On The Records: The Aces

 

Berasal dari Provo, Utah yang didominasi oleh penganut LDS Church yang religius, kuartet yang terdiri dari vokalis/gitaris Cristal Ramirez, lead guitarist/back vox Katie Henderson, bassist McKenna Petty, dan drummer Alisa Ramirez ini membuktikan jika kamu tidak perlu berkata kasar dan minum minuman keras untuk menyajikan musik rock yang keren. Dimulai oleh kakak-beradik Cristal dan Alisa, The Aces telah tampil bersama sejak masa sekolah dan tampil di berbagai festival di sekitar kota mereka, namun single “Stuck” yang dirilis tahun lalu yang kemudian mengantar nama mereka ke ranah yang lebih luas. Digarap bersama produser Dan Gibson & Simon Oscroft, “Stuck” adalah single alt-pop super catchy dengan guitar driven melody yang mengingatkan pada HAIM maupun The 1975.

April ini, mereka pun merilis single terbaru berjudul “Physical” yang tak kalah catchy. “Lagu ini becerita tentang kejenuhan kami soal hubungan yang hanya mementingkan hubungan fisik. Pacaran dan hubungan fisik adalah hal yang seakan diglamorkan oleh masyarakat dan kami ingin membawa perspektif kami soal itu, yaitu hubungan fisik memang asik, tapi bisa dengan cepat bikin bosan kalau cuma hal itu yang dikejar dalam sebuah hubungan,” ungkap mereka.

Dengan jam terbang yang semakin tinggi dan kontrak dengan Red Bull Records, The Aces makin disibukkan dengan berbagai gigs sambil menyiapkan album penuh mereka, namun ada satu hal yang tak pernah berubah, yaitu backstage pre-show ritual mereka.”Kami akan berkumpul dan berdoa bersama dalam lingkaran. Kami selalu berterima kasih pada Tuhan untuk setiap show, karena kami selalu merasa bersyukur orang mau datang dan mendengarkan musik kami,” papar mereka. Amen for that.

Foto oleh: Tessa Barton.

 Photo Credit - Tessa Barton 2

The Beginning

Kami tumbuh besar di kota dan sekolah yang sama. Cristal dan saya (Alisa) telah main musik bareng sejak kecil dan selalu punya cita-cita bikin band, mungkin karena terinspirasi dari kakak kami yang sepertinya terlibat di ratusan band saat dia SMA. McKenna telah menjadi sahabat kami sejak sekolah dasar, jadi tentu saja kami mengajaknya bergabung ke band kami. Dan untuk beberapa tahun pertama hanya ada kami bertiga di band ini sebelum McKenna pindah sekolah dan bertemu Katie yang kemudian juga menjadi teman kami. Dan ketika kami tahu salah satu sahabat kami bisa main gitar, kami menjadi berempat sampai sekarang.

The Namesake

Awalnya kami memakai nama “The Blues Aces” setelah mendapat saran dari kakak perempuan salah satu teman kami yang termasuk anak keren, dia bilang semua nama band yang bagus terdiri dari nama warna dan benda. Saya mengusulkan nama “The Blue Aces” dan itu jadi nama pertama kami sampai akhirnya kami memutuskan untuk mencopot kata “blue” saat merilis materi baru.

Influences

The Beatles, Whitney Houston, The 1975, Tears for Fears, Michael Jackson, Earth Wind and Fire, dan banyak band keren lain yang menginfluens kami sejak remaja. Kami biasanya mendeskripsikan musik kami di ranah alt-pop dengan sentuhan rock. Musik kami cenderung guitar-driven dan memakai drum yang biasa terdengar di rock akustik karena itulah bunyi yang kami dengar dan mainkan sejak dulu.

Hometown

Tumbuh di kota kecil yang religius di Utah anehnya memang membantu musikalitas dan kemampuan performing kami. Mayoritas anak-anak di kota kami tumbuh bermain musik dan bernyanyi untuk gereja, yang akhirnya menghasilkan banyak musisi berbakat. Karena standar agama yang kuat juga, anak remaja di kota kami tidak terlalu suka pesta dan mabuk-mabukan, jadi banyak venue yang terbuka untuk semua umur dan mengizinkan kami untuk tampil sejak kecil. Orang biasanya kaget saat mereka tahu jika Provo Utah punya skena musik dengan band-band lokal yang keren.

First gig

Gig pertama kami di pesta ulang tahun Cristal yang ke-11, haha. Kami baru banget membentuk band ini dan tiba-tiba punya ide buat main di pestanya Cristal. Alisa pertama kalinya mematahkan drum stick, kakak perempuan McKenna sok main keyboard di sebuah Casio rusak, tapi orang-orang heboh menontonnya, haha.

Mutual agreement

Memakai topi fedora seharusnya adalah hal ilegal!

Future plan

Releasing some more music and playing more shooowwss!!!

http://theacesofficial.com/

Advertisements

Soundcheck: Tangerine

Miro dan saya tampil dalam sebuah show di Jimi Hendrix Museum (EMP) di Seattle ketika kami berumur 12 dan 14 tahun dan Toby menjadi salah satu penonton kami. Selesai tampil, dia menghampiri kami dan bertanya apakah dia boleh nge-jam bareng kami, and the rest is history,” ungkap Marika Justad (lead vocal & rhythm guitar) tentang awal mula terbentuknya Tangerine, sebuah trio indie rock asal Seattle yang ia bentuk bersama adiknya, Miro Justad (drum & back vox) dan Toby Kuhn (lead guitar & back vox). Dipersatukan dengan kesamaan selera yang meliputi Yeah Yeah Yeahs, The Strokes, dan The Velvet Underground, ketiganya telah bermusik bareng sejak masa remaja mereka dan tampil di gigs sekitar Seattle namun sempat vakum selama lima tahun sebelum akhirnya muncul kembali dengan nama Tangerine di tahun 2013 dan merilis EP perdana mereka, Pale Summer, pada Maret tahun yang sama. Memadukan genre slacker pop, surfer rock, dan bahkan R&B dengan sentuhan vokal a la 60’s girl group, tahun ini mereka telah merilis EP keenam dan terbaru mereka yang diberi judul Sugar Teeth dengan 4 lagu berinfluens 80’s yang kental. “Kami merekam Sugar Teeth di beberapa tempat di Seattle. Lewat EP ini kami ingin bereksperimen dan menyempurnakan genre berbeda yang selama ini kami mainkan, yaitu melodi R&B dengan sentuhan surf dan garage rock serta 80’s drenched pop. Kami punya firasat jika ini akan menjadi EP terakhir kami sebelum kami fokus membuat album penuh pertama kami, so we were really sort of releasing our creativity on this one,” tandas Marika. Sambil menunggu mereka merampungkan debut LP, ketiganya pun membagikan album-album paling berpengaruh bagi masing-masing.

http://tangerinetheband.bandcamp.com/

 

untitled
Dari Kiri: Miro Justad, Toby Kuhn, Marika Justad. Foto oleh: Mark Malijan.

Miro: 

patmetheny

Pat Metheny

Still Life Talking

This specific Pat Metheny album has a very wide open beautiful feeling to it; the drums are light and fast, but not overbearing and the guitar work is stellar. I aspire to be on that level of technicality one day but with that much taste.

sade

Sade

Lovers Deluxe 

Growing up Lovers Deluxe was constantly playing around the house so there is no way that it has not inspired me in many ways, both with drumming and even with singing since I have a low voice like Sade. Listen to “Somebody Already Broke My Heart”!

pixies

The Pixies

Trompe Le Monde

Trompe Le Monde was one of the last Pixies albums that I discovered and is definitely my favorite. It has more of a surfy vibe than Doolittle and even palm muting that sounds like Blink 182. The Pixies is a band that we sometimes use as a reference point when writing songs since they write good pop songs with interesting song structures.

Marika: 

the-strokes

The Strokes

Is This It

It might be a cliché, but this album truly changed my life! I can still remember finding it in my big sisters room and putting it into my old Sony CD player. The ambivalence of the lyrics, combined with the intensity of the tightly orchestrated instruments- it blew my mind. It was almost uncomfortable, like I had stumbled onto something very foreign and adult.

paul-simon

Paul Simon 

Graceland

This album combines nostalgia-tinged Americana and jubilant South African harmonies and the result feels oddly natural. Plus, Paul Simon writes such beautiful melodies, something I’m always striving for.

hole

Hole 

Celebrity Skin

Courtney Love taught me how to write rock songs that are secretly pop songs. From big pop songs like “Malibu” to pensive ballads like “Dying” this album probably influenced my early songwriting more than any other.

Toby:

pixies 

Pixies 

Doolittle

Somebody showed me this album about a year after I saw The Pixies live at Seattle’s Bumbershoot festival in 2004 and not knowing who they were at all. Full disclosure, I don’t remember being terribly impressed at the time. This person was blown away that I hadn’t listened to them before and said that Doolittle would change my life- fantastic album; the energy, structuring, tones, and melodies are just crazy good.

gorillaz 

Gorillaz

Gorillaz

This album was sort of my introduction into popular music. I don’t remember how I ended up getting a hold of it but I was about 11 or 12 when I first put it on and it still hasn’t gotten old. It has like incredibly catchy pop songs and then the weirdest indefinable tracks mixed in there too, all of it exuding the same incredibly satisfying vibe.

black-rebel

Black Rebel Motorcycle Club

Howl

I’m a huge fan of a lot of their music, but Howl is a very special album. It’s completely different from the rest of their stuff and is mostly acoustic. The songs are just written so well and each one carries such strong emotions, such a good album!

 

Closer Than Home, An Interview With Yumi Zouma

Dipisahkan oleh bencana alam yang menimpa kota asal mereka di Selandia Baru, para personel unit dream pop Yumi Zouma berpencar ke seluruh dunia sebelum akhirnya menemukan jalan pulang lewat album debut yang impresif, Yoncalla

Thanks to technology, jarak dan waktu sudah bukan lagi halangan untuk berkarya dengan seseorang yang tinggal di belahan dunia dan time zone yang berbeda, Yumi Zouma adalah salah satu band yang harus melewati proses membuat lagu secara long distance. Terdiri dari Christie Simpson, Josh Burgess, Charlie Ryder, dan Sam Perry, keempat anak muda asal Christchurch, Selandia Baru ini sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil dan aktif di proyek musik masing-masing, namun baru ketika sebuah gempa besar menimpa kota mereka dan beberapa di antara mereka memutuskan pindah ke negara lain, keinginan untuk membuat musik bersama baru mencuat sebagai cara mereka menjaga hubungan satu sama lain sekaligus kota asal mereka.

Berbekal sambungan Skype dan email, mereka membuat single pertama berjudul “A Long Walk Home For Parted Lovers” yang berlanjut menjadi album mini pertama mereka di tahun 2014 dengan empat lagu di dalamnya. Meramu bunyi dream pop berbasis synth yang dancey dengan nuansa musim panas yang kental, album mini tersebut mendapat respons positif dari internet dan beberapa label rekaman yang kemudian dilanjutkan oleh EP kedua mereka setahun berikutnya. Dikerjakan secara jarak jauh, EP I dan II terasa seperti menyatukan potongan puzzle yang dibuat sendiri-sendiri oleh setiap personel dari tempat dan waktu yang berbeda, sehingga tak mengherankan jika tema jarak antar manusia, baik secara geografis maupun emosi, menjadi tema dominan dalam dua EP tersebut. Meski demikian, musik mereka tetap terdengar kohesif dan nama mereka pun terus beranjak naik hingga diajak menjadi pembuka untuk Chet Faker dan Lorde.

Berkat kesuksesan kedua EP yang didominasi bunyi dreamy disco rock tersebut, band yang awalnya tak berencana untuk tampil live ini akhirnya dihujani tawaran manggung yang tak lagi bisa mereka diamkan begitu saja. Mereka akhirnya berkumpul dan tampil bersama dari satu festival ke festival lain. Tak hanya berubah menjadi band seutuhnya, kedekatan mereka yang terjalin saat tur juga menjadi basis dari full album pertama bertajuk Yoncalla. Dirilis oleh Cascine Records, album ini berisi single “Barricade (Matter Of Fact)” yang juga menjadi pembuka yang manis bagi 9 lagu selanjutnya. Masih mempertahankan nuansa dreamy yet sunny yang dibangun oleh aransemen uplifting dan vokal Christie yang mengalun ringan dan kontemplatif, album ini terdengar lebih intim dan terpoles dari materi-materi sebelumnya, menjadikannya salah satu album yang pantang dilewatkan untuk tahun ini. Di antara waktu jeda tur dunia mereka untuk mempromosikan album ini sampai akhir tahun nanti, Yumi Zouma pun menyempatkan waktu untuk bercerita lebih dalam.

 yumi

Awalnya saya sempat mengira jika Yumi Zouma adalah nama seorang penyanyi solo, apa cerita di balik nama band ini?

Saat memulainya, kami sebetulnya tidak yakin jika kami akan menjadi sebuah band seperti sekarang. Kami membuat lagu pertama saat kami tinggal di negara yang berbeda, jadi awalnya kami pikir rasanya sulit membayangkan untuk tampil bersama di atas panggung. Tapi, kami ingin tetap percaya jika mungkin musik kami bisa diterima, atau mungkin salah seorang dari kami bisa membawakan lagu kami secara live. Jadi kami memilih nama yang fleksibel dan tidak secara spesifik menjelaskan tempat asal kami. Jadi dibanding memilih nama “The…’s” atau sejenisnya, kami memilih menggabungkan nama pertama dan nama terakhir dari dua teman kami untuk menciptakan sebuah nama baru. 

Bagaimana awal perkenalan kalian satu sama lain?

Sam mungkin pertama kali kenal Christie saat dia pacaran dengan kakaknya, Josh dan Charlie bertemu di sebuah kompetisi band di Auckland saat mereka berumur 17 tahun, Charlie bertemu Sam di sebuah toko gitar di Christchurch, Christie bertemu Josh dan Charlie saat dia masih menyanyikan lagu-lagu Fleetwood Mac di sebuah cover band, dan Sam pertama kali bertemu Josh di latihan band pertama kami sebagai Yumi Zouma, haha!

Siapa saja influens musikal bagi band ini?

Influens kami umumnya berkisar di musisi Selandia Baru yang kami dengarkan saat beranjak dewasa seperti Bic Runga, The Mint Chicks, Cut Off Your Hands, Anika Moa, dan Carly Binding. Tapi untuk album ini, kami lebih terpengaruh dari Yoncalla sebagai tempat itu sendiri serta pengalaman kami saat tur pertama kali untuk mempromosikan dua EP kami.

Kalian sering dideskripsikan sebagai dream pop, bagaimana pendapat kalian? Sebelumnya Charlie dan Josh juga sempat membuat band disco punk, apa ada pengaruh yang terbawa?

Kami selalu kesulitan saat menjawab soal genre karena kami berempat punya ide masing-masing tentang musik yang ingin kami buat di band ini. Untuk sekarang tidak ada korelasi antara YZ dengan proyek lama kami, kecuali mungkin solo project Sam, Zen Mantra, yang menjadi sumber kreativitas untuk beberapa lagu YZ seperti “Remember You At All” dan “Better When I’m By Your Side”.

 

Dari sekian banyak tempat di dunia, kenapa kalian memilih Yoncalla sebagai judul album ini?

Haha, ceritanya sangat panjang! Tapi akan kami coba singkat. Tahun lalu kami ke US untuk tur musim panas mempromosikan EP II, kami harus berkendara dari Vancouver ke Seattle untuk main di Capitol Hill Block Party. There was a massive traffic jam and the Canadian border was on lockdown. Dari yang seharusnya hanya butuh 3-4 jam perjalanan berubah menjadi 12-13 jam dan kami harus mengatur ulang jadwal kami. Kami berhasil tiba tepat di jam seharusnya kami main, but had a great gig. Masalahnya, kami harus menukar mobil rental kami di Seattle, tapi kami melewati jadwal drop-off  Dan saat itu tidak ada lagi rental yang tersedia karena memang sedang banyak festival di Seattle. Itu artinya kami harus bermalam di Seattle, tapi semua hotel dan Air BnB juga sedang penuh. Akhirnya kami terpaksa tidur di lantai rumah seseorang yang baru kami kenal. Besoknya, semua mobil rental juga sudah habis disewa, sehingga kami naik kereta Amtrak untuk show kami berikutnya di Portland dan tiba persis di jadwal show. Setelah itu, kami akhirnya punya waktu kosong untuk beristirahat. Kami akhirnya menyewa Air BnB di antah berantah Oregon dan menghabiskan dua hari dengan berenang di sungai dan memikirkan soal album debut kami. It was just the most peaceful and best time ever, and a lot of the ideas for the album came from that time, so that’s why we called it Yoncalla!

yoncall

Yoncalla terdengar sangat intim dan penuh nostalgia, apa yang menjadi tema besar di album ini yang menjadi perekat semua lagu di dalamnya?

Ide utamanya adalah ini pertama kalinya kami merekam album di satu tempat secara bersama-sama. Sebelumnya, kami mengerjakan bagian masing-masing di negara yang berbeda dengan zona waktu yang berbeda juga. Untuk Yoncalla, semua eksperimen musik kami lakukan bareng in real time, in front of everyone else, yang ternyata bisa bikin frustrasi juga jika sesuatu tidak terjadi seperti yang kami bayangkan di kepala, atau jika proses rekaman berjalan terlalu lama. But in the end, kami menyadari terkadang kita harus to let that go if you’re going to get anything done. Pada akhirnya semua lagu akan terdengar berbeda dari yang kami bayangkan sebelumnya, jadi mengeluh soal hal-hal kecil sebetulnya hanya membuang-buang waktu. Begitu kami menyadari hal itu, semua berjalan dengan lancar dan merekam lagu bareng menjadi proses yang menyenangkan karena untuk pertama kalinya kami bisa saling melempar ide-ide random secara langsung dan tak akan terjadi jika kami masih menulis sendiri-sendiri.

Salah satu lagu paling menarik di Yoncalla adalah “Haji Awali” dengan judul yang unik, apa cerita di balik lagu itu?

Nama Haji Awali berasal dari nama kompleks apartemen dan sekolah saat Josh tinggal di Timur Tengah, tepatnya di Bahrain. Itu adalah salah satu lagu paling susah bagi kami, salah satu lagu yang kami buat paling pertama tapi selesai paling terakhir. Lagu ini hampir tidak masuk ke album, tapi sekarang menjadi lagu favorit kami!

Bagaimana kalian mendeskripsikan setting yang sempurna untuk mendengarkan album ini?

Duduk di bukit rumput di daerah west coast, di tepi sungai, bersantai bersama teman-teman menikmati homemade salad setelah hari yang melelahkan.

 

Sebagai band yang tadinya tidak berencana untuk tampil live, bagaimana kalian beradaptasi dengan tur dan apa rasanya bagi kalian untuk tampil di atas panggung?

It was normal for us karena kami pernah main di heavily touring band juga sebelum YZ, tapi tetap saja rasanya agak menegangkan saat akan tampil pertama kalinya di sebuah venue besar di luar negeri. Tapi hal itu juga menjadi motivasi yang mendorong kami untuk menjadi band sesungguhnya dengan cepat, and now we love it! Setelah beberapa minggu, kami pindah dari opener menjadi headline untuk show kami sendiri di depan fans kami, which is always way more fun. Beberapa respons terbaik yang kami dapat adalah saat main di Tokyo untuk pertama kalinya dan mendapat encore pertama kami (twice!) dan tampil McAllen, Texas di Galaxy Z Festival di mana panggung kami diserbu fans yang naik panggung untuk berdansa bersama kami.

 

Dari sekian banyak gigs yang sudah kalian lakukan, mana yang paling memorable?

Mungkin show pertama kami di kota asal kami di Christchurch. Kami tidak menyangka orang mengenal kami, jadi kami main di bar milik teman kami dan sebetulnya cuma buat latihan sebelum tur dunia pertama kami di 2014. Tapi hampir seisi kota datang dan bar itu benar-benar disesaki orang yang ikut bernyanyi lagu-lagu yang kami sendiri masih belajar memainkan secara live! It was an incredible experience that we couldn’t really understand!

 

Apa yang paling kalian rindukan dari kota asal kalian?

Keadaannya sebelum gempa bumi di 2011. Christchurch tadinya adalah salah satu tempat paling indah di Selandia Baru, tapi sekarang terlihat seperti parkiran mobil yang terbengkalai.

 

Apa satu hal yang akan disepakati oleh kalian semua?

Probably nothing! We are all very diverse in our opinions, haha!

http://www.yumizouma.com/

On The Records: The Trees And The Wild

Ketika tampil menghiasi edisi perdana NYLON Indonesia yang terbit Januari 2011 silam, The Trees and The Wild (TTATW) merupakan trio folk-post rock pendatang baru dengan sebuah debut album gemilang bertajuk Rasuk yang bisa dibilang berhasil menaikkan batasan dan derajat musikalitas album indie Indonesia di masa itu dan seterusnya. Mendapat apresiasi positif dari publik dan media hingga disebut sebagai salah satu band Asia yang wajib disimak versi majalah TIME di tahun 2011, it’s only natural jika kita bertanya-tanya akan seperti apakah kelanjutan dari awal yang menjanjikan tersebut. After all, album kedua adalah sebuah pertaruhan dan tantangan pribadi bagi setiap musisi dengan album perdana yang sukses. Apakah mereka memilih bermain aman di resep yang sama atau justru membanting kemudi ke arah yang sama sekali berbeda? Band asal Bekasi yang terbentuk dari 2005 ini pun menjawabnya setelah tujuh tahun kemudian, dengan sophomore album bertajuk Zaman, Zaman.

s4fq-m8n

            Rentang waktu tujuh tahun bukan tanpa alasan dan hambatan. Gitaris Iga Massardi mengundurkan diri, meninggalkan Remedy Waloni (vokal/gitar) dan Andra Budi Kurniawan (gitar) sebelum akhirnya TTATW resmi bertransformasi menjadi unit lima personel dengan bergabungnya Charita Utami (keyboard/synth/vokal), Hertri Nur Pamungkas (drum), dan Tyo Prasetya (bass). Ada masa di mana seolah TTATW menarik diri dari publik lokal dan fokus tampil di luar negeri, mulai dari region Asia Tenggara, hingga negara Eropa seperti Jerman, Finlandia, dan Estonia, merilis beberapa materi baru seperti album mini Tuah/Sebak di 2012 dan Ekati di 2014 yang rilis terbatas di Helsinki, Finlandia, serta beberapa single seperti “Empati Tamako” dan “Saija” yang tidak pernah dirilis resmi namun dimainkan di atas panggung, sebagai teaser untuk warna baru musik mereka yang lebih ambisius yang akhirnya disempurnakan ke dalam Zaman, Zaman yang telah dirilis bulan September kemarin via Blank Orb Recordings.

            Berdurasi tujuh lagu dengan durasi sekitar 52 menit, Zaman, Zaman merupakan sebuah album experimental indie rock dengan kekuatan utama aransemen eksploratif dan meruang di mana setiap detail instrumen dan vokal diperhatikan secara cermat dengan proses mixing yang sama jelinya. Terasa penuh dan luas di saat yang sama, Zaman, Zaman adalah tipe album yang baiknya didengarkan dari awal secara runut sampai selesai dengan soundscape naratif dan sinematik di setiap lagu yang akan membawa emosi dan imajinasimu terbang liar ke negeri-negeri dalam sebuah epos atau hikayat. Dikerjakan dengan semangat Do It Yourself yang kental, mayoritas lagu yang ada mungkin sudah beberapa kali kamu dengarkan versi demo atau versi live-nya, namun tentu mendengarkan hasil akhirnya adalah hal yang sama sekali berbeda dan di luar ekspektasi. Di akhir hari, terlepas dari segala hype, perasaan overestimate maupun underestimate, dan segala prasangka lainnya, TTATW berhasil menjawab penantian selama tujuh tahun tersebut dengan caranya sendiri dan membuka zaman baru bagi arah bermusik mereka and it looks damn glorious.

Tell me about the dynamics between members, dengan bertambahnya kepala, bagaimana cara kalian menyatukan ide dan ego selama proses pembuatan album ini? Tidak terlalu sulit untuk menyatukan ide karena kita bermusik sudah 15 tahun lebih jadi kita sudah memiliki pengalaman, sudah tahu kemampuan masing-masing dan arah musik yang ingin kita tuju. Dan rasanya kita sudah ketuaan untuk memikirkan ego. Yang hanya kita pikirkan adalah bagaimana bisa membuat karya terbaik kita.

Bicara soal influens mungkin agak klise, tapi adakah hal-hal di luar musik yang memengaruhi emosi di album ini? Pastinya hal di luar musik memengaruhi musik yang kita buat. Justru itu yang menjadi sumber inspirasi musiknya. Tidak hanya dari sisi yang paling klise seperti lirik, tapi dari sisi cara kerja kita dan estetika dari albumnya pun secara tidak langsung mempengaruhi proses pembuatan album ini. Salah satu alasan kenapa kita memilih untuk memiliki day job adalah agar kita bisa mendapatkan inspirasi dan pengalaman lain tersebut. Membuat musik menjadi lebih mendalam dan bukan sekadar membuat orang lain sing along atau menjadi terkenal.

Mayoritas materi di album ini sudah sering dibawakan sebelumnya atau dirilis dalam berbagai versi, bagaimana cara kalian memilih lagu mana saja yang akhirnya masuk di album ini? Berdasarkan mood, alur, dan fungsi dari lagu itu sendiri. Ada lebih dari 3 lagu yang tidak masuk karena setelah kita dengar secara keseluruhan tidak sesuai dengan warna dan alur yang kita inginkan, yang mungkin orang lain tidak bisa melihat. Kita ingin membuat sesuatu yang indah namun membumi. Di satu sisi maksimalis tapi di sisi lain minimalis.

Kenapa “Zaman, Zaman” yang dipilih menjadi single pertama dan apa ide untuk videonya? Karena kita rasa “Zaman, Zaman” bisa menjadi entry point yang baik untuk menelusuri materi yang lain. Idenya dari lagunya sendiri. Idenya untuk mengekspresikan karakter lagu tersebut.

DI beberapa lagu, vokal Charita lebih dominan dibanding Remedy, dan somehow, saya merasa vokal bagi TTATW saat ini adalah bagian dari instrumen yang berdiri sejajar dengan instrumen lain. Ada pertimbangan khusus untuk itu? Iya, kita menyesuaikan dengan kebutuhan lagu. Dan kita sudah sadar akan karakter vokal Remedy dan Charita dan bagaimana memadukan dua suara tersebut. Semua jenis mixing telah kami coba. Vokalnya di depan, di belakang, bahkan sampai yang vokalnya kita edit total menjadi seperti choir, semua kemungkinan kita coba. Dan yang terbaik dari yang terbaik adalah yang akhirnya ada di album. Di dalam tiap lagu pun, level vokal kita sesuaikan dengan staging yang ingin kita fokuskan dan yang ingin kita arahkan, di bagian verse atau chorus atau interlude dan lain lain. Seperti vokalnya “dimundurkan” sedikit agar beat bisa “muncul” dan staging-nya bisa kita bawa ke arah baru. Untuk sebagian orang khususnya yang sangat awam terhadap musik, mungkin memang kurang paham sepertinya dan tidak terbiasa dengan mixing tipe seperti ini (walaupun ada banyak sekali musik yang sudah menerapkan metode seperti ini) tapi kita tidak terlalu pikirkan. Yang kita pedulikan hanya bagaimana membuat lagu-lagu ini menjadi versi yang kita rasa terbaik.

 

Menurut kalian sendiri, apa kondisi ideal untuk mendengarkan album ini secara maksimal? Kita berharap album ini bisa didengarkan di kondisi apapun, sadar maupun tidak. Dari sisi teknis, kebetulan album ini di-master oleh Bo Kondren, salah satu engineer senior yang sudah banyak menangani album electronic dan experimental seperti Moderat, Caribou, A Winged Victory for the Sullen sampai Ryuichi Sakamoto. Jadi kami rasa album ini baik didengarkan di semua perangkat, tapi yang pasti tidak speaker laptop. Tapi mungkin dari personal preference, album ini lebih ke album yang baik didengarkan via speaker bukan headphone. Karena dengan karakter sound seperti album ini, ada jarak dari speaker dan telinga pendengar bisa menambah efek lain.

Jika bisa memilih seorang visual maker siapa saja untuk membuat Zaman. Zaman sebagai satu kesatuan sinematik, siapa yang akan kalian pilih? Terrence Malick, David Lynch, dan Roger Deakins. Karya mereka sering kita putar saat tracking dan saat menulis.

Apa impian/target selanjutnya yang ingin dicapai? Bisa membuat album ketiga.

dscf0331-640x960

 

All Time High, An Interview With The Sam Willows

Dikenal berkat racikan musik dan vokal penuh harmoni dengan lirik yang menggugah, kuartet indie pop The Sam Willows berhasil mengharumkan music scene di Singapura dan kini bersiap memperkenalkannya ke seluruh dunia.

Terbentuk di bulan Mei 2012, The Sam Willows yang terdiri dari kakak beradik Benjamin (vokal, rhythm guitar) dan Narelle Kheng (vokal, bass) beserta dua sahabat mereka Sandra Riley Tang (vokal, keyboard, perkusi), dan Jonathan Chua (vokal, lead guitar) adalah salah satu band millennial yang meraih kepopuleran berkat profil YouTube mereka dengan 89 ribu subscriber dan total views lebih dari 8 juta. Disebut sebagai salah satu band Singapura paling bersinar saat ini dengan berbagai penghargaan dan nominasi yang diterima, mereka pun telah go international dengan tampil di berbagai acara keren seperti South by Southwest di Texas, Canadian Music Week, Korea Selatan, dan Australia, bahkan sebelum merilis debut album mereka yang bertajuk Take Heart yang dirilis tahun lalu oleh Sony Music Singapore. Berisi 9 lagu dan digarap bersama produser international terkenal seperti Harry Sommerdahl dan Steve Lillywhite, lewat album debut yang telah dinantikan ini, mereka bertekad meraih pendengar lebih luas, salah satunya adalah Indonesia.

“The food!” jawab Narelle dengan cepat saat ditanya hal favoritnya tentang Indonesia. “Favorit saya adalah ketika kami makan makanan Sunda di Bandung dengan semua gorengan usus dan paru, it’s so good,” lanjut gadis cantik tersebut yang langsung ditanggapi sang kakak Ben, “And martabak! With cheese and chocolate!” dengan tak kalah semangat saat kami bertemu di sebuah hotel bilangan Jakarta Pusat. Telah melewati satu minggu di Jakarta dan Bandung demi mempromosikan Take Heart yang kini juga dirilis oleh Sony Music Indonesia dengan schedule yang sangat padat, tak ada raut kelelahan di wajah mereka even di hari terakhir sebelum kembali ke Singapura. Dengan antusias dan penuh keramahan, The Sam Willows duduk bersama saya untuk mengobrol just like an old friends.

 

the-sam-willows-for-love-1

Jonathan Chua, Narelle Kheng, Sandra Riley Tang, Benjamin Kheng.

First thing first, dari mana nama The Sam Willows berasal?

Sandra: “Kalau mendengar nama Sam Willows, kamu mungkin akan bingung apakah ini nama seseorang atau satu band kan? Basically kami ingin punya semacam alter ego untuk merepresentasikan kami berempat sebagai satu orang, and the name is cool.”

Jon: “Lucunya, saat tampil di Kanada, kami sempat bertemu seseorang bernama Sam Willows yang juga mengaku sebagai penggemar kami. He is Caucasian male with red hair and a bit pudgy.”

Apa yang menjadi influens bermusik kalian untuk band ini?

Narelle: “Sebagai band, kami selalu berkembang. I mean, semakin dewasa, semakin banyak musik yang kami dengarkan. Untuk sekarang kami look up ke band seperti Little Mix karena mereka terdiri dari strong vocalists dan di saat yang sama kami juga terobsesi dengan The Chainsmokers. Namun, kalau dilihat dari akar musik kami, we’re actually very bluesy kinda band. Jon is super bluesy.”

Kalian telah tampil ke berbagai tempat, apa rasanya bagi kalian?

Jon: “Selalu ada kenikmatan tersendiri saat bisa travelling ke negara lain, karena kita tampil di audiens yang berbeda, we don’t know what to expect dan rasanya berbeda saat orang di negara lain bisa mengapresiasi musikmu.”

Ben: “Kami jadi bisa bertemu banyak fans yang tidak kami tahu sebelumnya, seperti di sini kemarin Sony Music menggelar meet and greet dan orang-orang datang, it’s cool, semua orang sangat ramah dan mereka ikut menyanyikan lagu kami dengan baik.”

Apakah kalian masih nervous saat tampil di tempat baru?

Sandra: “Iya, terkadang. Bagi saya pribadi, saya tidak pernah terlalu nervous sampai akhirnya kami tampil di show kami sendiri di Singapura sebulan lalu. Kami tampil di depan tiga ribu orang dan awalnya kami cemas apakah kami bisa memenuhi venue tersebut, but we did. Kami latihan selama dua bulan untuk satu hari itu dan sesudahnya kami tidur selama dua hari karena kami sangat lelah, but it’s so fun! Kami ingin bisa mengadakannya lagi di tempat-tempat lain, termasuk Indonesia.”

Dengan semua pencapaian yang kalian raih, apa yang menjadi momen paling berkesan bagi kalian?

Ben: “Bisa menggelar show kami sendiri adalah sebuah huge milestone bagi kami. Namu, bisa travelling ke Jakarta selama satu minggu juga sangat seru bagi saya karena kami tidak pernah membayangkan bisa berkarier sebagai musisi. Di Singapura, kamu diharapkan menjadi dokter, pengacara atau kerja kantor 9 to 5, so the fact kami bisa berpergian untuk bermain musik adalah sebuah big blessing.”

Narelle:Music scene di Singapura sedang berkembang cepat. Beberapa tahun ini banyak musisi lokal yang merilis album dan mendapat support, karena kami tahu bagaimana sulitnya menjadi musisi di Singapura yang sebelumnya tidak terlalu dianggap. Contohnya di Indonesia kalian sangat bangga dengan musisi lokal kalian, tapi di Singapura, sebelumnya musisi tidak dianggap sebagai proper job, jadi saat belakangan ini orang mulai datang dan mendukung adalah sesuatu yang luar biasa.”

Dengan adanya empat kepala dan ego yang berbeda, bagaimana proses berkarya kalian?

Narelle: “Terkadang kita punya lagu yang mengalir dengan sendirinya dan semua orang langsung setuju, tapi ada juga lagu yang harus melewati proses perdebatan. Its different song, different process. Tapi pada akhirnya kami hanya merilis lagu yang kami berempat suka.”

Bagaimana rasanya bekerja di bawah major label bagi kalian?

Jon:Okay, saya merasa memang ada stigma soal major label di seluruh dunia, tapi berdasarkan pengalaman kami, Sony Music sudah seperti keluarga. Entah itu Sony Music di Singapura, Malaysia, atau Indonesia, semua orang sangat ramah dan bekerja keras untuk membantu kami dan itu hal yang kami syukuri. Jadi menurut saya hal itu tergantung bagaimana hubunganmu dengan label. Kami bersyukur mendapat label yang peduli dan mendukung kami jadi kami juga terpacu untuk lebih baik.”

Ben: “Saya pikir sebagai musisi, terkadang kamu bisa menjadi selfish dan kehilangan arah tentang tujuan yang ingin kamu capai. Dan jika tujuan kamu adalah musikmu bisa didengarkan banyak orang, kamu harus mempercayai labelmu and have some conversation.”

Bicara tentang album debut Take Heart, apa yang menjadi tema utamanya?

Ben: “Ini adalah album pop tapi kami percaya the power of love. Tidak hanya romantic love ke pasangan, tapi cinta yang bisa mengubah dunia. Kalau kamu lihat berita yang ada sekarang, banyak hal mengerikan yang terjadi di dunia saat ini dan kami pikir salah satu solusinya adalah menunjukkan rasa cinta ke orang lain. Not a selfish love, but the same love that across the culture. Kita tidak bicara dalam bahasa yang sama, tapi kita sama-sama mencintai musik and love people, dan saya rasa kalau kita bisa menunjukkannya, dunia bisa lebih baik. So there’s a lot of kind of love di album ini.

Bagaimana untuk single “All Time High” yang kalian rilis untuk Indonesia?

Narelle: “’All Time High’ bercerita tentang relationship. Kami ingin bercerita soal key moments of relationship di mana mungkin salah satunya saat kamu bertengkar hebat dengan pasanganmu tapi hal itu karena kamu sangat peduli satu sama lain. The extreme level of loving someone, and that person is your all time high.”

 

Menyinggung soal extreme level, apa hal tergila yang pernah kalian dapat di socmed kalian?

Ben: “Orang-orang yang komen di socmed saya baik-baik saja, tapi Jon punya beberapa fans yang lumayan aneh, haha!”

Narelle: “Banyak yang bilang ke Jon: ‘I want to be your microphone’.”

Sandra: “Dan banyak hal lain yang sebaiknya tidak kita ucapkan di sini, haha!”

Jon: “Ya, saya pernah mendapat married proposal di Instagram.”

Sandra:No, no, no, it wasn’t just a proposal. Itu adalah akun Instagram yang khusus didedikasikan untuk pernikahan mereka.”

Jon:Yeah, bahkan saya sendiri tidak tahu jika saya telah menikah? Haha!”

Apa satu hal yang semua personel setujui dengan cepat?

Sandra: “Makan. Kalau kami bilang ‘let’s eat!’ semua pasti setuju, haha!”

Narelle:Yeah food is something that unites us.”

Jon: “Dan mereka selalu mempercayai saya untuk memesan makanan, karena terkadang terlalu lama untuk memesan satu per satu, biasanya saya yang memilih menu.”

Narelle:One thing we could agree on is Jon. Jon knows.”

Ben: “Dan satu hal lagi yang kami setuju: Sandra is always being late for anything.”

Sandra: “Terkadang saya datang duluan tapi ada saja kejadian yang membuat saya terlambat entah kenapa.”

Bahkan di Singapura sekalipun?

Ben:  “In whole universe! It’s global deal, she has to be late, haha!”

Apa rencana kalian setelah kembali ke Singapura?

Narelle: “Setelah ini kami akan terbang ke Malaysia untuk tampil bersama CHVRCHES, kemudian bersiap ke San Francisco, Los Angeles, dan Montreal untuk tampil di beberapa show. Minggu lalu kami mampir ke Sydney untuk mengerjakan sebuah lagu untuk album kami berikutnya yang akan dirilis tahun depan.”

180-behind-the-lenses-of-the-sam-willows-for-love-mv-te0ex

On The Records: Ikkubaru

Bermula dari sebuah bedroom project milik vokalis/gitaris/keyboardist/penulis lagu Muhammad Iqbal di medio 2011, ikkubaru (イックバル) yang namanya diambil dari nama “Iqbal” yang diterjemahkan ke bentuk Katakana adalah sebuah kuartet asal Bandung bergenre City Pop yang dilengkapi gitaris/vokalis Rizki Firdausahlan, drummer Banon Gilang, dan bassist Fauzi Rahman. Dengan influens dari solois Jepang seperti Tatsuro Yamashita dan Kadomatsu Toshiki serta band-band Inggris seperti Tears For Fears, Prefab Sprout, dan Pet Shop Boys, band ini meracik materi-materi easy listening penuh melodi catchy dengan lirik berbahasa Inggris seperti yang telah terangkum dalam album bertajuk Amusement Park. Uniknya, album berisi 10 lagu yang dirilis pertengahan tahun lalu tersebut justru lebih dulu dirilis oleh label musik Jepang dan mendapat sambutan positif dari pendengar musik di sana yang membuat mereka kemudian diundang untuk mengadakan tur Jepang selama seminggu penuh pada pertengahan Juni lalu. Here’s a little catch up bersama Iqbal sekembalinya mereka dari tur yang meliputi Fukuoka, Kobe, Osaka, dan Tokyo tersebut.

cfzmcvaumae8fxi

First thing first, apa definisi dari “City Pop” yang kalian usung?

City Pop itu menurut sumber yang saya dapatkan dari negeri aslinya adalah salah satu genre J-Pop pada tahun 80-an, di mana kita seolah-olah dibawa ke bayangan “suatu kota besar yang memiliki gedung-gedung tinggi”.

Bagaimana ceritanya album Amusement Park bisa dirilis oleh label Jepang?

Awalnya kami pernah kontakan dengan fan pertama orang Jepang. Dia mau bantuin kami di Jepang, sampai akhirnya dia mau jadi manager Ikkubaru untuk Jepang. Kami sepakat untuk dibuatkan record label menggunakan nama Hope You Smile Records yang diambil dari judul EP pertama Ikkubaru. Dan akhirnya Amusement Park pun rilis di bawah naungan Hope You Smile Records. Dia membantu kami untuk menjualnya di records store di Jepang seperti HMV, Disk Union, dan Tower Records. 

So how was the Japan Tour?

Ikkubaru Japan Tour 2015 kemarin bisa dibilang “The greatest experience in our live”, karena banyak yang nggak disangka oleh kami. Awalnya ada email masuk dari promotor Jepang namanya DUM-DUM LLP. Mereka menawarkan untuk tur di Jepang, semua akomodasi ditanggung oleh mereka. Tanpa panjang pikir kami langsung terima tawaran mereka. Semua proses dilalui dari bikin passport, visa, dan pesan tiket pesawat. Dan akhirnya kami berangkat pada tanggal 15 Juni tahun lalu.

Apa saja pengalaman menarik selama di sana?

Di sana kami berkolaborasi dengan artis lokal di tiap kota. Seperti tofu beats, okadada, Especia, Negicco, dan masih banyak lagi. Di sana sambutannya luar biasa, sangat jauh berbeda ketika kami sedang manggung di Indonesia. Fauzi sang pemain bass pun pernah terhenti permainan bass-nya di awal lagu “Love Me Again” ketika sedang perform di Keith Flack Fukuoka. Setelah ditanya ternyata dia memang “campur aduk” perasaannya ketika perform, karena kami tidak pernah menyangka sambutannya akan sehebat ini.

Kalian bisa dibilang “besar” terlebih dahulu justru di Jepang dibanding dalam negeri sendiri, how do you feel about that? Lalu bagaimana rencana kalian untuk memperkenalkan musik kalian ke scene lokal?

Kami sangat senang dengan keadaan seperti ini, akhirnya kami pun sadar karena wadah “City Pop” itu memang sangat ngetren di Jepang. Setelah mengobrol dengan salah satu musisi senior di Jepang, katanya kami memang sangat dicari oleh kultur musik di Jepang, dan musik yang saya ciptakan kebanyakan yang mendengarkan adalah orang tua, tetapi ada pula anak muda Jepang yang mendengarkannya. Jadi bisa dibilang City Pop kita realistic, begitu katanya. Untuk scene musik lokal saya hanya akan “go with the flow” saja. Entah saya akan terus memperbesar nama Ikkubaru di Jepang sampai benar-benar dapat “ditarik” ke Indonesia, atau kalau memang harus, kami hanya fokus di Jepang saja di bawah naungan label Jepang yang lebih besar.

https://ikkubaru.com/

Heart on Their Sleeve, An Interview With The Submissives

Jangan terkecoh dengan nama dan penampilan mereka yang terlihat harmless, The Submissives menyembunyikan pesan subversif di balik lovesick indie pop.

Di atas panggung, The Submissives adalah band asal Montreal, Kanada yang terdiri dari 6 orang perempuan with matching dresses dengan dua orang vokalis yang setengah bergumam menyanyikan lagu-lagu indie pop beraransemen low-key yang mereka sebut sebagai lovesick pop. Namun, pada hakikatnya band ini bermula dari proyek solo seorang Deb Edison yang menulis dan merekam semua lagu yang ada di album debut Betty Told Me (2015) dan album baru yang akan dirilis bulan ini, Do You Really Love Me? yang akan dirilis oleh Fixture Records.

Berisi 15 lagu yang masing-masing berdurasi kurang dari tiga menit dengan judul-judul seperti “Perfect Woman”, “Dream Life”, dan “My Boyfriend”, sekilas mereka menyajikan fantasi patriarkal dari kehidupan wanita idaman di sebuah suburban yang sempurna, tapi seperti yang kita ketahui bersama, there’s always something sinister about that. “Nama The Submissives merujuk pada sikap pasif, patuh, taat, dan tunduk. Bagi saya, itu adalah sebuah sentimen yang ditujukan kepada kaum pria. It’s that feeling where you are sitting still and silent with a smile on your face, saying nothing, but that isn’t the way you feel inside,” ungkap Deb perihal nama yang mereka usung.

Pesan-pesan terselubung tersebut tak hanya muncul secara literal lewat lirik lagu, tapi juga secara visual. Dalam video terbaru untuk single “The Hum” yang digarap Zale Burley misalnya, Deb mengenakan white bride dress dalam beberapa menit awal yang terasa normal sebelum the video getting bloodier, sekali lagi menonjolkan tema love gone wrong andalan mereka. To see the bigger picture, Deb pun menjelaskan beberapa hal tentang proyek ini dalam email yang ia kirim dari Montreal.

the-submissives-linx-selby-2

Hai Deb, apa kabar? Di mana kamu sekarang dan apa yang kamu lakukan sebelum membalas email ini? Hi! I’m doing great today; I slept a lot last night. Great question! Saya sedang berada di kawasan bernama the Mile End di Montreal, Quebec, Kanada. Sebelum membalas email ini saya pergi mengirim surat dan membeli deterjen. Sekarang saya minum kopi sambil menulis email ini. 

Jadi bagaimana awal mulanya project solo ini berkembang menjadi format full band? Saya punya ide untuk bikin band dari berapa tahun lalu, namun belum sempat terlaksana. Saya menulis semua lagu untuk band ini dalam dua minggu terakhir November tahun lalu, which was a very sad and confusing time in my life. Saya menyelesaikannya di bulan Desember dan band ini mulai latihan Januari lalu. Having the songs performed live was always the dream!

Dari mana kamu mengumpulkan personel lainnya? Semua personel band ini adalah orang-orang yang menurut saya sangat berbakat dan menarik, dan tidak butuh waktu lama bagi kami untuk get it all together. Walaupun awalnya beberapa di antara kami tidak terlalu kenal satu sama lain, we’ve gotten much closer.

Boleh ceritakan show pertama kalian? Kami pertama kali tampil dalam acara bikinan sendiri di Montreal, tepatnya di lantai dua sebuah gedung di area yang agak terbengkalai tapi sering digunakan sebagai venue atau tempat jamming. Waktu itu kami merilis album Betty Told Me. Interiornya kami hias dengan lampu gantung, lilin, bunga, dan kain merah. Andre Charles Theriault membuka acara dan penonton menikmatinya dengan sangat tenang, considering it was just a voice and guitar in a room usually loud and unruly. Teman kami Neutral Fixation dari Massachusetts tampil sebelum kami. Being on stage after working so hard together for two months felt magical.  Band lokal Cheap Wig menutup show dengan liar, the crowd was drunk and lost in the strobe light at that point. The show went really well, it was a great night!

Apa saja yang menjadi inspirasi terbesar untuk band ini? Dua lagu yang saya dengarkan tanpa henti saat membuat album pertama adalah “In My Brain” oleh Badge dan “Mer Morte” dari band rock Montreal bernama Les Jaguars. Saya juga terobsesi pada sosok Joe Meek, seorang produser dan penulis lagu yang luar biasa. Lagu-lagunya terdengar sweet and dark di saat yang sama, you gotta learn about the man if you haven’t already! Saya juga suka apapun yang dirilis oleh label-label seperti Sublime Frequencies, Light in the Attic, dan Awesome Tapes dari Afrika.  Also, many thanks to the hero who runs the website Aquarium Drunkard, formerly the blog Ghost Capital.  So much more, but I will stop at that.  

0008100661_10

Bicara tentang album Do You Really Love Me? kalian juga akan merilisnya dalam format kaset, apakah itu cuma untuk gimmick atau bagaimana? Apa pendapatmu soal era musik digital/streaming saat ini? Merilis dalam format kaset bukan sekadar gimmick bagi saya, pengalaman merekam album dalam bentuk kaset adalah sesuatu yang luar biasa! Semua track dikompres secara natural dan menyatu dengan apik, it’s so fun and satisfying. I am addicted to tape technology. Saya tidak bisa berkomentar banyak soal era digital, karena saya pun merilis versi digital untuk semua lagu saya karena menurut saya rasanya menyenangkan jika album yang kamu buat juga bisa didengar orang di belahan dunia lain secara instan. Namun, saya tetap lebih memilih punya produk dengan bentuk fisik yang bisa kamu genggam. Tapes are great, but for me, releasing music on vinyl is the ultimate goal.

Bagaimana keadaan skena musik di Montreal saat ini? There is a lot of great music going on in this city at the moment! Kita semua bisa diuntungkan dengan membuat show yang mengajak band dan musisi dari genre yang berbeda dan memperkenalkan musisi baru yang mungkin belum pernah tampil live sebelumnya. I hope to see more non bar/official venues pop up in the future; I think it’s important to move out of our comfort zones. This is something I am really trying to work on myself…  I also hope to see cops staying out of the scene.

Selain musik, apa yang kamu lakukan sehari-hari? Saya bekerja di kafe, menggambar, bikin video, nonton bioskop, travel as much as possible, hang out with my cats and friends, walk my roommate’s dog, drink sparkling water, lie on my bed, sleep.

Apa  rencana selanjutnya? We are finally starting to practise after a big summer break! Kami akan merilis album tanggal 8 September di tempat bernama Club Balattou.  Di Oktober kami akan rekaman dengan local genius recording pro Garrett Johnson.  Hopefully we’ll release that one on vinyl!  For the future, I hope to learn to write songs together and really just jam out.

 

 

Band photos by Linx Selby.

http://submissives.bandcamp.com/

Girls Just Want To Have Fun, An Interview With Hinds

Lewat album debut Leave Me Alone, kuartet garage rock asal Madrid, Hinds menyajikan musik yang gutsy dan kental akan feminisme tanpa melupakan caranya bersenang-senang.

Kurang dari tiga tahun lalu, baik Carlotta Cosials dan Ana García Perrote tidak tahu caranya memainkan gitar. Namun, sebuah liburan musim panas di pesisir pantai Denia di mana mereka menghabiskan waktu dengan bermain gitar dan bernyanyi menginspirasi kedua gadis Spanyol tersebut untuk membuat musik bareng sepulangnya mereka ke Madrid. Setelah melewati masa latihan ekstensif, keduanya membentuk duo bernama Deers yang terinfluens dari band-band seperti The Strokes, Black Lips, serta The Vaccines dan merilis dua track berjudul “Bamboo” dan “Trippy Gum” via Bandcamp di tahun 2014 sebelum akhirnya mereka berkembang menjadi full band dengan mengajak dua sahabat mereka Ade Martin di bass dan Amber Grimbergen di drum. Memadukan bunyi lo-fi dari garage rock kontemporer dengan elemen pop dari musik surf rock dan girl group 60-an, mereka merilis beberapa single selanjutnya dan dengan segala respons positif yang didapat, mereka pun menghabiskan tahun tiga tahun terakhir dengan tampil di berbagai festival musik, termasuk South by Southwest di mana mereka tampil dalam 16 show hanya dalam kurun waktu empat hari. Sayangnya, kepopuleran itu juga memancing atensi yang tidak diinginkan dari band bernama The Dears yang lewat kuasa hukumnya mengancam akan menuntut Deers jika mereka tidak mengganti namanya yang dianggap terdengar mirip band Kanada tersebut. Deers mengalah dan mengganti nama mereka menjadi Hinds (yang berarti rusa betina) dan dengan nama itu juga mereka akhirnya merilis album debut bertajuk Leave Me Alone lewat label Lucky Number di awal tahun ini. Berisi 12 lagu yang memadukan materi-materi baru seperti “Garden” dengan beberapa single yang sudah dirilis sebelumnya seperti “Chili Town” dan “Castigadas en el granero”, bersama album ini Hinds pun sukses menggelar tur dunia dan kini, dari teras rumah mereka di Madrid, Carlotta dan Ana membalas email dari NYLON.

hinds-by-salva-lopez
DARI KIRI: Ade Martin, Amber Grimbergen, Ana Perrote, Carlotta Cosials.

Hai Carlotta dan Ana, Hinds bermula dari kalian berdua, tapi bagaimana sebenarnya kalian bisa bertemu? Kami diperkenalkan oleh dua bekas pacar kami. Sekarang kalau diingat lagi, kami merasa harus berterima kasih karena mereka lah yang memperkenalkan kami ke satu sama lain. Dan kenapa akhirnya kami bikin musik bareng… Saya tidak tahu! We’ve always loved music because music inspires life.

Apa rasanya menjadi sebuah girl band di Spanyol? Bagaimana biasanya proses pembuatan lagu bagi kalian? Well, kami merasa kreativitas dan bermusik di girl band sebetulnya tidak ada kaitannya sama sekali, hahaha. Being in an all girl band is seriously tough, tapi kami siap melawan siapapun dan apapun. Kalau tentang penulisan lagu, tergantung masing-masing lagu sih, tapi biasanya memang Ana dan saya (Carlotta) yang menulis lirik dan melodi serta gitar, Ade mengerjakan bass lines dan Amber di drum. Jadi setiap personel mencurahkan dirinya dalam setiap lagu, even tho we spend so many hours in here searching for the right melodies and feelings.

Apa yang menjadi influens utama bagi musik kalian? Sun, beer, and oceans.

Boleh cerita soal album Leave Me Alone? Di mana kalian merekamnya dan berapa lama prosesnya? Kami merekamnya April tahun lalu di daerah selatan Spanyol, di sebuah kota kecil bernama El Puerto de Santa Maria yang terletak di Cadiz. Kami di sana selama sepuluh hari dan butuh tiga hari bagi kami sampai akhirnya menemukan sound yang kami inginkan dari proses mixing. We were young and innocent dan walaupun kami sangat menyukai hasilnya, kami sebetulnya sama sekali tidak menyangka jika banyak orang di luar sana yang juga menyukai album ini sebesar kami.

Feminisme telah menjadi topik yang tidak dapat dihindari dalam musik sekarang ini, bagaimana kalian memandangnya? Apakah kalian terganggu jika banyak orang yang melabeli kalian sebagai “Girl Crush” atau “It Girls” hanya karena kalian merupakan girl band? Boys have a crush with girls, girls have a crush with boys, boys have crushes with boys and girls also with girls; saya rasa masalahnya bukan di situ. Kesalahan pada sikap sexism di musik adalah berpikir jika apa yang kami raih sejauh ini berkat campur tangan pria di baliknya, masih banyak orang bodoh yang tidak mau percaya jika kami bisa berada di titik ini karena usaha kami sendiri, because we FOUR YOUNG SPANISH GIRLS have done what we’ve done. 

Apakah kalian pernah mengalami perlakuan misoginis saat manggung atau di tur? Tidak terhitung. Hal-hal seperti “She is prettier than you”, atau “Show your pussy”, atau doing like the gesture of sucking a dickSeriously, so so so so many times. Atau selesai manggung, pria paruh baya menghampirimu and telling you bullshit karena mereka pikir mereka bebas melakukannya karena mereka lebih tua dan kamu secara otomatis harus menghormati mereka and bla bla blah…

Apa yang paling kalian sukai dari tampil di panggung? Performing is the best. Beraksi di panggung adalah salah satu momen favorit kami, no doubt. Tapi yang paling kami suka dari tur adalah kami melakukannya dengan teman-teman kami. Like having a supporting band for the whole tour so we become super close to each other, or inviting friends from Spain that are studying abroad… Itu hal yang asik dan keren. And the energy? Energinya sama besarnya seperti kamu pergi ke sebuah pesta. A gooood party.

Kalian baru saja menyelesaikan tur dunia kalian di Singapura, apa hal yang kalian sukai dari touring selain manggung? Discovering that people is incredibly different in every city, but with kind of similitude in each continent. Dan kuliner! Kami suka makan dan mencoba berbagai menu andalan setempat.

Since it’s our Summer Issue, what’s the best way to spend summer in Madrid? In the streets drinking sangria!

Jika kalian bisa memilih tempat apa saja untuk liburan musim panas, tempat apa yang akan kalian pilih dan kenapa? Oke, kalau kami juga bisa mengajak semua teman kami di Madrid, kami pasti akan pilih daerah pantai yang super murah. Mungkin… Benicassim?

Apa yang ada di playlist kalian saat ini? Bob Dylan, King Gizzard, dan Joaquin Sabina. 

Rencana untuk sisa tahun ini? Menyelesaikan tur dunia! And writing the best album ever, again!

Terakhir, sebutkan top 5 musisi perempuan favorit kalian! Courtney Barnett, Patti Smith, Gabriella Cohen, , dan Fiona Campbell.

 

Minty Fresh: Five Fresh Acts To Add On Your Playlist This Month.

sofi-tukker

SOFI TUKKER

Berawal dari perkenalan di sebuah galeri seni, penyanyi bossa nova Sophie Hawley-Weld dan DJ asal Boston bernama Tucker Halpern yang sama-sama berkuliah di Brown University dengan cepat menjadi kawan karib berkat instant chemistry dan ketertarikan yang sama terhadap budaya dan musik Amerika Latin. Setelah keduanya lulus dari Brown, mereka memutuskan pindah ke New York untuk membentuk duo folk-dance bernama Sofi Tukker yang menyajikan musik electronic dengan sentuhan musik Latin yang terdiri dari beat house adiktif, dentuman gitar elektrik, alat musik tradisional seperti bongo dan charango, serta lirik berbahasa Portugis yang terinspirasi oleh tulisan penyair Brazil legendaris, Chacal. Hal itu mungkin terdengar aneh di atas kertas, tapi jika kamu telah mendengar beberapa single awal seperti “Drinkee” (yang dipakai dalam komersial Apple Watch baru-baru ini), “Matadora”, dan “Hey Lion” yang terkompilasi dalam debut EP bertajuk Soft Animals, kamu akan jatuh cinta dengan cepat kepada duo yang kini berada di bawah naungan HeavyRoc Music, label milik The Knocks tersebut. Bagi mereka, membuat musik dance adalah hal yang sebetulnya bersifat spiritual. Sophie yang juga merupakan seorang pengajar yoga mengaku terinspirasi oleh chants dari Kundalini yoga yang berulang-ulang untuk menciptakan ambience yang mengajak pendengarnya terserap dalam vibrasi ritmis. Now you know why there’s something hypnotic about their music.

chaz-french

Chaz French

Dengan hasil observasi dari lingkungan sekitarnya, Chaz French yang merupakan rapper asal Washington D.C. menghabiskan masa sekolahnya dengan menulis lirik lagu rap di buku pelajaran dan merekam mixtape berisi 15 lagu di basement milik temannya. Namun, baru setelah akhirnya drop out dari sekolah dan berkeluarga, ia merilis album debut dengan judul Happy Belated pada April tahun lalu yang dipenuhi passion, soul, serta authenticity yang tidak mungkin bisa ditiru oleh orang yang tidak pernah merasakan getirnya hidup. Membawa warna baru terhadap kultur hip hop di D.C., ia kemudian meraih momentumnya bersama mixtape teranyarnya These Things Take Time akhir tahun lalu yang diakuinya jauh lebih kohesif dan mendapat respons gemilang tidak hanya dari pendengar dan jurnalis, tapi juga dari sesama musisi seperti Pusha T. Dalam video untuk single terbarunya “IDK” yang disutradarai oleh Shomi Patwary, rapper berusia 24 tahun ini mengajak kita menelusuri jalanan D.C.  dengan konsep yang terinspirasi dari situasi nyata tentang life struggle dan kenyataan hidup yang keras. Baru-baru ini, ia juga berkolaborasi dengan singer-songwriter R&B Kevin Ross dalam single “Be Great” yang mengangkat soal ketegangan rasial dan kebrutalan polisi dalam komunitas African-American beberapa tahun terakhir ini. Namun, bukan berarti jika musik yang ia buat hanya mengumbar kepahitan saja, karena di balik kemampuannya untuk melontarkan lirik yang brutally honest dengan kecepatan senapan mesin, there’s always something melodic and of course, the silver lining.

cullen-omori

Cullen Omori

Rasanya selalu menyebalkan saat mendengar kabar band favoritmu memutuskan bubar karena masalah internal, seperti yang dialami oleh Smith Westerns. Disebut sebagai salah satu band indie-rock paling exciting sejak merilis album Dye It Blonde di tahun 2011 dengan pengaruh garage rock yang pekat, band asal Chicago tersebut memutuskan bubar tahun lalu. Tapi untungnya, para personelnya tidak lantas pensiun dari musik begitu saja. Dalam jeda waktu yang hampir bersamaan, para bekas personel Smith Westerns muncul dengan proyek musik masing-masing. Bagi sang mantan vokalis dan gitaris, Cullen Omori, proyek itu adalah album solo perdananya dengan judul New Misery yang dirilis oleh label Sub Pop bulan Maret kemarin. Direkam tahun lalu dalam sebuah sesi recording selama sebulan penuh di Brooklyn, album berisi sebelas lagu ini ditulis dalam masa-masa yang membingungkan bagi pria keturunan Jepang berusia 25 tahun tersebut. Telah mulai pergi tur saat berhenti sekolah di tahun 2009, Cullen harus beradaptasi dengan kehidupan tanpa kegiatan band dan melakoni pekerjaan part time di sebuah rumah sakit selama beberapa waktu. Lucky for him, album ini tidak lantas menjadi rekaman gundah gulana penuh nestapa. Lewat single seperti “Sour Silk” dan “Cinnamon”, Cullen pun menunjukkan elemen-elemen terbaik dari band terdahulunya yang dipenuhi aesthetic power pop penuh reverb dan catchy hooks yang mengiringi vokal Cullen yang masih terdengar dreamy seperti sosok cowok paling misterius di sebuah SMA daerah suburban Amerika. Diperkuat dengan mood dan lirik yang lebih gelap, he’s more than ready to take the center stage.

the-britanys

The Britanys

Tak lama setelah tiga sekawan Steele Kraft, Lucas Long, dan Gabe Schulman menjadi roommates di kampus dan memutuskan membuat band bareng, mereka mencari nama bayi perempuan paling populer di tahun 1994 (tahun kelahiran mereka) di Google. Hasilnya adalah Brittany, namun akibat salah tulis, mereka terlanjur mendaftarkan nama domain mereka dengan nama Britany, and that’s how these NYC indie rock band got their name. Di tahun 2014 ketika masih dalam format trio, mereka merilis debut EP bertajuk It’s Alright dengan berbagai referensi rock & roll dan garage band. Tahun lalu, mereka memutuskan merekrut Jake Williams sebagai gitaris tambahan dan merilis “Basketholder”, single pertama mereka sebagai four-piece band yang diproduseri oleh Gordon Raphael (yang juga pernah memproduseri The Strokes dan Regina Spektor). Saat ini, The Britanys tak hanya berkutat dengan jadwal latihan empat kali seminggu di basement apartemen mereka di daerah Bushwick, mereka juga sedang aktif menjadi pembuka untuk band seperti Hinds dan tampil di festival seperti Savannah Stopover Music Festival dan The Great Escape di Inggris. Dengan semua momentum positif itu, mereka pun dengan antusias menyiapkan materi-materi baru yang dirangkum dalam Early Tapes EP yang berisi 4 lagu yang akan mengingatkanmu pada materi di era awal Arctic Monkeys dan The Strokes.

littlesims

Little Simz

Bersenjatakan lirik rap yang dibawakan dengan penuh intensitas dan flow yang tak terbendung, Simbi Ajikawo adalah seorang rapper belia asal London yang memakai nama alias Little Simz dan membuktikan jika dedikasi serta passion memang menjadi kunci kesuksesan bagi seorang musisi muda. Menulis lagu pertamanya di umur sepuluh tahun, Little Simz sudah tahu apa yang ingin ia raih dan kerjakan di saat anak-anak seumurnya masih clueless dan belum memikirkan soal future career. Hasil kegigihan dan talenta alaminya membuahkan album debut berjudul A Curious Tale of Trials + Persons yang dirilis di bawah label miliknya sendiri yang bernama Age 101. 10 lagu di dalamnya merupakan hasil jerih payahnya bekerja di akhir pekan demi bisa membeli mic dan mengasah bakatnya di kamar tidurnya dengan inspirasi dari musisi-musisi favoritnya seperti Lauryn Hill, Missy Elliott, dan Dizzee Rascal. Tak hanya menulis dan memproduksi musik, as a part of the millennial musicians, dia juga belajar secara otodidak caranya menyunting video musiknya sendiri dan merilis beberapa mixtape di akun SoundCloud miliknya yang meraup 50 ribu followers bahkan sebelum akhirnya ia mendapat kontrak dari Mos Def, J. Cole, dan Kendrick Lamar. Now, that’s girl power.

 

On The Records: The fin.

Sejak merilis dua EP bertitel Glowing Red on the Shore dan Days With Uncertainty di tahun 2014 dengan review gemilang, The fin. adalah band yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di jalan dan tampil dalam berbagai festival di dalam dan luar Jepang. Pasca tur di Inggris selama sebulan penuh pada Mei lalu dalam rangka mempromosikan EP terbaru mereka dengan judul Through The Deep yang berisi 6 lagu (termasuk satu remix dari Petite Noir), mereka singgah ke Hong Kong dan Taiwan sebelum menjalani tur Jepang bersama band Inggris All We Are. Berasal dari pertemanan masa kecil di kota asal mereka Kobe, band yang terdiri dari Yuto Uchino (vokal, synth, gitar songwriter), Ryosuke Odagaki (gitar), Takayasu Taguchi (bass), Kaoru Nakazawa (drum) ini menyajikan musik indie rock yang terpengaruh dari band-band indie Inggris akhir 80-an dengan sentuhan elemen Chillwave dari musisi seperti Washed Out dan Toro Y Moi di mana vokal Yuta yang ethereal mengingatkan pada Thomas Mars dari Phoenix ketika menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris dengan pembawaan fasih. Catchy dengan ambience moody yang masih jarang terdengar di skena musik Jepang membuat mereka dideskripsikan sebagai yogakuppoi (musik yang terdengar “kebarat-baratan”) dalam ulasan media domestik sekaligus memberikan international appeal tersendiri bagi pendengar di luar Jepang. Dari Tokyo, Yuta sang frontman pun menjelaskan beberapa hal tentang bandnya.

How It Started

“Kami bertemu saat preschool dan sekolah dasar ketika kami berumur empat sampai enam tahun. Saya, Ryosuke, dan Nakazawa sempat bergabung di sebuah band sebelum The fin. terbentuk. Setelah band itu bubar, kami membentuk band ini.”

Behind The Name
Nothing special. Just popped into my head and we liked its atmosphere.”

Influences

“Band ini terbentuk bersama sahabat-sahabat lama saya, jadi saya pikir yang menginspirasi kami adalah special vibe yang muncul dari persahabatan kami. Saya sendiri telah mendengarkan musik Barat sejak kecil dan itu mengalir di nadi saya. Tidak hanya dari musik, tapi juga dari film dan seni yang terus mendorong saya berkarya. Di Jepang, saya merasa musik populer terbagi menjadi dua jenis: Japanese music and Western music. Orang Jepang sering bilang jika musik saya terdengar Western. But I don’t care much. I just make what I want.”

Listen This

I always write in my room. In Tokyo or Kobe. I make the demo first, and play
in the studio with the band, and record in my room. Saya menulis banyak lagu untuk album Through The Deep sekitar tahun lalu dan sebetulnya berencana merilisnya sebagai full album, namun banyak materi baru yang terdengar berbeda dari materi-materi sebelumnya. Jadi saya merasa akan lebih baik jika saya merilis beberapa materi dalam format EP lebih dulu untuk memperkenalkan sounds baru kami. Seperti yang bisa kamu lihat dari judulnya, kami merasa perubahan adalah kunci dari perjalanan kami.”

Best Gig
Definitely, the best was the Great Escape. It was so exciting. I fell in
love with Brighton too. I’ve got to live there someday
.”

Sweet Dreams
“Saya ingin bermain di Coachella suatu saat nanti. Kalau impian pribadi saya adalah pergi ke luar angkasa dan melihat bumi dari kejauhan.”

Hometown Glory

“Saya sebetulnya tidak punya bayangan soal skena musik lokal di Jepang saat ini. Tapi saya tahu kalau banyak indie band yang muncul di Tokyo.

Favorite Past-time

“Drinking and talking about silly things. We’re just friends basically.”

Anticipation

“Menyelesaikan full album. It’s gonna be a great one. I know it’s worth waiting. Dan saya harap kami bisa juga main di Indonesia!”

thefin_dublin

http://www.thefin.jp/

Winning Pitch, An Interview With SALES

Hampir mirip seperti prinsip ekonomi, duo indie pop SALES memproduksi musik yang terdengar seminimal mungkin untuk menghasilkan musik berkualitas maksimal.

Sejak pertama kali merilis single perdana bertajuk “renee” di akhir 2013 lalu, SALES yang merupakan kolaborasi dari dua sahabat lama Lauren Morgan (vokal/gitar) dan Jordan Shih (gitar/programming) telah mendapat apresiasi positif dan termasuk salah satu band yang paling banyak dibahas di blog walaupun belum merilis album apapun. Relaxed and intimate, duo asal Orlando, Florida ini meramu musik lo-fi pop minimalis berbasis gitar dengan unsur folk di mana vokal Lauren yang whispery mengalun ringan di antara aransemen memikat racikan Jordan. April lalu, mereka pun merilis sendiri self-titled LP perdana mereka secara DIY dengan 15 lagu di dalamnya, termasuk single seperti “ivy” serta “jamz” yang sangat adiktif dan terasa “penuh” di balik segala kesederhanaan musik yang mereka usung. Setelah menghasilkan sebuah timeless bedroom pop album terbaik yang kami dengar tahun ini dan menyelesaikan tur Amerika mereka, keduanya kembali ke Orlando untuk istirahat sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan dari kami.

Jadi, bagaimana kalian pertama kali bertemu dan memutuskan untuk bikin musik bareng? Kami bertemu saat SMA dan musik menjadi mutual interest kami walaupun kami datang dari latar musik yang berbeda. Jordan memproduksi musik elektronik dari kamar tidurnya dan bermain tenor saxophone di marching band, sementara Lauren tumbuh besar belajar piano dan gitar. Kami telah berkolaborasi sekitar sepuluh tahun.

Apa cerita di balik nama band kalian? Orangtua Lauren bekerja sebagai sales people yang bekerja demi komisi. Mereka menjual macam-macam benda dari mulai permen, pasta gigi, obat-obatan, wine, teh, hingga herbal vape pens dan industrial oil/lubricant untuk menyebut segelintirnya.

Apa saja yang menjadi influens musikal untuk SALES? I think we are more so inspired by other artists, rather than influenced. Kami mencoba mendorong musik kami sejauh yang kami bisa. Kami selalu bingung menjawab pertanyaan ini karena kami mendengarkan banyak sekali musik dan tampil bersama banyak inspiring musicians both big and small. Menyebutkan hanya beberapa nama terasa tidak adil bagi kami.

Saya sangat menikmati LP kalian. Apa yang menjadi tema besar yang ingin kalian angkat di album ini? Thanks, we are glad you like it. Tidak ada tema khusus untuk album ini, tapi sejak pertama kali kami membuat musik, kami membagikannya ke teman-teman kami yang datang dan pergi seiring waktu. Kami hanya membuat musik yang ingin kami dengar, it is music to share with your friends. We recorded it all in an untreated bedroom studio. 

sales-lp

Kalau soal songwriting sendiri? Songwriting is collaborative, kami saling melengkapi secara kreatif dengan kompak. Jordan sangat teliti soal arrangement, aspek teknis dari rekaman, dan menemukan that million dollar baby moment dari 30 minutes long take. Lauren adalah penulis lirik dan gitaris yang cenderung improvisational. Pada akhirnya, jika kami tidak sepakat pada satu hal, kami akan mundur sejenak dan baru akan kembali menghadapinya dengan pikiran yang lebih jernih dan tenang. We usually can always reach understanding since we both just want what is best for the song.

Bagaimana kalian mendeskripsikan genre kalian? Apakah kalian terganggu jika orang menyebut musik kalian sebagai “twee”? We are okay with whatever label gets stuck on the project–labels happen and “twee” fills up our hearts. Musik kami sangat dipengaruhi oleh pilihan kami untuk tetap independen. We think our sound stands on its own, and isn’t what you’d expect.  

Untuk Lauren, adakah vokalis perempuan yang kamu kagumi? Tentu saja ada banyak sekali vokalis perempuan yang saya kagumi dan tidak bisa saya sebut satu per satu. Tapi ketika masih sekolah saya pernah mendapat tugas untuk presentasi soal Billie Holiday, she was an early inspiration for me.

Apa yang membuat kalian memilih Alana Questell untuk membuat artwork album ini? Alana telah membuat artwork dari mulai single pertama sampai LP kami. Artwork kolase yang ia buat sangat interpretif dan berdiri sendiri, terpisah dari musiknya sendiri. Like the songs, the artwork may mean something different to everyone– there is room for your story.

Boleh cerita soal skena musik di kota asal kalian, Orlando? We love it walaupun kami melihat banyak teman-teman musisi datang dan pergi. It is rough to have a scene when everyone is there temporarily. Tapi, selalu ada sesuatu yang terjadi, banyak orang dan venue yang menggelar show, festival, dan acara komunitas. We don’t really go out much though. Kami lebih sering menghabiskan waktu membuat musik, makan di restoran, masak di rumah, atau main tenis.

Bagaimana rasanya tampil live di panggung bagi kalian? Every night is unique with a different city and the same songs. Kami mencoba membuka diri kami ke crowd dan menampilkan show yang bagus. Jordan tidak terlalu excited soal tur (low key stage-fright), tapi dia belajar menghadapinya dan melakukannya dengan baik.

Apa yang menjadi career highlight sejauh ini? Our sold-out L.A. show at the Troubadour was one of the best shows we have ever played. We got late night dinner after the show in Thai town. We will never forget those feels. 

Apa yang kalian kerjakan di luar musik? Musik adalah full time job kami. Kami memilih untuk tetap independen dan melakukan semuanya sendiri dari menjawab undangan manggung, mengurus berkas pajak, merencanakan tur Eropa, dan tur Amerika kami berikutnya di bulan Oktober. We love making music, jadi kami akan terus melakukannya. Selain itu, Lauren hobi berkebun di rumah barunya dan main gitar sedangkan Jordan suka memasak dan mencoba menjadi the Prince of Tennis.

Karena ini Summer Issue kami, apa hal favorit dan rencana kalian untuk musim panas? Kami baru saja membatalkan sisa jadwal tur untuk musim panas agar kami bisa istirahat dan punya waktu untuk menyiapkan materi selanjutnya dan mengurus segi bisnis. SALES sedang tumbuh dan kami ingin meyakinkan diri jika kami juga bisa berkembang lebih jauh. Rencana kami untuk musim panas tahun ini adalah mempertajam LP kami, menambahkan elemen baru yang bisa kami pakai di live show, dan mencari Patbingsu di Orlando.

sales-band-2015-770x485

Follow SALES: https://sales.bandcamp.com/

Foto oleh: Carlos Quinteros Jr.

 

On The Records: Much

Terinspirasi setelah melihat aksi Lemuria di Rossi Musik, Dandy Gilang yang merupakan vokalis kuintet pop-punk Malang bernama Write The Future mulai membuat proyek solo indie rock berelemen Midwest emo dan merilis album mini berjudul Know Where You’re Heading di tahun 2014. Proyek ini lantas berkembang ketika Dandy mengajak pacarnya, Aulia Anggia, untuk mengisi vokal dan lahirlah Much, duo indie rock asal Malang yang telah merilis album Closest Things I Can Relate To pada Record Store Day tahun lalu. Dirilis oleh Haum Entertainment yang merupakan label indie di Malang yang gencar memajukan local scene kota apel tersebut dengan berbagai rilisan menarik, album tersebut berisi 6 lagu beraransemen fuzzy dengan melodi gitar yang twinkly serta vokal manis yang menyanyikan lirik tentang romance youth dan mengingatkanmu pada anthemic soundtrack dari teenage flick 90-an yang catchy.

WHO

Halo, di Much sendiri ada Aulia Anggia biasa dipanggil Anggi berperan sebagai sinden di band ini, ada Dandy Gilang biasa dipanggil Dandy juga nyanyi tapi dengan porsi yang lebih sedikit, lebih banyak bermain gitar sih. Selain berdua, kita biasa dibantu sama teman-teman baik dari keluarga Haum Records, ada Risang Candrasa (Risang) di gitar juga dan biasanya bermain gitar di band pop-punk Write The Future, ada juga Pandu Rahadya (Pandu) di drum yang kebetulan sedang menempuh akhir masa studi di ITB dan juga bermain untuk band lokal di sana Stagger, terakhir ada bos besar Haum Records pecinta idol group, I Made Nara Virjana (Vino) di bass.

 HOME BASE

Malang, Jawa Timur. “Kalau sekarang, terutama anak-anak lebih semangat dan berani, berani keluar kandang, berani bikin musik, berani bikin rilisan, dan thankfully lebih banyak lagi media yang mau liput atau bahas musik dan band di Malang, yang masih kurang sih venue, hehe,” ungkap Dandy.

 THE NAMESAKE

Anggi: “Jadi awalnya setelah kita berhasil membentuk sebuah grup musik ini, mulailah kita mencari nama yang dirasa cocok, simple, dan dapat menggambarkan personality kita. Beberapa nama sempat terlintas tetapi kebanyakan nama ternyata tidak cocok, dan akhirnya ketika dirasa kita punya terlalu banyak ide untuk nama band ini atau dalam Bahasa Inggris too much, kemudian tanpa banyak pertimbangan ya maka jatuhlah pilihan kita pada nama Much.”

 INFLUENCES

Anggi: “Jadi dulu saya lebih sering mendengarkan band-band Britpop atau post punk. Namun, setelah Dandy melibatkan saya dalam proyek musik ini, saya mulai mencari-cari referensi band-band yang vokalisnya cewek, dan favorit saya seperti Alvvays, Colour Me Wednesday, Tigers Jaw, Camera Shy, dan Adventures.”

Dandy: “Musical influences saya, terutama untuk Much bisa pertama dari Lemuria, trus Adventures, Joyce Manor, Saves The Day, Andrew Jackson Jihad, sampai ke Algernon Cadwallader.”

LISTEN THIS

“Break Heart, Break Apart”, single terbaru dari album kedua yang direncanakan rilis tahun ini. “Sedikit banyak sih lagu ini bisa jadi teaser buat materi dan sound di album baru nanti bakal kaya gimana. Selain itu untuk kualitas produksi juga kita berusaha untuk bisa lebih keren lah dari Closest Things I Can Relate To.

LOCAL MUSIC HEROES

Anggi: “Apa ya? Potret kali ya.”

Dandy: “Untuk Indo sih, dari dulu saya suka Padi. Love you mas Fadly.”

BEST GIG

Gigs paling seru sih di acara We.Hum Collective, Humming Mad ke-10 di Jakarta bareng Barefood, Laguna Bang Bang, Fuzzy I, sama Saturday Night Karaoke beberapa bulan yang lalu. Bisa dibilang itu pengalaman pertama kami main di luar kota juga pertama kali kita nyobain house gig dan juga mungkin musik dan lagu kita juga kayanya masih belum banyak yang tau, tapi eh kok rame banyak yang nyanyi dan setelah main pun banyak yang mau ngajakin kita ngobrol dan nanyain rilisan.

IMG_2281IMG_2282

DREAM GIG

Anggi: “Aku sih pengen banget nyobain sensasi main di house-gig lagi, selain itu juga pengen tur di beberapa kota sekalian jalan-jalan. Tapi juga pengen jadi opening act-nya Tigers Jaw kalau bisa, haha!”

Dandy: “Kalau aku sih pengen banget main di pinggir pantai. Plus pengen banget kolaborasi sama Mas Prabu Saturday Night Karaoke plis, apa aja.”

FAVORITE PAST TIME

“Kalau Anggi, biasa mengisi hari-harinya sebagai sarjana dengan menonton serial The Return of The Superman yang berisikan Daehan, Minguk, dan Manse sambil cari-cari kerja. Kalau Dandy biasanya ngurusin café di Malang sembari tetap aktif dalam grup musik lain bersama Risang, yaitu Write The Future. Kalau Risang Candrasa juga biasanya mengisi hari-harinya sebagai entrepreneur dengan mengelola café pribadi miliknya. Vino dan Pandu Rahadya sampai saat jawaban ini ditulis, masih juga berjuang menyelesaikan tugas akhirnya dengan tekanan batin yang dirasa semakin berat setiap hari ketika melihat teman-temannya satu per satu mulai meraih gelar sarjana.”

FUTURE PLAN

Dandy: “Lebih banyak main, gigs/music festival, dalam kota luar kota. Rilis album baru, tour, ketemu lebih banyak lagi temen baru, scene Malang lebih rame lagi yang berkecimpung, lebih banyak media yang mau liput, terus banyak juga yang mau main ke Malang.”

Anggi: “Hampir sama kayak Dandy sih, lebih banyak main di gigs/music festival, rilis album, tour, dan Nikah!!! HAHAHAHA!”

IMG_2279

Foto oleh: Permana Hidayat.

On The Records: HEALS

HEALS

Tercetus dari lingkup pertemanan dengan kesamaan selera musik, pemikiran, dan personality para personelnya, Heals secara resmi memperkenalkan diri lewat single “Void” yang dirilis bulan September tahun lalu. It was an instant hook, terutama bagi siapa saja yang menyukai band-band NuGaze seperti My Vitriol dan Blonde Redhead, walaupun kuintet asal Bandung ini menawarkan alternatif lain untuk mendeskripsikan musik mereka. “Hmm sound yang kami mainkan sekarang sih lebih merepresentasikan musik-musik yang kerap didengar dan dikonsumsi oleh masing masing personel. Ya jadinya begini, kalau boleh kami mau sebut musiknya sebagai ‘Random-gaze, hehe.” So what’s ‘Random-gaze’ anyway? Bayangkan campuran antara alternative rock, new wave, dan shoegaze yang digambarkan lewat aransemen penuh distorsi dan reverb namun catchy di saat yang sama. Trust me, its good.

Halo! Boleh diperkenalkan ada siapa saja di Heals? 

Boleh dong. Nih kenalin Aldead di vokal/gitar, Rara di gitar, Ejasaurus di gitar/vokal, Via di bass/vokal, dan Reza di drum.

Bagaimana ceritanya kalian bisa saling bertemu dan memutuskan buat ngeband bareng?Jadi gini, kami berlima udah berteman lama sekali. Kami seringkali berbincang dan bertukar pikiran tentang kekonyolan, absurditas, candaan, curhat, khususnya musik. Sebelumnya kami tidak terpikir untuk membentuk sebuah band, karena masing-masing personel sudah memiliki band yang digarap. Seiring waktu berjalan, kami merasakan bahwa akan lebih baik jika setiap diskusi (tentang musik) dimediai oleh sesuatu sehingga pada akhir 2013 kami memutuskan untuk membuat proyek dengan format grup band yang dinamakan Heals. Singkat cerita, Heals terbentuk karena pertemanan yang menghabiskan waktu cukup lama dengan adanya kesamaan selera musik, pemikiran, dan personality dari masing-masing personel.

Apa cerita di balik nama band kalian?

Untuk nama “Heals” sendiri kami usung dengan tidak ambil pusing karena kami menginginkan nama yang singkat, padat, dan mudah diingat. Sebelumnya saat kami belum memiliki nama, kami menamakan grup di salah satu aplikasi chat (Line) kami dengan nama “Satanic” lalu saat itu kami sudah mulai bosan dengan anonimitas sehingga diganti dengan nama yang secara spontan keluar dan disepakati yaitu Heals.

Apa atau siapa saja influens bermusik kalian yang paling berpengaruh ke materi Heals saat ini?

Mengenai influence di Heals sih setiap personel punya dan berbeda-beda, seperti influence-nya Aldead yaitu Glassjaw, The Mars Volta. Rara yaitu Silverchair, M83. Eja lebih ke Japanese shoegaze, idol group Jepang dan Indonesia. Via sekarang lagi suka dengar band-band alternative rock, grunge seperti Hole, The Smashing Pumpkins dll. Influence Reza yaitu Soundgarden dan Foo Fighters. Namun perbedaan tersebut tidak jadi masalah bagi kami sehingga untuk influence Heals kami kerucutkan lagi menjadi Amusement Parks On Fire, My Vitriol, The Depreciation Guild, Tokyo Shoegazer, Luminous Orange, Anne, dan lain-lain.

How’s the creative process usually goes? Siapa yang biasanya bikin lirik dan inspirasinya dari mana saja?

Kalau proses perancangan musik sih biasanya kami adakan workshop/briefing yang dilakukan di rumah Aldead, kami semua membuat pattern dan kerangka lagu sesuka hati tetapi di studio dikurasi dan disesuaikan lagi. Untuk lirik dan inspirasi sih datang dari mana aja, seperti single kami yang berjudul “Void” itu inspirasinya datang dari sebuah film yang berjudul Gravity.

Boleh cerita soal single “Void”, what’s the story behind the song?

Oke, kalau “Void” sih sebetulnya nggak punya cerita/plot yang absolut sih, tapi “Void” itu lebih kami implisitkan dengan keadaan di mana seseorang berada di dalam titik jenuh yang paling maksimal. Menggambarkan seseorang dengan kesendirian dan berasa di ruang hampa udara. Nggak ada cerita yang nyata di lagu ini

Bagaimana dengan persiapan album? Apakah berencana rilis EP atau LP?

Persiapan untuk rilis sih sekarang sudah digarap sekitar 57% lah, rencana kami bakalan membuat rilisan di pertengahan tahun ini semoga aja nggak ngaret.

Kalian punya nggak sih sosok yang kalian anggap Local Music Heroes? Musisi lokal yang kalian kagumi atau band lokal yang kalian suka, perhaps?

Menurut kami sosok Local Music Heroes itu adalah setiap sosok yang melakukan upaya demi keberlangsungan industri musik lokal entah itu bandnya, record label, media, dll terlepas dari besar kecilnya pengaruh yang didapat. Jadi menurut kami Local Music Heroes tuh banyak banget. Kalau musisi lokal favorit setiap personel pasti punya.

Aldead: Saya sih band lokal suka banyak ada Jolly Jumper, Kaimsasikun terus Hark It’s Crawling Tar-tar.

Rara: Homogenic sama The Milo.

Eja: saya sih mengagumi Dewi Lestari, kalau untuk band lokalnya suka Friday (Surabaya).

Via: Hmm, The Milo & Boys Are Toys pas saya masih SMP. Mereka cukup menjadi inspirasi saat itu.

Reza: Gugun Blues Shelter, Pure Saturday.

Bagaimana sih kalian ngeliat scene musik di Bandung saat ini?

Aldead: Scene musik di Bandung saat ini sih lagi asik, sedang menggeliat. Gigs lagi rutin, lagi regenerasi pokoknya.

Eja: Lagi banyak bermunculan micro gig yang dikemas secara keren, dari mulai konsepnya, pengisi acaranya, dan apapun yang terlibat dengan micro gig tersebut.

Untuk Via, bagaimana rasanya jadi perempuan sendiri di band?

Rasanya enak diasuh sama 4 orang cowok yang lebih tua dari saya dan selalu dikasih pengetahuan baru. Serasa punya pacar 4, dan karena mereka semua laki-laki, no drama.

Kalau untuk kalian, apa rasanya tampil live di atas panggung? Punya memorable moment selama manggung nggak, so far

Rasanya tampil live di atas “panggung”, hhmmm lebih banyak memperhitungkan sesuatu, terus pasti persiapannya agak berlebihan walau pada akhirnya ke-blunder-an memang suka terjadi. Memorable moment selama perform sejauh ini masih memorable semua karena jumlah performance masih bisa terhitung jari hahaha.

Kalau boleh berandai-andai, what’s your dream gig?

Aldead: Coachella.

Eja: Summersonic Japan.

Ramdhan: Summer Sonic.

Via: Pengen main di gig metal, dan Heals satu-satunya band yang nggak/belum metal hehehe.

Reza: Lollapalooza, Bonnaroo.

Next plan/goal for this year?

Tahun ini beres rilisan pertama kita harus liburan se-band, haha. Jadi intinya ya tahun ini kita harus udah punya rilisan.

https://soundcloud.com/healsmusic

Foto oleh Yogha Prasiddhamukti

On the Records: Bedchamber

Bedchamber, unit indie pop teranyar Jakarta bersiap meninggalkan masa remaja dengan sebuah album debut yang impresif dan semoga saja, everlasting.

PerennialDi masa ketika musik didominasi oleh bebunyian elektronik dan artifisial, jujur saja ada kerinduan tersendiri untuk mendengarkan kembali musik indie pop dalam format band yang organik selayaknya musik-musik dari skena indie pop lokal di dekade lalu yang didominasi oleh band Bandung, yang sayangnya seperti mati suri digusur oleh genre electronic atau folk. Adalah Bedchamber, band besutan anak-anak jurusan desain di Jakarta yang menebus kerinduan tersebut dengan mini album bertajuk Perennial. Berawal dari sebuah project pameran seni kolektif, Ratta Bill (vokal/gitar), Abi Chalabi (gitar), dan Smita Kirana (bass) yang sama-sama ingin ngeband iseng nge-jam bareng dan mengajak Ariel Kaspar, teman sekelas Ratta sebagai drummer hingga terbentuklah band yang namanya diambil dari sebuah random page di Wikipedia tentang Lady of the Bedchamber ini sekitar pertengahan tahun lalu.

Awal terbentuk, mereka masih menerka arah bermusik dari beragam influens setiap personelnya dari Radiohead, Weezer, DIIV, sampai musik punk (akun Soundcloud mereka masih menyimpan cover version lagu “Salah” milik Potret) dan sempat memainkan musik yang cenderung ke arah post rock sebelum akhirnya mekar sempurna menjadi sounds Bedchamber saat ini yang bisa dijabarkan sebagai indie pop at its best: aransemen yang jangly, struktur melodi yang catchy, vokal yang menyelisik dalam reverb, dan lirik bertema teen angst seperti misalnya saja, lirik “Who we are when we’re gone at 21/When we’re 21/Will we lose our sight?” yang terdapat dalam single pertama mereka, “Youth”.

“Ya sebenarnya EP ini bercerita tentang anxiety kita sendiri gimana kita masuk ke fase baru dalam hidup. Album ini dibikin pas kita masuk umur 20 di mana dari kita umur 19 ke 20 itu ada perbedaan yang cukup signifikan karena 19 adalah umur terakhir sebagai teenager jadi perasaan itu sih yang banyak dijadiin inspirasi,” ungkap Ratta yang menulis semua lirik di EP ini. “’Youth’ menyambung cerita kita sempat cari momen apa sih yang bisa kita capture dari EP ini yang kita buat waktu kita beranjak umur 20. Dan kebetulan kita semua sama-sama anak-anak yang cukup resah setelah ini kita mau ngapain? Kalau orang taunya masa muda itu hura-hura aja kita justru sebaliknya, di balik hura-hura ‘Youth’ sendiri ada kegelisahan yang cukup besar dan itu yang kita angkat,” imbuhnya tentang album debut yang berhasil mengangkat nama Bedchamber sebagai salah satu band pendatang baru paling menarik saat ini dan menghujani mereka dengan banyak tawaran manggung, termasuk tampil di Keuken, Bandung yang diakui mereka sebagai gig luar kota pertama mereka beberapa waktu lalu.

Semangat Do-It-Yourself khas remaja dalam album ini terasa kental tak hanya dari musiknya tapi juga desain packaging bertema scientific illustration yang dibuat oleh para personelnya dan Perennial sendiri dirilis oleh Kolibri Rekords, sebuah label rekaman baru yang dibentuk oleh para personel Bedchamber dan juga sahabat mereka, Daffa Andika. Tak hanya Bedchamber, label ini pun dalam waktu dekat akan merillis materi dari nama-nama baru seperti Atsea dan Gizpel yang tak kalah menariknya, which is very exciting for our local scene.

Di balik kedewasaan musiknya, yang menarik ketika saya bertemu langsung dengan band ini adalah para personelnya yang ternyata masih terasa sewajarnya anak-anak kuliahan yang gemar bercanda, tidak bisa diam saat difoto, saling meledek satu sama lain, dan terasa sekali semangat mereka menjalani band ini, walaupun seringkali harus mengorbankan waktu kuliah. “Promosi, nge-gigs, tapi jangan lupa kuliah,” ujar mereka sambil tertawa santai saat ditanya rencana selanjutnya dari band ini. Yang pasti, Perennial adalah sebuah perkenalan manis dari band yang masih dalam tahap berkembang ini dan menyoal kembali pertanyaan retoris yang dilontarkan dalam sebait lirik “Youth” di atas, I really hope they will never lose their sight.

https://soundcloud.com/bedchamber

DARI KIRI: Ratta Bill, Smita Kirana, Ariel Kaspar, Abi Chalabi.

Foto oleh Sanko Yannarotama.

Sounds of 2015: 15 Names You Should Check Out For This Year (Part 2)

Bagian kedua dari tiga post tentang 15 nama band/musisi yang harus kamu simak tahun ini. Klik di sini untuk bagian pertama.

MitskiMitski
Who: Mitski Miyawaki. Where: New York. What: Noise pop.

Melihat press photo dari gadis berdarah Jepang yang mulai bermusik sejak berumur 19 tahun ini, selintas kamu akan membayangkannya membuat lagu-lagu tweepop yang manis, but make no mistake, musik yang ia mainkan lebih berkiblat kepada Ida Maria, Maria Mena, dan Liz Phair dibanding musisi indie pop manis seperti Zooey Deschanel atau Zee Avi. Bury Me at Makeout Creek, album terbarunya yang dirilis oleh Double Double Whammy berisi 10 lagu noise pop berbasis reverb gitar yang ditulis di sebuah basement studio. Lagu-lagunya di album ini seperti “Townie” dan “First Love/Late Spring” adalah penggambaran post-adolescence angst yang sesungguhnya dengan aransemen penuh energi fearless serta lirik-lirik berisi humor gelap yang liar dan jujur.

http://mitski.bandcamp.com/

CommunionsCommunions
Who: Martin Rehof, Mads Rehof. Frederik Lind Köppen, Jacob van Deurs Formann. Where: Copenhagen. What: Post-punk.

Kuartet asal Copenhagen ini merupakan bagian dari generasi band-band Denmark paling keren saat ini yang bermula dari Mayhem, sebuah ruang latihan dan music venue (seperti Rossi Musik di Jakarta) yang juga menjadi rumah dari band-band seperti Iceage, Vår, Lower dan secara umum skena band new punk, synth, dan industrial di kota tersebut. EP Cobblestones yang mereka rilis awal tahun lalu berisi 4 lagu yang akan mengobati kerinduanmu pada band-band seperti The Stone Roses dan Joy Division dengan wall of sounds megah berakar melodi gitar, bass hook, dan bunyi organ 60-an yang effortlessly catchy. Single terbaru mereka, “So Long Sun” yang dirilis oleh Tough Love Records adalah sebuah masterpiece sekaligus ode untuk musim panas (terilhami dari musim dingin di Denmark yang panjang) dengan aransemen euphoric dan vokal mengawang yang akan membuatmu bersukacita dan menekan tombol replay berulang kali.

http://www.communions.dk/

DorothyDorothy
Who: Dorothy Martin, Zac Morris, Mark Jackson, Eliot Lorango. Where: Los Angeles. What: Rock & Roll.

Di antara skena musik yang didominasi bebunyian artifisial, semakin sulit menemukan sebuah band rock & roll yang memainkan musiknya dalam bentuk paling organik dan mentah, but here comes Dorothy. Membawa semangat dan energi beroktan tinggi dari bluesy rock klasik khas Amerika, kuartet asal LA ini siap untuk membangkitkan kembali esensi rock tradisional dengan dentuman drum yang menggebrak, lick gitar yang heavy, serta vokal parau dan witchy dari Dorothy Martin yang ibarat lovechild dari Jack White & Janis Joplin. Single debut seperti “After Midnight” dan “Wicked Ones” adalah sebuah soundtrack untuk late nite party liar yang berujung pada hal-hal berbahaya dan cerita epik yang akan terus dikenang.

https://soundcloud.com/dorothytheband

Hippo CampusHippo Campus
Who: Nathan Stocker, Zach Sutton, Jake Luppen, Whistler Allen. Where: Minnesota. What: Indie Rock.

Walaupun baru ngeband bareng kurang dari setahun lalu, namun kuartet asal Minnesota yang bertemu di sekolah seni tersebut dengan cepat telah menemukan formula kesuksesannya. Debut single mereka, “Little Grace”, yang berisi melodi gitar buoyant dan energik adalah sebuah instant crush yang membuat mereka dinobatkan menjadi band to watch oleh banyak blog musik dan festival musik. Single tersebut dan 5 lagu indie rock bernuansa musim panas super catchy lainnya seperti “Suicide Saturday” dan “Souls” terkompilasi dalam debut EP berjudul Bashful Creatures yang akan mengingatkanmu saat pertama kali jatuh cinta pada musik yang dihasilkan oleh Vampire Weekend, Two Door Cinema Club, dan Bombay Bicycle Club. Sebagai sekumpulan anak kulit putih yang memainkan musik bernada Afropop, mereka memang seringkali dibandingkan dengan Vampire Weekend, namun Hippo Campus tahu bagaimana bersenang-senang dengan cara tersendiri.

http://thehalocline.bandcamp.com/

HonneHonne
Who: Andy & James. Where: Somerset, Inggris What: Synth-soul.

Andy dan James, dua sahabat asal Inggris yang sepakat merahasiakan nama belakang mereka ini punya kehidupan ganda. Di siang hari mereka adalah guru musik di sekolah dan di malam hari mereka membuat musik soul/R&B berbalut synth dengan nama Honne yang diambil dari bahasa Jepang yang artinya “true feeling”. Entah berkat nama itu atau fakta jika mereka bermusik di larut malam, yang jelas mereka berhasil membuat single seperti “Warm On A Cold Night” dan “All In The Value” dengan atmosfer late nite vibe yang luar biasa smooth dan intim dengan lirik tentang relationship yang real. Hangat dan sensual, kamu tak akan membutuhkan selimut lagi malam ini.

https://soundcloud.com/hellohonne

Smells Like Teen Spirit: The Boys of Saint Laurent Fall/Winter 2014 and Their Bands

Hedi Slimane
Which came first? Fashion or music? Bagi Hedi Slimane, dua hal tersebut adalah yin & yang tak terpisahkan. Musik adalah passion utama seorang Slimane dan hal itu tercermin dalam setiap hal yang ia kerjakan. Jauh sebelum dikenal sebagai desainer andal di balik kesuksesan Dior Homme (2000-2007) yang mengubah paradigma dunia menswear dengan siluet skinny kebanggaannya, pria berdarah Italia-Tunisia tersebut adalah seorang fotografer black and white yang menghabiskan waktunya di konser-konser musik rock dan mencari band-band baru yang paling keren. Bercita-cita menjadi jurnalis dan reporter, awal kariernya dalam fashion bermula ketika mendesain baju untuk dirinya sendiri saat berusia 16 tahun. Dengan visinya yang liar dan cenderung rebel, Slimane dengan mudah menarik perhatian rumah mode terkenal seperti Yves Saint Laurent dan Jil Sander untuk memperkerjakannya sebagai creative director lini pakaian pria mereka sebelum akhirnya ia memilih berlabuh di Dior Homme di mana pada tahun 2002 ia menjadi desainer pakaian pria pertama yang meraih Council of Fashion Designers of America Awards For International Designer.

Stay true to his love for rock music, Slimane memperkenalkan siluet kurus khasnya yang memadukan unsur rock n roll jalanan dan presisi desain rumah mode Prancis yang sophisticated dan digandrungi oleh musisi dan band seperti The Libertines, Franz Ferdinand, Mick Jagger, Daft Punk, dan David Bowie. Ia terbiasa memilih modelnya sendiri dari pemuda-pemuda yang ia temui di jalanan, mereka biasanya kurus dan memiliki image cuek dan pemberontak khas remaja yang membedakan mereka dari para model pria profesional dengan tubuh tegap dan wajah sempurna. Hasilnya, karya Slimane selalu terlihat standout dari berbagai desainer pria lainnya, and he become the wild child of fashion industry. Semua orang ingin memakai rancangan Slimane, mulai dari Brad Pitt yang memakai rancangan Slimane untuk pernikahannya, Nicole Kidman dan Madonna, hingga Karl Lagerfeld yang rela diet keras hanya untuk bisa memakai hasil desain Slimane.

Salah satu yang juga menjadi ciri khas dari pagelaran modenya adalah ia kerap menghadirkan langsung band-band terkenal seperti Phoenix, The Rakes dan Razorlight ataupun memperkenalkan band baru seperti These New Puritans untuk membuat musik eksklusif dalam runway-nya. Kecintaannya pada musik rock terus menjadi benang merah dalam estetika Hedi Slimane, tak terkecuali bagi rumah mode tempatnya bernaung saat ini, Saint Laurent Paris. Dalam gelaran koleksi pakaian pria Fall/Winter 2014 rumah mode legendaris tersebut, Slimane membangkitkan kembali pesona dari rocker era 50-an dan gaya Teddy Boys dalam koleksi yang dihiasi motif pinstripes, tweeds, studded leather jacket, animal print, dan tentu saja the everlasting skinny jeans. Di tangan Slimane, koleksi tersebut tak hanya menjadi sekadar fashion statement belaka. Yang membedakan Slimane dengan desainer lain adalah, he live with the spirit of rock and roll himself dan tak gentar untuk mendorong hal tersebut ke level selanjutnya. Caranya? Ia memilih untuk stay di creative studio di Los Angeles alih-alih menetap di headquarter Saint Laurent di Paris dan lagi-lagi menunjukkan ketajaman radarnya dalam menemukan bakat-bakat baru dalam musik dan mode. Dalam show-nya kali ini yang diiringi musik oleh band Froth, ia memilih langsung musisi-musisi indie dari berbagai kota seperti New York, London, California dan Brighton untuk berjalan di atas catwalk dan secara legit membawa efek cool khas musisi yang lebih authentic. Dan sekarang, mari berkenalan sejenak dengan beberapa musisi yang beralih menjadi model dan muse untuk koleksi Saint Laurent Fall/Winter 2014 tersebut.

Joo-Joo

Joo-Joo Ashworth
Vokalis dan gitaris dari Froth, kuartet asal El Segundo, California yang meramu musik rock dengan unsur psychedelia yang kental, serta influens surf pop dan lo-fi garage khas Pesisir Barat Amerika Serikat. Patterns, debut bercitarasa DIY yang terdengar seperti dibuat dengan iseng di garasi rumah mereka berhasil menarik perhatian Hedi Slimane yang meminta mereka merekam ulang single “General Education” yang aslinya berdurasi kurang dari 4 menit untuk diperpanjang menjadi 20 menit dan menjadi runway soundtrack di show Saint Laurent Fall/Winter 2014.

http://froth.bandcamp.com/

Jake Smallwood
Jake Smallwood
Vokalis dari White Room, band alternative rock asal Brighton, Inggris yang terinfluens band-band seperti The Doors, Brian Jonestown Massacre, dan Pink Floyd. Band yang sebelumnya memakai nama The Basis ini telah mendapat banyak rekognisi berkat aksi live mereka dan menjadi supporting act untuk Miles Kane dan Paul Weller. Tak hanya berjalan di runway Saint Laurent, Jake juga menjadi model untuk lookbook koleksi Fall/Winter tersebut.

https://soundcloud.com/whiteroomhq

Jake Williams
Jake Williams
Jake Williams adalah vokalis sekaligus pemain gitar, bass hingga piano di band asal Brooklyn, Dr. Skinnybones yang pertama kali terdengar ketika single “Bad Education” mereka masuk dalam kompilasi band-band baru asal New York yang dirangkum oleh Oliver Ignatius. Band ini membawakan post-punk beroktan tinggi dengan bebunyian terompet, cello, biola, dan euphonium serta lirik-lirik bertema patah hati, mabuk di bar, dan mengacungkan jari tengah ke semua orang.

http://drskinnybones.bandcamp.com/

Joey Vittotoe
Joey Vittetoe
Vokalis dari Solid Brown, sebuah trio asal Phoenix, Arizona yang menyebut genre musik yang mereka mainkan sebagai “cock rockin’” yang mungkin lebih mudah diterjemahkan sebagai musik lo-fi rock seperti yang bisa didengar dalam Tape, sebuah rekaman berisi tiga lagu yang direkam dalam bentuk homemade CD-R berbungkus plastik dan pesan personal. As moody as afternoon road trip in the desert.
http://solidbrown.bandcamp.com/

Rexx
Rex Osterkamp
Seorang figur karismatik di balik Rexx, sebuah project bedroom indie pop asal Orange County, California yang telah merilis album bertajuk Death, and Other Ways to be Artsy, sebuah album berisi 12 lagu indie pop berlirik kelam dengan harmoni jangly, estetika lo-fi dan reverb manis yang membuatmu ingin berdansa dan melakukan suicide sprint di saat yang sama.

http://rexxagain.bandcamp.com/

Jaime Carpena
Jaime Carpena
Setengah bagian dari Blurry Boys, duo asal New York City yang terdiri dari dirinya dan Jared Reisch yang terbentuk di tahun 2012. Musik mereka adalah avatar dari scene musik di kota New York itu sendiri di mana hip hop, punk, ambient, dan rave bertabrakan menjadi warna musik yang menyegarkan, seperti yang tercetus dalam single “Make Me Feel”. Its a first step of everything.

https://soundcloud.com/blurryboys

Angus McGuinness
Angus McGuinness
Seorang model dan frontman band asal Teddington, London yang bernama Jungle Doctors. Awal terbentuk di tahun 2011, mereka memainkan musik folk sebagai trio sebelum menambah dua personel baru dan berubah aliran menjadi indie rock. Lagu-lagu seperti “Dry”, “Talk To Me” dan “Can You See It” adalah nomor-nomor indie rock yang uplifting dengan aura slengean British lads yang khas.

https://soundcloud.com/jungledoctors

Jonny Powell

Jonny Powell
Peniup terompet dan backing vocal dari The Din, band asal Camden, London yang menciptakan musik menarik hasil kolaborasi indie-folk, flamenco, dan gypsy jazz (mereka menyebutnya sebagai Alternative Shizzle) dengan didukung oleh penampilan live yang energetik.

https://www.facebook.com/thedinofficial

On The Records: Ramayana Soul

ramayana-soul-2

Memadukan bunyi musik tradisional India dengan musik rock Inggris mungkin sama sekali bukan hal yang asing seperti yang sudah lama dipopulerkan oleh The Beatles di akhir 60-an atau band Britpop Kula Shaker yang melejit di 90-an dengan single “Govinda” yang berbahasa Sanksrit, namun tetap saja rasanya selalu menyenangkan mendengar paduan sitar yang magis dengan sounds gitar yang modern. Adalah Ramayana Soul, band raga-rock/psychedelia gagasan Erlangga Ishanders yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris band indie legendaris Jakarta bernama Pestolaer yang membawa formula tersebut ke ranah lokal. “Jujur awalnya nggak ada kepikiran, semua ngalir kaya air karena ada kesempatan. Singkat kata, semua berawal dari musik kamar seperti biasa. Yang pada akhirnya solid terbentuk sebagai band di 2010,” ungkap vokalis yang akrab disapa Angga tersebut. Melihat langsung penampilan live mereka yang membius di mana Angga dengan bertelanjang kaki akan bergantian memainkan sitar dan keyboard atau justru bernyanyi cuek sambil menari diiringi nyanyian chanting dari Ivon Destian dan aransemen padu dari 3 personel lainnya, its enough to take you to higher realm of sonic and stay grounded at the same time. “Kalau dibilang influens mungkin jadi rahasia dapur, tapi kalau yang membangkitkan adalah beberapa musisi yang notabene di luar sana kalau ngomongin agama sulit tapi mereka bisa. Kenapa kita yang di sini yang lebih beragam kok nggak bisa? Contoh kaya Ray Charles besar dari dunia gospel dan Enya yang segitu ribetnya dunia dia bisa lurus bikin sesuatu tanpa mandang bulu agama,” ungkap Angga tentang warna musik mereka. Setelah baru-baru ini merampungkan kolaborasi eksklusif dengan Studiorama Sessions dalam bentuk video musik, band ini pun dicanangkan tampil dalam gelaran Studiorama Live kelima pada tanggal 18 Oktober nanti di Rossi Musik Fatmawati.

WHO: Erlangga Ishanders (vokal, sitar, gitar, harmonium, tabla), Adhe Kurniawan (gitar), Ivon Destian (vokal), Kaisar Irfan Tirtamurti (bass) dan Sultan Bimo Kamil (drums, tabla).

WHERE: Jakarta.

INFLUENCES: The Stone Roses, Kula Shaker, George Harrison, Ian Brown, Ravi Shankar, Enya. “Yang paling nggak bisa munafik adalah psychedelic, itu akarnya. Cuma kita bukan hippies, kita bukan bohemian, kita nggak mencoba untuk jadi mereka,” cetus Angga.

BEHIND THE NAME: “Itu sebetulnya ‘kepeleset’ aja nggak tau kenapa, jadi waktu dianjurin temen buat main di acara ditanya ‘nama band lo apa?’ nah Ramayana Soul ini yang keluar. Nggak ada arti yang spesifk, cuma terbersit seketika.”

LISTEN THIS: “Jaya Raga Jiwa” yang menenangkan seperti mantra, “Mawar Batu” yang dari judulnya seakan terinspirasi dari The Stone Roses dan “Aluminium Foil” dengan aransemen psych rock dan peralihan vokal mencengangkan dari berbisik hingga lantang berteriak. “Lagu itu bercerita tentang beberapa kaum yang menjauhi fitnah sebagai loyalitas terhadap Penciptanya. Dan beberapa cerita tentang kaum yang nggak bisa lepas dari madat,” ungkap Angga.

LOCAL MUSIC HEROES: “Udah jelas Rhoma Irama. Kalau dibilang suka musiknya sih nggak, tapi kok dia bisa berpikir segitu jauhnya. Pas banget waktu musik India dateng, teknologi rekaman di Indonesia lagi maju-majunya sampai Rhoma Irama juga dapat serapan dari Deep Purple hingga akhirnya dangdut terlihat kaya gitu, nggak yang Melayu atau terlalu stagnan.”

HOMETOWN GLORY: “Kita ngeliat scene sekarang udah beragam dan lebih berani dari sisi positif tentunya.”

BEST GIG: “Semua gigs berkesan, tapi sejauh ini yang lebih berkesan kita main di acara Polpang vol. 1 pemutaran acara film Amuk, karena menurut kita sangat menyenangkan dan apresiasif.”

NEXT PLAN: “Sejauh ini kita nggak pasang target sebagai hal yang idealis. Yang penting jalan aja. Album adalah next target. Kita akan mengeluarkan full album bekerjasama dengan Wasted Rockers Records berisi 8 materi yang rampung dan juga dibantu beberapa kawan kita dari Sineping yang membantu pembuatan video klip single kita nantinya.”

https://soundcloud.com/ramayanasoul