The Retrofuturism Collages of Resatio Adi Putra

Resatio Adi Putra telah mencoba banyak medium dalam membuat ilustrasi sebelum akhirnya pria kelahiran Bandung 26 tahun yang lalu ini memantapkan diri untuk fokus dengan kolase. Mengambil inspirasi terbesar dari alam bawah sadar, mimpi, surrealism dan fairy tale, sejak 4 tahun lalu Tio mulai membuat kolase-kolase whimsical dan retrofuturism untuk berbagai media, mulai dari gig poster, t-shirt dan berbagai fashion spread yang salah satunya pernah dimuat di situs Vogue Italia.

Kenapa akhirnya kamu memilih kolase?

Saya suka mengumpulkan gambar, ilustrasi, dan foto-foto tua. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan ketika melihat gambar-gambar tersebut, ada perasaan magis. Dari sana saya saya mencoba membuat suatu karya yang mempergunakan gambar-gambar yang saya punya tersebut. Selain itu, kolase adalah sebuah kecenderungan yang menolak untuk mati bahkan dengan lahirnya teknologi digital pada masa kini.

Siapa seniman yang paling menginspirasimu?

Influence terbesar saya ialah Jan Svankmajer dengan karakter-karakter dan bizzare scenes dalam filmnya.

Selain itu Rene Magritte dengan lukisan-lukisannya yang naturally unnatural.

Bisa ceritakan tentang proses berkaryamu?

Yang paling pertama ialah saya harus tahu saya akan membuat apa, cerita, visual, karakter dan semuanya. Setelah itu saya melihat koleksi gambar-gambar tua milik saya, saya pilih, dan saya gunting, tempel sesuai apa yang saya harapkan.

Kolase saya menggunakan 2 teknik, digital dan manual. Digital untuk keperluan pekerjaan, misal untuk t-shirt graphic, poster, fashion spread dalam satu majalah, dll. Manual untuk keperluan pameran dan koleksi pribadi.

Kamu pernah membuat gig poster untuk Mocca, apakah kamu juga pernah membuat poster untuk band/event lain?

Iya, Mocca, itu sudah hampir 1-2 tahun yang lalu, sebelum Mocca vakum. Gig poster yang lain sering juga dulu, tapi sekarang sih kebanyakan project saya untuk kepentingan editorial layout, ya semacam fashion spread untuk majalah, seperti waktu itu saya berkolaborasi dengan salah satu fashion photographer handal untuk keperluan fashion spread salah satu majalah, dan akhirnya hasil kolaborasi kami sempat dimuat di Vogue. Ada beberapa clothing line juga seperti Monstore dan Noah Eats Apple yang menjadi salah satu project menarik untuk saya, mereka mencetak kolase-kolase saya di atas t shirt.


Kalau kamu diminta membuat ilustrasi untuk suatu band, kamu ingin band apa?

Venetian Snares.


Project yang sedang atau akan dikerjakan?

Banyak project dari tahun lalu yang belum sempat direalisasikan, tapi mimpi saya tahun ini ialah menyelesaikan kolaborasi dengan Salamatahari untuk buku ilustrasi untuk anak, juga saya ingin membuat pameran-pameran seniman-seniman kolase di Indonesia.

Check his Tumblr: http://resatio.tumblr.com/

Advertisements

Anatomy of Noise, An Interview With A.F.F.E.N

Mengemban kata “Fabulous” dalam nama band bisa jadi terdengar pretensius, namun A.F.F.E.N membuktikan jika mereka mampu live up for the name. 

Jika beberapa waktu lalu kamu pergi ke Bandung, mungkin kamu pernah mendengar sebuah kafe mungil bernama Beat ‘N Bites milik Riko Prayitno (gitaris Mocca yang kini juga membentuk band The Triangle) yang saban Jumat malam kerap mengadakan acara free jamming/open mic, di mana banyak musisi seantero Bandung berkumpul untuk sekedar mengobrol atau iseng jamming yang akhirnya membuahkan proyek musik terbaru, seperti A.F.F.E.N misalnya. Dimotori oleh Hariz Lutfi Asa (gitar akustik & vokal), Babam Bramaditia (gitar elektrik & vokal), Elmo Rinaldy (gitar elektrik & vokal), Mochammad Ifsan (bass), Hari Nurdin (drum) dan Ebong Permana (cello), band ini muncul dari lingkup pertemanan yang terbentuk di tempat tersebut.

Single berjudul “Like Life’s Easily Ended” yang saya dengar sekitar bulan November lalu adalah impresi awal yang menarik untuk band Bandung ini. Dimulai dengan petikan gitar dan bass yang membuka jalan bagi marching drum, gempuran reverb juga dentingan glockenspiel di pertengahan lagu, aransemennya memang terdengar ramai namun entah bagaimana terasa nyaman dan harmonis. Saya pun mencoba mencari tahu lebih jauh dengan mengetik kata “AFFEN” di Google namun yang keluar justru foto-foto hewan primata, karena ternyata affen dalam Bahasa Jerman memang berarti kera. “Awalnya muncul kepanjangannya dulu, ‘Anatomy For Fabulous Emergency Noise’ karena kami ingin membuat sebuah musik yang fabulous tapi masih bisa memberikan sentuhan noise di dalamnya, pas coba disingkat baru muncul nama A.F.F.E.N.” ungkap Babam saat saya menceritakan hal itu.

Berturut-turut, saya juga mendengarkan beberapa lagu lainnya seperti “Another Dream Story” dan “Emily” dari akun Bandcamp mereka yang sama menariknya dan mulai menarik benang merah musik mereka yang dengan cerdas menggabungkan banyak elemen musik dalamnya, satu hal yang mungkin berasal dari fakta jika mayoritas personelnya pernah tergabung di beberapa band lainnya seperti Babam yang menjadi gitaris Local Drug Store dan additional player Mobil Derek atau Ebong yang juga menjadi pemain cello di Nada Fiksi misalnya. Secara umum, musik mereka mengarah ke post-rock, namun banyak istilah seperti Hypnotizing Rock dan Garage Post-Rock yang kemudian tersemat ke mereka. “Haha, kalau Hypnotizing Rock itu didapat dari pendapat beberapa teman yang bilang karena alunannya dreamy jadi agak menghipnotis, hehe. Sebetulnya nggak mematok satu genre tertentu sih, mungkin iya core-nya post-rock, tapi kemudian kami masukin influence masing-masing ke lagunya, eh ternyata blend.” Ungkap Hariz yang juga menjadi penulis lirik lagu-lagu mereka. Untuk tiga lagu yang telah saya sebut sebelumnya, Hariz yang berkuliah di jurusan Psikologi mengaku terinspirasi dari topik-topik seputar child abuse dan suicidal tendencies. “Ya, sebetulnya cerita di EP pertama kami banyak diambil dari akumulasi cerita orang-orang yang curhat ke gue. Beberapa kali dapat cerita tentang orang-orang yang sempat mencoba bunuh diri dan ternyata semuanya memiliki kesamaan, mereka di masa kecilnya pernah mengalami tekanan mental atau child abuse.” Ungkap pria berkacamata ini dengan serius.

Walaupun temanya cenderung berat, namun tak lantas membuat musik mereka depresif. Lagu-lagu mereka justru seperti menunjukkan suatu harapan bagi yang merasa terpuruk, melalui irama lembut cello yang terselip di riuhnya instrumen lain, terutama di lagu “Last Lullaby”. “Awalnya, kami sempat terpikir untuk ngisi line dengan string di beberapa lagu biar makin terasa emosi lagunya, tadinya mau ajak seorang violist, tapi kayanya udah banyak dan kami rasa cello player masih langka, ya udah kami cari deh sosok langka itu dan bertemu lah Ebong”  ujar Babam menceritakan alasan mereka membutuhkan pemain cello dalam band yang baru terbentuk tahun lalu ini. Selain cello, mereka juga memasukkan beberapa toys instrument. Tak hanya yang modern seperti glockenspiel, tapi juga alat musik tradisional seperti gamelan mini dari Bali, suling yang mengeluarkan suara burung, native American shaker, karinding dan “Satu lagi yang kami nggak tau namanya, tapi suaranya kaya gemuruh gitu…kalau kata Ebong itu namanya ‘Gemuruh Nestapa’ hahahaha”  runut Babam yang kerap memakai headdress Indian sebagai ciri khasnya ini.

Sebagai band yang terbilang baru, pengalaman manggung adalah salah satu yang mereka kejar saat ini. “Semua gig adalah best experience sih buat kami. I mean, gigs jadi satu sarana yang sangat suportif terhadap perkembangan musik indie, jadi semuanya best experience, mudah-mudahan makin banyak gigs yang support musisi-musisi lokal di Indonesia.” tandas Babam saat ditanya gig terbaik mereka sejauh ini. Well, mengingat jika single pertama mereka juga dirilis digital oleh BFW Records di Manchester (UK), Bakery Netlabel (Swedia) dan beberapa komunitas indie di Jepang, Rusia, Jerman, dan Malaysia, serta keberhasilan mereka menjadi salah satu finalis di ajang Global Bite Music Awards (sebuah music awards dengan finalis dari seluruh dunia yang kerap disebut sebagai “World Cup of Independent Music”), bukan tidak mungkin dalam waktu dekat ini mereka akan menyusul banyak band indie Indonesia lainnya yang berkesempatan tampil di luar negeri. I think you better get used to hear their name from now on.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Muhammad Asranur

Toys Are Us, An Interview With Bottlesmoker

Dari kamar tidur sampai ke Negeri Cina, Bottlesmoker menyebarkan kebahagiaan lewat toys musical instruments mereka.

Berawal dari dua orang mahasiswa jurusan Broadcasting FIKOM Unpad bernama Ryan Adzani (Nobie) dan Anggung Suherman (Angkuy) yang memiliki Nomor Induk Mahasiswa berdekatan sehingga mereka sering tergabung dalam satu kelompok untuk mengerjakan tugas kuliah yang lekat dengan software musik. Latar belakang akademis tersebut mengajarkan untuk selalu memiliki theatre of mind dalam setiap aktivitas mereka agar terlatih membuat jingle atau backsound, hingga akhirnya membuat mereka tertarik untuk mengaransemen musik elektronik instrumental. Seperti mahasiswa pada umumnya, salah satu hal yang selalu ada di depan monitor ketika semalam suntuk mengerjakan tugas adalah botol-botol bekas minum yang menjadi asbak dadakan untuk menampung abu rokok, dari situlah tercetus ide memberi nama Bottlesmoker untuk proyek musikal yang mengusung instrumental bedroom electro pop dengan influence yang kebanyakan berasal dari Jepang dan Islandia seperti Lullatone, I am Robot and Proud, Shugo Tokumaru dan Amiina ini.

Selain musik elektronik tanpa lirik yang dibalut aneka toys music instrument seperti glockenspiel rainbow, akordion dan keyboard mainan, hal lain yang membuat dynamic duo ini standout adalah dari awal mereka selalu memberikan karya mereka, entah itu full album, single atau kompilasi untuk diunduh secara gratis. “Dari awal memang tidak mau membebani orang harus membeli lagu kami, kami cuma ingin berbagi musik.” Jelas Nobie tentang konsep free music sharing yang mereka terapkan. Album pertama mereka, Before Circus Over, dirilis di tahun 2006 dan dua tahun kemudian disambung oleh album Slow Mo Smile. Kedua album ini juga dirilis oleh label indie mancanegara seperti dari Spanyol, Rusia, Jerman dan Amerika Serikat. Selain lagu buatan sendiri, mereka tak jarang me-remix lagu dari band dalam dan luar negeri, sebut saja mulai dari Homogenic, Vincent Vega hingga lagu “Somebody” milik Depeche Mode yang di-cover dengan mengajak Risa Saraswati untuk mengisi vokalnya.

Namun, siapa sangka proyek iseng yang berawal dari sebuah kamar sempit di Bandung ini bisa mengantarkan mereka bermusik sampai ke luar negeri. Mereka sudah pernah mencicipi panggung di Filipina dan ketika saya mewawancarai Angkuy dan Nobie untuk artikel ini (Maret 2011), mereka baru saja merampungkan tur Asia mereka yang meliputi Malaysia, Brunei, Hong Kong, dan Cina. Lebih dari sekedar tur, perjalanan ini juga menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi mereka. “Di Malaysia dan Brunei kami dimanjakan oleh keadaan yang tidak jauh berbeda seperti di sini, tapi ketika Nobie tiba-tiba sakit demam, kami sempat panik dan mau nggak mau kami harus lanjut ke Cina dan dari situ ada suasana yang berbeda ketika kami harus pergi ke tempat sejauh Cina, ditemani hanya satu orang perempuan sebagai tour manager lokal di sana dan Nobie yang sedang sakit.” Kenang mereka. Angkuy dan Nobie pun sempat mengalami momen Lost in Translation ketika mereka tiba di Cina yang bersuhu di bawah satu derajat, penduduk yang tidak dapat berbahasa Inggris, beradaptasi dengan makanan aneh dan perjalanan 18 jam dengan kereta antar kota yang melelahkan. Perjalanan yang hampir bisa dibilang backpacking, di mana tim yang hanya terdiri dari lima orang ini harus membawa peralatan sendiri juga menjual CD dan merchandise agar bisa survive. Namun mereka selalu merasa sangat puas karena di setiap tur mereka dapat bertemu orang-orang hebat, berkenalan dengan musisi lokal dan membuka networking yang lebih luas lagi serta tak lupa mencari toys instrument di toko setempat dan menikmati ambience setiap kota yang berbeda sebagai sumber inspirasi baru bagi karya mereka selanjutnya. “Ada semangat yang membuat kami percaya dengan adanya ketulusan. Kami pada dasarnya tidak punya label di Indonesia, musiknya free music dan kami pergi ke sana atas dasar percaya aja sama orang, ternyata kalau kita tulus sama orang, kita juga akan dapat ketulusan yang sama dari orang lain.” Ucap mereka. Lalu apakah kita akan mendengar nuansa Cina di lagu mereka selanjutnya? “Sempat terpikir sih, saya sempat merekam audio suasana di kereta yang dipenuhi suara orang bercakap-cakap yang mungkin akan digunakan di satu lagu”. Jawab Angkuy sambil tersenyum.

Rencana mereka dalam waktu dekat ini adalah merilis EP berjudul Recollection of Elation yang berisi tujuh lagu yang belum pernah dirilis secara resmi tapi sudah tersebar di dunia maya, mempersiapkan tur ke Singapura dan membuat dokumentasi untuk setiap tur yang pernah mereka jalani. Setelah Cina, kemana lagi tujuan impian mereka selanjutnya? “Mungkin Eropa dan Amerika, karena album kami juga dirilis di sana, semoga tahun ini atau tahun depan kami bisa pergi ke Eropa atau Amerika.” Jawab mereka.

Jarum jam telah menunjukkan lewat pukul enam sore ketika akhirnya tiba giliran mereka untuk difoto. Photo shoot dengan mereka berlangsung cepat dan efektif, thanks to konsep visual yang kuat dan semangat serta spontanitas mereka yang tinggi. Setinggi harapan mereka untuk memperkenalkan Indonesia lewat musik ke seluruh dunia.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen

Lovely Logic, An Interview With Munchausen Trilemma

Sometimes being left is so right. Atau setidaknya itu yang dirasakan tiga orang wanita di balik Munchausen Trilemma.

Munchausen Trilemma berawal dari keinginan Diantra Irawan, yang dikenal sebagai vokalis band bossa Bandung Hollywood Nobody, untuk belajar main gitar setelah banyak mendengarkan female singer/guitarist seperti Best Coast, Eisley dan Warpaint. Dian lalu iseng mengirim tweet yang mengajak pemain musik wanita untuk bertemu dan berbincang tentang musik, yang kemudian mempertemukannya dengan Riska Maharlika dan Vinda Monalisa. Walaupun usia mereka berbeda-beda, ketiga perempuan ini menemukan kecocokan baik dalam bermusik maupun hal-hal lainnya, termasuk satu persamaan di antara mereka yang menjadi fakta unik dari trio indie rock ini: mereka semua bertangan kidal. “Itu sama sekali tidak disengaja. Kami janjian ketemu, sedang makan, dan menyadari semuanya kidal. Tapi yang main instrumennya dengan tangan kiri sih Vinda. Dia main gitar kiri dan drum set nya juga dipindahin setting-nya khusus untuk left handed drummers. Saya dan Riska diajari untuk main gitar normal, kanan.” Ungkap Dian.

Dari situlah titik awal mereka bermusik bersama di bawah nama Munchausen Trilemma. Tanpa sungkan mereka mengakui jika skill mereka belum seberapa karena masih sama-sama belajar. Vinda dan Riska sebelumnya sering membantu band-band yang membutuhkan additional player, sementara Dian sendiri baru belajar gitar dalam hitungan bulan dan baru saja membeli gitar pertamanya yang diberi nama Fenny Rose. Namun, entah beginner luck atau bukan, versi demo single pertama mereka yang berjudul “If Loving You Is Heartbreaking” mendapat respons sangat positif saat dirilis sebagai free download. Dengan influens dari The Pains of Being Pure At Heart, Warpaint, Wye Oak, Yuck dan Best Coast, lagu ini merupakan perkenalan yang manis dari band yang terbentuk kurang dari setengah tahun lalu ini. Dengan intro suasana airport dan reverb gitar yang mengiringi vokal lirih Dian, lagu berwarna dream pop/shoegaze ini mau tak mau mengingatkan saya akan lagu-lagu indie Indonesia circa 90-an. “Munchausen Trilemma musiknya tidak ribet. Kami hanya memainkan beberapa kord simpel, dan sebaiknya menghindari kord B dan semua barred chord (palang) karena tangan saya kecil, dan saya belum mendalami kord yg sulit. Hahaha. Paling banyak 5 kord. Seputaran A-Em-G-Dm. Everyone could play it. Sound-nya memang agak kasar. Tidak rapi dan banyak yang bilang terdengar Lo-Fi dan rough. Basically, saya hanya membuat yang sanggup saya buat.” Jelas Dian tentang konsep musik mereka.

Bila dibandingkan saat tampil sebagai personel Hollywood Nobody atau live band Sarasvati, Dian mengungkapkan dirinya bisa tampil lebih lepas di band ini karena bisa bergaya seperti apa adanya dia sehari-hari, dengan gaya kasual, cuek dan lebih nge-rock. Dian pula yang membuat artwork desain untuk EP yang akan dirilis nanti. Saya pun memintanya menjelaskan arti di balik nama bandnya yang terdengar rumit ini. “Nama Munchausen Trilemma diambil dari istilah psikologi. ‘tidak ada satupun hal yang bisa dibuktikan kebenarannya 100%’, termasuk logika dan matematika. Kalau dijelasin, panjang banget. Saya memutuskan memakai nama itu setelah membuka-buka blog lama saya untuk inspirasi lirik, kemudian menemukan blog posting dengan judul itu. Saya baca lagi, dan suka. Akhirnya selain sebagai judul lagu, saya pakai untuk nama band. Saya pikir saya membuat lirik mengenai perasaan, cinta, dan semua yang tidak logis itu. Untuk membuktikan logika dan matematika saja tidak mungkin, apalagi perasaan. Your feelings belong to you, you don’t have to explain it to anyone. Kadang kita hanya ingin menyanyikan isi hati, tanpa berpikir apapun. Inilah yang saya lakukan di Munchausen Trilemma. Singing my heart out. “ Jawab Dian sambil menegaskan jika ia tak mau menyebut band ini sebagai side project dari Hollywood Nobody.

Kedepannya nanti, selain EP mereka juga akan membuat video hasil kerjasama dengan para seniman lokal. Dari ramainya yang membicarakan atau setidaknya me-retweet link akun Soundcloud mereka di timeline saya di mana sebagian besar dari mereka adalah rekan-rekan musisi dan yang aktif di scene musik lokal, it’s safe to say we all can’t wait to hear more stuff from them. Atas respons yang diterima Munchausen Trilemma sejauh ini, Dian mempunyai pendapatnya sendiri, “Semua orang bilang hal hal yang berbeda sih. But we love that people mostly say we bring 90s back. Who doesn’t love 90s?”

As published in NYLON Indonesia February 2012

Foto oleh Marnala Eros.