Style Study: Rupahaus

Rupahaus merupakan kolaborasi antara tim desain yang berbasis di Australia dengan penjahit dan pengrajin tekstil di desa-desa kecil Indonesia. Berdirinya Rupahaus di tahun 2015 berangkat dari kepedulian sang pendiri dan creative director atas kekayaan tekstil Indonesia yang perlahan kehilangan jati diri dengan digantikannya beberapa proses tradisional menjadi produksi mesin yang berbahaya bagi lingkungan. Banyak pengrajin tekstil yang menyerah pada tuntutan ekonomi dan menjadi buruh industri demi bertahan hidup dan hal itu tercermin dari banyaknya pabrik fast fashion yang kini berdiri di Indonesia. Memadukan tradisi dengan desain leisure wear yang chic dengan proses handmade dan bahan natural, sebagian profit yang didapat pun diinvestasikan kembali pada komunitas pengrajin desa.

21910771_1442902312443382_5839801096033271808_n(1)

Bagaimana awal mula label ini berdiri?

Creative Director dan Founder kami lahir di Indonesia, menghabiskan masa remajanya di Australia, lalu tinggal di Jerman untuk belajar fashion lebih dalam sebelum pulang kembali ke Australia. Dalam perjalanannya, dia menyaksikan banyak disintegrasi budaya dan dampaknya terhadap kehidupan saat ini. Dari tiga budaya yang ia alami, dia merasa paling tertarik dengan kekayaan warisan budaya tekstil Indonesia yang perlahan kehilangan identitas.

Rupahaus berdiri dari hasil kolaborasi antara tim kami dengan pengrajin dan penjahit lokal. Kami percaya setiap orang dalam kolaborasi ini berharga, karena itu kami merasa bertanggungjawab untuk berkontribusi pada komunitas yang telah mendukung kami. Itu yang menjadi akar dari label ini. Dengan menampilkan keindahan dan sejarah di balik tekstil Indonesia, kami turut menyediakan wadah bagi pengrajin lokal untuk berkembang dan mempertahankan tradisi. Secara khusus kami mengajak para pengrajin dari desa-desa terpencil untuk berkolaborasi di mana kami memperkenalkan proses inovatif namun tetap mempertahankan metode pembuatan tekstil tradisional.

Apa yang menjadi filosofi label ini?

Nama Rupahaus sendiri secara fundamental merefleksikan pemilihan dan penggunaan bahan-bahan alami dalam setiap aspek produk kami—mulai dari bahan mentah hingga finishing touches. Dengan mengaplikasikan berbagai teknik tradisional seperti hand waving dan batik hand-drawing, kami membuat kain dengan tekstur menarik yang bisa diapresiasi indra kita. Karena setiap produk menampilkan kisah para pengrajin dan kemampuan mereka, kami punya hubungan simbiosis dengan mereka dan ini yang membuat kami berbeda dibanding label lain.

30084356_586993365009514_1676491873553743872_n(1)

Apa yang membuat Rupahaus memilih berada di jalur eco-friendly/sustainable?

Sustainability ibarat sebuah perjalanan. Kesadaran akan sustainability dan praktik etis di Indonesia masih tergolong rendah. Karena kami ingin mempertahankan warisan tradisi, kenapa tidak sekalian menjaga autentisitasnya dan mengembangkannya sebagai proses yang berkelanjutan? Kami secara sadar mengusung filosofi slow fashion di mana selain menciptakan tren, kami juga ingin menjalankan rantai supply kami dengan cara yang etis dan bertanggungjawab. Kami membuat produk yang dibuat dari bahan mentah dan pewarna alami berkualitas tinggi yang digabungkan dengan teknik produksi handmade. Kami pun selalu memastikan bahwa bahan yang kami pakai tidak berbahaya bagi lingkungan.

 

Bagaimana kalian melihat perkembangan mode ramah lingkungan dalam beberapa tahun terakhir? 

Kami menyaksikan perkembangan positif di masyarakat dengan orang dari berbagai generasi mulai aktif beralih ke pilihan pakaian yang lebih sustainable dan mendukung gerakan slow fashion. Semakin banyak orang yang peduli dan bertanya tentang dari mana dan bagaimana pakaian yang mereka kenakan dibuat. Hal itu semakin membuat kami percaya diri bahwa kami berjuang untuk hal yang benar.

21980423_118758792126242_6271646807671963648_n

Sejauh ini apa koleksi paling laris yang telah kalian buat?

Koleksi kedua kami, KURAKARA, berhasil menarik perhatian masyarakat yang lebih luas. Khususnya MAIA wrap dress dan ABBE shirt yang senantiasa sold out di semua platform penjualan.

 

Bagaimana kalian menanggapi respons dari konsumen?

Selalu menegangkan sekaligus exciting melihat respons publik terhadap produk kami! Kami begitu bersyukur melihat banyaknya orang yang tak hanya mengapresiasi produk kami tapi yang lebih penting adalah cerita di baliknya dan tujuan di balik label ini. Kami melihat perkembangan yang positif di masyarakat yang menginginkan transparansi dalam produk yang mereka kenakan, dan kami bangga bisa turut berkontribusi dalam pergerakan untuk menjaga lingkungan.

23279371_1974077762862739_8956684353371373568_n

Apa rencana selanjutnya untuk label ini?

Creative Director kami baru kembali dari perjalanan produksi tahunan dan kami yakin ia punya banyak ide menarik yang siap diwujudkan. Selain pakaian, setahun terakhir ini tim kami juga telah bekerja keras menyiapkan koleksi homewares.

 

Apa harapan kalian untuk industri mode secara umum? 

Industri mode termasuk sumber polusi terbesar di dunia dan prosesnya termasuk rumit karena rantai supply yang begitu panjang hanya untuk menjual sebuah produk jadi. Kita bisa melihat sendiri kerusakannya namun belum bisa maksimal untuk mencegah dampaknya. Secara komersial, di mana ada permintaan pasti ada supply. Karena itu, kami percaya jika setiap perusahaan mode ikut peduli dengan isu ini, kita bisa memenuhi permintaan untuk pakaian dengan tren terbaru yang affordable tanpa harus merusak lingkungan. Jika semua pihak bisa beroperasi dengan cara yang etis dan berkelanjutan, pada akhirnya kita bisa memenuhi target industri dengan bonus ekosistem yang sehat. Bila bukan kita yang membuat perubahan, siapa lagi?

34406575_181901499166876_7341166287977971712_n(1)

All pictures are courtesy of Rupahaus

Instagram: @rupahaus

Website: www.rupahaus.com

Advertisements

Little Miss Sunshine, An Interview With Zahara Davis

Dari Bali sampai ke West Coast, model belia Zahara Davis membawa irresistible beauty dan effervescent charm ke dunia fashion yang ia geluti sejak dini. Fine, fresh, fierce, she got it on lock! Foto oleh: Andre Wiredja.

dsc01217

Bayangkan jika pada suatu hari kamu hanyalah gadis berumur 14 tahun yang sedang asik melahap Big Mac di sebuah shopping mall, seseorang dari model agency menghampiri dan memberimu kartu nama, and next thing you know, kamu berjalan di runway prestisius fashion week dunia, menjadi Victoria’s Secret Angel, mengencani pria-pria seperti Leonardo DiCaprio dan Tom Brady serta menjadi model dengan bayaran paling mahal di dunia seperti yang dialami oleh supermodel Gisele Bündchen. Skenario yang hampir mirip juga terjadi untuk Kate Moss yang di usia 14 tahun menarik perhatian seorang scouting agent dari Storm Model Management saat ia berada di bandara JFK New York sebelum akhirnya menjadi salah satu model paling iconic di dunia.

Sekelumit cerita di atas mungkin contoh cerita ‘discovery’ yang sama klisenya dengan cerita seorang gadis mengantarkan temannya untuk casting namun justru ia yang menjadi bintang (seperti yang dialami oleh Adriana Lima dan Gemma Ward misalnya). Sebuah anekdot di dunia modelling yang terdengar seperti dongeng, but it’s really happened and never gets old. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seorang scouting agent dari agensi modeling berani mempertaruhkan kepercayaan kepada seorang gadis muda yang hanya ia lihat sekilas di random places. But still, kita terus mendengar cerita tentang gadis yang tadinya bukan siapa-siapa breaks into the industry dan menjadi model tenar thanks to street-scouting. The chances are odd but it’s not impossible.

It’s the girl who never thought she could who gets discovered. The prettiest girl in school doesn’t always make the best model,” ujar Ivan Bart, seorang top agent dari IMG Models, yang pernah menaungi Gisele Bundchen, Heidi Klum, dan Kate Moss. Pada kenyataannya, dari sekian banyak pretty faces in the crowd, memang tidak ada jaminan jika wajah cantik dan postur semampai saja cukup untuk membuatmu menjadi the next big thing dalam industri modeling yang sangat kompetitif. Just like any other It Girls, the It models juga diberkahi that ‘special oomph’, the ‘je ne sais quoi’, the ‘x-factor’, dan istilah lainnya untuk mendeskripsikan pesona natural dan magis yang dimiliki beberapa gadis remaja yang membuat mereka stands out in the crowd dengan begitu effortless dan membuat orang-orang tergila-gila. Seperti yang dimiliki Zahara Davis, seorang model muda dan girl crush yang siap membuatmu terobsesi dan menjadikan dirinya sebagai ‘goals’.

Just like any other crushes in the social media era, saya pertama kali mengetahui sosok Zahara justru dari akun Instagram miliknya (@zaharadavis) yang saat artikel ini ditulis telah memiliki 32.2K followers. Sama seperti umumnya model generasi sekarang yang kerap disebut sebagai “The Instagirls” (Cara Delevingne, Kendall Jenner, Gigi Hadid, Fernanda Ly, etc) yang dengan gamblang menunjukkan personality mereka lewat social media dan membuat mereka terasa lebih approachable dan relatable, Zahara juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapapun tergoda untuk scrolling down her feeds dan menekan tombol follow dengan cepat. Saya ingat yang pertama kali tercetus di benak saya adalah “Wow, this girl is drop dead gorgeous!” dan lebih terkejut lagi saat mengetahui jika dirinya adalah seorang model yang kala itu berdomisili di Bali.

Diberkahi oleh kulit semanis karamel yang eksotis, perfect bikini body, facial feature unik paduan genetik Native American, Saint Lucia, dan Inggris yang mengalir dalam darahnya, gadis yang dilahirkan di Maui, Hawaii dan dibesarkan di Bali ini memulai karier modelingnya sejak ia ditemukan oleh Jules Henry, CEO dan founder dari Fauve Agency sekitar tiga tahun lalu saat ia masih berumur 13 tahun. Di bawah naungan model management yang berbasis di Bali tersebut, Zahara mengembangkan talenta naturalnya sebagai model paling muda di antara jajaran roster lainnya seperti Salvita DeCorte, Helene Jansen, Reti Ragil, Dara Warganegara, Drina Ciputra, dan model-model papan atas lainnya di Indonesia saat ini.

Blessed with good genes itu sudah pasti, namun berbekal kerja keras, professionalism dan work ethic yang sudah dibangun dari usia dini, tidak butuh waktu lama bagi Zahara untuk menjadi sensasi baru di skena fashion dengan menjadi muse bagi banyak fashion photographer terkenal dan muncul di berbagai editorial majalah-majalah mode prestisius. Kini di umurnya yang baru saja menginjak 16 tahun, Zahara telah memiliki cukup portofolio yang akan mengundang decak kagum siapa saja. Selain Fauve, saat ini ia juga diwakili oleh agensi internasional Next Management yang membuka peluang pekerjaan internasional lebih lebar baginya. Setahun terakhir ia telah malang melintang ke Paris, Los Angeles, dan New York dan bekerja untuk klien-klien besar seperti This Is A Love Song, NYLON US, Urban Outfitters, Glamour US, Billabong, dan yang menjadi salah satu career highlight-nya sejauh ini: Dipotret fotografer legendaris Bruce Weber untuk editorial berjudul “Reach Out and Touch Somebody’s Hand”  di Vogue Italia edisi April 2016 bersama model-model internasional seperti Ajak Deng, Mica Arganaraz, Fare Fares, Gelila Assefa, Anushka Sharma, dan Shehkar Jah.

Keputusan menjadikan Zahara sebagai cover edisi Summer tahun ini muncul secara spontan ketika fotografer Andre Wiredja bertemu Zahara di Bali dan melakukan test shoot. Tanpa ragu, ketika Andre melempar ide untuk memotret Zahara, kami pun langsung menyambutnya. Walaupun sayangnya saya tidak bisa bertemu dan mewawancarainya langsung, semua testimoni dari orang-orang yang saya dengar tentang Zahara selalu bernada positif. Semua sepakat jika Zahara adalah sosok berkepribadian, down to earth, menyenangkan untuk bekerjasama, dan memiliki masa depan cemerlang di bidang yang ia geluti sekarang. Dari apartemennya di Los Angeles, Zahara pun mengungkapkan beberapa sisi dalam dirinya lewat balasan email yang ia kirim untuk NYLON. Ready to know her better?

dsc01581

Hai Z, jadi apa yang mendorongmu terjun ke dunia modeling? Saya selalu ingin melakukannya, something I had a passion for. Saya mulai modeling bersama Juls saat saya berumur 13 tahun dan mendapat kesempatan bertemu dengan fotografer Nicoline Patricia yang kemudian banyak mendidik saya soal pekerjaan sebagai model. Sebelum itu saya juga sudah melakukan beberapa pekerjaan modeling, namun saya rasa itu titik di mana karier saya benar-benar dimulai. And since then I haven’t really stopped. Both my mum and my grandma were in the fashion industry, so that did have an impact on what I’m doing now.

Bagaimana akhirnya kamu dikontrak Fauve Management dan Next Management? It was all at the right time, with the right people and things just happened perfectly.

Apa hal yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari modeling? Saya suka kesempatan traveling ke berbagai tempat di dunia dan bertemu banyak orang-orang berbakat namun saya harus bilang jika bangun dan bekerja dari mulai jam 4 pagi isn’t the cherry on my Sunday.

Bagaimana rasanya melihat foto diri kamu sendiri di media? Tergantung fotonya sebetulnya tapi saya jelas bukan the best judge untuk menilai diri saya sendiri karena kebanyakan foto yang saya kurang sukai justru malah disukai banyak orang lain.

Boleh cerita sedikit soal pengalamanmu bekerja bersama Bruce Weber untuk Vogue Italia? Saya sampai harus mencubit diri saya sendiri saat tiba di lokasi pemotretan agar yakin jika itu bukan mimpi. Salah satu pengalaman terbaik saya sebagai model sejauh ini. Semua orang sangat friendly dan menyenangkan untuk bekerjasama.

Susah nggak membagi waktu antara karier dan akademis? Ya, lumayan susah karena saya harus selalu berpergian, but somehow I manage to work it out. Home school is pretty mobile.

Do you consider yourself as world citizen? Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu tempati, mana yang kamu anggap sebagai “rumah”?

I am a citizen of the world, tapi saya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Indonesia. Bali is where I will always call home.

Apakah kamu punya kakak atau adik? Siapa supporter paling besar di keluargamu? Saya anak satu-satunya dan dibesarkan oleh ibu saya. She is most definitely my biggest fan. Dia selalu mendukung saya 100%

Apa yang paling kamu rindukan dari Bali? Bagaimana kamu mendeskripsikan perfect night out di Bali? Saat saya di Bali, itu biasanya saya sedang liburan dari semua hal lain. Itu waktu bagi saya untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman saya. Quiet nights in are my favorite there.

Apa hal favorit yang kamu lakukan di musim panas?

My favorite is to island hop between Indonesia and all the little islands.

 

What’s your favorite summer memory? I now go every year to Glastonbury, which is coming up soon and is my favorite festival of summer so far.

 

What do you think about summer fling? Not on the top of my list.

dsc01431

Saya pernah lihat salah satu posting di Instagram milikmu tulisan “Those who criticise our generation forget who raised it”, kalau bagi kamu sendiri apa rasanya menjadi seorang model dari generasi millennial di era media sosial seperti sekarang? Media sosial telah menjadi satu hal yang berpengaruh di industri fashion dan saya pun menjadi bagian darinya, tapi call me old fashion but it was a lot easier for models back when it didn’t matter how many likes your Instagram post got. 

Seberapa penting social media untuk kehidupan sehari-harimu? Saya hanya punya akun Instagram dan Snapchat. Kalau kamu menemukan akun social media selain dua itu atas nama saya, kemungkinan besar mereka adalah fake accounts. Saya berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.

Apakah kamu termasuk morning person atau evening person? Depends how the crowd is! As long as I’m with good people then I can do either.

Couch potato or gym fanatic? Bagaimana caramu agar tetap fit? Gym! Without a doubt. Tapi saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan nutritionist dan trainer saya Melanie dari Motion. Saya selalu excited untuk kembali latihan bersamanya setiap saya di Bali.

Apa kamu punya signature style yang menjadi andalanmu? Setiap hari saya bangun dengan mood yang berbeda. Saya tidak bisa bilang saya punya satu particular style, but it’s always me.

Siapa model favoritmu? Naomi Campbell dan Candice Swanepoel.

Selain modeling, hal-hal apa lagi yang kamu sukai? Membaca, menulis, traveling, musik, nutrisi dan healthy living.

 

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini? Saya selalu terobsesi dengan every healthy thing on the market, never gets old to me.

Musik apa yang biasanya ada di playlist personalmu? Rap dan R&B adalah favorit saya. My top band would probably be Destiny’s Child or TLC.

How about the beauty regime? Produk apa yang menjadi favoritmu? Saya sangat perhatian soal produk yang akan saya pakai untuk kulit saya. I love organic products. Saat ini saya menyukai:

– All lush bath bombs 

– Pure shea butter lip balm

– Hemp seed hair oil (amazing)

– Sea salt body scrub

– BEST cream I use is Bali browning lotion 

What makes you laugh? Life.

What makes you cry? LIFE.

Apa hal paling mendebarkan yang pernah kamu lakukan? Bungee jumping, it was crazy.

Apa sifat yang paling kamu sukai dari dirimu sendiri? I’m just a happy go lucky girl.

Kalau yang paling tidak disukai? Being happy go lucky, sometime doesn’t always work out, you may end up in a ditch, ahaha!

Apa yang menjadi ketakutan terbesarmu? Tidak bisa meraih target-target yang telah saya buat.

Secret skill? Staying balanced through it all the craziness that I love.

Apa saran terbaik yang pernah kamu terima? Keep your eyes on the stars and your feet on the ground.

Do you collect something? Memories.

Rencanamu selanjutnya? Reaching my goals and dreams.

dsc01753

 

Style Profile: Elleanor Yamaguchi

Jepang boleh saja dipenuhi oleh para fashion blogger dan style icon yang tak terhitung jumlahnya, tapi mencari yang mampu berbahasa Inggris untuk pembaca internasional adalah hal yang lumayan tricky. Erina Elleanor Yamaguchi adalah salah satu dari segelintirnya. Berdarah ¼ Singapura, gadis 21 tahun kelahiran Chigasaki City, Kanagawa, Jepang ini memang sempat tinggal di Singapura selama 8 tahun sebelum kembali ke Tokyo di mana ia kemudian menjadi vlogger untuk kanal YouTube TokyoFashion.com dan menjadi street styler, model, DJ, serta freelance fashion stylist dalam banyak project, termasuk untuk video “Lionhearted” milik Porter Robinson. Seakan tidak pernah puas, ia pun masih mengejar passion-nya yang lain, “Saya mulai mengerjakan segala hal yang saya lakukan sekarang karena cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi orang terkenal. Saya selalu ingin menjadi model dan sekarang saya berpikir untuk menjadi vokalis begitu saya bisa mengumpulkan cukup banyak orang untuk membentuk band!”

2015-05-11-17-47-32

Apa definisi personal style kamu?

Saat ini saya lebih memilih pakaian yang jauh lebih simpel daripada yang sebelumnya biasa saya kenakan, mungkin karena saya juga sudah bertambah dewasa. Saya tidak pernah mendeskripsikan gaya saya sendiri, tapi jika harus, saya akan menyebutnya “Elleanor”.

Deskripsi fashion Jepang menurutmu?

Ketika pertama kali tertarik pada fashion, saya menyangka fashion Jepang pada umumnya sangat simpel dan boring tapi Harajuku dipenuhi oleh banyak orang dengan beragam style yang unik dan membuat saya berpikir jika orang-orang bisa mengekspresikan diri mereka lewat fashion. Tapi saat ini, sudah semakin jarang orang-orang yang ingin terlihat “beda” dari orang lain. Beberapa masih memakai pakaian warna-warni tapi mereka terlihat “normal” dan tidak seunik beberapa tahun sebelumnya. Tapi saya masih merasa orang Jepang bisa lebih bebas mengekspresikan diri lewat fashion dibanding negara lain.

Apa yang kamu sukai dari Jepang?

Saya suka makanannya, empat musim yang tidak dimiliki Singapura, dan keamanan di negara ini. Saya pernah ke L.A. dan menyadari betapa mudahnya berpergian di Jepang tanpa harus naik mobil atau taksi. Tokyo’s trains go everywhere!

2015-06-21-20-04-22

Latest obsession/discovery?

Saat ini saya terobsesi Fred Perry dan Dr. Martens! Baru-baru ini saya menonton film This Is England dan saya sangat menyukai fashion di dalamnya. Sekarang saya benar-benar ingin sepasang sepatu basic 3 holed dari Dr. Martens.

What are your biggest passions?
My passions are to spend time alone in my favorite cafe, to drink alcohol with my friends, and to go shopping!

What’s your secret skill?
Hmm…I’m not sure if this is a skill, but I love singing! Karaoke is a really popular place to hang out in Japan.

Who’s your favorite local musician/band?
I can’t choose one, so here I go! I love the singer-songwriter Aiko and the band Judy and Mary and The Yellow Monkey.

Favorite fashion quotes to live by?
“People will stare. Make it worth their while.” – Harry Winston
I found this on the internet and was struck by.

Style tip?

Saya tidak pernah punya tips apapun, saya hanya mencoba gaya apapun yang ingin saya coba and let’s see if it works out!

2015-06-04-15-14-24

 

The Bewitching Hour of Audrey Kitching

Fashions fade, style is eternal. Being on top since the early heydays of social networks, the original internet queen Audrey Kitching is simply adapting both IRL and URL while maintaining her mystical side. We are trying to catch up.

photo-aug-02-12-01-12-pm

Jauh sebelum munculnya Twitter, Tumblr, Instagram, dan social media lainnya yang melahirkan the idols and celebrity of modern age dalam wujud socmed influencers dengan jutaan followers dan personal brand yang kuat by simply being themselves, ada sebuah situs social network bernama MySpace di mana kita bisa membuat personal profile dan mengkustomisasinya sesuka hati dengan foto, musik, dan video. Jika kamu sempat membuka MySpace di pertengahan 2000-an, most likely yang akan kamu lihat adalah halaman profile dengan kode HTMLyang telah diedit untuk memunculkan glittery fonts, customized mouse click, lagu yang secara otomatis terpasang (most of it adalah lagu band-band emo yang waktu itu memang sedang meledak), dan bulletin board untuk tempat berkeluh kesah dan menyalurkan semua kegelisahan masa remajamu (and for passive-aggressive drama, obvi). It’s simply like you create your own diary dan membagikannya ke seluruh dunia untuk dilihat. Hal itu mungkin sama sekali tidak terdengar impresif saat ini, namun pada masanya, MySpace adalah salah satu tempat di internet di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri (or secretly trying to be someone else) dan berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia tentang hal-hal yang menarik perhatianmu. Dengan semua daya tarik tersebut, tidak mengherankan jika dari tahun 2005 sampai 2009, MySpace adalah situs social network yang paling banyak digunakan di seluruh dunia and at some point  bahkan sempat mengalahkan Google sebagai website yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Namun, sebagaimana sewajarnya sebuah komunitas dengan segala dinamika sosial yang menyertainya, there’s certain social hierarchy yang terjadi dengan sendirinya.

MySpace di masa kejayaannya adalah tempat berkumpulnya generasi cool kids yang disebut sebagai the Scene Kids, alias para remaja berpenampilan eksentrik yang menjadikan MySpace sebagai platform to express themselves dan menghabiskan waktu sebagai microcelebrities (“Oh you know, I’m kinda famous on MySpace!”) dengan mengunggah foto personal style mereka (the typical look adalah rambut yang dicat warna-warni menyolok, makeup emo, dan gaya pakaian seperti paduan Hello Kitty meets Courtney Love yang meliputi neon bikini, cat ears, leather boots, leopard print, band tees, dan baby dolls) serta saling bergosip satu sama lain di chat room tentang drama frenemies di antara mereka, melahirkan kontroversi yang akhirnya membuat anak-anak lain penasaran untuk membicarakan mereka dan secara ironis membuat mereka semakin terkenal. Rebellious namun tetap relatable, mereka adalah orang-orang yang seru untuk dibicarakan dan sebagai remaja, you want to know more about them dan berharap mereka menyetujui friend request darimu. On top of the social ladder, there are the Scene Queens practicing their status quo as the new internet famous and Audrey Kitching is one of them.

Lahir di Philadelphia, Audrey Kitching memulai karier modeling di umur 14 tahun setelah ditemukan oleh seorang agen modeling saat ia sedang mewarnai rambutnya di sebuah salon. Muncul sebagai model untuk beberapa iklan, ia juga sering menjadi model bagi beberapa teman fotografernya yang akhirnya menarik perhatian publik saat ia mengunggah foto-fotonya ke situs-situs seperti Live Journal, Xanga, Buzznet, dan MySpace. Seperti mereka yang lantas disebut sebagai the It Girl, ada sesuatu yang berbeda dari diri Audrey yang menarik perhatian orang dan membuat mereka ingin tahu tentang apapun yang ia lakukan, orang-orang yang ada di lingkup pergaulannya, musik yang ia dengarkan, caranya berdandan, serta personal style yang terdiri dari pakaian murah dari toko bekas yang ia modifikasi untuk menciptakan outfit yang terinspirasi runway looks.

As an early adopter, Audrey adalah salah satu pengguna MySpace yang paling terkenal dan bersama beberapa nama lainnya seperti Jefree Star, Jac Vanek, dan Hanna Beth dijuluki sebagai The Scene Queens, yaitu beberapa figur yang memiliki paling banyak followers dan diberkahi the power of social media bahkan sebelum social media itu sendiri lahir di dunia. “This was all really just an outlet for teenage angst if I’m being completely honest,” kenangnya. “Bagi saya internet adalah tempat di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan melarikan diri dari semua hal-hal menyebalkan yang muncul saat saya beranjak remaja dan menghadapi masa SMA. Saya tidak pernah bercita-cita untuk dikenal orang lewat internet, it was more of a place to be weird and accepted.”

Ketika kamu mencari “Audrey Kitching” di Google images, yang pertama muncul adalah foto-fotonya as the original wild child of the internet. Rambut warna pink yang menjadi trademark-nya menyala terang even in the darkest clubs, di mana ia seringkali terlihat berpesta dengan gaya pakaian yang bisa dideskripsikan sebagai gabungan antara Harajuku girl, emo fairy, dan skater girl. Ditambah dengan segala dramanya dengan sesama Scene Queens dan hubungannya dengan Brandon Urie sang vokalis Panic! At The Disco, Audrey adalah sosok kontroversial yang mengundang pro dan kontra. Its either you love her or hate her (and secretly want to be her). Kemunculannya di berbagai acara paling happening dan red carpet membuatnya dijuluki “fashion forward female” sekaligus “fashion disaster” dan sebutan lain seperti “It Kid”, “princess of pop culture”, “social media queen” dari berbagai media.

photo-aug-02-12-14-58-pm

Namun, menyebutnya sekadar famous for being famous adalah sebuah kesalahan. Apa yang membedakan Audrey dengan jutaan scene kids lainnya adalah kemampuannya membawa kepopuleran dunia mayanya ke dunia nyata. Sama halnya dengan beberapa nama seperti fotografer hipster Mark “Cobra Snake” Hunter atau club kid dan model Cory Kennedy, mereka memiliki satu kesamaan sebagai the early adopters yang dengan lihai memanfaatkan internet untuk membangun persona mereka dan meraih ketenaran. Ketika kepopuleran MySpace telah usai dan digantikan oleh Facebook dan social media lainnya, Audrey telah meraih kesuksesan mainstream dengan bertransisi sebagai legit public figure. Berbagai hal telah ia kerjakan dalam satu dekade terakhir ini, dari mulai menjadi spokesmodel dan wajah dari banyak desainer dan label terkenal, dia juga telah tampil dalam berbagai editorial di seluruh dunia, dari Skandinavia sampai Jepang di mana ia melakukan lebih dari 4 editorial setiap bulannya, tampil di beberapa serial televisi dan film sebagai dirinya sendiri, dan merilis beberapa clothing line dan kolaborasi dengan nama-nama seperti H&M, Kerol D Milano, dan Vera Wang. Audrey yang menjalani gaya hidup vegan juga menjadi public person untuk kampanye “Fur Is Dead” bersama Peta2 dan menentang animal testing dalam industri personal care.

            Kini, di umurnya yang telah menginjak 31 tahun, Audrey menemukan dirinya di era yang berbeda dengan pemikiran yang tentu saja sudah jauh meninggalkan masa-masa teenage angst dalam hidupnya. Rambutnya memang masih berwarna pink, namun sekarang ini ia cenderung memilih warna pastel yang dreamy dan menukar gaya hot mess dengan estetika New Age yang ethereal seperti yang terlihat dari akun Instagramnya yang diikuti oleh 273K followers. Naturally against the currents, di era socmed yang serba candid dan terbuka, Audrey justru terasa seperti sosok mistis di internet yang lebih peduli soal inner peace dalam dirinya dibanding menanggapi komentar orang lain.

More than just another internet famous, Audrey saat ini adalah seorang model merangkap desainer dan penulis yang tengah disibukkan dengan usahanya menjalankan clothing line bernama LUNA yang terinspirasi oleh hal-hal seperti astrologi dan magic serta menjadi founder dan CEO dari Crystal Cactus, sebuah lini aksesori yang mencakup crystal pendant jewelry, produk holistic spa, dan gifts yang turut dijual di Urban Outfitters dan mendapat respons positif dari banyak pihak. Menjauh dari gemerlapnya industri fashion dan kehidupan malam yang liar di kota besar, Audrey yang juga menjadi seorang praktisi new age sedang memetik karma baik yang ia terima dan berusaha menyebarkan energi positif ke dunia. We want to know more of her magic.

photo-aug-02-11-54-07-am

Hi Audrey, how are you? Where in the world are you right now, what are you wearing and what you doing before answering this email? Saat ini saya sedang berada di rumah saya di Philadelphia. I’m wearing a nude silk slip and an olive green silk button down shirt tied up. Saya baru saja menyiram tanaman dan menyalakan dupa dan lilin sebelum duduk untuk menjawab interview ini.

Boleh cerita soal aktivitasmu belakangan ini? Sekarang saya sedang menikmati masa-masa kebebasan. Tahun ini telah menjadi tahun yang sangat transformatif bagi saya. I stepped away from the industry in all aspects of the sense and really started to focus on my passions without that influence. I have been really just enjoying the simple pleasures of creating art and living.  

Bagaimana biasanya kamu memulai harimu? Ada ritual harian yang kamu lakukan? Saya punya banyak ritual. I am a ritual. Hari-hari saya selalu dimulai dengan mengisi makanan burung di bird feeders, membuka tirai, mandi, membuat teh, menyiram taman, memberi makan binatang peliharaan saya yang terdiri dari kucing, burung, dan ikan (who are all best friends I might add), memasak sarapan, membaca astrologi atau mencari inspirasi di sudut-sudut internet. As far as my day’s go, saya biasanya di studio untuk mengurus metaphysical shop saya, Crystal Cactus atau melakukan pemotretan dengan teman-teman kreatif saya, lost in an adventure in nature atau jalan-jalan ke museum seni. I always try to have fun and enjoy simple things every day. I have really learned the true meaning of work smart not hard.

Kamu telah biasa tampil di NYLON US, tapi ini pertama kalinya kamu muncul di NYLON Indonesia, apa yang kamu pikirkan saat mendengar Indonesia? I love culture in all aspects. Saya tahu jika Indonesia punya keindahan alam dan candi-candi yang megah. Saat masih remaja, saya dulu sering ke restoran kecil bernama Banana Leaf di California karena mereka punya menu vegetarian Indonesia yang sangat lezat.

Boleh cerita soal pemotretan kali ini bersama Bruno? Kalian sangat sering berkolaborasi belakangan ini, bagaimana sebetulnya kalian pertama bertemu? It was fantastic. Kami punya vibe yang sama dan merupakan hal yang alami jika pada akhirnya kami menjadi creative partners. I will text him and say “I got an idea!” atau kalau dia punya kamera atau film baru, dia akan menelepon saya dan bilang “We have to test this out and experiment!” Menemukan seseorang yang punya kesamaan artistik sama susahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami menurut saya… Terutama saat saya masih berada di industri. Banyak orang yang membuat sesuatu hanya demi pujian dan ketenaran. I create because it’s my soul’s way of survival. I have to create, hal itu bukan pilihan tapi sebuah keharusan bagi saya pribadi. Saya berkarya untuk membuat sesuatu yang tidak bisa saya ungkapkan lewat sekadar kata-kata. Menemukan seseorang yang punya ketertarikan pada seni dengan alasan yang sama bisa dibilang sebagai a blessing in a dark, dark realm of ego centric moldings. Saya ingat awalnya kami kenal saat dia mengirim message ke saya dan bertanya, “Hey want to be in my Polaroid book?” Saya mengiyakan, dan setelah pemotretan dia baru bilang jika sebetulnya he had no idea tentang siapa saya dan tidak pernah mendengar tentang saya sebelumnya. Saya berpikir, “Fantastic, we are going to make some killer creations together.”

 photo-aug-02-11-52-08-am

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fashion? Apa inspirasi awal yang membentuk personal style bagimu? Self-expression. Saya bahkan belum pernah mendengar Marc Jacobs sampai saya berumur 21 tahun. I didn’t know what that was and never cared. Saya merasa saya tercebur ke industri fashion hampir seperti sebuah kecelakaan. Fashion was always just self expression to me; it was art living and creating. The fashion industry is about fame, money, fitting in… I was never about that. Saat saya kecil, ibu saya sering mengajak saya ke thrift stores untuk membeli pakaian and we would dye the clothing, add lace and paint on it. It was always just natural to me. 

Apakah kamu memang berasal dari keluarga yang kreatif? Ya, bisa dibilang seperti itu.  Waktu kecil saya mengambil kelas seni, I was always painting, creating, making films in my backyard, doing magic spells, collecting fairy’s… Semua hal itu yang mempengaruhi saya sampai sekarang. Ibu saya adalah seorang seniman dan ayah saya seorang pelaut.

 Di mana kamu tinggal sekarang dan apa yang kamu sukai dari tempat itu? Saya tinggal di Philadelphia. Ini adalah kota di mana saya lahir dan dibesarkan. Saya sudah pernah tinggal hampir di semua penjuru Amerika Serikat namun pada akhirnya saya memilih pulang ke kota asal saya. I guess the soul recognizes a good thing when it feels it. Saya suka semua hal dari kota ini, mulai dari budaya, makanan, dan seninya. Kami punya beberapa taman dan hiking trails paling indah di Amerika, fantastic foods, museum, dan hidden gems lainnya. Kamu bisa pergi ke pantai atau ke pegunungan hanya dalam hitungan jam. It’s truly beautiful. Semua hal positif dari hidup di daerah perkotaan tanpa adanya stress, polusi, dan negativitas.

Kamu telah aktif di internet sejak pertama kali munculnya situs-situs social networks, apa yang kamu pikirkan tentang internet dan social media saat ini bila dibandingkan masa sebelumnya? It is so watered down with people all fighting for their 15 minutes of fame. Mungkin saya tidak akan eksis jika saya baru muncul sekarang. I was just being myself which was rebellion in its own right. Saya menentang norma yang ada dan orang-orang menyukainya, and it caught on. Sekarang orang-orang akan melakukan apapun demi mendapat sedikit perhatian. Rasanya menyedihkan. I’m very far removed. Sekarang, media sosial yang saya follow adalah akun-akun tentang real art, sejarah, astrologi, dan film. Kamu harus hati-hati menghadapi media sosial. What you look at your invite in. 

Buzznet mungkin tidak terlalu populer di Indonesia, namun MySpace was a big thing di tahun 2000-an dan saya ingat saat pertama kali melihat profile-mu di MySpace dan langsung kagum. Apakah kamu masih ingat apa yang mendorongmu untuk membuat akun MySpace dan aktif di situs tersebut? Apa yang paling kamu rindukan dari era tersebut? That’s powerful that you remember that feeling. I cherish that, thank you. Sejujurnya waktu itu saya hanya mencoba mencari jati diri saya. Internet telah dan akan selalu menjadi creative outlet bagi saya. It is a blank canvas waiting for paint. Saya hanya mencoba menjadi diri saya sendiri dan hal-hal yang memang biasa lakukan hanya saja kali ini saya menunjukkannya di area publik. Yang saya rindukan adalah rasa authenticity. Sekarang ini hampir semua posting adalah posting berbayar dan tersponsor, bahkan sampai ke pakaian yang mereka kenakan.

photo-aug-02-12-01-54-pm

Apakah kamu pernah bertemu langsung dengan Tom dari MySpace? Sayangnya tidak pernah. Saya juga tidak yakin apakan dia akan suka pada saya. 

Seperti yang kamu bilang, di era social media saat ini, it’s literally 15 minutes of fame untuk semua orang, jadi bagaimana caramu agar tetap relevan di media sosial/internet dan bersikap dewasa? That’s a fantastic question and it’s almost a trick question because I never was focused on being relevant. Beberapa orang mungkin hanya akan posting di jam-jam yang telah mereka tentukan sendiri, mencoba untuk stay on top on trends dan melakukan cross promote. Saya tidak melakukannya. Jika suatu hari saya mempunyai banyak hal yang ingin saya ungkapkan, saya mungkin akan posting 100 tweets di Twitter atau posting sepuluh foto di Instagram. Saya memperlakukan media sosial sebagai platform kreatif, bukan untuk dikagumi. Saya tidak mencari pujian. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dan berharap hal itu bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Apakah kamu merasa fans-mu dari zaman MySpace masih mem-follow dirimu sampai hari ini? Bagaimana caramu berinteraksi dengan para followersThey do, which is wild. Saya merasa banyak followers saya yang beranjak dewasa bersama saya. They stuck by me through the most radical evolution that can exist. Saya orang yang agak sulit dipahami. Saya bukan tipe orang yang paling mudah didekati dan saya tahu hal itu berdasarkan energi yang saya pancarkan. Orang juga tahu saya tidak terlalu peduli soal komentar dan penerimaan dari orang lain. They kinda just take it in and move on. I appreciate that.

Apa yang kamu rasakan saat melihat foto lamamu di internet? Kalau boleh melihat ke belakang, adakah hal yang kamu sesali, mungkin hal-hal yang tidak seharusnya kamu ucapkan atau lakukan? Sejujurnya, saya merasa dulu sangat out of control dalam kehidupan publik saya. I mean that in the most respectful authentic way. Saya masih 100% orang yang sama dengan sosok di foto itu namun sudah lebih terpoles. Apakah ada orang yang melihat foto diri mereka tujuh tahun lalu dan merasa keren? Mungkin tidak, tapi saya selalu menjadi diri saya sendiri dan tidak ada yang saya sesali. I am 100% still that person just more refined. Does anyone look back at photos of themselves 7 years ago and think it was a fantastic look? Probably not, but I was just doing me and I don’t regret a thing.

Apa media sosial favoritmu saat ini dan kenapa? Saya suka Tumblr untuk posting hal yang personal dan mengumpulkan inspirasi. Twitter untuk berkeluh kesah dan mengeluarkan unek-unek apapun di kepala, sedangkan Instagram lebih untuk curated art. Saya tidak memakai Facebook atau Snapchat because those don’t resonate with me at all.

Tell me about Crystal Cactus, apa yang menginspirasimu untuk membuat label ini? It’s a soul mission. Salah satu alasan kenapa saya ada di sini sekarang. Saya tahu dengan sendirinya jika saya harus punya toko dengan healing power di baliknya walaupun sebelumnya belum terlalu yakin dengan apa yang akan saya buat. Butuh proses yang lumayan panjang. Saat memulainya, hanya ada saya di rumah yang mengerjakan semuanya. Saya akan membayar saudara saya untuk melakukan pengiriman seminggu sekali. Dan hal itu berkembang dengan sendirinya. Saya sudah punya tim karyawan cukup besar dan produknya sudah terjual di banyak retail chains di seluruh dunia. Namun, itu menjadi pelajaran besar bagi saya dan saya sadar bukan itu yang saya inginkan untuk saya maupun perusahaan ini. I scaled back down to basics and it’s coming together beautifully. Rome was not built in a day. 

Apa yang menurutmu menjadi pencapaian terbesarmu sampai hari ini? Being here right now in my home answering these questions by my own will. Saya telah memecat publicist saya dan meninggalkan industri, tapi saya masih mampu mengerjakan apa yang saya suka dengan cara saya sendiri. Having people like you guys support me in that is so powerful. To me that is success.

photo-aug-02-12-03-07-pm

What’s your most prized possession? My soul. 

What are you obsessed with right now and why? Apapun yang menyangkut zaman Medieval dan mitologi Yunani… Saya selalu suka keduanya dari dulu namun belakangan ini saya semakin mendalaminya. Dan juga memasak. I really love to cook. I always have but I’m finding more time for it now. 

Apa satu hal yang ingin kamu lakukan tapi belum sempat terlaksana? Pergi ke Italia lagi. Saya berencana pergi ke sana musim semi ini. I am very Italian and have so many powerful past lives from that region. Saya telah mendedikasikan hidup saya untuk pekerjaan setahun terakhir ini, but I feel Rome at my fingertips and she is waiting.

Bicara tentang entrepreneurship, apakah kamu punya sosok favorit yang kamu anggap sebagai #girlbossJoan of Arc mungkin, atau Aphrodite… Para wanita yang tidak tunduk pada lelaki manapun. Para wanita di sejarah dan mitologi yang berani menentang keadaan. They can sit at my lunch table and they are on my kickball team.  

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk memotivasi diri sendiri saat terjadi hal yang kurang menyenangkan? Kamu hanya harus mengingatkan diri sendiri: THIS TOO SHALL PASS. Kalimat tersebut telah banyak membantu saya. Nothing is permanent. Perubahan adalah ritme natural bagi alam semesta. 

Apa hal terakhir yang membuatmu marah? Society. I woke up in a random rage about how people are pushed into conformity. Saya geram melihat ketidakadilan. Beberapa ajaran spiritual  bilang jika amarah adalah sesuatu yang buruk. Saya tidak setuju. Amarah mendorong perubahan, kejujuran, dan keadilan. You need anger. Merupakan hal yang penting untuk bicara menentang ketidakadilan. Penting bagi kita untuk punya rasa marah. I think being neutral, having no emotional charge is bad. Quite the opposite. 

Terakhir, jika kamu bisa memberikan saran ke dirimu sendiri saat masih remaja, apa yang akan kamu katakan? Things will get better. Keep being you. Never give in to the masses.

photo-aug-02-12-23-01-pm

 All photos by Brian Bruno @brunoroids 

Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

Art Talk: The Sugary Drawing of Maelle Rajoelisolo

maeller

“Saya lahir dan besar di Paris, dan hal itu jelas membawa pengaruh yang besar dalam karya saya… Saya mungkin tidak akan tertarik pada fashion jika saya tidak pernah tinggal di kota ini,” ujar Maelle Rajoelisolo, seorang fashion and beauty illustrator yang berbasis di ibukota Prancis tersebut. Penuh warna, fun, dan super girly dengan referensi dari daily style, haute couture, dan pop culture, meiihat karya bermedium pensil warna dari gadis berumur 26 tahun tersebut di akun Instagram miliknya @cirquedepapier memang memberikan sensasi yang sama ketika kamu melihat deretan dessert penuh warna di etalase toko kue favoritmu. “Thank you! I love that compliment! Saya pecinta makanan manis jadi saya senang mendengarnya,” tanggap Maelle akan komentar tersebut. “Saya sangat suka passion fruit dan chocolate macaroons, crêpes, apple pies and very good chocolate fondants. Hanya membicarakannya saja sudah cukup membuat saya lapar,” sambungnya tentang daftar dessert favoritnya. Selayaknya kudapan manis yang lezat, we sure can’t get enough of her works, saya pun tergoda untuk mengobrol lebih jauh dengannya.

brooklyn

Jadi, bagaimana awalnya kamu tertarik menekuni bidang ilustrasi?
It was (and still is!) a long and not easy way; Saya suka menggambar sejak kecil tapi untuk serius di bidang ini sebetulnya tidak direncanakan. Awalnya saya berpikir untuk menjadi seorang arsitek atau pengacara, namun saya berubah pikiran dan tertarik menjadi artistic director. Saya akhirnya memutuskan menjadi ilustrator dan belajar desain grafis. Waktu itu saya membuka blog (saya sudah kecanduan internet sejakumur 11 tahun) dan mulai menggambar setiap hari.

Bagaimana sih typical day bagimu?

There is no typical day in work, dan saya menyukainya. Tapi biasanya saya bangun jam 8 pagi, mulai bekerja jam 9, makan siang jam 1 siang, mengerjakan hal lain sampai jam 3, menggambar lagi, stop di jam 7, pergi keluar (atau makan malam di rumah, saya tinggal bersama pacar saya jadi biasanya tergantung apa yang ingin kami lakukan dan jam berapa dia pulang), dan biasanya saya bisa mulai menggambar lagi dari jam 9 malam sampai jam 1 dini hari. Sejujurnya saya seperti burung hantu, saya senang bekerja di malam hari, jadi saya lebih suka bangun siang (I know, it’s bad) dan bekerja sampai larut malam (sampai jam 3 pagi bahkan). Tapi semuanya tergantung dari jadwal saya, terkadang saya juga harus pergi ke kantor, tergantung klien.

Seperti apa kondisi tempat kerjamu?

Flat saya termasuk kecil jadi saat ini saya bekerja di sebuah meja kecil yang penuh dengan barang-barang saya! Saya juga termasuk orang yang berantakan… Jadi semua hal tergeletak sembarangan. Saya tidak sabar untuk pindah ke flat yang lebih besar jadi saya bisa punya ruang yang lebih luas untuk kerja. Terkadang saya juga suka bekerja di co-working café; I love the environment and being surrounded by other creative people.

 paris2

Apa yang biasanya kamu gambar kalau sedang melamun?

I usually sketch random girls in random poses, wearing random dresses (or not). Saya juga suka menggambar karakter chibi. I love chibis. They’re were my favorite thing to draw back when I was a teen.

Bagaimana kamu mendeskripsikan karyamu?

Baru-baru ini ada yang menyebut kalau karya saya adalah “happy-making” dan saya senang mendengarnya. Saya juga berusaha menciptakan dunia saya sendiri yang selalu terinpirasi fashion, elegan tapi tidak terlalu serius dan selalu penuh warna. Misi saya adalah untuk membangun dunia tersebut secara maksimal, seperti yang dilakukan Wes Anderson dalam film-filmnya.

Apakah ada seniman yang menginspirasi karyamu?

Banyak, saya tidak bisa menyebut semuanya karena biasanya hal itu suka gonta-ganti seiring waktu, tapi saya selalu mengagumi karya-karya Laura Laine, Fifi Lapin, sahabat saya Sibylline Meynet, Paper Fashion… dan banyak lagi. 

Dari mana saja biasanya kamu menemukan inspirasi untuk menggambar?

Ada banyak film dan serial TV yang menginspirasi saya. Selama ada unsur fashion di dalamnya. Contohnya, saya menggambar banyak hal dari film Marie Antoinette karya Sofia Coppola untuk sebuah pameran tahun lalu dan beberapa adegan dari film favorit saya, Funny Face yang dibintangi Audrey Hepburn. Dan walaupun saya bukan penggemar berat Taylor Swift, saya tidak bisa menahan diri untuk menggambar outfit yang ia kenakan di video “Blank Space”.

 paris

Selain pensil warna, medium apa lagi yang biasanya kamu gunakan?

Saya pernah mencoba mewarnai di komputer saat saya remaja namun tidak melakukannya lagi sejak saya menyadari jika pensil warna adalah medium favorit saya karena mengingatkan masa kecil saya, Baru-baru ini saya juga mulai berkarya dengan cat air.

Musik apa yang biasanya kamu dengarkan saat bekerja?

Apa saja. Saya lebih memilih musik yang relaxing, tapi musik pop pun tidak masalah. Saya bisa mendengarkan musik sambil berkonsentrasi menggambar dan secara otomatis menyimak lirik lagu tersebut… Otak saya lebih fokus pada hal seperti itu ketika saya sedang menggambar.

nylon

Apa hal yang baru kamu sadari atau pelajari belakangan ini?

Saya baru menyadari jika gadis-gadis yang saya gambar bisa lebih dari sekadar paper dolls, saya bisa mengubah mereka menjadi sebuah pattern, notebook, dll. I am so happy to push my work further!

Apa proyek selanjutnya?

Saya sedang mencoba untuk berkolaborasi dengan brand yang saya suka. Baru-baru ini saya senang bisa bekerja dengan Boohoo.com di akhir tahun lalu. Saat ini saya juga masih mengerjakan brand dan toko paper goods saya. Ada banyak produk yang ingin saya desain dan buat, namun seperti biasa hal itu membutuhkan banyak waktu dan uang. So everything is going step by step.

 lemonade

Follow Maëlle Rajoelisolo di Instagram @cirquedepapier, Facebook: Cirque de papier, Tumblr: @cirquedepapier.

Through The Lens: Deby Sucha

Deby Sucha

Dalam edisi Oktober 2015 NYLON Indonesia yang mengangkat tema “The It issue”, saya menulis tentang profil empat perempuan muda yang berkarya di dunia fotografi yang masih didominasi kaum pria. Salah satunya adalah Deby Sucha, fotografer kelahiran Jakarta 29 tahun yang lalu yang saat ini sedang bermukim di Jepang. Dengan mata yang jeli menangkap atmosfer raw dari street photography, Deby telah menarik banyak klien besar seperti The Body Shop dan Makarizo serta menjuarai berbagai kompetisi fotografi dari Sony, Capcom, Garuda Indonesia, dan Korea Air. Let’s get to know her better, shall we?

Deby7

Hai Deby, boleh perkenalkan sedikit tentang dirimu?

Hi! My name is Deby Sucha, born in Jakarta, Indonesia. Some called me their personal photographer. Currently based in Tokyo, Japan and working for Airbnb.com

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fotografi dan kapan pertama kalinya kamu mulai bereksperimen dengan kamera?

Simply because I loved travelling, dan kayaknya seru banget kalau apa yang aku lihat selama perjalanan bisa terus dilihat kapan aja. I am a living-in-the-present kind of person, but when I look back to the past, I’d like to immerse myself into the snap shots photographs I took. Awalnya aku suka street snap fotografi dengan kamera pocket waktu aku umur 18 tahun, kemudian aku dapat kesempatan untuk jadi asisten fotografer fashion di Jakarta yang bikin aku mau belajar lebih dalam lagi tentang fotografi.

Deby9Deby3Deby4

Deby5

Apa kamera pertama yang kamu punya?

Analog Nikon FM2.

Siapa fotografer yang paling menginspirasimu?

My all time favs Peter Lindbergh, Gavin Watsons, Philip Lorca Dicorcia.

Kalau kamera yang paling sering digunakan saat ini?

Digital: Canon EOS 6D, Film: Pentax 67 Medium Format.

How about your dream camera?

Kamera sekarang canggih-canggih banget deh udah pasti bikin be’em semua ya… Haha! Apalagi yang mirrorless dengan fitur full frame plus dukungan ISO tinggi. Tapi yang bikin penasaran itu dikit banget, and actually I have owned my dream camera, which is my medium format Pentax 67.

Deby8

What’s your educational background? Apakah kamu otodidak atau memang mempelajari fotografi secara khusus?
Graduated of Visual Communication Design , Bachelor of Art. Untuk fotografi sih belajar sendiri , dan curi-curi ilmu dari kerja sebagai asisten di lapangan. Selain itu juga hobi liatin photobook-photobook buat cari inspirasi.

Apa obyek favoritmu untuk difoto?
Street and people.

Deby2Deby1

How would you describe your own aesthetic?
Raw.

What do you think about being female photographer di dunia yang masih didominasi fotografer laki-laki ini? Do you think gender is important in this field?
Menurut aku sekarang ini udah banyak fotografer-fotografer wanita yang super talented in their field. See that gender doesn’t matter. If the camera itself would choose their own photographer , I bet most of it would say “hand me to the ladies please!” Haha.

Di zaman, semua orang bisa memotret dengan smartphone masing-masing dan aplikasi editing, do you think  conventional” photography masih relevan saat ini?
I appreciate all the photography related technologies we have right now, as I often use that as well and it’s super easy and cool! But if you want to create something big, something powerful, you won’t go with that shortcut things, right? We put at least some effort to it, and someday we get paid for the effort we have made. Kalau untuk sharing di social media , why not?

Deby10

Dari mana biasanya mencari inspirasi?
Go outside , and walk, look around. There you go.

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
The project I’m running with my friends right now.

What’s your next project?
An independent webmagazine for art, culture, street and fashion.

Advice/tips to anyone who wants to become a photographer?
First thing is to go outside, go to the public library and see other people’s artworks, go to exhibitions, and bring your camera all the time, never stop shooting.  And last but the most important thing. Show off your works to your friends, listen to their opinion.

Deby6

All photos by Deby Sucha

Instagram: @debysucha

www.debysucha.com

Style Study: 5 Labels You Should Know From NYFW Fall/Winter ’14

It’s definitely been a long time since I wrote about fashion week. I used to do that every single seasons back on my Tumblr heydays, but on the recent years, I even barely pay any attention anymore to my favorite labels like Proenza Schouler, Rodarte, Alexander Wang, etc. I’ve lost track about their recent collections, let alone knowing the who’s who in the industry nowadays. Today, I woke up feeling nostalgic about my past endeavor as Fashion Week reviewer and how I’ve been dreaming to actually attend the shows someday so I decide to skimming most of the New York Fashion Week Fall/Winter 2014 shows, and in the process, I educated myself about some of the most interesting new labels, fresh designers, and probably the new fashion It Kids. Here’s my short list:

Public School: Maxwell Osborne (left) & Da0-Yi Chow (right)
Public School: Maxwell Osborne (left) & Da0-Yi Chow (right)

PUBLIC SCHOOL

Dao-Yi Chow and Maxwell Osborne, the two masterminds behind this NYC-based menswear label, had gain some buzz when they receive the prestigious CFDA/Vogue Fashion Fund Award last year, so its probably not surprising to saw Anna Wintour and her daughter, Bee Shaffer, sitting in the front row of Public School’s first formal show this season. Put the hype aside, they’re proving they’re more than ready to open their school of style to the public. The show was started by Asian male model (hey, that’s unusual) in the monochromatic flannel, jeans, wide hat, and cape. Thanks to American Horror Story: Coven, I’ve been obsessing over wide hat and cape lately, and to see them wore by men, I’m very thrilled even though they probably not taking the reference from the New Orleans witches. Accessorized with scarves underneath the hat, they’re giving an ode to Jewish rabbis in the downtown New York, while the pastoral neck on some pieces hinting a Catholic preacher aesthetic.

PublicSchool

The collection itself is very urban, very New York, very modern. Its like a refined mix of sportwear and tailored suits in neutral hues, with heavy emphasis on their outerwears (cape, jacket, blazer, coat) and for the first time, they also create some women wears that ooze the same relaxing cool vibes as their male counterpart. Like a proper runway debut, they don’t need any gimmicks, they let the clothes speaks for themselves and it’s a big hit. Some people are giving them standing ovation while Mrs. Wintour clapping her approval, and it’s easy to understood. It’s very smart collection and Public School bringing their A-level game to teach us how the cool guys and girls should wear in public.

Maria ke Fisherman: Victor Alonso and Maria Lemus
Maria ke Fisherman: Victor Alonso and Maria Lemus

Maria ke Fisherman

Founded by Maria Lemus and Victor Alonso in 2011, the Madrid-based label is well known for their edgy streetwears that combines futuristic design with references from 90’s pop culture. For their New York debut, the duo are not afraid to show their signature colors which includes cotton-candy knitwear, crop tops, tracks pants, platform sneakers, and crochet sweaters. It’s basically “Monsters University mixed with Korean hookers and the way hip-hop singers dressed in the nineties, especially when they went to Aspen to ski,” explains the duo themselves about the daring collection which must be worn with certain kind of self-mocking and humorous attitude.

mariakefisherman

What comes in my mind is Akihabara’s cyberpunk meets hip-hop meets 90’s MTV. The spaghetti-straps denim dress is like straight from Posh Spice’s wardrobe in her Spice World era while combination of black bra and plaid pleats mini skirts looks like a homage to Britney’s Baby One More Time. The fluffy sweaters fully adorned with MkF insignia in pixel bit colors is right on the hook and show us that they’re ready to play.

Calla Haynes and her cho chow, Lilybear.
Calla Haynes and her chow chow, Lilybear.

CALLA

I love when designers have some fascinating story to backing up their new collection. In the Calla Haynes’ mind, her Fall/Winter 2014 collection is about a heartbroken French belle who moves to Nashville in the 60’s and bring along her wide array of cute retro dresses, tweed boyfriend blazer, and belted coats. Mixing a Parisian chic with American girl’s aesthetic such as varsity jacket, pleated skirts, and oversized sweatshirts, Miss Calla staying true to her relaxed luxury which all about young, dreamy yet vibrant feminine looks that could be taken straight from Lula magazine’s fashion spread.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Print is always a biggest forte for the Toronto-born, Paris-based designer who used to work with Olivier Theyskens and Nina Ricci. This season, she based the playful prints from her chow chow pet called Lilybear while bringing some fresh colors like minty ice and strawberry sorbet to the traditionally subdued season.

Katie Gallagher
Katie Gallagher

Katie Gallagher

Talk about witches, Katie Gallagher presumably show us how witches would look like if they’re exist in The Matrix universe at her first proper seated runway presentation. The High Line hotel, with its stained glass windows and fireplace, is a perfect place to showcasing her famous goth overtones collection. Models with their pale skins, slick wet hair, slouchy hair bows, and deep blood lip colors strutting the runway draped with chiffon ornamented jackets, flowing skirts, fluid looking nylon pieces, bare midriffs, and utilitarian coats. 

Katie Gallagher

Consist of nothing but black, vampy red, and a strike of silver fur, its something that girls like Claire Boucher and Fairuza Balk will wear proudly. It’s sleek, mysteriously cool, and sexy just like the designer herself who have Jared Leto as her biggest supporter. While Katie Gallagher is not really a newbie, this season marks another collection that reminds about she’s one of the new bloods to be reckoned.

Hyein Seo
Hyein Seo

Hyein Seo

Halloween comes early this year. The young South Korean designer might still in the middle of pursuing her master degree at Royal Academy of Fine Arts in Antwerp, but with her New York debut collection called Fear Eats The Soul, she shows no fear whatsoever to have fun in her designs. At the first glance, they might looks very kitsch, especially when you think of Antwerp as her educational background. Antwerp is mainly associated with very avant-garde designers while Seo’s design feels young and dynamic, and will fits in any style hub streets. From Seoul, Paris, London, and of course, New York.

hyein_seo

A mix of 80’s B-movie horror flicks and streetwear, the collection have a gooey-like “FEAR” word emblazoned in almost every pieces from head to toe. From hairpiece, choker, dresses, to faux fur coats with spooky faces that reminds you with the killer from Scream. While honestly it had a bit of reminiscent from Meadham Kirchhoff and early Jeremy Scott, I can’t wait to see what the future hold to Hyein Seo. Fear no more.

FEAR

I must admit it was fun to write about fashion week again and try to predict the next trends. From what I’ve seen, I think we should ready for 90’s revival and sporty urban aesthetic. Until another fashion week!

Style Study: Haryono Setiadi

Adi Setiadi

Di antara deretan label top Australia yang berkiprah di Mercedes-Benz Fashion Week (MBFW) Australia tahun ini, terselip satu nama yang terdengar Indonesia, yaitu Haryono Setiadi. Well, it turns out Haryono ‘Adi’ Setiadi sang empunya nama memang seorang desainer Indonesia yang berbasis di Sydney. Dalam gelaran pekan mode tersebut, Adi menampilkan koleksi S/S 13 bertajuk “Visceral” yang terdiri dari luxury sportswear berupa bomber jacket, crop top, dan oversized silhouettes berhiaskan digital print yang terinspirasi dari atom dan molekul. Sleek dan modern, koleksi ini berhasil menarik perhatian editor Vogue yang memasukkannya dalam highlight MBFW musim ini dan beberapa koleksinya pun dipakai Emma Watson di film terbaru Sofia Coppola, The Bling Ring. Ditambah berbagai penghargaan yang telah ia terima dalam kariernya yang masih terbilang baru, he’s definitely one to watch.

Visceral

            “Pada dasarnya saya suka berkarya dengan menggunakan warna dan komposisi, dan saya menggunakan fashion sebagai kanvas untuk berkarya dan menyalurkan kreativitas saya,” ungkap Adi tentang alasannya menekuni fashion. Penyandang gelar Bachelor of Commerce ini awalnya sempat bekerja sebagai finance analyst sebelum kecintaannya kepada warna dan desain mendorongnya untuk terjun ke fashion dengan bekerja langsung pada seorang desainer Jepang, Akira Isogawa. Di bawah asuhan Isogawa, Adi mengembangkan estetika desainnya sendiri untuk akhirnya membuat label pribadinya dengan nama awal An Ode to No One, sebelum berinkarnasi menjadi Haryono Setiadi di tahun 2012. “Saya sangat tertarik dengan teknik membuat baju, konstruksi baju, dan penggunaaan bahan-bahan tertentu untuk menciptakan ‘feeling’ baju tersebut. Inspirasi desain saya selalu berdasarkan evolusi dari koleksi sebelumnya. Walaupun itu sesuatu yang bisa saya improve atau kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat. Setiap koleksi, saya selalu berusaha untuk berkembang, menciptakan sesuatu yang baru dan modern, dengan kualitas yang setinggi atau lebih tinggi dari koleksi sebelumnya.”

Visceral2

            Selain main line Haryono Setiadi yang bersifat high end dengan fokus ke tailoring, fabric treatment, dan signature digital/hand craft artwork, Adi juga melansir diffusion line bernama A.D. by Haryono Setiadi untuk pangsa anak muda dengan desain ready-to-wear yang lebih affordable. Saat disinggung apakah ia memiliki rencana untuk membuat menswear, Adi menjawab jika itu adalah salah satu harapannya dan kini ia masih mempelajari teknik-teknik pakaian pria di sela-sela kesibukannya menyiapkan koleksi Autumn/Winter terbaru dan menulis musik di waktu senggangnya (ia sempat menjadi vokalis band di Aussie.) Lebih dari satu dekade meninggalkan Tanah Air, Adi tak lantas melupakan identitasnya. Merepresentasikan Indonesia di kancah internasional menjadi hal yang dibanggakannya dan ia pun membersitkan harapan untuk bisa menggelar show di sini. Melihat kemahiran sartorial dan visinya untuk terus berkembang, I think it’s only a matter of time for him to fly even further.

Haryono setiadi backstage

Backstage photos by Jake Terrey for Vogue Australia

The Morning Bender, A Report of Nikicio F/W 2013 Morning Presentation.

DSC_4530 copy

Tak pernah ada istilah terlalu pagi untuk menikmati suguhan fashion yang berkelas, Nina Nikicio membuktikannya lagi dalam morning presentation Nikicio Fall/Winter 13/14. 

For instance, mungkin di skena mode Indonesia saat ini baru Nina Nikicio seorang yang punya nyali dan loyal fans untuk menggelar fashion show di pagi hari untuk keduakalinya sejak presentasi Nikicio Mixte Spring/Summer dua tahun lalu. Dan seperti show sebelumnya itu, kali ini pun Nina mengemasnya menjadi suatu event yang membuatmu rela bangun lebih pagi di akhir pekan. Untuk show yang diadakan Sabtu 26 Juni lalu, Nina memilih Colony di area Kemang Raya sebagai venue, di mana setiap invitee akan diantar oleh para usher menaiki elevator ke lantai 6 gedung tersebut, dan begitu keluar pintu lift, mereka akan langsung melihat sebuah space kosong yang sudah dihiasi jejeran kursi putih, dan jendela-jendela lebar di setiap sisi yang membiarkan cahaya pagi menghangatkan area berwarna abu-abu tersebut. Mengingatkan seperti sebuah loft di downtown New York, and fits Nikicio’s DNA so well, I must say.

Tak berapa lama setelah saya menikmati breakfast at a jar dan orange juice dalam botol yang disediakan di setiap kursi, show pun dimulai. Seorang model Kaukasia berjalan santai dengan turtleneck abu-abu dan blazer wool berwarna sama yang dipadukan dengan pajama pants dari material Habutai (garmen sutra yang sangat ringan) dengan print foto scenery pegunungan. Print yang sama menjadi kunci utama dalam keseluruhan koleksi ini dan muncul dalam berbagai inkarnasi, mulai dari oversized jacket, celana pendek, sleeve dress, blazer, hingga bra. “It was from one of my favorite holiday in New Zealand. Probably in 2009. I remember the scenery was so beautiful it took my breath away. And I remember saying grace, just being thankful at that moment. It’s very personal really and such a humbling experience,” ungkap Nina, menjawab pertanyaan saya tentang print tersebut. Selain print pegunungan tersebut, print lain yang juga muncul adalah guratan bangau putih yang terinspirasi dari kain Cina yang pernah Nina lihat di rumah neneknya. Jelas, Nina ingin bermain dengan kenangan personalnya di koleksi terbarunya ini.

DSC_4415 copy4

DSC_4567 copy

DSC_4483 copy

Put the prints aside, koleksi F/W 13 ini tetap mengiaskan apa yang menjadi pakem label ini, which is smart cutting and minimalism beauty. Knitted sweater, moto jacket, bolero, kemeja sifon, dan maxi skirt berpadu tanpa cela dengan aksesori pendukung seperti beanie, topi snap back, slip on sandal, serta clutch dari material Nubuck yang lembut dan kuat di saat yang sama. Terselip juga beberapa muscle tank dengan tulisan “Grumpy”, “Hungry”, “Thirsty”, dan “Sleepy”, saya bertanya iseng ke Nina, “So, which one are you in the morning?” Nina yang kala itu mengenakan muscle tank hitam bertuliskan “Sleepy” menjawab sambil tertawa, “Hahaha! I like to inject humor to every collection I make. Grumpy, hungry, thirsty, and sleepy are feelings that easily relatable to anyone, it transcends gender. But then again, I basically just want to have a little fun,” tukasnya dengan tersenyum.

DSC_4867 copy

Sebagai kesimpulan, 24 looks yang disajikan dalam morning presentation ini bisa dibilang menjadi sebuah goodbye notes manis dari Nina untuk sementara waktu kepada fashion crowd Indonesia. Saat kamu membaca artikel ini, ia telah berada di Melbourne untuk melanjutkan studi Fashion & Textile Merchandising di RMIT University, sebuah hal yang menunjukkan komitmennya untuk terus membawa diri ke level selanjutnya dan tak berhenti di satu titik. “Life is all about learning anyway isn’t it?” pungkasnya. Couldn’t agree more with that.

DSC_4879 copy

 

As published in NYLON Indonesia July 2013

All photos by Sanko Yannarotama

Higher Ground, An Interview With Nina Nikicio

Nina

Tidak pernah berhenti di satu titik adalah kunci Nina Nikicio untuk selalu setingkat lebih tinggi. 

“Gue lagi mentok. Gue lagi bosan banget sama Jakarta,” tukas Nina Nikicio sambil menyesap minumannya. “Lagi bosan sama scene-nya, karena gue melihat fashion designer atau brand owner dijadikan sesuatu yang hip sekarang. Brand atau webstore popping up anywhere, tapi sedikit yang memang benar-benar berkonsep. Ada yang cuma nempel brand doang tapi beli baju di mana, itu kan nggak ada bedanya sama jualan di Mangga Dua,” cetusnya lagi dengan cuek dan lugas. Well, kalimat itu mungkin terdengar agak pedas, namun keluar dari mulut seorang desainer yang telah mencapai status cult tersendiri seperti dirinya, keluhannya yang jujur itu memang terasa benarnya.

Sekarang ini, rasanya tak ada pencinta fashion yang tidak mengenal nama Nina Nikicio. Nina dan brand Nikicio memang langsung menjadi talk of the town sejak pertama merilis koleksinya tahun 2007 lalu. Design aesthetic yang modern dan tak terikat tren dengan aura yang lekat dengan kata “edgy” dan “cool” adalah faktor utamanya. “It seems like yesterday. Dari dulu gue nggak mau tergantung sama keluarga untuk soal uang jadi pas awal bikin Nikicio itu ya pakai duit sendiri hasil kerja. Jahit sendiri. Gue ingat untuk show perdana gue tahun 2007 lalu, gue bikin hand embroidery di selimut gede banget. Semuanya gue kerjain sendiri, sampai sekarang selimut itu masih ada lho! Haha!” ungkap desainer kelahiran 1985 ini saat mengingat lagi awal kariernya.

Nina pun terkenal dengan konsistensinya dalam meluncurkan koleksi setidaknya dua kali setahun di bawah lini Mixte dan Femme. Ia juga selalu aware dengan perkembangan yang ada, Nikicio termasuk label Indonesia pertama yang mengundang para fashion blogger untuk datang ke fashion show-nya, langkah yang lantas diikuti banyak desainer lainnya. Lima tahun berlalu, namun excitement orang-orang pada label ini masih terjaga kuat. Mungkin baru Nina yang bisa membuat orang rela datang ke sebuah fashion show di hari Sabtu jam 10 pagi, suatu momen yang menjadi breakthrough tersendiri baginya. “Gue deg-degan setengah mati, jam 10 kurang 15 orang masih dikit tapi pas jam 10 teng antrean udah ramai. Itu menurut gue momen yang membuat gue berpikir ‘I made it this far’, antusiasme orang untuk dateng ke show gue ternyata segitunya.”

Penyandang gelar bachelor untuk Fashion Design dari Lasalle College of The Arts, Singapura ini juga menceritakan masa-masa ketika ia sempat bekerja sebagai fashion designer untuk label menswear di daerah Clarke Quay Singapura dengan bos orang Inggris yang sangat galak untuk hal tailoring dan fitting. Dari lecturer di Lasalle, ia juga belajar pentingnya konseptual atau cerita di balik suatu koleksi. “Setiap bikin koleksi, mereka selalu nanya ini konsep di baliknya apa? Jadi gue nggak bisa bikin koleksi asal desain aja tapi nggak tau ceritanya apa. They always ask me to do one book, tebal banget yang isinya research dan sketch.” Setiap pelajaran itulah yang akhirnya menjadi fondasi yang selalu ia terapkan dalam mendesain.

Nina yang mengaku dirinya seorang workaholic ini juga tipe yang tak ragu untuk terus belajar. Karena itu sepulangnya ke Jakarta, ia mengambil Fashion Business di Lasalle Jakarta dan dalam waktu dekat, ia berencana mengambil program bachelor jurusan Fashion Design atau Fashion Merchandising di RMIT University, Melbourne. Hal itu juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi kebosanan yang ia rasakan saat ini. “Biar belajar lagi bagaimana cara running business-nya biar bisa lebih smooth, karena gue merasa masih kurang di situ,” ungkapnya.

Menyeimbangkan antara idealisme dan sisi komersial bagi siapapun yang berkecimpung di industri kreatif adalah hal yang gampang-gampang susah, bagi Nina sendiri dua aspek itu harus berjalan beriringan. “Sejak gue belajar fashion business, gue sadar sebagai desainer lo nggak bisa berdasarkan idealisme lo aja. Sebagai business owner, lo harus bikin gimana brand lo bisa tambah besar. Lagian idealisme gue masih bisa keluar dari print dan campaign yang gue bikin,” tandasnya.

“Gue nggak pernah bikin resolusi atau plan apapun, kecuali untuk koleksi gue ya, hehe. Gue harus punya production calendar.untuk label gue. Gue sendiri stop bikin resolusi dari tahun 2009, tadinya gue mau stop ngerokok, eh tapi sampai sekarang belum bisa, jadi ya sudahlah, daripada gue tambah stress,” jawab Nina saat ditanya apakah ia termasuk orang yang gemar mencanangkan resolusi tertentu setiap tahunnya. Jika segala prosedurnya telah selesai dengan lancar, Nina akan terbang ke Melbourne bulan Februari nanti. Lantas, bagaimana dengan kelanjutan label Nikicio sendiri? “Gue nggak tau opportunity apa yang ada di sana, tapi kalau misalnya gue harus mindahin Nikicio ke sana kenapa nggak? Kalau misalnya gue pindah bukan berarti Nikicio juga stop, tapi cuma pindah ikut gue aja,” jawab Nina dengan tersenyum. Well, kalau benar seperti itu, mungkin untuk sementara kita akan kehilangan sosok darling designer ini di Jakarta, namun jika next endeavor ini bisa mengantarkannya ke level yang lebih dari yang telah ia jajaki sekarang, why not?

As published in NYLON Indonesia January 2013

Photo by Andre Wiredja

Style Study: Moo Piyasombatkul

Moo

Hello Moo, how are you? Would you mind to tell us about yourself and what are you doing?

Hello! Technically I’m a jewellery designer as I did BA Jewellery Design at Central Saint Martins in London.

When did you first know you wanted to design eyewear?

I did an eyewear collection as my graduation project… and that was my starting point of my eyewear series. Although I didn’t plan to sell my collection nor starting as a brand. Mrs. B, a founder of Browns (in London) gave me an amazing opportunity to sell my graduate collection at the shop, which was such an amazing exposure. I can’t thank Browns enough.

Can you tell us about your training?

During my 3 years at Central Saint Martins, I was trained as a maker, a designer, and a thinker. All of my tutors, technicians and classmates gave me the best 3 years of my life. It was a turning point for me. I had time and supports from these people, guiding me to look, analyse and evaluate. I open up more to possibilities. A piece of jewellery doesn’t have to be made from precious metal or be worn as earring nor necklaces. Jewellery can be anything that relates to body. It’s a body adornment. It can be made from any kind of materials, as long as it helps translating the concept of the work. So this is gives me no limit to what I can do.

Day Dream

Where did you grow up and how does it influence your work in any way?

I grew up in 2 cultures; Thai and British. My parents sent me studying in UK since I was 12, but I come back home (Bangkok) every holiday. Traveling has been a big part since, and it became my influence because I got to travel to other cities in Asia, Europe and America. I got to see varieties of diversity, people and cultures. Then I began to know what I like and I then tend to go back to those places or doing more research on them. Traveling always involves hotels and restaurants (I love eating 🙂 ), so I got lots of inspirations from interiors, furnitures and the atmosphere. This is my initial  theme for most of my works.

Your eyewear already worn by Lady Gaga and Fan Bing Bing, how do you feel about it and personally, who do you design for?

It’s beyond amazing because they are both well dressed ladies whose styles I love. They picked my work themselves, which I even felt more special and it really motivates me to keep producing greater designs.

How would you describe your aesthetic?

My work and the way I dress are similar; proportionally balanced. I don’t overload things on myself or on my work.

Desire

If you can collaborate with any person in the world, who will you choose and why?

Karl Lagerfeld for CHANEL or Alber Elbaz for LANVIN. I love these labels and their clothes are very well cut. It’s a classic with a twist, similar to the way I work. I’m a big fan.

Tell us a little bit about your latest collection, what’s the main inspiration for it?

I tend to work in series. Developing from one to another because interiors and food are still my main influences. So let’s wait and see what’s next!

What is your personal favorite from the collection and why?

I tend to wear a lot of “desire” and ‘bubbly blue” styles from both of my collection because they go pretty well with most of my outfits. However Baroque Eyes collection is my most proudly present because it’s my first collection and it’s what made people recognise my brand. So it has become a classic collection which I’m still selling.

Bubbly

Do you think that you will always make eyewear? 

We’ll see…

For now, your eyewear is sold exclusively in Browns, OC, and HP France, got plans to sold it elsewhere?

I started selling in Hong Kong, Middle East and Romania and other main cities, but of course I want to sell my brand globally. Let’s see where next!

What do you hope for the future? 

Doing my best today and hopefully greater things to offer. More MOO ^oo^

MOO Eyewear Facebook