Eyes Wide Open, An Interview With Nasya Marcella

Selayaknya langit malam, dunia layar kaca tak pernah sepi akan bintang-bintang yang terus melesat berkilauan. But once in awhile, selalu ada sosok-sosok tertentu dengan pijar tersendiri yang lebih dari paras cantik belaka. Kami pun menemukan that something special thing dalam diri Nasya Marcella yang simply irresistible. Mari buka mata lebar-lebar untuknya.

img_8681

Dibesarkan di zaman ketika televisi masih menjadi sumber hiburan utama di rumah, jujur saja, saya termasuk anak yang tumbuh dengan menonton sinetron lokal for guilty pleasure dan karena memang kurangnya pilihan tontonan lain saat itu. Namun, seiring bertambahnya umur dan kesibukan (and dwelling in YouTube, obviously) saat ini saya termasuk orang yang hampir tidak punya waktu untuk menonton stasiun televisi lokal. Alhasil, saya nyaris tidak familiar lagi dengan para pendatang baru yang menghiasi layar kaca Indonesia saat ini. Tapi sebagai pekerja media, terkadang saya merasa perlu menyempatkan diri untuk tune in sejenak di stasiun-stasiun TV lokal demi meng-update diri sendiri soal who’s who in television nowadays (and the local infotainment buzz, for another guilty pleasure) dan tidak butuh waktu lama untuk mengetahui fakta jika sinetron tampaknya memang masih mendominasi jam-jam prime time televisi lokal dengan deretan wajah-wajah rupawan yang mostly berdarah Kaukasia.

Some things never really change, I guess. Namun, seperti yang sudah sempat saya singgung sebelumnya di atas, dari sekian banyak bintang-bintang muda yang silih berganti muncul di layar perak dengan talentanya masing-masing, pasti ada saja segelintir nama yang memiliki sparkle tersendiri yang seolah mengundang kita untuk mengenalnya lebih jauh. Dan Nasya Marcella adalah salah satu di antaranya. Cantik? Itu sudah pasti. Dengan pembawaan girl next door yang sangat manis dan senyuman berlesung pipit yang teduh, dara bernama lengkap Victoria Nasya Marcella Tedja tersebut memang terlihat selayaknya gadis impian yang menjadi the object of affection dalam kisah-kisah komedi romantis. It’s easy to fell in love at the first sight with her saat melihatnya di berbagai judul-judul sinetron atau iklan yang ia bintangi, namun saat melihatnya secara langsung di malam final NYLON Face Off akhir tahun lalu, saya harus mengakui jika she’s even prettier in real life. Dengan senyum radiant yang seolah menular dan kepribadian super sweet, ditunjang perannya sebagai brand ambassador untuk label kosmetik remaja Emina, it’s really no brainer jika kami memilihnya sebagai cover girl edisi Beauty tahun ini.

            Di sebuah pagi di pertengahan bulan Januari lalu, ia datang tepat pada jam yang telah ditetapkan untuk pemotretan ini. Memakai kemeja blus bermotif gingham warna pastel dengan jeans putih yang senada, ia melepas kacamata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya untuk menyapa kami dengan senyuman manis. Ditemani oleh sang mama yang selalu setia mengantarnya memenuhi berbagai jadwal, ia pun duduk dengan sabar menunggu tim makeup & hair datang sambil sesekali mengecek smartphone miliknya. Untuk mencairkan suasana, saya pun bertanya tentang kesibukannya akhir-akhir ini yang dijawabnya dengan antusias. “Kemarin terakhir itu habis main film layar lebar judulnya Abdullah dan Takeshi, sebetulnya belum selesai, masih ada satu hari lagi untuk syuting tapi jadwalnya belum ketemu sama yang lain. Sama paling photoshoot-photoshoot gitu sih. Ini film pertama aku, seneng banget, terus udah gitu syutingnya ke Jepang juga!” paparnya ceria.

            Saat tim makeup & hair akhirnya tiba, interview ini pun kami lanjutkan di depan meja makeup. Sambil membiarkan wajah segarnya mulai dirias, ia melanjutkan ceritanya soal film debutnya tersebut yang turut dibintangi oleh Kemal Palevi dan Dion Wiyoko. Bergenre komedi, dalam film yang direncanakan tayang bulan Maret ini Nasya berperan sebagai seorang mahasiswi yang terjebak dalam perebutan dua pria berdarah Arab dan Jepang yang tertukar saat lahir. Proses syutingnya sendiri di Jepang hanya berlangsung selama empat hari, namun Nasya harus extend beberapa hari ekstra untuk syuting iklan terbaru Emina sekaligus merayakan ulang tahun ke-19 yang jatuh di tanggal 9 Desember silam. “Itu pas ulang tahun pas aku lagi syuting, tapi sebelum ulang tahun aku justru punya free time ke Disneyland sama mama berdua dari pagi sampai malam. Ulang tahun di Jepang seneng sih, tapi karena lagi jauh jadi ngerayainnya cuma aku sama mama dan tim Emina, karena tim film udah pada pulang. Ulang tahun nggak ketemu sama keluarga… Agak gimana gitu rasanya… Tapi aku tetap teleponan sama keluarga, mereka ngucapin happy birthday. Agak sedih sih karena nggak ketemu langsung, sama teman-teman juga. Tapi pas aku pulang dan sampai di Jakarta aku dapet surprise juga sama temen-temen, hehe,” ungkap gadis Sagittarius tersebut tanpa bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.

img_8977

Walaupun saat ini sudah tergabung dalam sebuah manajemen artis, Nasya mengaku ia masih lebih suka ditemani sang mama ke mana saja. Tak hanya menjadi sahabat dan sosok manajer pribadi, sang mama juga yang menjadi pendukung utama ketika ia memutuskan terjun ke dunia entertainment. Lahir dan besar di Jakarta, anak tengah dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan tersebut memulai kariernya sejak kelas satu SMP di tahun 2010 lewat beberapa iklan dan ajang modeling. Lain dari yang sempat saya perkirakan, walaupun sepintas dari wajahnya terlihat memiiki darah blasteran, Nasya mengaku jika orangtuanya berdarah Jawa tulen. “Cuma masih ada kakek di Semarang, jadi setahun sekali aku pulang ke Semarang. Mungkin di keluarga, aku memang kaya beda sendiri gitu, kayanya aku paling belo deh di keluarga makanya dulu sering disuruh coba aja jadi artis, padahal di keluarga aku memang nggak ada yang sama sekali di dunia entertainment. Awalnya coba sih karena penasaran aja, aku casting sama ikut modeling yang di mall gitu, karena nggak ada basic jadi awalnya nggak tau harus ngapain juga, tapi terus mama daftarin les modeling yang berguna banget karena dulunya aku memang anaknya cuek banget sih, lewat les itu aku jadi belajar dandan, belajar pakai baju yang bagus kaya gimana, belajar jalan, sama ngelatih kepribadian aku juga,” ceritanya mengenang awal perjuangannya sebelum akhirnya masuk ke dunia sinetron yang membesarkan namanya.

“Kalau sinetron sendiri baru pas kelas 9, mau masuk SMA. Awalnya juga nggak kepikiran main sinetron sama sekali karena masih sekolah, tapi ya udah iseng aja ikut casting terus ternyata dipanggil diajak main sinetron yang sudah tayang. Aku pikir seru juga karena syutingnya kaya jalan-jalan, ke Puncak, ke Anyer… Tapi ternyata nyita waktu, akhirnya pas SMA aku sempat sekolah reguler tapi terus keluar dan home school. Tapi home school-nya masih ada kelasnya juga jadi nggak boring. Sekelas ada sekitar 10 orang, aku tetap cari yang ada temannya juga sih, nggak pengen yang bener-bener sekolah sendirian,” akunya.

Berbekal dengan keberanian mencoba hal-hal baru untuk mengembangkan bakatnya, perannya sebagai Safira di sinetron berjudul Satria yang diputar di tahun 2011 itu menjadi pengantar baginya untuk fokus di kancah sinetron dengan membintangi sinetron-sinetron selanjutnya seperti Yang Masih Dibawah Umur, Magic, Akibat Pernikahan Dini, Fortune Cookies, dan Jakarta Love Story, walaupun ia mengaku tidak memiliki basic akting sebelumnya. “Apa ya, aku belajar dari pengalaman aja, dari casting iklan kadang ada akting dan dialognya juga kan. Yang pasti sih harus rajin pelajarin skenario terus waktu itu kaya banyak nanya dulu, dimarahin sutradara pasti pernah karena nggak hapal dialog tapi lama-lama akhirnya terbiasa sih. Pokoknya jangan malu untuk bertanya, jangan malu untuk dimarahin, kalau dimarahin ya dipelajarin salahnya di mana, belajar dari kesalahan.”

Dengan kontrak bersama SinemArt, ia pun kerap beradu peran dengan para bintang muda lainnya di bawah rumah produksi tersebut. Salah satu yang cukup sering adalah dengan Stefan William, salah satu aktor muda yang paling digilai penggemar sinetron saat ini. Dengan Stefan ia sempat bermain dalam tiga judul produksi. Mau tak mau, ia pun sempat digosipkan cinta lokasi yang lantas ditampiknya halus dan dianggapnya sebagai usaha untuk membangun chemistry dengan lawan mainnya saja. Tentu saja beberapa orang tampaknya tidak semudah itu untuk diyakinkan. “Bukan cuma nanyain, ada yang sampai ngata-ngatain juga, haha! Mungkin nggak bisa dibilang haters aku sih, tapi mereka lebih kaya fans-nya Stefan sama si ini atau si itu. Mereka kaya ‘Kenapa sih Kak Stefan sama Kak Nasya?’, ‘Ih cantikan dia tau daripada Kak Nasya’, ‘Kak Nasya kan orangnya gini gini gini’… Tapi nggak sampai yang buat haters gitu sih. Aku biasa aja sih hadapinnya, lucu-lucu aja, kadang ada yang setiap aku upload apa, benar-benar dikomenin tiap foto tapi ya udah nggak apa-apa, malah bagus haha, berarti dia care sama aku,” tukas Nasya dengan santai.

Untuk menjaga hubungan dengan fans, Nasya termasuk aktif di Instagram dengan followers sejumlah 242 ribu saat artikel ini ditulis. Selain Instagram, Nasya juga mengaku aktif di Ask.fm, sebuah media sosial yang memang cukup digandrungi belakangan ini karena memungkinkan para penggunanya untuk saling mengirim dan menjawab pertanyaan secara langsung. “Kalau Twitter aku susah balesinnya, kalau di Ask.fm bisa langsung dijawab terus bisa anon juga. Sempat ada yang nanya aneh-aneh, tapi aku sering off-anon biar yang nanya harus keliatan namanya, seru sih Ask.fm.” ungkap pemilik akun nasmarcella di situs tersebut.

img_8495

Beside the occasional haters, enam tahun berkarier di entertainment, Nasya tampaknya telah cukup merasakan manis-pahitnya industri ini. Ia menyukai fakta jika lewat kariernya ia bisa bertemu dengan banyak orang dan menambah pengalaman, di samping tentunya memiliki penghasilan sendiri sehingga tidak harus merepotkan orangtuanya lagi, walaupun ia sepenuh hati sadar jika ada beberapa hal yang harus dikorbankan untuk meraih itu semua. “Ya aku jadi korbanin pendidikan. Dulu pas mulai sinetron ambil home schooling biar tetap sekolah tapi ambil jalan tengahnya, sekarang juga belum sempat kuliah. Waktu juga terkuras karena syuting. Jadwal di entertainment kan nggak tentu ya, kalau kerja kantoran kan udah tetap Senin sampai Jumat, tapi ini hari Minggu suka ada kerjaan juga jadi kadang-kadang nggak bisa ke gereja atau ke acara keluarga. Orang-orang sekitar aku jadi susah bikin janji, aku jadi nggak enak tapi kalau bisa nyusul aku pasti nyusul, misal ke acara keluarga atau ketemu temen,” bukanya dengan jujur dan tanpa pretensi.

Untuk urusan kuliah, Nasya mengaku jika beberapa jurusan yang menjadi pertimbangannya adalah Psikologi dan Komunikasi, namun jika ditanya soal passion, ia sebetulnya ingin belajar soal makeup and beauty dengan serius. Well, saat ini ia memang tidak hanya menjadi brand ambassador bagi Emina, beberapa bulan belakangan ia pun sibuk mengembangkan bisnisnya sendiri di bidang beauty, yaitu label fake eyelashes dengan nama Enlashes yang dijual secara online. “Aku memang suka makeup dan dandan, aku udah jadi brand ambassador makeup juga terus aku mikir apa lagi yang masih relate, ya udah akhirnya bulu mata, iseng-iseng dan menurut aku kalau bulu mata untuk penyimpanannya nggak perlu sampai yang punya gudang, kalau misalkan nggak laku juga aku santai aja, soalnya bulu mata kan nggak terpengaruh sama trend. Kalau jualan baju pasti ada trend kan, ini project santai banget untuk waktu luang aja,” tukasnya.

Dengan interest khusus pada makeup and beauty, ia juga percaya diri untuk merias wajahnya sendiri sebelum syuting dengan skill yang ia dapat dari menonton para beauty blogger favoritnya seperti Michelle Phan dan Peary Pie. “Kalau menurut aku makeup mereka cocok karena nggak terlalu tebel tapi variasinya banyak. Terus mereka Asian juga, jadi lebih bisa relate untuk contoh warna makeup-nya. Beauty Icon aku itu Michelle Phan karena dia keren terus orangnya keliatan ulet kerjanya, dia bisa sukses dari blogger jadi entertainer juga, bikin buku, terus kerjasama sama brand kosmetik terkenal juga,” paparnya dengan excited saat berbicara soal subjek favoritnya tersebut.

img_9564

Untuk urusan personal style, penikmat film bergenre superheroes dan young adults series seperti Hunger Games Trilogy dan The Divergent ini mengaku tidak memiliki gaya khusus untuk mendeskripsikan dirinya. Ia memilih mood untuk menentukan outfit yang ia kenakan walau saat ini ia mengaku lebih menyukai gaya yang simple dengan two piece dan monokromatis sesuai umurnya yang telah beranjak dewasa. No more short pants, dan tentunya mental yang terus berkembang. “Ya, setiap ulang tahun aku kaya lebih ke mindset aja, ini udah umur baru harus lebih dewasa lagi, emang nggak terlalu keliatan banget perubahannya tapi dari dalem aja. Rasanya kaya harus lebih berani, nggak boleh manja, jadi lebih kaya bangun mindset gitu. Terus harus lebih happy. Lebih lega. Be better aja. Pembawaannya dari tahun ke tahun harus punya mood yang lebih bagus lagi.”

Di umur yang hampir 20 tahun sekarang, apakah Nasya sudah mulai memikirkan untuk menjalin hubungan yang serius? Saya memancingnya dengan pertanyaan seputar Valentine’s Day. “Jomblo nih, jadi nggak ngerayain Valentine, haha! Paling sama keluarga aja, aku suka kasih bunga ke mama. Kalau kemarin-kemarin sebetulnya belum boleh pacaran karena masih sekolah, sekarang sih sebetulnya udah boleh, tapi belum ada juga, hehe,” ucapnya dengan agak tersipu. Sosok seperti apa yang dicari olehnya? “Carinya yang seagama aja, orangtua pasti ingin anaknya sama yang seagama, terus kalau bisa yang nggak kerja di entertainment juga. Kalau maunya orangtua sih kaya gitu, kalau aku sendiri  sebetulnya nggak terlalu ngerti yang gitu-gitu karena nggak banyak pengalaman juga, tapi kalau kata orangtua sebaiknya seperti itu. Jadi ya udah ikutin aja. Sama yang lebih dewasa sih yang pasti secara pemikiran,” tandasnya mantap.

Walaupun telah mengantungi berbagai profesi mulai dari aktris, model, brand ambassador hingga beauty entrepreneur, rasa penasaran untuk mencoba hal-hal baru dalam dirinya tampaknya belum bisa terbendung. Ia membocorkan keinginan untuk menambah resumenya lagi. Yaitu? “Aku belum pernah nge-host! Aku punya beberapa teman yang jadi MC terus keliatannya seru banget, aku juga jadi pengen coba, tapi belum ada kesempatannya aja. Dan kayanya memang harus punya karakter sendiri, kalau jadi MC mungkin aku jadi bawel sih jatuhnya, haha!” Bebernya.

Hampir satu jam telah berlalu, wajahnya sudah selesai dirias dan ia pun bersiap berganti baju untuk first look yang akan ia kenakan. Untuk menuntaskan obrolan kami, saya meminta Nasya untuk mengutarakan keinginan dan targetnya untuk tahun 2016 ini. Dengan mata yang membulat jenaka, ia pun membuka mulutnya untuk menjawab. “Di tahun ini… Aku ingin sukses antara sinetron atau film. Mungkin harus memilih salah satu karena kalau dua-duanya nggak mungkin deh. Sama bisnis bulu mata ini bisa jalan dan ada kemajuan. Sama dapat pacar kali ya? Haha.” Well, it’s her coming of age days after all and it looks as bright as her eyes.

img_9811

Foto oleh: Hilarius Jason.

Styling oleh: Andandika Surasetja

Makeup artist: Virry Christiana

Hair stylist: Jeffry Welly

Asisten Stylist: Kanishka Andhina

Lokasi: TM Studio

Advertisements

Summer Fling: India’s Photo Diary of Sabai Morscheck

Entah dengan berjemur di pantai atau sekadar bersantai seharian di rumah, kita percaya jika every summer has its own story. Bagi Sabai Morscheck, musim panas kali ini berbau rempah dan warna vibrant dari India yang tertangkap dalam foto-foto berikut.

Maharaja's City Palace (Jaipur)

Hi Sabai! Boleh cerita sedikit soal masa kecilmu?

Hi! Aku besar dengan ayah yang seorang pelukis jadi dari kecil aku menyukai seni dan aku suka melihat keindahan dari semua tempat yang aku datangi.

What’s your favorite thing to do on summer?

Sekarang ini sih masih diving ya. Jadi kalau libur bawaannya pengen diving mulu.

Apa summer experience yang kamu tangkap di photo diary ini?

Oke, liburan kemarin aku pergi ke India, dan banyak banget pengalaman baru yang aku dapat soal budaya dan gaya hidup mereka. India menurut aku ibukotanya nggak jauh beda ya sama Jakarta, dan tempat-tempat wisata mereka sangat eksotis. Hal-hal yang aku tangkap mayoritas bentuk bangunan mereka yang mewah dan penuh ukiran, aku juga suka foto orang-orang India dengan gaya tradisional mereka yang penuh warna.

Gadis-gadis India dengan saree mereka yang warna warni (Fatehpur Sikri).
Gadis-gadis India dengan saree mereka yang warna warni (Fatehpur Sikri).
Pasar mereka yang penuh warna (Kinari Bazar).
Pasar mereka yang penuh warna (Kinari Bazar).

Apa impresi awalmu tentang tempat tersebut?

Yang paling berkesan itu warna-warna yang meriah. Mereka berani memadukan warna-warna cerah sampai pakaian mereka sehari-hari (saree) juga mayoritas warnanya cerah. Suara yang khas itu suara klakson! Hahaha, walaupun Jakarta jauh lebih macet, tapi di India mereka suka membunyikan klakson mereka. Bahkan tulisan-tulisan pada truk mayoritas ‘please horn’.  Kalau masalah aroma yang khas itu aroma rempah-rempah pada makanan mereka. asli, aromanya nempel di mana-mana.

Taj Mahal (Agra)
Taj Mahal (Agra)
Salah satu mesjid di samping Taj Mahal.
Salah satu mesjid di samping Taj Mahal.

Hal yang menurutmu hanya bisa ditemukan di tempat tersebut?

Taj Mahal (ini sih sudah pasti ya), masala chai, rombongan sapi di jalan raya, cricket, penjual yang asli jago gila jualannya, aroma rempah-rempah yang khas banget, saree yang bagus-bagus banget warnanya, anak-anak kecil yang akrobat waktu lampu merah, warna-warna cerah di mana-mana.

Detail bangunan di Qutb Complex.
Detail bangunan di Qutb Complex.

Favorite summer memory?

Beberapa bulan lalu aku ke Lombok Timur, di sana ada resort namanya Jeeva Beloam, mereka punya private beach yang super bersih dan indah banget. Aku suka pantai, santai menikmati laut aja aku udah seneng banget. Jadi kalau aku dibawa ke pantai yang indah, tinggal di sana walaupun nggak ada sinyal handphone juga aku bakalan betah. Dan dengan partner travelling yang pas.

Favorite summer dessert?

Creme brulee.

Diajarin bikin keramik kaya yang dipakai untuk menghiasi Taj Mahal (Agra).
Diajarin bikin keramik kaya yang dipakai untuk menghiasi Taj Mahal (Agra).
Jaipur City.
Jaipur City.

What’s your summer essentials?

Sunglasses, t-shirt, short, swimsuit, sunblock, dan yang paling penting: sendal jepit!

Do you believe in summer fling?

Hahaha aku pribadi sih nggak, tapi teman-teman aku yang ngerasain.

Satu lagu untuk mendeskripsikan summer kamu?

“Go Outside” dari Cults. Alasannya karena aku nggak ngerti lagu India, haha! Dan aku suka lirik yang ini: “I think it’s good to go out. Cause if you don’t you’ll never make a memory that will stay.”

Sabai Morscheck

https://instagram.com/sabaidieter/

Love Actually, An Interview With Velove Vexia

Nylon April

Dengan attitude santai dan easy going, Velove Vexia melangkah tenang dengan temponya sendiri baik dalam karier maupun sisi kehidupan lainnya. Yang jelas, she’s not here for taking your order, she’s here to be herself.

Audrey Hepburn pernah berkata: “The beauty of a woman must be seen from in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides.” Sayangnya, di suatu pagi awal Maret lalu, Velove Vexia masuk ke studio pemotretan dengan ditemani seorang asisten dan mata yang ditutupi sunglasses tebal. Tanpa buang waktu, ia pun langsung duduk di depan meja rias. “Uhm… Jelek,” tukasnya singkat saat ditanya kabarnya hari itu seraya melepas kacamata hitamnya dan membiarkan rambutnya tergerai bebas. Sebuah jawaban yang intimidatif dan kita jelas tahu bagaimana menyebalkannya harus bekerja di pagi hari dengan mood yang kacau. Namun, secepat kata itu terlontar dari mulutnya, senyuman jahil pun menyemburat di wajahnya. “Enggak, it’s just becanda!” serunya dengan mata berbentuk almond yang menyipit jenaka dan memancarkan keramahan sang pemiliknya. As simple as that, kami bisa merasa ini akan menjadi pemotretan yang menyenangkan.

            Nama Velove Vexia jelas bukan nama asing bagi mereka yang memiliki televisi. Mengawali karier akting di layar perak, gadis berdarah Manado-Jawa tersebut dengan cepat dikenal banyak orang berkat paras cantiknya yang terkesan innocent dan aktingnya yang terlihat natural, serta tentu saja namanya yang ear-catching. Saya selalu penasaran arti di balik namanya yang keren dan bertekad jika bisa ngobrol dengannya, pertanyaan pertama saya adalah mengenai namanya. “Aku juga nggak tau sih, there’s must be some meaning tapi aku juga nggak pernah nanya. Cuma kalau nama aku its actually ada ‘a’-nya, jadi bukan ‘Velove’ tapi ‘Vaelove’. Jadi sebetulnya namanya ‘Vaelovexia’ nyambung. Cuma karena orang susah manggilnya, jadi ‘Velove Vexia’. Kalau ‘Vaelove’ sendiri itu dari nama belakang mamaku yang digabungin sama ‘love’ jadi artinya kaya ‘love from the mother’,” jelasnya dengan senyum simpul.

            Menyoal sang mama, aktris kelahiran Jakarta, 13 Maret 1990 tersebut mengungkapkan jika ibunya mungkin orang pertama yang mendorongnya untuk berada di spotlight, bahkan sejak ia masih kecil dan sama sekali tidak berminat untuk hal itu. “Dari kecil my mom obsesinya pengen aku jadi model, artis, atau something like that, cuma aku dulunya tomboy sekali. Aku aja waktu SD itu kalau pakai rok rasanya malu. Karena aku punya kakak dan adik cowok jadi aku juga main sama teman-teman mereka dan kalau pakai rok malah malu takut diejekin. Jadi mama dulu kaya yang nyuruh aku ke sanggar, ikutan dance, ikutan pemilihan Abang None cilik dan aku menang, tapi aku nangis dan cemberut karena sebetulnya itu tuh obsesinya mama. Karena aku juga ogah-ogahan, akhirnya dia stop ngedorong aku. Eh tiba-tiba sekarang malah jadi artis sendiri tanpa dibantuin mama, jadi kayanya emang udah jalannya sih,” kenang putri dari pengacara terkenal O.C. Kaligis tersebut.

Velove1

Dress: Jaquemus @ Escalier, Shoes: Camper.

Ia menyebut karier entertainment-nya sebagai sebuah ketidaksengajaan yang berawal dari sebuah liburan di Bali dan bertemu manajer yang kemudian membukakan jalannya ke showbiz lewat peran utama di sinetron bertajuk Olivia tahun 2007 silam. Dalam sinetron tersebut ia berperan sebagai sang title character, seorang gadis enerjik yang menyamar sebagai cowok demi bergabung dengan klub sepak bola. “Awalnya aku nggak mau main sinetron karena aku juga bukan penonton sinetron, terus akhirnya ketemu satu produser yang tadinya ngomongin film eh tapi ujung-ujungnya ngomongin sinetron. Aku kaya yang ‘Ambil nggak ya?’ Terus temanku ada yang bilang ‘Udah ambil aja, coba’, so I take it for experience,” jelasnya.

Tanpa background akting sama sekali sebelumnya, Velove mengaku sempat clueless saat pertama kali syuting. “Kan kalau syuting they change the angles and everything. I was like, ‘Lho tadi kan udah adegannya? Kenapa diulang-ulang?’ Aku kaya beneran clueless gitu dan aku ingat ada adegan yang ceritanya aku akting kaget, itu menghabiskan 12 kali take karena aku nggak mau kaget yang lebay. Aku sampai argumen dengan sutradaranya karena walau main sinetron, tapi aku nggak mau akting yang lebay gitu. Akhirnya sutradara mengiyakan dan untungnya nggak apa-apa aku akting dengan gaya natural,” paparnya sambil membiarkan wajahnya dirias dengan makeup yang, well, natural. “I learn along the way but still with my style. Director dan produser yang adapt to my kind of acting. I don’t wanna do the ‘lebay’ thing. Karena saat itu rating sinetronnya bagus for almost a year, jadi produsernya okein dan penonton juga suka,” imbuhnya.

Kesuksesan sinetron tersebut pun membuahkan berbagai tawaran menarik lainnya, dari mulai sinetron, FTV, film, bintang video klip, hingga menjadi brand ambassador. Seiring kesuksesan yang ia raih, atensi publik pun mau tak mau mulai mengintainya, termasuk soal kehidupan pribadinya. “Awalnya to be honest its tough for me, karena aku memang nggak suka attention dan segala macem. I’m quite introvert sebetulnya. Dari kecil aku tomboy tapi sering ngabisin waktu di kamar, sampai sekarang pun aku hobinya ya baca buku di kamar. Diliatin orang itu nggak nyaman sebetulnya. Awalnya sih lebih kaya risih diliatin terus, lagi makan diminta foto. Sebetulnya bukan nggak suka sama mereka tapi aku memang nggak nyaman karena bawaannya introvert. Kadang lagi capek pun harus ngeladenin orang untuk interview. Dan waktu mulai akting itu aku masih kecil kan, masih sekolah. Jadi nggak terbiasalah, awalnya shock. Bukannya yang makin tampil atau apa, aku justru malah makin menutup diri, kaya ‘Pak tolong dong saya jangan difoto,’ tapi ya udahlah that’s the risk.”

Velove2

Atasan: Topshop, Rok: DKNY.

Berbeda dengan kebanyakan artis muda yang sedang naik daun lainnya, Velove tak ragu untuk menunda karier yang sedang mekar-mekarnya demi mengejar kehidupan akademis. Setelah vakum selama setengah tahun untuk fokus ujian sekolah, ia sempat bermain dalam satu produksi sinetron lagi sebelum pergi ke Paris untuk kuliah di Catholic Institute of Paris. Setahun di Paris, ia pindah ke Los Angeles untuk kuliah Bisnis Manajemen di Santa Monica College. “I know that one day I want to be a businesswoman,” ucapnya sebelum meneruskan, “Aku memang tertarik sama bisnis. Sebetulnya aku juga suka sih analisa yang berhubungan dengan hukum. Cuma mungkin karena dari kecil udah biasa ngeliat papa jadi lawyer mungkin ada aja rasa ingin coba something else. Dan kayanya aku juga nggak berani deh mesti berantem-berantem sama lawyer lain di persidangan,” tukasnya ketika ditanya kenapa tidak memilih jurusan Hukum seperti ayahnya.

“Senangnya di luar negeri itu karena nggak ada yang kenal, jadi lebih bebas mau ngapain tanpa ada yang ngeliatin, mau makan sendiri pun tenang aja. Kalau di sini kan suka ngerasa ada mata-mata tertuju malah jadi salah tingkah. Terus kaya lagi amburadul aja aku bisa cuek pergi. Kalau di sini, setiap misalnya aku lagi kucel baru bangun tidur terus ke supermarket pasti ada aja ketemu orang dan minta foto terus di-upload ke social media, aku kaya ‘Oh my God!’ ceritanya lagi sambil menyisip air mineral.

Tinggal sendirian di West L.A. membuat Velove belajar untuk hidup mandiri sekaligus menikmati privacy yang jarang ia dapat. Menghabiskan me time di pantai, menyusuri toko-toko vintage, dan road trip menjadi pengalaman yang priceless baginya. The best of it? “Road trip ke San Francisco straight from L.A. Gempor sih!” cetusnya bersemangat. “Ke Vegas juga pernah karena gara-gara ada teman yang punya pesawat sendiri so I don’t need passport, karena waktu itu aku juga belum punya California ID jadi ke mana-mana masih pakai passport. Berangkat sama dia dan keluarganya naik pesawatnya tapi aku baru ingat aku harus pulang ke L.A. karena ada ujian, nah karena nggak bawa passport ya nggak bisa naik pesawat dong, jadi aku naik mobil balik ke L.A. itu capek banget nyetir berapa jam. Itu aneh sih kaya perginya oke deh naik private jet tapi pulangnya nyetir sampai gempor, haha! Tapi seru sih!” ceritanya sambil tertawa lepas.

Tiga tahun di Amerika, bukan berarti namanya tenggelam begitu saja di ranah entertainment Tanah Air. Dalam kurun waktu tersebut Velove sering kali menyempatkan pulang ke Indonesia saat liburan untuk ikut beberapa produksi sinetron dan film, termasuk film Mika yang dirilis tahun 2013. Di film yang disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo tersebut, Velove tak hanya menjadi pemeran utama yang bersanding dengan Vino G. Bastian tapi juga menjadi executive producer. Kalau pun tidak pulang ke Indonesia, ia akan mengisi harinya dengan mengikuti kelas Thaiboxing atau Bar Method sambil tak lupa mengeksplorasi sisi femininnya. “Aku mulai belajar makeup justru pas di Amerika. Kalau ada waktu luang, kadang abis kelas aku suka pergi sendiri ke Sephora, mainan makeup terus belajar sendiri dari YouTube,” ucap Velove yang menyebut Grace Kelly sebagai beauty icon-nya.

Velove3

Atasan dan rok: Balenciaga

Bicara tentang beauty, kecantikan Velove dan personality-nya yang classy yet approachable membuatnya dipercaya sebagai brand ambassador Maybelline yang berpusat di New York. “It’s a long journey,” ujarnya tentang hal tersebut, “Karena dari  L’Oréal (induk company Maybelline) sendiri kalau milih brand ambassador kan harus disetujui sama tim New York juga dan banyak banget saingannya. They always keep on looking karena kan untuk long term juga, jadinya lama prosesnya hampir setengah tahun.” Perannya sebagai brand ambassador Maybelline tak sebatas menjadi wajah di berbagai ad campaign label tersebut, tapi juga terlibat dalam berbagai aktivasi seru. “Banyak banget, kaya kemarin sempat ada Maybelline Goes To School, aku dan Ryan (Ogilvy) keliling ke beberapa sekolah and I mean it’s not something yang biasa aku lakukan. Kaya ke sekolah ketemu anak-anak sharing beauty tips dan interaksi sama mereka langsung, kapan lagi kan? Sekolahnya juga bukan di Jakarta aja, sekolah yang di daerah juga kita datengin. Beda banget kan anak Jakarta sama anak yang di daerah, mereka lebih polos dan banyak yang nggak bisa dandan tapi mereka sangat antusias dan nggak jaim. It was fun!” pungkasnya, excited.

So what’s her beauty secret, anyway? “Aku sih nggak ribet, sumpah… Aku sih yang penting rajin bersihin muka. Menurutku ritual utama itu fokus di kulit karena kalau kulit kamu bagus, ya udah it’s just stunning. Kalau kulitnya kotor mau di-makeup kaya gimana juga susah jadi aku benar-benar ngerawatnya kulit banget. Sebetulnya nggak ada perawatan khusus, cuma cuci muka itu harus rajin banget. Kalau pakai makeup langsung hapus, jangan dibiarin seharian,” ungkap Velove sebelum kemudian mendefinisikan arti beauty untuknya secara personal: “Beauty is something yang bisa diapresiasikan oleh orang. Jadi, beauty is very subjective, it depends on the people. Tergantung dari kamu melihat beauty itu seperti apa. Tapi beauty menurut aku harus inside and out. It’s a must, kamu nggak bisa cantik di dalam doang tapi luarnya nggak ditata dengan bagus. Atau luarnya cantik tapi dalamnya nggak.”

Lucky for her, she’s indeed not just a pretty face. Terlepas dari persona celebrity yang melekat padanya, ia ternyata seorang avid reader yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk membaca buku di kamar dibanding hang out di mall. “Karena dari kecil papa biasain aku untuk baca. Waktu kecil every weekend, anak-anaknya dibawa ke toko buku untuk beli buku dan harus di-review. Akhirnya jadi kebiasaan beli buku. Waktu kecll aku sukanya baca Detektif Conan sama Shin-chan, that’s my favorite comic. Mulai bosan baca komik, aku mulai baca buku-bukunya papa, dan dulu dia suka novel Sidney Sheldon. Kalau sekarang aku lebih suka non-fiction kaya bisnis dan psikologi, cuma kalau novel gitu aku suka banget Paulo Coelho. Aku suka karena novelnya ada makna hidupnya, there’s something deeper, makanya aku suka baca,” ungkapnya. Hebatnya lagi, saat ini pun ia tak hanya sekadar menjadi pembaca buku, she’s also in the middle of writing her own book yang rencananya akan rampung pertengahan tahun ini. “It’s a non-fiction book but I won’t tell you more. Nanti aja pas keluar. It’s about women in general,” bocornya singkat.

            Menulis buku merupakan salah satu bucket list yang siap dicoretnya untuk tahun ini. Kebetulan, hari pemotretan dengan NYLON jatuh tepat satu hari sebelum ulangtahunnya yang ke-25. “Iya! Makanya sebetulnya hari ini tadinya nggak mau kerja, haha,” ujarnya saat disinggung hal itu. Well, 25 tahun biasanya identik dengan quarter life crisis dan segala kegelisahan menghadapi berbagai tuntutan, baik dari lingkungan maupun diri sendiri. It’s a turning point for most people, tak terkecuali bagi seorang Velove Vexia sekalipun. “Rasanya galau. Bukannya tentang mau kawin atau apa, tapi lebih ke what I want to do and what I want achieve. I think I need to travel more, aku harus lebih produktif, dan kaya gitu lah ada resolusi-resolusinya. Age is more than a number, aku juga pengen lebih healthy karena by the time I’m 25 which is tomorrow, metabolisme aku pasti menurun dan emang harus rajin olahraga dan lebih sehat.”

            Walaupun namanya dibesarkan oleh dunia entertainment, Velove tak pernah merasa harus aji mumpung mengambil semua tawaran yang datang. Ia memilih menjalani kariernya with her own pace, pun di usianya saat ini dengan gelar akademis yang sudah ia genggam. Untuk ukuran artis yang sepopuler dirinya, Velove pun sebetulnya baru dua kali bermain film layar lebar. Satu hal yang disebabkan oleh jadwal yang seringkali bentrok. Apakah untuk ke depannya ia masih berminat bermain film? “Masih dong, aku masih pengen main film tapi yang ceritanya lebih unik kali ya. Kalau ceritanya cuma drama doang aku malas karena menurutku nggak ada bedanya sama sinetron, mending aku syuting sinetron. Dan dari awal juga aku masuknya dari sinetron dan lebih dikenal di sinetron. Jadi kalau main film pun aku mau yang di luar karakter aku yang ceritanya lebih unik,” jawabnya tegas. Peran apa yang ia inginkan? “Pengen jadi Lara Croft. Aku suka film action dan karakter cewek yang tough. Menurut aku Angelina Jolie as Lara Croft itu keren sekali karena actually kan Angelina Jolie pernah ditawarin main film James Bond as a Bond girl cuma dia nolak dan dia bilang ‘I want to be the James Bond’ akhirnya dapetlah dia Lara Croft yang nggak kalah keren dari James Bond,” ceritanya dengan antusiasme yang terpancar dari wajahnya.

            Selain Angelina Jolie, ia juga mengidolakan sosok Ron Howard yang dikenal sebagai sutradara A Beautiful Mind dan The Da Vinci Code. Dengan bersemangat, Velove pun menceritakan sebuah kejadian unik saat ia tanpa sengaja duduk di sebelah Ron Howard di dalam pesawat on the way dari L.A. ke New York. “Aku sebetulnya pergi sama teman aku, cewek, tapi kita berdua maunya duduk di window, jadi kita nggak bisa duduk bareng. Kita duduk paling depan terus ada cowok duduk di sebelah teman aku super ganteng tipe cowok Wallstreet guy, sedangkan yang duduk di sebelah aku kaya kakek-kakek brewokan belum mandi, bawa ransel dan buka laptop, haha. Aduh, udah sok-sok tidur tapi diajak ngobrol basa-basi, ternyata aku satu sekolah sama anaknya dia di L.A. Terus dia tiba-tiba nanya aku, ‘Are you an actress?’ tapi aku bilang aja bukan soalnya dibilang aktris di Indonesia pun malas jelasinnya, karena banyak yang nggak ngerti juga Indonesia itu di mana. Terus dia bilang ‘You could be an actress,’ terus abis itu aku nanya, ‘How about you? Are you a blogger?’ Haha! Sumpah aku nanya ke Ron Howard ‘Lo blogger?’ terus dia jawab, ‘No I’m actually a writer and scriptwriter, and I’m also producer and director. Do you know Da Vinci Code?’ Terus aku yang ‘Yes! Oh my God! I love it!’ dan baru sadar kalau dia Ron Howard. Terus dia bilang aku bisa jadi aktris tapi harus ikut acting school karena di New York kan ketat persaingannya. Aku dikasih contact number-nya dan diundang ke premiere filmnya yang The Dilemma,” kenang Velove yang juga sempat ditawari menjadi penyanyi oleh produser American Idol yang ditemuinya secara tak sengaja saat sedang berbelanja. Sekali lagi membuktikan jika ia punya daya magnetis tersendiri dari dirinya yang membuat orang akan mudah berpaling ke arahnya, sebagaimanapun ia berusaha untuk tidak menarik perhatian. Kedua tawaran tersebut ditolaknya karena saat itu ia memang ingin fokus menyelesaikan kuliahnya.

I have two sides. Ada satu sisi yang aku perfeksionis idealis dan ada satu sisi lagi aku yang enjoying life. Jadi kalau lagi kerja ya kerja banget, tapi kalau santai ya bisa santai banget, nggak mau even pergi ke mall. I hate malls. Daripada ke mall mending aku di kamar baca buku, I get something for my thoughts atau traveling sendirian. Aku suka living in my own world,” ungkapnya.

Faktanya, selain membaca buku, traveling memang menjadi salah satu kegiatan favoritnya yang sering ia lakukan. Passport bahkan menjadi salah satu benda yang wajib selalu ada di tasnya. “Kadang biasanya abis dari kerjaan aku langsung ke airport jadi itu kenapa passport harus ada di tas aku dibanding aku tinggal di rumah. Karena sometimes aku suka random tiba-tiba ingin pergi. Paling sering sih Singapore, kadang pulang-pergi. My dad juga gitu sih, pernah beberapa kali aku diajak papa ke London and I have no idea jadi aku nggak bawa apa-apa, cuma paspor. Belanja bajunya di sana. Mungkin kebawa papa juga sih,” ungkapnya sambil menceritakan jika ia memang seringkali pergi bersama sang ayah, termasuk menonton World Cup di Brazil. “Yang paling berkesan di Meksiko. I think the best moment in my life itu, aku ke Cabo, Meksiko, di sana aku naik ATV ke gunung kaktus dan pas sunset kita tepat di atas gunung dan pas turun, langsung sampai di pantai yang nggak ada orangnya, kaya virgin beach gitu dan pas sunset itu kereeen banget, sumpah…” kenangnya dengan senyuman lebar dan mata yang berbinar, membuat siapapun yang mendengarnya seakan ikut menyaksikan langsung pemandangan tersebut.

Di usia yang saat ini telah menginjak 25 tahun, dengan steady career, recognition, dan support dari orang-orang terdekatnya, apalagi yang ingin dikejar olehnya? “Actually on the entertainment side, I’m quite satisfied. Sekarang yang belum malah yang di luar dunia hiburan, itu yang aku rasa pengen coba lebih banyak hal lagi. Kalau entertainment juga bukan main objective aku sebetulnya. Aku lebih sering nolak kerjaan sampai manajer aku kaya suka ngomel. Karena memang nggak pernah niat jadi artis, jadi aku lebih santai. Minat aku pengen jadi wanita karier tapi bukan di dunia hiburan, passion aku di bisnis,” tegas Velove tentang arah karier yang ingin ia jalani seterusnya.

Ketika pemotretan akhirnya rampung, jarum jam sudah menunjuk pukul tiga sore dan langit di luar yang mulai mendung. Tak ingin menahan the soon to be birthday girl lebih lama lagi, saya pun melayangkan pertanyaan terakhir untuknya, what’s next from her?Just wait and see!” ucapnya sambil membereskan barang bawaannya. “It will be surprise, dan pasti ada something different, I’ll keep you posted!” pungkasnya sebelum pamit dan mengucapkan terima kasih kepada semua orang di studio. Cantik, cerdas, dan berkarisma, well maybe she’s born with it.

Velove4

Atasan & rok: Burberry.

As published in NYLON Indonesia April 2015

Fotografer: Hilarius Jason

Stylist: Anindya Devy & Patricia Annash

Makeup Artist: Ryan Ogilvy

Hair Stylist: Jeffry Welly

Million Dollar Baby, An Interview With Chelsea Islan

Dengan talenta yang kian terasah dan komitmen penuh di dunia seni peran, Chelsea Islan telah merekah sebagai seorang aktris dan pekerja seni yang mumpuni, sekaligus bintang baru paling bersinar saat ini.

IMG_9334

Dress oleh Argyle & Oxford, coat oleh Zara

Chelsea Islan bersandar di dinding sambil sesekali tertawa renyah dan secara refleks menyipitkan matanya serta membetulkan poninya yang tertiup angin. Effortlessly quaint seperti Audrey Hepburn di film Roman Holiday, ia menggenggam setangkai bunga matahari berwarna kuning sempurna yang terlihat kontras dengan coat merah yang ia kenakan. Bunga matahari tersebut juga seolah mewakili gadis cantik yang memegangnya itu sendiri: vibrant, full of life, dan dengan mudah menginjeksikan semangat bagi setiap mata yang memandangnya. It’s a blooming time indeed, metaphorically speaking.

Ini bukan kali pertama paras manis gadis bernama lengkap Chelsea Elizabeth Islan tersebut muncul di majalah NYLON. Kami telah memotret profilnya dalam edisi It Girl di November 2013 lalu sebagai aktris muda yang baru mulai meniti karier di dunia film setelah sebelumnya telah lebih dulu menjadi seorang model remaja. Saat itu ia baru saja merampungkan film debutnya, Refrain, yang juga dibintangi oleh Maudy Ayunda dan Afgansyah Reza. Meski hanya supporting role, namun perannya sebagai Annalise di film itu berhasil membuat publik penasaran mengenal sosok gadis kelahiran New York tersebut lebih dalam lagi.
Disambung film Street Society di awal 2014, berbagai iklan komersial, menjadi brand ambassador dan aktif di berbagai isu sosial, popularitasnya terus menanjak sepanjang tahun 2014 lalu, khususnya ketika ia menjadi bintang serial sitkom Tetangga Masa Gitu? di Net TV yang membuahkan mainstream popularity baginya. Rasanya, kini hampir semua orang telah mengenal nama Chelsea Islan sebagai bintang pendatang baru yang menuai banyak pujian berkat kiprah dan image positif yang melekat pada dirinya. She’s been on high demand, baik di dunia film maupun dunia media yang berlomba menampilkan dirinya. Tak terhitung banyaknya request yang masuk ke redaksi untuk meminta Chelsea muncul sebagai cover kami, and obviously it’s just a matter of time. But of course, we save her for the best moment, which is to grace our 4th Anniversary cover.
Setelah beberapa kali bertukar pesan di Whatsapp dan email, kami berhasil mencocokkan jadwal pemotretan di suatu Rabu di awal Desember silam. Bila di pertemuan kami sebelumnya Chelsea masih datang sendirian tanpa ditemani siapapun, kali ini ia telah memiliki manajer dan asisten untuk membantunya mengatur jadwal yang terus memadat. Hari itu saja kami hanya punya waktu sekitar 4 jam untuk merampungkan pemotretan karena ia telah memiliki jadwal taping di sebuah talkshow sesudahnya. Ia datang dengan wajah bersih dari riasan apapun dan dengan senyuman hangat menyapa tim pemotretan. Setelah saling bertukar kabar, tanpa membuang waktu, kami pun segera berbincang setelah sebelumnya ia dengan penuh kesadaran meletakkan teleponnya dalam tas agar bisa lebih fokus bercerita.

The first question tentu saja menyoal kesibukannya akhir-akhir ini. Kesan yang saya ingat dari Chelsea masih sama seperti perbincangan kami setahun sebelumnya, ia sangat passionate dan begitu eloquent (if not even getting better) ketika diajak berbicara soal kariernya. Seperti yang sudah disebut, selain daily activity berupa syuting Tetangga Masa Gitu? (TMG) yang sudah mencapai season kedua dengan 120 episode lebih, Chelsea baru saja merampungkan berbagai project film yang menarik. Yang paling awal rilis adalah Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar, sebuah film biopik di mana Chelsea mendapat peran utama sebagai the eponymous Merry Riana, seorang motivator, penulis, dan pengusaha Indonesia yang inspiratif.
Diangkat dari buku biografinya yang berjudul A Gift From a Friend, film ini menceritakan kisah perjuangan Merry Riana, seorang gadis berdarah Tionghoa yang mengungsi ke Singapura ketika peristiwa 98 pecah. Di sana, dengan membawa uang sangat minim ia berhasil diterima sebagai mahasiswi di Nanyang Technological University walau harus berhutang sebanyak 40 ribu dolar Singapura. Usahanya dalam membayar hutang dan bertahan hidup di negeri orang dengan bekerja keras dari mulai kerja serabutan hingga bermain saham pun membuahkan hasil. Tahun 2007, kisah perjuangannya mencapai sukses diliput oleh harian The Strait Times dengan judul “She’s made her first million at just age 26”, sebuah cerita penuh motivasi dan inspiring yang sayangnya mungkin masih banyak orang yang belum tahu, termasuk Chelsea sendiri sebelum ia terlibat dalam project ini.
“Ceritanya itu dari Januari 2014 aku udah ditelepon oleh pihak Dapur Film, komunitas filmnya Mas Hanung Bramantyo untuk ditawarin main film ini, awalnya aku emang nggak tau itu film tentang apa, kisahnya siapa, based on what, jadi pertama-tama aku masih yang ‘Oh oke, coba kita atur jadwalnya.’ Akhirnya aku dateng terus langsung ketemu sama sutradaranya, Mas Hestu Saputra. Ngobrol, terus dia bilang ‘Kamu harus ambil film ini nih,’ Awalnya aku nggak punya bayangan bagusnya seperti apa. Jadi aku baca skripnya dari awal sampai akhir dan aku kaya ‘Okay, I should buy the book first, baru aku balik lagi untuk kasting.’ Aku baca bukunya sampai selesai abis itu aku search Merry Riana di YouTube dan keluar banyak banget ternyata, pas dia di Singapura, pas jadi pembicara di seminar, jadi ternyata dia itu emang sosok motivator dan sosok inspiratif bagi anak muda dan untuk orang dewasa juga, dari situ aku langsung ‘Wah ini keren banget,’ Kaya one day aku juga pengen jadi someone yang inspiring untuk anak muda dan orang di sekitar. Ini one of the dreams yang sebenarnya aku pengen, main di film yang inspiring, nah setelah ini aku langsung oke, aku akhirnya casting,” ungkap Chelsea tentang film ini.
Nama Chelsea bukan satu-satunya yang dikasting untuk peran ini, ada banyak kandidat lainnya baik sesama pendatang baru maupun yang sudah lebih senior, namun dengan banyak support, ia berhasil mendapat peran ini. “I was nervous juga karena kastingnya sendiri memang dilakukan dengan profesional. Nunggu kabar sampai akhirnya bulan Maret dipanggil ke MD Pictures, ketemu Pak Manoj Punjabi, ngobrol, terus dia bilang ‘You should take this movie,’ semuanya kaya bilang gitu terus aku juga berpikir mungkin Tuhan memang memberikan film ini untuk aku, ya kan menurut aku coincidence itu nggak ada, sebetulnya semua udah diatur sama yang Di Atas, dan kita dipertemukan sama orang-orang yang akan kita kerjasama, aku kaya ‘Okay, mungkin ini something that I have to do, okay I’m taking this movie.’”

IMG_9598

Dress oleh Monday to Sunday, sepatu oleh Dr. Martens.

Praktis, sepanjang tahun lalu Chelsea fokus di film yang juga dibintangi oleh Dion Wiyoko dan Kimberly Ryder tersebut. Berperan dalam biopik dengan pesan yang kuat, Chelsea mengaku banyak mendapat hal positif dalam pembuatannya. “This is something new yang belum pernah aku coba, karena film ini mengangkat sosok inspiring dan banyak orang berharap sama dia. Untuk menjadi dia I really had to work hard dan ini bukan hal yang gampang. Tapi sejak memainkan peran ini aku juga jadi positive thinking banget. Aku jadi merasa bersyukur karena nggak ada second chance lagi untuk main di film seperti ini. Dan dari mbak Merry aku juga belajar banyak sekali, kan kita banyak one on one discussion-nya sebelum syuting, kita lunch, dinner bahkan ke gereja bareng, dan yang main di film ini kebetulan semua seiman juga, jadi mbak Merry memberikan kita rosario merah dari Jerussalem dan masih ada di tas aku sampai sekarang,” ungkapnya sambil tersenyum. “Aku pengen dia bangga sama film ini, karena ini kan film tentang dia, kehidupan dia, struggle-nya dia sebagai seorang perempuan sendiri di negara orang lain dan dia bisa sukses. Nothing is impossible, dia aja bisa kenapa kita nggak bisa? Dan Mbak Merry selalu memotivasi aku jadi aku juga tambah giat. Seru banget,” tandasnya.
Terlibat dalam kegiatan dan gerakan dengan isu positif sama sekali bukan hal baru bagi Chelsea, bahkan sebelum ia menjadi public figure. Kampanye anti bullying, breast cancer awareness, dan Hari Aids Nasional adalah segelintir di antaranya. Baru-baru ini Chelsea juga berpartisipasi dalam gerakan Indonesia Menari yang mengajak anak muda untuk peduli dan melestarikan budaya dan seni Indonesia. Dibimbing oleh koreografer terkenal Eko Supriyanto (Madonna’s dance mentor!) Chelsea yang telah memiliki basic menari dari kegiatan ballet dan teater di masa sekolahnya menari dengan 1200 peserta lainnya.

So far 2014 itu banyak pembelajaran, banyak experience baru yang aku gali, banyak opportunity, kesempatan baru, nah aku sih berharap di 2015 akan ada banyak lagi opportunity dateng dan mudah-mudahan bisa menginspirasi lebih banyak orang lagi,” ujarnya saat merefleksikan tahun 2014. Apakah Chelsea termasuk orang yang selalu membuat resolusi tahun baru? “Kalau aku sih kadang-kadang. Mungkin untuk tahun ini aku mau kasih resolusi biar terarah tahun depan maunya gimana, karena kan kadang aku masih bingung antara pendidikan atau karier, dan lain-lain. Antara mau lanjut kuliah atau masih karier atau gimana.” Tahun lalu Chelsea sebetulnya sempat mengungkapkan keinginan untuk kuliah Sosiologi namun hal itu urung terlaksana karena 2014 memang menjadi tahun sibuk baginya. Selain Merry Riana, Chelsea pun telah merampungkan dua film bertema sejarah yang tak kalah menarik, yaitu Dibalik 98 dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto.
Dalam film Dibalik 98 yang menjadi debut penyutradaraan oleh aktor Lukman Sardi, Chelsea berperan sebagai seorang aktivis dan demonstran di zaman Trisakti sementara dalam film Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang disutradarai oleh Garin Nugroho, Chelsea berperan sebagai Yildiz, seorang anak umur 15 tahun berdarah campuran Belanda-Indonesia dengan rambut kepang a la Dorothy Gale dan putri seorang nyai di mana pada masa itu warga blasteran belum memiliki posisi yang melindungi mereka secara jelas di mata hukum. Dari sini kita bisa melihat adanya benang merah dari film-film yang dibintangi oleh Chelsea. Semuanya menceritakan tentang perjuangan dalam berbagai bentuk. “Aku sebetulnya nggak pernah ada spesifikasi sih, tapi aku bener-bener melihat dari moral story dari cerita film itu sendiri,” tukas Chelsea tentang pertimbangannya dalam memilih peran, sebelum menambahkan, “Aku juga ingin main di film action kaya The Raid atau jadi psikopat. Selama ini kan perannya yang baik-baik aja, pengen coba jadi antagonis, sebagai aktor ingn coba semua sih, pengen eksplor lagi,” akunya.

IMG_9474

Kemeja dan oversized biker jacket oleh Argyle & Oxford.

Ada cerita menarik di balik keterlibatan Chelsea dalam film kolosal musikal terbaru Garin Nugroho yang juga dibintangi oleh Reza Rahardian dan Christine Hakim tersebut. Chelsea yang sempat sekolah film di SAE Institute awalnya berniat magang menjadi asisten sutradara untuk film ini, sebelum akhirnya diminta ikut kasting untuk peran Yildiz. “Awalnya kastingnya bukan akting, tapi nyanyi. Yildiz ini ceritanya suka nyanyi lagu Burung Kakak Tua versi anak-anak Belanda. Jadi aku disuruh dateng untuk nyanyi, direkam, terus Mas Garin bilang ‘Oke bagus nih, kita jadi shoot ya, kamu jadi Yildiz,’ terus aku yang ‘Aduh gimana nih? Terus magangnya gimana?’ Jadi itu lucu banget, aku nggak tau deh, nggak nyangka juga, terus aku bilang ‘Oke, ya udah kali ini saya main tapi next time saya magang beneran ya,’ haha,” ungkap Chelsea sambil menyunggingkan senyum.
Dengan persiapan yang sangat minim, Chelsea dituntut untuk bisa akting, menari, dan menyanyi dalam film sejarah yang dikemas dengan unsur musikal seperti Les Misérables ini. “Aku cuma dua minggu udah harus banyak latihan workshop. Diajarin Bahasa Belanda gitu dan Mas Garin tipe yang workshop on the spot, jadi sebetulnya workshop yang kita lakukan sebelum syuting itu hanya pemanasan, tapi real-nya di shooting location di Jogja & Semarang dan itu beda banget. Yang kita latih sama sekali nggak sama dan kita harus langsung siap. Aku yang ‘Oh my God’, ada beberapa gerakan tari yang nggak dikasih tau, harus nari langsung, terus disuruh nyanyi Burung Kakak Tua yang untungnya udah dilatih juga. Aku bukan penyanyi, tapi di sini bukan suara bagus yang dicari, tapi sikap dari karakternya Yildiz sendiri, gimana sih si anak 15 tahun ini nyanyi Burung Kakak Tua dengan lonely sambil ngitung duit,” kenangnya. Di sini, pengalaman teater yang dimiliki Chelsea menjadi penyelamatnya karena ternyata hampir semua pemain di film ini memang mereka yang memiliki pengalaman teater. “Pressure pasti but I feel happy karena bisa melewati tantangan itu, seneng sih bisa berpartisipasi dalam film itu karena aku harus bisa disuruh apa aja. Seperti teater sih sebetulnya, ada improvisasi dan commedia dell’arte, di situ jadi belajar banyak banget sama Mas Garin,” imbuhnya.
Tertunda dari rencana semula untuk di belakang layar, tampaknya Chelsea tak harus menunggu lama untuk bisa mencoba berkiprah sebagai sutradara. Sempat terdengar kabar jika Chelsea akan terlibat dalam proyek film omnibus bergenre horror. “Iya, ada yang nawarin aku bikin film omnibus sama 3 sutradara lainnya, tapi aku masih nggak tau ini jadi apa enggak. Dan aku masih mempertimbangkan karena kalau horror kan harus mateng banget dari efeknya, kalau mau ada hantunya juga jangan sampai bad quality. Aku udah bikin cerita sih, dari 4 sutradara itu genre horrornya beda-beda, ada yang thriller, slasher, psychological thriller, satu lagi kalau nggak salah yang beneran tentang roh. Kalau yang aku psychological thriller, aku bener-bener main di psikologis karakternya, aku pengennya sih ceritanya tentang psikiater. Yang mau aku gali sih moral story-nya, jadi jangan cuma horror aja. Aku mau bikin twist-nya juga, the different side of psychiatrist. Tapi belum tentu bikin sih, masih fifty-fifty tapi kalau jadi aku mau banget.”

Terlibat dalam banyak produksi film dan berbagai kegiatan lainnya yang menguras waktu dan tenaga, Chelsea mengaku lumayan kesulitan mencari quality time untuk diri sendiri. She usually unwind herself with diving, baca buku, dan melakukan treatment (“Aku nggak girly tapi sekali-sekali harus memanjakan rambut,” cetusnya) dan uniknya, serial sitkom Tetangga Masa Gitu? bisa dibilang menjadi kesibukan sekaligus safety net tersendiri baginya. “Tetangga Masa Gitu kalau buat aku lebih ke fun, karena kalau di film biasanya aku milih cerita yang serius, di TMG aku bisa lebih banyak ketawa dan mengeluarkan sisi sehari-hari aku. Actually di situ you don’t have to act tapi udah jadi si karakternya senatural mungkin. Aku udah merasa nyaman dan semua pemain juga udah into character banget.” Dalam sitkom ini, Chelsea berperan sebagai pasangan muda bersama Deva Mahenra yang bertetangga dengan pasangan suami-istri yang sudah jauh lebih berpengalaman yang diperankan oleh Dwi Sasono dan Sophia Latjuba. Chelsea sendiri mengaku tak mengalami kesulitan berperan di wedding life. “Soal wedding life, kita bangun chemistry dan field research dari focus group discussion tentang pernikahan. Untungnya karena karakternya nggak serius banget, mereka sebetulnya kaya masih anak-anak kecil, biar kontras sama yang udah lama nikah. Jadi walaupun udah nikah, bukan berarti mereka udah nggak kekanak-kanakan, tapi justru seru sih kaya stay young gitu,” ujarnya. Apakah bermain di sitkom ini memengaruhi pandangannya soal pernikahan? “Belum sih, jadi benar-benar acting as character and not influences me in real life,” jawabnya lugas.
Baik itu teater, film, maupun serial TV, tampaknya Chelsea sudah mencicipi berbagai medium akting dan belum berniat untuk menghentikan momentumnya. Ia mengungkapkan jika ia sempat berbincang dengan Garin Nugroho untuk membuat pementasan monolog dan ada satu project film berbasis karya sastra Indonesia yang masih tentative untuk tahun depan. Melihat sosoknya yang nyaris tanpa cela tersebut, saya pun penasaran, apa sih mimpi sejuta dolar bagi seorang Chelsea Islan? Ia menjawabnya sambil tersenyum, “Kalau aku hampir sama seperti Mbak Merry sih, aku ingin menginspirasi banyak orang, aku ingin mereka lebih aware sama social dan environment issue. Peduli budaya dan seni Indonesia. Mimpi aku masih banyak, mimpi-mimpi kecil seperti men-direct film, ingin bikin buku, bikin drama musikal. Aku lebih ingin banyak di belakang layar walaupun di depan juga masih ingin, cuma lebih selektif aja,” ungkap Chelsea dengan optimis. “Aku juga belajar untuk tidak cepat puas, itu nomor satu sih buat aku. Jadi belajar terus,” tuturnya menutup interview kami.

IMG_9413Sweater oleh Topshop, celana oleh Monday to Sunday, sepatu oleh Stacatto.

Foto oleh: Michael Cools. Styling oleh: Anindya Devy. Makeup Artist: Ryan Ogilvy. Asisten stylist: Priscilla. Lokasi: Vodka & Latte, Kemang.

She’s All That! An Interview With Chelsea Elizabeth Islan

IMG_2406

Cantik, cerdas, dan classy, NYLON menemukan sosok seorang “It Girl” Indonesia selanjutnya dalam diri Chelsea Elizabeth Islan. Get ready for some serious girl crush! 

NYLON bulan November 2013 lalu mengangkat tema “It Girl”, satu istilah yang sering terdengar namun tak pernah benar-benar bisa didefinisikan. “The ‘It Girl’ is the girl that EVERYONE wants to be. She has everything that you want so you tend to envy her. She does all the things that you can’t do so you grow to hate her.” Demikian salah satu pengertian “It Girl” yang terdapat di Urban Dictionary. Ketika saya coba mengaplikasikan definisi tersebut pada aktris pendatang baru Chelsea Elizabeth Islan, tampaknya saya kurang setuju pada poin terakhir. Well, melihat sosoknya yang effortlessly pretty, it’s easy for anyone to envy her for sure. Namun saat berbincang langsung dengannya, you can’t help but notice kalau dia ternyata tak hanya menarik secara fisik saja. Di balik wajah cantiknya, terdapat personality yang santai namun berprinsip kuat. It’s almost impossible to hate her, and you’ll know why.

            Chelsea, demikian gadis kelahiran New York 18 tahun yang lalu ini biasa dipanggil, datang ke studio pemotretan sendirian tanpa ditemani manajer. Ia mengaku belum punya manajer dan masih mengatur semua jadwalnya sendiri. Tanpa canggung, ia menyapa semua orang dengan manis dan segera bersiap untuk di-makeup. Dengan makeup minimalis dan wardrobe yang didominasi oleh lace pieces membuatnya terlihat angelic, Tanpa bersusah payah, ia mengikuti arahan fotografer dan setiap gestur kecil dari dirinya yang terkadang candid justru menjadi momen-momen yang menarik untuk difoto. It all seems natural. Tak heran jika ia mengawali karier dengan terpilih sebagai juara utama sebuah pemilihan cover girl majalah remaja, sebelum pada bulan Juni lalu membintangi debut layar lebarnya di film Refrain garapan Fajar Nugros yang juga dbintangi oleh Maudy Ayunda dan Afgansyah Reza.

            Akting sendiri bukan hal yang asing baginya. Dimulai dari peran sebagai salah satu bunga di drama Wizard of Oz di sekolahnya saat masih SD, teater menjadi salah satu passion-nya sampai saat ini di samping fotografi, fashion, dan art. Tak puas hanya di depan kamera, Chelsea pun gemar menulis cerita dan mewujudkannya dalam bentuk film pendek yang ia buat sendiri. “Film itu adalah media di mana aku bisa mengekspresikan pikiran aku dan mengembangkan kaya pikiran orang lain biar terinspirasi juga. Di film pendek pertama aku, judulnya The Junk Society tentang anak muda yang mencintai seni. Aku bilang seni di Indonesia belum banyak yang menghargai dan belum banyak yang memikirkan kalau seni itu useful. Banyak yang bilang ‘ih kok suka seni sih? Mau jadi apa?’ Pertanyaan-pertanyaan itu yang mau aku coba jawab di film aku itu,” ungkapnya.

            Bila di Refrain, ia berperan sebagai Annalise, seorang sweetheart yang tak jauh beda dari dirinya sehari-hari, maka bersiaplah melihat sisi lain Chelsea dalam peran terbarunya sebagai Karina di film action karya Awi Suryadi berjudul Street Society yang akan dirilis awal tahun depan. “Karina ini orangnya tricky banget, dominan, powerful, aduh… pokoknya dia temperamen banget dan agak psychotic. Jadi beda banget sama Annalise. Aku suka dari dua peran ini aku bisa jadi yang biasa dan yang tidak biasa. Karena menurut aku akting kan harus bisa semuanya. Lewat akting aku juga belajar facial expression sama tubuh juga harus gimana. Jadi akting bukan sekadar be someone else, tapi harus menghayati and be the character,” tandasnya.

Chelsea3

            Untuk pemotretan look terakhir, ia meminta berpose bersama salah satu kucing peliharaan di studio. Dengan sigap ia menggendong kucing Persia tersebut dengan gemas. Saya mengira jika ia adalah seorang cat person, namun saat dikonfirmasi, dengan tegas ia mengaku lebih menyukai anjing daripada kucing. “Aku lebih suka anjing karena bisa jagain kita dan setia. Kalau kucing keliatan lemes, males,” ujarnya. Sekali lagi, ia mematahkan persepsi awal saya. Penampilannya memang girly, tapi ternyata Chelsea besar sebagai anak yang cukup tomboy. Dari kecil ia ikut taekwondo, bermain go-kart dan motor ATV, bahkan pernah menjadi best soccer player di sekolahnya. Sekarang, ia memilih berenang dan diving sebagai olahraganya. “Kalau diving belum terlalu sering sih. Aku terakhir diving ke Tulamben di Bali, ke Liberty shipwreck, jadi di sana sekitar 12 meter di bawah laut itu ada shipwreck. Agak angker tapi it’s a good experience,” ceritanya dengan semangat. Ia lantas mengungkapkan keinginannya pergi ke Pulau Komodo dan menyebut Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai sutradara yang dikagumi. “Mau banget kerja sama mereka. karena mereka bener-bener down to earth dan kalau kita lihat kerjaan mereka, there is always something to do with Indonesia. Mereka keliatan cinta banget sama Indonesia dan caring about society,” jelasnya.

            Terlepas dari peran debutnya di film drama romantis, Chelsea mengaku dirinya bukan penggemar cerita cinta. “It’s not my cup of tea. Bukannya aku tidak menghargai cinta, tapi terkadang semua terlalu sentimental,” cetusnya. Tak heran bila kamu tak akan menemui film cheesy romance dalam film favoritnya. Ia lebih tertarik pada film berbau sejarah seperti Gie misalnya yang diperankan Nicholas Saputra yang menjadi aktor favoritnya. “Dari semua filmnya, dia punya prinsip. Yang bikin aku suka sama orang itu dia punya prinsip atau tidak. Dia mau memerankan karakter yang benar-benar mendidik dan ada moralnya. Like Twilight, what are you gonna get from that? Bukannya mau sok pinter atau apa, tapi lebih baik kita nonton film yang memberikan ilmu kan?”

            Chelsea sering sekali disebut mirip Mariana Renata, dan itu juga yang saya pikirkan. Namun saat interview, saya menangkap dari angle tertentu ia justru terlihat seperti Dian Sastro, dan kesan itu bertambah kuat saat ia mengungkapkan pemikiran yang sama kritis dan idealisnya dengan Dian. Entah coincidence atau bukan, Chelsea sendiri berencana melanjutkan kuliah di almamater Dian, yaitu Universitas Indonesia, tepatnya jurusan Sosiologi. Penggemar buku-buku Paulo Coelho ini punya alasan kuat untuk pilihan tersebut. “Menurut aku sosiologi itu akar dari segalanya, karena kita mempelajari manusia, mempelajari masyarakat, tata kota, semuanya. Salah satu cita-cita aku selain jadi film director dan fashion editor, aku juga pingin jadi menteri pemberdayaan wanita gitu,” ujarnya dengan serius, sebelum melanjutkan, “aku memang agak feminis. Bukannya sexist atau apa tapi memang aku ingin wanita bisa maju. Di sini wanita menurut aku belum ada freedom of expression, aku nggak mau ngomongin agama atau apa. Tapi wanita itu belum equal. Dari situ aku pingin memajukan wanita Indonesia. Deep inside, I want to change Indonesia, nggak tau gimana makanya menurut aku kalau belajar sosiologi itu udah bisa relate ke semua aspek kehidupan,” imbuhnya.

            Social awareness tersebut menurutnya sudah dipupuk sejak ia masih kecil. Dan jangan kira ia hanya berwacana tanpa berbuat hal yang nyata. Sekarang pun, di samping semua aktivitasnya di dunia showbiz, ia berperan aktif menjadi ambassador generasi muda di gerakan LovePink untuk isu breast cancer di Indonesia. ”You have to be the change that you want to see in this world. And you have to make the difference and believe nothing it’s impossible,” tutupnya sambil tersenyum. Biasanya ungkapan a la buku Chicken Soup tersebut hanya terdengar seperti jargon kosong. Namun entah kenapa, saya percaya gadis cantik ini bisa mewujudkannya.

IMG_2837

Styling by Patricia Annash

Photos by Andre Wiredja

Makeup by Marina Tasha

The Blind Truth, An Interview With Ayushita & Nicholas Saputra

Apa saja hal-hal yang tidak dibicarakan ketika kita membicarakan Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha? Let’s find it out together.

The early bird catches the worm” menjadi mantra penyemangat saat saya harus meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya menuju sebuah studio foto di daerah Kuningan demi jadwal cover photoshoot dan interview bersama Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha untuk edisi Mei. Mereka sebetulnya bukan nama asing bagi majalah ini, Nicholas pernah menjadi cover NYLON Guys Indonesia edisi April 2011, sementara saya sempat mewawancarai Ayu untuk edisi Anniversary NYLON Januari tahun ini. Sekarang, mereka berdua sengaja dipasangkan berkat film terbaru mereka, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, di mana keduanya berperan sebagai penyandang disabilitas yang menjalin hubungan yang “tidak biasa”.

Bila film-film bertema disabilitas pada umumnya dibanjiri drama air mata serta pesan-pesan preachy, film kedua karya sineas perempuan Mouly Surya ini memilih menunjukkan realita di balik tembok sebuah Sekolah Luar Biasa dengan apa adanya secara humanis. Dalam film dengan ensemble cast yang turut dibintangi oleh Karina Salim, Anggun Priambodo, dan Lupita Jennifer ini, Ayushita berperan sebagai Fitri, seorang remaja tunanetra di sebuah asrama untuk visually impaired yang terobsesi pada cerita hantu, dan selayaknya remaja seumurnya, she’s dying to feel some love. Saban malam Jumat, ia pergi ke kolam renang sekolahnya untuk bercerita kepada sesosok hantu dokter yang konon merupakan urban legend di sekolahnya, sampai suatu hari “hantu” itu muncul dan berkomunikasi dengannya lewat surat yang ditulis dengan huruf Braille. Fitri tak tahu jika dokter hantu pujaannya itu ternyata seorang pemuda tunarungu bergaya punk bernama Edo (Nicholas Saputra) yang diam-diam sering memperhatikan Fitri.

Semboyan love is blind menjadi hal yang literal dalam cerita ini. Terlepas dari keterbatasan fisik keduanya, mereka pun menjalani hubungan yang sangat passionate lewat sentuhan fisik dan momen-momen ajaib dari minimnya komunikasi di antara mereka. Menariknya, di film ini Mouly menghadirkan twist berupa alternate reality di mana keduanya adalah pasangan normal yang sangat komunikatif satu sama lain walaupun tinggal di sebuah kamar kos sempit, yang semakin terasa pengap dengan rentetan dialog klise orang mabuk cinta yang bila diresapi ternyata sangat “kering” dan dipaksakan. Conversation is (sometimes) overrated adalah pesan yang terpapar dari sini, dan membuat kita bertanya do they really fell in love? Atau justru seperti yang Fitri ungkapkan, apa mereka hanya jatuh cinta dengan konsep jatuh cinta itu sendiri?

Dengan premis skenario yang menarik tersebut, film ini berhasil disertakan dalam World Cinema Dramatic Competition di Sundance Film Festival tahun ini yang juga membuatnya menjadi film Indonesia pertama dalam salah satu festival film dunia paling bergengsi itu. Setelahnya, film ini juga ditayangkan di Rotterdam, Goteborg, dan Hong Kong International Film Festival dan mendapat respons gemilang dari semua media. Well, setelah menontonnya sendiri, kamu akan langung mengetahui penyebabnya. Script yang memang menarik itu diperkuat oleh pendekatan sinematik khas Mouly yang dipenuhi sinematografi cantik dan penuh simbol. Tak hanya secara visual, dari audio pun film ini memaksa kita menajamkan indera pendengaran kita. Di satu titik di mana tidak ada audio sedikit pun, kita dibuat “tuli” sesaat dan seluruh bioskop terasa hening sampai-sampai penonton seperti menahan napas menunggu suara muncul kembali. Komposisi musik yang digarap Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani dengan cerdas juga menjadi elemen penting yang menggambarkan emosi internal setiap karakter, salah satu yang paling memorable adalah lagu “Twinkle, Twinkle, Little Star” dengan lirik lagu “twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are,” yang terasa menusuk saat dinyanyikan karakter bernama Maya (Lupita Jennifer). Somehow, saya merasa lirik tersebut juga menggambarkan sosok Nicholas dan Ayushita. Keduanya memang bukan “bintang kecil”, dan hampir semua orang mengenal mereka, tapi apakah persepsi publik sudah cukup mewakili kepribadian mereka di dunia nyata? That’s what I try to find out this time.

IMG_0454 copy

Ayushita datang tepat waktu dan mulai menjalani proses makeup saat saya tiba. Sama seperti perjumpaan kami sebelumnya, ia terlihat riang dan bersemangat walau jam masih menunjukkan pukul sembilan, jam yang menentukan mood kita sepanjang sisa hari nanti. Satu-satunya yang berubah adalah kilatan warna turquoise yang kini menghiasi sebagian rambut belakangnya. “Sundance was so cold!” katanya riang saat saya menanyakan ceritanya ikut ke Sundance bulan Januari silam, “tapi aku sama Lupita pulang duluan karena aku harus nyiapin launching album. Yang senang pas lagi screening itu, kita juga nervous dan mereka tahu ini film Indonesia pertama yang masuk Sundance, tapi mereka memberikan respons yang baik, nggak ada penonton yang walkout, mereka stay sampai film selesai, dengerin Q&A, dan banyak yang pengen foto bareng. Aku pikir cuma hari itu aja, tapi the next day kita jalan-jalan, ada orang yang bilang, ‘kamu yang main di film itu ya?’ Terus ngajakin foto bareng, terus besoknya lagi pas kita jalan-jalan makan siang di main street ada orang yang bilang “Hey I saw your movie! Congratulation, we love it!’ terus banyak yang bilang ke Mbak Mouly, ‘terima kasih sudah bikin film yang bagus,’” ceritanya sambil tersenyum.

Gadis kelahiran 1989 ini punya alasan kuat untuk tersenyum. Kuartal awal tahun ini kariernya bisa dibilang tengah mengalami transformasi. Ia menggebrak dengan dua project besar sekaligus, yaitu film ini dan album musik solo pertamanya yang bertajuk Morning Sugar. Beberapa minggu sebelumnya, ia mengadakan mini concert di gedung PPHUI untuk perilisan albumnya, satu hal yang ia turun tangan sendiri menyiapkan segala sesuatunya. Musik di album ini sendiri sejujurnya bukan sesuatu yang akan kamu sangka dinyanyikan oleh Ayushita yang sebelumnya lekat dengan cap Bukan Bintang Biasa (BBB). Dibantu oleh Ramondo Gascaro (eks-keyboardist SORE) dan Ricky Virgana dari White Shoes & The Couples Company, album ini berwarna indie pop Indonesiana. “Banyak yang kaget sih, wah kok sekarang jadi kaya gini ya? Banyak juga yang agak sarkastik, tapi…I’m okay. Maksudnya sudah terbiasa dengan hal-hal kaya gitu,” cetusnya sambil mengangkat bahu. “Aku sebetulnya nggak ngerasa ini hal yang baru buat aku, untuk di depan publik mungkin iya. Mereka kan mikirnya aku sangat mainstream atau gimana, aku keburu udah di tengah-tengah, I like the off-stream, but I don’t hate the mainstream either, to be realistic aja sebetulnya. In real life, ini musik yang aku suka juga. iPod aku terlalu beragam playlist-nya dan indie pop adalah salah satu jenis lagu yang aku suka banget.”

Terjun ke dunia showbiz sejak kecil, Ayu memang telah terbiasa dengan berbagai pemberitaan menyangkut dirinya di media, entah kariernya sebagai aktris maupun sebagai penyanyi, walau ada satu sisi dirinya yang belum terekspos. “They don’t know if I love cooking a lot! Recently aku baru belajar baking. Baking itu lebih susah dibanding masak Italian or Japanese food, aku pernah mau bikin kue ulang tahun belajarnya kaya orang mau ujian, berkali-kali sambil nonton YouTube. It was fun. Terakhir aku bikin Strawberry Shortcake, dan Alhamdulilah rasanya kaya punya restoran yang emang aku suka Strawberry Shortcake-nya, Ahaa… gue punya resepnya! Bisa nih bikinnya! Haha!”  ungkapnya dengan wajah excited.

IMG_0532 copy

            Jam sepuluh kurang sedikit, Nico akhirnya tiba. Ia meminta maaf atas keterlambatannya, walaupun saya bisa memakluminya. Baru malam sebelumnya, ia pulang ke Indonesia dari traveling ke New York dan daerah selatan Prancis. Sialnya, setelah tiga minggu meninggalkan Indonesia, ia harus langsung berhadapan dengan schedule super padat, hari itu pun ia hanya punya waktu sampai jam 12 siang untuk memenuhi jadwal lainnya sampai malam. Sambil menunggu Ayushita selesai makeup, saya pun, melakukan ice breaking dengan aktor berusia 29 tahun tersebut. So how was Sundance? “Sundance…Ok, good… Di sana kita sepuluh hari di Park City, kota kecil di Utah yang pusat ski resort, waktu itu pas lagi peak musim orang main ski.tapi karena di sana dingin jadi kita maunya masuk bioskop terus. Responsnya oke, sebetulnya film ini kan bukan tipikal film Amerika, jadi buat mereka ini sesuatu yang baru dan beda dibanding film-film Amerika,” tandasnya.

Nico menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan tegas, mengingatkan saya akan perannya di film AADC yang melambungkan namanya. Mungkin karena faktor jet lag, ia agak terlihat lelah dan kurang mood untuk bicara panjang lebar. I know my safest bet adalah bertanya seputar film terbarunya ini. “Proyek film ini dimulai tahun 2010, awalnya memang diajakin Mouly untuk film ini, syutingnya Juni tahun lalu, reading dua bulan dan syuting dua minggu. Saya riset ke SLB tunarungu di daerah Cipete, ikut kelas mereka beberapa kali, ikut proses belajar. Banyak yang didapat sih, sebelumnya kita cuma mikir mereka nggak bisa dengar dan nggak bisa ngomong, tapi ternyata banyak hal yang bisa mereka lakukan,” jelas Nico sebelum tiba-tiba mengalihkan pandangan dan berseru, “Wohoo, thanks for the diet!” dengan cengiran iseng saat melihat Ayushita keluar dari ruang makeup dengan mengenakan look pertama yang terdiri dari crop top Topshop dan celana rok Balenciaga. Ayushita hanya tertawa menanggapi celetukan itu. Obrolan canggung saya dan Nico pun harus terhenti karena kini gilirannya berganti wardrobe dan memulai pemotretan.

Thanks for their role as a couple, mereka sudah tidak risih lagi saat harus berpose berdua. Frame demi frame dilewati keduanya dengan santai dan diselipi beberapa inside jokes. Saat hampir jam 12, Nico berulangkali melirik jam dan smartphone miliknya. Di saat ia mengira pemotretan sudah selesai, ternyata masih ada satu look lagi yang harus ia pakai, dan Nico pun berbesar hati menyanggupi. Ia berganti baju dengan cepat dan tanpa buang waktu menuntaskan sisa pemotretan. Setelahnya, dengan agak tergesa, Nico membereskan barang bawaannya, mengucapkan terima kasih ke semua orang dan segera melesat ke appointment berikutnya. Sebelumnya, kami berjanji untuk bertemu lagi besoknya untuk melanjutkan interview dan saya pun melanjutkan interview dengan Ayu saat ia juga telah menyelesaikan pemotretannya.

Melihat keakraban keduanya saat photoshoot, saya bertanya kepada Ayu tentang caranya membangun chemistry bersama Nico untuk film ini. “Aku baru kerja bareng Nico di film ini. I was so nervous sebetulnya karena dia jam terbangnya udah jauh lebih banyak dan ada hal-hal yang aku belum pernah jalanin di film tapi dia udah. Cara Mbak Mouly nge-direct itu lebih diskusi dan nanya opini kita kaya gimana scene-nya, jadi kita banyak ngobrol karena aku scene-nya paling banyak sama Nico. Kita spend time quite long sepanjang syuting selama dua minggu. I don’t really think about the chemistry, tapi justru karena ada satu adegan yang harus dilewati itu, yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. I have to pull myself together. Jadi aku milih dengerin iPod dan duduk sendiri dulu. Waktu liat set adegan itu aku yang ‘Oh no!nervous banget! Aku nggak omongin ke siapa-siapa, tapi semua yang ada di situ tau dan mereka nggak push aku untuk apapun, mereka benar-benar memberi waktu ke pemain dengan ketegangan kita masing-masing,” papar Ayu mengingat kembali salah satu adegan di film ini yang merupakan tantangan baru bagi dirinya sebagai aktris.

Risque scene aside, sama seperti Nico, Ayu juga belajar banyak hal dari film ini tentang penyandang disabilitas. Ia belajar huruf Braille dan meningkatkan sense selain penglihatan dengan menutup mata seharian dan berjalan dengan meniti railing di tembok lokasi syuting. “Waktu pertama kali datang ke lokasi ada banner foto-foto kegiatan mereka dan judulnya ‘Jangan Kasihani Kami’, aku yang ’owkaaay…’ Aku nggak tau yang lain notice apa nggak tapi itu yang pertama aku liat. Begitu masuk, ternyata mereka sama aja kaya kita, saling ngeledekin temen-temennya yang pacaran, ada yang busted lagi ngapain, terus jadi bahan omongan,” kenangnya. “Mereka punya passion yang sama dan feeling yang lebih kuat dari kita. Mereka juga mandiri, ada yang selalu pulang sendiri ke Bogor naik bus, padahal dia cewek. Setelah menjalani film ini aku mikir, oke aku nggak kasihan lagi sama mereka. Karena mereka hebat dan mereka memang nggak suka dikasihani, kaya ‘kenapa? I’m happy dengan keadaan ini’,” imbuhnya dengan mimik serius. “Yang jelas, aku jadi belajar lebih embrace dengan apa yang kita punya,” tuntas Ayu.

Besoknya, saya pergi ke kantor Cinesurya di daerah Melawai untuk melanjutkan interview dengan Nico dan kali ini berharap ia mau sedikit lebih bercerita dibanding pertemuan sebelumnya. Nico terlihat sama kasual dari hari sebelumnya dengan paduan polo shirt putih dan jeans. Dari dekat, saya bisa melihat kantung matanya masih agak tebal, ia mengaku baru tidur jam satu malam dan bangun jam 10, “Knocked out!” cetusnya sambil tersenyum kecil. Anyway, setelah tidur 9 jam, tampaknya mood Nico jauh lebih rileks hari ini. Saya memulai obrolan dengan topik-topik ringan, seperti musik apa yang biasanya ia dengarkan, “I listen a lot of rock, jazz music, yang sekarang ini apa ya? Gue lebih suka band-band lama…Emerson, Lake & Palmer, terus yang di playlist gue belakangan ini paling Depeche Mode sama Tears for Fears!” jawabnya sambil sesekali menghisap rokok. Saya menyinggung sedikit perannya sebagai Edo di film ini yang bergaya punk dengan jaket kulit, rambut dicat, dan tindikan di bibir, walaupun Edo sebetulnya tidak bisa mendengar, “Yeah, sometimes people do that, sekarang kan orang gaya apa belum tentu denger musiknya ya sesuai gayanya. Yang penting kan orang gayanya apa juga bebas-bebas aja,” ujarnya. Nico mengaku sudah lumayan lama sejak ia terakhir kali datang ke sebuah konser, karena kesibukannya traveling dan main film. Bagi orang awam, mungkin nama Nico seperti menghilang, walau sebetulnya ia masih rutin terlibat produksi film. Harus diakui belakangan ini ia cenderung bermain dalam film-film festival yang kurang terdeteksi publik umum. Hal itu menurutnya bukan suatu kesengajaan, tapi karena ia memang tertarik pada skrip yang ditawarkan dengan peran-peran tidak umum. “Too many characters in the world, gue nggak pernah yang pengen karakter ini karakter itu, sebetulnya karakter sederhana  justru bisa dibuat menarik karena kesederhanaannya,” tukasnya.

IMG_0240 copy

Satu dekade berkecimpung di entertainment, apakah Nico puas dengan portrayal media tentang dirinya? “Portrayal gue di media? Aduh sebetulnya gue nggak terlalu perhatiin sih, nggak sempet, paling kalau lagi berhubungan sama filmnya aja, pengen tau kritik, pengen tau review, pandangan orang sama kerjaan gue, biasanya ya gitu aja sih, yang hubungannya sama pekerjaan,” ucapnya. Dari sini pembicaraan pun bergulir dengan sendirinya, kita telah memasuki zona nyaman Nico dengan topik seputar kariernya di industri yang menurutnya harus selalu dikembangkan lagi. “Sebetulnya kritik atau review film di Indonesia masih perlu dikembangin, karena kita masih sedikit banget punya kritikus yang menurut gue capable mengkritik film dan sebetulnya itu juga bagian penting dalam industri film sih,” lugasnya sambil menambahkan, “kritikus tugasnya mewakili masyarakat tapi juga meng-educate masyarakat supaya hubungan antara filmmaker dan penontonnya ada, ini sebetulnya link yang harus dimiliki industri film. Sekarang banyak medium blog film juga bagus banget, pertama karena melatih mereka untuk menulis dan berpendapat soal film, terserah lo mau nulis apa, it’s a free country. Mudah-mudahan 5 atau10 tahun ke depan kita punya banyak kritikus yang bagus dan ngerti film,” paparnya panjang-lebar.

Selain film, traveling menjadi hal lain yang akan memacu Nico untuk dengan senang hati bercerita. Apakah ia masih menganggap dirinya sebagai full time traveler, part-time actor seperti yang tercantum di bio Twitter-nya? “So far, iya, haha!” responsnya sambil terkekeh, “itu joke aja sih sebetulnya, karena pekerjaan utama gue ya main film. Traveling itu penting buat gue karena selain dari dulu seneng jalan-jalan, penting buat cari inspirasi, cari hidup, Maksudnya kita tinggal di Jakarta, you live in the bubble, dan bubble itu makin lama makin tebel dindingnya, dan gue pengen keluar dari bubble itu untuk bisa refresh. Traveling itu lo ngeliat dunia, kalau akting juga ngaruh karena lo dapet references yang banyak dari kehidupan orang. Lo bisa lebih eksploratif, bisa melihat banyak kehidupan, sama to get away… kalau gue traveling ke luar negeri ya untuk menikmati hidup di suatu kota atau lingkungan tanpa ada yang minta foto atau hal yang berhubungan dengan pekerjaan gue,” ungkap Nico seraya menegaskan jika bukan berarti ia selalu memilih traveling ke luar negeri. Ia sempat selama dua tahun fokus traveling dalam negeri untuk lebih mengenal Indonesia dan jatuh cinta dengan Pulau Komodo yang menjadi lokasi diving favoritnya.

Somehow, I still can manage it sih, gue bukan tipe yang 9 to 5, yang kerja kaya maraton gitu, kalau kerja monoton gue cepet bosen,” kata Nico saat saya bertanya tentang caranya mengatur schedule yang padat. “Gue lebih suka sprint. Jadi gue rileks, santai tapi abis itu gue ngebut, that’s how I do my muscle. Mending kalau nggak ada kerjaan, gue cabut, pulang-pulang kerjaan numpuk tapi abis itu gue bisa rileks lagi,” imbuhnya.  Untuk menjaga stamina, Nico rutin berlatih Muay Thai dan renang yang diakuinya seperti meditasi, sambil bersiap terlibat dalam produksi film selanjutnya yang akan berskala besar akhir tahun ini.

Untuk menutup pembicaraan siang itu yang diselingi cemilan pisang asam dari Thailand, saya meminta Nico berandai-andai tentang hal yang ingin ia lakukan jika ia memiliki waktu luang, “Do nothing, gue akan ada di suatu kapal di Komodo, ngopi seharian dan diving sesuka hati, but I got many times like that sih sebetulnya. Seminggu kosong nggak ngapa-ngapain, I know the art of doing nothing, definitely!” jawabnya sambil tertawa renyah.

            In the end of the day, saat saya memikirkan kembali tujuan utama saya dalam menulis artikel ini, tentang apakah Ayu dan Nico adalah orang yang sama saat ada di depan dan belakang sorotan kamera, hal itu menjadi tidak relevan lagi. Satu hari jelas tidak akan cukup menjawabnya, yang pasti mereka berdua adalah orang yang passionate di bidang yang mereka geluti dan tak takut menjadi diri sendiri. No sugarcoated words, and of course, no superficiality.

As published in NYLON Indonesia May 2013

Photo by Hakim Satriyo

Styling by Anindya Devy

Sweet Disposition, An Interview With Ayushita

Membintangi film yang akan ditayangkan di Sundance Film Festival dan bersiap merilis album solo perdananya, Ayushita tengah melangkah riang dengan visi baru. 

Mendengar nama Ayushita Nugraha, mungkin kamu langsung teringat dengan Bukan Bintang Biasa alias BBB. Dalam grup musik besutan Melly Goeslaw tersebut, Ayu dan 4 artis muda lainnya menarik perhatian publik dengan konsep mereka yang menekankan jika masing-masing personelnya memang artis serba bisa. Saya sendiri selalu merasa gadis kelahiran Jakarta 23 tahun lalu tersebut memang punya sesuatu yang lebih dibanding artis-artis sebayanya yang lain. There’s some sort of big potential yang sayangnya masih terasa belum dimaksimalkan, seakan menunggu sebuah outlet atau momen yang tepat untuk akhirnya tersibak. Fortunately, that time has finally come for her.

Diiringi musik swing dan Motown yang memenuhi sebuah kafe di bilangan Kemang, Ayushita yang terlihat segar dengan rambut panjangnya mulai bercerita tentang dua proyek besar yang sedang dijalaninya. Yang pertama, dalam waktu dekat ia akan terbang ke Amerika untuk menghadiri Sundance Film Festival, di mana film terbarunya akan melakukan world premiere. Berjudul Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (What They Don’t Talk About When They Talk about Love), film garapan Mouly Surya tersebut terpilih dalam kategori The World Dramatic Competition untuk festival yang berlangsung di Salt Lake City, Utah itu. Di film ini ia memerankan salah satu tokoh utama bernama Fitri, gadis tuna netra yang berjumpa dengan Edo (diperankan Nicholas Saputra), seorang punk rocker dengan gangguan pendengaran yang menyamar menjadi dokter. Premisnya memang merujuk pada cerita cinta, namun jelas yang terpapar kali ini adalah cinta yang lebih rumit karena keterbatasan fisik mereka berdua. “Di film ini para pemain lebih dibebaskan mengembangkan karakter dan tidak terpaku vision Mbak Mouly sebagai director. Tidak ada pressure sama sekali dan waktu aku fix dapat peran ini, aku diajak ngobrol panjang lebar dengan Mbak Mouly berdua saja tentang film ini karena ceritanya kan masalah perempuan, and she’s convinces me that I can do it,” ungkap Ayu yang mengaku sempat ragu-ragu untuk memerankan penyandang tuna netra, sebuah peran yang mendorongnya melakukan observasi di panti tuna netra, belajar huruf Braille, memakai makeup sendiri tanpa melihat, sampai belajar pijat.

Exactly? Dari umur 3 tahun,” jawab Ayu tentang awal kariernya. “Dulu foto baju anak-anak, iklan, dan waktu SD sempat ditawarin sinetron tapi aku nggak mau,” kenangnya sambil tersenyum. Nama Ayushita sendiri resmi dikenal publik saat ia selesai mengikuti ajang Gadis Sampul 2004 yang bersamaan dengan syuting perdananya untuk FTV berjudul Bekisar Merah garapan Miles Production. Perannya sebagai cewek tomboy yang menyamar sebagai anak laki-laki untuk bermain bola membuatnya dinominasikan untuk Piala Vidia FFI 2004 dalam kategori Pemeran Wanita Utama Terbaik. Walau akhirnya kalah dari Ria Irawan, dalam ajang yang sama, ia meraih penghargaan khusus Aktris Pendatang Baru Terbaik. Sejak itu kariernya melesat dengan membintangi beberapa judul film lainnya dan terlibat dalam BBB.

ayushita2

Terjun ke dunia showbiz yang keras dari usia dini, apakah ia memiliki semacam regret tersendiri? “I’m sure have once in a while,” jawabnya sambil menyesap iced tea dengan hati-hati. “Waktu itu aku pernah ngambil satu produksi yang mungkin karena aku terbiasa dengan produksi jangka panjang, all of sudden I must do an instant and very industrial thing. I was so shocked, kayak yang ‘Gila, ternyata kayak gini banget ya?’ Aku selalu memerlakukan satu produksi sama dengan lainnya, I give my best. Tapi yang satu ini feedback-nya memang kurang seimbang jadi waktu itu sempat bikin males, akhirnya aku lanjutin kuliah yang pending dua tahun,” ungkapnya serius sambil menyinggung tentang kuliahnya di jurusan Performing Arts Communication di London School. “Aku ternyata lebih senang mengerjakan sesuatu dengan preparation. I don’t say I hate that industrial thing, I feel thankful for the experiences. Dari situ juga aku akhirnya merasa jauh lebih happy karena aku jadi punya banyak waktu untuk bikin sesuatu seperti album musik aku sendiri,” lanjutnya.

Yup, proyek besar kedua Ayushita saat ini adalah sebuah album solo debut. Di bawah label Ivy League Records milik Ramondo Gascaro dari band Sore yang juga menaungi Payung Teduh dan Darryl Wezy, Ayu menunjukkan potensi lain dalam dirinya lewat lagu-lagu garapan Mondo, Ricky Virgana dari White Shoes & The Couples Company dan Anda Perdana berupa pop eklektik yang easy listening. Proyek ini sendiri tercetus setahun lalu dari sebuah jamming iseng antara Ayu dan Ricky yang mengunggah rekaman video mereka meng-cover lagu The Bird & The Bee ke YouTube. Album yang direncanakan rilis sekitar bulan Februari atau Maret ini berisi 8 lagu dengan dua lagu berbahasa Inggris, dan judul albumnya sendiri akan bertajuk Morning Sugar. “Yang milih judulnya kakak aku, Karin. I dunno why, she really loves those words, haha. Morning Sugar itu buat aku sendiri adalah suatu hal yang menyenangkan, jika ada yang bilang ‘Morning, sugar!it’s such a sweet thing,”

Saat mendengar single berjudul “Fufu-Fafa” di iPod-nya, kesan yang terdengar adalah musik pop yang fresh dan laidback seperti lagu-lagu yang dibawakan Zee Avi, Bic Runga atau Dia Frampton. Untuk influens musikal sendiri, Ayu tak terpatok genre tertentu, ia mendengarkan beragam musik, mulai dari R&B, 90’s alternative rock, jazz hingga classic. “Kalau untuk lagu aku sendiri, dari komentar yang sudah dengar ada yang bilang genrenya ini genrenya itu, beda semua pendapatnya. Aku sih bebasin aja ke yang dengar, terserah mau bilang genrenya apa, nggak mau mengotakkan album aku sendiri,” tukasnya. Selain warna vokal Ayu yang berkarakter, yang membuat album ini terasa menjanjikan tentu tak lepas dari otak kreatif di balik aransemen musiknya yang menarik. Untungnya, Ayu tak menjumpai kendala saat menyatukan visi antara pembuat lagu dan dirinya. “Penyesuaian antara karakter suara dan musik itu pasti ada. Sebelum mereka buat lagu, aku maksa mereka dengerin suara aku dulu biar tau cocoknya gimana karena kan belum tentu apa yang mereka bikin bisa cocok aku nyanyiin. Tapi mereka tetap bebas berekspresi, aku nggak maksa misal aku suka lagu seperti apa, mereka harus bikin yang kaya gitu. As long as kita sama-sama suka ya diterusin,” ungkapnya.

Dengan dua proyek besar yang seakan menjadi momen turning point untuk seorang Ayushita, baik secara personal maupun profesional, bagaimana Ayu memandang dirinya sendiri saat ini? Ia sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya memberi jawaban, “Apa ya? Mungkin beda dari sebelumnya, aku sekarang merasa lebih chic. Banyak yang lama nggak ketemu aku bilang ‘hah kok lo cewek banget sekarang?’ haha… Ya nggak tau deh mungkin sekarang umurnya lagi seneng centil, haha. Sama dengan albumnya, terserah orang mau bilangnya kaya gimana tapi this is Ayushita now,” lugasnya dengan senyuman cerah.

As published on NYLON Indonesia January 2013

Photo by Rude Billy.

Book Club: Ladya Cheryl

ladya-cheryl

Ladya Cheryl adalah salah satu dari sedikit aktris muda Indonesia yang memiliki resume akting yang menarik. Setelah breakthrough role-nya sebagai seorang gadis rapuh di Ada Apa Dengan Cinta?, Ladya terus memainkan peran-peran tak biasa di film-film berikutnya seperti Fiksi, Kara Anak Sebatang Pohon, Babi Buta Yang Ingin Terbang dan Postcard from the Zoo. Saat ini selain bermain film yang umumnya berjenis film festival, Ladya juga sibuk menjadi pemain bass untuk Zeke Khaseli, menonton film-film Indonesia di bioskop, merawat kaktus pemberian teman dan merajut. “Bisa dibilang hobi, tapi kadang-kadang bosan juga. Merajut belajar sama teman. Di daerah Mandar ada toko benang namanya Sasha, kalau beli benang di sana diajarin merajut gratis sekalian. Senang juga. Kenapa pilih rajut? karena lihat teman waktu itu asik merajut sambil ngobrol, tapi akhirnya jadi barang, seperti cardigan, topi, syal,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 31 tahun lalu ini. “Kalau kita baca buku atau nonton film, ada karakter yang membuat kita ingin menjadi seperti karakter atau mengikuti kisah hidupnya, kemudian merasa senasib atau simpati/empati,” ujar Ladya ketika saya memintanya memilih 5 novel yang menurutnya menarik untuk dijadikan film.

les_miserables

Les Misérables

Victor Hugo

Buku ini ceritanya memang panjang dan sudah difilmkan. Saya sudah nonton dan inginnya dibuat yang lebih lengkap seperti bukunya. Mungkin kalau terlalu panjang untuk difilmkan, bisa dibuat serial. Di Inggris ada play-nya, ingin banget nonton.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The Adventures of Tom Sawyer

Mark Twain

Sudah difilmkan juga. Karena ketika saya baca The Adventures of Tom Sawyer, saya merasa terhibur dan ingin hidup di kota kecil yang ada sungainya, main sama teman-teman sekitar rumah di atas bukit. Di zaman itu, kalau mau dapetin sesuatu/barang yang anak-anak itu suka, mereka saling tukar benda-benda kepunyaan masing masing, rasanya ingin ada di zaman itu, tempat itu.

Sybil1

Sybil

Flora Rheta Schreiber

Ini saya belum tau sudah atau belum. Kalau belum boleh juga, karena ingin tau penggambaran perpecahan Sybil akan seperti apa. Untuk buku ini, saya lebih ingin lihat siapa pemainnya, karena buku ini diangkat dari kisah nyata, jadi kalau kita mau nonton film Sybil, mungkin pemainnya yang tidak biasa kita lihat, atau pemain yang bisa menghilangkan identitas dirinya sendiri. Karena saya penasaran dengan Sybil dan teman-teman kepribadiannya.

audrina
My Sweet Audrina

V.C.  Andrews

Menunggu perasaan tegang dan suasana rumah Audrina dan keluarganya yang aneh.

book-cover
Norwegian Wood

Haruki Murakami

Ini juga sudah difilmkan, tapi saya belum nonton. Belum siap kalau tidak sesuai bayangan, karena baca buku ini seperti berada di Jepang dan menonton langsung dialognya. Intinya rasanya seperti nonton filmnya ketika baca. Terasa nyata.