Amazing A, An Interview With Andien

    NYLON Indonesia

Melalui empat belas tahun dengan lima buah album, puluhan penghargaan, dan ratusan cerita, Andien tak pernah pergi dan tetap menjadi seorang biduanita muda teristimewa. But make no mistake; she keeps getting stronger than ever.

Jika harus memilih edisi NYLON apa yang selalu saya tunggu setiap tahunnya, tanpa harus berpikir pun saya akan langsung menjawab music issue as my personal favorite. Dan menginjak kali keempat NYLON Indonesia merilis music issue, our excitement bertambah karena untuk pertama kalinya kami memutuskan memakai cover lokal di edisi spesial musik ini. Well, Indonesia mungkin memiliki banyak sekali penyanyi perempuan yang cover worthy, namun menentukan yang bisa selaras dengan DNA majalah ini tentu bukan perkara mudah. Dari beberapa pilihan yang semakin mengerucut, akhirnya kami sepakat jika Andienie Aisyah Haryadi adalah sosok paling tepat untuk menjadi cover music issue tahun ini. Lewat album debut bertajuk Bisikan Hati di tahun 2000, Andien yang waktu itu masih berusia 15 tahun seketika melesat menjadi penyanyi pendatang baru terbaik dan yang lebih menakjubkan lagi adalah fakta jika ia muncul dengan image yang mature dan membawakan musik jazz, genre yang masih jarang ditempuh oleh penyanyi sebayanya ketika itu.

Always stay true to her music, empat belas tahun berikut dalam kariernya diwarnai oleh so many ups and downs. Nama Andien pun terbilang cukup adem ayem saja di ranah musik Indonesia, dalam arti ia tidak pernah benar-benar meledak gila-gilaan secara popularitas atau albumnya laris jutaan kopi, namun ketika banyak penyanyi perempuan yang bisa tiba-tiba melejit namun kemudian hilang begitu saja, Andien dengan stabil terus menghasilkan album-album berkualitas dan tetap bertahan di industri entertainment yang keras. Dalam setiap album yang ia rilis, gadis kelahiran Jakarta 25 Agustus 1985 silam ini menjelma sebagai pribadi yang senantiasa berkembang. Tak hanya soal menyanyi, Andien kini juga dikenal karena gaya hidup sehat serta statusnya sebagai salah satu style icon.
Setelah mencocokkan jadwal dengan Andien, di suatu pagi pertengahan April lalu, kami pun bertemu di studio foto daerah Kemang untuk interview dan photo shoot. Ini adalah interview kedua saya bersama Andien setelah di NYLON edisi Desember 2011 saya juga sempat mewawancarainya. Sama seperti perjumpaan pertama kami, setelah ice breaking sejenak dan bertukar kabar, saya mewawancarainya di depan meja rias ketika ia bersiap dirias dan ditata rambutnya. Bila di interview kami dua tahun lalu, Andien dengan cekatan mendandani wajahnya sendiri sebelum perform di sebuah jazz club, kali ini ia memilih duduk manis untuk dirias oleh penata rias dari tim Jed Root Filipina dan penata rambut andalannya. Sebelum menjawab pertanyaan pertama saya mengenai kesibukannya saat ini, ia meminta pendapat apakah rambut bob pendeknya akan terlihat bagus jika ditata wet look dengan gaya ikal ke belakang. We all agree, it will look good on her. Salah satu fakta yang menurut saya unik dari Andien adalah ia terbiasa bertanggung jawab penuh pada image dirinya sendiri sebagai public figure. Ia tak pernah punya personal stylist dan terbiasa memakai makeup sendiri sebelum perform. “Gue nggak pernah belajar yang serius, kaya makeup school gitu, karena mungkin dari dulu gue terbiasa ngeliat caranya karena sering di-makeup orang-orang, menurut gue naluriah ya perempuan pasti ada sisi seninya untuk mendandani diri sendiri, jadi gue tinggal kaya berkreasi aja,” ujarnya sambil tersenyum.

Andien3
Sembari membiarkan wajahnya mulai dirias, Andien lantas bercerita tentang kesibukannya saat ini yang masih dipenuhi undangan nyanyi dan menyiapkan album baru, kabar yang cukup mengejutkan, mengingat baru tahun lalu ia merilis album kelima dengan judul #Andien. “Iya nih gue ngejar target soalnya sebentar lagi udah umur 30, kayanya pengen bikin album ini album itu. Sebenarnya bukan momok juga sih umur 30 tahun, cuma kayanya, once udah di usia itu, kemudian planning-nya kan banyak tuh, kaya harus nikah, harus segala macem, pastinya ada sesuatu yang akan berubah dari gue, pastinya akan lebih dewasa, punya image yang lebih mature,” jelasnya. Ia menargetkan album keenam itu untuk selesai akhir tahun ini dan dengan senang hati membocorkan beberapa hal tentang album ini. “Ada 10 lagu, tadi rencananya lagu cover semua dari lagu-lagu Indonesia era 90’s karena konsepnya tadinya Andien Sings Indonesian 90’s. Kita udah nyusun list tapi belakangan kaya Mbak Melly (Goeslaw) bikinin lagu baru bagus banget dan gue pikir sayang aja kalau nggak dimasukkin. Jadi, mungkin bakal ada dua atau tiga lagu baru, sisanya lagu cover.”

Menyanyikan ulang sebuah lagu dengan sentuhan sendiri tentu bukan hal baru bagi Andien. Di akun Soundcloud miliknya pun, kamu bisa mendengar rekaman live saat dia membawakan lagu-lagu dari Janet Jackson, Foster the People, hingga Daft Punk. Tapi yang terasa spesial di album baru ini adalah ia akan menyanyikan lagu-lagu dalam negeri favoritnya. Apa saja? “Gue suka banget lagunya Iwa K, ‘Selama mentari bersinar, hari-hari sepi tanpa dirimu,’” nyanyinya spontan dengan agak nge-rap sebelum melanjutkan, “Haha itu satu. Terus semua lagunya Slank, khususnya lagu ‘Terbunuh Sepi’ yang gue cinta banget lagu itu, lagunya Naif yang ‘Mobil Balap’, terus lagunya Dewa. Sebenarnya gue suka banget lagunya Ahmad Band yang ‘Sudah’ tapi ternyata nggak boleh di-cover karena Mas Dhani udah cover lagu itu untuk dibawain lagi. Itu keren banget, terus lagunya Oppie Andaresta ‘Ingat-Ingat Pesan Mama’, Rida Sita Dewi, ‘Kiranya’ Protonema, Sheila on 7, aduh banyak banget deh!” ungkapnya antusias.
Sama seperti dua album terakhir, album terbaru ini juga akan diproduseri oleh bandnya sendiri yang dipimpin oleh Nikita Dompas. “Dua album terakhir sangat berkesan buat gue karena jarang banget ada penyanyi yang albumnya diproduseri oleh anak-anak bandnya sendiri. Waktu pertama kali gue bawa band sendiri, itu belum ada penyanyi perempuan di sini yang punya band sendiri, yang bawa band sendiri biasanya penyanyi cowok kaya Glenn atau Rio Febrian. Jadi gue berusaha banget ngedepankan band gue dan musik gue karena kalau tanpa band gue, musik gue nggak bakal tergambarkan di panggung dan orang nggak bakal liat message gue,” imbuhnya.

Sehari sebelumnya ia baru pulang dari Kuching, Malaysia untuk undangan menyanyi. Bukan kabar baru sebetulnya bila kamu termasuk dari 156 ribu follower di Instagramnya di mana ia sempat posting beberapa foto dirinya yang sedang berjalan-jalan di kota itu. “Iya, gue selalu menyempatkan diri untuk sightseeing gitu, nggak usah di luar negeri, di luar kota juga sama sih sebenarnya kecuali kalau yang udah sering didatengin, gue selalu ngeliat kayanya itu kesempatan untuk eksplor. Kalau kaya Kuching kemarin gue seneng banget, karena gue pikir tadinya daerahnya kaya terbelakang gitu, terus gue ngobrol sama orang di pesawat yang bilang kalau Kuching itu developing city banget, mungkin kalau di Indonesia kaya Bandung. Terus pas landing, emang bagus banget dan lucu gitu kotanya, nggak ada gedung tinggi, semua vintage buliding yang dijaga sama pemerintahnya, jadi semua restoran atau hotel dari vintage building gitu, ada gaya Cina, Melayu, Timur Tengah. Dan ternyata orang-orang di sana juga nggak Melayu konservatif, orang-orangnya pake bajunya Supreme atau apa gitu, terus gue nanya, mereka kalau belanja di mana? Mereka jawab online shop, hmm… okay… haha,” ceritanya sambil tertawa.
Setelah menyesap air mineral, Andien pun melanjutkan ceritanya dengan nada excited khasnya. “Nggak semua orang punya pekerjaan yang bisa menggabungkan sisi pekerjaannya dengan pleasure, leisure, dan hobinya. Gue punya kesempatan itu, jadi gue pasti selalu gue manfaatin untuk eksplor tempat yang wajib dilihat,” ceritanya sambil tersenyum. Ucapannya tersebut mengingatkan saya saat tahun lalu ia diundang menghadiri New York Fashion Week setelah sebelumnya meraih gelar sebagai The Most Stylish Celebrity of the Year dari Fashion Nation. Tak hanya menghadiri beberapa fashion show, Andien juga membuat video untuk single “Teristimewa” yang memperlihatkan dirinya strolling around the Big Apple dalam balutan batik rancangan Edward Hutabarat yang sangat chic.

Andien4
Gelar the most stylish celebrity sendiri jatuh padanya bukan tanpa alasan. Di social media, Andien kerap mengunggah foto gaya pakaiannya yang memang keren. Di atas panggung, Andien terlihat glamor dengan headpiece dan gaya Roaring Twenties, sementara sehari-hari ia terlihat stylish dengan memadukan label luar negeri dan label lokal yang kebanyakan adalah rancangan teman-teman Andien sendiri. “Dari SMP kali ya?” jawabnya ketika ditanya kapan ia mulai tertarik fashion. “Dulu gue punya butik namanya Debut Pret a Porter, waktu itu gue udah agak melek sama fashion, tapi dulu gue lebih sering dibilang aneh sih daripada keren, soalnya gue sangat look up ke majalah-majalah Jepang kaya Nonno gitu. Jadi misal gue bisa pake eyeliner putih atau ijo, tapi makin ke sini makin terekspos mungkin karena social media aja. Dulu-dulu gue nggak berkesempatan foto baju-bajunya. Justru sekarang gue jauh lebih mainstream dibanding dulu, karena dulu apalagi waktu kuliah gue sangat menikmati pake baju ini baju itu, bisa ngarang sebebas-bebasnya,” ungkapnya.
Meskipun sering dibilang stylish, Andien mengaku soal personal style sebenarnya ia sangat cuek dan memakai yang menurutnya nyaman saja. Hari itu ia datang dengan memakai tank top hitam, jeans, dan sneakers yang terlihat effortlessly cool di badannya yang tergolong mungil namun terlihat kencang dan sehat. Selain musik dan fashion, topik lain yang akan memancing Andien untuk bercerita panjang lebar dengan antusias adalah soal menjaga kebugaran tubuh. Morning routine seorang Andien dimulai dengan olahraga, minum manukah honey dan makan buah untuk menjaga kekebalan tubuh. Ia mengaku tak pernah diet dan tubuh ramping sehatnya murni hasil banyak olahraga yang ia geluti.

Sebelum melanjutkan cerita, ia minta izin sejenak untuk membalas teks yang masuk di iPhone-nya. Dengan sigap dan penuh konsentrasi ia menekan-nekan touchscreen selama beberapa menit sambil menjelaskan jika ia sedang meminta bantuan untuk mencari kado. Setelah kurang lebih 3 menit berkutat dengan iPhone, ia meletakkan iPhone dan dengan tersenyum menatap saya lagi dan mulai menyebutkan list olahraga yang sedang ia jalani. “Gym, pilates, Muay Thai terus ada freeletics juga, banyak banget olahraga gue. Karena badan kita nggak bisa ngelakuin satu olahraga constantly, misalnya lo suka pilates terus lo pilates dengan gerakan yang sama selama berapa tahun itu nggak mungkin karena badan kita adaptasi sama gerakan. Bisa jadi badan lo keren dalam tiga bulan pertama, tapi di bulan keempat gerakan itu nggak ada pengaruhnya ke badan lo terus lo mikir ‘Kok sama aja ya?’ Justru itu badan lo udah adaptasi, jadi harus coba yang lain lagi,” jelasnya.
Recently gue bikin gym, namanya 20 Fit di Cipete dan gym ini bentuknya micro gym, cuma ada dua alat namanya miha. Miha itu electro muscular stimulation. Gue recently lagi pake itu terus karena keren banget alatnya, mau liat nggak?” tawarnya sebelum memperlihatkan video di iPhone-nya yang memperlihatkan dirinya sedang melakukan gerakan work out dalam balutan body suit hitam dengan beberapa kabel yang tersambung dengan sebuah mesin. It looks hi-tech dan belum pernah saya lihat sebelumnya.

Andien2
Dengan semangat Andien lantas menjelaskan pada saya apa itu miha yang merupakan sebuah teknologi muscle stimulator asal Jerman yang memberi rangsangan elektrik di tubuh kita. “Awalnya gue nyobain miha punya temen gue yang beli di Jerman dan pas gue cobain, gue kaya ‘wow, magic!’ soalnya alat ini cuma boleh dipakai latihan 20 menit, katanya twenty minutes itu equals with two hours, jadi nggak boleh lebih dari 20 menit. Waktu itu gue pikir, ‘ah nggak mungkin,’ gue udah sering olahraga, bisa kali sampai 40 menit, tapi baru lima menit pertama aja itu rasanya kaya Muay Thai 2 jam! Wah oke banget nih. Di Jakarta belum ada yang punya gym-nya. Mengingat ini olahraganya keren banget menurut gue, banyak yang bilang ini shortcut, tapi menurut gue bukan shortcut karena waktunya aja sebentar, tapi pas olahraganya capek banget kaya lo abis nge-gym campur Muay Thai. The good thing is semuanya rata, kalau lo nge-gym misalnya angkat berat pasti entah bagian kiri sama kanan lo ada yang lebih kuat, akhirnya hasil ototnya juga nggak simetris. Tapi kalau di miha ini kan dipakainya rata di badan kita, jadi hasilnya juga bagus banget,” ujarnya tanpa bermaksud promosi.
“Gue pikir gue harus punya usaha lain di luar nyanyi, banyak orang mengharapkan gue bikin fashion line atau apa, cuma menurut gue yang lebih berguna buat orang ya yang ada hubungannya sama olahraga, dulu gue pengen bikin tempat pilates tapi waktu itu masih keribetan mikir space-nya segala macem, tapi karena miha ini cuma butuh space yang lebih kecil dan udah lebih jelas jadi gue buka ini dulu. Alatnya emang bakal cuma dua, karena alat ini nggak bisa dipake sendiri, harus ada trainer-nya dan sesi one on one gitu dan cuma 20 menit. Gue sih udah ngajak banyak orang kaya Raisa atau Luna (Maya) udah cobain. Raisa malah udah jadi member, hehe,” tandasnya.

Melihat Andien dengan gayanya yang segar dan aura yang youthful, rasanya lumayan sulit percaya jika tahun ini Andien akan menginjak usia 29 tahun. Masih jelas dalam ingatan ketika Andien pertama kali muncul di layar kaca lewat video klip “My Funny Valentine” di mana ia mengenakan lipstick dan tube dress yang terlihat sangat matang untuk anak umur 15 tahun. Berbeda dari sindrom artis cilik yang kesulitan mengubah image saat mereka beranjak dewasa, Andien justru makin ke sini makin terlihat muda. “Karena makin ke sini makin tua, jadi gue harus terlihat makin muda, haha!” cetusnya santai. Bukan hal mudah untuk bertahan selama lebih dari satu dekade dalam industri hiburan yang terobsesi pada sesuatu yang baru. Dari sekian banyak promising talents yang muncul di dekade lalu, Andien menjadi salah satu dari segelintir yang masih bertahan. Ia jelas merasa sangat bersyukur akan hal tersebut, walaupun dengan rendah hati ia mengaku hanya menjalani semampunya saja.
“Nggak tau, sumpah gue nggak punya rumusnya, gue nggak punya formulanya, gue udah ngalamin titik paling nol di karier gue, sampai yang kayanya gue udah di tengah jalan tapi gue jatuh sejatuh-jatuhnya, dimusuhin semua orang, dimusuhin semua band player sampai akhirnya gue bangkit lagi. Itu hari-hari yang berat, tapi sampai bisa bangkit lagi kalau bukan karena Tuhan, itu nonsense menurut gue. Aduh gue nggak ngerti sih, tapi sampai detik ini beberapa tahun terakhir, apa ya gue ngeliat kerja tim gue bener-bener maksimal, dari manajer, tim manajemen, dan akhirnya gue pun masih bisa bertahan sampai sekarang. Bayangin aja, gila lo, dulu gue dipasangin nyanyinya sama Syaharani terus sampai sekarang sama yang seangkatan Raisa, buat gue sendiri gue udah kaya Highlander banget nggak sih? Haha,” ujarnya.

Titik terendah dalam kariernya merujuk pada sebuah kasus yang cukup heboh di infotainment sekitar tahun 2008 lalu. “Gue dulu pernah pacaran sama, seorang cowok yang akhirnya jadi manajer gue, kalau lo pernah denger kasusnya yang semua uang gue diambil dan gue dimusuhi sama semua event organizer, gue dimusuhin semua player dan tim manajemen gue keluar semua nggak ada satu pun, itu gue untuk bangkitnya lagi dengan duit yang nol dari yang gue kumpulin dari awal gue nyanyi sampai detik itu, gue nggak minta bantuan nyokap bokap sama sekali. Gue nelponin EO satu-satu minta maaf ngejelasin kalau itu kerjaannya mantan gue. Itu worst banget rasanya tau nggak? Gue udah pernah nyanyi di acara-acara bergengsi tapi tiba-tiba gue harus mau ikutan acara-acara kaya reality show, kaya… gue inget banget waktu itu sebenernya gue nangis banget dalam hati cuma kalau gue nggak ngambil hati orang TV gue bakal susah lagi untuk ngebangun link sama mereka,” ungkapnya serius. Kejadian itu mungkin sudah berapa tahun berlalu, namun masih ada kegetiran yang terasa saat ia melanjutkan ceritanya dengan pelan. “Jadi kaya ada reality show di mana gue harus pura-pura jadi pengamen di metro mini, syutingnya di Pulo Gadung jam setengah 6 sore yang lagi rame-ramenya. Karena itu reality show, kameranya candid disembunyiin di tas jadi gue kaya bener-bener sendirian jadi pengamen pake celana pendek di metro mini. Itu gue nangisnya gila-gilaan sebenernya, karena gue inget di titik itu setahun sebelumnya gue masih nyanyi di acara Tiga Diva, nggak nyangka aja setahun kemudian bisa kaya gitu keadaannya,” imbuhnya.

Jelas tidak semudah membalik telapak tangan untuk mengembalikan reputasi yang sudah tercoreng, namun dengan kegigihan dan passion yang ia punya, Andien bisa struggling dan bangkit membangun kariernya kembali. “Itu berjalan sangat natural buat gue, gue akuin sih gue nggak pernah ‘jeder!’ kaya Agnes Monica segala macem, tapi emang penggemar gue mungkin setia ada di situ. Nggak ada banyak juga yang tau cerita gue, kaya cerita yang tadi nih, itu gue baru cerita ke elo aja, gue belom pernah cerita ke media mana pun sebenernya. Gue bersyukur karena orang-orang ngeliat usaha gue, gue minta maaf ke band player yang udah nge-blacklist gue, kan dikira gue semua yang bawa kabur uang, gue menjalin hubungan baik sama orang, manajer gue balik lagi, terus semua orang bisa berbaik hati lagi… They put their trust on me, itu yang harus gue keep sampai sekarang.”
Toxic relationship di masa lalu untungnya tak membuatnya patah semangat dalam menjalin hubungan khusus dengan pria. Senyum sumringah terpancar di wajahnya ketika berbicara soal relationship yang sudah dijalaninya selama satu setengah tahun terakhir dengan low profile.“Iya karena dulu gue kebiasaan ekspos di media nggak taunya putus, karena nggak ada enak-enaknya sebenernya terekspos di media, too much pressure. Sekarang gue juga udah di titik yang nggak menggebu-gebu, gue pengen nikah udah dari umur 24 tahun, tapi dulu kaya suka nanti kita nikah kaya gini ya, kaya gitu… Terus putus. Cuma sekarang gue udah dalam relationship di mana gue sayang sama dia, dia sayang sama gue, dia juga umurnya udah 38 tahun sekarang. Jadi kayanya gue nggak harus mikirin, dia yang harus mikirin karena udah mau 40 tahun, haha! Jadi gue udah lebih santai aja.”

Menikah mungkin bukan menjadi top priority Andien tahun ini, karena selain album keenam dan gym, Andien masih memiliki banyak project yang akan ia lakukan. Salah satunya adalah launching toko baru dari curated lifestyle shop bernama Cave and Cove di Bali yang ia gagas bersama temannya. Yang jelas, Andien sedang menikmati hari-hari yang ia jalani sekarang. “Filosofi hidup… Just enjoy your life, kalau gue sebenernya sekarang berusaha mempersembahkan apa yang terbaik yang bisa gue lakukan buat gue, buat orang-orang sekitar gue, buat hidup gue pokoknya. Jadi lo nggak perlu mikir panjang mikirin result-nya bakal seperti apa hari ini, besok, dua minggu lagi, empat minggu lagi, pokoknya lo lakukan yang terbaik untuk segala hal yang lo lakuin karena dulu gue kebiasaan banget, ‘Ndien gini’, terus gue kaya ‘nanti gue dapet apa? Gimana? Atau bisa ini gak gue?’ gue selalu ngeliat kedepannya. Tapi sekarang untuk urusan apapun gue kaya berusaha maksimal dulu aja. Dan itu bukan hal yang gampang, tapi kalau bukan karena pengalaman, agak susah ngelakuin hal itu, itu berlaku buat apapun ya buat karier, pacaran, keluarga, atau gym, diet, jadi kaya gitu-gitu, jadi banyak banget orang yang kaya ‘ya udah deh gue mau diet tapi dua minggu lagi gue bisa gini nggak ya?’ jadi lo nggak perlu nimbang badan setiap hari, kalau lo melakukan yang terbaik yang bisa lo lakuin dulu aja,” simpulnya dengan senyuman hangat.

Andien1Fotografi oleh: Mark Nicdao of At East Jed Root.

Stylist: Patricia Annash.

Makeup Artist: Xeng Zulueta of At East Jed Root.

Hairstylist: Cats Del Rosario of At East Jed Root

As published in NYLON Indonesia May 2014

She’s All That! An Interview With Chelsea Elizabeth Islan

IMG_2406

Cantik, cerdas, dan classy, NYLON menemukan sosok seorang “It Girl” Indonesia selanjutnya dalam diri Chelsea Elizabeth Islan. Get ready for some serious girl crush! 

NYLON bulan November 2013 lalu mengangkat tema “It Girl”, satu istilah yang sering terdengar namun tak pernah benar-benar bisa didefinisikan. “The ‘It Girl’ is the girl that EVERYONE wants to be. She has everything that you want so you tend to envy her. She does all the things that you can’t do so you grow to hate her.” Demikian salah satu pengertian “It Girl” yang terdapat di Urban Dictionary. Ketika saya coba mengaplikasikan definisi tersebut pada aktris pendatang baru Chelsea Elizabeth Islan, tampaknya saya kurang setuju pada poin terakhir. Well, melihat sosoknya yang effortlessly pretty, it’s easy for anyone to envy her for sure. Namun saat berbincang langsung dengannya, you can’t help but notice kalau dia ternyata tak hanya menarik secara fisik saja. Di balik wajah cantiknya, terdapat personality yang santai namun berprinsip kuat. It’s almost impossible to hate her, and you’ll know why.

            Chelsea, demikian gadis kelahiran New York 18 tahun yang lalu ini biasa dipanggil, datang ke studio pemotretan sendirian tanpa ditemani manajer. Ia mengaku belum punya manajer dan masih mengatur semua jadwalnya sendiri. Tanpa canggung, ia menyapa semua orang dengan manis dan segera bersiap untuk di-makeup. Dengan makeup minimalis dan wardrobe yang didominasi oleh lace pieces membuatnya terlihat angelic, Tanpa bersusah payah, ia mengikuti arahan fotografer dan setiap gestur kecil dari dirinya yang terkadang candid justru menjadi momen-momen yang menarik untuk difoto. It all seems natural. Tak heran jika ia mengawali karier dengan terpilih sebagai juara utama sebuah pemilihan cover girl majalah remaja, sebelum pada bulan Juni lalu membintangi debut layar lebarnya di film Refrain garapan Fajar Nugros yang juga dbintangi oleh Maudy Ayunda dan Afgansyah Reza.

            Akting sendiri bukan hal yang asing baginya. Dimulai dari peran sebagai salah satu bunga di drama Wizard of Oz di sekolahnya saat masih SD, teater menjadi salah satu passion-nya sampai saat ini di samping fotografi, fashion, dan art. Tak puas hanya di depan kamera, Chelsea pun gemar menulis cerita dan mewujudkannya dalam bentuk film pendek yang ia buat sendiri. “Film itu adalah media di mana aku bisa mengekspresikan pikiran aku dan mengembangkan kaya pikiran orang lain biar terinspirasi juga. Di film pendek pertama aku, judulnya The Junk Society tentang anak muda yang mencintai seni. Aku bilang seni di Indonesia belum banyak yang menghargai dan belum banyak yang memikirkan kalau seni itu useful. Banyak yang bilang ‘ih kok suka seni sih? Mau jadi apa?’ Pertanyaan-pertanyaan itu yang mau aku coba jawab di film aku itu,” ungkapnya.

            Bila di Refrain, ia berperan sebagai Annalise, seorang sweetheart yang tak jauh beda dari dirinya sehari-hari, maka bersiaplah melihat sisi lain Chelsea dalam peran terbarunya sebagai Karina di film action karya Awi Suryadi berjudul Street Society yang akan dirilis awal tahun depan. “Karina ini orangnya tricky banget, dominan, powerful, aduh… pokoknya dia temperamen banget dan agak psychotic. Jadi beda banget sama Annalise. Aku suka dari dua peran ini aku bisa jadi yang biasa dan yang tidak biasa. Karena menurut aku akting kan harus bisa semuanya. Lewat akting aku juga belajar facial expression sama tubuh juga harus gimana. Jadi akting bukan sekadar be someone else, tapi harus menghayati and be the character,” tandasnya.

Chelsea3

            Untuk pemotretan look terakhir, ia meminta berpose bersama salah satu kucing peliharaan di studio. Dengan sigap ia menggendong kucing Persia tersebut dengan gemas. Saya mengira jika ia adalah seorang cat person, namun saat dikonfirmasi, dengan tegas ia mengaku lebih menyukai anjing daripada kucing. “Aku lebih suka anjing karena bisa jagain kita dan setia. Kalau kucing keliatan lemes, males,” ujarnya. Sekali lagi, ia mematahkan persepsi awal saya. Penampilannya memang girly, tapi ternyata Chelsea besar sebagai anak yang cukup tomboy. Dari kecil ia ikut taekwondo, bermain go-kart dan motor ATV, bahkan pernah menjadi best soccer player di sekolahnya. Sekarang, ia memilih berenang dan diving sebagai olahraganya. “Kalau diving belum terlalu sering sih. Aku terakhir diving ke Tulamben di Bali, ke Liberty shipwreck, jadi di sana sekitar 12 meter di bawah laut itu ada shipwreck. Agak angker tapi it’s a good experience,” ceritanya dengan semangat. Ia lantas mengungkapkan keinginannya pergi ke Pulau Komodo dan menyebut Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai sutradara yang dikagumi. “Mau banget kerja sama mereka. karena mereka bener-bener down to earth dan kalau kita lihat kerjaan mereka, there is always something to do with Indonesia. Mereka keliatan cinta banget sama Indonesia dan caring about society,” jelasnya.

            Terlepas dari peran debutnya di film drama romantis, Chelsea mengaku dirinya bukan penggemar cerita cinta. “It’s not my cup of tea. Bukannya aku tidak menghargai cinta, tapi terkadang semua terlalu sentimental,” cetusnya. Tak heran bila kamu tak akan menemui film cheesy romance dalam film favoritnya. Ia lebih tertarik pada film berbau sejarah seperti Gie misalnya yang diperankan Nicholas Saputra yang menjadi aktor favoritnya. “Dari semua filmnya, dia punya prinsip. Yang bikin aku suka sama orang itu dia punya prinsip atau tidak. Dia mau memerankan karakter yang benar-benar mendidik dan ada moralnya. Like Twilight, what are you gonna get from that? Bukannya mau sok pinter atau apa, tapi lebih baik kita nonton film yang memberikan ilmu kan?”

            Chelsea sering sekali disebut mirip Mariana Renata, dan itu juga yang saya pikirkan. Namun saat interview, saya menangkap dari angle tertentu ia justru terlihat seperti Dian Sastro, dan kesan itu bertambah kuat saat ia mengungkapkan pemikiran yang sama kritis dan idealisnya dengan Dian. Entah coincidence atau bukan, Chelsea sendiri berencana melanjutkan kuliah di almamater Dian, yaitu Universitas Indonesia, tepatnya jurusan Sosiologi. Penggemar buku-buku Paulo Coelho ini punya alasan kuat untuk pilihan tersebut. “Menurut aku sosiologi itu akar dari segalanya, karena kita mempelajari manusia, mempelajari masyarakat, tata kota, semuanya. Salah satu cita-cita aku selain jadi film director dan fashion editor, aku juga pingin jadi menteri pemberdayaan wanita gitu,” ujarnya dengan serius, sebelum melanjutkan, “aku memang agak feminis. Bukannya sexist atau apa tapi memang aku ingin wanita bisa maju. Di sini wanita menurut aku belum ada freedom of expression, aku nggak mau ngomongin agama atau apa. Tapi wanita itu belum equal. Dari situ aku pingin memajukan wanita Indonesia. Deep inside, I want to change Indonesia, nggak tau gimana makanya menurut aku kalau belajar sosiologi itu udah bisa relate ke semua aspek kehidupan,” imbuhnya.

            Social awareness tersebut menurutnya sudah dipupuk sejak ia masih kecil. Dan jangan kira ia hanya berwacana tanpa berbuat hal yang nyata. Sekarang pun, di samping semua aktivitasnya di dunia showbiz, ia berperan aktif menjadi ambassador generasi muda di gerakan LovePink untuk isu breast cancer di Indonesia. ”You have to be the change that you want to see in this world. And you have to make the difference and believe nothing it’s impossible,” tutupnya sambil tersenyum. Biasanya ungkapan a la buku Chicken Soup tersebut hanya terdengar seperti jargon kosong. Namun entah kenapa, saya percaya gadis cantik ini bisa mewujudkannya.

IMG_2837

Styling by Patricia Annash

Photos by Andre Wiredja

Makeup by Marina Tasha