Heart On Her Sleeves, An Interview With Cindercella

Entah itu sebagai content creator, social media influencer, hingga kini merambah ke dunia tarik suara, Marcella Febrianne Hadikusumo alias Cindercella melakukan semuanya dengan segenap hati.

36543588_221578445136754_8980075436755124224_n(1)

 

Seperti apa morning ritual seorang Cindercella?

Yang pertama setelah bangun pagi, pasti saya buka handphone, hehe. Habis itu makan dulu baru mandi, terus siap-siap aktivitas. Kalau ada waktu, saya juga olahraga. Sekarang saya sedang rajin ikut latihan High Intensity Interval Training.

 

Bagaimana awalnya kamu mulai aktif di YouTube?

Sebetulnya tidak pernah terpikir untuk bikin konten di YouTube dan belum paham juga kalau hal itu bisa menjadi profesi. Tapi dari dulu saya memang suka menonton YouTube, dari yang cover lagu sampai beauty tutorial. Awalnya saya suka menyanyi di depan komputer, terus akhirnya iseng upload di YouTube. Waktu itu sekitar tahun 2011, saya masih kelas 3 SMP.

Masih ingat beauty tutorial pertama yang kamu buat?

Masih, yang pertama saya buat adalah easy smokey eyes tutorial. Setelah itu mulai coba bikin makeup yang aneh. Lupa kapan pertamanya, tapi bukan untuk Halloween sih, memang lagi suka coret-coret muka pakai face paint, rekam, terus bikin tutorial deh.

minuet

Baru-baru ini sempat launching produk makeup juga ya?

Iya! Bareng sahabat saya, Vinna Gracia yang juga Makeup Artist dan Content Creator. Kita ditawari sebuah company untuk bikin produk berdua dan hasilnya adalah all-in-one palette yang dibikin di Korea. Kita berdua yang menentukan warna, tekstur, nama produk, nama shade, sampai packaging-nya.

 

As social media darling, bagaimana kamu menanggapi komen yang muncul?

Saya jujur termasuk yang suka baca komen, tapi kalau ada yang hate ya cukup tertawa saja. Kalau dibalas pun pasti saya balasnya dengan bercanda, bukan yang marah-marah. Tapi kalau ada yang sudah tidak enak dibaca, saya tidak balas, tapi langsung block saja, bye!

 

What is your childhood dream?

Tadinya saya ingin jadi Sailor Moon tapi diberi tahu mama kalau itu cuma bohongan. Tapi dari kecil saya memang suka nyanyi sampai ikut les nyanyi bareng kakak. Dulu sempat les piano juga sekitar 8 tahun, tapi sekarang sudah lupa… Sorry mom!

Kamu juga baru merilis lagu bersama pacarmu, Ben Sihombing. Boleh ceritakan?

Lagunya berjudul “Hati”, awalnya tidak ada rencana untuk bikin lagu bareng tapi beberapa bulan pacaran muncul lah lagu ini. Ceritanya simpel, tentang sepasang kekasih yang lagi jatuh cinta. Kami berdua bertemu ketika sama-sama baru putus, ternyata klop, yang tadinya tidak ada niat jadian, eh jadian. Itu yang mau diceritakan di lagu ini, kalau memang jatuh cinta dengan orang yang tepat di waktu yang tepat, kita bisa move on dengan sesantai mungkin.

 

Apakah ada rencana untuk bikin lagu solo? Kalau iya seperti apa?

Ada, sekarang lagi mau bikin lagu saya sendiri. Mau yang ada ukulelenya, its gonna be a love song. Next, mungkin saya akan bikin lagu featuring Ben tapi dengan style saya sendiri, hehe.

 

Apa yang kamu cari dalam seorang pasangan?

Yang bisa saling support, komunikasi, trust, dan tentunya humor.

 

Ada bucket list yang belum tercapai?

 

Saya mau coba skydiving! Saya juga ingin membuat acara, entah itu launching makeup atau birthday party, tapi semua yang datang harus dress up seperti Halloween, harus niat sampai makeup-nya juga. Kalau ditanya impian, saya ingin semua orang yang saya sayangi merasa bahagia.

 

Foto: Melody Amadea via instagram.com/cindercella/

The “Yeah-Yeah” Girls From Paris

Ada suatu hal yang terasa magis di dalam udara Prancis yang membuat gadis-gadis Prancis seakan diberkahi oleh pesona natural dan chicness yang sulit dijabarkan dengan kata-kata. Mereka menyebutnya dengan istilah “je ne sais quoi”, sebuah karakteristik khusus yang membuat seseorang terlihat begitu atraktif dengan cara yang alami dan effortless, pun tak terkecuali dalam dunia musik dan para pelakunya. Ketika berbicara tentang musik Prancis, yé-yé, sebuah gerakan musik pop yang berkembang di Prancis pada awal tahun 60-an menjadi sesuatu yang tak terlupakan. Bertemakan hal-hal innocent seperti first love dan masa remaja, genre musik “yé-yé” yang namanya berasal dari seruan “Yeah! Yeah!” menampilkan musik pop yang berakar dari paduan jazz, chanson, rock & roll, serta traditional girl group yang kemudian dianggap menjadi salah satu cikal bakal dari indie pop kontemporer yang kita kenal saat ini.

Meskipun tidak eksklusif untuk penyanyi perempuan belaka, namun fenomena musik pop ini nyatanya memang didominasi oleh penyanyi perempuan muda yang lahir dari program radio “le chouchou de la semaine”/”this week’s sweetheart” yang telah memperkenalkan nama-nama penyanyi perempuan muda legendaris seperti France Gall, Françoise Hardy, dan Sylvie Vartan untuk menyebut segelintirnya. Sensual dan naif di saat yang sama, mereka adalah perwujudan dari pesona gadis Prancis yang très chic, très fabu yang tidak hanya ditunjukkan dari vokal dan musik yang mereka bawakan, tapi juga dari riasan mereka, seperti yang ditunjukkan oleh salah satu penyanyi yé-yé paling ikonik sepanjang masa, Françoise Hardy.

Berawal dari sebuah kado ulang tahun berupa gitar di masa remajanya, Françoise Madeleine Hardy menjelma menjadi penyanyi kesayangan Prancis ketika ia merilis single “Tous les garçons et les filles” di usia 18 tahun dan mempopulerkan namanya sebagai ujung tombak fenomena yé-yé di Prancis. Tak hanya mahir bernyanyi dalam bahasa Prancis, Inggris, Italia, dan Jerman, perempuan kelahiran 1944 ini juga dikenal sebagai seorang aktris dan style icon. Wajahnya yang menghiasi banyak publikasi menjadi cetak biru gaya khas yé-yé dengan riasan natural yang terdiri dari maskara hitam, black eyeliner tipis, alis mata yang well-groomed, dan sentuhan lip balm, di samping rambut fringe sebahu yang menjadi sinonim dari gaya low-key Parisian cool yang menjadi inspirasi bagi Alexa Chung, Zooey Deschanel, Cat Power, dan banyak perempuan keren lainnya sampai hari ini.

Want to try the yé-yé looks? Here are some of my recommendations to channel your je ne sais quoi!

 

Art Talk: The Sugary Drawing of Maelle Rajoelisolo

maeller

“Saya lahir dan besar di Paris, dan hal itu jelas membawa pengaruh yang besar dalam karya saya… Saya mungkin tidak akan tertarik pada fashion jika saya tidak pernah tinggal di kota ini,” ujar Maelle Rajoelisolo, seorang fashion and beauty illustrator yang berbasis di ibukota Prancis tersebut. Penuh warna, fun, dan super girly dengan referensi dari daily style, haute couture, dan pop culture, meiihat karya bermedium pensil warna dari gadis berumur 26 tahun tersebut di akun Instagram miliknya @cirquedepapier memang memberikan sensasi yang sama ketika kamu melihat deretan dessert penuh warna di etalase toko kue favoritmu. “Thank you! I love that compliment! Saya pecinta makanan manis jadi saya senang mendengarnya,” tanggap Maelle akan komentar tersebut. “Saya sangat suka passion fruit dan chocolate macaroons, crêpes, apple pies and very good chocolate fondants. Hanya membicarakannya saja sudah cukup membuat saya lapar,” sambungnya tentang daftar dessert favoritnya. Selayaknya kudapan manis yang lezat, we sure can’t get enough of her works, saya pun tergoda untuk mengobrol lebih jauh dengannya.

brooklyn

Jadi, bagaimana awalnya kamu tertarik menekuni bidang ilustrasi?
It was (and still is!) a long and not easy way; Saya suka menggambar sejak kecil tapi untuk serius di bidang ini sebetulnya tidak direncanakan. Awalnya saya berpikir untuk menjadi seorang arsitek atau pengacara, namun saya berubah pikiran dan tertarik menjadi artistic director. Saya akhirnya memutuskan menjadi ilustrator dan belajar desain grafis. Waktu itu saya membuka blog (saya sudah kecanduan internet sejakumur 11 tahun) dan mulai menggambar setiap hari.

Bagaimana sih typical day bagimu?

There is no typical day in work, dan saya menyukainya. Tapi biasanya saya bangun jam 8 pagi, mulai bekerja jam 9, makan siang jam 1 siang, mengerjakan hal lain sampai jam 3, menggambar lagi, stop di jam 7, pergi keluar (atau makan malam di rumah, saya tinggal bersama pacar saya jadi biasanya tergantung apa yang ingin kami lakukan dan jam berapa dia pulang), dan biasanya saya bisa mulai menggambar lagi dari jam 9 malam sampai jam 1 dini hari. Sejujurnya saya seperti burung hantu, saya senang bekerja di malam hari, jadi saya lebih suka bangun siang (I know, it’s bad) dan bekerja sampai larut malam (sampai jam 3 pagi bahkan). Tapi semuanya tergantung dari jadwal saya, terkadang saya juga harus pergi ke kantor, tergantung klien.

Seperti apa kondisi tempat kerjamu?

Flat saya termasuk kecil jadi saat ini saya bekerja di sebuah meja kecil yang penuh dengan barang-barang saya! Saya juga termasuk orang yang berantakan… Jadi semua hal tergeletak sembarangan. Saya tidak sabar untuk pindah ke flat yang lebih besar jadi saya bisa punya ruang yang lebih luas untuk kerja. Terkadang saya juga suka bekerja di co-working café; I love the environment and being surrounded by other creative people.

 paris2

Apa yang biasanya kamu gambar kalau sedang melamun?

I usually sketch random girls in random poses, wearing random dresses (or not). Saya juga suka menggambar karakter chibi. I love chibis. They’re were my favorite thing to draw back when I was a teen.

Bagaimana kamu mendeskripsikan karyamu?

Baru-baru ini ada yang menyebut kalau karya saya adalah “happy-making” dan saya senang mendengarnya. Saya juga berusaha menciptakan dunia saya sendiri yang selalu terinpirasi fashion, elegan tapi tidak terlalu serius dan selalu penuh warna. Misi saya adalah untuk membangun dunia tersebut secara maksimal, seperti yang dilakukan Wes Anderson dalam film-filmnya.

Apakah ada seniman yang menginspirasi karyamu?

Banyak, saya tidak bisa menyebut semuanya karena biasanya hal itu suka gonta-ganti seiring waktu, tapi saya selalu mengagumi karya-karya Laura Laine, Fifi Lapin, sahabat saya Sibylline Meynet, Paper Fashion… dan banyak lagi. 

Dari mana saja biasanya kamu menemukan inspirasi untuk menggambar?

Ada banyak film dan serial TV yang menginspirasi saya. Selama ada unsur fashion di dalamnya. Contohnya, saya menggambar banyak hal dari film Marie Antoinette karya Sofia Coppola untuk sebuah pameran tahun lalu dan beberapa adegan dari film favorit saya, Funny Face yang dibintangi Audrey Hepburn. Dan walaupun saya bukan penggemar berat Taylor Swift, saya tidak bisa menahan diri untuk menggambar outfit yang ia kenakan di video “Blank Space”.

 paris

Selain pensil warna, medium apa lagi yang biasanya kamu gunakan?

Saya pernah mencoba mewarnai di komputer saat saya remaja namun tidak melakukannya lagi sejak saya menyadari jika pensil warna adalah medium favorit saya karena mengingatkan masa kecil saya, Baru-baru ini saya juga mulai berkarya dengan cat air.

Musik apa yang biasanya kamu dengarkan saat bekerja?

Apa saja. Saya lebih memilih musik yang relaxing, tapi musik pop pun tidak masalah. Saya bisa mendengarkan musik sambil berkonsentrasi menggambar dan secara otomatis menyimak lirik lagu tersebut… Otak saya lebih fokus pada hal seperti itu ketika saya sedang menggambar.

nylon

Apa hal yang baru kamu sadari atau pelajari belakangan ini?

Saya baru menyadari jika gadis-gadis yang saya gambar bisa lebih dari sekadar paper dolls, saya bisa mengubah mereka menjadi sebuah pattern, notebook, dll. I am so happy to push my work further!

Apa proyek selanjutnya?

Saya sedang mencoba untuk berkolaborasi dengan brand yang saya suka. Baru-baru ini saya senang bisa bekerja dengan Boohoo.com di akhir tahun lalu. Saat ini saya juga masih mengerjakan brand dan toko paper goods saya. Ada banyak produk yang ingin saya desain dan buat, namun seperti biasa hal itu membutuhkan banyak waktu dan uang. So everything is going step by step.

 lemonade

Follow Maëlle Rajoelisolo di Instagram @cirquedepapier, Facebook: Cirque de papier, Tumblr: @cirquedepapier.