On The Records: NICHOLSON

Come from the land of so-called Bollywood sounds, NICHOLSON is a live electronica project from singer-songwriter Sohrab Nicholson and producer/multi-instrumentalist Rohan Rammana which bringing a breath of fresh air to the musical landscape in Mumbai, India. The project is started not long after Sohrab finishing his jazz piano study at St. Francis Xavier University in Canada. After a brief stint in UK, he went home to India along with his musical exploration of ambient electronic which he combines with the key harmony of jazz. His conquest to find music producer who can understand and enhance his music bringing him to Rohan, one of the founders of Cotton Press, a music studio in Mumbai with main focus is to support the local alternative scene. With the right chemistry of emotive vocal and transcendental ambient electronic, it doesn’t took a long time for them to gain positive recognition through their debut EP For What in 2014. Supported by hypnotizing live performance and cinematic music video for singles like “Cold Water” and “For What II”, NICHOLSON successfully serving an interesting feast of sounds and sights.


Hi Sohrab & Rohan, how are you? Where in the world are you right now and what are you doing before answering this email?

Very well thanks. We’re in Mumbai, India right now. We’re in the process of writing our first album, so we have been spending a lot of time in the studio.

So I guess we should start from the beginning, what inspired you to start making beats in the first place and how did you guys meet and make this project?

Well music was essentially a very essential part of both our childhoods. We were exposed to a lot of it because of our families. Our dads exposed us to what they listened to, and eventually we learned to play our instruments. As far as the project is concerned, we met quite by chance at Cotton Press Studio in Mumbai, where Rohan is one of the founding partners. We started working on our first EP before we planned on launching a project of any kind.

What’s the story behind NICHOLSON’s name?

I had initially gone to Cotton Press Studio, to record a couple songs I had written. We worked on our first EP together in an artist-producer context. I didn’t at the time want another alias, so I just used my last name. Very quickly the dynamic changed and it was quite clear we were a duo in every sense, but the name stuck. Funnily enough we later discovered that Rohan grew up next to a lady called Mrs. Nicholson. Turns out she was my great aunt!

How would you describe your genre?

Wellwe’re not really genre specific. We draw inspiration from a really large palette. We come from similar jazz backgrounds, but listen to vastly different music from one another. So, in essence what we make is an amalgamation of all our influences.

What are your musical influences?

Jazz, Classical, Hip-Hop, Film Scores, Pop, Electronica… We’re sort of all over the place.

What kind of records were you collecting when you’re growing up?

Collectively… Michael Jackson. We definitely both had Michael Jackson records growing up. Pink Floyd, Miles Davis, Oscar Peterson, Weather Report – a few names that were always playing at home when we were growing up.

How do you think your hometown affects your music?

Never really thought about it to be honest…

How the songwriting/recording is usually goes for you? Who’s doing what?

It just depends on the song. We’ll jam out an idea and develop it. Sometimes, Sohrab will have a song skeleton with lyrics and basic chord guideline, which then gets developed together. Other times, it just starts with a groove… There’s no real system. It’s sort of a give and take. We both have ideas that all make it to the table and then we curate them.

You have awesome music videos that always feels so cinematic, how do you came up with the concept for your videos?

Well the video series is all thanks to our good friend Sachin Pillai, who came on board to collaborate with us from the very beginning. He’s a very talented cinematographer and documentary film maker. Our common friends are in the videos as well which made it quite special. The videos are Sachin’s babies. We brainstormed concepts etc, but he definitely captained that ship.

How do you feel about your local indie music scene in India nowadays? Do you have any recommended names to listens to?

The landscape of Indie music in India is changing very rapidly. A few years ago, there wasn’t really a market for non-mainstream Bollywood music. What’s happening right now is quite exciting. Yeah, lots of great acts… Sandunes, Parekh and Singh (Formerly Nischay Parekh), Sid Vashi are a few you should definitely check out!

What are you doing when not making music?

It’s pretty much our full time job. Other than this project, we also compose and produce music for television commercials, documentaries, etc.

What’s the most memorable gig so far and why?

Magnetic Fields which is a music festival held in a palace in Alsisar, Rajasthan. The festival on a whole was truly a very unique experience and we are just so happy we had the opportunity to perform there.

What’s your dream project?

A feature film background score.

What are the next goals for you?

We are writing our album as well as working on a creating a complete audio/visual experience tour collaborating with really talented visual artists, the “Wolves” who recently played at Glastonbury with Anoushka Shankar.


Photos by Neville Sukhia

On The Records: Sunmantra

Saat memutuskan mengajak visual artist Psychobiji untuk tampil di malam final NYLON Face Off, kami langsung membayangkan aksi musik apa yang tepat bila disandingkan dengan visual liquid nan trippy yang akan diracik olehnya. Pilihan kami pun jatuh pada Sunmantra, duo indie electronic Jakarta yang terdiri dari Jonathan “Jojo” Pardede dan Bernadus Fritz Adinugroho, and we proudly says we make a right choice. Musik techno andalan Sunmantra seperti “Silver Ray”, “Elusive Synergy”, dan “When You Bite My Lips” seolah bersinergi sempurna dengan visual yang disajikan sebagai backdrop. It feels like a match made in audio visual heaven dan membuat NYLON Face Off tahun ini begitu memorable.

Tercetus dari tahun 2012, Sunmantra sejatinya bermula dari proyek long distance saat Jojo dan Fritz masih berkuliah di negara yang berbeda. Sesi tukar-menukar file Digital Audio Workstation menjadi jalan bagi mereka untuk membuat lagu-lagu techno yang diramu dengan genre lain seperti krautrock, shoegaze, atau elemen apapun yang mereka anggap menyenangkan dan bisa membantu lagu yang sedang digarap agar terdengar lebih hidup. Sampai sekarang pun, walau telah stay di kota yang sama, metode ini masih mereka jalankan. “Kita jarang banget ngerjain lagu bareng, biasanya kita satu studio kalau udah mau mixing. Semua draft musik dibuat di studio masing-masing. Jadi bisa aja kita bikin lagu sendiri-sendiri terus baru dipilih yang mana yang cocok buat Sunmantra, sisanya kita pakai buat proyek pribadi,” ungkap mereka.

 Nama Sunmantra sendiri bisa dibilang muncul secara magis di mimpi Jojo. “Jadi di dalam mimpi itu gue lagi di atas panggung di sebuah festival dan ngeliat drum head-nya bertuliskan ‘Sunmantra’, nah setelah bangun gue langsung chat Fritz dan bilang, ‘Kayanya kita harus punya band namanya ‘Sunmantra’,” kenang Jojo. Magis dan menghipnotis, diperkuat oleh ciri khas mereka memakai facepaint saat manggung, penampilan live Sunmantra adalah salah satu aksi lokal yang wajib dinantikan dan disaksikan dengan mata kepala sendiri. “Waktu live, mindset kita adalah ‘menghibur penonton’ jadi kita taruh posisi kita dalam point of view-nya penonton, jadi gimana caranya kita bikin live set kita seseru mungkin. Bisa aja kita pakai yang sama dengan recording, bisa juga berbeda, kita lihat bigger picture dari set-nya sendiri.”

            Dengan respons positif yang terus diraih lewat beberapa single dan live act yang seru, wajar jika banyak orang penasaran mengapa Sunmantra belum merilis album apapun. Sambil tertawa, mereka menjelaskan jika sebetulnya dari dua tahun lalu mereka sudah ingin sekali merilis album di bawah nama Sunmantra yang sayangnya akhirnya terus tertunda karena kesibukan keduanya di proyek masing-masing. “Tahun ini kita bakal rilis sesuatu sih, semoga bisa dirilis sebelum puasa,” janji mereka dengan singkat. Sempat mengerjakan beberapa remix untuk musisi lain, saya pun menanyakan kolaborasi impian mereka. “Mungkin Sasha Grey ya? Suaranya bagus banget. Kita rasa untuk Sunmantra yang musiknya cenderung gelap bisa cocok sih,” tutup mereka.

            Sembari menunggu materi berikutnya, Jojo dan Fritz pun mengungkapkan beberapa album yang paling berpengaruh dalam karier musik mereka. Foto oleh: Bhrahu Pradipto.



Bad Music for Bad People

The Cramps

Kalau nggak ada album ini mungkin gue nggak nge-band sih, dari SMP gue udah tergila-gila sama Lux Interior dan Poison Ivy, panggung mereka selalu powerful dan energetic.


Their Satanic Majesties’ Second Request

The Brian Jonestown Massacre
Album ini membuat gue akhirnya milih kerja di musik setelah lulus SMA.

sound of silver

Sound of Silver

LCD Soundsystem
Album yang selalu membuat gue terkesima dalam pemilihan sound-nya. Nggak nyangka dance music bisa dibikin sekece ini.


rotten apples

Rotten Apples

The Smashing Pumpkins

Dulu kira-kira tahun 2004-an gue beli kaset ini zaman masih nyari-nyari sound gitar. abis dengerin album ini gue langsung ngulik efek dan mulai nemuin sound yang gue suka.


With Teeth

Nine Inch Nails

CD ini masih ada di mobil gue sampai sekarang, lumayan bisa dibilang kalau nggak dengerin ini gue kayaknya nggak bakal mikir buat dengerin techno, EBM, dan kawan-kawannya.


Nite Versions


Gue doyan banget album mereka ini, salah satu yang bikin gue penasaran buat ngulik synthesizer dan mulai nyoba bikin lagu yang isinya nggak full gitar-gitaran aja.

On The Records: Jonathan Kusuma

Lewat berbagai project yang ia geluti, Jonathan Kusuma berusaha menghidupkan denyut lain dari skena musik Jakarta yang terluput oleh orang banyak.

Tanpa adanya plang bertuliskan Rossi Musik, mungkin orang akan sedikit kesulitan saat mencari gedung di Jalan Fatmawati Raya nomor 30 tersebut. Hanya dinding penuh graffiti dan serakan gig flyers di parkiran yang meyakinkanmu jika kamu telah sampai di Rossi Musik, salah satu hot spot bagi skena musik underground Jakarta beberapa tahun terakhir ini. Dari luar, bangunan ruko tersebut tampak sunyi, padahal di dalamnya bercokol sekolah musik, studio rekaman, dan venue musik yang sering dipakai untuk gig berbagai macam genre; mulai dari metal, grunge, hardcore, hingga elektronik dari band-band domestik maupun luar negeri. Seiring waktu, Rossi Musik pun berkembang menjadi salah satu simpul budaya musik sidestream ibukota dan melahirkan satu skena musik tersendiri yang terdiri dari para musisi eksperimentalis dengan warna musik yang berbeda. Menaiki sebuah elevator tua yang berderit cukup mengkhawatirkan, saya sampai di lantai 3 gedung tersebut untuk menemui Jonathan Kusuma yang merupakan salah satu tokoh kunci di skena yang sedang berkembang ini.

Biasa dipanggil Ojon, pria kelahiran Jakarta 13 Juli 1983 tersebut adalah seorang komposer, multi-instrumentalis, DJ, dan desainer grafis yang dikenal sebagai separuh nyawa dari Space System, sebuah duo electronic garda depan yang ia bentuk bersama rekannya Aryo Adhianto. Tak berhenti dengan membuat musik di Space System maupun solo project atas namanya sendiri, passion musikalnya juga diwujudkan dengan menjadi co-founder dari Space Records, sebuah label independen yang menampung musisi cutting edge lokal dari berbagai genre, serta Akamady Online Music Store yang bisa dibilang online record store pertama di Jakarta. Di ruang kantornya yang dipenuhi tumpukan plat,saya pun berbincang tentang bagaimana ia memandang project yang ia tekuni dan kaitannya dengan skena musik Jakarta saat ini.

Boleh cerita dari kapan mulai terjun ke musik? Dan kenapa memilih elektronik?
Dari SD sebetulnya udah mulai ngeband, tapi baru nyadar kalau ini yang pengen gue lakukan baru sekitar 7 tahun terakhir. Kalau akhirnya mulai bikin musik elektronik, dulu waktu SMP gue pernah dipinjemin alat namanya Groovebox sama temen gue. Tapi waktu itu belum ngerti kalau ini musik elektronik atau apa, masih buyar lah, belum paham klasifikasi musik. Baru beneran mulai pas ketemu partner gue di Space System sekarang, Aryo. Dia yang paling banyak ngajarin gue musik. Kenapa elektronik, soalnya gue lahir di zaman yang apa aja yang lo temuin di kehidupan sehari-hari itu berhubungan sama elektronik. Lo bisa bikin suara pake handphone atau apalah. Jadi kebetulan aja gue besarnya di abad segini dan rasanya cocok.

So, which came first: Space System or Space Records?
Space System. Jadi Space Rec itu awalnya ada untuk merilis materi Space System, sesimpel itu. Kita waktu itu bertiga, yaitu gue, Aryo, sama sahabat SMA gue namanya Pattra Pangestu, dia yang jadi manajer Space System sekarang dan running Space Rec secara total. Dari yang awalnya untuk merilis Space System aja, terus Space Rec jadi nyari teman-temannya Space System yang lagunya mirip dan berpotensi. Awal-awal yang gabung juga teman-teman kita sendiri kaya Voyagers of Icarie atau Svarghi yang kebetulan roommate-nya Aryo di Bandung. Abis itu ada Curah Melodia Mandiri alias Abim, dia kebetulan yang mengelola gedung ini (Rossi-red). Kita ketemu Abim karena dikenalin Gerhan Ferdinal yang studionya di sebelah kita. Gerhan yang bikin Akamady juga.

Apa misi utama dari Space Rec?
Awalnya cuma buat rilis lagu-lagu lokal dan untuk bisa wadah atau inspirasi. Kalau misi utamanya, bukan klise ya, tapi sejujurnya pengen majuin musik Indonesia. Mungkin emang susah banget, tapi harus ada yang mulai.

Banyak yang bilang kalau musik-musik Space Rec cenderung eksperimental dan susah dimengerti orang awam.
Itu susah menjelaskannya sih kenapa kita milih musik-musik ini, gue pribadi masih susah merumuskannya. Kadang kalau dari struktur lagunya sih agak nggak mirip, tapi ada satu benang merah dan rasa connect yang susah dijelasin sama kata-kata. Kalau dibilang eksperimental, bermusik itu sendiri menurut gue udah bereksperimen. Yang paling menjelaskan mungkin ada karakteristik dari musisi-musisinya, maksudnya sikap mereka sebagai musisi itu gimana, itu yang biasanya jadi penilaian. Jadi dia beneran serius di musik nggak atau ngeliat musik kaya apa, lebih ke situ sih kaitannya. Gue sering nemu orang sini bikin musik bagus di Soundcloud atau apa tapi ya udah gitu aja. Nggak ada pertanggungjawaban dia atas karyanya. Dirilis kek, reply ke orang kek, kasih ke record label gitu, haha. Jadi kurang konsisten sih. Tapi emang susah, balik lagi bermusik di Jakarta saat ini susah, apalagi bermusik tanpa mau dengerin kata publik.


Menurut lo sendiri, gimana sih scene musik Jakarta sekarang?
Bisa dibilang banyak sih. Banyak yang bikin ini itu tapi kurangnya menurut gue masih kurang bergabung, itu klise juga, tapi kaya ada semacam barrier yang misahin scene A, B, dan C. Kurang integrated, soalnya kalau dilihat masing-masing scene sama-sama berpotensi cuma kaya nggak gabung aja. Kita jadi nggak bisa saling introspeksi atau kasih feedback di musik. Orang luar negeri juga akan mengenali music scene Jakarta kalau rame-rame. Kalau kecil gitu nggak akan dibilang scene. Makanya harus join, bedanya itu. Kalau orang luar kan kaya integrated gitu ya musik, art, visual, dance, semua jadi satu. Makanya penyebaran dan promosinya bisa booming.

Bagaimana dengan tanggapan kalau Rossi Musik dan Space Record disebut sebagai bikin scene sendiri?
Itu kebetulan terjadinya gitu, kita nggak merencanakan apa-apa. Kaya gue sama Gerhan kenalannya waktu manggung bareng. Gue suka banget lagu-lagunya dia dan ngajak kenalan. Kebetulan kita orangnya sama-sama bisa dibilang ansos, jadi scene-nya sebenarnya kita-kita aja, tapi kalau misalnya ada yang wah kayanya orangnya bisa diajak ngobrol nih, kita terbuka-terbuka aja. Kita pengennya juga terbuka. Kalau mungkin kita keliatannya tertutup, kita nggak bermaksud gitu. Kita tetap pengen saling interaksi.

Okay moving on, boleh cerita soal Akamady?
Akamady inisiasinya dari Gerhan. Dia sebenarnya DJ yang lama di San Francisco. Pas dia di sana, scene dance-nya SF lagi booming banget, ketika pulang dia bawa culture record collecting yang di sini saat itu gue sama Aryo kalau nyari lagu itu kayanya susah banget. Kita suka dengerin mixtape orang yang lagunya bagus-bagus banget, sampai hafal lagunya tapi nggak ada yang tau itu lagu apa. Gerhan dateng, dia sharing tentang musik, bawa plat dan akhirnya pengen buka record store. Awalnya seperti itu, tapi kita nggak mau kalau musik terbatas harus plat. Mulai dari CD, kaset, atau lo burn CD di rumah terus dihargain berapa, itu bisa kita jual. Sampai alat musik, kabel, dan kebetulan tahun ini kita baru rilis record-nya Gerhan. Jadi Akamady akhirnya punya sub sendiri, Akamady Records yang tahun ini dijadwalin sekitar 5 rilisan, plat semua.

Jadi apa bedanya antara musik yang dirilis Space Rec dan Akamady Records?
Bedanya? Kalau yang gue liat secara pribadi, kalau Space Rec musiknya lebih serius, dalam arti ada karakteristik eksperimentalnya dan pendalaman teknis atau yang komposisinya lebih nggak biasa. Kalau Akamady gue liat komposisinya lebih 4/4 atau lagu-lagu yang dance. Kita kantornya juga barengan, jadi bisa saling interact. Misal Space Rec ada artis yang kira-kira cocok buat Akamady, kita bisa kasih referensi atau sebaliknya. Jadi udah punya perannya masing-masing. Menurut gue perlu lebih banyak record label yang saling integrated.


Menurut lo masih penting nggak sih bentuk fisik album di era digital sekarang?
Penting tapi nggak harus. Penting dalam arti kadang musik yang berbentuk itu lebih ada rasanya. Kalau gue nge-DJ, gue lebih suka masukin CD karena gue bisa lebih hafal lagunya, gue jadi lebih bisa mendekatkan diri ke materi lagunya.

Bagaimana Akamady melihat kultur record collecting lokal?
Menurut gue masih terpaku vinyl. Bukan collecting music tapi lebih ke collecting records. Kalau gue lebih setuju collecting music, mau bentuknya kaset atau CD. Yang paling penting kan musiknya, bukan cover atau bukan vinyl-nya. Scene di sini jujur masih vinyl-oriented banget terus gue sering overheard kaya ada kesan kalau musik digital itu jelek. Gue setuju kalau musik digital yang pembajakan, itu memang nggak bagus tapi kalau buat orang yang emang beli musiknya di iTunes gimana? In the end, it’s about the music itself.

Apa tantangannya dengan memutuskan jualan record secara online?
Itu sampai sekarang masih perlu strategi sih. Kultur ini kan dari dulu udah ada aturannya kalau kita dateng ke record shop, liat-liat cover, cobain, terus ngobrol sama penjaganya, dapet rekomendasi. Itu yang masih susah karena kita nggak bisa kasih pengalaman itu secara digital, lewat internet apalagi. Susah banget ngajak orang buat digging music secara digital tapi untuk vinyl. Itu aja udah aneh karena udah ganti media berapa kali. Sekarang strategi kita dari Facebook page-nya kita coba post video tentang kulturnya. Kalau ada artikel tentang electronic kita share atau kalau kebetulan kita ada rilisan Kraftwerk misalnya, kita kasih brief sejarahnya Kraftwerk. Sebagai proses pembelajaran di musik juga.

Last, apa harapan lo untuk skena musik Jakarta?
Harapan gue music scene Jakarta selain maju, gue pengen kita punya karakter Indonesia. Karakter itu nggak harus batik atau wayang atau gamelan lah, itu bisa aja hanya simbol. Karakter Indonesia dalam arti sifat Indonesia yang sekarang, kaya budaya gotong-royong atau kesopanannya, karakter seperti itu yang udah di-translate ke art & music. Kita maju tapi tetap dengan karakter Indonesia. Jangan kita maju tapi cuma minjem karakter Barat. Kalau gitu kan jadi cuma copycat.


Foto oleh: Sanko Yannarotama

As published in Nylon Indonesia March 2014

Space. Recommended
Sejak dibentuk tahun 2006 silam, Space Records telah menjadi rumah bagi musisi-musisi seminal dalam negeri dari berbagai genre dengan karakter distinctive. Berikut adalah beberapa di antaranya:


Curah Melodia Mandiri
Curah Melodia Mandiri (CMM) adalah solo project dari Syafwin R. Bajumi yang menghasilkan bebunyian elektronik tidak biasa dengan instrumen utama sebuah Gameboy dan Nanoloop 1.3. Ia menjelaskan musik Chiptune yang ia ramu sebagai bunyi sintetis lo-fi berpadu dengan idenya akan musik tradisional kontemporer. Lewat beberapa rilisan seperti Pantai EP dan album debut Mashed yang kental akan elemen musik tradisional lokal, CMM merumuskan cetak biru dari musik Chiptune rasa Indonesia.

Duck Dive

Duck Dive
Bagi Muhammad Fahri alias Gonzo yang membuat musik dengan nama Duck Dive, kecintaannya pada bunyi lautan dan misteri di dalamnya menjadi inspirasi terbesar dalam musik ambient/electronic yang ia buat. Album debut yang dirilis tahun 2007 bertajuk Inner Projections yang berisi deburan repetitif melodi dan influens dari era awal munculnya genre electronic mengajak kita menyelami musik elektronik sebagai sebuah sesi eksperimen suara dan nalar.


Space System
Merefleksikan diversitas budaya yang membentuk Jakarta hari ini, Space System menggabungkan berbagai elemen dan genre musik seperti electronic, jazz, krautrock, dance, psychedelic, hingga Gamelan menjadi racikan eklektik dari musik yang mereka sajikan. Terbentuk dari tahun 2005, Space System yang dibentuk oleh Aryo Adhianto dan Jonathan Kusuma yang pada perkembangannya turut diperkuat oleh Erlangga Utama dan Gerinov Medaimanto berhasil menempatkan nama Jakarta di peta musik dunia.



Diprakarsai oleh Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu yang keduanya merupakan dosen Etnomusikologi di Universitas Sumatra Utara, Suarasama merupakan kolektif musisi yang menghasilkan musik kontemporer dengan pendekatan world music serta elemen dari musik tradisional Sumatra Utara. Album Timeline yang dirilis tahun 2013 lalu adalah perayaan ulang tahun ke-18 mereka sekaligus bab baru dalam pembelajaran musik Indonesia.



KOMODO merupakan dub disco house project dari Gerhan Ferdinal, seorang DJ Jakarta yang menyerap influens dari pergerakan kultur dance San Francisco di tahun 90-an. Telah mulai menjadi DJ di program Reggae Revolution di klub legendaris Jakarta bernama Parc, menjadi awak Quirk It! Sound System, hingga saat ini membentuk Akamady Online Music Store, Gerhan tak berhenti memajukan skena musik elektronik Jakarta.


On The Records: Spazzkid


For the  very first Asian Issue of NYLON Indonesia, I decide to make a special feature about upcoming bands/musicians across Asia. As usual, beside some shortlist I already have in mind, I know I need to keep searching on the internet, listen to so many Soundcloud, Bandcamp, and blogs until I discovering new names I haven’t heard before. One of them is Spazzkid, the moniker of Mark Redito, the Philippines-born, L.A. based bedroom musician. At first, judging from his moniker, I though his work gonna sounds like Skrillex’s party banger anthem, but then when I play his single called “40 Winks” which samples the Memoryhouse cover of My Bloody Valentine’s “When You Sleep”, its a pure bliss, dreamy electropop which sounds more like Toro Y Moi than any stadium DJ.

It was love at the first heard, and obviously I immediately stalking his Bandcamp account and shamelessly downloading all 8 songs(its actually free downloadable, so…) on his Desire album. A solid electropop/ambience album, Desire is probably my favorite electronic album of this year, and a perfect reason to feature him on that special feature. Here’s my conversation with the man himself. 

Hi Mark, how are you? Would you mind to introduce yourself?
Hey I’m Mark from Los Angeles and I make electronic music as “spazzkid.”

 Where do you live right now? Where do you called home?
I live in sunny southern California. I was born and raised in Manila, Philippines but I now call Los Angeles my home.

What prompted you to make music?
I grew up in a very musical family. We always had instruments at home. My dad bought me my first drum kit at age 12. I soon played in bands up until college. I got into recording my own music around 2004-2005. I was playing around with earlier versions of FL (Fruity Loops) and Cakewalk. I started out making demos for bands that I played in and before I knew it, making music blew up into a full on obsession. I’ve been making music as “spazzkid” ever since.

Where was the name came from?
I was really into this hardcore band called “SPAZZ” in college. So when I went into chatrooms or used social media back then I adopted the name “spazzkid.” When it was time for me to choose a moniker for my music, I just used the same name. There really wasn’t that much thinking involved. The name has just stuck with me ever since.
What albums/musicians really influences your work?

Oh man, too many to mention. I take influence and inspiration from these artists: Daedalus, Baths, Jimmy Taborello, Postal Service, Flying Lotus, Yasutaka Nakata, Perfume, J Dilla, Yellow Magic Orchestra, and The Beatles. There are so many more… All the music I’ve listened to has shaped my music today.

What’s the story behind Desire album?

I wrote about my process with Desire at length here: http://spazzkid.com/desire2013 but in a nutshell: I had a really bad artist block a year before the album was made. I was also busy doing a bunch of bike rides. When fall 2012 came, I found myself riding less because the weather was getting colder. That forced me to spend more time in my room and on my computer making songs. I started recording Desire from October 2012 to March 2013. These songs were written during a time when I was processing a ton of emotional, spiritual, and physical things in my life.

  How would you describe your own sounds?
Soulful, organic, imperfect.
 Did you ever performing your songs live on stage?

Yes I do. I’ve been busy playing shows around LA and the rest of southern CA lately. It has been a very positive and encouraging experience for me so thus far.

 Do you have dream collaboration?
I’d love to collaborate with fellow LA-based musicians Baths and Deadalus someday.
 What’s the next plan?
To record more music. Do more remixes. Collaborate with many other artists. To travel and share my music around the world!

Mixtape: Akira as Astronaughty

Sebetulnya tentu saja Akira as Astronaughty bukanlah astronot betulan, ia adalah electronic solo project dari seorang beatmaker, radio announcer, dan penyanyi bernama Dmust Akira yang memilih nama Akira As Astronaughty karena ketertarikannya pada bintang dan luar angkasa. Project yang dimulai tahun 2008 ini telah merilis satu album berjudul Attracted To The Light berisi lagu-lagu electronic dengan influens Justice, Daft Punk dan Knife Party. Dmust yang sering dinominasikan di electronic music awards dalam negeri ini juga kerap me-remix dan memproduseri musisi lain, mulai dari Goodnight Electric, Sandhy Sondoro, Jimi Multhazam sampai Harvey Malaihollo, “Hmm, sebenarnya gue suka dan tertarik nge-remix lagu itu karena memang awalnya penasaran, kalau gue tweak sedikit jadinya seperti apa ya? Jadi gue coba dan cuma mau bikin sedikit beda aja dari versi aslinya. Yang next rencananya sih lagunya Aditya yang ‘Go Away’,” ungkap cowok kelahiran Jakarta 14 Maret 1983 ini. Dari sekian banyak gig yang telah ia lakukan, termasuk menjadi opening act untuk konser Sean Kingston dan Far East Movement, mana yang paling berkesan? “Event paling memorable pastinya masih di Silent Disco, gue main di sana dan setelah gue buka headphones, asli nggak ada suara apa-apa di luar, mereka dance dari bunyi headphone yang mereka pakai, itu sangat unik banget, susah dijelasin sama kata-kata, harus coba sendiri! Hehe,” jawabnya. Sambil menunggu rilisan selanjutnya berupa EP berjudul Double Dare bersama DJ Echa, bulan ini ia meluncurkan single “You Don’t Know Me” via label barunya bernama Audio Expressions dan membuat mixtape bertema space traveling.

Velvetine – The Great Divide (Seven Lions Remix)

No gravity, just floating around, but watch out for the meteors. Love this!

Zedd – Spectrum

If I’m an astronaut, gue akan pasang lagu ini di soundsystem rocket ship gue waktu take off. Well, itu pun kalau ada soundsystem di rocket ship. Prepare to take off with this track!

Labrinth – Last Time (Knife Party Remix)

Star Trek menurut gue terlalu geeky, coba ganti soundtrack-nya deh pakai lagu ini, mungkin akan lebih keren? Hmm…

Caspa & Mr Hudson – Love Never Dies

Lagu ini bisa bikin lo mengkhayal santai, seperti lagi melayang tanpa gravitasi.

Datsik & Kill The Noise – Lightspeed

Jump into light speed with this tune, that’s what we’re gonna do.

Knife Party – Destroy Them With Lazers

Kalau gue lagi space travelling dan terdampar di planet lain, kebetulan di planet itu ada alien, mungkin gue akan pasang lagu ini di headphone and Destroy Them With Lazers!

Daft Punk – Digital Love

This track and the video is perfection of space electronic.


Justice – Audio Video Disco


Sigma feat. Ikay Foxrox & Geetox – Night & Day

Time to rush back to earth, let’s jump. Suka banget lagu ini since the first time I hear it, never get bored.

Rusko – Hold On (Sub Focus Remix)

Epic track! We safely landed on earth.


On The Records: Hazen Mardial

Bicara tentang dubstep, tidak usah jauh-jauh membahas Skrillex atau album baru Muse yang terinfluens genre asal Inggris ini, karena nyatanya Indonesia pun memiliki pengusung dubstep keren tersendiri yang salah satunya adalah Hazen Mardial, seorang beatmaker/producer Electronic Dance Music (EDM) asal Jakarta. Mardial yang awalnya tergabung sebagai vokalis di band modern rock bernama Tales Of Science mulai aktif di forum EDM Indonesia, khususnya Ableton Indo yang bermarkas di Kaskus, saat band tersebut bubar. Dia yang memang sudah tertarik membuat musik elektronik sejak SMA akhirnya mulai memproduksi track sendiri dari kamarnya, yang disebutnya sebagai JKT Bass. Dengan influens meliputi Radiohead yang diakuinya sebagai band favoritnya sepanjang masa, DJ dari Circus Records UK, dan producer dalam negeri seperti Bima G, DTX, Billy Kurniadi, Gizky Hary, musik racikan Mardial mulai dikenal publik, terutama berkat single “Yosohot” yang tergabung dalam album kompilasi Ableton Live Indonesia dan hasil remix-nya untuk Homogenic, C’mon Lennon, Yacko dan banyak lagi.

Hi Mardial! Boleh cerita sedikit tentang diri lo dan apa yang lo kerjakan?

Kalau ditanya gue siapa, gue mahasiswa tingkat akhir, pecandu musik, electronic music producer, aktivis Ableton Indonesia (digital audio workstation/software). Kalau ditanya sekarang gue lagi ngerjain apa,  gue lagi merampungkan beberapa Album EP (digital release) dan performing gigs to gigs. Dan tentunya sedang ingin menyelesaikan kuliah.

Dari sekian banyak cabang electro, kenapa memilih konsen di dubstep?

Jujur gue belum lama mengenal musik ini, gue dengerin berbagai macam musik dan di dubstep ini gue temuin sebuah unsur yang menurut gue bisa mewakili sedikit musikalitas gue yang boleh dibilang memberontak, yang gue bicarakan di sini adalah musik dubstep era 2009 ke atas di mana segala macam unsur EDM mulai bertubrukan secara liar namun tetap kreatif dan enjoyable. Intinya gue sangat suka bereksperimen dengan berbagai macam unsur genre, dan di dubstep ini yang menurut gue tepat buat menyalurkan ide-ide liar gue. Mohon maaf buat pionir dubstep atas kelancangan gue.

Band/album musik apa saja yang paling berpengaruh dalam karier bermusikmu?

Kalau lo tanya ke temen-temen dekat gue, mereka pasti akan menjawab Radiohead. Memang tidak ada hubungannya dengan musik yang gue mainkan, tapi menurut gue Thom Yorke dan kawan-kawan adalah sebuah icon pemberontakan pengotak-kotakkan musik. Dan OK Computer tetap menjadi album Radiohead terbaik sepanjang masa versi gue (They used electronic music too). Kebanyakan gue suka sama band-band Indie seperti The Drums, Vampire Weekend, The Strokes. Gue juga tumbuh dengan musik-musik cadas seperti kebanyakan anak muda Ibu Kota lainnya dan gue juga suka banget sama band lokal Efek Rumah Kaca, The Upstairs, WSATCC, Zeke and the Popo, Homogenic, Seringai dan banyak sekali. Buat dubstep sendiri influence utama gue adalah DJ/producer keluaran Circus Records UK seperti Doctor P, Roksonix, dll. Gue juga dapet banyak pengaruh dari 16bit, Rusko, Caspa, Skream, Dream, Culprate,  Nero,  Delta Heavy, Savant, dan masih banyak lagi

Boleh cerita tentang JKT Bass yang lo usung? 

Hahaha.. JKT Bass adalah sebuah parodi, awal penggunaan kata JKT Bass adalah di saat gue tidak mau menyinggung scene Dubstep yang sudah ada atas karya-karya gue yang sedikit melenceng dari dubstep itu sendiri, mungkin orang mengenal JKT Bass dari label genre di Soundcloud.com/mardial dan gue gak nyangka banyak juga temen-temen producer yang menggunakan label “JKT Bass”.  intinya kalau di UK ada “UK Bass” di Jakarta gue juga pengen ada “JKT Bass” mungkin habis ini gue bakal dicaci sama “Music Genre Police”.

Brazil punya favela, Inggris punya dub yang sifatnya lebih merakyat, tapi kalau di Indonesia, gue melihat kultur musik elektronik sendiri masih milik kalangan menengah ke atas, kalau dilihat dari DJ school yang mahal, charge di club/event yang mahal (dan dresscode overdressed yang sucks), gue pikir sudah seharusnya musik electronic bisa lebih merakyat, kalau menurut lo sendiri gimana?

That’s the point! Kalau lo pecinta musik seharusnya lo datang buat musik, bukan cuma buat gaya-gayaan dengan high heels. Gue punya banyak banget temen yang memang cinta sama musik dan bagusnya di scene Bass Music (Drum and Bass, Dubstep, Dub, Grime, etc) kulturnya memang lebih merakyat dan yang masih menjadi penghalang adalah Club/venue Policy itu sendiri.  Club/Venue jelas mencari pendapatan dan mereka pastinya punya kebijakan agar crowd-nya tidak kebablasan dan dandan seenaknya, jadinya untuk di Indonesia venue harus bisa lebih paham bahwa Electronic Music bukan cuma gemerlap malam dan keglamoran. Namun ada juga scene lain yang lebih “apa adanya”. Big ups for Indonesian Bass Music Label/EO  yang sampai sekarang masih menerapkan event yang tidak menuntut crowd-nya macam-macam.

Siapa beatmaker/DJ/Producer Indonesia idola lo dan kenapa? Skill apa aja yang penting untuk jadi seorang beatmaker?

Di Indonesia banyak sekali producer yang menginspirasi gue seperti Bima G, DTX, Billy Kurniadi, Gizky Hary dll. Bicara soal skill yang sangat dibutuhkan oleh beatmaker/producer adalah musikalitas itu sendiri, perbanyak referensi, dan jangan pernah berhenti untuk belajar. Yang gue perhatikan saat ini banyak sekali producer muda berbakat yang lebih mementingkan teknik ketimbang musikalitas, sedangkan menurut gue setinggi apapun skill producing kita, kalau kita tidak bisa membuat nada yang catchy akan sia-sia, mungkin secara batin producer tersebut akan puas, namun pendengar akan malas untuk mendengarkan karya kita lagi apabila lagu tersebut bersifat egois. Jujur gue bukan pribadi yang idealis, gue lebih dinamis dan sangat menerima masukan. Because life is learning.


On The Records: Glen Check

Hello guys, would you mind to introduce yourselves and what your role in the band?
Hello, I’m June One Kim, I sing and play the guitar in the band.
Hi, I’m Hyuk Jun Kang and I play the bass.
How do you guys met and what make you want to make music together?
HJ: We met in high school, in an after-class band session and we used to talk about music a lot. After graduation, we just thought that it would be fun to record our own music so we started doing it when we had some free time from college and other things.
JO: Yeah, that’s pretty much it, we never had big plans for our works since making pieces of music was always our hobbies from childhood and thought it would be for the rest of our lives.

Where’s the name “Glen Check” came from?
JO:  At the time we had to come up with a name, I had this textbook at my desk that was read  and studied in my school. I majored fashion design in an art school so all the words contained were fashion related vocabularies. Glen Check was one of them, and we just thought it sounded easy and fresh so we made the decision.
Musically, what kind of music/band influences your works?

 JO: All kinds. It also changes every time.
HJ: We do have our favorites, such as Pink Floyd, Michael Jackson,Prince, Led Zeppelin, Joy Division and many others, but that won’t matter much because it’s everyone’s favorites. Not only us. 

What’s the main theme/idea for your debut LP, Haute Couture

JO: Basically, the record was meant to sound like a collection of immature band tracks, since it was a fresh new beginning for us and had no money for the record. We thought it would be better for a band to have this “flowing” history from immature to mature like boy to man. However, like any young boys in the world, they don’t want to look like an immature kid. So we named it “Haute Couture.”
HJ: We recorded everything in “The Basement,” our small underground studio in Seoul, and did our best to make something listenable.  We probably will record most of the things for our next works in here as always, but at the time, we would know more about the skills and gears.

Talk about “Haute Couture”, the title of the album and most of the songs (“French Virgin Party”, “Vogue Boys And Girls”, “Bataille”, “60s Cardin”, etc) feels so French inspired… Do you guys have your own fascination to French in general?

JO: I spent my younger days in France. It was a small town near the eastern border called St.GenisPouilly. I used to speak French quite well back then, but after getting used to English and my own Korean language, everything got mixed up and now I only have bits of memories of short phrases and words, still good enough to name and title tracks. I just like the way they’re read in French and good to keep my memories. Language doesn’t affect drum sounds or guitar tones, it was just to express my memories and the feelings of my younger days, from the words itself.

What do you think about the indie scene in Korea itself? Like the rest of the world, I think its overshadowed with mainstream pop music, but tell me a bit on your personal opinion.

HJ: We feel the same way. It is overshadowed but what could we do?
JO: We don’t really know about it and don’t really care about it. We only know and care about what we do.

Can you recommend us other great indie band/musician from South Korea?

JO: Don’t know well about others.

Where’s your best gig so far?

JO: There are no best gigs you know. Every gig is like smoking a cigarette after forcing myself away from it from a long time. It feels great every time in every different way and we’re fucking excited every second.
HJ: Yeah, but it depends how the audience interacts with us also. If they’re bored somehow, we’re also bored. A gig is all about the atmosphere for us. No direct communications, but we have our sounds flowing around the crowd, along with their physical moves and shouts all around our nerves.

What’s the next plan? What do you hope for?

JO: We’re releasing a new EP with 5 whole new different tracks. We’ll probably play gigs for a while with a new set until the end of this year and probably fly to another place to make another record.


On The Records: Trampauline, Seoul’s Shimmering Synthpop.

Trampauline is synth pop project of Cha Hyosun from Seoul, South Korea. Alongside the catchy name, it is the ethereal mix of twinkling synth and hushed vocal that capture your attention from the early notes and set her apart from any other musical acts in Korea. Definitely not a K-pop.

      Hello Hyosun, how are you? What are you doing before answering this email?

I am doing great. Just got back from Japan tour and still in the house-cleaning process… I was cleaning my desk.

So how was the Japan tour?

 It was great and there was a sort of warm-welcoming air+energy that I felt from audience and Japanese musicians. Great tour really.

      When the first time you realize you want to be a musician, and specifically making music like you make as Trampauline now?

I saw Korean punk bands playing at a place called ‘Drug’ long time ago, thought I wanted to be one of them, I turned out to be a electro pop musician though, I was not a very good screamer after all :). Trampauline was a slow process. I just wanted to make my own music and slowly the music began to take shape.

      Trampauline is such a catchy name, where the name came from?

I actually liked playing on trampolines when I was young, I liked the image of the movement (jumping on it) the word has. And I liked the sound of the word when it’s pronounced. It’s pretty+ ethereal, isn’t it?

      It is! What band/musician influences your music? 

Don’t know.. lots.. but just to be specific, I’ve always liked T-bone Walker and Bo Diddley than Stevie Ray Vaughan and Roy Buchanan (even though I really liked some of their songs). I’ve been more enthusiastic fan for guitarists who are more of rhythm-maker than solo-maker. Although I don’t make guitar-based music, I’ve had certain tastes and influences even on guitars and that influence on my music I guess. Wait… I am listening to Roy Cuchanan’s “Sweet Dreams” and it’s just a beautiful song… haha. Do I make you get confused?

      How’s the creative process for your song, is it the music first or the lyric?

It’s different everytime. Sometimes I start with a single melody or phrase, sometimes beats come first and then I add a lyric or melody on it, sometimes I start with guitar chords and song melody.

      Did you intentionally make an English based lyric for the songs? 

Yeah, it is. It works well with other elements that I make, that’s why.

      Your songs sounds so different, not only among Korean bands, but also even the rest of the bands out there… what things you try to express from your songs? How you describe your sounds?

There are feelings that I eventually deliver through music whether I intend it or not. I guess it’s sort of chill you get from not trying to be too…dramatic or passionate. I believe there are certain kind of feeling and chill in between that music can deliver. Oceanic feeling. Short breath. Certain bright craziness.

      When the best time/condition to hear your songs?

Whenever it suits you.

      From some of your videos I watch on YouTube, you’re playing from underpass to roadside, where’s your best gig so far and why?

Can’t pick one. I have done lots of good shows.

Korean Wave already became a global phenomenon, but to be honest we eager to know the other peculiar choice of Korean bands, do you think the indie bands will get some recognition from wider audience too?

As long as there are people out there wanting to find more about non-mega star but good musicians, we have many to be found out. Keep an eye on us.

      Where’s the best spot to catch a great music while we’re on Seoul? 

Lowrise at Mullae dong, Kkonttang at Etaewon are places you should try when you want to find out indie-fresh new acts. there are lots of gig places at Hongdae where many gigs are hosted.

      What are you doing beside music?

 Living an ordinary life… does that explain?

      What’s next project for you? 

I am participating as a film music director at LIG art hall program. Also working on a new single for a Pastel Music’s 10 year anniversary album.

Thanks for this interview, I love your music so much! x

Thank you and best wishes!



Mixtape: Adhe Arrio

“Gue tertarik dengan musik elektronik itu pas mulai dengerin Daft Punk terus sekitar tahun 2004, gue dikenalin sama DAW (Digital Audio Workstation) lalu mulai tertarik bikin-bikin lagu,” ujar Adhe Arrio tentang awal mula ketertarikannya membuat musik elektronik. Cowok kelahiran Jakarta 26 tahun lalu yang mengaku sebagai synth lover ini selain dikenal sebagai gitaris/controller di band Backalley memang cukup sering membuat proyek musik elektro pribadi seperti single-single “All I See”, “Pachinko” dan “Tonight” yang baru saja dirilis, serta beberapa remix untuk band-band seperti The Upstairs, Empire of The Sun dan Passion Pit. Adhe yang mendapat influens bermusik dari Beatles, Daft Punk dan Chemical Brothers juga dikenal sebagai produser musik di Kamar Studio. “Kamar Studio awalnya hanya keisengan gue sama Adi (Easy Tiger) dan sesuai namanya memang ini kamar tidur gue, haha, tapi kami suka iseng bikin lagu di sini terus lama-lama banyak yang minta tolong mixing dan recording di Kamar Studio dan karena memang kami suka ya sudah kami mau dan berlanjut sampai sekarang,” cetusnya. Kini, selain album Backalley, Adhe juga sedang menyiapkan EP berisi 5 lagu electro yang mengajak kolaborasi dengan teman-teman musisinya seperti Widi Puradiredja dan Raben serta menyempatkan diri membuatkan mixtape berjudul “Afternoon to Midnight” yang asik didengar di tengah kemacetan Jakarta.



Album SBTRKT ini mungkin album paling sering diputar di iPod gue. Lagi nyetir pagi, siang, sore, bisa masuk semua, Aaron Jerome has made a great album.

Tiger & Woods

“Don’t Hesitate”

Simple and easy listening, what more can I say?


Miike Snow

“Paddling Out”

Pas pertama kali dengar lagu ini, menurut gue ini sesuatu yang fresh dari Miike Snow. Good to listen!



Just enjoy the song dan lo bakal ngerasain masuk ke dalam musiknya AIR yang nggak bisa ditebak.

Azari & III

“Hungry For The Power”

Gue suka banget lagu ini karena banyak banget karakter synth dan drum machine klasik.


“Save Me Now”

Strong bass line! Another classic disco track from one of my favorite producers, Vito de Luca.


“Shooting Love (Fat Club Mix)”

I think this version is better than the original.

Neon Indian

“Polish Girl”

Lagi-lagi banyak suara synth di lagu ini, dan lagunya tetap enak buat dinikmati.

Nicky Romero


One of the rising stars in house, this track gonna blow you stereo!

Wolfgang Gartner

“Shrunken Heads”

If you like distortion in electronic music then you gonna love Wolfgang Gartner.

As published in NYLON Indonesia May 2012


On The Records: Mark Dobson (Ambassadeurs)

Hi Mark, how are you? Do you mind to introduce yourself?
Hi, I am an electronic music producer from Brighton, UK.

When do you start making music, especially under the Ambassadeurs moniker?
I started making music quite a long time ago on my first computer (an Amiga 500 using a program called Octamed) and learnt how to play guitar, piano and drums on the way.
The Ambassadeurs moniker started a couple of years ago when I decided to put out a load of tracks I had been working on to see what happened and if people would like them.

What’s the story behind the name?
I don’t really remember where the name came from, probably just from reading something and seeing the word and thinking yeah, that  will be what I’l call my project. Its funny because it confuses most people because of the name being plural, I turn up to gigs and they are like “where are the others” thinking it’s a duo or something.

Which musicians and albums are you most inspired by?
I listen to loads of different types of music but I suppose the artists that have had the biggest effect on me would be…

  • Amon Tobin – Im a fan of all his work and love the way he continues to push boundaries and is never scared to experiment.
  • Tribe Called Quest – Midnight Marauders – This is one of those albums I can always keep going back to and listen to from start to finish. Its one of my favourites.
  • Cinematic Orchestra – Everyday – This album blew me away when I first heard it and still does today, I love the atmosphere it creates and the drumming is incredible.
  • Tame Impala – Innerspeaker  – Discovered this album about a year ago and its still getting played regularly, the great songs mixed with the raw and psychedelic production sound amazing.
  • Clams Casino – Instrumentals – This album is one of my favorites. Again the atmosphere and emotion in the way he samples things is really special.

I could go on all day with these and there are many important ones I have left out but inspiration and influence comes from everywhere.

What’s the typical creative process when you start making a track?
Sometimes I’l start by sequencing a beat, sometimes it will begin playing on the keys, sometimes it’l be chopping up samples on the MPD. I find Its always good to switch up the process of making music in order to keep thing fresh and discover new ways of doing things.
How would you describe your music to someone who hadn’t heard it?
I usually just call it electronic and whenever its described by anyone else they call it something different. The boundaries of music genres are so blurred nowadays which is a great thing but it always makes this question difficult.

Do you have any routine before you perform on a gig?
Not really other than having some drinks and watching whoever else is performing that night. That’s one of the best things, getting to see other acts play when Im gigging.

Watching your “M.O.P.E” video while getting high is one of the greatest trip I ever had, how do you see the importance between your music and the accompanying visuals?
Haha, yes a lot of people tell me that and I can understand why, it’s a pretty trippy video and the guys from Feel Good Lost did a great job, I love their work! I think visuals can be important if they are done in the right way and not just done for the sake of putting visuals with a track, listening to music without visuals frees the imagination.

Do you have any subliminal message on your music/video?
No, but that’s a good idea, I might try that haha.

What’s you currently doing beside music?
I’m completely working on music at the moment, apart from that I am doing some other music related work (Mixing and Mastering) for some people.

Next project?
I think I want to work on the Ambassadeurs project and concentrate on that until it is at a point where I will have some time to branch out into another project and try something different… I’l keep you posted on that one!


Body & Soul, An Interview With AlunaGeorge

Duo asal London, AlunaGeorge, meramu musik pop menjadi sesuatu yang fresh dengan vokal seringan helium dan groovy R&B electro glitch. You know you’ll like it. 

Sama-sama berasal dari St Albans, London, dua orang di balik AlunaGeorge yaitu vokalis Aluna Francis dan produser George Reid justru pertama kali berkenalan lewat situs MySpace saat George menawarkan diri me-remix salah satu lagu dari My Toys Like Me, band electronic yang merupakan band tempat Aluna bernaung sebelumnya. Cerita tersebut memang terdengar agak klise untuk era jejaring sosial saat ini, namun untungnya, tak ada yang terdengar klise sedikit pun dari musik yang mereka hasilkan kemudian seperti single-single awal “We Are Chosen”, “Analyser” dan “Disobey” (dipakai di serial TV Skins, baik yang versi UK maupun US) yang menjadi viral hits di internet berkat musik hip pop yang tercipta sempurna lewat team effort yang dinamis. Aluna sebagai penulis lirik dan bernyanyi dengan vokal quirky dan innocent yang terinfluens PJ Harvey, The Knife dan CocoRosie, sementara George adalah orang yang bertanggung jawab di balik nada-nada elektronik yang slick dan penuh elemen 2-step, R&B 90-an serta bassline jenial.

Butuh waktu agak lama sebelum akhirnya duo yang sama-sama masih berusia 24 tahun tersebut membalas email saya yang dilakukan seusai menyelesaikan sesi interview dan photoshoot dengan NME Magazine. Setelahnya, mereka langsung kembali ke studio demi menyelesaikan beberapa track yang hampir rampung untuk album debut mereka, yang akan menjadi follow-up dari EP berjudul You Know You Like It yang dirilis oleh Tri Angle Records tanggal 14 Mei kemarin. Berisi tiga lagu seperti “Just A Touch”, “Put Up Your Hands” dan single “You Know You Like It” yang juga sudah dibuat videonya, mereka seolah memberikan satu resep yang diharapkan bisa membawa musik pop Inggris ke tingkat selanjutnya, yakni radio friendly untuk pendengar musik mainstream dan chart musik namun experimental enough untuk para music snob di luar sana.

“Awal-awal mulai tertarik membuat musik. saya banyak mendengarkan Aphex Twin, Prefuse 73, Chris Clark dan musik-musik lain yang sangat berbasis beat. Namun dalam hal songwriting, saya belajar dari Rodney Jerkins dan The Neptunes. Yang paling membuat saya takjub sampai saat ini adalah bagaimana kita bisa membuat satu lagu utuh dari ide-ide simpel di sekitar kita.” ungkap George tentang influensnya dalam memproduksi musik. Lantas, bagaimana dengan proses kreatif mereka berdua? “Beberapa lagu kami dikerjakan di kamarku sementara yang lainnya dikerjakan di studio baru kami. Proses kreatif kami pada umumnya bermula dari ide-ide melodi yang digagas Aluna. Bisa juga saya membuat beberapa beat lebih dahulu dan membiarkan Aluna memilih beberapa melodi dari situ, lalu kami saling melontarkan ide masing-masing untuk lagu tersebut.” jelas pria yang juga me-remix lagu-lagu dari Lana Del Rey, Wolf Gang dan Baby Monster tersebut.

Saat ini memang tidak dibutuhkan lagi studio rekaman atau perangkat recording canggih untuk menghasilkan sebuah album yang keren, seperti yang mayoritas musisi indie saat ini lakukan. Namun hal itu bukan berarti bebas masalah, kendala yang umumnya dihadapi para bedroom musician seperti mereka adalah kegagalan menerjemahkan musik mereka untuk ditampilkan di atas panggung. Lucky for them, hal itu tak terjadi pada mereka. “Gig pertama kami berjalan dengan sangat mulus,” kenang Aluna, “Kami telah melewati proses panjang untuk live show dalam soal set-up alat dan semacamnya. Seperti yang kamu bilang, tantangan terbesar bagi ’musisi kamar’ seperti kami adalah membuat musik yang diproduksi di komputer tersebut terdengar sama menariknya saat dibawakan secara live. Namun saya rasa kami berhasil menyeimbangkan sisi live instrumentation tersebut dan pada saat yang sama staying true dengan bagaimana seharusnya lagu tersebut terdengar.” tambahnya.

Sekarang, berkat hype yang dibangun para music blogger dan media musik baik online maupun offline, mereka dihadapkan dengan jadwal tur Eropa yang semakin padat, termasuk penampilan di Hultsfred Festival, festival musik selama 3 hari di Swedia yang juga menampilkan The Cure, Mumford & Sons, M83, The XX dan line-up keren lainnya di bulan Juni ini. Tinggal masalah waktu sampai segala hype tersebut sampai di belahan dunia lainnya, terutama Amerika Serikat yang menjadi sasaran mereka berikutnya. Sebagai penutup, saya bertanya gambaran masa depan AlunaGeorge menurut versi mereka sendiri, “Exciting, busy and noisey!” jawab George dengan antusias. Ah well, I bet it’s gonna be a good noise indeed.

As published in NYLON Indonesia June 2012

Photo by Fiona Garden

Toys Are Us, An Interview With Bottlesmoker

Dari kamar tidur sampai ke Negeri Cina, Bottlesmoker menyebarkan kebahagiaan lewat toys musical instruments mereka.

Berawal dari dua orang mahasiswa jurusan Broadcasting FIKOM Unpad bernama Ryan Adzani (Nobie) dan Anggung Suherman (Angkuy) yang memiliki Nomor Induk Mahasiswa berdekatan sehingga mereka sering tergabung dalam satu kelompok untuk mengerjakan tugas kuliah yang lekat dengan software musik. Latar belakang akademis tersebut mengajarkan untuk selalu memiliki theatre of mind dalam setiap aktivitas mereka agar terlatih membuat jingle atau backsound, hingga akhirnya membuat mereka tertarik untuk mengaransemen musik elektronik instrumental. Seperti mahasiswa pada umumnya, salah satu hal yang selalu ada di depan monitor ketika semalam suntuk mengerjakan tugas adalah botol-botol bekas minum yang menjadi asbak dadakan untuk menampung abu rokok, dari situlah tercetus ide memberi nama Bottlesmoker untuk proyek musikal yang mengusung instrumental bedroom electro pop dengan influence yang kebanyakan berasal dari Jepang dan Islandia seperti Lullatone, I am Robot and Proud, Shugo Tokumaru dan Amiina ini.

Selain musik elektronik tanpa lirik yang dibalut aneka toys music instrument seperti glockenspiel rainbow, akordion dan keyboard mainan, hal lain yang membuat dynamic duo ini standout adalah dari awal mereka selalu memberikan karya mereka, entah itu full album, single atau kompilasi untuk diunduh secara gratis. “Dari awal memang tidak mau membebani orang harus membeli lagu kami, kami cuma ingin berbagi musik.” Jelas Nobie tentang konsep free music sharing yang mereka terapkan. Album pertama mereka, Before Circus Over, dirilis di tahun 2006 dan dua tahun kemudian disambung oleh album Slow Mo Smile. Kedua album ini juga dirilis oleh label indie mancanegara seperti dari Spanyol, Rusia, Jerman dan Amerika Serikat. Selain lagu buatan sendiri, mereka tak jarang me-remix lagu dari band dalam dan luar negeri, sebut saja mulai dari Homogenic, Vincent Vega hingga lagu “Somebody” milik Depeche Mode yang di-cover dengan mengajak Risa Saraswati untuk mengisi vokalnya.

Namun, siapa sangka proyek iseng yang berawal dari sebuah kamar sempit di Bandung ini bisa mengantarkan mereka bermusik sampai ke luar negeri. Mereka sudah pernah mencicipi panggung di Filipina dan ketika saya mewawancarai Angkuy dan Nobie untuk artikel ini (Maret 2011), mereka baru saja merampungkan tur Asia mereka yang meliputi Malaysia, Brunei, Hong Kong, dan Cina. Lebih dari sekedar tur, perjalanan ini juga menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi mereka. “Di Malaysia dan Brunei kami dimanjakan oleh keadaan yang tidak jauh berbeda seperti di sini, tapi ketika Nobie tiba-tiba sakit demam, kami sempat panik dan mau nggak mau kami harus lanjut ke Cina dan dari situ ada suasana yang berbeda ketika kami harus pergi ke tempat sejauh Cina, ditemani hanya satu orang perempuan sebagai tour manager lokal di sana dan Nobie yang sedang sakit.” Kenang mereka. Angkuy dan Nobie pun sempat mengalami momen Lost in Translation ketika mereka tiba di Cina yang bersuhu di bawah satu derajat, penduduk yang tidak dapat berbahasa Inggris, beradaptasi dengan makanan aneh dan perjalanan 18 jam dengan kereta antar kota yang melelahkan. Perjalanan yang hampir bisa dibilang backpacking, di mana tim yang hanya terdiri dari lima orang ini harus membawa peralatan sendiri juga menjual CD dan merchandise agar bisa survive. Namun mereka selalu merasa sangat puas karena di setiap tur mereka dapat bertemu orang-orang hebat, berkenalan dengan musisi lokal dan membuka networking yang lebih luas lagi serta tak lupa mencari toys instrument di toko setempat dan menikmati ambience setiap kota yang berbeda sebagai sumber inspirasi baru bagi karya mereka selanjutnya. “Ada semangat yang membuat kami percaya dengan adanya ketulusan. Kami pada dasarnya tidak punya label di Indonesia, musiknya free music dan kami pergi ke sana atas dasar percaya aja sama orang, ternyata kalau kita tulus sama orang, kita juga akan dapat ketulusan yang sama dari orang lain.” Ucap mereka. Lalu apakah kita akan mendengar nuansa Cina di lagu mereka selanjutnya? “Sempat terpikir sih, saya sempat merekam audio suasana di kereta yang dipenuhi suara orang bercakap-cakap yang mungkin akan digunakan di satu lagu”. Jawab Angkuy sambil tersenyum.

Rencana mereka dalam waktu dekat ini adalah merilis EP berjudul Recollection of Elation yang berisi tujuh lagu yang belum pernah dirilis secara resmi tapi sudah tersebar di dunia maya, mempersiapkan tur ke Singapura dan membuat dokumentasi untuk setiap tur yang pernah mereka jalani. Setelah Cina, kemana lagi tujuan impian mereka selanjutnya? “Mungkin Eropa dan Amerika, karena album kami juga dirilis di sana, semoga tahun ini atau tahun depan kami bisa pergi ke Eropa atau Amerika.” Jawab mereka.

Jarum jam telah menunjukkan lewat pukul enam sore ketika akhirnya tiba giliran mereka untuk difoto. Photo shoot dengan mereka berlangsung cepat dan efektif, thanks to konsep visual yang kuat dan semangat serta spontanitas mereka yang tinggi. Setinggi harapan mereka untuk memperkenalkan Indonesia lewat musik ke seluruh dunia.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen

Tricky Two, An Interview With Röyksopp

Bagaimana mengatasi kejenuhan tampil di panggung? Röyksopp tahu salah satu triknya.

Berbincang dengan Svein Berge dan Torbjørn Brundtland dari Röyksopp ternyata adalah pengalaman yang menyenangkan. Sebelumnya saya selalu membayangkan duo asal Tromsø, Norwegia, ini sebagai tipikal orang Skandinavia yang dingin dan irit bicara, tapi anggapan itu langsung lenyap saat mereka memasuki ruangan interview dengan tersenyum lebar dan menyalami semua orang dengan antusias. Walaupun secara fisik mereka terlihat bertolak belakang, Svein memakai tee bergambar Ralph Wiggum dari The Simpsons, leather jacket dan kulit berwarna tan hasil liburan tiga minggu di Aussie, sementara Torbjørn yang berkulit lebih pucat terlihat preppy, namun mereka berdua sangat santai dan kompak saat menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan, sama kompaknya ketika sedang membuat album-album keren seperti Melody A.M., Junior dan Senior atau saat tampil di festival-festival musik berkelas di seluruh dunia.

Pertanyaan pertama yang tercetus adalah soal album baru mereka yang menurut kabar akan dirilis September tahun ini. “Fingers crossed, yes, tapi belum pasti di bulan September. Yang jelas tahun ini kami akan merilis album baru, entah dalam bentuk fisik atau digital.” Jawab Svein sambil mematikan iPhone-nya yang tiba-tiba berdering. Disinggung tentang kolaborasi yang kira-kira akan muncul di album baru, Torbjørn menjawab, “Kami selalu ingin bekerjasama dengan bakat-bakat baru di luar sana, Tapi kurasa yang paling penting saat ini adalah originality, karena itu kami selalu bekerjasama dengan sosok-sosok menarik seperti Robyn, Lykke Li atau Fever Ray.” Uhm bagaimana dengan Britney Spears? tanya saya, karena sebelumnya ada rumor yang mengatakan pihak Britney pernah meminta mereka me-remix lagunya namun mereka menolak. “Saat itu kami menolak karena kami tidak punya waktu dan sibuk dengan pekerjaan lain, dan kami rasa saat itu juga bukan waktu yang tepat,” ungkap Svein, sebelum diteruskan oleh Torbjørn, “Sebetulnya lebih karena tidak ada waktu, namun orang menganggapnya sebagai sebuah statement dari kami. Untuk me-remix sebuah lagu kami tidak pernah menargetkan apapun, hal itu sangat random. Jika kamu mendengar lagu yang tepat di saat yang tepat pula, then you got this fire.”

Sebagai ujung tombak dari Bergen Wave, scene musik Norwegia yang meraih popularitas dunia, Röyksopp memulainya dari techno scene di kota asal mereka. “Hal itu bermula saat transisi antara tahun 80 dan 90-an, banyak orang yang berpergian ke luar negeri pulang kembali dengan membawa koleksi vinyl lalu mulai memasangnya di program radio lokal dan membuat pesta-pesta seru, di mana kami harus menyelinap masuk karena masih di bawah umur, haha.” kenang Torbjørn. Dari situ juga akhirnya muncul ketertarikan mereka akan visual aesthetic sebagai bagian dari musik yang mereka usung, yang terlihat dari kostum, video dan press photo mereka yang selalu memiliki konsep khusus. “Kami banyak menghabiskan waktu untuk mencari orang-orang kreatif yang sama gilanya dengan kami. Untuk kostum, kami sering bekerjasama dengan desainer Norwegia seperti Camilla Bruerberg. Bersama-sama kami berdiskusi tentang konsep yang ingin ditampilkan di atas stage. Sisi artistik itu yang membuat kami bersemangat tampil sampai saat ini.” tutup Svein sambil tersenyum.

As published in NYLON Guys Indonesia April 2012

Foto oleh Rizhky Rezahdy

World Citizens, An Interview With Young Magic

Young Magic mendokumentasikan setiap kota dan memori dalam perjalanan lewat album debut mereka, Melt. 

Hi Lex, sorry for the long delay, we’ve just got back from a crazy time in Texas,” demikian Melati Malay, vokalis/gitaris dari trio kolektif musisi Young Magic, membuka email balasan interview yang memang telah cukup lama saya tunggu. Perjalanan mereka ke Texas untuk tampil di SXSW memang bisa dibilang cukup gila di mana Melati bersama dua rekannya, Isaac Emmanuel (vokalis/sampler) dan Michael Italia (perkusi/sampler) harus hitchhiking ke venue festival tahunan tersebut dan berhadapan dengan soundman yang tidak becus sehingga show pertama mereka cukup berantakan. Untungnya, penampilan kedua mereka yang mendapat jadwal sebelum Chairlift adalah kebalikannya, semua berjalan lancar dan mereka bisa tampil maksimal.

Well, berkendara ke Texas selama 30 jam dan harus langsung naik ke atas panggung begitu sampai memang terdengar tak menyenangkan, namun mereka bertiga telah terbiasa dengan perjalanan jauh, termasuk ke Reykjavik untuk tampil di Iceland Airwaves bulan Oktober lalu, tour keliling Amerika Serikat dan Kanada bersama Youth Lagoon, dan saat membalas email ini pun mereka sedang berada dalam mobil dari Washington DC menuju Chicago untuk mini tour bersama Korallreven. Proyek musik ini berawal saat Isaac meninggalkan rumahnya di Australia dengan hanya membawa sebuah koper untuk menyusuri Eropa, New York lalu ke Meksiko sambil membuat musik dengan instrumen apapun yang bisa ia temukan. Saat di Meksiko, ia menghubungi teman lamanya di Melbourne, Michael, yang ternyata juga sedang melakukan perjalanannya sendiri sambil membawa alat perekam portable untuk dokumentasi. Mereka memutuskan bertemu di New York bersama teman lama mereka, Melati, seorang vokalis kelahiran Indonesia yang berdomisili di Brooklyn dan akhirnya sepakat menyatukan musik masing-masing dengan menyewa tempat di atas bekas panggung cabaret tahun 1920-an di kota Big Apple tersebut. “New York mempunyai sejarah menarik tentang imigran, kaum nomad, dan budaya para pemikir revolusioner. Saya ingin dikelilingi energi tersebut dan berharap mendapat pengaruh dari hal itu.” tukas Melati tentang keputusan mereka berlabuh di New York.

Hasil dari tiga kepala dengan tiga cerita perjalanan yang berbeda tersebut adalah Melts, sebuah album debut rilisan Carpark Records yang mengaburkan batas masa lalu dan masa depan lewat unsur world beats, psych, dream pop hingga hip hop yang terwujud dalam lagu-lagu seperti “Sparkly”, “You With Air”, “Night In The Ocean”, termasuk lagu berjudul “Jam Karet”. Setiap lagu adalah kolase bunyi wanderlust yang dibuat di 10 kota dunia, meliputi Buenos Aires, Berlin, Melbourne, Bristol, Rio de Janeiro dan tentu saja, Brooklyn. “Saya rasa, unsur wanderlust itu adalah bagian tak terpisahkan dari kami dan tak sebatas eksplorasi dalam bermusik saja, namun juga menyentuh keseharian dan rencana kami yang akan datang. Tempat terbaik bagi saya adalah berdiri di ujung tebing sambil melihat lautan kemungkinan yang tak berujung. Musik kami adalah suara yang tercipta jika ada satu atau dua lapisan yang tercuri dari dunia nyata. There aren’t defined edges or obvious outlines that slap you in the face, instead, it all tends to bleed into each other.” ungkap Melati yang lahir di Jakarta dan menghabiskan masa kecilnya di Indonesia dengan naik kuda di Bromo, menyaksikan lelehan lahar Merapi dan belajar bermain Gamelan di kota asal ibunya, Yogyakarta.

Saat ditanya tentang musisi yang berpengaruh dalam musik mereka, Melati justru memberikan saya link ke beberapa mixtape yang telah mereka buat, dan salah satunya adalah The Maps, sebuah mixtape berisi lagu musisi favorit mereka (Prince Rama, Dom Salvador, Dorothy Ashby, dll), rarities, remixes, demo dan lagu-lagu b-side dari Melts yang bisa diunduh gratis di cargocollective.com dan juga diproduksi dalam bentuk kaset yang dikemas dengan halaman-halaman berwarna National Geographic. Sebuah langkah menarik yang juga memperkuat musik mereka yang memang kental dengan berbagai cultural image. Seperti biasa, saya menutup interview ini dengan bertanya tentang next project mereka sebelumnya, yang dijawab cepat oleh mereka dengan kalimat. “Another album, another adventure, another story.”

As published in NYLON Indonesia June 2012

Swedish Hymn, An Interview With Pallers

Lewat Pallers, Johan Angergård kembali membuatmu jatuh cinta lagi dengan dinginnya musik Swedia.

Saya yakin di satu titik hidupmu, kamu pasti pernah mendengar Swedish pop semacam Club 8, Jens Lekman, The Cardigans atau setidaknya band-band indie pop Indonesia yang banyak terinfluens oleh band-band daerah Skandinavia tersebut. Musik pop Swedia memang memiliki tempat tersendiri di ranah musik berkat kemampuan mereka meramu musik pop yang kreatif serta easy listening dan bila bicara tentang Swedish pop, mau tak mau kita harus menyebut Labrador Records sebagai ujung tombak dari scene ini berkat rilisan-rilisan influental seperti The Radio Dept, Pelle Carlberg, Sambassadeur dan banyak lagi. Di balik label ini ada seorang Johan Angergård yang merupakan tokoh penting bagi musik Swedia berkat perannya sebagai personel Acid House Kings, Club 8 dan The Legends atau pun menjadi produser untuk musisi-musisi muda Swedia seperti Amanda Mair. Kini bersama bekas teman satu flat-nya, Henrik Mårtensson, ia membuat proyek musik terbaru bernama Pallers dan merilis album debut The Sea Of Memories yang berisi lagu-lagu ambient down-tempo dengan soundscape elektronik yang kaya akan cerita.

Hi Johan, apa kabar? Apa saja yang sudah kamu lakukan hari ini?

Johan: Cukup baik. Saya seharian ini bekerja di Labrador menyiapkan rilisan Amanda Mair, apakah kamu sudah mendengarnya? Mungkin belum…albumnya baru keluar di Swedia. Dia gadis berumur 17 tahun yang sangat bertalenta. Sekarang saya akan membuat segelas kopi dan memasang vinyl Depeche Mode.

Sounds great, sekarang tolong ceritakan tentang proyek barumu, Pallers.

Johan: Saya dan Henrik sudah saling kenal cukup lama. Bertahun-tahun lalu saya punya band bernama Poprace bersama Karolina Komstedt (dari Club 8). Kami mencari pemain bass dan Karolina memberitahuku tentang Henrik, teman sekelasnya yang bermain bass dan mendengarkan The Smiths.  That sounded pretty great to us jadi kami mengajaknya bergabung. Henrik sebenarnya pernah co-writing sebuah lagu untuk Club 8 dan kami pernah membuat lagu instrumental bareng untuk Summer Songs EP. Pallers juga tercipta tanpa disengaja, saya merekam vokal untuk lagu, mengirimnya ke Henrik dan dia mulai memproduksinya. Hasilnya ternyata cocok dan lahirlah Pallers.

Bagaimana kalian membagi tugas untuk proyek musik ini?

Henrik: Kami berdua menulis lagu. Johan bernyanyi dan saya lebih banyak mengerjakan programming dan beat making, namun kami selalu berusaha menjaga lagu-lagu itu sesuai arah yang kami berdua mau. Lalu kami melakukan final touch dan mixing. Proses yang cukup memakan waktu sebetulnya, namun membuat kami berdua sama-sama puas.

Dibandingkan proyek-proyek musik sebelumnya, apa hal paling standout dari Pallers yang ingin kalian tonjolkan?

Johan: We have a very three-dimensional sound. Musik kami terbentuk dari banyak detail-detail kecil yang terjadi bersamaan dan menciptakan lanskap suara yang luas seperti sebuah dunia sendiri. Sebenarnya masih bisa dibilang musik pop karena melodi-melodinya terdengar pop, hanya saja setiap lagu dibangun dan terstruktur dengan cara yang sama sekali tidak pop.

Saat mendengarkan CD kalian, saya merasakan sensasi dingin tersendiri, apakah kalian setuju jika orang melabeli musik kalian sebagai Chillwave? Atau kalian merasa istilah Chillwave itu sendiri agak overrated?

Henrik: Kurasa semua “waves” selain ocean waves itu overrated. Saya tak melihat banyak persamaan antara kami dengan band-band yang disebut Chillwave. There is far too much ice on our waters for waves to form. Namun setiap orang bebas menyebut musik kami sesuka mereka. Tapi sebutan “Chillwave” itu sendiri juga nggak terlalu keren kok, apa sih artinya? “Death Metal”, “Stoner Rock” adalah genre yang terdengar keren. I´d join a genre if it had a name like that.

Johan: Saya tidak mendengarkan band-band Chillwave.

Swedia selalu memiliki tempat tersendiri di industri musik, apa pendapatmu sebagai orang yang bisa dibilang key figure untuk scene ini?

Johan: Saya tahu orang-orang yang mendengarkan band-band dari Labrador akan memandangnya sebagai sesuatu yang Swedish. Dan memang semua band Labrador berasal dari Swedia…tapi saya selalu ingin membuat sesuatu yang menjadi scene tersendiri dan saya selalu memandang Labrador sebagai label internasional. It’s just my taste in music dan saya berusaha memengaruhi selera musik itu ke orang lain. Kurasa saya menjadi tokoh penting dalam musik Swedia hanya kebetulan saja. I just wanted to be a key figure in my very own scene.

 Apakah kalian memiliki satu momen dari musik, film atau buku yang mengubah hidup kalian yang terus mengendap di sub-concious masing-masing dan muncul  lewat karya kalian?

Henrik: The Smiths really changed my life dan caraku melihat diri sendiri dan orang lain tapi saya tak pernah memikirkan mereka saat membuat musik. Sejak tahun 1995, Autechre juga mengubah pandanganku pada musik dan saya sering memikirkan style bermusik mereka dengan sadar. Kita tentu mendapat inspirasi dari hal-hal yang kita lihat, baca atau dengarkan dan entah bagaimana mereka akan muncul saat kita membuat sesuatu. Autechre, The Smiths, Burial, film seperti Gummo dan My Life as a Dog atau buku The Dice Man adalah hal-hal yang mengubah hidupku tapi jika salah satu dari mereka muncul di musik kami, saya tidak bisa mengingatnya.

Johan: Saya juga akan bilang The Smiths. Mereka memengaruhi banyak sisi dari hidupku, it’s silly. Saya mungkin saat ini sedang mengerjakan sesuatu yang benar-benar lain jika saya tak pernah menemukan mereka.

Apa yang sedang kalian dengarkan akhir-akhir ini?

Henrik:  HTRK, Grouper, Andy Stott, Jacques Greene, Demdike Stare dan Starlet.

Johan: Amanda Mair, A Place to Bury Strangers, Cosmetics, King Creosote dan Jon Hopkins.

 Rencana berikutnya untuk Pallers?

Henrik:  More music.

Apa pesan kalian untuk yang sedang membaca artikel ini?

Johan: Thank you for being you. Jangan lupa berkunjung ke Pallers.se!

Henrik: Have fun and take care of your loved-ones!

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Henrik Mårtensson