On The Records: Spazzkid

Spazzkid

For the  very first Asian Issue of NYLON Indonesia, I decide to make a special feature about upcoming bands/musicians across Asia. As usual, beside some shortlist I already have in mind, I know I need to keep searching on the internet, listen to so many Soundcloud, Bandcamp, and blogs until I discovering new names I haven’t heard before. One of them is Spazzkid, the moniker of Mark Redito, the Philippines-born, L.A. based bedroom musician. At first, judging from his moniker, I though his work gonna sounds like Skrillex’s party banger anthem, but then when I play his single called “40 Winks” which samples the Memoryhouse cover of My Bloody Valentine’s “When You Sleep”, its a pure bliss, dreamy electropop which sounds more like Toro Y Moi than any stadium DJ.

It was love at the first heard, and obviously I immediately stalking his Bandcamp account and shamelessly downloading all 8 songs(its actually free downloadable, so…) on his Desire album. A solid electropop/ambience album, Desire is probably my favorite electronic album of this year, and a perfect reason to feature him on that special feature. Here’s my conversation with the man himself. 

Hi Mark, how are you? Would you mind to introduce yourself?
Hey I’m Mark from Los Angeles and I make electronic music as “spazzkid.”

 Where do you live right now? Where do you called home?
I live in sunny southern California. I was born and raised in Manila, Philippines but I now call Los Angeles my home.

What prompted you to make music?
I grew up in a very musical family. We always had instruments at home. My dad bought me my first drum kit at age 12. I soon played in bands up until college. I got into recording my own music around 2004-2005. I was playing around with earlier versions of FL (Fruity Loops) and Cakewalk. I started out making demos for bands that I played in and before I knew it, making music blew up into a full on obsession. I’ve been making music as “spazzkid” ever since.

Where was the name came from?
I was really into this hardcore band called “SPAZZ” in college. So when I went into chatrooms or used social media back then I adopted the name “spazzkid.” When it was time for me to choose a moniker for my music, I just used the same name. There really wasn’t that much thinking involved. The name has just stuck with me ever since.
What albums/musicians really influences your work?

Oh man, too many to mention. I take influence and inspiration from these artists: Daedalus, Baths, Jimmy Taborello, Postal Service, Flying Lotus, Yasutaka Nakata, Perfume, J Dilla, Yellow Magic Orchestra, and The Beatles. There are so many more… All the music I’ve listened to has shaped my music today.

Desire
What’s the story behind Desire album?

I wrote about my process with Desire at length here: http://spazzkid.com/desire2013 but in a nutshell: I had a really bad artist block a year before the album was made. I was also busy doing a bunch of bike rides. When fall 2012 came, I found myself riding less because the weather was getting colder. That forced me to spend more time in my room and on my computer making songs. I started recording Desire from October 2012 to March 2013. These songs were written during a time when I was processing a ton of emotional, spiritual, and physical things in my life.

  How would you describe your own sounds?
Soulful, organic, imperfect.
 Did you ever performing your songs live on stage?

Yes I do. I’ve been busy playing shows around LA and the rest of southern CA lately. It has been a very positive and encouraging experience for me so thus far.

 Do you have dream collaboration?
I’d love to collaborate with fellow LA-based musicians Baths and Deadalus someday.
 What’s the next plan?
To record more music. Do more remixes. Collaborate with many other artists. To travel and share my music around the world!
Advertisements

Toys Are Us, An Interview With Bottlesmoker

Dari kamar tidur sampai ke Negeri Cina, Bottlesmoker menyebarkan kebahagiaan lewat toys musical instruments mereka.

Berawal dari dua orang mahasiswa jurusan Broadcasting FIKOM Unpad bernama Ryan Adzani (Nobie) dan Anggung Suherman (Angkuy) yang memiliki Nomor Induk Mahasiswa berdekatan sehingga mereka sering tergabung dalam satu kelompok untuk mengerjakan tugas kuliah yang lekat dengan software musik. Latar belakang akademis tersebut mengajarkan untuk selalu memiliki theatre of mind dalam setiap aktivitas mereka agar terlatih membuat jingle atau backsound, hingga akhirnya membuat mereka tertarik untuk mengaransemen musik elektronik instrumental. Seperti mahasiswa pada umumnya, salah satu hal yang selalu ada di depan monitor ketika semalam suntuk mengerjakan tugas adalah botol-botol bekas minum yang menjadi asbak dadakan untuk menampung abu rokok, dari situlah tercetus ide memberi nama Bottlesmoker untuk proyek musikal yang mengusung instrumental bedroom electro pop dengan influence yang kebanyakan berasal dari Jepang dan Islandia seperti Lullatone, I am Robot and Proud, Shugo Tokumaru dan Amiina ini.

Selain musik elektronik tanpa lirik yang dibalut aneka toys music instrument seperti glockenspiel rainbow, akordion dan keyboard mainan, hal lain yang membuat dynamic duo ini standout adalah dari awal mereka selalu memberikan karya mereka, entah itu full album, single atau kompilasi untuk diunduh secara gratis. “Dari awal memang tidak mau membebani orang harus membeli lagu kami, kami cuma ingin berbagi musik.” Jelas Nobie tentang konsep free music sharing yang mereka terapkan. Album pertama mereka, Before Circus Over, dirilis di tahun 2006 dan dua tahun kemudian disambung oleh album Slow Mo Smile. Kedua album ini juga dirilis oleh label indie mancanegara seperti dari Spanyol, Rusia, Jerman dan Amerika Serikat. Selain lagu buatan sendiri, mereka tak jarang me-remix lagu dari band dalam dan luar negeri, sebut saja mulai dari Homogenic, Vincent Vega hingga lagu “Somebody” milik Depeche Mode yang di-cover dengan mengajak Risa Saraswati untuk mengisi vokalnya.

Namun, siapa sangka proyek iseng yang berawal dari sebuah kamar sempit di Bandung ini bisa mengantarkan mereka bermusik sampai ke luar negeri. Mereka sudah pernah mencicipi panggung di Filipina dan ketika saya mewawancarai Angkuy dan Nobie untuk artikel ini (Maret 2011), mereka baru saja merampungkan tur Asia mereka yang meliputi Malaysia, Brunei, Hong Kong, dan Cina. Lebih dari sekedar tur, perjalanan ini juga menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi mereka. “Di Malaysia dan Brunei kami dimanjakan oleh keadaan yang tidak jauh berbeda seperti di sini, tapi ketika Nobie tiba-tiba sakit demam, kami sempat panik dan mau nggak mau kami harus lanjut ke Cina dan dari situ ada suasana yang berbeda ketika kami harus pergi ke tempat sejauh Cina, ditemani hanya satu orang perempuan sebagai tour manager lokal di sana dan Nobie yang sedang sakit.” Kenang mereka. Angkuy dan Nobie pun sempat mengalami momen Lost in Translation ketika mereka tiba di Cina yang bersuhu di bawah satu derajat, penduduk yang tidak dapat berbahasa Inggris, beradaptasi dengan makanan aneh dan perjalanan 18 jam dengan kereta antar kota yang melelahkan. Perjalanan yang hampir bisa dibilang backpacking, di mana tim yang hanya terdiri dari lima orang ini harus membawa peralatan sendiri juga menjual CD dan merchandise agar bisa survive. Namun mereka selalu merasa sangat puas karena di setiap tur mereka dapat bertemu orang-orang hebat, berkenalan dengan musisi lokal dan membuka networking yang lebih luas lagi serta tak lupa mencari toys instrument di toko setempat dan menikmati ambience setiap kota yang berbeda sebagai sumber inspirasi baru bagi karya mereka selanjutnya. “Ada semangat yang membuat kami percaya dengan adanya ketulusan. Kami pada dasarnya tidak punya label di Indonesia, musiknya free music dan kami pergi ke sana atas dasar percaya aja sama orang, ternyata kalau kita tulus sama orang, kita juga akan dapat ketulusan yang sama dari orang lain.” Ucap mereka. Lalu apakah kita akan mendengar nuansa Cina di lagu mereka selanjutnya? “Sempat terpikir sih, saya sempat merekam audio suasana di kereta yang dipenuhi suara orang bercakap-cakap yang mungkin akan digunakan di satu lagu”. Jawab Angkuy sambil tersenyum.

Rencana mereka dalam waktu dekat ini adalah merilis EP berjudul Recollection of Elation yang berisi tujuh lagu yang belum pernah dirilis secara resmi tapi sudah tersebar di dunia maya, mempersiapkan tur ke Singapura dan membuat dokumentasi untuk setiap tur yang pernah mereka jalani. Setelah Cina, kemana lagi tujuan impian mereka selanjutnya? “Mungkin Eropa dan Amerika, karena album kami juga dirilis di sana, semoga tahun ini atau tahun depan kami bisa pergi ke Eropa atau Amerika.” Jawab mereka.

Jarum jam telah menunjukkan lewat pukul enam sore ketika akhirnya tiba giliran mereka untuk difoto. Photo shoot dengan mereka berlangsung cepat dan efektif, thanks to konsep visual yang kuat dan semangat serta spontanitas mereka yang tinggi. Setinggi harapan mereka untuk memperkenalkan Indonesia lewat musik ke seluruh dunia.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen