan Jepang berusia 25 tahun tersebut. Telah mulai pergi tur saat berhenti sekolah di tahun 2009, Cullen harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa kegiatan band dan melakoni pekerjaan part time di sebuah rumah sakit selama beberapa waktu. Lucky for him, album ini tidak lantas menjadi rekaman gundah gulana penuh nestapa. Lewat single seperti “Sour Silk” dan “Cinnamon”, Cullen pun menunjukkan elemen-elemen terbaik dari band terdahulunya yang dipenuhi aesthetic power pop penuh reverb dan catchy hooks yang mengiringi vokal Cullen yang masih terdengar dreamy seperti sosok cowok paling misterius di sebuah SMA daerah suburban Amerika. Diperkuat dengan mood dan lirik yang lebih gelap, he’s more than ready to take the center stage.

the-britanys

The Britanys

Tak lama setelah tiga sekawan Steele Kraft, Lucas Long, dan Gabe Schulman menjadi roommates di kampus dan memutuskan membuat band bareng, mereka mencari nama bayi perempuan paling populer di tahun 1994 (tahun kelahiran mereka) di Google. Hasilnya adalah Brittany, namun akibat salah tulis, mereka terlanjur mendaftarkan nama domain mereka dengan nama Britany, and that’s how these NYC indie rock band got their name. Di tahun 2014 ketika masih dalam format trio, mereka merilis debut EP bertajuk It’s Alright dengan berbagai referensi rock & roll dan garage band. Tahun lalu, mereka memutuskan merekrut Jake Williams sebagai gitaris tambahan dan merilis “Basketholder”, single pertama mereka sebagai four-piece band yang diproduseri oleh Gordon Raphael (yang juga pernah memproduseri The Strokes dan Regina Spektor). Saat ini, The Britanys tak hanya berkutat dengan jadwal latihan empat kali seminggu di basement apartemen mereka di daerah Bushwick, mereka juga sedang aktif menjadi pembuka untuk band seperti Hinds dan tampil di festival seperti Savannah Stopover Music Festival dan The Great Escape di Inggris. Dengan semua momentum positif itu, mereka pun dengan antusias menyiapkan materi-materi baru yang dirangkum dalam Early Tapes EP yang berisi 4 lagu yang akan mengingatkanmu pada materi di era awal Arctic Monkeys dan The Strokes.

littlesims

Little Simz

Bersenjatakan lirik rap yang dibawakan dengan penuh intensitas dan flow yang tak terbendung, Simbi Ajikawo adalah seorang rapper belia asal London yang memakai nama alias Little Simz dan membuktikan jika dedikasi serta passion memang menjadi kunci kesuksesan bagi seorang musisi muda. Menulis lagu pertamanya di umur sepuluh tahun, Little Simz sudah tahu apa yang ingin ia raih dan kerjakan di saat anak-anak seumurnya masih clueless dan belum memikirkan soal future career. Hasil kegigihan dan talenta alaminya membuahkan album debut berjudul A Curious Tale of Trials + Persons yang dirilis di bawah label miliknya sendiri yang bernama Age 101. 10 lagu di dalamnya merupakan hasil jerih payahnya bekerja di akhir pekan demi bisa membeli mic dan mengasah bakatnya di kamar tidurnya dengan inspirasi dari musisi-musisi favoritnya seperti Lauryn Hill, Missy Elliott, dan Dizzee Rascal. Tak hanya menulis dan memproduksi musik, as a part of the millennial musicians, dia juga belajar secara otodidak caranya menyunting video musiknya sendiri dan merilis beberapa mixtape di akun SoundCloud miliknya yang meraup 50 ribu followers bahkan sebelum akhirnya ia mendapat kontrak dari Mos Def, J. Cole, dan Kendrick Lamar. Now, that’s girl power.

 

Filmstrips: Cannes 2016 Movie Picks Part. 2

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival yang tahun ini telah memasuki tahun ke-69 telah diselenggarakan pada tanggal 11-22 Mei lalu dan kembali menjadi barometer penting bagi perkembangan sinema dunia di mana tercatat 21 film berkompetisi memperebutkan Palme d’Or, 18 film di seleksi Un Certain Regard dan 10 film pendek telah ditayangkan dalam perhelatan tahun ini. Berikut adalah seleksi film yang harus masuk dalam watch list.

Click here for the part one.

personal-shopper

Personal Shopper

Setelah berkolaborasi dalam Clouds of Sils Maria yang mendapat apresiasi positif, sutradara Olivier Assayas kembali menggandeng Kristen Stewart dalam film terbarunya yang bergenre thriller ini. Kristen berperan sebagai Maureen Cartwright, seorang gadis Amerika di Paris yang bekerja sebagai personal shopper untuk selebriti bernama Kyra (Nora von Waldstätten) di mana ia tak hanya dihantui oleh klien yang demanding, tapi juga teror tak kasatmata dari bayangan saudara kembarnya yang telah meninggal dan pesan-pesan misterius dari nomor tak dikenal yang mendorongnya melakukan perbuatan buruk di luar zona nyamannya.

Julieta

Julieta

Kembali menelusuri female-centric drama yang menjadi andalannya, Pedro Almodóvar menampilkan akting gemilang dari Emma Suarez dan Adriana Ugarte yang keduanya memerankan Julieta sang tokoh utama dalam film yang berdasarkan tiga cerita pendek dalam antologi Runaway karya Alice Munro ini. Julieta di usia paruh bayanya (Suarez) adalah wanita Madrid yang berusaha menata hidupnya setelah tragedi yang menimpa suaminya, Xoan (Daniel Grao). Putri satu-satunya, Antia (Blanca Parés) melarikan diri tanpa penjelasan apapun saat berumur 18 tahun dan pencarian berbekal sekelumit info hanya membuka kenyataan jika ia tidak pernah benar-benar mengenal putrinya.

Neon Demon

The Neon Demon 

Dibintangi oleh aktris-aktris muda seperti Elle Fanning, Abbey Lee, dan Bella Heathcote, film terbaru Nicolas Winding Refn ini mengambil latar dunia fashion Los Angeles di mana Jesse (Fanning) seorang model 16 tahun direkrut oleh seorang desainer eksentrik (Alesandro Nivola) sebagai muse dan seketika menjadi the It model yang menjadikannya target kecemburuan dari wanita-wanita yang terobsesi pada kecantikan untuk merebut apa yang mereka tidak miliki dalam diri Jesse: youth & innocence. Jesse pun membuka tabir dunia fashion yang walau terlihat gemerlap namun ternyata penuh darah, skandal, dan obsesi liar.

 the-handmaiden-is-an-upcoming-south-korean-film-based-on-the-novel-fingersmith-by-sarah-waters-being-directed-by-park-chan-wook-and-starring-kim-min-hee-ha-jung-woo-and-kim-tae-ri

The Handmaiden

Dikenal sebagai sutradara Korea dengan tendensi humor gelap yang brutal, Park Chan-wook membawa adaptasi novel Fingersmith karya Sarah Waters yang berlatar di Inggris masa Victorian ke Korea di masa kependudukan Jepang di tahun 1930-an. Nam Sook-hee (Kim Tae-ri), seorang gadis pencopet terlibat dalam rencana jahat Count Fujiawara (Ha Jung-woo), seorang penipu ulung yang berpura-pura menjadi bangsawan Jepang demi menikahi dan merebut harta Lady Hideko (Kim Min-hee), seorang wanita Jepang kaya yang tinggal di bawah asuhan pamannya, Kouzuki (Cho Jin-woong). Menyamar sebagai pelayan, rencana Sook-hee berantakan ketika sang target justru jatuh cinta padanya dan seiring waktu menguak lapis demi lapis rahasia.

i_daniel_blake_no_film_school_interview

I, Daniel Blake

Daniel Blake (Dave Johns) adalah seorang pengrajin kayu berusia 59 tahun di daerah Newscastle Inggris yang terkena serangan jantung dan memutuskan mendaftarkan diri untuk menerima bantuan pemerintah lewat program Employment and Support Allowance. Dipusingkan oleh masalah birokrasi yang rumit dan petugas pemerintah yang tidak kooperatif, ia bertemu single mother bernama Katie (Hayley Squires) dan kedua anaknya yang demi melarikan diri dari ancaman tinggal di penampungan kaum homeless di London harus berjuang memiliki sepetak tempat tinggal. Mengangkat isu kondisi ekonomi dengan humanis, film garapan sutradara Ken Loach (yang telah berusia 80 tahun) ini berhasil mendapat penghargaan tertinggi Palme d’Or di Cannes tahun ini.

 

Filmstrips: Cannes 2016 Movie Picks Part. 1

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival yang tahun ini telah memasuki tahun ke-69 telah diselenggarakan pada tanggal 11-22 Mei lalu dan kembali menjadi barometer penting bagi perkembangan sinema dunia di mana tercatat 21 film berkompetisi memperebutkan Palme d’Or, 18 film di seleksi Un Certain Regard dan 10 film pendek telah ditayangkan dalam perhelatan tahun ini. Berikut adalah seleksi film yang harus masuk dalam watch list.

CFday25-580.jpg

Captain Fantastic

Dalam film kedua karya Matt Ross ini, Viggo Mortensen memerankan Ben Cash, seorang single father eksentrik dan idealis yang membesarkan 6 anaknya sendirian di sebuah daerah hutan Pacific Northwest di mana mereka menjalani hidup terisolasi dari  peradaban kapitalis sampai suatu hari istri Ben yang mengidap bipolar tewas bunuh diri di sebuah rumah sakit jiwa dan memaksa keluarga ini keluar dari surga kecil mereka dan menempuh perjalanan selama lima hari mengendarai bus keluarga (yang diberi nama Steve) ke New Mexico, tempat prosesi pemakaman akan digelar. Tak hanya bertanggungjawab pada 6 anak yang mengalami culture shock di dunia luar, Ben juga harus menghadapi ayah mertuanya (diperankan Frank Langella) yang mempertanyakan kemampuan Ben sebagai orangtua dan caranya membesarkan anak.

Cafe Society

Café Society

Didaulat sebagai opening movie untuk Cannes tahun ini, film komedi-drama garapan Woody Allen ini bercerita tentang Bobby Dorfman (Jesse Eisenberg) seorang pemuda lugu asal Bronx yang pindah ke Hollywood di tahun 1930-an di mana ia jatuh cinta dengan gadis bernama Vonnie (Kristen Stewart) yang merupakan sekretaris pamannya, Phil (Steve Carell). Berlatar kehidupan high society di industri sinema Hollywood dan bisnis nightclub di New York tahun 30-an yang dipenuhi bintang film, sosialita, politisi, dan gangster, Bobby pun menemukan dirinya terjebak dalam peliknya cinta segi tiga sambil berusaha menjadi man of the world di zaman yang penuh konflik dan keglamoran.

American Honey

American Honey

Film keempat sekaligus film pertama sutradara Andrea Arnold yang dibuat di luar Inggris ini menceritakan gadis 18 tahun bernama Star (peran debut dari pendatang baru Sasha Lane) yang bergabung dengan grup remaja terlantar di sebuah “magazine crews” pimpinan Jake (Shia LaBeouf) yang bersama-sama berkeliling Amerika Serikat untuk menjual paket langganan majalah dari rumah ke rumah. Dipenuhi ikonografi Amerika seperti highway daerah Midwest yang seakan tanpa ujung hingga bikini bermotif bendera Konfederasi yang dikenakan tokoh antagonis Krystal (diperankan oleh Riley Keough, cucu Elvis Presley), film ini menyibak hedonisme, kriminalitas, dan eksplorasi seksual di balik konsep American Dream dan berhasil memenangkan Prix du Jury tahun ini.

after the storm

After The Storm

Setelah kematian ayahnya, bekas penulis berbakat Ryota Shinoda (Hiroshi Abe) menghamburkan uang yang ia dapat sebagai private detective untuk berjudi sementara ibunya (Kirin Kiki) dan mantan istrinya (Yoko Maki) berusaha menjalani hidup mereka masing-masing. Mencoba memperbaiki hidupnya, Ryota menemukan arah hidup dalam diri anak lelakinya, Shingo (Taiyo Yoshizawa). Sebuah badai taifun tanpa disangka memberikan kesempatan bagi keluarga yang retak ini untuk memperbaiki hubungan mereka. Dikenal lewat film-film bertema keluarga, sutradara Hirokazu Kore-eda kembali menyajikan drama bittersweet yang akan membuatmu kembali mengapresiasi arti keluarga.

Apprentice

Apprentice

Mengangkat tema hukuman mati yang menjadi isu kontroversial di kawasan Asia Tenggara, film garapan sutradara Singapura Boo Junfeng ini berkisah tentang Aiman (Fir Rahman) seorang sipir muda yang baru diterima bekerja di Penjara Larangan dengan membawa motif personal. Ayahnya mati digantung di penjara yang sama dengan tempatnya bekerja sekarang di bawah pimpinan Rahim (Wan Hanafi Su) sang chief executioner yang mengeksekusi ayahnya. Aiman pun terjebak dalam pergulatan batin antara keinginan balas dendam dan secara ironis menemukan sosok ayah dalam diri pembunuh ayahnya.