#30DaysofArt 30/30: Windi Apriani

Lahir di Bandung pada 10 April 1987, minat berkesenian dalam diri Windi Apriani sudah tertanam sejak dini. “Semenjak kecil saya sudah akrab dengan media lukis. Betapa tidak, memiliki seorang bapak yang hobi melukis sedikit banyak mempengaruhi bakat dan minat saya hingga kemudian saya diterima di FSRD ITB, membuat saya makin serius untuk menekuni jalur berkesenian. Yang mempengaruhi kekaryaan saya rasanya akumulasi dari masa kecil, hingga saat ini, dan pasti masa yang akan datang,” pungkas seniman yang dikenal dengan lukisan bermedium ballpoint dan oil di atas kanvas yang kerap kali berupa self-portrait dan menggambarkan simbolisme kehidupan domestik seorang wanita. Memiliki keluarga kecil bersama sang suami Agung Fitriana yang juga seorang seniman serta sang buah hati, peran barunya sebagai seorang istri dan ibu tak menyurutkan langkahnya dalam seni, hal itu justru menjadi katalis yang memperkuat konteks dalam karya wanita yang juga gemar membuat roti dan kue ini.

windiapriani 

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya selalu melihat bapak melukis, sejak saat itu mungkin ya. Hingga kemudian saya diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, membuat saya makin serius untuk menekuni jalur berkesenian.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Keinginan untuk menjadi seorang seniman adalah cita-cita saya sejak dulu, passion saya ada di situ, hal itulah yang mendorong untuk selalu produktif berkarya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Ada banyak ya, salah satunya Vilhelm Hammershoi, sebagai referensi pada beberapa periode awal karya saya.

windi-apriani-internal-dialogue-iii-ballpoint-and-oil-on-canvas-200x150cm-2016

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika masih mahasiswi, sebagaimana umumnya ada fase eksplorasi medium, pun gagasan visual dalam kekaryaan. Dari sekian medium yang pernah dicoba, semakin lama saya semakin nyaman menggunakan ballpoint dengan teknik/metode crosshatching.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saat aspek intrinsik dan ekstrinsik saling menunjang satu sama lain.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Secara umum, karya saya berangkat dari hal ihwal pengalaman personal, ihwal masa, ihwal momen, ihwal objek/benda-benda yg saling kait-mengait dan memorable bagi saya.

the-hush-sound

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya sebetulnya saat saya berumur 3 tahun, melukis dengan tangan, cat minyak di atas kanvas dan masih tersimpan sampai sekarang, hehe. Sedangkan pertama kali berpameran sewaktu mahasiswi dulu, pameran yang sifatnya lebih kepada karya studi. 

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Saya bersyukur atas apa yang saya jalani, setiap momen (kaitannya dengan karier kesenimanan dan aspek kekaryaan) saya rasa selalu berkesan.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya rasa cukup positif.

long-afternoon-shadows

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Cukup bagus. Menunjukkan grafik yang optimis.

What’s your secret skill besides art?

Hmmm, membuat kue dan roti.

rhythmical-afternoon

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di dapur, baking time.

Target sebelum usia 30?

Punya anak kedua.

after-nature

 

 

Advertisements

#30DaysofArt 29/30: Wastana Haikal

“Nama lengkapku Haikal, tapi aku coba tambahkan unofficial name di depan, yaitu Wastana (‘wasta’ di dalam Bahasa Sunda artinya ‘nama’, wastana = namanya). Why I chose this name because everytime I introduce my name, everybody always asking me my full name,” ungkap freelance graphic desainer kelahiran Bandung, 12 Juni 1994 yang baru saja lulus dari DKV ITB ini. Terinfluens dari kartun masa kecil seperti film-film Disney’s serta serial animasi Avatar: The Last Airbender, ia mengembangkan gaya ilustrasi yang terkesan quirky, vibrant, dan penuh detail. Maka tak heran jika ia pun menaruh minat khusus pada animasi. Proyek akhir kuliahnya berupa film animasi pendek 2D bertajuk Biwar yang berdasarkan folklore Papua adalah bukti dari talentanya yang menjanjikan.

haikal

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Specifically,aku lupa. Tapi, keluarga aku dari ibu dan ayah memang banyak yang tertarik terhadap seni dan estetis. Kakek aku, dua-duanya senang menggambar, tanteku tertarik dunia fashion, tante aku yang lain tertarik di bidang kerajinan, ibuku senang terhadap nilai estetis dalam berpakaian atau hiasan rumah. Jadi mungkin secara alami alam memperkenalkanku terhadap seni. Tapi untuk yang secara formal itu sepertinya terjadi waktu SD, jadi aku masuk ekstrakulikuler gambar, nah di situ gurunya adalah guru kelas keterampilan. Beliau adalah orang kedua yang sering melibatkan aku di dalam lomba gambar setelah ibuku.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Satu, tanggung jawab sebagai lulusan sekolah desain yang menurut aku emang harus selalu berkarya. Dua, mata pencaharian, haha. Tapi pada dasarnya aku senang banget buat sesuatu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Emte, NALU, Diana Volonskaya, Kelly Beeman, Ariel Victor, Zaruhi Galstyan, Rebecca Green, Oliver Jeffers, Rachel Ajeng, Alina Chau, Maruti Bitamin, and many more.

biwar

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Saat masuk kuliah, aku diperkenalkan dengan cat air oleh dosen gambar bentuk. Sebelum itu aku sudah tau apa itu cat air tapi belum pernah menggunakannya, lebih sering menggunakan pensil warna yang bisa di-blend menggunakan air. Nah, saat aku coba cat air, aku seneng banget. The after effect was mesmerized me. Stroke-nya sama hasil “beauty mess” yang ia hasilkan. Akhirnya mulai dari situ aku pakai cat air terus untuk membuat karya-karya manual. Pada satu waktu aku akhirnya beli pen tablet karena aku ingin mengasah skill digital drawing (cat air masih tetap berjalan). Intinya, sampai sekarang aku masih menjalankan manual dan digital karena aku merasakan ada keindahan tersendiri dari mereka berdua, dan terkadang mereka memiliki misi yang berbeda, dalam artian ada beberapa konsep karya yang aku rasa lebih cocok pakai manual, atau lebih cocok pakai digital sehingga aku menetapkan untuk mempertahankan itu.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Festive, vibrant, cheerfull, quirky, immature, detail, exaggerate.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama aku, kata ibuku adalah ikan lumba-lumba di lantai rumah pada saat umur 3 tahun. Dan semenjak itu aku terus menggambar sampai detik ini. Kalau official pameran aku yang pertama pas ada di tingkat 1 kuliah. Pameran tugas akhir tahun 1 untuk penentuan program studi di tingkat 2. Seperti mahasiswa yang lain, aku menampilkan tugas-tugas tingkat 1 seperti Nirmana, gambar bentuk, gambar konstruksi, dan lain-lain. I was so excited that time bukan karena pamerannya tapi karena persiapannya yang benar-benar mengerahkan 200+ orang satu angkatan untuk membuat pameran itu. Kami menginap di kampus, men-display, dan lain-lain.

untitled

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Berkesempatan meluncurkan buku ilustrasi anak pertama aku awal tahun 2016 di bawah asosiasi Room To Read dan PROVISI dan menyumbangkannya hampir ke seluruh perpustakaan terpencil di Indonesia bersama buku-buku dari ilustrator lain. Satu lagi, ini agak fanboyish tapi, I was so happy salah satu karya aku tentang Meghan Trainor mendapat apresiasi dari Meghan Trainor dan dia me-repost itu.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Aku bisa mendapatkan unlimited referensi. Like really. Unlimited. Jadi aku bisa tau orang-orang skill-nya udah sampai mana, media apa saja yang dipakai, tutorial, dan lainnya yang menyangkut kemakmuran skill kita. Dan kalau beruntung kita bisa personal message ke artist yang kita tuju dan menjadi teman di dunia maya. Tapi terkadang aku bakal mudah putus asa. So many talented people on internet. Dan nggak jarang karya mereka keren mampus. Dan kadang aku suka jadi down, putus asa, dan bahkan bisa sampai berhenti berkarya. Padahal mungkin aku harus sabar sedikit, siapa tau aku sedang on the way ke sana with more practice and intergrity atau aku memang nggak bisa kaya yang lain karena memang itu keunikan aku dan gimana caranya keunikan aku itu jadi nilai tambah.

guys

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Kalau untuk Bandung sendiri, aku udah mulai senang karena sudah mulai didandani di sana-sini. Nuhun Kang Emil. Sebagian orang bilang beliau hanya menata kota namun tidak membenahi kota. Well, I think dia membenahi kota juga. Kota itu di dalamnya ada manusia, dan manusia butuh hiburan dan sesuatu yang eye pleasing dan Ridwan Kamil udah bikin itu dan menjadi contoh untuk kota- kota lain. Walaupun Bandung sekarang macetnya udah mampus. But anyway, I like his programs and progress. Orang-orang di Bandung, contohnya saja di ITB sudah mulai menyadari berapa besar nilai seni dan desain di berbagai aspek kehidupan. Dalam bikin acara, brand dan lain-lain. Bahkan ada kabar, karena ITB sedang mengejar sebuah akreditasi, mereka mengajak teman saya untuk membuat mural di setiap fakultas. And it’s such an old song, every time I graduate from school, the school gets more beauty. Tapi ya gitu, sebagian besar orang masih kurang concern terhadap nasib dompet para desainer dan seniman. Hiks.

Current obsession?

I really want to go to America no matter what the purpose is. I want to live there, one week is enough. I want to be one of the animator, or illustrator, or intern in Walt Disney’s movie production.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di kamar aku, duduk di depan laptop. Aku nggak terlalu banyak main keluar pas weekend, karena jarak rumah aku jauh dari pusat kota, bisa 2 jam. Jadi keluar rumah kalau ada occasion aja. Paling aku keluar ke Miko Mall, nearest mall that provides duniawi amusement from my house kaya bioskop, KFC, McD dan lain-lain. Paling jauh ya sekitaran Kota Bandung, terutama Dago. Biasanya aku kumpul sama teman sambil ngobrol atau ngerjain kerjaan.

baroque-2

Project saat ini?

Aku baru menyelesaikan proyek animasi dari J&T Express semacam pengantar paket yang digunakan untuk pelatihan para kurir. Aku juga baru menyelesaikan proyek buku cerita seri tentang pertumbuhan seorang cewek, aku dapat bagian cerita saat dia menemukan kesempurnaan dirinya. Selanjutnya aku bakal ikutan workshop ilustrasi bersama Room To Read dan PROVISI dengan penerbit-penerbit yang dari workshop tersebut akan dibikin buku cerita anak dan dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Lalu aku lagi merencanakan bikin studio animasi bareng partner aku.

Target sebelum usia 30?

Menaikkan haji orang tua, memiliki kendaraan pribadi, lulus S2, menjadi desainer yang memiliki pribadi yang baik, terlibat dalam produksi animasi baik luar atau dalam negeri, have 10k followers on Instagram.

jovi

#30DaysofArt 28/30: Theo Frids Hutabarat

Melewati masa kecil di Bekasi yang menurutnya jauh dari paparan dunia seni, satu-satunya akses bagi seniman kelahiran Jakarta, 6 Februari 1987 ini pada dunia seni rupa adalah melihat gambar di buku. “Waktu SMP saya pertama kali melihat buku tentang Vincent van Gogh di sebuah toko buku. Karena saya tidak sanggup beli buku itu, jadi saya pelototi isi buku tersebut agar semua terekam di dalam kepala. Dari buku itu juga saya tahu saudara laki-laki Vincent namanya sama dengan saya, Theo. Sejak saat itu saya berpikir mungkin ini pertanda, haha,” kenang peraih magister FSRD ITB yang saat ini juga berprofesi sebagai guru seni rupa di sebuah sekolah swasta di Bandung. Selama masa studinya, ia menemukan minat pada persoalan di sekitar proses penciptaan karya lukis yang kemudian diwujudkan dalam karya-karya lukisan yang menampilkan seorang pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi, sebuah insepsi menarik yang menyoal referensi dan originalitas dalam dunia yang ia geluti

theo-frids-hutabarat

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya suka menggambar, tapi gambar saya saat itu banyak dipengaruhi komik-komik Jepang, khususnya Dragon Ball dan Offside. Orang tua selalu mendukung saya, tapi secara khusus saya ingat momen di mana almarhumah Nenek memarahi ibu saya karena sempat melarang saya kotor-kotoran saat membuat karya. Berkat kejadian itu saya seperti mendapat license untuk berkreasi sebebas-bebasnya, haha. Saya juga ingat guru seni rupa saya di SMP, Pak Aji Sumakno, yang mengenalkan saya pada cat air dan memamerkan hasil karya saya di sekolah. Waktu itu rasanya bangga sekali bisa memamerkan karya ke teman-teman di sekolah.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya, karya seni mestinya bisa menyediakan jeda dalam hidup yang makin cepat dan sibuk ini, untuk menyadari hal-hal yang terlewat dan tidak sempat terpikirkan.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Francis Bacon, Egon Schiele, Paul Cezanne, dan tentu saja Vincent van Gogh.

the-labor-oil-on-canvas-200x150-cm-2014

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sejak masuk Studio Seni Lukis FSRD-ITB, saya menghabiskan banyak waktu di dalam studio dan melakukan eksperimentasi dalam melukis. Menjelang tugas akhir, saya menyadari potensi dari proyektor dalam membantu membuat lukisan, misalnya untuk memperbesar gambar agar bisa di-trace ke atas kanvas. Dari situ saya mulai menggunakan proyeksi dalam karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya tertarik pada persoalan di sekitar penciptaan seni lukis. Kanvas, sketsa, ide, referensi, dan originalitas adalah beberapa kata kunci dalam kekaryaan saya. Lukisan-lukisan saya sering menggambarkan pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi. Karena karya saya seperti ini, sampai-sampai seorang teman mengatakan kalau saya tidak pernah punya lukisan dengan trademark saya sendiri, haha.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran karya cat air saya waktu SMP. Sampai hari ini karya tersebut masih dipajang di rumah. Kalau pameran ‘serius’ pertama, tidak lama setelah sidang tugas akhir kuliah saya, sekitar tahun 2009. Seusai sidang, dosen pembimbing saya (yang kebetulan kurator) meminta karya tugas akhir saya untuk dipamerkan di sebuah galeri di Jakarta.

 tracing-insulinde-video-projection-on-painting-dimension-variable-2015

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karya dalam solo project di ArtStage Singapore 2015 dan berpartisipasi dalam pameran 125.660 Specimens of Natural History di Galeri Salihara pada tahun yang sama. Pameran yang membaca warisan Alfred Russell Wallace ini sangat berkesan buat saya, karena secara kritis memperlihatkan pengaruh pengetahuan manusia terhadap alam. Dua curator pameran ini, Etienne Turpin dan Anna-Sophie Springer, berhasil membangun sebuah narasi pameran yang menyadarkan saya akan risiko dari perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya bukan pengguna social media. Sehari-hari hanya menggunakan email, WhatsApp, dan Line. Tapi teman-teman saya sering menyarankan saya membuat Instagram. Katanya bagus untuk memperkenalkan karya kita ke khalayak luas. Mungkin benar, ya?

 

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Art scene di Bandung mulai memperlihatkan pergeseran dari ruang-ruang pusat seni ke arah ruang-ruang alternatif, di mana seni rupa bisa cair berbaur dengan musik, fashion, dan gaya hidup. Ruang-ruang seperti Spasial dan Pabrik Tekstil Cicaheum menawarkan pengalaman pameran yang lebih santai dan egaliter karena mayoritas diisi oleh anak-anak muda. Semoga saja keadaan ini terus berkembang, sehingga dunia seni rupa Bandung tidak lagi terasing di ruang yang itu-itu saja.

the-chair-oil-on-canvas-200x150-cm-2015

Punya talenta rahasia di luar seni?

I’m good at organizing things. Sepertinya turunan dari bapak-ibu saya. Kalau obsesi, saat ini saya sedang maraton nonton film-film dari Lee Yoon-ki, Hong Sang-soo, dan Hirokazu Koreeda.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Having a me time di daerah Dalem Kaum dekat Alun-alun Bandung, khususnya di Toko Simanalagi yang menjual pisang goreng terbaik in town. Atau tenggelam dalam buku-buku di Kineruku. Tapi stay di rumah, kumpul bersama teman-teman, dan nonton bioskop dadakan pakai proyektor juga selalu menjadi pilihan. Bandung selalu macet saat weekend, jadi kalau tidak terpaksa pergi, stay di rumah adalah pilihan terbaik.

 im-art

Project saat ini?

Saya sedang mempersiapkan pameran tunggal pertama saya. Project ini akan menyoal ‘kekosongan’ di tengah praktek seni lukis sekarang, khususnya di Indonesia.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal! Rencana pameran ini sudah lama tertunda, jadi tidak sabar ingin segera jadi.

viva-la-capital

#30DaysofArt 23/30: Radhinal Indra

Memutuskan resign dari full time job sebagai desainer grafis di firma desain LeBoYe untuk menjadi full time artist, keberanian seniman kelahiran Bima, 10 Februari 1989 yang sekarang tinggal di Bandung ini pun terbayar manis ketika karyanya yang mengeksplorasi pengaruh bulan dalam berbagai aspek kehidupan manusia (selenology) lewat lukisan akrilik di atas kertas, kanvas, dan alumunium dapat diterima dengan baik oleh publik. Mengaku sebagai pop culture geek sekaligus science enthusiast, Indra menyebut latar belakang keluarga dan masa kecilnya di Bima sebagai katalis berkarya. “Bima itu kota pesisir di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kota kecil, tidak begitu banyak kegiatan kesenian di kota saya. Keluarga saya adalah keluarga akademik, tidak begitu religius dan mencintai proses belajar dan ilmu pengetahuan. Ibu adalah guru Matematika yang galak, cocok dengan karakternya yang kalkulatif. Sedangkan bapak adalah social sciences enthusiast yang gemar berdiskusi dengan tetangga,” ungkap pria yang menyebut kata sustainable sebagai idealisme berkaryanya ini.

 radhinal_foto

Siapa sosok yang membuatmu tertarik pada seni?

Saya suka sekali nonton TV, mungkin anak-anak di kota gampang untuk mendapatkan poster, action figure, kartu, kaos Satria Baja Hitam, Power Rangers, Sailor Moon, dll. Tapi kami di kampung tidak. Atas rasa iri yang natural inilah memicu saya waktu kecil ingin membuat sendiri gambar-gambar yang terlihat di TV.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Saya suka potensi. Ketika melihat sesuatu lalu bergumam “Ini bisa diapakan lagi ya? Ini bisa bagus nggak ya? Lucu juga nih?” Begitu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Kalau seniman: Martin Creed, Olafur Elliason, Donald Judd, Antony Gromley. Arsitek: Daniel Liebeskind, Phillip Johnson, Kengo Kuma, Peter Zumthor, Andra Matin.

radhinal_onbeing_roundcyclicandblood_aoc_eachdia30cm_2015_

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Kadang itu ditemukan setelah membuat beratus-ratus karya, yang menemukan bukan saya. Tapi orang lain yang mengamati rentang karya-karya saya sejak dulu. Respons mereka biasanya “Ah, ini lo banget.”

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya menjabarkan kemungkinan-kemungkinan dari suatu gagasan. Tahun lalu saya tertarik dengan konfigurasi. Mungkin tahun ini berbeda, let’s find out.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Masih, dan masih terbayang sampai sekarang. Itu di tahun 2014, September. Saya tidak punya pengalaman berpameran sama sekali. Yang saya tahu selama ini adalah kerja balik layarmembuat logo dan meloloskan proyek-proyek besar properti di Jakarta dan Bali. Itu di galeri RUCI, saya sedikit malu karena merasa sangat noob di antara list seniman-seniman lain yang sudah jauh lebih banyak pengalaman berpamerannya. Saya berpikir, bagaimana karya saya bisa steal the show. Mungkin itu yang memicu saya untuk berkarya dengan skala repetisi yang tinggi. Ternyata respons pengunjung sangat bagus, saya selalu ingat pameran ini sebagai standard effort yang harus saya berikan ke tiap karya saya dan pameran-pameran ke depannya.

moon_deforming_acryliconpaper_21x21cmeach_2016

Apa yang menjadi personal breakthrough paling berkesan sejauh ini?

Taking a risk from monthly salary to no salary at all at November 2014.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Visibility. Sebaiknya konsisten terhadap apa yang dikerjakan sehingga audiens kita juga mengikuti perkembangan karya senimannya. Audiens lebih well-informed terhadap apa yang dilakukan seniman, sebelum mereka menghadiri suatu pameran dan saya rasa progress yang bagus. Satu hal yang tidak bisa dirasakan generasi seniman dekade 90-an dan sebelumnya; yaitu living with your crowds/fans/followers.

 

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Bandung is having a robust art scene. Peningkatan kualitas artistik terjadi di berbagai aspek, tidak hanya seni yang di galeri. Tambah bagus dan tambah banyak alternatif cara berkarya.

 radhinal_unsqueezed_acrylicdigitalcollage_120x120cm_2016

What’s your current obsession beside art?

Saya adalah comic, book, movie geek dan science enthusiast.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bioskop, perpustakaan alternatif, pembukaan pameran, cafe sekitaran Dago dan toko loak.

Project saat ini?

Saya sedang menyiapkan solo exhibition di Jakarta untuk 10 bulan ke depan.

 

Target sebelum usia 30?

Membangun sustainable studio dan storage berukuran at least sekitar 10m x 10m x 5m agar bisa mengerjakan karya berukuran besar.

sayang-no-5

#30DaysofArt 21/30: Patriot Mukmin

Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, namun tema-tema patriotik dan sejarah bangsa memang menjadi benang merah dalam karya seniman yang dikenal lewat medium woven photographs dan triple-sided paintings ini. “Momen penting yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika tahun 1998 saya menyaksikan kerusuhan yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan aktif mengikuti berita di televisi terkait upaya penurunan Presiden Soeharto. Ingatan terkait reformasi sedikit banyak muncul di beragam karya yang saya hasilkan,” papar pria kelahiran Tangerang, 4 Juni 1987 yang menetap di Bandung sejak lulus dan meraih magister seni di FSRD ITB tersebut. Selayaknya konteks sejarah yang bisa berbeda tergantung dari sisi mana kita melihatnya, yang seringkali hanya kumpulan fragmen, ataupun ditampilkan di publik secara tersamar dan direkayasa, pria yang sempat bercita-cita menjadi desainer mobil ini pun mengajak kita untuk memandang ilusi dalam karyanya dari berbagai sisi.

patriot-mukmin-foto-profil-1

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sedari kecil senang menggambar, namun belum tahu ada dunia seni sebelum kuliah di jurusannya. Dulu saya bercita-cita jadi desainer mobil, namun setelah di kampus justru tertantang untuk bisa sukses di dunia yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, yaitu dunia seni rupa.

Apa yang mendorongmu berkarya?

Kalau mendorong mungkin kurang tepat, lebih ke arah adiktif. Setiap kali selesai mengerjakan satu karya, apalagi jika karyanya bagus, ada kenikmatan yang berbeda. Rasa itu yang bikin saya ingin terus berkarya. Ketika karya diapresiasi oleh publik, wartawan, atau kolektor, hal tersebut menambah rasa puas yang sebelumnya sudah dirasakan. 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Tahun 2011 saya tinggal di satu rumah kontrakan. Namanya bujangan, kalau bangun pagi kelaparan kita harus cari sarapan keluar rumah dong. Saat itu tempat yang jual sarapan berjarak hampir 1 kilometer jadi lumayan juga bisa liat-liat selama berjalan kaki ke tempat makan. Satu momen saya lihat pagar rumah tetangga yang tipenya batang-batang lurus vertikal yang kalau dilihat dari samping tampak penuh, tapi dari depan tampak kosong. Momen itu menginspirasi seri karya triple-sided paintings saya. Seri karya lukis yang bentuknya kayak pagar-pagar yang bisa dilihat dari 3 sisi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Waktu itu kita masih tingkat 2 kuliah. Pameran bersama anak-anak jurusan seni lukis dan seni grafis. Judul pamerannya “Krisis Identitas” di Galeri Dago Tea House, Bandung. Sesuai judulnya, pamerannya krisis banget. Malu kalau lihat foto-fotonya juga. Haha.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya sering mengidentifikasi diri saya sebagai orang yang berada di tengah-tengah. Saya suka melihat satu persoalan dari beragam sudut pandang. Karakter itu sedikit banyak tercermin di karya-karya saya.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Rene Magrite, David Samuel Stern.

nyonya

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Tahun 2011 sempat ikut lomba Bazaar Art Award, dan keluar sebagai pemenang pertama. Momen itu membantu meyakinkan orang tua bahwa anaknya bisa berjuang di jalan seni. Tahun 2015 melangsungkan pameran tunggal dan mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Pameran diliput banyak media massa, dan karyanya ada yang dikoleksi dan dibawa ke Melbourne untuk dipamerkan kembali. Saat ini karya tersebut dipajang di Asia Institute, University of Melbourne. Pameran tunggal itu juga sangat berkesan bagi saya karena dalam pengerjaannya saya dibantu oleh banyak orang. Sebagai seniman yang biasanya asik sendiri bikin karya di studio, pameran tunggal kemarin membuat saya bekerjasama dengan teman-teman untuk membantu terciptanya karya-karya yang dipamerkan.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai seorang yang pekerjaannya berpusat pada penciptaan imej, tentu keberadaan sosial media memberi keuntungan. Imej berfungsi ketika dilihat, maka dengan sosmed, kemungkinan imej untuk berfungsi menjadi lebih besar dan lebih cepat. Membuat karya yang diciptakan bisa diapresiasi lebih banyak orang.

eksplorasi-handmapping

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Bandung itu sangat kondusif untuk produksi karya seni, iklimnya adem, vendor material seni banyak, teman-teman seperjuangan di sini semua, kalau lagi bosan di mana-mana ada tempat nongkrong, acara-acara seni juga frequently diadakan di beragam galeri di dalam kota. Akan tetapi, untuk event seni yang bersifat internasional, Bandung kurang, kita harus keluar kota. Minimal ke Jakarta dan Jogja. Kalau mau lebih jauh lagi, kita harus terlibat proyek di luar seperti Singapura, Hongkong, Tokyo, dan kota-kota dengan art event internasional lainnya.

seeing-is-photographing

Punya talenta rahasia di luar seni?

Saya bisa melakukan gerakan elastico, gerakan menggocek flip-flop khasnya Ronaldinho. Kalau saja badan saya lebih tinggi, dan dulu orangtua setuju saya ikut SSB, mungkin saya sekarang sudah jadi pemain sepakbola profesional. Haha.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah, nonton Bein Sport!

Target sebelum usia 30?

So far so good, di ulang tahun ke-30 inginnya bisa bilang so far so awesome!

a4-motionview

#30DaysofArt 20/30: Nurrachmat Widyasena

Stupid third world Asian tries to talking-talking about Space Age,” cetus seniman asal Bandung yang biasa dipanggil Mas Ito ini untuk mendeskripsikan diri dan karyanya. Memiliki ayah seorang pakar teknologi dan menyukai sci-fi sejak kecil menjadi fondasi dari tema retro-futurism yang dikemas dengan humor oleh lulusan FSRD ITB ini lewat instalasi, drawing, dan printmaking. Namun, meskipun terlihat cenderung ringan dan mengundang senyum, bukan berarti pria kelahiran Kanada, 20 Mei 1990 ini tidak serius dalam berkarya. “Bagi saya, dalam berkarya kita tidak bisa hanya bergantung dan mengandalkan kreativitas saja. Karena bagi saya kreativitas hanyalah 10% dari kekaryaan. Sisanya adalah kerja keras, skill manajemen, bertemu dengan orang yang tepat, dan disiplin diri yang baik,” papar pria yang juga dikenal sebagai pemilik clothing brand bernama KITC ini.

nurrachmat-widyasena-foto-diri-2

Siapa sosok yang membuatmu tertarik pada seni?

Pada saat SMA, guru Bahasa Indonesia saya, Ibu Molly merupakan istri dari seniman terkenal Pak Tisna Sanjaya. Ibu Molly sering bercerita tentang dunia seniman dan apa yang dikerjakan oleh suaminya. Dari cerita-cerita tersebut saya menjadi tertarik untuk menjadi seorang seniman. Tiga tahun kemudian saya masuk FSRD ITB dan diajar langsung oleh Pak Tisna Sanjaya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya sih karena adanya janji-janji utopis seorang seniman yang sudah sukses, bikin satu buah karya, laku, bisa hidup tenang 3-5 tahun, hahahaha. Tetapi sekarang berkarya buat saya menjadi seperti sebuah kepuasan sendiri, seperti sebuah simulation game, mengembangkan karier, naikin level kekaryaan, berstrategi membuat pameran, dsb. Menarik!!

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Pada saat saya kuliah di tingkat 3 awal, saya terkena cacar air untuk kedua kalinya di hidup saya. Karena hanya bisa berada di rumah, saya iseng membuka lemari tempat saya menyimpan barang-barang saya waktu kecil. Di situ saya menemukan beberapa gambar eksplorasi luar angkasa yang retro sekaligus futuristik. Dari situlah saya menyadari dan mulai mencari tau trend dalam seni kreatif yang bernama Retro Futurism yang kemudian menjadi fondasi utama dalam kekaryaan saya sekarang.

 2015-pt-besok-jaya-nike-space-max-rocket-shoes

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

“Patriotic Myth Of Space Age”, adalah pameran tunggal pertama saya di Galeri Kamones, Bandung, tahun 2013. Pameran tersebut sangat berkesan bagi saya, karena 5 bulan setelah lulus kuliah saya membuat sebuah pameran tunggal di sebuah bangunan yang sangat industrial dan tidak “white cube” seperti layaknya sebuah galeri profesional. Pertama kalinya saya merancang sebuah pameran dengan sangat bebas dan tidak ada beban. Sampai saat ini, pameran tersebut masih menjadi pameran pribadi yang paling saya sukai.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Banyak sekali seniman-seniman yang menjadi inspirasi saya dalam berkarya. Tapi dari dulu sampai sekarang, saya sangat mengidolakan Kenji Yanobe dan Tom Sachs.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk mengerjakan beberapa seri karya saya. Saya diundang melihat langsung peluncuran roket milik LAPAN di kota pesisir Pantai Pameungpeuk. Berbincang dengan petinggi-petinggi militer, bertemu dan melihat perangkat kerja para staff ahli LAPAN, merasakan dan mendengarkan dari dekat secara langsung detik-detik perhitungan mundur peluncuran roket.

artwork-1457805631

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Tidak dapat dipungkiri social media sangat berperan aktif dalam pengembangan karier seorang seniman. Mempercepat jalur distribusi visual kekaryaan yang telah kita buat untuk dilihat orang banyak. Membuat semakin banyak orang tau apa yang sedang kita lakukan, karya apa saja yang telah kita buat, dan masih banyak lagi.

Tell me about your current obsession!

Untuk saat ini saya sedang sangat terobsesi dengan onigiri yang dijual di Indomaret. ENAAAAAAK DAN MURAAAH!! Selain itu saya sedang senang mengoleksi minuman-minuman kaleng dari berbagai negara, biasanya saya titip dengan teman-teman yang sedang berpergian ke luar negeri. 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di studio tempat saya berkarya, sedang main game, atau sedang bekerja.

artwork-1457803058

Project saat ini?

Untuk saat ini saya sedang membangun sebuah perusahaan berbasis teknologi bernama PT Besok Jaya untuk menjadi mercusuar teknologi di Indonesia seperti Space X dan Tesla Motors-nya Elon Musk. Selain itu saya sedang mempersiapkan diri untuk project pameran tunggal saya.

Target sebelum usia 30?

Target Tidak Realistis Sebelum 30 Tahun

  • Punya android humanoid personal yang bisa bantuin bikin karya.
  • Diundang oleh NASA untuk bikin karya di luar angkasa.
  • Bisa mengubah daun menjadi uang dengan bantuan teknologi.

Target Realistis Sebelum 30 Tahun

  • Punya studio seniman sendiri lengkap dengan tim produksi dan tim administrasinya.
  • Membuat karya roket luar angkasa sendiri 1:1.
  • Brand personal saya KITC lebih dikenal dan matang secara income dan infrastruktur.

2015-dangdut-alien

#30DaysofArt 15/30: Muhammad Zico Albaiquni

Lahir di Bandung pada tanggal 8 Agustus 1987, seniman peraih gelar magister penciptaan seni di ITB ini sempat menghabiskan masa kecilnya di Braunschweig, Jerman, ketika sang ayah, pelukis terkenal Tisna Sanjaya, menempuh studi seni grafis di negara tersebut. “Hampir setiap hari saya selalu dibawa ke kampusnya. Ayah saya selalu menitipkan saya di perpustakaan kampusnya dan hal itu sangat menyenangkan buat saya! Mungkin itu start paling awal saya mulai menyukai dunia seni rupa. Saya juga sering sekali dibawa ke pameran-pameran seni rupa, menonton film, melihat performance art, dan mengunjungi museum-museum,” kenangnya. Mengikuti jejak ayahnya dalam dunia seni lukis, Zico pun berusaha menciptakan sebuah counter culture dalam seni lukis yang kini kerap dianggap bentuk seni paling usang di zaman yang kian modern. Hasilnya adalah eksplorasi medium yang selalu bertransformasi dan instalasi yang telah dipamerkan di berbagai negara, termasuk residency dan solo exhibition di Vienna, Austria.

zico-albaiquni-hijab-ludus-velum-suppancontemporary

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Saat SD hingga SMP saya sebetulnya tidak terlalu masuk dalam dunia seni rupa.  Bahkan pelajaran seni rupa saya waktu SD nilainya buruk dan tidak mungkin rasanya menang kompetisi gambar anak yang waktu itu selalu dimenangkan oleh anak-anak sanggar. Waktu itu rasanya sirik banget! Hehehe. Di SMA saya mulai bertemu lagi dengan dunia seni rupa dan mulai sering terlibat proyek-proyek mural bersama teman-teman saya. Masa akhir SMA pun saya malah testing Kedokteran. Meskipun lolos, saya akhirnya malah masuk FSRD ITB gara-gara ngobrol bareng senior saya yang sekarang juga jadi salah satu seniman muda Bandung yang karyanya kuat, Faisal Habibi.

Tahun pertama saya masuk FSRD ITB saya main dulu di jurusan Desain Komunikasi Visual. Namun gara-gara melihat lukisan S. Sudjojono di Galeri Nasional, saya benar-benar tergerak untuk akhirnya meyakinkan diri untuk pindah jurusan di tahun ketiga saya di FSRD ITB untuk masuk Jurusan Seni Rupa studio Seni Lukis.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Intinya selalu karena curiosity. Karena rasa penasaran, karena keingintahuan dan sisanya adalah obsesi. Menciptakan karya seni menjadi sebuah kebutuhan bagi saya. Saya selalu terobsesi dengan dunia seni.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Bagi saya medium atau style adalah konsekuensi dari idea yang saya pikirkan. Namun dari awal berkarya saya selalu fokus dalam pemahaman mengenai painting. Painting atau seni lukis merupakan sebuah idea paling tua dalam bentuk seni, paling banyak dirayakan dalam dunia seni namun juga jadi medium yang problematis dan dianggap menjadi bentuk paling usang. Karena seluruh idea yang muncul mengenai seni lukis, maka saya semakin terobsesi untuk melakukan percobaan-percobaan di dalamnya. Bagi saya seni lukis adalah sebuah ideology dan merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk menciptakan sebuah counter culture di dalamnya.

267570_10151172213337969_801870083_n

Apa idealismemu dalam berkarya?

Mencari ‘the truth’, walaupun kadang harus menutupinya agar menjadi sadar value the truth itu sendiri.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Tidak pernah tetap dan tidak pernah sama. Selalu dalam transformasi.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

  1. Sudjojono,  Gerhard Richter,  Vermeer,  Baldessari,  Lucian Freud, GSRB (Gerakan Seni Rupa Baru),  Velazques,  Bob Dylan,  Alejandro González Iñárritu,  Anselm Kiefer, Tisna Sanjaya.

Apa pameran yang paling memorable?

Pameran yang paling saya ingat adalah pameran pertama saya di Jakarta. Saat itu berpameran di Umah Seni Jakarta pada tahun 2009. Waktu itu saya masih kuliah tingkat 3 sementara seniman-seniman lainnya merupakan seniman-seniman dahsyat kala itu dan salah satunya adalah Ronald Manulang! Salah satu eksponen GSRB. Pada saat itu pamerannya berjudul Holocaust. Kebanyakan karya seniman menciptakan image Nazi. Namun waktu itu saya menciptakan ide mengenai teror yang dibawa oleh kesalahpahaman yang terbawa oleh fundamentalis agama di Indonesia. Saya awalnya merasa seperti salah kostum namun pada ujungnya karya itu menjadi karya favorit saya, bahkan hingga saat ini.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mampu bertahan menciptakan sebuah space bernama Ruang Gerilya di Bandung selama 5 tahun dan mulai berkembang menjadi tempat residensi Internasional dan bisa menjadi wadah bagi teman-teman seniman lainnya.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Waktu paling menarik yang bisa saya bayangkan sejauh ini.  Awalnya saya pikir golden age seni itu terjadi saat masa revolusi kemerdekaan atau reformasi dari orde baru.  Namun era social media justru menawarkan pergeseran paradigma mengenai banyak hal secara lebih cepat dan responsif.

artwork-1398923676
33 Sacred Repetition, Oil on canvas, cable 33 Panels, 2011

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya bahagia hidup di Bandung saat ini. Art scene yang mulai berkembang dan banyak seniman muda yang pintar, cerdas, kritis, dan tidak membosankan. Memang belum bisa akselerasi secara signifikan namun pelan tapi pasti. Saya sangat optimis melihat perkembangan art scene Bandung ke depannya.

Punya secret skill di luar seni?

Modding game di PC, terutama game FIFA.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bersama istri saya Kartika Larasati.

 

Project saat ini?

Dalam proses mengumpulkan data, image, dan medium untuk menciptakan semacam naskah bergambar.

Target sebelum usia 30?

Di kota saya ada event seni yang sekelas Documenta Kassel.

artwork-1400761033
ARTIST STUDIO, painting and mixed media installation, 2014

#30DaysofArt 3/30: Argya Dhyaksa

Di tangan lulusan Kriya Keramik ITB ini, seni keramik menjadi sesuatu yang sangat fun. Makhluk-makhluk imajiner dari keramik yang diwarnai glasir dan disandingkan dengan kalimat humor yang absurd menjadi ciri khas karya seniman kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1991 yang akrab disapa Gya ini. Terkesan childish serta “seenak jidat”, Gya mengakui jika hal itu terbawa dari kebiasaan menggambar kartun favoritnya saat kecil dan membuat karakter sendiri berdasarkan teman-teman dan hal sekelilingnya. Maka tak heran, karyanya banyak memodifikasi budaya populer dan humor-humor sektoral yang dibumbui sarkasme. “Saya ingin karya saya selalu serius dalam bermain-main, dan saya ingin orang melihat inilah seorang Argya Dhyaksa dalam karya saya. Saya tidak ingin orang memaknai terlalu dalam lalu tenggelam, lebih baik seperti tablet effervescent mengambang dan pelan-pelan larut tanpa harus saya aduk,” tandas pemilik Kirain Studio di Bandung ini.

gya

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Dulu asli deh nggak suka banget sama seni, dalam hati tuh kaya mikir “Nih orang pada bikin apaan sih, kenapa ya mereka?” Ya dulu masih tertutup banget lah, terus pas di kampus kan lingkup seninya luas banget dan ternyata nggak semua seni tuh “apaan sih” walaupun banyak juga yang “apaan sih”.  Juga jadi mulai terbuka, jadi mungkin yang memperkenalkan pada seni ya lingkungan kampus aja pada waktu proses perkuliahan.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan jujur dalam lubuk hati yang paling dalam, dorongan berkarya adalah uang dan popularitas, maaf nggak bisa jawab yang lain, cuma kepikiran ini gimana dong maafin yah.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Yang jelas semua melalui proses trial and error banget soalnya bikin keramik kan mestinya harus melalui ritual-ritual merepotkan yang prosesnya panjang, tapi karena saya pemalas saya dobrak ritual itu dengan cara yang bisa saya nikmati, sejenis pakai cheat gitu sih tapi masih dalam batas wajar. Walaupun dapat cheat-nya juga harus ngerti dasarnya dulu baru bisa nemu cheat-nya.

waeee

Masih ingat ekshibisi perdanamu?

Masih. Ekshibisi pertama untuk yang keramik sih dulu di Padi Art Ground. Sekarang tempatnya udah ambrahum, dulu bikin karya keramik bentuknya binatang kecil-kecil yang dideformasi gitu, yang kalau diingat dulu bikinnya sampai mau nangis karena mikir ”Ya ampun bikin keramik gini-gini amat ya ribet banget.”

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Sebetulnya untuk bisa masuk ke dalam art scene itu buat saya suatu pencapaian karena saya sebetulnya berada di grey area. Material keramik itu kalau di luar negeri sulit untuk berada di wilayah art, dianggapnya material craft, apalagi saya lulusan dari kriya, untuk masuk ke art scene pasti kesempatannya lebih sulit daripada yang lulusan seni murni.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Grayson Perry dan David Shrigley. Keduanya memakai teks yang memperkuat karya yang mereka buat, lalu Naoki Nomura karena bentuk keramiknya yang absurd tapi keren.

artwork-1471173237

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Ada plus minusnya sih. Plusnya referensi semakin banyak ditemukan jadi makin mudah mencari inspirasi berkarya, publikasi juga gampang banget. Minusnya, yang karyanya niru ya gampang ketahuan “referensinya” siapa, kan kasian tuh hehe. Terus kalau ada orang mengunggah kesuksesan menimbulkan rasa sirik menyebabkan penyakit hati.

 

Bagaimana kamu melihat skena seni di sekitarmu sekarang?

Art scene di kota Bandung berlangsung damai sentosa, tidak ada yang sirik-sirikan adanya sirik betulan, haha nggak deng. Di Bandung kalau pameran sih kurang menarik, yang datang pameran paling yang itu-itu aja, lebih menarik pameran di Jakarta karena nggak ketebak siapa yang bakal datang.

artwork-1448964646

Your current obsession and secret skill di luar seni?

Kalau current obsession mau jadi Youtuber aja sih bikin video yang nyampah di Youtube nge-review produk-produk fiktif sama eksperimen sosial yang nggak ada faedahnya dan banyak mudharatnya kayanya seru. Secret skill ya secret dong.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan kalau weekend?

Di rumah palingan, tidur, aku lelah.

Target sebelum usia 30?

Target sebelum umur 30 tahun saya adalah berumur 29 tahun, umur kan nggak ada yang tau, hehe.

karya-3

#30DaysofArt 2/30: Antonio S. Sinaga

Sebagai anak campuran Batak dan Jawa yang besar di Jawa Timur, visual artist kelahiran 24 September 1988 yang akrab dipanggil Nino ini merasa bahwa dibesarkan dalam agama minoritas yang dikelilingi oleh agama mayoritas mampu memberi banyak sudut pandang lain tentang hubungan agama & sosial yang hampir selalu menjadi tema dalam karyanya. “Kebanyakan dari karya saya sih muncul dari masalah sosial & religi yang saya rasakan dan amati sendiri dan nggak tau mau dilampiasin ke mana, jadi aja bikin karya. Kalau saya jago ngomong mungkin saya jadi motivational speaker, haha!” tukas sang alumni ITB yang kini bermukim di Bandung tersebut. Walaupun mendapat gelar sarjananya dari jurusan seni keramik, Nino lebih sering memakai teknik fotografi dan cetak dalam pembuatan karyanya yang menampilkan ikon-ikon religi yang dibenturkan dengan hal duniawi sebagai kritik sosial yang surreal.

 

antonio-s-sinaga-pp
Antonio S. Sinaga

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Kebetulan dari kecil di rumah memang banyak pajangan (dulu taunya itu pajangan doang), dari tapestry, lukisan tradisional, sampai pajangan dengan unsur agama. Jadi bisa dibilang saya tumbuh di rumah yang cukup banyak ‘benda seni’ -nya. Tapi kalau yang bikin tertarik urusan gambar menggambar sih sepertinya ya komik.

 

Apa idealismemu dalam berkarya?

Haha, nggak tau. Kata idealisme di sini rada berat, euy. Kalau buat saya, berkarya itu harus menyenangkan dan memuaskan diri sendiri. Kalau bisa sekalian menyenangkan dan memuaskan orang lain ya bagus, kalau nggak ya nggak apa-apa, toh diri sendiri udah senang kan.

allegory-of-the-tower1
Allegory of the Tower (2016)

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Wah, sejujurnya sampai sekarang saya malah belum bisa bilang mana medium & style favorit saya, soalnya medium & style yang saya pakai dalam berkarya masih berubah-ubah, tergantung dari kecocokan visual dengan konsep dari karya yang sedang saya buat.

 

Masih ingat ekshibisi pertamamu? Kalau iya, tolong ceritakan.

Pameran pertama saya itu pameran akademis, isinya cuma tugas-tugas akademis (yang pasti saya udah lupa), kalau pameran yang saya rasa merupakan langkah pertama saya di dunia seni sih Soemardja Award kayanya. Itu pameran hasil karya Tugas Akhir mahasiswa seni ITB yang dipilih oleh dosen-dosen di kampus, lalu menghadirkan tim juri yang merupakan profesional di dunia seni rupa.

indulgence-iv-cat
Indulgence IV (2014), Chromogenic print mounted on alumunium composite panel.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Andres Serrano, Maurizo Cattelan, David LaChapelle, Hieronymus Bosch.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Menurut saya, ciri khas dalam karya itu orang lain yang bisa menentukan. Jadi jawabannya nggak tau.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Melihat foto bahwa karya saya dipajang di rumah orang di negara yang saya belum pernah kunjungi. Saya aja belum pernah ke sana, tapi karyanya udah. Sama beli kulkas baru sendiri.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Berhubung saya nggak aktif sebagai seniman di media sosial, jadi saya kurang tau rasanya. Tapi suka ngerasa lucu aja waktu lihat ada foto karya di social media orang lain. Mungkin saya harus cobain aktif kali ya?

archetype-judged
Archetype; Judged (2014)

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Nggak terlalu merhatiin euy, saya kuper sih.

Punya secret skill atau obsesi di luar seni?

Annoying other people masuk secret skill nggak? Lifetime obsession sih dapet gelar Sir.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Studio, soalnya di luar macet dan ramai kalau weekend.

Target sebelum usia 30?

Solo exhibition di luar negeri kali ya? Kalau sekarang lagi pengen bikin art book, terus pameran tunggal keliling. Moga-moga jadi ya tahun ini.

the-infidel-ms-l-cat
The Infidel Ms. L I Altered (2015), Photolithograph on uncoated paper.

On The Records: HEALS

HEALS

Tercetus dari lingkup pertemanan dengan kesamaan selera musik, pemikiran, dan personality para personelnya, Heals secara resmi memperkenalkan diri lewat single “Void” yang dirilis bulan September tahun lalu. It was an instant hook, terutama bagi siapa saja yang menyukai band-band NuGaze seperti My Vitriol dan Blonde Redhead, walaupun kuintet asal Bandung ini menawarkan alternatif lain untuk mendeskripsikan musik mereka. “Hmm sound yang kami mainkan sekarang sih lebih merepresentasikan musik-musik yang kerap didengar dan dikonsumsi oleh masing masing personel. Ya jadinya begini, kalau boleh kami mau sebut musiknya sebagai ‘Random-gaze, hehe.” So what’s ‘Random-gaze’ anyway? Bayangkan campuran antara alternative rock, new wave, dan shoegaze yang digambarkan lewat aransemen penuh distorsi dan reverb namun catchy di saat yang sama. Trust me, its good.

Halo! Boleh diperkenalkan ada siapa saja di Heals? 

Boleh dong. Nih kenalin Aldead di vokal/gitar, Rara di gitar, Ejasaurus di gitar/vokal, Via di bass/vokal, dan Reza di drum.

Bagaimana ceritanya kalian bisa saling bertemu dan memutuskan buat ngeband bareng?Jadi gini, kami berlima udah berteman lama sekali. Kami seringkali berbincang dan bertukar pikiran tentang kekonyolan, absurditas, candaan, curhat, khususnya musik. Sebelumnya kami tidak terpikir untuk membentuk sebuah band, karena masing-masing personel sudah memiliki band yang digarap. Seiring waktu berjalan, kami merasakan bahwa akan lebih baik jika setiap diskusi (tentang musik) dimediai oleh sesuatu sehingga pada akhir 2013 kami memutuskan untuk membuat proyek dengan format grup band yang dinamakan Heals. Singkat cerita, Heals terbentuk karena pertemanan yang menghabiskan waktu cukup lama dengan adanya kesamaan selera musik, pemikiran, dan personality dari masing-masing personel.

Apa cerita di balik nama band kalian?

Untuk nama “Heals” sendiri kami usung dengan tidak ambil pusing karena kami menginginkan nama yang singkat, padat, dan mudah diingat. Sebelumnya saat kami belum memiliki nama, kami menamakan grup di salah satu aplikasi chat (Line) kami dengan nama “Satanic” lalu saat itu kami sudah mulai bosan dengan anonimitas sehingga diganti dengan nama yang secara spontan keluar dan disepakati yaitu Heals.

Apa atau siapa saja influens bermusik kalian yang paling berpengaruh ke materi Heals saat ini?

Mengenai influence di Heals sih setiap personel punya dan berbeda-beda, seperti influence-nya Aldead yaitu Glassjaw, The Mars Volta. Rara yaitu Silverchair, M83. Eja lebih ke Japanese shoegaze, idol group Jepang dan Indonesia. Via sekarang lagi suka dengar band-band alternative rock, grunge seperti Hole, The Smashing Pumpkins dll. Influence Reza yaitu Soundgarden dan Foo Fighters. Namun perbedaan tersebut tidak jadi masalah bagi kami sehingga untuk influence Heals kami kerucutkan lagi menjadi Amusement Parks On Fire, My Vitriol, The Depreciation Guild, Tokyo Shoegazer, Luminous Orange, Anne, dan lain-lain.

How’s the creative process usually goes? Siapa yang biasanya bikin lirik dan inspirasinya dari mana saja?

Kalau proses perancangan musik sih biasanya kami adakan workshop/briefing yang dilakukan di rumah Aldead, kami semua membuat pattern dan kerangka lagu sesuka hati tetapi di studio dikurasi dan disesuaikan lagi. Untuk lirik dan inspirasi sih datang dari mana aja, seperti single kami yang berjudul “Void” itu inspirasinya datang dari sebuah film yang berjudul Gravity.

Boleh cerita soal single “Void”, what’s the story behind the song?

Oke, kalau “Void” sih sebetulnya nggak punya cerita/plot yang absolut sih, tapi “Void” itu lebih kami implisitkan dengan keadaan di mana seseorang berada di dalam titik jenuh yang paling maksimal. Menggambarkan seseorang dengan kesendirian dan berasa di ruang hampa udara. Nggak ada cerita yang nyata di lagu ini

Bagaimana dengan persiapan album? Apakah berencana rilis EP atau LP?

Persiapan untuk rilis sih sekarang sudah digarap sekitar 57% lah, rencana kami bakalan membuat rilisan di pertengahan tahun ini semoga aja nggak ngaret.

Kalian punya nggak sih sosok yang kalian anggap Local Music Heroes? Musisi lokal yang kalian kagumi atau band lokal yang kalian suka, perhaps?

Menurut kami sosok Local Music Heroes itu adalah setiap sosok yang melakukan upaya demi keberlangsungan industri musik lokal entah itu bandnya, record label, media, dll terlepas dari besar kecilnya pengaruh yang didapat. Jadi menurut kami Local Music Heroes tuh banyak banget. Kalau musisi lokal favorit setiap personel pasti punya.

Aldead: Saya sih band lokal suka banyak ada Jolly Jumper, Kaimsasikun terus Hark It’s Crawling Tar-tar.

Rara: Homogenic sama The Milo.

Eja: saya sih mengagumi Dewi Lestari, kalau untuk band lokalnya suka Friday (Surabaya).

Via: Hmm, The Milo & Boys Are Toys pas saya masih SMP. Mereka cukup menjadi inspirasi saat itu.

Reza: Gugun Blues Shelter, Pure Saturday.

Bagaimana sih kalian ngeliat scene musik di Bandung saat ini?

Aldead: Scene musik di Bandung saat ini sih lagi asik, sedang menggeliat. Gigs lagi rutin, lagi regenerasi pokoknya.

Eja: Lagi banyak bermunculan micro gig yang dikemas secara keren, dari mulai konsepnya, pengisi acaranya, dan apapun yang terlibat dengan micro gig tersebut.

Untuk Via, bagaimana rasanya jadi perempuan sendiri di band?

Rasanya enak diasuh sama 4 orang cowok yang lebih tua dari saya dan selalu dikasih pengetahuan baru. Serasa punya pacar 4, dan karena mereka semua laki-laki, no drama.

Kalau untuk kalian, apa rasanya tampil live di atas panggung? Punya memorable moment selama manggung nggak, so far

Rasanya tampil live di atas “panggung”, hhmmm lebih banyak memperhitungkan sesuatu, terus pasti persiapannya agak berlebihan walau pada akhirnya ke-blunder-an memang suka terjadi. Memorable moment selama perform sejauh ini masih memorable semua karena jumlah performance masih bisa terhitung jari hahaha.

Kalau boleh berandai-andai, what’s your dream gig?

Aldead: Coachella.

Eja: Summersonic Japan.

Ramdhan: Summer Sonic.

Via: Pengen main di gig metal, dan Heals satu-satunya band yang nggak/belum metal hehehe.

Reza: Lollapalooza, Bonnaroo.

Next plan/goal for this year?

Tahun ini beres rilisan pertama kita harus liburan se-band, haha. Jadi intinya ya tahun ini kita harus udah punya rilisan.

https://soundcloud.com/healsmusic

Foto oleh Yogha Prasiddhamukti

The Melancholic Girls of Amna Oriana

Amna Oriana

I’ve been drawing ever since I can remember, dari kecil sejak saya memegang pensil untuk pertama kalinya,” ucap Amna Oriana, seorang desainer grafis dan ilustrator muda kelahiran Denpasar 22 tahun lalu yang kini berdomisili di Bandung. “Saat saya memegang pensil pertama saya pada waktu itu juga saya yang cuma sekadar bocah umur 3 tahun mungkin nggak ada kepikiran apapun. Tapi yang jelas sejak itu saya tidak pernah berhenti menggambar,” imbuhnya. Well, untungnya Amna tak berhenti menggambar, kalau tidak mungkin saat ini kita tidak akan melihat sosok-sosok gadis misterius dengan ekspresi wajah tak tertebak yang tergurat dari goresan pensilnya.

            “I gather inspiration from everything and anything. Basically, everything and anything pretty in any form. Although as for me, sudden sparks of inspiration usually comes at unexpected times; say it when I’m about to sleep or when I’m in the shower,” ungkap lulusan DKV ITB yang kini tengah menyelesaikan proyek ilustrasi untuk buku anak-anak dan beberapa commissioned works. Let’s find out more about her.

Endurance

Nama kamu unik, ada arti tertentunya?

My parents said Amna = aman (lol, I know), Amna means safety. Lalu Ayah saya mengambil Oriana dari nama Oriana Fallaci, she was a controversial Italian journalist, famed for her political interviews and World War II reports.

Kenapa suka sekali menggambar sosok perempuan?

Mungkin karena I’m a girl myself? Hahaha, pada dasarnya saya menggambar apapun yang menginspirasi saya dan membuat saya tergerak untuk menggambarnya. Nature, landscapes, pretty places, photographs, films, artworks, flowers. And also pretty people with ethereal face. I can stare at them for hours for artistic purpose.

Siapa saja ilustrator favoritmu?

It would take hours for me to ramble on about my long list of favorite artist and illustrators, but to sum it up, Audrey Kawasaki is my ultimate favorite artist. Dan juga Shaun Tan, Ray Caesar, Hikari Shimoda, Victo Ngai, Yuko Shimizu, Sachin Teng, William Joyce, dan Yoskay Yamamoto. Saya juga mengagumi karya Ykha Amelz dan Roby Dwi Antono.

Frida

Apa medium favoritmu?

Untuk manual, medium favorit adalah pensil dan cat air. Tapi belakangan ini saya lebih banyak berkarya dengan digital painting. 

Apakah kamu sering mendengarkan musik saat berkarya?

Selalu. I have this need to listen to Perfume’s songs when I work.

Apa doodle yang sering kamu buat kalau lagi bosan?

Hairs! Garis-garis detail untuk menggambar rambut adalah part yang paling saya suka.

Longing

Apa hal yang suka kamu lakukan di samping membuat ilustrasi?

Watch movies, take photos, read books, or just do nothing and rob my time to imagining and re-imagining entirely made-up scenarios in my head.

What’s your dream project?

To make visual book as pretty as Shaun Tan’s The Arrival.

Apa quote favoritmu tentang art?

Ini dari Sylvia Plath: “The worst enemy to creativity is self-doubt.”

 Wisdom Teeth

http://a-m-n.tumblr.com/

Book Club: Based on a True Story 01- Pure Saturday

Pure Saturday

Pure Saturday (Based on a True story)

Idhar Resmadi

U&kl Books

Ada beberapa faktor yang menggugah saya untuk segera membaca buku biografi band Pure Saturday ini. Yang pertama menangkap perhatian tentu wujud fisiknya. Dari segi desain semata, buku pertama lansiran U&KL Publishing ini terlihat unik dengan desain cover minimalis dan clean berwarna putih bertuliskan Pure Saturday yang diselimuti cover jacket berwarna serupa yang menampilkan tulisan Based on a True Story. U&KL Publishing sendiri merupakan sub division terbaru dari UNKL347, sebuah brand sub culture yang pasti telah akrab di telinga kaum urban dan kreatif Tanah Air. Dilahirkan oleh sebuah rumah desain mumpuni, pemilihan materi kertas, font, layout dan foto-foto yang dipakai dalam buku ini akan mendapat apresiasi dari siapapun yang menggemari desain produk. Faktor kedua untuk saya pribadi adalah penulis buku ini, Idhar Resmadi, seorang jurnalis musik dan budaya populer yang tulisan-tulisannya telah saya akrabi sejak ia menjabat sebagai pemimpin redaksi Ripple Magazine. Faktor ketiga dan paling krusial tentu saja subjek isi buku ini sendiri. Pure Saturday yang kini terdiri dari Satrio Nurbambang (vokal & gitar akustik), Adhitya Ardinugraha (gitar), Arief Hamdani (gitar), Ade Purnama (bass), dan Yudhistira Ardinugraha (drum) merupakan salah satu band lokal paling legendaris yang memiliki pengaruh besar pada dunia musik Indonesia, khususnya skena indie, sampai hari ini.  Ditulis dengan pendekatan studi literatur dan interview personal tak hanya dengan kelima personel PS saat ini, tapi juga bersama Suar Nasution, vokalis pertama mereka yang juga salah satu founder band tersebut, para manajer, dan orang-orang dalam lainnya, Idhar memaparkan setiap langkah yang telah ditempuh band asal Bandung tersebut sepanjang karier mereka yang tahun depan genap berusia 20 tahun.

Bicara tentang buku biografi sebuah band, berarti bicara tentang sejarah, drama balik layar, dan, suka-duka, dan legacy dari band tersebut dengan cara yang candid. Jujur saja, saya baru benar-benar mengenal dan mulai mendengarkan band ini sekitar 2005, dari album ketiga mereka Elora. Ingatan saya sebelum itu tentang band ini mungkin hanya beberapa bait lagu “Kosong” yang dulu kerap dinyanyikan kakak saya sambil main gitar. Lewat buku ini, banyak sekali cerita yang benar-benar baru saya ketahui soal band ini saat saya ‘terlempar’ ke tahun 1994, ketika band ini bercikal dari sebuah band tongkrongan bernama Tambal Band di sebuah sudut kota Bandung yang dinamakan Gudang Coklat. Bagaimana kelima personel formasi awal bertemu, berganti nama menjadi Pure Saturday demi mengikuti festival musik pertama mereka yang kemudian berhasil keluar sebagai pemenang, yang kemudian melejitkan nama mereka di acara-acara musik di Bandung.

Semakin menyusuri kedelapan bab dalam buku ini, semakin saya tenggelam dalam memory lane yang terjadi pada Pure Saturday. Semua cerita pahit-manis mereka dari mulai proses penciptaan album debut yang menjadi tonggak meledaknya musik alternatif Indonesia, bagaimana mereka menjalani popularitas yang ternyata sejalan dengan banyak persoalan baru, pergelutan emosi antara personel, pergantian vokalis dan gigihnya Satrio sebagai vokalis baru untuk membuktikan diri di antara cemoohan, hingga akhirnya Pure Saturday berhasil melewati semua itu dan tetap bertahan sampai sekarang dengan lima album dan fans yang tetap setia, semua itu berhasil dirangkum dan dipaparkan dengan komprehensif oleh Idhar.

Terlepas dari beberapa minor technical mistakes dari segi tata bahasa dan beberapa alur yang kadang terkesan ‘melompat-lompat’, buku setebal 230 halaman ini adalah dokumentasi menawan yang menyoal musik Indonesia dari salah satu band Tanah Air yang paling gemilang. Bukan hanya bagi para fans Pure Saturday yang disebut Pure People, tapi juga untuk siapapun yang mencintai musik dan khususnya bagi band sekelas Pure Saturday itu sendiri. They deserved it, we deserved it.

 

On The Records: Risa Saraswati

Story of Peter

Risa Saraswati seolah terbiasa hidup dalam dua dunia yang berbeda, baik secara kiasan maupun harafiah. Kartu Identitasnya menegaskan jika ia memiliki daily job sebagai pegawai negeri sipil, namun sebetulnya banyak orang lebih mengenal namanya sebagai seorang musisi, berkat perannya sebagai vokalis pertama band electropop Homogenic sebelum memutuskan keluar lalu memulai karier solo dengan nama Sarasvati dan merilis EP berjudul Story of Peter tahun 2010 lalu. EP berisi 7 lagu tersebut mendapat respons positif karena musikalitasnya yang memang menarik, di mana Risa memadukan melodi pop bernuansa eerie dengan vokal merdunya yang menyanyikan lagu-lagu naratif yang liriknya ia tulis sendiri.

 Faktanya, Risa memang termasuk orang yang memiliki kelebihan untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka yang tak kasat mata. Sebelumnya mungkin hanya orang terdekatnya yang mengetahui soal ini, namun kini hal itu bukan rahasia lagi, terutama setelah di awal tahun 2012 Risa menulis sebuah buku berjudul Danur yang merangkum cerita persahabatannya dengan lima hantu anak-anak Belanda sejak ia masih kecil sampai sekarang. Menjelang akhir tahun 2012 kemarin, Risa menyiapkan kejutan tersendiri dengan menggelar konser solo Sarasvati bertajuk Nishkala di Sabuga Bandung tanggal 1 November lalu. Dan dalam konser yang ditonton 3 ribu orang dan melibatkan 96 talent tersebut, album kedua Sarasvati berjudul Mirror dan buku kedua Risa berjudul Maddah pun dirilis secara bersamaan.

Hi Teh Risa, apa kabar? Lagi apa sebelum balas email ini?
Sedang sibuk mengurus proses mutasi PNS saya ke kota Bandung, hihihi.

Sekarang lagi sibuk apa saja?
Masih menghajar tawaran manggung dan promo radio untuk Sarasvati dan buku kedua saya.

Congrats untuk digelarnya mini konser Nishkala, bagaimana persiapannya?
Sepertinya itu bukan mini konser, hahaha, karena ditonton 3.000 orang dan ada 96 talent yang terlibat dalam Nishkala Sarasvati. Persiapannya luar biasa bagai Sangkuriang membuat perahu untuk ibunya, kurang lebih selama 1 bulan ketar ketir mewujudkan konsep yang sudah disusun. Beruntung, semuanya berjalan lancar sesuai dengan keinginan kami (Sarasvati) dan pihak sponsor.

Maddah

Mana yang lebih dulu muncul, novel Maddah atau album Mirror? Dan bagaimana mereka saling memengaruhi satu sama lain?
Keduanya lahir bersama di tanggal 1 November 2012, bertepatan dengan konser Nishkala. Memang direncanakan seperti itu, lahir bersamaan dalam sebuah konser yang mewakili keduanya. Ada beberapa lagu yang bercerita tentang beberapa bab di Maddah. Cukup berkesinambungan, rasanya tak cukup jika hanya memiliki salah satunya 🙂

Apa cerita di balik pemilihan judul “Mirror” dan “Maddah”?
Maddah merupakan saduran bahasa Arab ke Indonesia yang berarti “perpanjangan”, ini adalah buku perpanjangan dari buku pertama saya Danur. Sementara Mirror diambil dari salah satu judul lagu di album ini, kami mengartikan “sebuah cara pandang baru dari mereka yang tinggal di dalam cermin”. Mungkin kamu pernah berandai-andai bahwa ada sebuah dunia di balik sebuah cermin?

Mirror

Konsep packaging CD-nya yang berupa sepucuk surat usang itu idenya darimana? Dan ilustrasi seram di CD-nya mirip seperti lukisan tua Oei Hui Lan di Hotel Tugu, apa memang referensinya dari situ?
Konsep sebenarnya muncul dari cover designer (Syagini & Zanun), mereka membaca lirik dan mendengarkan materi album lalu mencoba menerjemahkannya dalam sebuah design. Untuk lukisan Oei Hui Lan di Hotel Tugu sendiri memang sempat saya mengungkapkan kekaguman saya terhadap lukisan itu pada designer, dan akhirnya menjadikan referensi untuk album Mirror.

Bagaimana ceritanya sampai Cholil Efek Rumah Kaca, Arina Mocca dan Dewa Budjana bisa terlibat di album ini?
Saya dan Cholil pernah berkolaborasi di konser Mancawarna tahun lalu, dan terlintas keinginan untuk berkolaborasi pada lagu Sarasvati di album terbaru, beruntung Cholil sangat antusias menerima ajakan kami untuk bernyanyi penuh di lagu baru kami. Arina sendiri merupakan sahabat saya, kami pernah bernyanyi bersama di lagi “Danur” versi free download, lagi-lagi beruntung pada saat proses recording album Mirror, Arina sedang berlibur pulang ke Indonesia, maka diaransemen ulanglah lagu “Danur” dengan merekam kembali suara Arina di studio. Dewa Budjana? Ini benar-benar di luar ekspektasi kami, lewat perkenalan via sms karena beliau sering melihat video kami di Youtube, berlanjut bertemu dan tercetus “Kapan-kapan mau dong ikut berpartisipasi di album Sarasvati!”, voila!!!! Aha aha aha.

Saya pernah baca kalau Teh Risa bilang studio rekaman adalah tempat kondusif untuk “mereka” dan sering ada kejadian-kejadian aneh saat Teh Risa di studio, apa kali ini juga begitu?
Hmmm mungkin sebenarnya banyak kejadian-kejadian aneh saat penggarapan album ini, tapi konsentrasi saya dan teman teman Sarasvati lebih ke “bagaimana caranya agar lekas rampung” karena deadline dan tanggal konser yang sudah terpampang di hadapan kami semua, hihi. Jadi kami cuek-cuek saja walau banyak orang luar yang berkata ada kejadian ini itu, hihi.

Jika harus memilih, mana dari 10 lagu di album ini yang menurut Teh Risa paling berkesan, entah saat penulisan, perekaman atau cerita di baliknya?
“Death Can Tell A Lie”, track terakhir di album Mirror ini bukan ditulis oleh saya. Lagu ini muncul menggenapkan album kami menjadi 10 track, muncul di saat kami sudah mulai stuck dengan stok lagu. Tiba-tiba saja Kiki Chan (vokalis Olive Tree, designer fragrance) nge-bbm saya dan bilang “Aku punya lagi yang kayaknya cocok buat Sarasvati”. Begitu mendengarkan, saya langsung jatuh cinta dan meminta Kiki untuk masuk studio keesokan harinya 😀

Secara musikal, apa yang membedakan album ini dari album sebelumnya? Ada influence tertentu?
Mmmmh… Saya merasa Sarasvati yang sekarang adalah sebuah kesatuan band, bukan solo project lagi. Perbedaan latar belakang musik para personelnya tak menjadi hambatan untuk bersama-sama mengaransemen lagu-lagu di album ini, sebaliknya malah membuat musik Sarasvati menjadi semakin kaya.

Di Sarasvati sendiri sekarang ini ada berapa orang yang terlibat?
Kami terdiri dari 11 orang personel. Risa (vokal), Egi (gitar, arr), Akew (gitar, arr), Gallang (bass, arr), Yura (kibor, vokal latar), Diva (kibor), Shella (vokal latar), Jimbot (kecapi suling), Sherry (drum) dan Papay (drum).

Sempat ada yang bilang  jika setelah album kedua, Sarasvati akan bubar, apakah hal itu tetap akan terjadi?
Entahlah, tapi kalau kata Kiki Chan sih “Death Can Tell A Lie” bukan? Hahaha lihat saja nanti 🙂

Ada rencana bikin video klip lagi?
Segera, dalam waktu dekat.

Kalau Teh Risa sendiri sekarang ini lagi suka ngapain sih di luar musik?
Menulis cerita-cerita baru, hehe, syuting untuk acara cari hantu di TV nasional (ssssh yang ini tak usah dibahas lebih lanjut ya hihi) dan bekerja sebagai PNS.

Gimana sih kondisi ideal untuk menulis bagi Teh Risa? Siapa penulis favorit teteh?
Kondisi ideal? Saat mood menulis sedang datang dan tak ada kerjaan, hehehe. Saya suka sekali Enyd Blyton dan R.L Stine.

Apa cerita horror (buku/film) favorit Teh Risa?
Suka sekali film Interview With Vampire, kalau buku… Mungkin karya-karyanya R.L Stine ya 🙂

Apa harapan/rencana Teh Risa selanjutnya?
Buku saya dan CD Sarasvati laris manis sehingga balik modal… Hihi FYI kami merilis tanpa label dan penerbit. Doakan ya! 😉

nishkala

http://www.sarasvatimusic.com/

Foto oleh Marisca Violeta

For Fun’s Sake, An Interview With Homogenic

Di usia yang akan menginjak satu dekade,  Homogenic memilih untuk bersikap carefree dalam bermusik. Let’s talk about it, shall we? 

Saya ingat pertama kali mengenal nama Homogenic adalah saat menonton penampilan perdana unit musik elektronik asal Bandung tersebut di salah satu program MTV Indonesia sekitar tahun 2004 silam. Terdiri dari vokalis Risa Saraswati serta duo pemain synth/programmer Dina Dellyana dan Grahadea Kusuf, penampilan mereka waktu itu masih terlihat mentah dan tak bisa dibilang sempurna, namun penampilan itu juga yang membuat saya terkesan dengan format dan musik mereka yang begitu berbeda dari yang ada di scene musik Indonesia kala itu.

            Tak lama, mereka merilis album debut berjudul Epic Symphony, yang dirilis FFWD Records di tahun yang sama. Album bernuansa gloomy berisi 12 lagu berbahasa Indonesia dan Inggris tersebut sukses menjadi angin segar tersendiri dan menjadi salah satu rilisan musik paling memorable di masa itu bagi arus musik non-mainstream Indonesia. Sejak itu pula, saya tak pernah luput mengikuti sepak terjang band yang namanya dipinjam dari salah satu album Björk ini, termasuk saat mereka merilis album kedua, Echoes of Universe di tahun 2006 dan terutama saat Risa memutuskan keluar dan digantikan oleh Amandia Syachridar. Masuknya Amandia yang akrab dipanggil Manda ternyata tak hanya membawa warna vokal baru, namun juga injeksi semangat yang tercermin di album ketiga, Let A Thousand Flowers Bloom, yang bernuansa lebih optimis dan cerah. Kini, setelah dihadapkan dengan realita seperti pernikahan dan kehidupan berkeluarga yang dijalani setiap personel, mereka kembali dengan single terbaru “Get Up And Go” dari sebuah EP bertitel Let’s Talk yang menjadi soundtrack dari film drama komedi Demi Ucok.

“Kebetulan Atyd (Sammaria Simanjuntak, sutradara Demi Ucok) adalah fans Homogenic sejak lama dan pernah bekerjasama dengan kami di film karya dia sebelumnya, cin(T)a. Dan selama promo film cin(T)a, Atyd sering curhat dan jalan bareng dengan Dina sehingga akhirnya jadi ide awal film Demi Ucok. Mengenai isi curhatan mereka, saya nggak tau berhubung isinya girl talk banget.” Terang Grahadea tentang awal tercetusnya project ini. Walaupun hanya memiliki tenggat waktu selama 3 bulan, mereka berhasil membuat 5 lagu baru dan 2 lagu remake (“Utopia” dan “Walk in Silence” dari album kedua) untuk EP ini berkat karantina selama dua minggu di studio dan proses kreatif yang melibatkan semua personel dalam pembuatan lagu dan lirik, termasuk para personel live band mereka yang terdiri dari bassist Iman, drummer Gabriel Gebeg dan back vox/synth Maradilla Syachridar. Dalam EP Let’s Talk ini juga, ketiga live player yang kerap disebut Homogenic Family tersebut secara resmi diangkat menjadi core member Homogenic berkat kontribusi mereka yang besar dalam perjalanan band ini.

            Saat pertama kali mendengar “Get Up And Go”, saya agak tidak percaya jika lagu tersebut milik Homogenic. Single yang sudah dibuat videonya tersebut memang terdengar begitu lain dari image yang selama ini melekat di Homogenic, yaitu dingin dan muram. Di videonya, terlihat semua personel bercanda gurau dan dengan lincah mengikuti irama musiknya yang upbeat dan uplifting. Pro dan kontra pun memanas, ada yang dengan terang-terangan bilang tidak suka Homogenic rasa ceria ini, walau banyak juga yang mendukung arah baru tersebut. “Ya, di Homogenic kami berusaha selalu jujur terhadap karya sendiri, jadinya otomatis tiap karya yang kami hasilkan adalah refleksi dari mood saat itu,” ungkap Dea, “Saat ini kami sedang sangat berbahagia dengan kehidupan pribadi dan profesional masing-masing. Dan kami mulai berpikir kalau bermusik itu adalah passion, kesenangan, dan ultimate pleasure untuk kami. Jadi.ngapain dibikin ribet, sedih, bergalau-galau?” tambah pria yang sudah dikarunia dua anak tersebut, sebelum diteruskan oleh Dina: “Kami sekarang dalam tahap ‘terserah kata orang apa, yang penting kita fun dan enjoy’, hahaha…Dan kami sangat menikmati lagu-lagu yang ada di EP ini, beda aja gitu menurut kami, nggak tau ya kata orang. Tapi ya setelah liat komen di YouTube, keliatannya banyak yang shock ya liat video klip ini, tapi justru komentar-komentar itu yang membuat kami malah tersenyum sendiri dan terus semangat buat ‘mengagetkan’ pemirsa sekalian yang berbahagia haha!”

Rentang waktu 10 tahun memang tak bisa dibilang sebentar bagi band yang terbentuk tahun 2002 ini. Setiap personel mempunyai kesan masing-masing walau secara umum mereka menapaki usia satu dekade ini dengan begitu bersemangat. “Dengan gabung sama Homogenic di tahun 2009 aja udah seneng banget, begitu masuk lebih deket lagi sama semua personel, crew, manajer, pokoknya full team yang ada di Homogenic, aku ngerasa punya keluarga kedua. Keluarga yang selalu ada saat suka maupun duka. Pokoknya sangat bersyukur bisa jadi bagian dari team yang hebat ini.” Ujar Manda yang baru saja menjadi seorang ibu. Sementara Dea yang juga berkarier sebagai pemilik perusahaan music software mengungkapkan: “Yang pasti saat-saat ini adalah masa ter-enjoy selama Homogenic berdiri. Selain kami makin sync secara teamwork, hubungan pertemanan antara kami juga makin solid. Manda, Dilla, dan Gebeg punya karakter spirit yang positif, jadinya banyak kasih pengaruh cerah juga ke mood saya, Dina, dan Iman yang duluan ada di Homogenic.”

Kesan yang sama pun diutarakan Dina yang sedang mengambil program S3 di Science Management ITB, “Saya juga kaget ternyata sudah selama itu ya? Hahaha…Intinya Homogenic ini sudah mengiringi hidup saya dan membentuk karakter saya yang sekarang. Saya tumbuh bersama band ini, dan kami adalah entitas yang tidak mungkin dipisahkan. Kalau pengalaman manggung ya pasti ada aja yang fun atau beda, tapi, ternyata band ini lebih dari perjalanan musik semata, tapi perjalanan sebuah keluarga dan pendewasaan diri.” Ungkapnya. Disinggung tentang fakta jika para personel telah berkeluarga dan memiliki momongan, mereka mengaku jika keluarga sama sekali bukan halangan bagi lajunya band ini, walau tetap, mau tak mau, keluarga adalah prioritas utama. “Untungnya kami punya keluarga yang sangat pro dengan kegiatan bermusik kami di Homogenic, malah kadang-kadang kalau lagi pada nggak terlalu sibuk, para pasangan kami yang ngeluangin waktu biar bisa nonton kami manggung. Hehe.” Tandas Manda yang disetujui Dina dan Dea yang menambahkan jika mereka berharap Homogenic akan terus ada sampai anak-anak mereka beranjak besar dan meneruskan semangat mereka dalam bermusik.

Untuk saat ini, selain disibukkan materi promosi untuk Let’s Talk dan terus mengulik berbagai synth baru, Homogenic telah memiliki banyak rencana ke depan yang meliputi album remix, album nite version dan DVD live concert. Lalu bagaimana dengan full album mereka selanjutnya?  “Sejujurnya, kami sudah mulai sharing referensi dan mixtape melalui shared folder di Dropbox. Lagu-lagu yang kami share secara internal itu akan menjadi fondasi album ke-4 Homogenic.” Jawab Dea dengan senyuman antusias. Sepuluh tahun memang telah berlalu dan walau kini Homogenic World bertransisi ke dunia yang lebih cerah, saya yakin bukan hanya saya seorang yang masih ingin tinggal di lanskap musikal gubahan mereka. Rasa optimisme yang terpancar dari pendewasaan mereka dalam memandang hidup dan berkarya memang terasa menyilaukan, siapapun akan turut bersemangat menantikan langkah mereka selanjutnya.

As published in NYLON Indonesia July 2012

Photo by Muhammad Asranur

http://homogenicworld.com/home/

The Sugary Drawings of Oktarina Lukitasari

Bagi Oktarina Lukitasari atau yang biasa dipanggil Na, inspirasi untuk menggambar bisa datang dari hal-hal sederhana di mana dan kapan saja, misalnya ketika sedang di toko kue ia melihat kue pretzel, freelance designer asal Bandung ini langsung terinspirasi membuat ilustrasi bergambar pretzel dan hasilnya adalah satu ilustrasi anak perempuan yang memakai headpiece berbentuk pretzel raksasa di kepalanya. Ilustrasi tersebut hanyalah satu dari banyak artwork manis lainnya yang bisa kamu lihat di akun Tumblr milik gadis kelahiran 1986 yang mengambil kuliah jurusan Interior Design di ITENAS Bandung ini. Setiap ilustrasinya memakai palet warna pastel dan menampilkan objek favoritnya yaitu anak perempuan berpipi merah dengan latar yang simpel dan dreamy. Kesan girly dan polos terasa kental saat melihat ilustrasinya dan kata “manis” pun melekat di benakmu, sensasi yang sama jika kamu melihat gambar strawberry shortcake atau foto anak kelinci yang menggemaskan. “Karya yang spontan dan ringan, haha. Yang penting bisa bikin yang melihat jadi ikut merasakan apa yang ingin disampaikan di gambar.” Ujar Na saat diminta menjelaskan tentang karyanya. Well, I think she’s just nailed it.

What’s your early memory about drawing?

Dulu waktu kecil, mama kalau ajarin gambar pasti gambar baju-bajuan, terus jadi suka iseng bikin gambar, dari doodling, gambarin buat teman dan akhirnya suka gambar di sketchbook. Dari dulu suka gambar pakai pensil warna dan cat air, gambar digital juga pakai efek dan brush cat air.

Ilustrasimu terlihat sangat girly dan manis, apa inspirasimu?

Karena juga suka fashion, saya sangat suka dengan Fifi Lapin, fashion illustration nya sangat lucu, saya penyuka kelinci dan Fifi Lapin adalah kelinci paling fashionable di dunia, hehe. Selain itu suka juga sama karyanya Courtney Brims, Conrad Roset, dan Laura Laine. Kalau dari Indonesia, saya suka ilustrasinya Amanda Mitsuri dan Diantra Irawan, karakter karya mereka kuat.

Kamu juga punya label aksesori bernama Moschia, tell me about it.

Moschia itu adalah label aksesori yang saya dan teman saya yang bernama Marchseu kerjakan. Awalnya iseng-iseng pas kuliah dan banyak teman yang suka, akhirnya ikutan bazaar, pameran, lalu sekarang suka juga nitip di salah satu toko di Bandung. Kita lebih banyak ngerjain gelang-gelang dengan warna pastel yang ringan.

What’s your dream?

Sangat ingin bikin produk dengan ilustrasi gambar yang ada, diaplikasikan dalam bentuk produk atau interior dan masih ingin melanjutkan Moschia nya. Sebenarnya ada passion untuk di bidang fashion juga, ingin bisa punya label fashion sendiri.

As published in NYLON Indonesia February 2012

 http://oktarinacil.tumblr.com/

Sweeter Than Fiction, An Interview With Maradilla Syachridar

Selalu menyenangkan untuk mengulik sosok seorang novelis, dan dalam kasus Maradilla Syachridar, the excitement times two.

Sekarang ini bila kita datang ke toko buku, melihat rak khusus yang ditujukan untuk karya para penulis muda Indonesia tentu bukan hal yang aneh lagi. Kita tentu masih ingat ada semacam gairah menulis dan membaca di kalangan anak muda, di mana setiap harinya bermunculan buku-buku baru dari berbagai genre, walau yang menjadi mayoritas adalah teen-lit dan humor. Dari sekian banyak penulis itu, satu nama yang menarik untuk diangkat adalah Maradilla Syachridar yang pertama kali dikenal sebagai penulis saat menerbitkan buku pertamanya, Ketika Daun Bercerita, tahun 2008 lalu. Menyebut nama Seno Gumira, Stephen Chbosky, Haruki Murakami, Ugoran Prasad, Budi Darma, Steve Toltz, dan Paolo Coelho sebagai penulis favoritnya, nama Maradilla kian dikenal publik sejak merilis novel kedua berjudul Turiya yang diterbitkan oleh Else-Press bulan April kemarin.

Turiya sendiri bercerita tentang tiga orang sahabat bernama Dwayne, Millo dan King. Mengangkat tema cinta dan arti kebahagiaan dengan elemen pendukung seperti lucid dream, wine, dan filsafat, dipermanis dengan ilustrasi buatan Ykha Amelz yang mempertajam ambient yang ingin disampaikan, Turiya mungkin terkesan rumit tapi jangan bayangkan sosok penulisnya sebagai orang yang serius dan kaku karena Maradilla adalah pribadi yang menarik dengan paras cantik khas mojang Bandung. Selain sibuk menulis dan menyelesaikan skripsinya di Fakultas Hukum UNPAD, hari-hari gadis manis kelahiran 22 Maret 1987 ini juga diisi dengan menjadi announcer Rase FM Bandung dan tampil bersama Homogenic sebagai additional vocal dan synth player. Ketika tempo hari saya mengunjungi Bandung, tentu saja saya tak melewatkan kesempatan untuk bertemu dengannya dan mencoba mengenal dirinya sebagai penulis dengan lebih jauh, so here it is:

How do you reflect yourself in your writing?

Seorang Maradilla Syachridar dari sisi yang berbeda. Ketika dalam kehidupan sehari-hari saya menjadi pribadi yang terkesan cuek dan playful, setiap karya yang saya buat adalah sebuah cara untuk memperlihatkan the diary of my inner emotions, thoughts, and philosophical stuffs, karena saya tidak mau menyimpan semuanya sendirian.

Apa perbedaan paling signifikan dari Turiya bila dibandingkan novel pertamamu, Ketika Daun Bercerita?

Walaupun dalam setiap karya saya selalu ada karakter khas yang menjadi benang merah, tapi kalau dilihat ada satu perbedaan besar antara Turiya dan Ketika Daun Bercerita. Saya merasa novel Ketika Daun Bercerita masih sangat memperlihatkan sisi naif saya dalam membuat suatu cerita (which is good for my learning progress), dan Turiya adalah satu karya yang ditulis pada fase dimana saya mulai ingin memperkuat karakter penulisan saya.

Bagian paling sulit dalam menulis sebuah cerita menurutmu?

Menjahit bagian-bagian atau cerita-cerita yang berdiri sendiri, karena saya jarang membuat kerangka cerita, maka yang ada di otak ya tulis aja dulu. Lalu tantangan selanjutnya adalah bagaimana caranya menjembatani ide-ide yang ditulis secara acak menjadi satu keseluruhan cerita.

Do you ever feel creatively blocked?

Bukan pernah lagi, tapi sering, apalagi sebenarnya saya adalah orang yang cukup moody dalam hal menulis. Akhirnya ketika saya mulai menerima tawaran-tawaran untuk menulis di luar novel, saya mulai berlatih untuk berdamai dengan deadline. Jadi ya itu, ketika stuck, saya tidak lagi menuruti ego saya, tapi berusaha untuk mencari referensi dan hal-hal yang bersifat refreshing.

Buku paling berkesan yang pernah kamu baca?

Terlalu banyak. Tapi salah satu buku paling berkesan yang saya baca akhir-akhir ini adalah buku lama, A Fraction of The Whole oleh Steve Toltz. Ibaratnya kitab suci, kalau saya buka acak, semua kata-katanya quotable. Banyak kata-katanya yang “Berteriak”, dan memunculkan rasa panas di hati karena penciptaan karakter utamanya yang sangat kuat dan brilian.

Ketika menulis, bagaimana caramu meriset detail atau mengumpulkan bahan cerita dalam tulisanmu? Apakah kamu membaca/mendengarkan musik/menonton film tertentu ketika sedang menulis Turiya?

Ya. Saya banyak belajar dari buku-buku dari Budi Darma, buku-buku tentang wine, History of Art (karena banyak menyinggung aliran-aliran lukisan) banyak menonton film-film yang bertemakan mimpi (Film-filmnya Akira Kurosawa atau Michel Gondry misalnya), dan musik-musik yang cenderung dreamy.

Selain dari literatur yang kamu baca, dari mana lagi biasanya kamu mendapat inspirasi atau stimulasi kreatif?

Random googling, blogwalking, sampai-sampai saya merasa tersesat dan penuh dengan inspirasi karena beberapa kali terdampar di blog orang-orang yang saya sendiri tidak menyangka bisa menemukannya.

Since Turiya talks a lot about wine, do you enjoy drinking the wine too? Kalau iya, jenis wine favoritmu apa?

Just being the social drinker. Saya lebih tertarik pada filosofi dan sejarah pembuatannya daripada meminumnya. Tapi, untuk wine favorit, pilihan saya akan jatuh pada wine yang cenderung feminin, seperti Moscato dan sparkling Chardonnay.

Komentar paling menyebalkan yang pernah kamu terima terkait dengan tulisanmu?

Sebenarnya dibilang menyebalkan enggak juga sih. Menyentil mungkin. Saya pernah dikritik bahwa tema yang diambil pada tulisan Turiya cukup umum dan sederhana, tapi saya terkesan terlalu berambisi untuk membuatnya menjadi berat. Padahal memang sengaja dibuat demikian, karena dulu saya menulisnya memang sedang dalam fase seperti itu. Saya pikir menarik juga untuk mengabadikan momen dimana saya sedang mengalami (yang kritikus sastra biasa bilang) fase sastra kamus.

Project selanjutnya? Sudah ada rencana untuk menulis lagi?

Sudah mulai jalan. Untuk proyek selanjutnya saya bersama 6 penulis lainnya sedang membuat buku kumpulan cerpen, dan juga mulai menyicil novel ketiga dan keempat secara bersamaan.

As published in NYLON Indonesia October 2011

Photo by Deni Dani

http://www.maradilla.com/

Seeing Sounds, An Interview With Sparkle Afternoon

Sparkle Afternoon melukis dunia mereka sendiri lewat nada-nada eksperimental yang lembut dan keras di saat yang sama, so are you in? 

Apa yang ada di benakmu saat mendengar kata dream pop? Kemungkinan besar yang terpikir adalah musik beraransemen meruang dengan soundscape yang seakan bercerita tanpa harus dihiasi vokal dan lirik sekali pun. Saya juga percaya jika lagu dream pop yang baik adalah yang bisa membuatmu melamun dan membayangkan suatu scenery tertentu. Well, hal seperti itulah yang membuat saya langsung suka saat pertama kali mendengarkan single “Gorgeous” milik Sparkle Afternoon. Dibuka dengan dentingan piano yang menjadi pengantar vokal lirih seorang gadis sebelum lengkingan gitar mulai masuk dan semakin intens saat menuju menit ketiga lagu berdurasi sekitar 4 menit tersebut, saya terhanyut dalam ruang yang dibangun lagu yang sedikit mengingatkan saya akan masa-masa awal Homogenic dalam versi less-electronic ini.

Terdiri dari vokalis Ratih Kemala Dewi, gitaris Diki Setiadi, gitaris Yogie Riyanto, bassist Warna Kurnia, drummer Tedy Wijaya dan keyboardist Rizka Rahmawaty, unit musik dari Bandung ini memang meramu musik yang kerap didefinisikan sebagai dream pop dengan nuansa post-rock dan shoegaze yang kental. “Sebenarnya dari dulu kami nggak pernah nentuin mau main musik seperti apa, dulu sempat ke arah indie pop, tapi karena sekarang influensnya juga semakin bertambah akhirnya musik yang kami rilis sekarang seperti ini, ada post-rock, dream pop, shoegaze minimalis dan ada eksperimentalnya juga.” Jawab Yogie saat saya bertanya tentang konsep musik mereka yang mengaku mendapat influens dari band-band seperti God Is an Astronaut dan Maybeshewill.

Dream pop dan post-rock sendiri sama sekali bukan hal yang asing di scene musik Indonesia saat ini sehingga mau tak mau mereka harus memiliki suatu ciri khas yang bisa membuat mereka standout di antara puluhan band segenre di negeri ini, untungnya mereka punya hal itu. Selain memiliki vokalis perempuan yang juga pemain glockenspiel, hal menarik lainnya dari band ini adalah komposisi musik yang kerap mengawinkan dentingan keyboard Rizka dengan kocokan gitar Diki yang powerful (sebelumnya ia tergabung di band metal). Terdengar kontras memang, but opposites attract dan justru itulah yang membuat musik mereka menyenangkan untuk disimak. Bisa dibilang, keyboard adalah salah satu pilar utama band ini, karena itu saya bertanya kepada Rizka tentang influens dari permainan keyboardnya yang kadang terdengar psychedelic itu, “Dulu saya sempat suka banget sama Ray Manzarek (keyboardist The Doors), cuma kalau menyebutnya sebagai influens, kayanya juga nggak sampai segitunya, jadi ya sudah ngalir aja, saya bukan pemain yang baik tapi tetap berusaha untuk punya style sendiri.” Jawab gadis mungil ini dengan merendah.

Dalam band profile-nya, mereka menulis jika saat yang tepat untuk mendengarkan lagu-lagu mereka adalah di sebuah padang rumput terbuka dengan langit yang sedikit mendung. “Katanya sih musik kami lebih ‘kena’ ke pendengar cewek, kaya lagu ‘Gorgeous’ itu yang nyeritain tentang perempuan.” Ungkap Diki yang disetujui personel lainnya, tentang beberapa lagu mereka yang telah dirilis dalam format split album bersama band post-rock Bandung bernama Under The Bright Big Yellow Sun dengan judul We Sit Under The Bright Big Yellow Sun in Sparkle Afternoon yang dirilis Loud For Goodness Records bulan Oktober 2010 lalu. Sebelum itu, dua lagu mereka yaitu “Gorgeous” dan “Fade Away” juga sempat dirilis oleh BFW Recordings, sebuah netlabel asal Manchester, Inggris yang memang spesialis genre ambient, shoegaze, experimental dan semacamnya. “Untuk suasana yang pas mungkin lebih ke nature seperti film Heima, haha,” ucap Yogie sebelum meneruskan, “Harapan kami untuk gig Sparkle Afternoon sendiri lebih yang outdoor atau mungkin di galeri, dan kurang cocok juga kalau siang hari.” Ujar sosok yang termasuk aktif di scene musik Bandung sebagai Head Chief dari Glasslike ent. yang rutin menggelar event bernama Hearing Goodness ini.

Bicara tentang langkah Sparkle Afternoon selanjutnya, mereka mengaku tidak terdesak oleh target, karena saat ini mayoritas personel baru saja meniti karier masing-masing, kecuali Rizka yang masih kuliah, sementara Mala dan Tedy pun kini berdomisili di Jakarta sehingga mereka merasa sedikit kerepotan untuk mengatur jadwal latihan. “Kalau latihan kita live streaming! Haha,” canda Yogie, “Kalau ada materi atau ide-ide baru kita bisa lewat Skype dan kalau mau manggung kita pasti latihan, kadang di Bandung atau nyamperin yang di Jakarta, yang penting tetap komunikasi.” tambah Diki. Masalah perbedaan geografis memang terdengar seperti hal yang telah usang, jangankan Jakarta – Bandung, jarak antar benua pun tak menghalangi mereka menyiapkan sebuah split album bersama band shoegaze asal US, The Sunshine Factory, di samping menggarap materi untuk full album mereka yang diharapkan rilis tahun ini. That’s definitely some sparks to watch out.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur.