Closer Than Home, An Interview With Yumi Zouma

Dipisahkan oleh bencana alam yang menimpa kota asal mereka di Selandia Baru, para personel unit dream pop Yumi Zouma berpencar ke seluruh dunia sebelum akhirnya menemukan jalan pulang lewat album debut yang impresif, Yoncalla

Thanks to technology, jarak dan waktu sudah bukan lagi halangan untuk berkarya dengan seseorang yang tinggal di belahan dunia dan time zone yang berbeda, Yumi Zouma adalah salah satu band yang harus melewati proses membuat lagu secara long distance. Terdiri dari Christie Simpson, Josh Burgess, Charlie Ryder, dan Sam Perry, keempat anak muda asal Christchurch, Selandia Baru ini sudah saling mengenal satu sama lain sejak kecil dan aktif di proyek musik masing-masing, namun baru ketika sebuah gempa besar menimpa kota mereka dan beberapa di antara mereka memutuskan pindah ke negara lain, keinginan untuk membuat musik bersama baru mencuat sebagai cara mereka menjaga hubungan satu sama lain sekaligus kota asal mereka.

Berbekal sambungan Skype dan email, mereka membuat single pertama berjudul “A Long Walk Home For Parted Lovers” yang berlanjut menjadi album mini pertama mereka di tahun 2014 dengan empat lagu di dalamnya. Meramu bunyi dream pop berbasis synth yang dancey dengan nuansa musim panas yang kental, album mini tersebut mendapat respons positif dari internet dan beberapa label rekaman yang kemudian dilanjutkan oleh EP kedua mereka setahun berikutnya. Dikerjakan secara jarak jauh, EP I dan II terasa seperti menyatukan potongan puzzle yang dibuat sendiri-sendiri oleh setiap personel dari tempat dan waktu yang berbeda, sehingga tak mengherankan jika tema jarak antar manusia, baik secara geografis maupun emosi, menjadi tema dominan dalam dua EP tersebut. Meski demikian, musik mereka tetap terdengar kohesif dan nama mereka pun terus beranjak naik hingga diajak menjadi pembuka untuk Chet Faker dan Lorde.

Berkat kesuksesan kedua EP yang didominasi bunyi dreamy disco rock tersebut, band yang awalnya tak berencana untuk tampil live ini akhirnya dihujani tawaran manggung yang tak lagi bisa mereka diamkan begitu saja. Mereka akhirnya berkumpul dan tampil bersama dari satu festival ke festival lain. Tak hanya berubah menjadi band seutuhnya, kedekatan mereka yang terjalin saat tur juga menjadi basis dari full album pertama bertajuk Yoncalla. Dirilis oleh Cascine Records, album ini berisi single “Barricade (Matter Of Fact)” yang juga menjadi pembuka yang manis bagi 9 lagu selanjutnya. Masih mempertahankan nuansa dreamy yet sunny yang dibangun oleh aransemen uplifting dan vokal Christie yang mengalun ringan dan kontemplatif, album ini terdengar lebih intim dan terpoles dari materi-materi sebelumnya, menjadikannya salah satu album yang pantang dilewatkan untuk tahun ini. Di antara waktu jeda tur dunia mereka untuk mempromosikan album ini sampai akhir tahun nanti, Yumi Zouma pun menyempatkan waktu untuk bercerita lebih dalam.

 yumi

Awalnya saya sempat mengira jika Yumi Zouma adalah nama seorang penyanyi solo, apa cerita di balik nama band ini?

Saat memulainya, kami sebetulnya tidak yakin jika kami akan menjadi sebuah band seperti sekarang. Kami membuat lagu pertama saat kami tinggal di negara yang berbeda, jadi awalnya kami pikir rasanya sulit membayangkan untuk tampil bersama di atas panggung. Tapi, kami ingin tetap percaya jika mungkin musik kami bisa diterima, atau mungkin salah seorang dari kami bisa membawakan lagu kami secara live. Jadi kami memilih nama yang fleksibel dan tidak secara spesifik menjelaskan tempat asal kami. Jadi dibanding memilih nama “The…’s” atau sejenisnya, kami memilih menggabungkan nama pertama dan nama terakhir dari dua teman kami untuk menciptakan sebuah nama baru. 

Bagaimana awal perkenalan kalian satu sama lain?

Sam mungkin pertama kali kenal Christie saat dia pacaran dengan kakaknya, Josh dan Charlie bertemu di sebuah kompetisi band di Auckland saat mereka berumur 17 tahun, Charlie bertemu Sam di sebuah toko gitar di Christchurch, Christie bertemu Josh dan Charlie saat dia masih menyanyikan lagu-lagu Fleetwood Mac di sebuah cover band, dan Sam pertama kali bertemu Josh di latihan band pertama kami sebagai Yumi Zouma, haha!

Siapa saja influens musikal bagi band ini?

Influens kami umumnya berkisar di musisi Selandia Baru yang kami dengarkan saat beranjak dewasa seperti Bic Runga, The Mint Chicks, Cut Off Your Hands, Anika Moa, dan Carly Binding. Tapi untuk album ini, kami lebih terpengaruh dari Yoncalla sebagai tempat itu sendiri serta pengalaman kami saat tur pertama kali untuk mempromosikan dua EP kami.

Kalian sering dideskripsikan sebagai dream pop, bagaimana pendapat kalian? Sebelumnya Charlie dan Josh juga sempat membuat band disco punk, apa ada pengaruh yang terbawa?

Kami selalu kesulitan saat menjawab soal genre karena kami berempat punya ide masing-masing tentang musik yang ingin kami buat di band ini. Untuk sekarang tidak ada korelasi antara YZ dengan proyek lama kami, kecuali mungkin solo project Sam, Zen Mantra, yang menjadi sumber kreativitas untuk beberapa lagu YZ seperti “Remember You At All” dan “Better When I’m By Your Side”.

 

Dari sekian banyak tempat di dunia, kenapa kalian memilih Yoncalla sebagai judul album ini?

Haha, ceritanya sangat panjang! Tapi akan kami coba singkat. Tahun lalu kami ke US untuk tur musim panas mempromosikan EP II, kami harus berkendara dari Vancouver ke Seattle untuk main di Capitol Hill Block Party. There was a massive traffic jam and the Canadian border was on lockdown. Dari yang seharusnya hanya butuh 3-4 jam perjalanan berubah menjadi 12-13 jam dan kami harus mengatur ulang jadwal kami. Kami berhasil tiba tepat di jam seharusnya kami main, but had a great gig. Masalahnya, kami harus menukar mobil rental kami di Seattle, tapi kami melewati jadwal drop-off  Dan saat itu tidak ada lagi rental yang tersedia karena memang sedang banyak festival di Seattle. Itu artinya kami harus bermalam di Seattle, tapi semua hotel dan Air BnB juga sedang penuh. Akhirnya kami terpaksa tidur di lantai rumah seseorang yang baru kami kenal. Besoknya, semua mobil rental juga sudah habis disewa, sehingga kami naik kereta Amtrak untuk show kami berikutnya di Portland dan tiba persis di jadwal show. Setelah itu, kami akhirnya punya waktu kosong untuk beristirahat. Kami akhirnya menyewa Air BnB di antah berantah Oregon dan menghabiskan dua hari dengan berenang di sungai dan memikirkan soal album debut kami. It was just the most peaceful and best time ever, and a lot of the ideas for the album came from that time, so that’s why we called it Yoncalla!

yoncall

Yoncalla terdengar sangat intim dan penuh nostalgia, apa yang menjadi tema besar di album ini yang menjadi perekat semua lagu di dalamnya?

Ide utamanya adalah ini pertama kalinya kami merekam album di satu tempat secara bersama-sama. Sebelumnya, kami mengerjakan bagian masing-masing di negara yang berbeda dengan zona waktu yang berbeda juga. Untuk Yoncalla, semua eksperimen musik kami lakukan bareng in real time, in front of everyone else, yang ternyata bisa bikin frustrasi juga jika sesuatu tidak terjadi seperti yang kami bayangkan di kepala, atau jika proses rekaman berjalan terlalu lama. But in the end, kami menyadari terkadang kita harus to let that go if you’re going to get anything done. Pada akhirnya semua lagu akan terdengar berbeda dari yang kami bayangkan sebelumnya, jadi mengeluh soal hal-hal kecil sebetulnya hanya membuang-buang waktu. Begitu kami menyadari hal itu, semua berjalan dengan lancar dan merekam lagu bareng menjadi proses yang menyenangkan karena untuk pertama kalinya kami bisa saling melempar ide-ide random secara langsung dan tak akan terjadi jika kami masih menulis sendiri-sendiri.

Salah satu lagu paling menarik di Yoncalla adalah “Haji Awali” dengan judul yang unik, apa cerita di balik lagu itu?

Nama Haji Awali berasal dari nama kompleks apartemen dan sekolah saat Josh tinggal di Timur Tengah, tepatnya di Bahrain. Itu adalah salah satu lagu paling susah bagi kami, salah satu lagu yang kami buat paling pertama tapi selesai paling terakhir. Lagu ini hampir tidak masuk ke album, tapi sekarang menjadi lagu favorit kami!

Bagaimana kalian mendeskripsikan setting yang sempurna untuk mendengarkan album ini?

Duduk di bukit rumput di daerah west coast, di tepi sungai, bersantai bersama teman-teman menikmati homemade salad setelah hari yang melelahkan.

 

Sebagai band yang tadinya tidak berencana untuk tampil live, bagaimana kalian beradaptasi dengan tur dan apa rasanya bagi kalian untuk tampil di atas panggung?

It was normal for us karena kami pernah main di heavily touring band juga sebelum YZ, tapi tetap saja rasanya agak menegangkan saat akan tampil pertama kalinya di sebuah venue besar di luar negeri. Tapi hal itu juga menjadi motivasi yang mendorong kami untuk menjadi band sesungguhnya dengan cepat, and now we love it! Setelah beberapa minggu, kami pindah dari opener menjadi headline untuk show kami sendiri di depan fans kami, which is always way more fun. Beberapa respons terbaik yang kami dapat adalah saat main di Tokyo untuk pertama kalinya dan mendapat encore pertama kami (twice!) dan tampil McAllen, Texas di Galaxy Z Festival di mana panggung kami diserbu fans yang naik panggung untuk berdansa bersama kami.

 

Dari sekian banyak gigs yang sudah kalian lakukan, mana yang paling memorable?

Mungkin show pertama kami di kota asal kami di Christchurch. Kami tidak menyangka orang mengenal kami, jadi kami main di bar milik teman kami dan sebetulnya cuma buat latihan sebelum tur dunia pertama kami di 2014. Tapi hampir seisi kota datang dan bar itu benar-benar disesaki orang yang ikut bernyanyi lagu-lagu yang kami sendiri masih belajar memainkan secara live! It was an incredible experience that we couldn’t really understand!

 

Apa yang paling kalian rindukan dari kota asal kalian?

Keadaannya sebelum gempa bumi di 2011. Christchurch tadinya adalah salah satu tempat paling indah di Selandia Baru, tapi sekarang terlihat seperti parkiran mobil yang terbengkalai.

 

Apa satu hal yang akan disepakati oleh kalian semua?

Probably nothing! We are all very diverse in our opinions, haha!

http://www.yumizouma.com/

Advertisements

On The Records: Low Pink

Berawal dari ruang personal seorang pemuda bernama Raoul Dikka, Low Pink sejatinya hadir sebagai proyek one man band dengan semangat Do-It-Yourself yang pekat. Lahir di Jakarta namun menghabiskan masa SMA di Malang, pemuda 20 tahun tersebut seorang diri merekam musik berinfluens dream pop dan psych dengan peralatan rekaman rumahan sederhana seperti gitar, drum, bass, laptop, dan mic seadanya. “Instrumen musik pertama gue adalah drum, dan gue sama teman-teman sempat bikin band pop-punk ala Blink-182 pas gue kelas 1 SMP. Setelah itu gue mulai penasaran sama gitar, gue belajar sendiri dan pokoknya thanks banget buat YouTube karena dia adalah sumber ilmu yang paling besar buat gue. Sebelum doyan musik rock gue sempat suka banget sama musik jazz karena drummernya jago-jago. Then Radiohead and Tame Impala changed my perspective in music,” papar Raoul. Hijrah kembali ke Jakarta untuk lanjut kuliah, materi-materi yang ada pun diperhalus tanpa meninggalkan esensi lo-fi dari proses rekamannya dan terangkum dalam sebuah debut EP bertajuk Phases yang dirilis oleh Kolibri Rekords bulan Agustus lalu. Drenched in reverbs and hazy atmosphere, album berisi 6 lagu ini diterima dengan baik dan seiring tawaran manggung yang makin gencar, Low Pink pun bertransisi ke format full band dengan mengajak Ryoichi Watanabe (gitar), Bondan Rahadian (bass), dan Ody Panggabean (drums). Cheers for the next phase.

phases-ep 

Hai Raoul, apa kabar? Boleh perkenalkan dirimu and your current activities?

Hellooo, gue Raoul dan hobi gue bikin lagu dan gambar-gambar sebisanya, hehe. Gue sekarang kuliah DKV di Interstudi Tendean.

Apa cerita di balik nama Low Pink?

Low Pink dalam arti rendah warna pink, warna pink bisa mewakili subjek atau objek apapun. Low Pink bisa berarti rendah akan apapun.

Bicara soal Phases EP, boleh cerita soal rekamannya? Berapa lama waktu yang dihabiskan dan di mana saja rekamannya?

Rekamannya gue kerjain sendiri semua di rumah gue di Malang pakai equipment yang seadanya (gitar, drum, bass, laptop, dan mic abal-abal). Proses rekamannya barengan sama penulisan beberapa lagu-lagunya juga. Itu selesai sekitar 1 bulan, dan buat mixing dan mastering gue selesaikan di Jakarta sekitar 2 bulan setelah gue rekaman itu.

Apa tema utama untuk album Phases? Dan kenapa “Someone For Your Days” yang dipilih sebagai single?

Temanya itu dingin, ada perasaan “tersesat dan hampir menyerah”, dirty AF, dan nuansanya penuh debu. Karena pada saat itu gue benar-benar suka banget sama The Soundcarriers. Kalau “Someone For Your Days” itu lagu yang menurut gue paling  beda di Phases EP, dan gue juga yakin banget di Indonesia belum ada yang bikin musik dengan warna dan sound kayak lagu itu. So there’s a chance for Low Pink to show its color.

 

Apa saja musical influences untuk Low Pink?

Banyak banget sih karena sempat berubah warna musik beberapa kali. Beberapa di antaranya adalah Radiohead, Tame Impala, The Soundcarriers, Dead Meadow, DIIV, Washed Out, Beach House, Mac Demarco, Tennis, Cat’s Eyes, The Horrors, Allah-Las, Tredici Bacci, Flunk, dan sebenarnya masih banyak banget.

 

How would you describe your own sounds?

Hmmm… Dusty-Cold-Lost-Psychedelic-Pop-but-a-little-bit-Rock-ish, hahahaha.

 

So far, apa pengalaman manggung terseru?

Waktu main di acaranya Kolibri Rekords di Xabi Studio (21 Agustus 2016), karena yang nonton pada fokus banget dan tumben Low Pink main rapi hehehe. Sama satu lagi di Malang waktu bulan Desember 2015, semuanya pada nggak sober dan pada pilek, ada yang sampai pakai masker segala haha.

 

Di zaman digital kaya sekarang, seberapa pentingnya merilis album secara fisik? Orang jadi nganggap bahwa suatu band itu udah berjalan dengan baik kalau udah punya rilisan fisik. Karena masih banyak banget orang yang nganggap rilisan digital itu masih kurang ‘sah’.

 

Apa komentar paling memorable yang pernah didengar soal Low Pink?

“Gue semalem nyoba dengerin Low Pink, ternyata enak banget didengerin waktu mood lagi nggak enak.”

Please describe your dream gig/collaboration.

Dream Gig? Main di pinggir kolam renang yang gede, tapi yang nonton harus pada di dalam kolam semua hahaha.

 

What’s the next plan?

Materi yang lebih easy-listening/lebih universal dan better live performance pastinya.

Raoul’s Fave Local Releases:

moiss

Substitute EP

Moiss

Band dari Semarang ini musiknya ringan dan benar-benar enjoyable dalam segala keadaan. Plus gue suka banget artwork-nya.

teriakan

Teriakan Bocah

Kelompok Penerbang Roket

Band gokil, berhasil ngambil tema rock jadul yang hasilnya jadi Indonesia banget. Bikin semangat dan menurut gue bisa bikin orang jadi seolah mikir “Gue keren dan kenapa gue harus takut sama apapun?”.

exposure

Exposure

Pijar

Album yang energik, bikin nggak tahan pengen joget-joget sendiri. Isian-isian gitarnya sadis dan masih suka ngagetin.

sommerhaar

Farscape Et Dives

Sommerhaar

Nuansa ‘dingin’-nya dapet banget. Lagu-lagunya nggak klise kayak musik-musik elektronik biasanya. Aneh, tapi enak banget.

silampukau

Dosa, Kota, & Kenangan

Silampukau

Udah jarang gue denger musik kayak gini; simple, catchy, liriknya bagus, dan bikin gue jadi suka lagi sama musik-musik akustik. Ini cocok banget sih buat didengerin sama orang-orang yang udah terlalu kebarat-baratan, biar tau aja kalau dia masih tinggal di Indonesia.

 

https://www.facebook.com/lowpink1

Seeing Sounds, An Interview With Sparkle Afternoon

Sparkle Afternoon melukis dunia mereka sendiri lewat nada-nada eksperimental yang lembut dan keras di saat yang sama, so are you in? 

Apa yang ada di benakmu saat mendengar kata dream pop? Kemungkinan besar yang terpikir adalah musik beraransemen meruang dengan soundscape yang seakan bercerita tanpa harus dihiasi vokal dan lirik sekali pun. Saya juga percaya jika lagu dream pop yang baik adalah yang bisa membuatmu melamun dan membayangkan suatu scenery tertentu. Well, hal seperti itulah yang membuat saya langsung suka saat pertama kali mendengarkan single “Gorgeous” milik Sparkle Afternoon. Dibuka dengan dentingan piano yang menjadi pengantar vokal lirih seorang gadis sebelum lengkingan gitar mulai masuk dan semakin intens saat menuju menit ketiga lagu berdurasi sekitar 4 menit tersebut, saya terhanyut dalam ruang yang dibangun lagu yang sedikit mengingatkan saya akan masa-masa awal Homogenic dalam versi less-electronic ini.

Terdiri dari vokalis Ratih Kemala Dewi, gitaris Diki Setiadi, gitaris Yogie Riyanto, bassist Warna Kurnia, drummer Tedy Wijaya dan keyboardist Rizka Rahmawaty, unit musik dari Bandung ini memang meramu musik yang kerap didefinisikan sebagai dream pop dengan nuansa post-rock dan shoegaze yang kental. “Sebenarnya dari dulu kami nggak pernah nentuin mau main musik seperti apa, dulu sempat ke arah indie pop, tapi karena sekarang influensnya juga semakin bertambah akhirnya musik yang kami rilis sekarang seperti ini, ada post-rock, dream pop, shoegaze minimalis dan ada eksperimentalnya juga.” Jawab Yogie saat saya bertanya tentang konsep musik mereka yang mengaku mendapat influens dari band-band seperti God Is an Astronaut dan Maybeshewill.

Dream pop dan post-rock sendiri sama sekali bukan hal yang asing di scene musik Indonesia saat ini sehingga mau tak mau mereka harus memiliki suatu ciri khas yang bisa membuat mereka standout di antara puluhan band segenre di negeri ini, untungnya mereka punya hal itu. Selain memiliki vokalis perempuan yang juga pemain glockenspiel, hal menarik lainnya dari band ini adalah komposisi musik yang kerap mengawinkan dentingan keyboard Rizka dengan kocokan gitar Diki yang powerful (sebelumnya ia tergabung di band metal). Terdengar kontras memang, but opposites attract dan justru itulah yang membuat musik mereka menyenangkan untuk disimak. Bisa dibilang, keyboard adalah salah satu pilar utama band ini, karena itu saya bertanya kepada Rizka tentang influens dari permainan keyboardnya yang kadang terdengar psychedelic itu, “Dulu saya sempat suka banget sama Ray Manzarek (keyboardist The Doors), cuma kalau menyebutnya sebagai influens, kayanya juga nggak sampai segitunya, jadi ya sudah ngalir aja, saya bukan pemain yang baik tapi tetap berusaha untuk punya style sendiri.” Jawab gadis mungil ini dengan merendah.

Dalam band profile-nya, mereka menulis jika saat yang tepat untuk mendengarkan lagu-lagu mereka adalah di sebuah padang rumput terbuka dengan langit yang sedikit mendung. “Katanya sih musik kami lebih ‘kena’ ke pendengar cewek, kaya lagu ‘Gorgeous’ itu yang nyeritain tentang perempuan.” Ungkap Diki yang disetujui personel lainnya, tentang beberapa lagu mereka yang telah dirilis dalam format split album bersama band post-rock Bandung bernama Under The Bright Big Yellow Sun dengan judul We Sit Under The Bright Big Yellow Sun in Sparkle Afternoon yang dirilis Loud For Goodness Records bulan Oktober 2010 lalu. Sebelum itu, dua lagu mereka yaitu “Gorgeous” dan “Fade Away” juga sempat dirilis oleh BFW Recordings, sebuah netlabel asal Manchester, Inggris yang memang spesialis genre ambient, shoegaze, experimental dan semacamnya. “Untuk suasana yang pas mungkin lebih ke nature seperti film Heima, haha,” ucap Yogie sebelum meneruskan, “Harapan kami untuk gig Sparkle Afternoon sendiri lebih yang outdoor atau mungkin di galeri, dan kurang cocok juga kalau siang hari.” Ujar sosok yang termasuk aktif di scene musik Bandung sebagai Head Chief dari Glasslike ent. yang rutin menggelar event bernama Hearing Goodness ini.

Bicara tentang langkah Sparkle Afternoon selanjutnya, mereka mengaku tidak terdesak oleh target, karena saat ini mayoritas personel baru saja meniti karier masing-masing, kecuali Rizka yang masih kuliah, sementara Mala dan Tedy pun kini berdomisili di Jakarta sehingga mereka merasa sedikit kerepotan untuk mengatur jadwal latihan. “Kalau latihan kita live streaming! Haha,” canda Yogie, “Kalau ada materi atau ide-ide baru kita bisa lewat Skype dan kalau mau manggung kita pasti latihan, kadang di Bandung atau nyamperin yang di Jakarta, yang penting tetap komunikasi.” tambah Diki. Masalah perbedaan geografis memang terdengar seperti hal yang telah usang, jangankan Jakarta – Bandung, jarak antar benua pun tak menghalangi mereka menyiapkan sebuah split album bersama band shoegaze asal US, The Sunshine Factory, di samping menggarap materi untuk full album mereka yang diharapkan rilis tahun ini. That’s definitely some sparks to watch out.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur.

Sweet Dreams, An Interview With Silver Swans

Silver Swans mengajakmu bermimpi indah bersama album terbaru mereka, Forever.

Saya kurang percaya dengan yang namanya love at the first sight, tapi sebagai seseorang yang harinya dihabiskan untuk mencari band-band baru yang menarik, I do believe with love at the first heard. Kamu tahu kan terkadang kita hanya membutuhkan beberapa detik intro atau sebait lirik untuk menyukai sebuah lagu. Well, itulah yang saya rasakan saat pertama kali mendengar lagu berjudul “Secrets” dari duo electro dream pop bernama Silver Swans ini. Memadukan vokal soprano yang ethereal milik vokalis Ann Yu yang dikemas dengan blissful synth dari DJ dan produser Jon Waters, “Secrets” adalah lagu pop jenial dengan modus operandi yang mengingatkanmu akan momen-momen termanis Asobi Seksu, The Knife, School of Seven Bells dan Ladytron. “Jon menghubungiku untuk berkolaborasi dalam sebuah lagu. Saya belum pernah membuat musik elektronik sebelumnya jadi saya sangat excited untuk mencobanya. Lalu saya menyadari betapa saya menikmati proyek ini jadi kami terus stay in touch dengan bertukar file-file musik lewat email. Akhirnya terkumpul koleksi materi lagu yang cukup banyak walaupun kami sangat jarang bertemu langsung. That’s when we decided we should meet more often, haha.” Ungkap Ann yang sebelumnya juga dikenal sebagai vokalis LoveLikeFire, band indie rock asal San Fransisco yang sudah merilis tiga album.

Dengan influens awal yang meliputi The Radio Dept., Cocteau Twins, old school R&B hingga Enya, Jon dan Ann menganalogikan musik dream pop yang mereka buat dengan kota tempat tinggal mereka sekarang, San Fransisco. “Saya jatuh cinta dengan kota ini setiap harinya. Kota ini sangat menginspirasi untuk bermain musik dan cuacanya yang silih berganti hangat dan berkabut sangat sesuai dengan mood-ku yang sering naik-turun.” Ujar Ann yang lahir di Las Vegas. Rasa yang sama juga dialami oleh Jon yang berasal dari Inggris, “San Fransisco adalah rumah kedua saya. Saya besar di Birmingham, sebuah kota yang dipenuhi pabrik dan atmosfer yang secara umum terasa suram. SF memiliki suasana dingin dan lembap yang sama namun dengan sinar matahari yang cukup untuk membuatmu merasa nyaman.”

Setelah di tahun 2010 mereka merilis album debut bertajuk Realize The Ghost, kini mereka kembali dengan album baru berjudul Forever yang dirilis oleh Twentyseven Records, label New York milik Clyde Erwin Barretto yang juga merilis The Drums dan memperkenalkan musisi Swedia seperti Pelle Carlberg ke audiens Amerika. Album berisi 11 lagu ini masih menawarkan hook synth yang cantik namun dengan warna yang lebih beragam dari pendahulunya, mulai dari Afro-pop (“Arrows” dan “Let It Happen”), doo-wop (“Diary Land”) hingga dub (“Mother of Pearl”), walaupun momen favorit saya di album ini tetap di lagu-lagu seperti “Secrets” dan “Meet Me Somewhere Nice” yang dreamy, shoegaze-y dan misterius. “Forever bercerita tentang teman dan kekasih.  Album ini ibarat memeluk bantal di tengah malam sambil berbincang dengan teman lamamu sampai pagi menjelang. Tentang memandang mata seseorang yang kamu sukai dan tersesat dalam rasa suka itu, tentang berpegang kepada kesedihanmu dan menjadikannya sesuatu yang indah. It’s about dreams that will never die.” Cetus Ann tentang konsep album yang desain sampulnya menampilkan dua orang yang sedang berpelukan (which are Ann’s cousin and her boyfriend) tersebut.

Sebelum ini, mereka juga sempat meng-cover beberapa lagu dari Fleet Foxes, The National dan “Video Games” milik Lana Del Rey yang sukses menimbulkan hype tersendiri di berbagai blog musik berkat kesuksesan mereka membawakan lagu itu dengan gaya mereka sendiri yang nostalgic. Hal apa yang membuat mereka tertarik untuk meng-cover sebuah lagu? “Saya selalu terbius dengan nostalgia dari sebuah lagu. Sesuatu dari cara seseorang menyanyikan sebuah cerita yang bisa membuatmu sedih. Kami sempat membicarakan untuk meng-cover lagu Weezer dari album Pinkerton atau Blue Album. Saya melewati masa remaja sambil mendengarkan Weezer dengan relijius dan kurasa akan menyenangkan untuk kembali ke masa-masa itu dengan membawakan salah satu lagu mereka dengan gaya kami.” Jawab Ann dengan bersemangat. Yang jelas, berbekal album bagus dengan review media yang juga bagus, mereka sukses mendapatkan spot di SXSW tahun ini di antara banyak gig lainnya sambil berharap bisa tampil di Asia dan Eropa. Sebagai penutup, saya pun meminta duo ini mengungkapkan rahasia terbesar mereka yang belum terungkap. Saya mengharapkan jawaban yang whimsical atau sureal, namun dengan enteng mereka menjawab: “We love Nicki Minaj.”

Well, that’s quite surreal for sure.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Miwah Lee.