Filmstrips: Brief History of Korean Cinema

Bermula dari film-film propaganda perang hingga gemilang di festival film berkelas dunia, dunia perfilman Korea telah melewati banyak jatuh bangun yang terikat erat dan sama melelahkannya dengan sejarah bangsa itu sendiri—mulai dari pendudukan Jepang antara 1903-1945, Perang Dunia II, Perang Korea 1950-1953, dan tahun-tahun represif oleh pemerintahan militer.

Konon, catatan pertama tentang film di Korea muncul di koran Inggris The Times edisi 19 Oktober 1897 yang melaporkan: “Gambar bergerak (film) akhirnya diperkenalkan ke Joseon, sebuah negeri yang terletak di Timur Jauh. Di awal Oktober 1897, gambar bergerak ditayangkan untuk publik di Jingogae, Bukchon, di sebuah barak kecil yang dipinjam dari orang Cina pemiliknya selama tiga hari. Karya yang ditayangkan meliputi film-film pendek dan dokumenter yang diproduksi oleh Pathe Pictures dari Prancis.” Meskipun keabsahan berita tersebut akhirnya dibantah oleh peneliti Brian Yecies yang bersikeras ia tak dapat menemukannya di The Times edisi tersebut dan kini dianggap mitos, tahun-tahun berikutnya menjadi tonggak dari sejarah sinema di Korea.

Penayangan film untuk publik tercatat pada surat kabar Hwangseong sinmun tahun 1903. Di tahun yang sama, bioskop pertama Korea dengan nama Dongdaemun Motion Picture Studio pun dibuka dan disusul oleh bioskop The Dansung-sa Theatre di Seoul, empat tahun kemudian. Bioskop-bioskop pionir ini menayangkan film-film impor dari Amerika Serikat dan Eropa yang meliputi karya-karya dari Douglas Fairbanks, Fritz Lang, dan D. W. Griffith.

Adalah Uirijeok Gutu (Loyal Revenge) yang tercatat sebagai film produksi Korea pertama di tahun 1919, meskipun bentuknya adalah kino drama alias produksi teater hidup di mana para aktornya berakting di depan film yang diproyeksikan ke backdrop panggung. Evolusi berikutnya adalah film bisu di tahun 1923 (The Story of Janghwa and Hongreyon) dan film bersuara pertama pada tahun 1935 (Chunhyang-jeon).  Di antara rentang tahun tersebut, Korea mengalami apa yang disebut dengan The Golden Era of Silent Movies yang sayangnya juga menjadi bab yang hilang dalam sejarah sinema Korea karena setiap film yang diproduksi sebelum 1934 tidak satu pun yang berhasil diselamatkan dengan kondisi utuh.

dr-huyung
Hae Yeong alias Hinatsu Eitaro alias Dr. Huyung. Sutradara Korea yang aktif menggarap film-film yang disponsori Jepang sebelum akhirnya menetap di Indonesia.

Memasuki masa Perang Dunia II, Korea yang berada di bawah pendudukan Jepang didominasi oleh film-film propaganda perang yang kerap mengangkat tema asimilasi antara Jepang dan Korea. Salah satunya adalah film produksi 1941 berjudul You and I yang menggambarkan bagaimana pemuda Korea secara sukarela bergabung ke pasukan Jepang dan berisi subplot cerita pernikahan antara seorang wanita Jepang dengan pria Korea. Film tersebut digarap oleh sutradara Korea Hae Yeong yang punya hubungan erat dengan industri film Jepang dan memiliki nama Jepang “Hinatsu Eitaro”. Yang menarik, setelah merampungkan film itu, Hae pergi ke Jawa untuk membuat film-film dokumenter bagi Jepang dan setelah perang berakhir, ia mengganti namanya menjadi Dr. Huyung, menikahi wanita Indonesia, memiliki dua anak, dan memproduksi film-film Indonesia seperti Antara Bumi dan Langit (film Indonesia pertama yang menampilkan adegan ciuman), Gadis Olahraga, Kenangan Masa, dan Bunga Rumah Makan.

viva freedom
Poster film Viva Freedom! (1946).

Dengan berakhirnya Perang Dunia II dan Jepang angkat kaki dari Korea, kebebasan menjadi tema yang mendominasi sinema Korea dengan contoh pentingnya adalah Viva Freedom! (1946) yang digarap oleh Choi In-gyu. Masa-masa euforia ini tak bertahan lama karena Korea diguncang oleh perang sipil antara Korea Utara dan Korea Selatan. Dalam peperangan selama tiga tahun tersebut (1950-1953), hanya 14 film yang diproduksi dan semuanya tidak ada yang selamat.

The Coachman.jpg
The Coachman (1961).

Menyusul gencatan senjata di tahun 1953, presiden Korea Selatan Syngman Rhee pun mencoba menghidupkan kembali dunia sinema Korsel dengan menghapuskan pajak dan menyediakan peralatan serta teknologi bagi para filmmakers Korsel untuk memproduksi film. Upaya itu melahirkan masa keemasan sinema Korsel baik secara kuantitas maupun kualitas. Dipermanis dengan censorship yang longgar, di masa ini para sutradara Korsel melahirkan film-film legendaris seperti The Housemaid (1960) karya Kim Ki-young dan Obaltan (1961) karya Yu Hyun-mok yang disebut sebagai dua film Korea Selatan terbaik dalam sejarah, serta The Coachman (1961) karya Kang Dae-jin yang menjadi film Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan di festival film internasional dengan memboyong penghargaan Silver Bear Jury Prize di Berlin International Film Festival tahun 1961.

yeongja.jpg
Yeong-ja’s Heydays (1975).

Sayangnya, gairah sinema Korsel kembali surut ketika Park Chung-hee menggantikan Syngman Rhee sebagai presiden tahun 1962 dan pemerintah mulai menancapkan kontrol yang lebih ketat dalam perfilman Korsel. Sepanjang dekade 1970-an, sinema Korsel berada di cengkeraman sensor Pemerintah. Film-film yang dianggap tidak patriotik, berbau komunis, dan mengandung ide-ide yang dianggap obscene dibabat habis, sampai-sampai menurut International Film Guide edisi 1981: “Tidak ada negara dengan penyensoran film yang lebih ketat dibanding Korea Selatan—kecuali mungkin Korea Utara dan negara-negara blok Komunis lainnya.” Menurunnya kualitas dan diversitas cerita membuat baik para sineas dan penikmat film di masa itu merasa lesu. Yang masih dapat menimbulkan denyut adalah film-film bergenre “hostess films” seperti Yeong-ja’s Heydays (1975) dan Winter Woman (1977) yang keduanya disutradarai oleh Kim Ho-sun. Dua film tersebut bercerita tentang para wanita malam dan terlepas dari konten seksual yang kental, Pemerintah mengizinkan film-film seperti itu dirilis dan menjadi genre populer di antara 1970-1980.

surrogate_woman
Kang Soo-yeon di film The Surrogate Woman (1986).

Masuk dekade 1980, Pemerintah mulai melonggarkan kekang mereka dan gairah membuat film perlahan bangkit. Walaupun jumlah pengunjung bioskop masih terbilang rendah, namun industri film Korsel semakin gencar meraih perhatian internasional. Di tahun 1981, film garapan Im Kwon-taek dengan judul Mandala memenangkan Grand Prix di Hawaii Film Festival dan di tahun 1987, aktris Kang Soo-yeon meraih gelar Aktris Terbaik di Venice Film Festival untuk perannya di film karya Im Kwon-taek berikutnya, The Surrogate Woman (1986). Dua tahun kemudian, ia juga menjadi Aktris Terbaik di Moscow International Film Festival lewat film Come, Come, Come Upward yang juga besutan Im Kwon-taek.

marriage-story
Marriage Story (1992).

Di penghujung 80-an, lanskap industri film Korsel pun semakin berkembang dengan masuknya film-film impor , pembukaan kantor-kantor cabang perusahaan film Amerika, serta investasi para chaebol (konglomerat) yang mendanai produksi dan distribusi film lokal. Yang pertama melakukannya adalah Samsung yang mendanai 25% biaya produksi film Marriage Story (1992) garapan Kim Ui-seok. Setelah Samsung, konglomerat lain seperti Daewoo dan Hyundai turut tergoda untuk menyisihkan uang mereka dengan berinvestasi ke film lokal. Meskipun krisis ekonomi Asia turut menghantam Korsel dan membuat para chaebol kembali fokus ke bisnis utama mereka, namun mereka telah menggemburkan lahan basah bagi masa renaissance industri film Korsel yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penonton, praktik bisnis yang sehat, dan regenerasi para sineas.

shiri
Shiri (1999).

Antusiasme rakyat Korsel, khususnya kaum muda terhadap industri perfilman terus memuncak. Di perhelatan perdana Busan International Film Festival tahun 1996 misalnya, tak hanya semua penayangan laris dibanjiri penonton, para penikmat film bahkan sampai ramai-ramai mengejar Tony Rayns, seorang kritikus film asal Inggris, demi meminta tanda tangan. Excitement tersebut pun berhasil diterjemahkan menjadi penjualan tiket film lokal yang mencetak sejarah lewat Shiri (1999), film blockbuster pertama Korsel yang meraih tiket penjualan lebih dari 2 juta tiket di Seoul saja. Kesuksesan film karya Kang Je-gyu tersebut diikuti oleh film-film lokal blockbuster lainnya seperti Joint Security Area (2000) karya Park Chan-wook, My Sassy Girl (2001) karya Kwak Jae-yong, dan Silmido (2003) karya Kang Woo-suk.

Oldboy
Oldboy (2003).

New Korean Cinema” alias film-film kontemporer Korea Selatan pun semakin terkenal dan terbuka aksesnya seiring kepopuleran Korean Wave di seluruh dunia yang masih terasa hingga saat ini. Sutradara Park Chan-wook dengan filmnya Oldboy (2003) meraih Grand Prix di Cannes 2004 dan dipuji oleh sineas-sineas terkenal dunia seperti Quentin Tarantino dan Spike Lee (yang kemudian me-remake film tersebut di tahun 2013). Tak berhenti di negaranya sendiri, Park Chan-wook kemudian membuat film berbahasa Inggris pertamanya, Stoker, di tahun 2013 yang dibintangi Mia Wasikowska dan Nicole Kidman. Di tahun yang sama, sutradara Korsel lainnya, Bong Joon-ho juga merilis film berbahasa Inggris Snowpiercer yang dibintangi Chris Evans dan Tilda Swinton. Kedua film tersebut mendapat respons positif dan kian menegaskan talenta yang dimiliki industri film Korsel.

burning1
Burning (2018).

Selain Park Chan-wook yang kian menegaskan posisinya sebagai salah satu sutradara kontemporer Korsel terbaik lewat The Handmaiden (2016) yang bersaing memperebutkan Palme d’Or di Cannes 2016 dan diganjar Best Film Not in the English Language di British Academy Film Awards 2018, nama mentereng lain di dunia sinema Korsel saat ini adalah Lee Chang-dong yang karyanya, Burning (2018) juga bersaing di Palme d’Or Cannes 2018 dan menjadi entri Korea Selatan untuk Best Foreign Language Film di Academy Awards mendatang.

Advertisements

Movie Review: Aruna & Lidahnya

Bersama Aruna & Lidahnya, Edwin dan Palari Films mengajak kita bertualang dalam rasa dan romansa.

Tidak dianjurkan menonton film ini dalam kondisi perut kosong.

Itu pesan paling penting yang bisa saya berikan padamu tentang Aruna & Lidahnya, film terbaru garapan Edwin yang dipersembahkan oleh Palari Films. Kenapa? Well, karena film ini bertabur sajian-sajian lezat yang dihadirkan dengan begitu menggoda mata dan imajinasi sekaligus memancing respons alami kita untuk menjilat bibir, menelan ludah, atau menahan bunyi perut yang tiba-tiba. Intinya, tidak ada yang lebih menyiksa dibanding menonton film ini sambil kelaparan.

Diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak, film ini bercerita tentang Aruna (Dian Sastrowardoyo), seorang penyandang titel ahli wabah di atas kertas dan pemuja kuliner di hati. Aruna termasuk penganut paham “hidup untuk makan” di mana makan adalah kegiatan paling menyenangkan baginya, entah itu sendirian atau bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), seorang chef muda dengan palet lidah dan keterusterangan yang sama tajamnya.

Masakan lezat nyaris seperti obsesi bagi Aruna dan salah satu obsesi terbesarnya adalah racikan resep nasi goreng yang kerap dimasak oleh sang mbok sejak ia kecil. Berulang kali ia mencoba memasak nasi goreng tersebut, berulang kali juga ia gagal mereplika rasanya. Bono pun mengusulkan agar mereka melacak resep itu sampai ke kampung halaman sang mbok di Pontianak.

Kebetulan, mencuatnya kabar tentang wabah flu burung yang mulai menjangkiti manusia membuat Aruna ditugaskan kantornya untuk menyelidiki kasus tersebut di empat kota yang berbeda: Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang. Bersama Bono, perjalanan dinas itu turut menjadi wisata kuliner dengan daftar panjang  makanan yang harus mereka cicipi di kota-kota tersebut: Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Kacang Koah, Campor Lorjuk, Pengkang, Bakmi Kepiting, Choi Pan, dan tentunya, nasi goreng yang konon serupa cita rasanya dengan nasi goreng si mbok.

aruna

Petualangan tersebut makin lengkap dengan hadirnya Nadezhda (Hannah Al Rashid), sahabat keduanya yang membuat hati Bono mencair, serta Farish (Oka Antara), mantan supervisor merangkap cinta lama Aruna yang membuat lidahnya kelu. Bersama Farish yang kini kembali menjadi rekan satu timnya, Aruna mengunjungi beberapa peternakan unggas dan para pasien terindikasi flu burung.

Berbeda dengan Aruna dan dua sahabatnya, Farish sepintas berada di kutub yang berbeda. Ia kaum yang “makan untuk hidup”, yang menganggap makanan hanya untuk mengisi perut yang kosong. Namun, hal itu tak lantas menyurutkan dinamika yang perlahan mengalir dari satu meja makan ke meja makan lainnya. Percikan-percikan afeksi yang belum terungkap antara Aruna dan Farish, antara Bono dan Nad, serta letupan kecemburuan Aruna dan Bono melihat keakraban Nad dan Farish membumbui perjalanan mereka yang kaya rasa baik di lidah maupun di hati.

Dalam investigasinya, Aruna menemukan beberapa kejanggalan tentang data yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan serta sosok-sosok berpakaian steril yang seakan menyebarkan ketakutan akan wabah tersebut. Kecurigaan tersebut memperdalam konflik internal dirinya terhadap Farish. Tentang perasaannya yang terpendam, tentang hubungan rahasia Farish, dan dugaan bahwa isu flu burung ini hanya lahan basah untuk praktik korupsi.

Di Singkawang, rasa curiga berbalut benturan ego pun memuncak dan menyebabkan riak di antara keempat orang ini, namun, lagi-lagi makanan menjadi mediator terbaik. Pada akhirnya, ketika semua pertanyaan telah dijawab dengan terang-benderang, maka makan bersama orang-orang tersayang pun terasa lebih nikmat dan lidah Aruna tak lagi kelu.

aruna3

Aruna & Lidahnya merupakan film kedua Edwin bersama Palari Films setelah Posesif (2017). Keduanya adalah karya Edwin yang tergolong komersial dibanding film-film terdahulunya yang lebih bersifat arthouse. Namun, dalam film ini pun Edwin tak kehilangan sentuhannya. Racikan khas Edwin masih terasa lewat sinematografi lanskap langit/pemandangan, tone warna yang dreamy, serta surrealism yang terselip di beberapa adegan, utamanya di dua adegan mimpi Aruna yang lumayan absurd di mana ia memeras jeruk nipis langsung ke lidahnya dan menyebutnya “asin” serta adegan lain di mana ia meminum air laut dengan sedotan panjang lalu mencetuskan “tawar” tentang rasanya. Kedua adegan alam bawah sadar ini adalah cerminan bahwa memang ada yang salah dalam lidah seorang Aruna. Tak hanya tentang rasa, tapi juga perasaan.

Yang menarik dan membedakan film ini dari karya sebelumnya adalah bumbu humor dalam takaran yang pas. Bila biasanya film Edwin cenderung fokus pada satu atau dua tokoh, film ini menghadirkan empat karakter utama yang perannya bisa dibilang sama penting. Walau tak bisa dipungkiri bila Aruna memang tokoh utama dan poros cerita, yang diperkuat dengan kemampuan breaking the fourth wall, namun tanpa kehadiran Bono, Farish, dan Nadezdha, niscaya film ini rasanya akan hambar, atau seperti yang diungkapkan Bono dalam sebuah adegan: Lauk dalam makanan bisa terasa terlalu asin atau terlalu pedas kalau hanya dicicipi satu per satu, baru ketika semua komponen lauk di piring diambil sedikit-sedikit lalu dilahap dalam satu sendok maka nikmatnya baru terasa maksimal.

aruna1

Untungnya, chemistry di antara Dian, Nico, Oka, dan Hannah berhasil disajikan dengan begitu renyah, Tanpa adanya chemistry yang pas di antara para pemain, film ini akan langsung bubar jalan. Keempatnya berhasil membungkusnya dengan celetukan ringan, komentar usil, dan gestur-gestur kecil yang seringkali berbicara lebih lantang dibanding sekadar dialog. Yang juga menarik adalah film ini memberikan kesempatan bagi keempat tokoh untuk lebih mengenal satu sama lain dengan lebih intim. Tak hanya berputar pada Aruna dan Farish saja, kita juga bisa melihat dinamika antara Aruna dengan Bono, Bono dengan Nad, Nad dengan Farish, Farish dengan Bono, lalu tentu saja momen Aruna dengan Nad yang menampilkan dinamika antara perempuan dengan begitu real: mulai dari meminjamkan pembalut hingga obrolan tentang cinta dan pentingnya membawa kondom.

aruna2

Bagaimanapun, cerita tentang empat orang dewasa muda yang telah ajek dalam karier namun masih gamang dalam urusan cinta memang belum terlalu banyak kita temukan di menu film Indonesia yang terkesan itu-itu saja, dan hal itu yang coba ditawarkan dalam film ini.

Bila indikator kesuksesannya adalah penonton yang mendecakkan lidah setiap visual makanan terpampang di layar dan ikut tertawa di adegan atau dialog yang memang diharapkan mengundang senyum, maka film ini rasanya telah berhasil menuntaskan dahaga tersebut.

Aruna & Lidahnya tayang di bioskop tanggal 27 September 2018

 

Be Kind, Rewind: 5 Illustrators Remaking Their Fave Movie Posters

Whether you judge a movie from the poster or not, poster film memang selalu menjadi bagian integral dalam ikonografi sebuah film. Lebih dari sekadar alat promosi yang dengan vulgar menyuguhkan kalimat bombastis dan nama-nama besar pelakonnya, ada sebuah masa ketika poster film menjadi medium bagi para ilustrator untuk menginterpretasikan adegan atau tema yang lebih subtle dalam film tersebut lewat gaya artistik yang beragam sebelum akhirnya tergerus oleh medium fotografi. Untuk membangkitkan semangat yang ada di masa-masa itu, saya pun mengajak lima ilustrator berikut untuk menginterpretasikan poster film favorit mereka dengan signature style masing-masing.

BIH HERO 6 POSTER_NYLON 

William Davis

Instagram: @wd.willy

 WD.WILLY PHOTO PROFIL

Describe yourself in one sentence!

Orang yang sering memperhatikan lingkungan sekitar.

Current project?

Project buku ilustrasi Azka Corbuzier, membantu Faza Meong dalam pembuatan Si Juki, dan tetap sebagai mahasiswa di suatu kampus di Jakarta.

Ilustrator favorit?

Eiichiro Oda (komikus manga One Piece), Rhoald Marchellius, Kim Jung Gi.

How would you describe your artwork?

Memiliki karakteristik dalam setiap pembangunan karakternya, sangat bermain dengan gesture dan ekspresif, dan sangat teliti tentang detail dan pencahayaan.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Big Hero 6! Karena sangat cocok banget dari mulai karakter, tempat, segala sesuatunya tentang Big Hero 6 sangat mirip dengan style saya!

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Karena menurut saya Big Hero 6 sangat unik dalam segi cerita maupun pembangunan karakternya sangat berkhas Jepang. 

Your Instagram crush?

@thepumpkinbear, @hong_sonnsang, @jakeparker, @david_adhinarya_lojaya

Next project?

Sedang dalam pembuatan komik dan pembuatan buku ilustrasi Azka Corbuzier.

mr nobody

Anindito Wisnu

IG: @aninditowisnu

Photo 11-10-15 17.55.41

Describe yourself in one sentence!

Seorang arsitek yang belum juga sukses dan sedang mencoba menjadi seniman yang siapa tahu bisa lebih sukses.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Sebelumnya hanya hobi, mulai serius berkarya setelah mendapat tawaran untuk menyumbang artwork di novel karya Risa Sarasvati, Sunyaruri.

How would you describe your artwork?

Similarity. Menangkap esensi dan karakter objek yang digambar melalui ekspresi muka, selebihnya saya bisa “bermain-main” di bagian lain seperti rambut, badan, dll.

Alasan memilih Mr. Nobody untuk di-remake posternya?

Film ini menyadarkan saya bahwa hidup terdiri dari keputusan-keputusan dan pilihan yang akan membawa kita ke cerita hidup selanjutnya. Sebuah pilihan yang sederhana pun ternyata sangat menentukan nasib kita ke depan secara signifikan. Pilihan tersebut bukan perkara benar atau salah, namun bagaimana kita memaknai segala proses dalam hidup di setiap langkah yang kita ambil. “If you never make choice, anything is possible.”

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Beauty And The Beast (2015), karena menampilkan salah satu cerita dongeng masa kecil favorit saya namun dengan sajian visual yang dark gloomy.

What’s your latest obsession?

Obsesi saya untuk bisa menyimpan karya saya di setiap negara yang ada di dunia ini.

cd5

Gemma Ivana Miranda

IG: @gemmaivanamiranda

Gemmabio2

Describe yourself in one sentence!

A visual enthusiast, dreamy dog lover, Disney aficionado, dessert devotee, and music habitué.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I grew up loving fairytales and folklores, and I have been an avid doodler since I was a kid. But it was not ‘till my college years I got into designing seriously.

Apa objek favoritmu?

Binatang! Untuk kolase,saya suka mencari ilustrasi vintage, foto-foto klasik, dan motif-motif abstrak.

Ilustrator favoritmu?

A lot of people! Samuel Burgess Johnson, Sam Chirnside, Sam Donaldson, Raf Ram, dan banyak lagi. I usually find random artists through my Behance account.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Semua film Disney klasik yang hampir seluruh elemennya dikerjakan oleh tangan, serial Harry Potter, dan apapun dari Wes Anderson.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Ilene Woods, yang mengisi suara Cinderella, adalah favorit saya, dan saya telah mencintai cerita ini sepanjang hidup saya. I find that older movies (and music!) give me so much tranquility and inspiration.

Your Instagram crush?

@kathkrnd, @yendryma, @theacademynewyork, dan @samuelburgessjohnson. Untuk fashion, saya suka @jennalyyy dan @stone_cold_fox

What’s the coolest art tip you’ve ever received?

My professor once told me to never lose myself in an artwork and to always give a touch of magic. After all, as quoted from Ursula Le Guin, “The creative adult is the child who has survived.”

 Scan10163

Muchlis Fachri

IG: @muklay

 Muchlis fachri_ foto 4

Describe yourself in one sentence!

Naughty or free but polite, hehehe!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Kehidupan sehari-hari dan sneakers. Dahulu aku senang sekali menggambar sepatu polosku karena gatal apalagi kalau warnanya putih, sempat dimarahi ibu karena itu.

Ilustrator favoritmu?

Banyak sekali, aku sangat terinspirasi dari seniman pop Amerika, sampai street art NYC yang membuatku amaze karena tidak mungkin dilakukan di Indonesia. 

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Aku suka sekali dengan setiap karya Tim Burton, lalu aku juga menggemari Johnny Depp karena setiap dia ada di film Tim Burton selalu dengan kostum dan make-up yang berbeda-beda, sangat total, dan saya memilih Edward Scissorhands, karena selain film ini sangat cool di segi visual, juga mempunyai cerita yang sangat mendalam.

Your Instagram crush?

@DABS MYLA dan @TRISTANEATON, they are dope, sick, and crazy and last but not least @laurenevemayberry.

Next project?

Let it flow! Tidak pernah merencanakan sesuatu dari jauh, semua serba shocking and shaking, hehe!

MOVIE POSTER -

Lissy Radityanti

IG: @lissy.ra

 IMG_4820

Describe yourself in one sentence!

I am a 21-year-old girl who is very passionate in any form of art, call it music, movie, or fine arts, I’m in!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I guess it’s in my blood, karena keluargaku turun temurun semuanya senang berkarya baik musik ataupun hand-craft. Tapi mungkin karena dari kecil aku juga suka nonton Disney’s cartoon especially the princesses, and always got mesmerized by its visual jadi aku pengen bisa menggambar sebagus itu dan jadi suka gambar dari kecil.

Apa objek favoritmu?

Girls. Because they are pretty, magical, and powerful. 

Ilustrator favoritmu?

Agnes Cecile, Diela Maharanie, dan Paula Bonet.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Any Wes Anderson’s movie. The Grand Budapest, Fantastic Mr. Fox, The Darjeeling Limited. Karena tone warnanya yang visual-appealing untuk saya dan teknik pengambilan gambarnya yang quirky dan khas banget.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Film ini salah satu film yang visualnya sangat indah dan dreamy. Walau film ini dirilis tahun 1999, tapi serasa lagi nonton film 70-an dari mulai tone film sampai musik-musiknya, so I guess that’s kinda cool.This movie is also an adaptation from the novel with the same title and the movie director, Sofia Coppola (one of my faves) cukup berhasil menyampaikan pesan melalui film ini tanpa mengurangi esensi dari bukunya. I also feel personally attached to the movie when I first watched it and that’s rarely happen.

What’s your latest obsession?

I’m obsessed with vintage movies, psychology, and Mr. Robot!

 

 

Art Talk: The Many Pieces of Atreyu Moniaga

Berangkat dari imajinasi masa kecil, energi kreativitas yang seolah tanpa batas dalam diri seorang multi-hyphenate Atreyu Moniaga dengan leluasa melintasi berbagai medium. Dari kanvas hingga ke Cannes.

atreyu

Di usia yang masih terbilang muda dan ditambah dengan wajah yang seolah berhenti di umur belasan, mungkin kamu tidak akan menyangka jika Atreyu Moniaga telah mengantungi lebih banyak profesi dari mayoritas orang. A multi-hyphenate, I dare say. Secara ringkas, istilah multi-hyphenate mengacu kepada seseorang yang memiliki beberapa profesi atau bakat sekaligus. Katakanlah seorang singer-songwriter, model merangkap aktris, atau dalam kasus Atreyu: ilustrator, fotografer, dosen, dan belakangan, an actor.

Lulusan IKJ kelahiran 9 Desember 1988 tersebut pertama kali mencuat lewat karya-karya ilustrasi berbasis cat air dengan nuansa whimsical dan dreamy yang terinfluens dari cerita fantasi yang ia lahap dari kecil. Tak berhenti di atas kanvas, pria yang dikenal dengan nickname Atreist dalam sirkuit desain dan seni ini terus mengeksplor berbagai medium dan terlibat di banyak pameran dan project menarik, termasuk salah satunya mendesain embroidery yang menjadi bagian dalam koleksi “Melange De Sens” karya fashion designer Sebastian Gunawan. Di samping ilustrasi, ia pun mewujudkan imajinasinya dalam bentuk fotografi yang walaupun terasa jauh lebih grim bila dibandingkan ilustrasi penuh warna miliknya, namun tetap menunjukkan elemen surreal yang selama ini menjadi ciri khasnya. Seolah tak kehabisan energi, hari-harinya juga disibukkan dengan menjadi dosen fotografi dan ilustrasi di Universitas Bunda Mulia dan ia pun menambah resumenya dengan berakting dalam film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might garapan Lucky Kuswandi.

Dalam debut akting di film pendek berdurasi 25 menit tersebut, Atreyu berperan sebagai Aseng, seorang remaja Tionghoa di sebuah kota kecil yang dekat dengan basis militer di era Orde Baru yang represif. Sarat oleh isu rasial, opresi, dan percikan seksualitas, film ini berhasil terpilih untuk ditayangkan dalam program Semaine de La Critique (Pekan Kritikus) di Festival Film Cannes tahun 2015, sekaligus menjadi film Indonesia pertama yang masuk dalam ajang tersebut setelah film Tjoet Nja’ Dien karya Eros Djarot di tahun 1989. Sebuah langkah awal yang impresif bagi seseorang yang mengaku tidak pernah berakting sebelumnya. Dengan begitu banyak sisi yang menggoda untuk dibicarakan, Atreyu pun menuturkan beberapa fragmen dalam dirinya.

backyard-wonderland

Di mana kamu menghabiskan masa kecil dan hal-hal apa yang menarik minatmu saat itu? Saya menghabiskan masa kecil saya mostly di kamar. Membaca dongeng-dongeng klasik, majalah Bobo, komik Jepang, dan bermain video game. Yang menarik minat saya saat itu adalah keajaiban cerita-cerita fantasi

Apakah kamu memang berasal dari keluarga kreatif? In a way of thinking? Yes. Saya merasa orangtua saya memiliki pandangan dan argumen yang unik.

Hal apa yang pertama kali membuatmu ingin serius menekuni bidang ilustrasi? Yang membuat saya ingin serius menekuni bidang ilustrasi sebenarnya dimulai sejak kuliah. Saya awalnya sempat pupus menggambar karena merasa tidak memiliki bakat dan informasi. Yang saya tahu saat itu adalah jika ingin survive; jadilah desainer grafis. Dan karena dekat dengan menggambar, saya rasa tak apa-apa.Tapi belakangan selama perkuliahan berjalan sayamendapatkan informasi-informasi baru tentang ilustrasi, ilustrator, dan detail-detail lain yang membuat saya merasa punya kesempatan.

Siapa saja sosok yang menginfluens karyamu? Cara bertutur saya dalam berkarya sepertinya sangat terinfluens dari singersongwriter Jewel. Saya merasa ingin membuat ilustrasi sebaik dia membuat lirik. Selain itu saya juga terinspirasi dari orang-orang seperti James Jean, Takashi Murakami, Dussan Kallay, dan dosen saya sewaktu kuliah dulu mas Arief Timor. Saya juga menyukai karya-karya Pedro Almodovar.

13241244_226596837724483_6082203544827445773_n

Kalau sekarang, hal apa saja yang biasanya menginspirasi untuk berkarya? Yang menginspirasi saya dalam berkarya sekarang (selain briefing dan demand), saya rasa kehidupan itu sendiri. Saya secara egois membicarakan tentang diri saya sendiri dalam karya-karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan personal aesthetic dirimu? Dan apa medium favoritmu untuk berkarya? I actually can’t describe my personal aesthetic. Saya mencoba untuk relax dalam berkarya agar saya betul-betul menikmati proses penciptaan karya. Medium favorit saya juga sebetulnya nggak ada. Mungkin karya saya didominasi cat air. Tapi yaitu karena cat air masih sampai saat ini medium yang paling saya kuasai. Tapi sebetulnya saya sangat ingin mencoba medium-medium lain. Rasanya akan sangat seru.

please

Selain ilustrasi, kamu juga mendalami fotografi. Kalau menurutmu, bagaimana ilustrasi dan fotografi bisa saling melengkapi? Saya melakukan treatment yang sama dalam fotografi seperti yang saya lakukan dalam ilustrasi (baca: curhat) jadi saling melengkapi mungkin nggak, tapi ada beberapa hal yang menurut saya bisa diraih lebih baik dengan digambar, dan beberapa lebih baik dengan dipotret.

13245423_230140614036772_5985381347418943950_n

Kalau tentang menjadi dosen? Apa yang menarik dari profesi ini? Saya jadi dosen karena tawaran teman saya yang saat itu sudah jadi dosen uluan. Sudah dua tahun mengajar. Yang menyenangkan adalah melihat semangat-semangat polos anak-anak ini sih dan mengajar membuat saya jadi terus meng-update kabar-kabar terkini dari mata kuliah yang saya ajarkan. Dan semangat mahasiswa-mahasiswa ini yang akhirnya membuat kami sudah membuat 2 kali pameran fotografi dan 1 kali pameran ilustrasi. Semoga bisa terus berlangsung.

Bagaimana ceritanya sampai akhirnya terlibat di film Lucky Kuswandi? Ini kisah yang jawabannya seperti jawaban artis-artis di interview TV nih, haha! Saya nggak sengaja datang ke sebuah pameran di mana saat itu Lucky juga datang. Dan menurut dia saya cocok dengan karakter Aseng di film ini. Terus diajak casting. Terus dapat deh perannya.

Apa yang paling memorable dan menantang selama syuting, mengingat ini adalah film pertamamu? Syutingnya sangat menyenangkan. Saya merasa beruntung bekerja dengan mereka yang sangat cekatan dan rapi. Yang paling menantang saat shooting adalah scene terakhir saat Aseng dan David terlibat perebutan pistol. Malam itu take-nya belasan kali. Saya dan Fauzan (pemeran David) sangat merasa bersalah sama crew yang lain saat adegannya harus diulang, dan saat itu sudah sekitar jam 1 pagi.

Selain film ini, kamu juga bermain di film pendek garapan Monica Tedja, apakah dunia akting akan menjadi sesuatu yang kamu geluti dengan serius? Untuk itu saya masih belum tahu. Saya ternyata menikmati proses berakting dari reading sampai syutingnya beneran. Jadi mungkin saya ingin mencoba lagi. Ya berkaryalah ya, apapun platform-nya. Kalau prosesnya enjoyable yah ayuk aja.

Selain dunia art, apa hal lain yang kamu nikmati? Sushi, tapi ini art juga kan sebenarnya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi creative blockBiasanya saya latihan teknis sih kalau lagi mentok. Latihan mewarna atau mengarsir. Tapi kalau jenuh banget biasanya saya stop sama sekali dan nonton-nonton film aja. Cuma baru-baru ini saya mendapat treatment baru yaitu creative talks. Jadi kaya kumpul-kumpul sama teman-teman terus ngobrol ngalor ngidul aja tentang urusan art. Dan kalau tetap mentok juga, saya nyanyi-nyanyi aja di kamar.

What’s your next project? Be healthy, be happy! That’s the ultimate, ultimate project!

14606520_297400527310780_2955092824774464233_n

 

 

Filmstrips: The Essential Works of Abbas Kiarostami

abbas-kiyarustemi-1

Ketika Abbas Kiarostami wafat tanggal 4 Juli 2016 lalu di umur 76 tahun, bukan hanya warga Iran yang berduka atas kepergian sutradara terbaik di negeri mereka, tapi juga para cinephile di seluruh dunia. Telah mulai berkarya sejak tahun 70-an dan menghasilkan lebih dari 40 film, Kiarostami disebut sebagai salah satu filmmaker terbaik yang pernah ada berkat tangan dinginnya yang telah melahirkan style tersendiri dan teknik-teknik revolusioner baik secara narasi maupun produksi dalam dunia perfilman sekaligus menjadi inspirasi dari ribuan filmmaker lain setelahnya, mensejajarkannya dengan para legendary auteurs seperti Akira Kurosawa dan Alfred Hitchcock. To pay a tribute to the late cinema poet,  di bawah ini adalah beberapa karya Kurostami paling esensial yang harus ditonton siapapun yang mengaku pecinta sinema.

KHANE-YE DOUST KODJAST? / WHERE IS THE FRIEND'S HOME
Where Is the Friend’s Home?

 Koker trilogy 

Disebut sebagai karya terbaik Kiarostami, Koker trilogy mengacu pada tiga film yang terdiri dari Where Is the Friend’s Home? (1987), Life, and Nothing More… (1992), dan Through the Olive Trees (1994) yang berhasil melebur batasan antara realitas dan fiksi dalam perfilman secara groundbreaking. Where Is the Friend’s Home? adalah cerita sederhana tentang Ahmed, seorang anak laki-laki di sebuah desa bernama Koker di utara Iran yang tanpa sengaja membawa pulang buku tugas milik temannya. Sadar jika temannya akan dikeluarkan dari sekolah jika tidak mengumpulkan tugas, Ahmed pun menempuh perjalanan jauh ke desa temannya untuk mengembalikan buku tersebut dan melihat banyak hal dalam perjalanannya, mulai dari betapa ignorant dan culasnya dunia orang dewasa hingga nilai-nilai tradisional warga pedesaan Iran. Lewat film ini Kiarostami mengangkat cerita tentang loyalty dan kepahlawanan sehari-hari dalam kombinasi narasi fiksi dan dokumenter (docu-fiction) yang kemudian menjadi ciri khas terbesarnya.

lifeandnothing-1600x900-c-default
Life, and Nothing More…

Film kedua Life, and Nothing More…mengikuti jejak seorang sutradara (versi fiksional dari Kiarostami sendiri) dan anak lelakinya yang berkendara dari Tehran ke Koker untuk mencari jejak dua anak kecil yang membintangi film Where Is the Friend’s Home? karena cemas keduanya termasuk dalam daftar korban gempa Iran di tahun 1990 yang memakan korban 50 ribu orang di utara Iran. Menelusuri puing-puing sisa gempa, ayah dan anak tersebut berinteraksi dengan para warga lokal dan mendengar kesaksian tentang bencana tersebut, termasuk dari sepasang pengantin muda yang memutuskan tetap melangsungkan pernikahan walaupun desa mereka porak-poranda dan banyak anggota keluarga mereka yang tewas, sampai akhirnya mereka berhasil menjumpai salah satu aktor cilik di film sebelumnya di sebuah tenda pengungsian. Dokufiksi kedua ini secara poetic menunjukkan kekaguman Kiarostami terhadap semangat orang-orang yang tak menyerah pada keadaan dan melanjutkan hidup mereka pasca bencana.

through-the-olive-trees
Through the Olive Trees

Bagian terakhir dari Koker trilogy adalah Through the Olive Trees yang menggambarkan proses seorang sutradara saat ia merampungkan syuting film Life, and Nothing More… dan cerita asmara di antara kedua aktor dan aktris yang terlibat dalam sebuah sequence di film tersebut. Hossein, seorang tukang batu yang beralih menjadi aktor jatuh cinta dan melamar lawan mainnya, seorang gadis terpelajar bernama Tahere yang menjadi yatim-piatu setelah orangtuanya wafat dalam gempa besar. Perbedaan status keduanya membuat Tahere menolak lamaran itu, namun dengan intervensi sang sutradara yang menyarankan Hossein apa saja yang harus ia lakukan untuk meyakinkan sang gadis sambil dengan sengaja menyiapkan adegan dan dialog keduanya di film yang ia garap. Hingga di satu adegan ia meyakinkan Hossein untuk mengikuti Tahere yang berjalan di antara pepohonan zaitun dan sekali lagi mengungkapkan perasaannya dengan open ending yang membuat para penonton bebas menginterpretasikan sendiri apakah lamaran tersebut diterima atau tidak.

Film romance dengan balutan humor dan sense of humanity ini dinominasikan dalam kategori Palme d’Or di Cannes 1994 dan melontarkan popularitas Kiarostami ke dunia. Walaupun secara naratif tidak bisa dibilang sekuel karena ketiga film tersebut masing-masing berdiri sendiri, namun Koker trilogy disebut sebagai rangkaian film yang menggambarkan kekuatan dunia sinema dengan metode penceritaan yang bermain pada konsep “higher reality” dan “life imitates art (and vice versa)” dengan cara yang belum pernah digunakan oleh sutradara lain sebelumnya.

MoC_CLOSE_UP_04.jpg
Close-Up

Close-Up (1990)

Berdasarkan cerita nyata yang terjadi di Tehran di akhir 80-an, Close-Up yang judulnya diambil dari teknik penyutradaraan bermula saat Kiarostami membaca berita tentang seorang pria bernama Hossain Sabzian yang ditangkap polisi setelah mengaku-ngaku sebagai sutradara Iran terkenal, Mohsen Makhmalbaf. Kiarostami mendatangi Sabzian di penjara dan membuat dokumenter tentang sang terdakwa kasus penipuan tersebut yang lantas mengungkapkan fakta jika sang impersonator melakukan perbuatannya bukan dengan niat jahat, melainkan karena rasa cintanya pada sinema dan kekaguman pada sang sutradara yang membuatnya ingin merasakan menjadi sang sutradara. Sekali lagi berada di tengah realitas dan fiksi, Kiarostami menyajikan dokufiksi tentang the power of cinema dan pada akhirnya berhasil mencari jalan damai bagi Sabzian dan bahkan mempertemukannya dengan sang sutradara idolanya.

taste-of-cherry-di-01

Taste of Cherry (1997)

Memenangkan Palme d’Or di Cannes tahun 1997, film ini adalah sebuah film minimalis tentang seorang pria paruh baya bernama Badii (Homayoun Ershadi) yang berkendara di seputar Tehran untuk mencari seseorang yang bersedia mengubur dirinya setelah dia bunuh diri. Perjalanannya mempertemukannya dengan beberapa kandidat, dari mulai seorang tentara Kurdish muda yang menolak melakukan hal itu dan kabur dari mobil Badii, seorang guru agama asal Afghanistan yang menolak karena bunuh diri adalah hal yang dilarang agama, hingga yang terakhir adalah seorang ahli taksidermi asal Azerbaijan yang bersedia melakukannya namun tetap berusaha meyakinkan Badii untuk mengurungkan niatnya dan mengaku jika ia pun pernah hampir nekat bunuh diri namun memilih hidup setelah mencicipi rasa buah ceri. Didominasi teknik long takes dengan jeda sunyi tanpa musik latar dan dialog tentang arti hidup dan kematian, film ini terasa depressing dan comical di saat yang sama dengan filosofi jika hidup ibarat jalan panjang tanpa ujung dengan pepohonan ceri di sampingnya, whether you want to enjoy it along the way, it’s your own choice.

the-wind-will-carry-us-feature-1600x900-c-default

The Wind Will Carry Us (1999)

Sama seperti film sebelumnya, dalam film yang judulnya yang diambil dari puisi karya penyair perempuan ikonik asal Iran, Forough Farrokhzad ini Kiarostami kembali mengangkat ide tentang hidup dan kematian. Bercerita tentang empat orang jurnalis yang tiba di sebuah desa Kurdish dan menyamar sebagai insinyur untuk mendokumentasikan ritual kematian setempat dan mengantisipasi kematian seorang nenek berumur 100 tahun yang diharapkan menjadi obyek utama dalam proyek mereka, namun sang nenek tak kunjung wafat dan mereka pun terpaksa beradaptasi dengan gaya hidup di desa tersebut yang lambat dan kontras dari latar belakang urban mereka, Dirilis tepat sebelum pergantian abad, film ini adalah interpretasi poetic seorang Kiarostami akan isu-isu seperti kehidupan dan kematian, modern dan tradisional, dan local versus global, sekaligus mempertanyakan etika menangkap suatu kenyataan ke dalam film tanpa mencemari esensinya.

certified-copy

Certified Copy (2010)

Dibintangi oleh Juliette Binoche dan William Shimell, film ini adalah film pertama Kiarostami yang dibuat di luar Iran seutuhnya. Seorang penulis Inggris bernama James Miller (Shimell) sedang berada di Tuscany, Italia untuk berbicara soal buku terbarunya, Certified Copy, yang mengangkat tema originalitas dalam karya seni di mana menurutnya tidak ada karya yang benar-benar original karena semua karya sebetulnya adalah kopi dari suatu hal yang telah ada. Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan seorang ahli barang antik asal Prancis (Binoche) yang datang bersama anak lelakinya. Dalam pertemuan selanjutnya, keduanya berkendara tanpa arah ke daerah pedesaan setempat dan berbincang tentang seni dan isi buku tersebut hingga akhirnya dalam perhentian di sebuah kafe, prasangka orang lain jika keduanya adalah suami-istri mengubah arah diskusi mereka menjadi sangat personal, seakan keduanya memang pasangan yang telah lama menikah dan Kiarostami sengaja membiarkan penonton bertanya-tanya apakah keduanya sebetulnya memang suami-istri atau keduanya hanya terjebak dalam ilusi yang mereka bangun sendiri.

like-someone-in-love-main-review

Like Someone in Love (2012)

Sebagai film terakhir yang ditulis dan disutradarai oleh Kiarostami, film yang diproduksi di Jepang ini menceritakan seorang mahasiswi Tokyo bernama Akiko (Rin Takanashi) yang bekerja sambilan sebagai pelacur kelas atas. Suatu malam, ia mendapat klien bernama Takashi Watanabe (Tadashi Okuno), seorang duda tua mantan dosen sosiologi yang lebih tertarik menyiapkan makan malam dan berbincang bersama Akiko dibanding tidur dengannya. Saat esok harinya mengantar Akiko ke kampusnya, ia bertemu dengan Noriaki (Ryo Kase) pacar Akiko yang mengira jika ia adalah kakek Akiko dan meminta izin untuk menikahi Akiko. Semua menjadi kacau saat Noriaki yang abusif mengetahui hal sebenarnya dan mengonfrontasi keduanya. Walaupun jauh dari Iran, di film ini Kiarostami tetap berhasil mengangkat kisah cinta tak biasa di mana para karakter yang terlibat adalah orang-orang kesepian yang mencari seseorang untuk dicintai dalam pertemuan takdir yang terasa sangat random dan konsekuensi yang menunggu mereka.

Filmstrips: Cannes 2016 Movie Picks Part. 2

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival yang tahun ini telah memasuki tahun ke-69 telah diselenggarakan pada tanggal 11-22 Mei lalu dan kembali menjadi barometer penting bagi perkembangan sinema dunia di mana tercatat 21 film berkompetisi memperebutkan Palme d’Or, 18 film di seleksi Un Certain Regard dan 10 film pendek telah ditayangkan dalam perhelatan tahun ini. Berikut adalah seleksi film yang harus masuk dalam watch list.

Click here for the part one.

personal-shopper

Personal Shopper

Setelah berkolaborasi dalam Clouds of Sils Maria yang mendapat apresiasi positif, sutradara Olivier Assayas kembali menggandeng Kristen Stewart dalam film terbarunya yang bergenre thriller ini. Kristen berperan sebagai Maureen Cartwright, seorang gadis Amerika di Paris yang bekerja sebagai personal shopper untuk selebriti bernama Kyra (Nora von Waldstätten) di mana ia tak hanya dihantui oleh klien yang demanding, tapi juga teror tak kasatmata dari bayangan saudara kembarnya yang telah meninggal dan pesan-pesan misterius dari nomor tak dikenal yang mendorongnya melakukan perbuatan buruk di luar zona nyamannya.

Julieta

Julieta

Kembali menelusuri female-centric drama yang menjadi andalannya, Pedro Almodóvar menampilkan akting gemilang dari Emma Suarez dan Adriana Ugarte yang keduanya memerankan Julieta sang tokoh utama dalam film yang berdasarkan tiga cerita pendek dalam antologi Runaway karya Alice Munro ini. Julieta di usia paruh bayanya (Suarez) adalah wanita Madrid yang berusaha menata hidupnya setelah tragedi yang menimpa suaminya, Xoan (Daniel Grao). Putri satu-satunya, Antia (Blanca Parés) melarikan diri tanpa penjelasan apapun saat berumur 18 tahun dan pencarian berbekal sekelumit info hanya membuka kenyataan jika ia tidak pernah benar-benar mengenal putrinya.

Neon Demon

The Neon Demon 

Dibintangi oleh aktris-aktris muda seperti Elle Fanning, Abbey Lee, dan Bella Heathcote, film terbaru Nicolas Winding Refn ini mengambil latar dunia fashion Los Angeles di mana Jesse (Fanning) seorang model 16 tahun direkrut oleh seorang desainer eksentrik (Alesandro Nivola) sebagai muse dan seketika menjadi the It model yang menjadikannya target kecemburuan dari wanita-wanita yang terobsesi pada kecantikan untuk merebut apa yang mereka tidak miliki dalam diri Jesse: youth & innocence. Jesse pun membuka tabir dunia fashion yang walau terlihat gemerlap namun ternyata penuh darah, skandal, dan obsesi liar.

 the-handmaiden-is-an-upcoming-south-korean-film-based-on-the-novel-fingersmith-by-sarah-waters-being-directed-by-park-chan-wook-and-starring-kim-min-hee-ha-jung-woo-and-kim-tae-ri

The Handmaiden

Dikenal sebagai sutradara Korea dengan tendensi humor gelap yang brutal, Park Chan-wook membawa adaptasi novel Fingersmith karya Sarah Waters yang berlatar di Inggris masa Victorian ke Korea di masa kependudukan Jepang di tahun 1930-an. Nam Sook-hee (Kim Tae-ri), seorang gadis pencopet terlibat dalam rencana jahat Count Fujiawara (Ha Jung-woo), seorang penipu ulung yang berpura-pura menjadi bangsawan Jepang demi menikahi dan merebut harta Lady Hideko (Kim Min-hee), seorang wanita Jepang kaya yang tinggal di bawah asuhan pamannya, Kouzuki (Cho Jin-woong). Menyamar sebagai pelayan, rencana Sook-hee berantakan ketika sang target justru jatuh cinta padanya dan seiring waktu menguak lapis demi lapis rahasia.

i_daniel_blake_no_film_school_interview

I, Daniel Blake

Daniel Blake (Dave Johns) adalah seorang pengrajin kayu berusia 59 tahun di daerah Newscastle Inggris yang terkena serangan jantung dan memutuskan mendaftarkan diri untuk menerima bantuan pemerintah lewat program Employment and Support Allowance. Dipusingkan oleh masalah birokrasi yang rumit dan petugas pemerintah yang tidak kooperatif, ia bertemu single mother bernama Katie (Hayley Squires) dan kedua anaknya yang demi melarikan diri dari ancaman tinggal di penampungan kaum homeless di London harus berjuang memiliki sepetak tempat tinggal. Mengangkat isu kondisi ekonomi dengan humanis, film garapan sutradara Ken Loach (yang telah berusia 80 tahun) ini berhasil mendapat penghargaan tertinggi Palme d’Or di Cannes tahun ini.

 

Filmstrips: Cannes 2016 Movie Picks Part. 1

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival yang tahun ini telah memasuki tahun ke-69 telah diselenggarakan pada tanggal 11-22 Mei lalu dan kembali menjadi barometer penting bagi perkembangan sinema dunia di mana tercatat 21 film berkompetisi memperebutkan Palme d’Or, 18 film di seleksi Un Certain Regard dan 10 film pendek telah ditayangkan dalam perhelatan tahun ini. Berikut adalah seleksi film yang harus masuk dalam watch list.

CFday25-580.jpg

Captain Fantastic

Dalam film kedua karya Matt Ross ini, Viggo Mortensen memerankan Ben Cash, seorang single father eksentrik dan idealis yang membesarkan 6 anaknya sendirian di sebuah daerah hutan Pacific Northwest di mana mereka menjalani hidup terisolasi dari  peradaban kapitalis sampai suatu hari istri Ben yang mengidap bipolar tewas bunuh diri di sebuah rumah sakit jiwa dan memaksa keluarga ini keluar dari surga kecil mereka dan menempuh perjalanan selama lima hari mengendarai bus keluarga (yang diberi nama Steve) ke New Mexico, tempat prosesi pemakaman akan digelar. Tak hanya bertanggungjawab pada 6 anak yang mengalami culture shock di dunia luar, Ben juga harus menghadapi ayah mertuanya (diperankan Frank Langella) yang mempertanyakan kemampuan Ben sebagai orangtua dan caranya membesarkan anak.

Cafe Society

Café Society

Didaulat sebagai opening movie untuk Cannes tahun ini, film komedi-drama garapan Woody Allen ini bercerita tentang Bobby Dorfman (Jesse Eisenberg) seorang pemuda lugu asal Bronx yang pindah ke Hollywood di tahun 1930-an di mana ia jatuh cinta dengan gadis bernama Vonnie (Kristen Stewart) yang merupakan sekretaris pamannya, Phil (Steve Carell). Berlatar kehidupan high society di industri sinema Hollywood dan bisnis nightclub di New York tahun 30-an yang dipenuhi bintang film, sosialita, politisi, dan gangster, Bobby pun menemukan dirinya terjebak dalam peliknya cinta segi tiga sambil berusaha menjadi man of the world di zaman yang penuh konflik dan keglamoran.

American Honey

American Honey

Film keempat sekaligus film pertama sutradara Andrea Arnold yang dibuat di luar Inggris ini menceritakan gadis 18 tahun bernama Star (peran debut dari pendatang baru Sasha Lane) yang bergabung dengan grup remaja terlantar di sebuah “magazine crews” pimpinan Jake (Shia LaBeouf) yang bersama-sama berkeliling Amerika Serikat untuk menjual paket langganan majalah dari rumah ke rumah. Dipenuhi ikonografi Amerika seperti highway daerah Midwest yang seakan tanpa ujung hingga bikini bermotif bendera Konfederasi yang dikenakan tokoh antagonis Krystal (diperankan oleh Riley Keough, cucu Elvis Presley), film ini menyibak hedonisme, kriminalitas, dan eksplorasi seksual di balik konsep American Dream dan berhasil memenangkan Prix du Jury tahun ini.

after the storm

After The Storm

Setelah kematian ayahnya, bekas penulis berbakat Ryota Shinoda (Hiroshi Abe) menghamburkan uang yang ia dapat sebagai private detective untuk berjudi sementara ibunya (Kirin Kiki) dan mantan istrinya (Yoko Maki) berusaha menjalani hidup mereka masing-masing. Mencoba memperbaiki hidupnya, Ryota menemukan arah hidup dalam diri anak lelakinya, Shingo (Taiyo Yoshizawa). Sebuah badai taifun tanpa disangka memberikan kesempatan bagi keluarga yang retak ini untuk memperbaiki hubungan mereka. Dikenal lewat film-film bertema keluarga, sutradara Hirokazu Kore-eda kembali menyajikan drama bittersweet yang akan membuatmu kembali mengapresiasi arti keluarga.

Apprentice

Apprentice

Mengangkat tema hukuman mati yang menjadi isu kontroversial di kawasan Asia Tenggara, film garapan sutradara Singapura Boo Junfeng ini berkisah tentang Aiman (Fir Rahman) seorang sipir muda yang baru diterima bekerja di Penjara Larangan dengan membawa motif personal. Ayahnya mati digantung di penjara yang sama dengan tempatnya bekerja sekarang di bawah pimpinan Rahim (Wan Hanafi Su) sang chief executioner yang mengeksekusi ayahnya. Aiman pun terjebak dalam pergulatan batin antara keinginan balas dendam dan secara ironis menemukan sosok ayah dalam diri pembunuh ayahnya.

Shoot Tight, Monica. An Interview with Monica Vanesa Tedja.

Berawal dari video-video family trip masa kecil, Monica Vanesa Tedja menuangkan imajinasinya lewat medium film. 

 “For me, being a filmmaker means being able to freely express your feelings through some kind of statements. It’s a very interesting medium, which allows you to share stories and even get a whole bunch of new yet different perspectives,” ungkap Monica Vanesa Tedja soal kariernya sebagai sutradara dan penulis film. Bermula dari mengamati kebiasaan sang ayah yang gemar merekam video di setiap holiday trip keluarganya, timbul rasa penasaran dalam diri Monic yang saat itu masih berusia 10 tahun untuk mencoba merekam videonya sendiri dengan handycam yang sama. Seiring waktu, ketertarikannya semakin berkembang dengan belajar menyunting video sendiri, mengikuti workshop film dan lomba, sampai akhirnya mendaftarkan diri di jurusan Digital Cinematography. Dari yang awalnya sekadar menulis dan menyutradarai film-film pendek untuk tugas kuliah, karya Monic yang kental rasa quirky dan witty pun terus terasah dengan baik lewat beberapa film pendeknya seperti How To Make A Perfect Xmas Eve dan Konseptor Kamuflase yang berjaya di berbagai festival film dalam negeri hingga Tokyo, di samping pekerjaan komersialnya seperti video musik, viral campaign, web series, dan TV series.

Di tahun 2015 kemarin, Monic telah merilis dua film pendek yang juga mendapat apresiasi positif dan kian mencuatkan namanya sebagai sutradara muda yang patut disimak. Yang pertama adalah Sleep Tight, Maria yang dibintangi oleh Karina Salim dan Rain Chudori. Menceritakan soal dua siswi sekolah Katolik yang sama-sama bernama Maria dengan fantasi seksual masing-masing, film ini secara menggelitik berbicara soal masturbasi yang dianggap tabu bagi kaum perempuan, let alone in religious environment. Film pendek selanjutnya yang bertajuk The Flower and the Bee juga bermain dengan isu seksualitas yang sebetulnya bersifat sehari-hari. Kali ini lewat kacamata seorang gadis cilik berumur 10 tahun bernama Callie yang rasa ingin tahu khas anak-anaknya membuatnya penasaran dengan gestur jari yang dilihatnya dilakukan oleh dua anak SMP di mobil jemputan sekolahnya. Gestur yang dimaksud adalah menyelipkan jempol di antara telunjuk dan jari tengah yang bagi mereka yang lebih dewasa tentu paham jika gestur tersebut merujuk pada kegiatan seks.

Belum puas menuntut ilmu dan mempertajam talentanya, saat ini gadis 24 tahun yang mengagumi karya Michel Gondry, Woody Allen, Sofia Coppola, Wes Anderson, dan Spike Jonze tersebut sedang merantau ke Berlin, Jerman untuk mengincar Master Degree di bidang Penyutradaraan. Meskipun tahun ini ia mengaku akan memfokuskan diri dalam dunia akademis dahulu, saya tidak sabar untuk mengenal sosoknya lebih jauh sambil menantikan karya-karya segar darinya.

film "Sleep Tight Maria"(Kalyana Shira Foundation)
Film “Sleep Tight Maria” (Kalyana Shira Foundation)

Dari beberapa film pendek yang pernah Monic buat, ada tema imajinasi dan surrealism yang kental, terutama di Konseptor Kamuflase. Apa yang biasanya menjadi inspirasi bagimu? Menurutku, dunia film merupakan dunia imajinasi. Kita bisa membebaskan imajinasi kita bermain dengan seliar-liarnya, selama tentu masih masuk ke dalam konteks yang ingin kita bicarakan. Aku selalu menganggapnya sebagai salah satu bentuk escaping from reality. A “what-if“ condition. Dan seringkali hal-hal yang menginspirasiku itu berasal dari keresahanku akan sesuatu, mostly dari hal-hal yang juga terjadi di sekelilingku. Jadi biasanya aku akan mulai membayangkan, bagaimana kalau hal ini yang terjadi instead of hal itu?

Aku juga merasa ada unsur religi yang kerap muncul, seperti gereja, lagu rohani, dan natal misalnya. Apakah ada kesengajaan yang ingin diangkat dari situ? Sebenarnya aku nggak pernah menentukan kalau di setiap filmku itu harus ada unsur religinya. Bahkan belum lama ini aku baru sadar akan hal itu, haha. Aku nggak pernah menentukan karena memang nggak ada intensi khusus untuk menjadikan unsur religi tersebut sebagai, katakanlah “trademark” aku sebagai filmmaker. Karena aku nggak mau dikotak-kotakkan. Aku ingin membuat film berdasarkan apa yang memang aku rasakan, berdasarkan keresahanku sendiri. Jadi unsur apapun itu yang kamu dapati di filmku, pure karena memang berkaitan dengan cerita, karakter maupun statement-ku sebagai filmmaker, hehe.

So far, apa pengalaman syuting paling memorable/sulit? Apa yang menjadi turning point bagimu dalam menemukan gaya directing seperti sekarang? Sejujurnya, sampai detik ini pun kalau ditanya soal gaya directing aku masih belum bisa jawab. Karena buatku, yang menentukan itu adalah para penonton. Mereka yang bisa kasih penilaian ketika mereka menonton karya-karyaku. Tapi buatku, yang paling penting adalah jujur. Ketika kita mengerjakan sesuatu dengan hati, pasti hasilnya kelak akan lebih bermakna. Dari setiap karya yang telah kubuat, aku selalu mendapatkan pelajaran tersendiri yang cukup siginifikan. Dulu, aku tipe orang yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Tapi sekarang, setelah melewati berbagai pengalaman membuat film, aku jadi benar-benar menghargai sebuah proses. Justru di tahap itulah aku, sebagai seorang filmmaker, bisa belajar banyak. Terutama belajar untuk mengesampingkan ego serta tahu kapan harus kompromi.

the-flower-and-the-bee_hlgh-640x360

The Flower and the Bee memiliki tokoh utama seorang anak kecil, is it hard to direct kids? Dan bagaimana caramu menjelaskan arti gestur jari tersebut kepadanya? Believe me, I thought it was going to be extremely hard. When it comes to handling kids, I’m the worst person ever. I didn’t even know why I was doing that film! Kidding. Anyway, it was surprisingly easy. Well, not that easy. Tapi karena bayanganku udah bakal rusuh banget, dan ternyata nggak separah itu, jadi aku anggap itu mudah, haha. Mostly karena aku dapet talents yang pintar dan sangat kooperatif. Mereka nurut, baik dan lucu banget! Dari proses pre-production sampai shooting, aku sengaja nggak mau kasih tau arti dari gerakan tangan tersebut ke tokoh utamaku, supaya dia semakin penasaran. Jadi seakan itu bener-bener journey-nya dia untuk mencari tahu arti dari gerakan-gerakan tangan tersebut. Ketika proses shooting selesai, aku melepaskan ke pihak orang tuanya masing-masing. Karena memang itu hak mereka, apakah mereka mau memberitahu anak-anaknya sendiri atau tidak. Sebenarnya aku lebih nervous ketika dealing with the parents, ketimbang anak-anaknya, haha.

Boleh cerita soal keterlibatan Monic di Soda Machine Films? Aku mulai secara resmi tergabung ke dalam Soda Machine Films sejak Juli 2013. Awalnya aku ditawari oleh Lucky Kuswandi, sang empunya yang juga dosenku sendiri di UMN, untuk magang di situ dan langsung melanjutkan kerja sebagai freelance writer and director.

Apa project selanjutnya di tahun 2016? Apakah sudah ada rencana untuk membuat feature filmUntuk project di tahun 2016, jujur belum ada rencana pasti. Karena sekarang aku masih fokus untuk menyelesaikan kursus bahasa Jerman serta pendidikan Master-ku kelak. Tapi kalau untuk feature film, memang sudah sempat terpikir sebuah ide untuk membuatnya. It’s a process. Aku gak mau buru-buru sih, yang pasti. Didoain aja, ya! 😉

Bagaimana soal Traveling Richie? It looks so interestingWah. It’s a really long story. Bisa dibilang ini project ambisiusku dengan teman baikku sendiri. He’s an animator. Suatu ketika kita memutuskan untuk kolaborasi bareng dan singkat cerita lahirlah Traveling Richie. Tapi sekarang sedang kita postpone karena keterbatasan dana. Cliché, I know. lol!

Pertanyaan klise tapi penting: Kalau Monic sendiri melihat film Indonesia sekarang seperti apa? Apakah isu indie tidaknya sebuah film masih relevan buat Monic? Banyak orang yang sering mengaitkan indie film dengan masalah budget. Kalau minim, berarti masuk kategori indie. Jadi tergantung bagaimana kita melihat pengertian istilah itu sendiri. Buatku sih, yang paling penting intensi di balik membuat film itu sendiri. Kalau yang tujuannya komersil tentu berbeda dengan yang tujuannya mengedepankan idealisme. Tapi nggak ada yang benar dan nggak ada yang salah. Selama masih sesuai dengan konteksnya masing-masing. Dan aku selalu mencoba optimis dengan dunia perfilman Indonesia. Aku percaya kalau kita punya banyak sekali orang-orang berbakat. Yang masih kurang apresiasi dan dukungannya aja mungkin, haha.

Dengan banyaknya anak muda yang tertarik menjadi filmmaker, apa saran terbaik yang pernah Monic sendiri dapatkan dan bisa di-share untuk mereka? As cliché as it sounds: just be yourself. Don’t be scared to share your own opinions. It does matter. And most importantly, it’s always good to get out of your comfort zones. You can always learn something by keep challenging yourself.

Terakhir, boleh rekomendasikan lima film dari sutradara perempuan favoritmu?

Me and You and Everyone We Know  – Miranda July

The Virgin Suicides  – Sofia Coppola

Tiny Furniture  – Lena Dunham

Palo Alto  – Gia Coppola

Short Term 12  – Destin Daniel Cretton (I know that the last one’s not directed by a woman director, but it’s just so good, I can’t help but mention it.)

 

 

A Copy of Her Mind, An Interview With Tara Basro

REX_6694

It takes more than luck to stay in the highly competitive movie biz, dan dengan kematangan skill serta repertoire peran yang kian membubung, Tara Basro telah menemukan spotlight tersendiri baginya dalam industri ini, and it’s getting brighter all the time

Disclaimer: Artikel ini diambil dari NYLON Indonesia November 2015 tanpa proses penyesuaian dengan keterangan waktu yang telah lewat.

Tara Basro always have a special spot in my heart. There, I said it. Tidak hanya karena sosoknya yang terus mencuri perhatian dalam setiap project yang ia kerjakan, tapi juga karena pribadi di balik layarnya yang tetap down to earth dan apa adanya, tak peduli sejauh apapun ia telah melangkah. Di hari Jumat menjelang akhir Oktober lalu, sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, Tara datang seorang diri ke lokasi pemotretan tanpa ditemani manajer, asisten, atau entourage lain seperti artis pada umumnya. Mengenakan jumpsuit berpadu sneakers, aktris cantik bernama lengkap Andi Mutiara Pertiwi Basro ini terlihat effortlessly chic dan santai. Wajahnya yang tersenyum ramah dibingkai oleh rambut hitam yang baru dipotong pendek dengan model bob yang fresh dan mempertegas feature wajahnya: high cheekbones, mata sayu nan sensual, dan kulit sawo matang yang glowing. Semua hal yang membuat dirinya terlihat stand out dan kerap membuat “eksotis” sebagai adjektiva yang melekat padanya, sesuatu yang membuatnya berjengit, as we will talk about it later.

REX_6907

“Lagi sibuk istirahat,” ujar Tara membuka interview ini. “Soalnya dari awal tahun ini aku sibuk dari mulai promosi film terus lanjut syuting film lainnya, traveling, dan kebanyakan di luar kota, jadi sekarang lagi beristirahat akhirnya,” sambungnya sambil membiarkan wajahnya mulai dirias. Well, jika ada orang yang berhak memiliki time out untuk beristirahat setelah bekerja keras sepanjang tahun, Tara adalah orangnya. 2015 memang telah menjadi tahun yang exceptionally busy untuk dara satu ini. Tak lama setelah aksinya sebagai pendekar wanita di Pendekar Tongkat Emas akhir tahun lalu, kita telah melihatnya di Filosofi Kopi sebagai sexy assistant yang walaupun bukan termasuk peran utama tapi berhasil membuat hati penonton berdegup kencang dalam setiap scene-nya. Setelah menyelesaikan film surealis garapan Ismail Basbeth berjudul Another Trip to the Moon yang masuk ke International Film Festival Rotterdam, ia pun langsung terjun dalam syuting A Copy of My Mind, film terbaru Joko Anwar di mana ia dan Chicco Jerikho bersanding sebagai pemeran utama.

ACOMM

            Dengan teaser poster yang menampilkan Tara dan Chicco sebagai pasangan yang dimabuk cinta, gampang bagi orang untuk mengiranya sebagai film drama romantis. But we’re talking about Joko Anwar’s work here, so basically, walaupun film ini memang mengedepankan relationship antara sepasang anak muda Jakarta, namun dengan adanya plot twist dan grand scheme tentang sisi gelap dunia politik dan industri pembajakan film, A Copy of My Mind jelas bukan cerita cinta biasa.“Yes, there’s a little bit about politics. Tapi Bang Joko mau film ini bisa dinikmati semua orang, bukan orang Indonesia doang dan akhirnya di-package dalam romantic film. It’s like a time capsule, kalau orang mau lihat Jakarta di tahun 2015 seperti apa ya seperti di film ini, walau orang nggak tinggal di Jakarta dan nggak tau what’s going on di Jakarta pun masih bisa relate,” tutur Tara.

            Sambil mulai melahap pisang yang ia bawa sendiri dari rumah, Tara pun menceritakan lebih lanjut soal perannya sebagai seorang pekerja salon bernama Sari di film ini. “She’s very… Orangnya sangat cuek. Karakter Sari dan Alek, mereka menggambarkan karakter anak-anak muda di Jakarta yang sebenarnya tidak peduli dengan politik sama sekali, they don’t care what’s going on outside, tapi bagaimanapun juga, walau dua karakter ini tidak peduli dengan politik, hidup mereka tetap terpengaruh. Jadi gue rasa banyak anak muda yang masih seperti itu, I think gue bisa merasa dekat dengan karakter Sari ini karena bisa dibilang tahun-tahun sebelumnya I’m also like that, gue yang sangat pesimis and I don’t wanna get involved with politics at all, karena rasanya kaya lo menggebu tapi percuma, but now I think sekecil apapun input kita pasti akan berguna,” paparnya. Lantas, apakah setelah film ini ia menjadi antusias soal politik? “Not really, I’m chillin’,” tampik Tara dengan senyuman kecil, “Tapi misalkan dari hal-hal kecil kaya yang lo lihat di sekitar lo misalkan dengan sesimpel buang sampah pada tempatnya, I know it has nothing to do with building your country tapi mulai dari self-awareness seperti itu dulu deh,” tandasnya.

            Dengan waktu syuting hanya 9 hari dengan cast yang bisa dihitung dengan jari, skill akting Tara jelas dituntut secara maksimal di film ini, terutama ketika harus syuting secara diam-diam di sebuah tempat pembajakan DVD di Glodok. “I never see so much DVD in my life, DVD bajakan semua, mereka bikin packaging-nya and everything. Tadinya kita minta izin tapi nggak dikasih, akhirnya kita diam-diam, itu rasanya kaya lo bisa aja tiba-tiba dikarungin, terus diculik nggak balik-balik, serem banget kaya suicide mission. Yang megang kamera gantian Bang Joko sama DOP-nya, jadi kita sok-sok lihat DVD tapi kalau dilihat footage yang nggak dipakai, kebanyakan muka gue udah pucat banget dan kaku,” ceritanya sambil menunjukkan ekspresi pura-pura takut. Undercover shoot aside, yang tak kalah menantang adalah membangun chemistry dan beradegan intim dengan lawan main.“Chicco is great,I love working with him, karena dari awalnya kita juga teman dan sering ngobrol jadi ketika harus bangun chemistry dengan Chicco pun everybody can relate about feeling love, find someone that you love dan melihat sesuatu bisa diperjuangin untuk orang ini,” tukasnya sebelum melanjutkan, “Yang gue suka dari kerja dengan Bang Joko adalah dia memang membangun karakternya sangat matang, he would do interviews dengan gue sebagai Sari. Misalkan dia akan pura-pura jadi polisi terus Sari ditilang, kira-kira Sari akan ngomong apa di kondisi itu? Jadi mau nggak mau ya rasanya udah kaya jadi karakternya, jadi begitu kita syuting, its more like capturing moment.”

Kerja keras mereka terganjar dengan terpilihnya A Copy Of My Mind menjadi official selection di kategori Orrizonti di 72nd Venice International Film Festival tahun ini. Bulan September lalu, Tara pun bertandang ke Italia untuk mempromosikan dan gala premiere film tersebut di mana ia berjalan di red carpet dengan memakai rancangan Jeffry Tan. “Aneh aja dengar orang Itali manggil-manggil nama gue, haha!” kenangnya terbahak.“Tapi seru sih, deg-degan juga karena belum pernah jalan di red carpet segede itu kan, apalagi orang-orang tau soal film lo. Senang banget pas di sana orang-orang sangat antusias nonton filmnya, tadinya gue nggak menduga orang akan sesenang itu sama filmnya, terharu aja rasanya, kaya pas lagi jalan ada orang yang nyamperin dan bilang ‘I’ve seen your film! It’s so good, thank you so much for making it!’ jadi rasanya pasti senang lah, dari awal bikin filmnya juga karena suka dan yang bikin juga memang senang sama karyanya sendiri, jadi gue sangat berterimakasih banget sama yang nonton karena bisa appreciate dengan apa yang kita kasih. Itu jadi humbling experience juga karena orang-orang di sana sangat passionate dengan film dan pekerjaan mereka, jadi gue merasa kaya I wanna do something bigger, I wanna do more. Malah kaya ah gila, I’ve done nothing rasanya,” ungkapnya bersemangat.

Selain di Venice, film ini juga telah ditayangkan di festival film internasional di Toronto dan Busan. Publik Indonesia sendiri masih harus bersabar karena film ini direncanakan baru tayang di dalam negeri sekitar Februari tahun depan. Meanwhile, sembari menunggu, kita juga bisa melihat aksi Tara di proyek Joko Anwar lainnya, yaitu serial televisi Halfworlds yang diproduksi HBO Asia. Dalam serial action thriller berbumbu mitologi Indonesia ini, Tara menjadi bagian ensemble cast dari aktor-aktris Indonesia paling menarik saat ini. “Halfworlds sangat seru soalnya cast-nya banyak dan isinya banyol semua jadi proses syuting sangat menyenangkan and I think its a fun story juga. Yang seru,it was the first time for me to working in the studio karena sebelumnya kan selalu real set, kemarin set beneran cuma beberapa, sisanya di studio semua jadi gue kaya ‘Wow this is actually pretty awesome’, you working in very controlled environment kaya lo nggak harus peduli ada tukang bakso lewat untuk break syuting, its kinda nice, but at the same time, you also miss the energyand spontanity,” jelas Tara tentang proses syutingnya yang berlangsung di studio di Batam. Dalam serial ini, Tara kembali berpasangan dengan Reza Rahadian sebagai bad ass duo. Kalau di Pendekar Tongkat Emas mereka menjadi sepasang pendekar culas, kali ini mereka menjadi sepasang Bonnie and Clyde kinda characters dengan kekuatan Demit dan adegan laga yang seru. Menyoal bagaimana seringnya ia dipasangkan dengan Reza, dengan berseloroh ia menjawab: “I love working with him, he’s such a good actor and I learn a lot from him, jadinya kaya udah sahabatan tapi lama-lama kaya yang ‘Can I be someone else’s girlfriend, please?

REX_6736

Harapannya terjawab di film Tiga Srikandi di mana Tara kembali satu film dengan Reza namun kali ini tanpa embel-embel asmara. Berlatar tahun 80-an, film karya Iman Brotoseno yang juga dibintangi oleh Chelsea Islan dan Bunga Citra Lestari tersebut mengangkat kisah nyata tiga srikandi dari tim atlet panahan Indonesia yang berlaga dan memenangkan medali perak di Olimpiade Seoul tahun 1988. Demi perannya, Tara pun belajar memanah selama tiga bulan.”Awalnya gue pikir panahan is gonna be very monotone, tapi pas dilakuin ternyata bikin emosi karena you know you could hit the target. Panahan itu soal konsistensi, kalau posisi tangan berubah sedikit aja, pasti hasilnya beda, jadi setiap manah posisi lo harus sama, tapi seru sih, I love it,” paparnya soal film yang akan ditayangkan akhir tahun ini.“Dari film ini gue juga pengen bangun awareness karena kita butuh regenerasi, nggak hanya soal atlet tapi aktor juga perlu ada regenerasi, I think semuanya sih, semua orang yang bekerja di bidangnya harus punya tanggung jawab untuk pass on ilmunya,” pungkasnya.

Berhadapan dengan Tara membuat memori saya kembali ke tahun 2011 ketika saya baru mulai berkarier di media dan bertemu Tara untuk pertama kalinya saat ia dan cast lainnya dari Catatan (Harian) Si Boy datang ke kantor NYLON. Looking at her right now, saya tidak bisa mengesampingkan perasaan kagum melihat bagaimana sosok girl next door pemalu dan pendiam yang saya temui empat tahun lalu telah menjelma sebagai aktris muda berkaliber yang dengan begitu eloquent bercerita soal passion-nya di dunia film. “That was my first film, I was a baby…Its crazy, nggak kerasa nggak sih?” tanyanya retoris. 12 film panjang dalam kurun waktu lima tahun adalah pencapaian impresif bagi seseorang yang mengaku terjun di film karena “tercemplung” tanpa basic akting sebelumnya. Just like a baptism with fire, bakat mentah dalam dirinya terus terasah secara natural di setiap judul film yang ia bintangi. “Dari akting I learn so much, especially about myself karena selama ini gue melihatnya selalu keluar tapi karena akting, I have to switch untuk lebih melihat ke dalam diri gue sendiri kaya ‘How can I be more sensitive?’, karena gue lumayan ignorant kan, tapi di akting you have to pay attention to detail, so I love my job, its the best job.”

Tak banyak yang tahu jika sebelum mencapai titik ini rejection adalah hal yang cukup akrab bagi seorang Tara Basro yang sempat tidak percaya diri dengan penampilannya. “I think I’m being a little hard to myself sometimes,” ujarnya pelan. “I had difficulties because of my skin tone, apalagi dulu rambut gue cepak, sekarang juga pendek sih tapi dulu lebih pendek lagi, dulu masih di highschool, kerjanya ya di bawah matahari terus jadi udah butek, item, rambutnya pendek, terus orang-orang kaya yang ‘Umm, we’re looking for someone with lighter skin and longer hair’ gitu, jadi untuk gue bisa masuk ke film setelah gue putus asa dengan casting segala macem, it was such a blessing,” kenangnya. “Tapi perjuangan nggak berhenti di film pertama, it was a good film untuk film pertama tapi setelah itu perjuangannya gue bisa berbulan-bulan nggak kerja, doing nothing, sementara my mom and dad mulai ngomel-ngomel di rumah kaya ‘What are you doing? You’re not doing anything!’ haha, gue kaya yang ‘Just be patience, okay…’ Haha. It was really tough, jadi walaupun sekarang gue belum ada di posisi yang gue impikan, tapi to be here right now it took a lot of hard work, banyak patah hati segala macem, I learn a lot of things dengan cara yang lumayan harsh, but here I am, surviving.”

Lucunya, di umurnya yang kini menginjak 25 tahun, kulit sawo matang yang dulu seolah menjadi ‘kutukan’ tersendiri baginya sekarang justru menjadi ciri khas dan daya tarik istimewa dalam dirinya. Sulit mencari artikel tentang Tara yang tidak menyelipkan kata “seksi” dan “eksotis” untuk mendeskripsikan dirinya. Namun, saya selalu penasaran bagaimana sebetulnya perasaan Tara soal julukan “eksotis” tersebut. “I have mixed feeling about that word,” akunya, “Apalagi kalau misalkan ada orang yang bilang ‘Mukanya Indonesia banget ya?’ Gue kaya yang ‘What exactly is muka Indonesia?’ Muka Indonesia kan beda-beda, kalau di Korea masih mending ya, karena everybody’s white, tapi kalau di kita kan beda-beda, ada yang orang Manado, ada orang Papua, ada Sulawesi, NTT, semuanya beda-beda. Kalau dibilang eksotis pun gue masih bingung, is it because of my eyes or my skin? But I take it as compliment, but it makes me cringe every time I hear,“ ungkapnya.

REX_6454

“Gue pengen generasi muda untuk more brave, more loving, and forgiving,” ujar Tara dengan mimik serius. “Sampai sekarang gue masih mencoba raise awareness untuk generasi muda to take care of themselves karena awalnya I deal with a lot of insecurities kaya misalkan, maybe I’m not pretty enough, not skinny enough, my skin is not flawless enough, udah coba berbagai macam cara, udah ke dokter muka segala macem, yang pada akhirnya all those side effects gue rasain di umur gue yang 25 tahun ini. Like oh my God I’ve been so selfish, pengennya semuanya perfect padahal dengan gue yang sekarang ini udah cukup. Those beauty stuff… Its harming, mungkin sekarang nggak ngerasain apa akibatnya tapi later on itu bakal kerasa and you will regret it, jadi gue pengen as someone yang bisa dibilang public figure, I feel like I have some responsibility untuk try to educate, mungkin not for everybody tapi ke orang yang mungkin look up to me. But in the end of the day, nobody could love you unless you love yourself first.”

Semua yang terlontar dari bibirnya jelas bukan sekadar empty words tanpa aksi. Cara Tara mencintai dirinya sendiri adalah dengan menghindari zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Ia termasuk konsumen yang rajin membaca nutrition fact dalam setiap produk yang ia gunakan dan cukup familiar dengan istilah-istilah yang asing bagi orang awam. Ia juga mengaku sekarang ini lebih tertarik pada hal-hal yang berbau kesehatan dan mengungkapkan keinginan untuk belajar ilmu nutrisi di samping belajar bahasa asing, khususnya French, mengingat waktu kecil ia sempat tinggal di Prancis. “I go to the gym a lot,” ucap Tara tentang caranya menjaga kesehatan di antara jadwal yang sangat padat. Sempat belajar wushu untuk syuting Pendekar Tongkat Emas, saat ini Tara masih rutin yoga, weight training, dan Muay Thai. “Pokoknya masa-masa istirahat ini yang gue maksimalin adalah olahraga karena kalau syuting apalagi di luar kota kaya udah nggak punya waktu. I’ll be in my best mood after workout, meskipun capeknya kaya apa tapi tetap sangat menyenangkan. Selebihnya mungkin baca buku and keep in touch with my family, karena makin lama makin jarang ketemu karena kerjaan,” lanjut anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara ini. Buku apa yang sedang dibaca Tara belakangan ini? “Sekarang lagi baca Conversations with God, right now gue lagi banyak baca buku yang lebih spiritual karena working in this industry, its little hard to find yourself karena kadang-kadang kalau lanjut dari satu karakter one to another itu kadang-kadang I get lost sometimes, I love to read books to feel relax and better about myself.”

            Sejalan dengan hobi berolahraga, Tara yang lebih nyaman dengan gaya kasual adalah penggemar sneakers.“People think I started to have problem karena right now at my place, I’m sleeping with my sneakers karena udah kebanyakan gitu, dan kalau ada acara gue kaya yang ‘I don’t have any shoes! I don’t have any heels!’ Haha! I wish I could wear my sneakers with dresses, tapi ya gitu, gue udah mulai dimarahin kaya disuruh stop beli sneakers,” kisah penggemar Adidas dan Vans yang hobi berburu sneakers baik di eBay maupun saat keluar negeri dan saat ini sedang menunggu pesanan Adidas Ultra Boost warna putih incarannya tiba.

            Mind, body, and soul. Keseimbangan ketiganya tak akan lengkap tanpa adanya cinta dan ketika menyinggung topik itu, Tara mengaku dirinya adalah seorang hopeless romantic yang gemar menonton film rom-com sebagai guilty pleasure-nya. “Its easy for me to fall in love with someone because I wear my heart on my sleeve,” ujarnya tersenyum. “I dunno if you’re notice or not, but every girl is a psycho in different ways. I feel like kalau pacaran itu tentang mentolerir kekurangan orang lain, you need someone you can trust and accept you whoever you are, at the end of the day itu yang harus lo hadapi for the rest of your life. Karena if you wanna change somebody I don’t think its possible.” Kualitas apa yang biasanya dicari Tara for potential lover? “Sense of humor, caring, initiative, and good taste in music… Itu parah banget,” jawabnya cepat. Wait, jadi Tara termasuk yang menilai orang dari selera musiknya? “Of course I do! Apalagi kalau lagunya udah nggak nyambung itu kaya yang aah… Gue pernah pacaran sama orang, he doesn’t listen to music, can you imagine? Gue kaya yang ‘Are you serious?’ Jadi kalau di mobilnya ya kalau nggak radio ya diam, sedangkan gue yang tipikal langsung blasting the music!” ungkap penggemar Brandy, Jordan Rakei, dan Hiatus Kaiyote ini. Khusus nama terakhir, ia rela terbang ke Kuala Lumpur untuk menonton konser kuartet soul asal Melbourne tersebut dan dengan semangat menyebut Hiatus Kaiyote sebagai dream wedding band-nya, dengan catatan kalau ia tidak bisa mengundang Beyoncé untuk tampil di dream wedding-nya.

            True to her confession as hopeless romantic, di balik persona yang terlihat cuek, Tara ternyata punya dream wedding versinya sendiri. “Are you sure you wanna go there? Because we will have two hours talk, haha!” candanya saat saya bertanya soal pernikahan impiannya.“My dream wediing would be outdoor. I would love to have Latin music, all white, very intimate… Apalagi ya? Nggak tau, gue kalau dilamar aja kayanya udah senang, haha!” jawabnya. Ketika ditanya apakah itu artinya Tara sudah serius memikirkan soal getting married and settled down, dengan kerlingan mata yang kadang terlihat jahil, ia menjawab, “Ready or not, you just have to jump. Kalau ditanya ‘ready’ sih iya, tapi kalau ditanya ‘rela’jawabannya belum, karena I still want do something more.

            Dengan sederet peran dan proyek seru yang sudah ia jalani, apa lagi yang ingin dikejar Tara? “Sebenarnya gue pengen banget kerja bareng Dimas Djay, tapi sayangnya dia udah nggak mau bikin film lagi kayanya. Atau Gareth Evans. I wanna do musical, tapi musical itu harus sangat hati-hati ya, jangan sampai tiba-tiba pas nonton nanti orang malah kaya ‘What?I enjoy singing, strictly di kamar mandi or in a car, but yeah I love to explore music more if I have the chance, tapi kalau if I ever do music, its gonna be something yang bukan buat jualan sih, buat kesenangan gue aja,” tandasnya. Di samping berbagai proyek yang sudah dipaparkan di atas, Tara juga terlibat dalam Flutter Echoes and Notes Concerning Nature, film garapan Amir Pohan yang mengangkat environmental issue dan masih dalam tahap post-production, di samping beberapa film yang masih tahap in consideration untuk tahun depan. Untuk sekarang, Tara hanya ingin menghabiskan akhir tahun dengan beristirahat. “Capek banget, karena semua project gue belakangan ini udah physical. Gue capek dengan semua begadangnya .I just feel I need to respect and listen to my body more, karena selama ini badan gue kaya pengen ngomong ‘I’m tired’ But I keep ignoring it, so I think I deserve a break, lagian biar orang nggak bosan juga lihat gue terus. I’m excited karena akan ada beberapa project yang keluar and I’m curious tanggapan orang akan seperti apa,” pungkasnya dengan nada optimis.

REX_6563

Fotografer: Raja Siregar

Stylist: Patricia Rivai.

Makeup Artist: Marina Tasha

Hair Stylist: Jeffry Welly (Studio 47)

What’s Up, Doc? Six Documentary You Should Watch in 2016

 

There’s certain air of realness di film dokumenter yang seringkali tidak bisa kamu temukan di sebuah film feature, tak peduli se-trivial apapun topik atau tema yang diangkat. Candid, thought-provoking, dan apa adanya, film dokumenter selalu memiliki kejutan menarik, and sometimes, reality check. Berikut adalah enam judul film dokumenter yang akan datang dan harus masuk ke watch list kamu di tahun 2016.

WAITING FOR B

Apakah kamu termasuk orang yang rela mengantre semalaman demi membeli tiket konser idolamu? Jika iya, kamu pasti bisa relate terhadap para fans Beyoncé di Brasil yang menjadi subjek utama dalam film dokumenter garapan Paulo Cesar Toledo dan Abigail Spindel ini. Waiting For B mengajak kita ke garda terdepan dari para Beyhive di Brasil yang rela mengantre dan bertenda selama dua bulan demi mendapat posisi strategis di konser Beyoncé di Sao Paolo. Dalam penantiannya, antrean tersebut menjadi tempat berkumpul para anak muda LGBT dari berbagai latar belakang, some are in full drag, yang mayoritas telah mengalami diskriminasi dan prejudice dari lingkungan sekitar mereka, Waiting For B tidak hanya menyorot soal fan culture di dunia pop dan bagaimana megastar seperti Beyoncé adalah sosok kultus, namun juga menyibak peran pop sebagai aksi politis dan twerk sebagai jari tengah bagi pandangan sempit masyarakat pada LGBT.

SPEED SISTERS

Melaju kencang dengan mobil balap masing-masing, empat pembalap wanita Palestina berusaha menabrak batasan dominasi pria dalam dunia balap mobil, demikian premis dari karya debut sutradara Amber Fares ini. Sebagai tim balap perempuan pertama di Timur Tengah, Marah, Noor, Monda, dan Betty tidak hanya berhadapan dengan masalah klasik di dunia balapan seperti dana, strategi, kompetisi, dan drama ricuh di sirkuit yang panas, mereka juga berhadapan dengan peran gender, politik, sosial, agama, dan intervensi militer tanpa akhir di daerah West Bank yang diduduki tentara Israel. Tak hanya memaparkan konflik Israel-Palestina dengan sudut pandang yang berbeda, Speed Sisters juga menampilkan emansipasi wanita di sirkuit balap yang penuh adrenaline rush, di mana balapan membuka dunia baru bagi keempat wanita tersebut tanpa kehilangan feminitas mereka.

ALL THINGS MUST PASS: THE RISE AND FALL OF TOWER RECORDS

Dokumenter karya Colin Hanks (aktor dan putra dari Tom Hanks) ini bercerita tentang sejarah Tower Records, sebuah destinasi wajib bagi para pencinta musik dari tahun 1960 sampai akhirnya gulung tikar di tahun 2006. Dengan motto “No Music. No Life”, di masa kejayaannya, Tower Records tidak sekadar record store, tapi juga tempat hangout para musisi terkenal seperti Elton John dan Bruce Springstein yang asik menyusuri rak-rak album di dalamnya, antrean fans untuk mendapatkan album terbaru musisi favorit mereka, dan para karyawan yang berpesta sampai larut malam dengan iringan musik-musik paling keren. Tidak hanya bercerita soal sejarah Tower Records, dokumenter ini juga mengungkap sejarah musik dalam 50 tahun terakhir ini lewat interview dan anekdot dari sang pendiri Russ Solomon dan jajaran karyawannya, termasuk mantan karyawan seperti Dave Grohl yang pernah menjadi penjaga tokonya.

DO I SOUND GAY?

Setelah hubungan asmara yang kandas, David Thorpe sebagai seorang pria gay berumur 40-an mengalami krisis identitas dan kehilangan percaya diri. Bagaimana ia mengatasinya? Dengan melakukan riset untuk mengungkap misteri “gay voice” yang merujuk pada stereotipe jika seorang pria bisa dianggap gay berdasarkan cara berbicara dan vokal mereka yang terdengar “feminin”. Perpaduan otobiografi dan dokumenter, film ini menyoal vokal gay dalam konteks sosial, psikologis, dan linguistik dengan cara yang menghibur dan informatif lewat riset ekstensif David dengan ahli sejarah (ada sebuah artikel dari koran abad ke-18 yang mengolok para pria yang memiliki vokal feminin), pelatih vokal, ahli linguistik, obrolan dengan narasumber seperti komedian Margaret Cho, penulis David Sedaris, Tim Gunn, Dan Savage, George Takei, hingga cerita para remaja yang di-bully di sekolah hanya karena terdengar “gay”, yang tidak selalu benar, karena di dokumenter ini kita akan melihat pria bersuara feminin yang ternyata straight dan pria gay dengan pembawaan maskulin. Afterall, it’s just an effing stereotype.

WOMEN HE’S UNDRESSED

Dokumenter tentang perancang busana mungkin sudah tidak asing, namun bagaimana dengan para costume designer di balik film-film ikonik? Film garapan Gillian Armstrong ini adalah salah satunya. Bercerita soal karier Orry Kelly yang dijuluki sebagai salah satu perancang kostum terbaik sepanjang masa, pria asal Australia tersebut telah terlibat dalam 285 judul di era keemasan Hollywood dan mengantungi tiga Piala Oscar berkat kepiawaiannya di bidang kostum. Beberapa portofolionya yang paling terkenal adalah Marilyn Monroe di Some Like It Hot, Nina Foch di An American in Paris, dan Ingrid Bergman di Casablanca. Tak hanya interview bersama para perancang kostum kontemporer seperti Catehrine Martin, Annd Roth, dan Kym Barrett, film ini juga menampilkan interview bersama Jane Fonda, Angela Lansbury, dan para Hollywood insiders dengan salah satu topik menyoal hubungan asmara rahasia antara Orry Kelly dengan salah satu bintang pria Hollywood terkenal di era di mana topik itu masih sangat kontroversial.

BREAKING A MONSTER

Rockumentary berdurasi 92 menit karya Luke Meyer ini mengungkap perjalanan karier band Unlocking The Truth, sebuah trio anak kulit hitam asal Brooklyn berumur 13 tahun yang terdiri dari bassist Alec Atkins, gitaris Malcolm Brickhouse, dan drummer Jarad Dawkins yang popularitasnya bermula dari video-video viral berisi aksi mereka membawakan heavy metal di jalanan New York City yang lantas menarik perhatian produser musik Alan Sacks. Dengan kontrak rekaman bersama Sony Music, tur US ke festival-festival bergengsi tanpa rilisan resmi apapun, cerita mereka memang seperti dream come true. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Jalan menuju ketenaran yang telah mereka idamkan sejak kecil juga dipenuhi dengan rapat bisnis bersama para eksekutif industri rekaman, ego clash, dan sisi rebel khas ABG dalam perjalanan penuh ambisi, realita, dan rock and roll.

Film Strip: Filosofi Kopi the Movie

FilKopIt’s not rocket science, it’s just coffee.”

Begitu yang melintas di kepala saya setiap melihat para pencinta kopi yang dengan sangat antusias membicarakan soal rasa biji-biji kopi dari berbagai negara, teknik membuat kopi, sejarah kopi, dan hal-hal lain yang beraroma kopi. Saya bisa mengerti its about passion, namun kopi bagi saya hanya sebuah minuman, yang sayangnya tidak bisa saya nikmati. Saya telah mencicipi beberapa macam kopi dalam hidup saya, obviously, namun tidak pernah mengerti apa yang membuat kopi tertentu dianggap lebih hebat dari kopi lainnya. Yang saya rasakan hanya rasa pahit dan jantung berdebar (yup, it’s turn out that my body couldn’t handle caffeine). So, saya dan kopi memang seperti tidak ditakdirkan untuk berjodoh, which is a shame, karena saya hidup di tengah coffee culture yang sedang harum-harumnya saat ini.
Mungkin ungkapan di atas muncul tanpa sadar, karena sebagai “outsider”, saya tak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa begitu passionate dalam soal kopi dan universe di dalamnya. Namun, kini saya punya sedikit celah untuk mencoba memahami filosofi di balik kopi. Celah itu bernama Filosofi Kopi, sebuah film yang diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Dee Lestari. Diproduksi oleh Visinema Pictures dan Kopi Torabika, film ini disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang baru saja meraih penghargaan Film Terbaik di FFI 2014 untuk filmnya Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, sebuah film yang juga menjadi breakthrough career untuk Chicco Jerikho dalam dunia akting dan menganugerahinya Pemeran Utama Pria Terbaik di ajang yang sama.
Maka tak heran jika Angga kembali menggandeng Chicco untuk menjadi salah satu pemeran utama di film terbarunya ini lewat peran Ben, seorang barista di coffee shop bernama Filosofi Kopi yang dirintis bersama sahabatnya sejak kecil, Jody (Rio Dewanto). Bila diibaratkan, Jody adalah kepala yang harus memikirkan bagaimana kedai kopinya bisa terus survive dan beroperasi secara finansial, sementara Ben adalah hati yang membawa nyawa di Filosofi Kopi dengan passion obsesifnya terhadap kopi (“Gue gak pernah bercanda soal kopi” menjadi semacam tagline bagi barista yang percaya setiap jenis kopi memiliki filosofinya tersendiri itu). Kedua sahabat karib yang sudah seperti kakak-adik itu tengah mengalami masalah pelik. Almarhum ayah Jody yang juga membesarkan Ben dari kecil meninggalkan hutang sebanyak 800 juta dan debt collector yang mengintai. Di tengah keadaan yang nyaris putus asa, peluang emas jatuh dari langit ketika seorang pengusaha dan asistennya yang cantik (Tara Basro) datang ke Filosofi Kopi dengan satu tantangan: meracik kopi yang bisa membuat si pengusaha memenangkan tender dari kliennya yang merupakan pencinta berat kopi. Walaupun awalnya hanya menanggapi setengah hati, atas desakan Jody, Ben pun bersedia ikut dalam tantangan itu demi Filosofi Kopi. Ia mulai bereksperimen dengan berbagai macam biji kopi dan teknik pembuatannya, hingga lahirlah Perfecto, sebuah kopi yang kemudian menjadi signature coffee di Filosofi Kopi dan disebut sebagai kopi paling enak di Jakarta, bahkan di Indonesia.

FIlKopiSemuanya terasa melegakan, sampai akhirnya datanglah El (Julie Estelle), seorang Q Grader bersertifikat internasional yang sedang menulis buku tentang kopi di Indonesia. Kepercayaan diri dan gengsi Ben sebagai seorang barista goyah ketika El secara innocent berkata jika masih ada yang lebih enak dari Perfecto buatannya. Kopi Tiwus yang dimaksud El adalah kopi yang diracik secara sederhana di kebun kopi milik Pak Seno (Slamet Rahardjo) dan Bu Seno (Jajang C. Noer), yang kemudian menjadi pilihan terakhir bagi semua permasalahan di Filosofi Kopi sekaligus menjadi jawaban untuk pertanyaan dan trauma masa kecil yang dicoba untuk dikubur dalam-dalam.
Dengan durasi yang cukup lama (117 menit), film ini untungnya tidak terasa membosankan. Chemistry di antara pemain, khususnya Rio dan Chicco membuat keduanya terlihat seperti sahabat yang memang telah berteman sejak kecil. Begitupun dengan peran-peran kecil seperti Joko Anwar sebagai debt collector dan Tara Basro (kita seakan melihat teaser dari film terbaru Joko yang dibintangi Chicco dan Tara). Angga sebagai sutradara tak lupa menyajikan visual khasnya yang indah, tak hanya berupa lanskap pemandangan yang diiringi soundtrack yang menarik, tapi juga, close up pada proses pembuatan kopi yang seakan membuat kita bisa turut merasakan panasnya uap dan harumnya biji kopi yang sedang dimasak. Secara alur, semua jawaban akan pertanyaan yang muncul di benak penonton bisa dijawab tanpa tergesa. Pun beberapa adegan yang sukses memancing air mata saya untuk keluar, bisa dipaparkan tanpa dramatisasi berlebihan. Saya jujur saja, belum pernah membaca cerpen aslinya, sehingga saya datang menonton tanpa membawa ekspektasi apapun dan tak mengetahui sejauh apa adaptasi yang ditulis oleh Jenny Jusuf sebagai penulis skenario film ini. Namun di penghujung hari, Filosofi Kopi terasa seperti menyesap sesuatu yang hangat dan menimbulkan kerinduan akan sosok keluarga, selayaknya kopi itu sendiri.

Apakah setelah menonton film ini saya akan mencoba meminum kopi lagi? Well maybe. Tapi untuk sekarang saya hanya ingin menyimpulkan:

For some people, its not just about coffee, its a way of life.”

On The Records: Agustin Oendari

Agustin Oendari

Agustin Oendari merangkum esensi penuh rasa dari Jakarta kala malam.

“Oendari adalah gadis Virgo asal Jakarta, dari lahir sampai umur awal dua puluhan tinggal di kota yang sama, di lingkungan yang sama, dalam rumah yang sama, sampai akhirnya memutuskan untuk mandiri, pindah ke pinggir barat ibukota, ke sebuah kawasan mandiri bernama Karawaci. Gadis yang berkacamata sejak SD ini nggak suka panas tapi juga nggak bisa kedinginan, nggak suka pedes tapi doyan nasi padang, nggak suka bau durian tapi toleran sama aroma pepaya, nggak suka berantakan tapi mobilnya kayak kapal pecah, takut minum obat yang pahit tapi suka kopi hitam tanpa gula. Rumit ya. Iya, memang,” tandas Agustin Oendari dengan gamblang saat mendeskripsikan dirinya sendiri dari sudut pandang orang ketiga.
Nama singer-songwriter berusia 25 tahun ini mungkin masih asing bagi kalangan umum. Kariernya memang lebih banyak di belakang layar dengan menjadi manajer band, vokalis latar, mengurus kontrak kerja sama produksi atau men-direct program sebuah studio musik di bilangan Karawaci yang bernama Roemah Iponk. Namanya menarik perhatian saya semenjak saya menonton film Selamat Pagi, Malam garapan Lucky Kuswandi yang tayang pada bulan Juni lalu. Film tersebut menceritakan satu malam di hidup tiga orang perempuan Jakarta (Adinia Wirasti, Ina Panggabean, dan Dayu Wijanto) yang kerap bersinggungan satu sama lain tanpa mereka sadari. Diwarnai dengan berbagai scene Jakarta di malam hari yang ramai benderang tapi juga sepi dan muram serta dialog yang akan mengusik pikiran warga Jakarta, film ini diperkuat oleh lagu tema berjudul sama yang digarap oleh Oendari dan rekan bermusiknya, Ivan Gojaya.
Musik akustik yang tenang dengan vokal lirih Oendari yang seakan berbisik itu terlihat kontras saat melatari scene gedung-gedung perkantoran, jalanan padat, dan lalu-lalang penduduk Jakarta yang sibuk dengan urusan masing-masing, menciptakan jukstaposisi bagaimana Jakarta bisa membuat kita bisa merasa begitu kesepian di tengah keramaian. Bagaimana kita setengah mati mencari kedamaian di antara bising yang mengepung kita. Oendari menerjemahkan esensi Jakarta yang ingin diceritakan oleh sang sutradara ke dalam sebuah balada akustik dengan melodi dan lirik yang bittersweet. Saya pun tergerak untuk mengenalnya lebih jauh lewat sepucuk surat elektronik.

Hi Oendari! Apa kabar? Lagi apa sebelum balas email ini?
Hai, Alex. Aku baik-baik, sehat-sehat, bahagia. Sejujurnya, (walaupun udah siang) aku belum lama bangun, setelah semalaman begadang karena ada yang harus dikerjakan. Sebelum balas email ini, Aku baru sarapan: home-made scrambled egg with button mushroom, pakai selembar toast, dan beberapa butir cherry tomatoes; gak lupa kopi hitam (kalau gak pake kopi hitam, pasti hari ini rasanya malah jadi muram).
Oh ya, jangan tanya apa aku yang masak semua benda-benda itu, karena jelas bukan aku. Haha. Peranku di dapur sementara ini cuma sampai di tahap chef-assistant, sekadar doing the cooking preps. Tangannya belum cukup dingin untuk mengerjakan masakan-masakan, bahkan yang sesederhana sarapan tadi. Hihi.

Bermusik sendiri sejak kapan? Dan apa yang mendorongmu?
Dulu, waktu masih berumur kira-kira tiga tahun, aku suka banget ngomong sendiri, teriak-teriak, dan nyanyi-nyanyi di depan cermin. Melihat itu, Mama lah yang pertama punya inisiatif untuk memasukkan aku ke dalam komunitas paduan suara gereja, yang akhirnya menjadi semacam rumah kedua selama tujuh belas tahun berikutnya. Ketertarikanku terhadap menyanyi makin berkembang ketika aku mulai tergabung di dalam band, pada masa-masa SMP sampai kuliah. Di dalam komunitas-komunitas itu, aku menemukan bahwa aku betul-betul menikmati menyanyi, bahwa menyanyi bisa sewaktu-waktu melepaskan aku dari dunia nyata, bahwa menyanyi membuat aku tetap waras menghadapi hari-hari sulit.
Seiring dengan latihan vokal yang aku jalani sejak kecil, aku juga dimotivasi oleh Mama untuk belajar instrumen musik. Dua instrumen yang pernah aku kenal seumur hidupku adalah piano – instrumen yang aku pelajari selama kurang lebih tiga tahun melalui kursus privat, tapi kemudian aku berhenti di tengah jalan karena, berdasarkan yang aku ingat, di rumah guru lesnya ada anjing galak – dan gitar – instrumen yang sebetulnya aku nikmati selama kurang lebih lima tahun, tapi apa daya, sejak kuliah dengan jadwal sebegitu padat, instrumen ini sudah tidak aku kenal lagi sekarang –. Namun, setelah mengenal dua instrumen itu pun, aku tetap lebih tertarik menyanyi (walaupun sebetulnya membantu sekali lho, menyanyi plus juga bisa memainkan alat musik). Sekarang ini, aku menyentuh piano cuma kalau lagi bosen atau lagi membuat draft lagu. Itu pun jarang banget. Jadi, sementara ini, my instrument’s only in my mind, my body, my spirit: my voice. Hehehe.

Kalau influens bermusikmu siapa saja?
Soal influence, banyak banget dan multigenre sih, sebetulnya. Waktu kecil, ada beberapa musisi yang kasetnya harus banget ada di rumah dan didengerin hampir setiap hari, antara lain David Foster, Earth, Wind, & Fire, Chicago, The Carpenters apa lagi ya. Kadang-kadang, kalau Papa lagi pingin dengerin yang lebih lawas, berkumandang jugalah Jim Reeves, Elvis, Sinatra. Aduh. Apa lagi ya. Banyak sih. Bertumbuh remaja sampai dewasa, aku mulai mengenal Norah Jones, Cranberries, Nelly Furtado, Alanis Morissette, No Doubt, Eminem, Linkin Park, Evanescence, lalu muncul Keane, John Legend, John Mayer, Corinne Bailey Rae, Amy Winehouse, Mara Carlyle, Ingrid Michaelson, Sara Bareilles, Fleetfoxes, The Paper Kites, High Highs, Kimbra. Banyak dan multigenre kan.
Gak berarti aku gak suka musik Indonesia, justru beberapa tahun belakangan lagi kepincut banget dengerin Payung Teduh, Sore, dan White Shoes & The Couples Company. Tapi, yang gak pernah gagal memesona aku sampai sekarang adalah Eyang Titiek Puspa dan Alm. Chrisye.

Aku jujur saja baru dengar nama kamu pas di film Selamat Pagi, Malam ini, bagaimana ceritanya sampai bisa terlibat di project ini?
Nah, Selamat Pagi, Malam ini memang proyek film pertama yang aku kerjakan. Sebelumnya, aku lebih banyak di belakang layar: nyambi juga jadi manajer band, ngurusin kontrak kerja sama produksi atau direct program studio, semuncul-munculnya aku di depan khalayak paling sebagai background vocalist doang.
Jadi, sebetulnya, keterlibatan aku di dalam proyek film Selamat Pagi, Malam itu rasanya semacam kebetulan banget (meskipun gak ada yang kebetulan ya di dunia ini, hehe). Nah, kalau diceritain di sini, bakal jadi panjang banget. Kalau kamu berkenan, aku menyarankan kamu untuk membaca tulisan mengenai ini di petikanbulan.com, ada empat post yang nempel di halaman pertama mengenai ini. Sudah lengkap di situ semua, Lex.

What’s the inspiration untuk liriknya? Aku suka karena musiknya benar-benar mewakili rasa Jakarta di malam hari sepulang kantor.
Ketika menuliskan lirik “Selamat Pagi, Malam”, inspirasi terbesar datang dari filmnya sendiri. Toh, bagaimanapun, lirik lagu ini kan mesti erat hubungannya dengan si film. Jadi, memang, ketika itu, bahan diskusi-diskusi (dengan Ivan Gojaya, yang menciptakan musik untuk lagu ini) selama pra-produksi lebih banyak mengenai filmnya sendiri.
Buat aku, hal paling inspirasional dari filmnya sendiri adalah cara Lucky Kuswandi menampilkan bagaimana setiap aktor membuka topengnya masing-masing ketika satu malam turun di Jakarta: sangat jujur, sangat berani, dan sangat manusiawi. Ketika nonton filmnya, aku langsung berpikir, “Oh, betapa manusia Jakarta: hidup beramai-ramai dalam kesendirian masing-masing. Tapi, di film ini, peran-peran ini, hanya pada satu malam saja menemukan ruang kosong dan saling berbagi kesendirian di situ. Meski cuma buat satu malam itu aja. Besoknya, mungkin mereka kembali pada topeng-topeng sepinya masing-masing. Gak ada yang tahu.” Betapa, meskipun nyata, buat aku, itu rasanya sedih dan tragis. Nah. Rasa sedih dan tragis ini sebetulnya yang melandasi penulisan lirik “Selamat Pagi, Malam”.

Kalau Oendari sendiri melihat hidup di Jakarta itu seperti apa?
Hidup di Jakarta itu ibarat pacaran lama sama orang yang kita betul-betul cinta. Cinta sih, tapi karena terbiasa dan sudah lama bareng, jadi gak sungkan lagi saling menyakiti satu sama lain. Tapi, kalo yang satu pergi dari yang lain, rindu tetap ada.
Yang paling aku rindu dari Jakarta adalah memorinya. aku kurang lebih dua puluh tahun hidup di Jakarta, sebelum pindah ke pinggir kota. Banyak kenangan di berbagai sudut-sudut Jakarta: yang baik ataupun yang buruk, semuanya dari itu membentuk aku jadi aku yang sekarang. Kaya yang Anggia bilang di dalam film, ketika merenungkan masa-masa yang lewat di tempat-tempat yang pernah kita lalui di Jakarta, pada akhirnya Aku bisa bilang: life was so carefree – no heartbreak – no drama. Itu rasa yang ngangenin.

 Bicara soundtrack film, kamu paling suka OST film apa? What makes a good soundtrack?
What makes a good soundtrack. Hmmm. Good question. Hopefully, this won’t be a bad answer. Hahaha. Based on my first experience in SPM dan sebagai penikmat musik film aja yah, Lex. Buat aku, dalam membuat soundtrack, hal terpenting yang mesti aku ingat adalah: aku harus bertanggung jawab terhadap filmnya; aku harus bertanggung jawab (plus, super jujur) terhadap hatiku dan pikiranku sebagai penikmat filmnya; dan aku harus bertanggung jawab terhadap kata-kata dan melodi yang akan aku nyanyikan.
Soundtrack favorit yang keinget sampai sekarang: Landon Pigg & Lucy Schwartz – Darling, I Do. Kalau gak salah, itu soundtrack-nya Shrek, entah yang keberapa. Kenapa? Simply, it’s romantic.

Next project apa saja?
Hmmm. Next project. Setelah ini, sudah ada rencana rilis karya baru. Masih dengan format dan tema yang kurang lebih sama dengan karya untuk film Selamat Pagi, Malam. Doakan segera muncul titik-titik terang ya untuk ini.

http://petikanbulan.com/

Foto oleh Teddy Setiadjie

Film Strip: Drupadi, Sebuah Penantian Yang Terjawab

Drupadi Poster

Tak hanya dendam dan rindu, keinginan untuk menyaksikan sebuah film pun harus dibayar tuntas, tak peduli selama apa harus menunggu.

Full disclosure: ini adalah review yang terlambat hampir enam tahun. Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduksi oleh SinemArt Pictures, Drupadi sejatinya adalah film yang dirilis pada bulan Desember 2008 silam. Bergenre Art House serta kental elemen visual dan musikal, film ini ibarat sebuah mitos tersendiri bagi kalangan penikmat film lokal sejak pertama kali ditayangkan di Jiffest 2008. Ramai dibicarakan, namun di saat yang sama sulit untuk diakses khalayak yang lebih luas karena tak pernah ditayangkan di bioskop umum dan seakan menjadi film khusus festival dan special screening saja. Saya termasuk orang yang belum pernah menonton film ini dan mencatatnya ke dalam daftar must watch movies pribadi saya, dan akhirnya keinginan tersebut tertebus kemarin (05/10) di sebuah screening yang diadakan oleh Muvila.com di Galeri Indonesia Kaya, di mana film ini menjadi film penutup dalam rangkaian pemutaran film garapan Miles Production seperti Gie dan Ada Apa Dengan Cinta? selama dua hari sebelumnya.

Bicara tentang Drupadi, berarti bicara tentang Dian Sastrowardoyo. Namanya lekat menempel dalam screen title film ini dan memang poros utama Drupadi terletak pada sosok aktris sejuta pesona tersebut yang menjadi salah satu produser bersama dua produser lainnya, yaitu Mira Lesmana dan Wisnu Darmawan, sekaligus peran utama sebagai the eponymous Drupadi dari epos Mahabharata.
Bila hikayat klasik yang berasal dari India tersebut umumnya berfokus pada konflik antara keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa, maka adaptasi ini dibesut dari sudut pandang Drupadi, seorang putri Kerajaan Panchala yang terlahir dari api, menjadi istri para Pandawa dan secara tak langsung menjadi penyebab Perang Bharatayuddha. Dibagi dalam beberapa babak layaknya pertunjukan wayang, kita diperkenalkan bagaimana Drupadi menjadi sebuah hadiah dalam sebuah sayembara untuk mencari pendamping hidup untuknya.

D1-drupadi-25-c

Dalam sayembara memanah yang diikuti oleh para ksatria terbaik tersebut, terselip Arjuna (Nicholas Saputra), salah seorang Pandawa yang menyamar dalam balutan jubah Brahmana. Anak panahnya tepat sasaran mengenai bunga lotus di atas permukaan kolam yang menyebabkan kelopaknya pecah menjadi lima. Seolah mewakili jika Pandawa sesungguhnya adalah lima kakak beradik dan menepati janji kepada ibunda mereka, Dewi Kunti, apapun yang dimiliki seorang Pandawa otomatis menjad milik empat Pandawa lainnya, tak terkecuali Drupadi yang kemudian menjadi istri bagi kelima Pandawa sekaligus: Yudhistira (Dwi Sasono) putra sulung yang ditakdirkan menjadi raja di antara raja, Bhima (Ario Bayu) yang kuat dan emosional seperti raksasa namun memiliki hati yang lembut, Arjuna yang luar biasa tampan dan menjadi cinta sejati Drupadi, dan si kembar Nakula dan Sadewa (Aditya Bagus Santosa dan Aditya Bagus Sambada). Drupadi menjalani perannya sebagai istri untuk lima pria sekaligus dengan penuh khidmat dan semua baik-baik saja sampai akhirnya datang undangan oleh keluarga Kurawa, sepupu sedarah yang selalu dengki pada para Pandawa.

Yudhistira sebagai pemimpin memutuskan untuk menyambut undangan tersebut walau sudah diperingati oleh adik-adiknya dan Drupadi. Maka, berangkatlah rombongan Pandawa ke istana kediaman Kurawa demi menanggapi permainan dadu penuh muslihat yang dipimpin oleh Sakuni (Butet Kertaradjasa), paman mereka yang licik dan licin. Dadu yang terbuat dari tulang manusia tersebut menjadi petaka. Satu per satu milik Yudhistira dipertaruhkan di atas meja judi. Harta, tahta, dan bahkan jiwa adik-adiknya serta dirinya sendiri. Semua jatuh menjadi milik Suyudana (Whani Darmawan), hingga akhirnya Yudhistira hanya punya satu pertaruhan terakhir: Drupadi. Its all or nothing, and he gains nothing.

drupadi021
Drupadi pun diseret secara kasar oleh Dursasana (Djarot Dharsana) bagai seekor kuda dan dipermalukan di istana yang terhormat tersebut, sementara kelima suaminya serta para tetua yang ia hormati hanya bisa terdiam. Di antara rasa malu, marah, dan frustrasi, Drupadi berontak dan berteriak lantang memperjuangkan harkatnya sendiri sebagai seorang wanita yang dipertaruhkan oleh suaminya sendiri di meja judi. Ia mempertanyakan apakah Yudhistira yang bahkan sudah menggadaikan dirinya sendiri masih mempunyai hak atas Drupadi. Lolongan Drupadi memecah malam dan di tengah kegentingan saat hendak ditelanjangi oleh para Kurawa, keajaiban muncul. Kain yang membelit tubuhnya secara ajaib seakan tak pernah habis hingga akhirnya para Kurawa kelelahan.
Drupadi terhindar dari noda, namun ia masih memendam dendam seperti api. Ia bersumpah, ia tidak akan mengikat rambutnya sampai bisa membilas rambutnya dengan darah dari para orang yang telah menginjak kehormatannya. Film pun ditutup dengan visualisasi pertempuran penuh darah selama 18 hari antara para Pandawa dan Kurawa.

Drup
Setelah 6 tahun menunggu, is it worth the wait? Jawabannya adalah iya. Durasi film ini hanya 40 menit, yang cukup “nanggung” karena terlalu panjang untuk disebut film pendek, pun terasa terlalu singkat untuk menjadi film feature. Namun saya menikmati sekali setiap momen dalam film ini. Baik dari visual, cerita, maupun musik. Tim yang terlibat dalam film ini bisa dibilang sebagai dream team. Riri Riza di bangku sutradara dan penata kamera Gunnar Nimpuno menyajikan bahasa visual dan directing yang luar biasa indah yang diperkuat costume design dan styling jenius oleh Chitra Subijakto serta musik gamelan yang ditata oleh Djaduk Ferianto. Sementara Leila Chudori sebagai penulis naskah berhasil mengadaptasi hikayat kuno ini dalam konteks perempuan lintas zaman. Drupadi adalah sosok perempuan yang terjebak dalam konstelasi politik yang didominasi para pria dan di masa perempuan seringkali dianggap hanya sebagai komoditas dan objek. Ia berani bersuara menyerukan protes kepada suami dan tetua adat, dan ia mungkin salah satu dari sedikit sosok wanita berpoliandri yang dicatat sejarah. Semua cast tampil gemilang, tak terkecuali para ekstra di keluarga Kurawa yang semuanya merupakan penari dari padepokan seni Bagong Kussudiardja.

Dian Sastro yang turut hadir menonton dalam screening kemarin pun mengaku sangat antusias dan jauh lebih menikmati film ini dengan kapasitas seorang penonton. Jauh berbeda saat ia merilis film ini 6 tahun lalu dengan beban tersendiri sebagai produser dan pertarungannya dengan para “kurawa” di dunia nyata seperti FPI dan konflik antara FFI dan MFI. Film ini sendiri juga sempat kena cekal oleh World Hindu Youth Organization (WHYO) yang membuat film ini sulit diputar secara umum pada waktu itu. Dalam diskusi mini setelah screening, Dian yang sudah menjadi ibu dari dua orang anak dengan gaya berbicaranya yang penuh semangat menceritakan bagaimana ide film ini muncul setelah ia terlibat syuting film epik Putri Gunung Ledang garapan Malaysia dan merasa terbakar semangatnya untuk mengangkat cerita legenda Indonesia yang sebetulnya jauh lebih beragam. Dalam behind the scenes film ini yang juga ditayangkan kita bisa melihat bagaimana Dian 6 tahun lalu adalah gadis jurusan Filsafat yang sangat kritis dan dengan berapi-api mengajak para perempuan untuk berpikir cerdas dan membela diri mereka sendiri. Mungkin melihat dirinya yang dulu di video tersebut, Dian yang sekarang pun mengaku timbul semangat baru dalam dirinya. Ia membocorkan rencana merilis Drupadi dalam bentuk DVD dan dengan setengah bercanda menyampaikan harapannya untuk kembali menjadi produser. Bagaimanapun, dunia film adalah dunia yang membesarkan namanya, dan selalu ada tempat tersendiri bagi Dian di hati penikmat film Indonesia, entah sebagai aktris maupun produser.

Dilihat dari banyaknya review positif dan orang-orang yang menulis tentang film ini setelah menyaksikannya kemarin, Drupadi seolah bangkit kembali dari tidur panjang. Seperti api, ia berkobar kembali. Dan kita pun berharap, ambisi produser dalam diri Dian juga akan segera kembali terbakar.

Film Strip: Tabula Rasa

“Makanan adalah iktikad baik untuk bertemu.”

Rasanya memang cukup mengherankan jika Indonesia yang terkenal dengan kekayaan kulinernya yang sangat beragam dari Sabang sampai Merauke ternyata belum memiliki film yang benar-benar mengangkat kuliner lokal sebagai menu utamanya, terutama ketika rendang sebagai salah satu menu ikonik Indonesia dinobatkan menjadi santapan terenak di dunia versi CNN. Berangkat dari kesadaran itu, LifeLike Pictures memproduksi film ketiganya yang bertajuk Tabula Rasa.

Disutradarai oleh Adriyanto Dewo dan naskah oleh Tumpal Tampubolon, film ini bercerita tentang Hans (Jimmy Kobogau), seorang bintang sepakbola muda di Serui, Papua yang berangkat ke Jakarta hanya untuk mengalami nasib yang tak secemerlang bakatnya. Dengan kaki patah dan mimpi yang remuk, ia terdampar menjadi gelandangan dan dihantui keinginan bunuh diri sebelum akhirnya bertemu dengan Mak (Dewi Irawan), seorang pemilik rumah makan (lapau) Padang sederhana. Tak tega melihat Hans terkapar dengan kepala terluka di atas jembatan, Mak dan anak buahnya, Natsir (Ozzol Ramdan) membawa Hans ke lapaunya dan menyuguhkannya semangkuk gulai kepala kakap dan nasi hangat yang membangkitkan kenangan akan rumah dan semangat hidup di diri Hans. Selang beberapa hari dan interaksi, Hans menjadi sebuah fixture tersendiri di rumah makan tersebut. Ia membantu Mak apa saja yang bisa ia lakukan dan mulai membuka dirinya.

Kehadiran Hans mendapat tentangan dari Parmanto (Yayu Unru) yang tidak setuju untuk menambah pengeluaran di saat rumah makan mereka sedang dalam kondisi sepi pengunjung, belum lagi ketika sebuah franchise restoran Padang besar membuka cabangnya tepat di seberang mereka. Konflik pun memanas dan berakhir dengan keputusan Parmanto untuk meninggalkan rumah makan itu, meninggalkan Mak kebingungan sebelum akhirnya mengajak Hans ikut turun tangan membantu di dapur. Interaksi keduanya terjalin hangat di antara bumbu rempah dan kebulan asap dapur. Faktanya, keduanya sama-sama perantau. Bila Hans datang untuk mengadu nasib sebagai pemain sepakbola, Mak mengungsi ke Jawa setelah kampungnya hancur dilibas gempa yang juga menewaskan putra semata wayangnya. Keduanya seolah menemukan sisi yang hilang dalam hidup. Gulai kepala kakap di awal cerita yang merupakan menu favorit almarhum putranya menjadi kunci memori tersendiri. Bagi Mak, memasak gulai kepala kakap adalah sebuah ziarah, namun pada akhirnya ia tergerak untuk mewariskan resep gulai kepala kakap terhadap Hans dan menu itu pula yang menjadi instrumen vital untuk meluruskan segala konflik di film ini.

kepala kakap
Disajikan dengan alur sederhana, permasalahan yang manusiawi, dan pemain inti hanya berjumlah 4 orang yang tampil dengan sangat baik, film ini terasa intim dan relatable bagi siapa saja yang pernah jauh dari rumah. Ada satu adegan yang membuat saya sampai ikut menitikkan air mata karena teringat nasi hangat dan menu sederhana buatan ibu di rumah, but don’t get me wrong, tak ada drama yang dibuat berlebihan dalam film ini. Begitu pun dengan interaksi antara Mak dan Hans di mana keduanya berasal dari dua kultur dengan stereotype masing-masing, ucapan Mak tentang tak butuh alasan untuk menolong orang lain dan makanan hangat sebagai salah satu bentuk perhatian yang paling primal, film ini berhasil menyinggung isu Bhinneka Tunggal Ika tanpa kesan menggurui dan mencerminkan judul film ini sendiri yang dalam bahasa Latin mengacu pada “Kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru tanpa prasangka.”

Hal menarik lain dari film ini adalah pemakaian kamera ARRI Alexa XT Plus yang juga dipakai dalam film Life of Pi dan Guardians of the Galaxy yang secara sangat jernih menangkap warna-warni menarik dari lanskap Indonesia Timur dan adegan memasak di dapur di mana merahnya cabai, kepulan asap, dan daging-daging yang dimasak terasa begitu vivid dan membuat saya terpaksa menelan ludah dan mengidamkan masakan Padang sepanjang film ini. Keindahan visual itu dilengkapi music score yang dengan jenial memadukan lagu-lagu Indonesia klasik dari Ernie Djohan dan Orkes Tropicana Medan, lagu kontemporer dari Dialog Dini Hari, dan original score yang memakai instrumen tradisional seperti talempong, saluang, dan tifa yang menegaskan rasa otentik film ini.

Terlepas dari beberapa plot holes dan kekurangan yang mungkin ada, (contohnya: saya berharap ada adegan Mak menjelaskan sekelumit cerita di balik menu masakan Padang dan kultur tersendiri dalam sebuah rumah makan Padang), Tabula Rasa adalah sebuah film yang dibuat dengan hati dan disajikan dengan hangat.

tabulaa

Tabula Rasa dirilis di bioskop tanggal 25 September 2014.

Film Strip: Geliat Tiga Film Festival Indonesia

Baru-baru ini saya berkesempatan untuk menonton tiga film kelas festival Indonesia yang berjaya di festival-festival film luar negeri namun masih minim rekognisi dari negeri sendiri. Here’s my two cents about those three movies.

SWONSHB

SOMEONE’S WIFE IN THE BOAT OF SOMEONE’S HUSBAND
Sutradara: Edwin

Berbicara film-film Edwin, berarti bicara tentang film sebagai medium berpuisi. Puisi berbahasa visual yang membuai mata penonton sekaligus memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mengartikannya sesuai nalar masing-masing. Dalam film panjang terbarunya, Someone’s Wives In The Boat of Someone’s Husband, Edwin menggunakan insting sebagai instrumen utamanya bernarasi di samping kejelian matanya untuk menangkap visual-visual cantik sarat makna.
Tanpa naskah, tanpa survei lokasi pra-syuting, tanpa apapun selain niat bikin film, Edwin dan tim kecilnya yang meliputi Nicholas Saputra dan Mariana Renata datang ke Desa Sawai di Pulau Seram, Maluku, dengan berbekal sekelumit ide cerita hasil interpretasi dari cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Cinta di Atas Perahu Cadik. Di film ini, Mariana adalah seorang perempuan yang datang ke Sawai untuk melacak sebuah legenda tentang kisah cinta terlarang Sukab dan Halimah. Sukab adalah seorang pelaut. Dia juga suami orang. Halimah pun istri orang. Namun, keduanya nekat pergi naik perahu bersama dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Dengan gigih, Mariana bertanya soal kebenaran legenda itu kepada para penduduk lokal Sawai yang tentu saja tidak pernah mendengar legenda yang sebetulnya memang tidak pernah benar-benar terjadi di daerah itu.
Di sudut lain pulau tersebut, ada seorang pria muda yang diperankan Nico yang juga gemar mendengarkan hikayat para penduduk lokal. Sama seperti sang perempuan, pria ini juga seorang pendatang. Jelas hanya masalah waktu sebelum keduanya berpapasan. Ketika itu terjadi dalam suatu pagi yang canggung, terungkap jika sang pria bernama Sukab, persis seperti legenda yang dibawa oleh sang perempuan yang tidak pernah kita kenal namanya. Sukab yang tertarik pada cerita yang dibawa sang perempuan akhirnya ikut menemaninya mencari jejak-jejak imajiner Sukab dan Halimah dalam rentetan dialog tentang pencarian dan gambar-gambar cantik panorama Sawai yang membingkai film berdurasi 55 menit ini.
Banyak adegan dalam film minim skenario ini terjadi secara spontan dengan mengandalkan stimulasi dari percakapan dengan penduduk lokal dan alam Sawai yang memang menginspirasi sehingga Edwin bisa dibilang sedang melakukan pertaruhan kepada isi cerita film ini sendiri. Sebagai film panjang, film ini pada akhirnya memang lebih terasa seperti kolase adegan-adegan puitis yang membiarkan interpretasi kita terombang-ambing dengan bebas. Namun, dengan panorama Indonesia Timur yang masih murni dan aura Mariana Renata yang begitu memesona membuat film ini cantik secara literal. Di bulan April ini, film ini beserta film produksi babibutafilm lainnya seperti Rocket Rain, Postcards From The Zoo, dan Babi Buta Yang Ingin Terbang akan diputar di Kineforum secara berkala. Follow @Kineforum dan @babibutafilm untuk infonya.

Something in the Way
Something in the Way
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja

Kehidupan malam di jalanan Jakarta yang gritty belum berhenti menginspirasi sutradara Teddy Soeriaatmadja. Setelah di film sebelumnya, Lovely Man, ia mengangkat kisah seorang transgender, kali ini Teddy kembali turun ke jalan untuk membuat film ketujuhnya, Something in the Way.
Terbagi menjadi tiga chapter, chapter pertama berjudul “Ahmad” mengenalkan kita pada seorang supir taksi bernama Ahmad (Reza Rahadian) yang hidup dalam dua ekstrem. Di satu sisi ia adalah seorang muslim taat, namun, di sisi lain ia juga seorang pria muda yang frustrasi secara seksual dan menyalurkan kegelisahannya dengan bermasturbasi di segala kesempatan, entah itu di taksi ketika ia menunggu penumpang ataupun di unit rumah susun miliknya sambil menonton DVD porno yang berserakan di lantai kamarnya, di lantai yang sama dengan tempat ia menggelar sajadahnya.
Chapter kedua, “Change”, mempertemukannya dengan seorang PSK bernama Kinar (Ratu Felisha) yang ternyata tinggal berseberangan di rumah susun yang sama dengan Ahmad. Pertemanan yang terjalin berujung pada one nite stand, dan Ahmad pun merasa menemukan cinta yang ia cari. He’s simply smitten by the prospect of love dan menjadi pahlawan bagi sang damsel in distress. Semuanya bermuara di chapter ketiga “Righteousness” ketika Ahmad setelah mendengarkan ceramah ustadz tentang jihad, menemui Pinem (Verdi Solaiman), mucikari tempat Kinar bernaung, hanya untuk tertampar pada kenyataan dan terbangun dengan mata gelap dan simbah darah.
Dari nuansa yang dibangun sejak awal film, jelas kita cukup tahu diri untuk tidak berharap banyak adanya happy ending. Namun, akhir cerita yang seperti dipaksakan tragis dalam iringan simfoni “Air on the G String” karya Bach tetap terasa pahit, whether you already anticipate it or not.

Jalanan

Jalanan
Sutradara: Daniel Ziv

Sebagai founder dari majalah Djakarta! yang kerap mengupas ibukota kita dengan cara yang witty, tidak mengherankan jika Daniel Ziv yang sejatinya adalah seorang ekspat asal Kanada bisa melihat Jakarta dengan kacamata yang mungkin luput dari penduduk Jakarta itu sendiri. Dalam film dokumenter ini, Ziv mengajak kita berkenalan dengan tiga orang pengamen sembari menelusuri jalanan Jakarta yang berdebu dan naik kopaja tua yang sumpek oleh penumpang yang berjejalan.
Pengamen pertama bernama Boni tinggal di kolong jembatan, tidak bisa menulis, namun tetap happy go lucky mengamen menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Pengamen kedua, Ho, di balik rambut gimbal dan penampilan lusuhnya ternyata adalah seorang filsuf jalanan yang berorasi lewat lirik lagu satir namun romantis terhadap pujaan hatinya. Sementara Titi adalah seorang istri dan ibu muda yang menafkahi keluarga dengan mengamen sambil berjuang mendapat penyetaraan ijazah SMA untuk mencari kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.
Ziv menghabiskan empat setengah tahun untuk mengikuti ketiga pengamen tersebut. Yang kita lihat adalah gambaran nyata tentang susahnya struggling untuk hidup dari hari ke hari bagi kelas ekonomi bawah yang diwakili oleh Boni, Ho, dan Titi. Sebelum diputar di bioskop bulan ini, Jalanan telah melakukan premiere di Busan Film Festival tahun lalu dan menyabet best documentary award, sementara saya sendiri menontonnya dalam gelaran Ubud Writers & Readers Festival, Oktober lalu. Saya masih ingat bagaimana penonton, baik lokal maupun internasional, silih berganti dibuat tertawa, merenung, dan pada beberapa momen menahan air mata. Untungnya, air mata yang menggantung di ujung mata saya waktu itu bukan akibat adegan sentimenal yang dibuat-buat, melainkan karena film ini secara jujur mengingatkan saya jika kebahagiaan itu bukan dari yang apa kita punya, tapi lebih ke bagaimana cara kita memandang sesuatu dan bersyukur. Jalanan sendiri akhirnya akan diputar di beberapa bioskop bulan ini dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Follow @JalananMovie untuk info.

The Blind Truth, An Interview With Ayushita & Nicholas Saputra

Apa saja hal-hal yang tidak dibicarakan ketika kita membicarakan Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha? Let’s find it out together.

The early bird catches the worm” menjadi mantra penyemangat saat saya harus meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya menuju sebuah studio foto di daerah Kuningan demi jadwal cover photoshoot dan interview bersama Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha untuk edisi Mei. Mereka sebetulnya bukan nama asing bagi majalah ini, Nicholas pernah menjadi cover NYLON Guys Indonesia edisi April 2011, sementara saya sempat mewawancarai Ayu untuk edisi Anniversary NYLON Januari tahun ini. Sekarang, mereka berdua sengaja dipasangkan berkat film terbaru mereka, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, di mana keduanya berperan sebagai penyandang disabilitas yang menjalin hubungan yang “tidak biasa”.

Bila film-film bertema disabilitas pada umumnya dibanjiri drama air mata serta pesan-pesan preachy, film kedua karya sineas perempuan Mouly Surya ini memilih menunjukkan realita di balik tembok sebuah Sekolah Luar Biasa dengan apa adanya secara humanis. Dalam film dengan ensemble cast yang turut dibintangi oleh Karina Salim, Anggun Priambodo, dan Lupita Jennifer ini, Ayushita berperan sebagai Fitri, seorang remaja tunanetra di sebuah asrama untuk visually impaired yang terobsesi pada cerita hantu, dan selayaknya remaja seumurnya, she’s dying to feel some love. Saban malam Jumat, ia pergi ke kolam renang sekolahnya untuk bercerita kepada sesosok hantu dokter yang konon merupakan urban legend di sekolahnya, sampai suatu hari “hantu” itu muncul dan berkomunikasi dengannya lewat surat yang ditulis dengan huruf Braille. Fitri tak tahu jika dokter hantu pujaannya itu ternyata seorang pemuda tunarungu bergaya punk bernama Edo (Nicholas Saputra) yang diam-diam sering memperhatikan Fitri.

Semboyan love is blind menjadi hal yang literal dalam cerita ini. Terlepas dari keterbatasan fisik keduanya, mereka pun menjalani hubungan yang sangat passionate lewat sentuhan fisik dan momen-momen ajaib dari minimnya komunikasi di antara mereka. Menariknya, di film ini Mouly menghadirkan twist berupa alternate reality di mana keduanya adalah pasangan normal yang sangat komunikatif satu sama lain walaupun tinggal di sebuah kamar kos sempit, yang semakin terasa pengap dengan rentetan dialog klise orang mabuk cinta yang bila diresapi ternyata sangat “kering” dan dipaksakan. Conversation is (sometimes) overrated adalah pesan yang terpapar dari sini, dan membuat kita bertanya do they really fell in love? Atau justru seperti yang Fitri ungkapkan, apa mereka hanya jatuh cinta dengan konsep jatuh cinta itu sendiri?

Dengan premis skenario yang menarik tersebut, film ini berhasil disertakan dalam World Cinema Dramatic Competition di Sundance Film Festival tahun ini yang juga membuatnya menjadi film Indonesia pertama dalam salah satu festival film dunia paling bergengsi itu. Setelahnya, film ini juga ditayangkan di Rotterdam, Goteborg, dan Hong Kong International Film Festival dan mendapat respons gemilang dari semua media. Well, setelah menontonnya sendiri, kamu akan langung mengetahui penyebabnya. Script yang memang menarik itu diperkuat oleh pendekatan sinematik khas Mouly yang dipenuhi sinematografi cantik dan penuh simbol. Tak hanya secara visual, dari audio pun film ini memaksa kita menajamkan indera pendengaran kita. Di satu titik di mana tidak ada audio sedikit pun, kita dibuat “tuli” sesaat dan seluruh bioskop terasa hening sampai-sampai penonton seperti menahan napas menunggu suara muncul kembali. Komposisi musik yang digarap Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani dengan cerdas juga menjadi elemen penting yang menggambarkan emosi internal setiap karakter, salah satu yang paling memorable adalah lagu “Twinkle, Twinkle, Little Star” dengan lirik lagu “twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are,” yang terasa menusuk saat dinyanyikan karakter bernama Maya (Lupita Jennifer). Somehow, saya merasa lirik tersebut juga menggambarkan sosok Nicholas dan Ayushita. Keduanya memang bukan “bintang kecil”, dan hampir semua orang mengenal mereka, tapi apakah persepsi publik sudah cukup mewakili kepribadian mereka di dunia nyata? That’s what I try to find out this time.

IMG_0454 copy

Ayushita datang tepat waktu dan mulai menjalani proses makeup saat saya tiba. Sama seperti perjumpaan kami sebelumnya, ia terlihat riang dan bersemangat walau jam masih menunjukkan pukul sembilan, jam yang menentukan mood kita sepanjang sisa hari nanti. Satu-satunya yang berubah adalah kilatan warna turquoise yang kini menghiasi sebagian rambut belakangnya. “Sundance was so cold!” katanya riang saat saya menanyakan ceritanya ikut ke Sundance bulan Januari silam, “tapi aku sama Lupita pulang duluan karena aku harus nyiapin launching album. Yang senang pas lagi screening itu, kita juga nervous dan mereka tahu ini film Indonesia pertama yang masuk Sundance, tapi mereka memberikan respons yang baik, nggak ada penonton yang walkout, mereka stay sampai film selesai, dengerin Q&A, dan banyak yang pengen foto bareng. Aku pikir cuma hari itu aja, tapi the next day kita jalan-jalan, ada orang yang bilang, ‘kamu yang main di film itu ya?’ Terus ngajakin foto bareng, terus besoknya lagi pas kita jalan-jalan makan siang di main street ada orang yang bilang “Hey I saw your movie! Congratulation, we love it!’ terus banyak yang bilang ke Mbak Mouly, ‘terima kasih sudah bikin film yang bagus,’” ceritanya sambil tersenyum.

Gadis kelahiran 1989 ini punya alasan kuat untuk tersenyum. Kuartal awal tahun ini kariernya bisa dibilang tengah mengalami transformasi. Ia menggebrak dengan dua project besar sekaligus, yaitu film ini dan album musik solo pertamanya yang bertajuk Morning Sugar. Beberapa minggu sebelumnya, ia mengadakan mini concert di gedung PPHUI untuk perilisan albumnya, satu hal yang ia turun tangan sendiri menyiapkan segala sesuatunya. Musik di album ini sendiri sejujurnya bukan sesuatu yang akan kamu sangka dinyanyikan oleh Ayushita yang sebelumnya lekat dengan cap Bukan Bintang Biasa (BBB). Dibantu oleh Ramondo Gascaro (eks-keyboardist SORE) dan Ricky Virgana dari White Shoes & The Couples Company, album ini berwarna indie pop Indonesiana. “Banyak yang kaget sih, wah kok sekarang jadi kaya gini ya? Banyak juga yang agak sarkastik, tapi…I’m okay. Maksudnya sudah terbiasa dengan hal-hal kaya gitu,” cetusnya sambil mengangkat bahu. “Aku sebetulnya nggak ngerasa ini hal yang baru buat aku, untuk di depan publik mungkin iya. Mereka kan mikirnya aku sangat mainstream atau gimana, aku keburu udah di tengah-tengah, I like the off-stream, but I don’t hate the mainstream either, to be realistic aja sebetulnya. In real life, ini musik yang aku suka juga. iPod aku terlalu beragam playlist-nya dan indie pop adalah salah satu jenis lagu yang aku suka banget.”

Terjun ke dunia showbiz sejak kecil, Ayu memang telah terbiasa dengan berbagai pemberitaan menyangkut dirinya di media, entah kariernya sebagai aktris maupun sebagai penyanyi, walau ada satu sisi dirinya yang belum terekspos. “They don’t know if I love cooking a lot! Recently aku baru belajar baking. Baking itu lebih susah dibanding masak Italian or Japanese food, aku pernah mau bikin kue ulang tahun belajarnya kaya orang mau ujian, berkali-kali sambil nonton YouTube. It was fun. Terakhir aku bikin Strawberry Shortcake, dan Alhamdulilah rasanya kaya punya restoran yang emang aku suka Strawberry Shortcake-nya, Ahaa… gue punya resepnya! Bisa nih bikinnya! Haha!”  ungkapnya dengan wajah excited.

IMG_0532 copy

            Jam sepuluh kurang sedikit, Nico akhirnya tiba. Ia meminta maaf atas keterlambatannya, walaupun saya bisa memakluminya. Baru malam sebelumnya, ia pulang ke Indonesia dari traveling ke New York dan daerah selatan Prancis. Sialnya, setelah tiga minggu meninggalkan Indonesia, ia harus langsung berhadapan dengan schedule super padat, hari itu pun ia hanya punya waktu sampai jam 12 siang untuk memenuhi jadwal lainnya sampai malam. Sambil menunggu Ayushita selesai makeup, saya pun, melakukan ice breaking dengan aktor berusia 29 tahun tersebut. So how was Sundance? “Sundance…Ok, good… Di sana kita sepuluh hari di Park City, kota kecil di Utah yang pusat ski resort, waktu itu pas lagi peak musim orang main ski.tapi karena di sana dingin jadi kita maunya masuk bioskop terus. Responsnya oke, sebetulnya film ini kan bukan tipikal film Amerika, jadi buat mereka ini sesuatu yang baru dan beda dibanding film-film Amerika,” tandasnya.

Nico menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan tegas, mengingatkan saya akan perannya di film AADC yang melambungkan namanya. Mungkin karena faktor jet lag, ia agak terlihat lelah dan kurang mood untuk bicara panjang lebar. I know my safest bet adalah bertanya seputar film terbarunya ini. “Proyek film ini dimulai tahun 2010, awalnya memang diajakin Mouly untuk film ini, syutingnya Juni tahun lalu, reading dua bulan dan syuting dua minggu. Saya riset ke SLB tunarungu di daerah Cipete, ikut kelas mereka beberapa kali, ikut proses belajar. Banyak yang didapat sih, sebelumnya kita cuma mikir mereka nggak bisa dengar dan nggak bisa ngomong, tapi ternyata banyak hal yang bisa mereka lakukan,” jelas Nico sebelum tiba-tiba mengalihkan pandangan dan berseru, “Wohoo, thanks for the diet!” dengan cengiran iseng saat melihat Ayushita keluar dari ruang makeup dengan mengenakan look pertama yang terdiri dari crop top Topshop dan celana rok Balenciaga. Ayushita hanya tertawa menanggapi celetukan itu. Obrolan canggung saya dan Nico pun harus terhenti karena kini gilirannya berganti wardrobe dan memulai pemotretan.

Thanks for their role as a couple, mereka sudah tidak risih lagi saat harus berpose berdua. Frame demi frame dilewati keduanya dengan santai dan diselipi beberapa inside jokes. Saat hampir jam 12, Nico berulangkali melirik jam dan smartphone miliknya. Di saat ia mengira pemotretan sudah selesai, ternyata masih ada satu look lagi yang harus ia pakai, dan Nico pun berbesar hati menyanggupi. Ia berganti baju dengan cepat dan tanpa buang waktu menuntaskan sisa pemotretan. Setelahnya, dengan agak tergesa, Nico membereskan barang bawaannya, mengucapkan terima kasih ke semua orang dan segera melesat ke appointment berikutnya. Sebelumnya, kami berjanji untuk bertemu lagi besoknya untuk melanjutkan interview dan saya pun melanjutkan interview dengan Ayu saat ia juga telah menyelesaikan pemotretannya.

Melihat keakraban keduanya saat photoshoot, saya bertanya kepada Ayu tentang caranya membangun chemistry bersama Nico untuk film ini. “Aku baru kerja bareng Nico di film ini. I was so nervous sebetulnya karena dia jam terbangnya udah jauh lebih banyak dan ada hal-hal yang aku belum pernah jalanin di film tapi dia udah. Cara Mbak Mouly nge-direct itu lebih diskusi dan nanya opini kita kaya gimana scene-nya, jadi kita banyak ngobrol karena aku scene-nya paling banyak sama Nico. Kita spend time quite long sepanjang syuting selama dua minggu. I don’t really think about the chemistry, tapi justru karena ada satu adegan yang harus dilewati itu, yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. I have to pull myself together. Jadi aku milih dengerin iPod dan duduk sendiri dulu. Waktu liat set adegan itu aku yang ‘Oh no!nervous banget! Aku nggak omongin ke siapa-siapa, tapi semua yang ada di situ tau dan mereka nggak push aku untuk apapun, mereka benar-benar memberi waktu ke pemain dengan ketegangan kita masing-masing,” papar Ayu mengingat kembali salah satu adegan di film ini yang merupakan tantangan baru bagi dirinya sebagai aktris.

Risque scene aside, sama seperti Nico, Ayu juga belajar banyak hal dari film ini tentang penyandang disabilitas. Ia belajar huruf Braille dan meningkatkan sense selain penglihatan dengan menutup mata seharian dan berjalan dengan meniti railing di tembok lokasi syuting. “Waktu pertama kali datang ke lokasi ada banner foto-foto kegiatan mereka dan judulnya ‘Jangan Kasihani Kami’, aku yang ’owkaaay…’ Aku nggak tau yang lain notice apa nggak tapi itu yang pertama aku liat. Begitu masuk, ternyata mereka sama aja kaya kita, saling ngeledekin temen-temennya yang pacaran, ada yang busted lagi ngapain, terus jadi bahan omongan,” kenangnya. “Mereka punya passion yang sama dan feeling yang lebih kuat dari kita. Mereka juga mandiri, ada yang selalu pulang sendiri ke Bogor naik bus, padahal dia cewek. Setelah menjalani film ini aku mikir, oke aku nggak kasihan lagi sama mereka. Karena mereka hebat dan mereka memang nggak suka dikasihani, kaya ‘kenapa? I’m happy dengan keadaan ini’,” imbuhnya dengan mimik serius. “Yang jelas, aku jadi belajar lebih embrace dengan apa yang kita punya,” tuntas Ayu.

Besoknya, saya pergi ke kantor Cinesurya di daerah Melawai untuk melanjutkan interview dengan Nico dan kali ini berharap ia mau sedikit lebih bercerita dibanding pertemuan sebelumnya. Nico terlihat sama kasual dari hari sebelumnya dengan paduan polo shirt putih dan jeans. Dari dekat, saya bisa melihat kantung matanya masih agak tebal, ia mengaku baru tidur jam satu malam dan bangun jam 10, “Knocked out!” cetusnya sambil tersenyum kecil. Anyway, setelah tidur 9 jam, tampaknya mood Nico jauh lebih rileks hari ini. Saya memulai obrolan dengan topik-topik ringan, seperti musik apa yang biasanya ia dengarkan, “I listen a lot of rock, jazz music, yang sekarang ini apa ya? Gue lebih suka band-band lama…Emerson, Lake & Palmer, terus yang di playlist gue belakangan ini paling Depeche Mode sama Tears for Fears!” jawabnya sambil sesekali menghisap rokok. Saya menyinggung sedikit perannya sebagai Edo di film ini yang bergaya punk dengan jaket kulit, rambut dicat, dan tindikan di bibir, walaupun Edo sebetulnya tidak bisa mendengar, “Yeah, sometimes people do that, sekarang kan orang gaya apa belum tentu denger musiknya ya sesuai gayanya. Yang penting kan orang gayanya apa juga bebas-bebas aja,” ujarnya. Nico mengaku sudah lumayan lama sejak ia terakhir kali datang ke sebuah konser, karena kesibukannya traveling dan main film. Bagi orang awam, mungkin nama Nico seperti menghilang, walau sebetulnya ia masih rutin terlibat produksi film. Harus diakui belakangan ini ia cenderung bermain dalam film-film festival yang kurang terdeteksi publik umum. Hal itu menurutnya bukan suatu kesengajaan, tapi karena ia memang tertarik pada skrip yang ditawarkan dengan peran-peran tidak umum. “Too many characters in the world, gue nggak pernah yang pengen karakter ini karakter itu, sebetulnya karakter sederhana  justru bisa dibuat menarik karena kesederhanaannya,” tukasnya.

IMG_0240 copy

Satu dekade berkecimpung di entertainment, apakah Nico puas dengan portrayal media tentang dirinya? “Portrayal gue di media? Aduh sebetulnya gue nggak terlalu perhatiin sih, nggak sempet, paling kalau lagi berhubungan sama filmnya aja, pengen tau kritik, pengen tau review, pandangan orang sama kerjaan gue, biasanya ya gitu aja sih, yang hubungannya sama pekerjaan,” ucapnya. Dari sini pembicaraan pun bergulir dengan sendirinya, kita telah memasuki zona nyaman Nico dengan topik seputar kariernya di industri yang menurutnya harus selalu dikembangkan lagi. “Sebetulnya kritik atau review film di Indonesia masih perlu dikembangin, karena kita masih sedikit banget punya kritikus yang menurut gue capable mengkritik film dan sebetulnya itu juga bagian penting dalam industri film sih,” lugasnya sambil menambahkan, “kritikus tugasnya mewakili masyarakat tapi juga meng-educate masyarakat supaya hubungan antara filmmaker dan penontonnya ada, ini sebetulnya link yang harus dimiliki industri film. Sekarang banyak medium blog film juga bagus banget, pertama karena melatih mereka untuk menulis dan berpendapat soal film, terserah lo mau nulis apa, it’s a free country. Mudah-mudahan 5 atau10 tahun ke depan kita punya banyak kritikus yang bagus dan ngerti film,” paparnya panjang-lebar.

Selain film, traveling menjadi hal lain yang akan memacu Nico untuk dengan senang hati bercerita. Apakah ia masih menganggap dirinya sebagai full time traveler, part-time actor seperti yang tercantum di bio Twitter-nya? “So far, iya, haha!” responsnya sambil terkekeh, “itu joke aja sih sebetulnya, karena pekerjaan utama gue ya main film. Traveling itu penting buat gue karena selain dari dulu seneng jalan-jalan, penting buat cari inspirasi, cari hidup, Maksudnya kita tinggal di Jakarta, you live in the bubble, dan bubble itu makin lama makin tebel dindingnya, dan gue pengen keluar dari bubble itu untuk bisa refresh. Traveling itu lo ngeliat dunia, kalau akting juga ngaruh karena lo dapet references yang banyak dari kehidupan orang. Lo bisa lebih eksploratif, bisa melihat banyak kehidupan, sama to get away… kalau gue traveling ke luar negeri ya untuk menikmati hidup di suatu kota atau lingkungan tanpa ada yang minta foto atau hal yang berhubungan dengan pekerjaan gue,” ungkap Nico seraya menegaskan jika bukan berarti ia selalu memilih traveling ke luar negeri. Ia sempat selama dua tahun fokus traveling dalam negeri untuk lebih mengenal Indonesia dan jatuh cinta dengan Pulau Komodo yang menjadi lokasi diving favoritnya.

Somehow, I still can manage it sih, gue bukan tipe yang 9 to 5, yang kerja kaya maraton gitu, kalau kerja monoton gue cepet bosen,” kata Nico saat saya bertanya tentang caranya mengatur schedule yang padat. “Gue lebih suka sprint. Jadi gue rileks, santai tapi abis itu gue ngebut, that’s how I do my muscle. Mending kalau nggak ada kerjaan, gue cabut, pulang-pulang kerjaan numpuk tapi abis itu gue bisa rileks lagi,” imbuhnya.  Untuk menjaga stamina, Nico rutin berlatih Muay Thai dan renang yang diakuinya seperti meditasi, sambil bersiap terlibat dalam produksi film selanjutnya yang akan berskala besar akhir tahun ini.

Untuk menutup pembicaraan siang itu yang diselingi cemilan pisang asam dari Thailand, saya meminta Nico berandai-andai tentang hal yang ingin ia lakukan jika ia memiliki waktu luang, “Do nothing, gue akan ada di suatu kapal di Komodo, ngopi seharian dan diving sesuka hati, but I got many times like that sih sebetulnya. Seminggu kosong nggak ngapa-ngapain, I know the art of doing nothing, definitely!” jawabnya sambil tertawa renyah.

            In the end of the day, saat saya memikirkan kembali tujuan utama saya dalam menulis artikel ini, tentang apakah Ayu dan Nico adalah orang yang sama saat ada di depan dan belakang sorotan kamera, hal itu menjadi tidak relevan lagi. Satu hari jelas tidak akan cukup menjawabnya, yang pasti mereka berdua adalah orang yang passionate di bidang yang mereka geluti dan tak takut menjadi diri sendiri. No sugarcoated words, and of course, no superficiality.

As published in NYLON Indonesia May 2013

Photo by Hakim Satriyo

Styling by Anindya Devy

Book Club: Ladya Cheryl

ladya-cheryl

Ladya Cheryl adalah salah satu dari sedikit aktris muda Indonesia yang memiliki resume akting yang menarik. Setelah breakthrough role-nya sebagai seorang gadis rapuh di Ada Apa Dengan Cinta?, Ladya terus memainkan peran-peran tak biasa di film-film berikutnya seperti Fiksi, Kara Anak Sebatang Pohon, Babi Buta Yang Ingin Terbang dan Postcard from the Zoo. Saat ini selain bermain film yang umumnya berjenis film festival, Ladya juga sibuk menjadi pemain bass untuk Zeke Khaseli, menonton film-film Indonesia di bioskop, merawat kaktus pemberian teman dan merajut. “Bisa dibilang hobi, tapi kadang-kadang bosan juga. Merajut belajar sama teman. Di daerah Mandar ada toko benang namanya Sasha, kalau beli benang di sana diajarin merajut gratis sekalian. Senang juga. Kenapa pilih rajut? karena lihat teman waktu itu asik merajut sambil ngobrol, tapi akhirnya jadi barang, seperti cardigan, topi, syal,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 31 tahun lalu ini. “Kalau kita baca buku atau nonton film, ada karakter yang membuat kita ingin menjadi seperti karakter atau mengikuti kisah hidupnya, kemudian merasa senasib atau simpati/empati,” ujar Ladya ketika saya memintanya memilih 5 novel yang menurutnya menarik untuk dijadikan film.

les_miserables

Les Misérables

Victor Hugo

Buku ini ceritanya memang panjang dan sudah difilmkan. Saya sudah nonton dan inginnya dibuat yang lebih lengkap seperti bukunya. Mungkin kalau terlalu panjang untuk difilmkan, bisa dibuat serial. Di Inggris ada play-nya, ingin banget nonton.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The Adventures of Tom Sawyer

Mark Twain

Sudah difilmkan juga. Karena ketika saya baca The Adventures of Tom Sawyer, saya merasa terhibur dan ingin hidup di kota kecil yang ada sungainya, main sama teman-teman sekitar rumah di atas bukit. Di zaman itu, kalau mau dapetin sesuatu/barang yang anak-anak itu suka, mereka saling tukar benda-benda kepunyaan masing masing, rasanya ingin ada di zaman itu, tempat itu.

Sybil1

Sybil

Flora Rheta Schreiber

Ini saya belum tau sudah atau belum. Kalau belum boleh juga, karena ingin tau penggambaran perpecahan Sybil akan seperti apa. Untuk buku ini, saya lebih ingin lihat siapa pemainnya, karena buku ini diangkat dari kisah nyata, jadi kalau kita mau nonton film Sybil, mungkin pemainnya yang tidak biasa kita lihat, atau pemain yang bisa menghilangkan identitas dirinya sendiri. Karena saya penasaran dengan Sybil dan teman-teman kepribadiannya.

audrina
My Sweet Audrina

V.C.  Andrews

Menunggu perasaan tegang dan suasana rumah Audrina dan keluarganya yang aneh.

book-cover
Norwegian Wood

Haruki Murakami

Ini juga sudah difilmkan, tapi saya belum nonton. Belum siap kalau tidak sesuai bayangan, karena baca buku ini seperti berada di Jepang dan menonton langsung dialognya. Intinya rasanya seperti nonton filmnya ketika baca. Terasa nyata.