#30DaysofArt 30/30: Windi Apriani

Lahir di Bandung pada 10 April 1987, minat berkesenian dalam diri Windi Apriani sudah tertanam sejak dini. “Semenjak kecil saya sudah akrab dengan media lukis. Betapa tidak, memiliki seorang bapak yang hobi melukis sedikit banyak mempengaruhi bakat dan minat saya hingga kemudian saya diterima di FSRD ITB, membuat saya makin serius untuk menekuni jalur berkesenian. Yang mempengaruhi kekaryaan saya rasanya akumulasi dari masa kecil, hingga saat ini, dan pasti masa yang akan datang,” pungkas seniman yang dikenal dengan lukisan bermedium ballpoint dan oil di atas kanvas yang kerap kali berupa self-portrait dan menggambarkan simbolisme kehidupan domestik seorang wanita. Memiliki keluarga kecil bersama sang suami Agung Fitriana yang juga seorang seniman serta sang buah hati, peran barunya sebagai seorang istri dan ibu tak menyurutkan langkahnya dalam seni, hal itu justru menjadi katalis yang memperkuat konteks dalam karya wanita yang juga gemar membuat roti dan kue ini.

windiapriani 

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya selalu melihat bapak melukis, sejak saat itu mungkin ya. Hingga kemudian saya diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, membuat saya makin serius untuk menekuni jalur berkesenian.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Keinginan untuk menjadi seorang seniman adalah cita-cita saya sejak dulu, passion saya ada di situ, hal itulah yang mendorong untuk selalu produktif berkarya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Ada banyak ya, salah satunya Vilhelm Hammershoi, sebagai referensi pada beberapa periode awal karya saya.

windi-apriani-internal-dialogue-iii-ballpoint-and-oil-on-canvas-200x150cm-2016

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika masih mahasiswi, sebagaimana umumnya ada fase eksplorasi medium, pun gagasan visual dalam kekaryaan. Dari sekian medium yang pernah dicoba, semakin lama saya semakin nyaman menggunakan ballpoint dengan teknik/metode crosshatching.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saat aspek intrinsik dan ekstrinsik saling menunjang satu sama lain.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Secara umum, karya saya berangkat dari hal ihwal pengalaman personal, ihwal masa, ihwal momen, ihwal objek/benda-benda yg saling kait-mengait dan memorable bagi saya.

the-hush-sound

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya sebetulnya saat saya berumur 3 tahun, melukis dengan tangan, cat minyak di atas kanvas dan masih tersimpan sampai sekarang, hehe. Sedangkan pertama kali berpameran sewaktu mahasiswi dulu, pameran yang sifatnya lebih kepada karya studi. 

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Saya bersyukur atas apa yang saya jalani, setiap momen (kaitannya dengan karier kesenimanan dan aspek kekaryaan) saya rasa selalu berkesan.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya rasa cukup positif.

long-afternoon-shadows

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Cukup bagus. Menunjukkan grafik yang optimis.

What’s your secret skill besides art?

Hmmm, membuat kue dan roti.

rhythmical-afternoon

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di dapur, baking time.

Target sebelum usia 30?

Punya anak kedua.

after-nature

 

 

Advertisements

#30DaysofArt 27/30: Tara Astari Kasenda

“Sewaktu sekolah dasar, saya mulai belajar melukis dengan seorang guru bernama Roelijati, ternyata beliau adalah salah satu seniman perempuan alumni ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta angkatan tahun 50-an. Ajaran-ajaran beliau tentang seni, terutama seni rupa barat masih saya ingat sampai sekarang dan banyak yang saya jadikan pakem untuk membuat karya,” papar alumni FSRD ITB jurusan Seni Lukis ini tentang salah satu influens dalam karyanya. Walaupun akar ilmunya memang seni lukis, namun seniman muda kelahiran Jakarta, 27 Mei 1990 ini tak pernah berhenti bereksplorasi dengan berbagai medium. Mulai dari menggabungkan digital print dengan medium yang lebih konvensional seperti akrilik dan cat minyak, resin sculptures, instalasi, hingga image transfer di atas silicone sealant.

 profile-pic

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Ketertarikan kepada seni muncul dengan sendirinya sejak kecil, yang memperkenalkannya saya nggak ingat. Mungkin mama saya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Ya, passion terhadap seni itu sendiri.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Cy Twombly.

ini-budi-lagi

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Gaya dalam karya saya terbentuk perlahan-lahan selama saya kuliah. Sedangkan kalau soal medium sampai sekarang saya masih terus eksplorasi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya ketika saya menyelesaikan tingkat pertama di kampus bersama teman-teman seangkatan saya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Selalu ikuti perasaan dan intuisi dan menstruktur keduanya dalam sebuah konteks.

a-lighter-shade-of-pale

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dari dulu sampai sekarang warna-warna yang saya ciptakan untuk karya saya selalu warna pastel lembut, biasanya dikombinasikan dengan objek-objek yang diburamkan. Nuansa karya saya dreamy dan ambigu. Oh ya dan sudah 3 tahun terakhir ini karya saya mengeksplorasi silicone sealant sebagai medium berkarya.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Solo presentation di Art Taipei 2015 sebagai salah satu young emerging artist di Asia.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sama rasanya seperti orang-orang lain dengan profesi-profesi lain di era ini.

equator-art-project

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Industri kreatif secara keseluruhan saya rasa sedang marak-maraknya di Jakarta sekarang.

What’s your current obsession?

Pipil, anjing saya.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah.

 

Project saat ini?

Sekarang saya sedang fokus mempersiapkan pameran bersama kantor saya, whateverworkshop.

Target sebelum usia 30?

Tidak ada yang spesifik.

somatic-markers

#30DaysofArt 26/30: Sarita Ibnoe

Mendeskripsikan masa kecilnya sebagai anak yang pendiam dan lebih suka mengamati sekitarnya, menggambar pun menjadi penyampaian ekspresi bagi seniman kelahiran Jakarta, 3 April 1989 ini. “Pertama kali saya coba menggambar itu waktu SD kelas 3 atau 4. Pulang sekolah saya langsung ke rumah dan kebetulan jam-jam segitu supir ayah saya pasti lagi di rumah. Pak Yono ini suka ngajak saya gambar, jadi dia gambar sesuatu lalu saya meniru gambarnya di kertas yang berbeda. Lalu yang saya ingat juga dia ngajarin cara bikin cincin dari karet gelang. Haha. Ya sejak itu deh saya jadi kebiasaan coret-coret,” ungkap lulusan Middlesex University, London ini. Selain medium charcoal dan akrilik yang menjadi andalan untuk menciptakan karya yang lekat akan imaji keseharian dari pengalamannya sehari-hari yang terkesan sketchy dalam palet warna earth tone yang hangat, saat ini Sarita juga sedang gemar bereksperimen dengan medium lainnya seperti instalasi dan seni serat.

 unnamed-1

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Saya datang dari keluarga yang biasa saja, bukan yang berkesenian. Ya walaupun saya punya oom dan tante yang seniman dan designer. Dari kecil saya tinggal di Jakarta sampai umur 13 lalu saya harus pindah ke Kuala Lumpur karena pekerjaan ayah saya. Akhirnya saya melanjutkan sekolah dan kuliah di sana. Tapi tahun terakhir kuliah saya pindah ke London dan akhirnya lulus S1 di sana. Sepertinya oom dan tante saya yang berkesenian itu mempunyai banyak pengaruh ke saya. Waktu kecil saya sering main ke rumah mereka dan melihat pekerjaan-pekerjaan yang sedang mereka kerjakan; dari melukis hingga graphic design. Dan sampai saat ini, kurang lebih itulah yang saya kerjakan. Dari kecil saya termasuk orang yang kalem, jarang ngobrol, dan suka ngeliatin orang, haha. Mungkin itu juga kebawa sampai sekarang dan terlihat dari karya-karya saya juga.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya saya pikir saya menggambar terus karena saya nggak bisa yang lain. Hehe. Tapi nggak sih, saya tetap berkarya karena saya menemukan keseruan tersendiri waktu berkarya. Walaupun pasti ada stressnya, tapi tetap penasaran dan ingin tahu sampai sejauh apa saya bisa berkarya. Menurut saya berkesenian itu pekerjaan yang misterius, haha. Nggak ada yang ngeh kalau ini juga susah, kecuali pekerja seni juga. Tidak ada benar salah, perlu pemikiran panjang, konsep yang matang, eksekusi yang hati-hati. Tapi kalau dilihat oleh orang awam, yang terlihat mungkin hanya bagusnya saja. Hal ini juga sih yang bikin seru.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sepertinya saat ini saya pun masih mencari. Adapun style atau medium yang saya pakai selama ini adalah hasil dari jam terbang dan experiment yang saya lakukan.

img_2040

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Di awal-awal berkarya, saya sangat suka karya-karya Mark Rothko dan Kurt Schwitters. Seniman lain yang saya idolakan adalah Kimsooja, Gerhard Richter, Agnes Martin, Marina Abramovic. And of course my local heroes: Handiwirman Saputra dan Ay Tjoe Christine.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Ekshibisi pertama saya sebenarnya waktu mau lulus, tapi it is requirement dari universitasnya, jadi mungkin jangan dihitung ya.

Waktu balik ke Jakarta saya kesulitan banget untuk mencari teman atau bergabung dalam ‘kelompok’ apapun. Teman sekolah dari dulu sudah entah kemana dan sedikit juga yang berkesenian. Tapi lama-lama teman-teman kuliah saya yang orang Indonesia akhirnya balik, jadi kami berkumpul lagi. Dari koneksi melalui mereka, akhirnya saya dan seorang seniman lain bikin pameran sendiri di sebuah café dan pada saat pembukaan ternyata lumayan seru juga, banyak yang datang.

Ada satu lagi ekshibisi pertama saya, yaitu: ekshibisi pertama saya di galeri dan dengan kurator. Bagi saya ini sebuah milestone yang penting, karena jadi tau proses kerja seniman pada umumnya dan dari sini juga saya berkembang sampai sekarang dan berkenalan dengan orang-orang di dunia seni nggak hanya di Jakarta tapi juga mereka yang berbasis di Bandung dan Jogja. Ekshibisi ini berlangsung di tahun 2012 di dia.lo.gue waktu saya lolos seleksi program mereka: Exi(s)t #2. Proses pameran ini cukup panjang, dan lumayan stressful karena istilahnya baru tau tentang fine art yang sebenarnya, sambil terjun langsung berkarya. Tapi hasilnya juga jadi lebih memuaskan, karena dengan proses itu, karya saya jadi lebih beralasan dan bercerita, bukan lagi hanya sekadar skill menggambar saja yang digunakan.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme saya dalam berkarya adalah di mana saya punya waktu yang cukup.

img_1965

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Saya terbiasa membuat karya dari keseharian dan pengalaman saya. Dan juga terinspirasi dari dialog-dialog bersama orang lain. Sering kali gambar/karya saya terkesan sketchy dan mempunyai pallete warna yang khas.

Apa yang menjadi personal breakthrough paling berkesan sejauh ini?

Setiap saya menyelesaikan sebuah karya yang menurut saya memuaskan, itu sudah menjadi sebuah pencapaian. Sejauh ini mungkin salah satu pencapaian yang berkesan adalah waktu membuat sebuah karya yang dijadikan finalis Gudang Garam Indonesia Art Award.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media sekarang?

Susah! Haha. Saya juga kadang-kadang bingung kenapa tetap dijalanin. Tapi ya udah, kecebur, jadi basahin aja sekalian.

 memendam-diam

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Art scene di Jakarta (atau mungkin di Indonesia) sedang sangat maju ya sepertinya. Walaupun awalnya kurang seimbang, dalam arti; banyak yang menjadi seniman, tapi bagian dari ekosistem dunia seni seperti artist manager atau kritikus seni dan lain-lain tidak naik secepat jumlahnya seniman yang bertambah. Tapi bagus juga semakin banyak orang aware dengan profesi-profesi dalam dunia seni.

Punya talenta rahasia di luar seni?

I am so good at travelling solo! Haha! Not sure if that’s a skill, but sure is one of my favourite thing to do.

img_5474_ 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Kemungkinan besar di rumah, haha. Mungkin kadang di pembukaan pameran atau di Roti Bakar Wiwied.

 

Project saat ini?

Sekitar setahun belakangan ini saya sedang merencanakan sebuah personal project tentang rumah atau tempat tinggal, tapi belum yakin akan jadi seperti apa. Sejauh ini kalau ada teman yang pergi ke luar kota atau luar negeri, saya selalu titip bawain tanah/kerikil dari tempat itu dan ditaruh di dalam botol transparan yang tertutup. Sampai saat ini saya sudah punya tanah dan udara dari hampir 30 kota! Hehe.

Target sebelum usia 30?

Menghasilkan karya dengan medium yang sangat berbeda dari yang biasanya saya lakukan.

img_6290

#30DaysofArt 25/30: Sakinah Alatas

Berasal dari keluarga keturunan Arab yang konservatif dan religius, arti seni bagi gadis kelahiran Bogor, 14 April 1994 ini adalah upaya untuk berdialog sekaligus mempertanyakan berbagai hal yang mengusik benaknya. “Saya mempunyai kegelisahan dalam masalah dampak dari tradisi pernikahan sistem endogami, pengkultusan Alawiyyin, dan status sosial yang diamini oleh banyak golongan Alawiyyin tersebut.  Alawiyyin adalah sebutan untuk suatu kaum/golongan yang memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW. Dari latar belakang tersebut banyak yang mempengaruhi saya dalam pembuatan karya,” terang Nina yang masih berstatus mahasiswi seni rupa di Universitas Negeri Jakarta. Merasa belum pantas menyandang gelar seniman dan lebih nyaman disebut sebagai perupa, gadis yang kerap mengeksplorasi topik religi lewat karyanya ini juga memiliki organisasi massa yaitu ICFAM (Indonesia Contemporary Fiber Art Movement) dan kolektif Buka Warung yang terdiri dari 18 seniman perempuan.

img_5071-copy

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak duduk di Sekolah Dasar saya senang sekali menggambar dan sering ikut lomba menggambar walaupun jarang sekali menang, dan ketika SMP dan SMA saya senang dengan mata pelajaran Seni Budaya. Ketika kuliah saya tertarik untuk mengambil jurusan Seni Rupa, karena saya merasa hanya jurusan itulah yang saya bisa.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Mella Jaarsma, Agatha Olek, Sirin Neshat, Mulyono, Prihatmoko Moki, dan Hendra Blankon Priyadhani.

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sampai saat ini saya belum menemukan satu medium/karakter medium yang cocok untuk saya, karena dalam berkarya saya kerap menggunakan banyak medium, dan juga masih terus mencari medium yang pas dan cocok untuk membicarakan apa yang ingin saya sampaikan.

dsc02230

dsc02246

Apa idealismemu dalam berkarya?

Dalam berkarya saya selalu mencoba jujur kepada diri saya, karya saya, dan audience. Saya senang sekali apabila ada audience yang merasakan hal yang sama seperti pada karya tersebut, di situ saya merasa senang sekali. Dan saya juga suka membuat karya yang menantang diri saya dan spontanitas.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dilihat dari ciri khas estetik dalam berkarya saya juga masih suka berubah, yang pasti saat ini saya suka dengan medium instalasi ruang, karena lebih bisa banyak bercerita dan mencoba mengajak audience untuk setidaknya dapat mengerti apa yang saya kerjakan dan berharap dapat dirasakan oleh audience.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya adalah pameran tugas dari senior setelah masa ospek selesai, temanya “Sama Rasa Sama Rata”, tahun 2012.

karya-terbaru2

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mengikuti program Three Musketeers di Ace House Collective Yogyakarta selama 3 bulan, yang mana saya mendapat bimbingan, pembelajaran, kritik dari banyak seniman-seniman di Yogyakarta juga bertemu orang-orang baru yang membuat saya mencoba untuk terus belajar bagaimana menjadi manusia berguna dan menjadi seniman.

Kalau untuk kamu sendiri, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebenarnya saya merasa belum pantas dijuluki sebagai seorang seniman, hehe. Lebih pede dibilang sebagai perupa aja kayanya. Di era social media seperti sekarang ini tentu memudahkan para perupa untuk mengenalkan dirinya ke publik, memperlihatkan karya-karyanya di social media, jadi saling mengetahui apa yang dikerjakan perupa-perupa lain hanya melihat di Instagram misalnya, tanpa pernah bertemu langsung. Memudahkan dalam mengetahui info acara pameran dan open submission untuk pameran, dan masih banyak lagi manfaatnya, yang pasti diambil yang positifnya aja sih, hehe.

bahan-colase2

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Fleksibel di mana aja. Yang pasti di Bogor atau Jakarta.

Project saat ini?

Project karya yang baru saja saya lakukan ialah “Mencari Kafa’ah” yang dipamerkan di Ace House Collective, Yogyakarta.

Target sebelum usia 30?

Pengen punya studio kerja sendiri, pengen menjelajahi Indonesia dan keliling dunia, udah itu aja.

bondage

Art Talk: Macabre Pop Embroidery of Puji Lestari Ciptaningrum

Puji Lestari Ciptaningrum

“Aku nggak jago menggambar, melukis, drawing, dan lainnya. tapi aku bisa menyulam, walaupun nggak jago juga sebenarnya, haha. So why not aku coba berkarya dengan embroidery,” tukas Puji Lestari Ciptaningrum menjelaskan alasannya memilih embroidery (sulam) sebagai medium berkreasi. Ucapan tersebut terkesan merendah, walaupun faktanya gadis yang masih duduk di semester 5 Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta ini memang baru mulai fokus di embroidery sejak tahun lalu setelah melihat karya stitch di sebuah pameran yang lantas memotivasinya untuk mencoba embroidery. Beginner’s luck? It’s way more than that. Walaupun masih terbilang sangat baru, karya Puji yang memadukan unsur macabre dengan warna-warna vibrant telah tampil di beberapa pameran dan bahkan telah membuat workshop yang membuktikan jika embroidery yang sebelumnya identik sebagai kegiatan orang tua juga bisa dikemas secara pop dan menyenangkan.

Puji1

Kalau diperhatikan karyamu banyak yang menampilkan image tengkorak, why?
Iya, tengkorak itu kan bagian dari anggota tubuh kita. Tanpa kita sadari tubuh manusia juga punya nilai estetis jadi aku nggak mau jauh-jauh terlalu mikirin kehidupan sosial, politik, atau apalah untuk memvisualisasikan ke dalam karya aku. Toh di dalam diri kita pun ada sesuatu yang terlihat indah.

Apa yang biasanya menginspirasimu dalam berkarya?
Orangtua pastinya. Kalau ingat orangtua aku jadi semangat buat berkarya terus karena tujuannya ya aku mau buat orangtua aku bahagia. Serius loh ini bukan bohongan, hehe.

Siapa seniman yang menjadi favoritmu dan kenapa?
Seniman favorit aku kalau dari Indonesia Oomleo, kalau dari luar Ana Teresa Barboza. Nggak bisa dijelasin kenapa sih, yang pasti mereka sama-sama “gila”.

Beberapa waktu lalu kamu mengadakan workshop embroidery di Waga Gallery, how was it?
Yap. Senang bisa berbagi ilmu, walaupun sebenarnya ilmu aku soal embroidery juga masih cetek. Tapi seneng juga jadi bisa sama-sama belajar, malah ada juga peserta yang lebih jago dari aku. Hahaha.

Puji2

Kalau kamu sendiri menganggap seni sebagai profesi atau hobi?
Profesi yang menjadi hobi. Soalnya aku lebih hobi tidur dan santai-santai sih ketimbang embroiling. Tapi ya ujung-ujungnya ya harus tanggung jawab sama apa yang udah ditekunin.

 Kamu melihat seni di kalangan anak muda saat ini seperti apa?
Aku nggak tau sih ya seni di kalangan anak muda sekarang gimana. Tapi aku selalu support dan appreciate anak muda yang semangat dan mau maju dan berkembang, at least buat dirinya sendiri dulu aja deh.

Selain berkarya secara personal kamu juga punya proyek bernama Junk Not Dead, boleh diceritakan?
Junk Not Dead itu kolaborasi aku sama Muchlis Fachri (Muklay) di bidang merchandise. Jadi Muklay ini dulu ajak aku untuk membuat produk untuk dijual, tapi dalam konteks karya lukis dia supaya menjadi produk. Jadi Muklay di divisi gambar/lukis, aku yang divisi menjahitnya dan sekarang sih Junk Not Dead mencoba untuk bukan cuma menjual produk merchandise aja tapi juga menjadi art collective yang mewadahi teman-teman di kampus supaya bisa tetap semangat berkarya.

Puji3

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi creative block?
Jalan-jalan cari referensi, refreshing, liat-liat katalog pameran, searching internet, atau nanya-nanya sama Muklay bikin apa yang asik-asik gitu. kan kita sering kerja bareng juga jadi pasti dikasih saran.

Do you have any dream project?
Mimpi aku ada di Junk Not Dead.

Rencana ke depannya apa?
Rencana ke depannya merealisasikan harapan Junk Not Dead dan cita-cita aku to be an artist. Maybe, hahaha.

Puji4

http://instagram.com/ijupacups

As published in NYLON Indonesia November 2014