Art Talk: The Fading Melancholia of Cynthia Tedy

profile

Shades that fade slowly but never completely,” demikian deskripsi personal yang diutarakan Cynthia Tedy untuk estetika karya grafisnya. Lahir di Jakarta 24 tahun silam, gadis yang berprofesi sebagai ilustrator dan desainer grafis tersebut mengaku telah mulai rutin menggambar sejak kelas 2 SMA namun baru mempertimbangkannya sebagai karier ketika menginjak tahun ketiganya di jurusan animasi. “Mungkin itu adalah masa-masa saat kebanyakan orang belajar bahwa dunia itu tidak sebatas apa yang kita asumsikan, juga mulai paham bahwa berbagai hal dalam hidup itu bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Kita bisa belajar begitu banyak karena ada orang-orang yang mengekspresikan cara mereka merangkul kehidupan with all its beauty and tragedy. Sebisanya, aku mau mengambil bagian juga dalam perjalanan itu,” ungkapnya bijak. Setelah mengenalnya lebih jauh, there’s definitely a certain air of wisdom and innate awareness dalam benaknya yang kemudian mewujud lewat torehan jarinya. Melihat karya milik pengagum James Jean, Yoshitaka Amano, Taiyo Matsumoto, dan Dae Hyun Kim ini, you can’t help to sense some kind of bittersweet melancholia seperti menemukan kembali tumpukan shoujo manga favoritmu dari masa kecil, atau mengingat kembali memori yang hampir pudar. Tak jarang, ilustrasinya turut dilengkapi oleh secarik cerita maupun puisi untuk memperkuat narasi yang ingin ia sampaikan. Belum lama ini, salah satu karyanya pun menjadi ilustrasi dalam buku kumpulan puisi berjudul Kalopsia karya Aaron Ares. “Aku dikontak oleh si penulis karena dia merasa karyaku sejalan dengan apa yang mau dia ekspresikan. Poetry is something I find strangely healing, so I was compelled to work on the project,” papar gadis yang juga pernah membuat ilustrasi untuk cover album milik Jeffrey Popiel/Juniperus ini.

Hi Cynthia, apa kabar? Apa yang menjadi kesibukan belakangan ini? Halo! Selain lifelong personal project yang jalan terus seperti drawing series dan poetry writing, sekarang sedang merencanakan pembuatan formal portfolio website sendiri. Baru-baru ini juga mulai perlahan research dan memilah-milah contact art director atau beragam publikasi yang mungkin ada chemistry dengan working style aku. Basically, thinking about the direction I want to try with my current work.

Dari mana saja biasanya mendapat inspirasi? Dari kehidupan dan percakapan sehari-hari yang sepintas lumrah. Aku ada kebiasaan kecil untuk bertanya dari waktu ke waktu, “Apa cerita yang mungkin ada di balik ini?” Jadi seperti berburu struktur atau denyut nadi tersembunyi. Penemuan-penemuan ini selalu aku catat untuk dipelajari dan diolah kembali di kemudian hari. Biarpun tampak sepele, disiplin kecil ini bisa mengkultivasi ide bagus yang matang perlahan atau betahap. Selain itu, banyak mempelajari ide atau pemikiran orang lain supaya bisa membuka cara pandang dan mengasah sense.

tumblr_nntgln3ffx1r7xgixo1_r1_500

Aku lihat ada beberapa karya yang terinspirasi serial fiksi seperti Evangelion dan Final Fantasy, apakah kamu punya karakter fiksi favoritmu? Kalau karakter fiksi favorit sih nggak ada yang spesifik. Biasanya yang aku favoritin tuh karya atau kreatornya sendiri. Final Fantasy itu ilham besar masa kecil yang membuat aku sadar kalau karya seinspiratif itu memungkinkan untuk dibuat. Makanya dulu sempat berpikir untuk kerja di game company dan ambil kuliah jurusan animasi 3D. Kalau yang menarik dari Evangelion adalah director-nya sendiri, cara dia memproyeksikan emosi dan pengalaman dia ke dalam cerita fiksi.

tumblr_n95pxoxbpr1r7xgixo1_r1_500

Kamu juga suka menulis short story and comic, mana yang biasanya lebih dulu, the visual or the story? Siapa saja penulis favoritmu? Kadang visual, kadang story/words, kadang satu paket. I adore the storytelling of film director Wong Kar Wai and comic artist Natsume Ono.

Apa medium favoritmu dalam berkarya? Meskipun sering mewarnai secara digital, yang paling comforting itu tetap proses inking on paper.

Selain ilustrasi, hal apa lagi yang kamu suka lakukan? Crafts, like sewing and crochet, making plushies or miniature items. Also enjoy taking walks, both solo and accompanied.

tumblr_nsy6fgkaaw1r7xgixo1_r2_500

tumblr_nsy6fgkaaw1r7xgixo2_r2_500

What’s your current obsession? Following baseball games after working hours! Juga menyambut Olympic Games tahun ini. Aku mengikuti berbagai sports secara kasual tergantung season-nya, misalnya gymnastics dan figure skating, yang juga mengandung unsur artistik.

Sejauh ini apa project paling berkesan dan kalau boleh berandai, apa yang menjadi dream project bagimu? Seri ilustrasi Retrospective: Before I grew Up yang dikerjakan untuk minor project semester terakhir kuliah. Karena proposalnya bebas, jadi aku mencoba sesuatu yang lebih reflektif secara pribadi, yaitu cerminan tentang berbagai profesi berkesan yang aku temui saat masa kecil, disandingkan dengan pemikiranku tentang hal yang sama sepuluh tahun lebih kemudian. Karya ini tetap menjadi salah satu favorit pribadiku karena itu pertama kalinya aku merasa berhasil mengabadikan sesuatu “sepenuhnya”. Kalau dream project sih belum terpikir, tapi menurutku akan jadi pengalaman bagus kalau ada kesempatan berkolaborasi dengan bidang seni lain, misalnya fashion design, musik atau arsitektur.

Ada rekomendasi ilustrator lokal yang menurutmu karyanya harus disimak? Elicia Edijanto dengan lukisan hitam-putihnya yang elegan, Stephanie Priscilla dengan dunia bersahajanya yang penuh warna, dan yang satu ini bukan ilustrator tapi musisi lokal yang patut disimak: The Trees and The Wild.

What’s next project from you? Self-published zine kolaborasi dengan teman dari Taiwan. There will be illustrations, comics, short stories plus poetry in it. Temanya belum dipastikan secara spesifik, tapi akan menyangkut summer.

tumblr_n6u1h71s4u1r7xgixo1_r1_500

http://cynthiatedy.tumblr.com/

 

Art Talk: The Punk Rock Illustration of Ayash Haryanto

Ayash Haryanto

Pertama kali menemukan akun Instagram @wonderyash yang bernuansa monokrom hitam-putih, saya seperti tidak bisa menahan diri untuk menekan tombol Likes sebanyak mungkin pada karya ilustrasi hitam-putih dengan referensi terhadap musik punk dan pop culture yang begitu kuat dan sosok musisi ikonik seperti Kurt Cobain hingga Morrissey. Kekaguman saya bertambah ketika menyadari jika sang ilustrator adalah seorang perempuan muda dengan penampilan yang cute. Bernama lengkap Ayash Haryanto, ilustrator kelahiran Medan, 26 September 1992 tersebut masih tercatat sebagai mahasiswi semester akhir di salah satu universitas di Jakarta. Mengaku suka menggambar sejak masih sangat kecil, Ayash sendiri baru mulai fokus menggambar sejak SMA dengan kiblat utama gambar-gambar superheroes dari komik DC dan Marvel. Namun, baru ketika masuk kuliah ia memfokuskan diri pada artwork hitam-putih seperti yang ia buat sekarang. “Saat kuliah baru sadar, kalau menggambar, terutama anatomi tubuh dan perspektif, tidak sesimpel itu. Apalagi urusan warna, dan buatku bermain warna itu bisa dibilang sulit nan rumit. Nah, karena aku pribadi merasa kurang bisa memadukan warna, walaupun sempat coba berbagai media seperti cat air atau minyak, aku putuskan untuk fokus dengan artwork black and white. Tidak kompleks, dan tidak mudah, namun aku merasa artwork black and white itu mudah diterima oleh semua orang,” ungkap gadis yang juga gemar bereksperimen dengan media mural tersebut.

tumblr_ne57eoOLI11qa0ub6o1_1280

Secara sekilas, terlihat elemen punk yang kuat di karyamu. Kalau untuk kamu sendiri bagaimana musik memengaruhi proses berkaryamu?

Kalau soal elemen punk dalam gambarku, jujur sekali pada awalnya aku membuat artwork bertemakan punk hanya sekelibat terlintas di kepala karena waktu itu aku nggak sengaja lagi scrolling down Tumblr dan nemu salah satu foto yang aku kira cocok untuk aku bikin quick sketch. Mulai dari situ, aku kepo sama genre punk ini, kemudian aku penasaran dengan culture, cara berpakaian, ideologi, dan terutama musik mereka yang mendukung aku dalam pembuatan proses karya. Buatku, musik itu pembangkit mood. Musik apapun itu, terkadang saat membuat artwork punk pun aku nggak selalu mendengarkan musik mereka juga. Karena ya, lagi-lagi menyesuaikan dengan suasana hati.

Siapa saja seniman favoritmu?

Seniman favoritku cukup banyak. Untuk yang dari luar negeri aku suka Raymond Pettibon, Sam Dunn, Alex MDC, Benjamin Lande, dan mereka semua seniman/ilustrator yang mostly black and white. Untuk dalam negeri, ada Roby Dwi Antono (aku favorit sama lukisan popsurealisnya), Amenkcoy, dan masih banyak lagi. Influens benar-benar datang dari Raymond Pettibon dan Amenkcoy. Mereka bisa dibilang kiblatku banget.

Wonder1

Apa medium favoritmu dalam berkarya dan kenapa?

Tinta hitam dan kuas. Media paling simpel yang pernah aku pakai. Cukup mudah, dan dalam pembuatan karya nggak memakan waktu banyak, khususnya untuk blocking, aku bisa lebih menghemat waktu. Dan tentunya nggak pusing-pusing menentukan warna.

Selain art, apa lagi yang kamu suka?

Semua kesukaanku sepertinya nggak bisa jauh dari yang namanya art. Aku suka musik. Akhir-akhir ini aku lagi rajin explore soal musik dari genre mana aja dan dari Indonesia atau luar negeri. Karena musik sangat berpengaruh dalam pembuatan karyaku, kadang aku buat playlist sendiri sesuai current mood, dan aku putar saat aku mau buat suatu artwork. Dan biasanya, artwork itu bisa nunjukkin perasaan aku saat itu.

What’s your current obsession?

Obsesiku untuk sekarang, aku mau ngadain mini exhibition (khusus black and white artwork) bareng temen-temen ilustrator lain, dan di dalamnya ada sesi workshop plus gambar bareng menggunakan media tinta hitam aja. Selain itu, aku lagi terobsesi untuk ngebuat artwork band, dari band-band favoritku. Mungkin lingkup musiknya masih nggak jauh dari punk ya, atau mungkin band bergenre ambience.

Who’s your local music hero?

Still Superman Is Dead! Dan Slank… hehe.

Apa project selanjutnya?

Rencana, ingin membuat fanzine yang isinya karya-karya dari teman-teman sekitar terlebih dahulu. Kalau rencana awal sukses, aku akan lanjut ke konsep selanjutnya, yaitu mengajak beberapa ilustrator favorit yang aku kenal untuk ikut berkontribusi langsung dalam menyumbangkan karyanya untuk fanzine ini. Mengapa fanzine, karena buatku ini media yang bisa memperluas koneksi dan menambah teman lebih banyak.

tumblr_nme8s08TAX1qa0ub6o1_1280

Wondeyash’s mixtape:

Talking Heads

“New Feeling”

Buatku ini lagu post-punk yang bisa ngebangkitin mood. Cocok didengerin di waktu apapun. Biasa aku dengerin lagu ini ketika mood lagi jelek-jeleknya, dan berhasil balikin mood jadi baik lagi.

Radiohead

“High and Dry”

I just love the lyrics. Lagu Radiohead terbaik versiku, dan jadi salah satu lagu favorit ketika mood lagi nggak bagus.

The Clash

“The Magnificent Seven”

Ini lagu unik dan bisa cheer up your day. Pertama kali aku dengar salah satu lagu Daftpunk, nggak tau kenapa langsung terbayang lagu ini. Dan ternyata aku temuin mashup dari lagu ini dengan Daftpunk di YouTube.

The Pixies

“Here Comes Your Man”

Mungkin untuk yang suka sama OST 500 Days of Summer, tau lagu ini yang pernah dinyanyikan ulang sama Meaghan Smith. Ini juga termasuk lagu yang bisa  membangkitkan mood.

The Smiths

“Ask”

Lagu ini masih jadi andalan dan masuk ke dalam playlist aku untuk gambar di saat momen-momen senang.

tumblr_nqgibroxYE1qa0ub6o1_r1_1280

Art Talk: The Delicate Hand Lettering of Novia Achmadi

Sebagai salah satu elemen krusial dalam dunia desain, tipografi secara natural telah menjadi bentuk seni tersendiri, baik dalam bentuk digital ataupun hand lettering yang bagi sebagian orang terasa lebih otentik. Beberapa tahun terakhir seni hand lettering pun kembali naik ke permukaan sebagai eskapisme dunia desain digital yang terasa “dingin” dan kaku. Seni hand lettering yang bersifat fleksibel dan mudah beradaptasi dengan media apapun tersebut yang akhirnya menarik minat Novia Satyawati Achmadi untuk menekuninya. “When you learn about typography, you always start from sketches. Some people find it stressful tapi aku enjoy karena basically aku suka gambar dari kecil. I started with one simple word then escalate it to a complete sentence. I love the fact that it’s all handwritten where it’s digital world we live in,” ungkap desainer grafis berusia 24 tahun tersebut. Lulusan DKV Binus ini kemudian membentuk sebuah label handwriting art bernama Kallos dan bereksplorasi dalam berbagai medium, mulai dari helm, denim, jaket kulit, hingga kotak aki yang terdengar maskulin dan memadukannya dengan sentuhan feminin yang menjadi ciri khas karyanya.

The-Best-Thing-in-LifeBagaimana sampai tercetus ide untuk Kallos? And what’s the story behind the name?
Aku kerja di agency as a graphic designer where you can’t always do what you love all the time. Jadi kalau ada waktu senggang, aku bikin hand lettering just as refreshment. And I thought, other than keeping me creative, a hobby should make money for me. Awalnya sih iseng masukin karya di Instagram @missachmadi. Tapi taunya banyak yang tertarik, terus aku putusin untuk bentuk sebuah brand aja sekalian. Lahirlah Kallos (@kallos_hl). Kallos—means beautiful in Greek—adalah kata dasar dari calligraphy. This is the perfect word because that’s what I do, ‘sugarcoating’ words so it’ll look prettier.

Do you already find your own aesthetic signature in Kallos?
Selama ini di dunia design, I learn that art is subjective. That depends sama siapa yang lihat & nilai. Sometimes people can’t really judge but feel the need to throw comments, what they say is ‘bagus sih, tapi kok cewek banget ya?’. I hate the way it used as criticism. Emang salah kalo cewek banget? Kenapa nggak pernah ada yang protes kalau itu cowok banget? Jadi aku berusaha masukin unsur ‘cewek’ dalam karya Kallos. Entah itu dari shape atau warna, pokoknya harus ada sisi feminin dari karyaku. Aku mau kasih tau orang kalau nggak ada yang salah dari menjadi perempuan and women can totally pull it off.

11_Kallos10_Lady-Luck06_Things-We-Do-For-FunBagaimana biasanya proses yang kamu lalui saat berkarya?
Setelah tau mau nulis apa, aku mulai cari-cari typeface apa yang cocok. It’s not always matching typeface to a specific word, but to the whole sentence. Lalu aku bikin sketsa layout. I find it challenging karena medianya selalu berbeda-beda bentuk, ada yang melingkar, datar, kain, dll. Setelah itu baru masuk proses pengecatan. Untuk referensi, I look not only typography based reference, but design as a whole. That helps the creativity flowing.

Setelah bereksperimen dengan beberapa media, mana yang paling menantang sejauh ini dan apa ada medium lain yang sedang ingin kamu eksplor?
Jaket parasut sih! Haha. Still working on it. Yang mau aku eksplor… Truk! Kayaknya seru kalau bisa nulisin “Doa Ibu” atau “Putus cinta sudah biasa, putus rem mati kita’, hehe.

Dari mana biasanya menemukan inspirasi?
Mostly internet. Can’t deny it, haha. Dan dari ngobrol sama orang lain, entah mereka artist juga atau bukan. People’s point of view is always interesting.

Sejauh ini Kallos sudah pernah terlibat project/kolaborasi apa saja? Mana yang paling berkesan untukmu?
Kallos sedang kolaborasi dengan Lawless & Unionwell, and also have another on the pipeline. Honestly it’s hard to say which one I love the most karena tiap project aku ketemu orang yang berbeda, personality & backgrounds. They impress me in different ways and I feel grateful to experience that.

Processed with MoldivBrake-Clutch-Detail

Siapa lettering artist favoritmu dan kenapa?
Pertama, Gemma O’Brien because her details are amazing! Kedua, those who still learning typography & hand lettering! Their spirits inspire me.

Peralatan apa yang biasanya kamu pakai untuk hand-lettering?
Pensil, penghapus, dan penggaris untuk sketsa. Acrylic untuk media yang serap air. Enamel & thinner PU untuk media yang nggak serap air. Brush untuk keduanya juga beda.

BoysMarketApa yang membuat sebuah lettering art dikatakan sukses?
Simpel sih: bisa dibaca! Hehe. Beberapa kalimat susah di-layout and on some cases, there are people who actually dare to scramble the words so it looks nice on the layout but irritating to read!

Kamu sendiri melihat scene hand-lettering di Indonesia seperti apa saat ini dan ke depannya? Karena di luar negeri pun hand-lettering sedang booming lagi kan.
Aku seneng banget sekarang orang-orang udah mulai sadar kalau tipografi itu juga termasuk art not just the fonts you use on your resume or things like that. I see that many workshops are there to help. Aku mau banget sih ikutan, I want to learn from other people sampai akhirnya mungkin someday aku bisa buka workshop sendiri, hehe.

Do you have any personal favorite font in particular?
Din is always my fav! When people say “You are more perfect than Helvetica'”, they must be talking to Din.

Apa yang kamu lakukan untuk menghadapi creative block?
Take a break. Menurut aku penting untuk step back and see things from different perspective. And don’t be so hard with yourself.

Apa quote yang selalu berhasil menginspirasimu?
“A woman who doesn’t wear perfume, has no future.” —Coco Chanel. It tells you that you have to have that signature along the way and how it’s gonna leave mark on people—how they’re gonna remember you as something special.

04_Get-Shit-Done

Art Talk: Macabre Pop Embroidery of Puji Lestari Ciptaningrum

Puji Lestari Ciptaningrum

“Aku nggak jago menggambar, melukis, drawing, dan lainnya. tapi aku bisa menyulam, walaupun nggak jago juga sebenarnya, haha. So why not aku coba berkarya dengan embroidery,” tukas Puji Lestari Ciptaningrum menjelaskan alasannya memilih embroidery (sulam) sebagai medium berkreasi. Ucapan tersebut terkesan merendah, walaupun faktanya gadis yang masih duduk di semester 5 Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta ini memang baru mulai fokus di embroidery sejak tahun lalu setelah melihat karya stitch di sebuah pameran yang lantas memotivasinya untuk mencoba embroidery. Beginner’s luck? It’s way more than that. Walaupun masih terbilang sangat baru, karya Puji yang memadukan unsur macabre dengan warna-warna vibrant telah tampil di beberapa pameran dan bahkan telah membuat workshop yang membuktikan jika embroidery yang sebelumnya identik sebagai kegiatan orang tua juga bisa dikemas secara pop dan menyenangkan.

Puji1

Kalau diperhatikan karyamu banyak yang menampilkan image tengkorak, why?
Iya, tengkorak itu kan bagian dari anggota tubuh kita. Tanpa kita sadari tubuh manusia juga punya nilai estetis jadi aku nggak mau jauh-jauh terlalu mikirin kehidupan sosial, politik, atau apalah untuk memvisualisasikan ke dalam karya aku. Toh di dalam diri kita pun ada sesuatu yang terlihat indah.

Apa yang biasanya menginspirasimu dalam berkarya?
Orangtua pastinya. Kalau ingat orangtua aku jadi semangat buat berkarya terus karena tujuannya ya aku mau buat orangtua aku bahagia. Serius loh ini bukan bohongan, hehe.

Siapa seniman yang menjadi favoritmu dan kenapa?
Seniman favorit aku kalau dari Indonesia Oomleo, kalau dari luar Ana Teresa Barboza. Nggak bisa dijelasin kenapa sih, yang pasti mereka sama-sama “gila”.

Beberapa waktu lalu kamu mengadakan workshop embroidery di Waga Gallery, how was it?
Yap. Senang bisa berbagi ilmu, walaupun sebenarnya ilmu aku soal embroidery juga masih cetek. Tapi seneng juga jadi bisa sama-sama belajar, malah ada juga peserta yang lebih jago dari aku. Hahaha.

Puji2

Kalau kamu sendiri menganggap seni sebagai profesi atau hobi?
Profesi yang menjadi hobi. Soalnya aku lebih hobi tidur dan santai-santai sih ketimbang embroiling. Tapi ya ujung-ujungnya ya harus tanggung jawab sama apa yang udah ditekunin.

 Kamu melihat seni di kalangan anak muda saat ini seperti apa?
Aku nggak tau sih ya seni di kalangan anak muda sekarang gimana. Tapi aku selalu support dan appreciate anak muda yang semangat dan mau maju dan berkembang, at least buat dirinya sendiri dulu aja deh.

Selain berkarya secara personal kamu juga punya proyek bernama Junk Not Dead, boleh diceritakan?
Junk Not Dead itu kolaborasi aku sama Muchlis Fachri (Muklay) di bidang merchandise. Jadi Muklay ini dulu ajak aku untuk membuat produk untuk dijual, tapi dalam konteks karya lukis dia supaya menjadi produk. Jadi Muklay di divisi gambar/lukis, aku yang divisi menjahitnya dan sekarang sih Junk Not Dead mencoba untuk bukan cuma menjual produk merchandise aja tapi juga menjadi art collective yang mewadahi teman-teman di kampus supaya bisa tetap semangat berkarya.

Puji3

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi creative block?
Jalan-jalan cari referensi, refreshing, liat-liat katalog pameran, searching internet, atau nanya-nanya sama Muklay bikin apa yang asik-asik gitu. kan kita sering kerja bareng juga jadi pasti dikasih saran.

Do you have any dream project?
Mimpi aku ada di Junk Not Dead.

Rencana ke depannya apa?
Rencana ke depannya merealisasikan harapan Junk Not Dead dan cita-cita aku to be an artist. Maybe, hahaha.

Puji4

http://instagram.com/ijupacups

As published in NYLON Indonesia November 2014

Art Talk: The Peculiar Illustrations of Anwita Citriya

Anwita Citriya

For some people, once they start drawing, they’ll never stop. Sama seperti natural-born artist pada umumnya, Anwita Citriya telah mulai menggambar sejak sejauh yang dia bisa ingat. “Bagi saya ilustrasi adalah cara untuk mengekspresikan pemikiran dan ide karena saya tidak pandai berkata-kata. Saya mulai membuat lebih banyak ilustrasi sejak tahu banyak orang mengapresiasi karya saya. Feedback dari mereka juga membuat saya terus ingin lebih baik lagi,” ungkap gadis kelahiran Bandung 22 tahun lalu yang kini masih menginjak semester 7 jurusan Desain Interior di Binus University tersebut. Mengidolakan para ilustrator perempuan seperti Audrey Kawasaki, Amy Judd, Ykha Amelz, dan Amna Oriana, “misterius” menjadi kata yang biasanya terlintas ketika kita melihat karya ilustrasinya yang didominasi warna hitam dan putih serta beberapa warna pastel yang terkadang ikut menyemburat. Gaya ilustrasinya sendiri memang kental dengan pengaruh manga, namun ia juga memiliki sumber inspirasi lain dari novelis Jepang favoritnya, Haruki Murakami, yang dikenal dengan cerita surreal dan rasa melankolis yang dreamy. Hal yang sama juga terasa dalam ilustrasi Citriya, there’s some certain floating and sentimental mood about it that make us want to go deeper to know her.

Anwita2

How do you usually introduce yourself?
I’m Citriya, a girl who draws and day-dream a lot.

Apa medium favoritmu dalam berkarya?
My favorite medium is pencil and watercolor. Sometimes I use acrylic paint too.

Hal apa saja yang biasanya menjadi inspirasimu?
It can be anything. Mulai dari baca buku, listening to some new songs, jalan-jalan sore, getting lost or just sit in a coffee shop mengamati orang lalu-lalang. Sometimes inspiration comes when you least expect it.

Anwita7

Do you believe in creative block? Kalau iya, bagaimana caramu untuk mengatasinya?
I do. When I’m stuck with no inspiration at all, the best thing to do is just to stop drawing.
Usually I’d bring one book, go to a nearby coffee shop and find myself a quiet nook to read for hours. But if I’m too lazy to go out I’d surf the net to find some new, weird, unusual things for inspiration. Pinterest and Tumblr are the two sites i frequently use.

Anwita4

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
Mungkin untuk melukis, proyek pertama saya yang paling berkesan. Saat masih di bangku SMP saya pernah diminta melukis background panggung untuk acara sekolah. It’s not big or anything, tapi rasanya bangga aja. Setelah itu saya dan teman saya selalu dipercaya untuk jadi tim dekorasi setiap kali sekolah mengadakan acara. It was fun.

Musik apa yang biasanya menemanimu saat berkarya?
It depends on the mood, but mostly I listen to instrumental or indie music. Like The Cinematic Orchestra’s “Arrival of the Birds & Transformation” or Agnes Obel’s “Philharmonics.”

Apa saja kesibukanmu saat ini?
Right now I’m doing internship in an interior design company.

Anwita5

Apa kegiatan yang suka kamu lakukan bila tidak sedang berkarya?
Read mangas and blogs, do a movie marathon or play the piano.

What’s your current obsession?
Human psychology and mythical beings. I find them really intriguing.

You love Haruki Murakami a lot, apa quote-nya yang paling berkesan untukmu?
“Your work should be an act of love, not a marriage of convenience.”

Anwita1

What’s the next project from you?
Well… Me and my friend are developing a project and it’s related to fashion. I’ll be doing some illustrations and hopefully it goes as planned. Fingers crossed!

http://instagram.com/anwitacitriya

Anwita6

Art Talk: The Secret Garden of Enrico Nagel

enrico nagel

Bagi Enrico Nagel, seorang seniman mixed-media yang berbasis di Berlin, mengeksplorasi medium yang berbeda dalam membuat karya seni adalah sebuah cara untuk menghilangkan kejenuhan ide. Seniman berumur 26 tahun ini telah mencoba bereksperimen dengan berbagai medium, mulai dari lukisan tangan, video, hingga mesin scanner dalam seri portrait berjudul “Behind the Glass” yang ditampilkan dalam ekshibisi di berbagai galeri di Eropa. Terlepas dari semua eksperimen seni itu, Enrico tak pernah berpaling dari cinta pertamanya dalam seni, yaitu seni kolase. Dalam seri kolase berjudul “Secret Garden”, ia memilih fashion sebagai benang merah dan menampilkan sosok-sosok manusia dengan kepala berupa bunga atau aksesori fashion berwarna vibrant. It’s beauty at its finest.

nagel1

Apa cerita di balik seri “Secret Garden” ini?

Saya bosan membuat gloomy art, jadi ide utama dari seri ini adalah membuat kolase fashion yang elegan dan penuh warna tanpa terlihat cheesy. Saya ingin menggantikan karya saya yang sebelumnya didominasi headless explosion dengan bunga dan aksesori mode. Saya harap hasilnya cukup bagus.

It is. Ada alasan khusus memilih medium kolase?

Kolase adalah metode favorit saya untuk berekspresi. Kolase adalah paduan cantik antara komposisi dan perasaan, sebuah area yang tak akan bosan dieksplor untuk selalu mencari cara baru untuk menciptakan sesuatu yang menarik. Setelah melihat beberapa ekshibisi, saya agak terganggu dengan kolase yang terbuat dari terlalu banyak materi. Saya ingin membuat yang lebih bagus dengan materi yang seminim mungkin.

nagel2

Apa yang biasanya menginspirasimu?

Saya banyak terinspirasi dari film science-fiction, tapi banyak juga ide saya muncul dari mimpi dan buku dongeng tua yang saya temukan di toko bekas. Biasanya saya duduk di meja kerja saya yang dipenuhi potongan kolase dan mengerjakan beberapa kolase dalam waktu yang bersamaan. Hal itu menciptakan kemungkinan tak terbatas tentang apa yang akan saya hasilkan. Tujuan utamanya adalah membuat sesuatu yang cantik, dari permainan komposisi warna, pola, dan rasa.

Apa medium selain kolase yang menarik minatmu?

Spektrum karya saya sangat luas. Saya berpindah antara kolase, lukisan, dan video art. Beberapa tahun lalu saya sempat mendesain fashion dan rindu melakukannya, saya akan senang jika bisa mendesain koleksi fashion lagi.

nagel3

Apa kamu mendengarkan musik tertentu saat bekerja?

Saya menyukai Philip Glass dan Steve Reich, tapi saya juga menyukai musik elektronik. Kebetulan saya juga bekerja di sebuah label rekaman di Berlin yang bernama About Time.

Apa rencana selanjutnya?

Saya sedang mengerjakan sebuah proyek buku berjudul Berlin What? yang dibuat oleh Neonchocolate Gallery, setelah itu ekshibisi kecil untuk menampilkan produksi video terbaru saya. Yang lainnya masih rahasia.

nagel4

http://enriconagel.com/