BRNDLFEST: The Brandals’ 12 Years Retrospective Concert

SAN_1833 copy

Ungkapan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya” ternyata bisa diterapkan pula dalam perjalanan sebuah band. Band yang besar harus menghargai sejarahnya dan The Brandals mengamini hal itu. Terbentuk sejak Desember 2001, The Brandals telah menjadi salah satu band ibukota paling ikonik berkat penampilan mereka membawakan garage rock di atas panggung dengan liar, ditingkahi bahasa vulgar, namun tetap terlihat stylish. Ibaratnya, bila New York punya The Ramones dan London punya The Clash, maka Jakarta memiliki The Brandals sebagai band rock yang mewakili esensi liar kota besar dalam lirik lagu yang lekat dengan kehidupan masyarakat urban. 12 years and four albums later, they still stands tall dan merayakannya dengan sebuah konser retrospektif bernama BRNDLFEST tanggal 22 Desember lalu di Rolling Stone HQ, Kemang.

            Dengan sub judul “Cerita Mutasi Urban”, Festival BRNDLS tersebut menghadirkan pameran memorabilia segala pernak-pernik berbau The Brandals, mulai dari CD, kliping artikel, properti panggung, flyer, poster gig, kaos, well, basically anything! Acara dijadwalkan mulai pukul 3 sore namun terpaksa mundur sejenak karena gerimis yang turun tanpa henti hari itu. Saat dijumpai, sang vokalis Eka Annash sedang mengelap salah satu kotak kaca berisi memorabilia yang basah tersiram hujan sementara personel lainnya masih bersiap untuk ganti baju dan sebagainya. Eka mengungkapkan bagaimana festival ini awalnya direncanakan untuk satu dekade mereka namun terhalang beberapa hal hingga baru terlaksana sekarang dengan kerja keras dari para personel, kru, dan tentu saja fans mereka yang kerap disebut brigade rock n’ roll. Fans memang tak terpisahkan dalam karier sebuah band, dan dalam event ini The Brandals mengajak dua band bentukan fans mereka, yaitu Lampu Kereta dan The Badunks untuk menjadi pembuka acara. Penonton belum terlalu ramai, namun kedua band tersebut meminjam semangat yang sama dengan idola mereka dan bermain tanpa gentar.

Memorabilia

            “The Brandals sekarang gue ngeliatnya kaya Johnny Depp waktu jadi sersan Tom Hanson di 21 Jump Street tapi sekarang udah jadi James Bond, haha! Dulu masih muda, masih ijo… sekarang udah tua, udah content, suave, tau apa yang dia mau, lebih experienced,” ungkap Eka saat saya bertanya bagaimana sebetulnya The Brandals di umurnya yang ke-12. “Sekarang lebih family, lebih keluarga karena hampir semua di Brandals udah berkeluarga jadinya tidak raw lagi, lebih terpoles biar disayang mertua,” sambung Toni Dwi Setiadji, sang gitaris yang bersama drummer Rully Anash menjadi dua personel yang telah ada dari awal.

            Lepas Maghrib, diadakan pemutaran perdana video klip lagu “Abrasi” dari album terbaru mereka DGNR8 yang disutradarai oleh fotografer Anton Ismael dan disambung dengan penayangan film dokumenter Marching Menuju Maut yang dibuat oleh Faesal Rizal yang telah mendokumentasikan perjalanan karier The Brandals dari awal karier mereka. Dokumenter tersebut secara gamblang mengungkap segala sesuatu tentang The Brandals. Bagaimana mereka bermula dari band bernama The Motives dengan vokalis Edo Wallad sebelum digantikan oleh Eka dengan nama The Brandals, persiapan latihan sebelum naik panggung pertama kali, bagaimana mereka membangun popularitas dari berbagai gig intim di BB’s Café, Parc, dan berbagai pensi, termasuk PL Fair tahun 2003 di Stadion Lebak Bulus yang bersejarah bagi mereka. Bagaimana tidak? Dalam pensi tersebut, The Brandals tampil dalam keadaan “tinggi” di depan 8 ribu penonton dan memprovokasi mereka dengan kata-kata kasar. Hasilnya adalah hujan batu dan benda-benda lain namun dengan berani The Brandals tetap melanjutkan penampilan mereka. Momen tersebut menguatkan citra jika The Brandals memang benar-benar berandalan di atas panggung dan sempat dilarang tampil oleh beberapa event organizers.

Kliping

            Dokumenter berdurasi cukup panjang tersebut juga mengungkapkan bagaimana pergantian manajer menjadi turning point The Brandals untuk lebih lurus dalam bermusik dan bersikap. Salah satu momen lucu adalah beberapa footage Eka yang sebelumnya identik dengan ngomong kasar berubah mengucapkan assalamualaikum ketika manggung. Yang tak luput dibahas adalah soal pergantian personel dan bagaimana musik mereka beralih menjadi lebih digital di album terbaru. Yang jelas, 12 tahun memang bukan waktu yang sedikit untuk mendewasakan mereka.

            Selesai screening dan ngobrol-ngobrol singkat soal Marching Menuju Maut, The Brandals formasi saat ini yang terdiri dari Eka, Rully, Toni serta dua personel yang bergabung belakangan, bassist Radit Syahrazam dan gitaris PM, akhirnya tampil di atas panggung dengan backdrop bergambar drakula yang dibuat oleh ilustrator bernama Gogoporen. Lagu “Mutasi Urban” dan “Lingkar Labirin” dari self-titled debut mereka dipilih menjadi lagu pembuka. Sebagai frontman, Eka memang sudah tidak sevulgar dulu ketika berbicara di atas panggung, namun dia masih terdengar witty dengan celetukan-celetukan khasnya. Energi mereka semakin memanas seiring membawakan lagu-lagu jawara lainnya dalam repertoire empat album yang telah mereka hasilkan, termasuk “Abrasi” yang mengajak Eric PRBLMZ untuk mengisi bagian rapnya, “100% Kontrol”, “Brokenheart Blues”, dan “Perak”.

Bayu

            Bukan ulang tahun namanya kalau tidak ada kejutan. The Brandals menghadirkan dua mantan personel awal mereka, gitaris Bayu Indrasoewarman dan bassist Dodi Widyono ke atas panggung untuk memainkan lima lagu dari album ketiga Audio Imperialist, termasuk “24 Lewat (Lagu Luna)”  dan “100 KM”. Penonton semakin bersemangat melihat formasi awal The Brandals dan melihat Eka yang melakukan crowd surfing, saya lantas teringat bagaimana dulu saya terkagum-kagum melihat penampilan mereka yang intens dalam berbagai acara musik yang saya datangi. Radit dan PM akhirnya naik panggung lagi dan The Brandals menuntaskan penampilan mereka dari tiga lagu dari album DGNR8, yaitu “DGNR8”, “Awas Polizei!”, “Start Bleeding” dan dipungkaskan dengan “Marching Menuju Maut” dari album pertama mereka.

            Total 21 lagu dibawakan oleh The Brandals dalam durasi satu jam lebih. Dengan gemilang, The Brandals berhasil merangkum 12 tahun pertama karier mereka dengan menghargai masa-masa yang telah lewat tanpa terpaku di masa lalu. Toh lewat album baru mereka, The Brandals telah membuktikan diri jika mereka bukanlah band nostalgia. What’s next for them? “Yang jelas mau liburan dulu sebulan! Haha! Terus udah mulai kumpulin materi lagi pelan-pelan,” jawab Eka sambil tersenyum puas. The Brandals pada akhirnya akan terus bermutasi to keep the spirit alive. And I wish them a Godspeed.

Eka Annash

Foto oleh Sanko Yannarotama

This Charming Man, Morrissey Live in Jakarta (10 May 2012)


Coret lagi satu nama paling penting dari daftar Bands/Musician You Must See Before You Die, Morrissey is finally here.

Who is Morrissey?” Demikian bunyi tulisan yang tertera di backdrop panggung konser perdana Morrissey yang dipromotori oleh Indika Production tanggal 10 Mei kemarin. Mayoritas orang mengenalnya sebatas vokalis band Inggris, The Smiths, sementara sebagian yang lain mungkin hanya sering mendengar namanya tapi tak pernah benar-benar mendengarkan musiknya, namun crowd yang memenuhi venue Tennis Indoor Senayan dari sore hari, membawa spanduk, bunga dan terus tersenyum ceria adalah golongan yang berbeda. Mereka adalah diehard fans yang menganggap Steven Patrick Morrissey tak hanya penyanyi idola, namun lebih sebagai personal hero yang datang bukan sekadar menonton konser, tapi juga “naik haji” menunaikan impian seumur hidup mereka menyaksikan Morrissey di depan mata.

Selain area depan ticket box yang dipenuhi para penjual kaus Morrissey yang sering typo (entah kurang “r” atau “s”), yang terasa berbeda adalah untuk hari itu Tennis Indoor bebas dari makanan yang mengandung daging atas permintaan Moz (panggilan akrab Morrissey) yang seorang vegetarian dan pendukung PETA. Tak hanya stand F&B dalam area konser saja yang bebas daging, kabarnya panitia harus membayar para pedagang sate di Senayan untuk menghilang sebentar. Sebuah upaya cukup maksimal untuk menghargai Moz yang terkenal sangat strict (ia pernah walk out dari panggung Coachella 2009 karena mencium bau daging dimasak) dan memerhatikan detil apa pun, termasuk pilihan hotelnya, Shangri-La, hanya karena ia penggemar band The Shangri-Las. Romantisme personal tersebut juga terasa saat penonton menunggu dimulainya konser sambil menyaksikan beberapa video musik retro yang tampaknya dipilih sendiri oleh Moz, mulai dari Brigitte Bardot sampai New York Dolls, yang ditembak dari proyektor ke kain yang menutupi panggung. Sekitar jam 9 malam, akhirnya video playlist selesai dan kain penutup tersebut diturunkan dan menampilkan semua instrumen yang siap dimainkan, termasuk satu gong besar di belakang drum set. Para pemain band yang hanya memakai jeans, kecuali gitaris Boz Boorer yang memakai dress perak, naik ke panggung disusul oleh sosok flamboyan yang ditunggu.

Dibuka dengan “How Soon Is Now?” eforia penonton meledak memenuhi udara Tennis Indoor yang bebas dari asap rokok. Moz yang sudah berusia 52 tahun memang tidak bisa menutupi fisiknya yang merenta, namun karismanya sangat kuat dan vokalnya pun masih prima. Hits-hits seperti “You’re The One For Me, Fatty”, “Alma Matters” dan “Everyday Is Like Sunday” memancing koor penonton yang begitu keras dan bunga-bunga terus dilempar ke atas panggung oleh penonton baris depan. Berbeda dari citra snob dan racist yang kerap dituduhkan media asing, Moz malam itu begitu humble menyapa penonton dan menunjukkan gratitude menyaksikan antusiasme penonton Indonesia, sehingga sempat berkata takjub, “Jakarta… I’m not expect this…” Beberapa penonton juga ditarik naik ke atas panggung untuk berpelukan dengan Moz yang sempat beberapa kali berganti kemeja (salah satunya dilempar ke penonton). Di lagu “Meat Is Murder”, Morrissey menampilkan video berisi cuplikan dokumenter animal abuse yang quite disturbing sebelum meneruskan set dengan lagu “Let Me Kiss You, “I’m Throwing My Arms Around Paris” dan “Speedway” dan berkata “Indonesia…”Saya cinta kamu. With all my heart, I wish we’ll never be apart,” sebelum memberikan encore satu lagu “Still Ill” yang merupakan lagu The Smiths.

Dengan tampil satu setengah jam membawakan 19 lagu, tentu banyak yang merasa belum puas dan berharap mendengar hits beliau lainnya yang tidak dimainkan seperti “The More You Ignore Me, The Closer I Get”, “Suedehead” dan hits lawas The Smiths. Setiap orang tentu memiliki daftar lagu Morrissey/The Smiths favorit mereka, jadi memang rasanya tidak mungkin juga berharap semua bisa dimainkan malam itu. Kembali ke pertanyaan awal tadi, siapa sih Morrissey? Semua orang punya jawaban sendiri, bagi saya pribadi yang kesehariannya tak pernah sepi dari lagu Morrissey, untuk akhirnya bisa menyaksikan beliau secara langsung di depan mata dan bernyanyi bersama sudah menjadi salah satu pengalaman hidup yang menggetarkan. It’s still feels surreal, even now.

As published in NYLON Indonesia June 2012