On Stage: Neon Lights Singapore 2016

Dipenuhi deretan headliners memukau dari berbagai genre, Neon Lights 2016 berhasil memancing 15 ribu penonton untuk berbesar hati menerjang hujan badai dan genangan lumpur di Fort Canning Park, Singapura.

Saat menulis artikel ini, sepatu saya belum sepenuhnya bersih dari sisa-sisa lumpur pada festival musik dan seni yang berlangsung 26-27 November 2016 tersebut. Yup, hujan badai yang turun sejak siang hari di hari pertama membuat area perbukitan Fort Canning menjadi lautan lumpur. Untungnya, ribuan penonton tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu and still having fun dengan mengenakan poncho ataupun bertelanjang kaki dan mandi hujan, after all that’s the spirit of outdoor music festival! Dibandingkan Laneway, Neon Lights sendiri adalah festival yang masih terbilang baru. Namun, meskipun baru menginjak tahun kedua, Neon Lights tampak siap menjadi sebuah annual event yang wajib dikunjungi tak hanya berkat lineup yang keren, tapi juga penekanan pada kata “festival” itu sendiri. Selain aksi musisi regional dan internasional, kita juga bisa melihat berbagai aktivasi seru seperti performance art, spoken word poetry, graffiti painting, light installations, dance showcases, hingga teater musikal yang bercerita tentang sejarah skena punk setempat. With the all good memories, I’ll tell you what really happened.

 

Day 1 – 26 November

Foals
Foals

Hujan deras yang mengguyur Singapura dari siang membuat saya baru bisa tiba di Fort Canning sekitar jam 5 sore dan terpaksa melewatkan penampilan Chairlift dan Lucy Rose. Tanpa buang waktu, saya langsung merapat ke Fort Gate Stage untuk menyaksikan Shura yang hampir merampungkan setengah set-nya. Membawakan electronic jams seperti “Touch” dan “Indecision” yang groovy, penyanyi Inggris tersebut menjadi pembuka yang manis bagi Neon Lights pertama saya. Selesai Shura, saya menyempatkan waktu untuk mengenal medan Fort Canning terlebih dahulu. Dibagi menjadi dua stage utama dan empat stage kecil yang letaknya lumayan berjauhan, kita harus pintar-pintar mengatur waktu untuk mengejar artis yang mau kita lihat. Sembari menunggu jadwal Foals tampil di Fort Green Stage, saya masih sempat melihat Gentle Bones membawakan dua lagu terakhir. Menjadi musisi Singapura yang tampil di jam dan stage utama, kualitas singer-songwriter berusia 22 tahun tersebut memang tidak kalah dengan para musisi internasional. Mendapat posisi lumayan depan dan dekat speaker saat giliran Foals tampil, saya bisa menikmati dengan maksimal deretan hits yang dibawakan oleh kuintet asal Oxford ini. Tampil dengan energi eksplosif, vokalis Yannis Philippakis sempat berkata jika festival ini akan menjadi penampilan terakhir mereka sebelum ke studio untuk merampungkan materi-materi baru. In the mean time, Foals pun memanjakan penggemar mereka dengan lagu-lagu andalan seperti “Spanish Sahara”, “Cassius”, serta “Inhaler” yang memancing beberapa orang untuk moshing.

Crystal Castles
Crystal Castles

Bergegas kembali ke Fort Gate untuk bisa berdiri paling depan di set Crystal Castles, produser Inggris Aaron Jerome yang lebih dikenal dengan nama SBTRKT belum menuntaskan DJ set-nya yang meliputi garage, UK bass, hip-hop, hingga remix “Midnight Request Line” milik Skream. Sambil menunggu kru menyiapkan panggung, terdengar juga racikan elektronik eklektik milik Gold Panda dari tenda di belakang Fort Gate Stage. Sempat bimbang untuk melihat sejenak Gold Panda, lampu stage padam yang artinya Crystal Castles sudah siap tampil. Songwriter/producer Ethan Kath naik ke panggung diiringi lampu strobe yang menghipnotis dan mulai memainkan synth-nya sebelum disusul oleh vokalis Edith Frances. Dengan rambut pink dan vokalnya yang setengah berteriak, Edith tampil seperti orang kesetanan yang tak lelah menarik atensi penonton dengan berbagai cara. Mulai dari naik ke speaker hingga berguling di lumpur, more reason to be hyped up! Repertoire dari album pertama hingga album terbaru mereka Amnesty (I) pun disajikan dengan sangat intens. It’s definitely a highlight for the first day!

Selesai digempur habis-habisan oleh Crystal Castles yang menutup Fort Gate Stage, masih ada penampilan Neon Indian di Fort Green Stage, namun sebelum ke sana, saya tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi Silent Disco yang berada di area Easy Street samping Fort Gate. I always love Silent Disco! Bayangkan sekumpulan orang memakai headset yang terdiri dari tiga channel (biru, merah, hijau) di mana ada tiga orang DJ di DJ deck yang mengisi 3 channel tersebut dengan playlist masing-masing yang sangat bertolak belakang. Saat kamu sedang asik mendengarkan Chainsmokers, bisa saja orang di sebelahmu sedang menyanyikan keras-keras lagu Nirvana atau sedang heboh berjoget reggae, it was fun and crazy! Saking serunya, saya tidak sadar telah berada di Silent Disco selama lebih dari setengah jam sebelum akhirnya beranjak ke Fort Green Stage untuk mengintip aksi Alan Palomo dan rekannya di Neon Indian. Sayangnya, penampilan mereka diganggu beberapa kendala teknis dan gerimis yang kembali turun membuat sebagian penonton beranjak pulang. Hal itu tak membuat Neon Indian kecil hati dan tetap maksimal membawakan singles juara seperti “The Glitzy Hive”, “Should Have Taken Acid with You”, dan ditutup oleh “Polish Girl”.

Day 2 – 27 November

The Tallest Man on Earth
The Tallest Man on Earth

Hari kedua Neon Lights masih dibayangi awan mendung dan udara lembap, namun untungnya tidak turun hujan deras seperti hari sebelumnya. But still, lapangan rumput Fort Canning masih berupa lautan lumpur yang cukup dalam dan licin. Sialnya sepatu yang saya pakai di hari sebelumnya masih basah dan saya pun terpaksa memakai sandal hotel, which is obviously bad decision karena tak butuh waktu lama sebelum sandal itu copot terbenam lumpur. Melihat orang-orang sekitar cuek bertelanjang kaki, saya pun nyeker sambil membayangkan ini semua adalah mud spa. Anyway, artis yang pertama saya lihat di hari kedua adalah The Tallest Man on Earth yang merupakan solo project dari singer-songwriter asal Swedia, Kristian Matsson. Ternyata beliau baru saja cerai dari istrinya dan masih galau, sehingga lagu-lagu ballad yang dibawakan dengan gitar akustiknya pun membuat suasana di Fort Gate Stage makin terasa syahdu dan intim.

Blood Orange
Blood Orange

Selesai bergalau ria, saya menuju Fort Green Stage untuk menunggu giliran Blood Orange. Proyek musik R&B electronic yang digawangi oleh Dev Hynes ini memang menjadi salah satu incaran utama saya dan saya pun rela menunggu di depan stage. Hasilnya tentu tidak mengecewakan. Membuka penampilannya dengan single “Augustine” dari album Freetown Sound, Dev adalah seorang performer ulung serba bisa yang membuat kita tak bisa berhenti kagum. Mulai dari menyanyi, mencabik gitar, memainkan synth, hingga menari sepanjang stage dengan latar gedung-gedung New York City semuanya dilakukan dengan sangat atraktif. It’s all a grand tribute to 80’s NYC! Disokong oleh band pendukung dan backing vocal yang sama kerennya, penampilan selama 45 menit dari Blood Orange terasa berlalu begitu cepat dan membuat hampir semua penonton bertahan dan meminta encore. Blood Orange’s solo show in the near future, dear promoters?

Jose Gonzalez
Jose Gonzalez

Setelah Blood Orange adalah giliran penyanyi kebanggaan Malaysia, Yuna, yang akan tampil di Fort Green Stage. Yang sayangnya bentrok dengan jadwal José González di Fort Gate Stage. Dengan pertimbangan saya akan menyaksikan Yuna di Jakarta seminggu setelahnya, saya pun memutuskan untuk menunggu Jose Gonzalez saja. Persiapan yang cukup lama membuat saya sempat mengintip beberapa stage kecil yang diisi oleh performance yang seru, dari mulai ensemble musik tradisional Melayu hingga poetry reading. Ketika akhirnya José González naik panggung, the feel is so surreal. I mean, hanya memakai kaus oblong, berjenggot tebal, dan memeluk gitar Alhambra favoritnya, pria berusia 38 tahun ini terlihat seperti sosok kultus yang sedang menyampaikan kotbah dengan suara husky dan lirik-lirik syahdu bagi para jemaatnya. Alam raya pun seperti bersekongkol. Semilir angin yang sejuk, bintang yang malu-malu di balik awan, dan penonton yang tenggelam dalam khidmat (beberapa bahkan terlihat menangis) membuat penampilan José González sebagai pengalaman yang magis dan membangun mood yang tepat untuk penampilan selanjutnya, Sigur Rόs.

Sigur Ros
Sigur Ros

            Datang jauh-jauh dari Islandia, band post-rock legendaris ini telah memukau pendengar musik dari berbagai generasi berkat musik mereka yang surgawi. Band yang kini terdiri dari Jόnsi, Goggi, dan Orri ini menyapa penggemar lama mereka dengan beberapa lagu dari album-album terdahulu seperti “Starálfur” dan “Popplagið” sebelum membawakan materi dari album ketujuh, Kveikur. Diperkuat oleh sajian visual dan lighting yang turut membangun atmosfer, segala elemen khas dari Sigur Rόs yang meliputi vokal falsetto Jόnsi, classical dan minimalist aransemen yang dipadu oleh wall-of-sounds post rock yang eksplosif membuat seluruh crowd di Fort Canning seperti tersihir dan hanya bisa terpana. Bagaimanapun, menyaksikan Sigur Rόs secara live adalah sensasi sounds & visual yang sangat memorable. Melihat penonton yang berangsur pulang dengan senyuman puas meski kaki tenggelam dalam lumpur, Neon Lights 2016 pun ditutup with high notes!

 Foto oleh: Andandika Surasetja.

Filmstrips: Cannes 2016 Movie Picks Part. 2

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival yang tahun ini telah memasuki tahun ke-69 telah diselenggarakan pada tanggal 11-22 Mei lalu dan kembali menjadi barometer penting bagi perkembangan sinema dunia di mana tercatat 21 film berkompetisi memperebutkan Palme d’Or, 18 film di seleksi Un Certain Regard dan 10 film pendek telah ditayangkan dalam perhelatan tahun ini. Berikut adalah seleksi film yang harus masuk dalam watch list.

Click here for the part one.

personal-shopper

Personal Shopper

Setelah berkolaborasi dalam Clouds of Sils Maria yang mendapat apresiasi positif, sutradara Olivier Assayas kembali menggandeng Kristen Stewart dalam film terbarunya yang bergenre thriller ini. Kristen berperan sebagai Maureen Cartwright, seorang gadis Amerika di Paris yang bekerja sebagai personal shopper untuk selebriti bernama Kyra (Nora von Waldstätten) di mana ia tak hanya dihantui oleh klien yang demanding, tapi juga teror tak kasatmata dari bayangan saudara kembarnya yang telah meninggal dan pesan-pesan misterius dari nomor tak dikenal yang mendorongnya melakukan perbuatan buruk di luar zona nyamannya.

Julieta

Julieta

Kembali menelusuri female-centric drama yang menjadi andalannya, Pedro Almodóvar menampilkan akting gemilang dari Emma Suarez dan Adriana Ugarte yang keduanya memerankan Julieta sang tokoh utama dalam film yang berdasarkan tiga cerita pendek dalam antologi Runaway karya Alice Munro ini. Julieta di usia paruh bayanya (Suarez) adalah wanita Madrid yang berusaha menata hidupnya setelah tragedi yang menimpa suaminya, Xoan (Daniel Grao). Putri satu-satunya, Antia (Blanca Parés) melarikan diri tanpa penjelasan apapun saat berumur 18 tahun dan pencarian berbekal sekelumit info hanya membuka kenyataan jika ia tidak pernah benar-benar mengenal putrinya.

Neon Demon

The Neon Demon 

Dibintangi oleh aktris-aktris muda seperti Elle Fanning, Abbey Lee, dan Bella Heathcote, film terbaru Nicolas Winding Refn ini mengambil latar dunia fashion Los Angeles di mana Jesse (Fanning) seorang model 16 tahun direkrut oleh seorang desainer eksentrik (Alesandro Nivola) sebagai muse dan seketika menjadi the It model yang menjadikannya target kecemburuan dari wanita-wanita yang terobsesi pada kecantikan untuk merebut apa yang mereka tidak miliki dalam diri Jesse: youth & innocence. Jesse pun membuka tabir dunia fashion yang walau terlihat gemerlap namun ternyata penuh darah, skandal, dan obsesi liar.

 the-handmaiden-is-an-upcoming-south-korean-film-based-on-the-novel-fingersmith-by-sarah-waters-being-directed-by-park-chan-wook-and-starring-kim-min-hee-ha-jung-woo-and-kim-tae-ri

The Handmaiden

Dikenal sebagai sutradara Korea dengan tendensi humor gelap yang brutal, Park Chan-wook membawa adaptasi novel Fingersmith karya Sarah Waters yang berlatar di Inggris masa Victorian ke Korea di masa kependudukan Jepang di tahun 1930-an. Nam Sook-hee (Kim Tae-ri), seorang gadis pencopet terlibat dalam rencana jahat Count Fujiawara (Ha Jung-woo), seorang penipu ulung yang berpura-pura menjadi bangsawan Jepang demi menikahi dan merebut harta Lady Hideko (Kim Min-hee), seorang wanita Jepang kaya yang tinggal di bawah asuhan pamannya, Kouzuki (Cho Jin-woong). Menyamar sebagai pelayan, rencana Sook-hee berantakan ketika sang target justru jatuh cinta padanya dan seiring waktu menguak lapis demi lapis rahasia.

i_daniel_blake_no_film_school_interview

I, Daniel Blake

Daniel Blake (Dave Johns) adalah seorang pengrajin kayu berusia 59 tahun di daerah Newscastle Inggris yang terkena serangan jantung dan memutuskan mendaftarkan diri untuk menerima bantuan pemerintah lewat program Employment and Support Allowance. Dipusingkan oleh masalah birokrasi yang rumit dan petugas pemerintah yang tidak kooperatif, ia bertemu single mother bernama Katie (Hayley Squires) dan kedua anaknya yang demi melarikan diri dari ancaman tinggal di penampungan kaum homeless di London harus berjuang memiliki sepetak tempat tinggal. Mengangkat isu kondisi ekonomi dengan humanis, film garapan sutradara Ken Loach (yang telah berusia 80 tahun) ini berhasil mendapat penghargaan tertinggi Palme d’Or di Cannes tahun ini.

 

Happy Together! Highlights From St. Jerome’s Laneway Festival Singapore 2015

St. Jerome’s Laneway Festival telah hadir kembali di Singapura dalam perhelatan teranyar sekaligus termasifnya.

 Disebut sebagai Coachella untuk Asia Tenggara, sejak pertama kali digelar tahun 2011 silam, Laneway Festival yang lahir dari sebuah festival jalanan di Melbourne, Australia dan dibesarkan di Singapura telah senantiasa menghadirkan nama-nama terbesar di spektrum musik indie dari berbagai genre. Mulai dari Deerhunter, Toro Y Moi, The Horrors, Kimbra, James Blake sampai Haim pernah tampil dalam perhelatan sebelumnya dan di kali kelimanya ini, Laneway Singapura berhasil menjual habis tiket seharga $165 sebelum hari H dan menjaring 13 ribu penonton lebih (3 ribu orang lebih banyak dari tahun sebelumnya) untuk memenuhi area The Meadow, di Gardens by the Bay pada hari Sabtu 24 Januari lalu untuk menyaksikan total 19 nama-nama terkenal dari international headliners serta aksi-aksi menjanjikan dari regional acts yang terbagi dalam tiga panggung. Come rain, come shine, its always a party in Laneway, berikut ini adalah highlight pilihan kami dari Laneway Festival Singapore 2015 sekaligus a friendly warning agar kamu tidak kehabisan tiket lagi untuk Laneway selanjutnya.

Angus & Julia Stone Angus & Julia Stone
Selalu ada hal yang terasa spesial jika dua kakak-beradik berkolaborasi dalam proyek musik yang sama dan tampil bersama di atas panggung, tak terkecuali duo kakak-beradik asal Australia ini yang secara harmonis menggabungkan vokal mereka menjadi koir surgawi dalam balutan folk-pop yang ekstatis. Membawakan lagu-lagu dari self-titled album yang diproduseri Rick Rubin, keduanya sukses menyihir penonton saat matahari mulai terbenam.

Mac DeMarcoMac DeMarco
Setelah melihat aksinya di Jakarta dua hari sebelumnya, kami tak sabar untuk menikmati lagi aksi ngaco si anak badung musik indie asal Kanada tersebut. Seperti biasa, Mac dan bandnya selalu menyelipkan humor dalam aksi panggungnya yang disambut meriah oleh crowd, termasuk menyanyikan “Yellow” milik Coldplay secara asal dan berkata bahwa mereka harus menyudahi set mereka karena Celine Dion akan segera tampil, sebelum akhirnya Mac kembali surfing di antara penonton dan menjadi satu-satunya crowd surfer di Laneway Singapore tahun ini. Selesai turung panggung, Mac menyempatkan diri untuk hang out di antara penonton dan dengan senang hati melayani selfie bersama banyak orang. Eat that, Kanye.

FKA twigsFKA twigs
Kami tak akan pernah bisa benar-benar menentukan mana yang lebih membuat Tahliah Barnett alias FKA twigs bisa begitu menghipnotis ribuan penonton: Gerakan tubuhnya yang sensual atau musiknya yang merupakan paduan dari slick R&B dan experimental electronic. Yang jelas, melihatnya beraksi di panggung adalah sebuah pengalaman orgasmik dan membuat kami tak heran jika Robert Pattinson pun dibuat mabuk kepayang oleh pesona gadis asal Inggris tersebut.

St VincentSt. Vincent
Ada alasan khusus kenapa Annie Clark yang dikenal dengan nama alias St. Vincent dipilih sebagai penutup festival ini. Tampil dengan cheongsam hitam ketat, vokalis dan gitaris asal Amerika ini tampil luar bisa memukau, baik ketika ia sedang bernyanyi atau mulai memainkan gitar elektriknya. Momen-momen terbaik muncul saat ia melakukan keduanya ataupun berkolaborasi dengan keyboardist merangkap bassist-nya, Toko Yasuda, dalam koreografi robotik dan aksi panggung yang sama kerennya. Tak peduli kamu datang ke festival ini untuk menyaksikan siapapun atau belum pernah mendengarkan musiknya sekalipun, kamu akan ternganga kagum melihat aksi St. Vincent.

Royal BloodRoyal Blood
Mike Kerr dan Ben Thatcher dari duo asal Brighton, Inggris ini membuktikan jika kamu hanya butuh bass dan drum untuk menghasilkan musik rock cadas yang anthemic. Membawakan lagu-lagu paduan hard rock, garage, dan blues rock seperti “Out of the Black” dan “Figure It Out” dari self-titled debut mereka yang dirilis tahun lalu, Royal Blood berhasil menciptakan lingkaran mosh pit dan memanggil kembali arwah Led Zeppelin.

Chet FakerChet Faker
Walaupun tampil dengan jadwal yang bentrok dengan BANKS, musisi brewok asal Australia ini berhasil menarik massa ribuan orang untuk memenuhi Cloud Stage yang berukuran kecil dan butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki dari main area. It was so packed, para jurnalis foto sampai harus memanjat pagar untuk bisa memotret dan menikmati racikan electronic trip hop dari Chet Faker, and it was worthed. Terutama ketika penonton kompak berseru “heyo heyo heyoo” saat “No Diggity” dimainkan.

JungleJungle
Kami berani bertaruh jika tidak ada siapapun yang bisa melihat aksi Jungle dan tahan untuk tidak bergoyang. Menggabungkan funk dengan elektronik dan retro vibe dari old skool soul, proyek yang dimulai oleh Tom McFarland dan Josh Lloyd-Watson di kamar tidur mereka di Inggris ini bermetamorfosis menjadi format live band yang berhasil menciptakan area dancefloor bernuansa tropikal yang sangat cocok dengan setting festival ini digelar.

PondPond
Terdiri dari kolektif musisi asal Perth, Australia yang meliputi personel dari band-band Perth seperti Tame Impala, The Growl, dan The Silents, proyek musik kolaboratif ini membangkitkan kembali psychedelic rock dalam arti sesungguhnya saat membawakan setlist yang didominasi album Hobo Rocket (2013) dan album terbaru mereka yang baru saja rilis akhir Januari lalu, Man, It Feels Like Space Again. Vokalis Nick Allbrook menarik perhatian penonton dengan gerakan yang kadang awkward dan kadang liar sementara personel lain terlihat totally in the bliss. Apapun “afternoon delight” yang mereka nikmati saat itu, we could say it was a good shit.

EagullsEagulls
Selalu ada tempat tersendiri bagi band-band post-punk yang menggabungkan bebunyian hardcore dan shoegaze dalam setiap festival musik outdoor di manapun. Kali ini slot tersebut sudah direservasi oleh kuintet asal Leeds, Inggris yang bernama Eagulls. Tampil sebagai opening act dalam tur Franz Ferdinand dan meraih banyak pujian dari para kritikus musik, Eagulls yang dikomandoi oleh vokalis George Mitchell berkesempatan untuk membuktikan diri di depan publik Laneway, and they’re really deliver it.

Akreditasi: Foto Headline, Angus & Julia Stone, Mac DeMarco oleh Aloysius Lim; FKA twigs, Royal Blood, St. Vincent oleh Alvin Ho; Jungle oleh Cliff Yeo; Chet Faker oleh Lionel Boon; Pond oleh Nor Asyraf; Eagulls oleh Rueven Tan. Semua courtesy dari Laneway Festival Singapore.

Eat, Play, Loud!: Blogwalking for Soundrenaline Medan 2014

Menjelajahi Kota Medan dan berkeringat di festival musik rock terbesar di Indonesia dalam waktu 48 jam? Challenge accepted.

As a self-proclaimed avid concert goer dan jurnalis, saya beruntung memiliki kesempatan untuk mendatangi berbagai konser dan festival musik dari berbagai genre di Indonesia maupun di luar negeri. But, if I could confess one thing, ada satu festival musik terkenal yang belum pernah saya datangi sekalipun. Coachella? Summersonic? Glastonbury? They’re all in my checklist for sure, tapi yang akan saya bicarakan adalah festival dalam negeri sendiri dulu, which is Soundrenaline. Yup, Soundrenaline yang telah digelar sejak tahun 2003 silam merupakan festival musik rock yang bisa dibilang terbesar di Indonesia, khususnya berkat komitmen mereka untuk membawa band-band papan atas negeri sendiri untuk menghibur penggemar mereka di berbagai kota di luar Jakarta. Untuk pagelaran tahun ini, Soundrenaline diadakan di Surabaya (10 Mei) dan Medan (7 Juni). Dari dulu sebetulnya saya ingin sekali datang ke Soundrenaline di luar kota sekaligus berlibur dan mengeksplorasi kota lain di Indonesia. Lucky for me, kesempatan itu datang saat saya dihubungi oleh pihak Maverick Indonesia sebagai satu dari lima blogger yang diundang untuk merasakan pengalaman menonton Soundrenaline di Medan. Well, saya belum pernah datang ke Soundrenaline maupun pergi ke Medan, so without any thinking, of course its a big yes for me!

                Seminggu kemudian, tepatnya Jumat 6 Juni, jam lima pagi saya sudah menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk berkumpul dengan tim Maverick dan empat blogger lainnya yang terdiri dari Dimas Ario (@dimasario), Intan Anggita (@badutromantis), Agung @Hartamurti, dan Kang @Motulz. Setelah perjalanan sekitar dua jam dengan maskapai Garuda Indonesia, kami tiba di Bandara Internasional Kualanamu Medan sekitar jam 9 pagi. Bandara Kualanamu sendiri termasuk bandara Indonesia yang tertata dengan sangat baik. Bandara ini juga bandara pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan kereta Airport Railink Service. Maka dengan menaiki kereta bandara yang nyaman tersebut, kami pun sampai di pusat kota Medan hanya dengan memakan waktu sekitar 45 menit.

Bandara Kualanamu Medan
Bandara Kualanamu Medan
Airport Railink Service
Airport Railink Service

                Sebelumnya saya selalu membayangkan Medan adalah kota yang panas, bising, dan sesak. Well, memang selayaknya kota besar, pasti ada saja traffic di setiap titik jalan, namun ibukota Sumatera Utara ini ternyata jauh lebih menarik dari bayangan saya. Kota ini mengingatkan saya akan perpaduan Surabaya dan Bandung dengan bangunan-bangunan art deco zaman kolonial yang masih dipertahankan. Tujuan pertama kami tentu saja mengisi perut. Kami memutuskan sarapan soto di RM Sinar Pagi di Jalan Sei Deli. Saat sampai, rumah makan ini sudah lumayan padat, untungnya service di sini terbilang cepat. Begitu sampai kita tinggal pesan mau soto apa, duduk, dan tak berapa lama, soto hangat dan nasi putih pun tersaji di hadapan kita. Kuah rempah, perkedel kentang dan sambal kecap yang mantap, membuat soto Medan habis tersantap secepat kedatangannya. Sudah kenyang, kami pun siap mengeksplorasi Kota Medan dengan hashtag #GoAheadChoice dan Shri Mariamman Temple terpilih menjadi destinasi selanjutnya. Kuil ini merupakan kuil Hindu tertua di Medan dan terletak di Kampung Keling alias Little India. Dari luar pun, arsitektur kuil ini sudah terlihat menarik dengan pintu gerbang yang dihiasi gopuram yang merupakan semacam gapura yang biasa dilihat di kuil-kuil Hindu kaum Tamil di India Selatan. Untuk masuk ke kuil ini tidak dikenakan biaya, namun kami tidak memasuki ruang utama karena bagaimanapun, tempat ini merupakan tempat ibadah yang harus dihormati. Untuk sejenak, saya seperti berada di Bombay karena banyaknya warga keturunan India di sekeliling kuil ini, mulai dari ibu-ibu dengan kain sari sampai seorang pria India yang terlihat sangat chic dengan turban, jenggot panjang, kemeja putih, yang menaiki sepeda klasik. Tak jauh dari situ mata saya juga menangkap mesjid, gereja, dan kelenteng. Keragaman etnis dan agama di Medan cukup mengingatkan saya pada Kuala Lumpur.

Shri Mariamman Temple
Shri Mariamman Temple

                Destinasi selanjutnya adalah Tjong A Fie Mansion, sebuah rumah mewah bekas kediaman Tjong A Fie yang merupakan seorang significant figure beretnis Tionghoa dalam sejarah kota Medan. Dengan perpaduan gaya Cina, Melayu, dan Victorian, mansion dengan pintu masuk berupa gerbang besar seperti yang biasa kita lihat di film Mandarin ini seperti relik masa lalu yang membeku di antara bangunan ruko modern di sekelilingnya. Its gallant, regal, and more likely, haunted. Dalam museum sekaligus cagar budaya yang terletak di Jalan Ahmad Yani ini, selain mengagumi harta benda dan kekayaan keluarga saudagar Tjong A Fie, kita pun bisa belajar tentang sejarah Kota Medan. Dengan koleksi benda bersejarah (including some very old vinyls!), harga tiket yang terjangkau dan sudah termasuk guide yang akan menjelaskan setiap sudut rumah (kecuali beberapa bagian yang belum direstorasi), tidak heran jika mansion ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Medan.

Tjong A Fie Mansion
Tjong A Fie Mansion

Tidak terasa hari sudah menuju sore, dan keinginan untuk jajan-jajan sore pun muncul. Setelah menjemput Agung yang sempat ketinggalan di Tjong A Fie Mansion karena terlalu asik memotret, kami pergi ke Jalan Karo untuk  mengunjungi gerai kopi Macehat, yang kabarnya sedang hits di Medan. Melewati ruangan indoor yang tidak terlalu luas dan bangku yang terisi penuh, kami memutuskan untuk minum dan bersantai di outdoor area. Macehat terkenal dengan kopi Luwak dan Avocado Coffee, namun karena saya bukan peminum kopi saya memesan pancake cokelat dan affogato yang merupakan campuran es krim dan espresso. Puas mengobrol, sekitar jam lima sore kami menuju Grand Swiss-Belhotel tempat kami menginap untuk check in dan beristirahat. Kegiatan selanjutnya yang sudah ditunggu adalah makan malam. Medan punya banyak sekali tempat kuliner yang menarik, namun belum lengkap ke Medan kalau belum ke Restoran Tip Top. Bila Malang punya Toko Oen, maka Medan punya Tip Top yang menawarkan menu dan ambience klasik zaman kolonial. Letaknya di Jalan Ahmad Yani yang juga disebut Jalan Kesawan, tak jauh dari Tjong A Fie Mansion. Berdiri sejak tahun 1934, restoran ini menawarkan menu Western, Indonesia, juga Chinese dan semuanya enak luar biasa. Bahkan saat menulis artikel ini pun, saya sempat menelan ludah ketika mengingat lagi lezatnya berbagai menu yang saya nikmati di Tip Top, terutama Bistik Lidah yang sangat juara. Tak hanya menu besarnya, Tip Top juga dikenal dengan kue-kue pastry yang lezat dan es krim Moorkop khas Belanda. Pulang ke hotel. saya mencatat Tip Top sebagai tujuan wajib jika saya kembali ke Medan.

Dari kiri: Soto RM Sinar Pagi, Affogato Macehat, Bistik Lidah Tip Top
Dari kiri: Soto RM Sinar Pagi, Affogato Macehat, Bistik Lidah Tip Top

Sabtu, 7 Juni menjadi hari kedua saya di Medan sekaligus menjadi hari Soundrenaline digelar. Rasanya sudah tidak sabar untuk menuju Bandara Polonia yang menjadi venue Soundrenaline Medan, namun sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk mengeksplorasi Kota Medan lagi. Setelah breakfast di hotel, kami menuju Istana Maimoon yang juga menjadi ikon kota Medan. Dibangun oleh Sultan Deli dan berarsitektur khas Melayu, Istana Maimoon adalah titik sejarah Medan dari sudut Melayu. Namun, berbeda dari Tjong A Fie Mansion, Istana Maimoon tampak kurang dimaksimalkan. Dari 30 ruangan yang ada, pengunjung hanya bisa masuk ke ruang utama yang juga diisi oleh pedagang souvenir sehingga estetikanya jadi lumayan terganggu. Dan hanya sedikit sekali yang bisa kita lihat selain singgasana bernuansa emas, desain interior yang rumit memukau dari lantai, tembok hingga langit-langit, dan beberapa benda sejarah. Kami tak menghabiskan banyak waktu di istana ini dan memutuskan untuk membeli oleh-oleh khas Medan yang apalagi kalau bukan Bolu Gulung Meranti, pancake durian, dan bika Ambon di Jalan Sisingamangaraja. Belum puas belanja, kami juga pergi ke Durian Ucok untuk mencicipi durian Medan yang terkenal.

Istana Maimoon
Istana Maimoon

Puas makan dan belanja, agenda selanjutnya adalah agenda utama kami datang ke Medan, which is the Soundrenaline itself! Diadakan di Lapangan Bandar Udara Polonia, Soundrenaline Medan dibuka oleh trio punk rock Jogja, Endank Soekamti yang membawakan sekitar 11 lagu untuk memanaskan festival ini yang memang sudah panas, literally. Ini pertama kalinya saya datang ke festival yang diadakan di bekas bandara tanpa pepohonan untuk berlindung dari matahari yang menyengat. Penonton yang mayoritas memang anak muda Medan terlihat sudah terbiasa dengan panasnya Medan yang menyengat, but I need to step back dan akhirnya ngumpet ke Media Tent yang dilengkapi pendingin udara dan minuman dingin untuk menghindari heat stroke, haha! Di Media Tent pun diadakan semacam mini talkshow bagi para performer yang akan tampil. Shaggy Dog, The S.I.G.I.T, Kotak, J-Rocks, Burger Kill hadir di talkshow sebelum mereka menampilkan aksi mereka di Soundrenaline yang terbagi menjadi dua stage (A Stage dan Go Ahead Stage).

Endank Soekamti at the A Stage
Endank Soekamti at the A Stage
The S.I.G.I.T at mini talk show.
The S.I.G.I.T at mini talk show.

Makin sore, cuaca semakin nyaman dan penonton semakin ramai berdatangan. Setelah jeda Maghrib, Soundrenaline dilanjutkan oleh Judika, Andra & The Backbone dan Sheila On 7. Dengan berbekal Backstage ID khusus, saya dan blogger lain mendapat akses untuk menonton Sheila On 7 dari bibir panggung. Full disclosure: Sheila On 7 is one of my favorite Indonesian bands ever karena saya tumbuh remaja dengan mendengarkan lagu-lagu mereka, tapi saya belum pernah menonton live performance mereka. Menyaksikan Duta, Eross dan personel lainnya tampil atraktif membawakan lagu-lagu hits mereka, saya seperti terlempar ke masa SMP dan ikut menyanyikan lantang lirik lagu-lagu mereka. It was amazing! Ketika Sheila On 7 turun panggung dan menuju Media Tent untuk mini talkshow, saya mengikuti mereka seperti some giddy teenagers dan akhirnya minta foto bareng dengan Duta, haha! Jujur saja, dalam karier saya sebagai jurnalis saya sangat jarang meminta foto bareng dengan band-band atau musisi lokal. Namun, kali ini saya datang bukan sebagai jurnalis, saya datang sebagai fans Sheila On 7 sejak SMP and I just feel happy to finally saw them again.

Eross SO7 mengomandoi koor penonton.
Eross SO7 mengomandoi koor penonton.
Me as happy fans with Duta SO7
Me as happy fans with Duta SO7

 Khusus tahun ini, Soundrenaline mengusung konsep baru berupa sistem pemilihan suara bernama “Voice of Choice” yang dilakukan melalui situs GoAheadPeople.com. Para pemilih diwajibkan untuk memilih salah satu dari tiga album milik lima band yang terdaftar, yaitu Slank, GIGI, J-Rocks, Andra and The Backbone dan /rif. Album mana yang menang itulah yang akan dinyanyikan secara penuh oleh band tersebut. /rif misalnya, membawakan utuh album pertama mereka Radja yang dirilis tahun 1997,dari track pertama sampai terakhir. Selesai star struck dengan Sheila On 7, saya menonton penampilan Seringai di Go Ahead Stage sementara A Stage sedang dimeriahkan oleh Jamrud. Arian dan kawan-kawannya di Seringai seperti biasa berhasil membakar semangat penonton dan menyulut moshing dengan lagu-lagu anthemic mereka sampai-sampai aparat yang berjaga di bibir panggung harus menahan pagar batas penonton yang hampir ambruk. PAS Band dan GIGI yang menjadi penampil selanjutnya juga mendapat respons antusias dari puluhan ribu penonton yang memadati Polonia. I can feel the adrenaline rush just by seeing the performers and the crowds! Soundrenaline Medan yang dimulai dari jam 12 siang akhirnya dituntaskan oleh Slank sebagai pamungkas acara dan ditutup oleh lagu “Kamu Harus Pulang” sebagai lagu penutup Soundrenaline Medan yang berhasil mendatangkan sekitar 60 ribu penonton. Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul 12 lewat, namun saya belum mau pulang ke hotel. Saya lapar. Kami pun menyempatkan diri makan malam di daerah Elizabeth, sebuah tempat nongkrong mahasiswa Universitas Sumatera Utara dengan warung-warung tenda yang mengingatkan daerah Blok S di Jakarta, setelah itu baru pulang ke hotel.

Seringai before the show.
Seringai before the show.

Hari Minggu 8 Juni menjadi hari terakhir saya di Medan. Setelah breakfast dan check out dari hotel, saya dan para blogger lainnya menuju Kualanamu untuk pulang ke Jakarta. Thanks to Sampoerna dan Maverick Indonesia, kini saya sudah bisa mencoret Soundrenaline dari daftar festival musik yang harus saya datangi. Just have a chance to finally watching Soundrenaline is already a blast for me, terlebih berkesempatan menyaksikannya bersama teman-teman baru dan menjelajahi kota Medan. I’m planning to visit Medan again in near future, dan untuk Soundrenaline tahun depan? Well, just see and fingers crossed.

See you on next Soundrenaline.
See you on next Soundrenaline.