Movie Review: Aruna & Lidahnya

Bersama Aruna & Lidahnya, Edwin dan Palari Films mengajak kita bertualang dalam rasa dan romansa.

Tidak dianjurkan menonton film ini dalam kondisi perut kosong.

Itu pesan paling penting yang bisa saya berikan padamu tentang Aruna & Lidahnya, film terbaru garapan Edwin yang dipersembahkan oleh Palari Films. Kenapa? Well, karena film ini bertabur sajian-sajian lezat yang dihadirkan dengan begitu menggoda mata dan imajinasi sekaligus memancing respons alami kita untuk menjilat bibir, menelan ludah, atau menahan bunyi perut yang tiba-tiba. Intinya, tidak ada yang lebih menyiksa dibanding menonton film ini sambil kelaparan.

Diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak, film ini bercerita tentang Aruna (Dian Sastrowardoyo), seorang penyandang titel ahli wabah di atas kertas dan pemuja kuliner di hati. Aruna termasuk penganut paham “hidup untuk makan” di mana makan adalah kegiatan paling menyenangkan baginya, entah itu sendirian atau bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), seorang chef muda dengan palet lidah dan keterusterangan yang sama tajamnya.

Masakan lezat nyaris seperti obsesi bagi Aruna dan salah satu obsesi terbesarnya adalah racikan resep nasi goreng yang kerap dimasak oleh sang mbok sejak ia kecil. Berulang kali ia mencoba memasak nasi goreng tersebut, berulang kali juga ia gagal mereplika rasanya. Bono pun mengusulkan agar mereka melacak resep itu sampai ke kampung halaman sang mbok di Pontianak.

Kebetulan, mencuatnya kabar tentang wabah flu burung yang mulai menjangkiti manusia membuat Aruna ditugaskan kantornya untuk menyelidiki kasus tersebut di empat kota yang berbeda: Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang. Bersama Bono, perjalanan dinas itu turut menjadi wisata kuliner dengan daftar panjang  makanan yang harus mereka cicipi di kota-kota tersebut: Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Kacang Koah, Campor Lorjuk, Pengkang, Bakmi Kepiting, Choi Pan, dan tentunya, nasi goreng yang konon serupa cita rasanya dengan nasi goreng si mbok.

aruna

Petualangan tersebut makin lengkap dengan hadirnya Nadezhda (Hannah Al Rashid), sahabat keduanya yang membuat hati Bono mencair, serta Farish (Oka Antara), mantan supervisor merangkap cinta lama Aruna yang membuat lidahnya kelu. Bersama Farish yang kini kembali menjadi rekan satu timnya, Aruna mengunjungi beberapa peternakan unggas dan para pasien terindikasi flu burung.

Berbeda dengan Aruna dan dua sahabatnya, Farish sepintas berada di kutub yang berbeda. Ia kaum yang “makan untuk hidup”, yang menganggap makanan hanya untuk mengisi perut yang kosong. Namun, hal itu tak lantas menyurutkan dinamika yang perlahan mengalir dari satu meja makan ke meja makan lainnya. Percikan-percikan afeksi yang belum terungkap antara Aruna dan Farish, antara Bono dan Nad, serta letupan kecemburuan Aruna dan Bono melihat keakraban Nad dan Farish membumbui perjalanan mereka yang kaya rasa baik di lidah maupun di hati.

Dalam investigasinya, Aruna menemukan beberapa kejanggalan tentang data yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan serta sosok-sosok berpakaian steril yang seakan menyebarkan ketakutan akan wabah tersebut. Kecurigaan tersebut memperdalam konflik internal dirinya terhadap Farish. Tentang perasaannya yang terpendam, tentang hubungan rahasia Farish, dan dugaan bahwa isu flu burung ini hanya lahan basah untuk praktik korupsi.

Di Singkawang, rasa curiga berbalut benturan ego pun memuncak dan menyebabkan riak di antara keempat orang ini, namun, lagi-lagi makanan menjadi mediator terbaik. Pada akhirnya, ketika semua pertanyaan telah dijawab dengan terang-benderang, maka makan bersama orang-orang tersayang pun terasa lebih nikmat dan lidah Aruna tak lagi kelu.

aruna3

Aruna & Lidahnya merupakan film kedua Edwin bersama Palari Films setelah Posesif (2017). Keduanya adalah karya Edwin yang tergolong komersial dibanding film-film terdahulunya yang lebih bersifat arthouse. Namun, dalam film ini pun Edwin tak kehilangan sentuhannya. Racikan khas Edwin masih terasa lewat sinematografi lanskap langit/pemandangan, tone warna yang dreamy, serta surrealism yang terselip di beberapa adegan, utamanya di dua adegan mimpi Aruna yang lumayan absurd di mana ia memeras jeruk nipis langsung ke lidahnya dan menyebutnya “asin” serta adegan lain di mana ia meminum air laut dengan sedotan panjang lalu mencetuskan “tawar” tentang rasanya. Kedua adegan alam bawah sadar ini adalah cerminan bahwa memang ada yang salah dalam lidah seorang Aruna. Tak hanya tentang rasa, tapi juga perasaan.

Yang menarik dan membedakan film ini dari karya sebelumnya adalah bumbu humor dalam takaran yang pas. Bila biasanya film Edwin cenderung fokus pada satu atau dua tokoh, film ini menghadirkan empat karakter utama yang perannya bisa dibilang sama penting. Walau tak bisa dipungkiri bila Aruna memang tokoh utama dan poros cerita, yang diperkuat dengan kemampuan breaking the fourth wall, namun tanpa kehadiran Bono, Farish, dan Nadezdha, niscaya film ini rasanya akan hambar, atau seperti yang diungkapkan Bono dalam sebuah adegan: Lauk dalam makanan bisa terasa terlalu asin atau terlalu pedas kalau hanya dicicipi satu per satu, baru ketika semua komponen lauk di piring diambil sedikit-sedikit lalu dilahap dalam satu sendok maka nikmatnya baru terasa maksimal.

aruna1

Untungnya, chemistry di antara Dian, Nico, Oka, dan Hannah berhasil disajikan dengan begitu renyah, Tanpa adanya chemistry yang pas di antara para pemain, film ini akan langsung bubar jalan. Keempatnya berhasil membungkusnya dengan celetukan ringan, komentar usil, dan gestur-gestur kecil yang seringkali berbicara lebih lantang dibanding sekadar dialog. Yang juga menarik adalah film ini memberikan kesempatan bagi keempat tokoh untuk lebih mengenal satu sama lain dengan lebih intim. Tak hanya berputar pada Aruna dan Farish saja, kita juga bisa melihat dinamika antara Aruna dengan Bono, Bono dengan Nad, Nad dengan Farish, Farish dengan Bono, lalu tentu saja momen Aruna dengan Nad yang menampilkan dinamika antara perempuan dengan begitu real: mulai dari meminjamkan pembalut hingga obrolan tentang cinta dan pentingnya membawa kondom.

aruna2

Bagaimanapun, cerita tentang empat orang dewasa muda yang telah ajek dalam karier namun masih gamang dalam urusan cinta memang belum terlalu banyak kita temukan di menu film Indonesia yang terkesan itu-itu saja, dan hal itu yang coba ditawarkan dalam film ini.

Bila indikator kesuksesannya adalah penonton yang mendecakkan lidah setiap visual makanan terpampang di layar dan ikut tertawa di adegan atau dialog yang memang diharapkan mengundang senyum, maka film ini rasanya telah berhasil menuntaskan dahaga tersebut.

Aruna & Lidahnya tayang di bioskop tanggal 27 September 2018

 

Film Strip: Drupadi, Sebuah Penantian Yang Terjawab

Drupadi Poster

Tak hanya dendam dan rindu, keinginan untuk menyaksikan sebuah film pun harus dibayar tuntas, tak peduli selama apa harus menunggu.

Full disclosure: ini adalah review yang terlambat hampir enam tahun. Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduksi oleh SinemArt Pictures, Drupadi sejatinya adalah film yang dirilis pada bulan Desember 2008 silam. Bergenre Art House serta kental elemen visual dan musikal, film ini ibarat sebuah mitos tersendiri bagi kalangan penikmat film lokal sejak pertama kali ditayangkan di Jiffest 2008. Ramai dibicarakan, namun di saat yang sama sulit untuk diakses khalayak yang lebih luas karena tak pernah ditayangkan di bioskop umum dan seakan menjadi film khusus festival dan special screening saja. Saya termasuk orang yang belum pernah menonton film ini dan mencatatnya ke dalam daftar must watch movies pribadi saya, dan akhirnya keinginan tersebut tertebus kemarin (05/10) di sebuah screening yang diadakan oleh Muvila.com di Galeri Indonesia Kaya, di mana film ini menjadi film penutup dalam rangkaian pemutaran film garapan Miles Production seperti Gie dan Ada Apa Dengan Cinta? selama dua hari sebelumnya.

Bicara tentang Drupadi, berarti bicara tentang Dian Sastrowardoyo. Namanya lekat menempel dalam screen title film ini dan memang poros utama Drupadi terletak pada sosok aktris sejuta pesona tersebut yang menjadi salah satu produser bersama dua produser lainnya, yaitu Mira Lesmana dan Wisnu Darmawan, sekaligus peran utama sebagai the eponymous Drupadi dari epos Mahabharata.
Bila hikayat klasik yang berasal dari India tersebut umumnya berfokus pada konflik antara keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa, maka adaptasi ini dibesut dari sudut pandang Drupadi, seorang putri Kerajaan Panchala yang terlahir dari api, menjadi istri para Pandawa dan secara tak langsung menjadi penyebab Perang Bharatayuddha. Dibagi dalam beberapa babak layaknya pertunjukan wayang, kita diperkenalkan bagaimana Drupadi menjadi sebuah hadiah dalam sebuah sayembara untuk mencari pendamping hidup untuknya.

D1-drupadi-25-c

Dalam sayembara memanah yang diikuti oleh para ksatria terbaik tersebut, terselip Arjuna (Nicholas Saputra), salah seorang Pandawa yang menyamar dalam balutan jubah Brahmana. Anak panahnya tepat sasaran mengenai bunga lotus di atas permukaan kolam yang menyebabkan kelopaknya pecah menjadi lima. Seolah mewakili jika Pandawa sesungguhnya adalah lima kakak beradik dan menepati janji kepada ibunda mereka, Dewi Kunti, apapun yang dimiliki seorang Pandawa otomatis menjad milik empat Pandawa lainnya, tak terkecuali Drupadi yang kemudian menjadi istri bagi kelima Pandawa sekaligus: Yudhistira (Dwi Sasono) putra sulung yang ditakdirkan menjadi raja di antara raja, Bhima (Ario Bayu) yang kuat dan emosional seperti raksasa namun memiliki hati yang lembut, Arjuna yang luar biasa tampan dan menjadi cinta sejati Drupadi, dan si kembar Nakula dan Sadewa (Aditya Bagus Santosa dan Aditya Bagus Sambada). Drupadi menjalani perannya sebagai istri untuk lima pria sekaligus dengan penuh khidmat dan semua baik-baik saja sampai akhirnya datang undangan oleh keluarga Kurawa, sepupu sedarah yang selalu dengki pada para Pandawa.

Yudhistira sebagai pemimpin memutuskan untuk menyambut undangan tersebut walau sudah diperingati oleh adik-adiknya dan Drupadi. Maka, berangkatlah rombongan Pandawa ke istana kediaman Kurawa demi menanggapi permainan dadu penuh muslihat yang dipimpin oleh Sakuni (Butet Kertaradjasa), paman mereka yang licik dan licin. Dadu yang terbuat dari tulang manusia tersebut menjadi petaka. Satu per satu milik Yudhistira dipertaruhkan di atas meja judi. Harta, tahta, dan bahkan jiwa adik-adiknya serta dirinya sendiri. Semua jatuh menjadi milik Suyudana (Whani Darmawan), hingga akhirnya Yudhistira hanya punya satu pertaruhan terakhir: Drupadi. Its all or nothing, and he gains nothing.

drupadi021
Drupadi pun diseret secara kasar oleh Dursasana (Djarot Dharsana) bagai seekor kuda dan dipermalukan di istana yang terhormat tersebut, sementara kelima suaminya serta para tetua yang ia hormati hanya bisa terdiam. Di antara rasa malu, marah, dan frustrasi, Drupadi berontak dan berteriak lantang memperjuangkan harkatnya sendiri sebagai seorang wanita yang dipertaruhkan oleh suaminya sendiri di meja judi. Ia mempertanyakan apakah Yudhistira yang bahkan sudah menggadaikan dirinya sendiri masih mempunyai hak atas Drupadi. Lolongan Drupadi memecah malam dan di tengah kegentingan saat hendak ditelanjangi oleh para Kurawa, keajaiban muncul. Kain yang membelit tubuhnya secara ajaib seakan tak pernah habis hingga akhirnya para Kurawa kelelahan.
Drupadi terhindar dari noda, namun ia masih memendam dendam seperti api. Ia bersumpah, ia tidak akan mengikat rambutnya sampai bisa membilas rambutnya dengan darah dari para orang yang telah menginjak kehormatannya. Film pun ditutup dengan visualisasi pertempuran penuh darah selama 18 hari antara para Pandawa dan Kurawa.

Drup
Setelah 6 tahun menunggu, is it worth the wait? Jawabannya adalah iya. Durasi film ini hanya 40 menit, yang cukup “nanggung” karena terlalu panjang untuk disebut film pendek, pun terasa terlalu singkat untuk menjadi film feature. Namun saya menikmati sekali setiap momen dalam film ini. Baik dari visual, cerita, maupun musik. Tim yang terlibat dalam film ini bisa dibilang sebagai dream team. Riri Riza di bangku sutradara dan penata kamera Gunnar Nimpuno menyajikan bahasa visual dan directing yang luar biasa indah yang diperkuat costume design dan styling jenius oleh Chitra Subijakto serta musik gamelan yang ditata oleh Djaduk Ferianto. Sementara Leila Chudori sebagai penulis naskah berhasil mengadaptasi hikayat kuno ini dalam konteks perempuan lintas zaman. Drupadi adalah sosok perempuan yang terjebak dalam konstelasi politik yang didominasi para pria dan di masa perempuan seringkali dianggap hanya sebagai komoditas dan objek. Ia berani bersuara menyerukan protes kepada suami dan tetua adat, dan ia mungkin salah satu dari sedikit sosok wanita berpoliandri yang dicatat sejarah. Semua cast tampil gemilang, tak terkecuali para ekstra di keluarga Kurawa yang semuanya merupakan penari dari padepokan seni Bagong Kussudiardja.

Dian Sastro yang turut hadir menonton dalam screening kemarin pun mengaku sangat antusias dan jauh lebih menikmati film ini dengan kapasitas seorang penonton. Jauh berbeda saat ia merilis film ini 6 tahun lalu dengan beban tersendiri sebagai produser dan pertarungannya dengan para “kurawa” di dunia nyata seperti FPI dan konflik antara FFI dan MFI. Film ini sendiri juga sempat kena cekal oleh World Hindu Youth Organization (WHYO) yang membuat film ini sulit diputar secara umum pada waktu itu. Dalam diskusi mini setelah screening, Dian yang sudah menjadi ibu dari dua orang anak dengan gaya berbicaranya yang penuh semangat menceritakan bagaimana ide film ini muncul setelah ia terlibat syuting film epik Putri Gunung Ledang garapan Malaysia dan merasa terbakar semangatnya untuk mengangkat cerita legenda Indonesia yang sebetulnya jauh lebih beragam. Dalam behind the scenes film ini yang juga ditayangkan kita bisa melihat bagaimana Dian 6 tahun lalu adalah gadis jurusan Filsafat yang sangat kritis dan dengan berapi-api mengajak para perempuan untuk berpikir cerdas dan membela diri mereka sendiri. Mungkin melihat dirinya yang dulu di video tersebut, Dian yang sekarang pun mengaku timbul semangat baru dalam dirinya. Ia membocorkan rencana merilis Drupadi dalam bentuk DVD dan dengan setengah bercanda menyampaikan harapannya untuk kembali menjadi produser. Bagaimanapun, dunia film adalah dunia yang membesarkan namanya, dan selalu ada tempat tersendiri bagi Dian di hati penikmat film Indonesia, entah sebagai aktris maupun produser.

Dilihat dari banyaknya review positif dan orang-orang yang menulis tentang film ini setelah menyaksikannya kemarin, Drupadi seolah bangkit kembali dari tidur panjang. Seperti api, ia berkobar kembali. Dan kita pun berharap, ambisi produser dalam diri Dian juga akan segera kembali terbakar.

Joie de Vivre! An Interview With Dian Sastrowardoyo

Dian X NYLON

Lama tak terdengar bukan berarti memudar, Dian Sastrowardoyo justru sedang berpijar menikmati hari-harinya kini. What’s the secret, D?

BILA BERBICARA TENTANG seorang Dian Sastro, saya rasa semua orang akan memiliki impresi tersendiri tentang sosok bernama lengkap Diandra Paramitha Sastrowardoyo tersebut, namun saya berani bertaruh jika mayoritas impresi tersebut akan terdengar positif. Kilas balik sejenak, rasanya tak perlu diceritakan lagi bagaimana nama Dian pertama kali dikenal sebagai model di usia 14 tahun sebelum kemudian mulai berkiprah di sinema lewat film indie Rudi Soedjarwo berjudul Bintang Jatuh yang dirilis tahun 2000. Walaupun tak pernah ditayangkan di bioskop, film itu menjadi cult tersendiri yang membuat film ini dicari orang sampai hari ini karena penasaran melihat debut akting Dian. Disusul oleh Pasir Berbisik, critically acclaimed movie garapan Nan Achnas yang memasang aktor-aktor sekaliber Christine Hakim, Didi Petet, dan Slamet Rahardjo sebagai lawan mainnya serta breakthrough role di Ada Apa Dengan Cinta? film remaja yang ikonik bagi generasi 2000-an dan disebut sebagai penanda bangkitnya perfilman Indonesia. Nama Dian dan Nicholas Saputra yang menjadi tokoh utama melesat sebagai aktris-aktor muda paling bersinar di era baru sinema Tanah Air. Dian pun seolah menjadi muse semua orang, secara konsisten Dian tampil di film karya sineas-sineas terbaik, di cover majalah-majalah prestisius, video klip dan ditunjuk sebagai brand ambassador produk-produk besar, yang dijalaninya sambil berkuliah di Jurusan Filsafat UI. Singkatnya, Dian ibarat paket komplet: ia cantik, profesional, cerdas, dan hebatnya, sangat down-to-earth dalam bersikap. Saya ingat saat menjadi mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Budaya UI, di angkatan saya ada kebanggaan tersendiri bila bisa berfoto bersama Dian di kampus. Walau Dian yang sering menjadi asisten dosen selalu datang ke kampus dengan dandanan kasual khas mahasiswi pada umumnya, perhatian orang akan tertuju padanya saat ia berjalan santai menuju kelas, baik dengan melirik secara terang-terangan ataupun seperti saya, yang berusaha stay cool saat berpapasan dengannya walau setengah mati menahan starstruck yang muncul. Fast forward tujuh tahun kemudian, tepatnya di suatu hari Jumat menuju akhir Juni lalu, saya bertemu lagi dengannya di sebuah studio foto daerah Kemang untuk pemotretan cover edisi ini. Ada semacam nervous tersendiri saat tahu saya yang mendapat tugas mewawancarai Dian, namun juga excited karena bisa mengobrol langsung tentang kabarnya kini setelah menikah dan memiliki seorang putra. Tepat jam 12 siang sesuai jadwal, Dian datang dengan mengenakan blus krem Topshop, jegging dan flat shoes Manolo Blahnik. Wajahnya polos tanpa riasan dengan rambut yang digelung ke atas. Setelah menyapa semua orang dengan ramah, dia menuju ruang hair & makeup dan terlihat tenang membaca buku berjudul The Magic sambil mulai dirias. Dengan luwes ia mengikuti arahan fotografer dan tak jarang berpose dengan inisiatif sendiri yang effortlessly cool, membuat photoshoot berjalan lancar dan menyenangkan. Selesai pemotretan, jarum jam telah menunjukkan pukul setengah lima, Dian lalu mengajak saya menemaninya ke sebuah salon langganannya untuk merapikan rambut sambil interview. Di dalam mobil, Dian mengaku masih kurang sehat karena tertular pilek dari Shailendra, anak pertamanya yang akan berusia satu tahun, saat pulang dari Prancis. Well, seperti yang kamu pasti sudah dengar, Dian baru-baru ini pergi ke Prancis untuk menghadiri Festival Film Cannes sebagai brand ambassador L’Oréal Paris. So, how was the red carpet? “Aku sebetulnya baru tahu kalau aku akan jalan di red carpet pas hari itu juga!” tukas Dian yang mengenakan gaun berwarna biru elektrik rancangan Eddy Betty untuk kesempatan itu. Didandani oleh beauty team papan atas seperti Billy B dan John Nollet, Dian terlihat tak kalah cantik saat berjalan bersama aktris-aktris dunia seperti Fan Bingbing, Gong Li, Freida Pinto dan Andie MacDowell. “Di situ aku yang paling tan. Well, anak-anak India kaya Freida dan Sonam Kapoor juga kulitnya tan sih, tapi mereka cuek-cuek aja dan keren. Andie MacDowell juga baik banget, dia nemenin aku jalan di red carpet dan ternyata aku yang tampilannya Indonesia banget ini justru diapresiasi positif, makanya rasanya aku mau bilang ke cewek-cewek Indonesia kalau kita nggak harus mutihin kulit atau bleach rambut biar dicap cantik.” Tandas Dian dengan semangat. Tak hanya merasakan sensasi berjalan di karpet merah festival fim paling bergengsi di dunia tersebut, Dian yang juga memakai rancangan Didit Hadiprasetyo dan Sebastian Gunawan selama di Cannes juga sempat membuat kehebohan di Twitter saat ia mengunggah fotonya bersama Robert Pattinson ketika menonton film Mud karya Jeff Nichols, walau ia mengaku kepada saya jika ia sebenarnya tidak terlalu nge-fans dengan RPatz. Selesai Cannes, ia tak langsung pulang dan menyempatkan diri menonton pertunjukan musik klasik di Paris bersama suaminya, Indraguna Sutowo, dan menonton konser Madonna di Turki. Dian Pembicaraan terhenti sejenak saat kami tiba di salon yang dituju dan diiringi bunyi gunting dan hair dryer, kami pun meneruskan obrolan yang kali ini menyoal life after marriage untuknya. “Yang berubah pasti prioritas, dan kewajiban sih lebih tepatnya. Sekarang kewajiban utamaku adalah ngurus keluarga, bukan mencari nafkah. Cuma di situ lah challenge buat cewek ambisius macam diriku ini muncul. Kalau udah terpenuhi segala kewajiban domestik, suami mengijinkan aku berkarier dan berkarya setinggi mungkin. Jadi itulah yang aku lakukan. Kalau dulu aku berkarier untuk ambisi jadi yang paling top, dan mencapai penghasilan yang paling besar, sekarang aku bisa berkarier untuk lebih mengikuti passion. Aku berkarier lebih yang sesuai passion aku, dan pencapaian-pencapaian yang ingin dicapai juga yang menurut passion aku. Bukan pembuktian eksternal semata,” ungkap Dian yang tahun ini telah memasuki usia kepala tiga. “Untungnya suami juga bukan orang yang terlalu mengatur, dia justru yang suka mendorong aku, ‘Ayo kapan dong kamu main film lagi’ padahal justru aku yang belum mau, karena berkomitmen dalam satu produksi kan kita harus ninggalin keluarga selama berbulan-bulan, buat aku rasanya masih belum kondusif untuk sekarang,” sambungnya. Does she always know someday she’s gonna be star? Dengan senyum lebar ia menjawab, “Hmm, no…tapi pengen!” ujarnya sambil tergelak dan menceritakan bagaimana saat kecil dulu ia sering joget di atas meja sambil mengikuti lagu-lagu Janet Jackson atau Michael Jackson.dan pengalamannya tampil pantomim seorang diri di atas panggung acara sekolah saat masih SD. “Sekarang ini aku justru lagi berusaha mewujudkan cita-cita masa kecil dulu, aku dulu pengen banget belajar balet, piano, tari tradisional… Sekarang tiap Senin dan Selasa pagi aku di rumah les piano klasik dari nol dan les piano pop n jazz. Dua kali seminggu aku pilates.” Ungkap Dian. Walau mengaku dulu ia sempat mengalami fase ugly duckling saat beranjak remaja, Dian nyatanya tumbuh besar sebagai ikon kecantikan Indonesia, namun bagaimana Dian melihat konsep kecantikan itu sendiri? Entah sedang berpikir atau sengaja membiarkan dengungan hair dryer berlalu, sesaat ia terbungkam sebelum menjawab, “Aku memandang kecantikan itu sebagai persepsi yang bisa dibangun oleh siapa saja dan bebas diinterpretasikan seperti apapun. Contohnya lewat skripsi aku, kesimpulan aku adalah: kalau kita perlu mendefinisikan persepsi kecantikan secara mandiri dan jangan mau didikte orang lain mengenai hal itu, tentunya berangkat dari notion bahwa kita ini masing-masing cantik. Dari situ akan tumbuh cara pikir dan kepercayaan diri yang otomatis akan membentuk pribadi kita lebih menarik, dan jadilah kita cantik di mata orang lain. Eventually, kalau pun nggak, ya yang penting kita udah cantik di mata kita sendiri, ya kan? Hehe,” tandasnya sambil tersenyum, sebelum mengimbuhkan, “makanya yang bikin aku bersedia menjadi ambassador L’Oréal  salah satunya adalah slogan ‘Because I’m worth it‘ mereka yang kemudian berkembang menjadi ‘Because we’re worth it’, aku suka banget karena slogan itu mengembalikan kebebasan itu kepada sang perempuan lagi. Sebelum iklan L’Oréal  itu ada, sebelumnya iklan produk kecantikan selalu menceritakan bahwa perempuan baru dinyatakan cantik kalau ada approval dari pihak luar, terutama pujian dari suami atau pacar. Sementara slogan L’Oréal  menekankan bahwa kita sendiri perempuan perlu mandiri mengatakan kita boleh merasa cantik, kenapa? Karena kita begitu berharga. Sebelum iklan L’Oréal , iklan-iklan kecantikan biasanya voice over-nya laki-laki, itu loh suara narator yang biasanya berkesan authoritative seperti zamannya serial Mad Men. Tapi L’Oréal  lah yang pada tahun 1972 pertama kali membuat iklan kecantikan voice over-nya itu perempuannya sendiri. How empowering, right?” Tanpa terkesan sedang ‘berjualan’, Dian melanjutkan ceritanya dengan semangat, “Aku rasa slogan ‘Because we’re worth it’ itu khususnya di Indonesia, adalah pesan yang sangat powerful, yang sangat sangat perlu disampaikan kepada perempuan Indonesia. Pesan ini sarat makna… Dimulai dari kemandirian untuk mengkonsumsi hingga semangat kesetaraan gender. Benar-benar antithesis dari skripsi aku dulu banget!” ujar wanita bergelar Sarjana Humaniora ini. Sebetulnya, tak perlu menjadi brand ambassador produk kecantikan pun, industri kecantikan adalah topik yang dikuasai betul oleh Dian, bagaimana tidak? Dia membahas industri kecantikan dari sudut pandang postmodernismedalam skripsinya yang berjudul Beauty Industrial Complex: Sebuah Analisis Sosial Filsafat, yang diganjar nilai A oleh para dosen penguji. “Skripsi aku tentang kritik sosio-filosofis terhadap dunia industri kecantikan. Bagaimana industri ini sangat bergantung pada persepsi kecantikan, dan roda bisnis berputar dengan cara mengeksploitasi persepsi itu. Teori feminisme tradisional kerap mengecam industri ini telah menjadikan perempuan sebagai objeknya, dan mengeksploitasi daya beli perempuan sebagai konsumen. Dunia advertising dan brand development pun bekerja sama dalam melakukan hak ini. Namun lewat skripsi aku, argumentasi ini aku bawa ke tingkat yang lebih lanjut di mana di zaman yang lebih ‘kini’ teori pemikiran yang perlu digunakan adalah postmodernisme, di mana saat postmo ‘berselingkuh’ dengan feminisme, lahirlah postfeminisme. Dalam postfeminisme: perempuan diberikan kebebasan intelektual untuk memahami dirinya: di mana perempuan tidak melulu satu dimensional saja, contoh dimensi fisik, perempuan diperbolehkan untuk menyadari dan memahami bahwa dirinya adalah entitas dengan multi dimensi… ya intelektualitas, spiritual, professional dan lain-lain. Dengan menggunakan kacamata postfeminisme ini, premis yang mengatakan bahwa perempuan dieksploitasi oleh industri kecantikan itu menjadi premis yang prematur. Karena pada saat yang sama, yang telah dieksploitasi oleh industri barangkali cuma salah satu atau salah dua dari berbagai dimensi dari seorang perempuan. Sehingga jangan-jangan kita perlu curiga: bahwa mungkin saja justru kaum perempuan lah yang menunggangi industri kecantikan itu sendiri. Jadi kita harus kritis: siapa yang mengeksploitasi siapa. Kalau tante Madonna, Lady Gaga, Beyonce pake baju seksi jangan buru-buru kita lihat sebagai objek, jangan-jangan tanpa disadari kita lah sebagai konsumen mereka yang sedang dieksploitasi daya belinya oleh mereka.” Tukas Dian dengan ekspresi sungguh-sungguh, membuat saya sejenak seperti terlempar ke kelas filsafat dadakan. Dian_2 Well, pembicaraan soal beauty dan filsafat di sebuah salon memang cukup membuat kening berkerut walau membuka persepsi baru bagi saya. Untuk meringankan topik sore hari yang agak mendung itu, saya menanyakan beberapa trivial questions seperti cast AADC? yang masih sering ia jumpai (Adinia Wirasti dan Nicholas Saputra), TV series kesukaannya (Glee dan How I Met Your Mother), juga musik yang ia sedang dengarkan, yang dijawabnya dengan memperlihatkan iPod berisi banyak komposisi musik klasik dan lagu-lagu Glee, sambil berkata, “Kalau passion, justru akting dan film itu datang belakangan, musik selalu menjadi passion pertamaku, makanya aku ikut les piano, hehe,” Saya lalu memberitahunya tentang Ladya Cheryl, salah satu sahabatnya di film AADC?, yang kini serius menjadi bassist untuk band Zeke Khaseli, Dian menceritakan dulu ia sempat ngeband bersama temannya, Nasta Sutardjo, bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu New Young Pony Club. Saya pun teringat tentang buku yang dibacanya saat sedang dirias, The Magic yang merupakan lanjutan dari buku self-help laris The Secret. Seorang Dian masih membaca buku self-help? Pikir saya, pasti ada yang sesuatu yang menarik dibaliknya. “The Magic aku baca setelah The Power. Aku tau buku ini dari teman aku Shirley Muhiddin. Teman aku yang baiiiik banget! Dan dia bisa begitu karena she is soooo happy and fullfilled. Aku belajar banyak dari dia… She changed my lifeAt least she changed the way I see life. Buku itu dan Sherly bikin aku jadi orang yang sangat bersyukur atas segala aspek hidup aku, dan atas segala hal-hal kecil yang sebelumnya I took for granted. And you know what? That attitude has changed my life! Aku jadi tambah happy, dan positive thinking… Alhamdulillah dapet small and even huge miracles in life! Hahaha!” ungkap Dian dengan mata berbinar. Jujur saja, saya termasuk orang yang skeptis dengan buku-buku semacam The Secret tersebut, namun melihat sosok Dian yang menceritakan kekagumannya pada buku itu dengan begitu semangat, mau tak mau saya berpikir jika rasa gratefulness yang ia pancarkan memang tidak main-main. “Life and the universe is so loving and so giving… So you should too! Aku sekarang suka nulis hal-hal kecil yang aku syukuri setiap harinya, and it really works to keep you positive!” Misalnya, lo jangan nunggu dapet uang dulu baru bisa seneng, harusnya lo seneng dulu, baru kemudian rezeki pasti datang sendirinya,” pesan Dian. Karena keasikan ngobrol, saya hampir tak menyadari jika rambut Dian telah selesai di-treat, kini rambut panjangnya yang telah dipotong 10 cm tampak lebih ber-volume membingkai wajahnya yang ayu. Saya menuntaskan interview ini dengan bertanya harapannya kini. “Harapan aku sekarang adalah untuk bisa balance dalam menjadi ibu dan istri yang baik, punya keluarga yang bahagia tapi juga tetap accomplish a log of things in terms of my career and passion. Bukan semata buat membuktikan sesuatu, tapi untuk ‘keep the fire burning inside’ I guess. Aku rasa to have passion or to have some fire inside is very important. Kalau nggak aku jadi nggak ngerasa ‘cantik’ lagi. Haha… Sebenarnya fire atau passion is something very contagious, aku ingin anakku nanti tumbuh jadi orang yang passionate, dan aku juga pengen suami terus menerus jadi orang yang passionate in whatever he does, karena menurutku that’s what makes him very attractive!” Jawab Dianyang merasa bersyukur mendapat suami yang sama-sama adventurous saat berpergian ke negara-negara yang kuat akan pesona budaya (next destination is South Korea and Vietnam). Saat beranjak ke meja kasir untuk membayar, ia memperlihatkan dompetnya yang di dalamnya terdapat selembar uang lima ribuan yang direkatkan dengan selotip dan bertuliskan kalimat “Thank you for all the money I’ve been given throughout my life” satu lagi kalimat positif yang menjadi mantra penyemangat harinya kini, selain sesi me time favoritnya di kamar mandi, sekadar untuk membaca majalah dan menulis inspirasi. Sebelumnya, saya sudah terbayang jika interview bersama Dian, for better or worse, akan mengubah pandangan pribadi saya kepadanya, namun sikap Dian yang begitu terbuka, tanpa kesan jaga image sama sekali dan memperlakukan interviewer seperti teman, jauh melebihi ekspektasi saya. Semangatnya yang meletup-letup dalam menjalani hidup begitu contagious dan siapa sangka menghabiskan satu jam di salon ternyata bisa mendapat banyak sekali pembelajaran dan inspirasi baru? C’est la vie!

As published in NYLON Indonesia July 2012

Photography Glenn Prasetya Senior Fashion & Beauty Editor Anindya Devi Beauty Editor Tiara Puspita Make up & Hairdo Adi Adrian & Team V&E Leone Stave Agustino