#30DaysofArt 6/30: Elicia Edijanto

“Saya anak kedua dari empat bersaudara. Saat kecil, saya sudah senang menggambar, membaca buku cerita bergambar, dan saya suka bermain dan berkhayal tentang teman-teman khayalan, hahaha. Mungkin hal ini sedikit banyak berpengaruh di karya-karya saya di mana sebagian besar menggambarkan tentang seorang anak kecil dengan temannya (animals),” ujar artist dan graphic designer yang lahir di Jakarta, 24 Desember 1987 ini tentang lukisan watercolour hitam-putih yang menjadi signature karyanya. Simple dan intim, karyanya yang kerap menggambarkan harmoni manusia dan alam (terutama hewan) dalam lanskap yang seolah berkabut telah mendapat respons yang bagus dari berbagai blog dan publikasi seni internasional, serta ditampilkan dalam ekshibisi para pemenang The Asian Creative Awards 2015 di Osaka, Jepang untuk bersanding dengan seniman andal lainnya dari mancanegara.

elicia

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya memang sudah tertarik pada seni, baik itu lukisan, musik, sastra, dan lain-lain. Kebetulan di keluarga saya atau lingkungan sosial lainnya tidak ada/belum ada yang berkecimpung di bidang seni, jadi lebih ke inisiatif saya sendiri untuk berkenalan lebih jauh dengan dunia seni.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Bagi saya, berkarya (melukis) adalah cathartic release saya. Jadi, saat ingin merasa tenang, damai, dan menghilangkan kepenatan itulah yang mendorong saya untuk melukis.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Beberapa inspirasi saya (tidak terbatas di pelukis saja) yaitu Nicholas Roerich, Mark Rothko, Gregory Colbert, Nick Brandt, Branislav Markovic Umbra, Raden Saleh, Yohji Yamamoto, dan lain-lain.

dust-and-wind

Apa idealismemu dalam berkarya?

Yang pertama bagi saya, yang paling penting adalah menjadi jujur. Jujur dengan diri sendiri, menuangkan perasaan ke dalam karya tanpa menambah-nambahkan atau mengurang-ngurangi sesuatu, pokoknya jujur apa adanya saja. Lalu, simplicity. Saya suka sesuatu yang simpel, sederhana, tapi esensinya tercapai.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Menurut saya, ciri khas dalam karya saya mungkin lebih ke simplicity dan intimacy.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Kalau solo exhibition belum pernah. Group exhibition pertama saya di Osaka, Jepang. Exhibition tersebut memajang karya-karya para pemenang dari Asian Creative Awards. Saya senang dan bangga karya saya dapat bersanding dengan karya-karya luar biasa lainnya dari seniman-seniman mancanegara.

 warriors

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Secara personal, saya merasa senang ketika mendapat feedback positif dari orang-orang yang melihat karya saya. Ketika orang-orang tersebut bilang ke saya kalau dengan melihat lukisan saya, mereka mendapat positive vibes, kedamaian, inspirasi, dll. Memberikan energi positif kepada orang lain walaupun terdengar simple namun merupakan pencapaian berkesan bagi saya.

Kalau untukmu sendiri, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya merasa terbantu sekali dengan teknologi di zaman social media sekarang ini. Jika dimanfaatkan dengan benar, social media seharusnya bisa menjadi tools untuk memudahkan sharing karya-karya kita, tapi tentunya juga dengan bertanggung jawab. Orang-orang dari berbagai belahan dunia dapat menikmati karya kita, bahkan memberikan feedback yang berguna bagi seniman itu sendiri.

 

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekitarmu saat ini?

Art scene di sekeliling saya (terutama kota Jakarta) banyak sekali perkembangan terutama bermunculannya galeri atau art space baru. Ini adalah hal positif, namun saya harap, hal ini bisa merangkul publik secara luas untuk lebih mencintai dan aware terhadap art, mewadahi seniman-seniman yang tersebar, bukan sekadar sebagai basecamp sekumpulan seniman-seniman atau orang-orang tertentu atau semacam komunitas eksklusif saja.

lullaby

Current obsession?

Saya punya obsesi terhadap astronomi, segala sesuatu yang berhubungan dengan luar angkasa, bintang-bintang, galaksi, black hole, dll. Saya juga suka Star Wars.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di studio lukis saya, di rumah, atau bersama teman-teman saya.

Project saat ini?

Masih terus melukis, dan kemungkinan ingin membuat buku berisi kompilasi karya-karya saya, dan tentu saja solo exhibition.

Target sebelum usia 30?

Ingin lebih bisa wise dalam menghadapi masalah-masalah yang datang. Tidak hanya bertambah tua, tapi juga bertambah bijak.

eliciaedijanto0-jpg-600x315_q80_crop-smart

Art Talk: The Punk Rock Illustration of Ayash Haryanto

Ayash Haryanto

Pertama kali menemukan akun Instagram @wonderyash yang bernuansa monokrom hitam-putih, saya seperti tidak bisa menahan diri untuk menekan tombol Likes sebanyak mungkin pada karya ilustrasi hitam-putih dengan referensi terhadap musik punk dan pop culture yang begitu kuat dan sosok musisi ikonik seperti Kurt Cobain hingga Morrissey. Kekaguman saya bertambah ketika menyadari jika sang ilustrator adalah seorang perempuan muda dengan penampilan yang cute. Bernama lengkap Ayash Haryanto, ilustrator kelahiran Medan, 26 September 1992 tersebut masih tercatat sebagai mahasiswi semester akhir di salah satu universitas di Jakarta. Mengaku suka menggambar sejak masih sangat kecil, Ayash sendiri baru mulai fokus menggambar sejak SMA dengan kiblat utama gambar-gambar superheroes dari komik DC dan Marvel. Namun, baru ketika masuk kuliah ia memfokuskan diri pada artwork hitam-putih seperti yang ia buat sekarang. “Saat kuliah baru sadar, kalau menggambar, terutama anatomi tubuh dan perspektif, tidak sesimpel itu. Apalagi urusan warna, dan buatku bermain warna itu bisa dibilang sulit nan rumit. Nah, karena aku pribadi merasa kurang bisa memadukan warna, walaupun sempat coba berbagai media seperti cat air atau minyak, aku putuskan untuk fokus dengan artwork black and white. Tidak kompleks, dan tidak mudah, namun aku merasa artwork black and white itu mudah diterima oleh semua orang,” ungkap gadis yang juga gemar bereksperimen dengan media mural tersebut.

tumblr_ne57eoOLI11qa0ub6o1_1280

Secara sekilas, terlihat elemen punk yang kuat di karyamu. Kalau untuk kamu sendiri bagaimana musik memengaruhi proses berkaryamu?

Kalau soal elemen punk dalam gambarku, jujur sekali pada awalnya aku membuat artwork bertemakan punk hanya sekelibat terlintas di kepala karena waktu itu aku nggak sengaja lagi scrolling down Tumblr dan nemu salah satu foto yang aku kira cocok untuk aku bikin quick sketch. Mulai dari situ, aku kepo sama genre punk ini, kemudian aku penasaran dengan culture, cara berpakaian, ideologi, dan terutama musik mereka yang mendukung aku dalam pembuatan proses karya. Buatku, musik itu pembangkit mood. Musik apapun itu, terkadang saat membuat artwork punk pun aku nggak selalu mendengarkan musik mereka juga. Karena ya, lagi-lagi menyesuaikan dengan suasana hati.

Siapa saja seniman favoritmu?

Seniman favoritku cukup banyak. Untuk yang dari luar negeri aku suka Raymond Pettibon, Sam Dunn, Alex MDC, Benjamin Lande, dan mereka semua seniman/ilustrator yang mostly black and white. Untuk dalam negeri, ada Roby Dwi Antono (aku favorit sama lukisan popsurealisnya), Amenkcoy, dan masih banyak lagi. Influens benar-benar datang dari Raymond Pettibon dan Amenkcoy. Mereka bisa dibilang kiblatku banget.

Wonder1

Apa medium favoritmu dalam berkarya dan kenapa?

Tinta hitam dan kuas. Media paling simpel yang pernah aku pakai. Cukup mudah, dan dalam pembuatan karya nggak memakan waktu banyak, khususnya untuk blocking, aku bisa lebih menghemat waktu. Dan tentunya nggak pusing-pusing menentukan warna.

Selain art, apa lagi yang kamu suka?

Semua kesukaanku sepertinya nggak bisa jauh dari yang namanya art. Aku suka musik. Akhir-akhir ini aku lagi rajin explore soal musik dari genre mana aja dan dari Indonesia atau luar negeri. Karena musik sangat berpengaruh dalam pembuatan karyaku, kadang aku buat playlist sendiri sesuai current mood, dan aku putar saat aku mau buat suatu artwork. Dan biasanya, artwork itu bisa nunjukkin perasaan aku saat itu.

What’s your current obsession?

Obsesiku untuk sekarang, aku mau ngadain mini exhibition (khusus black and white artwork) bareng temen-temen ilustrator lain, dan di dalamnya ada sesi workshop plus gambar bareng menggunakan media tinta hitam aja. Selain itu, aku lagi terobsesi untuk ngebuat artwork band, dari band-band favoritku. Mungkin lingkup musiknya masih nggak jauh dari punk ya, atau mungkin band bergenre ambience.

Who’s your local music hero?

Still Superman Is Dead! Dan Slank… hehe.

Apa project selanjutnya?

Rencana, ingin membuat fanzine yang isinya karya-karya dari teman-teman sekitar terlebih dahulu. Kalau rencana awal sukses, aku akan lanjut ke konsep selanjutnya, yaitu mengajak beberapa ilustrator favorit yang aku kenal untuk ikut berkontribusi langsung dalam menyumbangkan karyanya untuk fanzine ini. Mengapa fanzine, karena buatku ini media yang bisa memperluas koneksi dan menambah teman lebih banyak.

tumblr_nme8s08TAX1qa0ub6o1_1280

Wondeyash’s mixtape:

Talking Heads

“New Feeling”

Buatku ini lagu post-punk yang bisa ngebangkitin mood. Cocok didengerin di waktu apapun. Biasa aku dengerin lagu ini ketika mood lagi jelek-jeleknya, dan berhasil balikin mood jadi baik lagi.

Radiohead

“High and Dry”

I just love the lyrics. Lagu Radiohead terbaik versiku, dan jadi salah satu lagu favorit ketika mood lagi nggak bagus.

The Clash

“The Magnificent Seven”

Ini lagu unik dan bisa cheer up your day. Pertama kali aku dengar salah satu lagu Daftpunk, nggak tau kenapa langsung terbayang lagu ini. Dan ternyata aku temuin mashup dari lagu ini dengan Daftpunk di YouTube.

The Pixies

“Here Comes Your Man”

Mungkin untuk yang suka sama OST 500 Days of Summer, tau lagu ini yang pernah dinyanyikan ulang sama Meaghan Smith. Ini juga termasuk lagu yang bisa  membangkitkan mood.

The Smiths

“Ask”

Lagu ini masih jadi andalan dan masuk ke dalam playlist aku untuk gambar di saat momen-momen senang.

tumblr_nqgibroxYE1qa0ub6o1_r1_1280