Influences: Deap Vally

The narrative fact of Lindsey Troy (vox & guitar) met Julie Edwards (drum) at a needlework class is pretty much could misleading you to false pretense. It’s might sounds like a perfect background story of some indie pop girl duo, but interestingly, they bonded over their mutual affection to blues, banging rock and roll, and pretty much anything from The Doors. Now, after two singles “Gonna Make My Own Money” and “End of The World”, which described by critic as “a scuzzy White Stripes meets Led Zeppelin”, the Los Angelese duo set their eyes for their upcoming debut album, while sharing stages with Thurston Moore,  Dinosaur Jr., The Vaccines, and Muse, among others.

What’s your first impression to each other?

Julie: I thought Lindsey seemed pretty high maintenance.

Lindsey: I thought Julie seemed annoyed. Turned out she was! I walked into a knitting shop that Julie was working at and was asking her loads of questions about the different balls of yarn. I guess I was a high-maintenance customer, but hey, I spent money! I also thought she had great hair. I went into the shop a few days later for a crochet class. There were only 3 of us there. Julie and I stayed at the shop late that night, chatting for hours about our musical histories while we crocheted. We really clicked — she was one of raddest people I’d met in years. After that I kept popping into her work all the time to visit her and the rest is history.

What made you want to start a band together?

Lindsey: Since I was a little girl I’ve wanted to play rock n roll. It’s always been my biggest hunger, what I dreamt about. It must be in my DNA. Life didn’t make sense before Deap Vally. Now it makes sense.

What did you listen to as a teenager and how did that affect you now?

Julie: Nine Inch Nails, The Doors, Soundgarden.  I like heavy music with a good beat, and that is the music I make.

Lindsey: The Beatles, The Doors, Hole, Nirvana, The Yeah Yeah Yeahs, The White Stripes. I’ve always loved rock’n’roll — the grittiness of it, the attitude, the inherent sexiness of it.

Do you still knitting right now? What’s your favorite pattern or things to knit?

Julie: scarves and handwarmers

noro

Lindsey: I’ve been knitting a lot of infinity-scarves recently. There’s a yarn I’m currently obsessed made by a Japanese company called Noro. It’s multi-colored hand-painted wool. It’s the most beautiful yarn I’ve ever seen. I bought every ball they had at the store, then made loads of Christmas presents with it! I think I’m ready to move into sweater territory though. I have a half-finished sweater that I started ages ago. It’s been neglected in my closet for a year and a half. I’ve decided I’m going to unravel the whole thing and start over. It’s been so long that I’m bored with the original design. Check back in a couple months and I’ll send you a picture…

What was the first concert you ever went to?

paula-abdul-undated-young.grid-6x2

Julie: Paula Abdul!

anthony-kiedis-red-hot-chili-peppers-young-and-cute--Favim.com-211827

Lindsey: Legend has it I rocked pretty hard in mother’s womb at a Bob Dylan concert she went to while pregnant with me. The first concert I ever went to without my parents was The Red Hot Chili Peppers. I was madly in love with both Flea and Anthony Kiedis. That was also my first time crowd surfing, and I lost my shoe in the process. I was 12.

Can you name any particularly influential albums for you?

nineinchnailsdownwardspiral8az

Julie: Led Zeppelin’s Physical, Nine Inch Nails’s The Downward Spiral.

hole

Lindsey: Hole’s Live Through This, Led Zeppelin’s Led Zeppelin I, The Beatles’ Abbey Road, The Doors’ Self-Titled, Elliott Smith’s Either/Or, Yeah Yeah Yeahs’ Fever to Tell.

Did you have any musical background?

Lindsey: I started playing piano when I was four. All throughout my childhood I was in a family band. It was real folky stuff, very family-friendly. We did mostly covers. The first time I plugged my electric guitar into an amp my life changed…for the better.

What was the first instrument you picked up? Did you teach yourself?

Lindsey: Piano. I started taking lessons when I was 4. My teacher was amazing. Super 80’s. She had died black hair with bangs and long red finger-nails. A total gem. I wonder what she’s doing these days…I think I should get back in touch with her…

Who are your style icons?

Keith+Richards+img031

Julie: Tina Turner, Madonna, Keith Richards.

thelma-and-louise01

Lindsey: Thelma & Louise, Kelly Bundy, The Ramones, Madonna.

Do you have any favorite music video or movie or documentary?

somekindofmonster

Julie: Some Kind of Monster!!!

Madonna

Lindsey: Madonna’s “Truth or Dare”

What’s on your iPod right now?

Julie: Chelsea Wolfe, Goat, Here We Go Magic.

Lindsey: The Black Angels, Queens of the Stone Age, Fiona Apple.

What records always cheers you up?

the-meters

Julie: Anything by The Meters (the original Meters from back in the day).

stooges
Lindsey: Anything by The Stooges

Who’s in charge for the lyric and what’s the main inspiration?

Lindsey: We write everything together. Our inspiration comes from our lives and how we view the world–what we’ve experienced, what we see our friends experience, the things that go through our brains.

What does it feel like to be onstage?

Lindsey: The best thing ever.

What advice do you have for people wanting to start bands?

Lindsey: Just do it. Sit down and learn how to play an instrument. Don’t be afraid to make noise. Put the time in. Lose yourself in it. You won’t regret it.

Next project?

Deap Vally. 2013. World Domination.

http://deapvally.com/

High And Dried, An Interview With Dried Cassava

Tanpa perlu berekspektasi terlalu tinggi, Dried Cassava membuktikan mereka siap melompat lebih jauh bersama album debut mereka, Mind Thieves.

Memang tak ada yang lebih menyenangkan daripada bermain band dengan teman-teman yang sudah akrab sejak lama, salah satu contohnya adalah Dried Cassava, band Jakarta yang menarik perhatian para pencinta musik berkat lagu-lagu alternative rock mereka yang kental dengan unsur blues dan funk. Terdiri dari vokalis & gitaris Baskoro Adhi Juwono, drummer Kago Mahardono, bassist Bana Drestanta dan Nandie Daniel Febryan sebagai gitaris, rasanya memang sudah cukup lama kita tak mendengar band Indonesia dengan aransemen funk yang begitu asik tanpa terkesan berlebihan, dan keempat lulusan SMA Pangudi Luhur Jakarta ini berhasil melakukannya nyaris tanpa cela. Setelah bulan lalu saya sempat menulis sedikit tentang album debut mereka yang berjudul Mind Thieves, menjelang sore di bilangan Kemang saya berkesempatan untuk mengobrol langsung dengan band yang terbentuk tahun 2005 ini.

“Awalnya gue sama Nandie suka main akustikan, terus akhirnya diseriusin bikin band dengan ngajak Kago dan Bana. Pertama-tama kami sering mainin lagu-lagu Rage Againts the Machine, Incubus dan Radiohead, ikutan kompetisi sampai akhirnya mulai membuat lagu sendiri, tapi belum terpikir untuk sampai bikin album. Dulu kita berharapnya sih ditarik sama label, tapi kalau nungguin ditarik label itu rasanya terlalu lama jadi kami ngumpulin uang sendiri, rekaman di Sinjitos sampai akhirnya kami rilis Mind Thieves di bulan Juni kemarin.” Ungkap Baskoro yang akrab dipanggil Abas tentang bagaimana mereka terbentuk.

Selalu ada cerita menarik tersendiri jika berbicara tentang nama band, tak terkecuali bagi Dried Cassava, nama yang mungkin akan membuat sebagian dari kita mengerutkan kening dan bertanya-tanya. “Kami baru sadar arti Dried Cassava itu sekitar dua hari setelah ditentukan, jadi ceritanya kami mau ikut satu gig yang paling besar, jadi kami memutuskan cari nama yang akan dipakai seterusnya. Gue random buka-buka kamus lalu menemukan dua kata itu, dried cassava, yang terjemahannya di kamus itu adalah ‘gaplek’, gue kira gaplek di situ adalah kartu domino, personel yang lain juga sudah setuju dan nggak ada yang sadar artinya. Baru ketika sudah masuk poster, ada teman gue yang nanya ‘Eh nama band lo itu Dried Cassava ya? Itu artinya bukannya singkong kering ya?’ terus dari situ gue baru sadar, ternyata gaplek yang dimaksud di kamus itu adalah sejenis makanan tradisional yang terbuat dari singkong haha” cerita Nandie panjang lebar tentang nama bandnya yang langsung disambut tawa keras teman-temannya.

Seperti yang telah saya tulis, mereka memang membawakan musik dengan aransemen funk yang kerap mengingatkan orang akan lagu-lagu awal Incubus walau tentunya mereka mempunyai twist-twist tersendiri dalam mengemas musik mereka. “Kalau ditanya genre, pas bikin lagu kita nggak pernah yang sengaja mau bikin lagu pop atau funk, biasanya ya bahasa simpelnya sih ‘nih gue ada lagu pelan, atau nih gue ada lagu tapi baru piano doang’” terang Abas begitu ditanya tentang konsep musik yang mereka usung. Mendengarkan beberapa track dalam album Mind Thieves seperti “Menjual Kaum Hawa”, “Be Myself” dan “Freefall”, setiap lagu terdengar memiliki cirinya tersendiri dan jauh dari kata repetitif, saya pun bertanya tentang proses pembuatan lagu-lagu mereka dan apakah cukup mewakili setiap personel, “Mungkin ide awalnya kebanyakan dari gue atau Abas, tapi dalam prosesnya sampai lagu itu jadi ada kontribusi dari semua personel, misalnya lagu ‘Mr.Woody’ ada unsur reggae-nya, itu idenya dari Kago. Karena gue pikir kalau kita main band berempat ya idenya juga harus datang dari kita berempat. Yang penting lagu itu terdengar harmonis di telinga kami berempat dan sudah nyaman belum kita maininnya.” Jawab Nandie dengan serius.

Lalu, bagaimana dengan produksi Mind Thieves itu sendiri? “Untuk materi sudah terkumpul lama terus rekamannya sekitar tiga bulan, yang bikin lama itu persiapannya  karena kami kan ngurus segala sesuatunya sendiri.” Ungkap Abas. “Soalnya nggak merasa cocok sama beberapa label yang approach kami dan ada kekhawatiran kalau takutnya hal-hal yang dikerjakan sama label ternyata bisa kami kerjakan sendiri. Ya ada untung-ruginya, yang terasa itu mungkin masalah distribusinya, tapi di sisi lain uang yang didapat juga langsung masuk ke band.” Timpal Nandie. Untuk masalah promosi sendiri, sama seperti mayoritas band saat ini, band yang turut tampil di Java Rockin’ Land tahun lalu ini juga memanfaatkan situs social network, khususnya Twitter. “Besar banget pengaruhnya ya, kami jadi bisa tahu kalau ternyata single ‘Paradox’ kami menjadi heavy rotation di salah satu radio di Pontianak dan banyak yang request, lucu juga sih padahal gue sendiri nggak tahu Pontianak di mana, belum pernah kesana haha” ungkap Abas yang  memancing tawa personel lain yang kemudian dengan kesengajaan yang usil bertanya kepadanya di mana letak kota itu (“Kalimantan…” – jawab Abas dengan tersenyum). Sepanjang interview ini memang terasa kalau mereka telah lama berteman, banyak tawa dan ledekan-ledekan kecil yang saling mereka lempar satu sama lain, pertemanan yang terjalin sejak masih memakai seragam sekolah sebelum mereka melanjutkan kuliah di universitas yang berbeda-beda. Apakah ada masalah tentang hal itu? “Mungkin ada masalah sedikit di jadwal, kalau ada yang ujian atau apa ya terpaksa harus cari additional player. Kalau sekarang sih sudah beda sama dulu ya, kalau dulu kami ingin banget ke atas jadi kalau ada tawaran manggung ya diambil semua walaupun ada personel yang nggak bisa,” jelas Abas. “Biasanya yang diganti itu gue, soalnya jadwal kuliah gue kadang-kadang sampai hari Sabtu, padahal gig justru banyaknya pas weekend kan,” sambung Kago. Azas pertemanan itu tak berhenti di personel band saja, dua manajer dan additional player mereka juga direkrut dari teman-teman SMA mereka. “Mungkin itu kekurangan kami juga, karena awalnya kami ngeband cuma buat have fun, ngeband ya main aja nggak mikir tentang manajemen atau apalah tapi pas bikin album ya sadar ternyata nggak bisa gitu juga, nggak bisa santai-santai terus, harus ada yang ngurusin dan follow up juga.” Ucap Abas.

Mungkin terlalu dini untuk berandai-andai akan seperti apa Dried Cassava nantinya, untuk sekarang mereka mengaku menikmati saja apa yang telah mereka lakukan dan tak bisa dipungkiri jika album pertama adalah salah satu momen paling penting bagi sebuah band, demikian juga yang dirasakan oleh mereka. “Yang pasti lega sih. Ibaratnya album ini adalah dokumentasi perjalanan Dried Cassava dari terbentuk sampai hari ini, banyak yang positif walaupun ada juga yang negatif. Suatu kebanggaan yang tiada tara untuk kami.” Tutup Nandie sambil tersenyum.

As published in NYLON Indonesia October 2011

Foto oleh Philea Adhanti