Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

Advertisements

On The Records: Jonathan Kusuma

Lewat berbagai project yang ia geluti, Jonathan Kusuma berusaha menghidupkan denyut lain dari skena musik Jakarta yang terluput oleh orang banyak.

Tanpa adanya plang bertuliskan Rossi Musik, mungkin orang akan sedikit kesulitan saat mencari gedung di Jalan Fatmawati Raya nomor 30 tersebut. Hanya dinding penuh graffiti dan serakan gig flyers di parkiran yang meyakinkanmu jika kamu telah sampai di Rossi Musik, salah satu hot spot bagi skena musik underground Jakarta beberapa tahun terakhir ini. Dari luar, bangunan ruko tersebut tampak sunyi, padahal di dalamnya bercokol sekolah musik, studio rekaman, dan venue musik yang sering dipakai untuk gig berbagai macam genre; mulai dari metal, grunge, hardcore, hingga elektronik dari band-band domestik maupun luar negeri. Seiring waktu, Rossi Musik pun berkembang menjadi salah satu simpul budaya musik sidestream ibukota dan melahirkan satu skena musik tersendiri yang terdiri dari para musisi eksperimentalis dengan warna musik yang berbeda. Menaiki sebuah elevator tua yang berderit cukup mengkhawatirkan, saya sampai di lantai 3 gedung tersebut untuk menemui Jonathan Kusuma yang merupakan salah satu tokoh kunci di skena yang sedang berkembang ini.

Biasa dipanggil Ojon, pria kelahiran Jakarta 13 Juli 1983 tersebut adalah seorang komposer, multi-instrumentalis, DJ, dan desainer grafis yang dikenal sebagai separuh nyawa dari Space System, sebuah duo electronic garda depan yang ia bentuk bersama rekannya Aryo Adhianto. Tak berhenti dengan membuat musik di Space System maupun solo project atas namanya sendiri, passion musikalnya juga diwujudkan dengan menjadi co-founder dari Space Records, sebuah label independen yang menampung musisi cutting edge lokal dari berbagai genre, serta Akamady Online Music Store yang bisa dibilang online record store pertama di Jakarta. Di ruang kantornya yang dipenuhi tumpukan plat,saya pun berbincang tentang bagaimana ia memandang project yang ia tekuni dan kaitannya dengan skena musik Jakarta saat ini.

Boleh cerita dari kapan mulai terjun ke musik? Dan kenapa memilih elektronik?
Dari SD sebetulnya udah mulai ngeband, tapi baru nyadar kalau ini yang pengen gue lakukan baru sekitar 7 tahun terakhir. Kalau akhirnya mulai bikin musik elektronik, dulu waktu SMP gue pernah dipinjemin alat namanya Groovebox sama temen gue. Tapi waktu itu belum ngerti kalau ini musik elektronik atau apa, masih buyar lah, belum paham klasifikasi musik. Baru beneran mulai pas ketemu partner gue di Space System sekarang, Aryo. Dia yang paling banyak ngajarin gue musik. Kenapa elektronik, soalnya gue lahir di zaman yang apa aja yang lo temuin di kehidupan sehari-hari itu berhubungan sama elektronik. Lo bisa bikin suara pake handphone atau apalah. Jadi kebetulan aja gue besarnya di abad segini dan rasanya cocok.

So, which came first: Space System or Space Records?
Space System. Jadi Space Rec itu awalnya ada untuk merilis materi Space System, sesimpel itu. Kita waktu itu bertiga, yaitu gue, Aryo, sama sahabat SMA gue namanya Pattra Pangestu, dia yang jadi manajer Space System sekarang dan running Space Rec secara total. Dari yang awalnya untuk merilis Space System aja, terus Space Rec jadi nyari teman-temannya Space System yang lagunya mirip dan berpotensi. Awal-awal yang gabung juga teman-teman kita sendiri kaya Voyagers of Icarie atau Svarghi yang kebetulan roommate-nya Aryo di Bandung. Abis itu ada Curah Melodia Mandiri alias Abim, dia kebetulan yang mengelola gedung ini (Rossi-red). Kita ketemu Abim karena dikenalin Gerhan Ferdinal yang studionya di sebelah kita. Gerhan yang bikin Akamady juga.

Apa misi utama dari Space Rec?
Awalnya cuma buat rilis lagu-lagu lokal dan untuk bisa wadah atau inspirasi. Kalau misi utamanya, bukan klise ya, tapi sejujurnya pengen majuin musik Indonesia. Mungkin emang susah banget, tapi harus ada yang mulai.

Banyak yang bilang kalau musik-musik Space Rec cenderung eksperimental dan susah dimengerti orang awam.
Itu susah menjelaskannya sih kenapa kita milih musik-musik ini, gue pribadi masih susah merumuskannya. Kadang kalau dari struktur lagunya sih agak nggak mirip, tapi ada satu benang merah dan rasa connect yang susah dijelasin sama kata-kata. Kalau dibilang eksperimental, bermusik itu sendiri menurut gue udah bereksperimen. Yang paling menjelaskan mungkin ada karakteristik dari musisi-musisinya, maksudnya sikap mereka sebagai musisi itu gimana, itu yang biasanya jadi penilaian. Jadi dia beneran serius di musik nggak atau ngeliat musik kaya apa, lebih ke situ sih kaitannya. Gue sering nemu orang sini bikin musik bagus di Soundcloud atau apa tapi ya udah gitu aja. Nggak ada pertanggungjawaban dia atas karyanya. Dirilis kek, reply ke orang kek, kasih ke record label gitu, haha. Jadi kurang konsisten sih. Tapi emang susah, balik lagi bermusik di Jakarta saat ini susah, apalagi bermusik tanpa mau dengerin kata publik.

Records

Menurut lo sendiri, gimana sih scene musik Jakarta sekarang?
Bisa dibilang banyak sih. Banyak yang bikin ini itu tapi kurangnya menurut gue masih kurang bergabung, itu klise juga, tapi kaya ada semacam barrier yang misahin scene A, B, dan C. Kurang integrated, soalnya kalau dilihat masing-masing scene sama-sama berpotensi cuma kaya nggak gabung aja. Kita jadi nggak bisa saling introspeksi atau kasih feedback di musik. Orang luar negeri juga akan mengenali music scene Jakarta kalau rame-rame. Kalau kecil gitu nggak akan dibilang scene. Makanya harus join, bedanya itu. Kalau orang luar kan kaya integrated gitu ya musik, art, visual, dance, semua jadi satu. Makanya penyebaran dan promosinya bisa booming.

Bagaimana dengan tanggapan kalau Rossi Musik dan Space Record disebut sebagai bikin scene sendiri?
Itu kebetulan terjadinya gitu, kita nggak merencanakan apa-apa. Kaya gue sama Gerhan kenalannya waktu manggung bareng. Gue suka banget lagu-lagunya dia dan ngajak kenalan. Kebetulan kita orangnya sama-sama bisa dibilang ansos, jadi scene-nya sebenarnya kita-kita aja, tapi kalau misalnya ada yang wah kayanya orangnya bisa diajak ngobrol nih, kita terbuka-terbuka aja. Kita pengennya juga terbuka. Kalau mungkin kita keliatannya tertutup, kita nggak bermaksud gitu. Kita tetap pengen saling interaksi.

Okay moving on, boleh cerita soal Akamady?
Akamady inisiasinya dari Gerhan. Dia sebenarnya DJ yang lama di San Francisco. Pas dia di sana, scene dance-nya SF lagi booming banget, ketika pulang dia bawa culture record collecting yang di sini saat itu gue sama Aryo kalau nyari lagu itu kayanya susah banget. Kita suka dengerin mixtape orang yang lagunya bagus-bagus banget, sampai hafal lagunya tapi nggak ada yang tau itu lagu apa. Gerhan dateng, dia sharing tentang musik, bawa plat dan akhirnya pengen buka record store. Awalnya seperti itu, tapi kita nggak mau kalau musik terbatas harus plat. Mulai dari CD, kaset, atau lo burn CD di rumah terus dihargain berapa, itu bisa kita jual. Sampai alat musik, kabel, dan kebetulan tahun ini kita baru rilis record-nya Gerhan. Jadi Akamady akhirnya punya sub sendiri, Akamady Records yang tahun ini dijadwalin sekitar 5 rilisan, plat semua.

Jadi apa bedanya antara musik yang dirilis Space Rec dan Akamady Records?
Bedanya? Kalau yang gue liat secara pribadi, kalau Space Rec musiknya lebih serius, dalam arti ada karakteristik eksperimentalnya dan pendalaman teknis atau yang komposisinya lebih nggak biasa. Kalau Akamady gue liat komposisinya lebih 4/4 atau lagu-lagu yang dance. Kita kantornya juga barengan, jadi bisa saling interact. Misal Space Rec ada artis yang kira-kira cocok buat Akamady, kita bisa kasih referensi atau sebaliknya. Jadi udah punya perannya masing-masing. Menurut gue perlu lebih banyak record label yang saling integrated.

Akamady

Menurut lo masih penting nggak sih bentuk fisik album di era digital sekarang?
Penting tapi nggak harus. Penting dalam arti kadang musik yang berbentuk itu lebih ada rasanya. Kalau gue nge-DJ, gue lebih suka masukin CD karena gue bisa lebih hafal lagunya, gue jadi lebih bisa mendekatkan diri ke materi lagunya.

Bagaimana Akamady melihat kultur record collecting lokal?
Menurut gue masih terpaku vinyl. Bukan collecting music tapi lebih ke collecting records. Kalau gue lebih setuju collecting music, mau bentuknya kaset atau CD. Yang paling penting kan musiknya, bukan cover atau bukan vinyl-nya. Scene di sini jujur masih vinyl-oriented banget terus gue sering overheard kaya ada kesan kalau musik digital itu jelek. Gue setuju kalau musik digital yang pembajakan, itu memang nggak bagus tapi kalau buat orang yang emang beli musiknya di iTunes gimana? In the end, it’s about the music itself.

Apa tantangannya dengan memutuskan jualan record secara online?
Itu sampai sekarang masih perlu strategi sih. Kultur ini kan dari dulu udah ada aturannya kalau kita dateng ke record shop, liat-liat cover, cobain, terus ngobrol sama penjaganya, dapet rekomendasi. Itu yang masih susah karena kita nggak bisa kasih pengalaman itu secara digital, lewat internet apalagi. Susah banget ngajak orang buat digging music secara digital tapi untuk vinyl. Itu aja udah aneh karena udah ganti media berapa kali. Sekarang strategi kita dari Facebook page-nya kita coba post video tentang kulturnya. Kalau ada artikel tentang electronic kita share atau kalau kebetulan kita ada rilisan Kraftwerk misalnya, kita kasih brief sejarahnya Kraftwerk. Sebagai proses pembelajaran di musik juga.

Last, apa harapan lo untuk skena musik Jakarta?
Harapan gue music scene Jakarta selain maju, gue pengen kita punya karakter Indonesia. Karakter itu nggak harus batik atau wayang atau gamelan lah, itu bisa aja hanya simbol. Karakter Indonesia dalam arti sifat Indonesia yang sekarang, kaya budaya gotong-royong atau kesopanannya, karakter seperti itu yang udah di-translate ke art & music. Kita maju tapi tetap dengan karakter Indonesia. Jangan kita maju tapi cuma minjem karakter Barat. Kalau gitu kan jadi cuma copycat.

https://soundcloud.com/jonathan-kusuma

Foto oleh: Sanko Yannarotama

As published in Nylon Indonesia March 2014

Space. Recommended
Sejak dibentuk tahun 2006 silam, Space Records telah menjadi rumah bagi musisi-musisi seminal dalam negeri dari berbagai genre dengan karakter distinctive. Berikut adalah beberapa di antaranya:

pantai

Curah Melodia Mandiri
Curah Melodia Mandiri (CMM) adalah solo project dari Syafwin R. Bajumi yang menghasilkan bebunyian elektronik tidak biasa dengan instrumen utama sebuah Gameboy dan Nanoloop 1.3. Ia menjelaskan musik Chiptune yang ia ramu sebagai bunyi sintetis lo-fi berpadu dengan idenya akan musik tradisional kontemporer. Lewat beberapa rilisan seperti Pantai EP dan album debut Mashed yang kental akan elemen musik tradisional lokal, CMM merumuskan cetak biru dari musik Chiptune rasa Indonesia.

Duck Dive

Duck Dive
Bagi Muhammad Fahri alias Gonzo yang membuat musik dengan nama Duck Dive, kecintaannya pada bunyi lautan dan misteri di dalamnya menjadi inspirasi terbesar dalam musik ambient/electronic yang ia buat. Album debut yang dirilis tahun 2007 bertajuk Inner Projections yang berisi deburan repetitif melodi dan influens dari era awal munculnya genre electronic mengajak kita menyelami musik elektronik sebagai sebuah sesi eksperimen suara dan nalar.

https://soundcloud.com/duck-dive

SPACE SYSTEM
Space System
Merefleksikan diversitas budaya yang membentuk Jakarta hari ini, Space System menggabungkan berbagai elemen dan genre musik seperti electronic, jazz, krautrock, dance, psychedelic, hingga Gamelan menjadi racikan eklektik dari musik yang mereka sajikan. Terbentuk dari tahun 2005, Space System yang dibentuk oleh Aryo Adhianto dan Jonathan Kusuma yang pada perkembangannya turut diperkuat oleh Erlangga Utama dan Gerinov Medaimanto berhasil menempatkan nama Jakarta di peta musik dunia.

https://soundcloud.com/spacesystem

Suarasama

Suarasama
Diprakarsai oleh Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu yang keduanya merupakan dosen Etnomusikologi di Universitas Sumatra Utara, Suarasama merupakan kolektif musisi yang menghasilkan musik kontemporer dengan pendekatan world music serta elemen dari musik tradisional Sumatra Utara. Album Timeline yang dirilis tahun 2013 lalu adalah perayaan ulang tahun ke-18 mereka sekaligus bab baru dalam pembelajaran musik Indonesia.

http://www.last.fm/music/Suarasama

Komodo

Komodo
KOMODO merupakan dub disco house project dari Gerhan Ferdinal, seorang DJ Jakarta yang menyerap influens dari pergerakan kultur dance San Francisco di tahun 90-an. Telah mulai menjadi DJ di program Reggae Revolution di klub legendaris Jakarta bernama Parc, menjadi awak Quirk It! Sound System, hingga saat ini membentuk Akamady Online Music Store, Gerhan tak berhenti memajukan skena musik elektronik Jakarta.

https://soundcloud.com/space-rec/komodo-music-akamady

Mixtape: Akira as Astronaughty

Sebetulnya tentu saja Akira as Astronaughty bukanlah astronot betulan, ia adalah electronic solo project dari seorang beatmaker, radio announcer, dan penyanyi bernama Dmust Akira yang memilih nama Akira As Astronaughty karena ketertarikannya pada bintang dan luar angkasa. Project yang dimulai tahun 2008 ini telah merilis satu album berjudul Attracted To The Light berisi lagu-lagu electronic dengan influens Justice, Daft Punk dan Knife Party. Dmust yang sering dinominasikan di electronic music awards dalam negeri ini juga kerap me-remix dan memproduseri musisi lain, mulai dari Goodnight Electric, Sandhy Sondoro, Jimi Multhazam sampai Harvey Malaihollo, “Hmm, sebenarnya gue suka dan tertarik nge-remix lagu itu karena memang awalnya penasaran, kalau gue tweak sedikit jadinya seperti apa ya? Jadi gue coba dan cuma mau bikin sedikit beda aja dari versi aslinya. Yang next rencananya sih lagunya Aditya yang ‘Go Away’,” ungkap cowok kelahiran Jakarta 14 Maret 1983 ini. Dari sekian banyak gig yang telah ia lakukan, termasuk menjadi opening act untuk konser Sean Kingston dan Far East Movement, mana yang paling berkesan? “Event paling memorable pastinya masih di Silent Disco, gue main di sana dan setelah gue buka headphones, asli nggak ada suara apa-apa di luar, mereka dance dari bunyi headphone yang mereka pakai, itu sangat unik banget, susah dijelasin sama kata-kata, harus coba sendiri! Hehe,” jawabnya. Sambil menunggu rilisan selanjutnya berupa EP berjudul Double Dare bersama DJ Echa, bulan ini ia meluncurkan single “You Don’t Know Me” via label barunya bernama Audio Expressions dan membuat mixtape bertema space traveling.

Velvetine – The Great Divide (Seven Lions Remix)

No gravity, just floating around, but watch out for the meteors. Love this!

Zedd – Spectrum

If I’m an astronaut, gue akan pasang lagu ini di soundsystem rocket ship gue waktu take off. Well, itu pun kalau ada soundsystem di rocket ship. Prepare to take off with this track!

Labrinth – Last Time (Knife Party Remix)

Star Trek menurut gue terlalu geeky, coba ganti soundtrack-nya deh pakai lagu ini, mungkin akan lebih keren? Hmm…

Caspa & Mr Hudson – Love Never Dies

Lagu ini bisa bikin lo mengkhayal santai, seperti lagi melayang tanpa gravitasi.

Datsik & Kill The Noise – Lightspeed

Jump into light speed with this tune, that’s what we’re gonna do.

Knife Party – Destroy Them With Lazers

Kalau gue lagi space travelling dan terdampar di planet lain, kebetulan di planet itu ada alien, mungkin gue akan pasang lagu ini di headphone and Destroy Them With Lazers!

Daft Punk – Digital Love

This track and the video is perfection of space electronic.

    

Justice – Audio Video Disco

Genius!

Sigma feat. Ikay Foxrox & Geetox – Night & Day

Time to rush back to earth, let’s jump. Suka banget lagu ini since the first time I hear it, never get bored.

Rusko – Hold On (Sub Focus Remix)

Epic track! We safely landed on earth.

https://soundcloud.com/akiraasastronaughty

On The Records: Hazen Mardial

Bicara tentang dubstep, tidak usah jauh-jauh membahas Skrillex atau album baru Muse yang terinfluens genre asal Inggris ini, karena nyatanya Indonesia pun memiliki pengusung dubstep keren tersendiri yang salah satunya adalah Hazen Mardial, seorang beatmaker/producer Electronic Dance Music (EDM) asal Jakarta. Mardial yang awalnya tergabung sebagai vokalis di band modern rock bernama Tales Of Science mulai aktif di forum EDM Indonesia, khususnya Ableton Indo yang bermarkas di Kaskus, saat band tersebut bubar. Dia yang memang sudah tertarik membuat musik elektronik sejak SMA akhirnya mulai memproduksi track sendiri dari kamarnya, yang disebutnya sebagai JKT Bass. Dengan influens meliputi Radiohead yang diakuinya sebagai band favoritnya sepanjang masa, DJ dari Circus Records UK, dan producer dalam negeri seperti Bima G, DTX, Billy Kurniadi, Gizky Hary, musik racikan Mardial mulai dikenal publik, terutama berkat single “Yosohot” yang tergabung dalam album kompilasi Ableton Live Indonesia dan hasil remix-nya untuk Homogenic, C’mon Lennon, Yacko dan banyak lagi.

Hi Mardial! Boleh cerita sedikit tentang diri lo dan apa yang lo kerjakan?

Kalau ditanya gue siapa, gue mahasiswa tingkat akhir, pecandu musik, electronic music producer, aktivis Ableton Indonesia (digital audio workstation/software). Kalau ditanya sekarang gue lagi ngerjain apa,  gue lagi merampungkan beberapa Album EP (digital release) dan performing gigs to gigs. Dan tentunya sedang ingin menyelesaikan kuliah.

Dari sekian banyak cabang electro, kenapa memilih konsen di dubstep?

Jujur gue belum lama mengenal musik ini, gue dengerin berbagai macam musik dan di dubstep ini gue temuin sebuah unsur yang menurut gue bisa mewakili sedikit musikalitas gue yang boleh dibilang memberontak, yang gue bicarakan di sini adalah musik dubstep era 2009 ke atas di mana segala macam unsur EDM mulai bertubrukan secara liar namun tetap kreatif dan enjoyable. Intinya gue sangat suka bereksperimen dengan berbagai macam unsur genre, dan di dubstep ini yang menurut gue tepat buat menyalurkan ide-ide liar gue. Mohon maaf buat pionir dubstep atas kelancangan gue.

Band/album musik apa saja yang paling berpengaruh dalam karier bermusikmu?

Kalau lo tanya ke temen-temen dekat gue, mereka pasti akan menjawab Radiohead. Memang tidak ada hubungannya dengan musik yang gue mainkan, tapi menurut gue Thom Yorke dan kawan-kawan adalah sebuah icon pemberontakan pengotak-kotakkan musik. Dan OK Computer tetap menjadi album Radiohead terbaik sepanjang masa versi gue (They used electronic music too). Kebanyakan gue suka sama band-band Indie seperti The Drums, Vampire Weekend, The Strokes. Gue juga tumbuh dengan musik-musik cadas seperti kebanyakan anak muda Ibu Kota lainnya dan gue juga suka banget sama band lokal Efek Rumah Kaca, The Upstairs, WSATCC, Zeke and the Popo, Homogenic, Seringai dan banyak sekali. Buat dubstep sendiri influence utama gue adalah DJ/producer keluaran Circus Records UK seperti Doctor P, Roksonix, dll. Gue juga dapet banyak pengaruh dari 16bit, Rusko, Caspa, Skream, Dream, Culprate,  Nero,  Delta Heavy, Savant, dan masih banyak lagi

Boleh cerita tentang JKT Bass yang lo usung? 

Hahaha.. JKT Bass adalah sebuah parodi, awal penggunaan kata JKT Bass adalah di saat gue tidak mau menyinggung scene Dubstep yang sudah ada atas karya-karya gue yang sedikit melenceng dari dubstep itu sendiri, mungkin orang mengenal JKT Bass dari label genre di Soundcloud.com/mardial dan gue gak nyangka banyak juga temen-temen producer yang menggunakan label “JKT Bass”.  intinya kalau di UK ada “UK Bass” di Jakarta gue juga pengen ada “JKT Bass” mungkin habis ini gue bakal dicaci sama “Music Genre Police”.

Brazil punya favela, Inggris punya dub yang sifatnya lebih merakyat, tapi kalau di Indonesia, gue melihat kultur musik elektronik sendiri masih milik kalangan menengah ke atas, kalau dilihat dari DJ school yang mahal, charge di club/event yang mahal (dan dresscode overdressed yang sucks), gue pikir sudah seharusnya musik electronic bisa lebih merakyat, kalau menurut lo sendiri gimana?

That’s the point! Kalau lo pecinta musik seharusnya lo datang buat musik, bukan cuma buat gaya-gayaan dengan high heels. Gue punya banyak banget temen yang memang cinta sama musik dan bagusnya di scene Bass Music (Drum and Bass, Dubstep, Dub, Grime, etc) kulturnya memang lebih merakyat dan yang masih menjadi penghalang adalah Club/venue Policy itu sendiri.  Club/Venue jelas mencari pendapatan dan mereka pastinya punya kebijakan agar crowd-nya tidak kebablasan dan dandan seenaknya, jadinya untuk di Indonesia venue harus bisa lebih paham bahwa Electronic Music bukan cuma gemerlap malam dan keglamoran. Namun ada juga scene lain yang lebih “apa adanya”. Big ups for Indonesian Bass Music Label/EO  yang sampai sekarang masih menerapkan event yang tidak menuntut crowd-nya macam-macam.

Siapa beatmaker/DJ/Producer Indonesia idola lo dan kenapa? Skill apa aja yang penting untuk jadi seorang beatmaker?

Di Indonesia banyak sekali producer yang menginspirasi gue seperti Bima G, DTX, Billy Kurniadi, Gizky Hary dll. Bicara soal skill yang sangat dibutuhkan oleh beatmaker/producer adalah musikalitas itu sendiri, perbanyak referensi, dan jangan pernah berhenti untuk belajar. Yang gue perhatikan saat ini banyak sekali producer muda berbakat yang lebih mementingkan teknik ketimbang musikalitas, sedangkan menurut gue setinggi apapun skill producing kita, kalau kita tidak bisa membuat nada yang catchy akan sia-sia, mungkin secara batin producer tersebut akan puas, namun pendengar akan malas untuk mendengarkan karya kita lagi apabila lagu tersebut bersifat egois. Jujur gue bukan pribadi yang idealis, gue lebih dinamis dan sangat menerima masukan. Because life is learning.

https://soundcloud.com/mardial

On The Records: Porter Robinson

At the Djakarta Warehouse Project 2012 few weeks ago, I got a chance to interviewing one of the main lineups of that Jakarta’s massive dance festival, Porter Robinson. This 20-year-old beatmaker from Chapel Hill, North Carolina gradually rises to the prominence on Summer 2011 with his killer electro anthems like “Language”, “Spitfire”, and “Unison.” Had been getting recognition and playing alongside top DJs like Tiesto, Armin Van Bureen, Skrillex and Deadmau5 all over the world, this boy genius told me about his music and the crazy journey so far.

So it is the first time you come to Indonesia?

Second, I was in Bali last week, but really I think it’s still my first time.

How was your impression so far about Jakarta?

I haven’t really doing anything, the traffic is crazy, but the hotel is really nice, it’s beautiful. So yeah it’s really good day for me  It’s been great.

Okay, would you mind to tell me a bit about your music? How would you describe it?

Yeah, I do like electro, dance music… hmm… It’s weird, it’s always weird to talk about your own music. My DJ set is kinda high energy, very fast mixing, I play more songs pretty quickly. It’s fun and challenging. I wanna do something unique and so energetic.

Who were your musical influences when you start to make your own music?

Wolfgang Gartner would be number one artist that really influence me. His music is very detailed, very intricate, and it sounds really difficult to make. For me that’s really inspiring, you can tell how hard he’s working on his music. When I first started, there’s also Deadmau5, but today its kinda changing, I’m still love them but today the music I love the most is music that has some kind of beauty, being gorgeous and makes you feels some goosebumps. Like Sigur Ros, Stars, a lot of soundtracks for movies or TV shows.. I wish I could show you my iPod, haha.

Talk about electronic music, how do you think its evolved until now?

Hmm, actually I’m always been secluded. I came from small country town in United States, there’s no clubs, there’s no DJs. I was never really being a part of the electronic music scene, I’m just follow the music that feel most inspirational for me. Few years ago that music happens to be electro, like Wolfgang Gartner and Deadmau5. I didn’t grew up going to clubs, I didn’t really grew up strictly listening to electro legends, like classic dance stuff or house music, I’m not the best person to tell you how it change, but I think it’s in healthy stage right now and I just hope in the next few years producing music will be more challenging, more interesting, I wanna see the scene to take more risk.

So what is your aim for electro music itself?

Uhm, to be honest of course in the next year I wanna write music that exciting and fun to listen to but at the same time I want people to feel emotions. I think my biggest song is “Language” which I wrote late last year and the biggest compliment I ever get is when fans says their crying during that song. I wanna make people feel that way. I think its more challenging than making people dance and go crazy. I’m writing an album right now that focus on emotion and beauty, goosebumps and chills, haha.

Will you collaborating with someone?

Yeah, I have a lot of collaborations coming up but I don’t want to announce it until its come out because sometimes people…they don’t wanna do it and when you looking back, you announce the collaboration but it didn’t happen… so I’m just gonna say wait and see, but I’m doing some collaborations for sure.

Where was your biggest gig so far?

I think it was Electric Daisy Carnival in Las Vegas. I think its like 50 or 60 thousands people… really crazy, I was on the main stage, right after Avicii and right before Armin Van Bureen. I think that’s my biggest show ever.

Beside electro, what kind of music you do listen to?

Uhm, when I’m listen to music in airplane or whatever, it’s often more indie music these days, and I got a lot of film scores, some kind of music that makes me feel something, but I still like dance music, I really do. I still playing dance music whenever I’m partying or DJ, but there’s another side of it to me, which is the emotional side and I think it’s important.

Well, then what are your favorites movies?

The House of Flying Daggers has one of my favorite soundtracks ever, it got the same director for Hero… Spirited Away is also my favorite movie of all time.

Wow! You actually watching anime too?

I watch so much anime!! Haha, Dan, my tour manager is laughing right now because all the time I watch a lot of Japanese media. Not only anime, but I also watch a lot of like tv show and… I’m kinda embarrass about it, it’s kinda my own thing

Have you performing in Japan?

No, but I really looking forward for it, next year I’ll do it. You know, I’m actually gonna have layover in Tokyo the day after tomorrow, I’m actually looking forward for that, haha. I think just to being in Tokyo airport is exciting to me. I’m really obsessed with Japanese culture for sure.

Beside music, what else you enjoy?

Well, I used to do debate and fencing. I used to do sport and stuff but when I start writing music I decide to give all of them up because for now music is the thing I really enjoy the most. I think to do something well, you really have to put everything into it, so I don’t have much time to being with friends or do sports. Just writing music all the time and it’s works for me, you know. I’m still watching shows and plays video games, though.

Do you have any particular resolution for 2013?

Hmm…resolution… I just want to finish my album, that’s all I wanna do. And I got few months off and I decide to cut the touring for a little bit, today gig is like one of my last shows for awhile. Cos I’ve been touring everyday for like two years and it’s really hard for me to write music on the road so after these few days I’m gonna back home and try to finish my album.

Where did you record your album?

I record it on my bedroom at home; I don’t have a studio really. It’s just my computer and my speakers in the same bedroom I grew up as a child. I always believe that you can make good music in any system, you don’t need expensive equipment, you just need to be indulgent and know how your system supposed to sound, listen to a lot of music, and listen to your song in car and in headphones to make sure its sounds good in a lot of different places. I think with enough technique you don’t need a lot of equipment.

So you consider yourself as bedroom musician?

Totally. Hundred percent. I never work in studio. But for these collaborations I need to go to studio to do some vocals and stuff, but for the most part I do it in my bedroom.

Did you listen to another bedroom musicians?

Yeah, the more important thing is sometimes you can’t even tell whose bedroom musician or not, because it doesn’t sounds any different in my opinion. I mean Skrillex is a pure bedroom musician, for his last album he made it with only one speaker because the other one was broken. I think its good evidence that you can make a good sounding music on lo-fi system.

Last question, what can we expect from your live performance?

Well, kinda like what I said before, I’m gonna mixing really fast, try to get play a lot of songs in an hour and half. I want to show a bunch of different music that I like, some of it would be kinda darker, some of it would be more beautiful. I just like to express different array of emotions and feeling and style. But is gonna be fun show, as long as people want to come and see and have an open mind, it should be awesome.

https://soundcloud.com/porter-robinson

Porter

Photo by Muhammad Rahadian

On The Records: Stephen Fasano (The Magician)

Hi Stephen, how are you doing? What are you doing before answering this email?

Hi, very good! I’m on a train to Reims (France). I’m going to Yuksek’s studio to make new Peter (aka Yuksek) & The Magician tracks.

How do you come up with The Magician as your alias?

I was looking for a new alias and my gilfriend came up with The Magician. We made the character live, with a fancy costume, a wand, magic tapes, video teasers, etc.. Since very young, I always liked playing a character, wearing an outfit or simply being different.

Tell me about your childhood, where do you grew up and what kind of music you listening back then?

I’m half Italian, half Belgian. I grew up in the south of Belgium called “Wallonia”. It is quite a poor region with a high % of unemployed people. Very young my dad listened to Supertramp, Queen, Alan Parsons, Michael Jackson, Abba,.. So In general, I would say my childhood was bathed into the 70’s/80’s pop and disco. In the late 80’s I’ve received 2 turntables, a mixer and a record collection full of rare Disco and Italo Disco record from my uncle who stopped his DJ career. I felt in love to mix two records together.

Do you always know that you want to make dance music?

As DJ, I always want to make people dance. But with years, I feel more and more into pop music and especially as producer. I try to inject pop/vocals into dance music.

What are you working on now?

On a second single for The Magician, a second EP for Peter & The Magician, on a special new collaboration with a very talented artist, on a new remix and a visual for the shows. I’m also touring a lot all over the world.

If you weren’t making music, what would you be doing?

Owner of a wine-bar or taxidriver in New York City.

What’s on your iPod playlist right now?

The Weeknd, SBTRKT, Sebastien Tellier’s new album, New Order from A to Z, Lana Del Rey’s album, M83,..

I’ve been listening your remix for Lykke Li’s “I Follow Rivers”  for quite some time and really love it. Any particular aspect you looking for in some songs that trigger you to remix it? Do you have any names/bands whose songs you would like to remix?

I would have loved remix Lana Del Rey’s “Video Games”. It didn’t happen because of my busy schedule. To remix someone else, the principal aspect are the vocals. I’m actually just keeping them when I remix and then build a new track (my own version) around. So it’s more a personal version than a remix.

What can we expect from your live performance?

You can expect a bearded guy dressed up in a fancy costume beige with a wand in the pocket, playing electronic disco/dance music to make people dance and happy.

This is last and just random: Who’s your fave magician and why?

My favorite Magician is Merlin The Enchanter. He has a great hat and I love his owl friend temperamental and completely insane. Merlin The Enchanter made the most of its magic in music, it makes keeping up with his magic stick. As he moved on and that he is back in a small bag all the furniture and objects in his apartment.

On The Records: Sunik Kim (Beat Culture)

Hi Sunik, how are you? What you’re doing before reply my email?
Great, just about to go to my last day of class at high school.
When do you start making music?
February of last year.
What’s the story behind your moniker?
Not much to it really, I wanted to think of a name so I sat in a room with a friend and brainstormed for a while, went on chillwave name generators and all of that. Eventually settled on “Beat Connection” until I realized there was a really good band by that name already.
Which musicians and albums are you most inspired by?
Definitely SBTRKT and Gold Panda, as well as James Blake and Balam Acab. Hudson Mohawke is also by far one of my favorite producers, I don’t really produce in his style but I’m still really inspired by him. Top two albums I’m inspired by are SBTRKT and Lucky Shiner.
Do your school friends know you’re making music?
Yeah a lot of kids at my high school know about my music which is cool.
What are you listening to right now?
Rustie’s Essential Mix for BBC Radio 1 – insanity.
Do you mind if people labeling your music with terms like glitch pop, post-dub, etc? How would
you describe your own music?
I tend to ignore labels on my music. A lot of people call my music ‘chillwave’ which I think is really false, my music is nothing like that, but again I disregard genre statements like that, I just make whatever I feel like at the moment.
If you could write soundtrack for any movie, which would you choose?
Lost in Translation.
What you like to do in the future?
Pursue music as far as possible without becoming a starving artist.

On The Records: Jennifer Lee (TOKiMONSTA)

Hi Jennifer, how are you doing? Where you are right now and how’s the day so far?

Hello!  I’m doing well.  I am at home in Los Angeles and the day is pretty nice, I think.  I haven’t been outside yet and it’s 3pm.

Can you tell us a little bit about what you were like when you were grew up in South Bay as little girl? Is it shaping your music or influence you in any way?

I grew up in a neighborhood that was very family friendly.  It was a classic family suburb, so it was pretty boring.  I was drawn to different music than the rest of my classmates and was happy with having a different preference than the others listening to top 40s radio songs.  In that way, I still enjoy making music that isn’t like what people are already used to hearing.

What did you last dream about?

Last night I had an interesting dream.  I don’t remember much, but I believe i was somewhere unfamiliar and the pieces of furniture were arguing with each other.

What the first thing attract you to making your own music?

The ability to make something creative and also what you’d like to hear.  It’s self satisfaction.

Tell me the story behind TOKiMONSTA name; honestly I thought you’re Japanese when I heard your name, but it turns out you’re Korean descent, uumm…what your opinion about Korean Wave?

“Toki” is the Korean word for “rabbit,” but I think people associate the word with Tokyo (or the likes of other Japanese sounding words).  The name was something I grew up with and eventually made into my artist name.  I didn’t think too much about it, it just was the first thing I thought of to call myself as a musician.  As for the Korean wave, I think it’s insane!  Too bad I’m not really apart of it.  I’m Korean, but seem to be placed outside of that wave.

What/who your biggest influences?

Most of my influences come from hip hop and electronic producers such as J Dilla, DJ Shadow, DJ Krush, Premier, and Aphex Twin.

What do you love most about what you do? And what do you like least?

I love to be able to create something and share that with others.  It’s also quite nice to not have my work and work hours dictated by other people.  The thing I like the least would be some of the petty criticism I come across.

Any particular musician/song you like to remix now?

For fun, I enjoy remixing 90s r&b.  Maybe I’ll try something with Missy Elliot.

What you’re doing beside music?

For leisure, I suppose I enjoy meeting with friends, cooking, drawing, shopping, and watching cartoons.

What do you hope for?

I hope that people will continue to listen to my music as it continues to evolve.

http://www.tokimonsta.com/

On The Records: Mark Dobson (Ambassadeurs)

Hi Mark, how are you? Do you mind to introduce yourself?
Hi, I am an electronic music producer from Brighton, UK.

When do you start making music, especially under the Ambassadeurs moniker?
I started making music quite a long time ago on my first computer (an Amiga 500 using a program called Octamed) and learnt how to play guitar, piano and drums on the way.
The Ambassadeurs moniker started a couple of years ago when I decided to put out a load of tracks I had been working on to see what happened and if people would like them.

What’s the story behind the name?
I don’t really remember where the name came from, probably just from reading something and seeing the word and thinking yeah, that  will be what I’l call my project. Its funny because it confuses most people because of the name being plural, I turn up to gigs and they are like “where are the others” thinking it’s a duo or something.

Which musicians and albums are you most inspired by?
I listen to loads of different types of music but I suppose the artists that have had the biggest effect on me would be…

  • Amon Tobin – Im a fan of all his work and love the way he continues to push boundaries and is never scared to experiment.
  • Tribe Called Quest – Midnight Marauders – This is one of those albums I can always keep going back to and listen to from start to finish. Its one of my favourites.
  • Cinematic Orchestra – Everyday – This album blew me away when I first heard it and still does today, I love the atmosphere it creates and the drumming is incredible.
  • Tame Impala – Innerspeaker  – Discovered this album about a year ago and its still getting played regularly, the great songs mixed with the raw and psychedelic production sound amazing.
  • Clams Casino – Instrumentals – This album is one of my favorites. Again the atmosphere and emotion in the way he samples things is really special.

I could go on all day with these and there are many important ones I have left out but inspiration and influence comes from everywhere.

What’s the typical creative process when you start making a track?
Sometimes I’l start by sequencing a beat, sometimes it will begin playing on the keys, sometimes it’l be chopping up samples on the MPD. I find Its always good to switch up the process of making music in order to keep thing fresh and discover new ways of doing things.
 
How would you describe your music to someone who hadn’t heard it?
I usually just call it electronic and whenever its described by anyone else they call it something different. The boundaries of music genres are so blurred nowadays which is a great thing but it always makes this question difficult.

Do you have any routine before you perform on a gig?
Not really other than having some drinks and watching whoever else is performing that night. That’s one of the best things, getting to see other acts play when Im gigging.

Watching your “M.O.P.E” video while getting high is one of the greatest trip I ever had, how do you see the importance between your music and the accompanying visuals?
Haha, yes a lot of people tell me that and I can understand why, it’s a pretty trippy video and the guys from Feel Good Lost did a great job, I love their work! I think visuals can be important if they are done in the right way and not just done for the sake of putting visuals with a track, listening to music without visuals frees the imagination.

Do you have any subliminal message on your music/video?
No, but that’s a good idea, I might try that haha.

What’s you currently doing beside music?
I’m completely working on music at the moment, apart from that I am doing some other music related work (Mixing and Mastering) for some people.

Next project?
I think I want to work on the Ambassadeurs project and concentrate on that until it is at a point where I will have some time to branch out into another project and try something different… I’l keep you posted on that one!

http://soundcloud.com/ambassadeurs