#30DaysofArt 29/30: Wastana Haikal

“Nama lengkapku Haikal, tapi aku coba tambahkan unofficial name di depan, yaitu Wastana (‘wasta’ di dalam Bahasa Sunda artinya ‘nama’, wastana = namanya). Why I chose this name because everytime I introduce my name, everybody always asking me my full name,” ungkap freelance graphic desainer kelahiran Bandung, 12 Juni 1994 yang baru saja lulus dari DKV ITB ini. Terinfluens dari kartun masa kecil seperti film-film Disney’s serta serial animasi Avatar: The Last Airbender, ia mengembangkan gaya ilustrasi yang terkesan quirky, vibrant, dan penuh detail. Maka tak heran jika ia pun menaruh minat khusus pada animasi. Proyek akhir kuliahnya berupa film animasi pendek 2D bertajuk Biwar yang berdasarkan folklore Papua adalah bukti dari talentanya yang menjanjikan.

haikal

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Specifically,aku lupa. Tapi, keluarga aku dari ibu dan ayah memang banyak yang tertarik terhadap seni dan estetis. Kakek aku, dua-duanya senang menggambar, tanteku tertarik dunia fashion, tante aku yang lain tertarik di bidang kerajinan, ibuku senang terhadap nilai estetis dalam berpakaian atau hiasan rumah. Jadi mungkin secara alami alam memperkenalkanku terhadap seni. Tapi untuk yang secara formal itu sepertinya terjadi waktu SD, jadi aku masuk ekstrakulikuler gambar, nah di situ gurunya adalah guru kelas keterampilan. Beliau adalah orang kedua yang sering melibatkan aku di dalam lomba gambar setelah ibuku.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Satu, tanggung jawab sebagai lulusan sekolah desain yang menurut aku emang harus selalu berkarya. Dua, mata pencaharian, haha. Tapi pada dasarnya aku senang banget buat sesuatu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Emte, NALU, Diana Volonskaya, Kelly Beeman, Ariel Victor, Zaruhi Galstyan, Rebecca Green, Oliver Jeffers, Rachel Ajeng, Alina Chau, Maruti Bitamin, and many more.

biwar

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Saat masuk kuliah, aku diperkenalkan dengan cat air oleh dosen gambar bentuk. Sebelum itu aku sudah tau apa itu cat air tapi belum pernah menggunakannya, lebih sering menggunakan pensil warna yang bisa di-blend menggunakan air. Nah, saat aku coba cat air, aku seneng banget. The after effect was mesmerized me. Stroke-nya sama hasil “beauty mess” yang ia hasilkan. Akhirnya mulai dari situ aku pakai cat air terus untuk membuat karya-karya manual. Pada satu waktu aku akhirnya beli pen tablet karena aku ingin mengasah skill digital drawing (cat air masih tetap berjalan). Intinya, sampai sekarang aku masih menjalankan manual dan digital karena aku merasakan ada keindahan tersendiri dari mereka berdua, dan terkadang mereka memiliki misi yang berbeda, dalam artian ada beberapa konsep karya yang aku rasa lebih cocok pakai manual, atau lebih cocok pakai digital sehingga aku menetapkan untuk mempertahankan itu.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Festive, vibrant, cheerfull, quirky, immature, detail, exaggerate.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama aku, kata ibuku adalah ikan lumba-lumba di lantai rumah pada saat umur 3 tahun. Dan semenjak itu aku terus menggambar sampai detik ini. Kalau official pameran aku yang pertama pas ada di tingkat 1 kuliah. Pameran tugas akhir tahun 1 untuk penentuan program studi di tingkat 2. Seperti mahasiswa yang lain, aku menampilkan tugas-tugas tingkat 1 seperti Nirmana, gambar bentuk, gambar konstruksi, dan lain-lain. I was so excited that time bukan karena pamerannya tapi karena persiapannya yang benar-benar mengerahkan 200+ orang satu angkatan untuk membuat pameran itu. Kami menginap di kampus, men-display, dan lain-lain.

untitled

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Berkesempatan meluncurkan buku ilustrasi anak pertama aku awal tahun 2016 di bawah asosiasi Room To Read dan PROVISI dan menyumbangkannya hampir ke seluruh perpustakaan terpencil di Indonesia bersama buku-buku dari ilustrator lain. Satu lagi, ini agak fanboyish tapi, I was so happy salah satu karya aku tentang Meghan Trainor mendapat apresiasi dari Meghan Trainor dan dia me-repost itu.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Aku bisa mendapatkan unlimited referensi. Like really. Unlimited. Jadi aku bisa tau orang-orang skill-nya udah sampai mana, media apa saja yang dipakai, tutorial, dan lainnya yang menyangkut kemakmuran skill kita. Dan kalau beruntung kita bisa personal message ke artist yang kita tuju dan menjadi teman di dunia maya. Tapi terkadang aku bakal mudah putus asa. So many talented people on internet. Dan nggak jarang karya mereka keren mampus. Dan kadang aku suka jadi down, putus asa, dan bahkan bisa sampai berhenti berkarya. Padahal mungkin aku harus sabar sedikit, siapa tau aku sedang on the way ke sana with more practice and intergrity atau aku memang nggak bisa kaya yang lain karena memang itu keunikan aku dan gimana caranya keunikan aku itu jadi nilai tambah.

guys

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Kalau untuk Bandung sendiri, aku udah mulai senang karena sudah mulai didandani di sana-sini. Nuhun Kang Emil. Sebagian orang bilang beliau hanya menata kota namun tidak membenahi kota. Well, I think dia membenahi kota juga. Kota itu di dalamnya ada manusia, dan manusia butuh hiburan dan sesuatu yang eye pleasing dan Ridwan Kamil udah bikin itu dan menjadi contoh untuk kota- kota lain. Walaupun Bandung sekarang macetnya udah mampus. But anyway, I like his programs and progress. Orang-orang di Bandung, contohnya saja di ITB sudah mulai menyadari berapa besar nilai seni dan desain di berbagai aspek kehidupan. Dalam bikin acara, brand dan lain-lain. Bahkan ada kabar, karena ITB sedang mengejar sebuah akreditasi, mereka mengajak teman saya untuk membuat mural di setiap fakultas. And it’s such an old song, every time I graduate from school, the school gets more beauty. Tapi ya gitu, sebagian besar orang masih kurang concern terhadap nasib dompet para desainer dan seniman. Hiks.

Current obsession?

I really want to go to America no matter what the purpose is. I want to live there, one week is enough. I want to be one of the animator, or illustrator, or intern in Walt Disney’s movie production.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di kamar aku, duduk di depan laptop. Aku nggak terlalu banyak main keluar pas weekend, karena jarak rumah aku jauh dari pusat kota, bisa 2 jam. Jadi keluar rumah kalau ada occasion aja. Paling aku keluar ke Miko Mall, nearest mall that provides duniawi amusement from my house kaya bioskop, KFC, McD dan lain-lain. Paling jauh ya sekitaran Kota Bandung, terutama Dago. Biasanya aku kumpul sama teman sambil ngobrol atau ngerjain kerjaan.

baroque-2

Project saat ini?

Aku baru menyelesaikan proyek animasi dari J&T Express semacam pengantar paket yang digunakan untuk pelatihan para kurir. Aku juga baru menyelesaikan proyek buku cerita seri tentang pertumbuhan seorang cewek, aku dapat bagian cerita saat dia menemukan kesempurnaan dirinya. Selanjutnya aku bakal ikutan workshop ilustrasi bersama Room To Read dan PROVISI dengan penerbit-penerbit yang dari workshop tersebut akan dibikin buku cerita anak dan dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Lalu aku lagi merencanakan bikin studio animasi bareng partner aku.

Target sebelum usia 30?

Menaikkan haji orang tua, memiliki kendaraan pribadi, lulus S2, menjadi desainer yang memiliki pribadi yang baik, terlibat dalam produksi animasi baik luar atau dalam negeri, have 10k followers on Instagram.

jovi

#30DaysofArt 4/30: Ariel Victor

“Menurut saya, bukan hanya visual yang berperan penting dalam menghasikan sebuah karya. Cerita justru menjadi esensi dalam karya-karya saya, baik itu animasi ataupun ilustrasi,” ujar animator dan ilustrator lulusan Animation & Interactive Media RMIT University, Melbourne ini. Punya ibu seorang guru TK, sejak kecil pria yang lahir di Semarang, 10 Januari 1992 ini telah disodori film-film Disney, buku cerita anak-anak, dan berbagai ensiklopedia yang menimbulkan hasrat untuk menggambar hal-hal favoritnya, mulai dari karakter film sampai binatang dan dinosaurus. Penuh warna pastel yang vibrant dengan cerita yang memikat, final project animasi 2D karyanya yang berjudul Me & Them sukses meraih penghargaan Best Australian Student Film di Melbourne International Animation Festival (MIAF) dan membuahkan proyek seru lainnya, mulai dari kompilasi animasi indie dalam rangka mempromosikan breast cancer awareness hingga animasi pendek sebagai salah satu Christmas E-card untuk Hallmark.

arielvictor-profile

Bagaimana masa kecilmu mempengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahirnya di Semarang, terus sempat pindah ke Salatiga, Tomohon, sebelum akhirnya menetap di Jakarta pas umur 10 tahun. Dari kecil sih orang tua selalu mendukung saya dalam berkreativitas, especially my mom who’s a kindergarten teacher.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Kebanyakan nonton film Disney, lama-lama jadi obsesi untuk bikin film animasi sendiri.

 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan style favoritmu?

Tentunya banyak trial and error dilewati. Dari mencoba dan “mencuri” berbagai gaya dari seniman, ilustrator, dan animator favorit saya, eventually and naturally I get to the point where I am comfortable with the way I draw.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Henri Mattise. Warna-warni cut-outs beliau selalu memberikan kesan tersendiri untuk saya. Di dunia animasi, hands down to Hayao Miyazaki dan segala imajinasinya! Selain itu saya juga sangat suka karya dari seniman independen yang saya follow di media sosial seperti Lisk Feng, Dadu Shin, Alex Grigg, dan Charles Huettner.

finding-snakes

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya orangnya tergolong perfeksionis, jadi sering banget terobsesi dengan warna, komposisi, bentuk, dan keteraturan obyek-obyek dalam gambar saya.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Graduation Show dari RMIT University, Melbourne. Waktu itu final project 2D Animasi saya yang berjudul Me & Them ditayangkan ke publik pertama kali. It felt really good to finally finish and share my hardwork, it took 6 months to make! Acaranya juga spesial banget karena kita sendiri yang organize semuanya, it was a blast!

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Di satu sisi, terkadang disodorin karya-karya keren dari berbagai artist setiap harinya bisa jadi stress tersendiri yang nggak jarang membuat saya minder. Di sisi lain, media sosial sangat membantu mendapatkan koneksi dan juga menjadi wadah untuk membagikan karya saya. But it’s all good. It’s about finding balance between the two.

Bakat rahasia di luar seni?

I can probably mouth along to every episodes of Friends, is that a skill? Hahaha. I am usually easily obsessed with TV series, which can be super distracting. I also like to binge watch a lot of cartoons, still.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Coffee shops di sekitar Jakarta aja, kalau memang lagi nggak banyak deadline.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya melihat banyak sekali event dan pameran yang didedikasikansebagai wadah bagi seniman lokal di Jakarta. Senang sekali tentunya melihat semuanya ini dalam sebuah profesi yang kadang bisa dibilang “lonely”. Belum lagi di kota besar yang selalu sibuk seperti Jakarta ini, nggak gampang untuk connect atau bahkan hangout aja, jadi banyaknya kesempatan untuk bisa mengapresiasi karya satu sama lain tentunya positif banget!

 

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Kampanye Crowdfunding bareng Kopi Keliling lewat wujudkan.com untuk membuat pilot episode dari Traveling Richie (that will hopefully become a webseries in the future) baru selesai bulan lalu. Jadi sekarang sedang dalam tahap produksi. Selain itu saya sedang brainstorming untuk membuat film pendek yang selanjutnya juga.

Target sebelum usia 30?

Wah banyak banget, mau buat film animasi pendek lebih banyak lagi pastinya. Film animasi panjang juga, fingers crossed! I really want to make picture books too! Also getting to experience making works on different countries as well!

the-chosen-generation