A Perfect Harmony, An Interview With Talita Setyadi

Sempat mengenyam dan menekuni musik jazz semasa berkuliah di New Zealand, Talita Setyadi menemukan medium lain untuk mengekspresikan dirinya dengan cara menjadi seorang pastry chef dan entrepreneur. Memadukan kreativitas artistik dengan komitmen dan idealisme menjalankan bisnis, wanita kelahiran Jakarta 23 Januari 1989 ini sukses mendirikan BEAU by Talita Setyadi, sebuah artisan bakery dengan French Pastry sebagai fokus utama yang kian mengakrabkan kosakata “boulangerie” dan “pâtisserie” dalam leksikon kehidupan urban saat ini. 

Webp.net-resizeimage

Dengan latar belakang pendidikan musik, apa yang mendorong Anda untuk beralih ke dunia kuliner dan memilih pastry?

Saya belajar musik di universitas dengan niat menjadi musisi jazz professional. Saya dulu senang bikin kue untuk dibagi ke teman-teman band saat latihan dan rasanya menyenangkan melihat orang tersenyum menikmati kue yang saya buat. Saya pun menyadari, dibanding musik jazz yang butuh level of exposure dan appreciation untuk bisa dinikmati, kue yang lezat jauh lebih bisa dinikmati oleh semua orang. Saya akhirnya beralih ke pastry karena saya percaya saya bisa merengkuh dan memengaruhi lebih banyak orang lewat makanan. Saat kembali ke Indonesia di tahun 2013 setelah selesai sekolah kuliner di Paris, saya melihat tidak banyak inovasi, excitement, dan kebanggaan di ranah ini. Saya jadi tertantang membawa sudut pandang kreatif dan ekspresif ke industri ini dan menunjukkan ke orang, kalau sama seperti musik, pastry juga sebuah bentuk dari seni dan ekspresi diri. Saya memilih pastry dibanding seni kuliner lainnya karena saya merasa bisa lebih berekspresi secara artistik lewat pastry. Sekarang, bisa dibilang seni pastry telah menggantikan double bass sebagai instrumen saya untuk berkomunikasi dan berekspresi.

Apa hubungan antara musik dan kuliner bagi Anda pribadi?

Ada ungkapan dari Charlie Parker (musisi jazz legendaris Amerika) yang berbunyi: “Learn the changes and forget them,” yang maknanya adalah pelajari lah musik dengan baik dari segi teknis, tangga nada, dan instrumenmu. Lalu lupakan itu semua dan berkarya lah dengan bebas. Itu adalah inti dari jazz. Saat saya belajar di Le Cordon Bleu, saya tahu saya harus belajar semua basics dengan baik dan saya perlu belajar konsep di luar sekadar membuat kue. Setelah lulus, saya memutuskan untuk membuat kreasi sendiri dengan inspirasi dan ilmu yang saya dapat dari sekolah kuliner tapi tentu dengan selera dan kreativitas saya sendiri. Saya merasa baik musisi maupun chef berbakat punya banyak kesamaan dalam soal idealisme dan keinginan untuk self-improvement. Keduanya harus dilakukan dengan sepenuh hati dan butuh kreativitas serta kecerdikan untuk menemukan pendekatan yang baru. Bagi saya, keduanya merupakan refleksi dari kehidupan kita, kepribadian, selera, dan budaya. Bila kamu bisa mengenal lebih dalam tentang dirimu sendiri, latar belakangmu, dan juga selera, kamu akan mampu menghasilkan sesuatu yang tulus dan dekat dengan hatimu.

Selama sekolah kuliner di Le Cordon Bleu Paris, apa hal utama yang paling Anda tangkap dan terapkan untuk bisnis saat ini?

“C’est pas des vacances!” adalah kalimat yang dilontarkan para chef setiap ada murid yang mengeluhkan lamanya dan tekanan di sekolah. Kami mulai di jam 8.30 pagi dan ada beberapa hari di mana kami belum pulang hingga 9.30 malam. Di musim dingin, adalah hal yang lumrah bila kamu bahkan tidak sempat melihat matahari! Tapi selama 9 bulan yang dilewati untuk mendapat gelar Grand Diploma, kami dituntun mengenal semua dasar dari French cuisine dan patisserie dengan mendalam hingga saat ini saya bisa mampi ke bistro atau pastry shop apa saja dan tahu bagaimana setiap menu disiapkan. Secara umum, belajar di sana adalah pengalaman yang membuka mata dan saya kenang dengan baik. 

Apa yang saya tangkap dari mempelajari French pastry adalah komitmen mereka dalam memakai bahan yang alami dan segar. Kalau di Indonesia adalah hal yang lumrah untuk memakai perasa dan pewarna makanan dibanding memakai bahan alami. Jadi di BEAU, kalau kami membuat kue pandan misalnya, kami akan mengekstrak pandan kami sendiri memakai juice extractor dibanding membeli sari pandan yang mengandung perasa dan pewarna makanan. Untuk menciptakan warna dalam produk kami, saya selalu memakai fruit puree asli. Kami juga telah mengeksplor cara mendehidrasi puree buah dan sayur untuk dijadikan bubuk yang kami pakai untuk memberi rasa dan mendekorasi kue kami.

BEAU3

Apa prinsip utama yang Anda usung dalam menjalankan bisnis ini?

Di BEAU, tagline kami adalah “Taste, Texture, Form”. “Taste” merujuk pada bahan-bahan yang kami pakai, karena kita tentu tidak bisa membuat makanan lezat tanpa produk yang berkualitas. Hal itu juga berarti sensibilitas dalam mengolah bahan tersebut dengan cara yang tepat untuk menciptakan keseimbangan rasa yang menarik. “Texture” berhubungan dengan teknik karena hanya dengan educated approach kita bisa mendapatkan komposisi tekstur yang benar. Sementara “Form” merujuk pada sisi “seni” dan pendekatan kreatif. Bagaimana setiap elemen tersebut dipresentasikan dari mulai bahan berkualitas sampai semua ide dan konsep yang akhirnya menjadi kesatuan produk yang kohesif.

Bisnis bakery sendiri bisa dibilang sangat berkembang di Indonesia saat ini, we got so many options for bakery, entah itu dari lokal maupun franchise internasional, apa signature dari BEAU yang membedakannya dari yang lain dan bagaimana Anda menyikapi persaingan pasar?

Saya percaya kalau bisnis tidak selau harus menjadi zero-sum game. Saya membangun BEAU untuk mengeksplor proses kreatif tak hanya di produk pastry tapi juga dalam menjalankan perusahaan dan membangun brand yang sustainable. Dari awal, saya ingin BEAU punya pendekatan “product-centric” di mana fokus utama adalah produk itu sendiri dan membiarkan produk yang berbicara. Itu artinya kami menaruh perhatian besar dalam proses produksinya dan stay authentic pada integritas setiap produk yang kami hasilkan. Untuk tetap authentic, kami menghindari “jalan pintas” seperti dough improvers, pengawet, atau pewarna buatan bagi produk kami. Saya sengaja meletakkan nama saya di brand ini untuk menyampaikan jika usaha ini dan produk yang ditawarkan memang unik dan representasi sesungguhnya dari points of view saya pribadi. Saya ingin punya usaha yang bisa membuat saya bangga menempelkan nama saya sebagai personal guarantee dan signature.

Apakah Anda memang berasal dari keluarga entrepreneur? Kalau iya, apa saran terbaik yang pernah Anda dapat dari keluarga tentang entrepreneurship?

Ya, saya datang dari keluarga entrepreneur. Mendiang nenek saya pemilik bakery Lestari di Jalan Bumijo, Yogyakarta. Ayah saya juga seorang pengusaha di beberapa bidang. Beliau adalah inspirasi terbesar dan mentor saya. Saat ayah melihat saya tegang dan stressed out sebelum pembukaan gerai pertama, ia bilang ke saya, “Pekerjaan kalau dikerjakan terus tidak akan ada selesainya.” Maksudnya adalah the more you work, the more the tasks will just keep coming, sampai akhirnya kita stuck di lingkaran setan. Dia berpesan jika kita tak seharusnya merasa bersalah untuk bilang “cukup” dan istirahat sejenak, untuk bernapas dan melihat the bigger picture. Sebagai pemilik usaha, tekanannya bisa sangat demanding, salah satu hal yang terpenting adalah menyediakan waktu untuk keluarga, hobi, dan kesehatan diri. Ketika kita memiliki waktu untuk diri sendiri dan melakukan apa yang kita suka, kita justru bisa lebih stay authentic and true in your work; yang hasilnya bisa mengantar kita ke produktivitas dalam jangka panjang.

BEAU2

Jadi, apa yang Anda lakukan di waktu luang untuk recharge yourself?

Di waktu senggang, saya akan menyempatkan diri untuk bermeditasi, yoga, dan Muay Thai. Saya juga bermain electric bass untuk sebuah band punk yang saya bentuk bersama beberapa teman! Sekadar membaca buku atau pergi makan ke luar pun saya suka. I also like to travel any chance I get!

 

Sebagai pecinta musik, saya menebak musik juga menjadi bagian penting bagi Anda untuk membangun mood. Apa yang menjadi pertimbangan dalam playlist untuk BEAU?

Untuk BEAU, saya mengkurasi playlist campuran musik elektronik baik yang instrumental maupun yang berlirik. Musik yang saya pilih adalah yang terdengar “ringan” untuk merefleksikan ambience gerai kami. Saat ini playlist-nya terdiri dari musik-musik SebWildblood, Maggie Rogers, FKJ, Tom Misch, Haux, SOHN, dan mantan teman satu band saya di New Zealand, Chelsea Jade. Musik yang diputar melengkapi pengalaman penuh menikmati makanan, interior, dan service sebagai satu kesatuan yang menyenangkan.

Apa yang menjadi harapan dan target Anda selanjutnya baik untuk BEAU maupun industri bakery di Indonesia secara umum?

Saya ingin meningkatkan standar dari baked goods di Indonesia. Tujuan saya adalah mengembangkan industri ini and to lead by example. Banyak perusahaan di sini yang hanya fokus membuat produk mass-market yang murah, masih jarang yang menghargai konsumen dan mengedukasi mereka untuk bisa membedakan produk yang berkualitas dan yang tidak. Saya merasa hal itu sebagai status quo karena masih belum banyak culinary professional yang mengedepankan kualitas dan teknik yang proper. Karena itu, salah satu target saya juga adalah membangun sebuah industry-accredited culinary school di Jakarta yang bisa menjadi pilihan higher education untuk anak sekolah. Saya ingin mengedukasi market agar bisa menilai dan memilih produk konsumsi yang tepat untuk kesehatan mereka sendiri.

 

Terakhir, ada saran yang bisa Anda bagikan untuk para aspiring chef di luar sana?

Terus latihah, terus berkreasi, dan perhatikan apa yang bisa kamu improve setiap saat. Jangan mencemaskan untuk jadi sempurna, belajar dari kesalahan, dan cari tahu kegunaan dari setiap langkah dan bahan. Itu adalah cara yang bagus untuk memodifikasi resep sesuai cita rasa yang ingin kamu cari. Tidak ada yang namanya “kesalahan” dalam proses belajar, just keep going, keep learning and improving. Love and appreciate yourself for your efforts and give yourselves a break sometimes!

BEAU1

Foto Profile: Willie William

 

Advertisements

A Matter of Taste, An Interview With Rinrin Marinka

Apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang celebrity chef? Tak hanya kepiawaian mengolah sajian yang menarik secara rasa dan visual belaka, namun juga natural charm dan kepribadian yang membuat orang tak bisa melepaskan pandangan. Beruntung, Rinrin Marinka punya semua itu.

Fotografi: Ifan Hartanto. Creative Director: Anindya Devy. Stylist: Priscilla Nauli. Makeup Artist: Ranggi Pratiwi. Hairdo: Eva Pical.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-1

Jika nama Maria Irene Susanto terdengar asing di telinga Anda, tenang saja, itu bukan sepenuhnya salah Anda. Chef, TV host, dan restaurateur kelahiran Jakarta, 22 Maret 1980 ini memang lebih dikenal di publik dengan nama Rinrin Marinka atau Chef Marinka, demikian ia akrab disapa lewat berbagai cooking show yang telah ia bintangi. Mulai tampil di layar kaca sejak 10 tahun lalu, tak bisa dipungkiri jika kiprahnya sebagai salah satu juri di Masterchef Indonesia yang tayang di tahun 2011 menjadi langkah yang mengantar namanya ke masyarakat yang lebih luas. Kehadirannya sebagai satu-satunya juri perempuan dan juga satu-satunya juri yang terus hadir dari season pertama sampai ketiga salah satu program cooking reality show tersohor tersebut tentu bukan sekadar menjadi pemanis saja, walaupun pada kenyataannya ia memang sosok yang menyenangkan untuk dilihat. Selalu terlihat energik dan santai namun mampu bersikap tegas bila diperlukan, nama Chef Marinka berhasil meninggalkan kesan yang mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Pasca Masterchef Indonesia, penampilan chef cantik ini masih bisa kita lihat sebagai presenter, model komersial, bintang tamu talk show, red carpet, dan tentu saja, cooking show, termasuk Back to the Streets: Jakarta dan Wonderful Indonesia Flavours yang keduanya ditayangkan di kanal Asian Food Channel. Dalam kedua acara itu, Chef Marinka bersama co-host yang meliputi chef asal Australia, Tobie Puttock dan Darren Robertson, memperkenalkan cita rasa kuliner khas Indonesia ke ranah yang lebih luas dengan cara mengeksplorasi keragaman budaya dan tradisi kuliner di beberapa destinasi Indonesia, mulai dari Jakarta, Makassar, Tomohon, hingga Lombok, sebelum membawa pulang inspirasi yang didapat dalam setiap perjalanan tersebut kembali ke dapur dalam bentuk resep dan interpretasi yang menggugah selera.

Walaupun kedua acara tersebut telah selesai masa tayangnya, tampaknya kita tak perlu menunggu lama untuk melihat Chef Marinka back on action. Saat ini, ia mengaku tengah mempersiapkan syuting cooking show terbaru yang juga akan ditayangkan di Asian Food Channel. “Bedanya dengan sebelumnya, kali ini aku sendirian. Sebelumnya biasanya kan tampil berdua walau pernah beberapa episode juga sendirian, tapi kali ini definitely aku sendiri. Kali ini aku juga masaknya di dapur saja, tidak keliling lagi. Ada bagusnya juga jadi tidak lelah, soalnya kalau yang kemarin kan sempat syutingnya travelling dua bulan, pulang-pulang sempat sakit juga,” ungkapnya.

            Tiba di lokasi pemotretan dalam balutan t-shirt putih, jeans, dan kacamata hitam, wanita yang tergolong bertubuh petite ini terlihat santai dengan wajah bebas riasan apapun. Sembari membiarkan wajahnya mulai dirias di hadapan cermin, ia pun melanjutkan ceritanya. “Di show ini aku tetap masak masakan Indonesia, tapi lebih berdasarkan pengalaman pribadi. Karena acara ini juga lebih ditujukan untuk penonton luar negeri, jadi basically temanya ingin mengajarkan kalau masakan Indonesia itu bisa dibikin di dapur sendiri memakai bahan-bahan yang harusnya bisa didapat di mana-mana. Contohnya kemarin aku bikin ayam betutu, kan biasanya harus dimasak 8 sampai 13 jam, nah aku bisa masaknya dengan teknik aku sendiri jadi cuma dua jam yang rasanya tetap seautentik mungkin,” tandasnya.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-5

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, Chef Marinka mengaku waktu kecil ia sebetulnya memiliki sifat tomboy. “Aku dulu ingin menjadi James Bond karena kagum saat menontonnya, tapi di saat yang sama aku juga ingin menjadi seorang princess, haha. Jadi suka berkelahi tapi suka masak juga. Pokoknya aku orangnya sangat eksperimental dan suka tantangan,” tuturnya. Minat memasak menurutnya datang dari dirinya sendiri karena di masa kecil ia mengingat ibunya justru cenderung lebih menyukai membuat masakan yang instan. “Tidak apa-apa sebetulnya, karena dia wanita karier, Kan aku anak paling kecil dan lahirnya waktu beliau sudah berumur 40-an, kalau soal karier beliau memang sangat ambisius makanya sampai sekarang pun masih kerja padahal umurnya sudah berapa. Tapi dulu dia suka bikin kue kering untuk hari raya, jadi mungkin itu masakan yang mengingatkan aku soal masa kecil,” kenangnya.

Selepas Sekolah Menengah Atas, ia bertolak ke Sydney, Australia untuk berkuliah di jurusan Art & Design serta Fashion Design di KVB Institute College. “Aku punya banyak passions sebetulnya. Pokoknya yang berhubungan dengan seni, aku pasti suka. Aku senang pergi ke museum, membeli lukisan, I appreciate local artists & local fashion, pokoknya segala macam seni aku suka,” cetusnya tentang bidang ilmu yang sempat ia pelajari. Namun, minatnya terhadap dunia kuliner tampaknya memang tak bisa dibendung. “Aku delapan tahun di Sydney dan di sana sukanya masak buat orang. Kalau buat diri sendiri I’m not fussy, lebih baik beli, haha. Tapi kalau masak untuk orang lain, aku merasa enjoy melakukannya. Awalnya beli buku-buku resep, coba eksperimen, lama-lama aku berpikir ‘You know what? This is something that I really like’.” Mendapat restu dari orangtua, ia pun mendaftarkan diri ke sekolah masak terkenal Le Cordon Bleu untuk mempelajari French cuisine dan pastries dengan serius. Ditanya soal pengalaman paling berkesan selama sekolah kuliner, ia sempat berpikir beberapa saat sebelum menjawab, “Aduh susah ya, selama masa sekolah, waktu yang belajar masak itu yang paling menyenangkan ya. Benar-benar tidak ingin melewatkan satu hari pun, sakit pun tetap ingin masuk kelas. Jadi seperti orang haus ilmu. Kalau dibilang yang paling memorable mungkin tidak ada karena everything is so much fun!

Sempat mencicipi kuliah di bidang fashion dan seni, apakah segi visual menjadi pokok perhatian dalam proses kreasi kulinernya? “Aku merasa kuliner juga bentuk seni, dari segi penampilan dan juga rasa. Dari penampilan aku inginnya minimal rapi, kalau terlalu artsy yang sampai tidak terlihat seperti makanan mungkin orang juga segan ya,” jawabnya dengan tenang. Begitu pula saat menyoal fenomena makanan-makanan unik yang “Instagram-able” dan eye-catching seperti makanan yang bertema rainbow dan unicorn, ia memandangnya sebagai sesuatu yang wajar karena kreativitas memang tidak bisa dibatasi. “Yang penting rasanya harus tetap enak. Kalau buat aku lebih baik penampilannya jelek tapi rasanya enak dibanding cantik tapi ternyata tidak enak. Bagi aku itu lebih penting, karena in the end of the day, you’re going to swallow it,” tegasnya.

Lulus dari Le Cordon Bleu dan sempat magang di beberapa restoran di Sydney sebelum akhirnya pulang ke Tanah Air, Rinrin mengawali karier dengan menjadi freelance cooking instructor sambil terus menantang kemampuan dirinya sendiri dalam berkreasi, khususnya dalam membangun sinergi antara kuliner Timur dan Barat dari segi rasa dan artistik. Sempat memiliki restoran pertamanya di bilangan Fatmawati, ia pun pertama kali muncul di layar kaca lewat program Sendok Garpu di Jak TV di tahun 2007. Awalnya, pengagum chef terkenal Inggris Jamie Oliver ini sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan berkiprah sebagai chef di layar kaca. Walaupun merasa dirinya memang termasuk ceriwis dan gemar berbicara di tengah lingkungan dekatnya, namun untuk berbicara di depan kamera, ia mengaku butuh latihan sebelum terbiasa. “Aku bawel kalau sama teman, tapi kalau di depan kamera memang harus dilatih, sampai sekarang aku juga masih suka grogi atau melakukan kesalahan saat syuting. Begitu juga saat menjadi MC, tapi ya practice makes perfect,” ucapnya. Nama Rinrin Marinka sebagai nama panggung sendiri menurutnya muncul secara spontan. “Sebetulnya malu kalau diceritakan, tapi nama Marinka itu asalnya dari harapan aku kalau someday punya anak perempuan, aku mau namanya Marinka. Tapi ada salah satu teman aku menyarankan kalau aku pakai nama itu dulu saja, and you know what? Why not? Haha, awalnya seperti itu,” ungkapnya sambil tersenyum.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-6

Dengan kepribadian yang menarik dan apa adanya, nama Chef Marinka kian akrab di telinga publik hingga akhirnya ia pun termasuk dalam jajaran celebrity chef yang ada di Indonesia. Menyinggung perihal label “celebrity chef”, Rinrin sebetulnya punya mixed feelings soal istilah tersebut. “Itu sempat menjadi konotasi tertentu kalau di Indonesia karena beberapa oknum yang menurut aku seperti berlebihan. I rather be called as professional chef sebetulnya, tapi sekarang sudah terserah sih. It’s okay if people want to call me that, aku juga tidak butuh konfirmasi dari semua orang kok whether I can really cook or not. Lihat dengan mata kepala sendiri saja, seperti itu sih kalau sekarang,” cetusnya sebelum melanjutkan, “Mungkin yang masih mengganggu adalah sebutan ‘sexy chef’ ya? Menurut aku seksi ya seksi saja, chef ya chef saja, haha,” tandasnya.

Well, sulit diingkari jika sosoknya yang atraktif memang banyak menarik perhatian orang, terutama lawan jenis, mulai dari yang bersikap sopan hingga yang sering mengirimkan komentar bernada miring di social media miliknya. “Kalau ditanya risih, ya pasti risih lah. Tapi terkadang sudah terlanjur malas menanggapi atau melihat komen jadi ya didiamkan saja. Paling aku cuma mau bilang ‘You need God!’ Haha.” Untungnya, masih lebih banyak penggemar yang mengapresiasinya dengan cara yang positif, termasuk salah seorang penggemar yang dengan penuh niat membuatkan seri sticker LINE berupa karikatur Chef Marinka, “It’s actually making my day!” seru Rinrin dengan riang.

Soal social media sendiri, sama seperti public figure pada umumnya, Rinrin memanfaatkan Instagram untuk meng-update kabar dirinya dan sekelumit insight dari aktivitas sehari-hari, termasuk personal style dirinya. “Aku sih mencoba menjadi diri sendiri saja in term of character maupun penampilan. Kalau untuk tampil di publik, pertimbangan aku cuma jangan sampai terlalu seksi. You know how to dress lah, tergantung occasion juga, tapi aku juga sebetulnya playful and moody soal fashion. Kalau lihat lemari baju aku isinya bisa sangat random dari satu gaya ke gaya lainnya, but overall I like edgy and rock n roll looks,” ujarnya.

            Selalu terlihat menawan dengan rambut indah terawat yang sering digerai alami begitu saja, wanita yang memiliki hobi karaoke untuk penghilang stress ini secara mengejutkan mengaku dirinya tidak suka pergi ke salon. “Maybe I just simply lazy, aku tidak suka ke salon karena harus menyetir ke sana. Kalau ada waktu luang, aku sangat menikmati diam di rumah saja sendirian. Tapi tempat aku walau kecil juga sering dijadikan basecamp sama teman-teman aku. Sekadar menonton series, bagi aku itu sebuah kemewahan kalau bisa menghabiskan waktu di rumah seorang diri.”

            Menonton series rasanya kurang lengkap kalau tidak ditemani kudapan, begitupun bagi Chef Marinka yang menyebut chips dan es krim vanilla dengan butterscotch sebagai camilan guilty pleasure favoritnya. Sementara untuk urusan late night craving, ia menganjurkan kacang-kacangan dan sedikit protein untuk memuaskan hasrat mengunyah di malam hari. “Banyak orang bilang makan buah saja, tapi sebetulnya itu juga tidak terlalu baik karena kandungan gulanya,” jelasnya. Dengan profesi sebagai chef yang setiap hari berhadapan dengan makanan, Rinrin jelas punya kiatnya sendiri untuk tetap menjaga pola hidup sehat. “Basically just do detox, misal hari ini makan banyak, besok detoks. Harus tahu porsi, karena kita kadang suka tidak tahu diri makannya jadi terlalu banyak. Olahraga juga, aku ikut Bodytec di Kemang sama berenang. Mau coba yang lain tapi belum punya waktu. Aku ingin mencoba bela diri atau olahraga yang pakai senjata seperti panah atau pistol. I know its sounds crazy but I just love it. Jadi aku kebalikannya yoga, I’m not a yoga person at all.”

            Komitmennya dalam menjaga gaya hidup sehat juga diwujudkan dengan membangun Mars Kitchen, café miliknya di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, yang menawarkan menu-menu sehat tanpa MSG, pewarna, atau pengawet namun tentunya dengan cita rasa yang yummy. Sudah berjalan selama dua tahun, café ini masih tetap laris dikunjungi siapa saja yang mencari kebutuhan healthy menu dengan atmosfer yang homey. Saya pun bertanya apakah ia sudah memiliki rencana ekspansi untuk gerai selanjutnya, yang lantas dijawabnya dengan cepat. “Sebetulnya kita kerjasama dengan Bodytec di Kemang, so we have the tiny one there. Cuma kalau ekspansi rasanya belum deh, masalah lokasi juga mungkin ya? Satu dulu cukup untuk sekarang. Aku terpikir untuk bikin sesuatu yang lain justru. Konsepnya ingin yang beda. Kalau di Mars Kitchen kan memang untuk semua orang yang ingin hidup sehat, kalau yang satu lagi aku inginnya lebih hipster. Semacam tempat hangout yang seru, but I don’t know if it’s going to work karena ekonomi dunia juga lagi menurun dan persaingannya juga lagi banyak sekali. Baru cita-cita saja sih dan aku harus cari partner juga, karena di Mars Kitchen kan sendirian. Itu juga lumayan keteteran, jadi mungkin nanti dulu.”

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-3

Di tengah derasnya arus informasi yang membawa perubahan dengan cepat dalam skala global, termasuk dalam hal tren makanan yang dapat dengan instan diadaptasi ke ranah lokal, Chef Marinka mengungkapkan pandangannya terhadap dunia kuliner di Indonesia saat ini. “Sebetulnya memang makin berkembang, terutama di Jakarta, tapi masih bisa dibilang slow. Dari segi tren memang cepat karena kiblat makanan kita ke Amerika dan mereka memang cenderung menjadi yang pertama kalau soal tren makanan, jadi kita cepat mengikuti tren tapi cepat hilangnya juga, seperti cronuts misalnya. Tapi aku juga melihat sekarang semakin banyak orang yang bangga makan masakan Indonesia dan itu bagus. Jangan sampai kita jadi seperti Filipina yang mulai kehilangan cita rasa kuliner autentiknya. Dari industrinya, aku juga ingin membawa masakan Indonesia jadi as famous as Thai or Korean food. Itu butuh kerjasama dari semua pihak, termasuk dari government. Sekarang pun hal itu sudah mulai berjalan kok seperti kemarin syuting Wonderful Indonesia Flavours, aku mewakili Indonesia memperkenalkan masakan Indonesia ke luar negeri bagi aku itu achievement and I’m proud of it. Kalau soal promosi, mungkin bisa lebih efektif lagi, kita tidak bisa menjagokan kuliner satu daerah saja karena masakan Indonesia benar-benar beragam dari Aceh sampai Papua. You have to do it one by one, fokus di makanan dari satu daerah dulu, baru seterusnya ke daerah lain,” paparnya dengan gamblang.

Memperkenalkan masakan Indonesia ke dunia memang menjadi salah satu fokus utama yang ingin ia jalani sebagai seorang professional chef. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat ia pergi ke Peru untuk urusan pekerjaan. “Di Peru aku sama asisten aku harus masak buat 300 orang di Hotel Delfines dan di sana tidak ada yang bisa bahasa Inggris sampai sempat stress rasanya. Tapi ya we have to work it out, aku bawa satu kopor isinya bahan makanan Indonesia semua, jadinya aku cuma bawa baju-baju tipis dan sampai di sana langsung kedinginan, haha! Hari ketiga di sana aku juga diminta mengajar di Le Cordon Bleu setempat dan rasanya menyenangkan karena aku jadi ingat dulu aku belajar di Le Cordon Bleu, sekarang aku yang mengajar.”

            Dengan semua pencapaian karier yang telah ia raih dalam kiprahnya selama ini, Chef Marinka merasa belum saatnya berpuas diri dan masih memiliki banyak mimpi dalam genggamannya, mulai dari keinginan memiliki talk show sendiri hingga merilis buku masak berikutnya setelah sebelumnya sempat merilis buku resep masakan bertajuk Fantastic Cooking di tahun 2011 yang berisi 30 resep kreasinya. Di samping urusan kuliner, ia ternyata juga punya bucket list lain yang ingin ia rasakan. Yaitu? “Akting, hehe. Karena itu juga art kan? Aku mau coba main film untuk seru-seruan saja. Maunya film yang entah action atau yang drama tapi harus yang very dramatic sampai harus menangis atau berteriak. I like something that extreme, jadi kalau bisa ya jangan yang setengah-setengah,” tutur pengagum aktor Johnny Depp ini. “Aku suka Johnny Depp karena dia idealis, dia kalau main film bukan karena ingin terkenal tapi karena dia memang suka perannya. I like him because he’s good looking but he doesn’t care that he’s good looking. Tapi sekarang aku sudah tidak terlalu suka Johnny Depp lagi karena dia ketahuan selingkuh. I hate that. Pokoknya kalau sudah cheater, aku langsung malas!” serunya sambil tertawa.

            Walaupun sempat mengungkapkan keinginan untuk suatu saat bisa membawa kariernya dan tinggal di luar negeri, untuk saat ini Chef Marinka mengaku jika ia belum bisa meninggalkan kota kelahirannya, Jakarta. “Kalau keinginan untuk pindah pasti ada dan sempat terpikir, tapi dilemma di karier juga karena pekerjaan aku sekarang ada di sini. Semua support system juga ada di sini, support system dalam arti kata aku punya community yang benar-benar kuat memengaruhi kehidupan sehari-hari, Teman-teman yang ada di sini, they’re all my happiness. Jadi, aku merasa belum ada purpose yang lebih kuat untuk pindah dibanding fokus yang ada di sini,” pungkasnya. Jakarta dengan segala sudutnya yang menawarkan sejuta cerita, hate it or not, akan meninggalkan kesan bagi siapa saja yang hidup di lambungnya atau yang sekadar melintas. Untuk menutup artikel ini saya pun bertanya kepada Chef Marinka, sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta kira-kira sajian apa yang bisa mewakili karakteristik Jakarta as a city. Dengan wajah yang sudah terias sempurna dan langkah percaya diri menuju depan kamera, chef cantik ini sambil mengulas senyum pun menjawab, “Jakarta itu menurut aku messy dan chaotic. Kalau dilihat sepintas mungkin terlihat biasa saja tidak menggugah selera, tapi ketika diaduk baru terasa enaknya, persis seperti ketoprak, haha. Well, ketoprak memang bukan makanan cantik sih, but I can make it pretty!”