Influences: Scandal

Scandal Band

First look can be so deceiving. Itulah yang saya rasakan sewaktu pertama kali melihat foto keempat gadis Osaka yang bernaung di satu band pop rock bernama SCANDAL di suatu majalah. Prasangka awal saya mengatakan mereka adalah unit bubblegum pop yang menari-nari ceria dengan suara imut melengking. Namun begitu melihat beberapa video mereka di YouTube, terutama live show mereka, saya menyadari betapa prasangka tersebut tidak bisa lebih salah lagi. SCANDAL benar-benar sebuah girl band dalam arti sesungguhnya. Terdiri dari Haruna Ono (lead vocalist/secondary guitarist), Mami Sasazaki (lead guitarist/secondary vocal), Tomomi Ogawa (bassist/secondary vocal), dan Rina Suzuki (drummer/secondary vocal), keempat gadis cantik ini memulai karier saat masih memakai seragam SMA dengan tampil di jalanan dan taman di Osaka setiap akhir pekan, sebelum tak lama kemudian dikontrak indie label Kitty Records dan diundang tur ke 6 kota di Amerika Serikat, jauh sebelum mereka merilis mini-album pertama mereka, Yah! Yah! Yah! Hello Scandal: Maido! Scandal Desu! Yah Yah Yah! di tahun 2008.

Pencapaian impresif tersebut mengantar mereka ke major label dan pendengar yang lebih luas, menghasilkan 4 LP dan banyak singles yang merajai chart. Tahun lalu, setelah menggelar tur Asia kedua, mereka pun merilis album terbaru bertajuk Standard dan melempar video untuk single “Awanai Tsumori no, Genki de ne” di mana melihat empat gadis cantik memakai dress putih dan memainkan instrumen masing-masing sambil headbanging menjadi bukti jika tradisi band-band perempuan keren dari Jepang masih terjaga sampai detik ini. Kali ini, mereka membicarakan influens awal mereka dan obsesi mereka pada diva-diva J-pop.

Apa yang membuat kalian ingin membentuk band bersama?

Haruna: Kami semua pertama kali bertemu di sebuah sekolah dance dan vokal di daerah Kansai (Jepang bagian barat seperti Osaka, Kobe, Kyoto, dll), dan suatu hari seorang guru kami bertanya, “Kenapa kalian tidak mencoba memainkan instrumen?” guru yang sama juga menanyakan hal itu ke murid-murid lainnya, tapi akhirnya, cuma kami berempat yang terus lanjut bermain instrumen. Kami tak menyangka akhirnya bisa benar-benar menjadi band seperti sekarang ini.

Musik apa yang kalian dengarkan saat itu?

Haruna: Saya mendengarkan R&B dan J-pop yang waktu itu sedang sangat booming.

Tomomi: Saat itu saya sedang serius belajar dance, jadi saya banyak mendengarkan R&B.

Mami: Saya juga mendengarkan J-pop.

Rina: Saat masih kecil, saya hanya mendengarkan J-pop. Idola pertama saya adalah Ayumi Hamasaki saat saya masih SD.

ayumi hamasaki

Lalu, album atau band apa yang berpengaruh saat kalian mulai membentuk SCANDAL?

Mami: Saat pertama terbentuk, kami semua menonton DVD SUM 41 untuk mempelajari penampilan mereka.

Apa album pertama yang kalian beli?

Haruna: “Don’t Wanna Cry” dari Namie Amuro.

namie amuro

Tomomi: Album Greatest Hits Morning Musume.

Mami: Sama! Greatest Hits Morning Musume.

Rina: Saya juga! Waktu SD saya membentuk grup dance dan mengkopi gerakan mereka… ah saya jadi ingat masa-masa itu.

Morning_Musume_-_Best_1

Kalau konser yang pertama kalian datangi?

Haruna: Konser Arashi.

Tomomi: Morning Musume.

Mami: Ibu saya pernah bilang kalau saya ikut menonton konser Kome Kome Club saat masih berumur tiga tahun… tapi tentu saja saya tidak ingat. Haha.

Rina: Konser Kinki Kids di Kyocera Dome di Osaka bersama ibu saya. Itu pengalaman pertama saya datang ke konser.

Apa yang menjadi inspirasi untuk lirik di lagu-lagu kalian?

Rina: Saya biasanya menulis sendirian di rumah. Namun akhir-akhir ini kami mulai menulis lirik dan membuat lagu secara bersamaan. Terkadang saya yang menyelesaikan semua lirik dan membuat melodi untuk bagian chorus, dan meminta personel lain untuk menyelesaikan sisanya. Inspirasi selalu datang tak terduga, jadi biasanya saya segera merekam inspirasi dengan voice recorder atau menulisnya di buku catatan.

Apa rasanya berada di atas panggung?

Mami: Setiap pertunjukan live, kami selalu berusaha agar penonton bisa merasakan excitement seperti mereka seolah-olah sedang berada di taman hiburan, dan melupakan dunia nyata untuk sejenak.

Kalau bisa berkolaborasi dengan siapa saja, siapa yang kalian pilih?

Haruna: 2NE1!

2NE1

Boleh ceritakan sedikit tentang album baru kalian?

Tomomi: Sejak kami membentuk SCANDAL, lagu-lagu kami memiliki tema utama tentang impian kami untuk mengadakan konser di Osaka-jo Hall. Tempat ini adalah concert hall legendaris di Osaka seperti halnya Nippon Budokan di Tokyo, karena kami semua berasal dari daerah Kansai, venue ini adalah tujuan pertama kami. Setelah impian ini tercapai pada bulan Maret lalu, kami akhirnya mulai membuat lagu yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Album baru ini bisa menjadi musik background bagi kehidupan sehari-hari seseorang.

osaka jo

Kalian telah menggelar konser pertama di Indonesia tahun lalu, ada pesan untuk fans Indonesia?

Rina: Kami sangat bahagia melihat banyak fans di Indonesia yang sudah menantikan kami, dan kami merasa kebudayaan Jepang sangat diterima dengan baik. Kami suka makanan Indonesia dan ingin kembali lagi untuk bersantai dan liburan. Kami terus berusaha mengadakan konser di luar Jepang bahkan sebelum major debut kami. Terima kasih banyak untuk semua support dan sampai bertemu lagi di live show kami berikutnya di Indonesia!

Triple Threats, An interview With Tim Matindas

Cerita seorang vokalis yang kemudian mencoba berakting di film mungkin terdengar sama klisenya dengan cerita ditawari main film setelah mengantar teman ikutan casting. Well, kedua cerita tersebut memang dialami oleh Timothy Jorma Matindas yang dikenal sebagai vokalis band indie rock Jakarta via Vancouver bernama Roman Foot Soldiers (RFS). Untungnya, tak ada yang klise pada karier barunya sebagai seorang aktor.

            Tim, demikian pria kelahiran Jakarta 27 tahun lalu ini akrab disapa, pertama kali berakting dalam short movie berjudul The Kiosk yang tergabung dalam omnibus Sinema Purnama tahun lalu. Tak disangka, peran pertama tersebut membuahkannya gelar Best Actor dalam kategori omnibus di Piala Maya 2012. Sebuah awal yang manis bagi pria yang mengaku belum pernah akting sama sekali. Di akhir tahun ini, Tim kembali mendapat peran utama dalam film Toilet Blues garapan Dirmawan Hatta. Dalam road movie bergenre arthouse ini, ia berperan sebagai Anggalih, seorang calon pastor muda yang bersama sahabat masa kecil dan cinta platoniknya Anjani (Shirley Anggraini) mengadakan perjalanan dengan kereta dari Jakarta menuju Jawa Tengah. Di jalan, mereka dihadapkan pada banyak perdebatan dan godaan yang akan menentukan arah hidup keduanya. Turut dibintangi oleh Tio Pakusadewo, film ini dipenuhi simbol dan alegori Katolik yang terinspirasi oleh puisi Nyanyian Angsa karya W.S Rendra dan film The Last Temptation of Chris karya Martin Scorsese. Uniknya, baik sutradara maupun Tim sendiri sebetulnya bukan beragama Katolik. “Itu yang susah, Anggalih ini pengen jadi pastor tapi gue sendiri Muslim kan. Jadi pada awalnya gue nggak terlalu ngerti, gue harus research dulu, baca, ngobrol sama beberapa pastor di Jakarta. Gue nggak pernah serelijius itu sih, tapi menarik aja karena adegan simbolisnya memang bagus untuk film ini secara visual supaya message tertentu disampaikannya nggak harus lewat dialog. Seperti adegan membasuh kaki, terus adegan yang ditampar pipi kiri dikasih pipi kanan,” ungkap Tim tentang peran ini.

            Toilet Blues pertama kali diputar di Indonesia pada ajang JiFFest bulan lalu, namun sebelumnya film ini telah lebih dulu berjaya di sirkuit festival film di luar negeri. Menjadi satu-satunya film Indonesia dari 12 film dalam kategori New Currents pada Busan International Film Festival 2013, film ini lantas menarik perhatian festival film di negara-negara lain, mulai dari Mumbai, Goa, Kamboja, hingga Göteborg International Film Festival di Swedia bulan Januari nanti. Tampil di film kelas festival seperti ini, apakah sekarang Tim telah nyaman menyandang titel aktor? “Belum kali ya, gue masih ingin lebih dikenal sebagai vokalis RFS sih dibanding aktor. Sekarang juga lagi belajar banget, aktingnya juga masih otodidak, ke sananya gue pengen lebih dalemin lagi kalau bisa,” tukas Tim yang akan ikut berperan dalam sebuah drama romantis berjudul The Right One garapan Stephen Odang yang akan dirilis pada hari Valentine nanti.

            Bisa jadi, omongan tadi adalah upayanya untuk merendah, karena jelas saat berbicara tentang film matanya membinarkan passion yang kuat pada bidang ini. “Sekarang ini waktu yang bagus untuk kinda revolution sedikit. Karena The Raid kemarin meledaknya kaya gitu, its open a lot of door. Bikin investor lebih berani dan kasih liat ke orang kalau Indonesia capable juga kok bikin film kaya gini. Sekarang mungkin karena ngeliat kaya gitu, filmmaker Indonesia udah mulai mikir ke arah situ kali ya?” ujarnya.

            Tak hanya tampil di depan kamera, saat ini Tim justru lebih serius mengasah bakatnya yang lain sebagai penulis naskah dan produser film. “Gue sekarang lagi partneran sama produser Toilet Blues kemarin, dia abis nge-produce Toilet Blues yang arthouse sekali filmnya, tahun depan kita mau masuk yang lebih komersil. Tapi komersil yang bagus. Kayanya kalau liat film Indonesia masih setengah-setengah sekarang. Kalau nggak yang artsy banget, atau yang jadinya agak norak. Dia punya dua script, gue punya satu script, tahun depan kita mau go around shopping for investors. Sekarang kita lagi bikin proposal film-film ini. Gue pengen ke depannya kerjaan utama gue lebih ke behind the scene. Producing, writing, sambil jalanin RFS at the same time, seru kayanya,” ungkap Tim sebelum mengeluarkan Macbook dan menunjukkan satu trailer dari film karyanya sendiri yang bergenre thriller suspense, which all I could say for now, its looks promising.

            Bagaimana dengan RFS sendiri? Tenang saja, band keren ini memang jarang terdengar belakangan ini, namun itu karena mereka sengaja stop terima tawaran manggung untuk fokus menyelesaikan full album mereka yang diproduseri oleh Dipha Barus. Berisi delapan lagu, saya sempat mendengarkan satu lagu tanpa judul yang akan menjadi single pertama. Terdengar elemen elektronik yang lebih kental dibanding lagu-lagu sebelumnya, membuat album baru ini akan pas diletakkan di tengah-tengah album Random Access Memories milik Daft Punk dan album terbaru Phoenix. Dalam waktu dekat, mereka juga akan membuat video klip pertama untuk album ini dengan disutradarai oleh Shadtoto Prasetio dan akan berupa short film. Baru-baru ini, Roman Foot Soldiers merilis single baru tersebut dengan tajuk “Controversy” dan akan tampil di hari kedua acara LocalFest 2014, hari Sabtu pekan ini.

            “Kalau akting di depan kamera, kalau salah bisa cut! Tapi kalau dia panggung, wah mati aja,” ujar Tim sambil tertawa saat ditanya lebih menakutkan main film atau tampil di stage. “Tapi thrill-nya sendiri lebih kalau perform with the band,” tukasnya. “Perform di depan live audience itu nggak ada yang ngalahin deh, make you feel alive. Akting sendiri gue suka prosesnya, yah kalau bisa jalanin dua-duanya kenapa nggak?” tutupnya dengan retoris.

Foto oleh Sanko Yannarotama

On The Records: Anoa Records, Jakarta’s Freshest Indie Label

anoa

Di zaman ketika para musisi dan band hanya tinggal memiliki akun Soundcloud atau Bandcamp untuk mempromosikan musik mereka, apakah keberadaan label rekaman masih berarti? Well, selain label major yang paling terkena dampaknya secara ekonomi, keadaan ini secara menyegarkan justru memunculkan label-label indie di beberapa kota di Indonesia yang menampung berbagai rilisan paling menarik dari band-band lokal mereka. Dan serunya, semua itu dilakukan for the sake’s of fun dan kecintaan mereka akan band yang berkualitas. Salah satu label indie yang tengah menarik perhatian adalah sebuah label asal Jakarta bernama Anoa Records. Label baru yang digawangi oleh Peter A. Walandouw, Andri Rahadi, dan Ritchie Ned Hansel ini telah merilis dua album dari band roster mereka, yaitu duo alternative rock Jakarta bernama Barefood dan Seaside yang merupakan band indie pop bervokalis perempuan. Sebagai teaser, kamu bisa mendengarkan beberapa single dari kedua band yang mengusung aroma 90’s alt music tersebut di Soundcloud milik Anoa Records, namun saya menyarankanmu untuk memesan CD mereka langsung bila kamu ingin mendengarkan dua band paling fresh di Jakarta saat ini. Dengan dua rilisan awal yang menjanjikan tersebut, saya pun mengirim beberapa pertanyaan via email yang dijawab oleh Peter A. Walandouw sebagai representatif Anoa Records.

Hi, Peter, dari mana kalian bertiga memiliki ide untuk membuat label ini?

Ide label ini sendiri muncul gara-gara menonton film dokumenter Creation Records, Upside Down. Di dokumenter itu saya ngeliat betapa uniknya Alan McGee mendirikan labelnya. Lalu terbersit untuk membuat label, ide ini saya lempar dan gayung bersambut oleh yang lainnya. Tadda! Jadilah label ini.

What’s the story behind the name?

Hehe… Kita awalnya ingin milih nama label yang beda, nggak melulu bahasa Inggris. Nama yang tetap berkesan slenge’an, hahaha dan kayaknya asik kalau nama binatang lokal Indonesia, dan terpilihlah nama Anoa dari beberapa nama unik binatang lokal seperti trenggiling dan sebangsanya. Diucapinnya juga enak. Simpel gitu aja.

So how was it? Setelah akhirnya punya label sendiri?

Ternyata emang seru ya berada di balik layar, ngurusin rilisan sebuah band. Ada sensasinya juga hahaha! Intinya sih ya, kita bisa tahu seluk-beluk bisnis mikro untuk label semacam ini dan tantangannya.

barefood

Kalau daily job kalian sendiri sebetulnya apa?

Kami bertiga pekerja kantoran semua8 to 5, dan kami ngurusin label ini jika ada waktu luang selepas kantor hahaha!

Apa yang menjadi pertimbangan kalian untuk merilis sebuah record?

Sebenarnya kami sudah kenal band-band ini dan kenal baik dengan personelnya. Dan band-band yang bagus, fresh, dan potensial. Alhamdulilah, mereka tertarik untuk bekerjasama dengan label kami yang sebenarnya masih hijau. Pertimbangannya sederhana sesuai dengan moto kami: If we believe in something we hear, it’s better to record it. Dan kami melakoni label ini dengan santai sebenarnya, pokoknya rilis band yang kami sukai dan keren. tanpa harus pusing label ini harus seperti apa konsepnya atau artistik sebuah label kayak apa, seribet 4AD Record misalnya, hahaha! Kami sudah keburu pusing ngurus soal produksi.

Menurut kalian fungsi label sekarang ini apa?

Saling melengkapi saja. Promosi tak bisa mengandalkan publisher semata, tetapi juga sang artis. Social media sudah menjadi instrumen sangat penting dalam promo sebuah produk, apapun jenisnya. Sebenarnya tak ada yang berubah secara drastic sih dari fungsi sebuah label. Peran promo harus bersama-sama. Soundcloud itu juga penting banget untuk band-band baru memperkenalkan musik mereka.

Selain Barefood dan Seaside akan ada apa lagi yang muncul dari kalian?

Wah, sebenarnya kami ingin fokus dulu untuk dua band ini, Barefood dan Seaside, setelah merilis mereka, lalu memasarkannya, dan memastikan promo dan serapan di pasar berjalan dengan baik. Kedua band ini perlu banget dikenal skena lokal kita. Namun tentu ada beberapa nama band yang kami pikir layak dan hendak dijajaki kerjasamanya. Namun namanya belum bisa kami sampaikan, takut nggak jadi haha! Maklumlah ini label cekak dengan pendanaan dari sebagian gaji bulanan kami, hehe… doakan semoga lancar.

seaside

http://anoarecs.com/

 

Grrrl Power! An Interview with BIKINIES

Bikinies by Aloysius Nitia

The Jakarta’s literal riot grrrl band, Bikinies, kembali ke permukaan dengan sebuah album mini yang akan membuatmu berkeringat. 

Sadly, kita harus mengakui jika band perempuan yang bagus di Indonesia masih terbilang sangat minim. Kita pernah punya band perempuan paling keren di Indonesia yaitu Dara Puspita di tahun 60-an dengan skill bermusik yang tak kalah dengan kaum pria. Kita juga pernah melihat beberapa band lain yang semua personelnya perempuan muncul sekilas, namun tak ada yang pernah benar-benar berhasil menancapkan kuku mereka di kancah musik Indonesia. Dan kini, ketika bicara “girl band” di Indonesia berarti bicara tentang sekelompok gadis imut yang bernyanyi lip-sync dengan gerakan koreo yang seragam, band perempuan asal Jakarta, Bikinies, mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk mengembalikan lagi makna dari kata “girl band” yang sesungguhnya.

            Terdiri dari Selviana Shapie (vokal), Victoria “Meti” Anastasia (gitar/back vox), Dhany Arliyanti (bass), dan Tiffany Ayu Puspasari (keyboard), nama Bikinies sebetulnya bukan nama yang benar-benar baru. Band yang terbentuk akhir tahun 2003 ini merupakan bagian dari booming band-band keren bentukan anak-anak Institut Kesenian Jakarta yang membangkitkan dan mendominasi skena musik indie Jakarta circa pertengahan era 2000-an silam.

            Dengan influens bermusik dari The Donnas, Bikini Kill, Jossie And The Pussycats, dan band-band perempuan berkarakter lainnya, Bikinies meramu musik pop rock bernapaskan riot grrrl dengan tempo kencang, distorsif, dan penuh semangat. Bikinies pun menyumbangkan lagu dalam kompilasi musik indie legendaris Thursday Riot di tahun 2005 lalu dengan single “Like An Idiot” dan dua tahun kemudian, single “C’mon” masuk kompilasi 24 Hour Campus Hits vol.2. Sayangnya, band ini kemudian sempat menghilang karena kesibukan masing-masing personel, bahkan sebelum merilis satu album pun.

            Enam tahun berselang, namun Bikinies ternyata tak pernah benar-benar tenggelam. Tahun ini mereka merilis self-titled album mini pertama mereka yang berisi empat lagu yang memproklamirkan jika Bikinies masih ada dan siap untuk menggebrak lagi. “Kenapa lama sekali… karena semua butuh proses yang matang dari segi arrangement lagu dan musik, yang masih berubah dan akhirnya matang. Juga karena kesibukan dari masing-masing personel. Dan kita mengerjakannya semuanya secara santai, nggak terburu-buru supaya maksimal. Proses recording-nya sendiri itu terjadi di bulan April 2013 setelah semua arrangement fix dan maksimal. Maka kami pikir sekarang waktu yang tepat untuk mengeluarkan EP kita,” ungkap mereka.

            Diperkuat dua additional player pria bernama Christian Kity (additional guitar) dan Pasha van Krab (drum), BIKINIES EP dibuka oleh single “Dance Floor Mafia” yang memacu adrenalin dan sama intensnya dengan dua lagu selanjutnya “Come On” dan “My Ex Boyfriend” sebelum ditutup oleh “Like A Bottle Of Beer” yang lebih akustik dan kalem. Menyusul respons positif untuk album yang memang telah ditunggu ini, mereka pun mulai tampil di beberapa show lagi, termasuk dalam gig bertajuk Identite di Home Club, Singapura. “Menyenangkan! Tidak terlalu ramai pengunjung tapi venue & crowd-nya asik, nggak pada malu-malu untuk joget. Tidak menyangka musik & perform kita dapat diterima oleh masyarakat Singapura dengan baik. Seru juga sih karena bisa kenal band-band lain yang emang musiknya keren-keren,” kenang mereka akan gig yang juga menghadirkan Puti Chitara dari Indonesia dan dua band Singapura, Obedient Wives Club dan .gif, tersebut.

            Kita bisa berharap jika EP ini hanya perhentian sementara sambil menunggu mereka melaju dengan potensi maksimal dalam sebuah full album. Kini, sambil menanggapi undangan gigs dan menyiapkan sebuah video klip, mereka mengaku sudah berencana untuk melanjutkan recording kembali dengan target album baru tahun depan. In the mean time, let’s wish them Godspeed and dance with their EP.

Logo

http://bikinies.bandcamp.com/

As published in NYLON Indonesia November 2013

Book Club: Based on a True Story 01- Pure Saturday

Pure Saturday

Pure Saturday (Based on a True story)

Idhar Resmadi

U&kl Books

Ada beberapa faktor yang menggugah saya untuk segera membaca buku biografi band Pure Saturday ini. Yang pertama menangkap perhatian tentu wujud fisiknya. Dari segi desain semata, buku pertama lansiran U&KL Publishing ini terlihat unik dengan desain cover minimalis dan clean berwarna putih bertuliskan Pure Saturday yang diselimuti cover jacket berwarna serupa yang menampilkan tulisan Based on a True Story. U&KL Publishing sendiri merupakan sub division terbaru dari UNKL347, sebuah brand sub culture yang pasti telah akrab di telinga kaum urban dan kreatif Tanah Air. Dilahirkan oleh sebuah rumah desain mumpuni, pemilihan materi kertas, font, layout dan foto-foto yang dipakai dalam buku ini akan mendapat apresiasi dari siapapun yang menggemari desain produk. Faktor kedua untuk saya pribadi adalah penulis buku ini, Idhar Resmadi, seorang jurnalis musik dan budaya populer yang tulisan-tulisannya telah saya akrabi sejak ia menjabat sebagai pemimpin redaksi Ripple Magazine. Faktor ketiga dan paling krusial tentu saja subjek isi buku ini sendiri. Pure Saturday yang kini terdiri dari Satrio Nurbambang (vokal & gitar akustik), Adhitya Ardinugraha (gitar), Arief Hamdani (gitar), Ade Purnama (bass), dan Yudhistira Ardinugraha (drum) merupakan salah satu band lokal paling legendaris yang memiliki pengaruh besar pada dunia musik Indonesia, khususnya skena indie, sampai hari ini.  Ditulis dengan pendekatan studi literatur dan interview personal tak hanya dengan kelima personel PS saat ini, tapi juga bersama Suar Nasution, vokalis pertama mereka yang juga salah satu founder band tersebut, para manajer, dan orang-orang dalam lainnya, Idhar memaparkan setiap langkah yang telah ditempuh band asal Bandung tersebut sepanjang karier mereka yang tahun depan genap berusia 20 tahun.

Bicara tentang buku biografi sebuah band, berarti bicara tentang sejarah, drama balik layar, dan, suka-duka, dan legacy dari band tersebut dengan cara yang candid. Jujur saja, saya baru benar-benar mengenal dan mulai mendengarkan band ini sekitar 2005, dari album ketiga mereka Elora. Ingatan saya sebelum itu tentang band ini mungkin hanya beberapa bait lagu “Kosong” yang dulu kerap dinyanyikan kakak saya sambil main gitar. Lewat buku ini, banyak sekali cerita yang benar-benar baru saya ketahui soal band ini saat saya ‘terlempar’ ke tahun 1994, ketika band ini bercikal dari sebuah band tongkrongan bernama Tambal Band di sebuah sudut kota Bandung yang dinamakan Gudang Coklat. Bagaimana kelima personel formasi awal bertemu, berganti nama menjadi Pure Saturday demi mengikuti festival musik pertama mereka yang kemudian berhasil keluar sebagai pemenang, yang kemudian melejitkan nama mereka di acara-acara musik di Bandung.

Semakin menyusuri kedelapan bab dalam buku ini, semakin saya tenggelam dalam memory lane yang terjadi pada Pure Saturday. Semua cerita pahit-manis mereka dari mulai proses penciptaan album debut yang menjadi tonggak meledaknya musik alternatif Indonesia, bagaimana mereka menjalani popularitas yang ternyata sejalan dengan banyak persoalan baru, pergelutan emosi antara personel, pergantian vokalis dan gigihnya Satrio sebagai vokalis baru untuk membuktikan diri di antara cemoohan, hingga akhirnya Pure Saturday berhasil melewati semua itu dan tetap bertahan sampai sekarang dengan lima album dan fans yang tetap setia, semua itu berhasil dirangkum dan dipaparkan dengan komprehensif oleh Idhar.

Terlepas dari beberapa minor technical mistakes dari segi tata bahasa dan beberapa alur yang kadang terkesan ‘melompat-lompat’, buku setebal 230 halaman ini adalah dokumentasi menawan yang menyoal musik Indonesia dari salah satu band Tanah Air yang paling gemilang. Bukan hanya bagi para fans Pure Saturday yang disebut Pure People, tapi juga untuk siapapun yang mencintai musik dan khususnya bagi band sekelas Pure Saturday itu sendiri. They deserved it, we deserved it.

 

Mixtape: Sex Sux

sexsux

Terdiri dari sepasang suami-istri bernama Deni (vokal/gitar/harmonika) dan Melly (vokal/gitar/ukulele/keyboard) serta iPod untuk bunyi loop drum, aksi duo dari Bogor ini meramu musik indie pop berfidelitas rendah yang mengingatkanmu akan band-band seminal seperti The Vaselines, The Pastels, Beat Happening, dan Vivian Girls. “Awalnya gue nggak pernah mau seband sama pacar/suami, karena gue males kalau kehidupan personal kecampur aduk sama ngeband. Terus Deni ajak latihan, gue ikut, bawain lagu yang Deni tulis (“Catch Up”, “Frown”) dan lagu itu emang cocok banget buat Sex Sux. Hati gue mulai terpanggil, tapi gue bener-bener nggak mau kalo kita lagi ada masalah, band ikut terpengaruh (waktu itu kita masih pake drummer manusia), sehingga akhirnya kita putuskan, udah lah kita berdua bener-bener berdua aja. Kita tendang si drummer baru proyek ini bisa berjalan. Jadi kalo kita berantem, terus berpengaruh ke band, yang kena rasanya juga kita berdua doang. Hehe. akhirnya baru gue sepakat untuk ngejalanin Sex Sux. Pas awal-awal ngejalanin Sex Sux, gue lagi seneng-senengnya dengerin Vivian Girls. Mungkin secara musik nggak terlalu mempengaruhi sih. Tapi justru gue seneng ngeliat attitude mereka dalam band. Gue pengen ngejalanin band yang fun, bisa ngelakuin apa yang kita mau, pokoknya semua kita bikin fun aja,” ungkap Melly tuntas tentang cerita terbentuknya band yang namanya diambil dari salah satu judul lagu The Vaselines di album Dum Dum ini. Untungnya, unsur fun yang mereka idamkan itu berhasil ditampilkan dalam album debut mereka, Sing Along With Bananas, yang dirilis HeyHo! Records bulan April lalu. Berisi 10 lagu dengan tema-tema menarik seperti zombie, kucing peliharaan, sampai ubur-ubur, album ini dipenuhi singalong chorus dan reverb noise yang catchy. Pertanyaan terakhir, kenapa suka sekali kucing? “Kenapa orang nggak suka kucing?” Melly balik bertanya, “Bagaimana mungkin ada yang bisa menahan diri melihat muka yang lucu itu?” sambung Deni. Well said.

“Marathon”

Tennis

Sebenarnya lagu ini soal terjebak di badai pas mereka berlayar. Lagunya terlalu riang untuk dianggap lagu soal pertaruhan nyawa di tengah badai.  Namun, tetap saja lagunya secara keseluruhan asik buat diputar di luar rumah kalau cuacanya sedang bersahabat dan bikin kita ingin mencoba berlayar.

“Christmas Island”

Lake

Deni itu fans berat Adventure Time.  Berkat Adventure Time dia tahu lagu ini, dan menjadi salah satu lagu favorit.  Dia bahkan pernah seharian cuma muter lagu ini.  Lagunya sendiri mengajak kita bertualang dengan lirik seperti “Come along with me/ To a place beside the sea/ We can wander through the forest/ And do so as we please.”

“Meet Me In The City”

The Babies

Kita berdua pernah jalan-jalan keliling kota mutar album pertama The Babies yang ada lagu ini, on repeat di stereo mobil.  Boleh dibilang lagu ini jadi anthem jalan-jalan kita.

 

“Grass Skirt”

All Girl Summer Fun Band

Lagunya bikin ingin pakai grass skirt, ngambil ukulele, sambil nyanyi-nyanyi di pantai.

“Indian Summer”

Beat Happening

Calvin Johnson itu jenius.

“Fantastic Cat”

Takako Minekawa

Lagu ini mungkin tersegmen untuk pencinta kucing.  Kalau mendengar lagu ini kita inginnya selama liburan cuma di rumah dan main bersama kucing kesayangan. Ngeliat mereka cuma tiduran seharian itu sangat menyenangkan loh.

“I’m Drunk, How About You?”

Melting Bitches

Liburan itu waktunya membuang semua pikiran.  Lagu dari labelmates kita yang satu ini bisa menjadi buaian paling pol untuk membuang pikiran.  Literally.

“Tree Hugger”

Antsy Pants

Kita anggap ini adalah lagu terbaik untuk bermain gitar kopong depan api unggun.  Kecuali tentu bila teman kemping kita lebih memilih untuk nyanyi bareng lagu “More Than Words.”

“All The Time”

Vivian Girls

Pergi liburan itu perlu semangat ekstra.  Kita ngerasa lagu ini adalah the perfect pick-me-up buat memulai liburan.

“Party In The U.S.A.”

Miley Cyrus

Kita bukan jenis-jenis yang suka partying atau apalah, tapi setiap lagu ini keluar kita selalu ingin PARTYAnd the Miley’s song is on, nodding our heads like ‘yeah’.

 sexsuxtee

http://sex-sux.tumblr.com/

On The Records: Pairs

Pairs1

“Just hate the idea of anyone googling my real name and getting any interviews I’ve done. Especially as I’m looking for a job at the moment,” said Xiao Zhong, vocalist/drummer and one half of Pairs, Shanghai based noise-rock duo, about his refusal to use his real name for any press interview from now on. Talk about anonymity, the fact that he’s actually Australian is feels as obscure as his female guitarist that goes with only a single alphabet (“F”) for her name. Formed around two years ago, this duo are known for their louder than bomb music, raw castatrophe and nonchalant attitude. After three albums (Pairs, Summer Sweat, Grandparent), last year they releasing their latest album called If This Cockroach Doesn’t Die, I Will, which recorded in some bomb shelter, and playing for gigs around Asia, including Indonesia few weeks ago. Unfortunately, I didn’t saw their gigs due some holiday sickness, so I catching up with them via email. Here it is!

Hello, how are you? Would you mind to introduce yourself?
Hey hey. I’m doing pretty well actually. Today wasn’t as cold as yesterday and my body is getting used to Winter again. I’m Xiao Zhong and I play drums in Pairs. F is the guitar player but last I heard, she was in a brewery somewhere in America.

So F isn’t on Shanghai right now? Is it her decision to goes with
such anonymous name?

Not right now. We landed and she spent two days in Shanghai and then flew out to America for a bit or work and a bit of pleasure. The story bedhing her name, as I’m led to believe is that she had an English teacher at her primary school and he asked people their English names and she just said F. Whether that’s because it was the only letter she knew at that point or she wanted to remain anonymous when she was 8 years old, I’m not sure. But she stuck with it.

Where are you right now and how’s your day going?
I’m at home now, sitting on the couch watching the special features on the Dogs In Space DVD. My day was ok. Had a bit of a shit meeting at work that went for too long and was full of too much bullshit, but that’s done now so I’m pretty good.

How did you guys meet each other? What sparked you to form a band together?
We met at the X Games watching these Japanese brothers rollerblade up and down a half pipe. I was looking at the skaters and F came and said hello because she liked my shirt. I was looking to start a band and she said she was interested. Pretty boring story actually. Sorry.

Prior to Pairs, did you already play with some bands before?
I played in a few bands in Bendigo and Melbourne. Some were ok. Some were shit. Some were ok and played shit and some were shit but played ok.

Tell us a bit about the music scene in Shanghai, what they sounds like and is it any difference with other cities?
It’s weird. On tour everyone asked us this question and when I asked people they always said their scene was shit. Everyone said it was always the same faces at the same venues watching the same bands play the same songs. But I saw people who bought records, made zines, got involved, wrote reviews and were friendly as fuck. So I guess people always think the grass is greener and forget to distance themselves from the scene every now and again.
But on Shanghai, I’ll say that for it’s size – it really should be bigger, better and more active.

Do you have some other Shanghai band/musician recommendation for
us to checking out?
Stalin Gardens, Hua Jiao, Battle Cattle, Guo Shen, Fei Ma, Top Floor Circus, Airwalker.

How was the songwriting going? Is it usually the lyric or the noise popped up first?
It’s generally a basic guitar chord and the lyrics come much, much later. Although, with the newer songs I’m finding lyrics are coming much earlier and I’ll jot them down and them try and force them to whatever is being played on guitar. Kind of what people do when they get frustrated with a jigsaw. Just start smashing pieces together.

What things usually inspire you to wrote some lyric?
Usually they are written about some of the leaders at my work. I got a promotion over a year ago and it allowed me to see the inner workings of lying fuckrags, so a lot of the songs are things I would love to say in a meeting or pointing out how horrible these people are but I can’t say too obviously at work due to needing cash and a VISA. Shit has taken it’s toll though and I am looking for new work now.

Is there any band out there that really influences your sounds in particular?
Not particularly. There are a few bands whose attitudes and actions have influenced us. Tom from The Nation Blue is a big one. Ash from The Secret Knives, Shaun from the Tenzenmen label, Adam from Reykjavictim, Benjii, Martin and the Muzai team and Scowlin Wolf from Threat.Meet.Protocol. Hobbs from East Brunswick All Girls Choir is always good for dredging out the idiotic tales that become ideas for songs.

How would you describe your own sound?
Used to be faster.

Do you still remember your first ever gig? How was it? And where’s the your most intense gig so far?
First gig I think was in Brendan Ryan’s backyard near a monster truck dog who had legs way too long for it’s body. We played three or four songs and we did our first song twice because Steve Mac made up a funny dance to it. Then we watched a hoody burn.
Most intense gig physically was one in Cirebon. I’m a weak prick and think I was a tiny bit sick before the show, but the lack of energy and heat really got to me and I had to run off after four or five songs to vomit my guts up. That was embarrassing.
I used to have a really bad hernia and doing shows, yelling with a hernia was pretty intense as I’d have to stand up and push it back in during songs.

So how was your gig in Jakarta?
Jakarta was awesome! We had a great time and it’s a total shame that we didn’t stay longer. We met some really friendly people and the we.hum collective did an awesome job organising everything and making cool as fuck shirt. We met some real hot girls and handsome men and got to play laser tag. Good vibes.

Wait, I don’t even know you guys also playing in Cirebon, how long
exactly your tour in Indonesian goes? What’s the story behind it?
We were in Indonesia for 9 days. Started in Surabaya, then to Batu, then Solo, then Cirebon and finished in Jakarta. Was a good time and we would have died if it wasn’t for Anca and Asep who travelled everywhere without and organised our accommodation and made sure we were at the venues at the right times.

Did you try some Indonesian food? Where else did you go during that time?
Yeah, we ate very local. A lot of tempei and ice tea. I loved the breakfasts there! Some awesome sweet stuff which I love as I have a huge sweet tooth.
We went to a water park to go down some slides and then went in a haunted house. We also saw the mud slide area in Surabaya. A lot of the time was spent driving and crashing at punk squats and friends’ houses.

Beside Indonesia, where else you have played outside China?

We did New Zealand in early 2013 thanks to the Muzai Records gang and we’ve done Hong Kong a few times and just before Indonesia we played in Singapore and Malaysia . We’re looking at Vietnam sometime in the next few months. Just tee-ing it up now.

Do you have some kind of preshow ritual?
Not at all. I’ve just started drinking water before shows. That’s about it. I don’t get bands who do group hugs or headbuts or key a beer before playing. Just fucking play.

What are you guys doing beside music?
We both have fulltime jobs and loved ones and email accounts and clothes to wash and sleep to do. All in all, Pairs is just a small part of our time. We go out in bursts and then have a break for a few weeks.

How long have you live in Shanghai? What prompted you to move to China?
I have lived here since 2009. Fucking hated it when I first got to Shanghai as I lived in Tianjin in 2008 and loved it and Shanghai is a different kind of China so it took some time to get used to and for awhile, it was rough. Grown to dig the place now.
Everyone in my university course wanted to go to London and I think the UK and Europe is kind of Asia for old people and a pretty boring choice. You can have the same time there whether you’re 23 or 63 but Asia take a bit of a young man’s mentality or sense of adventure so I applied for jobs in China and Japan and China got back to me first so I jumped on the plane with fuck all research and landed in Tianjin.

You’re known as Xiao Zhong but that’s not your real name, who came up with your Chinese name?
I came up with it, which is why it’s a stupid fucking name and not a name at all. But I used it with Pairs incase any future employees Google my name and read the moronic fucking shit that I say in interviews such as these and chose not to give me a job.

Do you still want to release your records on cassette?
Yeah, absolutely! Early last year, Bomb Shop in the UK released Summer Sweat on cassette. They released it in hand wrapped Chinese newpaper and it had a hot pink case. Looked awesome. We’ll release on any format but probably not CD for a long while. Touring with records was pretty hard. We paid a small fortune in excess baggage to get our records in to Indonesia.

What’s your plan next?
Work tomorrow. Going to a show this weekend. Chinese New Year will slow the mainland down and I’m going to my wife’s parents house in Tianjin to celebrate then I’m going back to Australia for a week to say hello to my friends and family then we have a show with Thee Oh Sees in Shanghai. We’ll have a new record out in March but it will be a very different record than people will expect or want. That’s about it really.

http://pairs.bandcamp.com/

 

Any Given Sunday, An Interview With Suddenly Sunday

Lewat album debut berjudul Everything Under The Sun, Suddenly Sunday ingin menunjukkan jika kita tak perlu menunggu hari Minggu untuk bersenang-senang. 

Bukan rahasia lagi jika pergantian personel dalam sebuah band adalah momen krusial yang menentukan masa depan dari band tersebut. It’s either a break it or make it moment, namun untungnya Suddenly Sunday termasuk dalam kategori yang kedua. Kuintet female-fronted indie rock asal Jogja tersebut memang sempat mengalami beberapa pergantian personel, termasuk dua orang vokalis, sebelum akhirnya melaju stabil dengan line-up saat ini yang terdiri dari bassist Woro Agustin, vokalis Dini Yunitasari, gitaris Adi Wijaya, gitaris Helmy Febrian dan drummer Dewi Sarmudyahsari alias Moody. Terbentuk sejak tahun 2007 saat para personelnya masih sama-sama bekerja di sebuah distro di Jogja bernama Whatever Shop (dengan Woro dan Moody sebagai personel awal yang masih tersisa sampai sekarang), perkenalan saya dengan band ini bermula saat melihat video klip mereka untuk single “Club Addicted” di YouTube. Single yang diambil dari album mini pertama mereka, bertajuk Music Box, tersebut berhasil menarik perhatian dengan vokal powerful Dini yang diiringi guitar-based ritme dancey yang dibangun personel lainnya. Sekilas langsung teringat aksi-aksi seperti CSS dan Ladyhawke. Kini, mereka telah merampungkan debut full album berjudul Everything Under The Sun dan dalam kunjungan singkat mereka ke Jakarta beberapa pekan lalu, mereka menyempatkan diri mendatangi NYLON untuk sesi interview.

Dua hari sebelumnya mereka baru tampil di RadioShow, yang menjadi agenda utama sekaligus gig pertama mereka di ibukota. RadioShow sendiri bisa dibilang salah satu program musik berkualitas yang tak ragu mengundang band-band indie dalam negeri saat acara lainnya memilih bermain aman dengan pengisi acara yang dikenal publik mainstream. “Followers naik dengan signifikan!” ungkap Dini sambil tertawa saat mengungkapkan efek dari gig tersebut yang paling dirasakan. Banyak band yang masih menunggu waiting list untuk bisa tampil dalam acara itu, mereka beruntung mendapat slot untuk tampil membawakan 7 lagu, termasuk meng-cover “ Barcelona” milik The Plasticines yang mereka akui sebagai influens bermusik selain Bloc Party dan Yeah Yeah Yeahs. “Nama Suddenly Sunday sendiri idenya dari salah satu owner Whatever Shop itu tadi. Soalnya kami tiap hari Senin ada jadwal latihan, hari itu kami sering minta libur atau shift pagi biar sorenya bisa latihan bareng, jadi dari hari Minggu kami suka tiba-tiba nyiapin materi besok mau nge-jam apa ya? Hehe” cerita Woro. Hasil dari jam session itu mewujud dalam Everything Under The Sun yang dirilis dengan dua cara, yaitu kemasan digital yang bekerjasama dengan situs Gigsplay di mana saat kamu membeli merchandise mereka (kaus atau tote bag) di Gigsplay.com, kamu akan mendapat kode verifikasi untuk mengunduh album ini. Satu lagi adalah bentuk fisik dengan packaging unik berupa notes/kalendar meja dari bahan kayu yang artsy.“Kalau zaman sekarang memang 55 ribu untuk CD lokal terbilang cukup mahal, ya? Tapi kalau dilihat dari prosesnya ini memang handmade, kami beli plywood meteran terus motong sendiri, di depannya juga ada proses cutting tersendiri yang dibantuin sama pengrajin di selatan Jogja. Idenya dari brainstorming, artwork dibikin sama teman kami, Afit. Walaupun memang agak ribet karena harus print sendiri, motongin sendiri, makanya kami bikinnya masih limited 200 pieces, nanti 201 kalau kami sudah punya biaya lagi,”.ungkap Woro sambil tersenyum.

Berisi 11 track termasuk tiga lagu dari EP Music Box yang diaransemen ulang dan satu remix “Club Addicted” oleh Egaaa, mereka menunjuk “Hibernation” sebagai single pertama. “Kami pilih ‘Hibernation’ karena cukup mewakili soul-nya SS dan atmosfer yang ingin ditampilkan di album ini. Lagu-lagu kami juga nggak melulu soal cinta, misal ‘Hibernation’ itu menyinggung tentang global warming, terus ada “Myopia’ yang ingin mengangkat fenomena yang tampak dan tidak, intinya semua aksi reaksi yang terjadi di bawah matahari,” ujar Dini. Respons yang didapat pun terbukti positif, mereka lantas mengenang kembali momen launching album ini yang diadakan secara free di Lembaga Indonesia Prancis Jogja, 6 Juni lalu. “Kami menyiapkan semuanya sendiri. Mulai setting dari jam 9 pagi dan harus mulai main jam 8 malam, tanpa MC, tanpa band pembuka, dan badan lagi capek-capeknya. Tapi senangnya yang datang banyak sekali dan apresiatif,” ujar Woro, sebelum disambung oleh Dini, “Orang Jogja itu paling susah tepuk tangan di gigs, untungnya yang datang itu sudah dengan mindset mau nonton Suddenly Sunday jadi mereka tepuk tangan setiap kami habis membawakan setiap lagu, atmosfernya juga kena banget, kami dibantu tiga teman artist untuk bikin visual di atas panggung, jadi pas kami manggung di atasnya ada ilustrasi matahari dari kain yang ditembak, yang terlihat panas, meredup kemudian senja. Semacam interpretasi dari ‘apa sih everything under the sun itu?’”

Dalam sesi interview ini, memang yang paling dominan menjawab adalah Dini dan Woro. Mungkin karena peran Dini sebagai vokalis yang juga bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio ternama Jogja dan Woro yang termasuk paling lama di band ini. Adi dan Helmy lebih memilih mendengarkan dan mengiyakan. “Mereka berdua memang kurang talkative karena dasarnya pendiam, mereka lebih suka berbicaranya lewat musik. Aransemen awalnya biasanya datang dari mereka, Mereka berbicara lewat karya, hehe,” tukas Dini sambil melirik jahil kedua temannya. Terlihat sekali jika setiap personel memang sudah nyaman dan memahami peran masing-masing, satu modal penting yang harus dimiliki sebuah band. Berikutnya? “Kami ingin lagu-lagu kami terus menyebar dan ingin tur lagi, kalau bisa sampai ke luar negeri!” tandas Woro dengan semangat. Well, tak ada yang tidak mungkin terjadi di bawah matahari, so let’s see what’s happen next for them, shall we? Fingers crossed.

As published in NYLON Indonesia October 2012

Photo by Rude Billy

Here Comes The Sun, An Interview With Backwood Sun

Bersiaplah, musik Magic Folk yang diusung Backwood Sun adalah penanda momen paling bersinar dalam folk scene Indonesia saat ini.

Entah kamu menyadarinya atau tidak, musik folk dan segala subgenrenya (folk rock, folktronica, psych folk, dll) sedang mengalami fase “revival” kembali. Barometernya adalah munculnya band-band seperti The National, Band of Horses dan Fleet Foxes di Amerika Serikat, sementara di Inggris lahir scene baru bernama nu-folk dengan nama-nama seperti Laura Marling, Mumford & Sons dan Noah and the Whale. Berkat internet dan keandalan band folk masa kini yang menggabungkan esensi folk tradisional dengan bunyi yang modern, perlahan folk menjadi genre yang accessible dan memasuki ranah pendengar musik mainstream dengan titik puncaknya adalah band folk Bon Iver yang meraih 4 nominasi Grammy tahun ini dan memenangkan dua diantaranya sebagai Best New Artist dan Best Alternative Music Album. Folk pun tak lagi identik dengan pria-pria berjenggot karena musik folk paling menarik sekarang ini justru dimainkan oleh anak-anak muda seperti duo kakak-beradik First Aid Kit dari Swedia atau tiga gadis cantik bernama The Staves dari Inggris, sedangkan dari Indonesia sendiri kita mempunyai The Trees & The Wild, Deugalih & Folks, Afternoon Talk serta lima pemuda Jakarta yang membentuk band folk yang terbilang masih sangat fresh saat ini dengan nama Backwood Sun.

Seperti biasa, pertemanan dan selera musik yang sama menjadi faktor pencetus Lim Rendy (vokal/gitar), Bowo Pranoto (gitar), Chandra Wijaya (bass), Martius Forus (keyboard/tamborin) dan Ready Febrian (drum) untuk bergerak dalam satu band yang telah melewati banyak proses sebelum akhirnya mereka merasa nyaman di jalur folk. Band psychedelic rock bernama Bang Bang Shoes adalah cikal bakal band ini di mana Lim, Bowo, Chandra dan Martius adalah anggotanya, sementara saat itu Ready masih sibuk mencicipi berbagai genre mulai dari grind sampai Drum N Bass, sambil menjadi freelance photographer yang sempat beberapa kali memotret Bang Bang Shoes sebelum akhirnya menjadi bagian dari Backwood Sun yang terbentuk tahun lalu. “Sebenarnya musik Bang Bang Shoes dan Backwood Sun sendiri nggak jauh berbeda, intinya masih harmonisasi vokal, cuma kalau sebelumnya kental dengan psikedelia berbalut overdrive, nah di Backwood Sun ini lebih akustik dan clean,” ungkap Lim yang menjadi songwriter dan komposer utama. Lalu apa arti nama band ini sendiri? “Backwood Sun itu kalau dijabarkan dalam Bahasa Indonesia yang baku berarti ‘Matahari di Desa’, kenapa demikian? Karena suasana itulah yang coba gue bangun dalam materi yang sedang digarap ini, suasana yang hangat, mungkin.” Jawab Lim sambil tersenyum.

Mendengarkan lagu-lagu seperti “Got a Morning”, “Red Valley” atau “Wilderness” dari demo album mereka, The Mystery of Woods, imaji yang terlintas di benak saya adalah perjalanan ke pegunungan asing saat matahari mulai tenggelam. There’s a sense of some warmness namun di saat yang sama juga terasa mendebarkan. Mereka sendiri mengaku influens terbesar dalam bermusik datang dari musisi 60 dan 70-an seperti Bob Dylan, The Byrds, Beach Boys, Graham Nash, Neil Young, Vashti Bunyan, Kitaro, sampai Richard Stoltzman dengan menekankan harmonisasi pada bagian vokal dan unsur psikedelia dalam musik yang mereka sebut Magic Folk. “Wait, Magic Folk?” Tanya saya, Ready pun mencoba menjelaskan, “Kami masing-masing punya karakter dalam satu band, karena semua personel punya selera masing-masing nggak cuma folk saja, jadi kami mix sedemikian rupa sehingga terciptalah apa yang kami sebut Magic Folk,” penyataan Ready kemudian diteruskan oleh Chandra, “Di dalam musik kami terdapat banyak unsur, ada unsur budaya Barat dan Timur dengan folk sebagai garis besarnya.” Sementara untuk soal lirik, seluruhnya diserahkan kepada Lim yang banyak terinspirasi dari mimpi-mimpi yang ia alami (dia seorang lucid dreamer), yang saya rasa cukup menjelaskan dari mana asalnya lirik bernaratif dalam setiap lagu mereka.

Well, I don’t know it’s because magic or not, faktanya adalah walau hanya berbekal album demo berisi 5 lagu yang direkam di kepingan CD-R, lagu mereka bisa menarik pendengar dari banyak negara seperti Amerika (“Yang paling banyak di fan page Facebook kami.” cetus Lim), Inggris, Yunani, Jepang, Meksiko dan salah satu single mereka “The Man Has Come” juga terdapat di situs label Inggris bernama TakeAimFire. Walau mengaku musik hanya sampingan dari daily job mereka, tapi mereka terlihat cukup serius dalam bermusik. Band yang telah bernaung di Sinjitos Records ini tengah menyiapkan album penuh yang rencananya dirilis tahun depan. Masih lama memang, namun untuk saat ini kamu bisa menunggunya dengan mendatangi berbagai gig mereka yang semakin padat dari hari ke hari atau menonton live session mereka di Black Studio yang diunggah di YouTube baru-baru ini. Ibarat hari, mereka baru saja memasuki awal pagi yang cerah, dan saya percaya there’s even brighter days waiting for them.

 

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur.

Let It Flow, An Interview With Swimming Elephants

Bagi Swimming Elephants, bermusik tanpa harus menjadi pretensius itu jauh lebih menyenangkan

Ketika pertama kali mengetahui eksistensi band ini dari blog musik seorang teman, rasa tertarik langsung muncul ketika membaca nama mereka yang unik. Rasa tertarik itu semakin berkembang ketika mendengar single pertama mereka yang berjudul “At the Zoo”, sebuah lagu yang menangkap perhatian sejak ketukan drum pertama dan membuat kita terhanyut untuk mendengarkannya sampai selesai berkat aransemen yang terasa mengalir. “Let it flow” adalah esensi yang saya tangkap dan frasa yang sama mungkin juga dapat mewakili konsep Swimming Elephants itu sendiri. Bayangkan saja, sejak band ini terbentuk di tahun 2009, pengalaman live performance mereka dapat dihitung dengan jari, salah satu yang paling berkesan adalah ketika tampil di Jaya Pub, di mana penampilan mereka mendapat respons yang begitu positif. Minimnya jam terbang bukan disebabkan tidak ada tawaran, tapi karena daily job yang hanya mengizinkan mereka tampil di akhir pekan. Keenam personel Swimming Elephants memang memiliki kesibukan masing-masing di luar musik, vokalis/gitaris Rizki Yogaswara (Yogas) bekerja sebagai telco engineer, gitaris Gilar Di Aria (Gilar) adalah pegawai kantoran, drummer Wisnu Andita Rahmadi (Ninu) bekerja di perusahaan leasing, vokalis/keyboardist Saras Juwono seorang environmental engineer dan keyboardist Aprilia D. H bekerja sebagai graphic designer, sedangkan bassist Ranggi Mukti Rakasiwi yang berhalangan hadir untuk photo shoot artikel ini adalah seorang product designer.

Berawal dari Yogas, Ninu dan Gilar yang sudah saling mengenal sejak bersekolah di SMP yang sama, mereka sering mengisi waktu luang mereka dengan iseng bermain musik, satu aktivitas yang jika meminjam istilah mereka bisa disebut dengan “pertemanan permusikan”. Kegiatan ini terpaksa berhenti ketika Gilar pergi ke Melbourne untuk studi perfilman. Selesai kuliah, Gilar kembali ke Jakarta dan mengajak Yogas dan Ninu untuk membentuk band yang membuat dan menyanyikan karya mereka sendiri. Mereka kemudian mengajak Saras dan disusul oleh April dan Ranggi yang resmi bergabung di bawah nama Swimming Elephants sejak dua tahun lalu. “Untuk nama, kebetulan waktu itu gue teringat salah satu scene dari film Tarsem Singh yang berjudul The Fall, dan gue suka aja kalo scene itu digambarin secara literal, syukur-syukur setelah dirembukin ternyata yang lain pada setuju.” Jelas Gilar tentang nama bandnya. Lalu bagaimana mereka mendeskripsikan musik yang mereka mainkan? Yogas menjawab pertanyaan saya dengan berkata: “Masalah genre kita nggak pernah ngebatesin, begitu juga influens. Apa yang klop sama kita aja. Masing-masing personel punya selera sendiri walaupun agak mirip. Nah benang merahnya itu mungkin yang jadi Swimming Elephants. Walaupun influens macem-macem, aliran musik masih dalam wadah pop kok.” “Mungkin playful pop kali ya?” cetus Gilar sebelum dijawab oleh Ninu, “Nggak ngerti soal genre, yang gue tau cuma mainin musik yang cocok di hati.”

Kalimat Ninu tersebut dapat mencerminkan sikap mereka dalam bermusik. Musik bagi mereka bukan sebagai sarana untuk mencari uang, band ini pun mereka anggap sebagai workshop untuk bermain musik dan cara berekreasi untuk melepas kejenuhan dalam bekerja. Prioritas mereka bukanlah mencari label rekaman, membuat album paling hebat, mencari popularitas dan motif-motif pretensius lainnya. Karena itu mereka tak merasa harus dikejar target untuk membuat album atau video klip sebagai media promosi, Atas dasar semangat bersenang-senang yang sama juga, mereka saling memberi kebebasan untuk membuat lagu atau saling bertukar instrumen di setiap lagu yang berbeda ketika sedang berada di atas panggung. Walaupun begitu, mereka satu suara ketika mengungkapkan rencana mereka dalam waktu dekat ini, yaitu mengumpulkan materi-materi yang belum selesai dan membuat lagu baru untuk dijadikan EP yang diharapkan dapat keluar tahun ini serta memperbanyak jam terbang untuk tampil di gigs.

Untuk menutup sesi interview kali ini saya pun meminta pendapat mereka tentang musik Indonesia saat ini, masing-masing personel memiliki pendapat sendiri, di antaranya menurut Gilar: “Apresiasi mayoritas pendengar musik lokal agak backwards menurut gue, karena buat sebagian dari mereka, musisi lokal yang paling bisa menyerupai band atau musisi luar malah bagus, Kebanyakan mentalitasnya masih mentalitas fans cover band, bukannya mencari honesty atau mungkin bahkan originality, nggak salah sih, tapi sayang aja.“ Sedangkan Saras berpendapat “Benar-benar berkembang pesat dan tiba-tiba, sudah seperti ledakan penduduk. Kayaknya sekarang ini banyak banget orang yang menjadikan bermusik sebagai main income-nya. There is absolutely nothing wrong with that, cuma suka miris aja karena seringkali musik sekedar dijadikan bahan untuk jualan, instead of something to pamper the ears.”

Dari jawaban tersebut jelas terlihat walaupun proyek musik ini terkesan santai, mereka pun sebenarnya sangat concern dan tanggap terhadap scene musik Indonesia saat ini. Untuk sekarang, biarkan mereka merenangi arus mereka sendiri dan kita pun masih di sini dengan sabar menunggu karya-karya mereka selanjutnya.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Photo by Anton Jhonsen.

The Alpha Kids, An Interview With L’Alphalpha

Seperti anak kecil yang menggemaskan, L’Alphalpha dengan cepat menjadi kesayangan semua orang.

Selalu ada dinamika dalam perkembangan musik indie di Indonesia, terlepas dari perdebatan panjang tentang definisi musik “indie” itu sendiri. Ibarat pasang-surut, ada masa di mana muncul begitu banyak band indie berkualitas dan setelah itu tiba tahun-tahun stagnansi tanpa hadirnya nama yang standout. Untungnya, saat ini kita sedang memasuki fase “the next wave”, ditandai oleh band-band baru dengan warna yang terasa segar dan berbeda. Darimana barometernya? Tidak usah jauh-jauh, lihat saja sejumlah gigs yang sedang gencar digelar dan amati nama-nama yang menghiasi headline-nya, salah satu yang paling bersinar adalah sebuah band asal Jakarta yang bernama L’Alphalpha. Band yang belakangan merajai berbagai gig di Jakarta dan Bandung setelah merilis album debut berjudul When We Awake, All Dreams Are Gone.

Berbicara tentang L’Alphalpha, prinsip “the more is the merrier” dapat menjadi kalimat kunci untuk membukanya. Berawal dari sepasang teman bernama Yudhistira Mahendra (Yudish) dan Herald Reynaldo (Herald) yang membentuk band acoustic noise pop dengan nama Alphalpha, yang diambil dari nama salah satu anak kecil di film Little Rascal, sebelum akhirnya berkembang menjadi band empat orang dengan Tercitra Winitya (Ciwi) di keyboard dan Ildo Reynardian (ildo) sebagai drummer, menggantikan posisi Yudish yang akhirnya beralih menjadi gitaris. Menandai awal yang baru, mereka memodifikasi nama band dengan tambahan “L apostrof “ seperti ejaan Perancis dan merekrut dua personil lagi yaitu pianis Byatriasa Ega (Yayas) dan pemain biola Purusha Irma (Irma) yang sesuai dengan tujuan mereka yang ingin terdengar lebih megah dan konseptual. Formasi enam personel inilah yang menjadi L’Alphalpha yang kita kenal sekarang, sebuah band yang musiknya kerap didefinisikan sebagai post-rock, Skandinavia dan ambience, tapi bagaimana mereka memandang musik mereka sendiri? “Orang bilang musik kami agak Skandinavia, agak post-rock, gue sih setuju tapi sebenarnya dibanding genre kami lebih suka menyebutnya sebagai konsep. Konsep kami intinya musik yang ambience dan sinematik. Karena kebetulan di album ini yang dominan nulis lirik itu gue maka memang cenderung ke post-rock.” jelas Herald si vokalis.

Proses membuat album ini sudah dimulai sejak tahun 2009 namun tersendat di tahun pertama karena masalah budget dan kendala waktu, sebagian personel berdomisili di Jakarta sementara Herald dan Ciwi saat artikel ini ditulis masih tercatat sebagai mahasiswa di ITB, dan sempat membentuk band indie pop bernama Jodi In The Morning Glory Parade. Baru di tahun kedua mereka fokus menggarap album yang tadinya direncanakan hanya sebagai album mini dan dijalankan dengan etos Do It Yourself. Mereka dengan berani memilih jalur self-release, di mana mereka mengurus segala sesuatunya bahkan memasukan setiap keping CD dengan tangan mereka sendiri. Ketika launching di HeyFolks! pun mereka mengurus dekorasi hingga sound system sendiri. “Capek tapi terbayar dengan rasa puas, kami menjalani prosesnya dari awal dan jadinya lebih menghargai musik kami sendiri. Puasnya lebih terasa dan ownership-nya jadi lebih tinggi juga.” Tutur Herald, “Begitu tau kami self-release, teman-teman mendukung dengan turun tangan langsung secara maksimal. Jadi untuk band manapun, jangan takut self-release karena pasti banyak orang-orang yang akan membantu,” sambung Yudish. Proses mengurus pemesanan CD pun menjadi kepuasan sendiri ketika membaca pesanan yang datang dari Kalimantan hingga Cina. “Nggak nyangka aja musik kami sampai ke tempat yang bahkan belum pernah kami kunjungi, ini juga salah satu keuntungan self-release, karena kalau lewat label kami nggak akan tau sudah sampai kemana saja flow album ini “ ujar Yudish. Walaupun nama mereka sedang melambung tinggi, mereka mengakui masih agak terkejut dengan banyaknya orang yang menyukai mereka, “Mungkin yang paling bikin seneng sih kalau buka last.fm, biasanya kan top listener-nya kita-kita sendiri, sekarang udah gak tau siapa.” Celetuk Herald sambil tersenyum.

Salah satu yang unik dari band ini adalah walaupun mereka memainkan musik yang terdengar dingin dan muram, mereka memasukkan toys instrument dalam aransemennya sehingga terdengar lebih dreamy serta membuat packaging yang terkesan manis. “Waktu kita masih berdua, Herald selalu bilang cover itu penting. Kita bisa tau Rolling Stones atau Beatles dari cover albumnya aja, hal itu kemudian terpatri dan ketika akhirnya beneran bikin album, kita serius mikirin kemasan yang cocok dan memorable.” Jelas Yudish. Album debut mereka akhirnya dikemas seperti buku dongeng pengantar tidur dengan ilustrasi klasik khas buku Enid Blyton. Proses mencari ilustrator yang cocok pun cukup memakan waktu, setelah browsing sana-sini, akhirnya yang mereka cari datang dari lingkungan pertemanan mereka sendiri dengan dipilihnya Diani Apsari, senior Herald di kampus, yang membuat semua artwork berbasis cat akrilik di album yang mengangkat tema mimpi ini. Berbicara tentang mimpi, mimpi apa yang belum terwujud? “Kami ingin membuat konser berskala besar, mungkin dengan konsep orkestra atau berkolaborasi dengan musisi Indonesia idola kami. Kalau launching kemarin kan hanya sekedar showcase dan media gathering, jadi impian paling dekat adalah konser, doakan saja semoga ada yang mau mensponsori.” Jawab Yudish mewakili rekan-rekannya. Untuk band seperti L’Alphalpha, saya rasa hal itu bukan sekedar mimpi kemarin sore, mereka jelas punya passion dan drive yang mampu mewujudkan setiap mimpi indah mereka.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen.

http://www.lalphalpha.com/

Rebel With A Cause, An Interview With Hightime Rebellion

Tidak ada cara yang paling asik untuk berontak selain lewat musik. Hightime Rebellion menunjukkan caranya.

Ketika kami sedang menyusun rubrik Radar untuk Music Issue tahun lalu, kami menghabiskan waktu dengan mendengarkan begitu banyak musik Indonesia dari berbagai genre. Salah satu yang akhirnya terpilih adalah band asal Jakarta bernama Hightime Rebellion yang menarik perhatian kami begitu mendengar lagu mereka. Dimotori oleh vokalis Miyane Soemitro, vokalis/pianis/songwriter Rendy Surindrapati, gitaris Jason Sutrisno, bassist Pulung Wahyuaji, gitaris Adji Dimas Ramayanda dan drummer Reza Arafat, formasi awal band ini tercipta ketika Rendy bertemu dengan Arafat di sebuah pesta, pertemuan itu kemudian berujung kepada ide untuk membuat suatu band. Arafat kemudian mengajak rekannya Pulung dan Jason untuk bergabung ke band yang kala itu masih belum memiliki nama, selang beberapa saat, masuklah Miyane menjadi vokalis sehingga konsep pun berubah menjadi duet vokal wanita-pria. Terakhir, Dimas yang sebelumnya menjabat sebagai drummer di band terdahulu Rendy ikut bergabung untuk menjadi partner Jason dalam departemen gitar. Mungkin masih banyak di antara kamu yang belum pernah mendengar nama mereka, tapi band yang terbentuk sejak tahun 2007 ini sudah memiliki basis penggemar tersendiri dan pengalaman di atas panggung yang cukup, di antaranya adalah saat mereka dua kali tampil di gig Superbad! Di manamereka dipercaya menjadi headliner utama dan Erlend Øyebeserta rekan-rekannya di The Whitest Boy Alive turut berdansa dan meneriakkan melody shout dari lagu “Sympathy For The Devil” ketika menyaksikan mereka membawakan lagu “Waking Hour” dan menginspirasi mereka untuk memasukkan melody shout itu ke proses recording lagu itu.

Saat diminta mendeskripsikan musik mereka, mereka balik meminta pendapat saya. Well, setelah mendengarkan beberapa lagu mereka, saya menarik kesimpulan jika garis besar mereka adalah pop dengan twist berupa reverb gitar dan aransemen yang agak psychedelic sehingga terciptalah wall-of-sound yang danceable. Selain aransemen yang terdengar begitu lush, vokal Miyane yang punya ciri khas tersendiri pun menjadi nilai jual istimewa dari band ini. Lalu sudah sampai mana proses pembuatan album mereka? “It’s called Magical Mystery…cause it’s still a mystery haha” Canda Miyane yang langsung disahuti oleh Rendy “Wow, that’s interesting… Sejujurnya untuk album, ibaratnya orang membuat ilustrasi masih dalam tahap sketching. Sudah pakai pensil, masih diwarnain tapi belum di-outline”. Pulung menimpali dengan berkata “Yang pasti, hope it will taste like your favorite food.” Untuk penulisan lirik, mereka mempercayakannya ke Rendy dan Miyane. Rendy yang bekerja sebagai penata musik untuk berbagai produksi iklan TV mengaku terinfluens oleh Bob Dylan, Fran Healy dan Richard Ashcroft saat membuat suatu lirik, “Biasanya dari sebuah melodi atau kata yang menarik. Kalau sudah ada satu yang nyangkut, sisanya akan tertulis dengan sendirinya seperti mengisi Teka Teki Silang.” Jelas Rendy, sedangkan Miyane yang mendapat inspirasi dari banyak musisi wanita seperti Karen Carpenter, Blondie dan The Pretenders dalam menulis lirik menjawab: “Adanya rangsangan dari melodi-melodi yang dimainkan berulang-ulang oleh cowok-cowok ini. Kalau tema biasanya hasil dari over-analyzed things in my head, haha.”

Mungkin masih agak lama sampai kita bisa mendengarkan album debut mereka, tapi beberapa lagu sudah dapat didengarkan di MySpace mereka, salah satunya adalah “Crest of Mind” yang juga dapat diunduh gratis. Saat saya mewawancarai mereka untuk artikel ini, mereka belum mempunyai manajer (walau tak lama kemudian mereka di-sign oleh FFWD Records) sehingga setiap personel memiliki peran dengan sendirinya sesuai karakteristik masing-masing. Ada yang luwes bila bertemu orang, ada yang cenderung teknis, ada yang jarang bicara tapi selalu memiliki solusi yang tepat. Saat sesi pemotretan dimulai, sedikit banyak terlihat beberapa karakter mereka, Arafat ternyata sangat luwes bila diminta berpose, sedangkan Rendy yang terlihat pendiam di depan kamera, adalah orang yang paling vokal ketika diajak berbincang tentang bandnya. Saya bertanya ke Miyane tentang bagaimana rasanya menjadi satu-satunya perempuan di kelompok ini, dan dia menjawab dengan antusias “Seperti Goggle Pink, seru rasanya! Kadang dimanja karena jadi satu-satunya cewek tapi terkadang harus jadi ibu-ibu cerewet yang harus ngawasin mereka. Love them!” ungkapnya. Dari pandangan mata, jelas terlihat mereka sudah sangat nyaman berada di antara satu sama lain, Rendy pun menyudahi interview ini dengan berkata, “Selalu bercanda dan tertawa bersama menurut saya adalah kunci supaya kami kompak, kalo main musik terlalu serius it’ll ruin the whole concept of rock n’roll.”

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen.

Pura Vida, An Interview With Las Robertas

“Pura Vida” yang berarti “pure/good life” adalah frasa paling khas dari masyarakat Costa Rica, negara asal Las Robertas. Frasa yang sama juga dengan tepat menggambarkan musik mereka. 

It was a typical day in San José, Costa Rica. Matahari bersinar cukup terik dengan angin yang sesekali bertiup di negara Amerika Tengah yang mendapat sinar matahari sekitar 2040 jam per tahunnya ini, cuaca yang membuatmu ingin pergi ke pantai untuk surfing atau sekedar berjalan-jalan. Namun, Monserrat Vargas, penduduk asli San José yang juga bassist dan vokalis trio Las Robertas, justru memilih menghabiskan harinya di dalam rumah dengan menonton film dokumenter Fugazi yang berjudul Instrument sambil sesekali berbincang dengan sang drummer, Franco Valenciano, tentang acara TV konyol yang baru-baru ini ditontonnya. “Kami bertemu sekitar 3 tahun lalu, Meche (Mercedes Oller, vokalis/gitaris) dan saya melihat Franco bermain dengan bandnya saat itu, kami sangat ngefans dengannya jadi kami mengajaknya bergabung di band baru kami dan dia bilang dia mau asalkan dia boleh tampil dengan memakai dress dan wig. We were totally fine with that.” ungkap Monserrat tentang sejarah terbentuknya band mereka.

Dengan referensi dari berbagai girl group, musik soul 60-an, musik ye-ye Perancis dan band-band 90-an seperti Black Tambourine, Sonic Youth dan The Breeders, mereka merilis Cry Out Loud, album debut berisi 10 lagu garage/noise pop/surf rock berbahasa Inggris dengan durasi singkat (kurang dari 4 menit) yang dipenuhi bebunyian fuzzy, nostalgic reverb. Monserrat dan Mercedes menepati janji mereka untuk membiarkan Franco tampil di gig-gig awal Las Robertas sebagai drummer cewek bernama Ana Maria, yang membuat banyak orang terkecoh dan mencap mereka sebagai all-girl band selayaknya Dum Dum Girls dan Vivian Girls, sebuah mispersepsi yang menjadi inside joke tersendiri tentang gender seperti halnya nama band mereka. “Meche yang memilih nama itu karena menurutnya nama Roberta terdengar maskulin dan feminin di saat yang sama. Dan dia sebagai seorang musisi tak ingin dipandang dari jenis kelaminnya saja.” jelas Monserrat.

“Kami tak terlalu memikirkan tentang apa yang ingin kami buat, kami hanya memainkan apa yang terlintas di kepala, karena itu kami tak bisa menyebut dengan tegas genre apa yang kami bawakan. Kurasa garage cukup mendekati, tapi does it really matter?” Monserrat balik bertanya saat saya menanyakan arah bermusik mereka. No is the clear answer, tak penting label apa yang orang lekatkan ke mereka, nyatanya berkat single-single seperti “In Between Buses”, “Ghost Lover” dan “Ballroom”, mereka tak hanya menjadi band yang dikenal di kawasan Amerika Latin. Tahun lalu mereka tampil di New York dan festival SXSW, diantara banyak kesibukan mereka lainnya. Franco yang kini tak lagi menyamar sebagai perempuan memiliki dua band lain, yaitu Zopilot dan Monte, Mercedes telah menyelesaikan studinya di jurusan Interior Design, sementara Monserrat tampil bersama The Great Wilderness, bandnya yang lain. Di awal tahun ini, mereka sedang kembali ke studio menyiapkan LP kedua mereka yang diharapkan bisa dirilis pada akhir bulan Maret dan sebuah tur Eropa.

Entah ini relevan apa tidak, mungkin kamu belum tahu jika Costa Rica sekarang memiliki seorang presiden perempuan pertama di sepanjang sejarahnya. Saya pun bertanya kepada Monserrat, apakah hal itu memiliki pengaruh terhadap dirinya sebagai seorang musisi perempuan di Costa Rica? Gadis cantik ini menjawabnya dengan lugas, “Tidak juga, kami tidak pernah melihat musik dari sisi gender. Kurasa menjadi musisi di Costa Rica sama beratnya bagi cowok ataupun cewek. Hal tersebut lebih tentang bekerja keras dan melakukan apa yang bisa kamu lakukan dengan kemampuanmu sendiri, tak peduli kamu cewek atau cowok.”

As published in NYLON Indonesia March 2012

Photo by Natalia Sanabria 

Tricky Two, An Interview With Röyksopp

Bagaimana mengatasi kejenuhan tampil di panggung? Röyksopp tahu salah satu triknya.

Berbincang dengan Svein Berge dan Torbjørn Brundtland dari Röyksopp ternyata adalah pengalaman yang menyenangkan. Sebelumnya saya selalu membayangkan duo asal Tromsø, Norwegia, ini sebagai tipikal orang Skandinavia yang dingin dan irit bicara, tapi anggapan itu langsung lenyap saat mereka memasuki ruangan interview dengan tersenyum lebar dan menyalami semua orang dengan antusias. Walaupun secara fisik mereka terlihat bertolak belakang, Svein memakai tee bergambar Ralph Wiggum dari The Simpsons, leather jacket dan kulit berwarna tan hasil liburan tiga minggu di Aussie, sementara Torbjørn yang berkulit lebih pucat terlihat preppy, namun mereka berdua sangat santai dan kompak saat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan, sama kompaknya ketika sedang membuat album-album keren seperti Melody A.M., Junior dan Senior atau saat tampil di festival-festival musik berkelas di seluruh dunia.

Pertanyaan pertama yang tercetus adalah soal album baru mereka yang menurut kabar akan dirilis September tahun ini. “Fingers crossed, yes, tapi belum pasti di bulan September. Yang jelas tahun ini kami akan merilis album baru, entah dalam bentuk fisik atau digital.” Jawab Svein sambil mematikan iPhone-nya yang tiba-tiba berdering. Disinggung tentang kolaborasi yang kira-kira akan muncul di album baru, Torbjørn menjawab, “Kami selalu ingin bekerjasama dengan bakat-bakat baru di luar sana, Tapi kurasa yang paling penting saat ini adalah originality, karena itu kami selalu bekerjasama dengan sosok-sosok menarik seperti Robyn, Lykke Li atau Fever Ray.” Uhm bagaimana dengan Britney Spears? tanya saya, karena sebelumnya ada rumor yang mengatakan pihak Britney pernah meminta mereka me-remix lagunya namun mereka menolak. “Saat itu kami menolak karena kami tidak punya waktu dan sibuk dengan pekerjaan lain, dan kami rasa saat itu juga bukan waktu yang tepat,” ungkap Svein, sebelum diteruskan oleh Torbjørn, “Sebetulnya lebih karena tidak ada waktu, namun orang menganggapnya sebagai sebuah statement dari kami. Untuk me-remix sebuah lagu kami tidak pernah menargetkan apapun, hal itu sangat random. Jika kamu mendengar lagu yang tepat di saat yang tepat pula, then you got this fire.”

Sebagai ujung tombak dari Bergen Wave, scene musik Norwegia yang meraih popularitas dunia, Röyksopp memulainya dari techno scene di kota asal mereka. “Hal itu bermula saat transisi antara tahun 80 dan 90-an, banyak orang yang berpergian ke luar negeri pulang kembali dengan membawa koleksi vinyl lalu mulai memasangnya di program radio lokal dan membuat pesta-pesta seru, di mana kami harus menyelinap masuk karena masih di bawah umur, haha.” kenang Torbjørn. Dari situ juga akhirnya muncul ketertarikan mereka akan visual aesthetic sebagai bagian dari musik yang mereka usung, yang terlihat dari kostum, video dan press photo mereka yang selalu memiliki konsep khusus. “Kami banyak menghabiskan waktu untuk mencari orang-orang kreatif yang sama gilanya dengan kami. Untuk kostum, kami sering bekerjasama dengan desainer Norwegia seperti Camilla Bruerberg. Bersama-sama kami berdiskusi tentang konsep yang ingin ditampilkan di atas stage. Sisi artistik itu yang membuat kami bersemangat tampil sampai saat ini.” tutup Svein sambil tersenyum.

As published in NYLON Guys Indonesia April 2012

Foto oleh Rizhky Rezahdy

High And Dried, An Interview With Dried Cassava

Tanpa perlu berekspektasi terlalu tinggi, Dried Cassava membuktikan mereka siap melompat lebih jauh bersama album debut mereka, Mind Thieves.

Memang tak ada yang lebih menyenangkan daripada bermain band dengan teman-teman yang sudah akrab sejak lama, salah satu contohnya adalah Dried Cassava, band Jakarta yang menarik perhatian para pencinta musik berkat lagu-lagu alternative rock mereka yang kental dengan unsur blues dan funk. Terdiri dari vokalis & gitaris Baskoro Adhi Juwono, drummer Kago Mahardono, bassist Bana Drestanta dan Nandie Daniel Febryan sebagai gitaris, rasanya memang sudah cukup lama kita tak mendengar band Indonesia dengan aransemen funk yang begitu asik tanpa terkesan berlebihan, dan keempat lulusan SMA Pangudi Luhur Jakarta ini berhasil melakukannya nyaris tanpa cela. Setelah bulan lalu saya sempat menulis sedikit tentang album debut mereka yang berjudul Mind Thieves, menjelang sore di bilangan Kemang saya berkesempatan untuk mengobrol langsung dengan band yang terbentuk tahun 2005 ini.

“Awalnya gue sama Nandie suka main akustikan, terus akhirnya diseriusin bikin band dengan ngajak Kago dan Bana. Pertama-tama kami sering mainin lagu-lagu Rage Againts the Machine, Incubus dan Radiohead, ikutan kompetisi sampai akhirnya mulai membuat lagu sendiri, tapi belum terpikir untuk sampai bikin album. Dulu kita berharapnya sih ditarik sama label, tapi kalau nungguin ditarik label itu rasanya terlalu lama jadi kami ngumpulin uang sendiri, rekaman di Sinjitos sampai akhirnya kami rilis Mind Thieves di bulan Juni kemarin.” Ungkap Baskoro yang akrab dipanggil Abas tentang bagaimana mereka terbentuk.

Selalu ada cerita menarik tersendiri jika berbicara tentang nama band, tak terkecuali bagi Dried Cassava, nama yang mungkin akan membuat sebagian dari kita mengerutkan kening dan bertanya-tanya. “Kami baru sadar arti Dried Cassava itu sekitar dua hari setelah ditentukan, jadi ceritanya kami mau ikut satu gig yang paling besar, jadi kami memutuskan cari nama yang akan dipakai seterusnya. Gue random buka-buka kamus lalu menemukan dua kata itu, dried cassava, yang terjemahannya di kamus itu adalah ‘gaplek’, gue kira gaplek di situ adalah kartu domino, personel yang lain juga sudah setuju dan nggak ada yang sadar artinya. Baru ketika sudah masuk poster, ada teman gue yang nanya ‘Eh nama band lo itu Dried Cassava ya? Itu artinya bukannya singkong kering ya?’ terus dari situ gue baru sadar, ternyata gaplek yang dimaksud di kamus itu adalah sejenis makanan tradisional yang terbuat dari singkong haha” cerita Nandie panjang lebar tentang nama bandnya yang langsung disambut tawa keras teman-temannya.

Seperti yang telah saya tulis, mereka memang membawakan musik dengan aransemen funk yang kerap mengingatkan orang akan lagu-lagu awal Incubus walau tentunya mereka mempunyai twist-twist tersendiri dalam mengemas musik mereka. “Kalau ditanya genre, pas bikin lagu kita nggak pernah yang sengaja mau bikin lagu pop atau funk, biasanya ya bahasa simpelnya sih ‘nih gue ada lagu pelan, atau nih gue ada lagu tapi baru piano doang’” terang Abas begitu ditanya tentang konsep musik yang mereka usung. Mendengarkan beberapa track dalam album Mind Thieves seperti “Menjual Kaum Hawa”, “Be Myself” dan “Freefall”, setiap lagu terdengar memiliki cirinya tersendiri dan jauh dari kata repetitif, saya pun bertanya tentang proses pembuatan lagu-lagu mereka dan apakah cukup mewakili setiap personel, “Mungkin ide awalnya kebanyakan dari gue atau Abas, tapi dalam prosesnya sampai lagu itu jadi ada kontribusi dari semua personel, misalnya lagu ‘Mr.Woody’ ada unsur reggae-nya, itu idenya dari Kago. Karena gue pikir kalau kita main band berempat ya idenya juga harus datang dari kita berempat. Yang penting lagu itu terdengar harmonis di telinga kami berempat dan sudah nyaman belum kita maininnya.” Jawab Nandie dengan serius.

Lalu, bagaimana dengan produksi Mind Thieves itu sendiri? “Untuk materi sudah terkumpul lama terus rekamannya sekitar tiga bulan, yang bikin lama itu persiapannya  karena kami kan ngurus segala sesuatunya sendiri.” Ungkap Abas. “Soalnya nggak merasa cocok sama beberapa label yang approach kami dan ada kekhawatiran kalau takutnya hal-hal yang dikerjakan sama label ternyata bisa kami kerjakan sendiri. Ya ada untung-ruginya, yang terasa itu mungkin masalah distribusinya, tapi di sisi lain uang yang didapat juga langsung masuk ke band.” Timpal Nandie. Untuk masalah promosi sendiri, sama seperti mayoritas band saat ini, band yang turut tampil di Java Rockin’ Land tahun lalu ini juga memanfaatkan situs social network, khususnya Twitter. “Besar banget pengaruhnya ya, kami jadi bisa tahu kalau ternyata single ‘Paradox’ kami menjadi heavy rotation di salah satu radio di Pontianak dan banyak yang request, lucu juga sih padahal gue sendiri nggak tahu Pontianak di mana, belum pernah kesana haha” ungkap Abas yang  memancing tawa personel lain yang kemudian dengan kesengajaan yang usil bertanya kepadanya di mana letak kota itu (“Kalimantan…” – jawab Abas dengan tersenyum). Sepanjang interview ini memang terasa kalau mereka telah lama berteman, banyak tawa dan ledekan-ledekan kecil yang saling mereka lempar satu sama lain, pertemanan yang terjalin sejak masih memakai seragam sekolah sebelum mereka melanjutkan kuliah di universitas yang berbeda-beda. Apakah ada masalah tentang hal itu? “Mungkin ada masalah sedikit di jadwal, kalau ada yang ujian atau apa ya terpaksa harus cari additional player. Kalau sekarang sih sudah beda sama dulu ya, kalau dulu kami ingin banget ke atas jadi kalau ada tawaran manggung ya diambil semua walaupun ada personel yang nggak bisa,” jelas Abas. “Biasanya yang diganti itu gue, soalnya jadwal kuliah gue kadang-kadang sampai hari Sabtu, padahal gig justru banyaknya pas weekend kan,” sambung Kago. Azas pertemanan itu tak berhenti di personel band saja, dua manajer dan additional player mereka juga direkrut dari teman-teman SMA mereka. “Mungkin itu kekurangan kami juga, karena awalnya kami ngeband cuma buat have fun, ngeband ya main aja nggak mikir tentang manajemen atau apalah tapi pas bikin album ya sadar ternyata nggak bisa gitu juga, nggak bisa santai-santai terus, harus ada yang ngurusin dan follow up juga.” Ucap Abas.

Mungkin terlalu dini untuk berandai-andai akan seperti apa Dried Cassava nantinya, untuk sekarang mereka mengaku menikmati saja apa yang telah mereka lakukan dan tak bisa dipungkiri jika album pertama adalah salah satu momen paling penting bagi sebuah band, demikian juga yang dirasakan oleh mereka. “Yang pasti lega sih. Ibaratnya album ini adalah dokumentasi perjalanan Dried Cassava dari terbentuk sampai hari ini, banyak yang positif walaupun ada juga yang negatif. Suatu kebanggaan yang tiada tara untuk kami.” Tutup Nandie sambil tersenyum.

As published in NYLON Indonesia October 2011

Foto oleh Philea Adhanti

World Citizens, An Interview With Young Magic

Young Magic mendokumentasikan setiap kota dan memori dalam perjalanan lewat album debut mereka, Melt. 

Hi Lex, sorry for the long delay, we’ve just got back from a crazy time in Texas,” demikian Melati Malay, vokalis/gitaris dari trio kolektif musisi Young Magic, membuka email balasan interview yang memang telah cukup lama saya tunggu. Perjalanan mereka ke Texas untuk tampil di SXSW memang bisa dibilang cukup gila di mana Melati bersama dua rekannya, Isaac Emmanuel (vokalis/sampler) dan Michael Italia (perkusi/sampler) harus hitchhiking ke venue festival tahunan tersebut dan berhadapan dengan soundman yang tidak becus sehingga show pertama mereka cukup berantakan. Untungnya, penampilan kedua mereka yang mendapat jadwal sebelum Chairlift adalah kebalikannya, semua berjalan lancar dan mereka bisa tampil maksimal.

Well, berkendara ke Texas selama 30 jam dan harus langsung naik ke atas panggung begitu sampai memang terdengar tak menyenangkan, namun mereka bertiga telah terbiasa dengan perjalanan jauh, termasuk ke Reykjavik untuk tampil di Iceland Airwaves bulan Oktober lalu, tour keliling Amerika Serikat dan Kanada bersama Youth Lagoon, dan saat membalas email ini pun mereka sedang berada dalam mobil dari Washington DC menuju Chicago untuk mini tour bersama Korallreven. Proyek musik ini berawal saat Isaac meninggalkan rumahnya di Australia dengan hanya membawa sebuah koper untuk menyusuri Eropa, New York lalu ke Meksiko sambil membuat musik dengan instrumen apapun yang bisa ia temukan. Saat di Meksiko, ia menghubungi teman lamanya di Melbourne, Michael, yang ternyata juga sedang melakukan perjalanannya sendiri sambil membawa alat perekam portable untuk dokumentasi. Mereka memutuskan bertemu di New York bersama teman lama mereka, Melati, seorang vokalis kelahiran Indonesia yang berdomisili di Brooklyn dan akhirnya sepakat menyatukan musik masing-masing dengan menyewa tempat di atas bekas panggung cabaret tahun 1920-an di kota Big Apple tersebut. “New York mempunyai sejarah menarik tentang imigran, kaum nomad, dan budaya para pemikir revolusioner. Saya ingin dikelilingi energi tersebut dan berharap mendapat pengaruh dari hal itu.” tukas Melati tentang keputusan mereka berlabuh di New York.


Hasil dari tiga kepala dengan tiga cerita perjalanan yang berbeda tersebut adalah Melts, sebuah album debut rilisan Carpark Records yang mengaburkan batas masa lalu dan masa depan lewat unsur world beats, psych, dream pop hingga hip hop yang terwujud dalam lagu-lagu seperti “Sparkly”, “You With Air”, “Night In The Ocean”, termasuk lagu berjudul “Jam Karet”. Setiap lagu adalah kolase bunyi wanderlust yang dibuat di 10 kota dunia, meliputi Buenos Aires, Berlin, Melbourne, Bristol, Rio de Janeiro dan tentu saja, Brooklyn. “Saya rasa, unsur wanderlust itu adalah bagian tak terpisahkan dari kami dan tak sebatas eksplorasi dalam bermusik saja, namun juga menyentuh keseharian dan rencana kami yang akan datang. Tempat terbaik bagi saya adalah berdiri di ujung tebing sambil melihat lautan kemungkinan yang tak berujung. Musik kami adalah suara yang tercipta jika ada satu atau dua lapisan yang tercuri dari dunia nyata. There aren’t defined edges or obvious outlines that slap you in the face, instead, it all tends to bleed into each other.” ungkap Melati yang lahir di Jakarta dan menghabiskan masa kecilnya di Indonesia dengan naik kuda di Bromo, menyaksikan lelehan lahar Merapi dan belajar bermain Gamelan di kota asal ibunya, Yogyakarta.

Saat ditanya tentang musisi yang berpengaruh dalam musik mereka, Melati justru memberikan saya link ke beberapa mixtape yang telah mereka buat, dan salah satunya adalah The Maps, sebuah mixtape berisi lagu musisi favorit mereka (Prince Rama, Dom Salvador, Dorothy Ashby, dll), rarities, remixes, demo dan lagu-lagu b-side dari Melts yang bisa diunduh gratis di cargocollective.com dan juga diproduksi dalam bentuk kaset yang dikemas dengan halaman-halaman berwarna National Geographic. Sebuah langkah menarik yang juga memperkuat musik mereka yang memang kental dengan berbagai cultural image. Seperti biasa, saya menutup interview ini dengan bertanya tentang next project mereka sebelumnya, yang dijawab cepat oleh mereka dengan kalimat. “Another album, another adventure, another story.”

As published in NYLON Indonesia June 2012

Lovely Logic, An Interview With Munchausen Trilemma

Sometimes being left is so right. Atau setidaknya itu yang dirasakan tiga orang wanita di balik Munchausen Trilemma.

Munchausen Trilemma berawal dari keinginan Diantra Irawan, yang dikenal sebagai vokalis band bossa Bandung Hollywood Nobody, untuk belajar main gitar setelah banyak mendengarkan female singer/guitarist seperti Best Coast, Eisley dan Warpaint. Dian lalu iseng mengirim tweet yang mengajak pemain musik wanita untuk bertemu dan berbincang tentang musik, yang kemudian mempertemukannya dengan Riska Maharlika dan Vinda Monalisa. Walaupun usia mereka berbeda-beda, ketiga perempuan ini menemukan kecocokan baik dalam bermusik maupun hal-hal lainnya, termasuk satu persamaan di antara mereka yang menjadi fakta unik dari trio indie rock ini: mereka semua bertangan kidal. “Itu sama sekali tidak disengaja. Kami janjian ketemu, sedang makan, dan menyadari semuanya kidal. Tapi yang main instrumennya dengan tangan kiri sih Vinda. Dia main gitar kiri dan drum set nya juga dipindahin setting-nya khusus untuk left handed drummers. Saya dan Riska diajari untuk main gitar normal, kanan.” Ungkap Dian.

Dari situlah titik awal mereka bermusik bersama di bawah nama Munchausen Trilemma. Tanpa sungkan mereka mengakui jika skill mereka belum seberapa karena masih sama-sama belajar. Vinda dan Riska sebelumnya sering membantu band-band yang membutuhkan additional player, sementara Dian sendiri baru belajar gitar dalam hitungan bulan dan baru saja membeli gitar pertamanya yang diberi nama Fenny Rose. Namun, entah beginner luck atau bukan, versi demo single pertama mereka yang berjudul “If Loving You Is Heartbreaking” mendapat respons sangat positif saat dirilis sebagai free download. Dengan influens dari The Pains of Being Pure At Heart, Warpaint, Wye Oak, Yuck dan Best Coast, lagu ini merupakan perkenalan yang manis dari band yang terbentuk kurang dari setengah tahun lalu ini. Dengan intro suasana airport dan reverb gitar yang mengiringi vokal lirih Dian, lagu berwarna dream pop/shoegaze ini mau tak mau mengingatkan saya akan lagu-lagu indie Indonesia circa 90-an. “Munchausen Trilemma musiknya tidak ribet. Kami hanya memainkan beberapa kord simpel, dan sebaiknya menghindari kord B dan semua barred chord (palang) karena tangan saya kecil, dan saya belum mendalami kord yg sulit. Hahaha. Paling banyak 5 kord. Seputaran A-Em-G-Dm. Everyone could play it. Sound-nya memang agak kasar. Tidak rapi dan banyak yang bilang terdengar Lo-Fi dan rough. Basically, saya hanya membuat yang sanggup saya buat.” Jelas Dian tentang konsep musik mereka.

Bila dibandingkan saat tampil sebagai personel Hollywood Nobody atau live band Sarasvati, Dian mengungkapkan dirinya bisa tampil lebih lepas di band ini karena bisa bergaya seperti apa adanya dia sehari-hari, dengan gaya kasual, cuek dan lebih nge-rock. Dian pula yang membuat artwork desain untuk EP yang akan dirilis nanti. Saya pun memintanya menjelaskan arti di balik nama bandnya yang terdengar rumit ini. “Nama Munchausen Trilemma diambil dari istilah psikologi. ‘tidak ada satupun hal yang bisa dibuktikan kebenarannya 100%’, termasuk logika dan matematika. Kalau dijelasin, panjang banget. Saya memutuskan memakai nama itu setelah membuka-buka blog lama saya untuk inspirasi lirik, kemudian menemukan blog posting dengan judul itu. Saya baca lagi, dan suka. Akhirnya selain sebagai judul lagu, saya pakai untuk nama band. Saya pikir saya membuat lirik mengenai perasaan, cinta, dan semua yang tidak logis itu. Untuk membuktikan logika dan matematika saja tidak mungkin, apalagi perasaan. Your feelings belong to you, you don’t have to explain it to anyone. Kadang kita hanya ingin menyanyikan isi hati, tanpa berpikir apapun. Inilah yang saya lakukan di Munchausen Trilemma. Singing my heart out. “ Jawab Dian sambil menegaskan jika ia tak mau menyebut band ini sebagai side project dari Hollywood Nobody.

Kedepannya nanti, selain EP mereka juga akan membuat video hasil kerjasama dengan para seniman lokal. Dari ramainya yang membicarakan atau setidaknya me-retweet link akun Soundcloud mereka di timeline saya di mana sebagian besar dari mereka adalah rekan-rekan musisi dan yang aktif di scene musik lokal, it’s safe to say we all can’t wait to hear more stuff from them. Atas respons yang diterima Munchausen Trilemma sejauh ini, Dian mempunyai pendapatnya sendiri, “Semua orang bilang hal hal yang berbeda sih. But we love that people mostly say we bring 90s back. Who doesn’t love 90s?”

As published in NYLON Indonesia February 2012

Foto oleh Marnala Eros.