Art Talk: The Delicate Hand Lettering of Novia Achmadi

Sebagai salah satu elemen krusial dalam dunia desain, tipografi secara natural telah menjadi bentuk seni tersendiri, baik dalam bentuk digital ataupun hand lettering yang bagi sebagian orang terasa lebih otentik. Beberapa tahun terakhir seni hand lettering pun kembali naik ke permukaan sebagai eskapisme dunia desain digital yang terasa “dingin” dan kaku. Seni hand lettering yang bersifat fleksibel dan mudah beradaptasi dengan media apapun tersebut yang akhirnya menarik minat Novia Satyawati Achmadi untuk menekuninya. “When you learn about typography, you always start from sketches. Some people find it stressful tapi aku enjoy karena basically aku suka gambar dari kecil. I started with one simple word then escalate it to a complete sentence. I love the fact that it’s all handwritten where it’s digital world we live in,” ungkap desainer grafis berusia 24 tahun tersebut. Lulusan DKV Binus ini kemudian membentuk sebuah label handwriting art bernama Kallos dan bereksplorasi dalam berbagai medium, mulai dari helm, denim, jaket kulit, hingga kotak aki yang terdengar maskulin dan memadukannya dengan sentuhan feminin yang menjadi ciri khas karyanya.

The-Best-Thing-in-LifeBagaimana sampai tercetus ide untuk Kallos? And what’s the story behind the name?
Aku kerja di agency as a graphic designer where you can’t always do what you love all the time. Jadi kalau ada waktu senggang, aku bikin hand lettering just as refreshment. And I thought, other than keeping me creative, a hobby should make money for me. Awalnya sih iseng masukin karya di Instagram @missachmadi. Tapi taunya banyak yang tertarik, terus aku putusin untuk bentuk sebuah brand aja sekalian. Lahirlah Kallos (@kallos_hl). Kallos—means beautiful in Greek—adalah kata dasar dari calligraphy. This is the perfect word because that’s what I do, ‘sugarcoating’ words so it’ll look prettier.

Do you already find your own aesthetic signature in Kallos?
Selama ini di dunia design, I learn that art is subjective. That depends sama siapa yang lihat & nilai. Sometimes people can’t really judge but feel the need to throw comments, what they say is ‘bagus sih, tapi kok cewek banget ya?’. I hate the way it used as criticism. Emang salah kalo cewek banget? Kenapa nggak pernah ada yang protes kalau itu cowok banget? Jadi aku berusaha masukin unsur ‘cewek’ dalam karya Kallos. Entah itu dari shape atau warna, pokoknya harus ada sisi feminin dari karyaku. Aku mau kasih tau orang kalau nggak ada yang salah dari menjadi perempuan and women can totally pull it off.

11_Kallos10_Lady-Luck06_Things-We-Do-For-FunBagaimana biasanya proses yang kamu lalui saat berkarya?
Setelah tau mau nulis apa, aku mulai cari-cari typeface apa yang cocok. It’s not always matching typeface to a specific word, but to the whole sentence. Lalu aku bikin sketsa layout. I find it challenging karena medianya selalu berbeda-beda bentuk, ada yang melingkar, datar, kain, dll. Setelah itu baru masuk proses pengecatan. Untuk referensi, I look not only typography based reference, but design as a whole. That helps the creativity flowing.

Setelah bereksperimen dengan beberapa media, mana yang paling menantang sejauh ini dan apa ada medium lain yang sedang ingin kamu eksplor?
Jaket parasut sih! Haha. Still working on it. Yang mau aku eksplor… Truk! Kayaknya seru kalau bisa nulisin “Doa Ibu” atau “Putus cinta sudah biasa, putus rem mati kita’, hehe.

Dari mana biasanya menemukan inspirasi?
Mostly internet. Can’t deny it, haha. Dan dari ngobrol sama orang lain, entah mereka artist juga atau bukan. People’s point of view is always interesting.

Sejauh ini Kallos sudah pernah terlibat project/kolaborasi apa saja? Mana yang paling berkesan untukmu?
Kallos sedang kolaborasi dengan Lawless & Unionwell, and also have another on the pipeline. Honestly it’s hard to say which one I love the most karena tiap project aku ketemu orang yang berbeda, personality & backgrounds. They impress me in different ways and I feel grateful to experience that.

Processed with MoldivBrake-Clutch-Detail

Siapa lettering artist favoritmu dan kenapa?
Pertama, Gemma O’Brien because her details are amazing! Kedua, those who still learning typography & hand lettering! Their spirits inspire me.

Peralatan apa yang biasanya kamu pakai untuk hand-lettering?
Pensil, penghapus, dan penggaris untuk sketsa. Acrylic untuk media yang serap air. Enamel & thinner PU untuk media yang nggak serap air. Brush untuk keduanya juga beda.

BoysMarketApa yang membuat sebuah lettering art dikatakan sukses?
Simpel sih: bisa dibaca! Hehe. Beberapa kalimat susah di-layout and on some cases, there are people who actually dare to scramble the words so it looks nice on the layout but irritating to read!

Kamu sendiri melihat scene hand-lettering di Indonesia seperti apa saat ini dan ke depannya? Karena di luar negeri pun hand-lettering sedang booming lagi kan.
Aku seneng banget sekarang orang-orang udah mulai sadar kalau tipografi itu juga termasuk art not just the fonts you use on your resume or things like that. I see that many workshops are there to help. Aku mau banget sih ikutan, I want to learn from other people sampai akhirnya mungkin someday aku bisa buka workshop sendiri, hehe.

Do you have any personal favorite font in particular?
Din is always my fav! When people say “You are more perfect than Helvetica'”, they must be talking to Din.

Apa yang kamu lakukan untuk menghadapi creative block?
Take a break. Menurut aku penting untuk step back and see things from different perspective. And don’t be so hard with yourself.

Apa quote yang selalu berhasil menginspirasimu?
“A woman who doesn’t wear perfume, has no future.” —Coco Chanel. It tells you that you have to have that signature along the way and how it’s gonna leave mark on people—how they’re gonna remember you as something special.

04_Get-Shit-Done

The Morning Bender, A Report of Nikicio F/W 2013 Morning Presentation.

DSC_4530 copy

Tak pernah ada istilah terlalu pagi untuk menikmati suguhan fashion yang berkelas, Nina Nikicio membuktikannya lagi dalam morning presentation Nikicio Fall/Winter 13/14. 

For instance, mungkin di skena mode Indonesia saat ini baru Nina Nikicio seorang yang punya nyali dan loyal fans untuk menggelar fashion show di pagi hari untuk keduakalinya sejak presentasi Nikicio Mixte Spring/Summer dua tahun lalu. Dan seperti show sebelumnya itu, kali ini pun Nina mengemasnya menjadi suatu event yang membuatmu rela bangun lebih pagi di akhir pekan. Untuk show yang diadakan Sabtu 26 Juni lalu, Nina memilih Colony di area Kemang Raya sebagai venue, di mana setiap invitee akan diantar oleh para usher menaiki elevator ke lantai 6 gedung tersebut, dan begitu keluar pintu lift, mereka akan langsung melihat sebuah space kosong yang sudah dihiasi jejeran kursi putih, dan jendela-jendela lebar di setiap sisi yang membiarkan cahaya pagi menghangatkan area berwarna abu-abu tersebut. Mengingatkan seperti sebuah loft di downtown New York, and fits Nikicio’s DNA so well, I must say.

Tak berapa lama setelah saya menikmati breakfast at a jar dan orange juice dalam botol yang disediakan di setiap kursi, show pun dimulai. Seorang model Kaukasia berjalan santai dengan turtleneck abu-abu dan blazer wool berwarna sama yang dipadukan dengan pajama pants dari material Habutai (garmen sutra yang sangat ringan) dengan print foto scenery pegunungan. Print yang sama menjadi kunci utama dalam keseluruhan koleksi ini dan muncul dalam berbagai inkarnasi, mulai dari oversized jacket, celana pendek, sleeve dress, blazer, hingga bra. “It was from one of my favorite holiday in New Zealand. Probably in 2009. I remember the scenery was so beautiful it took my breath away. And I remember saying grace, just being thankful at that moment. It’s very personal really and such a humbling experience,” ungkap Nina, menjawab pertanyaan saya tentang print tersebut. Selain print pegunungan tersebut, print lain yang juga muncul adalah guratan bangau putih yang terinspirasi dari kain Cina yang pernah Nina lihat di rumah neneknya. Jelas, Nina ingin bermain dengan kenangan personalnya di koleksi terbarunya ini.

DSC_4415 copy4

DSC_4567 copy

DSC_4483 copy

Put the prints aside, koleksi F/W 13 ini tetap mengiaskan apa yang menjadi pakem label ini, which is smart cutting and minimalism beauty. Knitted sweater, moto jacket, bolero, kemeja sifon, dan maxi skirt berpadu tanpa cela dengan aksesori pendukung seperti beanie, topi snap back, slip on sandal, serta clutch dari material Nubuck yang lembut dan kuat di saat yang sama. Terselip juga beberapa muscle tank dengan tulisan “Grumpy”, “Hungry”, “Thirsty”, dan “Sleepy”, saya bertanya iseng ke Nina, “So, which one are you in the morning?” Nina yang kala itu mengenakan muscle tank hitam bertuliskan “Sleepy” menjawab sambil tertawa, “Hahaha! I like to inject humor to every collection I make. Grumpy, hungry, thirsty, and sleepy are feelings that easily relatable to anyone, it transcends gender. But then again, I basically just want to have a little fun,” tukasnya dengan tersenyum.

DSC_4867 copy

Sebagai kesimpulan, 24 looks yang disajikan dalam morning presentation ini bisa dibilang menjadi sebuah goodbye notes manis dari Nina untuk sementara waktu kepada fashion crowd Indonesia. Saat kamu membaca artikel ini, ia telah berada di Melbourne untuk melanjutkan studi Fashion & Textile Merchandising di RMIT University, sebuah hal yang menunjukkan komitmennya untuk terus membawa diri ke level selanjutnya dan tak berhenti di satu titik. “Life is all about learning anyway isn’t it?” pungkasnya. Couldn’t agree more with that.

DSC_4879 copy

 

As published in NYLON Indonesia July 2013

All photos by Sanko Yannarotama