Book Club: The Murmur House, A Murmuration of Frolicking Young Writers.

Murmur
Looking through the personal blogs and indie zines, Indonesia sepertinya telah memiliki regenerasi penulis mudanya sendiri secara natural. Namun, di samping mereka yang berhasil meraih kontrak penerbitan buku, masih banyak juga penulis muda yang seakan tidak punya outlet untuk menampilkan karya mereka dan cenderung berjuang sendirian. Hal tersebut yang kemudian mendorong dua penulis muda Rain Chudori dan Syarafina Vidyadhana untuk membuat Murmur House, sebuah wadah bagi para penulis muda untuk berkumpul dan berkembang bersama melalui jurnal literatur kolaboratif. Selain merilis jurnal literatur, dalam peluncuran setiap edisi mereka juga menggelar event bertajuk Murmuration di mana para pencinta literatur bisa berkumpul untuk menikmati impromptu reading dan acoustic performance. Klub membaca adalah rencana mereka selanjutnya, namun untuk sekarang let’s have some chat with these two charming young ladies.

Hi Rain and Avi, how are you? Boleh cerita bagaimana kalian bertemu dan akhirnya tercetus ide untuk bikin project bareng ini?
Rain: We met one afternoon for tea and to talk about our two favorite things, love and literature. Somewhere amongst that, had an idea of creating a project that made by young writers for young writers.
Avi: It was December last year. Rain happened to be in my campus, waiting for her friend to finish some errands and I happened to be a little frustrated from writing my final paper. So we kept each other company and talked about boys and books. It was really fun, and so before we parted that day we thought how wonderful it’d be if we could share the warmth with more people with passion alike.

What’s the story behind the name?
Rain: There are two meanings behind our name. The first, “murmur” means “to speak softly”. The second, “murmuration” means the migration of a flock of starlings that are synchronous and constant.
Avi: ‘Murmuration’ itu suatu fenomena yang menurut gue indah banget. Starlings ketika terbang sinkron dan sangat peka terhadap satu sama lain, sehingga jika ada satu yang berubah, yang lain langsung adaptasi. Di kelompok mereka juga nggak ada yang mendominasi. Oleh karena itu, kita mencoba untuk menerapkan hal yang sama di The Murmur House. Istilahnya, itu kami jadikan filosofi dalam merawat rumah kami.

avi
What’s the main idea when you start this project?
Rain: We wanted to create a home for young writers to gather and grow with each other through a collaborative literary journal. We also hope to foster our home by hosting events such as Murmuration (the launch of each literary journal), and soon, reading clubs.
Avi: idem!

Apa pengalaman menyenangkan saat kalian menyusun Murmur edisi pertama?
Rain: It was exciting to see the participation of writers and to know that we were all interacting in the hopes of creating something beautiful together.
Avi: Selain yang Rain sudah utarakan, ya paling ke percetakan sih. Jauh kan tuh, tapi kami nggak nyasar. Bangga banget lah nggak nyasar. Karena biasanya kalau pergi jauh gue nyasar mulu. Oiya, paling sama proses editing dan ketika kami bisa lihat interpretasi ilustrator/fotografer terhadap karya tulis pada jurnal kami. Kagum aja sama mereka.

Apa yang menjadi pertimbangan kalian dalam memilih konten karya yang akan masuk?
Rain: Our editorial team discusses each piece and goes through a process of workshopping the pieces with the writers and translators.
Avi: Untuk edisi pertama, kami memang menyeleksi secara tertutup penulis-penulisnya. Sebetulnya tidak ada kualifikasi khusus, kami melihat potensi dari tulisan-tulisan mereka sebelumnya di blog maupun media lain, lalu kami ajak mereka untuk berkolaborasi. Setelah kami jelaskan tema pertama jurnal kami, yaitu “welcome to warmth”, mereka lalu menulis puisi, prosa atau essay sesuai dengan interpretasi mereka terhadap tema tersebut. Untuk ke depannya, kami menerima submission dari mana saja, yang tentunya akan kami seleksi bersama para editor dan translator.

rain
How about the Murmuration? Tell me about it, kalian baru saja menggelar Murmuration pertama, how does it go?
Rain: The first Murmuration was quite full and there were a lot of enthusiastic performers, both who are part of Murmur and impromptu ones. It was heartening to find that there is a large amount of enthusiasm for literature.
Avi: Menggembirakan sekali, khususnya karena banyak yang membaca secara impromptu. Tadinya sempat khawatir acaranya akan dianggap menjemukan. But everyone seemed to be having a good time! (At least I was.)

 Have you guys thinking to go online as well?
Rain: There’s a lot of perks in having online content and we have thought of doing so. We are trying to publish the literary journal in print because we love the feel of a physical copy.
Avi: Setuju sama Rain. Ini pretensius banget sih, tapi ya emang belum ada yang bisa ngalahin wanginya kertas krem buku.

Do you have any favorite figure from literature scene?
Rain: From Indonesia, my mother, Leila Chudori. From outside of Indonesia, Sylvia Plath.
Avi: This is one tough question. Kalau penulis Indonesia, Umar Kayam deh. Penulis luar negeri sekarang lagi suka sama Alissa Nutting, cuz Tampa is hilarious.

What literature means for both of you?
Rain: A pure attempt to live.
Avi: I know it won’t save the world, but it might just enlighten its people. Or at least move some hearts.

Bagaimana kalian melihat literature scene di Indonesia saat ini, terutama di kalangan anak mudanya?
Rain: We see a lot of developing young writers, but as young writers ourselves, there is not a lot of outlet for us, especially for fiction writers. This can be quite dispiriting. We hope that The Murmur House can be one, out of many, places where young writers can bloom.
Avi: Nah, iya gitu. Makanya kita bangun The Murmur House, biar nggak saling terpencar dan kesepian.

Spoil some secret for your second issue, what’s the theme dan bagaimana caranya bisa berkontribusi?
Rain: The theme is “Love and Other Drugs”. We intend to find short stories, poetry, proses, plays, and essays on addiction.
Avi: Caranya mudah kok, kirimkan aja tulisan yang (menurut penulisnya) cocok dengan tema ke submit@themurmurhouse.com, jangan lupa sertakan foto dan bio singkat!

opsub
What’s the next plan for Murmur House?
Rain: We hope to continue publishing our literary journal and launching them in our Murmurations. We also hope to establish a reading club that will meet and discuss books once in every two-three months.
Avi: More gatherings! We’d love to make a habit out of reading aloud in public!

http://www.themurmurhouse.com/

The photos by Bintang Adamas and Devi Merakati.

order

Advertisements

Book Club: Gelombang, Kepingan Terbaru Saga Supernova

Gelombang

Dewi Lestari menyeretmu lebih dalam lagi ke dunia Supernova lewat kepingan terbarunya, Gelombang.

Sebagai natural-born bookworm (or at least self-proclaimed) yang tak pernah absen membaca sejak bisa mulai merangkai huruf menjadi kalimat, buku fiksi bagi saya adalah sebuah hiburan, guru, dan terutama eskapisme. Walau sejujurnya, saya hanya punya dua serial fiksi yang benar-benar meninggalkan jejak dalam hidup saya. Yang pertama adalah serial Harry Potter karya J. K. Rowling dan yang kedua adalah serial Supernova karya Dewi “Dee” Lestari. Keduanya adalah serial yang seakan ikut “tumbuh” menemani proses saya beranjak dewasa sampai sekarang. Kali ini saya ingin berbicara tentang Supernova yang masih saya akui sebagai buku berbahasa Indonesia terfavorit saya. Tidak hanya karena saya belajar banyak hal darinya, setiap buku Supernova entah kenapa selalu datang di saat yang tepat dan beresonansi pada titik kehidupan yang sedang saya jalani.

Awal perkenalan saya dengan Supernova dimulai dari buku pertama, Supernova: Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh (KPBJ) yang dirilis tahun 2001 ketika saya masih duduk di bangku SMP. Teman sekelas saya membawanya ke sekolah lalu saya iseng meminjamnya dan baru mengetahui jika Dee sang penulis ternyata Dewi Lestari dari trio pop Rida Sita Dewi yang terkenal di medio 90-an. Sampulnya sekilas mengingatkan saya pada buku pelajaran fisika dan melihat isinya saya tercengang dengan banyaknya footnotes berisi istilah-istilah ilmiah dan teori antah berantah yang belum pernah saya baca sebelumnya. Its a little bit off-putting awalnya karena saya lumayan alergi pada pelajaran IPA tapi toh saya bosan di kelas dan mulai membacanya. Di rumah, saya menuntaskan buku pinjaman itu. Jujur, saat itu saya beberapa kali saya melewatkan bagian perdebatan intelektual Dimas-Reuben dan lebih fokus pada cerita Diva-Ferre-Rana. KPBJ keluar di tengah berkembangnya computer culture di Indonesia, ketika internet sudah semakin umum, termasuk hal-hal seperti bulletin board, hacker, The Matrix, chat room dan sebagainya yang menjadi obsesi baru remaja Indonesia, termasuk saya. Satu hal lagi yang membuat novel ini berkesan adalah penggambaran same-sex relationship di antara Reuben-Dimas yang tidak terjebak pada dinamika cliche dan stereotyping. Satu hal yang cukup personal bagi saya saat itu.

Tak lama KPBJ keluar, muncul sekuelnya yang bertajuk Akar di tahun 2001, namun waktu itu saya sama sekali tidak aware dengan kehadiran buku kedua ini sebelum menonton infotainment yang mengabarkan kontroversi yang menyelimuti kelahirannya. Waktu itu saya sama sekali tidak tergerak untuk membaca, apalagi datang ke toko buku untuk membelinya. Tapi lagi-lagi, universe seperti sengaja menyuguhkannya di depan mata saya begitu saja. Saya membacanya dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2004. Saat itu saya sedang libur semester kelas tiga SMA dan menginap di rumah ipar saya. Bosan main game, saya mulai mengecek lemari buku di lantai atas. Ada beberapa novel dan banyak komik Marvel, tapi mata saya tertumbuk pada Akar edisi cetakan pertama dengan simbol ohm masih tertera di sampul. Lagi-lagi out of boredom, saya mengambilnya dan mulai membaca. Di halaman-halaman awal saya masih merasa buku ini murni lanjutan buku pertama, sebelum tiba-tiba saya diperkenalkan dengan tokoh Bodhi dengan segala keunikan dikotomi dan perjalanan lintas negaranya. Narasi di buku ini berjalan lebih linear dan tidak ada timbunan istilah rumit sehingga saya menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Saya terpesona dan menemukan impian baru untuk backpacking (yang belum juga dilakukan sampai saat ini) and basically keinginan untuk keluar dari zona nyaman saya.

Seperti sudah direncanakan, hanya beberapa hari sejak membaca Akar, saya menemukan review tentang Petir, buku ketiga Supernova di sebuah majalah. Hari pertama kembali ke sekolah, saya mampir ke toko buku untuk membeli Petir. Dan lagi-lagi saya tersengat oleh keandalan Dee dalam bercerita. Jika KPBJ adalah perkenalan pertama yang berlangsung acuh tak acuh, maka Akar adalah pertemuan kedua yang memesona, namun baru di Petir akhirnya saya menyadari telah jatuh cinta seutuhnya dengan serial ini. Petir memiliki formula yang sama dengan Akar. Dibuka oleh bab (kepingan) yang berkaitan langsung dengan KPBJ sebelum kita berfokus pada satu karakter baru, yaitu Elektra, gadis dengan obsesi pada petir dan memiliki kemampuan menyembuhkan lewat energi listrik alami pada tubuhnya. Yang menarik, gaya bahasa di Petir bahkan jauh lebih ringan lagi, penuh humor, dan terasa santai seperti atmosfer Bandung yang menjadi latar cerita di buku ini. Di titik ini saya pun baru mengetahui masih akan ada dua buku Supernova lagi yang akan berjudul Partikel dan Gelombang yang memiliki satu tokoh sentral utama, serta Intelegensi Embun Pagi yang akan mempertemukan mereka semua dan menjadi pamungkas cerita.

Selepas Petir, para penggemar Supernova dihadapkan pada penantian panjang yang seakan tanpa akhir untuk menikmati sekuelnya, Partikel. Saya baca Petir ketika sedang belajar serius untuk SPMB, tapi bahkan sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja, Partikel tidak kunjung datang. Penantian itu terjawab di tahun 2012. Delapan tahun lamanya. Bayangkan bagaimana riuhnya respons para penikmat Supernova, terutama karena Partikel hadir di era social media, khususnya Twitter. Antisipasi untuk buku keempat ini hampir tidak bisa dibendung hingga akhirnya 13 April 2012, jam 4:44 sore, Partikel muncul di toko buku dan hal yang saya pikirkan hari itu adalah secepat mungkin ke toko buku untuk membelinya. It was almost emotional dan saya ingat betul rasanya merinding melihat buku itu langsung di depan mata. Partikel mengisahkan Zahra, gadis keluarga Muslim dari Bogor dengan mata jeli yang menangkap hal-hal yang sering luput dari orang awam, secara literal oleh profesinya sebagai fotografer wild life, maupun hal-hal yang lebih bersifat transcendental. Partikel adalah buku yang membuat saya bertanya-tanya tentang alam semesta, konsep agama, dan melihat hal-hal sekitar dengan cara yang berbeda, baik dengan bantuan enteogen maupun tidak. Personally, Partikel adalah buku Supernova yang paling relate untuk saya, so far.

Dalam sebuah email interview yang saya lakukan bersama Dee tentang Partikel, beliau memberi tahu saya jika fokus berikutnya adalah menyelesaikan Gelombang. Dan karena itu tak mengherankan jika Gelombang bisa hadir dalam waktu yang tak terlalu lama dari Partikel. Buku kelima ini hadir tanggal 17 Oktober lalu, namun saya baru membelinya dua hari lalu dan selesai membacanya kemarin. Entah kenapa saya merasa tak ingin terburu-buru membelinya, namun seperti arus pasang, saya terseret Gelombang sejak halaman-halaman awal. Saya tahu jika tokoh utama buku ini adalah Alfa dan selalu membayangkannya sebagai seorang geek yang mungkin ada kaitannya dengan fisika dan beragama Hindu (totally random bet, karena merasa setiap tokoh akan memiliki agama yang berbeda). Saya tak tahu bagaimana setting cerita buku ini karena saya menghindari spoiler di socmed dan bahkan sengaja tidak membaca sinopsis di balik sampulnya saat akhirnya membeli buku ini. Saya ingin mengenal Alfa tanpa pretensi. Tapi, sejak pertama saya tahu jika Alfa ternyata berdarah Batak tulen, langsung terbersit pikiran “Oh wait…. jangan bilang kalau namanya sebenarnya Thomas Alfa Edison…” dan saya secara spontan terkekeh sendirian karena intuisi saya benar.

Yup, Alfa adalah Thomas Alfa Edison Sagala yang lebih akrab dipanggil “Ichon”, anak bungsu keluarga Sagala dari Sianjur Mula-Mula, sebuah kampung di Samosir, Sumatera Utara yang dipercaya sebagai asal muasal lahirnya suku Batak dan masih menganut agama tradisional yang disebut Parmalim. Bermula dari sebuah upacara pemanggilan roh leluhur, kehidupan Ichon si bocah penggemar serial Kho Ping Hoo berubah dengan hadirnya mimpi yang sama berulang-ulang dan kehadiran makhluk gaib misterius bernama Si Jaga Portibi yang seakan mengintainya. Keanehan tersebut ditangkap oleh dua orang dukun yang ingin memperebutkan Ichon sebagai murid, menyisakan Ichon di persimpangan keputusan dan hampir kehilangan nyawanya untuk itu. Insiden yang membuat keluarga mereka memutuskan merantau ke Jakarta, walau tak lama setelahnya Ichon pun pergi lebih jauh lagi ke belahan dunia lain sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Dihantui mimpi buruk yang sama setiap harinya, Ichon alias Alfa alias Alfie belajar mempertahankan diri dengan menahan tidur. Dan dengan kecerdasan alami, keuletan, serta waktu belajar ekstra dari teman-teman sebayanya, ia berhasil mendapat beasiswa penuh di kampus Ivy League sekaligus selamat dari kehidupan imigran gelap yang penuh risiko deportasi dan lingkungan yang dikuasai gang kriminal. Nasib menghempaskan Alfa pada Wall Street, salah satu surga dan neraka dunia dalam arti sesungguhnya, di mana ia meraih sukses sebagai hot-shot trader, gitaris berbakat, sekaligus full-blown insomniac di saat yang sama. Tertidur lelap sama artinya dengan meregang nyawa baginya, karena secara tak sadar ia memiliki suicide program ketika tertidur. Pertemuan dengan seorang gadis luar biasa cantik di sebuah klub rahasia yang membuatnya terbablas tidur dan nyaris mati, mempertemukannya dengan Dr. Nicky dan Dr. Colin dari Somniverse, sebuah pusat kajian yang berfokus pada masalah tidur, mulai dari insomnia, gangguan tidur, mimpi, hingga lucid dream. Perlahan tabir mulai terbuka dengan sendirinya, mengantarkan Alfa ke Tibet untuk menemukan jawaban dari segala mimpinya dan belajar memercayai instingnya sekali lagi.

Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapat dari buku-buku Supernova, dalam Gelombang, hal itu adalah mekanisme mimpi, lucid dream, dan kosmologi Batak yang mengagumkan. Gaya penulisan Dee sendiri dalam buku ini terasa sangat fokus dan seakan tak menyisakan ruang untuk bernafas. Klimaks terus terbangun dengan intens hingga buku sudah mencapai ¼ akhir. Bayangkan Inception bertemu dengan Bourne Identity dan Jumper. Unsur fast-paced action itu yang memaksa saya untuk tidak berhenti membaca sampai larut malam, bahkan ketika mata ini sudah lelah dan rasa ngantuk mulai menyerang. Seakan saya bisa merasakan perjuangan Alfa untuk bisa tetap terbangun dan menghindari tidur. Saking cepatnya, entah kenapa ada sensasi fast-forward yang saya rasakan dalam Gelombang, yang membedakannya dari buku-buku sebelumnya yang mengajak kita menikmati perkembangan tokoh utamanya dengan lebih personal. Ada sesuatu yang membuat saya merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok Alfa ketika ia dewasa karena ia hanya terfokus pada mimpinya dan emosinya yang naik-turun. Tidak ada keterikatan dalam level emosional seperti yang saya alami dengan Elektra dan Zahra.

Gelombang terasa seperti paradoks alfa dan omega. Di satu sisi, secara kronologis Gelombang adalah buku terakhir yang berfokus pada satu tokoh (avatar?) utama dan menjadi kepingan terbesar puzzle yang menjawab banyak pertanyaan tentang universe yang dibangun Dee. Di buku ini kita diperkenalkan dengan istilah-istilah seperti Asko, Infiltran, Peretas, dan Sarvara sekaligus beberapa clue yang membuat kita mulai meraba alur cerita sebetulnya dari saga ini. Di sisi lain, Gelombang pun justru terasa seperti babak awal dari buku-buku sebelumnya. Akar, Petir, Partikel adalah cerita yang sebetulnya bisa berdiri sendiri tanpa adanya bab yang berkaitan dengan KPBJ, namun rasanya sulit untuk benar-benar menikmati Gelombang tanpa pernah membaca buku-buku sebelumnya, terutama mungkin Akar, karena dua tokoh penting dalam Akar kembali muncul dalam Gelombang dalam porsi singkat namun sangat menohok bagi siapa pun yang membaca Supernova dengan khidmat. Gelombang seakan ingin menghempas kita untuk kembali membaca ulang buku-buku sebelumnya demi mengumpulkan remah-remah clue yang tercecer.

Terlepas dari beberapa hal yang mungkin terasa ganjil dan menimbulkan beberapa pertanyaan baru, kita semua tahu jika Gelombang adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. And I can’t hardly wait for it.

Book Club: Based on a True Story 01- Pure Saturday

Pure Saturday

Pure Saturday (Based on a True story)

Idhar Resmadi

U&kl Books

Ada beberapa faktor yang menggugah saya untuk segera membaca buku biografi band Pure Saturday ini. Yang pertama menangkap perhatian tentu wujud fisiknya. Dari segi desain semata, buku pertama lansiran U&KL Publishing ini terlihat unik dengan desain cover minimalis dan clean berwarna putih bertuliskan Pure Saturday yang diselimuti cover jacket berwarna serupa yang menampilkan tulisan Based on a True Story. U&KL Publishing sendiri merupakan sub division terbaru dari UNKL347, sebuah brand sub culture yang pasti telah akrab di telinga kaum urban dan kreatif Tanah Air. Dilahirkan oleh sebuah rumah desain mumpuni, pemilihan materi kertas, font, layout dan foto-foto yang dipakai dalam buku ini akan mendapat apresiasi dari siapapun yang menggemari desain produk. Faktor kedua untuk saya pribadi adalah penulis buku ini, Idhar Resmadi, seorang jurnalis musik dan budaya populer yang tulisan-tulisannya telah saya akrabi sejak ia menjabat sebagai pemimpin redaksi Ripple Magazine. Faktor ketiga dan paling krusial tentu saja subjek isi buku ini sendiri. Pure Saturday yang kini terdiri dari Satrio Nurbambang (vokal & gitar akustik), Adhitya Ardinugraha (gitar), Arief Hamdani (gitar), Ade Purnama (bass), dan Yudhistira Ardinugraha (drum) merupakan salah satu band lokal paling legendaris yang memiliki pengaruh besar pada dunia musik Indonesia, khususnya skena indie, sampai hari ini.  Ditulis dengan pendekatan studi literatur dan interview personal tak hanya dengan kelima personel PS saat ini, tapi juga bersama Suar Nasution, vokalis pertama mereka yang juga salah satu founder band tersebut, para manajer, dan orang-orang dalam lainnya, Idhar memaparkan setiap langkah yang telah ditempuh band asal Bandung tersebut sepanjang karier mereka yang tahun depan genap berusia 20 tahun.

Bicara tentang buku biografi sebuah band, berarti bicara tentang sejarah, drama balik layar, dan, suka-duka, dan legacy dari band tersebut dengan cara yang candid. Jujur saja, saya baru benar-benar mengenal dan mulai mendengarkan band ini sekitar 2005, dari album ketiga mereka Elora. Ingatan saya sebelum itu tentang band ini mungkin hanya beberapa bait lagu “Kosong” yang dulu kerap dinyanyikan kakak saya sambil main gitar. Lewat buku ini, banyak sekali cerita yang benar-benar baru saya ketahui soal band ini saat saya ‘terlempar’ ke tahun 1994, ketika band ini bercikal dari sebuah band tongkrongan bernama Tambal Band di sebuah sudut kota Bandung yang dinamakan Gudang Coklat. Bagaimana kelima personel formasi awal bertemu, berganti nama menjadi Pure Saturday demi mengikuti festival musik pertama mereka yang kemudian berhasil keluar sebagai pemenang, yang kemudian melejitkan nama mereka di acara-acara musik di Bandung.

Semakin menyusuri kedelapan bab dalam buku ini, semakin saya tenggelam dalam memory lane yang terjadi pada Pure Saturday. Semua cerita pahit-manis mereka dari mulai proses penciptaan album debut yang menjadi tonggak meledaknya musik alternatif Indonesia, bagaimana mereka menjalani popularitas yang ternyata sejalan dengan banyak persoalan baru, pergelutan emosi antara personel, pergantian vokalis dan gigihnya Satrio sebagai vokalis baru untuk membuktikan diri di antara cemoohan, hingga akhirnya Pure Saturday berhasil melewati semua itu dan tetap bertahan sampai sekarang dengan lima album dan fans yang tetap setia, semua itu berhasil dirangkum dan dipaparkan dengan komprehensif oleh Idhar.

Terlepas dari beberapa minor technical mistakes dari segi tata bahasa dan beberapa alur yang kadang terkesan ‘melompat-lompat’, buku setebal 230 halaman ini adalah dokumentasi menawan yang menyoal musik Indonesia dari salah satu band Tanah Air yang paling gemilang. Bukan hanya bagi para fans Pure Saturday yang disebut Pure People, tapi juga untuk siapapun yang mencintai musik dan khususnya bagi band sekelas Pure Saturday itu sendiri. They deserved it, we deserved it.

 

Book Club: Ladya Cheryl

ladya-cheryl

Ladya Cheryl adalah salah satu dari sedikit aktris muda Indonesia yang memiliki resume akting yang menarik. Setelah breakthrough role-nya sebagai seorang gadis rapuh di Ada Apa Dengan Cinta?, Ladya terus memainkan peran-peran tak biasa di film-film berikutnya seperti Fiksi, Kara Anak Sebatang Pohon, Babi Buta Yang Ingin Terbang dan Postcard from the Zoo. Saat ini selain bermain film yang umumnya berjenis film festival, Ladya juga sibuk menjadi pemain bass untuk Zeke Khaseli, menonton film-film Indonesia di bioskop, merawat kaktus pemberian teman dan merajut. “Bisa dibilang hobi, tapi kadang-kadang bosan juga. Merajut belajar sama teman. Di daerah Mandar ada toko benang namanya Sasha, kalau beli benang di sana diajarin merajut gratis sekalian. Senang juga. Kenapa pilih rajut? karena lihat teman waktu itu asik merajut sambil ngobrol, tapi akhirnya jadi barang, seperti cardigan, topi, syal,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 31 tahun lalu ini. “Kalau kita baca buku atau nonton film, ada karakter yang membuat kita ingin menjadi seperti karakter atau mengikuti kisah hidupnya, kemudian merasa senasib atau simpati/empati,” ujar Ladya ketika saya memintanya memilih 5 novel yang menurutnya menarik untuk dijadikan film.

les_miserables

Les Misérables

Victor Hugo

Buku ini ceritanya memang panjang dan sudah difilmkan. Saya sudah nonton dan inginnya dibuat yang lebih lengkap seperti bukunya. Mungkin kalau terlalu panjang untuk difilmkan, bisa dibuat serial. Di Inggris ada play-nya, ingin banget nonton.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The Adventures of Tom Sawyer

Mark Twain

Sudah difilmkan juga. Karena ketika saya baca The Adventures of Tom Sawyer, saya merasa terhibur dan ingin hidup di kota kecil yang ada sungainya, main sama teman-teman sekitar rumah di atas bukit. Di zaman itu, kalau mau dapetin sesuatu/barang yang anak-anak itu suka, mereka saling tukar benda-benda kepunyaan masing masing, rasanya ingin ada di zaman itu, tempat itu.

Sybil1

Sybil

Flora Rheta Schreiber

Ini saya belum tau sudah atau belum. Kalau belum boleh juga, karena ingin tau penggambaran perpecahan Sybil akan seperti apa. Untuk buku ini, saya lebih ingin lihat siapa pemainnya, karena buku ini diangkat dari kisah nyata, jadi kalau kita mau nonton film Sybil, mungkin pemainnya yang tidak biasa kita lihat, atau pemain yang bisa menghilangkan identitas dirinya sendiri. Karena saya penasaran dengan Sybil dan teman-teman kepribadiannya.

audrina
My Sweet Audrina

V.C.  Andrews

Menunggu perasaan tegang dan suasana rumah Audrina dan keluarganya yang aneh.

book-cover
Norwegian Wood

Haruki Murakami

Ini juga sudah difilmkan, tapi saya belum nonton. Belum siap kalau tidak sesuai bayangan, karena baca buku ini seperti berada di Jepang dan menonton langsung dialognya. Intinya rasanya seperti nonton filmnya ketika baca. Terasa nyata.