#30DaysofArt 17/30: Natasha Lubis

Mengaku mengidap sindrom anak tengah yang penyendiri, imajinasi masa kecil peraih gelar master bidang Fine Art di Goldsmiths College London ini disalurkan lewat karya visual berupa lukisan dan kolase three dimensional dengan elemen fantasi dan permainan warna yang eklektik. Melewati beragam tahap dalam pendekatannya terhadap seni, estetika counter-culture dan persepsi perempuan pun menjadi bagian integral dalam karya artist kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1989 yang saat ini berdomisili di Bali tersebut. “Saya pikir good art punya kemampuan untuk mentransformasi sang spektator, potensi utopis tersebut sangat saya kagumi. Menyaksikan efek karya-karya seni yang inspiratif merupakan motivasi besar untuk terus berkarya dan berharap suatu hari bisa memberikan efek itu ke orang lain. Art is an exciting way to relate to people too, many of the most stimulating people I know I had connected through art.”

natasha-lubis 

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya besar di Jakarta, selesai SMA saya tinggal cukup lama di Melbourne, Australia. Lalu sempat tinggal di London untuk menjalani masters di bidang Fine Art di Goldsmiths College. Awal tahun ini saya kembali menetap di Indonesia.

Dari masa kecil saya memang sangat ‘fantastical’, ditambah lagi saya tipe anak tengah klasik yang cenderung penyendiri. Dunia imajinasi saya jadikan sarana hiburan alternatif di dalam kesendirian saya, dulu cukup normal bagi saya untuk berbincang-bincang dengan hasil gambar saya sendiri, haha.Saya besar dengan saudara-saudara yang usianya berdekatan, layaknya anak kecil kami sering merancang permainan peran fantastis antar sesama yang benar-benar menstimulir imajinasi. Memori-memori tersebut sangat berkesan dan memberi pengaruh ke cara pandang saya.

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Susah untuk ingat momen atau orang spesifik karena saya mulai hobi gambar dari kecil banget. Tapi kesadaran akan seni selalu dijunjung tinggi di upbringing saya, karena memang banyak anggota keluarga yang aktif di bidang musik dan budaya. Tapi seni visual adalah ketertarikan yang saya kembangkan sendiri.

Saya melewati beragam tahap di dalam approach saya terhadap seni, tahap yang sangat signifikan adalah ketika saya mulai serius mengulik kultur musik sekitar awal SMP. Usia remaja merupakan waktu spesial untuk merasuki dunia musik karena sensasi yang didapat luar biasa menggairahkan. Beberapa musisi yang fundamental bagi sumber inspirasi ya dimulai dari the classics seperti Radiohead dan Pink Floyd, era musik 60-70an, yang lalu menjalar ke berbagai macam lain. Selain dari musiknya sendiri, faktor budaya yang lahir dari dunia musik saya anggap sangat menarik. Saya ingat merasa kagum dengan energi kultur rock n’roll dan subkultur musik lainya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Saya mendapat kenikmatan dan juga tantangan tersendiri dengan berkarya, lagipula belum kepikiran akan passion lain yang bisa saya lakukan dengan potensi dan fokus semaksimal seni. Memproses pemikiran dan emosi lewat karya seni adalah proses penting untuk eksistensi saya, apalagi dengan berkembangnya lingkup interests dan awareness, makin timbul kehausan untuk mengutarakan ide-ide baru lewat karya.

1

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Saya mengagumi seniman-seniman wanita yang tidak konvensional. tahun ini saya terlibat artist residency di Ketemu Project Space (Bali), proyek ini menyorot hidup dan praktek almarhumah seniman perempuan asal Bali, I Gak Murniasih (biasa dipanggil Murni). Karya Murni kontroversial dikarenakan unsur erotisme absurdis frontal yang terinfluens dari otobiografinya sendiri. Riwayat hidupnya memang dipenuhi tragedi, namun ia tetap berhasil mencurahkan esensi hidupnya dengan penuh gairah dan optimisme lewat dedikasinya akan seni.

Kalau inspirasi dasar, dari sejarah seni barat saya terinspirasi oleh ideologi irasional gerakan surrealis, dan juga visualisasi whimsical mereka. saya juga senang dengan influens literatur dan cinema, dua platform ini dapat mentransportasikan kita ke realitas imajiner secara immediate. Salah satu penulis esensial bagi saya adalah Hermann Hesse, kepekaanya akan tabiat manusia dan juga kesadaran kosmis terangkum dengan puitis di dunia fiksinya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Tidak punya idealisme yang berat, yang penting terus berani berkarya, bereksperimen dan lanjuti jalur hidup kreatif ini yang bisa dibilang tidak normatif di mata banyak orang.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Menggambar adalah proses fundamental yang terapeutik tapi juga bisa mengisolisir, makin lama saya merasa medium lukis tidak menyampaikan ide tujuan saya secara pas. Sekitar semester akhir S1 ketertarikan saya telah mencakup banyak referensi budaya barat dari masa counterculture di era 60-70an. saya tertarik akan elemen-elemen paradoksal yang direpresentasikan kultur ini, seperti penggambaran akan ide-ide utopis yang hedonistik namun dengan cara mengeksploitasikan kesensualitasan perempuan.

Zaman hippie ini sangat identik dengan image seduktif ikonis yang tersebar di media massa yang memang rajin saya koleksikan. Peralihan ke kolase menjadi perkembangan alami karena saya bisa langsung menggunakan imej-imej di archive saya sebagai medium. Saya pikir penggunaan found images mengkomunisasikan intention saya dengan cara yang lebih direct, dan lebih mudah menampung beragam ide dan referensi dibanding lukisan biasa.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu? 

Praktek seni saya cukup terikat dengan bahasa visual, tantangan bagi banyak seniman adalah membuat keseimbangan efektif antara konsep dan tampilan visual. Unsur fantasi yang menantang cukup integral dalam estetika saya, termasuk juga permainan warna yang dapat menciptakan atmosfer tertentu. Banyak dari karya saya secara abstrak mewakili persepsi perempuan, ini memberikan nuansa feminin di praktek seni saya.

mothernature

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Body of work yang cukup signifikan adalah seri karya kolase three-dimensional yang dibuat untuk ekshibisi akhir pendidikan S1. Saya baru saja bergeser dari lukisan untuk eksperimen media kolase, dan ternyata langsung senang akan dinamika medium tersebut. Karya di graduation show kampus tersebut mendapatkan saya tawaran solo show di Melbourne, Australia. Overall it was a good learning experience.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Merasa sangat beruntung untuk bisa menjalani pendidikan masters di London tahun lalu, itu merupakan periode yang menantang. Universitas yang saya masuki mempunyai sejarah panjang akan pendekatan intens terhadap pemikiran teori kritis barat yang tidak ortodoks, saya merasa kewalahan sepanjang proses karena tidak familiar dengan banyak topik. Sekarang saya merasa mendapat pengertian baru atas pola pemikiran kritis.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Pastinya banyak sekali keuntungan era social media, generasi sekarang mempunyai keuntungan teknologi yang tak terbayangkan di masa lalu. Kita mempunyai akses bebas ke informasi yang jauh mempermudah proses riset dan kebebasan untuk berkomunikasi dengan siapapun pada skala global. Sangat ajaib menyadari bahwa kita mempunyai kuasa untuk mengakses dan menkurasi informasi yang kita inginkan dari sejarah manusia, it’s actually quite a burdensome advantage.

Saya rasa kultur sosmed juga bisa khaotis, wilayah virtual yang sangat luas seperti menyebabkan kebosanan kolektif ke para pengguna, kita menjadi terlalu terbiasa dengan segala tipe informasi yang lalu membuat kewalahan dan mudah terdistraksi, tidak heran muncul lah kultur-kultur tolol yang menghibur seperti kultur ‘meme’. Sepertinya semua kompleksitas ini sudah layaknya muncul sejalan cepatnya perkembangan zaman, dan hal ini sangat menarik untuk diobservasi lewat perspektif seni.

2

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Jujur saja saya masih ada homework dan kewajiban untuk lebih mengenalkan diri ke komunitas-komunitas dan budaya seni dalam negeri. Tapi dari pengalaman saya tahun ini, kehadiran seni kontemporer lokal jauh terasa lebih dirayakan dibanding dulu, ini membuat saya optimistik. Dan kota sekompleks dan sedinamis Jakarta kayaknya tidak akan kehabisan produksi karya-karya menarik.

What’s your current obsession?

Saya developed hobi menyehatkan yaitu berenang tiap pagi selama tinggal di Bali, ternyata aktivitas ini sangat meditatif.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Sebisanya saya spend the time somewhere outdoors, soalnya penting tuh untuk ketenangan mental, baik itu ke pantai atau cuma ke outdoor cafe. Nonton live music is always a good idea too. 

Project saat ini?

Selalu ada personal project yang perlu dikembangkan atau diselesaikan. Saya juga sedang mencari komunitas seni yang terbuka untuk kesempatan kolaborasi atau residency. 

Target sebelum usia 30?

Kalau impian sih banyak, termasuk yang nggak realistis, tapi yang utama adalah kesempatan untuk bisa terus berkembang dalam berkarya, karena memang sulit untuk menjadikan praktek seni sebagai jalur karier yang konkret. At some point juga ingin mulai kolaborasi dengan orang sepemikiran untuk membuat proyek menarik.

obscured-by-clouds

Advertisements

#30DaysofArt 7/30: Ines Katamso

Let say I hold my pinky finger up while drinking a teh tawar on the floor,” tutur gadis berdarah Indonesia-Prancis yang merupakan visual artist sekaligus surface & interior designer yang berdomisili di Bali ini. Berasal dari keluarga artistik (dad’s musician & leather tailor, mom’s painter & tattoo artist), Ines yang lahir di Jogja, 14 Mei 1990 memang bercita-cita menjadi designer atau artist sejak kecil dan berbekal passion itu, ia pun pergi ke Prancis untuk belajar art & design lalu pulang ke Indonesia, tepatnya ke Bali di mana ia sempat menjadi stylist dan designer product sembari mengerjakan personal work yang lebih ke arah ilustrasi sebelum minatnya berlabuh di seni mural dan mendirikan studionya sendiri yang bernama Atelier Ines.K. Identik dengan permainan warna vibrant dan siluet feminin, karya muralnya telah menghiasi banyak establishment di Bali, Jakarta, hingga Kuala Lumpur. “Bagi saya, it’s always a matter of composition. Sesuatu yang sangat personal, saya baru akan merasa puas pada karya saya jika pikiran, raga, dan indra saya merasakan hasilnya well-balanced secara proporsi, shades, dan garis.”

ines-katamso

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

My parents no doubts. My father was a musician and leather tailor and my mum is a great painter and tattoo artist. Since I was a kid I wanted to be a designer/artist so it was easy for me to choose my schools.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

To always evolved and to be sure that I can do better.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

I think it was 10 years ago during design school, it was a group exhibition but to be honest it wasn’t really exciting.

box-of-horizon

Apa idealismemu dalam berkarya?

Regarding my personal artworks: painting and drawings, they are a way to bring a form to the informal. Giving a line for this type of fair, a texture for this kind of sensation is my way to desecrate a feeling in order to release it.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

I am not sure if I want to find it, saya tidak ingin stuck di satu hal karena takut bosan. Tapi sebetulnya saya banyak memakai enamel, pastel oil, dan pensil warna untuk karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

I have many inspirations: Malevitch, Kandinsky, Sonia Delaunay, Rothko, Bacon, Klein, Calder, Christo, Soulage.

le-petit-prince

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

It’s my actual project, mengerjakan semua interior design untuk sebuah restoran mulai dari pattern piring, lamp shape, sampai mural. It’s a great opportunity to create a unique space where each line, colours, texture are related to my concept and aesthetics values.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai desainer/artist, merupakan hal yang sulit untuk percaya diri di era social media karena selain fakta jika internet adalah a great cultural tool, the access to this amount of pictures, information, and inspiration can bring many doubts on someone’s personality.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

There are few exhibitions here in Bali but I am not a social person, I know its selfish to say that but I prefer to paint in my atelier than going out.

Tell me about your secret skill or current obsession beside art!

Sorry beside art and design I have no other obsession or skills. Haha I feel I’m so boring right now.

kedai-kopi 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

At my office or atelier.

Project saat ini?

Coming soon one group exhibition, one design showcase, interior design for 2 restaurant, hotel and malls projects and commissioned works… And holidays soon in Japan! 

Target sebelum usia 30?

Going to Japan!

casa

Little Miss Sunshine, An Interview With Zahara Davis

Dari Bali sampai ke West Coast, model belia Zahara Davis membawa irresistible beauty dan effervescent charm ke dunia fashion yang ia geluti sejak dini. Fine, fresh, fierce, she got it on lock! Foto oleh: Andre Wiredja.

dsc01217

Bayangkan jika pada suatu hari kamu hanyalah gadis berumur 14 tahun yang sedang asik melahap Big Mac di sebuah shopping mall, seseorang dari model agency menghampiri dan memberimu kartu nama, and next thing you know, kamu berjalan di runway prestisius fashion week dunia, menjadi Victoria’s Secret Angel, mengencani pria-pria seperti Leonardo DiCaprio dan Tom Brady serta menjadi model dengan bayaran paling mahal di dunia seperti yang dialami oleh supermodel Gisele Bündchen. Skenario yang hampir mirip juga terjadi untuk Kate Moss yang di usia 14 tahun menarik perhatian seorang scouting agent dari Storm Model Management saat ia berada di bandara JFK New York sebelum akhirnya menjadi salah satu model paling iconic di dunia.

Sekelumit cerita di atas mungkin contoh cerita ‘discovery’ yang sama klisenya dengan cerita seorang gadis mengantarkan temannya untuk casting namun justru ia yang menjadi bintang (seperti yang dialami oleh Adriana Lima dan Gemma Ward misalnya). Sebuah anekdot di dunia modelling yang terdengar seperti dongeng, but it’s really happened and never gets old. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seorang scouting agent dari agensi modeling berani mempertaruhkan kepercayaan kepada seorang gadis muda yang hanya ia lihat sekilas di random places. But still, kita terus mendengar cerita tentang gadis yang tadinya bukan siapa-siapa breaks into the industry dan menjadi model tenar thanks to street-scouting. The chances are odd but it’s not impossible.

It’s the girl who never thought she could who gets discovered. The prettiest girl in school doesn’t always make the best model,” ujar Ivan Bart, seorang top agent dari IMG Models, yang pernah menaungi Gisele Bundchen, Heidi Klum, dan Kate Moss. Pada kenyataannya, dari sekian banyak pretty faces in the crowd, memang tidak ada jaminan jika wajah cantik dan postur semampai saja cukup untuk membuatmu menjadi the next big thing dalam industri modeling yang sangat kompetitif. Just like any other It Girls, the It models juga diberkahi that ‘special oomph’, the ‘je ne sais quoi’, the ‘x-factor’, dan istilah lainnya untuk mendeskripsikan pesona natural dan magis yang dimiliki beberapa gadis remaja yang membuat mereka stands out in the crowd dengan begitu effortless dan membuat orang-orang tergila-gila. Seperti yang dimiliki Zahara Davis, seorang model muda dan girl crush yang siap membuatmu terobsesi dan menjadikan dirinya sebagai ‘goals’.

Just like any other crushes in the social media era, saya pertama kali mengetahui sosok Zahara justru dari akun Instagram miliknya (@zaharadavis) yang saat artikel ini ditulis telah memiliki 32.2K followers. Sama seperti umumnya model generasi sekarang yang kerap disebut sebagai “The Instagirls” (Cara Delevingne, Kendall Jenner, Gigi Hadid, Fernanda Ly, etc) yang dengan gamblang menunjukkan personality mereka lewat social media dan membuat mereka terasa lebih approachable dan relatable, Zahara juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapapun tergoda untuk scrolling down her feeds dan menekan tombol follow dengan cepat. Saya ingat yang pertama kali tercetus di benak saya adalah “Wow, this girl is drop dead gorgeous!” dan lebih terkejut lagi saat mengetahui jika dirinya adalah seorang model yang kala itu berdomisili di Bali.

Diberkahi oleh kulit semanis karamel yang eksotis, perfect bikini body, facial feature unik paduan genetik Native American, Saint Lucia, dan Inggris yang mengalir dalam darahnya, gadis yang dilahirkan di Maui, Hawaii dan dibesarkan di Bali ini memulai karier modelingnya sejak ia ditemukan oleh Jules Henry, CEO dan founder dari Fauve Agency sekitar tiga tahun lalu saat ia masih berumur 13 tahun. Di bawah naungan model management yang berbasis di Bali tersebut, Zahara mengembangkan talenta naturalnya sebagai model paling muda di antara jajaran roster lainnya seperti Salvita DeCorte, Helene Jansen, Reti Ragil, Dara Warganegara, Drina Ciputra, dan model-model papan atas lainnya di Indonesia saat ini.

Blessed with good genes itu sudah pasti, namun berbekal kerja keras, professionalism dan work ethic yang sudah dibangun dari usia dini, tidak butuh waktu lama bagi Zahara untuk menjadi sensasi baru di skena fashion dengan menjadi muse bagi banyak fashion photographer terkenal dan muncul di berbagai editorial majalah-majalah mode prestisius. Kini di umurnya yang baru saja menginjak 16 tahun, Zahara telah memiliki cukup portofolio yang akan mengundang decak kagum siapa saja. Selain Fauve, saat ini ia juga diwakili oleh agensi internasional Next Management yang membuka peluang pekerjaan internasional lebih lebar baginya. Setahun terakhir ia telah malang melintang ke Paris, Los Angeles, dan New York dan bekerja untuk klien-klien besar seperti This Is A Love Song, NYLON US, Urban Outfitters, Glamour US, Billabong, dan yang menjadi salah satu career highlight-nya sejauh ini: Dipotret fotografer legendaris Bruce Weber untuk editorial berjudul “Reach Out and Touch Somebody’s Hand”  di Vogue Italia edisi April 2016 bersama model-model internasional seperti Ajak Deng, Mica Arganaraz, Fare Fares, Gelila Assefa, Anushka Sharma, dan Shehkar Jah.

Keputusan menjadikan Zahara sebagai cover edisi Summer tahun ini muncul secara spontan ketika fotografer Andre Wiredja bertemu Zahara di Bali dan melakukan test shoot. Tanpa ragu, ketika Andre melempar ide untuk memotret Zahara, kami pun langsung menyambutnya. Walaupun sayangnya saya tidak bisa bertemu dan mewawancarainya langsung, semua testimoni dari orang-orang yang saya dengar tentang Zahara selalu bernada positif. Semua sepakat jika Zahara adalah sosok berkepribadian, down to earth, menyenangkan untuk bekerjasama, dan memiliki masa depan cemerlang di bidang yang ia geluti sekarang. Dari apartemennya di Los Angeles, Zahara pun mengungkapkan beberapa sisi dalam dirinya lewat balasan email yang ia kirim untuk NYLON. Ready to know her better?

dsc01581

Hai Z, jadi apa yang mendorongmu terjun ke dunia modeling? Saya selalu ingin melakukannya, something I had a passion for. Saya mulai modeling bersama Juls saat saya berumur 13 tahun dan mendapat kesempatan bertemu dengan fotografer Nicoline Patricia yang kemudian banyak mendidik saya soal pekerjaan sebagai model. Sebelum itu saya juga sudah melakukan beberapa pekerjaan modeling, namun saya rasa itu titik di mana karier saya benar-benar dimulai. And since then I haven’t really stopped. Both my mum and my grandma were in the fashion industry, so that did have an impact on what I’m doing now.

Bagaimana akhirnya kamu dikontrak Fauve Management dan Next Management? It was all at the right time, with the right people and things just happened perfectly.

Apa hal yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari modeling? Saya suka kesempatan traveling ke berbagai tempat di dunia dan bertemu banyak orang-orang berbakat namun saya harus bilang jika bangun dan bekerja dari mulai jam 4 pagi isn’t the cherry on my Sunday.

Bagaimana rasanya melihat foto diri kamu sendiri di media? Tergantung fotonya sebetulnya tapi saya jelas bukan the best judge untuk menilai diri saya sendiri karena kebanyakan foto yang saya kurang sukai justru malah disukai banyak orang lain.

Boleh cerita sedikit soal pengalamanmu bekerja bersama Bruce Weber untuk Vogue Italia? Saya sampai harus mencubit diri saya sendiri saat tiba di lokasi pemotretan agar yakin jika itu bukan mimpi. Salah satu pengalaman terbaik saya sebagai model sejauh ini. Semua orang sangat friendly dan menyenangkan untuk bekerjasama.

Susah nggak membagi waktu antara karier dan akademis? Ya, lumayan susah karena saya harus selalu berpergian, but somehow I manage to work it out. Home school is pretty mobile.

Do you consider yourself as world citizen? Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu tempati, mana yang kamu anggap sebagai “rumah”?

I am a citizen of the world, tapi saya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Indonesia. Bali is where I will always call home.

Apakah kamu punya kakak atau adik? Siapa supporter paling besar di keluargamu? Saya anak satu-satunya dan dibesarkan oleh ibu saya. She is most definitely my biggest fan. Dia selalu mendukung saya 100%

Apa yang paling kamu rindukan dari Bali? Bagaimana kamu mendeskripsikan perfect night out di Bali? Saat saya di Bali, itu biasanya saya sedang liburan dari semua hal lain. Itu waktu bagi saya untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman saya. Quiet nights in are my favorite there.

Apa hal favorit yang kamu lakukan di musim panas?

My favorite is to island hop between Indonesia and all the little islands.

 

What’s your favorite summer memory? I now go every year to Glastonbury, which is coming up soon and is my favorite festival of summer so far.

 

What do you think about summer fling? Not on the top of my list.

dsc01431

Saya pernah lihat salah satu posting di Instagram milikmu tulisan “Those who criticise our generation forget who raised it”, kalau bagi kamu sendiri apa rasanya menjadi seorang model dari generasi millennial di era media sosial seperti sekarang? Media sosial telah menjadi satu hal yang berpengaruh di industri fashion dan saya pun menjadi bagian darinya, tapi call me old fashion but it was a lot easier for models back when it didn’t matter how many likes your Instagram post got. 

Seberapa penting social media untuk kehidupan sehari-harimu? Saya hanya punya akun Instagram dan Snapchat. Kalau kamu menemukan akun social media selain dua itu atas nama saya, kemungkinan besar mereka adalah fake accounts. Saya berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.

Apakah kamu termasuk morning person atau evening person? Depends how the crowd is! As long as I’m with good people then I can do either.

Couch potato or gym fanatic? Bagaimana caramu agar tetap fit? Gym! Without a doubt. Tapi saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan nutritionist dan trainer saya Melanie dari Motion. Saya selalu excited untuk kembali latihan bersamanya setiap saya di Bali.

Apa kamu punya signature style yang menjadi andalanmu? Setiap hari saya bangun dengan mood yang berbeda. Saya tidak bisa bilang saya punya satu particular style, but it’s always me.

Siapa model favoritmu? Naomi Campbell dan Candice Swanepoel.

Selain modeling, hal-hal apa lagi yang kamu sukai? Membaca, menulis, traveling, musik, nutrisi dan healthy living.

 

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini? Saya selalu terobsesi dengan every healthy thing on the market, never gets old to me.

Musik apa yang biasanya ada di playlist personalmu? Rap dan R&B adalah favorit saya. My top band would probably be Destiny’s Child or TLC.

How about the beauty regime? Produk apa yang menjadi favoritmu? Saya sangat perhatian soal produk yang akan saya pakai untuk kulit saya. I love organic products. Saat ini saya menyukai:

– All lush bath bombs 

– Pure shea butter lip balm

– Hemp seed hair oil (amazing)

– Sea salt body scrub

– BEST cream I use is Bali browning lotion 

What makes you laugh? Life.

What makes you cry? LIFE.

Apa hal paling mendebarkan yang pernah kamu lakukan? Bungee jumping, it was crazy.

Apa sifat yang paling kamu sukai dari dirimu sendiri? I’m just a happy go lucky girl.

Kalau yang paling tidak disukai? Being happy go lucky, sometime doesn’t always work out, you may end up in a ditch, ahaha!

Apa yang menjadi ketakutan terbesarmu? Tidak bisa meraih target-target yang telah saya buat.

Secret skill? Staying balanced through it all the craziness that I love.

Apa saran terbaik yang pernah kamu terima? Keep your eyes on the stars and your feet on the ground.

Do you collect something? Memories.

Rencanamu selanjutnya? Reaching my goals and dreams.

dsc01753

 

Practical Magic, An Interview With Canti Widyadhari from Foxglove Tarot

Terlepas dari pandangan skeptis terhadap hal yang berbau mistis, tarot reading telah menjadi satu aktivitas populer di berbagai acara, mulai dari bazaar, art market, restoran, pentas seni, or even at a party. Sosok tarot reader pun tak lagi identik dengan pakaian serba hitam dan tampilan klenik. Nowadays, tarot reader could be as stylish and sweet as the girl next door. Salah satunya adalah Canti Widyadhari, seorang tarot reader yang juga merupakan founder dan astrology writer dari sebuah online tarot reading service bernama Foxglove Tarot yang berbasis di Bali. “I started Foxglove Tarot karena waktu itu aku semacam dapat epiphany dari intuisi yang nyuruh aku pindah ke Bali untuk jadi tarot reader. At that time, I was having misfortune over misfortune yang lumayan bikin aku discouraged untuk nerusin karier aku di marketing, so I decided to go with the flow for once,” papar gadis kelahiran Jakarta, 24 September 1990 tersebut. Intuisi dan keberaniannya pun membuahkan hasil positif. Tak hanya menangani klien secara face to face maupun online, Canti yang kerap menjadi kontributor bagi beberapa platform seperti Magdalene dan The Murmur Journal saat ini juga sedang bersiap meluncurkan sebuah silver jewelry line yang ia beri nama COVEN.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada tarot dan apakah kamu belajar secara otodidak atau berguru ke orang lain? 

Aku mulai belajar reading dari tahun 2011, waktu itu awalnya belajar otodidak dulu tapi masih pakai buku. Aku tertarik untuk belajar tarot lebih dalam lagi karena waktu itu aku mulai belajar ilmu-ilmunya Wicca. Akhirnya aku mulai lepas bukunya ketika aku belajar dari seorang mentor yang basically sistemnya cuma nyuruh aku untuk dengerin intuisiku. It was a great and enlightening experience, and it got me to where I am today.

Apa cerita di balik pemilihan nama Foxglove Tarot?

The name is based on this flower called Foxglove (nama lainnya Witch’s Bell/Fairy Glove). Bunga Foxglove itu beracun, tapi kalau essence-nya bisa diolah dengan benar, bisa digunakan untuk healing. Sama saja dengan tarot reading atau ilmu-ilmu magic lainnya yang bisa dipakai untuk membantu atau untuk mencelakai orang lain tergantung intention-nya.

What is it that you love and hate about your job?

I love that I could use my gift to help others in need. Whether good readings yang beneran kejadian, atau klien-klien yang decided to take my advice and improve their lives, I’m happy and very grateful for this experience. Senang rasanya kalau aku dengar cerita dari klien yang bilang kalau they finally found their happy endings. What I hate about the job is the feeling that I need to be responsible and careful with my readings. Karena some people take the readings very seriously, dan kadang kalau reading yang kurang enak beneran kejadian, aku bisa merasa bersalah sekali. But I’m working on it by trying to reassure myself that life has its ups and downs. If the unpleasant reading comes true, it’s not my fault nor my client’s fault.

Apa kejadian paling memorable sejauh ini selama di Foxglove?

Waktu itu aku pernah jadi guest reader di pool party dan aku sukses baca 15 orang in a span of 3 hours. Yang memorable bukan cuma jumlahnya, tapi juga pertanyaan-pertanyaannya. I guess I would have never expected for clients to come to me with heavy life-changing questions in the midst of a pool party.

Mispersepsi apa yang paling menyebalkan dari pekerjaanmu dan bagaimana kamu meluruskannya?

Mispersepsi kalau tarot reader itu penipu. Biasanya sih yang skeptis-skeptis begini yang pernah punya pengalaman buruk dari tarot reader lain atau memang generally skeptical. Dulu aku selalu coba untuk debat atau cerita dari sisi aku untuk mengubah persepsi mereka. Tapi lama-lama, I decided to let them be. Everybody has their own opinion and perception of what’s real and not real. I realize that tarot reading is a very abstract concept and not everyone can agree with my reality, just like how I may not be able to agree with theirs.

What’s your current obsession?

Minimalist magickal sigil tattoo! Aku punya beberapa di jari and I’d love to add more!

Beside tarot and divination, what else you consider as your secret skill?

Cooking. It doesn’t sound that magical but I turned out to be a pretty good cook, haha!

Bagaimana media sosial memengaruhi kariermu?

It has affected my career greatly! Foxglove Tarot is online-based, so I always meet my clients through social media. It’s also a great platform for me to interact and open an enlightening discussion with fellow taror reading/astology enthusiasts.

If you could identify with one fictional character, siapa yang akan kamu pilih?

Phoebe dari serial Charmed. I love how adventurous and cheeky she is. I wish I have her divination skill too! It would be awesome to be able to receive premonition the moment you touch someone.

Apa saja rencana selanjutnya bagimu personally maupun untuk Foxglove?

I want to grow Foxglove and COVEN, while taking an astrology course so I can work as a certified astrology practitioner.

 

Canti’s essential items:

untitled 

Bohemian Cats tarot: My favorite tarot deck karena bisa dipakai untuk baca mundane questions dan energinya cocok sama banyak orang juga.

pyra

Orgonite: Untuk cleansing energi negatif sebelum dan sesudah baca tarot.

buckland

Buckland’s Complete Book of Witchcraft oleh Raymon Buckland: Salah satu buku pertama yang jadi guide aku pas mau mulai belajar witchcraft dan divination.

www.foxglovetarot.com

On The Records: Hikari Todo

Emil RajiWalaupun berbau Jepang, tapi nyatanya Hikari Todo hanya sebuah nama alias dari solo project Emil Prakertia Raji, seorang multi-instrumentalist, self-taught DIY producer, throat destroyer, dan serial heartbreakist seperti yang dideskripsikan sendiri olehnya. Lahir dan dibesarkan di Ubud, Bali dengan orangtua yang berprofesi sebagai pelukis dan penyanyi, minatnya akan musik berkembang secara natural sejak dini dengan mempelajari gitar sebagai instrumen pertamanya pada umur 9 tahun. “Sekarang untuk bermusik itu sama artinya dengan bernapas kali ya, sudah menjadi sebuah keharusan untuk berekspresi,” cetusnya via email dari Perth, tempatnya menuntut ilmu saat ini. Ekspresi bermusik pria kelahiran 1993 ini pun disalurkan dengan menjadi vokalis/gitaris trio screamo/experimental asal Ubud bernama A City Sorrow Built dan menjadi co-founder label independen Sailboat Records yang merilis band-band seperti Amukredam, Senja Dalam Prosa, Riuh, LKTDOV, A City Sorrow Built dan tentunya Hikari Todo itu sendiri yang merupakan eksplorasinya di genre post-rock dan ambient.

Hi Emil, apa yang mendorong kamu untuk bermusik?

Aku kalau gak salah mulai pegang gitar sejak umur 9. Kedua orang tuaku pelukis, Ibuku kebetulan juga penyanyi dan punya banyak teman musisi nah mungkin karena itu aku disuruh gabung les gitar beberapa kali meskipun enggak pernah kelar hahaha. Aku sudah sejak SMA mendengarkan sebuah solo proyek dari seorang Ben Sharp (Cloudkicker) dan pengen membuat sesuatu yang sama dan setelah albumnya Let Yourself Be Huge dirilis, I was hooked dan mencoba sendiri otak-atik komputer sendiri. Down the line, aku menemukan banyak act keren dari Jepang yang influensnya juga sangat kental kepada Hikari Todo seperti Toe, Mouse on the Keys, Spangle Call Lilli Line, Haruka Nakamura, Nujabes, etc. Dan juga without a doubt Sheila on 7.

Kenapa memilih nama Hikari Todo untuk proyek ini?
Dulu main-main di Google Translate mau coba terjemahin liriknya Utada Hikaru, ya kebetulan dapet itu. Aku juga masih kurang tahu if it makes any sense or not, hahahaha.

How do you describe Hikari Todo’s sound?
Lofty, melancholic, simplistic.

Boleh cerita sedikit soal proyek kamu lainnya?
Proyek utamaku sampai belakangan ini merupakan band Screamo/Eksperimental; A City Sorrow Built, bersama beberapa teman sejak masa kecilku di Bali. Kebetulan kita bertiga mempunyai visi yang cocok untuk bermusik bersama. Tapi setelah full length ini mungkin kita akan tone down sedikit proyek itu. Nah di Sailboat Records aku enggak pegang banyak cuma design sedikit sama memperbaiki bahasa Inggrisnya.

Sebagai seseorang yang besar di Bali dan kini di Perth, apa bedanya scene musik di kedua tempat itu menurutmu?
Yah, kalau aku lihat skena Bali dan hometown-ku sendiri hampir ga ada yang tahu aku membuat musik atau apa. Masih sangat amat sulit untuk seseorang yang enggak mengikuti mode outlet kreatif yang ‘normal’ dalam bermusik untuk mendapat apresiasi yang layak. Masih susah kalau berbicara dengan orang awam untuk aku mendeskripsikan musikku. Tapi aku belakangan benar-benar melihat kemajuan dalam diversitas di scene Indie Indonesia dan dalam beberapa tahun Indonesia benar-benar akan menjadi tempat yang subur untuk bermusik, hopefully fingers crossed. Perth sendiri aku kurang aktif juga sibuk kuliah kalau di sini dan kalau bermusik pun di kamar. Hikkikomori anthems.

What’s your dream collaboration?
Ada beberapa kolaborasi sih, tapi aku lebih suka untuk berkolaborasi dengan orang-orang di kehidupan pribadiku karena justru yah mereka sendiri bersangkutan dengan isi musik itu sendiri bahkan jika mereka merasa kurang konfiden atau berpengalaman dalam musik. Entah kenapa tapi aku merasa ini sangat efektif, mungkin karena musikku lebih bersifat seperti jurnal daripada sebuah sesuatu yang berkonsep tinggi. Secara orang terkenal yang bener-bener aku ingin berkolaborasi sih enggak ada, not that I’m saying if you want to collab with me I wouldn’t want to. I’d be thrilled!

Lights Stays EPhttp://sailboatrecords.bandcamp.com/album/light-stays-ep

http://sailboatrecords.com/

Art Talk: The Moody Sketches of Natisa Jones

PROFILE 2- Photographed by Olivier Turpin

Ketika anak-anak lainnya tengah belajar menulis dan membaca, Natisa Jones telah lebih dulu menggambar. Datang dari keluarga kreatif, di mana ketertarikan akan seni muncul dengan sendirinya, gadis kelahiran tahun 89 ini selalu tahu jika seni visual adalah sesuatu yang ingin ia lakukan. Passion itu yang membuatnya berani keluar dari rumahnya di Bali saat masih berumur 15 tahun untuk ikut boarding school di Prem Tinsulanonda International di Chiang Mai, Thailand dan meraih gelar diploma pertamanya di bidang Visual Art.

            Sebelumnya, di akhir tahun 2005 Natisa telah menggelar pameran perdananya yang bertajuk “Through My Eyes” di Bali dan Jakarta. Ia pun melanjutkan kuliah seni di Royal Melbourne Institute of Technology Australia, di mana ia mendapat gelar Bachelor of Fine Arts Painting. Lulus dari RMIT, Natisa tidak langsung kembali ke Bali, dan memilih stay di Jakarta selama beberapa waktu dan terlibat dalam berbagai kegiatan kreatif, di antaranya menjalani internship di NYLON Indonesia dan membuat desain print untuk label mode KLE, sembari mulai menyelesaikan beberapa karya terbaru.

            Tak lama setelah kembali menetap di Sanur, Bali, ia lantas membesut pameran tunggal terbaru dengan judul “Are We There Yet”. Dalam pameran yang diadakan di Three Monkeys Sanur akhir Juni tahun lalu, Natisa menampilkan 25 karya sketsa mixed media terbarunya yang memaparkan berbagai imaji yang lekat di kehidupannya. Lewat email, saya pun mengajak Natisa bercerita tentang visinya dalam berkarya.

7. OH ITS SO AMAZING HERE

Hi, Nat, apa kabar? Boleh cerita berapa lama kamu menyiapkan pameran “Are We There Yet”?

Hi Lex, I’m good, can’t complain. Saya sudah merencanakan tentang ekshibisi ini di kepala saya cukup lama namun baru mulai benar-benar menyiapkan semuanya sekitar dua bulan, sedangkan saya sendiri membutuhkan 3-4 bulan sampai semua karya selesai.

How was the opening night?

It was a lot of fun. Beberapa pelukis yang saya kagumi datang untuk melihat karya saya. Orang-orang memberi respons positif dan yang paling saya ingat ada sekitar 8 cewek yang menghampiri saya dan bilang salah satu sketsa yang berjudul “Gak Pernah Sisiran” seperti menggambarkan mereka. Hal itu membuat saya gembira, karena mereka bisa merasa relate dengan karya saya secara personal. That was exciting.

Apa inspirasi utamamu dalam pameran ini?

Inspirasinya hal-hal di sekitar saya. Saya sangat responsif terhadap lingkungan sekitar saya, so I drew a line for all the pieces I have made to be about anything I was going through and an ever moving timeline. Jadi semua karya di pameran ini adalah dokumentasi dari sebuah perjalanan, yang paralel dengan perjalanan untuk menjadi manusia dan perjalanan dalam berkarya. “Are We There Yet?” melempar pertanyaan: to being aware of the present moment but not concerned with a destination or a conclusion. Dengan begitu, tanpa mendikte jawabannya, orang bisa mengingat pengalaman mereka sendiri dan merasa terhubung dengan karya tersebut. So Are We There Yet? You tell me.

8. SABLENG

Bagaimana momen atau mood yang sempurna bagimu untuk berkarya?

Momen atau mood yang tepat untuk berkarya adalah… ketika saya menemukan sebuah momentum dan saya harus menyalurkan ide tersebut ke atas kertas tak peduli di manapun dan kapanpun. sometimes of course, you can’t, Tergantung kondisi tapi biasanya saya akan mulai sketching dulu dan menyelesaikannya nanti ketika saya berada di studio, but there’s no such thing as perfect time, ide bisa datang tak terduga dan umumnya justru ketika saya hendak tidur sambil memandang langit-langit kamar atau ketika berada di mobil… semacam itulah.

Kamu dengan sengaja tidak menghapus atau memperbaiki setiap “kesalahan”, seperti salah coret dan sebagainya dalam karyamu, apa yang kamu pikirkan?

Haha I am lazy, but no, that’s not why. Saya tidak suka menghapus kesalahan. Saya ingin bisa melihat bagaimana karya saya berkembang sejak saya mulai mengerjakannya sampai akhirnya selesai. Saya senang bisa mengingat setiap decision yang saya ambil sampai akhirnya karya tersebut jadi.

Setiap “kesalahan” itu menjadi bagian dari cerita karya itu sendiri. I think it’s not good to try and be too polished and clean. I like errors, I like mistakes, I enjoy chaos. It’s all part of the fun part of why the story is so exciting. Life isn’t perfect, nobody is perfect. Why pretend like it is?

Apa kamu punya personal favorite dari ekshibisi ini?

Hmm… well I don’t know if I have a favorite, but here’s one I get asked a lot: suatu saat, salah satu teman saya melihat beberapa lukisan saya dan berkata jika semua sosok pria dalam karya saya mirip pacar saya. Saya tertawa, karena saya tak selalu sengaja menggambar pacar saya, but because his face and body is the one I have sketched out the most, I become most familiar to his anatomy. Jadi salah satu lukisan berjudul “Always The Same Goddamned Boy” bercerita tentang itu. It’s funny that it may come off as romantic, or cheesy, but it’s not. It’s just part of my process. I just draw and take from whatever is around me. 

5. Its Okay

http://www.natisajones.com/

 

Art Talk: The Magical Animals of Mia Taninaka

Free spirit dan adventurous adalah dua kata yang bisa menggambarkan Mia Taninaka, seorang seniman berdarah Jepang-Australia yang kini bermukim di Bali. Dua kata tersebut juga mewakili apa yang tertangkap dari ilustrasi berbau folklore dan shamanisme karyanya, yang menampilkan objek-objek alami (mainly, its various type of birds) dengan palet warna yang bold dan dipenuhi detail impresif. “Seni bagi saya adalah cara untuk melepaskan energi tertentu dari tubuh kita. Kurasa penting bagi semua orang untuk memiliki creative outlet tertentu, entah melukis, menari atau apapun yang bisa membuatmu bergerak. Kalau tidak, stress sehari-hari akan menumpuk dan membuatmu gila.” Ujar penggemar musik Davendra Banhart tersebut. Setelah menggelar pameran tunggal terbarunya “And The Gods Made Love” di Deus Gallery, Canggu, Bali, pemilik design company Wolfie & Huck ini sedang mencoba mengenal Indonesia lebih jauh. Here, she’s talking about her art.

Hi Mia, how are you? How’s going on? Would you mind to introduce yourself?

Hi, I’m Mia. I’m a 27 year old half Japanese girl born on the full moon in May. I enjoy hot cups of tea, carrot cake, lentils, sunny days with a cool breeze, and going on epic adventures with my amazing boyfriend and beautiful friends.

Where do you live right now and how you spend your usual day?

I’m currently living in Bali. Spending most of my days in the sun, at the studio painting & drawing, reading books, travelling around Indonesia and dreaming about holidays. I’ve done a bit of travelling to various places in Java, Lombok, Sumbawa and are planning a roadtrip through Sumba in the near future. I’m learning to speak Indonesian at the moment, but I’ve been pretty lazy!

How long have you been creating art? When did you first consider yourself an artist?

I’ve been arting around since I was a kid, making birthday cards and painting my bedroom walls. I had my first show a few years ago, but I don’t think I considered myself to be an ‘artist’ till I got to quit my day job.

 

Where do you grow up? What was your childhood like? Are you come from creative family?

I grew up on the Northern Beaches of Sydney and spent a lot of my childhood travelling through Sth East Asia with my family. This gave me a cultural kick in the butt and opened my eyes and mind to a whole new world and way of life.

Can you remember the first artwork you ever did?

No, but I recently found a box of paintings I did for my parents in kindy. Lots of trees and flowers, the ocean and the sun with happy fish and birds.So I guess my style hasn’t changed much since then haha.

Are you going to art school?

I’ve never been to art school. I studied Graphic Design, but I’m not really a fan of timetables and exams and my concentration span is terrible!

 

Who/what have been your greatest influences?

Music, mountains, the ocean, animals, my boyfriend, carpets, spirituality, folklore, shamanism, the moon and love.

Which artists do you admire?

Gustav Klimt, Devendra Banhart, Ricardo Cavolo, Marc Chagall, Kelsey Brooks, Bob Dylan, George Harrison, Margaret Kilgallen and many more. There are so many amazing artists at the moment, it’s good to see so much creativity in the world.

What’s inspiring you at the moment and why?

I’m experiencing a bit of a creative block at the moment, so I’m filtering through a lot of other artists work and referencing old images of birds, animals and botanical plants.

What’s your preferred medium to work in and why?

I mainly work with acrylics, ink and watercolours on timber surfaces. I like the bold flat colour of acrylics, the fine imperfections of ink and the soft pretty rainbows watercolour can make.

What’s your favorite object to draw?

I love painting feathers and leaves and eyes. I love the details you can create in a birds feather and the different expressions you can convey in the eyes.

 

Tell me about Wolfie & Huck, where the name came from?

Wolf-girls are amazing and my boyfriend kinda reminds me of Huckleberry Finn..so I stuck them together and made a nice little love story about them.

What you’re working on now?

I’ve just been commissioned by a very good friend to do a large crow portrait so I’m excited about working on that. I’m also working on a collection of painted resin cast deer skulls.

Do you listen to music while making art or you prefer some silence? If you choose music, what kinds of music do you listen to?

I’ve got to have music playing to do any sort of creative work. A lot of Bob Dylan, Al Green, Dan Auerbach, The Greenhornes, Black Keys, Charlie Parr, George Harrison, The Beatles, Devendra Banhart, heaps of Neil Young. Anything that makes you feel something deep inside your belly or puts a smile on your  face.

What are your tips to get over the creative block?

Stop working for a bit and have a time out from the pressure of needing to be creative right then and there. Have a cup of tea, go camping, read a book, just start doodling mindlessly again and give yourself a guilt-free day off.

That’s the beauty of being an artist, you can give yourself a day off if you’re not feeling it.

 

What one place would you recommend people to get inspiration?

Lying down under the stars. You can get lost up there and your mind gets to go exploring.

What’s the best piece of advice you’ve been given?

“Don’t worry about it. Everything’s going to be amazing”

Next project?

Mm, no idea yet. I’m just going to work towards doing another solo show early next year.  I haven’t put much though into my next show. I’m hoping to experiment more with other mediums…maybe some sculpture, wall hangings etc. Make it more of an interactive show.

http://wolfieandhuck.blogspot.com/